Anda di halaman 1dari 26

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Tuberkulosis
II.1.1. Definisi
Tuberkulosis

adalah

penyakit

yang

disebabkan

oleh

infeksi

Mycobacterium tuberculosis complex. (5)


II.1.2. Etiologi
Bakteri Mycobacterium tuberculosis berbentuk batang lurus atau sedikit
melengkung, tidak berspora dan tidak berkapsul. Bakteri ini berukuran lebar 0,3
0,6 m dan panjang 1 4 m. Dinding bakteri M. tuberculosis sangat kompleks,
terdiri dari lapisan lemak cukup tinggi (60%) dengan penyusun utama dinding
selnya adalah asam mikolat, lilin kompleks, trehalosa dimikolat dan
mycobacterial sulfolipids yang berperan dalam virulensi. Unsur lain yang terdapat
pada dinding sel bakter tersebut adalah polisakarida seperti arabinogalaktan dan
arabinomanan. Struktur dinding sel yang kompleks tersebut menyebabkan bakteri
M.tuberculosis bersifat tahan asam, (5)
Bakteri M. tuberculosis bersifat tahan terhadap suhu rendah sehingga
dapat bertahan hidup dalam jangka waktu lama pada suhu antara 4 C hingga
70 C. Kuman ini juga sangat peka terhadap panas, sinar matahari dan sinar
ultraviolet. Paparan langsung terhadap sinar ultraviolet, sebagian besar kuman
akan mati dalam waktu beberapa menit. Dalam dahak pada suhu antara 30 37 C
akan mati dalam waktu lebih kurang 1 minggu. (2)
II.1.3. Penularan
Sumber penularan adalah pasien Tuberkulosis Basil Tahan Asam (TBC
BTA) positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan
sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan di mana
percikan dahak berada dalam waktu yang lama. (4)

Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari


langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam
dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan
oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat
kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang
memungkinkan

seseorang

terpajan

kuman

tuberkulosis

ditentukan

oleh

konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. (4)
II.1.4. Patogenesis
II.1.4.1. Infeksi Primer
Infeksi primer dapat terjadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan
kuman TBC. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat
melewati sistem pertahanan mukosilier bronkus, dan terus berjalan sehingga
sampai di alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai pada saat kuman TBC
berhasil berkembang biak dengan cara pembelahan diri di paru, yang
mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman
TBC ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru, dan ini disebut sebagai kompleks
primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer
adalah sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya
perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. (6,7)
Kelanjutan setelah infeksi primer tergantung dari banyaknya kuman yang
masuk dan besarnya respon daya tahan tubuh (imunitas seluler). Pada umumnya
reaksi daya tahan tersebut dapat menghentikan perkembangan kuman TBC.
Meskipun demikian, ada beberapa kuman yang menetap sebagai kuman persister
atau dormant (tidur). Kadang-kadang daya tahan tubuh tidak mampu
menghentikan perkembangan kuman, akibatnya dalam beberapa bulan, yang
bersangkutan akan menjadi pasien TBC. Masa inkubasi , yaitu waktu yang
diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan.(6,7)
II.1.4.2. Tuberkulosis Pasca Primer
Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau
tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat

terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca
primer adalah kerusakan paru yang luas dengan terjadinya kavitas atau efusi
pleura.(6,7)
II.1.5. Tanda dan Gejala
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala
respiratorik (atau gejala organ yang terlibat) dan gejala sistemik. (5)
1. Gejala respiratorik
Batuk 3 minggu
Batuk darah
Sesak napas
Nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala sampai
gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Bila bronkus belum terlibat
dalam proses penyakit, maka penderita mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk
yang pertama terjadi karena iritasi bronkus, selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang dahak ke luar.
2. Gejala sistemik
Demam
Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam,
Anoreksia, berat badan menurun
II.1.6. Pemeriksaan Fisik
Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung luas kelainan
struktur paru. Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit umumnya tidak
(atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di
daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior , serta daerah
apex lobus inferior. Pada pemeriksaan jasmani dapat ditemukan antara lain suara
napas bronkial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan
paru, diafragma dan mediastinum. (5)
II.1.7. Pemeriksaan Bakteriologik
Diagnosis TBC paru pada orang dewasa dapat ditegakkan dengan
ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil

pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga spesimen SPS
(Sewaktu-Pagi-Sewaktu) BTA hasilnya positif. Bila hanya satu spesimen yang
positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut, yaitu foto rontgen dada atau
pemeriksaan dahak SPS diulang. Bila hasil rontgen mendukung TBC, maka
pasien didiagnosis sebagai pasien TBC BTA positif. Namun bila hasil rontgen
tidak mendukung TBC, maka pemerikasaan dahak SPS diulangi.
Apabila fasilitas memungkinkan, maka dapat dilakukan pemeriksaan lain,
misalnya biakan. Bila ketiga spesimen dahak negatif, diberikan antibiotik
spektrum luas (misalnya Kotrimoksasol atau Amoksisilin) selama 1-2 minggu.
Bila tidak ada perubahan, namun gejala klinis tetap mencurigakan TBC, ulangi
pemeriksaan dahak SPS. Bila hasil SPS positif, didiagnosis sebagai pasien TBC
BTA positif. Namun hasil SPS tetap negatif, lakukan pemeriksaan foto rontgen.
II.1.8. Pemeriksaan Radiologik
Apabila dari 3 kali pemeriksaan BTA negatif, sedangkan secara klinis
mendukung sebagai TBC, perlu dilakukan pemeriksaan rontgen, tetapi belum
merupakan diagnosis pasti kelainan-kelainan yang dijumpai pada rontgen thorax
mungkin dapat disebabkan oleh TBC atau oleh sejumlah keadaan lain, tidak
terlalu spesifik untuk TBC. Misalnya pada beberapa orang yang sebelumnya
menderita TBC dan sekarang sudah sembuh. Pemeriksaan ini mungkin berguna
pada pasien-pasien suspek yang belum pernah diobati sebelumnya dengan hasil
pemeriksaan dahaknya negatif.
Pemeriksaan standar ialah foto thorax PA dengan atau tanpa foto lateral.
Pemeriksaan lain atas indikasi, seperti foto apiko lordotik, oblique, CT-scan.
Gambar radiologik yang dicurigai sebagai lesi TBC aktif adalah bayangan
berawan/noduler di segmen apikal dan posterior lobus atau segmen superior lobus
bawah, kavitas terutama lebih dari satu dikelilingi oleh bayangan opak berawan
atau noduler, bayangan bercak milier, efusi pleura unilateral, fibrotik pada segmen
apikal dan atau posterior lobus atas, kalsifikasi atau fibrotik, kompleks ranke atau
fibrothoraks dan atau penebalan pleura.

