Anda di halaman 1dari 111

1.

AKU
Namaku Milea. Milea Adnan Hussain. Jenis kelamin perempuan,
dan tadi baru selesai makan jeruk. Nama belakangku, diambil
dari nama ayahku. Seseorang yang aku kagumi, dan dia adalah
TNI Angkatan Darat yang bertugas di Kodiklat. Dia lahir di
Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Sejak kecil aku tinggal di Jakarta, yaitu di daerah kawasan
Slipi. Tahun 1990 ayahku dipindah tugas ke Bandung, sehingga
ibuku, aku, adik bungsuku, pembantuku, dan semua barangbarang di rumah pun jadi pada ikut pindah.
Rumahku, yang di Buah Batu, adalah milik Kakekku, Bapak
Abidin, yaitu ayah dari ibuku. Tapi Kakek sudah meninggal pada
bulan Mei tahun 1989. Di rumah itu, jadi cuma ada nenek,
karena ibuku adalah anak tunggal.
Khabar bahwa kami mau pindah ke Bandung, membuat
nenek sangat senang dan meminta kami untuk tinggal di
rumahnya. Tapi sayang, tahun 1990, kira-kira sebulan sebelum
pindah, nenekku meninggal dunia.
Rumah yang berukuran type 70 itu, kemudian jadi milik
ibuku

sepenuhnya.

Ada

halaman

di

depannya,

meskipun

ukurannya tidak luas, tapi cukup. Tempat tumbuh berbagai


bunga dan satu pohon jambu, yaitu jambu batu, yang ibuku suka
kesel kalau sudah mulai banyak ulatnya.
Aku juga pindah sekolah, ke SMA Negeri yang ada di
Bandung.

Bagiku,

itu adalah sekolah yang paling romantis

sedunia, atau kalau enggak, minimal se-Asia lah. Bangunannya


sudah tua, peninggalan

Belanda, tapi masih bagus karena

keurus.
Ada tumbuh pohon besar di halaman sekolah. Cabangnya
banyak dan bagus kalau dilihat senja hari, dan juga siang, kalau
mendung, dan juga pagi, kalau mau. Sebagian orang percaya
pohon itu berhantu, tapi aku gak takut, kecuali kalau harus
tidur sendirian malam hari di situ.
Dulu, jalan di depan sekolahku, cuma jalan biasa, lebarnya
kira-kira tiga meter dan belum banyak kendaraan yang lewat,
termasuk angkot. Sehingga untuk bisa sampai di sekolah, aku
harus mau berjalan sepanjang kira-kira 200 meter, yaitu setelah
aku turun dari angkot di daerah pertigaan jalan itu.

Sekarang jalan itu, sudah berubah, sudah jadi jalan raya


yang dipadati oleh banyak kendaraan.
Dulu, motor juga belum banyak. Hanya beberapa orang saja
yang pake. Sebagian besar bepergian dengan angkot atau bemo.
Rasanya, waktu itu, Bandung masih sepi, belum begitu
banyak orang. Setiap pagi masih suka ada kabut dan hawanya
cukup dingin, seperti menyuruh orang untuk memakai sweater
atau jaket kalau punya.
Selain romantis, sekolah itu adalah tempat yang banyak
menyimpan

kenangan.

Terutama

menyangkut

dengan

seseorang yang sangat aku cintai, yang pernah selalu mengisi


hari-hariku di masa lalu, yang malam ini, ingin kuceritakan
kepadamu.
Akan aku tulis semuanya sesuai dengan apa yang terjadi,
meskipun tidak begitu detail, tapi itulah intinya. Ada nama
tempat dan nama orang yang sengaja kusamarkan, untuk tidak
merembet menjadi suatu persoalan dengan pemilik tempat dan
orang yang bersangkutan.
Semua, akan kutulis dengan menggunakan cara si dia di
dalam bergaya bahasa. Entah gaya apa, pokoknya, kalau dia
bicara

pun,

bahasa

Indonesianya

cenderung

agak

baku.

Kedenger sedikit tidak lazim, seperti bahasa melayu lama yang


biasa digunakan oleh Sutan Takdir Alisyahbana.
Tapi itu bukan hal yang harus dipersoalkan, ini cuma
sekedar agar bisa sekaligus mengenang khas dari dirinya.
Sebelumnya,

aku

mau

cerita

dulu

di

mana

posisiku

sekarang. Malam ini aku sedang di ruang kerjaku bersama hot


lemon tea dan lagu-lagu Rolling Stones, di kawasan Jakarta
Pusat, di rumah yang aku tempati bersama suamiku sejak tahun
1997.
Malam ini, tanggal 11 September tahun 2010. Anakku sudah
tidur.

Dia lelaki

dan

masih

berusia 10

tahun.

Sedangkan

suamiku, dia belum pulang, katanya ada kerjaan kantor yang


membuat dia harus lembur.
Mari kita mulai, dan inilah ceritanya:

2. SANG PERAMAL
Pagi itu, di Bandung, pada bulan September, tahun 1990, setelah
turun dari angkot, aku jalan menuju sekolahku sebagaimana
yang

lainnya

yang juga

sama begitu.

Bedanya,

aku jalan

sendirian, yang lain ada yang berdua atau lebih.


Dari arah belakang, aku mendengar suara motor. Suaranya
agak berisik dan yang bisa kuingat di masa itu, belum begitu
banyak siswa yang pergi sekolah dengan memakai motor.
Ketika motor itu sudah mulai sejajar denganku, jalannya
melambat.

Seperti

sengaja

ingin

menyamai

kecepatanku

berjalan. Pengendaranya menggunakan seragam SMA


Meskipun saat itu banyak orang yang pada mau pergi
sekolah, aku tetap waspada, kuatir barangkali dia mau berbuat
buruk kepadaku. Dia bertanya:
Selamat pagi||
Pagi||, kujawab, sambil menoleh kepadanya sebentar
Kamu Milea, ya?||
Eh?||,

kutoleh

dia,

memastikan

barangkali

aku

kenal

dirinya. Nyatanya tidak, lalu kujawab:


-iyall

Boleh gak aku meramal? ||


Meramal?||, Aku langsung heran dengan pertanyaannya.
Kok meramal? Kok bukan kenalan?
Iya. Aku ramal, nanti kita akan bertemu di kantin||.
Dia pasti ngajak becanda. Aku gak mau. Tapi aku tidak tahu
harus jawab apa. Hanya bisa senyum, mungkin itu cukup,
sekedar untuk berbasa-basi. Jangan judes juga. Iya.
Asli, aku gak tahu siapa dia. Betul-betul gak tahu. Mungkin
satu sekolah denganku, tapi aku belum mengenal semua siswa
di sekolahku, termasuk dirinya. Aku hanya murid baru. Baru
dua minggu.
Mau ikut?||( dia nanya
Makasih||, jawabku. Enak aja, belum kenal sudah ngajak
semotor. Kupandang dia, sebentar:
Udah deket||, lanjutku.
Oke||, katanya,

Suatu hari,

Milea,

kamu akan naik

motorku. Percayalah ||
Aku diam, karena gak tahu aku harus bilang apa

Duluan ya!||, katanya.


Kupakai bahasa wajah, untuk mengungkap kata iya||.
Habis itu, dia berlalu, memacu motornya.
Nampak baju seragamnya berkelabatan, kalau guru tahu,
pasti akan disuruh dimasukin ke celana.
Waktu istirahat, tadinya aku mau ke kantin, tapi sama
sekali bukan untuk memenuhi ramalan anak itu. Boro-boro,
kepikiran juga enggak. Aku hanya ingin membeli sesuatu untuk
kuminum.
Tapi Nandan, teman sekelas, Ketua Murid kelas 2 Biologi 3,
minta waktu ingin ngobrol denganku, katanya ada yang mau
dibahas.
Dia bilang, kalau aku mau minum, gampang, biar dia saja
yang beli. Makasih kataku, dan memang, dia lalu pergi, ke
kantin. Tak lama dia kembali, membawa beberapa teh kotak.
Di kelas, selain Nandan, ada juga Rani dan Agus, semuanya
teman sekelas.

Hal yang dibahas adalah tentang keinginan

mereka untuk menunjuk aku

menjadi

sekertaris,

dan juga

sekaligus menjadi bendahara kelas 2 Biologi 3. Aku sih oke saja.


Bagiku, gampang lah itu.
Waktu kami sedang ngobrol, muncul seseorang yang bilang
permisi dan lalu masuk ke kelas.
Nandan, Rani dan juga Agus, tahu siapa dia. Namanya Piyan,
siswa dari kelas 2 Fisika 1, datang memberiku surat, katanya itu
surat titipan dari kawannya, tapi tidak disebut nama kawannya.
Dengan sedikit rasa heran, setelah Piyan berlalu, kubaca
surat itu:
"Milea,

ramalanku,

kita

akan

ketemu

cli

kantin,

ternyata

salah. Maaf. Tapi aku mau meramal lagi: Besok kita akan ketemu ||
Aku langsung bisa tahu siapa yang ngirim surat. Ini pasti
dia, orang yang tadi pagi naik motor dan bilang mau meramal.
Nandan nanya, dia ingin tahu surat apa, aku bilang cuma surat
biasa.
Surat itu, segera kulesakkan dalam tas sekolah, untuk
kembali menyimak Nandan yang banyak bicara tentang ini itu
yang menurutku membosankan. Tapi aku sudah tidak bisa lagi
konsentrasi

dengan

kata-kata

mereka.

Pikiranku,

entah

mengapa, sebagian besar, mendadak melayang kepada Sang


Peramal.

Hari itu hujan, aku pulang dijemput pamanku. Dia itu adik
dari

ayahku,

mahasiswa tingkat akhir di

perguruan tinggi

swasta, namanya Fariz. Dia sudah lama di Bandung dan kost di


daerah Setiabudi.
Ayah

nyuruh

paman

menjemputku,

supaya

bisa

lekas

datang ke rumah dinas ayahku, karena ada sedikit keperluan. Di


jalan pulang, entah mengapa, ramalan orang itu: bahwa besok
akan bertemu, terus saja kepikiran.
Apa? Besok? Hah, besok bertemu? Bukankah besok itu hari
minggu? Aku langsung bisa nebak: ramalannya sudah pasti
gagal lagi. Bagaimana bisa bertemu, kalau tidak di sekolah? Dia,
ah, cuma tukang ramal amatir!
Bagiku, tak lebih, dia hanya anak nakal, yang suka iseng
menggoda cewek. Huh! Jika itu baginya adalah modus untuk
mendekati diriku, dia harus tahu aku orangnya selektif.
Di

hari

minggu,

waktu

sedang

nyuci

sepatuku,

aku

mendengar bel rumah berbunyi, karena dipijit oleh tamu. Aku


teriak manggil si Bibi untuk meladeni tamu itu.
Kebetulan, hari itu, di rumah, hanya ada aku dan si Bibi.
Ayah, ibu dan adik bungsuku sedang pergi ke acara pernikahan
saudara. Si Bibi bergegas nemui tamu dan lalu balik kembali
menemuiku:
Tamu. Mau ke Lia||, kata si Bibi. Lia itu nama panggilanku
di rumah
Aku bersihkan tanganku dari busa dan langsung ke sana,
nemui tamu itu. Ya tuhan, aku kaget, ternyata tamunya adalah
dia: Sang Peramal. Aku senyum kepadanya yang tersenyum
kepadaku.
Berasa seperti sedang terjadi kontak batin, antara aku
dengannya, membahas ramalannya yang benar-benar terjadi.
Hei|| Kusapa dia.
Ada

undangan||,

dia

langsung

bilang

begitu,

seraya

menyodorkan sebuah amplop sambil masih berdiri di situ, di


depan pintu.
Undangan apa?||, kupandangi amplop itu.
Bacalah, tapi nanti ||
-Oke||
Bacalah, bahasa arabnya apa, Yan?|| Dia nanya ke si Piyan
yang datang bersamanya.

Apa ya? ||, Piyan balik nanya


Oh! Iqra||, dia jawab pertanyaannya sendiri: Iqra, Milea!
||, katanya lagi.
He he he|| Aku ketawa tapi sedikit. Entah mengapa, hanya
bisa sesekali saja kupandang matanya.
Aku langsung ya?||, dia permisi untuk pergi
Kok tahu rumahku? ||, kutanya
Aku juga akan tahu kapan ulangtahunmu||
- H e he||
Aku pergi dulu ya?||
-iyall

Assalamualaikum jangan?! ||
Assalamualaikum ||
Alaikumsalam||
- H e he he||
Aduh, Tuhan, siapa sih dia itu! Maksudku, selain seorang
Peramal, aku

ingin tahu siapa dia itu

sesungguhnya,

dan

mengapa tadi aku harus gugup di depannya?


Aku masuk kamar dan senyum sendiri terutama karena
memikirkan soal ramalannya yang benar.
Tapi

kenapa

dia tidak

membahasnya?

Membahas

soal

ramalan? Atau sengaja? Entahlah. Aku baca surat undangan


darinya sambil selonjoran di atas kasur.
Itu adalah surat undangan yang ditulis dengan mesin tik di
atas kertas HVS. Aku langsung bisa nebak, surat itu dia bikin
sendiri: Bismillahirahmannirahiim. Dengan Rahmat Allah Yang
Maha Pengasih dan Penyayang.

Dengan ini,

dengan penuh

perasaan, mengundang Milea Adnan untuk sekolah pada: Hari


senin, selasa, rabu, kamis, jumat dan sabtu ||. Semua nama harihari itu, disertai dengan tanggal.
Di dalam surat itu ada nama: Tuan Hamid Amidjaya. Itu
Kepala sekolahku, sebagai orang yang turut mengundang. Di
tiap sisi kertas, ada gambar hiasannya. Dibikin pake spidol.
Gambarnya bagus. Entah bikinan siapa.
Setelah

kubaca,

aku

tak

mengerti

mengapa

langsung

merasa tak ingin pergi dari atas kasurku, benar-benar seperti


orang yang sedang ditawan oleh rasa penasaran karena ingin
tahu siapa dia sebenarnya.
Sambil

tiduran,

aku

jadi

seperti

orang

yang

sedang

menerawang, memandang atap kamarku.


Ketika

ada

terbayang

wajahnya,

langsung

kupejamkan

mataku, agar dengan begitu aku bisa mengusirnya, karena aku


merasa itu gak perlu. Gak penting!
Ah, sial. Itu hampir membuat aku lupa untuk melanjutkan
tugas nyuci sepatu. Segera kusimpan surat itu, di dalam laci
meja belajar, sambil senyum-senyum sendirian, dan langsung
pergi ke kamar mandi, menemui sepatuku.
Kucuci

sepatu itu dengan pikiran yang penuh

dengan

dirinya, dan berusaha kulupakan dengan cara menyanyi. Tapi


susah, tetap saja kepikiran meskipun sesekali. Aduh, hai, siapa
sih dia itu?
Setahuku dia satu sekolah denganku, tapi tidak sekelas
denganku.

Cuma itu.

Itu saja. Tapi

aku tidak tahu siapa

namanya. Kenapa dia tidak memberitahu namanya di saat


pertama jumpa itu?
Haruskah aku yang nanya? Oh sori ya, gak mau!
Kudengar telepon rumah berdering. Aku senang, karena itu
dari Beni, pacarku di Jakarta. Dia satu sekolah denganku waktu
masih di Jakarta, dan sekarang kami menjalin pacaran jarak
jauh.
Beniku keren, kau harus tahu itu. Dia tampan, meskipun
tidak tampan-tampan amat, tapi cukup dan dia sangat baik.
Ayahnya seorang artis film terkenal, yang kadang-kadang suka
aku banggakan kepada ayah ibuku.
Beni sangat menyayangiku. Aku juga begitu kepadanya.
Meskipun sesekali suka bertengkar, tapi cuma masalah kecil,
dan selalu bisa diselesaikan dengan baik. Hampir setiap hari,
Beni selalu menelponku untuk melepas rasa rindu dan hal lain
sebagainya.

3. DIA ADALAH DILAN


Hari senin, di tengah-tengah barisan siswa yang ikut upacara,
aku berharap tidak ada satu pun orang tahu bahwa diam-diam
mataku mencari dirinya, meskipun aku sendiri tidak tahu untuk
apa juga kucari. Mungkin cuma ingin lihat saja. Tidak lebih dari
itu.
Sampai upacara sudah mau selesai, orang itu, Peramal itu,
tak berhasil kutemukan. Di mana dia?
Hatiku bertanya. Jangan-jangan tidak sekolah? Aku tidak
tahu. Ah, ngapain juga kupikirin!
Emang siapa dia?
Seorang guru,

dengan menggunakan

speaker, tiba-tiba,

memberi komando, agar seluruh siswa jangan dulu bubar dari


barisan. Kupandang ke depan karena ingin tahu ada soal apa
gerangan, oh saat itulah aku bisa melihat dirinya.
Dia di sana, di depan, menghadap ke arah kami, bersama
dua kawannya. Berdiri di sana karena dibawa oleh guru BP,
setelah berhasil ditemukan dari tempatnya sembunyi, untuk
menghindar ikut upacara bendera.
Dia dan dua orang temannnya disebut Komunis oleh guru
BP. Aku tidak mengerti apa sebabnya seseorang sampai disebut
komunis hanya gara-gara tidak ikut upacara. Entahlah.
Nun di sana, di tempatnya berdiri, aku yakin, dia sedang
menyadari bahwa ada seseorang di tengah barisan peserta
upacara, yang sedang memandangnya, yaitu diriku. Atau tidak?
Tapi

yang

memandangnya

pasti,
dari

sebagaimana
jauh,

dengan

yang

lain,

perasaan

aku
yang

sedang
sulit

kumengerti.
Dia lagi! ||, bisik Revi seperti ngomong sendiri. Dia teman
sekelas, yg berdiri di sampingku
Siapa dia? ||, kutanya Revi
-Dilan||
"Oh||
Dilan itu, adalah yang kemaren datang ke rumah, senyamsenyum depan pintu. Komunis itu, adalah yang pernah nyuruh
si Piyan ngirim surat ke aku. Anak nakal itu, adalah yang
kemaren sempat membuatku penasaran karena ingin tahu lebih
jauh tentang dirinya.

Mendadak, hari itu, aku bagai malu sendiri bahwa aku


pernah ada sangkut paut dengan dirinya.
Mendadak,

aku

bagai

menyesal

karena

sudah

merasa

terhibur oleh surat undangannya.


Sampai-sampai kalau misal ada orang yang nanya, apakah
Milea kenal Dilan? Aku yakin, aku akan langsung pura-pura
tidak tahu. Apakah Milea teman Dilan? Entah mengapa segera
akan langsung kujawab: Bukan. Aku hanya mengenal Beni,
pacarku!

Beniku baik dan tidak nakal, malahan guru-guru

banyak yang suka kepadanya walau entah karena apa.


Kata Rani, di kelas, setelah upacara, Dilan itu anak kelas 2
Fisika 1 dan anggota gengmotor yang terkenal di Bandung.
Jabatannya Panglima Tempur. Oh ya ya. Aku sering membaca
namanya ditulis di tembok-tembok pake pilox. Oh dia ternyata!
Aku betul-betul jadi takut. Dia pasti sangat nakal, dan juga
mungkin jahat. Meskipun aku yakin, dia tidak seperti yang
kuduga. Lagi pun kalau benar dia begitu, mengapa juga harus
takut, toh siapa pun dirinya, ayahku seorang tentara, yang akan
siap menembaknya jika harus.
Pokoknya, mulai besok, aku harus waspada seandainya dia
berusaha mendekati, meskipun tidak harus kasar kepadanya.
Dan tidak perlu terlalu menanggapi apa pun yang ia lakukan
padaku, jika

hal

itu

adalah

bagian

dari

usahanya

untuk

melakukan pendekatan.
Kalau dia ingin jadi pacarku, katakanlah begitu, aku yakin
dia akan minder setelah tahu siapa Beni. Dilan pasti akan
mundur daripada harus kecewa karena cinta yang tak sampai.
Bubar dari sekolah, cuaca mendung, aku pulang bersama
kawan-kawan. Ada Dilan yang menyusulku dengan motornya.
Aku langsung bisa yakin dia pasti akan mengajak aku pulang
bersamanya naik motor. Nyatanya tidak, padahal aku sudah
menyiapkan berbagai alasan untuk bisa menolaknya.
Kamu pulang naik angkot?||
Kujawab dengan anggukan. Entah mengapa, saat itu, aku
seperti gak enak dilihat kawan-kawan sedang didekati oleh dia,
si anak nakal.
- A k u ikut....||
Ikut

apa? ||,

tanyaku tanpa menoleh

kepadanya,

bagian sudut mataku berusaha melihat ke arahnya.

tapi

Naik angkot ||.


