Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Problem solving cycle merupakan proses mental yang melibatkan
penemuan masalah, analisis dan pemecahan masalah. Tujuan utama dari
pemecahan masalah adalah untuk mengatasi kendala dan mecari solusi yang
terbaik dalam menyelesaikan masalah. Problem solving cycle adalah proses yang
terdiri dari langkah - langkah berkesinambungan yang terdiri dari analisis situasi,
perumusan masalah secara spesifik, penentuan prioritas masalah, penentuan
tujuan, memilih alternatif terbaik, menguraikan alternatif terbaik menjadi rencana
operasional dan melaksanakan rencana kegiatan serta mengevaluasi hasil
kegiatan (Reed, 2000).
Bentuk problem solving cycle dalam dunia kesehatan salah satunya adalah
siklus manajemen masalah kesehatan. Menurut pengertiannya manajemen
masalah kesehatan didefinisikan sebagai suatu proses dan upaya untuk
mengoptimalkan sumber daya melalui pelaksanaan fungsi fungsi manajemen
yaitu, perencanaan (P1), penggerakan dan pelaksanaan (P2), serta pengawasan,
pengendalian, dan penilaian (P3) untuk mengatasi kesenjangan antara apa yang
diharapkan dan dengan apa yang menjadi kenyataan di bidang kesehatan dalam
rangka memenuhi kebutuhan dan kepuasan pelanggan/klien dalam rangka
mencapai tujuan organisasi layanan kesehatan (Sulaeman, 2015).
Siklus manajemen masalah kesehatan terdiri dari berbagai tahap siklus
yang meliputi analisis situasi, identifikasi masalah dan penyebabnya, penentuan
prioritas masalah, penetapan tujuan, alternatif pemecahan masalah dan prioritas
pemecahan masalah, pembuatan rencana operasional, penggerakan dan
pelaksanaan (aktuasi), serta pemantauan, pengendalian dan penilaian (Sulaeman,
2015).
Berdasarkan data 10 besar penyakit di Puskesmas Tanon II, ISPA
menduduki urutan pertama diagnosis penyakit terbanyak di Puskesmas Tanon II
dari bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Desember 2015. Kemudian disusul
dengan RA, dermatitis, myalgia, hipertensi, vulnus, diare, tifoid, konjungtivitis.

Berdasarkan analisis situasi yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanon


II tahun 2015 tedapat beberapa masalah antara lain cakupan kunjungan ibu hamil
(K4), Case Detection Rate TBC, Insidence Rate Demam Berdarah Dangue,
cakupan DDTK balita dan pra sekolah, cakupan bayi mendapat kapsul vitamin A,
cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe, serta pelayanan kesehatan usila dan pra
usila dimana hasil yang dicapai pada tahun 2015 masih belum sesuai dengan
target yang telah ditetapkan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah masalah kesehatan masyarakat yang terpenting di wilayah Puskesmas
Tanon II?
2. Apakah intervensi terbaik untuk menangani masalah kesehatan masyarakat
tersebut?
C. Tujuan
1 Tujuan Umum
Untuk mengidentifikasi masalah prioritas dalam memilih alternatif
intervensi dan membuat perencanaan untuk mengatasi masalah kesehatan
2

masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Tanon II.


Tujuan Khusus
a Mengetahui penyakit yang merupakan prioritas masyarakat di wilayah
b

kerja Puskesmas Tanon II.


Mengetahui faktor-faktor penyebab masalah kesehatan masyarakat di

wilayah kerja Puskesmas Tanon II.


Mengetahui alternatif pemecahan masalah untuk mengatasi masalah

d
e

prioritas tersebut.
Menentukan alternative pemecahan masalah yang terbaik untuk dipilih.
Mengetahui kekuatan, kelemahan internal, ancaman dan peluang (SWOT)

f
g

di lingkungan Puskesmas untuk mengatasi masalah.


Mengetahui cara implementasi rencana intervensi maslaah kesehatan.
Mengetahui sistem monitoring dan evaluasi terhadap program intervensi
yang direncanakan.

D. Manfaat

1. Diharapkan dapat menjadi informasi ilmiah mengenai masalah-masalah yang


ada di Puskesmas Tanon II, Sragen.
2. Diharapkan dapat menjadi informasi ilmiah mengenai metode penanganan
masalah-masalah yang ada di Puskesmas Tanon II.
3. Diharapkan dapat menjadi masukan bagi Puskesmas Tanon II dalam
menangani masalah kesehatan yang ada di Puskesmas Tanon II.

BAB II
ANALISIS SITUASI
A. Analisis Situasi Kependudukan
1 Keadaan Geografis
a Letak Wilayah
Wilayah kerja UPTD Puskesmas Tanon II di Jalan raya Sragen Gemolong Km 20, Desa Karangasem, Kecamatan Tanon, Kabupaten
Sragen
b

Batas Wilayah
Batas-batas wilayah kerja Puskesmas Tanon II meliputi:
Utara
: Desa Jati Kec. Sumberlawang dan Desa Nganti Kec.

