Anda di halaman 1dari 35

Skenario 2

Kota Antah Berantah melaporkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam


Berdarah Dengue. Pernyataan resmi (DBD) ini disampaikan Pejabat Walikota
Antah Berantah setelah mendengar laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Antah
Berantah dalam rapat koordinasi. Pada bulan Februari 2014 terdapat sebanyak 258
kasus dan bulan Februari 2015 mencapai 579 kasus. Hal ini menunjukkan
peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat dari periode tahun sebelumnya. IR
( Incidence Rate) DBD menurut WHO di Indonesia adalah sebesar < 50 per
100.000 penduduk dengan CFR ( Case Fatality Rate) 0,2. Karena adanya KLB
tersebut, tiap puskesmas di Kota Antah Berantah melakukan penyelidikan
epidemiologi (PE) ke lapangan untuk mengetahui penyebab terjadinya KLB.
Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi tersebut, puskesmas melakukan
tindakan yang diperlukan untuk menanggulangi KLB. Program penanggulangan
KLB DBD ini membutuhkan tidak hanya kerjasama lintas program namun juga
lintas sektoral.
I.

KLARIFIKASI ISTILAH
1. Demam Berdarah Dengue (Dengue Henorrhagic Fever, DHF), adalah
suatu penyakit trombositopenia infeksius akut yang parah, sering
bersifat fatal, penyakit febril yang disebabkan virus dengue (Halstead,
2007).
2. Insidens Rate adalah jumlah kasus baru yang terjadi dikalangan
penduduk selama periode waktu tertentu. Rumus untuk menghitung
insidens rate adalah jumlah kasus baru suatu penyakit dibagi populasi
yang mempunyai resiko. Untuk memperoleh IR harus dilakukan
pengamatan kelompok penduduk yang mempunyai resiko terkena
penyakit yang ingin dicari yaitu dengan cara mengikuti secara
perspektif untuk menentukan insidensi kasus baru (Bustan, 2002).
3. Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau meningkatnya
kejadian kesakitan atau kematia yang bermakna secara epidemiologis
pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu dan merupakan keadaan

yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. (PP RI Nomor 40 tahun


1991 Pasal I tentang Penanggulangan Wabah Penyakit Menular).
4. Penyelidikan Epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk
mengetahui suatu kejadian baik sedang berlangsung maupun yang telah
terjadi, sifatnya penelitian, melalui pengumpulan data primer dan
sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan
rekomendasi dalam bentuk laporan (Azrul, 1999).
5. Case Fatality Rate adalah perbandingan antara jumlah seluruh kematian
karena satu penyebab penyakit tertentu dalam 1 tahun dengan jumlah
penderita penyakit tersebut pada tahun yang sama. Digunakan untuk
mengetahui penyakit penyakit dengan tingkat kematian yang tinggi
(Budiarto, 2003).
6. Lintas Program adalah kerjasama yang dilakukan antar beberapa
program dalam bidang yang sama untuk mencapai tujuan yang sama
(Irianto, 2014).
7. Lintas Sektoral adalah melibatkan dinas dan orang-orang diluar sektor
kesehatan yang merupakan usaha bersama mempengaruhi faktor yang
secara langsung atau tidak langsung terhadap kesehatan manusia
(Irianto, 2014).
II.

IDENTIFIKASI MASALAH
1. Kota Antah Berantah melaporkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam
Berdarah Dengue dan disampaikan Pejabat Walikota Antah Berantah
setelah mendengar laporan Kepala Dinas Kesehatan dalam rapat
koordinasi.
a. Apa saja kriteria Kejadian Luar Biasa berdasarkan kasus?
b. Bagaimana perbandingan karakteristik penyakit menular dan tidak
menular berdasarkan kasus tersebut?
2. Pada bulan Februari 2014 terdapat sebanyak 258 kasus dan bulan
Februari 2015 mencapai 579 kasus
a. Bagaimana sifat dari wabah berdasarkan kasus tersebut?
3. Terdapat peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat dari periode
tahun sebelumnya. IR (Incidence Rate) DBD menurut WHO di
Indonesia adalah sebesar < 50 per 100.000 penduduk dengan CFR
( Case Fatality Rate) 0,2.

a. Bagaimana cara pengukuran angka kesakitan berdasarkan kasus

III.

skenario?
b. Apakah yang dimaksud dengan CFR, MMR, IMR, PMR?
Analisis Masalah
1. Apa saja kriteria Kejadian Luar Biasa berdasarkan kasus?
a. Definisi KLB
Timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologi pada suatu
daerah

dan

waktu

tertentu

Wabah

adalah

Kejadian

berjangkitnya suatu penyakit menular di masyarakat yang


jumlah penderitanya Secara nyata meningkat melebihi keadaan
lazimnya pada waktu dan daerah tertentu (Murti, 2003).
b. Kriteria KLB (Murti,2003)
1. Timbulnya suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak
ada/tidak dikenal.
2. Peningkatan kasus/kematian terus-menerus selama kurun
waktu berturut-turut (jam/hari/minggu).
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian 2 kali atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya (jam/ minggu/
bulan/ tahun).
4. Angka rata-rata perbulan meningkat 2x dibandingkan
dengan angka rata-tara tahun sebelumnya.
5. Angka kematian/CFR menunjukkan kenaikan 50%
dibandingkan dengan CFR periode sebelumnya
6. Penyakit lain yang ditentukan secara politis oleh
pemerintah
c. Cara pelaporan KLB
a) Dalam penjelasan Rianti (2009) dilaporkan dalam 24
jam Laporan kewaspadaan adalah laporan adanya
penderita atau tersangka penderita penyakit yang dapat
menimbulkan wabah. Yang diharuskan menyampaikan
laporan adalah :
a. Orang tua penderita atau tersangka penderita yang
tinggal serumah dengan penderita kepada kepala
RT/RW/kepala dusun.

b. Dokter,

petugas

kesehatan

yang

memeriksa

penderita.
c. Kepala unit pemerintah atau swasta
d. Nahkoda kendaraan air atau udara
b) Laporan kewaspadaan disampaikan kepada lurah atau
unit kesehatan terdekat selambat- lambatnya 24 jam
sejak mengetahui adanya penderita baik dengan cara
lisan maupun tulisan. Kemudian laporan tersebut harus
diteruskan

kepada

kepala

puskesmas

setempat

(Soemirat, 2005).
Isi laporan kewaspadaan adalah :
a. Nama penderita /penderita yang meninggal
b. Golongan umur
c. Tempat dan alamat kejadian
d. Jumlah yang sakit dan meninggal
c) Laporan kejadian luar biasa (W1) dilaporkan dalam
waktu

