Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Imunisasi merupakan upaya kesehatan masyarakat yang terbukti paling
cost effective. Hal ini bisa dirasakan dengan ketahanan daya tubuh kita
terhadap suatu jenis penyakit dengan pemberian imunisasi yang terprogram,
sedangkan pemberian imunisasi dilakukan sejak usia dini dan ketahanan tubuh
bisas terbentuk selama pertumbuhan dan perkembangan berlanjut.
Menurut WHO Imunisasi telah terbukti sebagai salah satu upaya
kesehatan masyarakat yang sangat penting. Program imunisasi telah
menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat
hemat biaya dalam mencegah penyakit menular. Sejak penetapan The
Expended Program oleh WHO, cakupan imunisasi dasar anak dari 50%
mendekati 80% diseluruh dunia. WHO telah mencanangkan program ini
(Global Programme For Vaccines and Immunization) organisasi pemerintah di
seluruh dunia bersama UNICEF, WHO, dan World Bank. (http://midwiferieduc
ator.wordpress.coni/2011).
Salah satu target keberhasilan kegiatan imunisasi adalah tercapainya
Universal Child Immunizatiton (UCI), UCI adalah suatu kondisi dimana 80%
bayi yang ada di suatu desa telah mendapatkan 5 imunisasi dasar lengkap yang
meliputi HB satu kali, BCG satu kali, Polio empat kali, DPT/HB tiga kali, dan
Campak satu kali (dikutip dari pernyataan Dr. H. Andi Muhadir, MPH
http://sehatnegeriku.com). Namun program tersebut belum berjalan sesuai
target pada beberapa wilayah di Indonesia. Salah satu kendala pada program
pemberian imunisasi pada bayi yaitu
1

masih banyaknya orang tua yang

beranggapan bahwa imunisasi untuk bayi mereka tidak penting, hal itu
dikarenakan faktor pengetahuan orang tua tentang imunisasi masih kurang.
Orang tua yang tidak tahu pentingnya imunisasi beranggapan bahwa imunisasi
tidak perlu diberikan pada bayi karena manusia mempunyai kekebalan dari
lahir. Pernyataan tersebut tidak dapat disalahkan maupun dibenarkan, memang
benar sejak lahir bayi telah membawa kekebalan dalam tubuhnya namun tidak
semua penyakit dapat diatasi hanya dengan kekebalan tersebut.
Peran orang tua sangat berpengaruh dalam pencapaian target imunisasi
pada bayi. Ibu adalah sasaran primer karena merupakan pihak yang pling
menentukan, dan berhubungan langsung dengan kesejahteraan anak balita. Ibu
adalah orang yang mengambil keputusan dalam pengasuhan anak selama 24
jam termasuk dalam menentukan anaknya akan mendapatkan imunisasi atau
tidak, meskipun peran bapak tidak boleh dikesampingkan. Perintang utama
untuk keberhasilan imunisasi bayi dan anak dalam perawatan kesehatan yaitu
rendahnya kesadaran dan tidak adanya kebutuhan masyarakat pada imunisasi
tidak adekuat melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber yang
adekuat untuk kesehatan masyarakat dan program pencegahan (Nelson, 2000).
Pada penelitian terdahulu menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh
terhadap kejadian drop out atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi salah
satunya adalah pengetahuan ibu tentang imunisasi (Ramli,1988). Menurut
Lubis dan Tawi (2008), dari suatu penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa

kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal imunisasi lengkap pada
anak disebabkan karena kurangnya informasi (60-75%), kurangnya motivasi
(2-3%), serta hambatan lainnya (23-37%).
Dapat dilihat juga pada cakupan imunisasi propinsi Jawa Timur tahun
2012, masih relatif

rendah yaitu sebesar 84,5% meskipun

ada beberapa

kabupaten yang capaiannya di atas 100% terjadi karena sasaran yang


dirumuskan relatif rendah dibandingkan jumlah real sasaran yang ada di
wilayah kerja. Hal ini biasanya disebabkan estimasi sasaran yang sudah tepat
namun jumlah cakupan yang dilayani juga berasal dari luar wilayah kerja
Puskesmas. Pada penelitian jumlah kasus penyakit menular yang dapat dicegah
dengan imunisasi (PD3I) di kabupaten Bondowoso pada tahun 2011 sebesar
90% dan kemudian pada tahun 2012 sebesar 95%. Terjadi peningkatan 5%
dalam satu tahun, tetapi dari 95% ini belum mencakup semua bayi yang
diimunisasi, karena ada bayi dengan alamat yang tidak jelas dan tidak bisa
dimasukkan ke wilayah desa atau kelurahan setempat. Dan pada desa yang
dicakup oleh Wilayah Kerja Puskesmas Kelabang Kabupaten Bondowoso,
masih jauh cakupan imunisasi yang ditargetkan. Pada akhir tahun 2012, untuk
imunisasi BCG hanya mencakup 83,5%, Polio 1 79,9%, DPT1 79,5%, Polio 2
70%,DPT 2 80,2%, Polio 3 75,9%, DPT 3 71,2%, Polio 4 62,9%, Campak
70%. Sedangkan untuk desa Leprak sendiri sebesar Hb 4%, BCG 0%, Polio 1
0%, DPT 1 4%, Polio 2 12%, DPT 2 12%, Polio 3 15%, DPT 3 23%, Polio 4
27%, Campak 12%

