Anda di halaman 1dari 22

Solusi umum Lagrangian adalah

L=T +V

... (1)

dengan, T = energi kinetik ; V = energi potensial

Gambar 2.1 Sistem pegas


Pada sistem pegas berlaku persamaan Hooke : F=kx
Persamaan gerak pegas diberikan oleh persamaan :
F=m a
k x =m x

... (2)

atau dapat ditulis,


d2 x
m 2 +kx=0
dt
m

d
( x )+ kx=0
dt
d
m x =kx (3)
dt

sehingga, persamaan Euler Lagrangian


d L L
=
dt x x

( )

... (4)

Solusi persamaan gerak menggunakan metode Lagrange dapat dicari dengan melihat
persamaan Euler Lagrange dan persamaan gerak pegas di atas yaitu :
L
L
=m x ;
=kx (5)
x
x
Kemudian dicari solusi masing-masing persamaan (5) menjadi :
L
=m x
x
L=m x x

L=m x d x
L=m

( 12 x )

1
T = m x 2
2
L
=kx
x

L=kx x

L=k x dx
L=k
V=

( 12 x )
2

1 2
kx
2

Jadi solusi persamaan gerak pegas


1
1 2
2
L= m x k x (6)
2
2
Dengan metode Lagrange ini kita dapat mencari solusi persamaan gerak dan juga kita dapat
mencari persamaan gerak dari solusi persamaan geraknya (lihat persamaan 6), dan persamaan
geraknya diberikan oleh persamaan Euler Lagrange (lihat persamaan 4). Diperoleh :
d 1
1
1
1
m x 2 k x 2 =
m x 2 k x 2
dt x 2
2
x 2
2

( (

)) (

d 1
1
m2 x = k 2 x
dt 2
2

d
m x =kx
dt
m

d x
=kx
dt

m x =kx (7)

Sebagai contoh sebuah partikel bergerak dalam bidang; kita memilih koordinat
polar untuk menyatakan konfigurasi sistem, maka dalam hal ini :

Gambar 2.2 Koordinat Polar


q1 =r ;
q 2=

(12)

selanjutnya,
x=x ( r , ) =r cos

(
y= y r , )=r sin

(13)

dan,
x=

x
x
q +
q =cos rr sin
q 1 1 q 2 2

(14)

y=

y
y
q +
q =sin r+ r cos
q1 1 q 2 2

(15)

Perubahan konfigurasi dari


(q 1+ q1 , q2 +q2 , ... ,q n + q n)

(q 1 , q 2 , , qn )

ke konfigurasi di dekatnya

menyatakan perpindahan partikel ke

dari titik

(x i , y i , z i ) ke titik di dekatnya ( x i+ x i , y i+ yi , z i+ z i) dimana:


n

x
q
qk k

(16)

y
qk
k=1 q k

(17)

x i=
k=1

y i=
n

z i=
k=1

z
q
qk k

(18)

1. Sebuah pendulum dengan terbuat dari pegas dengan massa m.


Pegas terikat kuat pada garis bidang datar (massa pegas diabaikan) dengan panjang pegas
adalah l+ x kamudian pegas tersebut ditarik sejauh .

Gambar 2.3 Pendulum


1
T = m ( x 2 + ( l+ x )2 2 )
2
V=

1 2
k x +mg ( l+x ) cos
2

Persaman Lagrange
L=T +V

1
1 2
L= m ( x 2+ ( l+ x )2 2) +
k x + mg ( l+ x ) cos
2
2

1
1 2
2
2 2
L= m ( x + ( l+ x ) ) +mg ( l+ x ) cos k x
2
2
Persamaan gerak
d L L
=
dt x x

