Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Dalam masyarakat sehari-hari sering kita kenal istilah congek, curek,
ataupun opokan, untuk menyatakan penyakit radang telinga bagian tengah yang
ditandai dengan keluarnya cairan dari liang telinga. Penyakit yang angka
kejadiannya cukup tinggi di masyarakat ini, dalam istilah kedokteran disebut
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK). Sejak penggunaan antibiotika secara luas
terhadap otitis media dan mastoiditis pada pertengahan tahun 1930-an, angka
mortalitas dan penyulit serius dari otitis media telah sangat menurun. Namun,
sekarang penyakit telinga tengah seringkali terdapat dalam bentuk kronik atau
lambat yang menyebabkan kehilangan pendengaran dan pengeluaran sekret.
Morbiditas seringkali berarti gangguan pendengaran yang mengganggu fungsi
sosial, pendidikan dan profesional. Pada anak usia sekolah, gangguan-gangguan
telinga tengah lazim terjadi; anak mungkin memperlihatkan hasil yang buruk di
sekolah sehingga gangguan ini dapat dideteksi melalui pemeriksaan penyaring
untuk selanjutnya didiagnosis dan diobati.1
Otitis media adalah salah satu infeksi tersering pada anak-anak. Pada
beberapa penelitian infeksi ini diperkirakan terjadi pada 25% anak. Infeksi
umumnya terjadi pada dua tahun pertama kehidupan, sedangkan insiden puncak
kedua terjadi pada tahun pertama masa sekolah.1 Otitis Media Supuratif Kronik
(OMSK) adalah infeksi kronik telinga tengah dengan perforasi membran timpani
dan keluarnya sekret dari telinga tengah secara terus menerus atau hilang timbul. 2
Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah. Biasanya disertai
gangguan pendengaran. OMSK dahulu disebut otitis media perforata.2
Survei prevalensi di seluruh dunia yang walaupun masih bervariasi dalam
hal definisi penyakit dan metode sampling serta mutu metodologi menunjukkan
beban dunia akibat OMSK melibatkan 65-330 juta orang dengan otorea, 60%
diantaranya (39-200 juta) menderita kurang pendengaran yang signifikan. OMSK
sebagai penyebab pada 28000 kematian. Prevalensi OMSK di Indonesia secara
umum adalah 3,9 %. Pasien OMSK merupakan 25% dari pasien-pasien yang
berobat di poliklinik THT Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta. 3

Berdasarkan hasil survei epidemiologi di tujuh provinsi di Indonesia pada tahun


1994 1996, didapatkan prevalensinya secara umum adalah 3,8%.

Di Bali

sendiri, khususnya di poliklinik THT RSUP Sanglah, OMSK menempati posisi


teratas dari semua kasus yang ada. Selama bulan Agustus Oktober 2003 dari
1.450 kasus THT yang tercatat, 400 (27,59%) diantaranya adalah kasus OMSK.
Sebagai seorang dokter umum yang berperan sebagai lini pertama,
sangatlah penting untuk mengetahui tentang OMSK ini karena prevalensinya
sangat banyak di Indonesia. Dengan mengetahui gejala-gejala OMSK melalui
anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, seorang dokter umum dapat
memberikan penanganan awal seperti pembersihan liang telinga, pemberian
antibiotika dan merujuk pasien yang memerlukan penanganan lebih lanjut seperti
mastoidektomi maupun timpanoplasti, sehingga komplikasi-komplikasi OMSK
dapat ditekan.4

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi Telinga

Gambar 1. Anatomi Telinga


2.1.1 Telinga Luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membran
timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang
telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan pada sepertiga
bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari
tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 3cm. Sepertiga bagian luar kulit telinga
terdapat banyak kelenjar serumen dan rambut. Kelenjar keringat terdapat
pada seluruh liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit
dijumpai kelenjar serumen.2
2.1.2 Telinga tengah
Telinga tengah berbentuk kubus yang terdiri dari membran timpani yang
merupakan membran fibrosa tipis yang berwarna kelabu mutiara. Berbentuk

bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga dan terlihat oblik
terhadap sumbu liang telinga.2
Membran timpani dibagi atas 2 bagian yaitu bagian atas disebut
pars flaksida (membrane sharpnell) dimana lapisan luar merupakan lanjutan
epitel kulit liang telinga sedangkan lapisan dalam dilapisi oleh sel kubus
bersilia, dan pars tensa merupakan bagian yang tegang dan memiliki satu
lapis lagi ditengah, yaitu lapisan yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit
serat elastin.2
Tulang pendengaran terdiri dari maleus, inkus dan stapes. Tulang
pendengaran ini dalam telinga tengah saling berhubungan. Tuba eustachius
menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasofaring.2
2.1.3 Telinga Dalam
Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah
lingkaran dan vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.
Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa
skala timpani dengan skala vestibuli.2
Kanalis semisirkularis saling berhubungan secara tidak lengkap dan
membentuk lingkaran yang tidak lengkap. Pada irisan melintang dari koklea
tampak skala vestibule sebelah atas, skala timpani sebelah bawah dan skala
media (duktus koklearis) diantaranya. Skala vestibule dan skala timpani
berisi perilimfa sedangkan skala media berisi endolimfa. Ion dan garam
yang terdapat di perilimfa berbeda dengan endolimfa. Dimana cairan
perilimfa tinggi akan natrium dan rendah kalium, sedangkan endolimfa
tinggi akan kalium dan rendah natrium. Hal ini penting untuk pendengaran.
Dasar skala vestibuli disebut sebagai membran vestibuli (Reissners
Membrane) sedangkan skala media adalah membran basalis. Pada membran
ini terletak organ corti yang mengandung organel-organel penting untuk
mekanisme saraf perifer pendengaran. Organ corti terdiri dari satu baris sel
rambut dalam (3000) dan tiga baris sel rambut luar (12000). Ujung saraf
aferen dan eferen menempel pada ujung bawah sel rambut. Pada permukaan
sel-sel rambut terdapat stereosilia yang melekat pada suatu selubung