Gemolong
Selatan : Desa Wirosari Kec. Plupuh Kab. Sragen
Barat
: Desa Peleman Kec. Gemolong Kab. Sragen
Timur
: Desa Tanon Kec. Tanon kab. Sragen
2.
Demografi
a. Data Penduduk dan Sasaran Program

Jumlah penduduk di wilayah UPTD Puskesmas Tanon II pada


tahun 2015 adalah sejumlah 26.345 jiwa, jumlah rumah tangga
terdapat 7.692 KK, kepadatan penduduk 1.034 Jiwa/km2.
Tabel 2.1 Penduduk dan Sasaran Program UPTD Puskesmas Tanon II Tahun
2015
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Sasaran Program
Bayi
Balita
Ibu Hamil
Ibu Bersalin
Ibu Nifas
Remaja
Wanita Usia Subur
Pasangan Usia Subur
Pra Lansia (45-59 tahun)
Lansia >60 tahun

Jumlah
417 jiwa
2.842 jiwa
418 jiwa
410 jiwa
410 jiwa
3.404 jiwa
7.261 jiwa
5.691 jiwa
3.820 jiwa
1.672 jiwa

b. Data Wilayah
UPTD Puskesmas Tanon II melingkupi satu kelurahan di wilayah
Kecamatan Tanon yaitu Kelurahan Karangasem. Keadaan wilyah
terdiri dari pemukiman dan pertanian sebanyak 8 Desa yang meliputi:
Desa Karangasem, Desa Slogo, Desa Ketro, Desa Kalikobok, Desa
Bonagung, Desa Gading, Desa Karangtalun dan Desa Sambiduwur.
Luas wilayah kerja Puskesmas Tanon II sebesar 2.549,37 Ha. Jarak
yang ditempuh untuk sampai ke Puskesmas Tanon II dari Kantor Desa
Karangasem adalah sejauh 500 meter.
c. Data Peran Masyarakat
UPTD Puskesmas Tanon II mempunyai kader kesehatan Posyandu
sejumlah 221 orang dan kader POS Lansia sejumlah 13 orang.
B. Analisis Situasi Masalah dan Kecenderungan Kesehatan
1 Pola 10 Besar Penyakit
Tabel 2.2. Sepuluh Besar Penyakit Terbanyak Tahun 2015

No.

Kode

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

J069
K291
M069
L303
M791
I10
T100
A090
A010
H10

Daftar Penyakit

Jumlah Kasus

ISPA
Gastritis
RA
Dermatitis
Myalgia
Hipertensi
Vulnus
Diare
Tifoid
Conjungtivitis

4.812
1.971
1.876
916
843
770
552
430
305
236

Angka Kematian ibu pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas Tanon

II tidak terdapat kasus kematian ibu.


Angka Kematian Neonatus pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas

Tanon II terdapat 5 kasus kematian neonatus


Angka Kematian Bayi pada tahun 2015 di wilayah kerja Puskesmas

Tanon II terdapat 2 kasus kematian bayi.


Angka Kematian Anan Balita pada tahun 2015 di wilayah kerja

Puskesmas Tanon II tidak terdapat kasus kematian anak balita.


Kesakitan Penyakit Menular
Tabel 2.3 Penyakit Menular di wilayah kerja Puskermas Tanon II Sragen
2015
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Jenis Penyakit Menular


Kusta
TB Paru
ISPA
DBD
Diare

Jumlah Kasus
2
9
4.812
34
430

C. Analisis Situasi Perilaku Kesehatan


Tabel 2.4. Pencapaian Indikator Kinerja Perilaku Kesehatan di wilayah kerja
Puskermas Tanon II Sragen 2015
N
O

INDIKATOR KINERJA

TARGET 2015

HASIL 2015

(%)

(%)

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K4)


Cakupan Pertolongan Persalingan oleh Nakes
Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk
Cakupan kunjungan Neonatus (KN1)
Cakupan BBLR yang Ditangani
Rumah Tangga sehat utama dan paripurna
Bayi yang mendapat ASI eksklusif
Jumlah balita Bawah garis merah
Jumlah balita gizi kurang
Jumlah balita gizi buruk
Jumlah Ibu Hamil KEK
Kelurahan bebas rawan gizi

100
100
100
99,5
100
75
48

91,6
100
100
100
100
76,19
76,47
0,52
1,50
0
2,05
100

0
100

D. Analisis Situasi Lingkungan Kesehatan


Tabel 2.5. Pencapaian Indikator Kinerja Lingkungan Kesehatan di wilayah
kerja Puskermas Tanon II Sragen 2015
N
O
1
2
3
4
5
6

INDIKATOR KINERJA

TARGET 2015

HASIL 2015

(%)

(%)

TUMP sehat
Keluarga dengan persediaan air bersih
Keluarga yang memilki jamban sehat
Keluarga yang memiliki tempat sampah
KK yang memilki pengelolaan air limbah
Rumah Sehat

100
90
90
75

30
71,06
72,6
27
15
76,19

E. Analisis Program dan Pelayanan Kesehatan


Tabel 2.6. Pencapaian Indikator Kinerja Program dan Pelayanan Kesehatan di
wilayah kerja Puskermas Tanon II Sragen 2015
N
O
1

INDIKATOR KINERJA
Cakupan DDTK balita dan pra sekolah

TARGET 2015

HASIL 2015

(%)

(%)

100

78,66

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Cakupan Pemeriksaan kesehatan siswa TK


Cakupan Pemeriksaan kesehatan siswa SD
Cakupan Peserta KB aktif
Cakupan UCI
Cakupan Rawat Jalan
Balita yang datang ditimbang
Balita yang Naik Berat badannya
Balita bawah garis merah
Cakupan bayi mendapat kapsul vit A 1x/th
Cakupan anak balita mendapat vit. A 1x/th
Cakupan ibu nifas mendapat kapsul vit A
Cakupan Ibu hamil medapat tablet Fe
Kelurahan mengalami KLB yang ditangani
< 24 jam
Kasus AFP/100.000 < 15 th
Cure Rate TB
Case Detection Rate TB
Cakupan balita dengan pneumonia yang
ditangani
Penderita DBD yang ditangani
Incidence Rate DBD
CFR DBD
Remaja yang mendapat konseling
Pelayanan kesehatan usila dan pra usila

