Anda di halaman 1dari 24

widnyani askep

Sabtu, 22 Januari 2011


askep KET
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
DEFINISI
Perjalanan hasil konsepsi dapat terganggu dalam perjalanan sehingga tersangkut
dalam lumen tuba. Tuba fallopi tidak mempunyai kemampuan untuk berkembang dan
menampung pertumbuhan janin sehingga setiap saat kehamilan yang terjadi terancam pecah.
Kehamilan ektopik terjadi bila telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar
endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sinonim dengan kehamilan ektopik
karena kehamilan pada pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam
uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Kehamilan

ektopik

merupakan

kehamilan

yang

berbahaya

karena

tempat

implantasinya tidak memberikan kesempatan untuk tumbuh kembang mencapai aterm.


Perjalanan klinik kehamilan ektopik bervariasi, sehingga bidan dapat dimintai pertolongan
pertama. Oleh karena itu, bidan di daerah pedesaan perlu mengetahui kemungkinan
terganggunya kehamilan ektopik, sehingga dapat melakukan rujukan medis.
Kehamilan ektopik adalah setiap implantasi yang telah dibuahi di luar cavum uterus.
Implantasi dapat terjadi di tuba fallopii, ovarium, serviks dan abdomen. Namun kejadian
kehamilan ektopik yang terbanyak adalah di tuba fallopii (Muria, 2002)
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi di tuba. Sangat jarang terjadi implantasi pada
ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus yang rudimenter dan di
ventrikel pada uterus.
Berdasarkan tempat implantasinya kehamilan ektopik :

Pars interstisial tuba

Pars ismika tuba

Pars ampuralis tuba

Kehamilan infundibulum tuba

Kehamilan abdominal primer atau sekunder

EPIDEMIOLOGI
Frekuensi kehamilan ektopik yang sebenarnya sukar ditemukan. Gejala kehamilan
ektopik terganggu yang dini tidak selalu jelas, sehinggatidak dibuat diagnosisnya. Tidak
semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau rupture tuba. Sebagian
hasil konsepsi mati dan pada umur muda kemudian diresorbsi. Pada hal yang terakhir ini
penderita hanya mengeluh haidnya terlambat untuk beberapa hari.
Di rumah sakit Dr. Cipto Mangunkusumo pada tahun 1987 terdapat 153 kehamilan
ektopik diantara 4.007 persalinan atau 1 diantara 26 persalinan. Dalam kepustakaan frekuensi
kehamilan ektopik antara 1:28 samapi 1:329 tiap kehamilan.
Pemakaian antibiotic dapat meningkatkan frekuensi kehamilan ektopik. Antibiotika
dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlengketan
menyebabkan pergerakan silia dan peristaltic tuba terganggu dan menghambat perjalanan
ovum yang dibuahi dari ampulla ke rahim sehingga implantasi terjadi pada tuba.
Kontrasepsi juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap jumlah
kelahiran di rumah sakit atau masyarakat. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa factor
predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga
jumlah kelahiranturun dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relative
meningkat. Selain IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterine, tetapi tidak
mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Sebagian besar wanita yang mengalami kehamilan ektopik berumur 20-40 tahun
dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan
berkisar antara 0%-14,6%.
ETIOLOGI
Sebagian besar kehamilan ektopik terjadi pada tuba sehingga setiap gangguan pada
tuba yang disebabkan infeksi akan menimbulkan gangguan dalam perjalanan hasil konsepsi
menuju rahim. Sebagai gambaran penyebab kehamilan ektopik dapt dijabarkan sebagi berikut
:

a.

Gangguan pada lumen tuba

Infeksi menimbulkan perlengketan endosalping sehingga menyempitkan lumen

Hipoplasia tuba sehingga lumennya menyempit

Operasi plastik pada tuba (rekontruksi) atau melepaskan perlengketan dan tetap
menyempitkan tuba

b. Gangguan di luar tuba

Terdapat endometriosis tuba sehingga memperbesar kemungkinan implantasi

Terdapat diventrikel pada lumen tuba

Terdapat perlengketan sekitar tuba sehingga memperkecil lumen tuba

Kemungkinan migrasi eksternal, sehingga hasil konsepsi mencapai tuba dalam keadaan
blastula
Dengan terjadinya implantasi di dalam lumen tuba dapat terjadi beberapa kemungkinan :

1. Hasil konsepsi mati dini

Tempatnya tidak mungkin memberikan kesempatan tumbuh kembang hasil konsepsi mati
secara dini

Karena kecilnya kemungkinan diresorbsi

2. Terjadi abortus

Kesempatan berkembang yang sangat kecil menyebabkan hasil konsepsi mati dan lepas
dalam lumen

Lepasnya hasil konsepsi menimbulkan perdarahn dalam lumen tuba atau keluar lumen serta
membentuk timbunan darah

Tuba tampak berwarna biru pada saat dilakukan operasi

3. Tuba fallopii

Karena tidak dapat berkembang dengan baik maka tuba dapat pecah

Jonjot villi menembus tuba, sehingga terjadi rupture yang menimbulkan timbunan darah ke
dalam ruangan abdomen.

Rupture tuba menyebabkan hasil konsepsi terlempar keluar dan kemungkinan untuk
melakukan implantasi menjadi kehamilan abdominal sekunder

Kehamilan abdominal dapat mencapai cukup besar.

