Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH KARDIOVAKULER

CHF
(Congestive Heart Failure)

DISUSUN OLEH :
1. DEWI ANGGRAENI

(114075)

2. MAYA ARTI NOVITASARI

(114080)

3. NDARU MULYASARI

(114085)

4. NOVITA RATNANINGTYAS

(114093)

5. NUR ROHMAH

(114094)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
TAHUN AJARAN 2011/2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan terhadap Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
limpahan rahmat serta hidayah-Nya kami sebagai penulis dapat menyelesaikan tugas
pembuatan makalah yang berjudul Makalah Kardiovaskuler CHF (congestive Heart
Failure) guna memenuhi tugas dari mata ajar Kardiovaskuler.
Kami menyadari bahwa dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini tidak
dapat selesai tanpa bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu tidak lupa pula kami
ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu kami demi lancarnya
penyusunan makalah ini.
Makalah ini tersusun dari 3 Bab: Bab I Pendahuluan yang membahas tentang
Latar Belakang, Tujuan penulisan, dan Sistematika Penulisan. Bab II Pembahasan
yang membahas CHF atau yang biasa dikenal dengan istilah gagal jantung. Bab III
Penutup yang menbahas tentang Kesimpulan.
Sebagai penulis kami menyadari bahwa dalam pembuatan dan penyusunan
makalah ini masih banyak kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran
dari semua pihak demi meningkatnya kualitas makalah ini.
Semoga dengan disusunnya makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan
pembaca semuannya.

Klaten,

November 2012

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Klarifikasi
C. Etiologi
D. Faktor Resiko
E. Manivestasi Klinis
F. Patofisiologi
G. Komplikasi
H. Pemeriksaan Diagnostik
I. Penatalaksanaan
J. Asuhan Keperawatan
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Daftar Pustaka

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Saat ini Congestive Hearth Failure (CHF) atau yang biasa disebut gagal
jantung kongestif merupakan satu-satunya penyakit kardiovaskuler yang terus
meningkat insiden dan prevalensinya. Risiko kematian akibat gagal jantung
berkisar antara 5-10% pertahun pada gagal jantung ringan yang akan meningkat
menjadi 30-40% pada gagal jantung berat. Selain itu, gagal jantung merupakan
penyakit yang paling sering memerlukan perawatan ulang di rumah sakit
(readmission) meskipun pengobatan rawat jalan telah diberikan secara optimal (R.
Miftah Suryadipraja).
CHF adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah ke seluruh
tubuh (Ebbersole, Hess, 1998). Risiko CHF akan meningkat pada orang lanjut
usia(lansia) karena penurunan fungsi ventrikel akibat penuaan. CHF ini dapat
menjadi kronik apabila disertai dengan penyakit-penyakit seperti: hipertensi,
penyakit katub jantung, kardiomiopati, dan lain-lain. CHF juga dapat menjadi
kondisi akut dan berkembang secara tiba-tiba pada miokard infark.
CHF merupakan penyebab tersering lansia dirawat di rumah sakit (Miller,1997).
Sekitar 3000 penduduk Amerika menderita CHF. Pada umumnya CHF diderita
lansia yang berusia 50 tahun, Insiden ini akan terus bertambah setiap tahun pada
lansia berusia di atas 50 tahun (Aronow et al,1998). Menurut penelitian, sebagian
besar lansia yang dididiagnosis CHF tidak dapat hidup lebih dari 5 tahun
(Ebbersole, Hess,1998).
Seiring dengan perkembangan ekonomi, kemajuan industri dan teknologi
yang semakin cepat serta perubahan gaya hidup masyarakat menyebabkan potensi
masalah kesehatan pada sistem kardiovaskuler semakin meningkat. Penyakit pada
sistem ini merupakan salah satu penyebab mortalitas dan morbiditas yang cukup
tinggi di dunia. Masalah kesehatan dengan gangguan sistem kardiovaskuler
termasuk didalammya adalah Congestive heart Failure (CHF).

