Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

PENGAWASAN PEMERINTAHAN
Fungsi DPR Dalam Pengawasan Pemerintahan
Dosen : Dr. Mulyadi, SP., M.Si

Di susun Oleh:

Nama : Muhamad Zaid


NPP : 24.0993
Kelas : D2

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM NEGERI


JL. RAYA JATINANGOR KM. 20 KODE POS 45363 SUMEDANG JAWA BARAT

2016

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah puji dan syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, Atas Berkat
dan rahmatnya saya bisa menyelesaikan tugas Makalah ini dengan Tepat waktu. Kemudian yang ke2
saya ucapkan terimakasih kepada Dr. Mulyadi, SP., M.Si selaku Dosen yang telah memberikan
kami materi Pengawasan Pemerintahan dengan baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia semester
6 tahun ajaran 2015/2016 Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Adapun topik yang dibahas didalam
makalah ini adalah mengenai Fungsi DPR Dalam Pengawasan Pemerintahan. Dimana setelah
membahas topik ini, diharapkan pembaca dapat menambah pengetahuan pada materi kuliah
Pengawasan Pemerintahan.
Fungsi DPR Dalam Pengawasan Pemerintahan adalah salah satu materi Pengawasan
Pemerintahan dimana kami para praja yang nantinya akan menjadi seorang aparatur Negara dan
Kader seorang pemimpin di daerah kita di tuntut untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang sesuai
dengan keinginan masyarakat jujur, adil, bijak dan arif dalam memutuskan kebijakan.
Semoga makalah yang saya buat ini bisa menjadi sesuatu yang sangat bermanfaat dan berguna
bagi orang orang yang membacanya. Saya selaku penyusun makalah ini, memohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang
membangun dimasa yang akan dating.

Jatinangor, 21 Februari 2016

Muhamad Zaid
24.0993

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Di dalam pasal 1ayat 1 UUD Th.1945 menyebutkan bahwa Negara indonesia adalah kesatuan
yang berbentuk republik dimana didalam negara unitaris (kesatuan) tidak ada satupun negara lain
didalam negara, yang berarti tidak ada kedaulatan lain dalam wilayah negara indonesia selain
daripada kedaulatan NKRI itu sendiri. Indonesia merupakan union state yang warganya cenderung
bersatu, yang mengatasi segala paham perseorangan ataupun golongan yang menjamin seluruh warga
negaranya sama dihadapan hukum dan pemerintahan tanpa terkecuali, dengan tidak memendang
suku, kultur, ras, agama, ataupun mendiskriminasikan masyarakat dalam wilayah tertentu, hal ini
tercermin dalam semboyan bineka tunggal ika(berbeda-beda tetapi tetap satu jua).
Dalam bingkai negara unitaris juga diakui corak kemjemukan bangsa, sebagai sesuatu yang tetap
dipertahankan tanpa menimbulkan sparatis atau keretakan bagi persatuan dan kesatuan negara
indonesia, kemudian untuk mewujudkan hal itu sangat dibutuhkan suatu instrumen demokrasi yaitu
lembaga perwakilan salah satunya ialah DPR (dewan perwakilan rakyat), sebagai perwujudan
kehendak rakyat dalam menentukan kebijakan-kebijakan negara melalui peraturan perundangundangan. DPR merupakan perwakilan politik (political representation) yang anggotanya dipilih
melalui pemilu, DPR adalah organ pemerintahan yang bersifat sekunder sedangkan rakyat bersifat
primer, sehingga melalui DPR kedaulatan rakyat bisa tercapai sebagaimana dalam pasal 1 ayat 2
UUD NRI 1945 kedaulatan berada di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut UUD
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian pengawasan?
2. Apa saja jenis-jenis pengawasan?
3. Bagaimana kedudukan DPR dalam negara kesatuan RI?
4. Apa fungsi dari DPR itu sendiri?
5. Apa saja wewenang dari DPR itu sendiri?
1.3 Maksud dan Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian pengawasan
2. Untuk mengetahui Apa saja jenis-jenis pengawasan
3. Untuk mengetahui kedudukan DPR dalam negara kesatuan RI.
4. Untuk mengetahui fungsi dari DPR itu sendiri.
5. Untuk mengetahui Apa saja wewenang dari DPR itu sendiri