24

jam

Merupakan

salah

satu

laporan

kewaspadaan yang dibuat unit kesehatan, segera setelah


mengetahui adanya KLB penyakit tertentu/keracunan
makanan. Laporan ini digunakan untu melaporakan
KLB sebagai laporan pengamatan dini kepada pihakpihak yang menerima laporan akan adanya KLB
penyakit tertentu disuatu wilayah tertentu (Soemirat,
2005)..
d) Dilaporkan mingguan Laporan mingguan wabah (W2)
merupakan bagian dari sistem kewaspadaan dini KLB
yang dilaksanakan oleh unit kesehatan terdepan
(puskesmas). Sumber data laporan mingguan adalah
data rawat jalan dan rawat inap dari puskesmas,
puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu
dan masyarakat dan rumah sakit pemerintas atau swasta
(Soemirat, 2005).
d. Penyakit yang berpotensi KLB menurut (Irianto, 2014):
a) Penyakit yang terindikasi mengalami peningkatan
kasus secara cepat.

b) Penyakit menular dan keracunan.


c) Mempunyai masa inkubasi yang cepat.
d) Terjadi di daerah padat hunian.
2. Bagaimana perbandingan karakteristik penyakit menular dan tidak
menular berdasarkan kasus tersebut?
Faktor yang dapat menyebabkan peningkatan KLB DBD menurut
Notoadmojo (2005) berupa :
a. Agent : Penyebab penyakit DBD seperti virus Dengue
b. Host (Faktor pejamu)
a) Mobilitas penduduk : Memudahkan penularan dari suatu
tempat ke tempat lain.
b) Pendidikan : Mempengaruhi

cara

berpikir

dalam

penerimaan penyuluhan dan cara pemberantasan yang


dilakukan.
c. Lingkungan
Ketinggian suatu daerah mempengaruhi perkembang biakkan
nyamuk dan virus DBD, serta curah hujan yang tinggi
meningkatkan kelangsungan hidup nyamuk DBD.
Berikut akan dipaparkan mengenai perbedaan penyakit menular dan
penyakit tidak menular menurut Bustan, M.N (2002), yaitu :
Penyakit Menular
Banyak ditemui di Negara

Penyakit Tidak Menular


Ditemui di Negara Industri

Berkembang
Rantai penularan yang jelas
Perlangsungan akut
Etiologi mikroorganisme jelas
Bersifat single kausa
Diagnosis mudah
Agak mudah mencari

Tidak ada rantai penularan

penyebabnya
Biaya relatif murah
Jelas muncul di permukaan
Morbiditas dan mortalitas

Sulit mencari penyebabnya

cenderung menurun

Morbiditas dan mortalitas

Perlangsungan kronik
Etiologi tidak jelas
Bersifat multiple kausa
Diganosis lebih sulit
Biaya relatif mahal
Ada iceberg phenomena

cenderung meningkat
Tabel 1. Perbedaan Penyakit Menular dan Tidak Menular (Notoadmojo, 2005)

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 1501/ MENKES/ PER/ X/


2010 dalam pasal 4, terdapat jenis-jenis penyakit menular tertentu yang
dapat menimbulkan wabah adalah sebagai berikut :

Kolera
Pes
DBD
Campak
Polio
Difteri
Pertusis
Rabies
Malaria

Avian

H5N1
Antraks
Leptospirosis
Hepatitis
Influenza A H1N1
Meningitis
Yellow fever
Chikungunya (Permenkes, 2010)

Influenza

3. Bagaimana sifat dari wabah berdasarkan kasus tersebut ?


Ada dua sifat wabah yang dinyatakan dalam Rajab (2009), yaitu :
1. Common Source Epidemic
Suatu letusan penyakit yang disebabkan oleh terpaparnya sejumlah
orang dalam suatu kelompok secara menyeluruh dan terjadi dalam
waktu yang relatif singkat. Adapun Common Source Epidemic itu
berupa keterpaparan umum, biasa pada letusan keracunan
makanan, polusi kimia di udara terbuka, menggambarkan satu
puncak epidemi, jarak antara satu kasus dengan kasus, selanjutnya
hanya dalam hitungan jam,tidak ada angka serangan ke dua.
2. Propagated/Progresive Epidemic
Bentuk epidemi dengan penularan dari orang ke orang sehingga
waktu

lebih

lama

dan

masa

tunas

yang

lebih

lama

pula. Propagated atau progressive epidemic terjadi karena adanya


penularan dari orang ke orang baik langsung maupun melalui
vector, relatif lama waktunya dan lama masa tunas, dipengaruhi
oleh kepadatan penduduk serta penyebaran anggota masya yang
rentan serta morbilitas dari pddk setempat, masa epidemi cukup
lama dengan situasi peningkatan jumlah penderita dari waktu ke
waktu sampai pada batas minimal abggota masyarakat yang

rentan, lebih memperlihatkan penyebaran geografis yang sesuai


dengan urutan generasi kasus.
4. Bagaimana cara pengukuran angka kesakitan berdasarkan kasus
skenario?
Menurut Irianto, (2014) morbiditas merupakan suatu keadaan sakit,
terjadinya penyakit atau kondisi yang merubah kesehatan dan kualitas
hidup.
1) Angka Morbiditas
jumlah penderita yang dicatat selama satu tahun
1000 jumlah penduduk pertengahantahun
Manfaat morbiditas :
a. Angka ini digunakan untuk menggambarkan kesehatan secara
umum
b. Mengalami keberhasilan program
c. Memperoleh gambaran pengetahuan penduduk terhadap
pelayanan kesehatan
2) Proporsi
Perbandingan yang pembilangnya merupakan bagian dari
penyakit tersebut guna melihat komposisi variable dalam satu
populasi
x
P=
xK
x+ y
3) Ratio
Perbandingan dua bilangan yang tidak saling tergantung,
digunakan unutk menyatakan besarnya kejadian.
x
R= x K
Formula
y
4) Ratio dapat juga dinyatakan sebagai perbandingan
a. Depedency Ratio
Tergantung usia, misalnya usia 0 < 14th atau > 65th
( 0 14 th ) +(usia pensiun>65 th)
xK
Formula =
usia produktif
5) Rate
Perbandingan suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang
mempunyai resiko, digunakan untuk menyatakan dinamika dan
kecepatan kejadian tertentu dalam masyarakat

