Anda di halaman 1dari 22

Manajemen Bencana

Disusun oleh :
Eriska Budi Permata Sari (P27825113006)

Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan Surabaya


Diploma IV Jurusan Keperawatan Gigi

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayahNya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Manajemen Bencana.
Makalah ini disusun untuk memenuhi Ulangan Tengah Semester mata kuliah Manajemen
Bencana dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami apa saja yang harus dilakukan sebelum
terjadinya bencana, saat terjadinya bencana, pasca terjadinya bencana pada masyarakat yang
terdampak bencana.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut berpartisipasi dan
menjadi sumber inspirasi dalam menyusun makalah ini, tak lupa kami juga mengucapkan terima
kasih kepada Dosen Mata Kuliah Manejemen Bencana yang telah membantu kami dalam
penyusunan makalah ini. Seperti kata pepatahTak ada gading yang tak retak, kami menyadari
bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari sempurna, baik dari materi maupun teknik
penulisan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun guna
untuk perbaikan penyusunan makalah ini. Akhirnya kami berharap makalah ini dapat bermanfaat
baik bagi kami sendiri sebagai penyusun maupun bagi para pembaca.

Surabaya, 3 November 2015

Penyusun

Daftar Isi

Cover
Kata Pengantar 2
Daftar Isi .3
BAB I PENDAHULUAN ..4
Latar Belakang 4
Rumusan Masalah ...4
Tujuan .5
Manfaat ...5
BAB II PEMBAHASAN ...6
Definisi Manajemen Bencana 6
Tujuan Manajemen Bencana .7
Kegiatan Manajemen Bencana ..7
Contoh Bencana Alam yang Dilakukan Dengan Manajemen Bencana ..11
BAB III PENUTUP 21
Kesimpulan .21
DAFTAR PUSTAKA .22

BAB I
PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang
Indonesia menjadi negara yang paling rawan terhadap bencana di dunia berdasar data
yang dikeluarkan oleh Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Strategi Internasional
Pengurangan Risiko Bencana (UN-ISDR). Tingginya posisi Indonesia ini dihitung dari
jumlah manusia yang terancam risiko kehilangan nyawa bila bencana alam terjadi. Indonesia
menduduki peringkat tertinggi untuk ancaman bahaya tsunami, tanah longsor, gunung berapi.
Dan menduduki peringkat tiga untuk ancaman gempa serta enam untuk banjir.
Penerapan manajemen bencana di Indonesia masih terkendala berbagai masalah, antara
lain kurangnya data dan informasi kebencanaan, baik di tingkat masyarakat umum maupun di
tingkat pengambil kebijakan. Keterbatasan data dan informasi spasial kebencanaan
merupakan salah satu permasalahan yang menyebabkan manajemen bencana di Indonesia
berjalan kurang optimal. Pengambilan keputusan ketika terjadi bencana sulit dilakukan
karena data yang beredar memiliki banyak versi dan sulit divalidasi kebenarannya. Untuk itu,
diperlukan manajemen bencana yang cepat dan tepat agar dapat meminimalisir masalah dan
kerugian yang terjadi akibat bencana.

1.2Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Apa pengertian manajemen bencana ?


Apa tujuan manajemen bencana ?
Apa kegiatan manajemen bencana ?
Bagaimana kegiatan menajemen bencana yang dilakukan dalam bencana alam ?

1.3Tujuan
Mahasiswa mengerti tentang sistem manajemen bencana dan dapat menambah
wawasan masyarakat secara umum sehingga dapat turut serta dalam upaya penanggulangan
bencana.