100
100
80
100
18,8
80
80
<5
100
100
100
100
100
<2
95
98
100
100
< 4/100.000 pdk
<1
4
60

100
100
85,7
100
10,76
85,50
81,61
1,50
95,67
100
100
93,78
Tidak ada
KLB
0
100
9,52
Tidak ada
kasus
100
0,13
0
16,53
35,87

F. Analisis Sarana dan Prasarana


1. Tenaga Kesehatan
Tabel 2.7. Jumlah Tenaga Kesehatan di UPTD Puskesmas Tanon II
No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Tenaga
Dokter Umum
Dokter gigi
Perawat Umum
Bidan
Apoteker
Ahli Gizi
Sanitarian
Perawat Gigi

Jumlah
2
1
6
10
1
1
1
0
7

9
10
11
12

Tenaga Laboratorium
Petugas Rekam Medis
Penyuluh Kesehatan
Tenaga Umum

1
1
3
6

2. Sarana Kesehatan
Sarana kesehatan yang ada di wilayah Puskesmas Tanon II guna
menunjang pelayanan kesehatan kepada masyarakat meliputi:
Tabel 2.8 Sarana Kesehatan Puskesmas Tanon II
No.
1
2
3
4

Jenis sarana
Puskesmas Induk
Puskesmas pembantu
Posyandu
Dokter / dokter gigi / BP praktek swasta

Jumlah
1
2
43
7

Mobil Pusling

PKD

Bidan Desa

3. Unit Pelayanan di UPTD Puskesmas Tanon II


1. Loket pendaftaran atau
penerimaan pasien
2. IGD
3. Rawat inap
4. Poli Kesehatan Ibu dan
Anak
5. Poli berhenti merokok
6. Pojok Gizi
7. Poli KB

8. Poli umum
9. Poli Gigi
10. Poli konsultasi sanitasi
11. Imunisasi
12. Laboratorium
13. Apotek
14. Pengelolaan limbah
15. Pelayanan rekam medis
16. Pelayanan
ambulans/mobil jenazah

17.
18.
19.
20. BAB III
21. IDENTIFIKASI MASALAH DAN
22. PENENTUAN PRIORITAS MASALAH
23.
A. Identifikasi Masalah
24.Melalui analisis situasi akan dihasilkan berbagai macam masalah.
Masalah adalah kesenjangan yang dapat diamati antara situasi dan kondisi yang
terjadi dengan situasi dan kondisi yang diharapkan, atau kesenjangan yang dapat
diukur antara hasil yang mampu dicapai dengan tujuan dan target yang ingin
dicapai. Masalah juga dapat dirumuskan dalam bentuk hambatan kerja dan
kendala yang dihadapai organisasi layanan kesehatan dalam pelaksanaan
kegiatan dan program. Masalahkesehatan masyarakat antara lain adalah adana
suatu penyakit yang berkembang pada kurun waktu tertentu menyerang
kelompok-kelompok masyarakat di wilayah kerja organisasi layanan kesehatan
(Sulaeman, 2015).
25.
26.

Tabel 3.1. Identifikasi Masalah yang Ada di Puskesmas Tanon II

Sragen
28. Masalah
31.

32. Cakuan

29.
33.

Kunjunga
n
35.

Ibu

Hamil
36. Case
Detection

39.

Rate TB
40. Cakupan
DDTK

41.

42.

balita dan
pra
sekolah
44. Cakupan

43.

bayi
mendapat

45.

46.

49.

50.

kapsul vit
A 1x/th
48. Cakupan

47.

Ibu hamil
medapat
tablet Fe
51.
52. Incidence
Rate DBD
55.

56. Pelayanan
kesehatan
usila dan
pra usila
59.
60.

Berdasarkan data 10 besar penyakit di Puskesmas Tanon II,

ISPA menduduki urutan pertama diagnosis penyakit terbanyak di Puskesmas


Tanon II dari bulan Januari 2015 sampai dengan bulan Desember 2015.
Kemudian disusul dengan RA, dermatitis, myalgia, hipertensi, vulnus, diare,
tifoid, konjungtivitis.
61.

Dari pemaparan tersebut dapat disimpulkan beberapa masalah

penyakit yang muncul di Puskesmas Tanon II Sragen antara lain TB paru,


DBD dan ISPA yang menjadi prevalensi tertinggi.
62.

B. Penentuan Prioritas Masalah Kesehatan


63.

Menurut Sulaeman (2015) menentukan prioritas masalah

kesehatan disarankan untuk menggunakan tiga pendekatan berikut, yaitu:


1. Menggunakan informasi tentang komitmen global dan nasional, kecuali
terbukti bahwa masalah yang telah menjadi komitmen global dan nasional
tersebut betul-betul tidak ada di wilayah kerja Puskesmas bersangkutan
Oleh sebab itu, masalah yang perlu diberikan prioritas adalah PD3I
(Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi), malaria, TB,
HIV/AIDS, lepra, demam berdarah dangue, dan kurang gizi (khususnya
ibu hamil, bayi, anak balita dan anak sekolah).
2. Kalau tidak ada masalah lain di luar masalah yang termasuk dalam
komitmen global dan nasional tersebut, Puskesmas bisa menggunakan
teknik PAHO untuk menelaah prioritasnya. Misalnya yang bersifat
spesifik lokal seperti filariasis, frambusia, rabies, keracunan pestisida,
kecelakan, penggunaan narkoba, dan lain-lain.
3. Masalah yang menyangkut pembangunan mutu manusia sejak dini
hendaknya diberi prioritas tinggi. Ini berkaitan dengan upaya untuk
menjamin pertumbuhan otak yang optimal dalam rangka mempersiapkan
SDM berkualitas. Maka masalah yang menyangkut hal-hal berikut perlu
diprioritaskan, yaitu kesehatan ibu hamil, kesehatan ibu melahirkan,
kesehatan bayi, kesehatan ibu nifas, kesehatan anak balita, dan kesehatan
anak sekolah.
64.