( )

d
( m x )=m (l + x ) 2 +mg coskx
dt
m x =m ( l + x ) 2 +mg coskx
d L y
=
dt

( )

d
( m ( l+ x )2 )=mg (sin ) ( l+ x )
dt

m ( l+ x ) +2 m x =mg
sin
2. Sebuah partikel bermassa m yang bergerak akibat pengaruh gaya sentral pada
sebuah bidang.
Misalkan koordinat polar (r,) digunakan sebagai koordinat umum (umum).
Koordinat Cartesian (r,) dapat dihubungkan melalui :
x = r cos
y = r sin
Energi kinetik partikel
T 12 mv 2 12 m x&2 y&2 12 m r&2 r&2 2
Energi potensial gaya sentral
k
k
V

1/ 2
r
x 2 y2
Persamaan Lagrange untuk sistem ini

L T V 12 m r&2 r&22
dari persamaan Lagrange

d T
T
V

dt q k q k q k

k
r

d L
L
0

dt q&k
q k
substitusi q1 = r dan q2 = , diperoleh:
d L
L
0
&
dt r
r
d L
L
0
&
dt

Dari kedua persamaan di atas diperoleh


L
mr&
r&
d L
&

mr&
dt r&
L
k
mr&2 2
r&
r
&2 mr&2
mr&

k
r2

Untuk partikel yang bergerak dalam gaya konservatif


V(r)
k
F(r)
2
r
r r
jadi,

2
&
mr&
mr&2 Fr

dari persamaan Lagrange


L
mr 2 &
&

L
0

d L
2&
&
&
&
2mrr& mr
dt

2mrr&& mr 2&
& 0
d
dJ
mr 2 &
0
dt
dt

atau,
Hal ini berarti bahwa J merupakan momentum sudut yang nilainya konstan. Integrasi
persamaan di atas menghasilkan

J mr 2 &

= konstan

Berdasarkan persamaan di atas dapat dikatakan bahwa dalam medan konservatif momentum
sudut J, merupakan tetapan gerak.
3. Osilator Harmonik
Sebuah osilator harmonik 1-dimensi, dan misalkan padanya bekerja sebuah gaya
peredam yang besarnya sebanding dengan kecepatan. Oleh karena itu sistem dapat dipandang
tidak konservatif. Jika x menyatakan pergeseran koordinat, maka fungsi Lagrangiannya
adalah
1
2

mx 2 12 kx 2

L=T-V=
dimana m adalah massa dan k adalah tetapan pegas. Selanjutnya:
L
L
mx
kx
x
x
Oleh karena pada sistem bekerja gaya yang tidak konservatif yang harganya sebanding

&
x
dengan kecepatan; dalam hal ini Q' = -c , sehingga persamaan gerak dapat ditulis :
d
mx cx (kx )
dt

&
& cx
& kx 0
mx
Ini tak lain adalah persamaan gerak osilator harmonik satu dimensi dengan gaya peredam.
4. Parikel yang berada dalam Medan Sentral
Rumuskan persamaan Lagrange gerak sebuah partikel dalam sebuah bidang di
bawah pengaruh gaya sentral. Kita pilih koordinat polar q1 = r, q2 = . Maka
T 12 mv 2 12 m r 2 r 2 2
V V(r )

L 12 m r 2 r 2 2 V r

Selanjutnya dengan menggunakan persamaan Lagrange, diperoleh :


L
L
mr
mr 2 f (r )
r
r
L
0

L
mr 2

Oleh karena sistemnya tidak konservatif, maka persamaan geraknya adalah :

d L L

dt r
r

d L L

dt

d
mr 2 0
dt

mr mr 2 f (r )

5. Pesawat Adwood
Sebuah pesawat Atwood yang terdiri dari dua benda bermassa m1 dan m2
dihubungkan oleh tali homogen yang panjangnya l m dan dilewatkan pada katrol (lihat
gambar). Sistem ini memiliki satu derajat kebebasan. Kita ambil variabel x untuk menyatakan
konfigurasi sistem, dimana x adalah jarak vertikal dari katrol ke massa m 1 seperti yang
ditunjukkan pada gambar.

l-x
x

m1

Gambar 2.4 Pesawat Atwood Tunggal


m2

Kecepatan sudut katrol adalah

x / a

, dimana a adalah jari-jari katrol. Energi kinetik sistem ini

adalah :
T 12 m1 x 2 12 m 2 x 2 12 I

x 2
a2

dimana I adalah momen inersia katrol. Energi potensial sistem adalah :