II.1.9. Diagnosis
Tersangka pasien TB adalah seseorang yang mempunyai keluhan atau
gejala klinis mendukung TB ( sebelumnya dikenal sebagai suspek TB )
Pasien TB berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan bakteriologis
adalah seorang pasien TB yang hasil pemeriksaan sediaan biologinya positif
dengan pemeriksaan mikroskopis, biakan atau diagnostik cepat yang diakui oleh
WHO (misal : GeneXpert). Semua pasien yang memenuhi definisi ini harus
dicatat tanpa memandang apakah pengobatan TB sudah dimulai atau belum.
Termasuk dalam tipe pasien tersebut adalah :

Pasien TB paru BTA positif


Pasien TB yang hasil pemeriksaan sediaan dahaknya positif dengan
cara pemeriksaan mikroskopis langsung, biakan atau tes diagnostik
cepat (misalnya GeneXpert)

Pasien TB berdasarkan diagnosis klinis adalah seseorang yang memulai


pengobatan sebagai pasien TB namun tidak memenuhi definisi dasar diagnosis
berdasarkan konfirmasi hasil pemeriksaan bakteriologis. Termasuk dalam tipe
pasien ini adalah :

Pasien TB paru BTA negatif dengan hasil foto toraks sangat

mendukung gambaran TB
Pasien TB ekstra paru

tanpa

hasil

konfirmasi

pemeriksaan

laboratorium
Pasien TB dengan diagnosis klinis apabila kemudian terbukti hasil
pemeriksaan laboratorium BTA positif (sebelum atau setelah menjalani
pengobatan harus diklasifikasikan kembali sebagai pasien TB dengan konfirmasi
hasil pemeriksaan bakteriologis sebagaimana definisi pasien tersebut di atas (2).
Menurut WHO tahun 1991, kriteria pasien TB paru adalah sebagai berikut:
Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas (5) :
1. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
a. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil
BTA positif.
b. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif
dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.

c. Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif


dan biakan positif.
2. Tuberkulosis paru BTA (-) adalah:
a. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif,
gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis
paru.
b. Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan
biakan MTB positif
II.1.10. Klasifikasi
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu (5):
1.Kasus baru
Pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT < 1 bulan
2.Kasus kambuh
Pasien TB yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan TB dan telah
dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian kembali lagi
berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan positif
3.Kasus defaulted atau drop out
Pasien yang telah menjalani pengobatan 1 bulan dan tidak mengambil
obat selama 2 bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatannya
selesai.
4.Kasus gagal pengobatan
Pasien dengan BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan) atau
akhir pengobatan.
5.Kasus kronik
Pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih (+) setelah selesai
pengobatan ulang dengan pengobatan kategori 2 dengan pengawasan yang
baik.
6.Kasus bekas TB
Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan
gambaran radiologi paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto
serial menunjukkan gambaran yang menetap.

II.1.11. Penatalaksanaan Tuberkulosis


II.1.11.1. Tujuan Pengobatan
a.
b.
c.
d.

Menyembuhkan penderita
Mencegah kekambuhan
Menurunkan tingkat penularan
Mencegah kematian

II.1.11.2. Pengobatan Non-Medikamentosa


a. Menghindari iritan yang memicu nyeri tenggorokan atau batuk misalnya
goreng-gorengan, makanan pedas
b. Konsumsi cairan yang banyak
c. Berhenti merokok dan konsumsi alkohol
II.1.11.3. Pengobatan Medikamentosa
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3
bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari
paduan obat utama dan tambahan.
II.1.11.3.1. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Obat yang dipakai :
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah:
Rifampisin
INH
Pirazinamid
Streptomisin
Etambutol
2. Kombinasi dosis tetap (Fixed dose combination)
Kombinasi dosis tetap ini terdiri dari :

Empat obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150

mg, isoniazid 75 mg, pirazinamid 400 mg dan etambutol 275 mg dan


Tiga obat antituberkulosis dalam satu tablet, yaitu rifampisin 150 mg,

isoniazid 75 mg dan pirazinamid 400 mg


3. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
Kanamisin
Kuinolon
Obat lain masih dalam penelitian ; makrolid, amoksilin + asam
klavulanat

Derivat rifampisin dan INH

Dosis OAT

Rifampisin . 10 mg/ kg BB, maksimal 600mg 2-3x/ minggu atau


BB > 60 kg : 600 mg
BB 40-60 kg : 450 mg
BB < 40 kg : 300 mg
Dosis intermiten 600 mg / kali