1.4Manfaat
1. Menambah pengetahuan dan wawasan pembaca dan penulis dalam hal menajemen
bencana.
2. Pembaca dapat menerapkan upaya penanggulangan bencana, terutama untuk para
petugas kesehatan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1Definisi Manajemen Bencana


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Definisi tersebut
menyebutkan bahwa bencana disebabkan oleh faktor alam, non alam, dan manusia.
Penanggulangan bencana atau yang sering didengar dengan manajemen bencana
(disaster management) adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi.
Konsep manajemen bencana saat ini telah mengalami pergeseran paradigma dari
pendekatan konvensional menuju pendekatan holistik (menyeluruh). Pada pendekatan konvensial
bencana itu suatu peristiwa atau kejadian yang tidak terelakkan dan korban harus segera
mendapatkan pertolongan, sehingga manajemen bencana lebih fokus pada hal yang bersifat
bantuan (relief) dan tanggap darurat (emergency response). Selanjutnya paradigma manajemen
bencana berkembang ke arah pendekatan pengelolaan risiko yang lebih fokus pada upaya-upaya
pencegahan dan mitigasi, baik yang bersifat struktural maupun non-struktural di daerah-daerah
yang rawan terhadap bencana, dan upaya membangun kesiap-siagaan.

2.2Tujuan Manajemen Bencana


Tujuan manajemen bencana yang baik adalah:
1. Menghindari kerugian pada individu, masyarakat, dan Negara melalui tindakan dini.
2. Meminimalisasi kerugian pada individu, masyarakat dan Negara berupa kerugian yang
berkaitan dengan orang, fisik, ekonomi, dan lingkungan bila bencana tersebut terjadi, serta
efektif bila bencana itu telah terjadi.
3. Meminimalisasi penderitaan yang ditanggung oleh individu dan masyarakat yang terkena
bencana. Membantu individu dan masyarakat yang terkena bencana supaya dapat bertahan hidup
dengan cara melepaskan penderitaan yang langsung dialami.
4. Memberi informasi masyarakat danpihak berwenang mengenai resiko.
5. Memperbaiki kondisi sehingga indivudu dan masyarakat dapat mengatasi permasalahan akibat
bencana.

2.3Kegiatan Manajemen Bencana


1. Pada Pra Bencana
Pada tahap pra bencana ini meliputi dua keadaan yaitu :
a. Situasi Tidak Terjadi Bencana
Situasi tidak ada potensi bencana yaitu kondisi suatu wilayah yang berdasarkan
analisis kerawanan bencana pada periode waktu tertentu tidak menghadapi
ancaman bencana yang nyata. Penyelenggaraan penanggulangan bencana dalam
situasi tidak terjadi bencana meliputi :
perencanaan penanggulangan bencana;
pengurangan risiko bencana;
Pencegahan (prevention) adalah upaya yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya bencana (jika mungkin dengan meniadakan bencana). Misalnya

melarang pembakaran hutan dalam perladangan.


pemaduan dalam perencanaan pembangunan;
persyaratan analisis risiko bencana;
pelaksanaan dan penegakan rencana tata ruang;
pendidikan dan pelatihan; dan
7

persyaratan standar teknis penanggulangan bencana.


b. Situasi Terdapat Potensi Bencana
Pada situasi ini perlu adanya kegiatan-kegiatan:
Kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan adalah serangkaian

kegiatan

yang

dilakukan untuk mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta


melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna. Misal: penyiapan

sarana komunikasi, pos komando, penyiapan lokasi evakuasi, dll


Peringatan Dini. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian
peringatan sesegera mungkin kepada masyarakat tentang kemungkinan
terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang berwenang.
Pemberian peringatan dini harus: menjangkau masyarakat (accessible),
segera (immediate), tegas tidak membingungkan (coherent), bersifat resmi

(official).
Mitigasi Bencana. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi
risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Mitigasi

structural, misal: pembuatan chekdam, tanggul, dsb. Mitigasi nonstruktural, misal: peraturan perundangan, pelatihan, dsb.
Kegiatan-kegiatan pra-bencana ini dilakukan secara lintas sector dan multi
stakeholder, oleh karena itu fungsi BNPB/BPBD adalah fungsi koordinasi.
2. Tahap Tanggap Darurat (Saat Terjadinya Bencana)

