Anda di halaman 1dari 14

UJI AKTIVITAS EKSTRAK RIMPANG KUNYIT

(Curcuma longa) TERHADAP DAYA HAMBAT


PERTUMBUHAN BAKTERI Escheria coli
PROPOSAL

OLEH :

AULIA FITRI
NIM : 1201007

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI RIAU
YAYASAN UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang masalah
Kunyit (Curcuma) merupakan tanaman rempah yang banyak tumbuh di
daerah tropis seperti India, Cina, Malaysia, dan Indonesia. Menurut data dari
Badan Pusat Statistik Republik Indonesia (BPS RI) pada tahun 2010, luas lahan
pertanian kunyit di Indonesia seluas 45.384.764 m2, dengan hasil panen
108.826.152 kg dan produktivitas tinggi yaitu 2,26 kg/m2. Kunyit yang banyak
dijumpai di Indonesia adalah kunyit kuning (Curcuma longa) dan kunyit putih
(Curcuma mangga).
Kunyit merupakan salah satu tanaman obat potensial yang bermanfaat
sebagai antimikroba dan antikoagulan (Anonim, 2005). Kunyit sering digunakan
dalam kehidupan

sehari-hari dengan proses pengolahan tertentu yang tanpa

disadari proses tersebut mampu mengurangi khasiat bahkan merusak kandungan


kunyit. Penambahan asam dan suhu adalah faktor utama yang mampu merusak
aktivitas zat yang bersifat antioksidan dan antibakteri yang terkandung dalam
kunyit. Telah banyak penelitian yang mengkaji mengenai kegunaan metabolit
sekundernya sebagai sumber anti oksidan, anti bakteri dan antivirus (Mishra,
2007).
Kunyit (Curcuma longa L.) merupakan salah satu tanaman rempah-rempah
yang digunakan dalam proses pengolahan makanan. Penggunaan kunyit dalam
pengolahan makanan dapat membantu memperlambat proses kerusakan makanan.
Beberapa penelitian secara in vitro, membuktikan bahwa senyawa aktif dalam
rimpang kunyit mampu menghambat pertumbuhan jamur, virus, dan bakteri baik
Gram positif maupun bakteri Gram negatif seperti Escheria coli. Pada penelitian
ini juga dilihat efektivitas kunyit dalam menghambat pertumbuhan beberapa jenis
bakteri yang diisolasi dari makanan. Kunyit memiliki banyak manfaat, selain
sebagai bumbu dapur dan pewarna makanan, kunyit juga digunakan sebagai bahan
baku obat. Kunyit mengandung beberapa komponen yang bersifat sebagai

antioksidan dan antibakteri (Aggarwal et al., 2006). Senyawa antioksidan dan


antibakteri kunyit dapat diperoleh dengan cara ekstraksi.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa yang terkandung dalam ekstrak rimpang kunyit (Curcuma longa) ?
2. Bagaimana aktivitas ekstrak rimpang kunyit terhadap pertumbuhan bakteri
Escheria coli ?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kandungan ekstrak rimpang kunyit
2. Menguji aktivitas ekstrak rimpang kunyit terhadap pertumbuhan bakteri
Escheria coli

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tanaman kunyit (curcuma longa)
2.1.1Klasifikasi tanaman
Tumbuhan Curcuma longa dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Magnoliophyta

Kelas

: Liliopsida

Ordo

: Zingeberales

Family

: Zingeberaceae

Genus

: Curcuma

Spesies

: Curcuma longa

Nama daerah : Jawa : kunyir, koneng, koneng temen, kunir, kunir bentis, temu
kuning, konye, temo koneng. Kalimantan : kunit, janar, henda,
kunyit, cahang, dio, kalesiau. Sumatera : kakunye, kunyet,
kuning, hunik, unik, odil, ondil, kondin, under, kunyit, kunyir,
jiten. Nusa Tenggara: kunyik, huni kaungi, wingir, winguru,
dingira, hingiro, kunita, kunyi, konyi, wingira, kewunyi, kuneh,
guni, kuma, kumoh, kunik, unik, hunik, kunir. Sulawesi : uinida,
kuni, hamu, alawahu, kolalagu, pagidon, uni, kunyi, unyi, nuyik.
Irian : rame, kandeifu, nikwai, mingguai, yau
2.1.2

