Anda di halaman 1dari 6

Journal Reading

The Point Prevalence of Dizziness or Vertigo in Migraine and


Factors That Inuence Presentation

Diajukan guna melengkapi tugas kepaniteraan klinik


Bagian Ilmu Saraf
RSUD Kota Semarang

Pembimbing :
dr. Mintarti, Sp. S

Disusun Oleh :
Afrina Lusia (01.210.6070)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2014

Titik Prevalensi dari Dizziness atau Vertigo pada Migraine dan


Faktor yang Mempengaruhi Presentasinya
Tujuan: Untuk memastikan dan mencirikan titik prevalensi dari dizziness atau vertigo pada pasien
dengan migraine yang datang secara rutin ke klinik spesial nyeri kepala.
Latar Belakang: Migraine, dizziness, dan vertigo merupakan penyakit yang umum di masyarakat,
diderita oleh masing-masing 13%, 20-30%, dan 5-10% masyarakat. Dengan demikian, kemungkinan
terjadinya migraineyang dibarengi dengan dizziness ataupun vertigo dapat diekspektasikan secara
kasar mencapai 4% di masyarakat pada umumnya. Kesan klinis peneliti mengungkapkan bahwa
migraine dengan serangan berat secara umum jauh lebih berhubungan dengan keluhan-keluhan
tersebut daripada kemungkinan yang terprediksi.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian prospective-cross-sectional dari 462 pasien yang
melakukan konsultasi di klinik spesial nyeri kepala selama lebih dari 4 bulan. Selama kontrol pada
saat pendaftaran, pasien diminta untuk melaporkan gejala nyeri kepala mereka dari skala 1-10
menggunakan Skala Likert. Pasien juga diminta untuk melaporkan apakah mereka sedang merasakan
dizzines atau vertigo. Respon jawaban pasien direkam begitu juga dengan tanda vital pasien.
Diagnosis dari migraine dengan atau tanpa aura dilakukan oleh dokter spesialis nyeri kepala yang
sesuai dengan kriteria International Classification of Headache Disorders- edisi kedua. Analisis Chisquare digunakan untuk menguji prevalensi dari vertigo atau dizziness pada pasiennyeri kepala
dengan beragam intensitas keparahan dan riwayat dari aura.
Hasil:Dari 425 subjek yang telah dievaluasi, 28% mengalami aura. Rata-rata umur subjek 43,8 tahun
(dengan rentang 15 76 tahun); 89,5% nya wanita. Pada saat evaluasi, 72,4% subjek melaporkan
beberapa tingkat nyeri kepala, 15,7% melaporkan nyeri kepala yang bersamaandengan dizziness atau
vertigo. Prevalensi dari dizziness atau vertigo dua kali lebih tinggi (24,5% vs 12,1%) pada migraine
dengan aura daripada migrane tanpa aura (p<0,01), dan prevalensinya meningkat seiring
bertambahnya usia (p<0,05). Terdapat korelasi yang kuat antara nyeri migraine dan keluhan subjektif
dari vertigo (p<0,001). Saat terjadi nyeri migraine dengan intensitas 7 atau lebih tinggi (pada skala 110), hampir separuh subjek (47,5%) melaporkan merasakan juga dizziness atau vertigo.
Kesimpulan:Keluhan subjek mengenai dizziness atau vertigo tampak sebagai keluhan penyerta yang
umum pada migraine, terutama migraine dengan aura, dan prevalensinya meningkat seiring
bertambahnya usia. Gejala disequilibrium mempunyai hubungan yang kuat dan positif dengan
keparahannyeri migraine. Dengan kejadian gejala bersamaan lebih tinggi daripada yang terekspektasi
dari kemungkinan, hubungan dari komorbiditas maupun gejala-gejala tersebut mungkin merupakan
bagian dari gejala migraine. Dengan titik prevalensi 15,7%, dan faktor-faktor yang menghubungkan
antara intensitas nyeri migraine dan migraine dengan aura, peneliti percaya bahwa hubungan yang
nyata terbukti pada akhirnya.
Kata kunci: migraine, vertigo, dizziness, prevalensi, aura, nyeri

