Anda di halaman 1dari 36

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi
yang disertai leukopeneia, ruam, limfodenopati, dan trombositopenia. Pada
penyakit DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan hemokonsentrasi
atau penumpukan cairan di rongga tubuh. Penularan infeksi virus dengue terjadi
melalui vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. Aegypti dan A. Albhopictus).1
Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang cenderung
meningkat jumlah penderitanya serta semakin luas penyebarannya, sejalan dengan
meningkatnya mobilitas dan kepadatan penduduk. Penyakit ini ditemukan hampir
diseluruh belahan dunia tertuma di negara tropik dan sup tropik baik secara
endemik maupun epidemik. 2
Kepadatan penduduk yang lebih padat akan mudah untuk terjadi penularan
penyakit DBD karena jarak terbang nyamuk diperkirakan 50 meter. Sedangkan
suhu dan kelembapan udara juga merupakan salah satu kondisi lingkungan yang
mempengaruhi perkembangan Aedes aegypti. Menurut Mardihusodo bahwa
kelembapan udara yang berkisar 81,5 89,5 % merupakan kelembapan yang
optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk.3
DBD sampai saat ini merupakan salah satu penyakit menular yang telah
menimbulkan kejadian luar biasa dan dapat menyerang semua orang dan golongan
umur. hasil epidemiologik menunjukan penyakit ini terutama dijumpai pada anakanak dan tidak ada perbedaan jenis kelamin. DBD biasanya terjangkit di daerah
perkotaan karena kepadatan penduduk yang tinggi, seiring dengan makin
lancarnya transportasi menyebabkan masyarakat yang tinggal di pedesaan juga
menerima limpahan peningkatan kasus DBD dari kota besar.4
World Health Organization (WHO) menggambarkan terdapat 50 - 100 juta
kasus penyakit demam dengue di seluruh dunia setiap tahun, dimana 250.000 500.000 kasus adalah DBD angka kematian sekitar 24.000 jiwa per tahun.4
Sekitar 2,5 milyar orang di dunia beresiko terinfeksi virus dengue. Data dari

seluruh dunia menunjukan Asia menempati urutan pertama dalam jumlah


penderita DBD setiap tahunnya.5
Hampir di setiap daerah di Indonesia terdapat kasus DBD baru tak
terkecuali dengan Propinsi Jawa Timur. Kabupaten pasuruan merupakan salah
yang rawan akan penyakit DBD karena masih merupakan daerah endemis. Data
yang didapat dari Dinas Kesehatan penderita demam berdarah dengue pada
Kecamatan Kraton sebanyak 40 penderita, dengan jumlah terbanyak di desa
Sidogiri sebanyak 14 pasien sejak periode Februari September 2016.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang muncul adalah sebagai
berikut:
a. Bagaimanakah gambaran kasus DBD di Desa Sidogiri, Kecamatan Kraton
b. Bagaimana tindakan yang akan dilakukan agar kasus DBD di Desa Sidogiri
tidak semakin meluas.
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui gambaran kasus DBD di Desa Sidogiri Kecamatan Kraton.
b. Membantu mencegah meluasnya kasus DBD di Desa Sidogiri Kecamatan
Kraton.
1.4 Manfaat
a. Pengetahuan masyarakat mengenai penyakit DBD semakin meningkat,
sehingga mereka memiliki kesadaran untuk ikut serta dalam mencegah
terjadinya penyakit DBD.
b. Membantu pihak puskesmas dalam hal pendataan penyakit DBD di Kecamatan
Kraton.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi dan Etiologi2
Demam berdarah dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh
virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot dan/atau nyeri sendi
yang disertai leukopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia, diathesis
hemoragik dan perembesan plasma.Yang membedakan demam berdarah dengue
dengan demam dengue adalah ada tidaknya perembesan plasma yang ditandai
dengan hemokonsentrasi atau penumpukan cairan di rongga tubuh.
Demam dengue dan demam berdarah dengue sama-sama disebabkan oleh
virus dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus, famili Flaviviridae dengan
diameter sekitar 30 nanometer yang terdiri dari asam ribonukleat rantai tunggal
dengan berat molekul 4 x 10-6. Terdapat 4 serotipe virus, yaitu DEN-1, DEN-2,
DEN-3, dan DEN-4.Keempat serotipe virus tersebut semuanya telah ditemukan di
Indonesia dengan serotipe terbanyak adalah DEN-3.
2.2 Epidemiologi2
Demam berdarah dengue tersebar di wilayah Asia Tenggara, Pasifik Barat,
dan Karibia.Indonesia merupakan wilayah endemis dengan sebaran merata di
seluruh tanah air. Insiden DBD di Indonesia antara 6-15 per 100.000 penduduk
(pada 1989 hingga 1995) dan pernah meningkat tajam hingga 35 per 100.000
penduduk pada tahun 1998, sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun
hingga mencapai 2% pada tahun 1999. Penularan infeksi virus dengue melalui
vektor nyamuk genus Aedes (terutama A. aegypti dan A. albopictus).Peningkatan
kasus tiap tahunnya berkaitan dengan sanitasi lingkungan dan tersedianya tempat
perindukan bagi nyamuk betina yaitu bejana berisi air jernih (bak mandi, kaleng
bekas, dan tempat penampungan air lainnya).
Faktor Determinan.
1) Agent Virus penyebab Demam Dengue adalah flavivirus dan terdiri dari 4
serotipe yaitu serotipe 1,2,3 dan 4 (dengue -1.-2,-3 dan -4). Virus yang sama
menyebabkan Demam Berdarah Dengue (DBD). Semua serotipe dengue dapat

menyebabkan DHF/DSS pada unitan menurun menurut frekwensi penyakit yang


ditimbulkan tipe 2. 3,4 dan 1.
2) Host -- yaitu faktor intrinsik yang sangat dipengaruhi oleh genetik yang
berhubungan dengan meningkat atau menurunnya kepekaan individu terhadap
penyakit tertentu.Faktor pejamu yang merupakan faktor risiko untuk timbulnya
penyakit adalah genetik, umur, jenis kelamin, keadaan fisiologi, kekebalan,
penyakit yang diderita sebelumnya dan sifat-sifat manusia.
3) Vektor Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan
ukuran

nyamuk

rumah

(Culex

quinquefasciatus)

mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih terutama pada kakinya.
Morfologinya khas yaitu mempunyai gambaran lira (lyre-form) yang putih pada
punggungnya (mesonotum). Telur Ae.aegypti mempunyai dinding yang bergarisgaris dan menyerupai gambaran kain kasa. Larva Ae.aegypti mempunyai pelana
yang terbuka dan gigi sisir yang berduri lateral.4
4) Reservoir Virus dengue bertalian melalui siklus nyamuk Aedes aegyptimanusia di daerah perkotaan negara tropis; sedangkan siklus monyet-nyamuk
menjadi reservoir di Asia Tenggara dan Afrika Barat.
5)Lingkungan (environment) Yang dimaksud dengan lingkungan ialah agregat
dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan
dan perkembangan suatu organisasi. Secara umum lingkungan ini dibedakan atas
dua