Tanggap darurat bencana (response) adalah upaya yang dilakukan dengan segera
pada saat kejadian bencana untuk menanggulangi dampak buruk yang ditimbulkan, yang
meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan
dasar, perlindungan, pengurusan, pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana
dan sarana.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat meliputi:
a. pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya
dilakukan untuk mengidentifikasi cakupan lokasi bencana, jumlah korban, kerusakan
prasarana dan sarana, gangguan terhadap fungsi pelayanan umum serta pemerintahan,
dan kemampuan sumber daya alam maupun buatan.
b. penentuan status keadaan darurat bencana. Penetapan status darurat bencana
dilaksanakan oleh pemerintah sesuai dengan skala bencana.
8

c. penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana, dilakukan dengan


memberikan pelayanan kemanusiaan yang timbul akibat bencana yang terjadi pada
suatu daerah melalui upaya pencarian dan penyelamatan korban, pertolongan darurat,
dan/atau evakuasi korban.
d. pemenuhan kebutuhan dasar, meliputi bantuan penyediaan kebutuhan air bersih dan
sanitasi, pangan, sandang, pelayanan kesehatan, pelayanan psikososial; dan
penampungan dan tempat hunian.
e. perlindungan terhadap kelompok rentan, dilakukan dengan memberikan prioritas
kepada kelompok rentan berupa penyelamatan, evakuasi, pengamanan, pelayanan
kesehatan, dan psikososial. Kelompok rentan yang dimaksud terdiri atas bayi, balita,
anak-anak, ibu yang sedang mengandung atau menyusui;, penyandang cacat, dan
orang lanjut usia.
f. pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
Tahap tindakan dalam tanggap darurat dibagi menjadi dua fase yaitu fase akut dan
fase sub akut. Fase akut, 48 jam pertama sejak bencana terjadi disebut fase penyelamatan
dan pertolongan medis darurat sedangkan fase sub akut terjadi sejak 2-3 minggu.
Bantuan darurat (relief) merupakan upaya untuk memberikan bantuan berkaitan dengan
pemenuhan kebutuhan dasar, berupa pangan, sandang, tempat tinggal sementara, kesehatan,
sanitasi, air bersih.
3. Pasca Bencana
Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada tahap pasca bencana meliputi:
a. Pemulihan (recovery) adalah proses pemulihan darurat kondisi masyarakat yang
terkena bencana, dengan memfungsikan kembali prasarana dan sarana pada
keadaan semula. Misal: perbaikan jalan, listrik, air bersih, dsb.
b. Rehabilitasi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek
pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah
pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara
wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah
pascabencana. Rehabilitasi (rehabilitation) adalah upaya langkah yang diambil
setelah kejadian bencana untuk membantu masyarakat memperbaiki rumahnya,
9

fasilitas umum, dan fasilitas sosial penting, dan menghidupkan kembali roda
perekonomian.
c. Rekonstruksi. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan
sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan
maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan
perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan
bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat
pada wilayah pascabencana. Rekontruksi (reconstruction) adalah program jangka
menengah dan jangka panjang guna perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk
mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi yang sama atau lebih baik
dari sebelumnya.

10

2.4Contoh Bencana Alam yang Dilakukan Dengan Manajemen Bencana

1. Gempa Bumi
Bencana ini bersifat tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Gempabumi dapat menimbulkan
dampak korban jiwa, luka, maupun kerusakan infrastruktur yang sangat signifikan. Kita harus
belajar dari kejadian gempabumi yang terjadi di Yogyakarta (2006) dan Padang (2009).
Mengidentifikasi potensi bahaya dan perencanaan yang berstandar aman dapat menyelamatkan
jiwa dan mengurangi korban luka maupun kerusakan infrastruktur.
Apa yang dilakukan sebelum terjadi gempabumi
Kita tidak dapat mengetahui kapan gempa akan terjadi sehingga persiapan menjadi sangat
penting untuk menyelamatan jiwa, mengurangi korban luka, maupun kerusakan infrasturktur.
Ada 6 langkah untuk persiapan.
a) Cek potensi bahaya di rumah
Lekatkan lemari secara aman pada dinding
Tempatkan barang besar dan berat ada bagian bawah lemari
Letakkan barang pecah belah pada bagian yang lebih rendah dan di bagian tertututp
Gantungkan barang yang berat seperti pigura foto atau cermin, jauh dari tempat tidur, sofa,
ataupun tempat di mana orang duduk
Pastikan lampu langit-langit terpasang dengan kuat
Perbaiki apabila terjadi kerusakan pada jaringan listrik atau gas.
Amankan pemanas air dengan terpasang dengan baik pada dinding.
Perbaiki keretakan pada langit-langit atau fondasi. Konsultasikan dengan ahli bangunan apabila
membutuhkan informasi mengenai struktur bangunan yang kurang kuat.
Tempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar dalam lemari tertutup dan letakkan paling
bawah.