Rate=

x
y

xK

6) Insiden Rate
Frekuensi penyakit baru yang berjangkit dalam masyarakat di
suatu tempat atau wilayah atau negara pada waktu tertentu
jumlah penyakit baru
IR=
xK
jumlah populasi beresiko
Tujuan IR :
a. Mengukur angka kejadian penyakit
b. Mencari atau mengukur factor causalitas (penyebab)
c. Perbandingan p[opulasi dengan dengan pemaparan berbeda
d. Untuk mengukur besar resiko yang ditimbulkan oleh
determinan tertentu
Manfaat :
a. Bahan penanggulangan masalah kesehatan dengan melihat
potret masalah kesehatan
b. Angka dari beberapa periode dapat digunakan untuk melihat
kecenderungan dan fluktuasi dan pemantauan sekaligus
efaluasi upaya penanggulangan
c. Sebagai dasar untuk membuat perbandingan antara wilayah
dan antara waktu
7) Pravelens Rate
Frekuensi penyakit lama dan baru yang berjangkit dalam
masyarakat disuatu tempat atau wilayah pada waktu tertentu.
Misalnya : juli tahun 2000
point pravelens rate
Periode tertentu dari bulan juli september
Periode
prevelens rate (ada interval)
jumlah penyakit lama+ baru
xK
Formula :
jumlah populasi beresiko
Manfaat :
a. Menggambarkan tingkat keberhasilan program suatu penyakit
Bila pravelens meningkat maka program tidak berhasil
b. Untuk penyusunan rencana kesehatan
c. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat didiagnosa
d. Digunkan untuk keperluan administrative lain
Angaka pavelens dipengaruhi oleh :
a. Tingginya insidensi
b. Lamanya sakit

Suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga


berakhirnya penyakit tersebut. Bisa sembuh atau kronis atau
sakit.
8) Attack Rate
Jumlah kasus baru penyakit dalam waktu wabah yang berjangkit
dalam masyarakat di suatu tempat atau wilayah atau Negara pada
waktu tertentu.

Formula =

jumlah penyakit baru


xK
jumlah populasi beresiko wabah berlangsung

5. Apakah yang dimaksud dengan CFR, MMR, IMR, PMR?


Mortalitas merupakan ukuran jumlah kematian (umumnya) atau karena
akibat spesifik pada suatu populasi, skala besar suatu populasi dikali
satuan. Mortalitas khusus mengekpresikan pada jumlah satuan kematian
dibanding seribu individu pertahun. Bila mortaliats 9,5 berarti 950
kematian disbanding 100.000 individu pertahun (Thomas, 2005).
satuan kematian x 100.000
1000
1) Crude Death Rate (CDR)
Perbandingan angka kematian kasar dibagi jumlah seluruh
kematian selama satu tahun dengan jumlah penduduk pada
pertengahan tahun.
CDR =

jumlah suatukematian
x K ()
jumlah semua penduduk

Manfaat CDR :
a. Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
b. Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit
c. Sebagai gambaran kondisi social ekonomi
d. Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan geologis
e. Untuk menghiung laju pertumbuhan penduduk
2) Spesific Date Rate
Perbandingan jumlah seluruh kematian akibat penyakit tertentu
selama satu tahun dengan jumlah penduduk pada pertengahan
tahun
SDR =

jumlah kematian penyakit


xK
jumlqah seluruh penduduk

3) CFR
Presentase angka kematian oleh sebab penyakit tertentu untuk
menentukan kegawatan atau keganasan penyakit tersebut
jumlah kematian penyakit
CFR = jumlah seluruh kasus penyakit x K
4) MMR/ AKI
Jumlah kematian ibu oleh sebab kehamilan atau melahirkan atau
nifas (sampai 42 hari postpartum) per 100.000 kelahiran hidup
jumlah kematian ibu(hamil nifas)
x 100.000
jumlah kelahiran hidup
5) IMR/ AKB
Perbandingan jumlah kematian bayi ( < 1th ) dengan 1000
kelahiran hidup
IMR =

jumlah kematian bayi


x 1000
kelahiran hidup

Manfaat IMR :
a. Mengetahui gambaran tingkat kesehatan masyarakat yang
berkaitan dengan factor kematian bayi sesuai masalah
kesehatan bayi
b. Mengetahui tingkat pelayanan antennal
c. Mengetahui status gizi BUMIL
d. Mengetahui tingkat keberhasilan ibu dan anak dan program
KB
e. Mengetahui kondisi lingkungan sosial ekonomi
6) NMR/ AK Neonatal (0-4 minggu / 28 hari)
Perbandingan jumlah kematian bayi sampai umur < 28hr dengan
1000 angka kelahiran hidup
jumlah kematianneonatus
NMR = jumlah kelahiran bayi hidup x 1000

10

IV.

Skema

11

V.

LEARNING OBJECTIVE

1. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan mengenai perbedaan


Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans Epidemiologi.
2. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan mengenai Survey
Epidemiologi.
3. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan mengenai Langkah
Langkah Investigasi Kejadian Luar Biasa/KLB.
4. Mahasiswa mampu mengetahui dan menjelaskan Sumber Daya
Penanggulangan Kejadian Luar Biasa/ KLB.

12

VI.
VII.

BELAJAR MANDIRI
BERBAGI INFORMASI
1. Perbedaan Penyelidikan Epidemiologi dan Surveilans Epidemiologi
A. Penyelidikan Epidemiologi
Rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu kejadian baik sedang
berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui
pengumpulan data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data,
membuat kesimpulan dan rekomendasi dalam bentuk laporan.
Tujuan Penyelidikan Epidemiologi
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1501/ MENKES/ X/ 2010
a. Mengetahui gambaran epidemiologi wabah.
b. Mengetahui kelompok masyarakat yang terancam wabah.
c. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit
wabah termasuk sumber dan cara penularan penyakitnya.
d. Menentukan cara penanggulangan
B. Tahap-tahap penyelidikan epidemiologi menurut (Irianto, 2014):
1) Tahap Survei pendahuluan:
a. Menegakan diagnosa
b. Memastikan adanya KLB

13

c. Buat hipotesa mengenai penyebab, cara penyebaran, dan faktor


yg mempengaruhinya
2) Tahap pengumpulan data ;
a.

Identifikasi kasus kedalam variabel epidemiologi (orang,


tempat, waktu )

b.

Tentukan agen penyebab, cara penyebaran, dan faktor yg


mempengaruhinya.

c.

Menentukan kelompok yang rentan/beresiko

3) Tahap pengolahan data :


a.

Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi,


menurut

ukuran epid (Angka insiden, Angka prevalen, Case

fatality), menurut nilai statistik

(Mean, median mode, deviasi

b. Lakukan analisa data


c. Buat intepretasi hasil analisa
d.

Buat laporan hasil PE

4) Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya yaitu :


a. Tindakan penanggulangan
b. Tindakan pencegahan
C. Surveilans Epidemiologi
1) Definisi Surveilans Epidemiologi
CDC mendefinisikan Surveilans Kesehatan adalah prosedur
sistematik dalam pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi
data, yang diikuti dengan pengaplikasian data tersebut pada program
kesehatan masyarakat

dalam rangka meningkatkan aktivitas

kesehatan masyarakat.
Menurut Depkes (2003:15), Surveilans epidemiologi adalah suatu
rangkaian proses pengamatan yang terus menerus sistematik dan
berkesinambungan dalam pengumpulan data, analisis dan interpretasi
data kesehatan dalam upaya untuk menguraikan dan memantau suatu
peristiwa kesehatan agar dapat dilakukan untuk menguraikan dan
memantau suatu

peristiwa kesehatan agar dapat dilakukan

14

penanggulangan yang efektif dan efesien terhadap masalah kesehatan


masyarakat tersebut.
Dengan demikian kata kunci dalam surveilans kesehatan
masyarakat adalah mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi,
menerapkan, dan menghubungkan dengan praktik-praktik kesehatan
masyarakat. Hasil dari surveilans intinya adalah tindakan yang
berbentuk respon.