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Pengawasan
Menurut Robert J. Mockler Pengawasan yaitu usaha sistematik menetapkan standar pelaksanaan
dengan tujuan perencanaan, merancang sistem informasi umpan balik, membandingkan kegiatan
nyata dengan standar, menentukan dan mengukur deviasi deviasi dan mengambil tindakan koreksi
yang menjamin bahwa semua sumber daya dimiliki telah dipergunakan dengan efektif dan efisien.
Pengawasan adalah proses mengarahkan seperangkat unsur ke arah tercapainya suatu tujuan atau
sasaran manajemen. Pengawasan diperlukan untuk mengetahui apakah pelaksanaan suatu kegiatan
dalam organisasi sesuai dengan rencana dan tujuan yang telah igariskan atau ditetapkan. Pengawasan
merupakan fungsi manajemen yang tidak kalah pentingnya dalam suatu organisasi. Semua fungsi
terdahulu, tidak akan efektif tanpa disertai fungsi pengawasan. Dalam hal ini, Louis E. Boone dan
David L. Kurtz (1984) memberikan rumusan tentang pengawasan sebagai : ... the process by which
manager determine wether actual operation are consistent with plans.
Dengan demikian, Pengawasan merupakan suatu kegiatan yang berusaha untuk mengendalikan
agar pelaksanaan dapat berjalan sesuai dengan rencana dan memastikan apakah tujuan organisasi
tercapai. Apabila terjadi penyimpangan di mana letak penyimpangan itu dan bagaimana pula tindakan
yang diperlukan untuk mengatasinya. Selanjutnya dikemukakan pula oleh T. Hani Handoko bahwa
fungsi fungsi manajemen itu berjalan saling berinteraksi dan saling kait mengait antara satu dengan
lainnya, sehingga menghasilkan apa yang disebut denganproses manajemen. Dengan demikian,
proses manajemen sebenarnya merupakan proses interaksi antara berbagai fungsi manajemen.
2.2 Jenis Pengawasan
Pada dasarnya ada beberapa jenis pengawasan yang dapat dilakukan, yaitu:
1. Pengawasan Intern dan Ekstern
Pengawasan intern adalah pengawasan yang dilakukan oleh orang atau badan yang ada di dalam
lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Pengawasan dalam bentuk ini dapat dilakukan
dengan cara pengawasan atasan langsung atau pengawasan melekat (built in control) atau
pengawasan yang dilakukan secara rutin oleh inspektorat jenderal pada setiap departemen dan
inspektorat wilayah untuk setiap daerah yang ada di Indonesia, dengan menempatkannya di
bawah pengawasan Departemen Dalam Negeri.
Sejak 1988-1998, pengawasan intern dikoordinasikan oleh Menteri Koordinator Ekonomi,
Keuangan, dan Industri (Ekuin) dan Pengawasan Pembangunan (Menko Ekuin dan Wasbang).
Selain itu juga terdapat Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) yang
merupakan pelaksana teknis operasional pengawasan, dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden
RI No. 31 tahun 1983.

Pengawasan ekstern adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh unit pengawasan yang berada di
luar unit organisasi yang diawasi. Dalam hal ini di Indonesia adalah Badan Pemeriksa Keuangan