11

b) Identifikasi tempat aman di dalam dan luar rumah


Di bawah perabot yang kuat, seperti meja dan kursi
Merapat pada dinding, seperti berdiri pada siku bangunan
Menjauh dari kaca atau cermin atau pun barang-barang berat yang berpotensi jatuh
Di luar rumah, jauhi bangunan, pohon, dan jaringan telepon atau listrik, atau bangunan yang
mungkin runtuh
c) Bekali pengetahuan diri sendiri dan anggota keluarga
Memiliki daftar kontak yang dibutuhkan, seperti Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) provinsi, kabupaten, kota, TNI, Polisi, rumah sakit, PMI, atau pun dinas pemadam
kebakaran.
Bekali anak-anak bagaimana dan kapan harus menghubungi pihak-pihak di atas, dan mencari
stasiun radio untuk mencari informasi darurat
Bekali semua anggota keluarga bagaimana dan kapan harus mematikan gas, listrik, dan air.
d) Siapkan dukungan logistik darurat
Lampu senter dan baterai cadangan
Radio dengan baterai
Perlengkapan PPPK dan panduannya
Makanan siap saji dan minuman (perhatikan masa berlakunya)
Obat-obatan khusus disesuaikan dengan kebutuhan pemakai
Uang secukupnya
Sepatu khusus
e) Merencanakan mekanisme komunikasi darurat
Pada kasus apabila anggota keluarga terpisah pada saat bencana, rencanakan cara untuk
mengumpulkan anggota keluarga setelah bencana.
Menanyakan kepada saudara atau teman yang berlokasi di luar area tempat tinggal kita untuk
bersedia sebagai penghubung keluarga .

12

f) Bantu komunitas untuk siap siaga


Bekerja sama dengan media lokal untuk membuat kolom khusus terkait informasi respon
darurat setelah bencana. Disebutkan juga pada kolom tersebut nomor telepon BPBD, instansi
pemerintah terkait, rumah sakit, dan PMI.
Kenali bersama keluarga mengenai potensi bencana yang ada di sekitar rumah
Bekerja sama dengan BPBD, PMI, atau pihak terkait lainnya untuk menyiapkan laporan khusus
bagi masyarakat dengan mobility impairment pada apa yang akan kita lakukan selama
gempabumi
Melakukan simulasi evakuasi sederhana di rumah
Mencari informasi dari pihak terkait tentang pemutusan listrik dan air pada saat bencana
Bekerja sama dengan masyarakat untuk memperoleh pengetahuan tentang building code,
retrofitting program, ancaman bahaya, dan rencana yang disusun oleh keluarga pada saat
keadaan darurat .
Apa yang dilakukan pada saat bencana
Tetap berada di tempat yang menurut Anda aman selama terjadi gempa. Waspadai gempa susulan
yang terkadang guncangannya lebih kuat. Perhatikan langkah Anda ke tempat aman lain dan
tetap berada di sekitar tempat itu sampai guncangan berhenti dan Anda dapat keluar dengan
aman .
a) Ketika di dalam ruangan
Merunduk hingga menyentuh lantai; cari perlindungan di bawah meja atau perabot lain yang
kuat; dan tunggu hingga guncangan berhenti. Apabila tidak ada meja atau perabot untuk
berlindung, lindungi kepala anda dengan lengan kemudian merayap menuju ruangan.
Jauhi gelas, jendela, atau apa pun yang mungkin memjatuhi Anda.
Tetap di tempat tidur apabila terjadi gempa, lindungi kepala Anda dengan bantal. Apabila ada
kemungkinan benda berat akan menimpa Anda, segera menuju ke sisi terdekat yang aman.
Tetap di dalam ruang hingga guncangan berhenti, dan keluarlah ketika sudah aman. Penelitian
menunjukkan bahwa banyak orang terluka karena mereka berusaha untuk menuju ke lokasi yang
berbeda atau berusaha ke luar bangunan.