Gak usah||, jawabku sambil memandangnya sebentar
Kan angkot buat siapa aja||
Kamu kan naik motor? ||
Nanti motorku dibawa kawan ||
Eh? ||
Lalu dia pergi. Kutengok sebentar ke belakang, dia datang
lagi dengan sedikit berlari. Aku tak ingin tahu disimpan di mana
motornya. Itu bukan urusanku, termasuk kalau hilang.
Di angkot, dia duduk di sampingku. Aku benar-benar jadi
kikuk, dan juga mati gaya.
Ini hari pertama, aku duduk denganmu||
Tidak kurespon, karena memang gak perlu. Kuambil buku,
lalu

kubaca.

pikiranku

Mudah-mudahan bisa membantu

kepadanya.

Mudah-mudahan

mengalihkan

bisa

membantu

membuat dia mengerti untuk jangan mengganggu orang yang


sedang baca.
Tapi dia berbisik, suaranya kudengar pelan sekali menyebut
namaku:
Milea ||
Aku diam untuk tidak menanggapi.
Kamu cantik ||, katanya lagi dengan suara yang pelan
tanpa memandangku.
Heh? Aku kaget. Serius, hampir-hampir tak percaya dia
akan bicara begitu. Aku bingung harus gimana dan berusaha
memastikan bahwa kawan-kawanku di angkot, tidak mendengar
apa yang dia katakan. Aku merasa seperti malu.
Makasih||, akhirnya kujawab sambil tetap baca buku,
dengan intonasi yang datar, tanpa memandang dirinya. Dengan
suara yang pelan bagai berbisik, kudengar dia bicara:
Tapi, aku belum mencintaimu

Enggak tahu kalau sore||

Ih! Suaranya pelan, tapi rasanya seperti petir. Aku diam,


tidak mau merespon omongannya
Tunggu aja|| katanya lagi.
Betul-betul,

saat

itu,

rasanya

ingin

teriak,

tepat

di

kupingnya: Apa sih kamu ini?! Tapi tidak kulakukan. Aku


memilih diam dan bersikap berusaha tidak akrab dengannya.
Habis itu, dia juga diam.
Aku ramal, kamu akan segera tahu namaku ||.

Udah tahuuu! Gak usah diramal-ramal. Udah tahu! Tapi


kujawab:
-iyall
Ketika sudah sampai, aku turun dari angkot, dan langsung
kaget, karena dia juga turun. Aku nyaris merasa kuatir dia akan
mampir

ke

rumahku.

Jika

benar,

aku

akan

langsung

melarangnya.
Jangan sampai terjadi!
Syukurnya tidak. Dia pamit pergi, dan lalu nyebrang jalan,
untuk naik angkot lagi, menuju arah sekolah. Aku ramal, dia ke
sana pasti mau mengambil motornya.
Tadi, sebelum dia pergi, dia sempat bilang:
Kamu tahu, Milea, semua siswa itu sombong?||
Kenapa?||, tanyaku.
Siapa yang

mau

datang

ke

ruang

BP,

menemui

Pak

Suripto? Cuma aku, Milea! ||


-Ooh!||, aku senyum, tapi sedikit.
Ketika dia pergi, muncul perasaan bersalah sudah bersikap
judes kepadanya. Pastilah dia sedih.
Pastilah dia kesal. Dan besok, mungkin, dia kapok.
Sesampainya di rumah, si Bibi memberiku surat. Itu surat
yang terbungkus dalam amplop warna ungu. Oh, surat dari Beni!
Kubaca surat Beni sambil terus kepikiran soal Dilan yang
mungkin hari ini sudah kecewa dengan sikapku. Apa salahnya
dia, Milea? Mengapa hari ini kau begitu, padahal baru kemaren
engkau tersenyum kepadanya dan sedikit terhibur oleh surat
undangan yang dia berikan padamu?
Aku

simpan

surat

Beni,

surat

yang

penuh

kata-kata

mendayu berisi melulu soal cinta dan rindu itu. Heran, biasanya
aku senang, entah mengapa, hari itu, aku merasa seperti sedang
berubah di dalam menilainya: Ah, Beni kurang asik! Maksudku,
mungkin aku merasa bosan dengan dia yang terlalu monoton!
Si Bibi ngetuk pintu, manggil, untuk nyuruh aku makan. Aku
keluar dari kamar dengan isi kepala yang mulai dikacaukan oleh
pikiran tentang omongan Dilan di angkot tadi:
"Mileci,

kamu

cantik.

Tapi aku

belum

mencintaimu.

Enggak

tahu kalau sore. Tunggu aja".


Kata-kata aneh, yang sudah membuatku tersenyum dan
yang terus nempel di kepalaku sampai malam harinya.

Di

kamar, tiba-tiba ku ketawa, dan teriak dalam hati, seolah-olah


hal itu kutujukan padanya: Mau cinta mau enggak, dengar ya,
hai kau yang bernama Dilan: Terseraaaaaahhh! Itu urusanmu!
Emang gua pikirin!?
Setelah usai shalat isya, aku dapat telepon dari Beni. Dia
bicara lama sekali. Atau sebentar? Tapi entah mengapa aku
merasa itu sangat lama. Dan katanya, dia mau ke Bandung,
nanti, minggu depan.
Kamu senang? ||, Beni nanya apakah aku senang jika dia ke
Bandung menemuiku? Kujawab:
-iyall
Memang, harusnya aku senang, Beni. Oke, kalau begitu,
baiklah, aku akan berusaha untuk senang.
Itu hari selasa, ketika aku mendapat surat dari Dilan. Entah
bagaimana Dilan bisa nitip suratnya ke

Rani.

Isi suratnya

pendek:
"Pemberitahuan: Sejak sore kemaren, aku sudah
-

mencintaimu

Dilan!".
Aku seperti terkesiap membacanya.

Lalu dengan cepat,

langsung kututup surat itu.


Jadi malu sendiri rasanya, dan berharap Rani tidak sudah
membacanya. Kayaknya belum, karena surat itu dimasukkan ke
dalam amlop yang tertutup.
Aku hanya kuatir orang-orang akan tahu apa isinya. Lalu
dengan cepat kumasukkan ke dalam tas, seolah dengan itu bisa
kujejalkan sampai masuk sedalam mungkin.
Dia, menurutku, hari ini, harus bertanggungjawab, karena
sudah berhasil mengganggu kosentrasi belajarku.

4. WARUNG BI EEM
Di kantin, pada waktu istirahat, aku duduk satu meja dengan
Nandan, Dito, Jenar dan Rani.
Masing-masing makan batagor sambil bicara ini itu yang
gak perlu. Mereka semuanya teman sekelas, kecuali Jenar, dia
anak kelas 2 Sosial.
Dilan pasti di sana, bersama kawan-kawannya, di warung bi
Eem. Aku belum pernah makan di sana, selain cuma lewat setiap
pergi dan saat pulang sekolah.
Warung kecil, kira-kira 30 meter dari sekolah, di samping
gereja Pantekosta. Huh! Aku juga tahu, kenapa kamu milih ke
sana. Biar bisa merokok.
Aku mau cerita tentang yang lain yang bukan Dilan. Ini
tentang Nandan. Nandan Hadi Prayitno.
Kata Rani, Nandan naksir aku, tapi aku cuma senyum
mendengarnya, karena soal itu sudah lama aku tahu.
Aku bisa membaca bagaimana sikap dan perilaku Nandan
kepadaku. Bagiku, semuanya, termasuk suka nelepon malam
hari nanya-nanya soal

PR,

nraktir kami

makan

di kantin,

berusaha membuatku ketawa dengan aneka macam lawakan, itu


adalah modus, untuk mencari perhatianku.
Aku setuju, kalau ada yang bilang Nandan baik. Dan, kalau
aku boleh jujur, Nandan lebih tampan dari Dilan. Nandan juga
humoris, jago basket, dan lain-lain, pokoknya Nandan adalah
lelaki idaman tiap wanita.
Nandan juga masih jomblo,

masih belum punya pacar.

Pernah sih dekat dengan Pila, anak kelas 2 Sosial, tapi ga tahu
kenapa, belakangan hubungan mereka jadi renggang.
Sumpah, aku terkejut, pas kulihat ada Dilan. Dia datang ke
kantin bersama dua orang yang belum kutahu namanya. Entah
bagaimana perasaanku saat itu, sangat sulit kuungkapkan. Aku
hanya tahu aku menjadi salah tingkah.
Dia mendatangi meja kami, dan menyapaku:
Hei, Milea! ||
Hei, Dilan||
Cuma nyapa||
Lalu dia pergi bersama kedua temannya, entah kemana,
mungkin ke kelas, tapi sebelum pergi, dia bicara ke Nandan:

Eh, Dan, kamu tahu gak?||


- T a h u apa? ||
Aku mencintai Milea?||
He

he

he||.

Nandan

tersenyum

sambil

sekilas

memandangku. Rani, Dito dan Jenar, semuanya ketawa. Mukaku


pasti merah.
Tapi malu mau bilang||, kata Dilan lagi
Itu, sudah bilang? He he|| Nandan ketawa kecil
Aku kan bilang ke kamu, bukan ke dia||
Dia denger kan?||, tanya Nandan
Mudah-mudahan ||
Dilan pergi. Bisa kubaca mata Nandan, kayaknya dia merasa
keganggu oleh kata-kata Dilan.
Bisa jadi itu cuma tebakanku saja. Aku bukan ahli membaca
bahasa tubuh. Cuma aku yakin, Nandan tidak suka dengan
Dilan, sejak itu, sejak dia tahu Dilan menyukaiku. Mencintaiku.
Setelah istirahat selesai, kami masuk lagi ke kelas untuk
ikut pelajaran lainnya. Kamu tahu kemana Dilan? Dilan masuk
ke kelasku, dan duduk di bangku sebelahku, membuat Rani jadi
pindah ke kursi belakang yang memang kosong.
Heran, kenapa tidak seorang pun yang berusaha ngusir
Dilan? Nandan sebagai dirinya Ketua Murid, cuma bisa diam
saja. Sejujurnya, aku sendiri merasa risih dengan adanya Dilan.
Tapi mau gimana lagi.
Dilan minta kertas, aku kasih. Di kertas itu, dia nulis:
Informasi:
Daftar

orang-orang

yang

ingin jadi pacarmu:

1. Nandan (Kelas 2 Biologi)


2. Pak Aslan (Guru Olah Raga)
3. Toh r i (Kelas 3 Sosial)
4. Acil (Kelas 2 Fisika)
5. Dilan

(Manusia)

Aku senyum membacanya. Kemudian kulihat dia mencoret


semua nama di daftar itu, kecuali nama dirinya.
Kenapa? ||, kutanya
Semuanya akan gagal ||, dia bilang begitu dengan berbisik.
Kecuali kamu?||
Iya. Doain||
Kawan-kawanku sibuk dengan dirinya sendiri, seolah-olah

tidak merasa terganggu oleh adanya Dilan, meskipun aku yakin


mereka

pasti

gak

suka.

Kulihat

Nandan,

duduk

terus

di

bangkunya, seperti orang bingung yang gak suka ada Dilan, tapi
tidak tahu harus berbuat apa.
Pak Atam, guru pelajaran Bahasa Indonesia, sudah datang
masuk kelas, tapi Dilan tidak pergi.
Tetap duduk. Edan ini orang, pikirku! Dilan benar-benar
ikut pelajaran Pak Atam. Sambil berbisik, aku ngomong ke dia:
|| Nanti kamu dialpain di kelasmu||
Ga

apa-apa||, jawabnya,

seraya tetap

memandang ke

depan, menyimak pelajaran, sampai akhirnya Pak Atam tahu


ada seorang penyelundup:
Kenapa di sini?||. Pak Atam nanya. Kawan-kawan sekelas
memandang semua ke arah Dilan.
Muka mereka seperti puas karena akhirnya Pak Atam tahu
dan menegurnya.
Salah masuk, Pak! Maaf!!||, jawab Dilan sambil beranjak
dari duduknya dan pergi diiringi tatapan Pak Atam yang tidak
respek kepadanya.
Waktu bubar sekolah, Dilan nyusul dan bilang:
Aku mau datang ke rumahmu. Malam ini||.
H ah? Aku kaget.
Jangan! ||
Kenapa?||
Ayahku galak ||
Menggigit? ||
Serius ||
Aku tidak takut ayahmu||
Jangan! Pokoknya jangan ||
Aku mau datang ||, katanya, sambil berlalu.
Jangan ih!||, tanpa sadar aku bicara agak teriak. Aku jadi
merasa malu sambil kupandang ke banyak arah, berharap tak
ada orang yang denger.
Aku belum ngantuk, masih terus ingin nulis. Suamiku masih
juga belum pulang. Mick Jagger, bersama Rolling Stonesnya,
sudah habis. Giliran Bob Dylan yang nyanyi. Sampai mana
ceritanya?
Oh ya. Dilan datang! Benar-benar dia datang. Itu kira-kira
pada pukul tujuh malam. Awalnya kudengar suara motor, masuk

ke halaman rumahku. Aku yang sedang makan malam, langsung


bisa yakin, tidak salah lagi, itu pasti Dilan.
Aku lekas masuk kamar bersama piring makan malamku
dan bersama perasaan yang tidak karuan.
Biasanya ayahku jarang di rumah, sudah hampir tiga hari
ini dia cuti. Malam itu, dia sedang ada di ruang tengah, sibuk
membetulkan
mencatat

radio

urusan

CB-nya.

Ibuku

kegiatan

juga

semacam

di

sana,

Dharma

sedang
Wanita,

Bhayangkara atau apalah.


Jika bel

rumah berbunyi,

maka salah

satu

di

antara

merekalah yang akan membuka pintu.


Menyambut Dilan, kalau benar tamu itu adalah Dilan. Ya,
Tuhan, bisikku dalam hati. Kututup kepalaku dengan bantal
sambil tiduran di kasur.
Entah siapa yang buka pintu, aku gak tahu. Pasti ada dialog
di sana, tapi tidak bisa kudengar.
Aku ingin tahu, Aku merasa akan lebih baik jika tetap diam
di kamar. Tidak lama kemudian, terdengar lagi suara motor itu,
keluar dari halaman rumahku. Ya, jika itu Dilan, dia sudah pergi.
Dengan aneka macam pikiran yang memenuhi kepalaku,
aku

duduk di kursi belajarku,

meneruskan makan

malam

sampai habis dan lalu keluar dari kamar untuk menyimpan


piring makanku.
Selesai dari gosok gigi, pas aku mau kembali ke kamar,
telepon rumahku berdering. Aku lebih dekat ke tempat telepon,
sehingga aku yang ngangkat dan itu adalah telepon dari Dilan,
buatku, untuk yang pertama kalinya.
Tidak usah ditanya bagaimana Dilan tahu nomor telepon
rumahku. Kukira dia banyak akal.
Hallo?||, kusapa yang nelepon
Selamat malam ||
Malam ||
Bisa bicara dengan Milea?||
- I y a , saya||
- O h . Aku Dilan||
Hey ||. Mendadak jantungku langsung deg-degan.
Milea bisa bicara dengan aku?||
Iya bisa ||
Tadi aku datang||

-iyall

- K a u tahu?||
- T a h u ||
Kau tahu kenapa aku datang?||
Kenapa?||
Kalau aku gak datang, gara-gara kamu bilang ayahmu
galak, berarti aku pecundang ||
-iyall

Lebih baik aku datang. Kalau nanti dimarah, itu bagus,


kamu akan kasihan ke aku||
- H e he||.
Kasihan gak?||
- T a d i dimarah?||
-Enggak||
Syukurlah ||
Tadi, ayahmu bilang, kamu sudah tidur||
-Oh||
Kenapa sekarang bisa ngomong? Kamu ngigau?||
-iyall

Ha ha ha ha ha||. Dilan ketawa


Sebenarnya aku juga ingin ketawa, tapi pasti kutahan. Boroboro ketawa, bicaraku juga sebisa mungkin kubikin singkatsingkat. Entah mengapa, aku merasa ga enak, kuatir ayah dan
ibu dengar. Seolah saat itu aku merasa bahwa mereka akan
marah kalau tahu itu telepon dari Dilan, meskipun belum tentu
mereka akan begitu.
Selesai

nerima

telepon,

aku

langsung

ke

kamar

lagi.

Sebelumnya ayahku nanya, telepon dari siapa, aku jawab dari


Beni. Dan di kamar, selain kupakai untuk menyelesaikan tugas
PR,

sebagian

otakku

kugunakan

untuk

memikirkan

terakhir dengan Dilan di telepon:


Boleh aku meramal? ||, Dilan nanya
-iyall

- I y a apa?||
-Boleh||
Aku ramal, nanti kamu akan menjadi pacarku!||
- H e he he||
Percaya tidak? ||
Musyrik ||

dialog

Ha ha ha||
- H e he he||
Hey, Milea||
-iyall
Kau tahu kenapa aku tidak langsung jujur saja bilang ke
kamu bahwa aku mencintaimu? ||
-Enggak||
Padahal kalau mau, aku bisa. Itu gampang||
- T e r u s ? Kenapa? ||
Kalau langsung, gak seru. Terlalu biasa||
- H e he he||
Nanti kalau kamu mau tidur, percayalah aku sedang
mengucapkan selamat tidur, dari jauh.
Kamu ga akan denger||
- H e he he||
Di atas kasur, selagi mau tidur, aku dilanda kebimbangan,
haruskah terus terang, bilang ke Dilan, bahwa aku sudah punya
pacar? Iya, kayaknya harus. Biar sejak itu, Dilan akan berhenti
mengejarku.
Biar Dilan tidak akan lagi membuat kejutan-kejutan, yang
kalau aku harus jujur, sebetulnya aku juga suka. Seru! Tidak,
kayaknya tidak. Enggak usah aku bilang. Biarin saja. Aku
merasa, sejak ada Dilan di dalam hidupku, ah, susah kukatakan
dengan kata-kata.
Atau haruskah aku bilang ke Beni, bahwa ada orang di
Bandung,

satu

sekolah

denganku,

namanya

Dilan,

sedang

berusaha mendekatiku? Kayaknya jangan, aku tahu Beni, jika


kukatakan, justeru malah akan nambah masalah dari pada
berusaha menyelesaikannya. Aduh, Beni, aku yakin kamu tidak
akan bisa menolongku!
Lebih baik aku tidur. Di luar turun hujan. Kamu di mana
sekarang, Dilan?

Hati-hati kalau di jalan.

dengan bantal dan: Selamat tidur juga, Dilan ||

Kututup mataku

5. PAPAN PEMBATAS KELAS


Aku baru selesai dari kantin, bersama Nandan, Hadi dan Rani.
Tak ada Dilan. Dia jarang ke kantin. Aku sendiri juga heran,
kalau memang benar dia sedang mengejarku, kenapa tidak
pernah ke kantin menemuiku? Kenapa lebih memilih kumpul
bersama teman-temannya di warung bi Eem?
Kenapa tidak berusaha bisa duduk di kantin denganku.
Bicara denganku, setidaknya dengan itu, aku bisa tahu langsung
darimu, benarkah kamu suka nge-ganja seperti yang dikatakan
oleh Nandan dan Dito? Benarkah kamu suka minum-minuman
keras, seperti yang dikatakan oleh Nandan, Erfan dan Rani?
Benarkah kamu playboy, punya banyak pacar, seperti yang
dikatakan oleh Nandan?
Aku tidak bermaksud mau ikut campur urusanmu, Dilan.
Siapalah aku ini. Tetapi rasanya hampir setiap hari aku selalu
mendapat informasi yang buruk tentangmu. Aku ingin tidak
percaya.
Tetapi jika memang itu benar, ya sudah, aku jadi tahu siapa
dirimu dan bagaimana harusnya aku bersikap kepadamu, itu
pilihanku. Kamu bukan pacarku, apa urusanku memikirkan
dirimu, tapi aku tidak tahu, Dilan, mengapa aku ingin tahu.
Ah, Tuhan! Kenapa aku jadi begini?
Dari kantin, sebelum mau masuk ke kelas, aku berpapasan
dengan Dilan dan kawan-kawan. Pasti baru datang dari warung
bi Eem.
Milea! ||, dia manggil dan mendekat
- Y a ? ||
Boleh ga aku ikut pelajaran di kelasmu lagi||,
Kamu mau bikin aku senang? ||. Kupandang matanya,
hampir-hampir gak percaya bahwa aku bisa nanya seperti itu
kepadanya.
-iya?ll
Ikuti mauku ||
- A p a itu, Milea?||
Jangan! ||
Oh. Oke, kalau begitu ||
Dia pergi. Aku masuk kelas untuk mengikuti pelajaran
berikutnya. Itu adalah pelajaran Pendidikan Moral Pancasila,

nama gurunya Ibu Sri, aku masih ingat.