Deskripsi kunyit
Kunyit merupakan tanaman obat berupa semak dan bersifat tahunan

(perenial) yang tersebar di seluruh daerah tropis. Tanaman kunyit tumbuh subur
dan liar disekitar

hutan/bekas kebun. Diperkirakan berasal dari Binar pada

ketinggian 13001600 m dpl, ada juga yang mengatakan bahwa kunyit berasal dari
India. Kata Curcuma berasal dari bahasa Arab Kurkum dan Yunani Karkom. Pada
tahun 77-78 SM, Dioscorides menyebut tanaman ini sebagai Cyperus menyerupai
jahe, tetapi pahit, kelat, dan sedikit pedas, tetapi tidak beracun. Tanaman ini
banyak dibudidayakan di Asia Selatan khususnya di India, Cina Selatan, Taiwan,
Indonesia (Jawa), dan Filipina.
Tanaman kunyit tumbuh bercabang dengan tinggi 40-100 cm. Batang
merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna hijau
kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun tunggal, bentuk
bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-12,5 cm dan pertulangan
menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga majemuk yang berambut dan
bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm
dan lebar 1,5 cm, berwarna putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing,

tepi daun yang rata. Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah
merah jingga kekuningkuningan.
2.1.3

Kandungan dan Manfaat kunyit


Kunyit memiliki banyak manfaat, selain sebagai bumbu dapur dan

pewarna makanan, kunyit juga digunakan sebagai bahan baku obat. Kunyit
mengandung beberapa komponen yang bersifat sebagai antioksidan dan
antibakteri (Aggarwal et al., 2006). Senyawa antioksidan dan antibakteri kunyit
dapat diperoleh dengan cara ekstraksi.
Kunyit mengandung senyawa dengan sifat kepolaran yang berbeda-beda.
Kurkuminoid (Budhwaar, 2006), turmerin dan terpen (Srinivas, 1992) merupakan
senyawa metabolit kunyit yang mempunyai sifat sebagai antioksidan dan
antibakteri. Menurut Kizo et al (1983), kurkuminoid dapat larut dalam metanol
dan hexan. Ektrak metanolnya mengandung berbagai jenis senyawa, termasuk
senyawa yang tidak berperan sebagai antioksidan dan antibakteri. Sehingga perlu
dilakukan fraksinasi dengan menggunakan pelarut heksan.
Banyak tanaman yang memiliki potensi dalam bentuk tepung, ekstrak atau
minyak atsiri sebagai pengendali patogen, diantaranya tanaman kunyit (Curcuma
domestica) (Syamsudin, 2003). Beberapa penelitian secara in vitro, membuktikan
bahwa senyawa aktif dalam rimpang kunyit mampu menghambat pertumbuhan
jamur, virus dan bakteri baik gram positif maupun gram negatif seperti
Escherchia coli, Klebsiela pneumoniae dan Staphylococcus aereus (Hidayati,
2002 : 43).
2.2 Metoda Ekstraksi
Proses awal pembuatan ekstrak adalah tahapan pembuatan serbuk
simplisia kering (penyerbukan). Dari simplisia kering dibuat serbuk simplisia
dengan peralatan tertentu sampai derajat kehalusan tertentu. Proses ini dapat
mempengaruhi mutu ekstrak dengan semakin halus serbuk simplisia maka proses
ekstraksi semakin efektif dan efisien, namun semakin halus serbuk maka semakin

rumit teknologi peralatan untuk tahapan filtrasi (penyaringan) (Parameter Standar


Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, 2000).
Proses Ekstraksi yang dapat digunakan untuk mendapatkan ekstrak
berdasarkan kepolarannya adalah dengan ekstraksi padat cair dan dilanjutkan
dengan ekstraksi cair-cair untuk memisahkan komponen didalamnya.
Ekstraksi merupakan proses pemisahan zat aktif dari bagian tanaman obat
dengan menggunakan pelarut. Ekstrak adalah sediaan yang diperoleh dengan cara
ekstraksi tanaman obat dengan ukuran partikel tertentu dan menggunakan medium
pengekstraksi tertentu (Agoes, 2007).
Ada beberapa ekstraksi senyawa bahan alam yang umum digunakan antara
lain (Darwis, 2000):
a. Maserasi (perendaman)
Teknik maserasi digunakan terutama jika senyawa organik metabolit
sekunder ada dalam bahan tersebut cukup banyak persentasenya dan ditemukan
suatu pelarut yang dapat melarutkan senyawa tersebut tanpa dilakukan
pemanasan. Biasanya cara ini membutuhkan waktu yang cukup lama dan sulit
mencari pelarut organik yang dapat melarutkan dengan baik senyawa organik
dalam bahan tersebut. Akan tetapi jika struktur senyawa yang akan diisolasi sudah
diketahui, maka metode perendaman ini metode praktis.
Maserasi biasanya dilakukan untuk bagian tumbuhan yang teksturnya
lunak, seperti bunga dan daun. Senyawa organik metabolit sekunder yang ada
dalam bahan alam tersebut umumnya dalam persentase yang cukup banyak,
perendaman tidak dilakukan dengan pemanasan. Hasil perendaman kemudian
disaring dan filtrat yang didapat diuapkan dengan alat rotary evaporator sampai
diperoleh ekstrak kental tumbuhan.
b. Perkolasi
Pada prinsipnya perkolasi menggunakan suatu pelarut dimana pelarut
tersebut dilewatkan secara perlahan (tetes demi tetes) kepada bahan alam yang
mengandung senyawa organik tersebut. Pada teknik ini juga digunakan pelarut
yang tidak mudah menguap, tetapi melarutkan senyawa organik yang terkandung
dalam bahan alam tersebut cukup besar.

Perkolasi biasanya digunakan untuk bagian tumbuhan yang keras seperti


akar, biji dan batang. Cara perkolasi digunakan apabila kandungan kimianya
sedikit. Filtrat yang didapat diuapkan pelarutnya dengan alat rotary evaporator.
c. Sokletasi
Sokletasi merupakan teknik ekstraksi yang digunakan terhadap bahan alam
padat yang senyawa kimianya tahan panas. Prinsipnya yaitu menggunakan suatu
pelarut yang mudah menguap secara berulang-ulang dan dapat melarutkan
senyawa organik yang terdapat pada bahan alam tersebut. Metode sokletasi
mempunyai keunggulan dari metode lainnya, karena melalui metode ini penyarian
dapat dilakukan beberapa kali dan pelarut yang digunakan tidak banyak.
d. Destilasi uap
Cara destilasi uap khusus digunakan untuk senyawa yang dapat diuapkan
bersama uap air. Pada prinsipnya ada dua teknik pengerjaan dalam metode ini,
yaitu uap air dihasilkan sendiri atau bahan alam langsung ditambahkan air dan
dipanaskan (Darwis, 2000).
2.3

Fraksinasi

Fraksinasi adalah proses pemisahan kandungan senyawa bahan alam


berdasarkan perbedaan sifat kelarutannya dalam kondisi yang tertentu. Umumnya
senyawa bahan alam dapat dibedakan atas 3 kelompok yaitu senyawa non polar,
semi polar, dan polar. Proses fraksinasi dilakukan apabila penyaringan tahap awal
bertujuan untuk mendapatkan ekstrak total, proses fraksinasi dapat dilakukan
dengan menggunakan berbagai pelarut yang memiliki perbedaan kepolaran.
Tujuan utama fraksinasi adalah menyederhanakan komposisi dan
homogenetis sifat zat sehingga lebih mudah dimurnikan atau diisolasi menjadi
senyawa tunggal atau zat murni, proses fraksinasi harus berurutan dari pelarut non
polar. Hasil dari fraksi dapat dipekat dengan rotary evaporator (Yuwita, 2005).
2.4

Bakteri

Bakteri adalah sel prokariotik yang khas, bersifat uniseluler dan tidak
mengandung sttruktur yang terbatasi membrane di dalam sitoplasmanya. Sel
bakteri memiliki bentuk yang khas seperti bola, batang atau spiral. Umumnya