Respon terhadap surveilan ada dua tipe yaitu

Respon segera (epidemic type response) dan Respon terencana


(management type response)
2) Ruang Lingkup Surveilans Kesmas
Surveilans kesmas atau surveilans epidemiologi merupakan
kegiatan yang ditujukan bagi intervensi suatu kejadian penyakit yang
mencakup

surveilans terhadap: Penyakit menular (PM), Penyakit

tidak menular (PTM),

Kesehatan Lingkungan (Kesling), Perilaku

sehat, Masalah kesehatan, Kesehatan Matra (Darat, Laut, Udara),


Kesehatan Kerja, dan Kecelakaan Kerja.
Surveilans epidemiologi pada penyakit menular meliputi:
a. PD3I (Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi)
b. AFP (Acute Flacid Paralysis)
c. Penyakit Potensial Wabah/Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular
dan Keracunan
d. Demam Berdarah Dengue (DBD)
e. Malaria
f. Zoonosis (Antraks, Rabies, Leptospirosis)
g. Filariasis
h. Tuberkulosis
i. Diare, Tifus, Kecacingan dan penyakit perut lainnya
j. Kusta
k. HIV/AIDS
l. Penyakit Menular Seksual (PMS); dan
m. Pneumonia, termasuk SARS
3) Tujuan Surveilans
Secara umum tujuan surveilans adalah mendapatkan informasi
epidemiologi penyakit tertentu dan mendistribusikannya kepada pihak
terkait, pusat-pusat kajian, pusat penelitian, serta unit lainnya. Adapun
tujuan khusus diselenggarakannya surveilans kesehatan masyarakat
dari berbagai sumber dan literatur adalah sebagai berikut:
1. Mendeteksi wabah
15

2. Mengidentifikasi

masalah

kesehatan

dan

kecenderungan

penyebaran penyakit
3. Mengestimasi luas dan pengaruh masalah kesehatan
4. Memberi penekanan pada penyebaran kejadian kesehatan secara
5.
6.
7.
8.
9.

geografis dan demografis


Mengevaluasi cara pengawasan
Membantu dalam pengambilan keputusan
Mengalokasikan sumberdaya kesehatan secara lebih baik
Menggambarkan riwayat alamiah suatu penyakit
Membuat hipotesis dalam rangka pengembangan penelitian

epidemiologi
10. Memonitor perubahan agen infeksi
11. Memfasitasi program perencanaan kesehatan.
4) Langkah-Langkah Surveilans
A. Pengumpulan Data
Tahap ini merupakan permulaan kegiatan surveilans yang sangat
penting untuk menghasilkan data kejadian penyakit yang baik.
Kegiatan pengumpulan data dapat dilakukan secara aktif dan pasif
(lihat sub bab tentang jenis surveilans).
Sumber data yang bisa digunakan dalam surveilans antara lain:
Laporan penyakit, Pencatatan kematian, Laporan wabah, Pemeriksaan
laboratorium, Penyelidikan peristiwa penyakit, Penyelidikan wabah,
Survey/Studi Epidemiologi, Penyelidikan distribusi vektor dan
reservoir, Penggunaan obat-serum-vaksin, Laporan kependudukan dan
lingkungan, Laporan status gizi dan kondisi pangan, dan sebagainya.
Sedangkan jenis data surveilans meliputi: Data kesakitan, Data
kematian, Data demografi, Data geografi, Data laboratorium, Data
kondisi lingkungan, Data status gizi, Data kondisi pangan, Data vektor
dan reservoir, Data dan informasi penting lainnya.
Dilihat dari frekuensi pengumpulannya, data surveilans dibedakan
dalam empat kategori:
a. Data rutin bulanan, yang digunakan untuk perencanaan dan
evaluasi.
Misalnya: data yang bersumber dari SP2TP, SPRS;
b. Data rutin harian dan mingguan, yang digunakan dalam Sistem
Deteksi Dini pada Kejadian Luar Biasa (SKD KLB). Misalnya:
data yang bersumber dari Laporan Penyakit Potensial Wabah (W2)

16

c. Data insidensil. Misalnya: Laporan KLB (W1)


d. Data survey.
Adapun syarat yang dibutuhkan agar data surveilans yang
dikumpulkan berkualitas adalah sebagai berikut:
1. Memuat informasi epidemiologi yang lengkap. Misalnya:
a. Angka kesakitan dan angka kecacatan menurut umur, jenis
kelamin dan tempat tinggal
b. Angka cakupan program
c. Laporan Faktor Risiko Penyakit
2. Pengumpulan data dilakukan secara terus menerus dan sistematis
3. Data kejadian penyakit yang dikumpulkan selalu tepat waktu, lengkap
dan benar
4. Mengetahui dengan baik sumber data yang dibutuhkan, misalnya dari
Puskesmas, pelayanan kesehatan swasta, laporan kegiatan lapangan
Puskesmas, dan sebagainya; dan
5. Menerapkan prioritas dalam pengumpulan data yang diutamakan pada
masalah yang signifikan.
B. Pengolahan Data
Pengolahan data merupakan kegiatan penyusunan data yang sudah
dikumpulkan ke dalam format-format tertentu, menggunakan teknikteknik pengolahan data yang sesuai. Dalam pengolahan data, dua
aspek perlu dipertimbangkan yaitu ketepatan waktu dan sensitifitas
data (lihat sub bab tentang Atribut Surveilans).
Dalam pengolahan data, terdapat langkah yang penting yaitu
Kompilasi Data, yang bertujuan untuk menghindari duplikasi
(doble)data dan untuk menilai kelengkapan data. Proses kompilasi
data dapat dilakukan secara manual (dengan kartu pengolah data atau
master table), atau komputerisasi (dengan aplikasi pengolah data,
misalnya Epiinfo). Variabel yang dikompilasi meliputi orang, tempat,
dan waktu.
Pengolahan data yang baik memenuhi kriteria antara lain:
1. Selama proses pengolahan data tidak terjadi kesalahan sistemik
2. Kecenderungan perbedaan antara distribusi frekeuensi dengan
distribusi kasus dapat diidentifikasi dengan baik
3. Tidak ada perbedaan atau tidak ada kesalahan dalam menyajikan
pengertian/definisi
17

