Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

LATAR BELAKANG
Sungai merupakan salah satu sumber daya alam yang bersifat mengalir,

sehingga perlakuan air di hulu akan member dampak di hilir. Pencemaran di hulu
akan menyebabkan biaya sosial di hilir (extematily effect) dan pelestarian di hulu
akan bermanfaat di hilir. Sungai sangat bermanfaat bagi manusia dan juga
bermanfaat bagi biota air.
Air merupakan sumber daya alam yang memenuhi hajat hidup orang
banyak sehingga perlu dilindungi agar dapat bermanfaat bagi hidup dan
kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya. Perlu upaya pelestarian dan
pengendalian air, untuk menjaga kualitas air atau mencapai kualitas air sehingga
dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan sesuai dengan tingkat mutu air yang
dikehendaki. Pengelolaan kuaitas air dilakukan dengan upaya pengendalian
pencemaran air, yaitu dengan upaya memelihara fungsi air sehingga kualitas air
memenuhi baku mutu. Air yang relatif bersih sangat didambakan oleh manusia,
baik untuk keperluan hidup sehari-hari, keperluan industri, untuk kebersihan
sanitasi kota, maupun untuk keperluan pertanian dan lain sebagainya.
Saat ini air menjadi masalah yang perlu mendapatkan perhatian serius.
Karena air telah tercemar oleh limbah limbah dari berbagai hasil kegiatan
manusia, sehingga untuk memperoleh air yang baik sesuai dengan standar tertentu
diperlukan biaya yang cukup mahal. Secara kualitas, sumber daya air telah
mengalami penurunan. Begitu pula secara kuantitas yang sudah tidak dapat
memenuhi kebutuhan manusia yang terus meningkat.
Pencemaran sungai di banyak wilayah di Indonesia telah mengakibatkan
terjadinya krisis air bersih. Kurangnya kesadaran warga sekitar serta lemahnya
pengawasan pemerintah dan keengganan mereka untuk melakukan penegakan
hukum yang benar menjadikan masalah pencemaran sungai menjadi hal yang
kronis yang semakin lama semakin parah.
Pencemaran berbagai zat kimia berbahaya di Sungai Kapuas di
Kalimantan Barat saat ini sudah terjadi mulai bagian hulu hingga hilir sungai.

Untuk itu, Pemerintah Provinsi Kalbar berupaya meminimalisasi pencemaran


tersebut dengan merancang peraturan daerah tentang standardisasi kualitas air
sungai. Sungai Kapuas tak hanya tercemari zat kimia merkuri, tetapi juga limbah
pabrik, bakteri coli, dan ada juga indikasi tercemar pestisida dari perkebunan.
Merkuri merupakan bahan kimia yang biasa digunakan untuk
memurnikan butiran emas pada penambangan emas tanpa izin. Merkuri yang
masuk ke tubuh manusia bisa mengganggu sistem saraf dan sistem enzym yang
berguna bagi metabolisme tubuh. Dampak pada manusia: menderita tremor, hilang
ingatan, mengganggu pertumbuhan janin.
Hasil penelitian di Sekadau menemukan kandungan merkuri (Hg)
mencapai 0,2 ppb (parts per billion) dua kali lipat di atas ambang batas normal.
Penelitian di Kabupaten Sintang menemukan kandungan Hg hingga 0,4 ppb. Dia
yakin, pencemaran seperti itu di hulu pasti berdampak ke hilir. Temuan ini
melengkapi penelitian beberapa tahun sebelumnya, saat ditemukan kandungan Hg
yang melebihi ambang batas di bagian hilir Sungai Kapuas. Oleh karena
permasalahan di atas maka perlu adanya solusi atau alternatif pemilihan sumber
air baku yang layak untuk dikonsumsi masyarakat.

1.2

RUMUSAN MASALAH

1.1.1

Apa yang dimaksud pencemaran sungai

1.1.2

Apa saja yang menjadi indikator pencemaran sungai

1.1.3

Apa saja yang menjadi sumber pencemaran sungai

1.1.4

Apa dampak dari pencemaran sungai

1.1.5

Bagaimana mencegah pencemaran sungai

1.1.6
1.1.7

Bagaimana menanggulangi pencemaran sungai

1.3

TUJUAN PENULISAN

Berdasarkan latar belakang diatas, maka tulisan ini bertujuan untuk mengupas
mengenai pencemaran sungai yang terjadi di beberapa daerah hulu dan hilir
Sungai Kapuas yang menjadi sumber air baku masyarakat yang dikelola oleh

PDAM daerah setempat. Secara khusus akan dibahas sumber, dampak dan
pencegahan serta penanggualangan pencemaran sungai yang tentu saja tidak lepas
dari pengertian dan perspektif hukum dari pencemaran sungai serta indikator
pencemaran tersebut. Diharapkan dengan adanya penjelasan mengenai dampak
pencemaran sungai beserta cara penanggulangan, timbul kesadaran dari kita
semua akan betapa pentingnya sungai bagi kehidupan yang pada akhirnya
pencemaran sungai dapat dikurangi sehingga didapat sumber air yang aman dan
sesuai baku mutu.
BAB II
PENCEMARAN SUNGAI
2.1

Pencemaran Sungai

Air merupakan sumber kehidupan di muka bumi ini, kita semua bergantung pada
air. Untuk itu diperlukan air yang dapat dipergunakan sebagaimana mestinya. Tapi
pada akhir-akhir ini, persoalan penyediaan air yang memenuhi syarat menjadi
masalah seluruh umat manusia. Dari segi kualitas dan kuantitas air telah
berkurang yang disebabkan oleh pencemaran.
Pencemaran air sungai terjadi apabila dalam air sungai terdapat berbagai macam
zat atau kondisi yang dapat menurunkan standar kualitas air yang telah ditentukan,
sehingga tidak dapat digunakan untuk kebutuhan tertentu. Suatu sumber air
dikatakan tercemar tidak hanya karena tercampur dengan bahan pencemar, akan
tetapi apabila air tersebut tidak sesuai dengan kebutuhan tertentu, sebagai contoh
suatu sungai yang mengandung logam berat atau mengandung bakteri penyakit
masih dapat digunakan untuk kebutuhan industri atau sebagai pembangkit tenaga
listrik, akan tetapi tidak dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga.
Dalam praktek operasionalnya, pencemaran lingkungan hidup tidak pernah
ditunjukkan secara utuh, melainkan sebagai pencemaraan dari komponenkomponen lingkungan hidup, seperti pencemaran air, pencemaran air sungai,
pencemaran air laut, pencemaran air tanah dan pencemaran udara. Dengan
demikian, definisi pencemaran air mengacu pada definisi lingkungan hidup yang
ditetapkan dalam UU tentang lingkungan hidup yaitu UU No. 23/1997.