FAKTOR PREDISPOSISI
1. ART (assisted reproductive technologies)
2. In viltro fertilization
3. Riwayat merokok
4. Kerusakan tuba karena kehamilan
5. Pertambahan usia ibu
6. Riwayat salpingitis
7. Perlekatan lumen
8. Kelainan anatomi tuba ekspose diethylstilbesterol-DES intrauteri
9. Riwayat operasi pada tuba fallopii
10. Tuba pasca terapi konservatif pada kehamilan ektopik
11. Migrasi eksternal hormone eksogen
12. Kehamilan yang terjadi pada pasien dengan kontrasepsi oral yang hanya mengandung
progestin ( progestin-only pill) disebabkan oleh efek relaksasi otot polos progesterone
13. Riwayat abortus
PATOFISIOLOGI
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama
dengan halnya di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner.
Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping.
Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati
secara dini dan kemudian diresorbsi. Pada nidasi secara interkolumner telur bernidasi antara 2
jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup, maka telur dipisahkan dari lumen tuba
oleh lapisan jaringan yang menyerupai dsidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena
pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang-kadang tidak tampak, dengan
mudah villi korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot-otot tuba
dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung
pada beberapa factor, seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya
perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormone estrogen dan progesterone dari korpus luteum
graviditatis dan trofoblas, uterus menjadi besar dan lembek; endometrium dapat berubah pula

menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan-perubahan pada endometrium yang


disebut

fenomena Arias-Stella. Sel

epitel membesar dengan

intinya

hipertrofik,

hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau
berbusa dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut hanya ditemukan pada
sebagian kehamilan ektopik.
Setelah janin mati, desidua dalam uterus mengalami degenerasi dan kemudian
dikeluarkan berkeping-keping, tetapi kadang-kadang dilepaskan secara utuh, perdarahan yang
dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus dan disebabkan oleh
pelepasan desidua yang degeneratif.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Karena tuba
bukan tempat untuk pertumbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh
seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6
sampai 10 minggu.
1. Hasil konsepsi mati dini atau diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yang dibuahi cepat mati karena vaskularisasi kurang,
dan dengan muah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini penderita tidak mengeluh apa-apa,
hanya haidnya terlambat untuk beberapa hari.
2. Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yang terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh villi koriales
pada dinding tuba di tempat implantasi dapat melepaskan midigah dari dinding tersebut
bersama-sama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau
seluruhnya, tergantung pada derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh,
mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dan kemudian didorong oleh
darah kea rah ostium tuba abdominal. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada
implantasi telur yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars
ampullaris, sedangkan penebusan dinding tuba oleh villi korialis ke arah peritoneum biasanya
terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan karena lumen pars ampullaris
lebih luas, sehingga dapat mengikuti lebih mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan
dengan bagian ismus dengan ,lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tak sempurna pada abortus, perdarahan akan terus
berlangsung dari sedikit-sedikit oleh darah, sehingga berubah menjadi mola kruenta.
Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan

(hematosalping), selanjutnya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba. Darah ini
akan berkumpul di kavum Douglas dan akan membentuk hematokel retrouterina.
3. Ruptur dinding tuba
Rupture tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan
muda. Sebaliknya rupture pada pars interstisial terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut.
Factor utama yang menyebabkan rupture ialah penembusan villi koriales ke dalam lapisan
muskularis tuba terus ke peritoneum. Rupture dapat terjadi secara spontan atau karena trauma
ringan seperti koitus dan pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam
rongga perut, kadang-kadang sedikit, kadang-kadang banyak, sampai menimbulkan syok dan
kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahan dalam lumen tuba.
Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominal.
Bila pada abortus dalam tuba ostium tuba terseumbat, rupture sekunder dapat terjadi. Dalam
hal ini dinding tuba, yang telah dilapisi oleh invasi trofoblas, pecah karena tekanan darah
dalam tuba. Kadang-kadang rupture terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk
hematoma intraligamenter antara 2 lapisan ligamentum itu. Jika janin hidup terus, terdapat
kehamilan intraligamenter.
Pada rupture ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi bila robekan tuba
kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila penderita tidak
dioperasi dan tidak meninggal karena perdarahan, nasib janin bergantung pada kerusakan
yang diderita dan tuanya kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil dapat diresorbsi
seluruhnya, bila besar, kelak dapat diubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan dengan
plasenta masih utuh,kemungkinan tumbuh terus dalam ongga perut, sehingga akan terjadi
kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencakupi kebutuhan makanan janin, plasenta dari
tuba akan meluas implantasinya ke jaringan sekitarnya, misalnya ke sebagian uterus,
ligamentum latum, dasar panggul dan usus.
PATHWAY: terlampir
KLASIFIKASI
Menurut Taber (1994), macam-macam kehamilan ektopik berdasarkan tempat implantasinya
antara lain:
1. Kehamilan Abdominal

