Anda di halaman 1dari 6

Tahun 2014

Hal: 1 dari 6

BIOPELSA “BIOETANOL PELEPAH SAWIT (Elaeis guineensis)” UPAYA MENGEKSPLORASI
POTENSI LIMBAH PERKEBUNAN SAWIT SEBAGAI ENERGI TERBARUKAN
Nada Mawarda Rilek 135100301111067
Luristya Nur Mahfut 135100301111018
Devy Setyana 105100701111039
Universitas Brawijaya, Fakultas Teknologi Pertanian, Teknologi Industri Pertanian
Abstrak
Salah satu permasalahan di Indonesia adalah produksi minyak bumi tidak dapat mengimbangi besarnya
konsumsi bahan bakar minyak. Berbagai pihak mulai mengembangkan sumber energi alternatif, diantaranya
ialah bioetanol. Namun bioetanol yang dikembangkan banyak menggunakan bahan berpati dan berkarbohidrat
sehingga menimbulkan kontradiksi terhadap kebutuhan bahan pangan. Bahan lain yang potensial dikembangkan
sebagai bioetanol yaitu bahan berselulosa karena dapat didegradasi menjadi senyawa glukosa yang dapat
difermentasi menjadi bioetanol. Bahan berselulosa yang potensial dikembangkan sebagai bahan baku bioetanol
adalah pelepah sawit. Pelepah sawit mengandung selulosa cukup tinggi (30-34%), dan jumlahnya melimpah.
Pengolahan 1 hektar perkebunan sawit menghasilkan pelepah sawit 10-30 ton/ha/tahun. Jika dikalikan dengan
luas perkebunan sawit di Indonesia (4.686.000 hektar), maka limbah pelepah sawit/tahun (46.860.000–
140.580.000 ton). Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi potensi pelepah sawit menjadi “BIOPELSA”.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini metode pretreatment dengan menggunakan (RAL) yang tersusun
dua faktor, konsentrasi NaOH dan waktu pemanasan dengan microwave (1100C). Konsentrasi NaOH terdiri 2
level (1M dan 2M) dan waktu pemanasan 3 level (30, 60, 90menit), sehingga didapatkan 6 kombinasi,
selanjutnya diuji lignin, selulosa dan hemiselulosa dengan metode klason, selulosa α, β, δ. Pada 6 kombinasi
didapatkan perlakuan terbaik (konsentasi NaOH 1 M dan waktu pretretment 90 menit) dengan lignin (12,15%),
selulosa (42,95%), dan hemiselulosa (31,056%). Penelitian selanjutnya dilanjutkan dengan metode hidrolisis
dengan enzim selulose dan selobiase (pH 5, 45jam, 500C) dan dihasilkan glukosa ± 13%. Kemudian dilanjutkan
fermentasi menggunakan S.cerevisiae (pH 4-4,5, 300C, glukosa 10-18%), sehingga dihasilkan etanol 12-15%,
selanjutnya destilasi untuk meningkatkan etanol (92,92%) dan dehidrasi untuk meningkatkan etanol (97,7%).
Kata Kunci : Bioetanol, BIOPELSA, Energi Terbarukan, Pelepah Sawit, Selulosa,
I. PENDAHULUAN
Menipisnya cadangan bahan bakar fosil dan
meningkatnya populasi manusia sangat kontradiktif
dengan kebutuhan energi bagi kelangsungan hidup
manusia beserta aktifitas ekonomi dan sosialnya. Sejak
lima tahun terakhir, Indonesia mengalami penurunan
produksi minyak nasional, padahal dengan pertambahan
jumlah penduduk, meningkat pula kebutuhan akan
sarana transportasi dan aktifitas industri. Hal ini
berakibat pada peningkatan kebutuhan dan konsumsi
bahan bakar minyak (BBM) yang merupakan sumber
daya alam yang tidak dapat diperbaharui [12]. Bahkan
menurut Erdei et al, 2010; Wheals ey al, 1999,
ketersediaan energi fosil diberbagai belahan dunia sudah
mulai menipis dan diperkirakan akan habis dalam
jangka waktu 25 tahun. Upaya yang dapat dilakukan
dalam menghadapi ketersediaan energi fosil yang
semain menipis adalah dengan melakukan penelitian
dan pengembangan sumber energi alternatif baru dan
terbarukan sebagi energi alternafif pengganti energi
fosil. Salah satu energi alternatif yang dapat dapat
dikembangkan dan berbahan baku alam adalah
bioetanol [14].
