Anda di halaman 1dari 14

Klopidogrel dengan aspirin pada stroke minor akut atau Transient Ischemic

Attack/ serangan iskemik sepintas


Abstrak
Latar belakang
Stroke sering terjadi dalam beberapa minggu pertama setelah transient ischemic
attack (TIA) atau stroke minor akut. Terapi kombinasi dengan klopidogrel dan
aspirin dapat memberikan proteksi yang lebih besar melawan stroke subsequent
daripada aspirin tunggal.
Metode
Penelitian acak ini, double-blind, percobaan dengan kontrol-plasebo yang
dilakukan pada 114 senter di China, kami melakukan penelitian acak pada 5170
pasien dalam 24 jam setelah onset stroke minor akut atau TIA resiko tinggi
diberikan klopidogrel dan aspirin ( dosis awal klopidogrel 300mg, diikuti dengan
dosis 75 mg/hari selama 90 hari, plus aspirin dengan dosis 75 mg/hari untuk 21
hari pertama) atau diberikan placebo plus aspirin dengan dosis 75 mg/hari selama
90 hari. Semua partisipan menerima label aspirin terbuka pada sebuah klinikdosis ditentukan 70 sampai 300 mg pada hari pertama. Hasil primer stroke
(iskemik atau hemoragik) selama 90 hari follow up di sebuah intention-toanalisis terapi. Perbedaan terapi

dinilai dengan menggunakan model cox

proportional-hazards, dengan pusat penelitian sebagai sebuah efek acak.


Hasil
Stroke terjadi pada 8.2% pasien di kelompok klopidogrel-aspirin dibandingkan
dengan 11.7 % pada kelompok aspirin (hazard rasio 0.68;95% interval
kepercayaan, 0.58 sampai 0.81; p< 0.001). perdarahan sedang sampai berat
terjadi pada 7 pasien (0.3%) pada kelompok klopidogrel-aspirin dan 8 pasien
(0.3%) pada kelompok aspirin (p=0.73); angka stroke hemoragik 0.3% pada
masing-masing kelompok.

Kesimpulan
Diantara pasien dengan TIA atau stroke minor yang dapat diterapi dalam 24 jam
setelah onset gejala, kombinasi klopidogrel dan aspirin lebih superior
dibandingkan dengan aspirin tunggal untuk mengurangi risiko stroke pada 90 hari
pertama dan tidak meningkatkan risiko perdarahan. (didanai oleh kementerian
sain dan teknologi republik rakyat china; penelitian CHANCE, gov number NCT
00979589)
Transient ischemic acute (TIA) dan stroke iskemik minor akut terjadi
sering menyebabkan kecacatan. Di china, ada sekitar 3 juta kasus stroke baru
setiap tahunnya, dan sekitar 30% mengalami stroke iskemik minor.
Tujuan terapi antiplatelet untuk mencegah stroke sekunder. Aspirin
merupakan antiplatelet yang hanya dapat dilakukan penelitian pada fase akut
stroke. Aspirin dan klopidogrel bersinergi menghambat agregasi platelet, dan
terapi kombinasi mengurangi risiko serangan iskemik berulang pada pasien
sindrom koroner akut.
Kami membandingkan klopidogrel pada pasien risiko tinggi dengan
penelitian kejadian kecacatan serebrovaskular akut (CHANCE)

untuk menguji

hipotesis bahwa 3 bulan terapi kombinasi klopidogrel dan aspirin dapat


mengurangi risiko stroke berulang, dibandingkan dengan penggunaan aspirin
tunggal, diantara pasien dengan TIA risiko tinggi atau stroke iskemik minor akut.
Metode
Pengawas penelitian
Kami melakukan penelitian ini berdasarkan protokol dan rencana analisis data.
Penelitian didesain oleh 3 orang peneliti dan diawasi oleh komite eksekutif, yang
mempunyai akses penuh terhadap data. Pengumpulan data dan memasukkan data
dilakukan oleh staff penelitian klinik Tiantan dan pusat penelitian stroke dimana
analisis data dilakukan. Satu orang peneliti memiliki akses penuh ke database
independen untuk menanyakan yang berkaitan dengan analisis. Semua anggota