bakteri berdiameter antar 0,5-1,0 m (Pelczar dan Chan, 1986). Berdasarkan


komposisi dinding sel bakteri, bakteri dibedakan menjadi bakteri Gram positif dan
Gram negatif. Bakteri ada yang bersifat merugikan disebut sebagai bakteri
patogen, bakteri patogen ini merupakan kelompok bakteri parasit yang
menimbulkan penyakit pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Salah satu contoh
bakteri patogen antara lain Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.
2.4.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba (Volk and
Wheeler, 1990; Jawetz dkk, 2005; Pratiwi, 2008).
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikroba adalah sebagai
berikut:
1. Nutrisi
Sangat dibutuhkan oleh organisme untuk perkembangbiakan. Nutrisi
mengandung elemen yang penting untuk sintesis biologik organisme.
Berdasarkan kebutuhan ada dua jenis makroelemen-elemen nutrisi yang
diperlukan dalam jumlah banyak (gram) seperti karbon, oksigen, hidrogen,
nitrogen, sulfur, fosfor, kalsium, magnesium, kalium, besi. Sedangkan
makroelemen-elemen yang dibutuhkan sedikit (mg hingga ppm) seperti
mangan, zick, kobalk, nikel dan tembaga.
2. Temperatur
Temperatur

menentukan

aktivitas

enzim

dalam

aktivitas

kimia.

Peningkatan temperatur 100C menyebabkan aktivitas enzim meningkat dua


kali lipat, temperatur sangat tinggi menyebabkan denaturasi enzim yang
bersifat irreversible, temperatur rendah aktivitas enzim berhenti, sedangkan
pada temperatur optimal terjadi kecepatan optimal dan menghasilkan jumlah
sel yang maksimal.
3. pH medium
Sebagian besar spesies bakteri tumbuh baik pada pH 6,8-7,2, sedangkan
jamur tumbuh baik pada pH 5-6.
4. Oksigen
Berdasarkan kebutuhan oksigen, mikroba dibedakan atas mikroba aerob
dan anaerob. Oksigen dibutuhkan untuk berlangsungnya pertumbuhan dan
metabolisme.

2.4.2

Escherichia coli
Bakteri Escherichia coli. termasuk bakteri Gram negatif. E. coli banyak

ditemukan di dalam usus besar manusia sebagai flora normal, tetapi bila kesehatan
menurun, bakteri ini dapat bersifat patogen terutama akibat toksin yang dihasilkan. E.
coli umumnya tidak menyebabkan penyakit bila masih berada dalam usus, tetapi dapat
menyebabkan penyakit pada saluran kencing, paru, saluran empedu, dan saluran otak
(Jawetz et al, 2005).

Escherichia coli merupakan kelompok bakteri Gram negatif berbentuk


batang pendek (basil) berukuran 0,4-0,7 m x 1,4 m dan tumbuh dengan mudah
pada medium nutrien sederhana. Selain itu Escherichia coli juga diketahui bisa
menimbulkan infeksi pada jaringan tubuh lain diluar usus. Escherichia coli
biasanya ditemukan pada usus besar manusia sehingga sering disebut dengan
bakteri kolon. Escherichia coli dapat menyebabkan keracunan pada makanan.
Bakteri ini merupakan bakteri patogen penyebab diare (keracunan makanan) dan
dapat menjadi indikator pencemaran air (Frobisher, 1968).

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN
3.1

Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan April sampai bulan September

2014, bertempat di Laboratorium Penelitian, Laboratorium Kimia dan


Laboratorium Biofarmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Riau, Pekanbaru.
3.2

Metoda Penelitian

3.2.1

Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan adalah: botol berwarna gelap, gunting,

timbangan, timbangan analitik, aluminium foil, tabung reaksi, batang pengaduk,


corong, corong pisah, kertas saring, beker glass, labu ukur, spatel, rotari
evaporator, gelas ukur, pipet tetes, autoklaf (Gea ), bunsen, camber, cawan Petri,

hot plate, inkubator (Memmert), jangka sorong, jarum Ose, Laminar Air Flow
(LAF), pipet volum, oven (Memmert), pinset, pipet mikro (Nesco), rak tabung
reaksi, vial, vorteks (AsOne) dan spekrofotometer UV-Vis .
Bahan-bahan yang digunakan adalah: rimpang kunyit segar, pelarut Etanol
96%, n-heksan, etil asetat, alkohol 70%, aquadest, asam sulfat 2 N, natrium
karbonat, aluminium klorida, natrium asetat, asam klorida pekat, besi (III) klorida
1%, norit, kloroform, kloroform amoniak, logam magnesium, pereaksi
Lieberman-Bouchard, pereaksi dragendorff, pereaksi mayer, kertas cakram, NaCl
fisiologis, cakram chiprofloxacin, media nutrient agar (NA), dan bakteri
Escherichia coli
.
3.2.2