Adapun kasus kematian bayi yang terdapat di wilayah kerja

Puskesmas Tanon II yang cencerung meningkat dibandingkan dengan tahun


2015. Berikut data kasus kematian bayi pada bulan Januari 10 Juni 2016.
65.
66.
2016

Tabel 3.2 Jumlah Kasus Kematian Bayi pada bulan Januari 10 Juni

67.

74.

81.

88.

95.
96.

Berdasarkan analisis situasi yang ada di wilayah kerja

Puskesmas Tanon II tahun 2015 tedapat beberapa masalah yang belum


mencapai target indikator kesehatan antara lain cakupan kunjungan ibu hamil
(K4) sebanyak 91,6% (target 100%), Case Detection Rate TBC 9,52% (target
98%), Insidence Rate Demam Berdarah Dangue 0,13% (target 4/100.000
penduduk atau 0,004%), cakupan DDTK balita dan pra sekolah dengan hasil
78,66% (target 100%), cakupan bayi mendapat kapsul vitamin A sebanyak
95,67% (target 100%), cakupan ibu hamil mendapat tablet Fe sebanyak
93,78% (target 100%), serta pelayanan kesehatan usila dan pra usila sebanyak
35,87% (target 60%). Kemudian dapat disimpulkan bahwa angka kasus
kematian bayi yang tinggi di wilayah UPTD Puskesmas Tanon II menjadi
prioritas utama, karena kesehatan ibu hamil dan bayi termasuk dalam
komitmen global dan merupakan masalah yang menyangkut pembangunan
mutu manusia.

97.

Angka kematian bayi (AKB) pada lebih dari satu dasawarsa

mengalami penurunan sangat lambat dan cenderung stagnan di beberapa


negara sedang berkembang, oleh karena jumlah kematian bayi pada periode
neonatal mengalami peningkatan. Lawn et al. (2005) menyatakan setiap tahun
di dunia 4 juta bayi meninggal pada 4 minggu kehidupannya (periode
neonatal), tiga perempat kematian bayi terjadi pada minggu pertama dan
risiko tertinggi terjadi pada hari pertama kehidupan bayi. Penyebab utama
kematian neonatal di dunia secara umum adalah prematuritas sebesar 27%,
penyakit infeksi 26% dan 23% asfiksia.
98.

Di Indonesia penyebab kematian neonatal antara lain bayi berat

lahir rendah (BBLR) sebesar 29%, asfiksia 27%, trauma lahir, tetanus
neonatorum, infeksi lain dan kelainan kongenital. Asfiksia bayi baru lahir
merupakan salah satu penyebab utama kematian perinatal baik di negara
sedang berkembang maupun di negara sudah berkembang (Oswyn et al.,
2002, JNPK-KR, 2008).
99.

Menurut National Center for Health Stastitics (NCHS) tahun

2002, menyebutkan bahwa di USA kematian bayi yang disebabkan asfiksia


bayi baru lahir sebesar 14.4 per 100.000 kelahiran hidup merupakan urutan ke
10 penyebab kematian bayi. Di negara sedang berkembang kasus asfiksia
sekitar 4-9 juta setiap tahunnya, namun hanya 1-2 juta kelahiran yang
mendapat resusitasi dengan benar. Di dunia, lebih dari 1 juta bayi meninggal
setiap tahun karena komplikasi asfiksia (Lissauer and Fanaroff, 2009).
100.

Kejadian asfiksia bayi baru lahir juga disebabkan kelahiran

prematur. Kelahiran prematur adalah bayi lahir hidup dengan usia kehamilan
< 37 minggu terhitung sejak hari pertama haid terakhir wanita (Saifuddin et
al., 2010). Lee (2006) menyebutkan bayi prematur (< 37 minggu) lebih
berisiko untuk mati karena asfiksia. Hal ini disebabkan gangguan telah
dimulai sejak dari kandungan, misalnya gawat janin atau stres janin saat
proses kelahirannya. Berdasarkan penelitian meta-analysis yang pernah

dilakukan pada 41 negara, terdapat 84% dari seluruh kelahiran prematur


dengan usia kehamilan 32-< 37 minggu (moderate to late preterm), 10,4%
dalam usia kehamilan 28-< 32 minggu (very preterm), dan 5,2% dalam usia
kehamilan < 28 minggu (extremely preterm) (Blencowe et al.,2012, WHO,
2012a).
101.