komite menulis kontribusi dan terlibat membuat draf skript ini, yang disipakan
tanpa asisten editor profesional.
Semua partisipan menulis inform konsen. Protokol CHANCE dinilai oleh komite
etik pada masing-masing senter penelitian. Klopidogrel dan pasangan plasebo
didapatkan dari sanofi-aventis, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.
Populasi penelitian
Pasien yang termasuk kedalam kriteria inklusi yaitu usia > 40 tahun;
diagnosis stroke iskemik minor akut atau TIA; dan mendapat obat penelitian
dalam 24 jam setelah onset serangan, yang didefinisikan sebagai hal yang
dilaporkan pasien tidak lama setelah kondisinya normal. Stroke minor akut
didefinisikan oleh nilai skor < 3 pada waktu pengacakan dengan skor National
Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS, rentang skor 0-42, dengan nilai yang
semakin tinggi menunjukkan defisit yang lebih besar). TIA didefinisikan sebagai
iskemik otak fokal dengan resolusi gejala dalam 24 jam setelah onset plus risiko
sedang-tinggi mengalami stroke berulang (didefinisikan sebagai skor 4 pada
saat pengacakan pada ABCD, yang menilai risiko stroke berdasarkan usia,
tekanan darah, gambaran klinis, durasi TIA, ada atau tidaknya diabetes, rentang
skor dari 0-7, skor yang lebih tinggi mengindikasikan risiko jangka pendek yang
lebih tinggi).
Semua pasien yang memiliki gambaran klinis gangguan neurologis
selama follow up dilakukan CT atau MRI kepala. Pasien dieksklusi jika
mengalami perdarahan, kondisi lain, seperti malformasi vaskular, tumor, abses,
atau penyakit otak noniskemik mayor yang lain; gejala hambatan sensoris
(kebas), gangguan perubahan penglihatan; atau gangguan pusing atau vertigo
tanpa bukti adanya infark akut pada CT atau MRI kepala, skor >2 skala Rankin
modifikasi (rentang skor dari 0 [tanpa gejala] sampai 6 [meninggal]), sebelum
menentukan indeks stroke iskemik atau TIA, dindikasikan untuk melakukan
penilaian disabilitas dengan menggunakan skor NIHSS, skor NIHSS > 4 ,
merupakan indikasi diperbolehkan terapi antikoagulan (diduga sumber embolus
jantung, seperti fibrilasi atrial atau katup jantung prostetik) atau kontraindikasi

pemberian aspirin atau klopidogrel; riwayat perdarahan intrakranial, antisipasi


pemberian obat antiplatelet nonstudi jangka lama atau untuk pemberian obat anti
inflamasi nonsteroid yang mempengaruhi fungsi platelet; terapi heparin atau
terapi antikoagulan oral dalam 10 hari sebelum penelitian acak; perdarahan
gastrointestinal atau bedah mayor 3 bulan sebelum penelitian; direncanakan atau
revaskularisasi (angioplasti atau bedah vaskular) dalam 3 bulan setelah skrining
(jika ada indikasi klinis, imaging vaskular dilakukan sebelum pengacakan);
direncanakan pembedahan atau terapi intervensi yang tidak bisa menggunakan
obat saja; seperti, TIA atau stroke minor yang disebabkan oleh angiografi atau
pembedahan; atau penyakit kondisi nonkardiovaskular yang mendasari yang
berat, dengan perkiraan hidup kurang dari 3 bulan. Wanita hamil yang tidak
pernah menggunakan kontrasepsi, dan tes kehamilan positif dan pasien
mendapatkan obat lain atau alat kontrasepsi juga dieksklusi, (liat tabel s1). Tidak
ada pasien yang diterapi dengan trombolisis pada penelitian ini.
Desain penelitian
CHANCE merupakan penelitian acak, double-blind, percobaan klinis
dengan menggunakan kontrol-plasebo dilakukan di 114 center klinik di China;
detail penelitian telah dipublikasikan sebelumnya. Pasien yang masuk kriteria
dimasukkan kedalam penelitian, kemudian diacak dan ditandai kemudian
dikelompokkan menjadi dua kelompok terapi dengan cara double-blind, desain
dummy-double. Investigator dipanggil masuk kesistem otomatis yang acak untuk
menandai kit obat, dan kit akan diberikan kepada pasien.
Kedua kelompok mendapat label aspirin yang terbuka pada hari 1 (dengan
rentang dosis dari 75 sampai 300 mg yang ditentukan oleh dokter). Kelompok
klopidogrel-aspirin mendapat dosis loading klopidogrel 300 mg pada hari 1,
diikuti oleh dosis 75 mg/hari pada hari ke 2 sampai 90 hari, aspirin dengan dosis
75 mg/hari pada hari ke 2 sampai 21 hari, dan plasebo-aspirin pada hari ke 22
sampai 90 hari. Pasien kelompok aspirin mendapat versi plasebo dari klopidogrel
pada hari 1 sampai 90 hari dan aspirin dengan dosis 75mg/hari pada hari ke 2
sampai 90 hari. Randomisasi bertingkat berdasarkan center klinik dan interval