Menurut UU Republik Indonesia No 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan


Lingkungan Hidup, yang dimaksud dengan pencemaran lingkungan hidup
yaitu; masuknya atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi dan atau
komponen lain ke dalam lingkungan hidup, oleh kegiatan manusia sehingga
kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup
tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukkannya. Demikian pula dengan
lingkungan air yang terdapat di sungai yang dapat tercemar karena masuknya atau
dimasukannya mahluk hidup atau zat yang membahayakan bagi kesehatan. Air
sungai dikatakan tercemar apabila kualitasnya turun sampai ke tingkat yang
membahayakan sehingga air tidak bisa digunakan sesuai peruntukannya.
2.2

Bahan Pencemar Air Sungai

Pada dasarnya Bahan Pencemar Air dapat dikelompokkan menjadi:


a) Sampah yang dalam proses penguraiannya memerlukan oksigen yaitu sampah
yang mengandung senyawa organik, misalnya sampah industri makanan, sampah
industri gula tebu, sampah rumah tangga (sisa-sisa makanan), kotoran manusia
dan kotoran hewan, tumbuhtumbuhan dan hewan yang mati. Untuk proses
penguraian sampahsampah tersebut memerlukan banyak oksigen, sehingga
apabila sampah-sampah tersbut terdapat dalam air, maka perairan (sumber air)
tersebut akan kekurangan oksigen, ikan-ikan dan organisme dalam air akan mati
kekurangan oksigen. Selain itu proses penguraian sampah yang mengandung
protein (hewani/nabati) akan menghasilkan gas H2S yang berbau busuk, sehingga
air tidak layak untuk diminum atau untuk mandi.
C, H, S, N, + O2 ? CO2 + H2O + H2S + NO + NO2
Senyawa organik
b) Bahan pencemar penyebab terjadinya penyakit, yaitu bahan pencemar yang
mengandung virus dan bakteri misal bakteri coli yang dapat menyebabkan
penyakit saluran pencernaan (disentri, kolera, diare, types) atau penyakit kulit.
Bahan pencemar ini berasal dari limbah rumah tangga, limbah rumah sakit atau
dari kotoran hewan/manusia.
c) Bahan pencemar senyawa anorganik/mineral misalnya logam-logam berat
seperti merkuri (Hg), kadmium (Cd), Timah hitam (pb), tembaga (Cu), garamgaram anorganik. Bahan pencemar berupa logam-logam berat yang masuk ke

dalam tubuh biasanya melalui makanan dan dapat tertimbun dalam organ-organ
tubuh seperti ginjal, hati, limpa saluran pencernaan lainnya sehingga mengganggu
fungsi organ tubuh tersebut.
d) Bahan pencemar organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme
yaitu senyawa organik berasal dari pestisida, herbisida, polimer seperti plastik,
deterjen, serat sintetis, limbah industri dan limbah minyak. Bahan pencemar ini
tidak dapat dimusnahkan oleh mikroorganisme, sehingga akan menggunung
dimana-mana dan dapat mengganggu kehidupan dan kesejahteraan makhluk
hidup.
e) Bahan pencemar berupa makanan tumbuh-tumbuhan seperti senyawa nitrat,
senyawa fosfat dapat menyebabkan tumbuhnya alga (ganggang) dengan pesat
sehingga menutupi permukaan air. Selain itu akan mengganggu ekosistem air,
mematikan ikan dan organisme dalam air, karena kadar oksigen dan sinar
matahari berkurang. Hal ini disebabkan oksigen dan sinar matahari yang
diperlukan organisme dalam air (kehidupan akuatik) terhalangi dan tidak dapat
masuk ke dalam air.
f) Bahan pencemar berupa zat radioaktif, dapat menyebabkan penyakit kanker,
merusak sel dan jaringan tubuh lainnya. Bahan pencemar ini berasal dari limbah
PLTN dan dari percobaan-percobaan nuklir lainnya.
g) Bahan pencemar berupa endapan/sedimen seperti tanah dan lumpur akibat
erosi pada tepi sungai atau partikulat-partikulat padat/lahar yang disemburkan
oleh gunung berapi yang meletus, menyebabkan air menjadi keruh, masuknya
sinar matahari berkurang, dan air kurang mampu mengasimilasi sampah.
h) Bahan pencemar berupa kondisi (misalnya panas), berasal dari limbah
pembangkit tenaga listrik atau limbah industri yang menggunakan air sebagai
pendingin. Bahan pencemar panas ini menyebabkan suhu air meningkat tidak
sesuai untuk kehidupan akuatik (organisme, ikan dan tanaman dalam air).
Tanaman, ikan dan organisme yang mati ini akan terurai menjadi senyawasenyawa organik. Untuk proses penguraian senyawa organik ini memerlukan
oksigen, sehingga terjadi penurunan kadar oksigen dalam air.
Secara garis besar bahan pencemar air tersebut di atas dapat dikelompokkan
menjadi:

1.

Bahan pencemar organik, baik yang dapat mengalami penguraian oleh


mikroorganisme maupun yang tidak dapat mengalami penguraian.

2.

Bahan pencemar anorganik, dapat berupa logam-logam berat, mineral


(garam-garam anorganik seperti sulfat, fosfat, halogenida, nitrat)

3.

Bahan pencemar berupa sedimen/endapan tanah atau lumpur.

4.

Bahan pencemar berupa zat radioaktif

5.