(BPK), yang merupakan lembaga tinggi negara yang terlepas dari pengaruh kekuasaan manapun.
Dalam menjalankan tugasnya, BPK tidak mengabaikan hasil laporan pemeriksaan aparat
pengawasan intern pemerintah, sehingga sudah sepantasnya di antara keduanya perlu terwujud
harmonisasi dalam proses pengawasan keuangan negara. Proses harmonisasi demikian tidak
mengurangi independensi BPK untuk tidak memihak dan menilai secara obyektif aktivitas
pemerintah.
2. Pengawasan Preventif dan Represif;
Pengawasan preventif lebih dimaksudkan sebagai, pengawasan yang dilakukan terhadap
suatu kegiatan sebelum kegiatan itu dilaksanakan, sehingga dapat mencegah terjadinya
penyimpangan. Lazimnya, pengawasan ini dilakukan pemerintah dengan maksud untuk
menghindari adanya penyimpangan pelaksanaan keuangan negara yang akan membebankan dan
merugikan negara lebih besar. Di sisi lain, pengawasan ini juga dimaksudkan agar sistem
pelaksanaan anggaran dapat berjalan sebagaimana yang dikehendaki. Pengawasan preventif akan
lebih bermanfaat dan bermakna jika dilakukan oleh atasan langsung, sehingga penyimpangan
yang kemungkinan dilakukan akan terdeteksi lebih awal.
Di sisi lain, pengawasan represif adalah pengawasan yang dilakukan terhadap suatu kegiatan
setelah kegiatan itu dilakukan. Pengawasan keuangan model ini lazimnya dilakukan pada akhir
tahun anggaran, di mana anggaran yang telah ditentukan kemudian disampaikan laporannya.
Setelah itu, dilakukan pemeriksaan dan pengawasannya untuk mengetahui kemungkinan
terjadinya penyimpangan.
3. Pengawasan Aktif dan Pasif;
Pengawasan dekat (aktif) dilakukan sebagai bentuk pengawasan yang dilaksanakan di tempat
kegiatan yang bersangkutan. Hal ini berbeda dengan pengawasan jauh (pasif) yang melakukan
pengawasan melalui penelitian dan pengujian terhadap surat-surat pertanggungjawaban yang
disertai dengan bukti-bukti penerimaan dan pengeluaran. Di sisi lain, pengawasan berdasarkan
pemeriksaan kebenaran formil menurut hak (rechmatigheid) adalah pemeriksaan terhadap
pengeluaran apakah telah sesuai dengan peraturan, tidak kadaluarsa, dan hak itu terbukti
kebenarannya. Sementara, hak berdasarkan pemeriksaan kebenaran materil mengenai maksud
tujuan pengeluaran (doelmatigheid) adalah pemeriksaan terhadap pengeluaran apakah telah
memenuhi prinsip ekonomi, yaitu pengeluaran tersebut diperlukan dan beban biaya yang serendah
mungkin.
4. Pengawasan kebenaran formil menurut hak (rechtimatigheid) dan pemeriksaan
kebenaran materiil mengenai maksud tujuan pengeluaran (doelmatigheid).
Dalam kaitannya dengan keuangan negara, pengawasan ditujukan untuk menghindari
terjadinya korupsi, penyelewengan, dan pemborosan anggaran negara yang tertuju pada aparatur
atau pegawai negeri. Dengan dijalankannya pengawasan tersebut diharapkan pengelolaan dan
pertanggungjawaban anggaran negara dapat berjalan sebagaimana direncanakan.
Dalam aspek pengawasan keuangan negara, DPR mempunyai kepentingan kuat untuk
melakukan pengawasan terhadapnya. Hal demikian disebabkan uang yang digunakan membiayai
kegiatan-kegiatan negara adalah diperoleh dari rakyat. Penjelasan UUD 1945 menegaskan:

