Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

Epistaksis adalah perdarahan akut yang berasal dari lubang hidung,


rongga hidung atau nasofaring. Epistaksis bukan suatu penyakit, melainkan
gejala dari suatu kelainan yang mana hampir 90 % dapat berhenti sendiri.1
Epistaksis merupakan salah satu masalah kedaruratanmedik yang paling
umum dijumpai, diperkirakan 60 % dari populasi pernah mengalami epistaksis,
dan sebanyak 6% memerlukan penanganan medik. Epistaksis ringan biasanya
berasal dari anterior septum nasi sebagai akibat dari cedera kecil pada mukosa
septum, pada anak-anak seringkali terjadi akibat mengorek hidung, sedangkan
pada orang dewasa terjadi akibat mukosa kering sebagai akibat pengaruh
kelembapan udara, trauma, ulkus dan hipertensi.
Epistaksis terbanyak dijumpai pada usia 2-10 tahun dan 50-80 tahun,
sering dijumpai pada musim dingin dan kering. Di Amerika Serikat angka
kejadian epistaksis dijumpai 1 dari 7 penduduk. Tidak ada perbedaan yang
bermakna antara laki-laki dan wanita. Epistaksis bagian anterior sangat umum
dijumpai pada anak dan dewasa muda, sementara epistaksis posterior sering
pada orang tua dengan riwayat penyakit hipertensi atau arteriosklerosis.
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan
perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis.2
Edukasi kepada pasien dapat membantu pencegah terjadinya epistaksis.
Diskusi terarah tentang pentingnya mencegah pasien untuk tidak mengupil,
mencegah dari paparan iritan udara, bulu dan asap, dan pengendalian alergi
dapat menurunkan episode terjadinya epistaksis.

PATOFISIOLOGI
Pemeriksaan arteri kecil dan sedang pada orang yang berusia menengah
dan lanjut, terlihat perubahan progresif dari otot pembuluh darah tunika media
menjadi jaringan kolagen. Perubahan tersebut bervariasi dari fibrosis interstitial
sampai perubahan yang komplet menjadi jaringan parut. Perubahan tersebut
memperlihatkan gagalnya kontraksi pembuluh darah karena hilangnya otot
tunika media sehingga mengakibatkan perdarahan yang banyak dan lama. Pada
orang yang lebih muda, pemeriksaan di lokasi perdarahan setelah terjadinya
epistaksis memperlihatkan area yang tipis dan lemah. Kelemahan dinding
pembuluh darah ini disebabkan oleh iskemia lokal atau trauma. Berdasarkan
lokasinya epistaksis dapat dibagi atas beberapa bagian, yaitu:
1. Epistaksis anterior
Merupakan jenis epistaksis yang paling sering dijumpai terutama pada anakanak dan biasanya dapat berhenti sendiri. Perdarahan pada lokasi ini bersumber
dari pleksus Kiesselbach (little area), yaitu anastomosis dari beberapa pembuluh
darah di septum bagian anterior tepat di ujung postero superior vestibulum nasi.
Perdarahan juga dapat berasal dari bagian depan konkha inferior. Mukosa pada
daerah ini sangat rapuh dan melekat erat pada tulang rawan dibawahnya. Daerah
ini terbuka terhadap efek pengeringan udara inspirasi dan trauma. Akibatnya
terjadi ulkus, ruptur atau kondisi patologik lainnya dan selanjutnya akan
menimbulkan perdarahan .
2. Epistaksis posterior
Epistaksis posterior dapat berasal dari arteri sfenopalatina dan arteri etmoid
posterior. Pendarahan biasanya hebat dan jarang berhenti dengan sendirinya.
Sering ditemukan pada pasien dengan hipertensi, arteriosklerosis atau pasien
dengan penyakit kardiovaskuler. Thornton (2005) melaporkan 81% epistaksis
posterior berasal dari dinding nasal lateral.

DIAGNOSIS
Anamnesis dan menentukan lokasi sumber perdarahan serta menemukan
penyebabnya harus segera dilakukan. Perdarahan dari bagian anterior kavum
nasi biasanya akibat mencungkil hidung, epistaksis idiopatik, rinitis anterior dan
penyakit infeksi. Sedangkan dari bagian posterior atau media biasanya akibat
hipertensi, arteriosklerosis, fraktur atau tumor. Lakukan pengukuran tekanan
darah dan periksa faktor pembekuan darah. Disamping pemeriksaan rutin THT,
dilakukan pemeriksaan tambahan foto tengkorak kepala, hidung dan sinus
paranasal, bila perlu CT-scan.
PENATALAKSANAAN
Tiga prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan
perdarahan, mencegah komplikasi dan mencegah berulangnya epistaksis.
Pasien yang datang dengan epistaksis diperiksa dalam posisi duduk,
sedangkan kalau sudah terlalu lemah dibaringkan dengan meletakkan bantal di
belakang punggung, kecuali bila sudah dalam keadaan syok. Sumber
perdarahan dicari dengan bantuan alat penghisap untuk menyingkirkan bekuan
darah. Kemudian diberikan tampon kapas yang telah dibasahkan dengan
adrenalin 1: 10.000 dan lidokain atau pantokain 2 %. Kapas ini dimasukkan ke
dalam rongga hidung untuk menghentikan perdarahan dan mengurangi rasa
sakit pada saat tindakan selanjutnya. Tampon ini dibiarkan selama 3 5 menit.
Dengan cara ini dapat ditentukan apakah sumber perdarahan letaknya di bagian
anterior atau posterior.
Pada penanganan epistaksis, yang terutama diperhatikan adalah perkiraan
jumlah dan kecepatan perdarahan. Pemeriksaan hematokrit, hemoglobin dan
tekanan darah harus cepat dilakukan. Pada pasien dalam keadaan syok, kondisi
ini harus segera diatasi. Jika ada kecurigaan defisiensi faktor koagulasi harus
dilakukan pemeriksaan hitung trombosit, masa protrombin dan masa