Kehamilan atau gestasi yang terjadi dalam kavum peritonium. (sinonim: kehamilan
intraperitonial)
2. Kehamilan Ampula
Kehamilan ektopik pada pars ampularistuba falopii. Umumnya berakhir sebagai abortus tuba
3. Kehamilan Servikal
Gestasi yang berkembang bila ovum yang telah dibuahi berimplantasi dalam kanalis
servikalis uteri
4. Kehamilan Heterotopik kombinasi
Kehamilan bersamaan intauterin dan ekstrauterin
5. Kehamilan Kornu
Gestasi yang berrkembang dalam kornu uteri
6. Kehamilan Interstisial
Kehamilan pada pars interstisial tuba falopii
7. Kehamilan Intraligamenter
Kertumbuhan janin dan plasenta diantara lipatan ligamentum, estela rupturnya kehamilantuba
melaluidasar dari tuba falopii
8. Kehamilan Ismik
Gestasi pada pars ismikus tuba falopii
9. Kehamilan Ovarial
Bentuk yang jarang dari kehamilan ektopik dimana blastolisis berimplantasi pada permukaan
ovarium
10. Kehamilan tuba
kehamilan ektopik pada setiap bagian dari tuba falopii
GEJALA KLINIS
Gambaran klinik kehamilan ektopik bervariasi dari bentuk abortus tuba atau terjadi
rupture tuba. Mungkin dijumpai rasa nyeri dan gejala hamil muda. Pada pemeriksaan dalam
terdapat pembesaran uterus yang tidak sesuai dengan tua kehamilan dan belum dapat diraba
kehamilan pada tuba, karena tuba dalam keadaan lembek. Bila terjadi gangguan kehamilan
tuba, gejalanya tergantung pada tua kehamilan tuba, lamanya ke dalam rongga abdomen,
jumlah darah yang terdapat dalam rongga abdomen, dan keadaan umum ibu sebelum
kehamilan terjadi. Dengan demikian trias gejala klinik hamil ektopik terganggu sebagai
berikut :
1. Amenorea

Lamanya amenorea bervariasi dari beberapa hari sampai beberapa bulan

Dengan amenorea dapat dijumpai tanda-tanda kehamilan muda, yaitu morning sickness,
mual-mual, terjadi perasaan ngidam.

2. Terjadi nyeri abdomen

Nyeri abdomen disebabkan kehamilan tuba yang pecah

Rasa nyeri dapat menjalar ke seluruh abdomen tergantung dari perdarah di dalamnya

Bila rangsangan darah dalam abdomen mencapai diafragma, dapat terjadi nyeri di daerah
bahu

Bila darahnya membentuk hematokel yaitu timbunan di daerah kavum Douglas akan terjadi
rasa nyeri di bagian bawah dan saat buang air besar

3. Perdarahan

Terjadinya abortus atau rupture kehamilan tuba terdapat perdarahan ke dalam kavum
abdomen dalam jumlah yang bervariasi

Darah yang tertimbun dalam kavum abdomen tidak berfungsi sehingga terjadi gangguan
dalam sirkulasi umum yang menyebabkan nadi meningkat, tekanan darah menurun sampai
jatuh dalam keadaan syok

Hilangnya darah dari peredaran darah umum yang mengakibatkan penderita tampak anemis,
daerah ujung ekstremitas dingin, berkeringat dingin, kesadaran menurun, dan pada abdomen
terdapat timbunan darah

Setelah kehamilannya mati, desidua dalam kavum uteri dikeluarkan dalam bentuk desidua
spuria, seluruhnya dikeluarkan bersama dan dalam bentuk perdarahan hitam seperti
menstruasi.
Selain gejala klinis diatas, terdapat tanda-tanda untuk mengetahui kehamilan ektopik
yaitu :

1. Abdomen tegang : rasa tegang abdomen yang generalized atau localized


2. Nyeri goyang serviks
3. Ketegangan pada adneksa terdapat pada 75% kehamilan ektopik
4.

Massa adneksa. Masa unilateral pada adneksa dapat diraba pada sampai setengah kasus
kehamilan ektopik

5. Kadang-kadang ditemukan masa pada kavum Douglas atau hematokele


6. Perubahan pada uterus : terdapat perubahan seperti kehamilan normal
MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinik pada klien dengan kehamilan ektopik aalah sebagai berikut :
1.

Gambaran klinis kehamilan tuba belum terganggu tidak khas. Pada umumnya ibu
menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda dan mungkin merasa nyeri sedikit di perut
bagian bawah yang tidak seberapa dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal, uterus membesar
dan lembek, walaupun mungkin besarnya tidak sesuai dengan kehamilan. Tuba yang
mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual.

2. Gejala kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda dari perdarahan banyak yang tiba-tiba
dalam rongga perut sampai terdapat gejala yang tidak jelas sehingga sukar membuat
diagnosisnya
3. Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. pada rupture tuba nyeri
perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitas yang kuat disertai dengan
perdarahan yang menyebabkan ibu pingsan dan masuk ke dalam syok.
4.

Perdarahan pervaginam merupakan salah satu tanda penting yang kedua pada kehamilan
ektopik terganggu (KET). Hal ini menunjukkan kematian janin.

5.

Amenore juga merupakan tanda yang penting pada kehamilan ektopik. Lamanya amenore
bergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi.
PEMERIKSAAN FISIK

1. Adanya nyeri tekan pada pelvik,


2. Pembesaran uterus atau massa pada adneksa
3. Adanya tanda-tanda abdomen akut,yaitu perut tegang di bagian bawah, nyeri tekan dan nyeri
lepas dinding abdomen
4.