13

Waspadai segala kemungkinan yang timbul akibat arus pendek.


JANGAN menggunakan lift.
b) Ketika di luar ruangan
Tetaplah di luar
Jauhi dari gedung, lampu jalan, atau jaringan berkabel.
Ketika di luar, tetaplah di luar hingga guncangan berhenti. Bahaya paling besar berada
langsung di luar bangunan; pada pintu keluar, exterior sepanjang dinding luar.
c) Di dalam kendaran
Menepi dan berhenti segera. Tetap tinggal di dalam kendaraan. Hindari berhenti di dekat atau di
bawah bangunan, pohon, jembatan, atau pun jaringan berkabel.
Lanjutkan berkendara setelah gempa berhenti. Hindari jalan, jembatan, atau halangan yang
telah rusak akibat gempa.
d) Ketika terjebak di dalam reruntuhan
Jangan menyalakan api
Jangan bergerak atau apa pun yang menimbulkan debu
Tutupi mulut Anda dengan sapu tangan atau kain
Munculkan suara pada pipa atau dinding sehingga tim SAR dapat mencari posisi Anda.
Gunakan peluit apabila tersedia. Berteriak adalah jalan terakhir yang dapat dilakukan, tapi hal ini
dapat menyebabkan akan menghirup debu .
Apa yang dilakukan setelah terjadi bencana
a) Siaga kemungkinan yang terjadi setelah gempa. Gelombang guncangan kedua biasanya
kurang mematikan tetapi dapat lebih kuat untuk memberikan kerusakan tambahan hingga
memperlemah struktur bangunan dan dapat terjadi pada satu jam pertama, beberapa hari,
minggu, bahwa bulan setelah gempa.
b) Dengarkan radio atau televisi yang bisa diakses. Perhatikan informasi terkini terkait respon
darurat.
c) Gunakan telpon untuk panggilan darurat
d) Buka laci lemari secara hati-hati. Waspadai benda-benda yang dapat menjatuhi Anda.
14

