Anda di halaman 1dari 8

FASE 1 KEHAMILAN

Persalinan
Persalinan adalah proses alamiah dimana terjadi dilatasi serviks, lahirnya bayi dan plasenta dari
rahim ibu. Secara normal persalinan dimulai ketika janin sudah cukup mature

untuk dapat

mempertahankan dirinya dari kehidupan intrauterine kepada kehidupan ekstrauterine (Viable).


Sejak itu maka kehidupan seorang wanita hamil yang usia kehamilannya aterm (3742 minggu)
harus mampu melahirkan janin secara spontan dari rahim melalui jalan lahir tanpa
membahayakan ibu maupun janin. Namun demikian pada masa persalinan dan kelahiran ini
merupakan saat yang berisiko baik terhadap ibu maupun janinnya (Bobak, 2000; Pilliteri, 2003).

Proses persalinan terdiri dari 4 kala, yaitu kala I disebut juga kala pembukaan, dimana terjadinya
pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap 10 cm, kala II disebut juga kala pengeluaran
oleh karena berkat kekuatan his dan kekuatan ibu mengedan janin didorong keluar sampai lahir,
kala III atau kala uri dimana plasenta lepas dari dinding uterus dan dilahirkan, kala IV dimulai
setelah lahirnya plasenta dan lamanya 12 jam (Mochtar, 1998).
Kala I persalinan berlangsung sejak terjadinya kontraksi uterus yang teratur sampai dilatasi
serviks lengkap. Secara klinis dapat dinyatakan persalinan dimulai bila timbul his dan keluar
lendir bercampur darah. Lendir bercampur darah berasal dari pembuluhpembuluh kapiler yang
berada disekitar kanalis servikalis yang pecah karena pergeseranpergeseran ketika serviks
membuka. Mekanisme membukanya serviks berbeda antara primigravida dan multigravida
Secara fisiologis, ketika usia kehamilan sudah cukup matur, timbul serangkaian gejala yang
menandakan dimulainya persalinan. Menurut Pilliteri (2003) ada berbagai faktor yang

menyebabkan persalinan dimulai. Faktorfaktor tersebut saling bekerjasama menghasilkan


kontraksi uterus yang sangat kuat, teratur, ritmik yang berakhir dengan lahirnya janin dan
plasenta.
Faktorfaktor yang dimaksud adalah:
1. Peregangan otot uterus, dengan bertambahnya usia kehamilan, kapasitas uterus bertambah dan
otototot dinding uterus semakin tegang. Kondisi ini menyebabkan perangsangan mekanik
berupa kontraksi uterus.
2. Tekanan pada serviks. Kondisi tersebut merangsang pelepasan oksitosin dan menyebabkan
kontraksi uterus.
3. Stimulasi oksitosin. Pada akhir kehamilan kadar oksitosin meningkat dan otot otot uterus
sangat peka terhadap pengaruh oksitosin. Oksitosin bekerjasama dengan prostaglandin untuk
menimbulkan kontraksi.
4. Perubahan rasio antara hormon estrogen dan progesteron berangsurangsur menurun pada
akhir kehamilan dibandingkan dengan kadar estrogen, hal ini merangsang kontraksi uterus.
5. Usia plasenta. Dengan tuanya kehamilan maka usia plasenta menjadi tua. Proses tersebut
menyebabkan vili khorialis mengalami perubahanperubahan sehingga kadar progesteron dan
estrogen menurun. Hal ini merangsang kontraksi uterus.
6. Peningkatan kadar kortisol janin. Hal ini menyebabkan menurunnya pembentukan progesteron
dan meningkatnya prostaglandin yang merangsang timbulnya kontraksi uterus.
7. Selaput janin memproduksi prostaglandin. Kondisi tersebut merangsang kontraksi uterus

Menurut Bobak (2004), kala I persalinan dibagi dalam 3 bagian yaitu :