antara onset gejala (< 12 jam vs 12 sampai 24 jam). Tujuan utama adalah untuk
menilai efek 2 regimen terapi terhadap insiden stroke pada 90 hari pertama
setelah stroke minor akut atau TIA risiko tinggi.
Hasil penelitian
Hasil efikasi primer yaitu kejadian stroke baru (iskemik atau hemoragik) dalam
90 hari. Stroke iskemik didefinisikan sebagai infark otak fokal akut atau retina
diikuti salah satu berikut : onset mendadak defisit neurologi, dengan bukti klinis
atau imaging infark 24 jam atau lebih dan bukan disebabkan oleh sebab
noniskemik (bukan infeksi otak, trauma, tumor, kejang, penyakit metabolik berat,
atau penyakit neurologis degeneratif); defisit neurologis fokal baru yang kurang
dari 24 jam dan tidak disertai dengan adanya bukti neuroimaging dari infark otak
yang baru, atau adanya perburukan yang cepat dari defisit neurologis yang sudah
ada > 24 jam dan buakn disebabkan oleh sebab noniskemik, disertai oleh
perubahan iskemik yang baru pada MRI atau CT otak dan tidak termasuk ke
indeks kejadian iskemik.
Stroke hemoragik didefinisikan sebagai ekstravasasi akut darah kedalam
parenkim otak atau ruang subarachnoid dengan adanya gejala neurologis. Stroke
berulang menyebabkan kecacatan jika skor dari modifikasi skala Rankin > 2.
Keamanan efek primer yaitu jika terjadi perdarahan sedang-berat, diberikan
streptokinase dan aktivator plasminogen jaringan untuk mengoklusi arteri
koroner. Perdarahan yang berat didefinisikan sebagai perdarahan intrakranial
yang fatal atau perdarahan lain yang menyebabkan perubahan hemodinamik yang
memerlukan penggantian darah atau cairan, ionotropik, atau intervensi bedah.
Perdarahan sedang yaitu perdarahan yang memerlukan transfusi darah tetapi tidak
menyebabkan perubahan hemodinamik yang memerlukan intervensi.
Hasil efikasi sekunder termasuk kejadian klinis vaskular baru (seperti, stroke
iskemik, stroke hemoragik, infark miokard, atau kematian vaskular.). kematian
vaskular yaitu kematian selama stroke (iskemik atau hemoragik), perdarahan
sistemik, infark miokard, gagal jantung kongestif, emboli paru, kematian
mendadak, atau aritmia.

Analisis statistik
Kami menghitung 5100 pasien yang menyediakan kekuatan 90% untuk
mendeteksi pengurangan risiko relatif sebanyak 22% pada kelompok klopidogrelaspirin, dengan 2 sisi kesalahan tipe I 0.05, memperkirakan angka kejadian 14%
pada kelompok aspirin dan 5% angka keseluruhan withdrawal (diartikan sebagai
pengobatan yang tidak berpengaruh).
Kami membandingkan karakteristik dasar pasien dari dua kelompok penelitian.
Proporsi digunakan untuk variabel kategori, dan median dengan rentang
interkuartil digunakan untuk variabel continyu. Waktu pengacakan dihitung
sebagai kelompok rata-rata. Perbedaan antara kelompok penelitian yaitu angka
stroke (iskemik atau hemoragik) selama 90 hari periode follow up dinilai dengan
menggunakan model cox-proportional-hazards, dengan memenuhi center
penelitian (20 pasien) sebagai efek acak.
Data pasien yang tidak mengalami kejadian selama penelitian dilihat pada waktu
penelitian berakhir atau meninggal. Kami menggunakan penerapan ini untuk
memaksimalkan informasi terkait waktu pada percobaan ketika mempertahankan
interpretasi risiko kasus. Untuk masing-masing model, perkiraan proportionalhazards dinilai dengan menguji interaksi antara terapi dan waktu. Kami juga
menilai apakah efek terapi berbeda pada sub kelompok tertentu yang diuji dengan
menggunakan model cox. Semua tes dilakukan 2 sisi, dan nilai p 0.05
mengindikasikan nilai statistik yang signifikan. Semua analisis statistik
menggunakan software SAS, versi 9.0 (institut SAS).
Hasil
Penelitian pasien dan follow up
Antara oktober 2009 dan juli 2012, sebanyak 41,561 pasien dengan stroke atau
TIA diskrining pada 114 klinik; 5170 pasien termasuk, dengan 2584 dikelompok
klopidogrel-aspirin dan 2586 di kelompok aspirin. Alasan eksklusi paling banyak
yaitu presentasi yang tertunda (26.4% pasien yang diskrining); stroke sedang atau
berat (10.4%); perdarahan intrakranial (7.0%)TIA resiko rendah, skor <4 pada
ABCD (6.5%) atau kontraindikasi penggunaan klopidogrel atau aspirin (6.0%)