Menurut data WHO tahun 2008 dilaporkan bahwa sekitar lebih dari 6 juta
jiwa penduduk di Amerika teridentifikasi penyakit Congestive Heart Failure
(CHF) dan diperkirakan lebih dari 15 juta kasus baru gagal jantung setiap
tahunnya diseluruh dunia. Insiden penyakit ini meningkat sesuai dengan usia,
berkisar kurang dari l % pada usia kurang dari 50 tahun hingga 5% pada usia 5070 tahun dan 10% pada usia 70 tahun ke atas. Penyakit gagal jantung sangatlah
buruk jika penyebab yang mendasarinya tidak segera ditangani dikarenakan
hampir 50% penderita gagal jantung meninggal dalam kurun waktu 4 tahun dan
50% penderita stadium akhir meninggal dalam kurun waktu 1 tahun
(etd.eprints.ums.ac.id).
Di Indonesia, data dari Departemen Kesehatan tahun 2008 menunjukan
klien yang diopname dengan diagnosis Congestive Heart Failure (CHF) mencapai
14.449 klien. Data statistik yang diperoleh dari bagian medical record, klien yang
dirawat di Ruang Dalam RSUD Kabupaten Indramayu yang menderita
Congestive Heart Failure adalah sebagai berikut :
Tabel. 1.1
Distribusi klien Congestive Heart Failure
Rawat Inap di Ruang Dalam RSUD Kabupaten Indramayu

NO

BULAN

JUMLAH

KLIEN CHF

PROSENTASE

16

15%

1.

Januari 2012

PASIEN
195

2.

Februari 2012

192

20

18,7%

3.

Maret 2012

208

16

15%

4.

April 2012

196

20

18,7%

5.

Mei 2012

197

21

19,6%

6.

Juni 2012
169
14
JUMLAH
1157
107
Sumber : Medical record RSUD Kabupaten Indramayu .

13%
100 %

Berdasarkan data tabel diatas, distribusi klien Congestive Heart Failure


yang rawat inap di Ruang Dalam RSUD Indramayu pada periode bulan JanuariJuni tahun 2012 adalah 107 orang dari 1157 jumlah pasien atau sebesar 10,81%.
Klien Congestive Heart Failure yang dirawat di Ruang Dalam RSUD Kabupaten
Indramayu sudah seharusnya menjadi perhatian khusus dan perlu penanggulangan
cukup serius dari semua pihak baik itu dari petugas kesehatan maupun
masyarakat itu sendiri agar dapat merubah perilaku hidup sehat sehingga
diharapkan dapat mengurangi jumlah klien Congestive Heart Failure.
Mengingat kompleknya masalah yang ditimbulkan, maka penulis tertarik
untuk mengangkat masalah ini dalam sebuah karya tulis ilmiah dengan judul
Asuhan Keperawatan Pada Tn. T Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler:
Congestive Heart Failure Di Ruang Dalam RSUD Kabupaten Indramayu.
B. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Agar mahasiswa dapat mengerti apa yang dimaksud dengan CHF atau yang
biasa dikenal dengan istilah gagal jantung. Serta dapat mengerti asuhan
keperawatan untuk klien dengan CHF / gagal jantung. Selain itu tujuan dari
penulisan

makalah

ini

adalah

untuk

memenuhi

Kardiovaskuler.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang :
a. Pengertian dari CHF / Gagal jantung
b. Klarifikasi dari CHF / Gagal jantung
c. Etiologi dari CHF / Gagal jantung
d. Faktor Resiko dari CHF / Gagal jantung
e. Manivestasi Klinis dari CHF / Gagal jantung
f. Patofisiologi dari CHF / Gagal jantung

salah

satu

tugas

g. Komplikasi dari CHF / Gagal jantung


h. Pemeriksaan Diagnostik dari CHF / Gagal jantung
i. Penatalaksanaan dari CHF / Gagal jantung
j. Asuhan Keperawatn dari CHF / Gagal jantung
C. SISTEMATIKA PENULISAN
Kata Pengantar
Daftar isi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian
B. Klarifikasi
C. Etiologi
D. Faktor Resiko
E. Manivestasi Klinis
F. Patofisiologi
G. Komplikasi
H. Pemeriksaan Diagnostik
I. Penatalaksanaan
J. Asuhan Keperawatan
BAB III PENUTUP
Kesimpulan dan Daftar Pustaka
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN

1. Gagal jantung kongestif (CHF) adalah ketidakmampuan jantung untuk


memompa darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan
oksigen dan nutrisi.
(Smeltzer & Bare Vol 2, hal 805 th 2001)
2. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa
tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan. Ciriciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif
terhadap kebtuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan
pada fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
3. Penyakit Gagal Jantung yang dalam istilah medisnya disebut dengan "Heart
Failure atau Cardiac Failure", merupakan keadaan darurat medis dimana
jumlah darah yang dipompa oleh jantung seseorang setiap menitnya {curah
jantung (cardiac output)} tidak mampu memenuhi kebutuhan normal
metabolism tubuh.
4. Gagal Jantung (Heart Failure)adalah suatu keadaan yang serius, dimana
jumlah darah yang dipompa oleh jantung setiap menitnya (cardiac output,
curah jantung) tidak mampu memenuhi kebutuhan normal tubuh akan oksigen
dan zat-zat makanan.
5. Gagal jantung adalah suatu keadaan patofisiologis berupa kelaianan fungsi
jantung sehingga jantung tidak mampu memompa darah untuk memenuhi
kebutuhan metabolism jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau
disertai peninggian volume diastolic secara abnormal..
(kapita selekta kedokteran jilid 1, 1999).
B. KLARIFIKASI
CHF (Congestive Heart Failure) atau yang biasa dikenal dengan istilah
gagal jantung dapat diklarifikasikan menjadi 2 jenis yaitu :
1. Gagal Jantung Kiri

Gagal jantung kiri terjadi karena ventrikel gagal untuk memompa darah secara
adekuat sehingga menyebabkan kongesti pulmonal, hipertensi dan kelainan
pada katub aorta/mitral. Kongesti paru menonjol pada gagal ventrikel kiri,
karena ventrikel kiri tidak mampu memompa darah yang datang dari paru.
Peningkatan tekanan dalam sirkulasi paru menyebabkan cairan terdorong ke
jaringan paru. Dispnu dapat terjadi akibat penimbunan cairan dalam alveoli
yang mengganggu pertukaran gas. Mudah lelah dapat terjadi akibat curah
jantung yang kurang menghambat jaringan dari sirkulasi normal dan oksigen
serta menurunnya pembuangan sisa hasil katabolisme, juga terjadi akibat
meningkatnya energi yang digunakan untuk bernapas dan insomnia yang
terjadi akibat distress pernapasan dan batuk.
2. Gagal Jantung Kanan
Gagal jantung kanan, disebabkan oleh peningkatan tekanan pulmo akibat
gagal jantung kiri yang berlangsung cukup lama sehingga cairan yang
terbendung akan berakumulasi secara sistemik di kaki, asites, hepatomegali,
efusi pleura, dll. Bila ventrikel kanan gagal, yang menonjol adalah kongesti
viscera dan jaringan perifer. Hal ini terjadi karena sisi kanan jantung tidak
mampu mengosongkan volume darah dengan adekuat sehingga tidak dapat
mengakomodasikan semua darah yang secara normal kembali dari sirkulasi
vena.
C. ETIOLOGI
Gagal jantung adalah komplikasi yang paling sering dari segala jenis
penyakit jantung kongestif maupun didapat. Mekanisme fisiologis yang
menyebabkan gagal jantung mencakup keadaan-keadaan yang meningkatkan
beban awal, beban akhir atau menurunkan kontraktilitas miokardium.
Keadaan-keadaan yang meningkatkan beban awal meliputi: regurgitasi
aorta dan cacat septum ventrikel. Dan beban akhir meningkat pada keadaan
dimana terjadi stenosis aorta dan hipertensi sistemik. Kontraktilitas miokardium
dapat menurun pada imfark miokardium dan kardiomiopati.

Penyakit jantung lain, yang sebenarnya tidak ada secara langsung


mempengaruhi jantung, mekanisme yang terlibat mencakup gangguan aliran
darah melalui jantung misalnya stenosis katub semiluner, ketidakmampuan
jantung untuk mengisi darah misalnya tamponade pericardium, perikarditis
kontriktif dan stenosis katub AV, peningkatan mendadak afterload akibat
meningkatnya tekanan darah sistemik (hipertensi maligna) dapat menyebabkan
gagal jantung tidak ada hipertropi miokardial.
Penyakit arterosklerosis koroner yang mengakibatkan disfungsi pada
miokardium karena terganggunya aliran darah pada otot jantung.
Penyebab gagal jantung dapat diklasifikasikan dalam enam kategori
utama, yaitu:
1. Kegagalan

yang

berhubungan

dengan

abnormalitas

miokard,

dapat

disebabkan oleh hilangnya miosit (infrak miokard, kontraksi yang tidak


terokoordinasi

(left

bundle

branch

block),

kurangnya

kontraktilitas

(kardiomiopati)).
2. Kegagalan yang berhubungan dengan overload (hipertensi). Mengakibatkan
meningkatnya beban kerja jantung yang akhirnya mengakibatkan hipertropi
3.
4.
5.
6.

serabut otot jantung.