macam

yakni:

a. Lingkungan fisik. Yang dimaksud dengan lingkungan fisik ialah lingkungan


alamiah yang terdapat di sekitar manusia. Lingkungan fisik ini banyak macamnya,
misalnya cuaca, musim, keadaan geografis dan struktur geologi. Pada kasus DBD
dapat berupa tempat perindukan Ae. aegypti yang merupakan tempat-tempat berisi
air bersihyang letaknya berdekatan dengan rumah penduduk (500m) dan udara
yang lembab. Tempat perindukan buatan manusia; speerti tempayan/gentong
tempat penyimpanan air minum, bak mandi, pot bunga, kaleng, botol, drum, ban
mobil yang terdapat di halaman rumah; juga berupa tempat perindukan alamiah;
seperti kelopak daun anaman, tempurung kelapa, tinggak bambu dan lubang
pohon

yang

berisi

air

hujan.

b. Lingkungan non-fisik.Yang dimaksud dengan lingkungan non-fisik ialah


lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia. Ke dalam
lingkungan non-fisik ini termasuk faktor sosial budaya, norma, nilai dan adat
istiadat.
Peranan lingkungan dalam menyebabkan timbul atau tidaknya penyakit dapat
bermacam-macam. Salah satu di antaranya ialah sebagai reservoir bibit penyakit
(environmental reservoir). Adapun yang dimaksud dengan reservoir ialah tempat
hidup

yang

dipandang

paling

sesuai

bagi

bibit

penyakit. 5

Cara Transmisi. Ditularkan melalui gigitan nyamuk yang infektif terutama Aedes
aegypti. Ini adalah spesies nyamuk yang menggigit pada siang hari dengan
peningkatan aktivitas menggigit sekitar 2 jam sesudah matahari terbit dan
beberapa jam sebelum matahari tenggelam. Nyamuk tersebut mendapat virus dari
orang yang dalam darahnya terdapat virus itu. Orang itu (carrier) tidak harus
orang yang sakit Demam Berdarah. Sebab, orang yang mempunyai kekebalan,
tidak tampak sakit atau bahkan sama sekali tidak sakit, walaupun dalam darahnya
terdapat virus dengue. Dengan demikian orang ini dapat menularkan penyakit
kepada orang lain. Virus dengue akan berada dalam darah manusia selama 1
minggu.

Orang

dewasa

biasanya

kebal

terhadap

virus

dengue.

Tempat-tempat yang mempunyai resiko tinggi untuk terjadinya penularan


demam berdarah ialah tempat umum (Rumah Sakit, Puskesmas, Sekolah,
Hotel/tempat penginapan) yang kebersihan lingkungannya tidak terjaga,
khususnya kebersihan tempat-tempat penampungan air (bak mandi. WC, dsb).
Tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi
nyamuk pada saat viremia yaitu : sejak beberapa saat sebelum panas sampai saat
masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3-5 hari. Nyamuk menjadi
infektif 8-12 hari sesudah mengisap darah penderita viremia dan tetap infektif
selama

hidupnya.

2.3 Patogenesis2
Patogenesis DBD tidak sepenuhnya dipahami, namun terdapat dua perubahan
patofisiologis yang signifikan, yaitu:

Meningkatnya permeabilitas kapiler yang mengakibatkan bocornya


plasma, hipovolemia dan terjadinya syok. Pada DBD terdapat kejadian
unik yaitu terjadinya kebocoran plasma ke dalam rongga pleura dan

rongga peritoneal. Kebocoran plasma terjadi singkat (24-48 jam).


Hemostasis abnormal yang disebabkan oleh vaskulopati, trombositopeni
dan koagulopati, mendahului terjadinya manifestasi perdarahan.

Aktivasi sistem komplemen selalu dijumpai pada pasien DBD.Kadar C3 dan


C5 rendah, sedangkan C3a serta C5a meningkat.Mekanisme aktivasi komplemen
tersebut belum diketahui.Adanya kompleks imun telah dilaporkan pada DBD,
namun demikian peran kompleks antigen-antibodi sebagai penyebab aktivasi
komplemen pada DBD belum terbukti.
Selama ini diduga bahwa derajat keparahan penyakit DBD dibandingkan
dengan DD dijelaskan dengan adanya pemacuan dari multiplikasi virus di dalam
makrofag

oleh

antibodi

heterotipik

sebagai

akibat

infeksi

dengue

sebelumnya.Namun demikian, terdapat bukti bahwa faktor virus serta respons


imun cell-mediated terlibat juga dalam patogenesis DBD.
2.4 Manifestasi Klinis2
Manifestasi klinis infeksi virus Dengue pada manusia sangat bervariasi.
Spektrum variasinya begitu luas, mulai dari asimtomatik, demam ringan yang
tidak spesifik, demam dengue, demam berdarah dengue, hingga yang paling berat
yaitu dengue shock syndrome (DSS). Diagnosis demam berdarah dengue
ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO tahun 1997, terdiri dari
kriteria klinis dan laboratoris.Penggunaan kriteria ini dimaksudkan untuk
mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).

Kriteria Klinis
1. Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus selama
2-7 hari, biasanya bifasik.
2. Terdapat manifestasi perdarahan yang ditandai dengan:
- Uji tourniquet positif
- Petekia, ekimosis, purpura
- Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi
- Hematemesis dan atau melena
Kriteria Laboratoris :
- Trombositopeni (trombosit < 100.000/ml)
- Hemokonsentrasi (kenaikan Hematokrit (Htc)> 20%)
Manifestasi klinis DBD sangat bervariasi, WHO (1997) membagi menjadi 4
derajat seperti pada tabel di bawah ini.
Tabel 1. Klasifikasi Infeksi Dengue berdasarkan Derajat Penyakit
Kategori

Derajat

DD
DBD

DBD

II

DBD

III

DBD

IV

Gejala
Demam diserai 2/lebih tanda: nyeri

Laboratorium

-leukopenia
kepala, nyeri retro-orbital, nyeri otot -trombositopenia ringan
-tidak ada tanda kebocoran plasma
dan nyeri sendi
-trombositopenia <100.000 /ml
Gejala di atas + uji tourniquet positif
-ada kebocoran plasma
-trombositopenia <100.000 /ml
Gejala di atas + perdarahan spontan
-ada kebocoran plasma
Gejala di atas + tanda-tanda pre-syok
-trombositopenia <100.000 /ml
(kulit dingin, lembab, dan gelisah,
-ada kebocoran plasma
nadi cepat, tekanan darah turun)
Syok berat (nadi tidak teraba, tekanan -trombositopenia <100.000 /ml
-ada kebocoran plasma
darah tidak terukur)