4. Menerapkan metode pembuatan tabel, grafik, peta yang benar.


C. Analisis data
Data yang telah diolah kemudian dilakukan analisis untuk
membantu dalam penyusunan perencanaan program, monitoring,
evaluasi, dan dalam upaya pencegahan serta penanggulangan
penyakit.Penganalisis data harus memahami dengan baik data yang
akan dianalisa. Data yang telah diolah dan disusun dalam format
tertentu umumnya lebih mudah dipahami. Beberapa cara berikut
biasanya dilakukan untuk memahami data dengan baik, antara lain:
1. Pada data sederhana dan jumlah variabel tidak terlalu banyak,
cukup dengan mempelajari tabel saja
2. Pada data yang kompleks, selain mempelajari tabel juga
dilengkapi dengan peta dan gambar. Peta dan gambar berfungsi
untuk mempermudah pemahaman akan trend, variasi, dan
perbandingan.
Beberapa teknik berikut umumnya dipakai dalam analisa
datasurveilans, seperti:
a. Analisis univariat, yaitu teknik analisis terhadap satu variable
saja dengan menghitung proporsi kejadian penyakit dan
menggambarkan deskripsi penyakit secara statistik (mean,
modus, standar deviasi)
b. Analisis Bivariat, yaitu teknik analisis data secara statistik
yang melibatkan dua variable. Untuk menggambarkan analisis
ini bisa digunakan tools seperti Tabel (menghitung proporsi
dan

distribusi

frekuensi),

Grafik

(menganalisis

kecenderungan), dan Peta (menganalisis kejadian berdasarkan


c.

tempat dan waktu)


Analisis lebih lanjut dengan Multivariat, yaitu teknik analisis
statistik lanjutan terhadap lebih dari dua variable, untuk

mengetahui determinan suatu kejadian penyakit.


D. Penyebarluasan informasi
Tahap selanjutnya adalah menyebarluaskan informasi berdasarkan
kesimpulan yang didapat dari analisis data. Penyebaran informasi

18

disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dengan


program kesehatan, seperti Pimpinan program, Pengelola program,
atau Unit-unit kerja yang kompeten di lintas program atau sektoral.
Menurut Noor (2008) informasi surveilans sebaiknya disebarkan
kepada tiga arah yaitu:
1. Kepada tingkat administrasi yang lebih tinggi, sebagai tindak
lanjut dalam menentukan kebijakan
2. Kepada tingkat administrasi yang lebih rendah atau instansi
pelapor, dalam bentuk data umpan balik
3. Kepada instansi terkait dan masyarakat luas.
Kapan informasi disebarkan? Penyebaran dapat memanfaatkan
waktu-waktu atau kegiatan yang memungkinkan berkumpulnya para
pemangku kepentingan, misalnya pada rapat rutin, rapat koordinasi,
atau pertemuan rutin warga masyarakat.
Selain berbentuk laporan, media untuk penyebaran informasi dapat
berupa bulletin, news letter, jurnal akademis, website, dan media
sosial.
Tabel 2. Perbedaan Survei Epidemiologi, Surveilans Epidemiologi
dan Penyelidikan Epidemiolgi (Irianto, 2014)
Perbedaan
Waktu

Survei Epidemiologi

Surveilans

Penyelidikan

Episodik/sewaktu

Epidemiologi
Kontinyu

epidemiologi
Ketika
terjadinya

Fungsi

Salah

satu

metode Penyedia

pengumpulan data

Informasi
yang

Langkah

wabah
Mengetahui

Kuesioner/wawancar

penyebab,

tepat menanggulangi

waktu

, dan mencegah

terhadap

terjadinya

masalah

wabah di masa

kesehatan
Pengumpulan

mendatang
Persiapan,

19

pelaksanaa

Lingkup

analisis, penetapan

interpretasi

wabah,

dan

verivikasi

Bagian

diseminasi
dari Mencakup

surveilans

dan survey

penyelidikan wabah

diagnosis ,dst
Bagian
dari
dan surveilans

penyelidikan
wabah

2. Penjelasan tentang Survei Epidemiologi


A. Definisi Survei Epidemiologi
Survei merupakan pengumpulan data atau informasi secara
sistematis dari suatu sampel yang di ambil dari populasi tertentu.
Tujuan dari survei kesehatan gigi ialah sebagai berikut:
a. menentukan status kesehatan gigi masyarakat.
b. Mengumpulkan informasi/keterangan yang berhubungan
dengan

kesehatan

gigi

sebagai

dasar

suatu

program

pencegahan.
B. Survei terdiri dari berbagai jenis, yaitu:
1. Deskriptif
Survei deskriptif yaitu survei yang dilakukan untuk menguraikan
suatu keadaan dalam suatu komunitas.
2. Analitik
Survei analitik yaitu survei yang dilakukan untuk
menjelaskan suatu keadaan situasi yang terjadi di masyarakat
pada umumnya menjawab pertanyaan mengapa. Contoh :
mengapa penyakit bisa timbul pada individu ?
3. Epidemiologi
Survei epidemiologi ialah survei yang diadakan untuk
mendapatkan gambaran tentang penyebaran penyakit

yang

terdapat pada masyarakat dan factor-faktor lain yang mungkin ada


hubungannya dengan penyakit tersebut. Kegunaan Survei ini,
yaitu:
a. mendapatkan diagnosis status kesehatan Masyarakat

20

b. menjelaskan penyebab & riwayat penyakit


c. memberikan kontribusi pada evaluasi kesehatan.
d. Perencanaan Program
Untuk

dapat

merencanakan

suatu

progaram,

kita

memerlukan informasi dasar kesehatan dan kebutuhan-kebutuhan


perawatan masyarakat tersebut. Dengan demikian, usaha yang
dijalankan betul-betul dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Pada
survei ini, kita juga harus mengetahui sejauh mana kemampuan
yang dimiliki masyarakat untuk menjalankan program tersebut.
e. Evaluasi
Survei ini dilakukan untuk menilai sejauh mana upaya
pelayanan kesehatan telah dilaksanakan, apakah sesuai dengan
program yangg kita rencanakan.
Survei dilakukan dengan beberapa tahap, yaitu sebagai berikut:
a. Penjelasan judul dan penetapan judul
Sebelum merencanakan suatu survei kita harus menjelaskan
tujuan survei tersebut, misalnya mengapa survei tersebut kita
lakukan: apakah untuk mendapatkan suatu informasi yang akan
menjadi suatu dasar keputusan, untuk mengidentifikasi, untuk
mencari kejelasan, untuk penyuluhan untuk mengetahui apakah
suatu program sudah berjalan dengan baik.
Tujuan survei seringkali dihubungkan dengan istilah-istilah
yang cukup umum. Setiap tujuan umum diikuti pernyataan
secara eksplisit dari tujuan-tujuan spesifik yang sesuai.
Pernyataan tujuan harus memenuhi syarat:
a.

Harus memenuhi maksud


survei

b.

Tujuan harus dinyatakan


jelas dan sangat spesifik dan tidak meragukan apa yang
diukur

c.