V m2 gx m1 g( l x )
Anggap bahwa pada sistem tidak bekerja gaya gesekan, sehingga fungsi Lagrangiannya
adalah
I

L 12 m1 m 2 2
a

dan persamaan Lagrangenya adalah


d L L

dt x x
yang berarti bahwa,

2
x g m1 m 2 x m 2 gl

m1 m 2

atau,
x g

I
a2

x g m1 m 2

m1 m 2
m1 m 2 I / a 2

adalah percepatan sistem. Nampak bahwa jika m 1>m2, maka m1 akan bergerak turun,

sebaliknya jika m1<m2 maka m1 akan bergerak naik dengan percepatan tertentu.
6. Pesawat Adwood Ganda
Pesawat Atwood ganda diperlihatkan pada gambar 2.5. Nampak bahwa sistem
tersebut mempunyai dua derajat kebebasan. Kita akan menyatakan konfigurasi sistem dengan
koordinat x dan x'. Massa katrol dalam hal ini diabaikan (untuk menyederhanakan persoalan).
Energi kinetik dan energi potensial sistem adalah :
T 12 m 1 x 2 12 m 2 ( x x ' ) 2 12 m 3 ( x x ' ) 2

V m 1gx m 2 g(l x x' ) m 3 g(l x l' x' )


dimana m1, m2 dan m3 adalah massa masing-masing beban, dan l serta l' adalah panjang tali
penghubungnya.

l-x

l'-x

m1
m2

3
Gambarm2.5
Pesawat Atwood Ganda

1
2

m1x&2 12 m 2 ( x& x&') 2 12 m 3 ( x& x&') 2 g(m1 m 2 m 3 )x

g(m 2 m 3 )x ' tetapan


sehingga persamaan geraknya dapat ditulis :
d L L
d L L

dt x ' x'
dt x x
dengan penyelesaian
m1x m 2 ( x x ' ) m 3 ( x x ' ) g( m1 m 2 m 3 )

m 2 ( x x ' ) m 3 ( x x ' ) g( m 2 m 3 )
dan dari persamaan ini percepatan

dan

x '

dapat ditentukan.

7. Partikel yang bergerak pada bidang miring yang dapat digerakkan.


Mari kita tinjau sebuah persoalan dimana sebuah partikel meluncur pada sebuah
bidang miring yang juga dapat bergerak pada permukaan datar yang licin, seperti yang
ditunjukkan pada gambar 2.6. Dalam persoalan ini terdapat dua derajat kebebasan, sehingga
kita butuhkan dua koordinat untuk menggambarkan keadaan sistem yang kita tinjau. Kita
akan memilih koordinat x dan x' yang masing-masing menyatakan pergeseran dalam arah
horisontal bidang terhadap titik acuan dan pergeseran partikel dari titik acuan terhadap bidang
seperti yang ditunjukkan pada gambar.
Dari analisis diagram vektor kecepatan, nampak bahwa kuadrat kecepatan
partikel diperoleh dengan menggunakan hukum kosinus :
v 2 x 2 x ' 2 2 x x ' cos
Oleh karena itu energi kinetiknya adalah
T 12 mv 2 12 Mx 2 12 m( x 2 x '2 2 x 2 x ' 2 cos) 12 Mx 2

dimana M adalah massa bidang miring dengan sudut kemiringan , seperti yang ditunjukkan
dalam gambar 2.6. dan m adalah massa partikel. Energi potensial sistem tak terkait dengan x
oleh karena bidangnya horisontal, sehingga kita dapat tuliskan :
V=mgx'sin + tetapan
dan
&&'cos ) 12 Mx
&
&2 mgx 'sin tetapan
L 12 m(x&2 x&'2 2xx

Persamaan geraknya
d L L

dt x x

d L L

dt x ' x'