Bahan pencemar berupa panas

2.3

Indikator Pencemaran Air Sungai


Indikator atau tanda bahwa air lingkungan telah tercemar adalah adanya

perubahan atau tanda yang dapat diamati yang dapat digolongkan menjadi :
a. Pengamatan secara fisis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
tingkatkejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu, warna dan adanya
perubahanwarna, bau dan rasa,
b. Pengamatan secara kimiawi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
zatkimia yang terlarut dan perubahan pH,
c. Pengamatan secara biologis, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
mikroorganisme yang ada dalam air, terutama ada tidaknya bakteri pathogen.
Indikator yang umum diketahui pada pemeriksaan pencemaran air sungai terbagi
dua jenis, yaitu parameter kimia dan parameter fisika. Parameter kimia antara lain
derajat keasaman (pH), Biologycal Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen
Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO), lemak dan minyak, serta Nitrogen
amoniak (NH3 N), Sedangkan parameter fisika antara lain suhu, Total
Suspended Solid(TSS) dan Total Dissolved Solid (TDS).
2.3.1

Parameter Kimia

a) Derajar Keasaman (pH), Derajat keasaman adalah ukuran untuk menentukan


sifat asam dan basa. Perubahan pH di suatu air sangat berpengaruh terhadap
proses fisika, kimia, maupun biologi dari organisme yang hidup di dalamnya.
Derajat keasaman diduga sangat berpengaruh terhadap daya racun bahan
pencemaran dan kelarutan beberapa gas, serta menentukan bentuk zat didalam air.
Nilai pH air digunakan untuk mengekpresikan kondisi keasaman (kosentrasi ion
hidrogen) air limbah. Skala pH berkisar antara 1-14. Kisaran nilai pH 1-7

termasuk kondisi asam, pH 7-14 termasuk kondisi basa, dan pH 7 adalah kondisi
netral. Air limbah dan buangan industri akan mengubah pH air yang akhirnya
akan mengganggu kehidupan biota akuatik.
b) Biologycal Oxygen Demand (BOD), Kebutuhan oksigen Biokimia atau BOD
adalah

banyaknya

oksigen

yangdibutuhkan

oleh

mikroorganisme

untuk

menguraikan bahan organiknya yangmudah terurai. Bahan organik yang tidak


mudah terurai umumnya berasal darilimbah pertanian, pertambangan dan industri.
Parameter BOD ini merupakansalah satu parameter yang di lakukan dalam
pemantauan parameter air, khusunyapencemaran bahan organik yang tidak mudah
terurai. BOD menunjukkan jumlahoksigen yang dikosumsi oleh respirasi mikro
aerob yang terdapat dalam botolBOD yang diinkubasi pada suhu sekitar 20 0C
selama lima hari, dalam keadaantanpa cahaya. Kadar maksimum BOD5 yang
diperkenankan untuk kepentingan air minum dan menopang kehidupan organisme
akuatik adalah 3,0-6,0 mg/L berdasarkan UNESCO/WHO/UNEP, 1992.
Sedangkan berdasarkankep.51/MENKLH/10/1995 nilai BOD5 untuk baku mutu
limbah cair bagi kegiatan industri golongan I adalah 50 mg/L dan golongan II
adalah 150 mg/L.
c) Chemical Oxygen Demand (COD),Kebutuhan oksigen kimiawi atau COD
menggambarkan jumlah totaloksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan
organik secara kimiawi, baikyang dapat didegradasi secara biologis maupun yang
sukar didegradasi secara biologis menjadi CO2 dan H2O. Keberadaan bahan
organik dapat berasal dari alam ataupun dari aktivitas rumah tangga dan industri.
Perairan yang memiliki nilai COD tinggi tidak diinginkan bagi kepentingan
perikanan dan petanian. Nilai COD pada perairan yang tidak tercemar biasanya
kurang dari 29 mg/liter. Sedangkan pada perairan yang tercemar dapat lebih dari
200 mg/liter pada limbah industri dapat mencapai 60.000 mg/liter.
d) Dissolved Oxygen (DO), oksigen terlarut atau DO adalah jumlah oksigen yang
diperlukan untuk proses degradasi senyawa organik dalam air. Oksigen dapat
dihasilkan dari atmosfir atau dari hasil fotosintesis. Kelarutan oksigen dalam air
bergantung pada temperature dan tekanan atmosfir. Berdasarkan data-data
temperatur dan tekanan, maka kelarutan oksigen jenuh dalam air pada 25 oC dan
tekanan 1 atm adalah 8,32 mg/L (Warlina, 1985).

e) Lemak dan Minyak, Merupakan zat pencemar yang sering dimasukkan kedalam
kelompokpadatan, yaitu padatan yang mengapung di atas permukaan air. Menurut
Sugiharto (1987), bahwa lemak tergolong benda organik yang relatif tidak mudah
teruraikan oleh bakteri. Terbentuknya emulsi air dalam minyak akan membuat
lapisan yang menutup permukaan air dan dapat merugikan, karena penetrasi sinar
matahari ke dalam air berkurang serta lapisan minyak menghambat pegambilan
oksigen dari udara sehingga oksigen terlarut menurun. Untuk air sungai kadar
maksimum lemak dan minyak 1 mg/l.
f) Nitrogen Amoniak(NH3-N), Merupakan salah satu parameter dalam menentukan
kualitas air, baik airminum maupun air sungai. Amoniak berupa gas yang berbau
tidak enak sehingga20 kadarnya harus rendah, pada air minum kadarnya harus nol
sedangkan air surgai kadarnya 0.5 mg/l.
2.3.2 Parameter Fisika
a) Suhu, Menurut Effendi (2003), suhu dari suatu badan air dipengaruhi
olehmusim, lintang (latitute),ketinggian dari permukaan laut, waktu dalam
hari,sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran serta kedalaman badan air,
adalahsalah satu faktor yang sangat penting bagi kehidupan organisme, karena
suhumempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun pengembangbiakan
dariorganisme-organisme tersebut.
b) Total Suspended Solid (TSS),Total Suspended Solid atau padatan tersuspensi
adalah padatan yangmenyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut, dan tidak dapat
mengendap. Padatantersuspensi terdiri dan partikel-partikel yang ukuran maupun
beratnya lebih kecildari pada sedimen, seperti bahan-bahan Organik tertentu,
tanah liat dan lainnya.Partikel menurunkan intensitas cahaya yang tersuspensi
dalam air umumnyaterdiri dari fitoplankton, zooplankton, kotoran hewan, sisa
tanaman dan hewan,kotoran manusia dan limbah industri.
c) Total Dissolved Solid (TDS),Total Dissolved Solid atau padatan terlarut adalah
padatan-padatan yangmempunyai ukuran lebih kecil dari padatan tersuspensi.
Bahan-bahan terlarutpada perairan alami tidak bersifat toksik, akan tetapi jika
berlebihan

dapatmeningkatkan

nilai

kekeruhan

yang

selanjutnya

akan

menghambat penetrasi21cahaya matahari ke kolom air dan akhirnya berpengaruh


terhadap prosesfotosintesis diperairan.