Rancangan Penelitian
1. Pengambilan Sampel.
2. Identifikasi Sampel
3. Pembuatan Ekstrak Rimpang Kunyit
4. Fraksinasi Ekstrak Rimpang Kunyit
5. Pemeriksaan Kandungan Metabolik Sekunder Ekstrak Rimpang
Kunyit
6. Sterilisasi Alat dan Bahan
7. Pembuatan Media nutrient agar
8. Peremajaan Bakteri
9. Pembuatan Suspensi Bakteri
10. Uji aktivitas Antibakteri
11. Pengumpulan dan Analisis Data

3.3

Prosedur Penelitian

3.3.1

Pengambilan Sampel
Sampel yang digunakan untuk penelitian ini adalah rimpang kunyit segar

sebanyak 2 kg yang diambil dari Bagansiapi-api, Kecamatan Bangko Kabupaten


Rokan hilir.
3.3.2

Identifikasi Sampel
Sampel diidentifikasi di Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas

Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau.

3.3.3

Pembuatan Ekstraksi Rimpang Kunyit


Rimpang Kunyit dibersihkan, kemudian dikering anginkan. Proses

ekstraksi rimpang kunyit dilakukan dengan cara merajang rimpang kunyit,


dimasukkan kedalam botol gelap dan dimaserasi dengan menggunakan etanol
96%. Maserasi dilakukan selama 5 hari di tempat yang terlindung dari cahaya
sambil diaduk sesekali. Selanjutnya dilakukan penyaringan dengan corong dan
kertas saring untuk memisahkan filtrat dari ampas. Kemudian sisa ampas kembali
dimaserasi dengan cara yang sama sampai 3 kali, Selanjutnya filtrat diambil dan
dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga didapat ekstrak kental etanol
ekstrak rimpang kunyit.

3.3.4

Fraksinasi Ekstrak
Ekstrak kental ekstrak rimpang kunyit ditimbang 10 gram difraksinasikan

menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan kloroform . Fraksinasi dilakukan


dengan corong pisah dengan penambahan 100 mL aquades kemudian dikocok,
setelah itu tambahkan n-heksan 100 ml ke dalam corong pisah (sama banyak), di
kocok sekitar 15 menit dan dibiarkan hingga terbentuk dua lapisan yang terdiri
dari fraksi n-heksan dan fraksi air. Lakukan fraksinasi sebanyak tiga kali
pengulangan hingga larutan n-heksan berwarna jernih. Fraksi n-heksan
dimasukkan ke dalam botol dan ditutup rapat. Kemudian fraksi air difraksinasi
dengan pelarut etil asetat, dikocok sekitar 15 menit, kemudian didiamkan hingga
terbentuk dua lapisan, fraksi air yang berada pada lapisan bawah diambil,
fraksinasi dilakukan dengan tiga kali pengulangan hingga larutan etil asetat
berwarna jernih. Hasil fraksi etil asetat kemudian dimasukkan ke dalam botol dan
ditutup rapat. Kemudian fraksi air difraksinasi lagi dengan pelarut kloroform,
dikocok sekitar 15 menit, kemudian didiamkan hingga terbentuk dua lapisan,
fraksi air yang berada pada lapisan bawah diambil, fraksinasi dilakukan dengan
tiga kali pengulangan hingga larutan kloroform berwarna jernih. Hasil fraksi nheksan, etil asetat, dan kloroform dipekatkan dengan rotary evaporator sehingga
di dapat ekstrak kental dari fraksi n-heksan, etil asetat dan kloroform.