Bioetanol merupakan bahan baku alternatif yang
cenderung murah bila dibandingkan dengan bensin
tanpa subsidi. Sebagian besar (93%) produksi etanol di
dunia di produksi secara fermentasi dari bahan baku
yang mengandung gula [7]. Saat ini ubi kayu dan gula

tebu merupakan bahan baku potensial untuk dijadikan
etanol. Akan tetapi menurut Erdei (2010) penggunaan
ubi kayu, gula tebu dan bahan-bahan berpati,
berkarbohidrat dan mengandung gula sederhana lainnya
yang digunakan sebagai bahan baku bioetanol
berpotensi
menimbulkan
kontradiksi
terhadap
kebutuhan bahan pangan, apalagi jika diterapkan di
negara berkembang seperti Indonesia.
Bahan alam non pangan yang melimpah dan dapat
digunakan sebagai bahan naku pembuatan bioetanol
adalah lignoselulosa [3,9]. Lignoselulosa adalah
komponen organik dialam yang terdiri dari tiga tipe
polimer yaitu selulosa, hemiselulosa dan lignin.
Komponen selulosa akan berubah menjadi glukosa saat
dilakukan proses hidrolisis dan selanjutnya dapat
difermentasi menjadi etanol. Penggunaan bahan
lignoselulosa menjadi bioetanol merupakan solusi baru
yang dinilai efektif karena pengguanannya tidak
bersaing dengan kebutuhan pangan dan salah satu bahan
berlignoselulosa yang berpotensi sebagai bahan baku
bioetanol adalah pelepah sawit.
Pelepah Sawit adalah salah satu limbah
perkebunan sawit yang mengandung selulosa cukup
tinggi yakni (34%) yang sampai saat ini belum
termanfaatkan secara optimal. Hingga saat ini pelepah
sawit hanya dimanfaatkan sebagai bahan baku silase
dan pakan ternak [2]. Padahal selain kandungan
selulosanya yang cukup tinggi, dilihat dari potensi
ketersediaanya, Indonesia merupakan negara yang

dan hemiselulosa serta peningkatan kadar selulosa pada proses pretretment. Jika dikalikan maka pertahunnya indonesia mampu menghasilkan limbah pelepah sawit hingga 46. W2: 60 menit. ditawarkan inovasi energi terbarukan dengan memanfaatkan salah satu limbah pertanian dari perkebunan sawit yakni pelepah sawit yang berupa BIOPELSA “Bioetanol Pelepah Sawit” Sebagai Inovasi Energi Terbarukan Dengan Pemanfaatan Limbah Padat Perkebunan Sawit. yang diukur sebagai gamma-selulosa. Konsentrasi NaOH terdiri dari 2 level dan waktu pemanasan dengan microwave terdiri dari 3 level.1 Uji kadar lignin (metode klason. III. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode klason (SNI 0492:2008). dimana setiap hektarnya akan mengasilkan sekitar 27 ton/tahun tandan buah segar dan 10 ton/tahun pelepah kering sawit hasil pemangkasan [8]. dan untuk hemiselulosa. serta uji selulosa alfa.Kombinasi Rancang Acak Lengkap N/W Waktu NaOH W1 W2 W3 N1W1 N1W2 N1W3 N1 N2W1 N2W2 N2W3 N2 Model yang digunakan untuk desain faktorial 2×3 ini adalah (Yitnosumarto. lalu menghilangkan karbohidrat dengan menambahkan H2SO4 72%. akan tetapi ketersediaanya hanya 1. melalui Lomba MUN (Mipa Untuk Megeri) UI 2014 ini. Sehingga dalam penelitian ini akan didapatkan 6 kombinasi. W3: 90 menit Dari kedua faktor tersebut diperoleh kombinasi perlakuan sebagai berikut pada Tabel 1 : Tabel 1.2 . dikeringkan dan ditimbang dan ditentukan sebagai kadar lignin. proses yang digunakan akan dijelaskan pada Lampiran 1. Untuk pengukuran kadar selulosa menggunakan