diatasnya yang cenderung datar, bersifat gelatinosa dan aselular sehingga


dikenal sebagai membrane tektoria.2
Membran tektoria disekresi dan disokong limbus yang terletak di
medial. Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut
membrane tektoria, dan pada membran basal melekat sel rambut yang terdiri
dari sel rambut dalam, sel rambut luar dan kanalis Corti yang membentuk
organ Corti.2
2.2 Fisiologi Pendengaran
Proses pendengaran diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun
telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang
koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani diteruskan ke
telinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang akan
mengamplikasikan melalui daya ungkit tulang pendengaran dan perkalian
perbandingan luas membran timpani dan daya tingkap lonjong. Energi
getar yang diamplikasi ini akan diteruskan ke stapes yang akan
menggetarkan tingkap lonjong sehigga perilimfa pada skala vestibuli
bergerak. Getaran ini diteruskan melalui membrane Reissner yang
mendorong edolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara
membran basilaris dan membran tektoria. Proses ini proses ini merupakan
rangsang mekanik yang akan menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia
sel-sel rambut, sehingga kanal ion terbuka dan terjadi pelepasan ion
bermuatan lisrik dari badan sel. Keadaan ini menimbulkan proses
depolarisasi sel rambut, sehingga neurotransmitter ke dalam sinapsis yang
akan menimbulkan potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke
nucleus auditoris sampai ke korteks pendengaran (area 39-40) di lobus
temporalis. 2,5

Gambar 2. Fisiologi pendengaran


2.3 Definisi
Otitis media adalah suatu inflamasi yang terjadi pada telinga tengah dan
kavum mastoid, tanpa memperhatikan etiologi maupun pathogenesisnya. Jika
prosesnya terjadi lebih dari 12 minggu maka disebut kronik. 6 Namun ada pula
yang menyebutkan terminologi waktu yang lain. Otitis Media Supuratif
Kronik (OMSK) ialah infeksi kronik di telinga tengah dengan perforasi
membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga tengah terus menerus
atau hilang timbul.7 Batasan waktu menurut kebanyakan ahli THT adalah 3
bulan, namun batasan menurut WHO adalah 2 minggu untuk penegakan
diagnosis OMSK dan masih bervariasi diantara banyak negara dan para ahli.8
Otorrhoe dan supurasi kronik telinga tengah pada pemeriksaan pertama
dapat menunjukkan sifat-sifat dari proses patologi yang mendasarinya.
Umumnya otorrhoe pada otitis media kronik bersifat purulen (kental, putih),
atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung stadium peradangannya. Sekret
mungkin juga encer atau kental, bening atau berupa nanah.7

2.4 Etiologi
Jenis bakteri yang paling banyak ditemukan pada OMSK adalah P.
Aeruginosa, S. Aureus, Corynebacterium, dan Klebsiella pneumoniae.
Organisme anaerobik seperti Peptostreptococcus, Fusobacterium species,
Propionibacterium acnes, dan Bacterioides species, juga umum ditemukan
pada OMSK. Sedangkan pada OMA, organisme anaerob hanya memainkan
peranan kecil dalam pathogenesisnya.6 Otitis media akut (OMA) dengan
perforasi membran timpani berkembang menjadi otitis media supuratif kronis
apabila prosesnya sudah lebih dari dua bulan.
Faktor-faktor predisposisi yang dapat menimbulkan OMSK antara lain:2,9
Hipertropi adenoid dan sinusitis kronik juga memberikan kontribusi
terhadap berkembangnya OMSK.
Otitis media akut yang terlambat mendapat pengobatan
Otitis media akut yang tidak mendapat pengobatan antibiotik yang cukup
dan tepat.
Radang saluran pernafasan bagian atas yang berulang
Daya tahan tubuh yang rendah akibat penyakit-penyakit malnutrisi,
anemia, gangguan pada sistem imun tubuh.
Virulensi kuman.
Predisposisi genetik yang secara tipikal berhubungan dengan disfungsi
tuba eustachius. Disfungsi ini terlihat dalam berbagai populasi, seperti
suku Eskimo, dan orang Indian-Amerika, seperti juga yang ditemukan
pada orang dengan kelainan berupa palatoschisis.
Sebagian besar OMSK merupakan kelanjutan otitis media akut (OMA) yang
prosesnya sudah berjalan lebih dari 2 bulan. Beberapa faktor penyebab adalah
terapi yang terlambat, terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman yang tinggi,
daya tahan tubuh rendah, atau kebersihan buruk. Bila kurang dari 2 bulan
disebut Otitis Media Subakut.8
Dalam kepustakaan yang lain dikatakan bahwa dalam keadaan normal,
tuba Eustachius dapat mencegah akumulasi cairan dalam telinga tengah
dengan cara membiarkan cairan tersebut mengalir keluar dari telinga tengah
melalui tuba. Dalam beberapa waktu, otitis media kronik dapat berkembang,