Adapun yang dimaksud tanda-tanda kebocoran plasma (plasma leakage)


antara lain:
-

peningkatan hematokrit >20% dibandingkan standar sesuai dengan umur


dan jenis kelamin

penurunan hematokrit >20% setelah mendapat terapi cairan, dibandingkan

dengan nilai hematokrit sebelumnya


hipoproteinemia
hiponatremia
efusi pleura atau asites

2.5 Diagnosis2,3
Diagnosis DBD dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
maupun pemeriksaan penunjang.Adapun hal-hal yang menyangkut anamnesis dan
pemeriksaan fisik telah dibahas pada sub bab 2.4 mengenai manifestasi klinis
DBD. Sedangkan pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan untuk membantu
menegakkan diagnosis DBD antara lain:
a. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan darah yang umum dilakukan untuk menapis pasien tersangka
demam berdarah dengue adalah melalui pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb),
hematokrit (Htc), jumlah trombosit, dan hitung jenis leukosit untuk melihat ada
tidaknya limfositosis relative disertai gambaran limfosit plasma biru (LPB).
Diagnosis pasti didapatkan dari hasil isolasi virus dengue (cell culture)
ataupun deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR (Reverse
Transcriptase Polymerase Chain Reaction). Namun karena teknik ini masih sulit
dilakukan dan biayanya mahal maka dapat digunakan juga uji serologis yang
dapat mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap virus dengue dengan
memeriksa kadar IgM dan IgG.
Parameter-parameter lainnya yang dapat ditemukan dalam pemeriksaan
darah adalah:

Leukosit: dapat berupa leukositosis atau leukopenia, mulai hari ke-3 dapat
ditemukan limfositosis relatif (> 45% dari total leukosit) disertai limfosit
plasma biru (> 15% dari total leukosit di mana pada fase syok akan

meningkat jumlahnya
Trombosit: terjadi trombositopenia pada hari ke-3 sampai hari ke-8

Hematokrit: terjadi peningkatan hematokrit >20% dari nilai hematokrit

awal, umumnya mulai terlihat padaa hari ke-3 demam


Hemostasis: dilakukan pemeriksaan waktu perdarahan, CT, PPT, aPTT

jika dicurigai adanya perdarahan ataupun kelainan pembekuan darah


Protein/albumin: dapat terjadi hipoproteinemia jika ada kebocoran plasma
Faal hati: dapat terjadi peningkatan enzim hati SGOT/SGPT
Faal ginjal: dapat terjadi peningkatan ureum, kreatinin terutama jika terjadi

syok
Imunoserologis: dapat terjadi peningkatan IgM antidengue mulai hari ke-3
sampai dengan minggu ke-3 dan menghilang setelah 60-90 hari, serta
terjadi peningkatan IgG mulai hari ke-14 (infeksi primer) atau hari ke-2

(infeksi sekunder)
Uji Hemaglutinasi Inhibisi (HI): uji ini merupakan standar WHO untuk
kepentingan surveilans. Uji ini memerlukan minimal 2 sampel serum pada
fase akut dan fase konvalesens (penyembuhan) dengan interpretasi seperti
pada tabelberikut ini.
Tabel 2. Interpretasi Hasil Uji Hemaglutinasi Inhibisi
Interval Serum I-II

Kenaikan Titer

Titer Serum II

Kesimpulan

7 hari
Berapapun
< 7 hari

4 kali
4 kali
4 kali

1: 1280
1: 1560
1: 1280

Infeksi Primer
Infeksi Sekunder
Infeksi primer atau

Berapapun

tidak ada

1: 2560

infeksi sekunder
Mungkin
infeksi

7 hari
< 7 hari

tidak ada
tidak ada

1: 1280
1: 1280

dengue
Bukan infeksi dengue
Tidak
bisa

1: 1280

disimpulkan
Tidak

Hanya 1 serum

bisa

disimpulkan

b. Pemeriksaan Radiologis
Pemeriksaan radiologis yang dilakukan untuk membantu mendeteksi
komplikasi dari DBD yaitu efusi pleura dan asites.Efusi pleura dapat dilihat pada
foto thorax PA dan lateral, sedangkan asites dapat ditemukan pada pemeriksaan
USG Abdomen.

2.6 Penatalaksanaan
a. Promotif
Kegiatan promotif untuk mencegah meluasnya kasus DBD di masyarakat
adalah melalui semboyan 3M plus yaitu menguras bak mandi minimal
seminggu sekali, menutup tempat-tempat penampungan air, mengubur barangbarang bekas yang dapat menjadi tempat berkembang biak nyamuk Aedes aegypti,
pemberian bubuk abate di tempat-tempat penampungan air atau ikanisasi tempat
penampungan air untuk membunuh jentik-jentik nyamuk, serta melakukan
fogging atau pengasapan untuk membunuh nyamuk dewasa.
b. Preventif
Kegiatan preventif di sini dimaksudkan untuk mencegah gigitan nyamuk,
yaitu dengan cara mengoleskan lotion antinyamuk (repellent), menggunakan
insektisida antinyamuk (semprot, bakar, atau elektrik), memakai kaos kaki yang
panjang hingga ke lutut untuk anak-anak yang masih sekolah atau menggunakan
celana panjang maupun baju lengan panjang, serta tidur dengan menggunakan
kelambu.
c. Kuratif2
Tidak ada terapi yang spesifik untuk infeksi dengue, prinsip utama adalah
dengan terapi simtomatis.Dengan terapi simtomatis yang adekuat angka kematian
dapat

diturunkan

hingga

kurang

dari

1%.Pemeliharaan

volume

cairan

intravaskular merupakan tindakan yang paling penting dalam penanganan demam


berdarah dengue.Asupan cairan pasien harus dijaga terutama cairan oral.Apabila
asupan secara oral tidak dapat terpenuhi maka alternatifnya dapat diberikan cairan
secara parenteral untuk mencegah terjadinya dehidrasi dan hemokonsentrasi
darah.
Perhimpunan Dokter Ahli Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) bersama
Divisi Tropik Infeksi dan Divisi Hematologi-Onkologi Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia telah menyusun penatalaksanaan DBD pada pasien
dewasa.Protokol ini terbagi dalam 5 kategori:

10

Protokol 1: Penanganan Pasien Dewasa Tersangka DBD tanpa Syok


Protokol ini digunakan sebagai petunjuk dalam memberikan pertolongan
pertama pada pasien DBD atau yang diduga DBD di Instalasi Gawat Darurat serta
digunakan sebagai petunjuk dalam memutuskan indikasi rawat.Adapun hal-hal
yang harus dilakukan seperti terlihat pada gambar di bawah ini.