2.4

Penyebab Terjadinya Pencemaran Sungai

Pencemaran air sungai dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu pencemaran sungai
yang disebabkan oleh alam dan pencemaran sungai yang disebabkan oleh ulah
manusia. Pencemaran sungai yang disebabkan oleh alam antara lain akibat
desposisi asam, kebakaran hutan, meletusnya gunung berapi, serta endapan hasil
erosi. Sementara pencemaran sungai yang disebabkan oleh ulah manusia terbagi
menjadi beberapa sumber pencemaran, antara lain limbah industri, limbah
pemukiman, limbah pertanian, limbah rumah sakit, dan limbah pertambangan.
2.4.1

Pencemaran Sungai yang Disebabkan oleh Alam

a) Desposisi Asam, Kelebihan zat asam pada sungai akan mengakibatkan


sedikitnya spesies yang bertahan. Jenis plankton dan invertebrata merupakan
mahkluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Jika sungai
memiliki pH dibawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang (Anonim,
2002). Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara signifikan
berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem. Tidak semua sungai yang
terkena hujan asam akan menjadi pengasaman, dimana telah ditemukan jenis
batuan dan tanah yang dapat membantu menetralkan keasaman.
b) Kebakaran Hutan, Kebakaran hutan memang tidak secara signifikan
menyebabkan perubahan kualitas air di sungai, namun kebakaran hutan bisa
menyebabkan terganggunya ekosistem makhkluk hidup yang ada di sungai yang
disebabkan faktor asap. Tebalnya asap menyebabkan matahari sulit untuk
menembus dalamnya lautan. Pada akhirnya hal ini akan membuat beberapa
spesies tumbuhan yang hidup di sungai menjadi sedikit terhalang untuk
melakukan fotosintesa dan ikan-ikan sulit bernafas karena kandungan CO2 yang
berlebih.
c) Letusan Gunung Berapi, letusan gunung berapi menyebabkan sungai atau
danau tercemar karena bebatuan serta materi-materi yang terbawa dari gunung
mengendap di sungai. Jika materi yang mengendap bervolume besar, maka hal ini
menyebabkan ikan-ikan mati bila tertumpuk oleh bebatuan tersebut. Selain itu,
materi-materi

yang

bervolume

mempengaruhi ekosistem di sungai.

kecil

menyebabkan

sungai

keruh

dan

d) Endapan Hasil Erosi, Tebalnya lumpur yang terbawa erosi akan mengalami
pengendapan di bagian hilir sungai. Ancaman yang muncul adalah meluapnya
sungai bersangkutan akibat erosi yang terus menerus.Ketika air hujan tidak lagi
memiliki penghalang dalam menahan lajunya maka ia akan membawa seluruh
butir tanah yang ada di atasnya untuk masuk kedalam sungai-sungai yang ada.
Akibatnya adalah sungai menjadi sedikit keruh. Hal ini akan terus berulang
apabila ada hujan di atas gunung ataupun di hulu sungai sana.
2.4.2

Pencemaran Sungai yang Disebabkan oleh Ulah Manusia

a) Limbah Industri, Limbah industri sangat potensial sebagai penyebab terjadinya


pencemaran air sungai. Pada umumnya limbah industri mengandung limbah B3,
yaitu bahan berbahaya dan beracun. Menurut PP 18 tahun 99 pasal 1, limbah B3
adalah sisa suatu usaha atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun yang dapat mencemarkan atau merusak lingkungan hidup sehingga
membahayakan kesehatan serta kelangsungan hidup manusia dan mahluk
lainnya.. Karakteristik limbah B3 adalah korosif/ menyebabkan karat, mudah
terbakar dan meledak, bersifat toksik/ beracun dan menyebabkan infeksi/
penyakit. Limbah industri yang berbahaya antara lain yang mengandung logam
dan cairan asam. Misalnya limbah yang dihasilkan industri pelapisan logam, yang
mengandung tembaga dan nikel serta cairan asam sianida, asam borat, asam
kromat, asam nitrat dan asam fosfat. Limbah ini bersifat korosif, dapat mematikan
tumbuhan dan hewan air. Pada manusia menyebabkan iritasi pada kulit dan mata,
mengganggu pernafasan dan menyebabkan kanker.
Logam yang paling berbahaya dari limbah industri adalah merkuri atau yang
dikenal juga sebagai air raksa (Hg) atau air perak. Limbah yang mengandung
merkuri selain berasal dari industri logam juga berasal dari industri kosmetik, batu
baterai, plastik dan sebagainya. Di Jepang antara tahun 1953- 1960, lebih dari 100
orang meninggal atau cacat karena mengkonsumsi ikan yang berasal dari Teluk
Minamata. Teluk ini tercemar merkuri yang bearasal dari sebuah pabrik plastik.
Senyawa merkuri yang terlarut dalam air masuk melalui rantai makanan, yaitu
mula-mula masuk ke dalam tubuh mikroorganisme yang kemudian dimakan yang
dikonsumsi manusia. Bila merkuri masuk ke dalam tubuh manusia melalui saluran
pencernaan, dapat menyebabkan kerusakan akut pada ginjal sedangkan pada anak-

anak dapat menyebabkan Pink Disease/ acrodynia, alergi kulit dan disease/
mucocutaneous lymph node syndrome.
b) Limbah Pemukiman, Limbah pemukiman mengandung limbah domestik berupa
sampah organik dan sampah anorganik serta deterjen. Sampah organik adalah
sampah yang dapat diuraikan atau dibusukkan oleh bakteri. Contohnya sisa-sisa
sayuran, buah-buahan, dan daun-daunan. Sedangkan sampah anorganik seperti
kertas, plastik, gelas atau kaca, kain, kayu-kayuan, logam, karet, dan kulit.
Sampah-sampah ini tidak dapat diuraikan oleh bakteri (non biodegrable). Sampah
organik yang dibuang ke sungai menyebabkan berkurangnya jumlah oksigen
terlarut, karena sebagian besar digunakan bakteri untuk proses pembusukannya.
Apabila sampah anorganik yang dibuang ke sungai, cahaya matahari dapat
terhalang dan menghambat proses fotosintesis dari tumbuhan air dan alga, yang
menghasilkan oksigen. Tentunya anda pernah melihat permukaan air sungai atau
danau yang ditutupi buih deterjen. Deterjen merupakan limbah pemukiman yang
paling potensial mencemari air. Pada saat ini hampir setiap rumah tangga
menggunakan deterjen, padahal limbah deterjen sangat sukar diuraikan oleh
bakteri sehingga tetap aktif untuk jangka waktu yang lama. Penggunaan deterjen
secara besar-besaran juga meningkatkan senyawa fosfat pada air sungai atau
danau. Fosfat ini merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok.
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan
permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya cahaya
matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Jika tumbuhan air
ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan persediaan oksigen
dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan pendangkalan.
c) Limbah Pertanian, Pupuk dan pestisida biasa digunakan para petani untuk
merawat tanamannya. Namun pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan
dapat mencemari air. Limbah pupuk mengandung fosfat yang dapat merangsang
pertumbuhan gulma air seperti ganggang dan eceng gondok. Pertumbuhan gulma
air yang tidak terkendali ini menimbulkan dampak seperti yang diakibatkan
pencemaran oleh deterjen.
Limbah pertanian dapat mengandung polutan insektisida atau pupuk organik.
Insektisida dapat mematikan biota sungai. Jika biota sungai tidak mati kemudian