Kegagalan yang berhubungan dengan katup
Kegagalan yang disebabkan abnormalitas ritme kardiak (takikaro)
Kegagalan yang disebabkan anormalitas perikard atau efusi perikard
Kelainan kongenital jantung

D. FAKTOR RESIKO
Faktor risiko juga dapat digolongkan menjadi 2 kategori lain yang
berbeda, yakni faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan faktor risiko yang tidak
dapat dimodifikasi. Beberapa faktor risiko yang sering ditemukan antara lain
kadar kolesterol darah tinggi, kadar LDL (Low Density Lipoprotein) tinggi, kadar
trigliserida tinggi, hipertensi, diabetes, obesitas, aktivitas fisik yang kurang, serta
merokok. Semua faktor risiko tadi merupakan faktor risiko yang dapat dikontrol,
baik dengan perubahan gaya hidup maupun medikasi. Sedangkan usia tua, jenis

kelamin wanita dan riwayat penyakit jantung pada keluarga merupakan faktor
risiko yang tidak dapat dimodifikasi.
1. Faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi :
a. Usia
Laki-laki yang berusia lebih dari 45 tahun dan wanita yang berusia lebih
dari 55 tahun, mempunyai risiko lebih besar terkena penyakit jantung.
Faktor usia tidak dapat dirubah. Lakukan perubahan pada faktor risiko
yang lain.
b. Riwayat dalam keluarga ada yang menderita sakit jantung
Adanya riwayat dalam keluarga yang menderita penyakit jantung,
meningkatkan risiko terkena penyakit jantung.Riwayat dalam keluarga
juga tidak dapat dirubah.Namun informasi tersebut sangat penting bagi
dokter.Jadi informasikan kepada dokter apabila orang tua anda,
kakek/nenek, paman/bibi, atau saudara ada yang menderita penyakit
jantung.
c. Penyakit Lain
Penyakit lain seperti diabetes, meningkatkan risiko penyakit jantung.
Diskusikan dengan dokter mengenai penanganan diabetes dan penyakit
lainnya.Gula darah yang terkontrol baik dapat menurunkan risiko penyakit
jantung.

2. Faktor Resiko yang dapat dirubah


a. Kolesterol
Kolesterol terdiri dari kolesterol baik dan kolesterol jahat.HDL adalah
kolesterol baik sedangkan LDL adalah kolesterol jahat. Kolesterol total
yang tinggi, LDL tinggi, atau HDL rendah meningkatkan risiko penyakit
jantung. Apabila anda belum mengetahui kadar kolesterol anda, lakukan
pemeriksaan profil lipid. Profil lipid terdiri dari pemeriksaan kolesterol
total, HDL, LDL dan trigliserida.Untuk mengurangi kolesterol, kurangi
makanan yang tinggi kolesterol/lemak dan olah raga teratur. Apabila diet