Keluhan mengarah DBD


(Kriteria WHO 1997))

Hb, Hematokrit, dan Trombosit Normal

Hb & Hematokrit Normal


Hb & Hematokrit Normal
Hb & Hematokrit Meningkat
Trombosit
<100.000
Trombosit 100.000-150.000
Trombosit Normal/Turun

Observasi Rawat Jalan


Periksa Hb, Hematokrit, dan Trombosit 24 jam berikutnya

RAWAT INAP

Gambar 1. Protokol I (Penanganan Pasien Tersangka DBD tanpa Syok)


Protokol II: Pemberian Cairan pada Pasien Tersangka DBD di Ruang Rawat
Pasien tersangka DBD tanpa perdarahan spontan dan masif dan tanpa syok
di ruang rawat diberikan cairan infus kristaloid dengan jumlah seperti rumus
berikut ini.
1500 + {20 x (Berat Badan dalam Kg
20)}

11

atau dapat juga dijabarkan dalam Rumus Holiday-Segar yang dapat pula
digunakan pada pasien anak-anak. Adapun perhitungannya seperti pada tabel di
bawah ini.
Tabel 3. Tabel Perhitungan Kebutuhan Cairan Maintenance menurut Holiday-Segar

Berat Badan (kg)


10 kg
11 20 kg
> 20 kg

Kebutuhan Cairan
100 cc/kgBB/hari
50 cc/kgBB/hari
20 cc/kgBB/hari

Misal:
Pasien anak-anak dengan berat badan 15 kg, maka perhitungannya adalah
(10 kg x 100 cc/kg/hari) + (5 kg x 50 cc/kg/hari) = 1000 cc/hari + 250
cc/hari = 1250 cc/hari
Pasien dewasa dengan berat badan 50 kg, maka perhitungannya adalah (10
kg x 100 cc/kg/hari) + (10 kg x 50 cc/kg/hari) + (30 kg x 20 cc/kg/hari) =
1000 cc/hari + 500 cc/hari + 600 cc/hari = 2100 cc/hari
Alur penatalaksanaan pasien tersangka DBD tanpa perdarahan dan syok di
ruang rawat dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Suspek DBD
Perdarahan spontan & massif (-)
Tanda-tanda syok (-)

Hb, Hematokrit Normal


Hb, Hematokrit 10-20%
Trombosit < 100.000
Trombosit < 100.000
Infus Kristaloid
Infus Kristaloid
Periksa Hb, Htc, Trombo /24 jam Periksa Hb, Htc, Trombo /24 jam

Hb, Hematokrit >20%


Trombosit <100.000

Penanganan dengan
Protokol III

12

Gambar 2. Protokol II (Pemberian Cairan Tersangka DBD di Ruang Rawat)


Protokol III: Penatalaksanaan DBD dengan Peningkatan Hematokrit >20%
Meningkatnya hematokrit > 20% menunjukkan adanya defisit cairan tubuh
sebanyak kurang lebih 5%.Penatalaksanaannya seperti yang terlihat pada bagan
berikut ini.

Defisit Cairan 5%
Terapi awal
cairan IV
6-7
cc/kgBB/jam
Evaluasi 3-4 jam
MEMBAIK
Hematokrit
Nadi , Tensi
Diuresis 2
cc/kgBB/Jam

TIDAK MEMBAIK
Hematokrit , Nadi
Tensi <20 mmHg
Diuresis

Kurangi infus kristaloid


Tambah infus kristaloid
Tanda
Vital
dan
Hematokrit
Memburuk
5 cc/kgBB/jam
10 cc/kgBB/jam

MEMBAIK

TIDAK MEMBAIK

Kurangi infus
kristaloid
3 cc/kgBB/Jam

Tambah infus kristaloid


15 cc/kgBB/jam

MEMBAIK

MEMBAIK

Terapi cairan dihentikan dalam 24-48 jam

TIDAK MEMBAIK
Tanda Syok (+)

Penanganan
dengan Protokol 13
V

Gambar 3. Protokol III (Penatalaksanaan DBD dengan Peningkatan Hematokrit >20%)

Protokol IV: Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD


Perdarahan spontan dan masif pada penderita DBD dapat berupa
epistaksis,

hematemesis,

melena,

hematokezia,

hematuria,

perdarahan

intraserebral atau perdarahan tersembunyi lainnya. Pada keadaan seperti ini


pemberian cairan tetap sama seperti keadaan tanpa syok. Observasi tanda vital,
Hb, hematokrit, dan trombosit sebaiknya dilakukan setiap 4-6 jam sekali.
Pemberian heparin dilakukan bila secara klinis dan laboratoris ditemukan
tanda-tanda DIC (Disseminata Intravascular Coagulation).Tranfusi komponen
darah diberikan sesuai indikasi. Tranfusi PRC (Pack Red Cells) dilakukan bila Hb

14

< 10 g/dl, tranfusi TC (Trombocyte Concentrate) dilakukan bila trombosit


<50.000/mm3 disertai perdarahan masif dengan atau tanpa tanda-tanda
DIC.Sedangkan FFP diberikan bila terdapat tanda defisiensi faktor pembekuan
(PT dan aPTT memanjang).

KASUS DBD:
Perdarahan spontan masif
Tanda-tanda syok (-)

Pemeriksaan Hb, Hematokrit, Trombosit, Leukosit, Hemostasis, Golongan Darah,


Uji Cross-Match

DIC (-):
DIC (+):
Tranfusi komponen darah (k/p)
Tranfusi komponen darah (k/p)
Observasi
tanda vital,drip
Hb, Htc, Trombo tiap 4-6 jam, ulang pemeriksaan hemostasis 2
Heparinisasi
5000-10.000/hari

si tanda vital, Hb, Htc, Trombo tiap 4-6 jam, ulang pemeriksaan hemostasis 24 jam kemudian

Dalam memberikan transfusi komponen darah hendaknya disesuaikan


dengan kebutuhan pasien.Ada rumus yang dapat digunakan dalam menentukan
Gambar 4. Protokol IV (Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD)
kebutuhan transfusi komponen darah. Untuk menentukan kebutuhan transfusi
PRC dapat digunakan rumus:
(Hb target Hb pasien) x Berat
Badan (kg) x 3
Sedangkan kebutuhan trombosit dapat dihitung dengan perkiraan bahwa 50 cc
suspensi trombosit dapat menaikkan kadar trombosit darah 7500-10.000/mm 3
pada pasien dengan berat badan minimal 50 kg. Ada beberapa institusi yang
menyatakan bahwa untuk membantu meningkatkan kadar trombosit dapat juga

15

ditambahkan

Dexamethason

atau

Metilprednisolon

(parenteral).