e) Jauhi area yang hancur. Jauhi area yang hancur kecuali memang kehadiran Anda dibutuhkan
oleh pihak berwenang, seperti kepolisian, pemadam kebakaran, atau tim SAR. Kembalilah ke
rumah apabila pihak berwenang mengatakan bahwa kondisi telah aman.
f) Bantu korban luka atau yang terjebak. Ingat untuk selalu membantu tetangga atau siapa pun
yang membutuhkan pertolongan khusus seperti anak-anak, orang tua, atau orang cacat. Berikan
pertolongan pertama secara tepat. Jangan pindahkan korban yang terluka serius untuk
menghindari luka yang lebih parah. Carilah bantuan kepada tim medis yang lebih ahli.
g) Bersihkan cairan yang berbahaya. Tinggalkan lokasi yang berbau cairan berbahaya seperti gas
atau cairan kimia.
h) Periksa beberapa peralatan.
Periksa apabila terjadi kebocoran gas. Jika tercium bau gas, segera buka jendela dan segera
keluar bangunan.
Periksa kerusakan listrik. Apabila ditemukan jaringan kabel yang rusak dan tercium bau panas
listrik, segera matikan listrik.
Periksa kerusakan tempat pembuangan kotoran dan saluran pipa. Apabila terjadi kerusakan
pada tempat pembuangan kotoran dan saluran pipa, hindari penggunaan toilet dan panggil tukang
di bidangnya. Hubungi instansi yang berwenang untuk antispasi pencemaran air yang lebih luas.
2. Tsunami
Tsunami merupakan gelombang air laut besar yang dipicu oleh pusaran air bawah laut karena
pergeseran lempeng, tanah longsor, erupsi gunungapi, dan jatuhnya meteor. Tsunami dapat
bergerak dengan kecepatan sangat tinggi dan dapat mencapai daratan dengan ketinggian
gelombang hingga 30 meter.
Tsunami sangat berpotensi bahaya meskipun tsunami ini tidak terlalu merusak garis pantai.
Gempa yang disebabkan pergerakan dasar laut atau pergeseran lempeng yang paling sering
menimbulkan tsunami. Pada tahun 2006 Indonesia mengalami tsunami dahsyat setelah
gempabumi berskala 8.9 SR terjadi di sekitar Aceh. Area yang memiliki risiko tinggi jika gempa
bumi besar atau tanah longsor terjadi dekat pantai gelombang pertama dalam seri bisa mencapai
pantai dalam beberapa menit, bahkan sebelum peringatan dikeluarkan. Area berada pada risiko
yang lebih besar jika berlokasi kurang dari 25 meter di atas permukaan laut dan dalam beberapa
meter dari garis pantai.
15

Apa yang dilakukan sebelum dan pada saat terjadi tsunami


a) Nyalakan radio untuk mengetahui apakah tsunami terjadi setelah adanya gempabumi di sekitar
wilayah pantai.
b) Cepat bergerak ke arah daratan yang lebih tinggi dan tinggal di sana sementara waktu.
c) Jauhi pantai. Jangan pernah menuju ke pantai untuk melihat datangnya tsunami. Apabila Anda
dapat melihat gelombang, anda berada terlalu dekat. Segera menjauh.
d) Waspada- apabila terjadi air surut, jauhi pinggir pantai. Ini merupakan salah satu peringatan
tsunami dan harus diperhatikan.
Apa yang dilakukan setelah terjadi tsunami
a) Jauhi area yang tergenang dan rusak sampai ada informasi aman dari pihak berwenang.
b) Jauhi reruntuhan di dalam air. Hal ini sangat berpengaruh terhadap keamanan perahu
penyelamat dan orang-orang di sekitar.
c) Utamakan keselamatan dan bukan barang-barang Anda.
3. Banjir
Banjir adalah bencana yang sering terjadi di wilayah Indonesia. Bencana yang disebabkan oleh
faktor hidrometeorologi ini selalu meningkat setiap tahunnya. Meskipun terkadang tidak
menimbulkan banyak korban jiwa, bencana ini tetap saja merusak infrastruktur dan mengganggu
stablitas perekonomian masyarakat secara signifikan.
Karakteristik banjir sangat beragam. Banjir dapat disebabkan karena curah hujan yang tinggi
dengan tidak diimbangi serapan tanah yang cukup. Atau dapat terjadi dalam bentuk rob atau
bandang. Oleh karena itu, kita harus siap untuk mengantisipasi setiap jenis bencana banjir.
- Tindakan sebelum terjadi banjir
Sebelum terjadi bencana kita harus sudah bisa memilih dan menentukan beberapa lokasi yang
bisa kita jadikan sebagai tempat penampungan jika terjadi bencana.
1. Melatih diri dan anggota keluarga hal-hal yang harus dilakukan apabila terjadi bencana banjir.
2. Mendiskusikan dengan semua anggota keluarga tempat di mana anggota keluarga akan
berkumpul usai bencana terjadi.
16