Casey et al. (2001) menemukan dari 13.399 bayi yang lahir

sebelum waktunya (pada usia kehamilan 26-36 minggu), angka kematian


neonatal adalah 315 per 1000 bayi dengan skor Apgar 5 menit dari 0-3
dibandingkan dengan 5 per 1000 bayi dengan skor Apgar 5 menit dari 7-10.
Untuk 132.228 bayi lahir cukup bulan (usia kehamilan < 37 minggu), tingkat
mortalitas yaitu 244 per 1000 bayi dengan skor Apgar 5 menit dari 0-3,
dibandingkan dengan 0,2 per 1000 bayi dengan skor Apgar 5 menit 7-10.
Risiko kematian neonatal pada bayi cukup bulan dengan skor Apgar 5 menit
0-3 (RR, 1460, CI 95%, 835-2555) adalah 8 kali risiko pada bayi cukup bulan
dengan nilai pH darah arteri umbilikalis 7,0 (RR, 180, CI 95%, 97-334).
102.

Upaya menurunkan AKB dan mencapai target Millenium

Development Goals (MDGs) untuk anak lahir hidup tidak akan mungkin tanpa
penurunan angka kematian neonatal (Lawn et al., 2005). Berbagai upaya yang
aman dan efektif dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi penyebab
utama kematian bayi baru lahir (BBL). Upaya tersebut antara lain pelayanan
antenatal berkualitas, asuhan persalinan normal (APN) dan pelayanan
kesehatan neonatal oleh tenaga kesehatan yang memiliki kemampuan dan
keterampilan manajemen asfiksia bayi baru lahir yang sesuai dengan standar
atau mutu pelayanan kesehatan antara lain oleh dokter spesialis, dokter umum
maupun oleh bidan (JNPK-KR, 2008). Pemberian pelayanan kesehatan yang
bermutu akan dapat menurunkan kematian neonatal yang tinggi (Depkes RI,
2006, Jehan et al., 2009a, Marsh et al., 2002).
103.
C. Analisis Masalah dengan Diagram Tulang Ikan

104.

Diagram tulang ikan adalah salah satu teknik analisis kausal

dengan cara menempatkan masalah yang ditetapkan pada identifikasi masalah


diletakan pada kepala, kemudian penyebabnya dianalisis dari berbagai aspek
atau unsur yang ditempatkan pada rusuk-rusuk besar, kemudian ditelusuri
masalahh spesifiknya yang diletakkan pada rusuk-rusuk kecil.
105.
INFORMATION

MARKET

METHOD

MINUTE

MACHINE MATERIAL

MONEY

MAN

Kesadaran
ibu hamil/ibumedia
untukinformasi
menjaga kesehatan diri m
Masih kurangnya
pemanfaatan
Perkembangan penyakit/penye-bab kematian bayi yang cepat
PHBS belum diterapkan dengan baik oleh masyarakat
Pengumpulan data kasus baru tidak dapat dilakukan dengan cepat

Kurangnya peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan kesehatan ibu hamil dan bayi
Dana program terbatas
Keterbatasan item pemeriksaan penunjang untuk penegakan Pengetahuan
diagnosis
kader kesehatan m

Ekonomi warga rendah

Perilaku petugas kes

Kematian ba
Kurangnya evaluasi
Kerjasama
pelaksanaan
lintas sektoral
programdan
Data
lintas
terbatas
program
sehingga
kurangpembuatan
maksimal POA kurang maksimal

Pembuatan rencana kegiatan kurang maks

Proses Pelayanan

106.
107.
108.
109.
110.
111.
112.

P3

P2

P1

Gambar 3.1 Diagram Tulang Ikan Kasus Kematian Bayi

113.
114.
115.
116.
117.

BAB IV

ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


DAN
118.

PRIORITAS PEMECAHAN

119.
120.
A. Alternatif Pemecahan Masalah
121.

Berdasarkan penyebab-penyebab kasus kematian bayi yang

telah teridentifikasi pada gambar 3.1 dapat ditemukan masalah spesifik yang akan
diangkat untuk dibahas operasionalnya sebagai alternatif jalan keluar, tersaji
dalam tabel berikut :
122.
123. Masalah

Tabel 4.1 Alternatif Pemecahan Masalah Kematian Bayi


124.

125.

Peny

Alt

a
t
i
f
J
a
l
a

n
K
e
l
u
a
r
126. Kematian

bayi

Kesadaran ibu hamil/ibu

- Penyuluhan kepada ibu hamil

untuk menjaga kesehatan

maupun ibu rumah tangga

diri maupun bayinya masih

lainnya tentang PHBS,

kurang

kesehatan ibu hamil dan

Pengetahuan kader
kesehatan masih kurang

kesehatan bayi
- Pelatihan kader agar dapat
mengedukasi masyarakat
sekitarnya dengan lebih
interaktif dan mencegah
terjadinya kasus kematian

Dana program terbatas

bayi
- Memaksimalkan
pemberdayaan masyarakat
dalam pelaksanaan program

Masih kurangnya

- Memanfaatkan media

pemanfaatan media

informasi baik elektronik

informasi

maupun cetak untuk


memberikan edukasi
mengenai kesehatan ibu
hamil dan bayi
- Para tenaga kesehatan (bidan

desa) dapat memanfaatkan


media informasi baik
elektronik maupun cetak
untuk memperbaharui/
menambah ilmu kesehatan
ibu hamil dan ilmu
5

kesehatan anak
- Bekerjasama dengan rumah

Keterbatasan item
pemeriksaan penunjang

sakit untuk penegakan

untuk penegakan diagnosis


diagnosis
Perkembangan
- Menghimbau warga
penyakit/penyebab

masyarakat untuk segera

kematian bayi yang cepat

mendatangi pusat pelayanan


kesehatan apabila bayinya
sakit/ terdapat tanda tanda

132.