Oleh karena penetapan belanja mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri,
maka segala tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat, sebagai pajak dan lain-lainnya,
harus ditetapkan dengan undang-undang, yaitu dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
Persetujuan DPR terhadap anggaran negara yang diajukan pemerintah sebenarnya mempunyai
makna pengawasan pula. Hal demikian disebabkan persetujuan yang diberikan DPR bukan berarti
membebaskan pemerintah melakukan segala aktivitas yang berkaitan dengan anggaran negara.
Adanya pengawasan terhadap pelaksanaan anggaran negara sebenarnya diarahkan kemudian pada
upaya, menindaklanjuti hasil pengawasan, sehingga ada sanksi hukum.
2.3 Kedudukan DPR dalam Negara Republik Indonesia
DPR merupakan lembaga perwakilan rakyat yang berkedudukan sebagai lembaga negara.
Anggota DPR berasal dari anggota partai politik peserta pemilu yang dipilih berdasarkan hasil
pemilu. DPR berkedudukan di tingkat pusat, sedangkan yang berada di tingkat provinsi disebut
DPRD provinsi dan yang berada di kabupaten/kota disebut DPRD kabupaten/kota. Berdasarkan UU
Pemilu N0. 10 Tahun 2008 ditetapkan sebagai berikut:
1. Jumlah anggota DPR sebanyak 560 orang;
2. jumlah anggota DPRD provinsi sekurang-kurangnya 35 orang dan sebanyak-banyak 100
orang;
3. jumlah anggota DPRD kabupaten/kota sedikitnya 20 orang dan sebanyak-banyaknya 50
orang.
Keanggotaan DPR diresmikan dengan keputusan presiden. Anggota DPR berdomisili di ibu kota
negara. Masa jabatan anggota DPR adalah lima tahun dan berakhir pada saat anggota DPR yang baru
mengucapkan sumpah/janji. Sebelum memangku jabatannya, anggota DPR mengucapkan sumpah/
janji secara bersama-sama yang dipandu oleh Ketua Mahkamah Agung dalam sidang paripurna DPR.
Lembaga negara DPR mempunyai fungsi berikut ini:
1. Fungsi Legislasi.
Fungsi legislasi artinya DPR berfungsi sebagai lembaga pembuat undang-undang.
2. Fungsi Anggaran.
Fungsi anggaran artinya DPR berfungsi sebagai lembaga yang berhak untuk
menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
3. Fungsi Pengawasan.
Fungsi pengawasan artinya DPR sebagai lembaga yang melakukan pengawasan terhadap
pemerintahan yang menjalankan undang-undang.

DPR sebagai lembaga negara mempunyai hak-hak, antara lain sebagai berikut:
1. Hak Interpelasi. Hak interpelasi adalah hak DPR untuk meminta keterangan kepada
pemerintah mengenai kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas
bagi kehidupan masyarakat.

2. Hak Angket. Hak angket adalah hak DPR untuk melakukan penyelidikan terhadap suatu
kebijakan tertentu pemerintah yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangundangan.
3. Hak Menyatakan Pendapat. Hak menyatakan pendapat adalah hak DR untuk menyatakan
pendapat terhadap kebijakan pemerintah mengenai kejadian yang luar biasa yang terdapat di
dalam negeri disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya atau sebagai tindak lanjut
pelaksanaan hak interpelasi dan hak angket. Untuk memudahkan tugas anggota DPR maka
dibentuk komisi-komisi yang bekerja sama dengan pemerintah sebagai mitra kerja.
2.4 Fungsi DPR. Fungsi legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia
(DPR RI) Dewan Perwakilan Rakyat adalah lembaga perwakilan tempat masyarakat untuk
menyampaikan aspirasi dan menyuarakan kepentingannya, lewat lembaga ini akan keluar kebijakan
yang menjadi dasar bagi presiden dalam menjalankan roda pemerintahan, yang diwujudkan dalam
bentuk undang-undang. Lahirnya lembaga perwakilan menjadi suatu keharusan karena sistem
demokrasi langsung yang dilaksanakan pada zaman Yunani Kuno sudah tidak memungkinkan lagi
untuk dilaksanakan. Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dalam sistem politik dan sistem
pemerintahan negara Republik Indonesia merupakan salah satu lembaga tinggi negara dan sebagai
wahana melaksanakan Demokrasi Pancasila.
Dalam sistem pemerintahan demokrasi, lembaga perwakilan rakyat merupakan perangkat
kenegaraaan yang sangat penting disamping perangkat-perangkat kenegaraan yang lain, baik yang
bersifat infra struktur maupun supra struktur politik. Setiap pemerintahan yang menganut sistem
demokrasi selalu didasari suatu ide bahwa warga negara seharusnya dilibatkan dalam setiap proses
pengambilan keputusan politik. Dalam sistem pemerintahan yang demokratis, konsep kedaulatan ini
sangat menentukan untuk dijadikan sebagai parameter. Dalam sistem tersebut dinyatakan bahwa tidak
ada kekuasaan mutlak dan semua keputusan politik harus mendapatkan persetujuan dari rakyat secara
langsung maupun tidak langsung melalui sistem perwakilan.Fungsi badan perwakilan rakyat yang
mencirikan demokrasi modern ini memperkenalkan nama badan legislatif atau badan pembuat
undang-undang kepadanya, fungsi ini dapat diartikan sebagai fungsi legislasi. Melalui fungsi ini
parlemen menunjukkan bahwa dirinya sebagai wakil rakyat dengan memasukkan aspirasi dan
kepentingan masyarakat yang diwakilinya kedalam pasal-pasal undang-undang.
Dari gambaran ini akan di peroleh gambaran sejauh mana DPR RI telah menjalankan fungsinya
legislasinya yang biasa dijadikan sebagai indikator adanya proses demokratisasi, sebaliknyakurang
atau tidak berjalannya fungsi legislasi yang dimiliki oleh DPR dapat dijadikan kurangatau tidak
berjalannya proses demokratisasi, sebab DPR sendiri merupakan lembaga/perangkat demokrasi. Pada
hakekatnya fungsi utama dari legislatif adalah membuat undang-undang (legislasi),hal ini juga sejalan
dengan fungsi-fungsi yang lain seperti fungsi pengawasan (controlling ) juga merupakan bagian
fungsi legislasi, karena dalam menjalankan fungsi pengawasan tentunya terlebih dahulu melahirkan
peraturan perundangan-undangan yang dijadikan sebagai acuan dalam melakukan pengawasan
terhadap pemerintah dalam menjalankan tugasnya. Begitu juga fungsi angggaran (budgeting ) yang
merupakan sebagian dari fungsi legislasi karena untuk menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) juga ditetapkan dengan undang-undang APBN setiap tahun anggaran.