Dinyatakan dalam istilahistilah yang bisa diukur.

b. Perencanaan
21

Langkah pertama
Menyusun tujuan survey yang harus ditetapkan secara
lebih rinci.
Langkah kedua, merencanakan metode-metode:
a) populasi survei
b) variabel-variabel yg akan disurvei
c) Metode-metode pengumpulan data
d) Metode pencatatan dan pengolahan

c. Langkah ketiga
Merencanakan jadwal kegiatan. Agar pelaksanaan survei bisa
diselesaikan dengan waktu yang telah direncanakan, hendaknya
disusun jadwal secara rinci dan jelas.
d. Langkah keempat
Merencanakan organisasi kegiatan & alokasi biaya.
e. Langkah kelima
Merencanakan pola dan sistematika laporan. Pada agian akhir
suatu rencana survei dicantumkan pola yang digunakan dalam
menyusun laporan dan bagaimana sistematika laporan yang
akan dibuat.
C. Pelaksanaan survei
D. Pengolahan data
Dalam kegiatan survei, banyak sekali mengikutsertakan data. Kita
perlu mengubah atau membuat seluruh data yang diperoleh menjadi suatu
bentuk sehingga dapat dianalisis dan bisa ditarik kesimpulan. Langkahlangkah pengolahan data:
a. Editing
Langkah editing ialah langkah untuk memeriksa kuesionerkuesioner atau formulir yang masuk, apakah bisa dibaca, apakah
pertanyaan sudah dijawab semua, dan lain sebagainya.
b. Coding
Data yang terkumpul diubah bentuknya ke bentuk yang lebih
ringkas dengan menggunakan kode-kode, sehingga lebih mudah dan
sederhana.

22

c. Transfering
Data yang berupa kode pada kuesioner dipindahkan ke dalam suatu
media yang lebih mudah ditangani dan diolah.
d. Tabulating
Pengolahan data yang dalam bentuk kode dipindahkan menjadi
bentuk tabel.
E. Interpretasi data
Pada tahap ini, tugas yang paling utama ialah menggunakan
informasi yang ada untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan. Hasil analisis
data yang ada kesimpulannya dapat menggambarkan situasi tertentu,
perbedaan antarsituasi, hubungan antarvariabel, dan pengembangan
keadaan. Kesimpulan tersebut dapat diperoleh dari data-data statistik yang
ada.
F. Penulisan laporan
Laporan harus ditulis dengan sedemikian rupa sehingga terlihat
menarik untuk dapat dibaca. Oleh karena itu, laporan harus memenuhi
beberapa kriteria, yaitu:
a. Judul harus bisa menerangkan dengan jelas apa yang dimaksud dalam
laporan.
b. Ringkasan harus bersifat informative dan dapat memberikan gambaran
keseluruhan dari laporan.
c. Isi laporan harus mudah dimengerti.
d. Kata yang tidak perlu harus dihindari.
Menurut Departemen Kesehatan RI, data survei untuk kesehatan &
kedokteran berasal dari beberapa sumber, yaitu :
1. Sensus Penduduk
Sensus yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali, digunakan
untuk keperluan pemantauan dan evaluasi terhadap kemajuan program
kesehatan, perumahan, pendidikan, dan lain-lain.
2. Survei populasi Intersensal
23

Survei yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali di antara sensus


penduduk, dipergunakan untuk keperluan estimasi jumlah penduduk,
angka kelahiran, angka kematian, mobilitas penduduk, serta keadaan
sosio-ekonomi penduduk.
3. Survei Sosio-Ekonomi Nasional
Digunakan untuk melihat data-data kegiatan sosio-ekonomi
penduduk seperti status kesehatan, angka fertilitas, angka kriminalitas,
perumahan, dan lingkungan hidup.
4. Food Balanced Sheets
Digunakan untuk mengetahui pola konsumsi pangan penduduk,
kebutuhan kosumsi pangan per kapita, distribusi pangan untuk
keperluan ekspor, impor, industri, dan domestik.
5. Laporan penyakit Epidemis & Menular
Digunakan untuk mengetahui beberapa penyakit menular yang
bersifat epidemik dan sewaktu-waktu dapat menimbulkan wabah
penyakit di masyarakat.
6. Sistem pencatatan Rumah Sakit
Digunakan untuk mengetahui data terakhir serta informasi
mengenai kegiatan, pelayanan dan fasilitas rumah sakit pemerintah dan
swasta di Indonesia.
7. Sistem Pencatatan & Pelaporan Tenaga Kesehatan
Digunakan untuk mengetahui data mengenai jumlah tenaga kerja
dan personil kesehatan, jumlah sekolah kesehatan dan muridnya, serta
data mengenai kegiatan pelatihan/kursus kesehatan.
8. Konsorsium ilmu kesehatan
Digunakan untuk mengetahui data mengenai jumlah fakultas
kedokteran serta lulusan dokter di Indonesia yang dipakai untuk
perencanaan penempatan dokter dan pengembangan pendidikan dokter.

24

9. SEAMIC health statistic


Merupakan informasi kesehatan dan sensus penduduk di negara
ASEAN dan Jepang yang diterbitkan setiap beberapa tahun oleh South
East Asian Medical Information International Foundation of Japan.
10.

Survei kesehatan rumah tangga (SKRT)


SKRT merupakan survei periodik yang dilaksanakan oleh badan
penelitian dan pengembangan kesehatan berkoordinasi dengan badan
pusat statistik (BPS). Data yang dikumpulkan dalam SKRT mengacu
pada program World Health Survei (WHS), yaitu:

a.

Mengumpulkan

data

dasar

kesehatan

masyarakat

yang

menyeluruh.
b.

Memonitor indikator Millenium Development Golds (MDG) yang


berhubungan dengan kesehatan.

c.

Pengembangan

sistem

kesehatan

menurut

sudut

pandang

masyarakat.
Tujuan SKRT adalah menyediakan data dan informasi kesehatan
dari sudut pandang masyarakat untuk dukungan evidence bassed
planning di Indonesia. Instrumen SKRT terbagi menjadi empat
bagian, yaitu:
a.

Rumah tangga (meliputi seluruh anggota


rumah tangga)

b.

Responden terpilih (diwakili 1 anggota


rumah tangga diwakili usia >15 tahun)

c.

Pengukuran (tinggi badan, berat badan,


lingkar lengan tangan, tekanan darah)

d.

Pemeriksaan laboratorium (Hb, gula darah,


kolesterol)

G. PREVALENSI

25

Prevalensi merupakan gambaran tentang frekuensi penderita lama dan


baru yg ditemukan pada jangka waktu tertentu disekelompok masyarakat tertentu.
Prevalensi terbagi menjadi 2 jenis, yaitu:
1.

Angka Prevalensi Periode


Angka prevalensi periode adalah jumlah penderita lama dan baru
suatu penyakit yang ditemukan pada suatu waktu tertentu dibagi jumlah
penduduk pada pertengahan jangka waktu yg bersangkutan dalam
persen.