Namun

pemberian kortikosteroid ini harus lebih hati-hati pada pasien yang memiliki
riwayat diabetes mellitus dan hipertensi, karena steroid akan sangat mudah
menaikkan kadar glukosa darah dan tekanan darah.
Protokol V: Tatalaksana Dengue Shock Syndrome
Protokol ini digunakan bila pasien sudah menunjukkan tanda-tanda syok
(DBD Derajat III dan IV) yang merupakan kegawatdaruratan pada penyakit
ini.Tatalaksana Dengue Shock Syndrome (DSS) dapat dilihat seperti pada bagan
Kristaloid 10-20 cc/kgBB/30 menit
O2 2-4 liter/menit
Periksa Analis Gas Darah (AGD), Hb, Htc, Trombosit, Elektrolit, Ureum, Kreatinin, Golongan Darah

berikut ini.

MEMBAIK
Kristaloid 7 cc/kgBB/jam

MEMBAIK
Kristaloid 5 cc/kgBB/jam

MEMBAIK
Kristaloid 3 cc/kgBB/jam

TIDAK MEMBAIK
Kristaloid 20-30 cc/kgBB/30 menit

MEMBURUK
Kembali Ke Awal

Hematokrit
Koloid tetes cepat
10-20 cc/kgBB/10-15 menit

MEMBAIK
Menuju ke

Evaluasi 24-48 jam, jika tetap stabil berikan cairan maintenance

MEMBAIK
Menuju ke

Hematokrit
Transfusi WB 10 cc/kgBB
Dapat diulang sesuai kebutuhan

TIDAK MEMBAIK
Koloid 30 cc/kgBB/jam

TIDAK MEMBAIK
Pasang PVC

HIPOVOLEMIK
NORMOVOLEMIK
Kristaloid pantau tiap 10-15 menit
Koreksi Gangguan Asam Basa, Elektrolit, Hipoglikemia, Anemia, DIC,

- Inotropik
Vasopressor
Kombinasi Koloid-Kristaloid
Perbaikan terhadap vasopressor
- After load

PERBAIKAN

16
Koreksi Gangguan Asam Basa, Elektrolit, Hipoglikemia, Anemia, DIC, Infeksi sekunder

Gambar 5. Protokol V (Tatalaksana Dengue Shock Syndrome)

17

2.7 Aedes aegypti


1. Aedes aegypti sebagai vektor Demam Berdarah Dengue (DBD)
Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus dengue
penyebab penyakit demam berdarah. Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi
hampir semua daerah tropis di seluruh dunia. Aedes aegypti merupakan pembawa
utama (primary vector) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus
persebaran dengue di desa-desa dan perkotaan (Anggraeni, 2011). Nyamuk ini
berpotensi untuk menularkan penyakit demam berdarah dengue (DBD). DBD
adalah suatu penyakit yang ditandai dengan demam mendadak, perdarahan baik di
kulit maupun di bagian tubuh lainnya serta dapat menimbulkan syok dan
kematian. Penyakit DBD ini terutama menyerang anak-anak termasuk bayi,
meskipun sekarang proporsi penderita dewasa meningkat. Penyebab penyakit
demam berdarah ialah virus Dengue yang termasuk dalam genus Flavivirus,
famili Flaviviridae. Terdapat empat serotipe dari virus Dengue, yaitu DEN-1,
DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang semuanya dapat menyebabkan DBD. Virus ini
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk betina terinfeksi
melalui pengisapan darah dari orang yang sakit. Tempat perindukan Aedes aegypti
dapat dibedakan atas tempat perindukan sementara, permanen, dan alamiah.
Tempat perindukan sementara terdiri dari berbagai macam tempat penampungan
air (TPA) yang dapat menampung genangan air bersih. Tempat perindukan
permanen adalah TPA untuk keperluan rumah tangga dan tempat perindukan
alamiah berupa genangan air pada pohon. (Suhendro, 2006)
2. Siklus Hidup Aedes aegypti
Nyamuk Aedes aegypti mengalami metamorfosa sempurna, yaitu dari bentuk
telur, jentik, kepompong dan nyamuk dewasa. Stadium telur, jentik, dan
kepompong hidup di dalam air (aquatik), sedangkan nyamuk hidup secara
teresterial (di udara bebas). Pada umumnya telur akan menetas menjadi larva
dalam waktu kira-kira 2 hari setelah telur terendam air. Nyamuk betina
meletakkan telur di dinding wadah di atas permukaan air dalam keadaan
menempel pada dinding perindukannya. Nyamuk betina setiap kali bertelur dapat

18

mengeluarkan telurnya sebanyak 100 butir. Fase aquatik berlangsung selama 8-12
hari yaitu stadium jentik berlangsung 6-8 hari, dan stadium kepompong (pupa)
berlangsung 2-4 hari. Pertumbuhan mulai dari telur sampai menjadi nyamuk
dewasa berlangsung selama 10-14 hari. Umur nyamuk dapat mencapai 2-3 bulan
(Ridad dkk., 1999).

Gambar 3. Siklus Hidup Aedes aegypti (Sumber : Hopp & Foley, 2001)
3. Morfologi Aedes aegypti
I. Stadium Telur
Menurut Herms (2006), telur nyamuk Aedes aegypti berbentuk ellips atau oval
memanjang, berwarna hitam, berukuran 0,5-0,8 mm, dan tidak memiliki alat
pelampung. Nyamuk Aedes aegypti meletakkan telur-telurnya satu per satu pada
permukaan air, biasanya pada tepi air di tempat-tempat penampungan air bersih
dan sedikit di atas permukaan air. Nyamuk Aedes aegypti betina dapat
19

menghasilkan hingga 100 telur apabila telah menghisap darah manusia. Telur pada
tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan. Telur-telur ini kemudian
akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 1-2 hari terendam air (Herms, 2006).
Telur Aedes aegypti diperkirakan memiliki berat 0,0010 - 0,015 mg dan (Astuti
dkk ,2004). Telur Aedes aegypti tidak memiliki pelampung. Pada permukaan luar
dinding sel tersebar suatu struktur sel yang disebut outer chorionic cell (Suman
dkk, 2011).
Pada salah satu ujung telur terdapat poros yang disebut dengan micropyles.
Micropyles berfungsi sebagai tempat masuknya spermatozoid ke dalam telur
sehingga dapat terjadi pembuahan. Pada micropyles terdapat struktur-struktur
penting yang menunjang fungsinya tersebut, yaitu micropylar corolla, micropylar
disc, micropylar pore, micropylar ridge dan tooth-like tubercle (Suman dkk,
2011).
Meskipun chorion telur nyamuk Aedes aegypti adalah struktur protein padat,
namun rentan terhadap pengeringan dan unresistant terhadap deterjen atau zat
pereduksi. Misalnya, ketika telur dipindahkan ke lingkungan yang sangat kering
segera setelah oviposisi, akan cepat terdehidrasi (Junsuo dan Jianyong, 2006).
Pada dasarnya semua protein chorion akan terlarut ketika telur matang diletakkan
dalam larutan yang mengandung agen pereduksi kuat. Namun, dalam lingkungan
yang lembab, chorion akan menjadi sangat tahan terhadap kekeringan dalam
waktu 2 jam setelah oviposisi, sebuah proses yang disebut chorion hardening.
Protein merupakan komponen utama dalam chorion dan mereka menjadi tidak
larut setelah proses chorion hardening atau pengerasan korion. Hal ini
kemungkinan disebabkan oleh modifikasi struktural protein chorion yang
mengarah ke insolubilization (Junsuo dan Jianyong, 2006).
Studi ultrastruktur mengungkapkan bahwa ada dua lapisan dalam chorion nyamuk
Aedes aegypti, yaitu endochorion dan exochorion. Pada nyamuk, endochorion
adalah lapisan elektron padat homogen dan exochorion terdiri dari lapisan pipih
dengan tubecle menonjol (Junsuo dan Jianyong, 2006).
Dalam waktu 1-2 jam setelah peletakan telur, lapisan endokorion akan berubah
dari lunak menjadi keras dan gelap serta kadang menjadi impermeable. Telur dari