Bukan ibu Srinya yang kuingat, tapi kejadiannnya, yaitu
selagi Ibu Sri sedang menjelaskan materi pelajaran, papan
pembatas kelas itu tiba-tiba roboh, jatuh ke arah kami.
Ibu Sri lari sambil teriak: Allahuakbar!!||. Semua orang
juga lari, berusaha menghindar ke arah bangku di bagian paling
belakang.
Dari sana, bisa kami saksikan sendiri, bagaimana papan
pembatas kelas itu roboh bersama dua orang yang masih
menggantung di atasnya, seperti sedang menggulingkan papan
tulis.
Kedua orang itu adalah: Piyan dan Dilan! Sejak itu, kami
bisa melihat wajah-wajah siswa di kelas 2 Fisika 1 pada melongo
semua.
Bagaimana itu bisa terjadi? Aku dapat penjelasan langsung
dari Dilan setelah beberapa bulan kemudian. Katanya, waktu itu,
di kelas sedang tidak ada pelajaran, gurunya tidak datang
karena sakit. Dia dan Piyan, berusaha naik ke atas pembatas
kelas, untuk mencapai lubang pentilasi yang ada di tembok
bagian atas.
Ih! Ngapaiiiin?||, kutanya
Ngintip kamu ha ha ha ha||
Ha ha ha ha||
Resiko tinggi mencintaimu ||
Ha ha ha||
Tapi itulah yang terjadi. Mau gimana lagi. Wati, teman
sekelasku,

mungkin

jengkel.

Dia

hampiri

Dilan,

dan

melemparkan buku pelajaran ke arahnya, sambil ngomong:


"Maneh

wae,

Siali!".

Itu

bahasa

sunda,

kira-kira

artinya:

- E l u lagi! Elu lagi! ||


Dilan tak melawan. Aku langsung ingin tahu, siapa Wati
sebenarnya? Kenapa dia berani kepad Dilan? Dan Dilan diam
saja. Selidik punya selidik, ternyata ibunya Wati adalah adik
dari Ayahya Dilan. Ya, Tuhan, kenapa aku baru tahu?
Dilan dan Piyan, dibawa ke ruang guru! Anehnya aku tidak
cemas. Anehnya aku percaya, Dilan pasti bisa menghadapinya
dengan tenang.
Tapi sejak peristiwa itu, selama dua hari, aku tidak lihat
Dilan di sekolah dan juga di mana pun.

Mungkin dia sakit. Mungkin dia diskors. Aku tidak tahu.


Aku ingin tahu. Tapi bingung bagaimana caranya? Nanya ke
Nandan atau Rani, kuatir akan nyangkayang bukan-bukan.
Nvangka aku perhatian atau apalah, meskipun iya begitu,
tapi mereka jangan tahu.
Keinginanku bisa ke kantin berdua dengan Wati, akhirnya
kesampaian. Di kantin, ada Nandan, Rani dan Jenar ingin
gabung, makan satu meja dengan kami, tapi kubilang aku ada
urusan dengan Wati. Untung mereka ngerti.
Pasti kamu tahu, tujuanku ngobrol dengan Wati. Meskipun
malu, harus kuakui, bahwa dari Wati, aku ingin dapat informasi
lebih banyak tentang Dilan. Maksudku, ini menyangkut tentang
banyak informasi buruk yang kudapat tentang Dilan. Aku ingin
tahu semuanya, apakah semuanya itu benar?
Bukan

mau

ikut

campur.

Aku

mengerti,

hidup

Dilan

urusannya. Bagaimana pun dirinya, apalah urusanku dengan


itu. Aku bukan siapa-siapanya. Aku bukan pacarnya. Tapi,
pengetahuanku tentang Dilan, bagiku, bisa sangat membantu
untuk bagaimana harusnya aku bersikap kepadanya.
Atau,

entahlah,

aku

sendiri

tidak

mengerti,

apa

sesungguhnya yang membuat aku jadi begitu.


Jadi seperti detektif yang ngorek-ngorek informasi orang
lain. Tapi, cobalah kamu jadi aku, aku yakin kamu juga akan
melakukan hal yang sama.
Aku duduk berdua dengan Wati, agak di dekat jendela. Aku
harus hati-hati, jangan sampai Wati tahu tujuanku. Setelah
ngobrol tentang hal lain yang gak penting, aku mulai berusaha
mengarahkan pembicaraan supaya membahas pada pokok yang
kumaui:
Eh, ngomong-ngomong, kemarin, waktu si Dilan jatuh,
kamu lempar dia pake buku, kok kamu berani sih? ||
Oli? Ha ha ha. Berani lah! Habisnya kesel. Dia itu nakal
tahu? Di rumahnya juga begitu! ||
Kamu saudaraan ya?||
Iya, ibuku kan adik ayahnya ||
Oh, pantes! Enggak. Kaget aja, pas lihat kamu berani
mukul dia ha ha ha||
Habisnya kesel. Nakal dia itu||
Nakal gimana?||

Ah, banyak! Pernah tuh, waktu malam minggu, kapan ya,


pokoknya dia motong ayam ibuku, diambil di kandang gak
bilang-bilang ||
- O h ya? ||
Disate tahu gak?!

Dimakan sama temen-temennya di

belakang rumah dia!||


Ha ha ha. Mabuka-mabukan ya?||
Enggaklah!||
Tahunya enggak? ||
Tahu aja||
Ngambil ayam ibu kamu? Kok berani? ||
Pas ditegur ibuku, dia bilangnya salah ngambil, gelap, gak
kelihatan ||
Ha ha ha||
Padahal, kamu tahu gak? Ayahnya itu galak. Tentara||
- O h ya?! ||
-iyall
Kecabangan apa?||
Gak tahu tuh. Gak ngerti||
Si Dilan pasti pacarnya banyak tuh!||
Ah, siapa? Kayaknya ga punya pacar dia mah? Terlalu
cuek ke cewek! ||
Mungkin masih lebih suka main sama kawan-kawannya||
Iya kali ||
Emang belum punya pacar? ||
Enggak tahu tuh. Eh, kok jadi ngomongin si Dilan sih?!||
Iya ha ha ha. Wat, aku pengen main dong ke rumahmu? ||
Boleh aja. Kapan?||
Nanti deh, aku bilang dulu ke nyokap||
H ayu ||
Yes! Yes! Yes! Aku mauu, Wati. Nanti kita ngobrol yaaaaa!!!

6. DILAN MENGHILANG
Dilan kulihat sekolah lagi. Tapi sejak itu, selama tiga hari, tidak ada gerakan apa-apa dari
Dilan

yang

bersangkut

paut

dengan

diriku.

Bahkan

sampai

sehari

menjelang

ulangtahunku, Dilan kayaknya bersikap biasa saja.


Aku sempat berfikir, jangan-jangan

Dilan

malu

oleh kejadian

robohnya papan

pembatas kelas.
Atau, mungkin dia sudah tidak mau lagi denganku. Atau apa? Aku gak tahu! Aku gak
tahu!
T e r m a s u k aku gak tahu kenapa hal itu membuat aku jadi sedih!
Meskipun tidak kurayakan ulangtahunku. tapi banyak k a w a n - k a w a n yang pada
ngasih kado. termasuk Nandan. Dia ngasih boneka panda yang cukup besar. Boneka itu
dibungkus dalam plastik, dengan ujungnya y a n g diikat pita merah. Nandan ngasih kado
itu di kelas, pada waktu istirahat:
S e l a m a t ulangtahun, Milea. Panjang umur ya. Kadonya boneka, biar apa coba?||
- B i a r apa?|| Aku senyum.
- B i a r kalau tidur, kamu bisa memeluknya||.
-Ih||, aku s e n y u m lagi
Mungkin dia bercanda, atau mungkin juga serius,

tapi y a n g pasti,

mendengar

Nandan bilang begitu, kawan-kawanku yang saat itu ada di kelas, pada teriak:
||Asik euy!!!||.
- S u i t - s u i t ! ! ||
A p a siiih. Biasa aja! Cuma kado Panda, kalau ada uangnya, semua orang bisa beli.
Meluk boneka, mau bentuknya panda mau monyet, bagaimana bisa kurasakan seolah
aku sama sedang memeluk orang yang memberinya? Mungkin ada yang bisa begitu, tapi
aku tidak, kecuali boneka itu bikinan sendiri.
Dan Beni, sengaja datang ke Bandung, demi untuk m e r a y a k a n ulangtahunku. Dia ke
rumah pada pukul dua belas malam, bersama e m p a t orang temannya, Adhit, Bram, Lilo
dan Ical. Beni m e m b e r i k u seikat rangkaian bunga y a n g indah. W a r n a w a r n i dan harum
baunya.
Itu bunga kasih sayang katanya, sambil m e n g e c u p keningku. Dia j u g a m e m b a w a kue
ulang tahun, yang kami nikmati di ruang tamu. setelah sebelumnya ada perang colekcolekan krim kue yang seru. Beni pulang ke Jakarta, satu j a m kemudian.
Dilan? Pada harinya, dia tidak m e m b e r i k u ucapan ulangtahun. Aku sempat curiga,
jangan-jangan Dilan gak tahu ulang tahunku. Mana? Katanya kamu akan segera tahu hari
ulangtahunku?
Kamu tahu tidak. Dilan? Aku s e m p e t yakin, kamu akan menelponku tepat pada pukul
00:00, menjadi orang awal y a n g mengucapkan selamat ulangtahun untukku. Nyatanya
tidak. Aku bingung, apakah aku harus kecewa atau tidak?
Jika

aku

kecewa,

emang

siapa

diriku

bagimu?

Kalau

tidak

kecewa,

menunggu ucapanmu, Dilan. Aku tidur dalam gelombang perasaan yang kosong.

tapi

aku

7. TEKA TEKI SILANG


Hari itu. aku sedang belajar Biologi, pelajaran praktek m n g g a m b a r anatomi kodok dibagi
ke dalam beberapa kelompok, tiba-tiba terdengar pintu kelas ada y a n g ngetuk. Aku
terkejut ketika tahu orang itu adalah Dilan.
Untunglah gurunya Pak Rahmat, dan Dilan j u g a kayaknya tahu, Pak Rahmat baik.
sehingga barangkali itulah maka dia j a d i berani. Atau, itu cuma kebetulan. Kukira, dia
pasti akan berani meski siapa pun gurunya.
- P e r m i s i . Pak?||
-Iya?||, j a w a b pak Rahmat yang sedang duduk di kursi guru.
- M a a f . Ada titipan penting buat Milea||
- O h . Iya. Silakan||
Dilan masuk, mendatangiku, dilihatin oleh hampir semua orang y a n g ada di kelas.
Bungkusan yang dibawanya, entah apa itu. dia berikan kepadaku sambil menjabat
tanganku:
S e l a m a t Ulangtahun, Milea||.
- M a k a s i h , Dilan||, aku senyum. Aku m e m a n d a n g matanya sebagaimana ia juga
kepadaku!
Habis itu, dia pergi seraya pamit kepada Pak Rahmat. Heran, aku merasa tidak malu.
Heran, aku justeru malah bangga. Terimakasih, Pak Rahmat yang baik, guruku yang tua
dan pendiam. Aku tidak ingin bilang bagaimana sikap Nandan saat itu, kau tebaklah
sendiri.
Jika hari itu ada y a n g bilang bahwa hatiku berbunga-bunga, aku langsung akan
setuju. Aku senang, hari itu, ah, entah bagaimana kukatakan, pokoknya itu adalah hari
pertamaku m e m e g a n g tangan Dilan! Atau. hari itu adalah hari pertama Dilan m e m e g a n g
tanganku!
Jangan diganggu. Aku lagi di kamar, sendirian, membuka kado Dilan. T a k sabar
rasanya ingin tahu apa isinya. Bungkus kadonya dipenuhi oleh gambar y a n g dibikin
dengan menggunakan spidol warna-warni, entah siapa y a n g bikin. Mungkin dia. Mungkin
nyuruh kawannya yang j a g o gambar.
Pelan-pelan kusobek ujung dari pembungkus kado itu. Dan. mari kuberitahu apa
isinya: Satu buah TTS!!! Sama, aku j u g a terkejut. Kenapa T T S ? Kubuka-buka, barangkali
T T S itu cuma hal lain dari inti kado yang sesungguhnya.
T T S nya udah diisi semua. Sudah dijawab semua, entah benar atau tidak. Belum
sempat kuperiksa, sudah kudapati di tengahnya ada selembar kertas putih. Ukuran A4
dengan tulisan tangan Dilan yang bagus:
SELAMAT
INI

ULANG

HADIAH

TAHUN.

UNTUKMU.

MILEA.

CUMA TTS.

TAPI SUDAH

KUISI SEMUA.

AKU SAYANG

KAMU

AKU TIDAK MAU KAMU PUSING


KARENA
DILAN!

HARUS

MENGISINYA.

8. DILAN MENJAUH
Hari-hari berikutnya, ada yang lain dari Dilan. Aku merasa Dilan berubah. Seperti
menjauh. Bahkan sudah masuk kategori boleh kuanggap sombong.
Tak

ada

lagi

hal

yang

ia

lakukan

untukku,

sebagaimana

selalu

kudapatkan

sebelumnya. Dia tidak pernah ke kantin, sehingga kalau di sekolah, hanya sesekali saja
aku bisa melihatnya, dan itu pun dari jauh.
Aku tidak tahu. mengapa dia j a d i gitu? Aku tidak merasa perlu bertanya kepada Wati,
karena Wati pasti akan m e n j a w a b tidak tahu. Itu urusan Dilan.
Pada k e s e m p a t a n b e r t e m u Piyan, kuberanikan diriku minta waktunya Piyan untuk
ngobrol denganku. Boleh, katanya.
- T a p i j a n g a n sampai Dilan tau|
- K e n a p a memang?||. Piyan senyum
- N a n t i deh aku cerita||
-Sip!||
Akhirnya aku bisa ngobrol dengan Piyan, pada waktu istirahat, di tempat tukang
p h o t o copy y a n g ada di luar sekolah. Aku ceritakan semuanya, dari mulai awal aku
b e r t e m u Dilan, sampai tentang banyak hal yang sudah ia lakukan untuk mendekati||ku.
Piyan ketawa. Sama. aku j u g a ketawa.
- T a h u gak, Mamaku ketawa, pas aku ceritain soal dia ngasih T T S buat hadiah
ulangtahunku||. kataku kepada Piyan.
- S i GeIo!||
Ha ha ha ha. Dia pernah ngasih coklat ke aku. Tahu siapa y a n g nganterinnya?||
-Siapa?||
- T u k a n g koran ha ha ha! Yang suka datang ke rumah nganterin majalah langganan||
- H a haha||
- Y a n g nerimanya si Bibi!!||
- H a h ? Ha ha ha terus?||
- P a s dia tau tukang koran itu ngasih coklat buat aku. Si Bibi pastilah nanya dari
siapa?||
- A p a kata tukang koran? ||
- D a r i Dilan. penjaga Milea ha ha ha!||
- Anjritl Ha ha ha||
- A d a lagi! Ada lagi!||
Apa? ||
- K a n dia nelpon

||

-Ya?||
- Y a n g nerima si Bibi||
- T e r u s ? ||
- D i a malah ngobrol, sama si BibL.coba! Bukannya langsung bilang mau bicara sama
aku ||
- S k a n d a l ! Ha ha ha. Ngobrol apa?||
- K a t a si Bibi sih. dia ngaku t e m a n aku, dan tukang ramal. Ngaku bisa tahu angka
berapa judi

Porkas besok keluar||. ( P o r k a s itu s e m a c a m judi yang dilegalkan

oleh

pemerintahan zaman Orde Baru. Konon, untuk m e m b a n t u kegiatan olah raga di tanah
air. Sekarang sudah tak a d a )
- H a ha ha berapa katanya?||
- A h , paling juga dijawab ngawur. Terus, dia bilang, sampaikan ke Lia, kalau sholat
harus m e n g h a d a p kiblat||
Ha ha ha ha||
- A d a lagi! Ada lagi!||
- B a n y a k amat!||

- B a n y a k , Piyaaaan!||
Terus kenapa sekarang Dilan berubah. Piyan? Kenapa dia jadi sombong, Piyan? Si
Piyan bilang tidak tahu. Tapi kemudian dia cerita bahwa, Dilan sering cerita soal aku. Ah,
aku senang pas dia n g o m o n g bagian y a n g ini.
- N a h , soal dia berubah, apa ya? Dia pernah bilang sih: Jangan diganggu Milea. Dia
sudah pacaran sama Nandan?||
Hah? Apa? ||
Iya. Dia bilang gitu. Menurutku sih kayaknya gara-gara itu deh. Bisa j a d i ||
- K o k ? Enggak ih!! Kok dia bisa bilang begitu?||
- E n g g a k tahu. Dilan bilang ke aku sama si Ajun, katanya, sudah jangan diganggu||
- I i i h h , Enggak, Piyan ih! Bilangin ke dia!||
- B i l a n g gimana?||
Aku enggak pacaran sama Nandaan!!||
- Y a . udah, nanti aku bilang!||
- H a r u s , Piyan! Jangan lupa sampaiin. T o l o n g ya, Piyan!||
Aku tahu sekarang. Pantesan Dilan jadi gitu! Aku enggak pacaran sama Nandan,
Dilan! Emang siapa sih yang bilang, sampai kamu bisa n g o m o n g begitu? Pokoknya Piyan
harus m e n y a m p a i k a n kepadanya bahwa aku tidak pacaran sama Nandan! Titik! Harus!
Wajib!
Sejak itu, mulai besoknya, aku sudah tidak pernah ke kantin lagi bareng-bareng
dengan Nandan.
Setiap hari. selalu kuusahakan punya alasan untuk menolak ajakan Nandan pergi ke
kantin.
Sampai-sampai kalau pas istirahat aku lebih sering memilih untuk diam di kelas.
Jengkelnya kalau Nandan sudah ikut-ikutan diam di kelas, aku jadi pura-pura pergi
ke toilet atau kemana lah y a n g penting terhindar dari gosip bahwa aku pacaran sama
Nandan. Ya, Nandan pasti ngerasa aku berubah. Ya, aku juga kasihan ke dia. Tapi biarin!
Asal Jangan Dilan y a n g berubah ke aku!
Bagaimana dengan Beni? Ya, aku pacaran dengan dia. Tapi. aku mau ke dia karena
dulu belum tahu bahwa di dunia ini ada Dilan! Mengerti kaaan? Selama cuma pacaran.
kukira, aku masih punya hak untuk memilih, sampai bisa kudapati orang y a n g pantas
kunikahi! Coba j a d i aku deh, biar bisa kau maklumi.