dan biasanya didahului oleh efusi (cairan) dalam telinga tengah yang tidak
segera sembuh atau membaik. Cairan yang persisten ini kemudian
terkontaminasi oleh bakteri, dan bakteri yang ditemukan pada otitis media
kronik berbeda dengan yang ditemukan pada otitis media akut.10
OMSK dapat terjadi akibat tidak terjadinya resolusi pada OMA.
Dimana dalam hal ini akan terjadi perforasi menetap dan sekret tetap keluar
lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan. Maka keadaan ini disebut
sebagai otitis media supuratif kronis (OMSK). Perforasi ini dapat terjadi
karena trauma, iatrogenik, atau karena otitis media akut dengan pengobatan
yang lambat.4 Dengan demikian, maka segala sesuatu yang bisa menimbulkan
gangguan fungsi tuba eustachius dapat pula mendorong terjadinya otitis
media supuratif kronik (OMSK). 10
2.5 Epidemiologi
Prevalensi OMSK di Indonesia adalah 3,9% sehingga Indonesia termasuk
negara dengan prevalensi OMSK yang tinggi.8 Prevalensi dari OMSK
bervariasi dari negara ke negara. WHO mengklasifikasikannya negara yang
memiliki prevalensi OMSK yaitu paling tinggi (>4%), tinggi (2-4%), rendah
(1-2%), dan paling rendah (<1%). Negara berprevalensi paling tinggi
termasuk Tanzania, India, Kepulauan Solomon, Guam, Aborigin, Australia,
dan Greenland. Beberapa studi memperkirakan insiden OMSK terjadi 39
kasus per 100000 orang pertahunnya. Beberapa populasi ras tertentu dapat
meningkatkan resiko terjadinya OMSK. Anatomi dan fungsi dari tuba
eustachius memegang peranan penting dalam meningkatkan resiko. Orang
Indian Amerika dan Eskimo memiliki resiko lebih tinggi karena memilki tuba
eustachius yang lebih lebar dan lebih terbuka. Prevalensi OMSK adalah sama
antara pria dan wanita. Distribusi OMSK menurut umur belum dapat
ditetapkan secara pasti tetapi insidennya relatif meningkat pada anak-anak
dan remaja umur 15 tahun atau lebih muda. 11 Insiden dari OMSK dikatakan
terkait dengan ras dan faktor sosial-ekonomi. OMSK ditemukan lebih sering
pada orang Eskimo, Amerikan-Indian, populasi orang Alaska pada anak-anak
suku Aborigin di Australia, dan orang-orang berkulit hitam di Afrika Selatan.7

Gambar 3. Insiden OMSK pada suku


Aborigin12
2.6 Klasifikasi
Ada dua jenis klasifikasi yang sering dipergunakan pada OMSK yaitu OMSK
dapat dibagi dalam 2 jenis yaitu OMSK tipe jinak dan OMSK tipe bahaya,
serta ada pula klasifikasi berdasarkan aktivitas sekret yang keluar yaitu
OMSK aktif dan OMSK tenang.7,8
OMSK tipe jinak (benigna) adalah tipe tubotimpanik karena biasanya
didahului dengan gangguan fungsi tuba yang menyebabkan kelainan di
kavum timpani, antrum, dan celluae mastoidae disebut juga tipe mukosa
karena proses peradangannya biasanya hanya di mukosa telinga tengah dan
biasanya tidak mengenai tulang, perforasi terletak di sentral, tidak terdapat
kolesteatoma, serta disebut juga tipe aman karena jarang menimbulkan
komplikasi berbahaya. OMSK tipe bahaya (maligna) yaitu OMSK yang
disertai kolesteastoma, perforasi letaknya di daerah marginal atau atik dan

menimbulkan komplikasi. Nama lain dari OMSK tipe bahaya adalah atiko
antral karena biasanya prosesnya dimulai di daerah atik dan disebut juga tipe
tulang karena penyakit ini menyebabkan erosi tulang terutama kerusakan
pada tulang-tulang pendengaran, cellulae mastoidea, aditus dan antrum
mastoid.8
Sedangkan klasifikasi berdasarkan atas sekret yang keluar yaitu OMSK
aktif dan OMSK tipe tenang. OMSK aktif adalah OMSK dengan sekret yang
keluar dari kavum timpani secara aktif, dan OMSK tipe tenang adalah OSMK
dengan keadaan kavum timpani yang terlihat basah atau kering.7

Gambar 4.Membrana Timpani dan Tulang-tulang Pendengaran


2.7 Patogenesis
2.7.1 OMSK Tipe Benigna
Terjadinya OMSK hampir selalu dimulai dengan otitis media berulang
pada anak, jarang dimulai setelah dewasa. Terjadinya otitis media
disebabkan multifaktor antara lain infeksi virus atau bakteri, gangguan
fungsi tuba, alergi, kekebalan tubuh, lingkungan dan sosial ekonomi. Oleh
karena proses patologi telinga tengah pada tipe ini didahului oleh kelainan
fungsi tuba, maka disebut juga sebagai penyakit tubotimpanik.8
Anak lebih mudah mendapat infeksi telinga tengah karena struktur
tuba anak yang berbeda dengan dewasa serta kekebalan tubuh belum
berkembang sempurna sehingga bila terjadi infeksi saluran nafas atas,
maka otitis media merupakan komplikasi yang sering terjadi. Fokus
infeksi biasanya berasal dari nasofaring (adenoiditis, tonsilitis, rhinitis,