gambar s3. Kedua kelompok mempunyai karakteristik dasar yang seimbang.


(tabel 1).
Median umur adalah 62 tahun, dan 33.8% pasien perempuan. Jumlah 65.7%
pasien memiliki riwayat hipertensi, 21,1% memiliki diabetes, dan 43.0%
perokok. Median waktu dari onset stroke minor akut atau TIA ke pengacakan
yaitu 13 jam. Indeks kejadian TIA pada 1445 pasien (27.9%). 36 pasien pada
kelompok klopidogrel-aspirin (0.7%)- 20 pasien pada kelompok aspirin telah
hilang hasil follow up nya; 165 pasien (6.4%) pada kelompok klopidogrel-aspirin
dan 146 (5.6%) kelompok aspirin tidak meneruskan penelitian sebelum penelitian
selesai (gambar S3)
Hasil primer
Stroke terjadi pada 212 pasien (8.2 %) pada kelompok klopidogrel aspirin,
dibandingkan dengan 303 pasien (11.7%) pada kelompok aspirin (hazards rasio,
0.68;95% confiden interval [CI], 0.57 sampai 0.81; p< 0.001) (tabel 2 dan gambar
1). Stroke fatal atau yang cacat terjadi pada 135 pasien (5.2%) pada kelompok
klopidogrel-aspirin dan 177 (6.8%) pada kelompok aspirin (hazards rasio,
0.75;95% confiden interval [CI], 0.60 sampai 0.94; p= 0.01). stroke iskemik
terjadi pada 204 pasien (7.9%) pada kelompok klopidogrel-aspirin dan 295
(11.4%) pada kelompok aspirin (hazards rasio, 0.67;95% confiden interval [CI],
0.56 sampai 0.81; p< 0.001). stroke hemoragik terjadi pada masing2 kelompok
(0.3%).
Kunci sekunder dan hasil efikasi yang lain
Kejadian vaskular yang lain terjadi pada 216 pasien (8.4%) pada kelompok
klopidogrel-aspirin, dibandingkan dengan 307 pasien (11.9%) pada kelompok
aspirin (hazards rasio, 0.69;95% confiden interval [CI], 0.58 sampai 0.82; p<
0.001)(tabel 2 dan gambar s4). Kematian karena sebab lain terjadi pada 0.4%
pasien pada tiap-tiap kelompok. Kematian vaskular (termasuk karena stroke
hemoragik) terjadi pada 6 pasien (0.2%) pada kelompok klopidogrel-aspirin dan