1. Fase Persiapan / Laten
Fase persiapan/Laten, merupakan fase pertama yaitu terjadinya pembukaan (dilatasi) dan
penipisan leher rahim dengan pembukaan leher rahim mencapai 3 cm, selain itu ibu mulai
merasakan kontraksi yang jelas, berlangsung selama 3050 detik dengan jarak 520 menit.
Semakin bertambah pembukaan leher rahim, maka kontraksi akan makin sering. Beberapa ibu
khususnya yang sensitif mulai merasa sakit, namun beberapa ibu lainnya tidak merasa sakit sama
sekali.
Gejalagejala pada fase persiapan yaitu sakit punggung yang dapat menetap atau hanya saat
kontraksi, kejang perut seperti haid, gangguan pencernaan, diare, perasaan hangat diperut,
pengeluaran lendir dengan bercak darah dan kemungkinan membran (ketuban) pecah diikuti
keluarnya cairan ketuban baik secara mengalir, merembes, maupun menyemprot. Secara
emosional ibu merasa cemas, tidak pasti, takut, gembira, lega atau siap dan beberapa ibu merasa
santai dan banyak bicara namun ada juga yang tegang sehingga enggan membuka mulut
2. Fase Aktif
Biasanya fase ini berlangsung lebih pendek dari fase persiapan. Kegiatan rahim mulai lebih
aktif dan banyak kemajuan yang terjadi dalam waktu singkat. Kontraksi semakin lama
(berlangsung 4060 detik) kuat dan sering (34 menit sekali) pembukaan leher rahim mencapai 7
cm.
Gejalagejala pada fase aktif adalah sebagai berikut, bertambahnya rasa tidak nyaman
bersamaan dengan kontraksi, bertambah sakit pungung, rasa tidak nyaman pada kaki, keletihan,
bertambahnya pengeluaran lendir dan darah. Jika sebelumnya membran (ketuban) belum pecah,
mungkin akan pecah saat ini. Secara emosional ibu gelisah, makin sulit tenang maupun santai,
makin tegang, tidak dapat berkonsentrasi, makin terpengaruh dengan kondisi yang sedang
terjadi, rasa percaya diri mulai goyah sepertinya persalinan tidak akan selesai namun mungkin
juga terjadi sebaliknya ibu gembira dan bersemangat karena persalinan mulai terjadi.

Menurut Varney (1997),

keadaan yang dianggap fisiologis pada persalinan kala I adalah

sebagai berikut:
1. Durasi Lamanya persalinan sangat bervariasi dan dipengaruhi oleh paritas ibu, keadaan
psikologis, bentuk dan ukuran pangul, serta karakter dari kontraksi uterus tersebut.
Sebagian besar dari seluruh tahapan persalinan adalah merupakan proses dari kala I, dan
pada umumnya diharapkan bahwa fase aktif akan berakhir dalam waktu 12 jam.
2. Aksi Uterus Setiap kontraksi uterus selalu bermula dari fundus didekat salah satu
kornunya dan merembet sampai kebawah. Kontraksi tersebut berlangsung paling lama
disana dan sekaligus

juga paling kuat dibagian fundus tetapi mencapai puncaknya

secara bersamaan diseluruh bagian secara bersamaan. Pola semacam ini memungkinkan
serviks membuka dan fundus yang berkontraksi kuat tersebut mampu mengeluarkan
janin.
Polaris dipakai untuk menyatakan keharmonisan neuromuskular yang menonjol
antara kedua kutub atau segmen uterus selama persalinan. Selama setiap kontraksi uterus
tersebut kedua kutub ini beraksi secara harmonis. Kutub yang diatas berkontraksi dengan
kuat dan berretraksi untuk mendorong keluar sijanin; sedangkan kutub yang dibawah
berkontraksi sedikit dan membuka untuk membiarkan proses pengeluaran janin berjalan,
jika polarisasinya tidak teratur maka kemajuan persalinan akan terganggu.
3. Kontraksi dan retraksi
Otototot uterus memiliki satu sifat yang unik. Selama proses persalinan kontraksi tidak
sepenuhnya berlanjut tetapi serabut otot menahan sebagian dari pemendekan kontraksi
dan tidak sepenuhnya ini disebut retraksi. Aksi ini membantu pengeluaran secara
progresif dari janin, segmen atas dari uterus berubah secara perlahan menjadi pendek dan
lebih tebal dan rongganya mengecil.
Pada awal persalinan kontraksi uterus terjadi setiap 1520 menit dan bisa berlangsung
kirakira 30 detik. Kontraksikontraksi ini sedikit lemah dan bahkan bisa tidak terasa oleh

ibu yang bersangkutan. Kontraksikontraksi ini biasanya terjadi dengan keteraturan yang
berirama dan interval (selang antar waktu) diantara kontraksi secara berlangsung menjadi
lebih pendek, sementara lamanya kontraksi semakin panjang. Pada akhir kala I kontraksi
bisa terjadi 23 menit selang waktunya dan berlangsung selama 5060 detik dan sangat
kuat.
4. Pembentukan segmen atas dan bawah uterus
Pada akhir kehamilan badan rahim terbagi menjadi dua segmen yang secara anatomis
berbeda. Segmen uterus bagian atas terutama dikaitkan dengan kontraksi dan tebal serta
berotot sedangkan segmen bagian bawah disiapkan untuk menggembungkan dan
pembukaan serta lebih tipis. Segmen bagian bawah telah berkembang dari isthmus dan
panjangnya kirakira 810 cm. Pada waktu persalinan dimulai, serat longitudinal yang
berretraksi di segmen bagian atas akan menarik segmen bagian bawah yang
menyebabkannya melebar. Hal ini dibantu lagi oleh gaya yang dikenakan oleh kepala
atau bagian sungsang yang menurun.
5. Cincin Retraksi
Sebuah garis akan terbentuk diantara segmen bagian atas dan bagian bawah yang
dikenal dengan nama cincin retraksi atau cincin bandl. Biasanya kita menggunakan istilah
yang pertama untuk menggambarkan cincin retraksi fisiologis dan hanya mengunakan
istilah cincin bandl untuk tingkat gejala tertentu yang berlebihan yang akan terlihat diatas
symphisis pubis pada persalinan yang lambat.
Cincin retraksi yang normal akan secara perlahan naik saat segmen uterus bagian
atas berkontraksi dan retraksi sedangkan segmen uterus bagian bawah akan menipis
untuk mengakomodasikan janin yang menurun setelah serviks sepenuhnya membuka dan
janin bisa meninggalkan uterus maka cincin retraksi tidak akan naik lagi
6. Penipisan serviks
Jika serviks belum terisi selama harihari terakhir dari kehamilan maka proses ini akan
terjadi pada saat persalinan. Serabutserabut otot yang mengelilingi lobang dalam leher