20

nyamuk Aedes aegypti pada saat pertama kali diletakkan berwarna putih,
kemudian berubah menjadi gelap sampai hitam dalam waktu 12-24 jam.
Perubahan warna pada telur terjadi karena adanya lapisan endokorion yang
merupakan lapisan pelindung telur (Junsuo dan Jianyong, 2006).
Tubercle pada lapisan exochorion terdiri dari tubercle central dan tubercle perifer.
Tubercle central dikelilingi oleh turbercle perifer yang membentuk bidang
heksagonal yang dihubungkan oleh exochorionic network (suman dkk, 2011).
II. Stadium Larva (Jentik)
Menurut Herms (2006), larva nyamuk Aedes aegypti mempunyai ciri khas
memiliki siphon yang pendek, besar dan berwarna hitam. Larva ini tubuhnya
langsing, bergerak sangat lincah, bersifat fototaksis negatif dan pada waktu
istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan permukaan air. Larva
menuju ke permukaan air dalam waktu kira-kira setiap -1 menit, guna
mendapatkan oksigen untuk bernapas. Larva nyamuk Aedes aegypti dapat
berkembang selama 6-8 hari (Herms, 2006).
Berdasarkan data dari Depkes RI (2005), ada empat tingkat (instar) jentik sesuai
dengan pertumbuhan larva tersebut, yaitu:
a. Larva instar I; berukuran paling kecil yaitu 1-2 mm atau satu sampai dua hari
setelah telur menetas, duri-duri (spinae) pada dada belum jelas dan corong
pernapasan pada siphon belum menghitam (Hoedojo, 1993).
b. Larva instar II; berukuran 2,5-3,5 mm berumur dua sampai tiga hari setelah
telur menetas, duri-duri dada belum jelas, corong pernapasan sudah mulai
menghitam (Hoedojo, 1993).
c. Larva instar III; berukuran 4-5 mm berumur tiga sampai empat hari setelah telur
menetas, duri-duri dada mulai jelas dan corong pernapasan berwarna coklat
kehitaman (Hoedojo, 1993).
d. Larva instar IV; berukuran paling besar yaitu 5-6 mm berumur empat sampai
enam hari setelah telur menetas dengan warna kepala gelap (Hoedojo, 1993).
III. Stadium Pupa

21

Pupa berbentuk koma, gerakan lambat, sering ada di permukaan air. Pada pupa
terdapat kantong udara yang terletak diantara bakal sayap nyamuk dewasa dan
terdapat sepasang sayap pengayuh yang saling menutupi sehingga memungkinkan
pupa untuk menyelam cepat dan mengadakan serangkaian jungkiran sebagai
reaksi terhadap rangsang. Bentuk nyamuk dewasa timbul setelah sobeknya
selongsong pupa oleh gelembung udara karena gerakan aktif pupa. Pupa bernafas
pada permukaan air melalui sepasang struktur seperti terompet yang kecil pada
toraks (Aradilla, 2009).
IV. Nyamuk dewasa
Nyamuk Aedes aegypti dewasa berukuran lebih kecil daripada ukuran nyamuk
rumah (Culex quinquefasciatus) (Djakaria, 2006). Nyamuk Aedes aegypti dikenal
dengan sebutan black white mosquito atau tiger mosquito karena tubuhnya
memiliki ciri yang khas, yaitu dengan adanya garis-garis dan bercak-bercak putih
keperakan di atas dasar warna hitam. Sedangkan yang menjadi ciri khas utamanya
adalah ada dua garis lengkung yang berwarna putih keperakan di kedua sisi
lateral dan dua buah garis lengkung sejajar di garis median dari punggungnya
yang berwarna dasar hitam (lyre shaped marking) (Soegijanto, 2006).

22

BAB III. METODE


3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif analitik.Populasi
diambil dari semua semua kejadian DBD yang tercatat di Puskesmas Ngempit
pada periode Februari September 2016
3. 2

Lokasi dan Waktu Penelitian

3.2.1

Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Ngempit Kecamatan Kraton.

3.2.2

Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari-September 2016.

3.3

Populasi, Sampel Penelitian

3.3.1

Populasi Penelitian
Populasi penelitian adalah jumlah penderita DBD yang dirawat di

Puskesmas Ngempit Kraton selama bulan Februari-September 2016.


3.3.2 Sampel Penelitian
Sampel dalam penelitian ini adalah jumlah penderita DBD yang dirawat
di Puskesmas Ngempit Kraton selama bulan Februari-September 2016 yang
berdomisili di desa Sidogiri.
3.4

Teknik Pengambilan Sampel


Metode pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan Total

sampling dengan menganalisis data sekunder.


3.5

Variabel Penelitian
Variabel bebas pada penelitian ini adalah
1. Host : usia, kepadatan penduduk, mobilisasi penduduk

23

2.
3.
4.
5.
6.

Vektor (Aedes aegipty)


Lingkungan : kondisi geografis
Waktu
Upaya pencegahan
Surveilance
Variabel terikat pada penelitian ini adalah jumlah kasus DBD di

desaSidogiri selama bulan Februari-September 2016.


3.6

Prosedur Pengambilan Data


Data merupakan data sekunder yang diperoleh dari rekam medis hasil

surveilans kasus DBD yang dirawat di puskesmas Ngempit selama periode


Februari-September 2016.
3.7 Prosedur Penelitian
Perijinan

Pengumpulan Sampel
Penelitian

Pengambilan Sampel
Penelitian

Pengolahan Data

Hasil

Penyajian Data
3.8

Pengolahan Data
Pengolahan data dilakukan setelah pengambilan data rekammedis hasil

24

surveilans kasus DBD yang dirawat di puskesmas Ngempit selama periode


Februari-September 2016.
Data yang diperoleh kemudian dikelompokkan, disajikan dalam bentuk
tabel, grafik, dan diagram, serta dideskriptifkan dalam bentuk narasi.