Sehingga

m( x ' x cos) mgsin

m( x x ' cos) Mx 0
;
'

x
dan adalah :
g sin cos
x
mM
cos 2
m

Percepatan

x '

g sin
m cos 2
1
mM

x '

v
x'

Gambar 2.6 gerak pada bidang miring dan representasi vektor

8. Penurunan persamaan Euler untuk rotasi bebas sebuah benda tegar.


Metode Lagrange dapat digunakan untuk menurunkan persamaan Euler untuk
gerak sebuah benda tegar. Kita akan tinjau kasus torka - rotasi bebas. Kita ketahui bahwa
energi kinetik diberikan oleh persamaan:
1
T (I112 I 2 22 I 3 32 )
2
Dalam hal ini harga mengacu pada sumbu utama. dapat dinyatakan dalam sudut Euler ,
dan sebagai berikut:
1 cos sin sin

2 sin sin cos


cos
3

Dengan memperhatikan sudut Eulerian sebagai koordinat umum, persamaan geraknya adalah:
d L L

dt
d L L

dt
d L L


dt

oleh karena Q (gaya umum) semuanya nol. Dengan menggunakan dalil rantai (chain rule):
L T 3

Sehingga
d L
3
I 3

dt

Dengan menggunakan lagi aturan rantai, kita peroleh


T

I11 1 I 2 2 2

I11 ( sin sin cos ) I 2 2 ( cos sin sin )

I112 I 2 2 1
Dapat diperoleh
3 12 (I1 I 2 )
I 3
9.

Sebuah benda bermassa m (gambar 2.7) meluncur dengan bebas pada sebuah
kawat dengan lintasan berbentuk lingkaran dengan jari-jari a.

Lingkaran kawat berputar searah jarum jam pada bidang horisontal dengaan kecepatan sudut
di sekitar titik O.
a.
Selidiki bagaimana gerak benda tersebut
b.
Bagaimana reaksi lingkaran kawat

Gambar 2.7 Gerak padakawat melingkar

a. Perhatikan gambar di atas. C adalah pusat lingkaran kawat. Diameter OA membentuk sudut
t dengan sumbu-X, sedangkan benda bermassa m membentuk sudut dengan diameter

OA. Jika yang kita perhatikan hanyalah gerak benda bermassa m saja, maka sistem yang kita
tinjau memiliki satu derajat kebebasan, oleh karena itu hanya koordinat umum q = yang
dipakai. Berdasarkan gambar 2.7 a dan 2.7 b, kita dapat tuliskan:
x a cos t a cos(t )
y a sin t a sin( t )
x a sin t a sin( t ) (t )
y a cos t a cos(t )(t )
Kuadratkan persamaan-persamaan di atas, kemudian jumlahkan akan diperoleh
besaran energi kinetik

2
T 12 m x 2 y 2 12 ma 2 2 2 cos

dan,

T
ma 2 cos

d T
2

ma sin
dt
T
ma 2 sin

Selanjutnya persamaan Lagrange :


d T
T


Q1
dt q 1 q 1
Dalam hal ini Q1 = 0 dan q1 = , maka persamaan yang dihasilkan :
ma 2 sin ma 2 sin 0
2 sin 0
Persamaan di atas menggambarkan gerak benda bermassa m pada lingkaran kawat. Untuk

harga yang cukup kecil,


2 0
yang tak lain adalah gerak bandul sederhana. Bandingkan dengan persamaan berikut :
g 0
l
dan diperoleh

g
l

l
atau

g
2

Benda bermassa m berosilasi di sekitar garis berputar OA sebagai bandul sederhana

l g / 2
yang panjangnya

. Persamaan tersebut selanjutnya dapat juga digunakan untuk

menghitung kecepatan dan posisi benda bermassa m.


b. Untuk menghitung reaksi kawat, kita mesti melihat pergeseran virtual massa m dalam suatu
arah yang tegaklurus pada kawat. Untuk maksud tersebut, kita anggap bahwa jarak CB sama
dengan jarak r (merupakan variabel dan bukan tetapan), seperti yang ditunjukkan pada
gambar 2.4 c. Maka dalam hal ini terdapat dua derajat kebebasan dan dua koordinat umum,
yakni r dan