dimakan hewan atau manusia orang yang memakannya akan keracunan. Untuk
mencegahnya, upayakan agar memilih insektisida yang berspektrum sempit
(khusus membunuh hewan sasaran) serta bersifat biodegradabel (dapat terurai
oleh mikroba) dan melakukan penyemprotan sesuai dengan aturan. Jangan
membuang sisa obet ke sungai. Sedangkan pupuk organik yang larut dalam air
dapat menyuburkan lingkungan air (eutrofikasi). Karena air kaya nutrisi,
ganggang dan tumbuhan air tumbuh subur (blooming). Hal yang demikian akan
mengancam kelestarian bendungan. bemdungan akan cepat dangkal dan biota air
akan mati karenanya.
Selain itu penggunaan pupuk yang terus menerus dalam pertanian akan merusak
struktur tanah, yang menyebabkan kesuburan tanah berkurang dan tidak dapat
ditanami jenis tanaman tertentu karenahara tanah semakin berkurang. Penggunaan
pestisida bukan saja mematikan hama tanaman tetapi juga mikroorga-nisme yang
berguna di dalam tanah. Padahal kesuburan tanah tergantung pada jumlah
organisme di dalamnya. Sedangkan penggunaan pestisida yang terus menerus
akan mengakibatkan hama tanaman kebal terhadap pestisida tersebut.
2.5

Dampak Pencemaran Sungai

Pada saat ini, limbah kegiatan industri dikatakan telah mengancam seluruh.negeri.
Hal ini disebabkan karena melalui mekanisme alam seperti tiupan angin, aliran air
sungai, daya rambat di tanah melalui difusi limbah tersebut dapat menyebar ke
mana-mana.
Buangan di perairan menyebabkan masalah kehidupan biota dalam bentuk
keracunan

bahkan

kematian.

Gangguan

terhadap

biota

perairan

telah

menimbulkan dampak penurunan kualitas dan kuantitas biota perairan (ikan dan
udang). Kelebihan pupuk yang dialirkan ke rawa atau ke danau dapat
menimbulkan suburnya enceng gondok. Selain itu, erosi lumpur yang terbawa ke
laut kemudian diendapkan mengakibatkan tertutupnya permukaan karang yang
pada akhirnya menyebabkan kematian karang.
Akibat pencemaran itu kehidupan dalam air dapat terganggu dengan mematikan
binatang-binatang dan tumbuh-tumbuhan dalam air karena oksigen yang terlarut
dalam air akan habis dipakai untuk dekomposisi aerobik dari zat-zat organik yang
banyak terkandung dalam air buangan.

Pencemaran yang tidak disebabkan oleh sifat racun dari bahan-bahan


pencemar adalah :
1.

Kandungan lumpur yang meningkat di dalam air mengurangi jumlah


cahaya yang masuk yang diperlukan untuk berfotosintesis. Unsur hara yang
masuk berlebihan ke ekosistem perairan dapat menyebabkan pertumbuhan
yang sangat cepat dari algae atau tanaman air, sehingga menyebabkan
berkurangnya bentuk kehidupan lainnya seperti ikan dan kerang-kerangan.

2.

Buangan air panas meskipun tidak langsung membunuh biota air, dapat
merubah kondisi dari lingkungan hidupnya. Akibatnya, satu jenis akan
tumbuh dan berkembang lebih cepat sedang yang lain justru dapat
terhambat. Kelakuan ikan yang selalu berpindah (migration) dapat berubah
disebabkan adanya perubahan suhu yang relatif cepat pada jarak yang
pendek.

3.

Lumpur erosi sebagai akibat pengelolaan tanah yang kurang baik dapat
diendapkan di pantai-pantai dan mematikan kehidupan karang atau merusak
tempat berpijak biota perairan.

4.

Senyawa organik di dalam proses penguraiannya dapat mengambil zat


asam dari air terlalu banyak, sehingga membahayakan kehidupan di tempat
itu.

5.

Air sungai yang mengalir berlebihan ke perairan pantai dapat membentuk


lapisan yang menghalangi pertukaran massa air dengan lapisan air yang
lebih subur dari bawah.

Pencemaran limbah ke lingkungan perlu diperhatikan dan diantisipasi dengan


baik, lebih-lebih terhadap air sungai, karena air sungai dipakai penduduk untuk
berbagai keperluan. Pencemaran sungai oleh air buangan ditinjau dari sudut
mikrobiologi antara lain : pencemaran bakteri patogen dan non patogen serta
bahan organik. Banyaknya bahan organik akan merangsang pertumbuhan
mikroorganisme menjadi pesat.
Hal ini mengakibatkan pemakaian oksigen akan cepat dan meningkat, akibatnya
kadar oksigen terlarut dalam air akan menipis dan menjadi sedikit sekali, yang
akhirya mengakibatkan mikroorganisme dan organisme air lainnya yang
memerlukan oksigen mati. Ekologi air akan berubah drastis. Keadaan menjadi

anaerobik, sehingga air sungai busuk, dan tidak sehat bagi pertumbuhan
mikroorganisme flora dan fauna air itu. Lingkungan hidup yang demikian ini
sudah rusak dan tidak layak lagi bagi kebutuhan hidup kita (Ardhana, 1994).

BAB III
PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR SUNGAI
3.1

Pencegahan Pencemaran Sungai

Berikut ini adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah
pencemaran sungai :
1.

Penggunaan detergen secukupnya,

2. Tidak mebuang sampah ke sungai


3.

