Anda di halaman 1dari 7

SATUAN ACARA PENYULUHAN

(SAP)
Pokok Bahasan

: Hipertensi

Sub Pokok Bahasa

: Pengertian, Klasifikasi,Tanda dan gejala, Penyebab,


Komplikasi, Pencegahan Hipertensi.

Sasaran

: Oma M

Hari/ Tanggal

: Kamis 27 Oktober 2017

Waktu

: 09.45 Wib - selesai

Tempat

: Wisma Kartini Panti Bhakti Luhur Tropodo, Surabaya

Penyuluh

: Meyria Sintani

I.

Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan selama 15 menit diharapkan Oma. M dapat

mengetahui dan mengerti tentang penyakit Hipertensi.


II.

Tujuan Khusus
Setelah diberikan penyuluhan diharapkan Oma. M:
1. Mengatur pola hidup yang sehat
2. Menjaga pola makanan
3. Berolahraga yang teratur
4. Menjaga emosi

III.

Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
IV.
Media
1. Leaflet

V.

Proses Kegiatan Penyuluhan


No
.
1.

Kegiatan

Respon Audien

Waktu

Pendahuluan
a.

Meny
ampaikan Salam

b.

a. Membalas salam
b. Mendengarkan
c. Memberi respon

Menje

3 menit

laskan Tujuan
c.
2.

Kontr

ak Waktu
Isi Penyampaian materi
tentang:
1. Pengertian Hipertensi
2. Tanda dan Gejala

3.

Hipertensi
3. Penyebab Hipertensi
4. Komplikasi Hipertensi
5. Pencegahan
Penutup

Mendengarkan dengan
penuh perhatian

a. Tanya Jawab

a. Menanyakan hal yang

b.

belum jelas
b. Aktif bersama

Menyimpulka
n Hasil Penyuluhan

c.

Memberi

8 menit

5 menit

menyimpulkan
c. Membalas Salam

Salam Penutup
VI.

Setting Tempat
Berhadapan langsung dengan Oma. M

VII.

Evaluasi
Setelah dilakukan penyuluhan, minta kembali kepada Oma. M untuk :
1.
2.
3.
4.
5.

Menjelaskan pengertian Hipertensi


Sebutkan apa saja tanda dan gejala pada Hipertensi
Apa-apa saja yang menyebabkan terjadinya Hipertensi
Sebutkan komplikasi yang terjadi pada Hipertensi
Bagaimana cara pencegahan agar tidak terjadinya penyakit Hipertensi
MATERI PENYULUHAN

Definisi Hipertensi
Hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Pada
populasi lanjut usia, hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg
dan tekanan diastolik 90 mmHg (Sheps,2005).
Menurut WHO, penyakit hipertensi merupakan peningkatan tekanan sistolik
lebih besar atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau
lebih besar 95 mmHg ( Kodim Nasrin, 2003 ).
Tekanan Darah Tinggi (hipertensi) adalah suatu peningkatan tekanan darah
di dalam arteri. Secara umum, hipertensi merupakan suatu keadaan tanpa gejala,
dimana tekanan yang abnormal tinggi di dalam arteri menyebabkan meningkatnya
resiko terhadap stroke, aneurisma, gagal jantung, serangan jantung dan kerusakan
ginjal.
Tekanan darah dapat dilihat dengan dua ukuran dan biasanya ditunjukan
dengan angka seperti berikut : 120/80 mmHg angka 120 menunjukan tekanan
pada pembuluh arteri ketika jantung berkontraksi. Disebutkan dengan tekanan
sistolik. Angka 80 menunjukan tekanan ketika jantung sedang berelaksasi. Di
sebut dengan tekanan diastolik.
Etiologi Hipertensi
Penderita hipertensi bertambah degan bertambahnya usia. (Darmojo:1999).
Penyebab hipertensi diantaranya karena faktor keturunan, ciri dari perseorangan
serta kebiasaan hidup seseorang. Seseorang memiliki kemungkinan lebih besar
untuk mendapatkan hipertensi jika orangtuanya adalah penderita hipertensi.
Sedangkan ciri perseorangan yang berupa umur, jenis kelamin dan ras juga
mempengaruhi timbulnya hipertensi. Umur yang bertambah menyebabkan
terjadinya kenaikan tekanan darah. Tekanan darah pria umumnya lebih tinggi
dibandingkan wanita.