tromboplastin (APTT), sedangkan prosedur diagnosis selanjutnya dilaksanakan


sesuai dengan kebutuhan. Bila terjadi kehilangan darah yang banyak dan cepat,
harus difikirkan pemberian transfusi sel-sel darah merah (packed red cell)
disamping penggantian cairan.
A. Epistaksis Anterior
1. Kauterisasi
Sebelum dilakukan kauterisasi, rongga hidung dianestesi lokal dengan
menggunakan tampon kapas yang telah dibasahi dengan kombinasi lidokain 4%
topikal dengan epinefrin 1 : 100.000 atau kombinasi lidokain 4% topikal dan
penilefrin 0.5 %.10 Tampon ini dimasukkan dalam rongga hidung dan dibiarkan
selama 5 10 menit untuk memberikan efek anestesi lokal dan vasokonstriksi.5
Kauterisasi secara kimia dapat dilakukan dengan menggunakan larutan perak
nitrat 20 30% atau dengan asam triklorasetat 10%.2 Becker (1994)
menggunakan larutan asam triklorasetat 40 70%. Setelah tampon dikeluarkan,
sumber perdarahan diolesi dengan larutan tersebut sampai timbul krusta yang
berwarna kekuningan akibat terjadinya nekrosis superfisial. Kauterisasi tidak
dilakukan pada kedua sisi septum, karena dapat menimbulkan perforasi. Selain
menggunakan zat kimia dapat digunakan elektrokauter atau laser.5 Yang (2005)
menggunakan electrokauter pada 90% kasus epistaksis yang ditelitinya.
2. Tampon Anterior
Apabila kauter tidak dapat mengontrol epistaksis atau bila sumber perdarahan
tidak dapat diidentifikasi, maka diperlukan pemasangan tampon anterior dengan
menggunakan kapas atau kain kassa yang diberi vaselin atau salap
antibiotik.2,10 Tampon ini dipertahankan selama 3 4 hari dan kepada
pasien diberikan antibiotik spektrum luas.12 Vaghela (2005) menggunakan
swimmers nose clip untuk penanggulangan epistaksis anterior.

B. Epistaksis Posterior
Perdarahan dari bagian posterior lebih sulitdiatasi, sebab biasanya perdarahan
hebat dan sulit dicari sumber perdarahan dengan rinoskopi anterior. Epistaksis
posterior dapat diatasi dengan menggunakan tampon posterior, bolloon
tamponade , ligasi arteri dan embolisasi.
1. Tampon Posterior
Prosedur ini menimbulkan rasa nyeri dan memerlukan anestesi umum atau
setidaknya dengan anestesi lokal yang adekuat. Prinsipnya tampon dapat
menutup koana dan terfiksasi di nasofaring untuk menghindari mengalirnya
darah ke nasofaring. Kemudian dilakukan pemasangan tampon anterior.
Tekhnik ini pertama sekali diperkenalkan oleh Bellocq, dengan menggunakan
tampon yang diikat dengan tiga pita (band). Masukkan kateter karet kecil
melalui hidung kedalam faring, kemudian ujungnya dipegang dengan cunam
dan dikeluarkan dari mulut agar dapat diikat pada kedua ujung pita yang telah
disediakan. Kateter ditarik kembali melalui rongga hidung sehingga tampon
tertarik ke dalam koana melalui nasofaring. Bantuan jari untuk memasukkan
tampon kedalam nasofaring akan mempermudah tindakan ini. Apabila masih
tampak perdarahan keluar dari rongga hidung, maka dapat pula dimasukkan
tampon anterior ke dalam kavum nasi. Kedua pita yang keluar dari nares
anterior kemudian diikat pada sebuah gulungan kain kasa didepan lubang
hidung, supaya tampon yang terletak di nasofaring tidak bergerak. Pita yang
terdapat di rongga mulut dilekatkan pada pipi pasien. Gunanya untuk menarik
tampon keluar melalui mulut setelah 2 3 hari.
2. Tampon Balon
Pemakaian tampon balon lebih mudah dilakukan dibandingkan dengan
pemasangan tampon posterior konvensional tetapi kurang berhasil dalam

mengontrol epistaksis posterior. Ada dua jenis tampon balon, yaitu: kateter
Foley dan tampon balon yang dirancang khusus. Setelah bekuan darah dari
hidung dibersihkan, tentukan asal perdarahan. Kemudian lakukan anestesi
topikal yang ditambahkan vasokonstriktor. Kateter Foley no. 12-16 F diletakkan
disepanjang dasar hidung sampai balon terlihat di nasofaring. Kemudian balon
diisi dengan 10 -20 cc larutan salin dan kateter Foley ditarik kearah anterior
sehingga balon menutup rongga hidung posterior. Jika dorongan terlalu kuat
pada palatum mole atau bila terasa sakit yang mengganggu, kurangi tekanan
pada balon. Selanjutnya dipasang tampon anterior dan kateter difiksasi dengan
mengunakan kain kasa yang dilekatkan pada cuping hidung. Apabila tampon
balon ini gagal mengontrol perdarahan, maka dilakukan pemasangan tampon
posterior