Anda di halaman 1dari 7

Kamis, 12 Mei 2016

Asisten : 1. NurulDwi Q.

LLSS PascaPanen

2. Andriano S.

(F14120018)

3. LuthfiDwiCahyo

(F14120020)

4. M. WahyuAlfarisi

(F14120028)

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNIK PENGOLAHAN PANGAN (TMB324)
PENGERINGAN BIJI-BIJIAN

Disusun oleh:

Alam Munggaran
(F14130037)

DosenPembimbing:
Dr. Ir. Usman Ahmad, M.Agr

DEPARTEMEN TEKNIK MESIN BIOSISTEM


FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2016

(F14120008)

PENDAHULUAN

LatarBelakang
Pengeringan adalah upaya untuk mengurangi kandungan air bahan pangan
dengan menguapkan sampai pada batas aman simpan, hal ini merupakan cara
yang mudah dan banyak dilakukan atau digunakan untuk pengolahan bahan
pertanian. Pengeringan adalah proses migrasi uap air dari bahan padatan kering,
menguapkan sebagian air atau seluruhnya dalam bahan menggunakan energi
panas dari media panas dengan pemindahan uap air secara simultan (Suhargo
1983). Pengeringan dapat pula diartikan sebagai suatu penerapan panas dalam
kondisi terkendali, untuk mengeluarkan sebagian besar air dalam bahan pangan
melalui evaporasi (pada pengeringan umum) dan sublimasi (pada pengeringan
beku).Tujuan pengeringan bahan pertanian salah satunya adalah mengurangi
risiko

kerusakan

karena

kegiatan

mikroba.

Mikroba

memerlukan

air

untukpertumbuhannya. Bila kadar air bahan berkurang, maka aktivitas mikroba


dihambat atau dimatikan.
Gabah dari hasil panen atau yang dikenal dengan nama Gabah Kering
Panen (GKP) biasanya mempunyai kandungan air 18 25 %. Gabah harus
memenuhi syarat kandungan air gabah agar gabah layak disimpan atau digiling,
yaitu kandungan airnya sekitar 14%, sedangkan agar gabah dapat langsung
digiling, kandungan airnya harus 12-13%. Gabah Kering Panen ini harus
secepatnya dikeringkan karena jika tidak langsung dikeringkan, akan muncul
permasalahan-permasalahan, yaitu akan terjadi kerusakan pada butir beras yang
dihasilkan, ditandai dengan warna beras yang agak kecoklatan, menyebabkan
harga jual rendah sehingga merugikan petani dan dengan kadar air tersebut gabah
tidak mempunyai ketahanan untuk disimpan.
Mekanisme pengeringan diterangkan melalui teori tekanan uap. Air yang
diuapkan terdiri dari air bebas dan air terikat. Air bebas berada di permukaan dan
yang pertama kali mengalami penguapan (Mujumdar dan Devahastin 2002). Bila
air permukaan telah habis, maka terjadi migrasi air dan uap air dari bagian dalam
bahan secara difusi. Migrasi air dan uap terjadi karena perbedaan konsentrasi atau

tekanan uap pada bagian dalam dan bagian luar bahan (Henderson dan Perry
2003).
Tujuan
Tujuandaripraktikumpengeringanbiji-bijianiniadalah:
1. Mempelajari mekanis medan karakteristik proses pengeringan.
2. Mempelajari perencanaan perancangan alat pengering dan membandingkan
dengan pengering yang digunakan dalam praktikum.
3. Menentukan kurva aliran udara dengan kurva shedd.
4. Menentukan efisiensi pengeringan, pemanasan udara dan pengeringan total.
5. Menggambarkan mekanisme pemanasan udara dan proses pengeringan dalam
diagram psikometrik.

METODOLOGI
WaktudanTempat
Praktikum Pengiringan Biji-Bijian dilaksanakan pada Kamis, 12 Mei 2016
di Laboratorium Pasca Panen Leuwikopo.
AlatdanBahan
1. Peralatan
2. Alat

: Sampel probe, moisture tester, manometer, selang plastic,


timbangan, stopwatch, tang amphere, tachometer danalat
pengering.
: GabahKeringPanen (GKP)
Metode

LSTB e u el or al maw s n eo g rm p e l ta e s t i k
a
ldrd a ai d np n i tap a sma i t s i a ka n a n o g m e t e r
pdn ei ma dn g iga na se dr u r i i kn k g a n k e
nrpb u gle e a r n nf u u g n m pg ls e i n u m
d iu k u r

aB lohwaenr yda n g p e m a n a s d ih d u p k a n . D ia s u m s ik a n te g a n g a n
MSP eu nh tguoe ridnagrna nludaihr ,e snutihkua np lse ntue mla ,h s,u h u d a r a d i a t s b a h a n ,
Bs u dr aa th d it m b a n g
(tpVek)n =c a 2tna t0m nvaowlotamdk ateun parer,undsgae(nIr)ikn=gda0n.r5 aAir sbuamh ba en rdpiae mm aa tnia s
ea krhciar p a i k d r a ir a t -r ta 1 4 %
(dWim u la i
(W