dan olah raga kolesterol tetap tinggi maka dokter akan meresepkan obat
untuk menurunkan kolesterol.
b. Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)
Hipertensi meningkatkan risiko penyakit jantung.Jika tekanan darah anda
tinggi, berolahragalah secara teratur, berhenti merokok, berhenti minum
alkohol, dan jaga pola makan sehat. Apabila tekanan darah tidak terkontrol
dengan perubahan pola hidup tersebut, dokter akan meresepkan obat
antihipertensi (obat penurun tekanan darah)
c. Merokok dan Minum Alkohol
Merokok dan minum alkohol terbukti mempunyai efek yang sangat
buruk.Berhentilah minum alkohol.Berhentilah merokok.Dan jangan
merokok di dekat/samping orang yang tidak merokok.
d. Gemuk (overweight/obesitas)
Kegemukan membuat jantung dan pembuluh darah kita bekerja ekstra
berat. Diet tinggi serat (sayuran, buah-buahan), diet rendah lemak, dan
olah raga teratur dapat menurunkan berat badan secara bertahap dan aman.
Diskusikan dengan dokter untuk menurunkan berat badan secara aman.
e. Kurang Aktifitas Fisik (Sedentary Lifestyle)
Kurang aktivitas fisik juga berdampak tidak baik bagi kesehatan.Olah
ragalah secara teratur untuk mencegah penyakit jantung.Olah raga yang
dianjurkan adalah olah raga aerobik, selama 30-60 menit, 3-6 kali dalam
seminggu.Olah raga sebaiknya disesuaikan dengan kondisi tubuh.Apabila
secara keseluruhan tubuh kita sehat, tidak ada batasan tertentu dalam olah
raga. Namun apabila kita mempunyai penyakit tertentu, diskusikan dengan
dokter olah raga tipe apa yang dapat ditoleransi tubuh kita dengan baik.
3. Faktor predisposisi
Gagal jantung adalah penyakit yang menimbulkan penurunan fungsi ventrikel
(seperti penyakit arteri coroner, hipertensi,kardiomiopati,penyakit pembuluh
darah,atau penyakit ajntung kongenital)dan keadaan yang membatasi
pengisian ventrikel(stenosis mitral, kardiomiopati atau penyakit pericardial).
4. Faktor pencetus

Termasuk meningkatnya asupan garam,ketidakpatuhan menjalani pengobatan


anti gagl jantung, infark miokard akut(mungkin yang tersembunyi ),serangan
hipertensi,aritmia

akut,

infeksi

atau

demam,emboli

paru,

anemia,

tirotoksikosis, kehamilan dan endocarditis infektif.


Selain itu ada pula faktor presipitasi lain yang dapat memicu terjadinya
gagal jantung, yaitu :
a. Kelebihan Na dalam makanan
b. Kelebihan intake cairan
c. Tidak patuh minum obat
d. Iatrogenic volume overload
e. Aritmia : flutter, aritmia ventrikel
f. Obat-obatan: alkohol, antagonis kalsium, beta bloker
g. Sepsis, hiper/hipotiroid, anemia, gagal ginjal, defisiensi vitamin B,
emboli paru.
E. MANIVESTASI KLINIS
1. Tanda-Tanda Gagal Jantung Kiri :
a. Udem paru.
b. Efusi pleura.
c. Takikardia.
d. Udem organ genital (forward failure).
e. Udem ekstremitas (forward failure).
2. Tanda-Tanda Gagal Jantung Kanan
a. Distensi vena leher.
b. JVP meningkat.
c. Wajah bulan (moon face).
d. Udem kelopak mata.
e. Udem leher.
f. Refluks hepatojugular.
g. Hepatomegali, splenomegali, atau hepatosplenomegali.
h. Asites.
i. Udem organ genital (backward failure).
j. Udem ekstremitas (backward failure).
k. Anoreksia
l. Mual
m. Nokturia

F. PATOFISIOLOGI

Jantung dapat dipandang sebagai pompa dengan curah yang sebanding


dengan volume pengisiannya dan berbanding terbalik dengan tahan yang
melawan pompanya. Ketika volume akhir-diastolik ventrikel naik, jantung sehat
akan menaikkan curah jantung sampai suatu maksimum dicapai dan curah jantung
tidak dapat diperbesar lagi (prinsip Frank-Starling). Kenaikan volume sekuncup
yang dicapai dengan cara ini disebabkan oleh regangan serabut-serabut
miokardium, tetapi menaikkan tegangan dinding juga, dan menaikkan konsumsi
oksigen miokardium.
Otot jantung dengan kontraktilitas intrinsik yang terganggu akan
memerlukan derajat dilatasi yang lebih besar untuk menghasilkan kenaikan
volume sekuncup dan tidak akan mencapai curah jantung maksimal sama seperti
miokardium normal. Jika rongga jantung dilatasi karena lesi yang menyebabkan
kenaikan preload (misal insufisiensi katup), hanya akan ada sedikit ruangan untuk
dilatasi dan memperbesar curah jantung selanjutnya.
Transport oksigen sistemik dihitung sebagai hasil kali curah jantung dan
kadar oksigen sistemik. Curah jantung dapat dihitung sebagai hasil kali frekuensi
jantung dan volume sekuncup.Penentu utama volume sekuncup adalah preload,
afterload, dan kontraktilitas. Perubahan dalam kemampuan darah membawa
oksigen (misal anemia atau hipoksemia) akan juga menyebabkan penurunan
dalam transport oksigen, dan jika mekanisme kompensatoir tidak cukup, dapat
juga berakibat penurunan penghantaran substrat ke jaringan, suatu bentuk gagal
jantung.
Satu mekanisme kompensatoir utama untuk menaikkan curah jantung
adalah naiknya tonus simpatis, akibat bertambahnya sekresi epinefrin adrenal
dalam sirkulasi dan bertambahnya pelepasan norepineprin saraf.Pengaruh manfaat
awal rangsangan simpatis adalah kenaikan frekuensi jantung dan kontraktilitas
miokardium, yang keduanya berperan menaikkan curah jantung.Karena
vasokonstriksi yang terlokalisasi, aliran darah dapat didistribusikan lagi dari kulit,
viseral dan bantalan kapiler ginjal ke jantung dan otak.Namun, kenaikan