10

sinusitis), mencapai telinga tengah melalui tuba eustachius. Kadangkadang infeksi berasal dari telinga luar masuk ke telinga tengah melalui
perforasi membran timpani sehingga terjadilah proses inflamasi. Bila
terbentuk pus maka pus akan terperangkap di dalam kantong mukosa di
telinga tengah. Dengan pengobatan yang cepat dan adekuat dan dengan
perbaikan fungsi ventilasi telinga tengah, biasanya proses patologis akan
berhenti dan kelainan mukosa akan kembali normal. Walaupun kadangkadang terbentuk jaringan granulasi atau polip ataupun terbentuk kantong
abses di dalam lipatan mukosa yang keduanya harus dibuang, tetapi
dengan penatalaksanaan yang baik, kelainan menetap pada mukosa telinga
tengah jarang terjadi.8
Mukosa telinga tengah mempunyai kemampuan yang besar untuk
kembali normal. Bila terjadi perforasi membran timpani yang permanen,
mukosa telinga tengah akan terpapar oleh dunia luar sehingga
memungkinkan terjadinya infeksi berulang setiap waktu. Hanya pada
beberapa kasus keadaan telinga tengah tetap kering dan pasien tidak sadar
akan penyakitnya. Bila tidak terjadi infeksi maka mukosa telinga tengah
tampak tipis dan pucat. Berenang, kemasukan benda yang tidak steril ke
liang telinga, atau oleh karena adanya fokus infeksi di saluran nafas bagian
atas akan menyebabkan infeksi eksaserbasi akut yang ditandai dengan
sekresi dari sekret yang mukoid atau mukopurulen, dan pulsasi di dekat
tuba eustachius. Episode berulang dari otorea dan perubahan mukosa
menetap ditandai juga dengan osteogenesis, erosi tulang dan osteitis yang
mengenai tulang mastoid dan osikel. Pada kasus-kasus yang tidak
ditangani dengan baik, akan terjadi otitis eksterna yang menyebabkan
membran timpani sukar dilihat sehingga menyulitkan diagnosis.8
2.7.2 OMSK Tipe Maligna
Yang dimaksud OMSK tipe maligna adalah OMSK yang disertai
kolesteatoma. Perforasi pada OMSK tipe maligna letaknya di marginal
atau di atik, kadang-kadang terdapat juga kolesteatoma pada OMSK
dengan perforasi subtotal. Sebagian besar komplikasi yang berbahaya atau
fatal timbul pada OMSK tipe maligna.7

11

Kolesteatoma adalah suatu kista epitelial yang berisi deskuamasi


epitel (keratin). Deskuamasi terbentuk terus sehingga kolesteatoma
bertambah

besar.2 Beberapa

ahli

mengajukan

teori

terbentuknya

kolesteatoma diantaranya yaitu teori invaginasi, teori imigrasi, teori


metaplasi dan teori implantasi. Menurut Gray (1964), kolesteatoma adalah
epitel kulit yang berada pada tempat yang salah. Sebagaimana kita ketahui
bahwa seluruh epitel kulit (keratinizing stratified squamous epithelium)
pada tubuh kita berada pada lokasi yang terpapar ke dunia luar. Epitel kulit
di liang telinga merupakan suatu daerah cul-de-sac, sehingga apabila
terdapat serumen padat di liang telinga dalam waktu yang lama maka
epitel kulit yang berada medial dari serumen tersebut seakan terperangkap
sehingga membentuk kolesteatoma.7
Kolesteatoma dibagi atas dua jenis yaitu kongenital dan aquisita
(didapat). Kolesteatoma merupakan media yang baik untuk tumbuhnya
kuman, kuman yang paling sering adalah Pseudomonas aeruginosa.
Pembesarannya akan lebih cepat apabila disertai infeksi, kolesteatoma
akan mendesak dan menekan organ di sekitarnya serta menimbulkan
nekrosis tulang. Hal ini akan diperhebat oleh proses terbentuknya asam
akibat pembusukan bakteri. Proses ini kemudian akan mempermudah
timbulnya komplikasi seperti labirinitis, meningitis dan abses otak.7
2.8 Diagnosis
Pada prinsipnya penegakan diagnosis OMSK berpedoman atas hasil dari
pemeriksaan klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisik) serta dapat dibantu
dengan pemeriksaan penunjang lain. Dari anamnesis didapatkan riwayat
otorea menetap atau berulang lebih dari 2 bulan. OMSK yang terbatas di
telinga tengah hanya menyebabkan tuli konduktif. Bila terdapat tuli campur
dapat menandakan komplikasi ke labirin.10
Pada OMSK tipe mukosa ( OMSK tipe benigna), karakteristik perforasi
yang terjadi di sentral membrane timpani dan dalam pemeriksaan foto tulang
mastoid tampak suram atau clowding, hal ini sangat berbeda dengan OMSK
tipe tulang (OMSK tipe maligna) dimana perforasi yang terjadi terlokalisasi