5 (0.2%) pada kelompok aspirin. TIA terjadi pada 39 pasien (1.5%) pada
kelompok klopidogrel-aspirin dan 47 (1.8%) pada kelompok aspirin (p=0.36).
Kejadian perdarahan
Perdarahan sedang atau berat, yaitu diartikan dari kriteria GUSTO, terjadi pada 7
pasien (0.3%) pada kelompok klopidogrel-aspirin dan 8 (0.3%) pada kelompok
aspirin (p=0.73) (tabel 2). Angka kejadian perdarahan 2.3% pada kelompok
klopidogrel-aspirin dibandingkan dengan 1.6% pada kelompok aspirin (hazards
rasio, 1.41;95% CI, 0.95 sampai 2.10; p= 0.09)(tabel 2)
Subkelompok
Penurunan angka kejadian stroke dan kombinasi kejadian vaskular sekunder
denganklopidogrel dan aspirin sama melewati semua subkelompok mayor
(gambar 2 dan gambar s5). Tidak ada interaksi yang signifikan pada 11
subkelompok (p>0.10 untuk semua perbandingan).
Keamanan
Efek samping terjadi sama untuk semua proporsi pasien pada kedua kelompok
(5.8% untuk masing-masing kelompok). Proporsi pasien dengan efek samping
serius juga sama (1.0%) (tabel s4).
Diskusi
Pada penelitian skala besar ini kami menemukan bahwa penambahan klopidogrel
dan aspirin dalam 24 jam pada pasien stroke minor akut atau TIA risiko tinggi
dapat mengurangi risiko terjadinya stroke sebanyak 32.0% dibandingkan dengan
pembereian aspirin tunggal, dan tidak berhubungan dengan peningkatan
perdarahan, meskipun ada tren yang mengkhawatirkan kejadian perdarahan
meningkat dengan terapi kombinasi.
Hasil penelitian kami berbeda dengan penelitian kombinasi terapi yang lain
klopidogrel dengan aspirin setelah kejadian iskemik otak. Satu penjelasan yang
mungkin bahwa, tidak seperti penelitian sebelumnya, penelitian ini menargetkan

populasi risiko tinggi untuk iskemik berulang dan risiko rendah untuk
perdarahan. Penelitian sebelumnya menginklusi pasien dengan stroke lebih berat
daripada penelitian ini, dan mereka tidak melibatkan pasien dalam jam-jam
pertama setelah indeks stroke minor atau TIA. Ini dapat menjelaskan mengapa
penelitian

lain tidak menunjukkan penurunan kejadian iskemik

tetapi

menunjukkan peningkatan risiko perdarahan.


Pada penelitian ini, kurva untuk bertahan bebas stroke merupakan langkah utama
pada beberapa hari pertama, kurva menunjukkan kelompok terapi. Pada praktek
klinis terapi dengan klopidogrel dan aspirin sesegera mungkin setelah onset lebih
disukai menghasilkan keuntungan absolut paling besar.
Penelitian ini dilakukan di China, sebuah negara dengan sekitar 150-250
kematian karena stroke per 100,000 orang pertahun, yang merupakan 5 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan US. Meskipun alat diagnostik dan terapi digunakan
di US dan Eropa didapatkan pada banyak rumah sakit di China, beberapa pasien
tidak cocok dengan tingkat pelayanannya. Praktek pencegahan sekunder juga
kurang diminati di China, ketika angka terapi hipertensi, diabetes, dan
hiperlipidemia rendah, sebagaimana ditunjukkan dalam penelitian ini (tabel s3).
Distribusi subtipe stroke di China berbeda dari negara berkembang lainnya, china
memiliki insiden lebih tinggi arterosklerosis arteri besar intrakranial dan
prevalensi lebih tinggi polimorfisme genetik yang mempengaruhi metabolisme
klopidogrel. Inhibisi platelet pada penelitian TIA baru atau stroke iskemik minor
(POINT) disponsori oleh institusi kesehatan nasional, yang sama dengan
penelitian ini, sekarang melibatkan pasien di US.
Penelitian POINT menilai dosis loading yang lebih tinggi dari dosis klopidogrel
(600 mg) dan jendela waktu yang lebih singkat (terapi dalam 12 jam setelah onset
gejala) daripada penelitian ini.
Beberapa kondisi klinis yang sering menyerupai TIA, seperti kejang, migrain,
vertigo perifer, sinkop dan ansietas. Untuk mengurangi risiko tersebut, kami
mengeksklusi semua pasien dengan gangguan gejala sensori, gangguan
perubahan penglihatan, atau gangguan pusing atau vertigo tanpa bukti infark otak
akut berdasarkan CT atau MRI kepala.