Angka prevalensi periode =


2.

jumlah penderita lama dan baru


x100%
jumlah penduduk pertengaha n

Angka Prevalensi Poin


Angka prevalensi poin

jumlah penderita lama dan baru


x100%
jumlah penduduk saat itu

Angka prevalensi poin merupakan jumlah penderita lama dan baru


pada satu saat, dibagi dengan jumlah penduduk pada saat itu dalam
persen.

3.

Langkah Langkah Investigasi Kejadian Luar Biasa/KLB


A. Pengertian KLB (Kejadian Luar Biasa)
Menurut Departemen KesehatanRI (2004), sesuai dg PP no.
40/ 1991, adalah: Timbulnya atau meningkatnya kejadian
kesakitan

dan/atau

kematian

yang

bermakna

secara

epidemiologis pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu


dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya
wabah
B. Tujuan Investigasi KLB/ Wabah
Tujuan utama investigasi KLB/ wabah (Weber, dkk dalam
Thomas dan Weber, 2001; CDC, 1992) adalah:
1. Mengidentifikasi dengan cepat sumber dan reservoir dari
KLB/ wabah

26

2. Melaksanakan

intervensi

untuk

menanggulangi

dan

mengeliminasi KLB/ wabah


3. Mengembangkan kebijakan untuk mencegah KLB/ wabah
di masa datang
C. Prinsip-prinsip Investigasi KLB/ Wabah
Prinsip-prinsip dasar investigasi KLB/ wabah (Thomas dan
Weber, 2001) adalah sebagai berikut :
1. Walaupun secara teoritis langkah-langkah investigasi KLB/
wabah terdiri dari beberapa tahapan yang berurutan, namun
dalam prakteknya proses investigasi wabah bersifat dinamis
dan berbagai kegiatan dapat dilaksanakan secara simultan.
2. Teramat penting untuk senantiasa memelihara komunikasi
antara berbagai pihak yang bekentingan dalam investigasi
dan penanggulangan wabah,
3. Prinsip-prinsip epidemiologi dan statistik, khususnya
berkenaan dengan rancangan studi dan analisis harus
diterakan secara benar (appropriate)
4. Semua tahapan investigasi dan proses pengumpulan data/
informasi harus direkam/ dicatat secara teliti dan hati-hati.
5. Tinjauan (review) yang kritis dan hati-hati harus dilakukan
berdasarkan kepustakaan ilmiah yang relevan
6. Tim kesehatan yang melakukan investigasi KLB/ wabah
harus senantiasa berpikiran terbuka terhadap berbagai
kiemungkinan sumber KLB/ wabah yang belum terungkap.
D. Langkah-langkah Investigasi KLB/ Wabah
Langkah-langkah investigasi KLB/wabah (CDC, 1992; Dwyer
dan Groves, dalam Nelson, dkk, 2005) meliputi beberapa
tahapan sebagai berikut:
1. Persiapan lapangan
Pada tahap ini harus dipersiapkan 3 kategori:
a. Persiapan investigasi
b. Persiapan administrasi
c. Persiapan konsultasi
2. Konfirmasi kejadian KLB/wabah dan verifikasi diagnosis
a. Konfirmasi kejadian KLB/wabah
Pada situasi KLB/ wabah, umumnya diasumsikan
bahwa semua kasus-kasus yang muncul saling

27

terkait satu sama lain dan terjadi akibat hal atau


sebab yang sama.
Peningkatan jumlah kasus yang melebihi yang
diperkirakan tersebut bukan disebabkan oleh faktorfaktor lain yang artifisal (diluar peningkatan insiden
penyakit yang sesungguhnya)
b. Verifikasi Diagnosis
3. Penentuan definisi kasus, identifikasi dan penghitungan
kasus dan pajanan
a. Penentuan definisi kasus
Definis kasus dalam konteks KLB/ wabah haruslah
dibatasi oleh karateristik tertentu dari, orang tempat
dan waktu. Sekali ditetapkan maka definisi kasus ini
harus dipakai secara konsisten pada semua situasi
dalam investigasi.
b. Identifikasi dan penghitungan kasus dan pajanan
Dalam rangka menghitung kasus, terlebih dahulu
harus dipikirkan mekanisme untuk mengidentifikasi
kasus dari berbagai sumber kasus yang mungkin,
seperti dari/di:
4. Tabulasi data epidemiologi deskriptif berdasarkan orang,
tempat dan waktu
KLB/ wabah dapat digambarkan secara epidemiologis
dengan melakukan tabulasi data frekuensi distribusi
kasusnya menurut karakteristik orang, tempat dan waktu.
Penggambaran ini disebut epidemiologi deskriptif.
5. Pengumpulan specimen dan analisis laboratorium
Pengumpulan spesimen apabila memungkinkan dan layak
(feasible) dapat membantu konfirmasi diagnosis, bahkan
untuk penyakit tertentu merupakan penentu diagnosis,
seperti misalnya pada kasus kolera, salmonelosis, hepatitis
dan keracunan logam berat. Namun harus dipahami bahwa
setiap perangkat dan teknik tes laboratorium memiliki nilai
validitas (sensitifitas dan spesifisitas) tertentu yang akan

28

menentukan besarnya false positif atau false negatif dari


diagnosis kasus.
6. Formulasi dan uji hipotesis melalui studi epidemiologi
analitik
a. Formulasi hipotesis
Hipotesis yang kita buat haruslah diarahkan untuk
mencari penjelasan tentang:
a) Sumber penularan
b) Cara penularan (mode of transmission)
c) Faktor-faktor risiko atau determinan yang
mempengaruhi terjadinya KLB/waba.
Proses penalaran dalam membuat hipotesis dapat
menggunakan pendekatan berikut:
a) Metode perbedaan (difference)
b) Metode kecocokan (agreement)
c) Metode variasi yang berkaitan (concomitant
variation)
d) Metode analogi (analogy)
7. Aplikasi studi sistematik tambahan
Selain studi epidemiologi deskriptif dan analitik, kadang
kala diperlukan dukungan tambahan dari studi-studi
sistematik lain, khususnya ketika studi epidemiologi
analitik masih belum dapat menyuguhkan bukti-bukti yang
kuat.
8. Penerapan intervensi penanggulangan dan pencegahan
Secara umum intervensi penanggulangan dapat diarahkan
pada titik/ simpul terlemah dalam rantai penularan
penyakit, seperti:
a. Agen etiologi, sumber, reservoir atau kondisi
lingkungan yang spesifik
b. Keberadaan faktor-faktor

risiko

yang

ikut

berpengaruh
c. Mekanisme transmisi penyakit
d. Kerentanan host melalui program kebugaran dan
vaksinasi misalnya
9. Komunikasi hasil
Tugas terakhir dalam

investigasi

wabah

adalah

mengkomunikasikan dengan baik hasil investigasi kepada

29

berbagai pihak yang berwenang, bertanggungjawab dan


terkait dengan intervensi penanggulangan dan pencegahan.
Format/ bentuk komunikasi yang dapat dilakukan adalah
berupa:
a. Penjelasan lisan.
Dalam format ini pihak-pihak yang berwenang,
bertanggungjawab dan terkait dengan intervensi
penanggulangan dan pencegahan. Presentasi oral
haruslah jelas, mudah dipahami dan secara ilmiah
meyakinkan pengambil keputusan sehingga dapat
memotivasi

mereka

untuk

segera

melakukan

intervensi
b. Penulisan laporan.
Hasil investigasi juga perlu ditulis dalam laporan
dengan sistematika tertentu yang sesuai dengan
standar-standar penulisan ilmiah.
4. Sumber Daya Penanggulangan Kejadian Luar Biasa/ KLB.
Berdasarkan pendanaan dalam penanggulangan Kejadian Luar Biasa/
KLB dapat dinyatakan pada dibawah ini, yaitu :
1) Pasal 18