Pada pemerikssaaan vaginal,timbul nyeri bila servik digerakkan , kavum douglas


menonjoldan nyeri pada perabaan
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Kesukaran membuat diagnosis yang pasti pada kehamilan ektopik belum terganggu
demikian besarnya, sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau rupture
tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Bila diduga ada kehamilan ektopik yang belum
terganggu, maka penderita segera dirawat di rumah sakit. Alat bantu diagnostic yang dapat
digunakan ialah ultrasonografi, laparoskopi atau kuldoskopi.
Diagnosis kehamilan ektopik terganggu pada jenis mendadak tidak banyak mengalami
kesukaran, tetapi pada jenis menahun atau atipik bisa sulit sekali. Untuk mempertajam
diagnosis, maka pada tiap wanita dalam masa reproduksi dengan keluhan nyeri pada perut
bagian bawah atau kelainan haid, kemungkinan kehamilan ektopik harus dipikirkan. Pada

umumnya dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan yang cermat diagnosis dapat
ditegakkan, walaupun biasanya alat bantu diagnostic seperti kuldosentesis, ultrasonografi dan
laparoskopi masih diperlukan anamnesis. Haid biasanya terlambat untuk beberapa waktu dan
kadang-kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda. Nyeri perut bagian bawah, nyeri
bahu, tenesmus, dapat dinyatakan. Perdarahan per vaginam terjadi setelah nyeri perut bagian
bawah.

Pemeriksaan umun : penderita tampak kesakitan dan pucat, pada perdarahan dalam
rongga perut tanda-tanda syok dapat ditemukan. Pada jenis tidak mendadak perut
bagian bawah hanya sedikit mengembung dan nyeri tekan.

Pemeriksaan ginekologi : tanda-tanda kehamilan muda mungkin ditemukan.


Pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Bila uterus dapat diraba, maka akan
teraba sedikit membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus dengan
batas yang sukar ditemukan. Kavum Douglas yang menonjol dan nyeri-raba
menunjukkan adanya hematokel retrouterina. Suhu kadang-kadang naik, sehingga
menyukarkan perbedaan denga infeksi pelvik.

Pemeriksaan laboratorium : pemeriksaan hemoglobim dan jumlah sel darah merah


berguna dalam menegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu, terutama bila ada
tanda-tanda perdarahan dalam rongga perut. Pada kasus jenis tidak mendadak
biasanya ditemukan anemia, tetapi harus diingat bahwa penurunan hemoglobin baru
terlihat setelah 24 jam.

Penghitungan leukosit secara berturut menunjukkan adanya perdarahan bila


leukositosis meningkat. Untuk membedakan kehamilan ektopik dari infeksi pelvik,
dapat diperhatikan jumlah leukosit. Jumlah leukosit yang melebihi 20.000 biasanya
menunjuk pada keadaan yang terakhir. Tes kehamilan berguna apabila positif. Akan
tetapi tes negative tidak menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik terganggu
karena kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas menyebabkan produksi
human chorionic gonadotropin menurun dan menyebabkan tes negative.

Kuldosentris : adalah suatu cara pemeriksaan untuk mengetahui apakah kavum


Douglas ada darah. Cara ini amat berguna dalam membantu membuat diagnosis
kehamilan ektopik terganggu. Tekniknya :

1. Penderita dibaringkan dalam posisi litotomi


2. Vulva dan vagina dibersihkan dengan antiseptic
3. Speculum dipasang dan bibir belakang porsio dijepit dengan cunam servik ; dengan traksi ke
depan sehingga forniks posterior tampak
4.

Jarum spinal no 18 ditusukkan ke dalam kavum Douglas dan dengan semprit 10 ml


dilakukan penghisapan

5.

Bila pada penghisapan ditemukan darah, maka isinya disemprotkan pada kain kasa dan
perhatikan apakah darah yang dikeluarkan merupakan :

6. Darah segar berwarna merah yang dalam beberapa menit akan membeku; darah ini berasal
dari arteri atau vena yang tertususk
7.

Darah tua berwarna coklat sampai hitam yang tidak membeku, atau yang berupa bekuan
kecil-kecil; darah ini menunjukkan adanya hematokel retrouterina.

Ultrasonografi : berguna dalma diagnostic kehamilan ektopik. Diagnosis pasti ialah


apabila ditemukan kantong gestasi di luar uterus yang di dalamnya tampak denyut
jantung janin. Hal ini hanya terdapat pada 5 % kasus kehamilan ektopik. Walaupun
demikian, hasil ini masih harus diyakini lagi bahwa ini bukan berasal dari kehamilan
intrauterine pada kasus uternus bikornis.