Pasien TIA dibatasi yang skor ABCD tinggi (>4) untuk meningkatkan TIA
sebenarnya dan memasukkan pasien risiko tinggi stroke iskemik.
Kesimpulannya penelitian kami menunjukkan bahwa diantara pasien
dengan TIA risiko tinggi atau stroke minor akut yang dalam 24 jam setelah onset
risiko,di terapi dengan klopidogrel-aspirin selama 21 hari, diikuti oleh
klopidogrel tunggal sampai hari 90, lebih superior daripada terapi aspirin tunggal
untuk mengurangi risiko serangan stroke. Kombinasi klopidogrel aspirin tidak
menyebabkan perdarahan pada populasi pasien dibandingkan dengan aspirin
tunggal.
Tabel 1. Karakteristik dasar pasien
Karakteristik

Aspirin

Klopidogrel dan

(N=2586)

aspirin
(N=2584)

Umur-tahun
Median

62

Rentang interkuartil
54-71
Jenis kelamin perempuan-jumlah 879 (34.7)

63
55-72
852 (33.0)

(%)
Tekanan sistolik-mmhg
Median

150

150

Rentang interkuartil
Tekanan diastolik-mmhg

136-161

136-161

Median

90

90

Rentang interkuartil
Indeks masa tubuh t

80-100

80-100

Median

25

25

Rentang interkuartil
Riwayat medis-jumlah (%)

23-27

23-26

Stroke iskemik

517(20.0)

516(20.0)

TIA

80(3.1)

94(3.6)

Infark miokard

53(2.0)

43(1.7)

Angina

87(3.4)

97(3.8)

Gagal jantung kongestif

38(1.5)

42(1.6)

Fibrilasi artrial atau flutter

48(1.9)

48(1.9)

Penyakit katub jantung

10(0.4)

4(0.2)

Hipertensi

1683(65.1)

1716(66.4)

Diabetes mellitus

543(21.0)

550(21.3)

Hiperkolesterolimia

283(10.9)

290(11.2)

Emboli paru
Merokok-jumlah (%)
Rata2 waktu pengacakan-jam
Waktu pengacakanjumlah(%)

1(<0.1)
1105(42.7)
13

0
1116 (43.2)
13

<12 jam

1280(49.5)

1293(50.0)

12 jam
Kejadian

13.0(50.5)

1291(50.0)

TIA

728(28.2)

717(27.7)

Stroke minor
Skor ABCD

1858(71.8)

1867(72.3)

Median

Rentang interkuartil
4-5
4-5
*tidak ada perbedaan yang signifikan antara terapi kelompok untuk masingmasing karakteristik. Karakteristik tambahan dasar dilaporkan di tabel s2
t indeks masa tubuh adalah berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi
badan dikuadratkan dalam meter
data hanya untuk 1445 pasien yang mengalami TIA. ABCD menilai risiko
stroke berdasarkan usia, tekanan darah, gambaran klinis, durasi TIA, dan ada atau
tidaknya diabetes, dengan rentang skor dari 0-7 dan skor yang lebih tinggi
mengindikasikan risiko jangka pendek yang lebih besar.
Tabel 2 efikasi dan keamanan hasil

Keterangan:

perdarahan

didefinisikan

berdasarkan

penggunaan

global

streptokinase dan aktivator plasminogen jaringan untuk oklusi arteri koroner


berdasarkan kriteria berikut: perdarahan berat yang didefinisikan sebagai
perdarahan intrakranial fatal atau perdarahan lain yang menyebabkan perubahan
hemodinamik yang memerlukan penggantian darah atau cairan, ionotropik atau
pembedahan, perdarahan sedang yaitu perdarahan yang memerlukan transfusi
darah tetapi tidak merubah hemodinamik (contohnya perdarahan subkutan,
hematoma ringan, dan bekuan dari tempat pungsi)

Gambar 1. Kemungkinan bertahan hidup stroke


Hasil primer yaitu berupa stroke iskemik atau hemoragik. Yang ditunjukkan oleh
data yang sama pada segmen yang melebar pada aksis Y.

Gambar2. Hazard ratio hasil primer pada faktor subkelompok


Penurunan risiko stroke dengan menggunakan klopidogrel-aspirin, dibandingkan
dengan aspirin tunggal, konsisten melalui semua subkelompok mayor. Tidak ada
interaksi yang signifikan antara masing-masing subkelompok (p>0.10 untuk
semua pembanding). Data tekanan darah sistolik 4 pasien hilang. ABCD menilai
risiko stroke berdasarkan usia, tekanan darah, gambaran klinis, durasi TIA, dan
ada atau tidaknya diabetes, dengan rentang skor 0-7.