9. CERDAS CERMAT
Hari itu adalah hari sabtu, belajar di kelas ditiadakan, karena ada acara seleksi pemilihan
siswa terbaik, yang akan mewakili sekolah menjadi peserta Cerdas Cermat di TVRI. Acara
itu di selenggarakan di aula sekolah.
Pesertanya diambil dari tiap kelas, sebanyak tiga orang, yaitu mereka yang tercatat
sebagai siswa yang selalu mendapat rangking 1, 2 dan 3. Diambil dari kelas Sosial, Biologi
dan Fisika. Di kelasku y a n g terpilih adalah Gatot, Enjang dan Warti. Mau tahu tidak, siapa
siswa yang ditunjuk dari kelas 2 Fisika 1? Dia adalah: Dilaaaaaaaann!! Yeeeeee!!! dan dua
orang lagi yang aku sudah lupa namanya. Masing-masing dicampur menjadi beberapa
group.
Ketika acara itu dimulai, aku nonton sedikit agak di depan, ah kau taulah kenapa.
Aku bisa puas melihat Dilan dari agak sedikit dekat, meskipun, aku GR sedikit ya. aku
takut kalau Dilan tau ada aku, nanti akan m e m b u a t n y a grogi. N y a t a n y a tidak, kulihat dia
biasa saja.
Itu acara yang seru. Satu sesi menampilkan 3 group. Group A, B dan C. Ketika giliran
g r o u p n y a Dilan, aku langsung degdegan! Serius! Sangat berharap g r o u p n y a Dilan akan
m e n a n g dan terpilih! Tapi pas selesai babak satu, babak dua dan tiga, hasil perhitungan
nilai menunjukkan groupnya Dilan dapat posisi kedua. Aku sedikit kecewa.
Aku berharap, groupnya Dilan bisa mengejar ketinggalan pada sesi pertanyaan
rebutan. Itu adalah sesi di mana Sang Penanya akan m e m b e r i k a n pertanyaan kepada
siapa saja, dan yang bisa lebih dulu m e m i j i t bel, akan m e n d a p a t k e s e m p a t a n untuk
m e n j a w a b . Resikonya adalah, jika j a w a b a n n y a itu salah, maka akan dikurangi nilainya.
Dari j a u h aku bisa lihat Dilan nampak terlihat tenang. Iya, bagus, Dilan, harus gitu!
Jadikan ini hari terbaikmu! T e t a p semangat. Doaku selalu menyertaimu. Begitulah aku
hari itu. Repot dengan diriku sendiri. Lebih repot dari mereka y a n g lebih pantas untuk
repot. Biariiiiiin!
Sesi pertanyaan rebutan dimulai. Sang Penanya mengajukan pertanyaan:Siapa
menteri A g a m a Kabinet Pembangunan V?||. Aku senang, pas tahu Dilan berhasil mijit bel
lebih dulu. Yes! Dilan pasti tahu!
Tapi apa j a w a b a n Dilan waktu itu?: Mahatma Gandhi!||. Aku langsung kecewa!
Bukan ih!!
Munawir Sadjali, Dilaaaaaann!! Aku langsung curiga, dia pasti sengaja! Pasti!!!
Semua orang ketawa bahkan ada yang sampai terkekeh-kekeh. T e n t u saja. karena
p e n o n t o n juga tahu, Mahatma Gandhi itu bukan Menteri Agama, tapi seorang Penggerak
K e m e r d e k a a n India!
Kalau aku pernah sangat j e n g k e l ke Dilan. maka itulah harinya! Tapi, asli. ini adalah
kenangan lainnya dari dia yang tidak bisa kulupakan.
Tidak cuma itu! Waktu ada pertanyaan: || Jelaskan latar belakang pergeseran
kekuasaan y a n g m e m b e n t u k undang-undang dari Presiden menjadi kewenangan DPR?||.
Tahu apa j a w a b a n Dilan? Setelah dia berhasil bisa mijit bel lebih awal? Dia m e n j a w a b
dengan tenang:||Tidak tahu. Pak!||.
Semua orang ketawa. Aku tidak! Serius, aku tidak! Aku j u s t e r u j e n g k e l ke dia. Ya,
udah, Dilan. kalau m e m a n g tidak tahu, jangan dijawab ih! Jadi aja nilaimu terus dikurangi
dan akhirnya g r o u p kamu kalah! Gak j a d i deh masuk teve. Aku pandang dia dari jauh,
tapi itu adalah pandangan yang gemas!
Tapi biar bagaimana pun, itu adalah harinya, di mana dan kapan pun, setiap aku
mengingatnya, aku akan langsung tersenyum.

Iya. Kenapa gitu?||


Salam buat dia!||
Pengen ya ke Dilan?||
Menurutmu?||
- S u k a y a? ||
- T a n y a aja dia||
Nanti deh aku tanyain||
- T a n y a l a h ||
- E h Milea, boleh ga, aku pinjem j a k e t m u ? Biar kalau kupake j a d i kerasa dipeluk
kamu ||
- N o r a k tahu!||
- T a p i kamu suka kan?||
Alhamdulilah enggak ||
Obrolan yang sangat m e m b o s a n k a n ! Cowok macam apa pengen m a k e j a k e t cewek!
Katanya gengster, tapi obsesinya malah pengen jadi waria.

11. PERISTIWA JAKARTA


Siswa yang terpilih untuk mewakili sekolahku menjadi peserta cerdas c e r m a t di TVRI
adalah Gatot. Haikal dan Ayu. Tapi siswa lain j u g a boleh ikut untuk menjadi suporter.
Syaratnya harus bayar ongkos untuk biaya m e n y e w a bis ke Jakarta.
Aku ikut dan senang karena bisa datang ke Jakarta, setidaknya dengan itu bisa
sekalian dimanfaatkan untuk aku bernostalgia. Tapi aku kecewa, karena Dilan tidak ikut!
Karena tahu Dilan gak ikut (Aku dapat info dari Piyan), malamnya kutelepon Beni.
Sebetulnya,

aku tidak sama sekali berharap ketemu

Beni. Aku cuma takut,

kalau

kemudian Beni tahu bahwa aku ke Jakarta dan tidak bilang, pasti dia akan marah.
Di telepon, Beni bilang dia senang. Dia memastikan akan datang ke stasiun televisi
t e m p a t di mana kami akan melangsungkan pertarungan. Tapi pas selesai acara ( T i m
kami kalah), Beni belum kunjung datang juga. Sampai-sampai aku mengira, mungkin
Beni ada acara, sehingga dia tidak bisa datang.
Sudah dicoba kutelepon ke rumahnya, dengan menggunakan telepon umum, tapi
y a n g nerima ibunya, katanya dia di rumah pamannya.
Setelah usai acara, sebelum pulang ke Bandung, rencananya kami akan mampir dulu
ke Monas.
Jalan-jalan. T a p i sebelumnya, siswa disarankan untuk mencari makan dulu. yaitu di
sekitar kawasan kantor stasiun televisi. Jangan jauh-jauh.
Nandan ngajak aku makan, awalnya aku gak mau, tapi karena Novi ikut juga. aku j a d i
mau. Pas lagi makan. N o v i izin, bilang mau ke toilet. Dia pergi, meninggalkan aku berdua
dengan Nandan.
Pada saat itulah Beni datang.
Dia berdua dengan Saribin, kawan sekelasnya, kawanku juga. Dia langsung duduk di
depanku, karena aku duduk bersampingan dengan Nandan.
- T a h u dari mana aku di sini?||, kutanya Beni
T e m e n m u ngasih tau. Emang kenapa kalau tahu?||, Beni balik nanya
- G a apa-apa. Nanya aja. Kirain ga akan datang||, jawabku.
- S u k a kalau gue ga datang?||, Beni nanya dengan tatapan y a n g bisa dianggap
mengerikan Aku diam. Percumalah kujawab. M a t a n y a sudah nyala oleh api cemburu. Dia
pasti marah! Aku tahu siapa dia. Harusnya hal sepele m a c e m ini gak usah terjadi,
seandainya dia bukan orang cemburuan.
Dengan perasaan gak karuan, aku kenalkan Nandan kepadanya. Beni menyikapinya
dengan mata kebencian. Dia m e m a n d a n g kami menggunakan w a j a h permusuhan. Aku
jadi gak enak ke Nandan.
Beni nanya:
- C u m a berdua?||
Banyakan. Tadi, disuruh...||, sebelum j a w a b a n k u selesai. Beni m e m o t o n g :
Disuruh apa? Disuruh berpasang-pasangan?)
- B e n i ! Apa sih?!||, kataku sedikit teriak karena kesal
- T e r u s elu, siapa, lagi?!||. Beni menunjukkan j a r i n y a hampir deket ke w a j a h Nandan.
Nandan kulihat dia nampaknya ketakutan. Aku langsung merasa kasihan ke dia.
Beni!||, aku berdiri.
Beni berdiri juga seraya membentakku: Diam kamu!||. Terus dia m e m a n d a n g ke
Nandan sambil bicara dengan nada menantang:
- L u pacarnya!?||
Bukan, Mas||. Nandan m e n j a w a b g e m e t a r
-Terus

ngapain

lu

berdua?! ||.

Beni

membentak

Nandan.

Saribin

berusaha

melerainya.
- T e m a n aja. mas. Makan||. kata Nandan
Tiba-tiba Beni nyoba nampar Nandan. Nandan mengelak, justeru malah m e m b u a t
1 of 2

Beni makin j a d i emosi. Dia merangsek dan lalu berusaha memukul Nandan. Saribin
berusaha mencegahnya.
Aku teriak untuk bisa menghentikannya.
Saribin berusaha kuat bisa m e m e g a n g Beni y a n g terus memaki Nandan. Di saat
bersamaan N o v i datang dan langsung merasa bingung dengan apa y a n g terjadi:
- P e r g i , lu!||, Beni m e m b e n t a k Nandan.
Nandan pergi bersama Novi yang masih kebingungan. Aku j u g a ikut pergi, sambil
bilang ke Beni:
- K i t a putus!)
- D a s a r pelacur!|| Beni memakiku.
Itu kata y a n g bisa kudengar dari banyak kata-kata buruk lainnya yang Beni ucapkan.
Setelah selesai b a y a r makan, aku jalan bergegas sambil nangis dan langsung masuk ke
bis yang sudah dipenuhi oleh kawan-kawanku.
Dalam

hati

yang

kacau,

aku

mendengar

Nandan

sedang

menjelaskan

duduk

persoalannya kepada semua orang y a n g ada bersamanya. Sebetulnya aku berharap dia
tidak cerita. Tapi sudahlah.
Aku nangis di bis ditemani Sarah, ibu Sri. Wati dan Rani. Mereka berusaha untuk
membuatku tenang. Wati di sampingku, dia nanya ada apa? Tangisanku sedikit menjadi
ketika m e m e l u k n y a .
M e m e l u k Wati, bagiku, saat itu, rasanya seperti sedang memeluk Dilan. Serius.
Mungkin karena aku berpikir bahwa pada tubuh Wati ada darah daging yang sama
dengan Dilan. Kau tahu lah: W a t i adalah saudaranya.
-Kenapa?||. W a t i nanya sedikit berbisik dan mengelus punggungku
Watiii...||,
Iya, kenapa?||
Dilan....||
Dilan?||
- K e n a p a Dilan gak ikut

?||

Aku nangis dengan perasaan tak karuan, sambil terus meluk Wati. Wati pasti
bingung kenapa kasus ini bisa bersangkut paut dengan Dilan?
Makian Beni sangat menyakitkan hatiku. Tak kusangka dia akan bilang begitu. Tak
kuduga bahwa hari ini akan ada. Sambil kuseka air mataku, terkenang kalimat Dilan di
telepon, beberapa waktu yang lalu:
- J a n g a n pernah bilang ke aku ada yang menyakitimu. Milea||
- H e h e he. Kenapa?||
Nanti, besoknya, orang itu akan hilang!
"

II

12. AKU SAKIT


Aku sakit. Katanya kecapean. Capek apa ya? Enggak tahu lah, dokter bilangnya begitu.
Jangan berdebat, nanti jadi malah tambah sakit. Udah, percaya aja. Aku disuruh istirahat.
Selama tiga hari. aku gak masuk sekolah.
Di hari kedua aku sakit, beberapa kawan sekelas datang menjenguk. Nandan j u g a
ikut. Aku temui mereka di ruang tamu. Iya, aku masih bisa jalan, sakitku tidak parahparah amat. Satu-satu dari m e r e k a menyalamiku dan mengucapkan doa kesembuhan.
Mereka

bawa

buah-buahan.

Nandan

diam

terus,

cuma

bilang

cepat

sembuh.

Kayaknya ada banyak y a n g ingin dia omongin, terutama ngebahas peristiwa di Jakarta,
hanya waktunya aja yang belum tepat, mengingat akunya j u g a lagi sakit.
Aku cluduk di situ, di bagian ujung kiri sofa panjang, dan Rani duduk di sampingku.
Galih duduk di samping Rani, di ujung kiri sofa. Nandan duduk di kursi lainnya. T a t a n g
berbagi

duduk

dengan

Revi

di

kursi

yang

beda.

Sebagian

lainnya

pada

di

luar,

bercengkrama, sambil m e n y e m a n g a t i kawannya y a n g ngambilin j a m b u batu.


Orang yang datang, semuanya dari kelas 2 Biologi 3. Kalau j a m a n dulu sudah ada
handphone, pasti aku sudah akan SMS Dilan. Ingin tahu di mana dia. M u d a h - m u d a h a n
sehat selalu. Maaf, Dilan, terserah, kau mau bilang apa, tapi aku rindu.
Wati mana?||, kutanya Rani
Itu di luar||
Wat!||, aku berusaha manggil Wati
Wat, dipanggil!|| T a t a n g teriak. Wati datang
Ya?||
Sini||
Sini Wat||. Rani manggil. sambil b e r g e s e r untuk membagi tempat duduk dengan
Wati. Wati duduk secukupnya di antara Rani dan Galih.
- A d a apa? ||, tanya Wati
- E n g g a k . Di sini aja, Wat||, jawabku.
- I t u , anak-anak lagi pada ngambilin jambu||, kata Wati
- H e he ga apa-apa. Kamu mau?||
Udah ||
- K a l a u mau lagi ambil aja||
Si Bibi datang, bawa minuman dan kue. Suasana ruang tengah cukup rame. Ngobrol
sana-sini,

seperti

kebanyakan anak r e m a j a di dunia.

Mereka j u g a m e m b a h a s soal

kesiapan menghadapi PORSENI. Pekan olah raga dan seni y a n g akan diselenggarakan di
sekolah.
T e l e p o n rumah berdering, y a n g ngangkat si Bibi. Kata si Bibi. itu telepon dari Beni.
- B i l a n g lagi tidur aja. Bi||
-Iya|| j a w a b si Bibi sambil pergi.
Aku yakin, selama tidak sekolah, sebagian kawan ada y a n g ngebahas peristiwa di
Jakarta. Entah dari sudut pandang apa m e r e k a beropini. Beredar dari mulut ke mulut,
bagai

apa

yang

membakar

jerami

kering.

Aku

pasrah.

Bahkan

aku

tidak

mau

membahasnya ketika mereka pada datang ke rumahku.


Berita itu mungkin sudah sampai j u g a ke Dilan. Aku gak tahu. Aku belum bertemu
Dilan sejak pulang dari Jakarta. Kalau m e m a n g benar sampai, sejak itu Dilan tahu bahwa
ternyata diam-diam aku sudah punya pacar. Aku pasrah, terserah dia mau bersikap apa
kepadaku setelah semua itu.
T e l e p o n berdering lagi. y a n g angkat si Bibi lagi. Dari Dilan katanya. Oh!
-Bentar||, kataku sambil mau beranjak dari dudukku dan lalu ke sana untuk nerima
telpon dari Dilan. Entah mengapa, rasanya, tangan ini rada sedikit gemetar.
Halo?||
- K a m u sakit?||. tanya dia. tanpa ba bi bu langsung nanya begitu

- E h ? Sedikit. Sudah mau pulih. Kamu di mana?||


Kenapa? ||
- K e n a p a apa?||
- S a k i t kenapa?||
- S a k i t biasa. Kata dokter kecapean||
- Y a , aku harusnya k e m a r e n ikut ke Jakarta||
-Kenapa?||
- A k u tidak tahu. merasa harus aja|!
- K e n a p a harus?||
- M a k a n berdua denganmu di Jakarta mengganti Nandan||
- H e he he he. Kan di Bandung j u g a bisa||
- H e he Iya. Nanti. Milea||
- K a m u di mana?||
- T a p i aku nyesal kemaren tidak ikut ke Jakarta||
- Y a sudah. Gak usah disesali. Kamu di mana?||
- D i planet bumi|
- I h ! Serius di mana?||
- D i ? Bentar aku mau nanya orang. Aku tutup dulu ya teleponnya. Nanti kutelepon
lagi||
- E h ? Ha ha ha. Masa' gak tahu?||
- B e n t a r , bentar. Jangan pergi dulu dari situ||. Klik. Dia menutup teleponnya. Aku
tunggu sambil s e n y u m - s e n y u m sendiri. Tak lama telpon pun berdering. Kuangkat.
- H a l o ? ||
- D i Sekelimus||, katanya. Sekelimus adalah nama daerah di kawasan Buahbatu
- H a ha ha ha Kamu beneran nanya?||
-iyall
- H a ha ha ha. Sini, Dilan. Ada Wati||
- N g a p a i n dia di situ?||
- S a m a y a n g lain, pada nengok aku katanya?||
- O h ? Kamu masih sakit?||
- S u d a h mendingan. Sini. Dilan||
Iya. Iya. Aku ke sana||
-Serius?||
Serius enggak ya? Bentar aku tanya orang. Aku tutup dulu ya teleponnya?||
- G a k usah heh!!!||
- H a ha ha ha ha ha||
- U d a h , pokoknya aku tunggu||
Iya. Aku ke sana sekarang||
Waaah, Dilan mau datang. Senangnyaaaaa!!
Habis nerima telepon Dilan, aku ke kamar. Aku tak ingin bilang ke kawan-kawan
bahwa Dilan akan datang. Biar kalau mereka lihat aku ganti baju. ya karena m e m a n g
ingin ganti baju aja. Biar. kalau mereka lihat aku nampak segar, ya k a r e n a ingin cuci
muka aja.
Aku kembali ke sana. m e n e m u i kawan-kawan di ruang tamu: Menunggu Dilan! Entah
bagaimana rasanya, aku ingin jadi penyair untuk bisa bagus mengatakannya.
Setelah agak lama menunggu, aku m e n d e n g a r ada dialog di luar:
Ada, di dalam, masuk aja||, kata Didin, t e m a n sekelasku.
Tapi itu bukan Dilan. Itu ibu-ibu yang sudah tua. Mungkin usianya sudah 60-an. Dia
masuk dan bilang mau ketemu dengan Milea.
- A d a apa, Bi Asih?||. tanya Wati. Rupanya dia kenal.
- E h N e n g Wati||, Bi Asih m e n y a p a Wati
Iya, Mak? A d a apa?||, tanyaku.

- S a y a disuruh ke sini. Katanya ada yang mau dipijit?||


Mijit?|| aku nanya seolah pada diri sendiri.
Mijit siapa?||, tanya Wati.
- S i a p a namanya? Mila, Milea...., kata Bi Asih
Disuruh siapa, Mak?||, tanya Nandan. K a w a n - k a w a n di luar, sebagian pada masuk
ingin tahu ada apa.
- A d e Dilan. T a d i nganterin ke sini||, j a w a b Bi Asih
"Tuh da si eta wae. Pieraeun'.", ujar Wati, y a n g artinya Kaaan dia lagi. Bikin malu
aja||
- M a n a si Dilannya?||, tanya Wati
- K a t a n y a , tadi mau ada perlu dulu. Katanya sebentar. Nanti ke sini lagi katanya||
- H a ha ha ha ha||, aku ketawa, entah mengapa aku ketawa, Ya udah, sini, Mak!
Duduk sini.
Tang, biar si emak duduk di situ||.
T a t a n g berdiri, Revi juga:||Di sini, Mak||
- K o k Dilan bisa ketemu e m a k di mana?||, tanyaku.
- I n i mah Bi Asih. Tetanggaku, suka mijit||, kata Wati
- T a d i . Dilan datang ke rumah. N e n e k kan suka m i j i t ibunya Dilan. Neng||, Bi Asih
menjelaskan.
- O o o h gitu. He he he||, Aku senyum, Ya udah. Sini. Mak. Di sini mijitnya. Ran, geser.
Ran||, kataku lagi. Aduh. Dilan!
Dengan masih tetap duduk menyandar, sebelah kakiku kulonjorkan di kursi. Bi Asih
memijitnya.
Aku bilang ke dia jangan keras-keras. Asal aja. Asal pijit aja. Aku tidak pernah dipijit.
Maksudku, itu cuma sekedar untuk menghargai bantuan Dilan. Aku s e n y u m - s e n y u m
gakjelas.
Dilan mana? Belum datang juga.
Kawan-kawan jadi pada ngobro soal Dilan. Cerita tentang Dilan y a n g belum pernah
kudengar, karena terjadi sebelum aku pindah ke Bandung. Aku senang mendengarnya.
Sangat senang.
Serius. Bahkan rasanya aku siap jika harus membahasnya sampai malam.
Sedangkan Nandan, kulihat, seperti tidak tertarik untuk ikut membahasnya. Dia asik
bicara dengan Galih, entah soal apa.
Mereka cerita, dulu di sekolah pernah heboh oleh adanya tulisan di sepanjang jalan
menuju sekolah. Tulisannya: Hamid Loves Dilan ||. ditulis dengan kapur.
- H a m i d itu siapa? ||, kutanya
Hamid! Hamid Kepala sekolah!)
- O h ? Ha ha ha ha. T e r u s apa kata guru?||, kutanya lagi
- G a k tau, katanya dipanggil Pak Suripto ya?||
-lya||
"Pasti si eta sorangan lah nu nulisna". kata Wati. (Pasti dia sendiri lah y a n g nulisnya)
Si Bi Asih kulihat dia senyum j u g a m e n d e n g a r obrolan itu.
- B i Asih kenal Dilan?||. kutanya dia.
- K e n a l , Neng. Kan suka nganterin Emak kalau sudah mijit ibunya||
- N a i k motor?||, tanyaku. Kawan-kawan bersikap seperti orang yang ingin m e n y i m a k
kisah Bi Asih
Iya, Neng, naik motor. Ke rumah. Emak pernah dianterin, gak tahunya mampir ke
warung dulu||
-Ngapain?||. tanyaku
- I t u . diajak ngopi. Ada t e m e n - t e m e n n y a di situ||
- E m a k ikut ngopi di situ?||

i y a II

- D a si eta mah...ha ha ha ha|| W a t i k e b u r u k e t a w a s e b e l u m m e n e r u s k a n k a l i m a t n y a .