metode SNI 0444. bagian yang tidak larut dalam H2SO4 72% ini disaring. dan suhu pretreatment j Pada proses pembuatan BIOPELSA ada beberapa proses yang dilakukan diantaranya mulai dari pretreatment.6 ton per Ha/tahun sehingga dilihat dari segi ketersediaan lebih unggul pelepah sawit [4]. j= 1. Prinsip metode klason adalah menghilangkan ekstraktif dengan alkohol dan benzene.1993): Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk i= 1. yang diukur sebagai α selulosa dengan prinsip sebagai bahan yang tidak larut dan tahan terhadap natrium hidroksida. Analisa yang dilakukan pada peneitian ini adalah pengaruh konsentrasi dan waktu pretreatment terhadap penurunan kadar lignin. dengan prinsip sebagai bagian pulp yang tertinggal didalam larutannya.3 Dimana : Yijk = Yield dari hasil pengulangan perlakuan ke-k yang terjadi karena pengaruh bersama taraf ke-i faktor N (Konsentrasi NaOH) dan taraf ke-j faktor W (Waktu pretreatment) µ = Rata-rata umum αi = Pengaruh taraf ke-i faktor N (Konsentrasi NaOH) βj = Pengaruh taraf ke-j faktor W (Waktu pretreatment) (αβ)ij = Pengaruh intetaksi taraf ke-i faktor K dan taraf ke-j faktor T εijk = Kesalahan (galat) percobaan ke-k dalam kombinasi perlakuan ukuran serbuk pelepah sawit i. SNI 0492:2008) Diketahui sebelumnya bahwa kadar lignin pelepah sawit awal sebelum proses pretreatment adalah 18%.2. N2 : NaOH 2M Faktor II : Lama Waktu Preatreatment W1: 30 menit. Penurunan kadar lignin dan hemiselulosa dilakukan karena kandungan ini membentuk ikatan kovalen pada pelepah sawit yang akan menghambat proses hidrolisis selulosa menjadi glukosa pada proses pembuatan bioetanol [3].686.2.860.000 ton. Menurut penelitian terdahulu sudah digunakan bahan TKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) yang juga merupakan limbah dari kebun sawit yang dapat digunakan sebagai bahan baku bioetanol yang ternyata kandungan selulosanya juga tinggi yakni 37%.Tahun 2014 Hal: 2 dari 6 memiliki luas perkebunan sawit mencapai 4. Untuk lebih jelasnya adalah sebagai berikut: Faktor I : Konsentrasi NaOH N1 : NaOH 1M .3 k=1.HASIL 3. II. pemerintah maupun industri untuk menangani masalah ketersediaan bahan bakar.000 Ha. beta dan gama (SNI 0444:2009) [10]. Oleh karena itu. hidrolisis. METODA Penelitian ini menggunakan dua faktor yaitu faktor konsentrasi NaOH dan faktor waktu pretreatment dengan pemanasan microwave dengan suhu 1100C yang bertujuan untuk menentukan kombinasi faktor mana yang terbaik dalam proses pretreatment pada proses pembuatan bioetanol menggunakan bahan pelepah sawit. Penentuan kadar lignin setelah pretreatment dapat dihitung dengan rumus berikut : L= A/B × 100% Dimana : L: adalah kadar lignin dinyatakan dalam persen (%) A: adalah endapan lignin dinyatakan dalam gram (g) B: adalah berat contoh kering oven dinyatakan dalam gram (g) . Rancangan percobaan pada penelitian ini adalah dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial yang tersusun atas dua faktor yaitu konsentasi NaOH dan waktu pemanasan dengan menggunakan microwave (1100C). fermentasi hingga destilasi dan dehidrasi. BIOPELSA ini nantinya diharapkan dapat menjadi energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.