. Dari gambar nampak bahwa:


x a cos t r cos t

y a sin t r sin t

x a sin t r cos t r sin t

y a cos t r sin t r cos t

1
m x 2 y 2
2
1
m a 2 2 r 2 r 2
2

2a r sin 2a r cos

d T T


Qr
dt r r

T r
Dimana Qr = R adalah gaya reaksi. Nilai dari
dan
2

R m r a cos r a cos

ra ,

r 0 , dan

R ma 2 cos

T r

diperoleh dari didapatkan :

r 0

yang merupakan persamaan yang menyatakan reaksi kawat.


10. Gerak sebuah partikel dengan massa m yang bergerak pada bidang sebuah

kerucut dengan sudut setengah puncak (half-angle)


Gaya yang bekerja hanyalah yang disebabkan oleh gaya gravitasi saja.

Gambar 2.8 Gerak pada Kerucut


Misalkan puncak kerucut berada di titik O (pusat koordinat dalam gambar), sedangkan sumbu
kerucut berimpit dengan sumbu z. Posisi partikel pada permukaan kerucut dapat dinyatakan
r, , z )
dengan koordinat Cartesian (x,y,z). Namun kita akan gunakan koordinat silinder (
sebagai koordinat umumnya. Tidak semua ketiga koordinat tersebut a adalah independen

(bebas satu sama lain). Koordinat z dan r dihubungkan oleh parameter


z r cot

melalui persamaan :

z r cot
Kemudian diperoleh dua derajat kebebasan. Bisa digunakan r, sebagai koordinat umum dan
menghilangkan z dengan menggunakan persamaan pembatas diatas. Energi kinetik massa m
adalah :
1
1
1
T mv 2 m r 2 r 2 2 z 2 m r 2 1 cot 2 r 2 2
2
2
2
1
m r 2 csc 2 r 2 2
2

atau
Energi potensial massa m (anggap V = 0 dan z = 0) :
V mgz mgr cot
Kemudian Lagrangian L sistem :
1
L T V m r 2 csc 2 r 2 2 mgr cot
2

Persamaan Lagrange untuk koordinat r adalah :

d L L


0
dt r r
L
d L
L

mr csc 2 ,
mr csc 2 ,
mr 2 mg cot

r
dt r
r

r r 2 sin 2 g cos sin 0


Ini adalah persamaan gerak untuk koordinat r.
Persamaan Lagrange untuk koordinat adalah :
d L L


0
dt
Dengan memasukkan nilai L, diperoleh :
L
L
mr 2 dan
0

d
d
mr 2 J z 0
dt
dt
Artinya

J z mr 2 kons tan

A. Momentum Koordinat Umum


Tinjaulah gerak sebuah partikel tunggal yang bergerak sepanjang garis lurus
(rectilinier motion). Energi kinetiknya adalah
T 12 mx 2
(30)
dimana m adalah massa partikel, dan x adalah koordinat posisinya. Selanjutnya disamping
x
mendefinisikan momentum partikel p sebagai hasil kali m , kita juga dapat mendefinisikan p

T
sebagai kuantitas

, yakni:

T
mx
x

(31)
Dalam kasus dimana sebuah sistem yang digambarkan oleh koordinat umum q 1,
q2, , qk qn, kuantitas pk didefinisikan dengan
L
pk
q k
(32)
yang disebut momentum umum. Persamaan Lagrange untuk sistem konservatif dapat ditulis
L
p k
q k
(33)
Misalkan dalam kasus khusus, satu dari koordinatnya, katakanlah q, tidak tersirat secara
eksplisit dalam L. Maka
p

sehingga

L
q

(34)

p tetapan c

(35)
Dalam kasus ini, koordinat q dikatakan dapat terabaikan (ignorable). Momentum umum
yang diasosiasikan dengan koordinat terabaikan tak lain adalah tetapan gerak sistem.
Sebagai contoh, dalam persoalan partikel yang meluncur pada bidang miring
yang licin (yang telah dikerjakan pada bagian sebelumnya), kita dapatkan bahwa koordinat x,
posisi bidang, tidak tersirat dalam fungsi Lagrangian L. Oleh karena x merupakan suatu
koordinat terabaikan, maka
L
px
(M m) x mx ' cos tetapan
x