INH 5 mg/kg BB, maksimal 300mg, 10 mg /kg BB 3 x seminggu, 15


mg/kg BB 2 x seminggu atau 300 mg/hari untuk dewasa. lntermiten : 600

mg / kali
Pirazinamid : fase intensif 25 mg/kg BB, 35 mg/kg BB 3 x seminggu, 50
mg /kg BB 2 X seminggu atau :
BB > 60 kg : 1500 mg
BB 40-60 kg : 1 000 mg
BB < 40 kg : 750 mg

Etambutol : fase intensif 20mg /kg BB, fase lanjutan 15 mg/kg BB,
30mg/kg BB 3x seminggu, 45 mg/kg BB 2 x seminggu atau :
BB >60kg : 1500 mg
BB 40 -60 kg : 1000 mg
BB < 40 kg : 750 mg
Dosis intermiten 40 mg/ kgBB/ kali

Streptomisin:15mg/kgBB atau
BB >60kg : 1000mg
BB 40 - 60 kg : 750 mg
BB < 40 kg : sesuai BB

Kombinasi dosis tetap


Rekomendasi WHO 1999 untuk kombinasi dosis tetap, penderita hanya
minum obat 3-4 tablet sehari selama fase intensif, sedangkan fase lanjutan
dapat menggunakan kombinasi dosis 2 obat antituberkulosis seperti yang
selama ini telah digunakan sesuai dengan pedoman pengobatan. Pada
kasus yang mendapat obat kombinasi dosis tetap tersebut, bila mengalami

10

efek samping serius harus dirujuk ke rumah sakit / fasiliti yang mampu
menanganinya.
II.1.11.3.2. Paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:

TB paru (kasus baru), BTA positif atau lesi luas


Paduan obat yang diberikan : 2 RHZE / 4 RH
Alternatif : 2 RHZE / 4R3H3 atau (program P2TB) 2 RHZE/ 6HE
Paduan ini dianjurkan untuk
a. TB paru BTA (+), kasus baru
b. TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologik lesi luas (termasuk
luluh paru)
c. TB di luar paru kasus berat
Pengobatan fase lanjutan, bila diperlukan dapat diberikan selama 7 bulan,
dengan paduan 2RHZE / 7 RH, dan alternatif 2RHZE/ 7R3H3, seperti
pada keadaan:
a. TB dengan lesi luas
b. Disertai penyakit komorbid (Diabetes Melitus, Pemakaian obat
imunosupresi / kortikosteroid)
c. TB kasus berat (milier, dll)
Bila ada fasiliti biakan dan uji resistensi, pengobatan disesuaikan dengan
hasil uji resistensi

TB Paru (kasus baru), BTA negatif


Paduan obat yang diberikan : 2 RHZ / 4 RH
Alternatif : 2 RHZ/ 4R3H3 atau 6 RHE
Paduan ini dianjurkan untuk :
a. TB paru BTA negatif dengan gambaran radiologik lesi minimal
b. TB di luar paru kasus ringan

TB paru kasus kambuh


Pada TB paru kasus kambuh minimal menggunakan 4 macam OAT pada
fase intensif selama 3 bulan (bila ada hasil uji resistensi dapat diberikan
obat sesuai hasil uji resistensi). Lama pengobatan fase lanjutan 6 bulan

11

atau lebih lama dari pengobatan sebelumnya, sehingga paduan obat yang
diberikan : 3 RHZE / 6 RH
Bila tidak ada / tidak dilakukan uji resistensi, maka alternatif diberikan
paduan obat : 2 RHZES/1 RHZE/5R3H3E3 (Program P2TB)

TB Paru kasus gagal pengobatan


Pengobatan sebaiknya berdasarkan hasil uji resistensi, dengan minimal
menggunakan 4 -5 OAT dengan minimal 2 OAT yang masih sensitif
( seandainya H resisten, tetap diberikan). Dengan lama pengobatan
minimal selama 1 2 tahun. Menunggu hasil uji resistensi dapat diberikan
dahulu 2 RHZES , untuk kemudian dilanjutkan sesuai uji resistensi
-

Bila tidak ada / tidak dilakukan uji resistensi, maka alternatif


diberikan paduan obat : 2 RHZES/1 RHZE/5H3R3E3 (Program

P2TB)
Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan

hasil yang optimal


Sebaiknya kasus gagal pengobatan dirujuk ke ahli paru

TB Paru kasus lalai berobat


Penderita TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali
sesuai dengan kriteria sebagai berikut :
-

Penderita yang menghentikan pengobatannya < 2 minggu,

pengobatan OAT dilanjutkan sesuai jadwal


Penderita menghentikan pengobatannya 2 minggu
1) Berobat 4 bulan , BTA negatif dan klinik, radiologik negatif,
pengobatan OAT STOP
2) Berobat > 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal
dengan paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu
pengobatan yang lebih lama
3) Berobat < 4 bulan, BTA positif : pengobatan dimulai dari awal
dengan paduan obat yang sama
4) Berobat < 4 bulan , berhenti berobat > 1 bulan , BTA negatif,
akan tetapi klinik dan atau radiologic positif : pengobatan
dimulai dari awal dengan paduan obat yang sama

12

5) Berobat < 4 bulan, BTA negatif, berhenti berobat 2-4 minggu


pengobatan diteruskan kembali sesuai jadwal.

TB Paru kasus kronik


- Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji
resistensi, berikan RHZES. Jika telah ada hasil uji resistensi,
sesuaikan dengan hasil uji resistensi (minimal terdapat 2 macam
OAT yang masih sensitif dengan H tetap diberikan walaupun
resisten) ditambah dengan obat lain seperti kuinolon, betalaktam,
-

makrolid
Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup
Pertimbangkan pembedahan untuk meningkatkan kemungkinan

penyembuhan
Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke ahli paru

II.1.11.4. Upaya Pengendalian TB


Sejalan dengan meningkatnya kasus TB, pada awal tahun 1990-an WHO
dan IUATLD mengembangkan strategi pengendalian TB yang dikenal sebagai
strategi DOTS (Directly Observed Treatment Short-course) yang terdiri dari 5
komponen kunci, yaitu (2):

Komitmen politis, dengan peningkatan dan kesinambungan pendanaan.