A k u j u g a k e t a w a . y a n g lain j u g a . ( A r t i n y a : T u h kan dia i t u )
N g a p a i n aja Emak di situ?||. t a n y a Revi
- D u d u k aja?|| t a n y a k u
Itu, disuruh cerita p a c a r a n Emak sama s u a m i Emak w a k t u muda||, j a w a b Bi A s i h
- D i d e n g e r i n sama a n a k - a n a k y a n g di situ?||, t a n y a k u
-iyall
- K a p a n itu. Bi Asih?||, t a n y a W a t i
- K a p a n ya, udah lama||
A k u ingin m e r e k a gak pada pulang. A t a u j a n g a n pulang sekalian. Aku ingin m e r e k a
t e r u s di sini b e r s a m a k u cerita t e n t a n g Dilan.
- K a t a n y a p e r n a h d i m a r a h Bu Juang ya?||, kata si Rani. Bu Juang adalah wali kelas 2
Fisika 1.
- K e n a p a ? ||. t a n y a k u
- K a n w a k t u si T e g u h g a k sekolah. Si Dilan bikin surat b u a t guru. Surat izin gitu. T a p i
kata t e m e n , tulisannya, kalau g a k salah: H a r i ini T e g u h t i d a k bisa m a s u k s e k o l a h k a r e n a
lupa||. Si T e g u h itu a n a k n y a Bu Juang.
Iya gitu? ||. t a n y a Revi
Iya. Kan Bu J u a n g n y a m a r a h ||
- K a y a k cari p e r h a t i a n gitu||, t i m p a l N a n d a n
- B u k a n cari p e r h a t i a n . Dia m a h e m a n g gitu. di r u m a h juga||, kata W a t i .
- G i t u gimana?||. t a n y a k u
- K a k e k n y a , kan k a k e k aku j u g a , masa c o b a d i t a n g a n n y a d i g a m b a r i n j a m tangan?||
- H a ha ha||
- P a k e s p i d o l ! Si Kakek nya lagi. mau aja!||
- H a ha ha ha k a y a k anak kecil?||. t a n y a k u
Iya Ha ha ha. Teu sopan pisan!" kata W a t i (Gak s o p a n )
- J a d i p a d a n g o m o n g i n Dilan gini||, kata N a n d a n
- B i a r i n ih. Rame||, kataku
- D o s a lho. Ini m a u ke s e k o l a h lagi atau pada mau l a n g s u n g pulang?||, t a n y a N a n d a n
kemudian.
- A k u m a h l a n g s u n g pulang a j a kayaknya||, kata Revi
- A k u juga||. kata W a t i
- H a y u atuh||, kata N a n d a n
Bersamaan dengan

itu, di

luar t e r d e n g a r suara m o t o r y a n g m a s u k ke h a l a m a n

rumahku. Ya betul, itu Dilan! Datang dia m e n e m b u s g e r i m i s .


Dia m e n y a p a o r a n g - o r a n g y a n g ada di luar, d a n l a n g s u n g masuk ke dalam.
- R a m e gini!||, k a t a n y a .
- T u h De Dilan ||, kata Bi A s i h
- B u k a sepatunya!||. kata W a t i s e p e r t i m e n g h a r d i k
"Oh||
- G a a p a - a p a . P a k e aja||, kataku
S e m u a o r a n g s e n y a m - s e n y u m . M e r e k a s e n y u m pasti b e r k a i t a n d e n g a n Dilan y a n g
sudah n y u r u h t u k a n g pijit d a t a n g ke r u m a h . K u t u r u n k a n kakiku, y a n g s e d a n g d i p i j i t Bi
Asih.
T e r i m a k a s i h udah ngirim Bi Asih||, kataku sambil s e n y u m ke dia.
- S a m a - s a m a . G i m a n a ? Udah m e n d i n g a n ? ! , t a n y a Dilan
-iyall
- U d a h d i p i j i t n y a , Nek?||, tanya Dilan ke Bi Asih. Dia m a n g g i l n y a N e n e k .
- U d a h . Tadi. Baru sebentar||
- K a m u teh apa sih, n y u r u h - n y u r u h Bi Asih d a t a n g ke sini?||, T a n y a W a t i ( T e h = i n i )
- H e h e kan kalau aku y a n g mijit. pasti g a k boleh||

-Kami

sudah

pada m a u

pulang.

Lan||,

kata

N a n d a n sambil

mulai

berdiri

dari

duduknya.
- E h . kenapa?||, t a n y a Dilan
- U d a h dari t a d i ||, j a w a b T a t a n g y a n g s a m a b e r d i r i dari d u d u k n y a .
- Y a udah kalau gitu. A k u mau n e m e n i n Lia dulu. Pada naik apa?||
Angkot||, j a w a b T a t a n g
Hayu atuh, kata N a n d a n ( k a l a u g i t u )
- K a m i pulang dulu y a ! Lan. pulang dulu ya||. kata Rani sambil dia b e r d i r i
Iya, Ran||, j a w a b Dilan
Makasih, s e m u a n y a , sudah p a d a nengok||, kataku s a m b i l mulai b e r d i r i . Kulihat
N a n d a n s e p e r t i o r a n g m u r u n g atau apalah istilahnya. Kalau aku b o l e h s h u u d z o n : N a n d a n
m u n g k i n c e m b u r u , s e b a b dia tahu, nanti h a n y a akan ada aku, Dilan dan Bi Asih ketika
s e m u a pada pergi. Dia pikir, a w a l n y a , kalau m e r e k a pada pergi. Dilan j u g a a k a n sama ikut
pergi.
W a t i m e n d e k a t ke Dilan d a n bicara pelan sambil m e n a d a h k a n t a n g a n n y a : "Lan. ta
duit!".
A r t i n y a : Lan. m i n t a duit||
- B u a t apa?||
- O n g k o s he he||
Kulihat Dilan ngasih.
Makacih||
Setelah itu. W a t i dan y a n g l a i n n y a pada pergi.
- M a s i h g e r i m i s padahal||, kataku b e r d i r i di s a m p i n g Dilan
- G a a p a - a p a , kecil kok||, j a w a b Revi.
Aku b e r m a k s u d mau n g a n t a r m e r e k a . T a p i t a n g a n Dilan b e r g e r a k menghalangi:||Gak
usah. Lia.
Gerimis||
- G a apa-apa||
-Mau

bikin

aku

senang?||,

tanya

Dilan.

suaranya

pelaaaaan

sekali

sambil

memandangku.
-Apah?||, t a n y a k u k u p a n d a n g lagi m a t a n y a d e n g a n suara y a n g s a m a b e r b i s i k
- U d a h . d u d u k aja||
-iyall
Entah, a p a k a h d i a l o g k u d e n g a n Dilan k e d e n g e r o l e h m e r e k a atau tidak. Aku gak tahu.
Aku k e m b a l i duduk di sofa, m e l i h a t k a w a n - k a w a n k u pada sibuk m a k e sepatu:
|| M a k a s i h ya!||, kataku s e d i k i t b e r s e r u .
Iya. C e p a t s e m b u h ya||
Makasih||
Assalamualaikum!!! ||
Alaikumsalam||
M e r e k a p a d a pergi, d i a n t a r Dilan s a m p a i s e j a u h pintu pagar. G e r i m i s n y a t i d a k besar,
c u m a b e r u p a s e p e r t i a r s i r a n kecil. Aku bisa m e l i h a t n y a dari sini. dari d a l a m ruang tamu.
Juga bisa lihat Dilan y a n g n a m p a k n g o b r o l d e n g a n A g u s dan W a t i , e n t a h soal apa.
y a n g pasti kulihat W a t i m e m o n y o n g k a n m u l u t n y a k e Dilan s e b e l u m dia b e r g e r a k pergi.
Dan Dilan k e t a w a .
Bi! ||. kupanggil si Bibi
-Ya?||
M i n t a handuk! ||
Handuk?||
- I y a . H a n d u k Lia. Bi!||
Si Bibi ngasih h a n d u k dan bilang mau k e l u a r dulu, ke w a r u n g , ada y a n g h a r u s dibeli.
K e m u d i a n Dilan masuk.

Ini||. aku kasihin handukku. Dia ambil. Dia selendangkan di lehernya. Ih! Itu mah
tukang becak. Dilan! T e r u s aku duduk di samping Bi Asih:
- N e k , cerita tentang kejelekan Dilan. dong||. Aku j u g a jadi manggil Nenek.
- E n g g a k boleh ngejelekin orang||, kata Bi Asih
- H e he he||, Dilan ketawa
- Y a n g bagusnya aja. kalau begitu||. kataku
- Y a n g itu. Nek, y a n g waktu nenek m i j i t ibu. terus kuganti, y a n g mijitnya jadi aku. Ibu
gak tahu.
Telungkup sih||, kata Dilan
- H a ha ha||, aku ketawa
- K a n , terus Ibu kamu tahu!||, kata Bi Asih
- Y a n g bagusnya apa ya? Ini..., Nek. y a n g nenek masuk sumur, terus aku tolong||, kata
Dilan
-Kapan?||, Bi Asih n a n y a sambil mengernyitkan dahinya
- H a ha ha||, aku tidak bisa nahan ketawa. Ini apaan? Kisah heroik maksudnya?
- N e n e k pingsan sih, jadi aja gak tahu||, kata Dilan, sambil kupandang matanya yang
m e m a n d a n g Bi Asih.
- G a pernah masuk sumur N e n e k mah||, kata Bi Asih
- H a ha ha||, aku ketawa
- S i N e n e k ini usia s e b e n e r n y a masih 26 tahun. Lia||. kata Dilan kepadaku
65! ||, timpal Bi Asih
Keliatannya aja||, kata Dilan
- E n g g a k . Usia N e n e k e m a n g 65!||, sergah Bi Asih
- 2 6 , Neneeeeeeeek!!!||, kata Dilan
- H a ha ha j a d i debat gini||, kataku sambil lebih mendekat ke Bi Asih
- B e n t a r . Lia, biar. soal ini saya y a n g urus. Kamu kan lagi sakit||, kata Dilan kepadaku
- U r u s apaan!!?||, tanyaku
- M a s a l a h usia ini||, j a w a b Dilan
- H a ha ha! Aku sih percaya sama Nenek, ya, Nek?||, sambil kucondongkan badanku
untuk meluk bahu Bi Asih, seraya m e m a n d a n g Dilan
Iya||. j a w a b Bi Asih sambil sama m e n c o n d o n g k a n badannya ke arahku, seolah-olah
itu sengaja biar bisa bebas kupeluk. Seolah-olah dengan itu, dia sedang menggabungkan
dirinya untuk m e m b u a t kekuatan: melawan

Dilan. Aku s e n y u m m e m a n d a n g Dilan,

w a j a h n y a seperti orang yang mikir harus ngomong apa lagi.


- N e n e k , kenapa coba, N e n e k suka sama Pak Andar?||, Dilan nanya
- P a k A n d a r mana?||, Bi Asih balik nanya. Kulihat ada kernyitan di dahinya
- P a k Andar, itu suaminya Bu Irma||.
- E n g g a k . N e n e k mah!||, j a w a b Bi Asih
- B e r a r t i gosip||, kata Dilan
- H a ha ha ha||
Tiba-tiba kudengar telepon berdering. Aku angkat. Ya tuhan, itu dari Beni. Beni
bilang dia sudah di Bandung. Mau ke rumah. Hah?! Aku asli kaget. Katanya mau ngebahas
soal hubungan dia denganku. Penting!
Tadinya mau kularang dengan alasan yang bisa kucari. T a p i aku merasa tidak perlu
berdebat di telepon. Ini tidak baik. Kuatir Dilan mendengar. Gak enak. Aku hanya bilang
iya saja. Silakan!
Masalah kedua adalah, aku tidak mau, pas nanti Beni datang, dia mendapati ada
Dilan di rumahku. Mungkin Beni tak akan lagi melabraknya. Tapi aku merasa ini tak akan
bagus.
Aku bingung. Demi Tuhan aku bingung. Haruskah aku nyuruh Dilan untuk pulang?
Entah bagaimana caranya? Aku takut dia akan merasa diusir. Kamu pasti tahu, aku
sangat suka bahwa ada Dilan di rumahku, apalagi sedang seru. tapi ini bukan waktu yang
6 of 7

tepat.
Akhirnya aku bilang ke Dilan bahwa, kepalaku sakit, aku merasa perlu tidur. T a p i
kalau Dilan mau duduk-duduk, silakan aja. Dilan menjawab:||
Iya! Kamu harus tidur. Biar kami pulang saja||. Aku sedih m e n d e n g a r kalimatnya.
Aku merasa bersalah. Maaf. Dilan. Demi Tuhan, padahal aku sudah sangat senang ada
kamu. Bahkan sudah lama kurindukan hari yang seperti ini. Kupandang matanya.
- K a m u pergi sekarang. Dilan?||. Seperti berat rasanya membiarkan dia pergi
Iya. Kamu tidur. Istirahat. Biar lekas sembuh, lincah kembali||
Iya||. Berat sekali saat kubilang iya||
- N e n e k yang bawa motor?||, Dilan nanya ke Bi Asih sambil m e n y o d o r k a n kunci
motor
- G a k bisa||
- Y a . udah. N e n e k y a n g dorong||
- M o g o k gitu?||
Pura-pura m o g o k aja. Nek||
- P u r a - p u u u u r a ? Biar apa?||
- B i a r N e n e k capek||
Aku ingin ketawa. Sangat ingin ketawa apalagi melihat muka Bi Asih yang polos. Tapi
y a n g keluar cuma - H e he he|| karena kehalang oleh pikiran kalut soal Beni mau datang
ke rumahku.
Beni. kenapa kau Datang??????? Iiiiiiiiiihhhhh!!! Aku kesal!!!!!!!!!!!
Dilan pamit bersama Nenek. Gerimis sudah reda. Aku salaman dengan mencium
tangan Dilan. entah mengapa, itu refleks!
- H e h . Nek, Lia cium tangan||. kata Dilan ke Bi Asih
- K a y a k ke suami aja||, j a w a b Bi Asih. Amiiin, Bi Asih!
Sebenarnya aku ingin ngomong gini ke Dilan:
- D i l a n , Aku ingin bicara banyak denganmu! Kapan ada waktu? T o l o n g aku. Dilan! Ini
serius||
T a p i tidak kukatakan, sampai Dilan pergi bersama Bi Asih yang disuruh Dilan untuk
m e m e l u k tubuh Dilan.
- S e k a r a n g Nenek dulu. Nanti kamu!||, Dilan bilang gitu sebelum tadi pergi, sambil
menatap mataku.
- H e he he. Itu ramalan?|| tanyaku, sambil kulihat tangan Bi Asih melepas tangannya
dari memeluk Dilan
- I t u tawaran||. j a w a b

Dilan sambil meraih

lagi

tangan

Bi Asih

untuk kembali

memeluknya
- I n s y a Allah|| jawabku.
- M a l a m ini. kalau mau tidur, j a n g a n ingat aku ya Lia!||, katanya
Iya he he||
Hati-hati, Dilan. Bi Asih!! Dan, Maaft Juga doakan, persoalanku dengan Beni bisa
kutangani dengan baik, sampai aku bebas dari dia. Terimakasih, tadi rame, Dilan.

13. BENI DAN MAS ATO


Boni benar-benar datang. Dia ditemani pamannya. Mas Ato. Aku kenal, dia seorang
pengacara.
Mas A t o suka ikut kalau aku diajak oleh keluarga Beni makan di restauran.
Beni nampak bersikap baik. Bersikap seolah dia benar-benar menyesal dengan apa
y a n g dilakukannya di Jakarta t e m p o hari. Beni sengaja bawa M a s Ato, kepadanya, dia
ingin m e n d a p a t bantuan agar hubungan aku dengan Beni baik kembali.
Mas A t o bilang, bahwa peristiwa di Jakarta adalah soal biasa. Sangat lumrah di dalam
hubungan pacaran. Romantika di dalam asmara. Beni j u g a cuma manusia, dia bisa khilaf.
Mungkin Beni lagi kalut. Atau mungkin karena Beni merasa bahwa Milea itu adalah
segalanya. Sangat istimewa. Sehingga wajarlah kalau Beni w a s - w a s akan diambil orang
lain. Apalagi Beni masih muda. darah mudanya, tahu lah. masih bergelora
Mas A t o bilang, bahwa dia bukan bermaksud mau membela Beni. Dia akui Beni salah,
Beni j u g a sudah ngaku salah ke Mas Ato. Ya. semua manusia pasti pernah salah. Mas A t o
sama

Beni sengaja datang ke

Milea,

berharap

Milea mau m a a f i n

Beni. Akur lagi.

Berhubungan lagi seperti sebelumnya dan tidak akan mengulangi lagi dengan apa yang
sudah terjadi. Apalagi Milea kan sudah kenal dengan keluarga besar Beni. Mudahmudahan ini menjadi pendidikan untuk j a d i lebih dewasa.
Selagi Mas A t o bicara, kulihat Beni diam terus. Seolah semuanya sudah diatur oleh
Mas A t o dia harus bagaimana. Lalu kataku pada Mas Ato:
- M a s Ato||
- Y a . Lia?||
Terimakasih sudah datang):
- S a m a - s a m a . Makasih sudah mau nerima kami||
Tiba-tiba telpon berdering. Aku izin ke m e r e k a untuk ngangkat telepon, barangkali
itu dari Ibu y a n g lagi pergi sama adik ke rumah dinas ayahku. T e r n y a t a itu telpon dari
Dilan
- H e y ! Kok kamu yang ngangkat?||, tanya Dilan
- E m a n g kenapa?||
- K a n Lia harus tidur?||
- T a d i ke dapur, sebentar. Ada apa?||
- B o l e h bicara sama si Bibi?||
- M a u apa?||
Kupikir yang akan ngangkat si Bibi||
- M a u apa ke si Bibi?||
- H e he he mau nitip. Jagain kamu he he he||
- H e h e he. Makasih||
- K a l a u ada apa-apa, panggil aku||
- B i a r apa?||
- P a s t i gak akan kedenger||
- H e h e hejauh||
- B u k a n ||
Apa? ||
- E h iya bener, jauh. Stop j a n g a n lama-lama bicara. Kamu harus tidur||
Iya. Makasih. Si Bibinya masih ke warung||
Iya, ga apa-apa||
Setelah selesai nelepon, aku kembali ke mereka.
- B a g a i m a n a menurut. Lia?||, tanya Mas A t o
- B o l e h aku pikirin semalam?||
- U n t u k ? ||
- I n i bukan masalah sepele, Mas Ato||

- S a y a mengerti ||
- B e s o k nanti ku telepon kamu||. kataku pada Beni
- K e n a p a harus dipikirin?||. tanya Beni
Iya, Beni. Biar Lia mikir dulu||, timpal Mas A t o
- A t a u gue telepon besok?||, tanya Beni
- B i a r gue aja yang nelepon||, j a w a b k u
- Y a , mudah-mudahan. Semuanya akan b e r e s dengan baik-baik. Lia bisa mengerti
dan Beni bisa introspeksi||
Setelah semuanya. M e r e k a pamit pulang, bertepatan dengan si Bibi datang. Si Bibi
bersaling sapa dengan Beni. M e r e k a m e m a n g saling kenal. Setelah mereka pulang, aku
masuk ke kamar.
Tiduran dengan pikiran y a n g tidak karuan. Aku ingin punya nomor telepon rumah
Dilan!
Mungkin nanti akan kutanya ke Wati.