HASIL DAN PEMBAHASAN

PEMBAHASAN

Pengeringan adalah proses pengurangan jumlah air dalam suatu bahan atau zat
dengan memberikan energi (panas) agar molekul air dalam bahan atau zat dapat
meregang (menjadi uap air). Bila dilihat pada proses yang terjadi pada praktikum,
gerak air yang terjadi pada bahan terjadi dalam dua langkah yaitu, gerak menuju
ke permukaan bahan dan gerak meninggalkan permukaan bahan. Air dapat
bergerak dari tekanan rendah ke tekanan tinggi. Perbedaan tekanan dapat
ditingkatkan dengan memanaskan udara lingkungan (Samsuri, 1993).Penambahan
panas pada bahan dimaksud untuk mempercepat gerak air menuju permukaan
bahan. Sedangkan gerak air yang meninggalkan permukaan bahan dibantu dengan
laju aliran udara. Untuk itu, pada proses pengeringan umumnya dipakai aliran
udara panas, dimana panasnya berasal dari sumber panas baik dari dalam sistem
maupun dari luar sistem. Dari data, kecepatan aliran yang terukur adalah 0.35
m/s. Dengan kecepatan ini, diharapkan aliran air pada bahan dapat mengalir
dengan baik tanpa harus menggerakkan bahan agar tidak bertebangan. karena
sistem dryer merupakan sistem batch(RHudara = 67.38%, Humidity Ratio = 38.8 g/
kg, h = 143.24 kJ/ kg, Vs = 0.97 m3/kg).
Menurut Mulyantara, et.al (2008) keseragaman kadar air sulit dicapai
tanpa adanya pengadukan. Pada dasarnya, pengeringan adalah menggerakkan air
keluar dari bahan. Untuk itu, agar air dalam bahan mudah untuk dikeluarkan maka
harus ada gaya yang menggerakkan bahan. Dalam hal ini, dapat dibantu dengann
proses pengadukan. Selain itu, dengan proses pengadukan akan mempercepat dan
menyeragamkan suhu suatu bahan atau zat. Sehingga, dengan kondisi
penambahan panas yang lebih sedikit akan mempercepat proses pengeringan. Bila
dilihat dari parameter pengeringan yang ada, pengeringan batch lebih baik karena
laju aliran yang pelan dan panas yang cukup tinggi yaitu 143,24 kJ/ kg. Kondisi
yang perlu dilakukan agar mampu memperbesar efisiensi pada sistem batch
adalah penambahan pengaduk dan dinding isolator yang mampu menahan laju
pelepasan energi panas (yang ditambahkan ke bahan) ke lingkungan. Namun,
dengan merubah sedikit parameter yang ada bisa digunakan sistem pengeringan
continouos.
Hasil efisiensi pemanasan, pengeringan, dan total adalah sebagai berikut:
29.65%, 55.3%, 16.37%. Masing-masing besarnya efisiensi ini dipengaruhi oleh

faktor-faktor yang berbeda. Untuk pemanasan, besarnya efisiensi dipengaruhi oleh


elemen pemanas yang digunakan, aliran panas ke lingkungan dan ke sistem, daya
pemanas, dan panjang aliran udara kering. Untuk pengeringan, efisiensi dapat
dipengaruhi oleh beberapa hal antara lain: lubang pada lantai ruang pengering,
jenis bahan, porositas bahan (pada batch), dan parameter pengeringan. Sedangkan
efisiensi total dipengaruhi oleh kedua faktor pemanasan dan pengeringan.

KESIMPULAN
Dalam pengeringan, mengerakkan bahan dapat membantu proses pengeringan
salah satu caranya adalah dengan pengadukan. Tujuan dari pengeringan adalah
mengurangi jumlah air sehingga bahan dapat lebih lama untuk disimpan. Dari
kurva shedd, gabah mendekati karakteristik jagung namun berada lebih tinggi
letaknya dibandingkan jagung. Efisiensi pemanasan, pengeringan, dan total adalah
26%, 55%, dan 19%. Akan lebih baik, bila pengeringan dengan sistem continuous.

DAFTAR PUSTAKA

Henderson S.M. dan Perry R.L. 1976. Agricultural Process Engineering 3th.
Edition.Wesport Connecticut (US): The AVI Publishing Company. Inc
Mujumdar A.S danDevashatin S. Mujumdars Practical Guide to Industrial
Drying. Montreal (CA): Exergex Corporation
Suhargo, Vitot K., Jindal. 1983. Conduction Drying of Paddy Using a Rice Husk
Fired Furnace, Presentation at the 1983. Jakarta (ID): Grain Post Harvest
Workshop.