Penemuan kasus melalui pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin

mutunya.
Pengobatan yang standar, dengan supervisi dan dukungan bagi pasien.
Sistem pengelolaan dan ketersediaan OAT yang efektif.
Sistem monitoring, pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan
penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program
Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas

diberikan kepada pasien TBC tipe menular. Strategi ini akan memutuskan
penularan TBC dan dengan demikian menurunkan insidens TBC di masyarakat.
Pada tahun 2013 muncul usulan dari beberapa negara anggota WHO yang
mengusulkan adanya strategi baru untuk mengendalikan TB yang mampu
menahan laju infeksi baru, mencegah kematian akibat TB, mengurangi dampak
ekonomi akibat TB dan mampu meletakkan landasan ke arah eliminasi TB.

13

Eliminasi TB akan tercapai bila angka insidensi TB berhasil diturunkan mencapai


1 kasus TB per 1 juta penduduk, sedangkan kondisi yang memungkinkan
pencapaian eliminasi TB (pra eliminasi) adalah bila angka insidensi mampu
dikurangi menjadi 10 per 100.000 penduduk. Dengan angka insidensi global tahun
2012 mencapai 122 per 100.000 penduduk dan penurunan angka insidensi sebesar
1-2% setahun maka TB akan memasuki kondisi pra eliminasi pada tahun 2160.
Untuk itu perlu ditetapkan strategi baru yang lebih komprehensif bagi
pengendalian TB secara global. (2)
Pada sidang WHA ke 67 tahun 2014 ditetapkan resolusi mengenai strategi
pengendalian TB global pasca 2015 yang bertujuan untuk menghentikan epidemi
global TB pada tahun 2035 yang ditandai dengan :
1. Penurunan angka kematian akibat TB sebesar 95% dari angka tahun 2015.
2. Penurunan angka insidensi TB sebesar 90% (menjadi 10/100.000
penduduk)
Strategi tersebut dituangkan dalam 3 pilar strategi utama dan komponenkomponenya yaitu (2):
1. Integrasi layanan TB berpusat pada pasien dan upaya pencegahan TB
a. Diagnosis TB sedini mungkin, termasuk uji kepekaan OAT bagi semua
dan penapisan TB secara sistematis bagi kontak dan kelompok
populasi beresiko tinggi.
b. Pengobatan untuk semua pasien TB, termasuk untuk penderita resistan
obat dengan disertai dukungan yang berpusat pada kebutuhan pasien
(patient-centred support)
c. Kegiatan kolaborasi TB/HIV dan tata laksana komorbid TB yang lain
d. Upaya pemberian pengobatan pencegahan pada kelompok rentan dan
beresiko tinggi serta pemberian vaksinasi untuk mencegah TB.
2. Kebijakan dan sistem pendukung yang berani dan jelas.
a. Komitmen politis yang diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan
layanan dan pencegahan TB.
b. Keterlibatan aktif masyarakat, organisasi sosial kemasyarakatan dan
pemberi layanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta.
c. Penerapan layanan kesehatan semesta (universal health coverage) dan
kerangka kebijakan lain yang mendukung pengendalian TB seperti
wajib lapor, registrasi vital, tata kelola dan penggunaan obat rasional
serta pengendalian infeksi.

14

d. Jaminan sosial, pengentasan kemiskinan dan kegiatan lain untuk


mengurangi dampak determinan sosial terhadap TB.
3. Intensifikasi riset dan inovasi
a. Penemuan, pengembangan dan penerapan secara cepat alat, metode
intervensi dan strategi baru pengendalian TB.
b. Pengembangan riset untuk optimalisasi pelaksanaan kegiatan dan
merangsang inovasi-inovasi baru untuk mempercepat pengembangan
program pengendalian TB.
II.1.11.5. Metode Pencarian Pasien Tersangka TBC
a. Metoda Pasif
Memeriksa pasien yang datang dengan kemauan sendiri ke
poliklinik atau unit pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas,

pustu) dengan gejala batuk 3 minggu atau lebih.


Memeriksa mereka yang tinggal serumah dengan pasien TBC BTA

positif (terutama anak-anak dan dewasa).


Memeriksa mereka dengan kelainan paru dengan gambaran

mengarah ke tuberkulosis.
Memberi pelatihan kepada petugas poliklinik, dokter, perawat,
bidan dan kepada masyarakat tentang gejala-gejala TBC dan
tentang perlunya memeriksa orang yang mempunyai gejala batuk

yang menetap dan lama untuk datang ke puskesmas terdekat.


b. Metoda aktif
Metoda aktif pencarian pasien TBC yaitu dengan memberikan
penyuluhan kepada masyarakat tentang TBC paru secara aktif dan
mengadakan pengamatan langsung di masyarakat atau mencari mereka
yang mempunyai gejala-gejala TBC paru.
II.1.11.6. Pengawasan Menelan Obat
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan panduan OAT jangka
pendek dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan
diperlukan seorang PMO.8
a. Persyaratan PMO