Laparoskopi : hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostic terakhir untuk


kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostic yang lain meragukan.
Melalui prosedur laparoskopik, alat kandungan bagian dalam dapat dinilai. Secara
sistematis dinilai keadaan uterus, ovarium, tuba, kavum Douglas dan ligamentum
latum. Adanya darah dalam rongga pelvis mungkin mempersulit visualisasi alat
kandungan, tetapi hal ini menjadi indikasi untuk melakukan laparotomi.
DIAGNOSA BANDING

1. Infeksi pelviks
2. Kista folikel
3. Abortus biasa
4. Radang panggul
5. Torsi kista ovarium
6. Endometriosis

PROGNOSIS
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini
dan persediaan darah yang cukup. Helaman dkk., (1971) melaporkan 1 kematian di antara
826 kasus, dan Wilison dkk (1971) 1 antara 591. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka
kematian dapat tinggi. Sjahid dan Martohoesodo (1970) mendapatkan angka kematian 2 dari
120 kasus, sedangkan Tarjamin dkk 91973) 4 dari 138 kehamilan ektopik.
Pada tahun 2009, 60% pasien pasca kehamilan ektopik akan mengalami kehamilan
berikutnya dengan risiko berulangnya kejadian sebesar 10%. (pada wanita normal 1 %). Pada
mereka yang menjadi hamil lakukan pengamatan teliti dan konfirmasi kehamilan intrauterine
dengan TVS pada minggu ke 6 sampai ke 8.
Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral.
Sebagian wanita menjadi steril, setelah mengalami kehamilan ektopik atau dapat mengalami
kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain. Angka kehamilan ektopik yang berulang
dilaporkan antara 0 % sampai 14 %. Untuk wanita dengan anak yang sudah cukup, sebaiknya
pada operasi dilakukan salpingektomia bilateralis. Dengan sendirinya hal ini perlu disetujui
oleh suami istri sebelumnya.
PENATALAKSANAAN
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparatomi. Dalam tindakan
demikian, beberapa hal yang harus diperhatikan dan dipertimbangkan, yaitu sebagai berikut :
1. Kondisi ibu pada saat itu
2. Keinginan ibu untuk mempertahankan fungsi reproduksinya
3. Lokasi kehamilan ektopik
4. Kondisi anatomis organ pelvis
5. Kemampuan teknik bedak mikro dokter
6. Kemampuan teknologi fertilitasi in vitro setempat
Hasil pertimbangan ini menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada
kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedahan konservatif. Apabila kondisi ibu
memburuk, misalnya dalam keadaan syok, lebih baik dilakukan salpingektomi . pada kasus
kehamilan ektopik di pars sampularis tuba yang belum pecah biasanya ditangani dengan
menggunakan kemoterapi untuk menghindari tindakan pembedahan.
B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1. PENGKAJIAN
a) Sirkulasi: penurunan perfusi ke jaringan
b) Cairan: perdarahan
c) Nyeri: nyeri pada panggul dan perut
d) Genetalia: nyeri pada servik
e)

Penyuluhan/pembelajaran: riwayat penggunaan alat kontrasepsi (IUD), tanda-tanda


kehamilan

2. DIAGNOSA
Kemungkinan diagnosis keperawatan yang muncul adalah sebagai berikut :
a.

Perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan perdarahan yang lebih banyak pada uterus

b. Defisit volume cairan yang berhubungan dengan rupture pada lokasi implantasi , perdarahan
c.

Nyeri yang berhubungan dengan rupture tuba fallopii, perdarahan intraperitonial

d. Kelemahan berhubungan dengan banyaknya darah yang keluar saat perdarahan


e.

Berduka berhubungan dengan kematian janin

f.

Ansietas berhubungan dengan proses akan dilakukannya pembedahan

g. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kurang pemahaman atau tidak mengenal
sumber-sumber informasi.
Post op
h. Nyeri akut berhubungan dengan diskontinuitasjaringan kulit sekunder akibat laparotomi
i.

Risiko infeksi berhubungan dengan luka operasi dan pemasangan alat-alat perawatan

3. INTERVENSI
No
1

Diagnosa
Perubahan

Tujuan dan kriteria hasil


Intervensi
Rasional
Setelah diberikan asuhan - Awasi tanda vital, kaji pengisisn kapiler,
- Memberikan informasi tentang derajat/keadekuatan

perfusi

keperawatan

jaringan

jam

berhubungan

mampu mendemonstrasikan -

Kaji respon verbal melambat, mudah

dengan

perfusi yang adekuat secara

terangsang, agitasi, gangguan memori,

perdarahan

individual dengan KH:

bingung

yang

- Kulit hangat dan kering

lebih

selama..x

diharapkan

pasien

perfusi

jaringan

dasar kuku

kebutuhan intervensi

dan

membantu

menentukan

- Dapat mengindikasikan gangguan funsi serebral


karena hipoksia atau defisiensi vitamin B12
- Fase konstriksi (organ vital) menurunkan sirkulasi

- Catan keluhan rasa dingin. Pertahankan

perifer. Kenyamanan pasien atau kebutuhan rasa

banyak pada

- Ada nadi perifer / kuat

suhu lingkungan dan tubuh hangat sesuai

hangat harus seimbang dengan kebutuhan untuk

uterus

- Tanda vital dalam batas

indikasi

menghindari panas berlebihan pencetus fasodilatasi

normal

Kolaborasi :

- Pasien sadar/berorientasi

produk darah sesuai indikasi. Awasi ketat

memperbaiki defisiensi untuk menurunkan risiko

untuk komplikasi tranfusi

perdarahan.