BAB IV. HASIL

25

4.1 Data Geografis


Luas Wilayah Desa Sidogiri
Luas Wilayah Desa Sidogiri secara administratif desa sidogiri mempunyai luas
wilayah 141 Ha, terdiri dari tanah sawah:109 Ha, tanah tegal: Ha, tanah
pekarangan/perkampungan: 24 Ha, lain- lain (sungai, kuburan, jalan): 8 Ha.
Letak Geografis Desa Sidogiri
Wilayah desa sidogiri dibagi dalam 2 dusun, dengan batas-batas wilayah desa
sebagai berikut:
- Sebelah Utara dengan Desa ngempit
- Sebelah Timur dengan Desa Klampisrejo,
- Sebelah Selatan dengan Desa Jeruk
- Sebelah Barat dengan desa Genengwaru.
Keadaan Sosial
Data Penduduk
Dusun
Wangkal
Sidogiri
Total

KK

Jiwa

45

351

382

10

1.06

1.10

5
66

6
15

0
1.48

20
1
46

1.411

Tingkat Kesejahteraan
Kaya
Sedang
Miskin
Jiwa
KK
Jiwa KK Jiwa KK
25

310

362

83

825

387

92

91
20

1.13

2
29

398

156

973

286

1.37
1

432

Keadaan Ekonomi
A. Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pendaharian
a. Petani

130

Jiwa

b. Buruh Tani

100

Jiwa

c. Pegawai Negeri

30

Jiwa

d.

10

Jiwa

Jiwa

Pegawai Swasta

e. TNI/POLRI

26

B.

Sumberdaya Alam
a. Lahan Sawah

109

Ha

b. Sumber Air

Lokasi

c. Lahan Kering

Ha

C. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan

Buta Huruf

jiwa

Tamat S D

2305

jiwa

Tamat SLTP

380

jiwa

Tamat SLTA

139

jiwa

Perguruan Tinggi

07

jiwa

Kelompok Masyarakat

Klp. Tani (3) , Arisan (3)

Yasinan / Majelis talim


Keadaan Sarana dan Prasarana Desa

TK

unit

SD / MI

1/3

unit

Balai Desa

unit

Masjid / Musholla

2 / 24 unit

Lapangan Olah raga

unit

Jembatan

unit

Jalan Lingkungan

11

ruas

Polindes

unit

Kondisi Wilayah
Wilayah Desa Sidogiri terdiri dari 2 Dusun yaitu : Dusun Sidogiri, Dan
Dusun Wangkal, yang masing-masing dipimpin oleh seorang Kepala Dusun.
Posisi Kepala Dusun menjadi sangat strategis seiring banyaknya limpahan tugas
desa kepada Aparat Desa ini. Dalam rangka memaksimalkan fungsi pelayanan
terhadap masyarakat di Desa Sidogiri, dari 2 Dusun tersebut terbagi menjadi 3
Rukun Warga (RW) dan 9 Rukun Tetangga (RT).

27

DAFTAR PEMBAGIAN WILAYAH DESA SIDOGIRI


No. Nama Dusun
1
Sidogiri
2
Wangkal
JUMLAH

Jumlah RW
2
1
3

Jumlah RT
6
3
9

Keberadaan Rukun Tetangga (RT) sebagai bagian dari satuan wilayah Pemerintah
Desa Sidogiri memiliki fungsi yang sangat berarti terhadap pelayanan
kepentingan masyarakat wilayah tersebut, terutama terkait hubungannya dengan
Pemerintah pada level diatasnya. Dari kumpulan Rukun Tetangga inilah sebuah
Padukuhan (Rukun Warga / RW) terbentuk.
Pola penggunaan lahan di Desa Sidogiri lebih didominasi oleh kegiatan
Pertanian Tanaman Pangan yaitu

sebagian besar padi dan polowijo (jagung,

kedelai) dengan mamanfaatkan pengairan yang rata-rata menggunakan sistem


irigasi teknis.
Di Wilayah Desa Sidogiri memiliki iklim tropis dengan jumlah curah
hujan rata-rata sebesar 80 mm2, dengan bulan basah antara bulan November
sampai dengan bulan Maret sekaligus menggambarkan kondisi fisik tanah
merupakan dataran rendah, dan tingkat kesuburan tanah dan lingkkungan adanya
aliran sungai yang selalu terairi sepanjang musim.
Kondisi Demografi
Berdasarkan data Administrasi Pemerintahan Desa Tahun 2013, data
Penduduk Desa Sidogiri seluruhnya berjumlah 2.843 jiwa, yang terdiri dari Lakilaki sebanyak 1.392 jiwa dan Perempuan sebanyak 1.451 jiwa.
Tabel Kependudukan
NO UARAIAN
1.

Jenis Kelamin

JUMLAH PENDUDUK
Jenis Kelamin Pekerja
L
P
an
1705
1712

Pendidi
kan

Agama

28

Pekerjaan :

2.

3.

4.

Petani

474

Buruh Tani

450

Pegawai

72

Negeri/Pensiunan

59

Tukang Batu/Kayu

120

Angkutan

115

TNI/POLRI

Pedagang

61

Karyawan Swasta

281

Lain-lain
Pendidikan

44

SD/MI

975

SMP/MTs.

380

SMA/MA

139

PT/Akademi
Agama :

14

Islam

3417

Kristen

Katolik

Hindu

Budha

Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia


No.
1
2
3
4
5
6
7
8

Usia
0-4
5-9
10-14
15-19
20-24
25-29
30-34
35-39

L / Jiwa
58
63
86
84
78
117
113
112

P / Jiwa
43
62
90
91
89
119
111
124

Jumlah
101 Orang
125 Orang
176 Orang
175 Orang
167 Orang
236 Orang
224 Orang
236 Orang

Prosentase
4,40 %
5,44 %
7,67 %
7,62 %
7,27 %
10,27 %
9,75 %
10,27 %
29

9
40-44
10
45-49
11
50-54
12
55-58
13
>59
Jumlah Total

105
112
96
73
37
1705

116
126
79
63
49
1712

221 Orang
238 Orang
175 Orang
136 Orang
86 Orang
3417 Orang

9,62
10,36
7,62
5,92
3,74
100

%
%
%
%
%
%

Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia Produktif, Pendidikan, Kesehatan dan


Kesejahteraan
No.
1
2

Kondisi Penduduk
Usia Produktif
Pendidikan Penduduk
a. Tidak Sekolah
b. SD
c. SMP
d. SMA
e. Perguruan Tinggi
Kesehatan Penduduk
a.
Pasangan Usia
Subur
b. Jumlah Balita
c. Lansia
Kesejahteraan
Penduduk
a. Kaya
b. Sedang
c. Miskin
d. Sangat Miskin