15

1) Seorang yang dikenal, dipercaya, dan disetujui, baik oleh petugas


kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati
oleh pasien.
2) Seseorang yang tinggal dekat dengan pasien.
3) Bersedia membantu pasien dengan sukarela.
4) Bersedia dilatih dan mendapat penyuluhan bersama-sama dengan
pasien.
b. Siapa yang bisa jadi PMO
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa,
perawat, juru imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada petugas kesehatan
yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari keder kesehatan, PKK,
anggota keluarga, dan tokoh masyarakat lainnya.
c. Tugas seorang PMO
1) Mengawasi pasien TB agar menelan obat secara teratur sampai
selesai pengobatan.
2) Memberi dorongan pada pasien agar mau berobat secara teratur.
3) Mengingatkan pasien agar memeriksakan ulang dahaknya pada
waktu yang telah ditentukan.
4) Memberi penyuluhan kepada anggota keluarga pasien TB yang
mempunyai gejala-gejala mencurigakan TB untuk segera
memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan.
II.2. Pendekatan Kedokteran Keluarga
II.2.1. Definisi Kedokteran Keluarga
Ilmu kedokteran keluarga adalah ilmu kedokteran yang khusus
mempelajari pelayanan kesehatan untuk pasien dan keluarganya secara
berkesinambungan dan komprehensif. Dokter keluarga adalah tenaga kesehatan
tempat kontak pertama pasien untuk menyelesaikan semua masalah kesehatan
yang dihadapi, tanpa memandang jenis penyakit, organologi, golongan usia, dan
jenis kelamin sedini dan sedapat mungkin, secara menyeluruh, paripurna,
berkesinambungan, dan dalam koordinasi serta kolaborasi dengan profesional
kesehatan lainnya, dengan menggunakan prinsip pelayanan yang efektif dan

16

efisien serta menjunjung tinggi tanggung jawab profesional, hukum, etika dan
moral. Layanan yang diselenggarakannya (wewenang) sebatas kompetensi dasar
kedokteran yang diperolehnya selama pendidikan kedokteran dasar ditambah
dengan kompetensi dokter layanan primer yang diperoleh melalui CME/CPD
terstruktur dalam proses resertifikasi.11
Dokter keluarga berperan sebagai ujung tombak pelayanan kedokteran
primer Indonesia, diharapkan mereka dapat bercakap-cakap dalam bahasa
pasiennya, dalam suasana kekeluargaan, dan senantiasa siap melayani kebutuhan
pasiennya baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit. Pasien dalam
praktek kedokteran keluarga adalah pengguna jasa pelayanan kesehatan yang
datang atau dirujuk untuk memperoleh pertolongan medis maupun non medis
yang berkaitan dengan masalah kesehatan yang dihadapinya. Pasien ada yang
mempunyai keluhan kesehatan, ada pula yang tidak mempunyai keluhan
kesehatan.11,12
II.2.2. Kriteria Pelayanan Kesehatan Kedokteran Keluarga
Kriteria pelayanan kesehatan yang harus terpenuhi untuk mewujudkan
keadaan sehat diantaranya adalah tersedianya pelayanan kesehatan (available),
tercapai (accesible), terjangkau (afordable), berkesinambungan (continue),
menyeluruh (comprehensive), terpadu (integrated), dan bermutu (quality).
Pengertian pelayanan kesehatan disini mencakup bidang yang sangat luas. Secara
umum dapat diartikan sebagai setiap upaya yang diselenggarakan secara sendiri
atau bersama-sama dalam suatu organisasi untuk meningkatkan dan memelihara
kesehatan, mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan
perorangan, keluarga, kelompok, dan ataupun masyarakat.12
Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, yaitu
pengetahuan klinik yang diimplementasikan pada komunitas keluarga. Dalam
memberikan pelayanan, idealnya setiap dokter dan khususnya dokter keluarga,
menerapkan ilmu ini.
Kedokteran keluarga memiliki kekhususan yaitu : 12
1. Komprehensif dalam ilmu kedokteran, dalam arti tidak membatasi disiplin
ilmu kedokteran tertentu.
2. Komprehensif dalam pelayanan kesehatan.

17

3. Sasarannya adalah individu yang bermasalah atau yang sakit, namun di


samping menganalisis fungsi organ tubuh secara menyeluruh, juga fungsi
keluarga.
4. Disusun secara komunal, sehingga setiap dokter dapat memanfaatkan
sesuai kebutuhan.
5. Bersifat universal terhadap manusia dan lingkungan.

II.2.3. Karakteristik Kedokteran Keluarga : 12,13


1. Melayani penderita tidak hanya sebagai orang perorang melainkan sebagai
anggota satu keluarga dan bahkan sebagai anggota masyarakat sekitarnya.
2. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan memberikan
perhatian kepada penderita secara lengkap dan sempurna, jauh melebihi
jumlah keseluruhan keluhan yang disampaikan.
3. Mengutamakan pelayanan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan
seoptimal mungkin, mencegah timbulnya penyakit dan mengenal serta
mengobati.
4. Mengutamakan pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan dan
berusaha memenuhi kebutuhan tersebut sebaik-baiknya.
5. Menyediakan dirinya sebagai tempat pelayanan kesehatan tingkat pertama
dan bertanggung jawab pada pelayanan kesehatan lanjutan.
Ciri pelayanan kedokteran yang baik adalah:
1. Terstruktur (Stuctured)
2. Berkeadilan (Equity)
3. Merata (Equality)
4. Terjangkau (Affordable)
5. Aman (Safe)
6. Bermutu (Quality)
7. Dalam Satu Kesisteman (Terpadu)
II.2.4. Tujuan dan Manfaat Pelayanan Dokter Keluarga
Tujuan pelayanan dokter keluarga ialah terwujudnya keadaan sehat bagi
setiap anggota keluarga, sedangkan tujuan khusus : 12,13
1. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang
lebih efektif.