rangsangan simpatis yang lama dapat mempunyai pengaruh merugikan juga,


termasuk

hipermetabolisme,

kenaikan

afterload,

aritmogenesis,

kenaikan

kebutuhan oksigen miokardium, dan toksisitas miokard langsung.Vasokonstriksi


perifer dapat berakibat penurunan fungsi ginjal, hati dan saluran gastrointestinal.

G. KOMPLIKASI
1. Syok kardiogenik
Syok kardiogenik ditandai oleh gangguan fungsi ventrikel kiri yang
mengakibatkan gangguan fungsi ventrikel kiri yaitu mengakibatkan gangguan
berat pada perfusi jaringan dan penghantaran oksigen ke jaringan yang khas
pada syok kardiogenik yang disebabkan oleh infark miokardium akut adalah
hilangnya 40 % atau lebih jaringan otot pada ventrikel kiri dan nekrosis vocal
di seluruh ventrikel karena ketidakseimbangan antara kebutuhan dan supply
oksigen miokardium.
2. Edema paru
Edema paru terjadi dengan cara yang sama seperti edema dimana saja didalam
tubuh. Factor apapun yang menyebabkan cairan interstitial paru meningkat
dari batas negative menjadi batas positif.
3. Trombosis vena dalam
karena pembentukan bekuan vena karena stasis darah
4. Toksisitas digitalis akibat pemakaian obat-obatan digitalis.
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. EKG
Hipertrofi atrial atau ventrikuler, penyimpangan aksis, iskemia dan kerusakan
pola mungkin terlihat. Disritmia misalnya: takhikardi, fibrilasi atrial.
Kenaikan segmen ST/T persisten 6 minggu atau lebih setelah imfark miokard
menunjukkan adanya aneurime ventricular. Nilai ritmenya, apakah ada tanda
dari strain ventrikel kiri, bekas infark miokard dan bundle branch block
(Disfungsi ventrikel kiri jarang ditemukan bila pada EKG sadapan a-12
normal). Electrocardiography tidak dapat digunakan untuk mengukur anatomi

LVH tetapi hanya merefleksikan perubahan elektrik (atrial dan ventrikular


aritmia) sebagai faktor sekunder dalam mengamati perubahan anatomi. Hasil
pemeriksaan ECG tidak spesifik menunjukkan adanya gagal jantung
2. Sonogram
Dapat

menunjukkan

dimensi

pembesaran

bilik,

perubahan

dalam

fungsi/struktur katub atau are penurunan kontraktilitas ventricular.


3. Skan jantung
Tindakan penyuntikan fraksi dan memperkirakan pergerakan dinding.
4. Kateterisasi jantung
Tekanan normal merupakan indikasi dan membantu membedakan gagal
jantung sisi kanan verus sisi kiri, dan stenosi katup atau insufisiensi, Juga
mengkaji potensi arteri kororner. Zat kontras disuntikkan kedalam ventrikel
menunjukkan ukuran bnormal dan ejeksi fraksi/perubahan kontrktilitas.
5. Pemeriksaan Rontgen thorax
Nilai besar jantung, ada/tidaknya edema paru dan efusi pleura. Tapi banyak
juga pasien CHF tanpa disertai kardiomegali.
6. Echocardiography
Mungkin menunjukkan adanya penurunan fraksi ejeksi ventrikel kiri,
pembesaran ventrikel dan abnormalitas katup mitral.
Untuk memperkuat diagnosis dilakukan pemeriksaan fisik, yang biasanya
menunjukkan:
a. denyut nadi yang lemah dan cepat
b. tekanan darah menurun
c. bunyi jantung abnormal
d. pembesaran jantung
e. pembengkakan vena leher
f. cairan di dalam paru-paru
g. pembesaran hati
h. penambahan berat badan yang cepat
i. pembengkakan perut atau tungkai.
7. Laboratorium