Tahun 2014 Tabel 2. Strutur pelepah sawit yang diserang NaOH akan pecah dan diuapkan oleh perlakuan panas dari microwave yang diduga sebagai penyebab terjadinya loss massa bahan pelepah sawit. dinyatakan dalam persen (%) V1: adalah volume titrasi blanko. dinyatakan dalam persen (%) V3 : volume tirtasi blanko pada pengujian alfa selulosa (ml) V4 :volume titrasi filtrat pelepah sawit setelah pengendapan selulosa alfa (ml) W : berat kering oven sampel pelepah sawit pada pengujian alfa selulosa (g) Tabel 4.05) 3.2 Uji kadar selulosa (α selulosa.74 e N2W2 6.42 D N1W3 0.155 0.5 Dimana : X : adalah selulosa alfa.5 35.48 f N1W1 6.45 0. dinyatakan dalam mililiter (ml) V2: adalah volume titrasi filtrat pelepah sawit.1587 1 15.23 e N1W2 6.1 6.1 25 1.05) 3.5 42.Rerata yang didampingi huruf yang sama menyatakan tidak berbeda nyata (α=0.1 25 1. Berikut ini adalah grafik pengaruh pretreatment pelepah sawit dengan 6 kombinasi perlakuan terhadap kadar lignin pelepah sawit pada Gambar 1.5 33.1 25 1.1321 1 13.1211 1 12.5 36. Ion hiroksil tersebut akan menyerang struktur bahan pelepah sawit yang bersifat elektropositif [1].33 Rata-rata 0.22 B N2W2 0.099 BNT 5% Keterangan: .84 F N1W1 0. Semakin lama waktu pretreatment yang digunakan maka rendemen yang dihasilkan semakin baik dengan larutan NaOH 1 Molar maupun dengan larutan NaOH 2 Molar. dinyatakan dalam mililiter (ml) N:adalah normalitas larutan Ferro Ammonium Sulfat A: adalah volume titrat pelepah sawit yang dianalisa dinyatakan dalam mililiter (ml) W: adalah berat kering oven sampel TKKS pada pengujian alfa selulosa dinyatakan dalam gram (g) Tabel 3.218 0.62 Rata-rata 0. SNI 0444.1698 1 16.1 25 1.74 E N1W2 0.1 25 1.V1) × N × 20 25 × 1. PEMBAHASAN 4.1438 1 14.95 f N2W3 6.394 0.128 BNT 5% Keterangan: .5 39.1 25 1.04 a N1W1 6. Uji Kadar Lignin Perlakuan Berat Berat L Simbol A B (%) (gram) (gram) 0.54 d N2W1 25 1.362 0.1543 1 15. maka semakin banyak senyawa volatile pada pelepah sawit yang hilang karena menguap.1 25 1.71 Rata.rata 0.Setiap data merupakan rerata tiga kali ulangan .14 c N2W1 6.5 37. SNI 0444:2009) Diketahui sebelumnya bahwa kadar selulosa pelepah sawit awal sebelum proses pretreatment adalah 34%.05 a N2W3 33.85 (V2 .1 Pretreatment kandungan lignin pelepah sawit Pemanasan larutan NaOH konsentrasi tinggi dengan microwave membuat NaOH akan terurai menjadi NaOH akan terurai menjadi Na+ dan OH-.5 34.09 d N1W3 6.Rerata yang didampingi huruf yang sama menyatakan tidak berbeda nyata (α=0.5 c N1W3 6.1 6.1 25 1.Rerata yang didampingi huruf yang sama menyatakan tidak berbeda nyata (α=0.273 0.313 0. Uji Hemiselulosa Perla(V4N A W X Sim kuan V3) (ml (gram) (%) bol ml ) 25 1. Hal ini dikarenakan semakin lama waktu yang digunakan. .5 41. Penentuan kandungan selulosa alfa dihitung menurut rumus sebagai berikut: X= 100 – 6.123 0.5 32.5 40.1 25 1.Setiap data merupakan rerata tiga kali ulangan .3 Uji kadar hemiselolosa (selulosa gamma.1 39.2009) Diketahui sebelumnya bahwa kadar hemiselulosa pelepah sawit awal sebelum proses pretreatment adalah 36%.365 0.35 C N2W1 0. Uji Kadar Selulosa Perlakuan (V2N A W X Sim V1) (ml (gram) (%) -bol ml ) 25 1. Penentuan kandungan selulosa gamma dihitung Hal: 3 dari 6 menurut rumus sebagai berikut: Y= 6.15 A N2W3 14.19 0.85 (V4-V3) × N × 20 25×W Dimana : Y : selulosa gamma.Setiap data merupakan rerata tiga kali ulangan .51 b N1W2 6.422 0.05) IV.5 34.328 0.5 31.162 BNT 5% Keterangan: .07 b N2W2 6.