Dibebankan pada anggaran pemerintah daerah

Pemerintah daerah tidak mampu mengajukan bantuan


kepada Pemerintah daerah lainnya

2) Pasal 20

Pemerintah dapat bekerja sama dengan Negara lain atau


badan internasional dalam mengupayakan sumber
pembiayaan dan/ atau tenaga ahli sesuai ketentuan
peraturan UU.

TIM GERAK CEPAT ditetapkan oeh :

Kepala dinas kesehatan kabupaten atas nama bupati untuk


tingkat kabupaten
30

Kepala dinas kesehatan provinsi atas nama gubernur untuk


tingkay provinsi

Direktur Jendral atas nama Menteri untuk tingkat pusat.

Terdiri dari :
a. Tenaga medis
b. Epidemiologi kesehatan
c. Sanitarian (Kesling)
d. Entomolog kesehatan
e. Tenaga laboratorium dengan melibatkan lintas sektoral maupun
masyarakat.
(Permenkes, 2014)

KESIMPULAN
Pada tutorial skenario 2 sesi kali ini, diketahui di kota antah
berantah mengalami kejadian KLB (Kejadian Luar Biasa). Pada bulan
februari 2014 terdapat sebanyak 258 kasus dan bulan februari 2015
meningkat kurang lebih 2 x lipat menjadi 579 kasus. Incidence Rate di
indonesia sebesar < 50 per 100 ribu penduduk dengan Case Fatality Rate
sebesar 0,2.
Penetapan kejadian KLB menurut peraturan menteri kesehatan
tahun 2010 harus memenuhi salah satu aspek syarat terjadinya KLB,
dimana dalam kasus sudah memenuhi kriteria penetapan KLB salah
satunya yaitu peningkatan kejadian kesakitan 2x lipat dibandingkan

31

periode sebelumnya. Angka insidensi menunjukan frekuensi penyakit baru


dimana terdapat kesakitan dalam suatu masyarakat sebesar <50 per 100
ribu penduduk. Case fatality rate menunjukkan presentase angka kematian
oleh sebab penyakit tertentu.
Dalam skenario laporan resmi disampaikan pejabat walikota dalam
rapat koordinasi dari laporan kepala dinas kesehatan. Alur pelaporan sudah
benar dimana pihak yang berwenang untuk menetapkan suatu wilayah
terkena kejadian luar biasa adalah Kepala dinas kesehatan kabupaten /
kota, Kepala dinas kesehatan provinsi atau Menteri kesehatan. Setelah
dilakukan pelaporan, tim gerak cepat yang terdiri dari Kepala dinas
kesehatan, direktur jenderal serta tenaga professional kesehatan melakukan
penyelidikan epidemiologi dengan metode pasif maupun aktif untuk
mengetahui tingkat komorbiditas, mortalitas, faktor penyebab, kelompok
terkena kesakitan, serta cara penanggulangan terjadinya penyakit.

SARAN
Mahasiswa kurang mencari referensi sehingga informasi yang didapatkan kurang.
Seharusnya Mahasiswa mencari banyak referensi agar ilmu yang disampaikan dan
didapat juga banyak. Mahasiswa kurang mendalami ilmu tentang ukuran
epidemiologi sehingga tutorial sedikit lama karena adanya penjelasan mengenai
hal tersebut oleh tutor. Seharusnya sebelum tutorial berlangsung Mahasiswa sudah
mempelajari blok yang sudah dipelajari disemester sebelumnya untuk mengingat
hal seputaran penyakit yang berkaitan dengan blok ini. Tutor berganti-ganti
sehingga tidak dapat melihat perkembangan Mahasiswa. Seharusnya tutor tetap
agar dapat melihat perkembangan Mahasiswa.

32

DAFTAR PUSTAKA
Azrul, A (1999) Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Binarupa Akasara.
Bonita, B (1997) Dasar dasar Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.
Budiarto, E (2003) Pengantar Epidemiologi. Jakarta: EGC.
Bustan, M.N (2002) Pengantar Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta.
Depertemen Kesehatan Republik Indonesia (2007) Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 128/MENKES/SK/II/2004 tentang Kebijakan

33

Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Depertemen Kesehatan Republik


Indonesia.
Depertemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) Sistem Kesehatan Nasional.
Depertemen Kesehatan Republik Indonesia.
Halstead, S.B (2007) Dengue Fever and Dengue Hemorrhagic Fever. In:
Kliegman, Robert M., Behrman, Richard E., Jenson, Hal B., and Stanton,
Bonita F., eds. Nelson Textbook of Pediatrics 18th ed.. Philadelphia:
Saunders Elsevier, 1412-1414.
Irianto, Koes (2014) Epidemiologi Penyakit Menular & Tidak Menular. Bandung:
Alfabet
Menteri Kesehatan RI (2010) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia
Nomor 1501/ MENKES/ X/ 2010.
Murti, B (2003) Prinsip dan Metode Riset Epidemiologi. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Nasri, Noor (2000). Dasar Epidemiologi, Jakarta, Rineka Cipta.
Notoatmodjo (2005) Metodologi Kesehatan. Rineka Cipta: Jakarta
Notoatmodjo, E (2003) Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cet.
Ke-2. Jakarta : Rineka Cipta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 82 (2014) Tentang
Penanggulangan Penyakit Menular dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Menteri Kesehatan Republik Indonesia.
Rajab,Wahyudin (2009) Buku Ajar Epidemiologi untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta: EGC.
Rianti,Emy (2009) Buku Ajar Epidemiologi dalam Kebidanan. Jakarta: Trans Info
Media.

34

Soemirat, Juli (2005) Epidemiologi Lingkungan. Jogjakarta : Gadjah Maada


University Press
Sutrisna, B (1994) Pengantar Metoda Epidemiologi. Jakarta: Dian Rakyat.
Thomas C. Timmreck, PhD (2005) Epidemiologi Suatu Pengantar. Jakarta: EGC.

35