Nyeri Kepala
Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan titik prevalensi dari dizziness atau vertigo pada
kelompok penderita migraine yang datang yang datang secara rutin ke klinik spesial nyeri kepala.
Dizziness adalah perasaan secara umum dari disequilibrium. Vertigo merupakan subtipe dari
dizziness, yang didefinisikan sebagai ilusi pergerakan oleh karena keterlibatan asimetris dari sistem
vestibuler. Migraine, dizziness, dan vertigo merupakan penyakit yang umum di masyarakat, diderita
oleh masing-masing 13%, 20-30%, dan 5-10% masyarakat. Dengan demikian, kemungkinan
terjadinya migraine yang dibarengi dengan dizziness ataupun vertigo dapat diekspektasikan secara
kasar mencapai 4% di masyarakat pada umumnya.Tetapi kejadian gejala bersamaan dari kondisi ini
sudah terlihat selama lebih dari satu abad. Kesan klinis peneliti mengungkapkan bahwa migraine
dengan serangan berat secara umum jauh lebih berhubungan dengan keluhan-keluhan tersebut
daripada kemungkinan yang terprediksi.
Percobaan pada binatang ditemukan bahwa reseptor 5-HT(1B) dan 5-HT(1D) terekspresi di
beberapa tempat di vestibuler perifer dan sistem trigeminal, yang mungkin dapat membantu
menjelaskan bagaimana triptans bekerja untuk meredakan vertigo dengan migraine. Pada tikus,
reseptor 5-HT(1F) bersama dengan calcitonin generelated peptide (CGRP) di nukleus vestibuler,
menampakkan peran reseptor 5-HT(1F) dalam meregulasi pengeluaran CGRP pada tempat tersebut.
Belum sepenuhnya dipahami mengapa penderita migraine ada yang mengeluh mengenai gejala
vestibuler dan ada yang tidak. Bukti-bukti menunjukkan bahwa abnormalitas neuro-otologic mungkin
bukan merupakan hal yang sering didapati pada penderita migraine yang mengeluh dizziness daripada
yang tidak. Abnormalitas ini diamati terdapat pada hampir sepertiga sampel penderita migraine,
dengan nsiden yang hampir sama pada penderita dengan gejala vestibuler begitu juga dengan tanpa
gejala (36% vs 32%), memberi kesan bahwa pemeriksaan vestibuler tidak cukup untuk memastikan
diagnosis dri vertigo dengan migraine.
Migraine juga sedikit berhubungan dengan ketidakstabilan postural yang berasal dari pusat
vestibuler, yang bermanifestasi pada bertambah cepatnya goyangan badan, pengurangan kesejajaran
pusat gaya berat, dan semakin melebarnya jarak pada jalan tandem.
Prevalensi seumur hidup dari vertigo atau dizziness pada penderita migraine tercatat 5,7%,
secara signifikan lebih tinggi daripada 31,5% prevalensi seumur hidup dari kontrol. Kejadian
migraine dengan aura lebih sering didapatkan daripada tanpa aura yang dilaporkan berhubungan
dengan vertigo atau dizziness.
Tidak ada informasi di literatur sehubungan dengan prevalensi dari vertigo pada penderita
migraine yang didapatkan di klinik spesial nyeri kepala. Hal ini merupakan tujuan spesifik dari
penelitian ini untuk melaporkan hubungan ini, dan selanjutnya, untuk memeriksa hubungan yang
mungkin pada prevalensi tersebut, seperti kadar nyeri, umur, gender, adanya aura. Berdasarkan
pemngamatan klinis, hipotesis peneliti adalah prevalensi dizziness atau vertigo akan meningkat seiing
dengan meningkatnya kadar nyeri.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian prospective-cross-sectional dari 462 pasien yang
melakukan konsultasi di klinik spesial nyeri kepala selama lebih dari 4 bulan dari bulan Noveber 2009
sampai Februari 2010. Untuk menghindari bias statistik dari kunjungan multipel dari satu individu,
hanya kunjungan pertama tiap pasien yang direkam. Selama pendaftaran, pasien diminta untuk
melaporkan gejala nyeri kepala mereka dari skala 1-10. Pasien juga diminta untuk melaporkan apakah
mereka sedang merasakan dizzines atau vertigo.Diagnosis dari migraine dengan atau tanpa aura
dilakukan oleh dokter spesialis nyeri kepala yang sesuai dengan kriteria International Classification of
Headache Disorders- edisi kedua.
Persetujuan dewan peninjau institusi diperlukan untuk penilitian ini. Analisis chi-square
digunakan untuk menguji prevalensi dari vertigo atau dizziness pada subjek dengan beragam
keparahan nyeri kepala, dengan umur, dengan gender, dan dengan ada tidaknya aura yang menyertai.
HASIL PENELITIAN
Dari 462 pasien, 35 pasien didiagnosis
dengan nyeri kepala non-migraine dan 2 tambahan
pasien kehilangan data mengenai nyeri atau
vertigo, meninggalkan 425 pasien yang telah
terevaluasi. Dari penderita migraine, 28%
mengalami aura. Rata-rata umur subjek adalah 43,8
tahun (dengan rentang 15 78 tahun); 88,5% nya
wanita.