Kurangnya

peran

kelainan
serta - Melakukan penyuluhan

masyarakat dalam upaya

kepada warga masyarakat

peningkatan kesehatan ibu

terutama para pasangan usia

hamil dan bayi

subur untuk bersama


sama meningkatkan kualitas
kesehatan terutama
kesehatanibu hamil maupun

133.

PHBS

belum

dengan
134.

baik

kesehatan bayi
diterapkan - Penyuluhan mengenai PHBS
oleh

masyarakat
Pengumpulan data kasus - Menjalin kerjasama yang baik
baru belum dapat dilakukan

dengan dinas kesehatan,

dengan cepat

rumah sakit yang berada di

wilayah Sragen, serta


menghimbau masyarakat
agar melaporkan apabila
terdapat kematian bayi di
wilayah kerja Puskesmas
135.

Tanon II.
evaluasi - Evaluasi program dilakuakan

10 Kurangnya

pelaksanaan program

secara berkala setiap 3

bulan sekali
11 Kerjasama lintas sektoral - Menjalin kerjasama yang baik

136.

kurang maksimal

dengan stake holder, Dinas


Kesehatan, Rumah Sakitrumah sakit yang ada di

137.

12 Data

wilayah Sragen.
sehingga - Memaksimalkan

terbatas

pembuatan

POA

kurang

maksimal

pengumpulan data dengan


menjalin kerjasama lintas
sektoral.

138.
139.
140.
B. Pemilihan Alternatif Intervensi yang Terbaik
141. Alternatif jalan keluar terhadap masalah selanjutnya dinilai dari
beberapa sudut pandang sehingga didapatkan urutan pemilihan intervensi yang
terbaik. Pemilihan intervensi terbaik dari berbagai alternatif jalan keluar atas
masalah kasus kematian bayi di wilayah kerja Puskesmas Tanon II tersaji dalam
tabel berikut:
142.
Tabel 4.2 Pemilihan Prioritas Pemecahan Masalah Kematian Bayi
143. 144.
No

Alternat

if Pemecahan
Masalah

145.
149.

Ca

pability

Pentingnya Masalah

150.

Acce

ssibility

151.

eadness

146.
152.

everage

umulatif

154. 155.
1.

Penyulu

156.

157.

158.

159.

5 160.

16

Pelatiha

163.

164.

165.

166.

4 167.

14

Penyulu

170.

171.

172.

173.

5 174.

16

182.
183.
184.

188.
189.
190.
191.
185.
192.
186. 193.

194.
195.
196.
197.
198.
199.

200.
201.
202.
203.
204.
205.

2 206.
207.

13

han kepada ibu


hamil

maupun

ibu

rumah

tangga lainnya
tentang PHBS,
kesehatan

ibu

hamil

dan

kesehatan bayi
161. 162.
2.

n kader

168. 169.
3.

han

kepada

warga
masyarakat
terutama

para

pasangan

usia

subur

tentang

kesehatan
hamil

ibu

maupun

kesehatan bayi
175. 181.
4.

Memanf

aatkan media

176. informasi baik


177. elektronik
178. seperti sosial
media maupun
179.
cetak seperti

187.

180. spanduk,
pamflet, leaflet
untuk edukasi
masyarakat
208. 209.
5.

Audit

210.

211.

212.

213.

5 214.

19

maternal
perinatal/
pengkajian
penyebab
kematian bayi

215.
216. Pemilihan prioritas pemecahan masalah menggunakan teknik CARL
yang terdiri dari capability (kemampuan), accessibility (kemudahan), readness
(kesiapan), dan leverage (daya ungkit/pengaruh) (Sulaeman, 2015). Dari tabel di
atas prioritas jalan keluar permasalahan yaitu dengan mengadakan Audit
Maternal Perinatal (AMP)/ pengkajian penyebab kematian bayi karena memiliki
skor paling tinggi, yaitu 17 poin. Diharapkan dari pelaksanaan AMP/ pengkajian
penyebab kematian bayi, mutu pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak dapat
meningkat, sehingga Angka Kematian Bayi dapat menurun.
217.
C. Analisis SWOT Program Kematian Bayi
218.

Analisis SWOT adalah suatu akronim dari strength (kekuatan),

weakness (kelemahan) dari lingkungan internal organisasi, serta opportunity


(kesempatan/peluang) dan threat (ancaman/rintangan) dari lingkungan eksternal
organisasi. Analisis ini dilakukan dengan cara membandingkan antara faktor
eksternal dengan faktor internal organisasi untuk memaksimalkan kekuatan dan
peluang, namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan dan ancaman.
Analisis ini berguna untuk menganalisis faktor-faktor internal organisasi layanan

kesehatan yang memberi andil terhadap kualitas layanan kesehatan atau salah
satunya komponennya dengan mempertimbangkan faktor-faktor eksternal
organisasi layanan kesehatan.
219.

Unsur-unsur dari analisis SWOT sebagai berikut (Azwar,

1996) :
1) Kekuatan
220.

Kekuatan (Strength) adalah berbagai kelebihan yang

bersifat khas yang dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila


dimanfaatkan akan berperan besar dalam memperlancar berbagai
kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang dimiliki
oleh puskesmas itu sendiri.
2) Kelemahan
221.

Kelemahan (Weakness) adalah berbagai kelemahan

yang bersifat khas, yang dimiliki oleh suatu puskesmas, yang apabila
diatasi akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai
kegiatan yang akan dilaksanakan oleh puskesmas tetapi juga dalam
mencapai tujuan yang dimiliki oleh puskesmas.
3) Kesempatan
222.

