Anda di halaman 1dari 3

How is the forming of accretional prism?

http://www.mgi.esdm.go.id/content/bentuk-geomorfologi-dasar-laut-pada-tepianlempeng-aktif-di-lepas-pantai-barat-sumatera-dan
Proses Pembentukan Accretionary wedge
Accretionary wedge atau accretionary prism dibentuk oleh proses tumbukan
(collision) antar lempeng benua serta oleh proses penunjaman (subduction) antara
lempeng benua dan lempeng samudra.
Pada proses tumbukan, karena baik system busur kepulauan ataupun benua tidak
terjunjamkan, maka kedua system menjadi terkunci total. Kedua keadaan ini
mengakibatkan busur kepulauan dan sediment pinggiran benua tertekan,
terdeformasi, tergencet, terlipat, tersesar sungkupkan dan terangkat, membentuk
jalur lipatan dan sesar yang menjadi cirri jalur orogenesa. Jalur orogenesa ini
kemudian bertumbukan, terakramasi dan bergabung (amalgamsi) dengan benua.
Jenis pertambahan dan pertumbuhan benua ini disebut sebagai accretionary wedge.
Pada proses subduction, seduction menghasilkan kerak accretionary widge melalui
proses subduction off-scraping (penyuguan dalam penunjaman) sebagian massa
kerak oseanik dikerok-disugu, dicampur dengan massa dari pinggir kontinen, diramu
dalam sedimentasi dan tektonik imbrikasi jadilah accretionary widge yang
bentuknya membaji mirip geometri prisma.
Dampak Yang Ditimbulkan dari Accretionary Wedge
Accretionary wedge merupakan daerah yang paling rawan terhadap gempa karena
pusat-pusat gempa berada dibawahnya. Batuan accretionary wedge memiliki
kekhasan yaitu ditemukannya batuan campur aduk (mlange, ofiolit) yang
umumnya berupa batuan Skist yang berumur muda. Sejarah kegempaan
membuktikan bahwa episentrum gempa gempa kuat umumnya terletak pada
accretionary wedge ini karena merupakan gempa dangkal (< 30 km).

Geomorfologi Prisma Akresi


Pembentukan prisma akresi di dasar laut dikontrol oleh aktifitas tektonik sesar-sesar naik
(thrusting) yang mengakibatkan proses pengangkatan (uplifting). Proses ini terjadi karena
konsekuensi dari proses tumbukan antar segmen kontinen yang menyebabkan bagian tepian
lempeng daerah tumbukan tersebut mengalami proses pengangkatan. Proses ini umumnya terjadi
di kawasan barat Indonesia yaitu di samudra Hindia.
Pulau-pulau prisma akresi merupakan prisma akresi yang terangkat sampai ke permukaan laut
sebagai konsekuensi desakan lempeng Samudera Hindia ke arah utara dengan kecepatan 6-7
cm/tahun terhadap lempeng Benua Asia-Eropa sebagai benua pasif menerima tekanan (Hamilton,

1979). Oleh sebab itulah pengangkatan dan sesar-sesar naik di beberapa tempat, seperti yang
terjadi di Kep. Mentawai, Enggano, Nias, sampai Simelueu yang terangkat membentuk gugusan
pulau-pulau memanjang parallel terhadap arah zona subduksi (Lubis, 2009). Gambar 5.
memperlihatkan prisma akresi yang naik ke permukaan laut membentuk pulau-pulau prisma
akresi di lepas pantai Aceh, sedangkan contoh prisma akresi yang belum naik ke permukaan laut
diperlihatkan pada Gambar 6. yaitu prisma akresi di lepas pantai selatan Jawa. Selain itu proses
pembentukan lainnya yang lazim terjadi di kawasan ini adalah aktifnya patahan (sesar) dan
amblasan (subsidensi) di sekitar pantai sehingga pulau-pulau akresi yang terbentuk terpisah dari
daratan utamanya (Cruise Report SO00-2, 2009).
Prisma akresi merupakan wilayah yang paling rawan terhadap kegempaan karena pusat-pusat
gempa berada di bawahnya. Batuan prisma akresi memiliki ke-khasan tersendiri yaitu
ditemukannya batuan campur-aduk (melange, ofiolit) yang umumnya berupa batuan Skist
berumur muda. Sejarah kegempaan di kawasan ini membuktikan bahwa episentrum gempagempa kuat umumnya terletak pada prisma akresi ini karena merupakan gempa dangkal
(kedalaman < 30 Km). Gempa kuat yang pernah tercatat mencapai skala 9 Richter pada tagl 26
Desember 2004. Beberapa ahli geologi juga masih mengkhawatirkan suatu saat akan terulang
gempa sebesar ini di kawasan barat Bengkulu, karena prisma akresi di kawasan ini masih belum
melepaskan energi kegempaan (locked zone) sementara kawasan disekitarnya sudah terpicu dan
melepaskan energi melalui serangkaian gempa-gempa sedang-kuat.
Di Sumatera ditemukan dua prisma akresi, yaitu accretionary wedge 1 di bagian luar &
accretionary wedge 2 di bagian dalam outer arc high yang memisahkan prisma akresi dengan
cekungan busur muka (Mentawai forearc asin). Adanya outer arc high yang memisahkan dua
prisma akresi tersebut mengalibatkan sedimen yang berasal dari daratan induknya tidak dapat
menerus ke bagian barat tetapi terendapkan di cekungan busur muka.

Gambar 5. Geomorfologi prisma akresi yang naik kepermukaan sebagai pulau prisma akresi di
lepas pantai sebelah barat Aceh.

Gambar 6. Geomorfologi prisma akresi di selatan Jawa yang belum muncul ke permukaan laut.