Keseimbangan

pemasukan/pengeluaran
2

warna kulit atau membran mukosa dan

Berikan SDM yang lengkap/packed,

Defisit

- Tak ada edema


Setelah diberikan

volume

selama x jam diharapkan - Evaluasi turgor kulit, pengisian kapiler dan

cairan

yang

berhubungan

pasien

- Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi


askep - Awasi tekanan darah dan frekuensi jantung

menunjukkan

volume cairan yang adekuat -

kondisi umum membran mukosa


Catat respon fisiologis individual pasien

(penurunan perfusi organ)


-

Meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen ;

- Memaksimalkan transfer oksigen ke jaringan.


- Perubahan dapat menunjukkan efek hipovolemik
(perdarahan/dehidrasi)
- Indicator langsung status cairan/hidrasi
- Simtomatologi dapat berguna dalam mengukur berat/

dengan

dengan criteria hasil :

terhadap

lamanya episode perdarahan. Memburuknya gejala

rupture pada

- Tanda vital stabil

perubahan mental, kelemahan, gelisa,

dapat menujukkan berlanjutnya perdarahan atau tidak

lokasi

- Nadi teraba

ansietas, pucat, berkeringat, tacipnea,

adekuatnya penggantian cairan.

implantasi

peningkatan suhu.

sebagai efek

jenis dan pH dalam batas -

dari tindakan

normal

Haluaran urine, berat

perdarahan

misalnya

Pertahankan pencatatan akurat sub total


cairan / darah selama terapi penggantian

pembedahan

- Potensial kelebihan tranfusi cairan khususnya bila


volume tambahan diberikan sebelum tranfusi darah.
- Mempertahankan keseimbangan cairan/elektrolit pada

Kolaborasi :

tak adanya pemasukan melalui oral; menurunkan

- Berikan cairan Iv sesuai indikasi

risiko komplikasi ginjal.

Memberikan SDM, trombosit, dan factor


pembekuan

- Memperbaiki/ menormalkan jumlah SDM dan


kapasitas pembawa oksigen untuk memperbaiki
anemi,

Nyeri

yang Setelah

dibserika

berguna

untuk

mencegah/

mengobati

perdarahan
askep - Tentukan sifat, lokasi, dan dirasi nyeri. Kaji - Membantu dalam mendiagnosis dan menentukan

berhubungan

selama.x jam pasien dapat

kontraksi uterus, perdarahan, atau nyeri

tindakan yang akan dilakukan. Ketidaknyamanan

dengan

mendemonstrasikan

tekan abdomen

dihubungkan

teknik

dengan

aborsi

spontan

dan

rupture tuba relaksasi, tanda-tanda vital - Kaji stress psikologi ibu atau pasangan dan

molahidatidosa karena kontraksi uterus yang mungkin

fallopii,

dalam batas normal, tidak

respon emosional terhadap kejadian.

diperberat oleh infuse oksitosin. Ruptur kehamilan

perdarahan

meringis

Berikan lingkungan yang tenang dan

ektopik mengakibatkan nyeri hebat karena hemoragi

intraperitonia

aktifitas untuk menurunkan rasa nyeri.

yang tersembunyi saat tuba fallopii rupture ke dalam

Instruksikan klien untuk menggunakan

abdomen.

metode relaksasi misalnya nafas dalam, - Ansietas sebagai respon terhadap situasi darurat dapat
visualisasi distraksi dan jelaskan prosedur.

memperberat

ketidaknyamanan

karena

sindrom

Kolaborasi :

ketegangan, ketakutan dan nyeri.

- Berikan narkotik atau sedative berikut obat- - Dapat membantu dalam menurunkan tigkat nyeri dan
obat praoperatif bila prosedur pembedahan
diindikasikan

karenanya mereduksi ketidaknyamanan


-

- Siapkan untuk prosedur bedah bila terdapat


indikasi
4

askep

kenyamanan,

menurunkan

risiko

komplikasi pembedahan.
-

Tindakan

terhadap

penyimpangan

dasar

akan

menghilangkan nyeri
- Kaji kemampuan pasien untuk melakukan - Mempengaruhi pemilihan intervensi/ bantuan

Intoleransi

Setelah

aktivitas

selama .x jam diharapkan

tugas, catat laporan kelelahan, keletihan, - Manifestasi kardio pulmonal dari upaya jantung dan

berhubungan

pasien mampu melaporkan

dan kesulitan dalam menyelesaikan tugas

dengan

peningkatan

kelemahan

aktivitas dan menunjukkan

selama dan sesudah aktivitas. Catat respon - Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan

dan

penurunan tanda fisisologis

terhadap

banyaknya

intoleransi dengan KH:

denyut

darah

yang

- Tanda vital masih dalam

disritmia, pusing, dipsnea, takipnea, dan -

Hipotensi postural atau hipoksia serebral dapat

keluar

saat

rentang normal

sebagainya)

menyebabkan pusing, berdenyut, dan peningkatan

perdarahan

diberikan

Meningkatkan

toleransi

- Awasi tekanan darah, pernapasan dan nadi


aktivitas
jantung

(misal
atau

peningkatan

tekanan

darah,

- Berikan lingkungan tenang, pertahankan

paru untuk membawa jumlah oksigen adekuat ke


jaringan.
oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantunga dan
paru.

risiko cedera

tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan - Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai
batasi pengunjung, telepon, dan gangguan

normal dan memperbaiki tonus otot / stamina tanpa

berulang tindakan yang tak direncanankan.

kelemahan

- Ubah posisi pasien dengan perlahan dan - Mendorong pasien untuk melakukan banyak dengan
pantau terhadap pusing

membatasi penyimpangan energy dan mencegah

Rencanakan kemajuan aktivitas dengan

kelemahan

pasien termasuk aktivitas yang pasien


pandang

perlu.