12

di tepi atas (epitimpani), serta ditemukan supurasi yang berbau busuk. Jika
dihubungkan dengan test konduksi audiometri, maka biasanya akan
ditemukan kegagalan mekanisme konduksi suara. Test ini dapat dilengkapi
dengan pemeriksaan radiografi pada tulang mastoid posisi schuller tampak
gambaran radiolusen yang bersangkutan/terdekat. Pada beberapa kasus
dengan komplikasi, maka CT scan akan sangat berguna untuk memungkinkan
diagnosis yang lebih lengkap.12
2.9 Komplikasi
Otitis media supuratif kronik (OMSK) yang tidak mendapat pengobatan yang
tepat dapat mengalami komplikasi yang bervariasi mulai dari komplikasi
ringan sampai komplikasi berat yang akan dialami sepanjang hidupnya.
Komplikasi ini dapat dibagi menjadi 2 subgroup yaitu intratemporal dan
intrakranial.
Komplikasi intratemporal meliputi petrositis, paralysis facial, dan
labirintitis.
Komplikasi intrakranial meliputi tromboplebitis sinus lateral, meningitis,
dan abses intrakranial.
Sedangkan sekuele yang ditimbulkan dapat meliputi hilangnya fungsi
pendengaran, kolesteatoma aquired, dan timpanosklerosis.
Petrositis terjadi jika infeksi berkembang sampai mengenai tulang
petrosus. Gejala yang ditimbulkan dapat berupa Sindrome Gradenigo.
Sindrome Gradenigo yaitu nyeri retroorbita, discharge dari telinga, dan
kelumpuhan nervus abduscen. CT scan dapat membantu diagnosis.
Pengobatan dengan pemberian antibiotik sistemik dan petrosectomy.
Paralisis nervus fasialis dapat terjadi baik pada OMSK dengan
kolesteatoma maupun tanpa kolesteatoma. Tindakan yang dapat
dilakukan untuk menanggulangi komplikasi ini yaitu dengan melakukan
eksplorasi pembedahan secara hati-hati pada mukosa yang sakit, jaringan
granulasi, pus yang sulit didrainase (biasanya melalui mastoidektomi).
Labirinitis terjadi oleh karena infeksi yang menyebar sampai ke telinga
bagian dalam (ruang perilimfa), yang dapat terjadi segera ataupun setelah

13

waktu yang lama dengan gejala vertigo dan tuli saraf. Terdapat dua
bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa (labirinitis serosa difus dan
labirinitis serosa sirkumskripta) dan labirinitis supuratif (labirinitis
supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus). Pada kedua
bentuk labirinitis harus dilakukan operasi untuk menghilangkan infeksi
pada telinga tengah, drainase nanah dari labirin untuk mencegah
meningitis, serta pemberian antibiotika yang adekuat untuk OMSK
dengan atau tanpa kolesteatoma.
Tromboplebitis sinus lateralis terjadi jika infeksi menyebar melalui
tulang mastoid menuju sinus sigmoidalis ataupun sinus lateralis. Trombus
yang terinfeksi ini akan menimbulkan suatu emboli yang septik, sehingga
terjadi infark pada daerah distal. Pasien dapat mengalami perubahan
status mental, kejang, dan demam. Penatalaksanaan awal dari keadaan ini
meliputi mastoidektomi untuk membuang sumber infeksi di sel-sel
mastoid, jika sudah terjadi trombus harus dilakukan drainase sinus dan
mengeluarkan trombus, dan juga dilakukan kultur untuk dapat
mengetahui jenis antibiotika yang sensitif.
Meningitis merupakan komplikasi yang terjadi akibat penyebaran infeksi
langsung secara hematogen. Jika hal ini dicurigai telah terjadi, maka
sebaiknya dilakukan punksi lumbal diikuti dengan kultur kuman. Setelah
pasien stabil, maka segera lakukan operasi untuk membersihkan
kolesteatoma ataupun infeksi telinga tengah yang lainnya.
Abses intrakranial yang terjadi mungkin saja ekstradural, subdural, atau
parenkimal.
Abses ekstradural gejalanya dapat meliputi gejala

dan

tanda

perangsangan

meningeal,

tetapi

mungkin

pula

asimptomatik.

Pasien dengan abses subdural akan sangat mengeluh


kesakitan, dengan tanda perangsangan meningen, mungkin saja akan
kejang, dan hemiplegi.

14

Abses parenkim terjadi jika infeksi menyebar

melalui segmen timpani ataupun segmen mastoideum menuju ke


lobus temporal dari serebellum.11
2.10

Penatalaksanaan

2.10.1 OMSK Tipe Jinak ( OMSK Tipe Benigna)


OMSK benigna dibagi menjadi fase tenang dan aktif. Fase tenang jika
OMSK tersebut adalah OMSK tipe mukosa dalam keadaan kering. Pada
keadaan ini diusahakan epitelisasi tepi perforasi melalui tindakan yang
melukai pinggir perforasi secara tajam atau dengan mengoleskan zat
kaustik seperti nitras argenti 25%, asam trichlor asetat 12%, alkohol
absolut, dll. Bila terdapat tuli konduktif apalagi bila perforasi menetap
maka idealnya dilakukan timpanoplasti dengan atau tanpa mastoidektomi
(Gambar 5). Alogaritma penatalaksanaan OMSK benigna tersaji dalam
(Gambar 6).8

Gambar 5. Timpanoplasti5
2.10.2 OMSK Tipe Bahaya (OMSK Tipe Maligna)
Prinsip terapi pada OMSK adalah pembedahan yaitu mastoidektomi,
dengan

atau

medikamentosa

tanpa

timpanoplasti.

hanyalah

bersifat

Terapi
sementara

konservatif
sebelum

dengan
dilakukan

pembedahan.7
Pengobatan yang harus dilakukan adalah dengan operasi untuk
eradikasi kolesteatoma. Teknik operasi yang dipilih tergantung luas
kerusakan dan pilihan ahli bedah. Tindakan atikotomi anterior dipilih

15

apabila kolesteatoma masih sangat terbatas di atik. Bila kolesteatoma tidak


dapat dibersihkan secara total dengan tindakan tersebut, dapat dipilih
berbagai variasi teknik eradikasi kolesteatoma, biasanya diikuti dengan
rekontruksi fungsi pendengaran pada saat yang sama, misalnya
timpanoplasti dinding runtuh (canal wall down tympanoplasty) atau
mastoidektomi dinding utuh (canal wall up tympanoplasty) atau atikoplasti
atau timpanoplasti buka-tutup (open and close method tympanoplasty) dan
sebagainya.
OMSK Benigna Tanpa Kolesteatoma