serviks akan tertarik keatas oleh segmen atas yang retraksi dan serviks menyatu kedalam
segmen uterus yang bawah. Saluran serviks akan melebar dan mendatar. Pada wanita
primigravida, lobang luar leher rahim akan tetap tertutup hingga serviks menjadi rata
diatas bagian janin yang menyodor dan seluruhnya akan menipis, sedangkan pada wanita
multigravida lobang luar serviks akan mulai membuka sebelum penipisan selesai. Pada
wanita yang tinggi paritasnya, serviksnya mungkin tidak akan pernah menipis dengan
sepenuhnya.
7. Pembukaan serviks
Pembukaan serviks ialah proses pembesaran lubang luar dari serviks dari keadaan yang
tertutup rapat menjadi lobang yang cukup besar untuk memungkinkan lewatnya kepala
janin. Pembukaan diukur dalam centimeter dan pembukaan penuh kirakira 10 cm.
Pembukaan akan terjadi sebagai akibat dari tekanan pada uterus oleh janin. Tekanan pada
rahim akan menyebabkan fundus uteri bereaksi dengan jalan berkontraksi
8. Perdarahan
Sebagai akibat dari pembukaan serviks, maka operculum yang membentuk sumbat
serviks selama kehamilan, akan menjadi lenyap. Wanita tersebut akan melihat
pengeluaran lendir campur darah beberapa jam sebelum atau dalam waktu beberapa jam
setelah persalinan dimulai. Darah tersebut datang dari pembuluhpembuluh halus yang
pecah didalam parietal decidua dimana chorion telah terlepas dan juga dari serviks yang
sedang membuka. Jumlah darah ini seharusnya tidak boleh lebih dari hanya noda darah
saja. Jika perdarahan aktif terjadi, hal itu dianggap tidak normal.
Pada kala I persalinan, reaksi psikososial ibu yang akan melahirkan, antara lain adalah
perasaan kecemasan, ketakutan dan meningkatnya sensitivitas nyeri. Reaksi tersebut
direspons sebagai stressor psikologis dan secara patofisiologis terlepaslah hormon stress dan
aktivasi dari system simpatis, selanjutnya menimbulkan refleks otonom, akibatnya terjadilah

vasokonstriksi sistemik, yang akan menimbulkan berbagaigejala klinis seperti penurunan


kontraksi otot rahim, kakunya otot skelet sehingga proses persalinan berlangsung lebih lama
(LeDoux, 1998; Niven, 1992).

Dukungan suami pada kala 1 seperti :


1. Fase laten
a. Berlatih menghitung waktu kontraksi. Jarak antara kontraksi dihitung mulai awal sebuah
kontraksi sampai awal kontraksi berikutnya. Hitunglah secara berkala dan buat catatan jika
jarak antara kontraksi kurang dari 10 menit.
b. Memberi ketenangan dan rasa santai pada ibu dengan ketenangan diri sendiri. Jangan
cemas karena dapat berpengaruh pada ibu, lakukan latihan relaksasi bersamasama atau
pijatlah ibu dengan lembut dan tidak tergesa gesa. Jangan memulai latihan pernafasan
karena terlalu dini.
c. Pertahankan rasa humor, baik bagi diri ibu maupun suami.
d. Membantu ibu mengalihkan perhatian, misalnya menonton TV dan berjalan jalan.
e. Memberikan kenyamanan, keyakinan dan dukungan kepada ibu
f. Mempertahankan stamina. Makan dan minum secara berkala
g. Bantu ibu untuk menghubungi tim medis

Daftar Pustaka
1. Fakultas Kedokteran UNPAD. Obstetri Fisiologi. Ilmu Kesehatan Produksi. Edisi 2.
Jakarta : EGC. 2013