Meningkatnya temperatur mengakibatkan NaOH yang dilarutkan didalam air semakin larut dan semakin mudah masuk kedalam bahan pelepah sawit. F hitung perlakuan dan interaksi perlakuan lebih besar lari F tabel 1% sehingga perlakuan dan interaksi perlakuan berbeda sangat nyata.15% dimana dengan kadar lignin awal pelepah sawit sebelum proses pretreatment yakni 18%. maka kombinasi N2W3 dapat meningkatkan kadar selulosa 8. Dimana dari 6 kombinasi diperoleh perlakuan terbaik pada kombinasi N2W3 yaitu pretreatment dengan NaOH 2M dan waktu pretreatment 30 menit dengan . Perlakuan pretreatment yang diharapkan adalah perlakuan yang dapat menjadikan presentase kandungan meningkat dari sebelumnya. Hal ini dikarenakan semakin lamanya waktu pretreatment maka semakin meningkatnya temperatur pada larutan NaOH dan bahan perlakuan.95%. Selanjutnya interaksi perlakuan dillakukan uji lanjut menggunakan uji BNT 5% Lampiran 3. Dimana dari 6 kombinasi diperoleh perlakuan terbaik pada kombinasi N2W3 yaitu pretreatment dengan NaOH 2M dan waktu pretreatment 30 menit dengan kadar lignin 12. maka kombinasi N2W3 dapat menurunkan kadar lignin 5. N2W3 serta sebaliknya. Hubungan Konsentrasi NaOH dan waktu pretreatment terhadap kandungan selulosa pelepah sawit Hal: 4 dari 6 Dari Gambar 2. 4. N2W1. N2W2. NaOH yang bersifat sebagai basa kuat memecah struktur hemiselulosa bahan pelepah sawit kemudian melarutkannya. Berdasarkan uji BNT tersebut dihasilkan simbol/huruf yang berbeda sehingga dapat disimpulkan perlakuan N1W1 berbeda nyata dengan perlakuan N1W2. Hal ini dikarenakan NaOH yang digunakan berupa padatan memiliki tingkat kelarutan yang tinggi apabila berada pada temperatut tinggi [9].85%.2 Pretreatment kandungan selulosa pelepah sawit . N2W1. Berdasarkan uji BNT tersebut dihasilkan simbol/huruf yang berbeda sehingga dapat disimpulkan perlakuan N1W1 berbeda nyata dengan perlakuan N1W2.3 Pretreatment kandungan hemiselulosa pelepah sawit Gambar 3. Dimana dari 6 kombinasi diperoleh perlakuan terbaik pada kombinasi N2W3 yaitu pretreatment dengan NaOH 2M dan waktu pretreatment 30 menit dengan kadar selulosa 42. Hubungan Konsentrasi NaOH dan waktu pretreatment terhadap kandungan lignin pelepah sawit Dari Gambar 1 diatas dapat dilihat bahwa kadar lignin hasil pretreatment dengan konsentasi NaOH lebih tinggi dan waktu pretretment yang lebih lama menghasilkan penurunan lignin lebih besar.Tahun 2014 Gambar 1. Berdasarkan analisis ragam (ANNOVA) Lampiran 3. N2W2. N2W3 serta sebaliknya.95% dimana dengan kadar selulosa awal pelepah sawit sebelum proses pretreatment yakni 34%. diatas dapat dilihat bahwa kadar hemiselulosa hasil pretreatment dengan konsentasi NaOH lebih tinggi dan waktu pretretment yang lebih lama menghasilkan penurunan hemiselulosa lebih besar. Semakin lama waktu pretreatment. Berdasarkan analisis ragam (ANNOVA) yang dapat dilihat pada Lampiran 2. Hal ini karena semakin tinggi kandungan selulosa semakin tinggi glukosa yang dihasilkan pada tahap hidrolisis bahan pelepah sawit. N1W3. Selanjutnya interaksi perlakuan dillakukan uji lanjut menggunakan uji BNT 5% Lampiran 2. semaikn banyak NaOH yang mampu masuk ke struktur bahan pelepah sawit sehingga kandungan hemiselulosa yang dilarutkan semakin banyak. Perlakuan pretreatment adalah perlakuan yang dapat menghasilkan kandungan selulosa tertinggi. F hitung perlakuan dan interaksi perlakuan lebih besar lari F tabel 1% sehingga perlakuan dan interaksi perlakuan berbeda sangat nyata. 4. Berikut ini adalah grafik pengaruh konsentasi NaOH dan waktu pretreatment microwave terhadap kandungan selulosa pelepah sawit: Gambar 2. N1W3. Hubungan Konsentrasi NaOH dan waktu pretreatment terhadap kandungan hemiselulosa pelepah sawit Dari Gambar 3. diatas dapat dilihat bahwa kadar selulosa hasil pretreatment dengan konsentasi NaOH lebih tinggi dan waktu pretretment yang lebih lama menghasilkan peningkatan selulosa lebih besar. sehingga keberadaannya semakin menurun.