FIG.1

FIG.2

Pada saat evaluasi, 72,4% subjek


melaporkan beberapa tingkat nyeri kepala yang
masih berlangsung dan 15,7% melaporkan nyeri
kepala yang bersamaandengan dizziness atau
vertigo. Prevalensi dari dizziness atau vertigo dua
kali lebih tinggi (24,5% vs 12,1%) pada migraine
dengan aura daripada migrane tanpa aura (p<0,01)
(Fig.2), dan prevalensinya meningkat seiring
dengan bertambahnya usia (p<0,05)(Fig.3).
Terdapat korelasi yang kuat antara nyeri migraine
dan keluhan subjektif dari vertigo (p<0,001). Saat
nyeri migraine sangat parah dengan intensitas
keparahan 7 atau lebih dari itu pada skala Likert
dengan skala 1-10 hampir separuh subjek
(47,5%) melaporkan merasakan juga dizziness atau
vertigo.

DISKUSI
Dizziness
atau
vertigo
tampaknya
merupakan hal yang umum pada migraine. Sudah
dilaporkan sebelumnya ditemukan pada 36,3%
penderita migraine, membuat hal ini sama
umumnya dengan muntah da osmophobia,
dikombinasikan.
Hal ini menarik karena prevalensi dizziness
dan vertigo lebih besar pada migraine dengan
diagnosis dengan aura bahkan pada mereka
dengan aura yang jarang dan saat tidak ada
serangan pada gejala tipikal aura. Tidak ada
FIG.3
subjek yang melaporkan aura yang sedang
berlangsung pada saat pendaftaran di klinik.
Hubungan yang kuat dari gejala ini bersamaan
dengan intensitas nyeri kepala yang lebih besar
akan membantah vertigo yang bersamaan dengan
aura, sebagaimana aura selalu muncul lebih dulu
sebelum fase nyeri dari migraine. Belum lagi, jika
ini merupakan fenomena terkait nyeri yang
simpel, pasti ada yang berekpektasi lebih dari
seorang individu diantara 35 non-migraine pasien
dengan nyeri kepala untuk mengalami dizziness
atau vertigo saat dievaluasi (salah seorang
individu dengan nyeri kepala post traumatic
FIG.4
mengalamai nyeri sedang saat evaluasi). Hal ini
memang hanya sampel yang kecil, tetapi prevalensi dari keparahan nyeri kepala pada saat serangan
pada kelompok ini hampir sama atau sedikit lebih tinggi daripada diantara kelompok dengan
migraine.
Peningkatan prevalensi dari gejala dengan bertambahnya usia tidak pernah terkira sebelumnya
dan merupakan kebalikan dari laporan dari Kelman, yang mana pasien dimintai penjelasan mengenai
riwayat dizziness dengan migraine pada saat wawancara, ketimbang penelitian point prevalensi
seperti penelitian ini. Ada yang memiliki hipotesis bahwa peningkatan gejala seiring bertambahnya
usia berhubungan dengan semakin besarnya beban dari penyakit atau karena kekronisan dari
migraine, tetapi penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi hal ini. Perancu yang
berpotensial adalah pertambahan usia, individu biasanya lebih memikirkan masalah kesehatan diluar
migraine, atau mengonsumsi obat dengan efek samping yang dapat menimbulkan vertigo atau
dizziness. Kondisi medis dan penggunaan obat merupakan variabel yang penting yang perlu
dipertimbangkan untuk penelitian lebih lanjut untuk menginvestigasi populasi.
Komorbiditas yang berlebihan dari dizziness dan migraine dapat dijelaskan dari salah satu dari
tiga faktor berikut:
1. Entitas ini mungkin berhubungan dengan komorbiditas yang sama. Kecemasan hal
yang penting diperlukan pada dizziness- terkait kecemasan dan kondisi komorbid yang
menonjol dengan migraine. Sudah ditunjukkan bahwa saat subkelompok dari vertigo -