18

2. Terpenuhinya kebutuhan keluarga akan pelayanan kedokteran yang


lebih efisien.
Manfaat Kedokteran Keluarga : 12
1. Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit sebagai manusia
seutuhnya, bukan hanya terhadap keluhan yang disampaikan.
2. Dapat diselenggarakan pelayanan pencegahan penyakit dan dijamin
kesinambungan pelayanan kesehatan.
3. Apabila dibutuhkan pelayanan spesialis, pengaturannya akan lebih baik
dan terarah, terutama ditengah-tengah kompleksitas pelayanan
kesehatan saat ini.
4. Dapat diselenggarakan pelayanan kesehatan yang terpadu sehingga
penanganan suatu masalah kesehatan tidak menimbulkan berbagai
masalah lainnya.
5. Jika seluruh anggota keluarga ikut serta dalam pelayanan maka segala
keterangan tentang keluarga tersebut baik keterangan kesehatan
ataupun keterangan keadaan sosial dapat dimanfaatkan dalam
menangani masalah kesehatan yang sedang dihadapi.
6. Dapat diperhitungkan berbagai faktor yang mempengaruhi timbulnya
penyakit, termasuk faktor sosial dan psikologis.
7. Dapat diselenggarakan penanganan kasus penyakit dengan tatacara
yang lebih sederhana dan tidak begitu mahal dan karena itu akan
meringankan biaya kesehatan.
8. Dapat dicegah pemakaian berbagai peralatan kedokteran canggih yang
memberatkan biaya kesehatan.
II.2.5. Ruang Lingkup Pelayanan Dokter Keluarga
Ruang lingkup pelayanan dokter keluarga mencakup bidang amat luas
sekali. Jika disederhanakan secara umum dapat dibedakan atas dua macam : 13
1. Kegiatan yang dilaksanakan
Pelayanan yang diselenggarakan oleh dokter keluarga harus memenuhi
syarat

pokok

yaitu

pelayanan

kedokteran

menyeluruh

cmc

(comprehensive medical services). Karakteristik cmc :


a. Jenis pelayanan yang diselenggarakan mencakup semua jenis
pelayanan kedokteran yang dikenal di masyarakat.

19

b.

Tata cara pelayanan tidak diselenggarakan secara terkotak-kotak


ataupun terputus-putus melainkan diselenggarakan secara terpadu
(integrated) dan berkesinambungan (continu).
Pusat perhatian pada waktu menyelenggarakan

c.

pelayanan

kedokteran tidak memusatkan perhatiannya hanya pada keluhan dan


masalah kesehatan yang disampaikan penderita saja, melainkan
d.

pada penderita sebagai manusia seutuhnya.


Pendekatan pada penyelenggaraan pelayanan tidak didekati hanya
dari satu sisi saja, melainkan dari semua sisi yang terkait
(comprehensive approach) yaitu sisi fisik, mental dan sosial (secara
holistik).

2. Sasaran Pelayanan
Sasaran pelayanan dokter keluarga adalah kelurga sebagai suatu unit.
Pelayanan dokter keluarga harus memperhatikan kebutuhan dan tuntutan
kesehatan keluarga sebagai satu kesatuan, harus memperhatikan
pengaruhmasalah kesehatan yang dihadapi terhadap keluarga dan harus
memperhatikan pengaruh keluarga terhadap masalah kesehatan yang
dihadapi oleh setiap anggota keluarga.
Batasan pelayanan kedokteran keluarga ada banyak macamnya. Dua
diantaranya yang dipandang cukup penting adalah: 12,13
a. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan kedokteran yang
menyeluruh yang memusatkan pelayanannya kepada keluarga
sebagai satu unit, dimana tanggung jawab dokter terhadap
pelayanan kesehatan tidak dibatasi oleh golongan umur atau jenis
kelamin, tidak juga oleh organ tubuh atau jenis penyakit tertentu
saja.
b. Pelayanan dokter keluarga adalah pelayanan spesialis yang luas
yang bertitik tolak dari suatu pokok ilmu yang dikembangkan dari
berbagai disiplin ilmu lainnya terutama ilmu penyakit dalam, ilmu
kesehatan anak, ilmu kebidanan dan kendungan, ilmu bedah serta
ilmu kedokteran jiwa yang secara keseluruhan membentuk satu
kesatuan yang terpadu, diperkaya dengan ilmu perilaku, biologi
dan ilmu-ilmu klinik, dan karenanya mampu mempersiapkan
setiap

dokter

agar

mempunyai

peranan

unik

dalam

20

menyelenggarakan penatalaksanaan pasien, penyelesaian masalah,


pelayanan konseling serta dapat bertindak sebagai dokter pribadi
yang mengkoordinasikan seluruh pelayanan kesehatan.
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga banyak
macamnya. Secara umum dapat dibedakan atas tiga macam :
a. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
hanya pelayanan rawat jalan saja. Dokter yang menyelenggarakan
praktek dokter keluarga tersebut tidak melakukan pelayanan kunjungan
dan perawatan pasien di rumah atau pelayanan rawat inap di rumah
sakit. Semua pasien yang membutuhkan pertolongan diharuskan
datang ke tempat praktek dokter keluarga. Jika kebetulan pasien
tersebut memerlukan pelayanan rawat inap, pasien tersebut dirujuk ke
rumah sakit.
b. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien dirumah.
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
mencakup pelayanan rawat jalan serta pelayanan kunjungan dan
perawatan

pasien

di

rumah.Pelayanan

bentuk

ini

lazimnya

dilaksanakan oleh dokter keluarga yang tidak mempunyai akses


dengan rumah sakit.
c. Menyelenggarakan pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien di rumah, serta pelayanan rawat inap di rumah sakit.
Pelayanan yang diselenggarakan pada praktek dokter keluarga
telah mencakup pelayanan rawat jalan, kunjungan dan perawatan
pasien di rumah, serta perawatan rawat inap di rumah sakit. Pelayanan
bentuk ini lazimnya diselenggarakan oleh dokter keluarga yang telah
berhasil menjalin kerja sama dengan rumah sakit terdekat dan rumah
sakit tersebut memberi kesempatan kepada dokter keluarga untuk
merawat sendiri pasiennya di rumah sakit.
II.2.6. Diagnosis Holistik 13
Merupakan salah satu standar dalam praktik pelayanan kedokteran
keluarga dimana melihat individu sebagai bagian dari komunitasnya (keluarga,