3. Mempersiapkan tas siaga bencana yang berisi keperluan yang dibutuhkan seperti: Makanan
kering seperti biskuit, air minum, kotak kecil berisi obat-obatan penting, lampu senter dan baterai
cadangan, Lilin dan korek api, kain sarung, satu pasang pakaian dan jas hujan, surat berharga,
fotokopi tanda pengenal yang dimasukkan kantong plastik, serta nomor-nomor telepon penting.
4. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko banjir:
5. Buat sumur resapan bila memungkinkan.
6. Tanam lebih banyak pohon besar.
7. Membentuk kelompok masyarakat pengendali banjir.
8. Membangun atau menetapkan lokasi dan jalur evakuasi bila terjadi banjir.
9. Membangun sistem peringatan dini banjir.
10. Menjaga kebersihan saluran air dan limbah.
11. Memindahkan tempat hunian ke daerah bebas banjir atau tinggikan bangunan rumah hingga
batas ketinggian banjir jika memungkinkan.
12. Mendukung upaya pembuatan kanal atau saluran dan bangunan.
13. Pengendali banjir dan lokasi evakuasi.
14. Bekerjasama dengan masyarakat di luar daerah banjir untuk menjaga daerah resapan air.
- Tindakan Saat Terjadi Banjir
1. Jangan panik.
2. Pada saat terjadi bencana banjir, warga yang berada di daerah rawan bencana banjir diminta
memantau perkembangan cuaca, bila hujan terus terjadi tidak henti-hentinya, diimbau waspada
dan berhati- hati untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
3. Pada saat dan setelah bencana terjadi, berbagai aktivitas kesehatan harus dilakukan untuk
mengatasi masalah kesehatan para korban serta mencegah memburuknya derajat kesehatan
masyarakat yang terkena bencana. Pada tahapan tanggap darurat, energi yang cukup besar
biasanya dicurahkan untuk evakuasi korban.
4. Ketika melihat air datang, Jauhi secepat mungkin daerah banjir. segera selamatkan diri dengan
berlari secepat mungkin menuju tempat yang tinggi.
5. Apabila kamu terjebak dalam rumah atau bangunan, raih benda yang bisa mengapung
sebisanya.
17

6. Dengarkan jika ada informasi darurat tentang banjir.


7. Hati-hati dengan listrik. Matikan peralatan listrik/sumber listrik.
8. Selamatkan barang-barang berharga dan dokumen penting sehingga tidak rusak atau hilang
terbawa banjir.
9. Pantau kondisi ketinggian air setiap saat sehingga bisa menjadi dasar untuk tindakan
selanjutnya.
10. Ikut mendirikan tenda pengungsian, pembuatan dapur umum.
11. Terlibat dalam pendistribusian bantuan.
12. Mengusulkan untuk mendirikan pos kesehatan.
13. Menggunakan air bersih dengan efisien.
- Tindakan Sesudah Terjadinya Banjir
Beberapa tindakan yang dapat dilakukan sesudah terjadi bencana antara lain:
1. Pemberian bantuan misalnya tempat perlindungan darurat bagi mereka yang kehilangan
tempat tinggalnya.
2. Membersihkan tempat tinggal dan lingkungan rumah.
3. Terlibat dalam kaporitisasi sumur gali.
4. Terlibat dalam perbaikan jamban dan saluran pembuangan air limbah(SPAL).
5. Pemberian bantuan yang meliputi kesehatan lingkungan, dan pemberantasan penyakit,
pelayanan kesehatan serta distribusi logistik kesehatan dan bahan makanan.
6. Menjaga agar sistem pembuangan limbah dan air kotor agar tetap bekerjapada saat terjadi
banjir.
7. Menjauhi kabel atau instalasi listrik lainnya.
8. Menghindari memasuki wilayah yang rusak kecuali dinyatakan aman misal bangunan yang
rusak atau pohon yang miring.
9. Memeriksa dan menolong diri sendiri kemudian menolong orang di dekat kamu yang
memerlukan bantuan.
10. Mencari anggota keluarga.
11. Jika keadaan sudah aman, masuk rumah dengan hati-hati, jangan menyalakan listrik kecuali
18

telah dinyatakan aman.


12. Membersihkan lumpur
13. Periksa persediaan makanan dan air minum. Jangan minum air dari sumur terbuka karena
sudah terkontaminasi. Makanan yang telah terkena air banjir harus dibuang karena tidak baik
untuk kesehatan.