14. PENDAPATKU TENTANG BENI


Adikku sedang main piano. Aku duduk di samping ibuku yang sedang nulis. lalu kubilang
ke dia:
- B u . tadi ada Dilan lho. Main ke rumah he he||
Dilan??||, dia menoleh ke aku
- I t u ih. y a n g ngasih kado Ultah TTS||
- O h ya? ||
Iya he he||
Ngasih T T S lagi? He he||. tanya dia sambil terus nulis
- N g a s i h tukang pijit ha ha ha ha||
- H a h ? Maksudnya?||, dia berhenti dari nulisnya
- B a w a tukang pijit, Ibuuu ha ha ha||
Buat apaaaa?||
- B u a t aku!||
Dikasihin? Gimana? Gak ngerti||
Iya. Dia tadi bawa tukang pijit, coba. Aku j a d i dipijit. Udah itu dia pulang||
- H a h ? Ha ha ada-ada aja||
- I y a . Baik||
Jacli penasaran, pengen ketemu, kayak apa sih dia?||
Kalau ibu masih muda, suka gak sama orang kayak Dilan?||
Mungkin ||
- K o k mungkin?||
- Y a , kalau ternyata dia suka marah-marah, cemburuan, jahat, mana ibu akan suka||
Aku j a d i langsung inget Beni. Ah, lupakan! Aku gak mau ambil pusing. Aku ingin mikir
y a n g s e n e n g - s e n e n g dan tidur. Ya. oke, besok siang kutelpon Beni. Hanya ada satu kata
dariku: Putus!. T e r s e r a h dia mau bilang apa. T e r s e r a h dia mau gimana habis itu. Itu
keputusanku. Aku siap menghadapi resikonya.
Mas Ato. kejadian m a c e m kemaren di Jakarta, bukan sekali dua kali. Sering. Mas Ato.
Selama ini aku mungkin bisa menahannya, tetapi y a n g kemaren. entah mengapa susah
rasanya bisa kumaafkan. Lelaki macam apa. tega marahi pacarnya di muka umum!
Mungkin aku tidak berharga bagi orang lain. Mas Ato. sehingga w a j a r jika m e r e k a
tidak menghargaiku. tapi jika Beni pun bersikap sama begitu kepadaku, buat apa dia j a d i
pacarku! Aku ingin sama dia, Mas Ato, mungkin s e l a m a n y a jika perlu, tetapi ada syarat,
akunya harus menjadi manequine.
Oke. aku sayang dia, Mas Ato. Tapi apakah dia begitu kepadaku? Jika dia bilang iya,
buktikan

dengan

sikap

dan

perilaku!

Kukira,

jika

dia

mencintai

diriku,

tetapi

sesungguhnya dia mencintai dirinya sendiri, yang ingin merasa bahagia karena bisa
mendapatkan diriku.
Di Bandung, aku bertemu dengan seseorang. Mas Ato. Perlukah kubilang kepadamu
siapa dirinya? Bahkan ibuku nyaris tak percaya bahwa ada orang m a c a m dia di dunia. Dia
tidak hebat. Mas Ato. tidak, malah mungkin biasa saja. Tapi bisa membuatku senang
hanya dengan hal sederhana.
Memahami sikap orang itu kepadaku, aku selalu seperti mendapatkan rasa aman.
bahkan di saat ketika dirinya jauh! Sampai-sampai, dalam hatiku, Mas Ato, ketika aku
pergi dan pulang sekolah, selalu seperti sedang bicara, a y o siapa yang mau ganggu aku.
silakan sekarang juga. kalau kamu berani sama dia!
Aku bukan mau bilang orang itu jagoan. Mas Ato. tapi sebagai wanita aku merasa
dilindungi!
Kau tahu. Mas Ato, dia pernah bilang apa ke aku? - L i a . kalau kamu merasa tidak
kuperhatikan.

Maaf.

akunya

mengganggumu, kuhajar dia!

sibuk

merhatiin

lingkunganmu,

barangkali

ada

orang

Aku bukan mau bilang dia hebat, M a s Ato, tapi dia bisa selalu membuatku ketawa.
Ya, aku pernah kecewa padanya, ya, aku pernah, Mas Ato, tahu kenapa? Karena aku tidak
bisa b e r t e m u denganya!!!!!!!! Maaf jika terlalu berlebihan tentang dirinya, harap maklum.
Mas Ato. mungkin karena aku suka kepadanya
Ah. sudahlah. Aku mau tidur. Ngapain j u g a kupikirin lama-lama soal Beni, toh mulai
besok semuanya akan berakhir. Kuambil selimut untuk menutupi tubuhku.

Di luar

sedang hujan.
Kupejamkan mataku dan langsung kuingat perintah Dilan. sore tadi: - M a l a m ini.
kalau mau tidur, j a n g a n

ingat aku ya

perintahmu!
- S e l a m a t tidur juga, Dilan ||

Lia!||. Tapi.

maaf,

Dilan jika tidak kuikuti

15. PUTUS DENGAN BENI


H a r i itu aku m a s i h tidak sekolah, k a r e n a surat i z i n n y a berlaku s a m p a i s e l a m a tiga hari.
Aku m e n d a p a t t e l e p o n dari Dilan. k i r a - k i r a s a a t d i s e k o l a h s e d a n g w a k t u n y a istirahat.
-Hey||, kusapa dia
Aku lagi istirahat nih. Capek!||, j a w a b Dilan. s u a r a n y a t e r e n g a h - e n g a h b e g i t u
- H a b i s ngapain gitu?||
- B e l a j a r ||
- H a ha ha||
- K e n a p a ketawa?||
- G a a p a - a p a . K e n a p a e m a n g kalau ketawa?||
Aku s e n a n g mendengarnya||
- H e h e h e k a m u sudah makan?||
Aku tadi sudah m a k a n belum?||

Dilan k a y a k n y a nanya ke o r a n g y a n g ada di

sebelahnya
- N a n y a k e siapa?||
- I n i , ibu-ibu. y g lagi antri n u n g g u telepon||
- H a h ? Ha ha ha ngapain? ||. T a n y a k u . Dilan m e m a n g n e l e p o n m e n g g u n a k a n t e l e p o n
umum
- B u , m a u k e n a l a n gak s a m a Lia?||, dia pasti n a n y a lagi s a m a o r a n g y a n g lagi antri
itu,||Enggak k a t a n y a ! Sombong||, s a m b u n g Dilan
- H a ha ha. Bilangin ke dia, nanti m e n y e s a l gitu||
- M a l u ||
- T a d i k a m u gak malu n a n y a - n a n y a dia?||
- O h iya. Bentar. Bu. nanti m e n y e s a l lho||
- H a ha ha ha ha||
- C a n t i k ibu!||
- H a ha ha ha ha||
Mau n o m o r t e l e p o n n y a gak?!||, dia masih n a n y a ke o r a n g y a n g antri itu.
- H a ha ha j a n g a n dikasihin, Lan, biar dia cari s e n d i r i ||
- E h j a n g a n kenal deh, Bu||
-Kenapa?||, k u t a n y a
N a n t i ibu j a d i cinta||
- H a ha ha ha lesbi||
- S a i n g a n deh s a m a aku||
- H a ha ha ha ha||
- T a p i aku lagi sedih, Bu. dia tiga hari g a k sekolah||
- H a h a h a Besok sekolah. Bilangin||
- B i l a n g ke siapa?||
- K e kamu||
- H a ha ha ha ha ha||
Dilan! Aku tahu s e b e n a r n y a t i d a k ada ibu-ibu y a n g lagi antri di situ. Itu c u m a p u r a pura. T a p i g a k a p a - a p a . Dilan. t e r i m a k a s i h . aku s e n a n g .
- L i a , udahan dulu ya||
-lya||
- J a n g a n lupa apa?||
- J a n g a n lupa apa?||, aku t a n y a balik
- I n g a t a n ||
- H a ha ha ha ha||
Sun j a u h jangan?||
Ng...boleh d e h ||
- E h , j a n g a n deh||

-Kenapa?||
- K e n a p a ya? Malu ngomongnya||
- M a s a Dilan malu?||
- O k e . Jangan sun jauh, nanti aja sun dekat||
- H a ha ha ha ha ha ha. Si ibu itu masih ada?||
-Terbang!
- T e r b a n g ? Kok bisa?||
- I b u n y a burung!
Iiiiihh! Ha ha ha ha||
Habis Dilan nelepon, aku tiduran di kursi. T a d i n y a aku mau nelpon Beni. tapi dia
pasti sedang sekolah. Nanti saja, nanti sore. Kurebahkan badanku sambil m e m b a c a koran
Pikiran Rakyat, dan aku terkejut karena ada kartun di kolom H u m o r dengan tandatangan
Dilan sebagai pembuatnya!
Aku nyaris tak percaya, sampai membuatku terduduk untuk lebih memastikan
bahwa kartun itu benar-benar karya Dilan. Iya betul itu bikinan dia! Kenapa tidak bilang,
Dilan? Asli, aku terperangah! Aku bawa masuk koran itu ke kamar, sambil telungkup
kulihat lagi kartun itu!
Tiba-tiba terdengar suara telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. katanya
itu dari Beni.
Dengan sangat malas kuterima telepon dia. Ini saatnya aku harus bersikap tegas.
- G i m a n a , Beb?||, Beni nanya
- G u e Milea, Bukan Beb. Gue Pelacur||. jawabku. Heran aku bisa berani bilang gitu.
Heran, biasanya aku bersikap lemah ke dia. Heran, belakangan ini aku selalu merasa
yakin bahwa aku akan aman ada Dilan.
- O k e , j a n g a n dibahas lagi soal itu. Gimana?||, dia nanya
- G i m a n a apa?||
- M a a f i n gue, Lia. gue ngaku gue khilafll
- U d a h gue maafin||
- M a k a s i h . Gue gak bisa pisah dari elo||
- E l o kan laki-laki. masa gak bisa sendiri?||
- H a ha ha maksud gue, gue ingin terus jalan sama elu||
- K a l a u gue ga mau?||
- P l e a s e , tolong mengerti gue. Gue ga ada artinya tanpa elu||
- M a k s u d lu. kalau tanpa gue, lu c o w o k y a n g ga ada a r t i n y a ? !
- I y a . Lia||
- G u e nyari c o w o k y a n g punya arti buat gue||
- L i a , tolong gue||
- G u e butuh laki-laki y a n g bisa nolong gue. bukan yang minta tolong||
- P l e a s e , Lia, gue

gak tau harus gimana, tolong mengerti, gue

||

- K e n a p a l o nangis?!
- G u e gak tau. please. terima gue apa adanya||
- M a k s u d lu. gue harus n e r i m a lu apa adanya yang bilang gue pelacur?||
- U d a h j a n g a n bahas itu lagi. Gue nvesel. Gue..gue..||
- L u mau nerima gue apa adanya?||
Iya, Lia. Gue nerima elu apa adanya||
- N e r i m a gue y a n g lagi mencintai seseorang di Bandung?|;
- J a d i lu bener sama dia?||
- M a k s u d lu. sama orang yang lu tampar itu?||
-lya?||
- B u k a n dia||
-Siapa?!
-Siapa

pun

orang

itu,

elu

mau

nerima gue

apa adanya y a n g

lagi

mencintai
2 of 3

seseorang? ||
- C a p e k gue!!!! ||
- I s t i r a h a t kalau capek! Cuma masalah begini, elu sudah mengeluh||
- E l u j u g a mengeluh dengan sikap gue kan!!??||, Beni mulai keliatan aslinya
- G u e mengeluh karena punya cowok m a c e m elo||
- S e t a n ! ||
- J a n g a n nelepon dengan setan!||
Anjing!||, Beni menutup teleponnya.
Aku kembali ke kamar dalam tatapan Si Bibi yang ingin tahu ada apa gerangan. Aku
tidak nangis. Aku marah. Sedikit banyak, sekarang semua sudah tahu siapa Beni. mudahmudahan jadi maklum, kalau misal harus kupilih Beni atau Dilan, aku akan memilih pergi
dari Beni. T e r s e r a h kau mau bilang apa, tapi aku yakin, jika kau adalah diriku, kau akan
bersikap sama denganku!

16. SUSIANA
Hari itu, aku masuk sekolah lagi bersama pagi yang inclah di Bandung. Selalu begitu
rasanya. M e n e m b u s kabut tipis bersama Revi dan Agus, menyusuri jalan untuk menuju
sekolah. Aku m e n o l e h ke belakang untuk suara m o t o r y a n g datang: Dilan!
Ini j a r a n g terjadi, biasanya Dilan datang ke sekolah, selalu setelah aku sudah sampai
di sekolah.
Motor

itu

makin

m e n d e k a t diiringi

oleh

perasaanku y a n g senang. Ya senang,

bercampur degdegan. Aku yakin. Dilan akan segera di sampingku bersama m o t o r n y a


y a n g dibikin pelan untuk m e n y a m a i kecepatanku berjalan.
Aku harus pura-pura tidak tahu bahwa ada dia di belakang, meskipun ujung mataku
sudah siap menunggu untuk memastikan apakah dia sudah ada di sampingku atau
belum. Kurangkai kata-kata untuk m e n j a w a b Dilan kalau nanya.
Yes, m o t o r itu sudah ada di sampingku, tapi tidak seperti y a n g kuduga, dia terus
maju m e l e w a t i kami. Heh? Kenapa Dilan? Kau tahulah bagaimana rasanya mengetahui
dia lewat begitu saja.
Seolah-olah aku ga ada. Aku nyaris sedih, tapi gak jadi. karena kulihat dia putar balik
m o t o r n y a dan berjalan di sampingku
- H e y , kamu Milea ya?||
Ha ha ha ha ha||, aku ketawa, aku tahu harusnya aku tidak ketawa. T a p i gak tahu
kenapa ketawa.
- B o l e h gak aku meramal?||, dia nanya
- H a ha ha ha ha Kita akan berjumpa di k a n t i n ? !
- K i t a tidak akan b e r j u m p a di kantin||
- H e he he Jumpa di mana?||
- D i sini||
- H a ha ha ha||
Pagi. Agus. Revi ||, dia m e n y a p a A g u s dan Revi
-Pagi||, j a w a b Agus dan Revi
- K e aku enggak?||, tanyaku
- N a n t i di warung bi Eem||
Kok?||
Nanti istirahat kuajak kamu ke warung Bi Eem. Jangan mau||
-Kenapa?'
- N a n t i kamu menyesal||
- H a ha ha enggak||
- E n g g a k apa?||
- E n g g a k nolak||
- A k u sudah tahu. Nanti kujemput||
-lya||
Lalu Dilan m e m i n t a Agus untuk m e m b a w a m o t o r n y a ke sekolah. Asalnya Agus gak
langsung mau. tapi akhirnya dia mau. Agus ke sekolah bersama Revi naik motor,
meninggalkan aku dan Dilan berjalan berdua menyusuri jalan basah sisa hujan semalam.

- K a m u tahu g a k n a m a j a l a n i n i sudah kuganti?||


- J a d i j a l a n apa?|
- J a l a n Milea||
- H a ha ha||
- J a l a n M i l e a dan Dilan||, k a t a n y a
- J a l a n M i l e a dan Dilan Sang Peramal||
- J a l a n M i l e a dan Dilan Sang P e r a m a l Y a n g S e m a l a m M i k i r i n Milea||
- K e n a p a m i k i r i n aku?||, k u t a n y a
- A k u h a n y a m i k i r y a n g senang-senang||
- K a m u s e n a n g m i k i r i n aku?||
- M a l a h bingung||
Kenapa? ||
- B i n g u n g b a g a i m a n a menghentikannya||
- M e n g h e n t i k a n apa?||
Mikirin k a m u ha ha ha||
- H a h a h a h a e m a n g ingin berhenti?||
-iyall
Kenapa?||
Harus selalu d e k a t , biar e n g g a k perlu kupikirin||
- H a ha ha ha ha ha||
- K a m u b a g u s ketavvanya||
- K a m u j u g a bagus)
- K i t a bersaing!
- H a ha ha ha ha||
T i d a k b e r a s a , kami sudah s a m p a i di s e k o l a h .

Dilan m e n g a n t a r k u m a s u k kelas,

s a m p a i aku duduk di bangku! B e b e r a p a k a w a n k u tahu itu. j u g a N a n d a n y a n g lagi n g o b r o l .


K e m u d i a n Dilan pergi, untuk masuk ke kelasnya. T e r i m a k a s i h . Dilan! Dilanku
Hari

itu

adalah

hari

pertama

aku

jalan

kaki

berdua

dengan

Dilan.

Banyak

m a n f a a t n y a , b a n y a k sekali. Aku j a d i tahu n o m o r t e l e p o n r u m a h Dilan. aku j a d i tahu


m e m a n g b e n a r dia p e m b u a t kartun y a n g d i m u a t d i koran Pikiran R a k y a t itu. M a n f a a t
u t a m a n y a sih. t e n t u saja: aku s e n a n g !

Tapi, ada khabar dari Rani, katanya, dua hari lalu dia melihat Susi naik m o t o r dengan
Dilan pas pulang sekolah. N a m a n y a Susiana. anak kelas 2 Sosial 2. Kata Rani Susi
m e m a n g p e n g e n ke Dilan. Iya, aku sudah d e n g e r cerita itu, sedikit, t e p a t n y a seminggu
y a n g lalu dan lupa belum kuceritakan soal dia.
Susiana, dia cantik. Katanya anak pemilik toko emas Indah Jaya di Parahyangan
Plaza.

Dua kali,

aku pernah

lihat dia di

kantin, berisik bersama t e m a n - t e m a n n y a

menguasai ruangan. Dilihat dari sikap dan perilakunya, selain dia itu bossy, kukira dia
anak gaul.
M e m a n g iya. Kata Rani, Susi suka main ke sana. ke Stuido East di Cihampelas. atau
ke Lisptick Roller Disco bersama t e m a n - t e m a n n y a , di Palaguna Plaza (Daerah alun-alun
Bandung). Itu, mungkin semacam t e m p a t n y a dugem anak-anak remaja. Rani j u g a pernah
diajak Susi. lupa ke mana itu. pokoknya daerah Ganesha. ngecengin anak ITB yang lagi
pada ospek.
Aku gak tahu sejauh mana hubungan Dilan dengan Susi. Kupikir hal itu h a n y a
hubungan biasa saja. Aku merasa tidak perlu lebih jauh untuk tahu. Itu urusan Dilan dan
Dilan bukan pacarku.
Apalagi dengan adanya kasus Beni di Jakarta t e m p o hari. nyaris tak sempat bisa lagi
kupikirkan.
T a p i dengan adanya berita bahwa Susi naik m o t o r dengan Dilan. terus terang, aku
jadi langsung cemburu. T e r m a s u k jadi ingin tahu sudah sejauh mana hubungan Susi
dengan Dilan. Maksudku, ya, aku tahu. aku m e m a n g belum jadi pacar Dilan. tapi kalau
benar Susi pacaran dengan Dilan. ngapain Dilan selalu berusaha mendekatiku?
Api cemburu, yang nyala, langsung bikin aku lemas hari itu. dan aku j a d i males
belajar, termasuk jadi merasa males ketemu Dilan lagi. Aku merasa gak perlu bersaing
dengan Susi. Gak perlu. Kalau Dilan mau sama dia, ya sudah, silakan sama dia, apa hakku
melarangnya. T a p i tentu saja aku gak akan lagi meladeni apa pun yang ia lakukan
kepadaku sejak itu.
Aku ingin nanya ke Rani. soal sudah sejauh mana hubungan Susi dengan Dilan. tapi
aku urungkan, pertama: karena kami tidak bisa bebas ngobrol berbanyak-banyak di saat
sedang belajar, kedua aku harus pura-pura bersikap biasa m e n d e n g a r cerita Rani soal
Susi. Rani gak perlu tahu bagaimana perasaanku.
Jam istirahat sudah tiba, Dilan datang ke kelasku untuk ngajak aku ke warung bi
Eem. Tapi kubilang aku gak bisa, karena ternyata masih lemas. T e n t u saja aku bohong.
Iya, ga apa-apa. katanya dan j u g a bilang, dia akan berdoa di warung Bi Eem bersama
t e m a n - t e m a n atheis, biar aku bisa segera lekas pulih. Atheis? Berdoa? Ah pasti dia
bercanda! Makasih. kataku dan dia pergi.
Dilan pasti kecewa, aku langsung merasa bersalah. Mengapa aku harus menilainya
dengan dasar masih cuma praduga? M e n g a p a harus menilai dia dengan pengetahuan
y a n g belum pasti soal fakta yang sebenarnya? Mengapa tidak memilih ikut dengannya, ke
warung Bi Eem. dan tanyakan langsung kepadanya?
Akhirnya aku pergi juga ke warung Bi Eem. Sendiri, di bawah naungan langit
mendung. Di sana ada A n h a r y a n g lagi main gitar, ada Piyan dan beberapa orang lainnya
y a n g tidak begitu kukenal.
Kutanya Piyan:
Piyan, ada Dilan? ||
- D i l a n ? Belum ke sini||
Tadi kukira dia ke sini||
Belum. Biasanya ke sini. Ada apa. Lia?||
- E n g g a k . Ga ada apa-apa||
- T u n g g u aja||, kata Anhar sambil menghembuskan asap rokoknya
Aku mau ke kelas lagi aja||
- O h iya||