Maka yang menjadi fungsi pokok dari DPR adalah pembentukan undang-undang sebagai
landasan hukum bagi pemerintah dalam membuatkebijakan publik. Sebagaimana dijelaskan bahwa
dalam konsep demokrasi menempatkan partisipasi sebagai intinya, berarti menghendaki
diikutsertakannya masyarakat dalam pembuatankebijakan publik (public policy).Apabila diikuti
secara seksama pasal-pasal yang mengatur DPR di dalam UUD 1945, dapat dikatakan DPR
mempunyai tugas yang sangat penting dalam kehidupan ketatanegaraan Indonesia.
Dewan Perwakilan Rakyat adalah suatu bentuk nyata dari hasil konsepsi perwakilan di Indonesia,
sehingga DPR dianggap mampu merumuskan kemauan dan keinginan dari rakyat yang dapat di mulai
dari perencanan, pembuatan, persetujuan suatu Rancangan Undang-Undang sampai disetujui menjadi
undang-undang sebab setiap undang-undang yang disahkan akan memberikan konsekuensi dan
keterikatan rakyat Indonesia terhadap undang-undang tersebut. Lembaga perwakilan bukan berarti
dapat semaunya memutuskan segala kebijakan umum mengatas namakan rakyat tanpa adanya kontrol
dari rakyat yang diwakilinya, sebab suatu sistem pemerintahan yang tidak memiliki kontrol akhir atas
agenda pemerintahan umum dapat dianggap sebagai sistem a-demokratis. Hubungan diantara
eksekutif dan lembaga perwakilan dalam rencana keputusan parlemen dapat terjadi dalam
ketimpangan atau dominasi salah satu pihak. Legislatif merupakan lembaga perwakilan tempat
dimana wakil rakyat melihat dirinya sebagai mewakili warga negara yang berada di dalam batas
lingkup perwakilannya secara keseluruhan, karena itu wakil disebut wakil rakyat. Pemikiran yang
demikian sangatlah sulit secara operasional sebab wakil tidak memungkinkan memberikan perhatian
kepada seluruh warga yang diwakilinya, ada tiga kemungkinan yang dapat dimamfaatkan wakil untuk
memusatkan perhatian terhadap yang terwakil, yaitu memberikan perhatian terhadap kelompok,
memperhatikan partai, dan memperhatikan wilayah atau daerah yang diwakili. Apabila pemusatan
perhatian dan kedua disebut sebagai perwakilan yang berfokus fungsional, maka yang terakhir
disebut berfokusregional.
Usaha untuk mengukur peranan DPR dalam sistem politik Indonesia melalui pelaksanaan fungsi
lembaga tersebut, melibatkan warga negara pada faktor-faktor yang mempengaruhi proses
fungsionalisasi tersebut. Dua faktor utama yang mempengaruhi kemampuan DPR selaku badan
Legislatif melaksanakan fungsi-fungsinya ialah interaksi dengan eksekutif yang diwakili oleh
presiden dan interaksi dengan masyarakat.Dalam hal interaksi antara legislatif dengan eksekutif harus
tercipta check and balance sehingga dalam menjalankan fungsinya, legislatif bisa lebih baik dan tidak
dalam posisi dimanakedudukan dan kekuasaaan legislatif lemah dibanding dengan eksekutif,
penguatan kelembagaan legislatif memungkinkan untuk melaksanaan fungsinya lebih maksimal.