Tingkatkan

tingkat

aktivitas sesuai toleransi


- Gunakan teknik penghematan energy misal
mandi
5

diberikan

dengan

Seteleh

berhubungan

selama x jam diharapkan

pasien

dengan

pasien

rasa

mendiskusikan

kematian

pergerakan kea rah resolusi

secara realistis

janin

dari rasa duka dan harapan untuk masa depan

duduk

untuk

melakukan tugas-tugas.
askep - Berikan lingkungan yang terbuka dimana -

Berduka

menunjukkan

duduk,

merasa

bebas
perasaan

Identifikasi

untuk
dan

Kemampuan komunikasi terapiutik seperti aktif

dapat

mendengarkan, diam, selalu bersedia, dan pemahaman

masalah

dapat memberikan pasien kesempatan untuk berbicara


secara bebas dan berhadapan dengan perasaan/

rasa

duka

(seperti

kerugian actual

penyangkalan, marah, tawar menawar, - Kecermatan akan memberikan pilihan intervensi yang
depresi, dan penerimaan)

sesuai pada waktu individu menghadapi rasa duka

- Identifikasi dan solusi pemecahan masalah


untuk

keberadaan

respon-respon

dslam berbagai cara yang berbeda

fisik -

misalnya : makan, tidur, tingkat aktifitas,


dan hasrat seksual

Mungkin

dibutuhkan

tambahan

bantuan

untuk

berhadapan dengan aspek-aspek fisik dari rasa berduka


- Proses berduka tidak berjalan dalam cara yang teratur,

- Dengarkan dengan aktif pandangan pasien

tetapi fluktuasinya dengan berbagai aspek dari

dan selalu sedia untuk membantu jika

berbagai tingkat yang muncul pada suatu kesempatan

diperlukan

atau pada kesempatan yang lain. Jika prosesnya

Kolaborasi :

bersifat disfungsional atau perpanjangan intervensi

Rujuk

pada

sumber-sember

lainnya

yang

misalnya konseling psikoterapi sesuai


petunjuk

lebih

agresif

diberikan

dibutuhkan

untuk

tambahan

untuk

mepermudah proses
-

Mungkin

dibutuhkan

mengatasi
6

mungkin

rasa

duka

bantuan

membuat

rencana

dan

menghadapi masa depan.


askep - Pertahankan hubungan yang sering denngan - Menjamin bahwa pasien tidak akan sendiri atau

Ansietas

Seteleh

berhubungan

selama ..x jam diharapkan

pasien. Berbicara dan berhubungan dengan

ditelantarkan: menunjukkan rasa menghargai, dan

dengan

cemas

pasien

menerima orang tersebut, membantu meningkatkan

proses

akan dengan KH:

pasien

berkurang

- Berikan informasi akurat dan konsisten

rasa percaya.

dilakukannya

Pasien tampak tenang

mengenai prognosis.hindari argumentasi - Dapat mengurangi ansietas dan ketidakmampuan pasien

pembedahan

Pasien tidak gelisah

mengenai persepsi pasien terhadap situasi

Menunjukkan

tersebut

kemampuan

untuk menghadapi masalah

untuk membuat keputusan/pilhan berdasarkan realita


-

Wapada

terhadap

Pasien mungkin akan menggunakan mekanisme

tanda-tanda

bertahan dengan penolakan dan terus berharap bahwa

diri,

diagnosanya tidak akurat.rasa bersalah dan tekanan

marah, ucap-ucapan yang tidak tepat.

spiritual mungkin akan menyebabkanpasien menarik

Tentukan timbulnya ide bunuh diri dan kaji

diri dan percaya bahwa bunuh diri adalah suatu

potensialnya pada skala 1-10

alternatif

penolakan/depresi,mis:menarik

- Berikan lingkungan terbuka dimana pasien - Membantu pasien untuk merasa diterima pada kondisi
akan merasa aman untuk mendiskusikan

sekarang tanpa persaan dihakimi dan meningkatkan

perasaan

persaan harg diri dan kontrol

atau

menahan

diri

untuk

berbicara
- Izinkan pasien untuk merefleksikan rasa - Penerimaan perasaan akan membuat pasien dapat

marah,takut, putus asa tanpa konfrontasi.

menerima situasi

Berikan informasi bahwa perasaannya


7

Kurangnya

Seteleh

pengetahuan

selama

yang

berpartisipasi dalam proses -

berhubungan

belajar,

dengan

dalam

kurang

mengenai patofisiologi dan -

pemahaman

implikasi klinis.

atau

diberikan

adalah normal dan perlu diekspresikan


askep - Menjelaskan tindakan dan rasional yang - Memberikan informasi, menjelaskan kejelasan konsep

..x

jam

pasien

ditentukan untuk kondisi hemoragi

mengungkapkan
istilah

tidak

mengenal

Berikan kesempatan bagi ibu untuk


mengajukan

sederhana

pemikiran ibu mengenai prosedur yang akan

pertanyaan

dan

mengungkapkan kesalahan konsep.