pada bulan Januari 2013, dari 63 balita yang tidak

mendapatkan imunisasi dasar lengkap yaitu sebanyak 35 balita (Dinkes


Bondowoso, 2012). Fenomena yang terjadi dalam masyarakat yang masih
butuh perhatian pemerintah adalah mengenai imunisasi dasar yang diberikan

pada bayi. Dimana dalam suatu masyarakat masih adanya kesenjangan yang
terjadi sehingga menyebabkan balita yang seharusnya sesuai usianya sudah
memenuhi cakupan imunisasi, tapi ternyata balita tersebut tidak mendapatkan
imunisasi.
Untuk mengatasi masalah tersebut, perlu adanya kerjasama dengan
berbagai pihak yang berperan di dalamnya. Dengan cara pendekatan dengan
memberi penyuluhan atau pun dengan cara pendekatan secara personal.
Langkah seperti itu sebenarnya sangat baik, tapi perlu diketahui juga hingga
saat ini masih belum 100% semuanya bisa menyadari dalam hal imunisasi.
Karena masih ada faktor kepercayaan yang timbul di masyarakat tersebut.
Sehingga diperlukan dengan cara pendekatan yang lebih spesifik lagi, yaitu
misalnya dengan mendekati tokoh masyarakat yang lebih dipercaya dalam hal
ini, atau bisa juga dengan mendekati keluarga. Berdasarkan alasan tersebut,
perlu

diadakan

penelitian

untuk

menganalisa

faktor

dominan

yang

mempengaruhi pemberian imunisasi pada balita di Posyandu Wilayah Kerja


Puskesmas Klabang Kabupaten Bondowoso.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas maka timbul perumusan masalah
Apa saja faktor-faktor dominan yang mempengaruhi pemberian imunisasi
pada balita usia 1-2 tahun di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Klabang
Kabupaten Bondowoso.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui faktor-faktor dominan yang mempengaruhi


pemberian imunisasi pada balita usia 1-2 tahun di Posyandu Wilayah
Kerja Puskesmas Kelabang Kabupaten Bondowoso.
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.1.1 Mengidentifikasi pendidikan dengan pemberian imunisasi.
1.3.1.2 Mengidentifikasi tingkat pengetahuan ibu dengan pemberian
imunisasi.
1.3.1.3 Mengidentifikasi kepercayaan yang diyakini ibu tentang
pemberian imunisasi.
1.3.1.4 Mengidentifikasi motivasi ibu dengan pemberian imunisasi.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Bagi Masyarakat
Dapat digunakan sebagai sumber informasi untuk menambah
pengetahuan, pemahaman, dan wawasan mengenai imunisasi bagi
balita sehingga dapat menunjang dan mensukseskan keberhasilan
pengembangan program imunisasi yang telah ada di Puskesmas Ajung
serta menambah partisipasi masyarakat yang khususnya memiliki
balita untuk mengikuti imunisasi di posyandu.
1.4.2 Bagi Institusi Penelitian
Diharapkan dapat memberikan informasi secara objektif tentang
faktor

dominan

yang

mempengaruhi

kelengkapan

pemberian

imunisasi pada balita di wilayah kerjanya sehingga dapat dijadikan


pedoman dalam pelaksanaan penyuluhan bagi ibu yang memilii balita
sehingga dapat melaksanakan jadwal kelengkapan imunisasi dengan
tepat serta dapat memperbaiki sistem untuk pemberiannya lebih baik
lagi.
1.4.3 Bagi Institusi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi dokumentasi pada
perpustakaan Akademi Kebidanan dr.Soebandi Jember sehingga dapat
berguna bagi mahasiswa kebidanan dan pembaca umumnya serta

sebagai bahan pertimbangan bagi peneliti yang lebih luas dan lebih
baik kedepannya.
1.4.4 Bagi Peneliti
Dapat digunakan untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan
pengalaman peneliti tentang ilmu kebidanan khususnya di bidang ilmu
kesehatan anak mengenai imunisasi pada balita serta menerapkannya
dalam masyarakat nantinya.