Perkeb. F hitung perlakuan dan interaksi perlakuan lebih besar lari F tabel 1% sehingga perlakuan dan interaksi perlakuan berbeda sangat nyata. Pada proses fermentasi pelepah sawit dengan menggunakan S. kemudian difermentasi dengan fermentasi S. Menurut penelitian (Hidayat. Universitas Sumatra:1 [3]Awatashi. Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit Menjadi Bioetanol Sebagai Bahan Bakar Masa Depan Yang Ramah Lingkungan.5 dengan kadar glukosa 10-18% . 60 menit. Vol. Hal: 85-97 [5]Erdei. karena selain bahan baku yang melimpah.. suhu 370C. dimana konsentrasi NaOH (N) terdiri dari dua level yakni (1M dan 2M) dan waktu pretreatment (W) terdiri dari tiga level (30 menit. N2W2. Dimana dihasilkan kadar lignin 12. V. Peningkatan kemurnian etanol dapat dicapai dengan cara dehidrasi sehingga mencapai kemurnian 99. Destilasi dilakukan untuk meningkatkan etanol menjadi 91-92%. Sipos B. 2009. KESIMPULAN Pada penelitian yang teah dilakukan pada proses pretreatment BIOPELSA (Bioetanol Pelapah Sawit) yang telah dilakukan. Menurut 4.. Biotehnology for Biofuel.15%. N1W3. maka kombinasi N2W3 dapat menurunkan kadar hemiselulosa 4. Destilasi dan Dehidrasi Proses selanjutnya setelah didapatkan glukosa hasil hidrolisis. Proses fermentasi ini akan terhenti pada saat konsentrasi etanol yang terbentuk sekitar 12-15%. REFERENSI [1]Agung.056%. Sintesis. Berdasarkan uji BNT tersebut dihasilkan simbol/huruf yang berbeda sehingga dapat disimpulkan perlakuan N1W1 berbeda nyata dengan perlakuan N1W2. Etanol tersebut sudah siap digunakan sebagai bahan bakar baik sebagai bahan bakar murni maupun pengoplos bensin dan juga sebagai bahan bakar kompor.cerevisiae) sehingga akan menghambat proses fermentasi. Barbola. pada proses pretretment TKKS untuk pembuatan bioetanol yang dihasilkan kandungn selulosa sebesar 44.Tahun 2014 kadar hemiselulosa 31. Berdasarkan analisis ragam (ANNOVA) Lampiran 4.2.54% yang tidak jauh berbeda dengan selulosa hasil pretreatment pelepah sawit.cereviseae. Rina. 2011). Pada penelitian tersebut juga dilakukan 2 macam proses hidrolisis.95%. 2013. pada proses pretreatment menggunakan 2 faktor yaitu konsentasi NaOH dan waktu pretreatment. dengan pH 4 – 4. N2W3 serta sebaliknya. Potensi Pemanfaatan Limbah Lignoselulosa Kelapa Sawit Melalui Biokonversi. Ethanol Producton from Mixtures of Wheat Straw and Wheat Meal. Sehingga pada penelitian hidrolisis pelepah sawit hasil pretreatment akan menggunakan proses hidrolisis dengan kombinasi enzim selulose dan selobiase untuk menghasilkan kadar glukosa ± 13%.4 Fermentasi. kondisi ini akan terpenuhi karena glukosa yang dihasilkan dari hidrolisis pelepah sawit dengan kombinasi enzim selulose dan selobiase didalam kisaran ± 13%. waktu 45jam dan suhu 500C. Hidrolisis Setelah dilakukan proses pretreatment maka proses penelitian selanjutnya yang akan digunakan adalah proses hidrolisis untuk menghasilkan glukosa. Pada peneitian ini digunakan analisa secara deskriptif. Solo: UNS [2]Aryafatta. 2009) tentang bioetanol TKKS. Bogor: IPB . karena etanol tersebut dapat membunuh khamir (S. Etanol yang dihasilkan kemudian didestilasi untuk meningkatkan kadarnya. dihasilkan glukosa 6.693%. selulosa 42. hidrolisis ini dapat menurunkan resiko korosi pada alat serta mengurangi kehilangan energi pada bahan bakar produksi [9]. 