2.5 Wewenang DPR.


Membentuk Undang-Undang yang dibahas dengan Presiden untuk mendapat persetujuan bersama
Membahas dan memberikan persetujuan atau tidak memberikan persetujuan terhadap Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-undang yang diajukan oleh Presiden untuk menjadi undang-undang.
Menerima rancangan undang-undang yang diajukan oleh DPD berkaitan dengan otonomi daerah,
hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta penggabungan daerah, pengelolaan

sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta yang berkaitan dengan perimbangan
keuangan pusat dan daerah serta membahas membahas rancangan undang-undang tersebut bersama
Presiden dan DPD sebelum diambil persetujuan bersama antara DPR dan Presiden.
Membahas rancangan undang-undang yang diajukan oleh Presiden atau DPR yang berkaitan
dengan otonomi daerah, hubungan pusat dan daerah, pembentukan dan pemekaran serta
penggabungan daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, serta
perimbangan keuangan pusat dan daerah, dengan mengikutsertakan DPD sebelum diambil
persetujuan bersama antara, DPR, dan, Presiden. Memperhatikan pertimbangan DPD atas rancangan
undang-undang tentang APBN dan rancangan undang-undang yang berkaitan dengan pajak,
pendidikan,dan,agama, Membahas bersama Presiden dengan memperhatikan pertimbangan DPD dan
memberikan persetujuan atas rancangan undang-undang tentang APBN yang diajukan oleh Presiden
Melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan APBN Membahas dan
menindaklanjuti hasil pengawasan yang disampaikan oleh DPD terhadap pelaksanaan undang-undang
mengenai otonomi daerah, pembentukan, pemekaran, dan penggabungan daerah, hubungan pusat dan
daerah, pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya ekonomi lainnya, pelaksanaan APBN pajak
pendidikan, dan agama, Memberikan persetujuan kepada Presiden untuk menyatakan perang,
membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain, serta membuat perjanjian internasional
lainnya yang menimbulkan akibat yang luas dan mendasar bagi kehidupan rakyat yang terkait dengan
beban keuangan negara dan/atau mengharuskan perubahan atau pembentukanundang-undang,
Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pemberian amnesti,dan,abolis. Memberikan
pertimbangan kepada Presiden dalam hal mengangkat duta besar dan menerima penempatan duta
besar negara lain Memilih anggota BPK dengan memperhatikan pertimbangan DPD Membahas dan
menindaklanjuti hasil pemeriksaan atas pertanggungjawaban keuangan negara yang, disampaikan,
oleh BPK.
Memberikan persetujuan kepada Presiden atas pengangkatan dan pemberhentiananggota, KY
Memberikan persetujuan calon hakim agung yang diusulkan Komisi Yudisial, untuk, ditetapkan,
sebagai, hakim, agung, oleh Presiden Memilih 3 (tiga) orang hakim konstitusi dan mengajukannya
kepada Presiden untuk diresmikan dengan keputusan Presiden Memberikan persetujuan terhadap
pemindahtanganan aset negara yang menjadi kewenangannya berdasarkan ketentuan peraturan
perundang-undangan dan terhadap perjanjian yang berakibat luas dan mendasar bagi kehidupan
rakyat yang terkait dengan beban keuangan,negara Meberikan persetujuan kepada Presiden untuk
menyatakan perang, membuat perdamaian,dan perjanjian, dengan, negara, lain Menyerap,
menghimpun, menampung dan menindak lanjuti aspirasi masyarakat Melaksanakan tugas dan
wewenang lain yang diatur dalam undang-undang.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
DPR terdiri dari anggota partai politik peserta pemilihan umum yang dipilih berdasarkan
hasil pemilihan umum, yang berjumlah lima ratus lima puluh orang yang diresmikan dengan
keputusan presiden dengan masa jabatan 5 tahun dan berakhir bersama-sama pada saat anggota DPR