OMSK tenang

OMSK aktif

Stimulasi epitelisasi tepi


perforasi

Cuci telinga, Ab sistemik, Ab topikal


Otore stop

Perforasi
menutup

Otore menetap >1mg

Perforasi
menetap

Ab bdsk px MO

Ro.Mastoid, Audiogram
Tuli
kon
duk
tif
(-)

Tuli
kondu
ktif
(+)

Otore stop

Otore menetap
>3mg

Ideal:
mastoidektomi+timpanoplasti

Ideal: timpanoplasti dengan atau tanpa


mastoidektomi

Gambar 6. Algoritma penatalaksanaan OMSK benigna8


2.10.3 OMSK dengan Komplikasi Intratemporal
Pasien ini harus segera dirawat inap dan dibarikan antibiotika dosis tinggi
secara intravena. Perlu diperiksa sekret telinga untuk pemeriksaan
mikrobiologi.

Pasien

selanjutnya

dipersiapkan

untuk

operasi

mastoidektomi sebagai drainase materi purulen disertai dekompresi nervus


fasialis atau petrosektomi, sesuai komplikasi yang ada.13
2.10.4 OMSK dengan Komplikasi Intrakranial

16

Pasien harus segera dirawat dan dirujuk ke dokter spesialis saraf atau saraf
anak dan bedah saraf. Antibiotik dosis tinggi yang dapat menembuh sawar
darah otak diberikan secara intravena selama 7-15 hari dan periksa
mikrobiologi sekret telinga. Tergantung dari kondisi pasien, dapat
dilakukan drainase materi purulen secara mastoidektomi dalam anestesi
lokal ataupun umum yang dapat pula disertai tindakan operasi bedah
saraf.13
2.11 Prognosis
Prognosis pada OMSK tipe benigna dapat diobati dengan pengobatan lokal
dan

otorea

dapat

mengering.

Tetapi

sisa

perforasi

sentral

yang

berkepanjangan memudahkan infeksi dari nasofaring atau bakteri dari meatus


eksterna khususnya yang terbawa oleh air, sehingga operasi penutupan
membrane timpani dapat disarankan. OMSK tipe aman ini mempunyai
prognosis yang lebih baik karena jarang menimbulkan komplikasi yang
berbahaya.
Prognosis OMSK tipe maligna dengan kolesteatoma yang tidak diobati
akan berkembang menjadi meningitis, abses otak, paralisis fasialis atau
labirinitis supuratif yang merupakan komplikasi yang fatal. Sehingga OMSK
tipe maligna harus diobati secara aktif sampai proses erosi tulang berhenti.

17

BAB III
LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PENDERITA
Nama

: I Wayan Nata

Umur

: 51 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pendidikan

: Tamat SMA

Pekerjaan

: PNS

Suku Bangsa

: Bali

Agama

: Hindu

Status Perkawinan

: Kawin

Alamat

: Pesinggahan, Klungkung

Tanggal Ke Poliklinik : 31 Desember 2014


II.

ANAMNESIS
Keluhan Utama: Keluar cairan dari telinga kanan
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poliklinik THT RSUD Klungkung dengan
keluhan keluar cairan dari telinga kanan sejak hari selasa, 9 hari yang lalu.
Cairan yang keluar dikatakan bernanah dan tidak berbau busuk. Cairan
keluar sedikit-sedikit dan terasa penuh serta krebek-krebek di telinga kiri.
Keluhan ini dirasakan hilang timbul. Sehari sebelum keluar cairan dari
telinganya, pasien mengatakan sempat membersihkan telinganya dengan
lidi busung, karena merasa gatal. Pada hari jumat telinganya dikeluhkan
terasa sakit. Pasien juga mengeluhkan merasa kesulitan untuk mendengar
suara dengan volume rendah. Pendengaran dikatakan terasa jelas
terganggu jika dirasakan ada cairan pada kedua telinga. Penderita
menyangkal riwayat trauma pada telinga. Penderita tidak merasa
telinganya pernah dimasukkan sesuatu benda asing. Nyeri pada telinga,
pilek, batuk dan demam juga disangkal oleh penderita.

18

Riwayat Pengobatan :
Pada hari sabtu pasien datang ke UGD RSUD Klungkung berobat
untuk mengatasi keluhannya.
Riwayat Penyakit Terdahulu:
Pasien menerangkan bahwa saat masih kecil pasien pernah
mengalami keluhan yang serupa, saat itu dikatakan kedua telinganya sakit
yang diikuti dengan keluarnya nanah. Saat itu dikatakan juga
pendengarannya mulai terganggu, namun pasien tidak pernah mencari
pengobatan untuk mengatasi keluhannya tersebut dan dari saat tersebut
hingga kini sering hilang timbul.
Pasien menyangkal adanya riwayat asma, alergi terhadap makanan
tertentu, maupun terhadap obat-obatan tertentu. Pasien menyangkal
mengalami penyakit kronis dan penyakit sistemik tertentu. Pasien tidak
pernah menjalani operasi maupun transfusi darah.
Riwayat Keluarga:
Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita keluhan seperti
yang dikeluhkan oleh pasien.