3:16 [6]Hidayat. fermentasi menggunakan S. 1992.3 : 42-46 [4]Darmoko. Dari hasil tersebut. maka dilakukan proses fermentasi menggunakan S. 2008. Nugroho C. Cereviseae dibutuhkan kondisi aerob. Eksplorasi Limbah Perkebunan Sawit. 2009. yakni 42. Sedangkan proses hidrolisis dengan kombinasi enzim selulose dan selobiase dengan perbandingan 2:1. dilakukan pada suhu 300C.Cerevisiae akan menghasilkan etanol ± 12 – 15%. 4. Berita Pen.944%. yakni hidrolisis dengan enzim selobiase dan hidrolisis kombinasi enzim selulose dan enzim selobiase. 90 menit). Hasil tersebut kemudian dihidrolisis dengan kombinasi enzim selulose dan selobiase untuk menghasilkan glukosa ±13%. Pada proses hidrolisis menggunakan enzim selobiase denga pH 5.95% dan hemiselulosa 31. 2010. Barta Z. yakni pada kombinasi N2W3 (NaOH 2M dan waktu pretreatment 90 menit).7%. Dari 6 kombinasi dua faktor tersebut didapatkan perlakuan terbaik untuk menurunkan kadar lignin dan hemiselulosa.808%. dihasilkan glukosa 13.056% dimana dengan kadar selulosa awal pelepah sawit sebelum proses pretreatment yakni 36%. bahan pelepah sawit sangat potensial dijadikan bahan baku pembuatan bioetanol. Sehingga etanol tersebut sudah siap digunakan sebagai bahan bakar murni maupun pengoplos bensin dan juga sebagai bahan bakar kompor. pH5. Karakteristik dan Aplikasi Chitosan Modified Carboxymethyl (CS-MCM) Sebagai Agen Peerbaikan Mutu Kertas Daur Ulang. serta untuk meningkatkan kadar selulosa. M. Pada penelitian yang telah dilakukan oleh (Sitorus. 2009) etanol yang telah didestilasi mempunyai kadar 91 – 92 %. Sedangkan dehidrasi untuk mendapatkan etanol 99. Bioethanol Production Throug Water Hiyacint Eichornia Crassipes Via Potimization of The Pretreatment Condition.P. juga dapat menghasilkan presentase etanol yang tinggi. N2W1.7 %. Selanjutnya interaksi perlakuan dillakukan uji lanjut menggunakan uji BNT 5% Lampiran 4. Proses hidrolisis yang digunakan yakni hidrolisis enzimatis karena jika dibandingkan hidrolisisi asam.5 Hal: 5 dari 6 penelitian (Hidayat.cerevisiae untuk menghasilkan etanol 12-15%.

Wodpress. 2006. Teknologi Pembuatan Bioetanol Berbasis Lignoselulosa Tumbuhan Tropis Untuk Produksi Biogasioline. http://Dunia Peternakan. N(2): 727-734 [10]Sitorus. Anindyawati. Depok: FT Ui [11]Trisanti. Internasional Journal of Chemtech.vol 8. 2013 [13]Wheals AE.. I Wayan.Tahun 2014 [7]Kardono. Pretreatment dan Hidrolisis Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS) Dengan Metode Steaming dan Enzimatik. Prospek Enzim dan Limbah Lignoselulosa Untuk Produksi Bioetanol. Springer Verlag Berlin Heidelberg. 5.. Serpong: Lembaga Peneliti Indonesia (Lipi) [8]Sahmadi. 1999. 2: 1-13 Hal: 6 dari 6 . 2010. 2013. Vol.” Bioetanol Dari Bonggol Pohon Pisang”. Bsso LC. L. 482487 [14]Yitzhak. Treand Bioethanol. Vol. DP and Trivedi RK. Sources for Lignocellulosic Rawa Materials for the production of ethanol. Jurnal Teknik Kimia. 2011. hlm. 12.37. 2013. Hadar. Faudzia Septriyani dan Camila Lisna.com :13:05 [9]Singh. 2009. Potensi Pelepah Daun Kelapa Sawit Sebagai Pakan Ternak. Acid and Alkaline Pretreatment of lignosellulosic Biomass to Produce Ethanol As Biofuel. Fuel Ethanol After 25 Years. Rudi Surya.43: 49-56 [12]Warsa. Alves DMG.