(36)
Kita dapat lihat bahwa ternyata px adalah komponen total dalam arah mendatar dari
momentum linier sistem dan oleh karena tidak terdapat gaya yang bekerja dalam arah
mendatar pada sistem, komponen momentum linier dalam arah mendatar harus konstan.
Contoh lain koordinat terabaikan dapat dilihat dalam kasus gerak partikel
dalam medan sentral. Dalam koordinat polar
L 12 m r 2 r 2 2 V (r )

(37)
seperti yang diperlihatkan dalam contoh di atas. Dalam kasus ini adalah koordinat
terabaikan dan
p

L
mr 2 tetapan

(38)

yang sebagaimana telah kita ketahui dari bab terdahulu adalah momentum sudut di sekitar
titik asal.

Contoh
Bandul sferis, atau potongan sabun dalam mangkuk. Suatu persoalan klasik dalam mekanika
adalah bahwa partikel yang terbatasi untuk berada pada permukaan sferis yang licin di bawah
pengaruh gravitasi, seperti sebuah massa kecil meluncur pada permukaan mangkuk yang
licin. Kasus ini juga digambarkan oleh bandul sederhana yang berayun dengan bebas dalam
sembarang arah, Gambar 2.9. Ini dinamakan bandul sferis, yang dinyatakan sebelumnya
dalam bagian terdahulu.
z

l
m

m
g

y
Gambar 2.9
Bandul sferis
Dalam hal ini terdapat dua derajat kebebasan, dan kita akan menggunakan

koordinat umum dan seperti yang ditunjukkan. Hal ini kenyataannya ekivalen dengan
koordinat bola dengan r = l = tetapan dimana l adalah panjang tali bandul. Kedua komponen

kecepatan adalah v =

l sin
dan v =

. Ketinggian bola bandul, dihitung dari bidang-xy,

adalah (l - l cos ) , sehingga fungsi Lagrangian adalah


1
L ml 2 ( 2 sin 2 2 ) mgl (1 cos )
2

(39)

Koordinat dapat diabaikan, sehingga diperoleh


L
p ml 2 sin 2 tetapan

(37)
Ini adalah momentum sudut di sekitar sumbu tegak atau sumbu z. Kita akan menundanya
untuk persamaan dalam :
d L L

dt
yang dapat juga dinyatakan sebagai:

(40)

ml 2 ml 2 sin cos 2 mgl sin


(41)
Mari kita perkenalkan tetapan h, yang didefinisikan dengan:
p
h sin 2
ml

(42)

Selanjutnya persamaan diferensial gerak dalam menjadi


2
g sin h 2 cos 0
l
sin 2

(43)
Persamaan (43) mengandung beberapa makna sebagai berikut. Pertama, jika sudut konstan,
maka h = 0. Akibatnya, persamaan di atas dapat ditulis sebagai :
g sin 0
l

(44)
yang tak lain adalah persamaan gerak bandul sederhana. Geraknya berada dalam bidang =
o = konstan. Kedua, adalah kasus banduk konik (conical pendulum). Dalam hal ini,
gantungan bandul menggambarkan suatu lingkaran horisontal, sehingga = o = konstan.
Jadi,

dan
, sehingga persamaan (44) dapat disederhanakan menjadi :
2
g
2 cos o
sin o h
0
l
sin 2 o
(45)

atau :
h2

g
sin 4 o sec o
l

Dari nilai h yang diperoleh pada persamaan di atas, maka


g
o2 sec o
l
yang tak lain adalah persamaan gerak bandul konik.