Riwayat Pribadi/Sosial:
Pasien menerangkan bahwa saat masih kecil pasien pernah
mengalami keluhan yang serupa, saat itu dikatakan kedua telinganya sakit
yang diikuti dengan keluarnya nanah. Saat itu dikatakan juga
pendengarannya mulai terganggu, namun pasien tidak pernah mencari
pengobatan untuk mengatasi keluhannya tersebut dan dari saat tersebut
hingga kini sering hilang timbul.
Pasien menyangkal adanya riwayat asma, alergi terhadap makanan
tertentu, maupun terhadap obat-obatan tertentu. Pasien menyangkal
mengalami penyakit kronis dan penyakit sistemik tertentu. Pasien tidak
pernah menjalani operasi maupun transfusi darah
Telinga
Sekret
Tuli

Kanan
+
-

Kiri
-

Hidung
Sekret
Tersum

Kanan
-

Kiri
-

Tenggorok
Riak
Gangguan

Ket
N

19

Tumor
Tinitus

bat
Tumor
Pilek

Sakit

Sakit

Korpus
Alienu
m
Vertigo
III.

Suara
Tumor
Batuk
Korpus
Alienum

Korpus
-

Alienu

Sesak

m
Bersin

Napas
-

PEMERIKSAAN FISIK
Vital Sign
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 82 x/menit

Respirasi

: 20 x/menit

Temperatur

: 36,6 C

Berat badan

: 75 kg

Tinggi badan

: 175 cm

BMI

: 24,48 kg/m2

Status General
Kepala

: Normocephali

Mata

: Anemis (-/-), ikterus (-/-), reflek pupil (+/+) isokor

THT

: Sesuai status lokalis

Leher

:
Pembesaran kelenjar limfe (-/-)
Pembesaran kelenjar parotis (-/-)
Kelenjar tiroid (-)

Thorak

: Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur ()


Po

: Ves (+/+), Rh (-/-), Wh (-/-)

Abdomen

: Distensi (-), BU (+) N, hepar/lien tidak teraba

Ekstremitas

: dalam batas normal

20

Status lokalis THT :

Status

Kanan

Kiri

Daun Telinga

Normal

Normal

Liang Telinga

Sempit

Lapang

Telinga
Status
Tes
Pendengaran
Berbisik

+
Discharge

/ Pulsasi

Weber

Timpani

sentral

Tumor

telinga Kanan

lebih keras pada


telinga kanan

+
Perforasi

Menurun pada

Mendengar

purulent

Membran

Keterangan

Rinne negatif
Intak

Rinne

padatelinga
kanan
Memanjang

Schwabach

pada telinga
kanan

Mastoid

Status
Hidung Luar
Kavum Nasi
Septum
Discharge
Mukosa
Tumor
Konka
Sinus
Koana

Normal

Normal

Tes Alat
Keseimbangan

Hidung
Kanan
Normal
Lapang
Deviasi (-)
Merah muda
Dekongesti
Nyeri Tekan (-)
Tdk dievaluasi

Kiri
Normal
Lapang
Deviasi (-)
Merah muda
Dekongesti
Nyeri Tekan (-)
Tdk dievaluasi

Tenggorok
Status
Dispneu

Keterangan
-

Status
Stridor

Keterangan
-

21

Sianosis
Mukosa
Dinding
Belakang

Merah Muda

Suara
Tonsil

Normal

Normal
Kanan
Kiri
T1,
T1,
Tenang

Tenang

Laring
Status
Epiglotis
Aritenoid
Plika

Keterangan
Tdk dievaluasi
Tdk dievaluasi
Tdk dievaluasi

Ventrikularis
IV.

Status
Plika Vokalis
Rimaglotis

Keterangan
Tdk dievaluasi
Tdk dievaluasi

Kelenjar Limpe Leher

PK (-)

RESUME
Pasien datang ke poliklinik THT RSUD Klungkung dengan keluhan keluar
cairan dari telinga kanan sejak 9 hari yang lalu. Pasien juga mengeluh
telinga terasa sakit. Pasien juga mengeluhkan merasa kesulitan untuk
mendengar suara dengan volume rendah. Saat masih kecil pasien pernah
mengalami keluhan yang serupa. Dari pemeriksaan kedua telinga
didapatkan sekret purulen, terjadi fluksasi dan perforasi sentral pada
membran timpani telinga kanan.

V.

USULAN PEMERIKSAAN
Foto Schuller
Audiometri

VI.

DIAGNOSIS
Otitis Media Supuratif Kronis Fase Aktif Dextra

VII.

PENATALAKSANAAN
-

Toilet telinga dengan H2O2 3%

Ofloxacin tetes telinga 2 x 5 tetes

Ciprofloxacin 2 x 500 mg

Ambroxol 3 x 30 mg

Pseudoefedrin 3 x 1 tab

Kontrol 2 hari lagi


KIE :

22

a. Menjaga kebersihan telinga dan kebersihan diri secara keseluruhan.


Dijaga agar liang telinga selalu bersih dan kering sehingga tidak timbul
infeksi di telinga.
b. Menjaga agar telinga yang sakit jangan sampai kemasukan air.
c. Menjaga kondisi optimal tubuh agar tidak mudah terjadi infeksi
dengan cara makan makanan bergizi, cukup istirahat.
d. Disarankan untuk dilakukan operasi timpanoplasty pada membran
timpani untuk memperbaiki fungsi pendengaran.
e. Kontrol secara rutin ke poliklinik THT.
VIII. PROGNOSIS
Dubius ad bonam.