Diskusikan

kemungkinan

dilakukan dan menurunkan stress yang berhubungan


dengan prosedur yang diberikan
-

Memberikan klarifikasi dari konsep yang salah,

komplikasi

identifikasi masalah-masalah dan kesempatan untuk

jangka pendek pada ibu/janin dari keadaan

memulai mengembangkan ketrampilan penyesuaian

perdarahan

atau koping

- Tinjau ulang komplikasi jangka panjang -

Memberikan

informasi

tentang

kemungkinan

sumber-

terhadap situasi yang memerlukan evaluasi

komplikasi dan meningkatkan harapan realitas dan

sumber

dan tindakan tambahan

kerjasama dengan aturan tindakan.

informasi.

Ibu dengan kehamilan ektopik dapat memahami


kesulitan mempertahankan setelah pengankatan tuba
atau ovarium yang sakit.

Nyeri

akut Setelah

dibserika

askep -Tentukan karakteristik dan lokasi nyeri, -

berhubungan

selama.x jam pasien dapat perhatikan isyarat verbal dan nonverbal

dengan

mendemonstrasikan

diskontinuita

relaksasi, tanda-tanda vital - Pantau tekanan darah, nadi dan pernafasan

sjaringan

dalam batas normal, tidak - Kaji stres psikologis ibu dan respon

teknik

Menentukan tindak lanjut intervensi


Nyeri dapat menyebabkan gelisah serta tekanan
darah meningkat, nadi, pernafasan meningkat

Ansietas sebagai respon terhadap situasi dapat


memperberat

ketidaknyamanan

karena

sindrom

kulit

meringis

emosional terhadap kejadian

ketegangan dan nyeri

sekunder

- Terapkan teknik distraksi

akibat

- Ajarkan teknik relaksasi(napas dalam) dan -

Relaksasi mengurangi ketegangan otot-otot sehingga

laparotomi

sarankan ntuk mengulangi bila merasa nyeri

mengurangi penekanan dan nyeri

- Beri dan biarkan pasien posisi yang paling -

Mengurangi ketegangan area nyeri

nyaman

Kolaborasi:
9

Risiko infeksi Setelah


berhubungan

dibserikan

- pemberian analgetik
askep - Kaji adanya tanda-tanda infeksi

selama.x jam, diharapkan -Ukur tanda-tanda vital

dan KH:

-Lakukan

Analgetik akan mencapai pusat rasa nyeri dan


menimbulkan penghilangan nyeri

Menentukan tindak lanjut intervensi

Untuk mendeteksi secara dini gejala awal terjadinya

dengan luka infeksi tidak terjai dengan -Observasi tanda-tanda infeksi


operasi

Mengalihkan perhatian dari rasa nyeri

perawatan

luka

pemasangan

Dolor (-)

menggunakan teknik septik dan aseptik

alat-alat

Rubor (-)

-Observasi luka insisi

perawatan

Tumor (-)

Kolaborasi:

Kalor (-)

-Berikan antibiotik sesuai indikasi

infeksi
dengan -

Deteksi dini terhadap infeksi akan mempermudah


dalam penanganan

Menurunkan terjadinya resiko infeksi dan penyebaran


bakteri.

Fungsiolaesa (-)

Memberikan deteksi dini terhadap infeksi dan


perkembangan luka

Mencegah terjadinya infeksi

4. EVALUASI
Dx 1 : Kulit hangat dan kering
- Ada nadi perifer / kuat
- Tanda vital dalam batas normal (nadi : 60-100x/mnt, suhu : 36-37 0 C, TD: 110-130/ 70-90 mmHg)
- Pasien sadar/berorientasi
- Keseimbangan pemasukan/pengeluaran
- Tak ada edema
Dx 2 : Tanda vital stabil ( nadi : 60-100x/mnt, suhu : 36-37 0 C, TD: 110-130/ 70-90 mmHg)
- Nadi teraba
- Haluaran urine, berat jenis dan pH dalam batas normal
Dx 3 : Dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak meringis
Dx 4 : Tanda vital masih dalam rentang normal (nadi : 60-100x/mnt, suhu : 36-37 0 C, TD: 110-130/ 70-90 mmHg)
Dx 5 : Menunjukkan rasa pergerakan kea rah resolusi dari rasa duka dan harapan untuk masa depan
Dx 6 : Cemas pasien berkurang dengan tanda:
Pasien tampak tenang
Pasien tidak gelisah
Menunjukkan kemampuan untuk menghadapi masalah
Dx 7: Pasien berpartisipasi dalam proses belajar, mengungkapkan dalam istilah sederhana mengenai patofisiologi dan implikasi klinis
Dx 8: Dapat mendemonstrasikan teknik relaksasi, tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak meringis
Dx 9: infeksi tidak terjadi dengan :

Dolor (-)

Rubor (-)

Tumor (-)

Kalor (-)

Fungsiolaesa (-)

Daftar Pustaka
Manuaba, Ida Bgus Gde.1998.Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan Keluarga
BerencanaUntuk Pendidikan Bidan.Jakarta: EGC
Prawirohardjo, Sarwono. 2006. Ilmu Kebidanan.Jakarta: Yayasan Bina Pustaka
Doengoes, Marilynn E. 1999.Rencana Asuhan Keperawatan.Jakarta:EGC