Penggunaan pupuk dan pestisida secukupnya,

4.

Setiap industri atau pabrik menyediakan Instalasi Pengelolaan Air Limbah

(IPAL),
5.

Reboisasi

6.

Pengomposan sampah organik,

7.

Pendaurulangan sampah anorganik.

3.2

Penanggulangan Pencemaran Air Sungai

Pengendalian/penanggulangan pencemaran air di Indonesia telah diatur melalui


Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan
Pengendalian Pencemaran Air. Secara umum hal ini meliputi pencemaran air baik
oleh instansi ataupun non-instansi. Salah satu upaya serius yang telah dilakukan
Pemerintah dalam pengendalian pencemaran air adalah melalui Program Kali
Bersih (PROKASIH). Program ini merupakan upaya untuk menurunkan beban
limbah cair khususnya yang berasal dari kegiatan usaha skala menengah dan
besar, serta dilakukan secara bertahap untuk mengendalikan beban pencemaran
dari sumber-sumber lainnya. Program ini juga berusaha untuk menata pemukiman
di bantaran sungai dengan melibatkan masyarakat setempat (KLH, 2004).

Pada prinsipnya ada 2 (dua) usaha untuk menanggulangi pencemaran, yaitu


penanggulangan secara non-teknis dan secara teknis. Penanggulangan secara nonteknis yaitu suatu usaha untuk mengurangi pencemaran lingkungan dengan cara
menciptakan peraturan perundangan yang dapat merencanakan, mengatur dan
mengawasi segala macam bentuk kegiatan industri dan teknologi sehingga tidak
terjadi pencemaran. Peraturan perundangan ini hendaknya dapat memberikan
gambaran secara jelas tentang kegiatan industri yang akan dilaksanakan, misalnya
meliputi AMDAL, pengaturan dan pengawasan kegiatan dan menanamkan
perilaku disiplin. Sedangkan penanggulangan secara teknis bersumber pada
perlakuan industri terhadap perlakuan buangannya, misalnya dengan mengubah
proses, mengelola limbah atau menambah alat bantu yang dapat mengurangi
pencemaran. Sebenarnya penanggulangan pencemaran air dapat dimulai dari diri
kita sendiri. Dalam keseharian, kita dapat mengurangi pencemaran air dengan cara
mengurangi produksi sampah (minimize) yang kita hasilkan setiap hari. Selain itu,
kita dapat pula mendaur ulang (recycle) dan mendaur pakai (reuse) sampah
tersebut. Kitapun perlu memperhatikan bahan kimia yang kita buang dari rumah
kita. Karena saat ini kita telah menjadi masyarakat kimia, yang menggunakan
ratusan jenis zat kimia dalam keseharian kita, seperti mencuci, memasak,
membersihkan rumah, memupuk tanaman, dan sebagainya. Kita harus
bertanggung jawab terhadap berbagai sampah seperti makanan dalam kemasan
kaleng, minuman dalam botol dan sebagainya, yang memuat unsur pewarna pada
kemasannya dan kemudian terserap oleh air tanah pada tempat pembuangan akhir.
Bahkan pilihan kita untuk bermobil atau berjalan kaki, turut menyumbangkan
emisi asam atu hidrokarbon ke dalam atmosfir yang akhirnya berdampak pada
siklus air alam.
Menjadi konsumen yang bertanggung jawab merupakan tindakan yang bijaksana.
Sebagai contoh, kritis terhadap barang yang dikonsumsi, apakah nantinya akan
menjadi sumber bencana yang persisten, eksplosif, korosif dan beracun
atau degradable (dapat didegradasi alam)? Apakah barang yang kita konsumsi
nantinya dapat meracuni manusia, hewan, dan tumbuhan aman bagi makhluk
hidup dan lingkungan ? Teknologi dapat kita gunakan untuk mengatasi
pencemaran air. Instalasi pengolahan air bersih, instalasi pengolahan air limbah,

yang dioperasikan dan dipelihara baik, mampu menghilangkan substansi beracun


dari air yang tercemar. Dari segi kebijakan atau peraturanpun mengenai
pencemaran air ini telah ada. Bila kita ingin benar-benar hal tersebut dapat
dilaksanakan, maka penegakan hukumnya harus dilaksanakan pula. Pada
akhirnya, banyak pilihan baik secara pribadi ataupun social (kolektif) yang harus
ditetapkan, secara sadar maupun tidak, yang akan mempengaruhi tingkat
pencemaran dimanapun kita berada. Walaupun demikian, langkah pencegahan
lebih efektif dan bijaksana.
Melalui penanggulangan pencemaran ini diharapkan bahwa pencemaran akan
berkurang dan kualitas hidup manusia akan lebih ditingkatkan, sehingga akan
didapat sumber air yang aman, bersih dan sehat.
A.

Pencemaran Air Sungai Kapuas


Pencemaran adalah perubahan yang tidak diinginkan pada lingkungan yang
meliputi udara, daratan dan air, baik secara fisik, kimia maupun biologi. Makhluk
hidup, zat, energy, atau komponen penyebab pencemaran disebut polutan.
Pencemaran sungai dapat disebabkan 3 polutan dibawah ini, yaitu:

a.

Polutan makhluk hidup atau polutan biologi, air sungai dapat tercemar oleh
bakteri yang ada disampah dan kotoran

b.

Polutan zat disebut juga polutan kimia. Air sungai dapat tercemar oleh limbah
kimia, seperti logam merkuri.

c.

Polutan energy, disebut juga polutan fisik. Sungai dapat terkena polutan fisik,
seperti panas dan radiasi.
Definisi

pencemaran

air,

menurut

Surat

Keputusan

Menteri

Negara

Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor :KEP-02/MENKLH/I/1988


Tentang Penetapan Baku Mutu Lingkungan adalah : masuk atau dimasukkannya
makhluk hidup, zat, energy, dan atau komponen lain kedalam air dan atau
berubahnya tatanan air oleh kegiatan manusia atau oleh proses alam, sehingga
kualitas air turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air, menjadi
kurang atau tidak berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (pasal 1).

Banyak hal yang menyebabkan pencemaran di daerah aliran sungai (DAS)


Kapuas antara lain sebagai berikut :
1.