Ras kulit hitam hampir dua kali lebih banyak dibanding dengan orang kulit
putih. Kebiasaan hidup seseorang dengan konsumsi garam tinggi, kegemukan atau
makan berlebihan, stres atau ketegangan jiwa, kebiasaan merokok, minum alkohol
dan obat-obatan akan memicu terjadinya hipertensi. (Lany, 2001). Dapat
dikatakan kebiasaan yang buruk akan memperberat resiko terjadinya hipertensi.
Pada Usia lanjut, penyebab perubahan tekanan darah adalah karena adanya
aterosklerosis,hilangnya elastisitas pembuluh darah, menurunnya distensi dan
daya regang pembuluh darah.
Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:
1) Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi seperti
genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik, system rennin
angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan stress.
2) Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.
Manifestasi Klinis Hipertensi
Tanda dan gejala hipertensi dibedakan menjadi:
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa.
Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak di ukur.
2. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.

Beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu:

a) Mengeluhkan sakit kepala, pusing


b) Lemas, kelelahan
c) Sesak nafas
d) Gelisah
e) Mual, muntah
f) Epistaksis
g) Kesadaran menurun
Komplikasi
Komplikasi menurut Tambayong (2000), yang mungkin terjadi pada
hipertensi adalahsebagai berikut:
1) Payah jantung (gagal jantung)
2) Pendarahan otak (stroke)
3) Hipertensi maligna: kelainan retina, ginjal dan cerabrol
4) Hipertensi ensefalopati: komplikasi hipertensi maligma dengan gangguan
otak.
5) Infark miokardium: dapat terjadi apabila arteri koroner yang arterosklerotik
tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk
trombus yang menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut.
6) Gagal ginjal karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada kapilerkapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya glomerulus darah akan
mengalir ke unit-unit fungsional ginjal. Nefron terganggu dan dapat
berlanjut menjadi hipoksia dan kematatian. Dengan rusaknya membran
glomerulus, protein akan keluar melalui urin sehingga tekanan osmotik
koloid plasma berkurang, menyebabkan edema, yang sering dijumpai pada
hipertensi kronik.

5.

Penatalaksanaan Medis
Lebih dari 10 tahun yang lalu masih terjadi perdebatan tentang perlu
tidaknya pengobatan hipertensi pada usia lanjut. Golongan yang kontra
menyatakan bahwa penurunan tekanan darah pada hipertensi lansia justru akan
menyebabkan kemungkinan terjadinya trombosis koroner, hipotensi postural dan
penurunan kualitas hidup. Dengan penelitian-penelitian yang diadakan dalam 10
tahun terakhir ini jelas dibuktikan bahwa menurunkan tekanan darah pada
hipertensi lansia jelas akan menurunkan komplikasi akibat hipertensi secara
bermakna.
Tujuan penatalaksanaan hipertensi adalah mengurangi morbiditas dan
mortalitas yang berkaitan dengan sistem kardiovaskuler dan ginjal. Karena
kebanyakan penderita hipertensi, khususnya yang berusia >50 tahun akan
mencapai target tekanan diastol saat target tekanan sistol sudah dicapai, sehingga
fokus utamanya adalah mencapai target tekanan sistol. Penurunan tekanan sistol
dan diastol <140/90 mmHg berhubungan dengan penurunan terjadinya komplikasi
stroke, dan pada pasien hipertensi dengan diabetes melitus, target tekanan darah
ialah < 130/80 mmHg.
Penatalaksanaan hipertensi dilandasi oleh beberapa prinsip, yaitu:
1) Pengobatan hipertensi sekunder lebih mendahulukan pengobatan kausal.
2)

Pengobatan hipertensi esensial ditujukan untuk


menurunkan tekanan darah dengan harapan memperpanjang umur dan
mengurangi timbulnya komplikasi.

3)

Upaya menurunkan tekanan darah dicapai dengan


menggunakan obat antihipertensi.

4)

Pengobatan hipertensi adalah pengobatan jangka


panjang, bahkan mungkin seumur hidup.

5)

Pengobatan dengan menggunakan standart triple


therapy (stt) menjadi dasar pengobatan hipertensi.

Pemakaian obat pada lanjut usia perlu dipikirkan kemungkinan adanya:


1) Gangguan absorsbsi dalam alat pencernaan
2) Interaksi obat
3) Efek samping obat
4) Gangguan akumulasi obat terutama obat-obat yang ekskresinyamelalui
ginjal.
Pada pengobatan hipertensi ada tiga hal evaluasi menyeluruh terhadap
kondisi penderita adalah:
1) Pola hidup dan indentifikasi ada tidaknya faktor resiko kardiovaskuler.
2) Penyebab langsung hipertensi sekunder atau primer.
3) Organ yang rusak karena hipertensi.
Secara garis besar, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pemilihan obat antihipertensi, yaitu:
1)

Mempunyai efektivitas yang tinggi

2)

Mempunyai toksisitas dan efek samping yang ringan atau minimal

3)

Memungkinkan penggunaan obat secara oral.

4)

Tidak menimbulkan intoleransi

5)

Harga obat relatif murah sehingga terjangkau oleh penderita.

6)

Memungkinkan penggunaan obat dalam jangka panjang.