Piyan....||
-iyall
- B i l a n g ke Dilan

tadi aku ke sini....||

- O k e , Lia||
K e t i k a h u j a n turun, aku sudah s a m p a i di kelas. K a w a n - k a w a n k u m a s i h pada j a j a n di
kantin.
Sunyi sekali rasanya. Cuma ada aku s e n d i r i a n , d u d u k di bangku, m e r e b a h k a n k e p a l a
b e r b a n t a l tas sekolah. Suara hujan itu, s e p e r t i m e w a k i l i p e r a s a a n k u . S u n y i m e n g u a t , d a r i
m a t a k u , air m e n g a l i r , sedikit, pelan m e l e l e h i pipiku: Dilan, k a m u di mana? M a a f !
H u j a n sudah reda. K a w a n - k a w a n b e r a n g s u r p a d a m a s u k k e kelas. Kuambil buku
p e l a j a r a n dari d a l a m tasku, dan kubaca, s e k e d a r untuk m e n g g a m b a r k a n b a h w a aku
n o r m a l - n o r m a l saja. s e o r a n g M i l e a y a n g b a r u s e m b u h dari sakit dan m e m i l i h tinggal d i
kelas untuk m e n g h a b i s k a n w a k t u j a m istirahat d e n g a n m e m b a c a .
N a n d a n m e n y a p a k u , j u g a Rani. Jam istirahat b e l u m habis, masih ada sisa untuk
b a s a - b a s i d e n g a n m e r e k a . K e t i k a s e k o n y o n g - k o n y o n g aku m e n d e n g a r r a u n g a n m o t o r d i
luar p a g a r s e k o l a h . Pasti j u m l a h n y a c u k u p banyak, k a r e n a sangat ribut sekali, k i r a - k i r a
ada 2 0 m o t o r .
Siswa d a n guru p a d a k e l u a r dari t e m p a t n y a , t e r m a s u k aku, untuk ingin t a h u ada apa
gerangan.
Pak S u r i p t o t e r i a k k e M a n g Uung, p e n j a g a pintu g e r b a n g sekolah:
Tutup, M a n g Uung!||
M a n g Uung m e n u t u p pintu itu. T e r j a d i hiruk pikuk tapi s e k a l i g u s s e p e r t i panik.
-Siapa?||. aku t a n y a N a n d a n
- G a tau! ||
Pengendara

motor

itu,

berseragam

sekolah

dan

pada

bawa

samurai

sambil

m e n g g e r u n g - g e r u n g k a n m o t o r n y a . M e r e k a teriak
Anhar!!! Kaluar, Anjing!||
M e r e k a m e l e m p a r i s e k o l a h . Kaca j e n d e l a kelas y a n g d e k a t pintu g e r b a n g p a d a p e c a h
t e r k e n a l e m p a r a n batu
N a m p a k g u r u - g u r u m e m e r i n t a h k a n s e m u a siswa u n t u k m a s u k d a l a m kelas. A k u j u g a
m a s u k dan bingung, ada apa ini? Kata Rani, itu g e n g m o t o r SM A lain. M e r e k a m e n c a r i
A n h a r . A n h a r pasti bikin ulah. Heh? T a d i aku lihat A n h a r di w a r u n g Bi Eem. Dilan, di
m a n a kamu? M e n d a d a k aku panik.
- L i a mau kemana?!!||, Rani t e r i a k m e n c e g a h k u y a n g lari m e m b u k a pintu untuk
k e l u a r dari kelas.
- L i a ! ||, b e b e r a p a k a w a n y a n g lain j u g a t e r i a k m e n c e g a h k u .
Ya, aku lari dan m a s u k kelas Dilan. T a p i di sana tak ada Dilan! T a k ada P i y a n !
K u t a n y a k e p a d a k a w a n n y a d i m a n a Piyan? M e r e k a bilang b e l u m masuk. M e r e k a pasti
masih di w a r u n g Bi Eem!
Para p e n y e r a n g itu, masih t e r i a k m e m a n g g i l A n h a r , m e l e m p a r batu dan n a b r a k n a b r a k pintu g e r b a n g . Serius, aku kuatir ada a p a - a p a d e n g a n Dilan, d a n j u g a Piyan. A k u
tidak

tahu

campuran

harus

gimana.

Tanganku

antara bimbang dan

kesal,

sampai
sambil

berkacak

pinggang,

memandang mereka

seperti

ekspresi

dari d a l a m

kelas

b e r s a m a siswa l a i n n y a y a n g pada t e g a n g .
Aku kesal pada m e r e k a y a n g n y e r a n g itu. Maksudku, m e r e k a pasti akan m e n g a p a a p a k a n Dilan, j i k a berhasil d i t e m u k a n , k a r e n a A n h a r adalah b a g i a n dari Dilan di d a l a m
satu k e l o m p o k .
I m a j i n a s i k u b e r h a r a p aku bisa m u d a h m e n n g h a d i r k a n ayahku, y a n g d a t a n g b e r s a m a
k a w a n - k a w a n n y a , satu k o m p i , m e n e m b a k i m e r e k a !
M e r e k a a k h i r n y a pergi, ya T u h a n , tapi m e n u j u w a r u n g Bi Eem! A k u b e r p i k i r buruk,
m e r e k a b e r t e m u Dilan d i sana. M e n g e r o y o k n y a d e n g a n batu dan s a m u r a i ! A k u t e r d u d u k
d i bangku, l e m a s s e l e m a s - l e m a s n y a , d a n b i m b a n g . K e n a p a m e r e k a n y e r a n g s e k o l a h pada
4 of 7

waktu istirahat?
Kenapa tidak saat pulang sekolah kalau benar nyari Anhar? Kelak, Dilan menjelaskan
kepadaku bahwa m e r e k a melakukan strategi yang salah!
Polisi datang, dua truk, tapi Penyerang sudah hilang. Aku melihat beberapa polisi
masuk ke ruang guru, mungkin untuk m e m i n t a keterangan. Belajar diliburkan. Aku baru
saja keluar dari toilet ketika Dilan datang menemuiku di sana. kami bicara sambil berdiri
berhadapan
- T a d i kemana?||, kutanya dia. Aku melihat matanya nampak cemas
- K a m u tidak apa-apa?|| dia balik nanya sambil meraih satu tanganku dan kubiarkan
- T a d i kemana?|| kutanya dia
Ada ||
Kemana?!!||, kutanya lagi
- D i belakang gereja||. dia menyandarkan punggungya ke tembok, seperti orang yang
baru selesai dari rasa gelisah.
- K a m u ya? ||
- B u k a n . Bukan aku. Itu Anhar||
- K a m u juga! ||
- E n g g a k . Lia. Nanti, nanti kujelaskan||
Aku mau ke kelas||, kataku sambil pergi. Dilan nyusul.
- D i mana Piyan?||, kutanya tanpa m e n o l e h kepadanya
- M a s i h di belakang gereja||
- G e n g s t e r brengsek!||
Kami berjalan menyusuri lorong kelas. Orang-orang sibuk dengan bahasan m e r e k a
tentang apa yang tadi terjadi. Aku merasa sebagian orang m e m a n d a n g kami. terutama ke
arah Dilan. Entah apa dalam pikiran mereka, yang pasti pikiranku bagai melayang tak
karuan. Masih bisa kurasakan sisa-sisa panik, cemas dan kegelisahan.
Dari depan kantor sekolah. Pak Suripto berdiri memanggil Dilan.
- A k u ke sana dulu, Lia||, katanya, tapi tidak kujawab.
- N a n t i pulangnya kuantar||, dia n g o m o n g lagi
- S u d a h sana||
-lya||
Aku merasa, semua mata m e m a n d a n g ke arah Dilan. yang berjalan nemui Pak
Suripto. Aku tidak. Aku terus berjalan dan masuk ke kelas. Rani n a n y a soal Dilan ketika
aku sudah duduk.
Kubilang gak tahu. Kata Rani. tadi Dilan nemui Rani nanyain aku
Iya, tadi ketemu Dilan. Sebentar||.
- A p a katanya?||. Rani nanya
- G a ngomong apa-apa||
-Oh||
- A k u gak mau ngebahasnya||
Wati datang bergabung dengan kami:
- I n i si Anhar!||
- E m a n g kenapa sih dia?||. kutanya Wati
Kemaren dia malak! Ga ngasih. terus dia pukulin anak itu||
- S a m a siapa malaknya?||
- S a m a temen-temennya||
Iya siapa? ||
- T e m e n dia||
- A n a k sekolah sini?||
Bukan. Gak tahu anak mana||
Wati tahu dari siapa?||
- S i Piyan. tadi pagi||

- D i l a n tahu?||
Mungkin ||
Bukan. Bagaimana orang itu tahu y a n g malak si A n h a r anak sekolah sini?||
- G a k ngerti||
- S i Anharnya di mana sekarang?||
- G a k tau. Kabur dia||
Dilan tidak mengantar aku pulang. Dia harus ikut ke kantor polisi. Aku pulang
bersama Wati, Rani, N a n d a n dan Revi sampai ke pertigaan jalan, kemudian berpisah
untuk naik angkot ke arah tujuannya masing-masing. Aku naik angkot bersama Revi.
Itulah hari yang paling menegangkan dalam sejarah hidupku bersama Dilan. Atau
tidak cuma itu.
Masih ada banyak lagi yang lainnya. Aku akan ceritakan semuanya, entah apa
tujuanku, aku cuma ingin cerita, seperti ada yang m e n d o r o n g k u untuk harus.
Suamiku
menjalankan

SMS,

dia

ibadah

bilang

lembur.

katanya
Bob

Dylan

mau

tidur

masih

di

kantor.

nyanyi.

Ya

sudah.

Gak capek-capek.

Selamat
Baiklah

kutemani, kebetulan aku masih belum ngantuk bersama kopi y a n g sudah kubuat barusan
tadi.

Oke.

aku teruskan

ceritanya:

Malamnya,

Dilan

nelepon.

Dia jelaskan

duduk

persoalannya, persis seperti y a n g Wati ceritakan.


- T e r u s , apa kata polisi?||. kutanya dia
- M e r e k a bilang aku manis||
Aku serius||
- M e r e k a bilang j a n g a n terlalu serius||
- T e r s e r a h ! Kukira kamu ditahan?!
- J a n g a n ditahan-tahan||
- H a ha ha ha||
- K e n a p a ketawa?||, dia n a n y a
- G a k boleh?|| aku balik nanya
- K a t a n y a kamu serius?||
- O k e aku serius. Boleh aku nanya serius?'
-Boleh||, katanya
- S i a p a Susi? Susiana?||
- P e r e m p u a n ||
-Pacarmu?!
Bukan ||
- J u j u r ! ||
- D i a ingin j a d i pacarku. T a p i aku gak mau. Dia pernah datang ke rumah, aku
sembunyi dalam lemari besar||
-Terus?!
Ngobrol sama ibuku, bantu-bantu masak di dapur. Dia mau ambil hati ibuku||
-Terus?!
Aku pengap dalam lemari||
- H a ha ha terus?||
- I b u masuk kamar. Untung gak buka lemari, lalu dia pergi||
-Terus?!
Aku ingin pipis?||
- P i p i s dalam lemari?||,
- B u k a n , sekarang, aku ingin pipis||
- O h ha ha sudah sana pipis dulu. Ingat kata polisi, j a n g a n ditahan-tahan||
-Udah||
- U d a h apa? ||
Pipisnya! ||
- D i situ?||

Iya. P a n t o m i m aja. Cukup|j


- H a ha ha ha. Enggak. P o k o k n y a aku tutup! Kamu k e n c i n g dulu||
- O k e . Bentar||
Setelah itu. tak l a m a n e l e p o n lagi
-Terus?||. k u t a n y a
- S o a l Susi?||
-Iya||
- D i a ngasih aku c o k e l a t . N g a s i h aku baju tidur. N g a j a k n o n t o n bioskop||
- K a m u mau?||
- M a u apa?||, dia balik n a n y a
N o n t o n ? ||
- M a u ||
- B e r d u a ? ||
Iya, t e r u s p a s n o n t o n , aku ijin ke toilet, p a d a h a l pulang||
Hah? N i n g g a l i n dia sendirian?||
-lya||
- D i a marah?||
- D i a marah||
-Terus?!
- Y a udah m a r a h aja. Bagus lah||
- K o k bagus? ||
- K a n j a d i gak m a u k e t e m u aku||
- H a ha ha ha kalau aku m a r a h ke kamu?||
- B a g u s l a h ||
-Bagusnya?'
- U j i a n buatku, bisa e n g g a k aku m e m b u a t k a m u m e n j a d i tidak marah||
- H e h e h e k a m u pasti bisa||
- T u g a s k u m e m b u a t k a m u senang||
- K a l a u tidak bisa m e m b u a t aku senang?||, k u t a n y a
- B e r a r t i aku gagal m e n j a d i o r a n g y a n g menyenangkanmu||
- K a m u b e r h a s i l he he he||
- B e r a p a nilainya?)
- S e r i b u ! ||
- Y a . L u m a y a n b u a t beli gorengan||
- H e h e h e K a t a n y a k a m u naik m o t o r s a m a Susi?||
- T i d a k c u m a Susi||
N g a p a i n s a m a dia? N a i k m o t o r ? K e m a r e n ? )
N g a n t e r dia ke r u m a h sakit, a y a h n y a d i b a w a ke r u m a h sakit. Buru-buru||
-Oh

Kasian||

- T i d a k mencintai, tidak berarti m e m b e n c i n y a )


Iya. Kamu b e s o k kemana?||
- B e s o k m i n g g u ya?||
-iyall
- A k u m a u s k a t e b o a r d s a m a t e m a n ||
- K a m u bisa s k a t e b o a r d ? !
Enggak)
- T e r u s kenapa main skateboard?)
- B i a r bisa||
- H e h e he||
- K a m u tahu? A k u bisa m e m b u a t k a m u t i d u r ? !
Maksudnya?)
Iya. A k u ingin k a m u tidur, biar m a k i n sehat. Jangan b e g a d a n g , k a m u b e l u m p u l i h )
7 of

17. KANG ADI


Sekarang aku mau cerita tentang Kang Adi. N a m a n y a Adi W i r a w a n . W a k t u itu. dia masih
mahasiswa

ITB.

semester

lima.

Dia

anak

Pak

Alfin,

kawan

ayahku.

Ayah

m e m p e r k e n a l k a n n y a ke aku waktu dia datang ke rumah untuk ada urusan bisnis antara
ayahku dan ayahnya.
A y a h bilang ke Kang Adi, minta m e m b i m b i n g aku belajar. A y a h m e m a n g pengen aku
bisa masuk ITB. meskipun aku sendiri sebenarnya ingin ke UNPAD. Kang Adi bilang
boleh, nanti bisa privat seminggu sekali. Aku sih o k e - o k e aja.
Sejak itu, Kang Adi suka datang ke rumah untuk m e m b i m b i n g k u belajar. Dia bisanya
malam minggu. Biar bisa santai katanya. Kami belajar di ruang tamu. kadang-kadang
berdua, kadang-kadang bertiga bersama Airin. dia adikku y a n g masih kelas 2 S M P waktu
itu. Kadang-kadang berempat, kalau ibu ikut nimbrung.
Selain untuk m e m b i m b i n g k u belajar. Kang Adi j u g a suka ngobrol. Dia cerita tentang
dirinya dan aktivitas kehidupan mahasiswa di kampus ITB. Dia cerita tentang gerakan
mahasiswa ITB. tentang unit-unit kegiatan di ITB. Pokoknya banyak, termasuk cerita
tentang diri dan kehidupannya.
Kayaknya m e r e k a membutuhkan Kang Adi banget ya||, kataku
- G a tau tuh. Kalau ga ada saya. m e r e k a bilang sih suka gak r a m e he he||
Emang Kang Adi jabatannya apa di unit itu?||, kutanya
- B e n d a h a r a ||
Ooh. Pantesan. Pada nunggu uangnya tuh he he he||
- E n g g a k lah. Ya mungkin m e r e k a nganggap saya bisa menciptakan kondisi jadi lebih
hidup he he he, atau ya ga taulah||
- K i r a i n he he he||
- P e r n a h pas ada meeting, saya kan ga datang, eh m e r e k a nelepon maksa minta saya
datangi
Segitunya||
- G a tau kenapa. Kita ini harus luwes. Sedikit nakal lah. Biar gak kaku||
- K a n g Adi nakal?||
-Yaaa...nakal gimana ya? Ya. sekedar untuk mencairkan suasana aja. Nanti deh
kamu saya ajak ke ITB|[
Kang Adi suka berantem?||
- B u k a n nakal y a n g gitu lah. Nakal-nakal y a n g seru||
- T e m a n - t e m a n Kang Adi orangnya pada seru ya?||
Gak semua. Banyak juga y a n g kaku. W a k t u n y a habis dipake belajaaar terus. Gak
menikmati.
Hidupnya kayak robot. Gak suka saya. Makanya kan. kadang-kadang kita j u g a
belajar, kadang-kadang kita j u g a ngobrol. Ya ngobrol-ngobrol kayak gini lah||
Kalau Kang Adi datang, selalu akan memakai m o t o r dan m e m b a w a makanan, untuk
aku, untuk Airin atau untuk ibu. Malam itu, dia datang bawa sweater yang ada tulisan
ITBnya. Katanya dia sengaja beli untukku.
- M a k a s i h . Kang||
- I n i yang mahalnya. Ada j u g a sih yang murah, masa' buat Lia kasih yang murah||
- G a apa-apa y a n g murah juga, Kang. Hemat ||
- B u k a n soal uangnya. Kang Adi pengen yang berkualitas. Eh. Lia jadi gak ikut ke ITB.
besok?||
- J a m berapa?||
- K a l a u bisa sih pagi-pagi. Biar sekalian sarapan bubur di Gasibu||
-Pagi-pagi?||
- T e r s e r a h , Lia||
- K a l a u bangun ya he he he||

Aku dengar telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. dari Dilan katanya. Aku
ke sana, setelah pamit ke Kang Adi dan lalu ngobrol dengan Dilan sampai ketawa
terbahak-bahak.Katanya dia habis nangkap nyamuk. Dua ekor. Dimasukin ke botol.
Terus dia namai Bonni dan Kinkan.
- M a u gak?||
- N y a m u k ? ||
Iya. Kamu satu, aku satu||
- D i sini j u g a banyak||
- D i situ j u g a ada? Subhanalloh'
- H a ha ha Ada tujuh ribu!||. kataku
- D i sini m a h sedikit euy. N y a m u k preman. lagi||
- K o k preman?||, kutanya
Iya. Pada mabuk s e m p o y o n g a n gini||
- H a ha ha minum Baygon?||
- A h m e r e k a mah merk apa aja j u g a oke. Ibuku yang beliin. Baik dia itu||
Dibeliin gimana?||
Iya dia yang beli obatnya, ke warung, buat nyamuk. N y a m u k manja. Gak bisa beli
sendiri ||
- H a ha ha ha||
Dilan m e m a n g selalu m e m b a h a s yang gak perlu. Tapi rame. Tapi seru. Habis itu aku
kembali ke ruang tamu, bersama Kang Adi lagi.
Teman?||, Kang Adi n a n y a
-iyall
- O h . T e m a n sekolah?||
- T e m a n apa ya? T e m a n dekat gitu lah||
- P a c a r yaa?||
- D i a itu seru. N a m a n y a Dilan||
- H a t i - h a t i , Lia||
- H a t i - h a t i , kenapa gitu?|
- Y a . dengan siapa pun harus hati-hati lah. Cari kawan y a n g bisa bimbing. Yang bisa
saling mengingatkan. Yang bisa melindungi||
- H a t i - h a t i termasuk ke Kang Adi juga he he he?||
- Y a a . . e n g g a k lah! Kita kan sudah saling kenal||
Becanda atuh, Kang||
Setelah Kang Adi pulang, aku ngantuk, gosok gigi dan langsung tidur. T a d i n y a
p e n g e n nelepon Dilan dulu, tapi takut mengganggu. Besok aja. Sekarang saatnya tidur.
- S e l a m a t tidur juga, Dilan ||
Pagi-pagi. Kang Adi nelepon. Dia nanya j a d i enggak pergi ke kampus ITB? Aku bilang
gak bisa.
Nanti aja hari rabu. sepulang sekolah. Iya katanya.
- K i t a belajar aja yuk?||
- H a r i minggu?||
- Y a isilah dengan y a n g berguna||
- I s t i r a h a t j u g a berguna. Kang. Saya ingin istirahat||
- O h ya sud. Lagi apa?||
- I s t i r a h a t kan?||
- K a l i , lagi baca buku||
-Enggak||
- K a l a u mau baca buku nanti saya bawain buku. Di rumah banyak||
- G a k usah. Kang||
- S u k a Filsafat gak?||
- N g g . . g a k tuh||