21

tempat kerja, budaya, negara) dan mampu memahami bahwa pasien merupakan
seorang makhluk yang utuh yang terdiri dari fisik, psikis dan jiwa (body, mind
and spirit).
Diagnosis adalah kegiatan untuk mengidentifikasi dan menentukan dasar
dan penyebab penyakit atau luka dari keluhan, riwayat penyakit pasien dan hasil
pemeriksaan penunjang. Sedangkan Holistik memandang manusia sebagai
makhluk biopsikososial pada ekosistemnya, Sebagai makhluk biologis manusia
merupakan sistem organ yang terbentuk dari jaringan serta sel-sel yang kompleks
fungsinya dimana manusia terdiri dari komponen organ, nutrisi, kejiwaan dan
perilaku.
Diagnostik holistik merupakan proses diagnosis secara sistematis, dengan
kerangka kerja yang memperhitungkan aspek keluhan, diagnosis klinis, masalah
perilaku, pemicu yang ada dalam keluarga dan kehidupan sosialnya.Kegiatan
untuk mengindentifikasi dan menentukan dasar dan peny, sebab penyakit
(disease), luka (injury) serta kegawatan yang diperoleh dari keluhan, riwayat
penyakit pasien, pemeriksaan, hasil pemeriksaan penunjang dan risiko internal
dan eksternal dalam kehidupan pasien dan keluarganya.
II.2.7. Aspek dalam Diagnostik Holistik 13
1. Aspek Personal: alasan kedatangan, harapan, kekhawatiran dan persepsi
pasien
a. Keluhan utama (reason of encounter) /simptom/ sindrom klinis
yang ditampilkan
b. Apa yang diharapkan pasien atau keluarganya
c. Apa yang dikhawatirkan pasien atau keluarganya
2. Aspek Klinis: Masalah medis, diagnosis kerja berdasarkan gejala dan
tanda
a. Diagnosis klinis biologis, psikologis, intelektual, nutrisi, sertakan
derajat keparahan
b. Bila diagnosis klinis belum dapat ditegakkan

cukup dengan

diagnosis kerja/ diagnosis banding


c. Diagnosis berdasarkan ICD 10, dan ICPC-2
3. Aspek risiko internal : seperti pengaruh genetik, gaya hidup, kepribadian,
usia, gender
a. Perilaku individu dan gaya hidup (life style) pasien, kebiasaan
yang menunjang terjadinya penyakit, atau beratnya penyakit
b. kebiasaan merokok
c. kebiasaan jajan, kebiasaan makan

22

d. kebiasaan individu mengisi waktu dengan perihal yang negatif


(dietary habits;tinggi lemak, tinggi kalori)
4. Aspek risiko eksternal dan psikososial: berasal dari lingkungan (keluarga,
tempat kerja, tetangga, budaya)
a. Pemicu biopsikososial keluarga dan lingkungan dalam kehidupan
pasien hingga mengalami penyakit seperti yang ditemukan
b. Dukungan keluarga (family support)
c. Tidak ada bantuan/perhatian/ perawatan/ suami & istri, anak,
menantu, cucu atau pelaku rawat lainnya
d. Perilaku makan keluarga (tak masak sendiri), menu keluarga yang
tak sesuai kebutuhan
e. Perilaku tidak menabung / perilaku konsumtif
f. Tidak adanya perencanaan keluarga (tak ada pendidikan anak , tak
ada pengarahan pengembangan karier, tak ada pembatasan jumlah
anak)
g. Masalah perilaku keluarga yang tidak sehat
h. Masalah ekonomi yang mempunyai

pengaruh

terhadap

penyakit/masalah kesehatan yang ada


i. Akses pada pelayanan kesehatan yang mempengaruhi penyakit
(jarak/transportasi/asuransi)
j. Pemicu dari lingkungan fisik (debu, asap rokok)
k. Masalah bangunan dan kepadatan pemukiman yang mempengaruhi
penyakit/masalah kesehatan yang ada
5. Derajat Fungsional: Kualitas Hidup Pasien . Penilaian dengan skor 1 5,
berdasarkan disabiltas dari pasien

23

Gambar II.1. Skala Fungsi Sosial

II.3.1. Definisi Keluarga


Bermacam-macam batasan keluarga, beberapa di antaranya dikemukakan
sebagai berikut:
a. UU No. 10 Tahun 1992, keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat
yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan
anaknya, atau ibu dan anaknya.9
b. Menurut Friedman, keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau
lebih yang satu sama lain saling terkait secara emosional, serta bertempat
tinggal yang sama dalam satu daerah yang berdekatan.10
c. Menurut Goldenberg (1980), keluarga adalah tidak hanya merupakan
suatu kumpulan individu yang bertempat tinggal yang sama dalam satu
ruang fisik dan psikis yang sama saja, tetapi merupakan suatu sistem
sosial alamiah yang memiliki kekayaan bersama, mematuhi peraturan,
peranan, struktur kekuasaan, bentuk komunikasi, tata cara negosiasi,
serta tata cara penyelesaian masalah yang disepakati bersama, yang
memungkinkan berbagai tugas dapat dilaksanakan secara efektif.10