Kegiatan pertambangan
Aktivitas penambangan tanpa izin (PETI) merupakan penyebab terbesar
terjadinya pencemaran di sungai Kapuas, karena merkuri merupakan bahan kimia
yang biasa digunakan untuk memurnikan butiran emas pada penambangan emas
tanpa izin. Hasil penelitian di Sekadau, ditemukan kandungan merkuri (Hg)
mencapai 0,2 ppb (parts per billion) dua kali lipat di atas ambang batas normal.
Penelitian di Kabupaten Sintang menemukan kandungan Hg hingga 0,4 ppb.
Pencemaran di hulu akan berdampak pula di hilir sungai. Mudahnya merkuri
dijual di pasaran Kalbar, baik dalam kemasan kantung maupun botol plastik, turut
mendukung kegiatan PETI. Harga senyawa yang dipakai untuk aktivitas
Penambangan Emas Tanpa Izin ini pun amat terjangkau bila dibandingkan dengan
harga emas yang melangit. Selain Hg, kegiatan pertambangan juga menghasilkan
cadmium dan timbal sebagai hasil dari limbah pertambangan.

2.

Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit dapat berdampak buruk pada
sungai, karena pada saat hujan, tidak ada lagi pohon yang menahan aliran air
tanah, sehingga air akan mengalir kembali ke sungai bersama-sama tanah atau
lumpur sehingga dapat mengakibatkan pendangkalan dan kekeruhan air sungai.
Perlu adanya kerja sama dengan pemerintah, karena pembukaan lahan untuk
perkebunan harus memperhatikan tata ruang wilayah agar terhindar dari dampak
lingkungan yang merugikan masyarakat.

3.

Limbah rumah tangga dan industry


Salah satu limbah yang berasal dari rumah tangga adalah deterjen (air cucian atau
mandi) yang dibuang langsung ke sungai sedangkan limbah yang berasal dari
industry contohnya adalah industry rumahan (home industry) pembuatan tempe,
tahu atau kecap. Limbah ini dapat membunuh makhluk hidup yang ada di sungai
sehingga mengganggu ekosistem biota di sungai, karena limbah mempengaruhi
pH, dan ketersediaan oksigen di air.

4.

Membuang sampah di sungai


Sungai yang tercemar kotoran dan sampah yang mengandung bakteri dan virus,
dapat menimbulkan penyakit, terutama bagi masyarakat yang menggunakan

sungai sebagai sumber kehidupan sehari-hari. Sampah dan kotoran juga


memerlukan oksigen untuk porses penguraiannya, sehingga kadar oksigen di
dalam air berkurangdan kadar CO2 meningkat. Jika kadar oksigen suatu perairan
turun sampai kurang dari 5mg per liter, air tersebut rawan bagi kehidupan biota air
seperti ikan. Selain itu sampah juga menyebabkan pendangkalan sungai, ditambah
lagi terjadi abrasi di sisi kanan dan kiri sungai, sehingga dapat mengakibatkan
meluapnya air sungai ketika turun hujan.
5.

Limbah pertanian
Kegiatan pertanian dapat menyebabkan pencemaran terutama karena penggunaan
pupuk buatan, pestisida dan herbisida yang terbawa air hujan dan akhirnya masuk
ke aliran sungai. Pencemaran tersebut dapat meracuni organisme air dan manusia
yang menggunakannya untuk kebutuhan sehari-hari.
Dampak Yang Ditimbulkan Dari Pencemaran Air Sungai Kapuas

1.

Adanya bahan pencemar merkuri di sungai Kapuas dapat menyebabkan tumor,


kerusakan syaraf, paralysis, kebutaan, gangguan jiwa, kerusakan kromosom dan
gangguan janin. Gejala-gejala ringan akibar keracunan merkuri adalah depresi dan
suka marah-marah yang merupakan sifat dari penyakit kejiwaan. Merkuri
anorganik bersifat toksik pada ginjal, sedangkan merkuri organic seperti metil
merkuri dapat menyebabkan gangguan pada system saraf. Pemanasan
logam merkuri membentuk uap merkuri oksida yang bersifat korosif pada kulit
,selaput mukosa,mulut dan saluran pernafasan. Merkuri dengan konsentrasi tinggi
kadang kala di dapatkan di perairan dan jaringan ikan yang berasal dari
pembentukan ion monoetil merkuri yang larut CH 3Hg+ dan (CH3)2Hg, oleh bakteri
anaerobic didalam sedimen, merkuri dari senyawa-senyawa ini menjadi pekat di
dalam lemak jaringan ikan (penguatan biologis) dapat mencapai 103

2.

Bahan pencemar cadmium sangat mirip dengan seng, dan kedua metal tersebut
sering terlibat bersama-sama dalam siklus biogeokimia, karena kemiripan sifat
kimianya dengan seng, cadmium dapat menggantikan seng dalam kegiatan
enzimatis. Kedua logam tersebut berada di dalam air dengan biloks 2 +. Cadmium
dapat berefek pada manusia, yaitu tekanan darah tinggi, kerusakan ginjal, dan
kerusakan dari sel-sel darah merah .

3.

Timbale selain berasal dari limbah pertambangan juga dapat berasal dari bahan
bakar yang mengandung timbale. Daya racun timbale yang akut pada perairan
menyebabkan kerusakan hebat pada ginjal, system reproduksi, hati dan otak, serta
system syaraf sentral dan bisa menyebabkan kematian.

4.

CO2 terdapat di dalam air, karena adanya pembusukan bahan-bahan organic.


Kandungan CO2 yang cukup tinggi, air akan lebih bersifat korosif (bersifat
asam/pH menurun) dan dapat membahayakan kehidupan akuatik.

5.

Unsure hara yang berasal dari pupuk dapat menyebabkan eutrofikasi pada
perairan. Istilah eutrofikasi berasal dari bahasa Yunani berarti nutrisi / hara baik,
yang menjelaskan suatu kondisi dari suatu danau atau penampungan / sumber air
yang menyebabkan kemerosotan dari kualitas airnya. Langkah pertama eutrofikasi
dari badan air adalah adanya masukan dari hara-hara tanaman yang berasal dari
air buangan hara atau nutrient mencapai badan air yang kemudian menghasilkan
sejumlah besar biomas tanaman melalui fotosintesis. Salah satu tanaman yang
dapat tumbuh adalah ganggang. Pertumbuhan ganggang yang cepat dan kemudian
mati membutuhkan banyak oksigen untuk menguraikannya, sehingga sungai
menjadi kekurangan oksigen dan mendorong pertumbuhan organism anaerob.

6.