Kesempatan (Opportunity) adalah peluang yang bersifat

positif yang dihadapi oleh suatu puskesmas yang apabila dapat


dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan
puskesmas.
4) Hambatan
223.

Hambatan (Threat) adalah kendala yang bersifat negatif

yang dihadapi oleh suatu puskesmas yang apabila berhasil diatasi akan
besar peranannya dalam mencapai tujuan puskesmas.
224.
225.

Tabel 4.3 Analisis SWOT Program Pencegahan

Kematian Bayi

226.
SW

227.

228.

Penyuluhan tentang

Usaha peningkatan

kesehatan ibu hamil,

kesehatan ibu hamil,

kesehatan bayi, PHBS

kesehatan bayi, dan

sudah sering dan

PHBS belum bisa

berualng-ulang

dilaksanakan oleh

Kesadaran untuk

seluruh masyarakat

memeriksakan diri cukup Keterbatasan item


OT

baik terbukti dengan

pemeriksaan penunjang

hampir tercapainya

untuk penegakkan

cakupan cakupan

diagnosis
Pencatatan data yang

kesehatan ibu dan anak


Adanya program Jaminan

masih kurang

Kesehatan Nasional

sistematis.
229.

(JKN) yaitu BPJS

230.

kesehatan dan Jaminan


Kesehatan Daerah Sragen
yaitu Saraswati.
Akses dan kemudahan
mendapatkan pelayanan

Kerjasama
petugas

kesehatan.
231.

232.

233.

antar Meningkatkan kesadaran


puskesmas

masyarakat tentang

Advokasi ke stake
holder tentang

yang berjalan baik.

kesehatan ibu hamil dan

pentingnya

Terdapat peran serta

anak

pemberdayaan

bidan wilayah dan Meningkatkan kemampuan

masyarakat untuk

masyarakat

dalam

petugas dalam

meningkatkan mutu

menjadi

kader

mendeteksi dini risiko

kesehatan ibu dan anak

kesehatan.

ibu hamil dan

Dukungan

program

menskrining kesehatan

kerjasama dengan

DKK

dalam

masyarakat terutama

Dokter Praktek swasta

pengendalian

kasus

kesehatan ibu hamil dan

dan kader kesehatan

kematian

ibu

anak.

dan

bayi

Meningkatkan

kerjasama dengan

Banyak

ibu

Rumah Sakit

program

kesehatan
berbasis

Meningkatkan

yang
kesehatan

dan

anak

(Program Kelas Ibu


hamil dan posyandu)

Sebagian masyarakat

234.

235.

236.

Penyuluhan di posyandu

Optimalisasi pemasangan

kurang peduli dengan

balita, kelas ibu hamil

media promosi

kesehatan ibu hamil

dan di pertemuan

kesehatan ibu dan bayi

dan anak

pertemuan yang diadakan

di fasilitas umum

Belum diterapkannya

di desa - desa

PHBS oleh seluruh

Pengadaan program khusus

warga masyarakat

tentang pengendalian

Belum ada program

kasus kematian bayi,

Meningkatkan sosialisasi
paradigma sehat
237.

khusus untuk

misalkan pengkajian

menanggulangi kasus

penyebab kasus bayi,

kematian bayi di

pertemuan khusus untuk

puskesmas

pengayaan ilmu
pengetahuan kader
tentang ilmu kandungan
dan ilmu kesehatan anak,
sehingga dapat mencegah
terjadinya kasus
kematian bayi
Pendekatan personal oleh
petugas kepada keluarga
tentang kesehatan ibu
hamil dan bayi

238. BAB V
PLAN OF ACTIONS
240.
Dari hasil pemilihan prioritas jalan keluar dipilih bentuk
239.

241.

kegiatan berupa Audit Maternal Perinatal atau pengkajian penyebab kematian


bayi yang dilakukan bersama pihak DKK dan/atau tenaga kesehatan ahli
(spesialis kandungan atau spesialis anak). Pengkajian penyebab kematian bayi
dapat sebagai sarana evaluasi tenaga kesehatan tentang penanganan penyakit/ hal
hal yang dapat menyebabkan kematian bayi dan menambah ilmu pengetahuan
tenaga kesehatan tentang perkembangan ilmu kesehatan anak dan ilmu
kandungan.
242.

Berikut ini merupakan rencana persiapan yang dibutuhkan:


1

Tujuan

Mengkaji dan mengevaluasi penyebab

kematian bayi serta sebagai sarana pengayaan ilmu


pengetahuan kesehatan ibu hamil dan anak bagi petugas
kesehatan sehingga dapat mencegah kasus kematian bayi
dan petugas kesehatan dapat mengedukasi masyarakat
secara lebih intensif.
2

Sasaran

bidan desa di wilayah kerja Puskesmas

Penjabaran

Tanon II
3

Metode

tentang

perjalanan

penyakit/penyebab kematian bayi oleh bidan desa yang


menangani bayi tersebut. Kemudian dikaji dan dievaluasi
oleh dokter/dokter spesialis kandungan/dokter spesalis anak
yang hadir pada acara tersebut. Dan yang terakhir
penambahan materi tentang ilmu terbaru/penanganan terbaru
dari penyakit/penyebab kematian tersebut.
4

Waktu

: Apabila terjadi peningkatan kasus kematian bayi dalam

periode tertentu/ kasus kematian bayi akibat human error


5

Lokasi

Aula Puskesmas Tanon II

Pelaksana :

dokter/dokter

spesialis

kandungan/dokter spesalis anak


243.
7

Biaya

: Biaya pelaksanaan bersumber dari swadana

masyarakat dan dari Biaya Operasional Kesehatan (BOK).