23

BAB IV
PEMBAHASAN
1. Pasien ini didiagnosis Otitis Media Supuratif Kronis Fase Aktif Dextra
karena :
Dari anamnesis didapatkan pasien mengeluh keluar cairan dari telinga kanan
sejak hari selasa, 9 hari yang lalu. Cairan yang keluar dikatakan bernanah dan
tidak berbau busuk. Cairan keluar sedikit-sedikit dan terasa penuh serta
krebek-krebek di telinga kiri. Keluhan ini dirasakan hilang timbul. Sehari
sebelum keluar cairan

dari telinganya,

pasien mengatakan sempat

membersihkan telinganya dengan lidi busung, karena merasa gatal. Pada hari
jumat telinganya dikeluhkan terasa sakit. Pasien juga mengeluhkan merasa
kesulitan untuk mendengar suara dengan volume rendah. Pendengaran
dikatakan terasa jelas terganggu jika dirasakan ada cairan pada kedua
telinga.Pasien pernah mengalami keluhan yang sama saat masih kecil pada
telinga kiri dan kanannya tapi tidak diobati dan dari saat tersebut hingga kini
sering hilang timbul. Hal ini sesuai dengan gejala-gejala yang biasanya timbul
akibat OMSK dimana onsetnya sudah lebih dari 2 bulan.
Pada pemeriksaan fisik THT didapatkan pada telinga didapatkan discharge
(secret)` purulen pada telinga kanan, perforasi sentral pada membran timpani
telinga kanan.
2. Penatalaksanaan pada pasien ini yaitu :
Prinsip terapi OMSK benigna adalah konservatif atau medikamentosa.
Toilet telinga H2O2 3%: diberikan karena sekret keluar terus dari kedua
telinga. Obat ini diberikan selama 3-5 hari. Setelah sekret berkurang atau bila
sudah tenang, dilanjutkan dengan obat tetes telinga yang mengandung
antibiotik (dalam kasus ini diberikan ofloxacine), tidak lebih dari 1-2 minggu
karena obat bersifat ototoksik, setelah itu dibersihkan dengan aspirasi
(suction) sehingga tetap kering.
Ciprofloxacin 2 x 1 tablet : diberikan untuk pengobatan infeksi yang terjadi.
Antibiotik ini diberikan selama 5-10 hari. Antibiotik dapat diberikan pada
setiap fase aktif dan disesuaikan dengan kuman penyebab. Patogen OMSK

24

terutama kuman gram negatif yaitu Pseudomonas Aeruginosa yang tidak


sensitif atau sudah resisten dengan antibiotika klasik seperti penisilin,
amoksisilin, eritromisin, tetrasiklin dan klorampenikol. Pemilihan antibiotik
sistemik sesuai dengan keadaan klinis, dari penampilan sekret yang keluar
serta riwayat pengobatan sebelumnya. Sekret hijau kebiruan menandakan
Pseudomonas sebagai kuman penyebab, sekret kuning pekat seringkali
disebabkan oleh staphylococcus, sekret berbau busuk sering kali mengandung
golongan anaerob.
Pseudoefedrin 3 x 1 tablet : Pseudoefedrin bertindak sebagai dekongestan
untuk mengurangi vasodilatasi pembuluh darah, sehingga dapat mengatasi
edema pada tuba. Edema pada tuba eustachius ini dapat dikurangi dengan
pemberian pseudoephedrine, selain itu diharapkan akan timbul drainase sekret
yang terkumpul pada telinga tengah ke nasofaring.
Ambroxol 3x 30 mg: Ambroxol berefek mukokinetik dan sekretolitik, yang
dapat mengeluarkan lendir yang kental dan lengket dan mengurangi staknasi
sekresi cairan sehingga pengeluaran lendir menjadi mudah. Sekresi lendir
menjadi normal kembali selama pengobatan dengan ambroxol serta dapat
memulihkan mekanisme fisiologis clearance yang memainkan peran penting
dalam mekanisme pertahanan fisiologis tubuh. Selain itu ambroxol dapat
digunakan untuk mengatasi post nasal drip.
Bila sekret telah kering tetapi perforasi masih ada setelah diobservasi selama
2 bulan maka idealnya dilakukan timpanoplasti atau miringoplasti. Operasi ini
bertujuan untuk menghentikan infeksi secara permanen, memperbaiki
membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya komplikasi atau
kerusakan fungsi pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki
pendengaran.
3. Prognosis
Dubius ad bonam, karena pada pasien ini belum didapatkan tanda-tanda
komplikasi baik intratemporal maupun komplikasi intrakranial.

25

BAB V
KESIMPULAN
Otitis Media Supuratif Kronik (OMSK) ialah infeksi kronik di telinga
tengah dengan perforasi membran timpani dan sekret yang keluar dari telinga
tengah terus menerus atau hilang timbul. OMSK dapat terjadi akibat tidak
terjadinya resolusi pada OMA. Dimana dalam hal ini akan terjadi perforasi
menetap dan sekret tetap keluar lebih dari satu setengah bulan atau dua bulan.
Maka keadaan ini disebut sebagai otitis media supuratif kronis (OMSK). Perforasi
ini dapat terjadi karena trauma, iatrogenik, atau karena otitis media akut dengan
pengobatan yang lambat.
Prinsipnya penegakan diagnosis OMSK berpedoman atas hasil dari
pemeriksaan klinis (anamnesis dan pemeriksaan fisik) serta dapat dibantu dengan
pemeriksaan penunjang lain. Dari anamnesis didapatkan riwayat otorea menetap
atau berulang lebih dari 2 bulan. Terapi OMSK tipe benigna ialah konservatif atau
dengan medikamentosa. Sedangkan prinsip terapi OMSK tipe maligna ialah
pembedahan.
Dengan mengetahui patogenesis dari penyakit ini, diharapkan dokter
umum sebagai garis pertahanan terdepan mampu mendiagnosis penyakit ini secara
dini, memberikan penanganan yang adekuat, sehingga dapat mengurangi
prevalensinya di masyarakat.

26