Residu pestisida seperti DDT (dikloro difenil trikloroetana) yang terakumulasi


dalam tubuh ikan dan biota lainnya dapat terbawa dalam rangkai makanan ke
tingkat trofik yang lebih tinggi, yaitu manusia, sehingga dapat menyebabkan
keracunan pada manusia.

7.

Penggunaan sabun dan dampak penggunaan detergen. Sabun yang masuk dalam
system akuatik biasanya langsung terendap sebagai garam-garam kalsium dan
magnesium, dengan biodegridasi, sabun secara sempurna dapat dihilangkan dari
lingkungan sehingga sabun tidak menyebabkan masalah pencemaran yang
penting. Detergen yang masih menggunakan surfaktan ABS, sangat lambat diurai
oleh bakteri pengurai, sehingga perairan akan dipenuhi oleh busa. Selain itu dapa
menyebabkan penurunan tegangan permukaan air,pemecahan kembali dari
gumpalan (flock) koloid, pengemulsian gemuk dan minyak dan pemusnahan
bakteri yang berguna. Saat ini ABS diganti dengan LAS.

B.

Kelayakan Konsumsi Air Sungai Kapuas

Surat Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup


Nomor

:KEP-02/MENKLH/I/1988

Tentang

Penetapan

Baku

Mutu

Lingkungan Pasal 2, air pada sumber air menurut kegunaan/ peruntukannya


digolongkan menjadi :
1.

Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung
tanpa pengolahan terlebih dahulu.

2.

Golongan B, yaitu air yang dapat dipergunakan sebagai air baku untuk diolah
sebagai air minum, dan keperluan rumah tangga.

3.

Golongan C, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan.

4.

Golongan D, yaitu air yang dapat dipergunakan untuk keperluan pertanian, dan
dapat dimanfaatkan untuk usaha perkotaan, industry dan listrik Negara.
Penentuan kelayakan konsumsi air sungai Kapuas, dapat melaui pengukuran
dengan parameter kualitas limbah.
Beberapa parameter kimia kualitas air antara lain sebagai berikut.

BOD (Biochemical Oxygen Demand)


BOD adalah ukuran kandungan oksigen terlarut yang diperlukan oleh
mikroorganisme di dalam air untuk menguraikan bahan organic yang ada didalam
air. Apabila kandungan oksigen dalam air menurun, maka kemampuan
mikroorganisme aerob untuk menguraikan bahan buangan organic akan menurun
pula. Nilai BOD diperoleh dari selisih oksigen terlarut awal dengan oksigen
terlarut akhir. BOD merupakan ukuran utama kekuatan limbah cair.

COD (Chemical Oxcygen demand)


COD merupakan jumlah oksigen yang diperlukan agar bahan buangan yang ada
dalam air dapat teroksidasi melalui reaksi kimia. Indicator ini umumnya berguna
pada limbah industry.

DO (Dissolved Oxcygen)
DO adalah kadar oksigen terlarut dalam air. Semakin kecil nilai DO dalam air,
maka tingkat pencemarannya semakin tinggi.

pH
nilai pH limbah cair adalah ukuran keasaman atau kebasaan limbah. Air yang
tidak tercemar memiliki pH antara 6,5-7,5. Air yang mempunyai pH lebih kecil
atau lebih besar dari pH normal tidak cocok untuk kehidupan mikroorganisme.
Beberapa parameter fisika antara lain :

TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic
maupun anorganic, mis : garam, dll) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS
meter menggambarkan jumlah zat terlarut dalam Part Per Million (PPM) atau
sama dengan milligram per Liter (mg/L). Umumnya berdasarkan definisi diatas
seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan
yang berdiameter 2 micrometer (210-6 meter).

EC (Electrical Conductivity) atau konduktansi adalah ukuran kemampuan suatu


bahan untuk menghantarkan arus listrik

TSS adalah residu tersuspensi

A. Berdasarkan parameter fisika menunjukan konsentrasi rata-rata TDS sebesar


muara Jungkat r 1.223mg/I dan TSS ( residu tersuspensi) sebesar 250mg/L, dan
daya hantar listrik (konduktivitas) sebesar 62,9 mikron/m.
B. Berdasarkan pengukuran menggunakan parameter kimia yang dilakukan tim
Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (BaPelDaDa) dan supplier
peralatan, kadar oksigen terlarut di sungai Kapuas sebesar 4,98 mg/l,dengan pH
4,68,kepadatan terlarut 24,6 mg/l,kecepatan 1,6 m/s,tingkat kekeruhan air 22,1
KTU,saturasi 65,3 %,kadar polutan terlarut 29,6 mg/l,dan salinitas 0,0%
C. Parameter biologi menunjukkan ada atau tidaknya mikroorganisme. Di sungai
Kapuas banyak terkandung mikroorganisme bakteri E.coli, yang disebabkan oleh
MCK yang tidak higienis.
Penelitian menggunakan parameter fisika, kimia dan biologi menunjukkan sungai
Kapuas mengandung polutan yang tinggi. Status sungai kapuas dapat dikatakan
sudah tidak memenuhi sayarat untuk digunakan bagi keperluan air baku air
minum. Kualitas air sungai kapuas hanya memenuhi syarat untuk digunakan bagi
keperluan irigasi dan keperluan lain yang persyaratannya serupa. Berdasarkan
pasal 2 diatas, maka sungai Kapuas masuk dalam golongan C.

Beberapa yang dapat dilakukan untuk menekan pencemaran di sungai Kapuas


antara lain sebagai berikut :
1.

Peningkatan pengendalian terhadap eksploitasi serta rehabilitasi hutan dan lahan.

2.

Konsistensi terhadap tata ruang.

3.

Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sumber daya air yang


lestari.

4.

Peningkatan kedisiplinan.

5.

Pemenuhan ketentuan penambangan pasir yang ramah lingkungan.

6.

Penegakan hukum terhadap penambangan emas tanpa izin.

7.

Menertibkan pengelolaan daerah sempadan sungai termasuk penertiban bangunan


liar.

8.

Pemberian penghargaan maupun hukuman terhadap lembaga usaha atau


pemerintah dalam upaya menjaga mutu air.

9.

Peningkatan SDM baik internal maupun eksternal, koordinasi seluruh pemangku


kepentingan.

10. Menyamakan persepsi tentang konservasi sumber daya air.


11. Penguatan kelembagaan forum daerah aliran sungai.
Penambahan program muatan lokal tentang lingkungan hidup pada kurikulum
sekolah.