8

Mekanisme : Mengumpulkan para bidan desa yang berada


di wilayah kerja Puskesmas Tanon II, bekerjasama dengan
dokter spesialis kandungan/dokter spesialis anak, untuk
bersama-sama

melaksanakan

kegiatan

ini.

Setelah

pemaparan penyebab kematian bayi, terdapat waktu untuk


berdiskusi sehingga kasus tersebut terkaji dan dapat
dievaluasi.
244.
245.
246.
247.
248.

249. BAB VI
250. PENUTUP
251.
A. SIMPULAN
252.
Berdasarkan analisi prioritas masalah di Puskesmas Tanon II
Sragen didapatkan bahwa kasus kematian bayi. Setelah dilakuakan analisis
penyebab dan berbagai alternatif jalan keluar maka didapatkan alternatif jalan
keluar terbaik yaitu dengan melakukan Audit Maternal Perinatal atau
pengkajian penyebab kematian bayi yang dilakukan yang kemudian
ditetapkan Plan of Action dengan tujuan untuk mengevaluasi Mengkaji dan
mengevaluasi penyebab kematian bayi serta sebagai sarana pengayaan ilmu
pengetahuan kesehatan ibu hamil dan anak bagi petugas kesehatan sehingga
dapat mencegah kasus kematian bayi dan petugas kesehatan dapat
mengedukasi masyarakat secara lebih intensif.
253.
B. Saran
1 Melaksanakan pelatihan tenaga kesehatan (bidan) secara rutin dengan turut
serta memberdayakan kader yang ada di wilayah kerja Puskesmas Tanon II
disertai edukasi kepada tiap warga yang dikunjungi mengenai kesehatan
2

ibu hamil, kesehatan bayi dan PHBS.


Melakukan penyuluhan terhadap pasangan usia subur, calon pengantin,

wanita usia subur tentang kesehatan ibu hamil dan kesehatan bayi
Menjalin kerjasama yang baik dengan stake holder, Dinas Kesehatan,
Rumah Sakit- rumah sakit yang ada di wilayah Sragen.
254.
255.
256.
257.

258.
259.

DAFTAR PUSTAKA

260.

Azwar (1996). Pengantar administrasi kesehatan. Edisi Ketiga. Jakarta:


Bina Aksara.

261.

Blencowe, H., Cousens, S., Oestergaard, M. Z., Chou, D., Moller, A.,
Narwal, R., Adler, A., Vera, G. C., Rohde, S., Say, L. & Lawn, J. E. (2012)
National, regional, and worldwide estimates of preterm birth rates in the
year 2010 with time trends since 1990 for selected countries: a systematic
analysis and implications. The Lancet, 379(9832): pp.21622172.

262.

Casey, B. M., Mcintire, D. D. & Leveno, K. J. (2001) The continuing value


of the APGAR Score for the assessment of newborn infants. The New
England Journal of Medicine, 344:467-471.

263.

Depkes RI (2006) Manajemen Asfiksia Bayi Baru Lahir untuk Bidan,


Jakarta:Dirjen Binkesmas Depkes. JNPK-KR (2008) Asuhan persalinan
normal, Jakarta:JNPK-KR.

264.

Jehan, I., Harris, A. H., Salat, B. S., Zeb, A. A., Mobeen, A. N., Pasha, A. O.,
McClure, A. E. M., Moore, B. J., Wrightc, B. L. L. & Goldenbergd, R. L.
(2009a) Neonatal mortality, risk factors and causes: a prospective
population-based cohort study in urban Pakistan. Bull World Health Organ,
87;130138.

265.

Lawn, J. E., Cousens, Simon & Zupan, J. (2005) 1.4 million neonatal
deaths:When ? Where ? Why ? The Lancet, 365(9462): 891-900.

266.

Lee, A. C. C. (2006) Risk Factors For Birth Asphyxia Mortality in a


Community-Based Setting in Southern Nepal. Pediatrics, 1-45.

267.

Lissauer, T. & Fanaroff, A. A. (2009) At a Glance Neonatologi,


Jakarta:Erlangga.

268.

Marsh, R. D., Darmstadt, G. L., Moore, J., Daly, P., Oot, D. & Tinker, A.
(2002) Advancing newborn health and survival in developing countries: A
conceptual framework. Pediatrics, 22(7): 572-576.

269.

Oswyn, G., Vince, J. D. & Friesen, H. (2002) Perinatal asphyxia at Port


Moresby General Hospital: a study of incidence, risk factors and outcome.
PNG Med J, 43(1-2): 110-120.

270.

Reed SK (2000). Problem solving. In A. E. Kazdin (Ed.), Encyclopedia of


psychology. Washington DC: American Psychological Association and

271.

Oxford University Press. Pp. 71-75.Saifuddin, A. B., Wiknjosastro, G. H.,


Affandi, B. & Waspodo, D. (2010) Buku Panduan Praktis Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal, Jakarta:Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.

272.

Sulaeman, ES (2015). Manajemen Masalah Kesehatan. Surakarta: UNS


Press.

273.

WHO (2012a) Born Too Soon: The Global Action Report on Preterm Birth,
Geneva:World Health Organization.

274.

Sumber data : Data Puskesmas Tanon II

275.

Profil Kesehatan Kabupaten Sragen 2015


276.
277.
278.