yang baru, mengucapkan sumpah yang dipanduh oleh ketua mahkamah agung dalam sidang
paripurna DPR. Adapun pimpinan DPR terdiri atas seorang ketua dan 3 orang wakil ketua yang
memiliki tugas memimpin sidang-sidang, serta menyusu rencana kerja dan menjadi juru bicara DPR.
Adapun fungsi DPR antara lain funsi legislasi, yaitu membentuk UU, selain itu juga memiliki fungsi
anggaran yaitu mengontrol APBN dan memiliki fungsi penguasan atas jalannya UU. Dari fungsi itu
maka DPR memiliki hak mengajukan rancangan UU, mengajukan usul dan pendapat, memiliki hak
imunitas, disamping itu DPR mmiliki kewajiban mengamalkan pancasila, melaksanakan UU NRI dan
kehidupan demokrasi serta memelihara kerukunan nasional dan keutuhan negara kesatuan republik
indonesia.
3.2 Saran
Ada beberapa pendapat mengenai sistem parlemen di indonesia, ada yang mengatakan
unikameral ada juga yang mengatakan tiikameral, tetapi jika mengacupada pendapat Prof.
Abudaud Busroh.SH. indonesia hanya memiliki sistem parlementunggal yaitu MPR yang terdiri dari
DPR (perwakilan politik dan DPD (perwakilan teritorial). Jika memakai kacamata realistis pada
umumnya anggota DPR adalah orang-orang populer karena reaputasi politiknya. Tetapi belum tentu
menguasai tehnik pemerintahan, perekonomian dll. Jika ditinjau dari segi idealisis dan legitimasi
etis seharusnya kebijakan negara mengenai ketatanegaraan baik dari legislatif maupun eksekutif
harus dipertanyakan dari segi nilai-nilai moral dan kepantasan.

DAFTAR PUSTAKA
Bangun, Zakaria, 2007, Ssitem Ketatanegaraan Indonesia Pascaamandemen UUD 1945. Medan :
Bina Media Perintis.

Victor M. Situmorang, Aspek Hukum Pengawasan Melekat, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1994,
Titik Triwulan T, Hukum Tata Usaha Negara dan Hukum Acara Peradilan Tata Usaha Negara Indonesia,
Jakarta: Prenada Media Group, ,2011,
BN. Marbun, DPRD Pertumbuhan, Masalah dan Masa Depannya, Jakarta: Erlangga, 1993, hlm.
Philipus, Pengantar Hukum Administrasi Indonesia, Yogjakarta: Gadjah Mada University Press, 1999,
Tutik Triwulan Tutik dan Ismu Gunadi Widodo, Hukum Tata Usaha Negara dan Hukum Acara Peradilan
Tata Usaha Negara Indonesia, Jakarta: Kencana, 2011,

Cipto, Bambang. 1995. Dewan Perwakilan Rakyat. Jakarta : Raja Grafindo Persada
- See more at: http://bankmakalah-id.blogspot.co.id/2014/09/makalah-fungsi-dan-pengawasandpr.html#sthash.kdTTO6NM.dpuf