L/Jiwa/KK
817

P/Jiwa/KK
855

Total
1.672

4
500
213
87
9

21
475
167
52
5

25
975
380
139
14

1.039

1.070

2.109

58
37

43
49

101
86

194
704
751
693

150
653
279
664

344
1.357
1030
1357

Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya


Keadaan Sosial
Desa Sidogiri adalah Desa yang berada dilingkungan Pondok Pesantren,
sehingga kehidupan sosial masyarakat Desa Sidogiri yang agamis sangat diwarnai
kehidupan sosial budaya pesantren yang religius.
Perkembangan penduduk Desa Sidogiri masih bisa dikategorikan sedang,
hal ini karena didukung oleh makin sadarnya warga masyarakat Desa Sidogiri

30

terhadap pentingnya menata kehidupan rumah tangga menuju keluarga kecil yang
sejahtera dan bahagia melalui program Keluarga Berencana.
Pada sektor Pendidikan, data penyandang buta huruf dibawah usia 45
Tahun yang ada di Desa Sidogiri kurang lebih ada 25 Orang. Anak usia sekolah
hampir tidak ada yang tidak menduduki bangku sekolah terutama usia wajib
belajar Sembilan Tahun.
Keadaan Ekonomi
Jika dilihat secara cermat, terdapat beberapa sektor yang mampu
mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Desa Sidogiri. Yang paling
signifikan adalah sektor Pertanian. Hal ini didukung oleh luasnya lahan pertanian
yang mendominasi sekitar 74 % dari seluruh wilayah Desa Sidogiri sekaligus
kurang lebih 60 % mata pencaharian masyarakat Desa Sidogiri adalah Petani dan
Buruh Tani. Disamping itu pula sektor perdagangan tumbuh sangat baik terutama
sejak ditopang oleh pinjaman lunak bagi usaha rumah tangga melalui program
Simpan Pinjam Kelompok Perempuan ( SPP ) dari program PNPM-MP.
Banyaknya tenaga kerja bangunan maupun tenaga ketrampilan meubel
sangat membantu upaya pemerintah dalam rangka menurunkan angka
pengangguran.
Menurut data statistik terakhir yaitu Tahun 2010, perkembangan penduduk
miskin di Desa Sidogiri mengalami penurunan. Yang semula ada sekitar 278
Keluarga miskin menjadi hanya sekitar 226 keluarga miskin. Meskipun
sebenarnya hal ini ternyata sangat riskan sekali untuk dengan labilnya kondisi
ekonomi global, sehingga harus ada penguatan terutama di bidang peningkatan
sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Tabel Jumlah Penduduk menurut Mata Pencaharian

No.

JENIS MATA PENCAHARIAN

JUMLAH JIWA

31

Petani pemilik Sawah

247

Petani penggarap

70

Buruh Tani

97

Karyawan Perusahaan / Pabrik

192

Pedagang / Penjual Makanan / Warung / Toko

167

Pegawai Negeri Sipil / Pensiunan

111

TNI / POLRI / Purnawirawan

Pengemudi (Mobil, Becak)

115

Tukang / Buruh Bangunan

120

10

Wiraswasta / Wirausaha

23

Fasilitas Sosial dan Ekonomi


Berikut ini adalah keberadaan fasilitas sosial dan ekonomi :
Tempat Ibadah
Masjid
Mushollah
Sekolah
TK/RA
MI
SD
Kesehatan
Bidan
Mantri/Paramedis
Dokter
Posyandu
Polindes
Pos Obat Desa
Poskamling
Perdagangan
KUD
Pasar Desa

:
:

2
32

:
:
:

3
3
2

:
:
:
:
:
:
:

2
1
5
1
1
9

:
:

4.6 Data Kesehatan Masyarakat


Berdasarkan data yang masuk ke Puskesmas sejak Januari hingga
September 2016, jumlah penderita DBD di desa Sidogiri sebanyak 14 orang
dengan rincian seperti pada tabel berikut ini.

32

Tabel 4. Jumlah Penderita DBD di desa Sidogiri


JUMLAH PENDERITA DBD TAHUN KETERANGA
BULAN
JANUARI
FEBRUARI
MARET
APRIL
MEI
JUNI
JULI
AGUSTUS
SEPTEMBE

2016
HIDUP
1
3
5
1
1
2
1

N
MATI
-

TOTAL
1
3
5
1
1
2
1

R
TOTAL

14

14

Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh
Sembuh

33

BAB V. PEMBAHASAN

MATERI

MAN
Mobilisasi, kepadatan
penduduk, tenakes yang
kurang

Fogging

Penyuluhan 3M

Aedes aegypti

Pembagian abate

Penyebab tingginya
kasus DBD di desa
Sidogiri
Cara fogging kurang
tepat
Geografis (sebagian besar lahan
sawah)

Curah hujan per tahun


Surveilance

ENVIRONME

METHOD

TIME

34

BAB VI.PENUTUP
6.1 Kesimpulan
a. Kasus DBD di Kecamatan Srengat hingga Oktober 2012 telah mencapai 12
orang dan ABJ baru mencapai 71,11%. Meskipun belum dikatakan sebagai
KLB (Kejadian Luar Biasa) tetapi sudah mulai ada peningkatan insidensi DBD
dan Kecamatan Srengat belum mencapai target ABJ 95%.
b. Banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya ABJ serta tingginya kasus DBD
di Kecamatan Srengat antara lain faktor cuaca, kebersihan lingkungan, serta
pengetahuan masyarakat mengenai penyakit DBD dan PSN 3M plus.
6.2 Saran
a. Sosialisasi mengenai penyakit DBD dan PSN 3M Plus hendaknya dilakukan
secara berkala agar masyarakat tetap ingat dan semakin paham mengenai
pencegahan DBD.
b. Puskesmas hendaknya mempersiapkan sarana dan prasarana serta sumberdaya
tenaga kesehatan di lingkungan Kecamatan Srengat agar tetap waspada jika
sewaktu-waktu terjadi KLB DBD di wilayah Kecamatan Srengat.

DAFTAR PUSTAKA
1. Anonim. 2012. Difteri Belum Rampung, Giliran DBD Serang Jatim.
http://www.surabayapagi.com/index.php?
3b1ca0a43b79bdfd9f9305b812982962cce749c91bea2ee1325011080704f528.
Diakses pada tanggal 16 Nopember 2012.
2. Suhendro, Nainggolan, Chen, Pohan. 2006. Demam Berdarah Dengue.
Disunting oleh Sudoyo, Setyohadi, Alwi, Simadibrata, dan Setiati.Buku Ajar

35

Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.
3. Wiradharma, Danny. 1999. Diagnosis Cepat Demam Berdarah Dengue. J
Kedokter Trisakti 18(1): 77-90
4. BPS dan Bappeda Kabupaten Blitar. 2011. Desa sidogiridalam Angka 2011.
Blitar: BPS Kabupaten Blitar
5. Seksi P2 Dinkes Provinsi Jatim. 2012. Program Pengendalian Penyakit Menular
di Jawa Timur. http://dinkes.jatimprov.go.id/userimage/P2.pdf. Diakses 20
Oktober 2012.

36