4. Tanah Longsor
Tanah longsor seringkali dipicu oleh curah hujan tinggi dan terjadi selama beberapa hari.
Struktur tanah yang labil sangat mudah mengalami longsor hingga mengakibatkan bencana
khususnya bagi masyarakat yang berada di posisi lebih rendah. Tanah longsor juga dapat dipicu
oleh getaran gempa hingga merontokkan struktur tanah di atas .
Anda dan masyarakat di pegunungan atau perbukitan harus memperhatikan tempat sekeliling
Anda tinggal dan berkonsultasi dengan ahli terkait dengan kondisi tempat tinggal Anda .
Apa yang dilakukan sebelum terjadi tanah longsor
a) Waspada terhadap curah hujan yang tinggi
b) Persiapkan dukungan logistik
Makanan siap saji dan minuman
Lampu senter dan baterai cadangan
Uang tunai secukupnya
Obat-obatan khusus sesuai pemakai
c) Simak informasi dari radio mengenai informasi hujan dan kemungkinan tanah longsor.
d) Apabila pihak berwenang menginstruksikan untuk evakuasi, segera lakukan hal tersebut .
Apa yang dilakukan pada saat terjadi tanah longsor
a) Apabila Anda di dalam rumah dan terdengar suara gemuruh, segera ke luar cari tempat lapang
dan tanpa penghalang
b) Apabila Anda di luar, cari tempat yang lapang dan perhatikan sisi tebih atau tanah yang
mengalami longsor .

19

Apa yang dilakukan sesudah terjadi tanah longsor


a) Jangan segera kembali ke rumah Anda, perhatikan apakah longsor susulan masih akan terjadi.
b) Apabila Anda diminta untuk membantu proses evakuasi, gunakan sepatu khusus dan peralatan
yang menjamin keselamatan Anda.
c) Perhatikan kondisi tanah sebagai pijakan yang kokoh bagi langkah Anda.
d) Apabila harus menghadapi reruntuhan bangunan untuk menyelamatkan korban, pastikan tidak
menimbulkan dampak yang lebih buruk atau menunggu pihak berwenang untuk melakukan
evakuasi korban .

20

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Manajemen bencana merupakan serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat,
dan rehabilitasi. Manajemen bencana di mulai dari tahap prabecana, tahap tanggap darurat (saat
terjadinya bencana), dan tahap pascabencana. Manajemen bencana perlu dilakukan secara cepat
dalam mengatasi bencana. Manajemen yang cepat dan tepat dapat meminimalisir masalah dan
kerugian yang terjadi akibat bencana. Peranan pelayanan medis juga penting dalam manajemen
bencana. Perawat memilki peranan dan kontribusi pada setiap fase dalam manajemen bencana.
Oleh karena itu, manajemen bencana merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam
mengatasi bencana.

21

DAFTAR PUSTAKA
http://klikgeografi.blogspot.co.id/2014/12/bencana-dan-manajemen-kebencanaan.html
Anneahira. Korban gempa bumi. http://www.anneahira.com/korban-gempa-bumi.htm diunduh
pada 2 Mei 2011
Clark, M.J. (1999). Nursing in the community: dimension of community health nursing. 3rd
edition. Stamford, Connecticut: Appleton & Lange.
Efendi, F & Makfudli. (2009). Keperawatan kesehatan komunitas: Teori dan praktik dalam
keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Nies, M.A & McEwen, M. (2007). Community/public health nursing: promoting the health of
population. 4th edition. St.Louis, Missouri: Elselvier.
Palang Merah Indonesia. (2009). Keperawatan bencana.
Science. Manajemen bencana. http://id.shvoong.com/exact-sciences/earth-sciences/1932953manajemen-bencana/ diunduh pada 2 Mei 2011
http://bpbd.pacitankab.go.id/siaga-bencana/
http://id.shvoong.com
http://www.krakatauradio.com/2013/01/tindakan-tindakan-penting-sebelum-saat.html

22