24

II.3.2. Bentuk Keluarga


Menurut Goldenberg, bentuk keluarga terdiri sembilan macam, antara
lain:9,10
a. Keluarga inti (nuclear family)
b. Keluarga besar (extended family)
c. Keluarga campuran (blended family)
d. Keluarga menurut hukum umum (common law family)
e. Keluarga orang tua tunggal
f. Keluarga hidup bersama (commune family)
g. Keluarga serial (serial family)
h. Keluarga gabungan (composive family)
i. Hidup bersama dan tinggal bersama (co habitation family)
II.3.3. Fungsi dan Siklus Keluarga
Berdasarkan peraturan pemerintah No. 21 Tahun 1994 fungsi
keluarga dibagi menjadi delapan jenis, yaitu fungsi keagamaan, fungsi
budaya, fungsi cinta kasih, fungsi melindungi, fungsi reproduksi, fungsi
sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi pembinaan
lingkungan. Apabila fungsi keluarga terlaksana dengan baik, maka dapat
diharapkan terwujudnya keluarga yang sejahtera. Yang dimaksud keluarga
sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah,
mampu memenuhi kehidupan spiritual, dan materiil yang layak.9
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Ogburn (1969), telah
terbukti adanya perubahan pelaksanaan fungsi keluarga. Olehnya
disebutkan, bahwa keluarga memiliki fungsi:9
a.

Fungsi ekonomi

b.

Fungsi pelindungan

c.

Fungsi agama

d.

Fungsi rekreasi

e.

Fungsi pendidikan

25

f.

Fungsi status sosial

8 tahap pokok yang terjadi dalam keluarga (siklus keluarga), yaitu:9,10


a. Tahap awal perkawinan (newly married family)
b. Tahap keluarga dengan bayi (birth of the first child)
c. Tahap keluarga dengan anak usia pra sekolah (family with children in
school)
d. Tahap keluarga dengan anak usia sekolah (family with children in
school)
e. Tahap keluarga dengan anak usia remaja
f. Tahap keluarga dengan anak-anak yang meninggalkan keluarga
g. Tahap orang tua usia menengah
h. Tahap keluarga usia jompo
II.3.4. Arti dan Kedudukan Keluarga dalam Kesehatan
Keluarga memiliki peranan yang cukup penting dalam kesehatan.
Adapun arti dan kedudukan keluarga dalam kesehatan adalah sebagai
berikut:9,10
a. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat dan melibatkan
mayoritas penduduk, bila masalah kesehatan setiap keluarga dapat di
atasi maka masalah kesehatan masyarakat secara keseluruhan akan
dapat turut terselesaikan.
b. Keluarga sebagai suatu kelompok yang mempunyai

peranan

mengembangkan, mencegah, mengadaptasi, dan atau memperbaiki


masalah kesehatan yang diperlukan dalam keluarga, maka pemahaman
keluarga akan membantu memperbaiki masalah kesehatan masyarakat.
c. Masalah kesehatan lainnya, misalnya ada salah satu anggota keluarga
yang sakit akan mempengaruhi pelaksanaan fungsi-fungsi yang dapat
dilakukan oleh keluarga tersbut yang akan mempengaruhi terhadap
pelaksanaan fungsi-fungsi masyarakat secara keseluruhan.

26

d. Keluarga adalah pusat pengambilan keputusan kesehatan yang penting,


yang akan mempengaruhi kebrhasilan layanan kesehatan masyarakat
secara keseluruhan.
e. Keluarga sebagai wadah dan ataupun saluran yang efektif untuk
melaksanakan berbagai upaya dan atau menyampaikan pesan-pesan
kesehatan.

II.4.

Pengkajian Keluarga dengan TBC


Pengkajian yang harus dilakukan pada pasien TBC antara lain :
riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik yang lengkap dilakukan.
Manifestasi klinis seperti demam, anoreksia, penurunan berat badan,
keringat malam, keletihan, batuk dan pembentukan sputum mengharuskan
pengkajian fungsi pernafasan yang lebih menyeluruh. Setiap perubahan
suhu tubuh atau frekuensi pernafasan, jumlah dan warna sekresi, frekuensi
dan batuk parah, dan nyeri dada dikaji. Paru-paru dikaji terhadap
konsolidasi dengan mengevaluasi bunyi nafas, fremitus, egofoni, dan hasil
pemeriksaan perkusi. Pasien juga bisa mengalami pembesaran nodus
limfe, yang terasa sangat nyeri. Kesiapan emosional pasien untuk belajar,
juga persepsi dan pengertiannya tentang tuberkulosis dan pengobatannya
juga dikaji.

II.5.

Prinsip Intervensi Keluarga dengan TBC


Langkah-langkah

dalam pengembangan

rencana

kedokteran

keluarga, yaitu :
1. Bantu keluarga mengenal tentang TBC dengan cara : jelaskan
pengertian TBC, jelaskan penyebab TBC, jelaskan tanda dan gejala
TBC.

27

2. Bantu keluarga mengambil keputusan untuk merawat anggota


keluarga dengan TBC, dengan cara : jelaskan komplikasi dari TBC,
motivasi keluarga dalam mengambil keputusan untuk merawat
anggota keluarga dengan TBC.
3. Bantu keluarga agar mampu merawat anggota keluarga dengan
TBC, dengan cara : jelaskan cara mencegah TBC, jelaskan cara
perawatan anggota keluarga di rumah dengan TBC, ajarkan cara
membuang sputum dengan sputum pot, ajarkan klien tentang diet
tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP).
4. Bantu keluarga memodifikasi lingkungan dengan cara : ajarkan
klien untuk jemur kasur bekas penderita secara teratur 1 minggu
1x, Buka jendela lebar-lebar agar udara segar dan sinar matahari
dapat masuk, ajarkan klien tentang perilaku hidup bersih dan sehat.
5. Bantu klien untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan dengan cara :
jelaskan manfaat dari pelayanan kesehatan, motivasi keluarga
untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan terdekat.

28