3.3.5 Pemeriksaan Kandungan Metabolit Sekunder Ekstrak Rimpang


Kunyit (Curcuma longa)
a. Pemeriksaan Alkaloid
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan metoda CulvenorFitzgerald, yaitu: ekstrak

dimasukkan

ke dalam tabung reaksi,

ditambahkan 10 mL kloroform dan 10 mL kloroform amoniak 0,02 N,


dikocok, dan ditambahkan 0,5 mL asam sulfat 2 N, dikocok, kemudian
dibiarkan hingga terbentuk dua lapisan dan terjadi pemisahan. Lapisan
asam (atas) diambil dan ditambahkan 12 tetes pereaksi mayer, jika
terbentuk endapan putih menunjukkan hasil positif alkaloid.
b. Pemeriksaan Flavonoid, Steroid, Terpenoid, dan Fenolik
Ekstrak ditambahkan 5 mL air suling dan 5 mL kloroform didalam
tabung reaksi, lalu dikocok kuat dan dibiarkan beberapa saat sampai
terbentuk dua lapisan. Lapisan air digunakan untuk uji senyawa flavonoid
dan fenolik.
Uji flavonoid, beberapa tetes lapisan air pada plat tetes ditambah 12 butir logam magnesium dan beberapa tetes asam klorida pekat.
Terjadinya warna jingga, merah muda sampai merah menandakan adanya
senyawa flavonoid.
Uji fenolik, beberapa tetes lapisan air pada plat tetes ditambah 12
tetes larutan besi (III) klorida 1%. Reaksi positif ditandai dengan
terbentuknya warna biru.
Sedangkan lapisan kloroform digunakan untuk uji senyawa
terpenoid dan steroid. Lapisan kloroform disaring melalui pipet yang berisi
norit. Hasil saringan di pipet 23 tetes dan dibiarkan mengering pada plat
tetes. Setelah kering ditambahkan pereaksi lieberman-bouchard (2 tetes
asam asetat anhidrat dan 1 tetes asam sulfat pekat). Terbentuknya warna
merah sampai merah bata berarti positif adanya terpenoid dan warna hijau
sampai biru berarti positif adanya steroid.
c. Pemeriksaan Saponin

Lapisan air dalam tabung reaksi dikocok. Apabila terbentuk busa


yang bertahan selama 5 menit, berarti positif adanya saponin.
3.3.6

Sterilisasi Alat dan Bahan


Semua alat yang akan digunakan terlebih dahulu dicuci bersih dan

dikeringkan, alat-alat gelas yang memiliki mulut ditutup dengan kapas yang
dibalut kain kasa, lalu semua alat dibungkus dengan kertas koran, kemudian
disterilkan dengan oven pada suhu 170oC selama 60 menit. Spatel dan jarum Ose
disterilkan dengan cara pemijaran diatas nyala api lampu spiritus selama 20 detik.
Alat-alat yang terbuat dari plastik direndam dalam alkohol 70%. Semua
pengerjaan dilakukan secara teknik aseptik.
3.3.7

Pembuatan Media NA
Sebanyak 20 gram serbuk medium Nutrien Agar (NA), dimasukkan ke

dalam erlenmeyer yang berisi 1 liter aquadest dan dipanaskan sampai larut hingga
sempurna. Mulut erlenmenyer ditutup dengan kain kasa dan disterilkan dalam
autoklaf pada suhu 121 C selama 15 menit (Lay, 1994).
3.3.8

Peremajaan Bakteri
Peremajaan dilakukan dengan memindahkan satu Ose bakteri dari stok

murni kedalam medium NA diinkubasi pada suhu 37 C selama 18-24 jam.


3.3.9 Pembuatan Suspensi Bakteri Uji
Koloni bakteri uji disuspensikan dalam NaCl fisiologis dengan cara
mengencerkannya dalam tabung reaksi dan dihomogenkan. Jumlah bakteri dalam
suspensi diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis sehingga diperoleh
suspensi dengan transmitan 25% pada panjang gelombang 580 nm (Lay, 1994).
3.3.10 Uji Aktivitas Antibakteri
Media inokulum disiapkan, kemudian cakram ditetesi larutan uji 10 l
ditanamkan menggunakan pinset steril. Cawan Petri ditutup, lalu diinkubasi pada
suhu 37 oC selama 18-24 jam. Diamati daerah hambatan pertumbuhan bakteri uji

yang terjadi dan diukur diameter hambatan yang terbentuk dengan jangka sorong.
Kontrol negatif digunakan kertas cakram steril yang ditetesi dengan 10 l pelarut
yang digunakan, dan kontrol positif digunakan cakram ciprofloxacin.
3.3.11 Analisis Data
Untuk uji antibakteri data yang diperoleh dalam bentuk daerah diameter
hambat dan disajikan dalam bentuk tabel dan gambar.