benign paroxysmal vertigo, vestibularneuritis, vestibular migraine, dan penyakit


Meniere dibandingkan saat awal, dan satu tahun kemudian, hanya pasien dengan
vestibuler migraine yang menunjukkan gangguan psikiatri yang parah dan dizzinesssomatoform satu tahun kemudian. Tingkat keparahan disfungsi vestibuler tidak
berhubungan dengan perkembangan gangguan psikiatri. Hampir sama saat anak dan
dewasa dengan BPV pada masa kanak prekursor migraine dibandingkan dengan
penderita migraine pada anak dan kontrol normal, kedua kelompok dengan vertigo dan
migraine memperlihatkan indeks yang lebih tinggi pada gejala behavioral dan
emosional daripada teman sebayanya.
2. Migraine mungkin mempercepat dizziness atau vertigo sebagai gejala penyerta. Sudah
merupakan hal yang umum pada episode vertigo migraine saat episode vertigo dipicu
oleh pemercepat umum migraine seperti kekurangan esterogen, stres, gangguan tidur.
Nyeri kepala sering tidak ditemukan saat serangan, sedangkan gejala lain migraine,
seperti aura atau fotofobia, mungkin ditemukan. Meskipun test vestibuler biasanya
tidak ditemukan apa-apa, serangan akut mungkin disertai dengan nistagmus central
spontan atau posisisonal, atau lebih jarang lagi, hipofungsi vestibuler unilateral.
3. Vertigo mungkin dapat memicu migraine. Penderita migraine yang menjalani test kalori
biasanya melaporkan serangan migraine setelah 24 jam daripada yang tidak menjalani
tes, mengindikasikan bahwa vertigo yang diinduksi dapat bertindak sebagai pemicu
migraine.
KESIMPULAN

FIG.3

FIG.4

Keluhan subjektif dari dizziness atau vertigo tampak sebagai hal yang umum pada migraine,
khususnya migraine dengan aura, dan prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia.
Vertigo/dizziness mempunyai hubungan yang kuat dan positif dengan keparahan dari nyeri migraine,
yang mana belum pernah diberitakan sebelumnya. Sebagaimana dizziness tidak pernah dimasukkan
ke dalam kriteria diagnosis untuk migraine baik dengan atau tanpa aura, banyak dokter yang
mengevaluasi pasien nyeri kepala tidak pernah mempertanyakan mengenai gejala tersebut. Sama
pentingnya, dokter yang mengevaluasi dizziness kadang lalai untuk mempertimbangkan migraine
sebagai bagian dari diagnosis diferential. Dengan kejadian gejala bersamaan lebih tinggi daripada
yang terekspektasi dari kemungkinan, hubungan baik dari komorbiditas maupun gejala-gejala tersebut
mungkin merupakan bagian yang penting dari gejala migraine. Dengan titik prevalensi 15,7%, dan
faktor-faktor yang menghubungkan antara intensitas nyeri migraine dan migraine dengan aura,
peneliti percaya bahwa hubungan yang nyata terbukti pada akhirnya.