=2

=1

Gambar 2.10
Gerak pada permukaan bola

(46)

(47)

B. Mekanika Hamilton
Persamaan Hamilton untuk gerak pada sebuah fungsi dari koordinat umum
H
q k p k L

(48)
Untuk sebuah sistem dinamik sederhana, energi kinetik sistem adalah fungsi
q
kuadrat dari

dan energi potensialnya merupakan fungsi q saja :


L T(q k , q k ) V(q k )
(49)
Berdasarkan teorema Euler untuk fungsi homogen, diperoleh
L
T
q k p k L
q k

q k
2T

q
k
k
k
k
k
(50)
Oleh karena itu :
H
q k p k L 2T (T V) T V

(51)
Persamaan ini tak lain adalah energi total dari sistem yang kita tinjau. Selanjutnya, pandang n
buah persamaan yang ditulis sebagai :
L
pk
q k
(k = 1,2, n)
q
dan nyatakan dalam dalam p dan q
q k q k (p k , q k )

(52)

(53)
Dengan persamaan di atas, kita dapat nyatakan fungsi H yang bersesuaian dengan variasi

p k , q k

sebagai berikut :

L
L
H
q k
p k q k q k p k q k
q k
q k

(54)
Suku pertama dan suku kedua yang ada dalam tanda kurung saling meniadakan, oleh karena

menurut defenisi

p k L / q k
H

, oleh karena itu:


q p k p k q k

(55)
Variasi fungsi H selanjutnya dapat dinyatakan dalam persamaan berikut :

p
k

p k

H
q k
q k

(56)

Akhirnya diperoleh :
H
q k
(57)
p k
H
pdikenal
Dua persamaan terakhir ini
dengan persamaan kanonik Hamilton untuk gerak.
k
q k
(105)orde-1 (bandingkan dengan
Persamaan-persamaan ini terdiri dari 2n persamaan defernsial
persamaan Lagrange yang mengandung n persamaan diferensial orde-2. Persamaan Hamilton
banyak dipakai dalam mekanika kuantum (teori dasar gejala atomik).
Contoh pemakaian.
1. Gunakan persamaan Hamilton untuk mencari persamaan gerak osilator harmonik satu
dimensi.
Jawab : Energi kinetik dan energi potensial sistem dapat dinyatakan sebagai :
1
1
T mx 2
V Kx 2
2
2
dan
(58)
Momentumnya dapat ditulis
T
p
p
mx
x
x
m
atau
(59)
Hamiltoniannya dapat ditulis :
1 2 K 2
H TV
p x
2m
2
(60)
Persamaan geraknya adalah :
H
H
x
p
p
x
(61)
dan diperoleh :
p
x
Kx p
m
Persamaan pertama menyatakan hubungan momentum-kecepatan. Dengan menggunakan
kedua persamaan di atas, dapat kita tulis :
mx Kx 0

(62)

yang tak lain adalah persamaan osilator harmonik.


2. Gunakan persamaan Hamilton untuk mencari persamaan gerak benda yang berada di
bawah pengaruh medan sentral.

Jawab : Energi kinetik dan energi potensial sistem dapat dinyatakan dalam koordinat polar
sebagai berikut:
T

m 2
(r r 2 2 )
2

dan V=V(r)

(63)

Jadi :
pr
p

T
mr
r

T
mr 2

pr
m

p
2
mr

(64)

(65)

Akibatnya :
p 2
1
2
H
(p r 2 ) V( r )
2m
r

Persamaan Hamiltoniannya:
H
H H
r H p r

p
p r
p
r

,
,
,
Selanjutnya:
pr
r
m
V( r ) p
3 p r
r
mr

(66)

(67)

(68)

p

mr 2
p 0

(69)

(70)

(71)
Dua persamaan yang terakhir menunjukkan bahwa momentum sudut tetap,
p kons tan mr 2& mh
(72)
Sedangkan dua persamaan sebelumnya memberikan,
mh 2 V(r )
mr p r 3
r
r
(71)
untuk persamaan gerak dalam arah radial.
11.