Anda di halaman 1dari 2

PEMBAHASAN PROSEDUR BASA

Pada praktikum ini dilakukan pengujian absorbsi asam salisilat secara in vitro dengan
menggunakan metode usus terbalik, untuk melihat absorbsi pada saluran cerna,
dengan pengaruh pH. Langkah awal yang dilakukan dalam praktikum ini yakni
penentuan panjang gelombang maksimum dan pembuatan kurva baku asam salisilat
baik dalam pH asam maupun basa. Pada suasana basa bertujuan untuk membuat
cairan usus buatan tanpa pankreatin dengan pH 7,4 agar sesuai dengan pH usus
manusia yakni 7,35-7,45 . Bahan yang digunakan untuk membuat suasana basa dalam
media ini adalah dapar fosfat yang dapat mengoksidasi cairan seperti pH tubuh
normal. Pembuatan dapar fosfat ini dengan melarutkan KH 2PO4 dalam NaOH 1 L,
yang diperoleh konsentrasi 1000 ppm, yang kemudian dilakukan variasi konsentrasi
asam salisilat dalam kondisi basa untuk memperoleh absorbansi pembuatan kurva
baku.
Prosedur selanjutnya adalah pengujian absorbsi asam salisilat secara in vitro yakni
hewan coba (tikus putih yang telah dipuasakan), didsilokasi menggunakan eter,
kemudian dilakukan pembedahan untuk pengambilan usus, usus yang digunakan
adalah usus yang berada 20 cm di bawah pylorus, kemudian dibagi dua sama panjang,
lalu dibersihkan, bagian anal digunakan sebagai kontrol, kemudian bagian ujung anal
diikat dengan benang, kemudian dibalik karena pada praktikum ini bertujuan untuk
mengetahui kadar obat oleh filia bagian dalam usus, hingga bagian mukosa berada
diluar, kemudian usus diukur efektif 7 cm dalam alat Crane dan Wilson. Yang
selanjutnya usus dimasukan 1,4 ml larutan serosal (NaCl 0,9% b/v), penggunaan
larutan serosal ini karena larutan ini bersifat isotonis untuk menjaga usus agar tidak
kering dan rusak. Kemudian pada tabung instrument dimasukan dapar fosfat sehingga
merendam usus yang telah diikat sebelumnya, kemudian didiamkan diatas waer bath
dengan suhu 370C agar sesuai dengan suhu tubuh manusia atau mamalia. Pada tabung
uji, larutan asam salisilat dimasukan ke dalam pipa A yang akan diamati konsentrasi
absorbsinya. Lalu pengambilan sampel dilakukan sebanyak 4 kali dengan rentang

waktu 5, 10, 30 dan 60 yang kemudian larutan NaCl yang hilang diganti dengan 1
ml NaCl yang baru ke dalam pipa B. Hal ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi
asam salisilat maksimal yang diabsorbsi oleh usus, agar diperoleh waktu yang
maksimal pada pH 7,4 untuk absorbsi asam salisilat. Pengambilan sampel dilakukan
pada pipa B, yang kemudian diukur absorbansinya dengan spektrofotometri UV.