Pada saat ini terdapat metoda baru yang mempu menentukan gagal jantung
yaitu pemeriksaan laboratorium BNP ( Brain Natriuretic Peptide) dan NT-pro
BNP (N Terminal protein BNP. Kegunaan pemeriksaan BNP adalah untuk
skrining penyakit jantung, stratifikasi pasien dengan gagal jantung, deteksi
left ventricular systolic dan atau diastolic dysfunction serta untuk
membedakan dengan dispnea. Berbagai studi menunjukkan kosentrasi BPN
lebih akurat mendignosis gagal jantung.

I. PENATALAKSANAAN
1. Penatalaksanaan Umum, Tanpa Obat-obatan antara lain :
a. Edukasi mengenai gagal jantung, penyebab, dan bagaimana mengenal
serta upaya bila timbul keluhan, dan dasar pengobatan.
b. Istirahat, olahraga, aktivitas sehari-hari, edukasi aktivitas seksual, serta
c.
d.
e.
f.
g.

rehabilitasi.
Edukasi pola diet, kontrol asupan garam, air dan kebiasaan alkohol.
Monitor berat badan, hati-hati dengan kenaikan berat badan yang tiba-tiba.
Mengurangi berat badan pada pasien dengan obesitas.
Hentikan kebiasaan merokok.
Pada perjalanan jauh dengan pesawat, ketinggian, udara panas dan

humiditas memerlukan perhatian khusus.


2. Pemakaian obat-obatan
a. Angiotensin-converting enzyme inhibitor/penyakit
angiotensin
b. Diuretik
c. Penyekat beta
d. Antagonis reseptor aldesteron
e. Antagonis reseptor angiotensin II
f. Glisosida jantung
g. Vasodilator agents (nitrat/hidralazin)
h. Nesiritid, merupakan peptid natriuretik tipe B
i. Obat inotropik positif, dobutamin, milrinon, enoksimon
j. Calcium sensitizer, levosimendan
k. Antikoagulan
l. Anti aritmia
m. Oksigen
3. Pemakaian Alat dan Tindaka Bedah

enzim

konversi

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.

Revaskularisasi (perkutan, bedah)


Operasi katup mitral
Aneurismektomi
Kardiomioplasti
External cardiac support
Pacu jantung, konvensional, resinkronisasi pacu jantung biventrikular
Implantable cardioverter defibrillators (ICD)
Heart transplantation, ventricular assist devices, artificial heart
Ultrafiltrasi, hemodialisis

J. ASUHAN KEPERAWATAN

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai
pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk metabolisme jaringan.
Ciri-ciri yang penting dari defenisi ini adalah pertama defenisi gagal adalah relatif
terhadap kebtuhan metabolic tubuh, kedua penekanan arti gagal ditujukan pada
fungsi pompa jantung secara keseluruhan.
CHF juga diklarifikasikan menjadi 2 jenis yaitu gagal jantung kanan dan
gagal jantung kiri yang keduannya memiliki manivestasi klinis berbeda namun
hampir sama.
Faktor resiko dari CHF juga dikelompokan menjasi 2 jenis yaitu factor
resiko yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi atau dapat dirubah.

B. DAFTAR PUSTAKA
4. (id) Sani A. Heart Failure Current Paradigm. Jakarta: Medya Crea; 2007.
5. (id) Sitompul BS, Sugeng JI. Gagal Jantung. Dalam: Rilantono LI, Barass
F, Karo SK, Roebiono PS, editor. Buku Ajar Kardiologi. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003. ISBN 979-496077-2. h. 115 126.
(en) Framingham Criteria for Congestive Heart Failure. Medicalcriteria.com
http://febyrianty.blogspot.com/2011/03/chf.html
http://arifsetyon.blogspot.com/2011/11/makalah-chf.html
http://www.makalahaskep.com/askep-gagal-jantung-kongestif.html

http://dezlicious.blogspot.com/