18. DILAN VS. SURIPTO


Pada saat upacara bendera, Dilan ikut upacara bendera, tapi dia masuk di barisanku,
sejajar denganku. Harusnya dia berada di barisan k a w a n - k a w a n sekelasnya. Buat aku sih
gak masalah, justeru menyenangkan, tapi tidak bagi guru y a n g bernama Suripto. Pasti,
aku yakin.
Kekuatiranku terbukti, pada waktu Kepala Sekolah sedang pidato, diam-diam, dia
ditegur oleh Pak Suripto. karena dianggap tidak berada di barisan yang seharusnya.
Bukan cuma teguran, Pak Suripto menarik baju bagian belakang Dilan, dengan paksa,
untuk memindahkan Dilan ke barisan seharusnya.
A p a yang dilakukan Pak Suripto membuat Dilan nyaris terjengkang. Dilan berseru:
- H e h ? Apa ini?||
- A p a ? Hah? Kamu mau melawan?||. tanya Pak Suripto
- Y a aku melawan!||
Pak Suripto m e n a m p a r Dilan. Dilan balas m e n a m p a r Pak Suripto. Pak Suripto mau
m e n a m p a r lagi, tapi Dilan keburu memukulnya dengan pukulan y a n g bertubi. Suasana
menjadi ribut, menarik perhatian semua orang untuk memandang.
Pak Suripto lari menuju tengah lapangan upacara. Dilan mengejarnya. Aku melihat
pak Suripto s e m p a t terjatuh, merangkak sebentar untuk kemudian berdiri dan lari. Dilan
m e n g e j a r Pak Suripto y a n g menyelusup di antara guru-guru y a n g pada baris di depan
kami. Kepala Sekolah berteriak:||Apa ini?!!||.
Upacara bendera menjadi kacau. T e r d e n g a r suara hiruk pikuk dari peserta upacara
bendera.
Guru-guru berusaha menahan Dilan. Kepala Sekolah turun dari mimbarnya. Dilan
teriak kepada Pak Suripto yang entah sudah ada di mana:
- S u r i p t o ! Pengecut kau!||
Aku melihat Piyan, Beyi dan beberapa yang lain, pada lari untuk membantu guru
menahan Dilan. Aku j u g a ke sana berharap bisa membantu untuk membuat Dilan jinak.
Dilan marah.
Beberapa guru menasehati Dilan untuk tenang. Ibu Rini, Guru Geografi, m e n e p u k nepuk bahu Dilan, sambil bilang:||Sabar, Dilan, Sabar!||
Syukurlah Dilan kemudian bisa tenang. T e r d e n g a r p e n g u m u m a n upacara bendera
dibubarkan.
Aku, Piyan, Beyi dan beberapa guru, m e m b a w a Dilan ke ruang guru. Di sana kami
duduk bersama Ibu Rini, Pak Syaiful, Pak Aslan, dan Ibu Pipi ( P e g a w a i T . U )
- S a b a r , Dilan||, kata Bu Rini
- A k u bukan melawan guru. Bu. Aku melawan Suripto||, kata Dilan. Aku diam terus,
tidak tahu harus berkata apa.
Iya. Ibu ngerti||, kata Bu Rini.
- I b u k u j u g a guru, kakakku juga guru||, kata Dilan
Iya. Dilan harus maklum dia m e m a n g begitu||, kata Bu Rini
Aku tidak bisa memaklumi guru yang begitu||, j a w a b Dilan
- K a m i j u g a gak suka dengan cara-cara dia||, kata Bu Rini
- S i s w a j u g a m a n u s i a ) , kata Dilan lagi
Iya, tentu ||
- H o r m a t i l a h orang lain kalau ingin dihormati||, kata Dilan
Kami m e n g e r t i ) , kata Pak Aslan
- H a r u s tahu, aku tidak melawan guru. Guru buatku, dia mulia. Sebagai guru, aku
hormat ke dia, aku hanya m e l a w a n S u r i p t o )
-Iya)
- S i a p a pun dia....), kata Dilan
-Iya)

- S i a p a pun dia, meskipun guru, jika tidak bisa menghargai orang lain. tak akan
dihargai ||
- I b u . mengerti kenapa kamu begitu)
- J a n g a n jabatan guru dijadikan alat kuasa untuk berbuat sewenang-wenang||. kata
Dilan Kepala Sekolah datang, aku berdiri untuk m e m b e r i t e m p a t dia duduk. Dia duduk di
samping Dilan.
- A d a apa, Dilan?!||, tanya Kepala Sekolah. Dia nampaknya sedang berusaha bicara
hati-hati, karena kuatir Dilan akan juga m e n y e r a n g n y a
- A k u tidak melawan guru, aku melawan Suripto yang semena-mena||
- K e n a p a dia? ||
Bapak harusnya tahu bagaimana perilaku dia. Kami tahu||
Iya, tapi Dilan tidak harus begitu ke dia||
- D i a boleh begitu kepada kami?||, Dilan nanya
- B e g i t u gimana?||
- D i a m e n j a m b a k bajuku. Kayak ga ada cara lain. Ini bukan cuma ke saya. Sudah
berapa orang kawan saya ditamparnya. Diperlakukan s e e n a k n y a ! . j a w a b Dilan. Jaman
dulu. di sekolah, guru m e n a m p a r siswa kayaknya sudah dianggap sebagai sesuatu y a n g
lumrah, jauh b e r b e d a dengan sekarang.
- M a a f . mungkin kamu membandel?||, tanya Kepala Sekolah
- G u r u itu digugu dan ditiru, kalau dia mengajariku menampar, aku j u g a akan
m e n a m p a r ||
- B a p a k bukan mau membela dia. Mungkin Pak Suripto tidak bermaksud begitu||,
kata Kepala Sekolah seperti sedang membela Pak Suripto.
- B a p a k tahu. waktu polisi datang ke sini? Pak Suripto bilang apa? Dia bilang: ini
bukan urusan sekolah. Bawa aja ini, sambil nunjuk ke saya. Dia juga biang kerok.
katanya||
- Y a sudah, kalau begitu nanti kita selesaikan ||, kata Kepala Sekolah
- B a p a k harus tahu, dia juga melakukan pelecehan. Ada siswa perempuan yang
ngadu ke saya||
Iya, iya. kan ini baru sepihak. Nanti kita p e r t e m u k a n !
Aku ingin bertemu dia. Kalau tidak, aku datangi rumahnya||
Iya. Pasti diusahakan bisa ketemu. Bisa damai ||
Habis itu. kami keluar dari Ruangan Guru, untuk masuk ke kelas masing-masing
y a n g sudah mulai pada belajar. Sebelum pergi ke kelasnya. Dilan bilang:
Aku bukan jagoan. Aku hanya melawan. Lia||
- Iya ||. j a w a b k u
- M a a f . Lia||
Iya, Dilan. Aku m e n g e r t i !

19. BUNDA
Seperti y a n g bisa kuduga, akhirnya Dilan mendapat hukuman skorsing. Dia tidak boleh
sekolah

selama seminggu.

Hari

Rabunya,

Ibu

Dilan datang ke sekolah. W a t i y a n g

m e m b e r i t a h u bahwa itu ibunya Dilan. Wati bilang mau m e n e m u i beliau, aku ingin ikut.
Boleh katanya. Kebetulan j a m pelajaran terakhir sedang bebas, karena gurunya tidak
bisa hadir.
Kami terpaksa nunggu di luar. karena Ibunya Dilan sudah keburu masuk Ruangan
Guru. Dia dipanggil untuk menuntaskan masalah Dilan b e r a n t e m dengan Suripto. T a k
lama kemudian Ibunya Dilan keluar. W a t i m e n y a m b u t n y a dengan m e n c i u m tangannya
dan aku pun begitu.
- S i a p a ini?||, Ibunya Dilan b e r t a n y a kepadaku
Milea, Bu||, j a w a b k u
- O h ya?||. dia sedikit terperangah, matanya hampir seperti mau m e m a n d a n g sekujur
tubuhku
Iya, Bu. Kenapa?||. kutanya
- O h ini....rupanya||, katanya seraya mengacakkan tangannya di atas pinggang
- K e n a p a gitu?||, tanyaku t e r s e n y u m
- A h . kau! Dilan sering cerita soal kamu. tau?||. katanya
- O h he he||, aku bingung harus j a w a b apa. Wati m e m a n d a n g k u sepert i heran.
- P u l a n g n y a kemana, Nak?||, dia nanya
- K e daerah jalan Banteng||, kujawab
- N a i k apa?||, dia nanya
- A n g k o t . Bareng t e m e n ||
- H a r i ini, ikut ibu saja, oke? Wati juga ikut ya?||
Wati ada janji... ||
- A h . sudahlah, ikut makan dulu. Milea juga. Oke?||
- N g . . h a y u . Wat?||, aku nanya Wati sambil m e n g g o y a n g k a n tanganku ke badannya
- H a y u lah. Jangan lama tapi..|i kata Wati ke ibu Dilan
- B e n t a r , Bu, mau ngambil tas dulu||, kataku
- E n g g a k belajar?||, dia nanya
-Ng...Gurunya gak ada||
- O h ya sudah. Lagi, ini sudah mau bubaran||, katanya sambil m e m a n d a n g j a m
tangannya.
Kami pergi dengan ibunya Dilan y a n g nyetir sendiri mobil Nissan Patrolnya.
- O h . ini n a m a n y a Milea ya hmm h m m hmmm?||. dia nanya
- H e he iya, Bu||
- D i l a n itu sering cerita soal kamu||
- H e h e j a d i malu||
-

Bogoheun tah!, kata Wati (Dilan cinta t u h )

- C e r i t a apa aja emang?||, kutanya


- A h banyak lah. tapi gak ibu denger. habisnya dia itu suka ngawur||
-

Enya. kata W a t i ( I y a )

- H a ha ha ngawur gimana?||
- K a t a n y a kamu suka makan lumba-lumba. Pasti dia bohong kan?||
- H a ha ha ha enggak||
- D i a bilang apa lagi itu. Katanya kamu berkumis. Orang secantik ini dibilangnya
berkumis||
- H a ha ha ha||
- Kita makan dulu ya||, kata ibu Dilan
-Siap!||, kata Wati
- I y a , Bu||

Mobil masuk ke halaman salah satu warung makan yang ada di daerah Buah Batu.
Setelah duduk, kami

langsung m e m e s a n makanan sesuai seleranya masing-masing.

Selagi menunggu makanan datang. Ibu Dilan cerita tentang p e r t e m u a n n y a dengan pihak
sekolah.

Tadinya

Dilan

mau

dipecat,

tapi

setelah

terjadi

nego,

akhirnya

diberi

kesempatan untuk tetap sekolah di situ, dengan masa percobaan selama sebulan.
Sambil makan. Ibu Dilan bilang, ya kita tidak bisa mengkritik tanpa lebih dulu
m e m a h a m i apa yang kita kritik itu. T e r m a s u k kita tidak bisa menghakimi anak remaja
tanpa kita m e m a h a m i kehidupannya. Orangtua y a n g seharusnya bisa m e m a h a m i anakanak. bukan sebaliknya. Jangan anak-anak yang dipaksa harus m e m a h a m i orangtua.
Anak-anak

belum

mengerti

apa-apa,

meskipun

tentu

saja

harus

kita

berikan

pemahaman.
- D i l a n sekarang di rumah?||, kutanya
- D i rumah||
Setelah habis makan. W a t i ijin pergi, karena sudah j a n j i a n sama Piyan.
Piyan y a n g pacarmu itu?||, tanya Ibu Dilan. Oh, Wati pacaran sama Piyan?. Aku baru
tahu.
- H e he he iya||
- K e n a p a tidak diajak sekalian?||
- D i a nunggu di sana||
- P e r l u diantar gak?||, Ibu Dilan nanya
- E n g g a k . Deket kok||
Wati pergi, setelah m e n c i u m tangan ibu Dilan. Di mobil jadi cuma aku dan ibu Dilan.
Dia bilang: Dilan itu anak k e e m p a t dari lima saudara. A y a h n y a lagi bertugas di T i m o r
Timur. Rumah dinasnya sih di Karawang. T a p i ibunya Dilan. bersama anak-anaknya,
harus tinggal di Bandung karena bertugas menjadi Kepala Sekolah di SMA.
- D i l a n manggil apa ke ibu?||
- D i a ? Dia manggilnya Bunda. Kamu manggil apa ke ibumu?||
- M |
- O h ya. itu juga bagus||
- L i a j u g a mau manggil Bunda. Boleh?'
- K e siapa? Ke ibu?||, dia menunjuk dirinya
-iyall
- Y a boleh. T a p i kalau lagi minta uang, Dilan itu manggilnya suka Bundahara||
Kok?||
Iya. Bendahara maksud dia ha ha ha||
- H a ha ha ha ha||
Dia itu. m e m a n g nakal. T a p i ya selama masih wajar, oke lah. Mudah-mudahan tidak
kelewat batas ||
Iya, Bunda||
- K a t a Dilan kamu pacaranya. Iya betul?||
- O h ? Dia bilang gitu. Bunda?||, aku t e r s e n y u m
- M u n g k i n dia ngaku-ngaku||
- G a apa-apa, Bunda||
- K a m u ini cantik||
- D i l a n juga, dia tampan|j
- Y a . Mungkin karena kamu suka||
- H e he he. Belok Kanan, Bunda||, kataku untuk menunjukkan jalan ke arah rumahku
Oke||
- B u n d a asli Bandung?||
Bunda lahir di Aceh, ikut suami ke Indonesia||
- A c e h kan Indonesia. Bunda?||, tanyaku
- H e h e becanda||

- S e k a r a n g ke kiri, Bunda||
- O k e . Cantik||
Setelah sampai di rumah, aku melihat ada m o t o r Kang Adi di halaman. Aku turun
bergegas, setelah m e n y a p a Kang Adi y a n g lagi baca buku di ruang tamu, aku langsung
masuk ke dalam rumah untuk mencari ibu. Entah m e n g a p a perasaanku seperti diluapi
oleh rasa gembira.
Bunda masuk, disambut oleh ibuku.
- O h ini

ibunya Dilan?||, ibuku m e n y a l a m i n y a

Iya. Ini, ibu Melia? Waaaaah!||, Bunda nanya


- Iya ||. j a w a b ibuku
- A k h i r n y a ketemu. Dilan, anakku, wah suka cerita terus soal Milea ini

||, kata

Bunda
- P a n g g i l Lia aja, Bunda||, kataku
- O h ya ya. Lia||
- S i l a k a n duduk dulu. Mau nyiapain minuman dulu||, kata ibuku sambil masuk ke
dalam
- G a k usah r e p o t - r e p o t . Sebentar kok||
Di ruang tamu jadi ada aku. Bunda dan Kang Adi.
Ini?||, tanya Bunda ke Kang Adi
- S a y a pembimbingnya Lia||
Kuliah?||
- I y a . ITB. Bu||, j a w a b Kang Adi
Oh. jurusan apa?||
- T e k n i k Industri||
- O h ya? Anak ibu j u g a ada yang di T e k n i k Industri ||
- D i ITB?||
Iya. Kenal Landin?||
- O h Bang Landin? Iya kenal. Bu. Dia senior||
- I t u anak ibu. Kakaknya Dilan, Lia||, kata Bunda sambil m e m a n d a n g k u
- D i sana juga, Bunda?||, tanyaku
-iyall
Tak

lama

kemudian

Ibuku datang m e m b a w a minuman,

ditemani Si

Bibi yang

m e m b a w a makanan.
- B a g a i m a n a bisa ketemu Lia?||, tanya ibuku
- D i sekolah. Tadi. Kebetulan||
"Oh||
Aku tadi ditraktir Bunda

||, kataku kepada ibuku

Aduh, makasih. Maaf, ngerepotin||, kata ibuku


- G a apa-apa. Seneng kok. Senang akhirnya bisa ketemu langsung sama orang yang
suka diomingin Dilan||, kata Bunda
- Y a sama! Lia j u g a sama, suka cerita soal Dilan. Seru katanya ha ha. Ngasih y a n g
aneh-aneh.
Ngasih apa Lia?||
-TTS
banyak

yang

udah

dia j a w a b

he

he

he,

cokelat y a n g

dianterin

tukang

koran,

||. kataku

- H a ha ha ha ha||, Bunda ketawa. ibuku j u g a


- B a n y a k sekali, Bunda. Seneng|| Kataku. Aku melirik sebentar ke Kang Aldi y a n g
nampaknya bingung harus ngapain
- D i a itu ya begitu. Di rumah juga ya begitu||, kata Bunda,|(Ya, maaflah kalau dirasa
m e n g g a n g g u ||
- E n g g a k mengganggu. Malah seru||, kataku
Tiba-tiba suara telepon rumah berdering. Si Bibi yang ngangkat. dari Dilan katanya
3 of 8

kepadaku sambil berbisik. Segera aku kesana meninggalkan kedua ibu yang bicara soal
keluarga dan ketentaraan suaminya.
Hey!||, kusapa dia
- S u d a h pulang sekolah?||
Iya. Tadi aku pulangnya ada y a n g ngantar||, kujawab
- D i a n t a r angkot?||
- B u k a n . Oleh orang y a n g aku suka. Kucintai||
- H e h e h e pasti kamu s e n a n g i
- S a n g a t senang sekali!. N a m a n y a j u g a diantar orang y a n g aku suka||
- H e he he. Pasti akan begitu||
- D i a n t a r siapa coba?||
- D i a n t a r orang yang kau suka kan?||
- C e m b u r u dong? Cemburu gak?|
- J a n g a n . Nanti merepotkanmu||. j a w a b n y a
- C o b a tebak siapa orangnya?||
- S u r i p t o ? ||
- I h ! Bukan||, j a w a b k u
-Nandan?||
- B u k a a a a n ! ! ! Kamu pikir aku suka ke dia?||
- A k u gak tau. Kan yang punya perasaan kamu||
- E n g g a k ! ! ! Ingin tahu gak siapa?||
- K a m u pasti akan ngasih tahu||
Iya. Aku...diantar sama Bundaaa! Ibu kamu||
Hah?||
- H e he he||
Kok bisa?||
- B i s a dong||
- K e rumahmu? Ngapain?||
Iya he he he. Nanti deh cerita||
- K e t e m u di mana?||
- D i sekolah. Tadi||
- B o l e h aku bicara dengan Bunda?||
- O k e . Tunggu ya||
Aku pergi ke ruang tengah untuk m e m b e r i t a h u bahwa Dilan ingin bicara di telepon.
Si Bunda ke sana.
- A k u ketemu Lia

Akhirnya. Aku ketemu Lia

||, kata si Bunda kepada Dilan,

dengan bicaranya sedikit bernada. Aku t e r s e n y u m mendengarnya. Si Bunda bicara


seperti m e l e d e k dan k e t a w a - k e t a w a seperti puas. Setelah itu dia kembali, katanya Dilan
ingin bicara lagi sama Lia.
Aku ke sana
-Ya?||, tanyaku
- I t u Ibuku, Lia||
Iya. Aku senang, Dilan||
- B i l a n g ke dia j a n g a n ngegosipin aku||
- S u d a a a a h h ha ha ha ha||
- S u d a h apa?||
- S u d a h digosipin||
- H a ha ha. Bilang apa dia?||
-Katanyaaaaaaaaaaa

kamu suka makan lumba-lumba!||

- H a ha ha ha ha ha||
-Katanyaaaaaaaaaaa....kamu berkumis! ||
- H a ha ha ha ha ha||

-Katanyaaaaaaaaaaa....kamu

he he he||

Apa. ketawa? ||
-Katanyaaaaaa....Aku pacarmu..he he he||
- H a ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha!!!!
II
- Katanyaaaaaaaaaa
"Apa

||

?||

Dilan? ||
-Ya?||
-Aku

rindu ||

- H e he he||
- B o l e h ? ||
- R i n d u ke siapa?'
- K e Dilan||
- S a m a ||
-Makasih||
- A k u j u g a rindu....ke Dilan||, katanya
-Ih!||
- H a ha ha ha ha ha. Iya, aku j u g a rindu ke Lia||
- H e he he he||
- R i n d u sebelum waktunya||
- H e h e h e h e matang sebelum waktunya||
Setelah selesai nelepon dengan Dilan, aku kembali nemui Bunda. Bunda pamit untuk
pulang.
Entah mengapa aku merasa berat m e m b i a r k a n n y a pergi dari rumahku.
Bunda bersalaman

dengan

ibuku

dan

Kang Adi. Aku salaman

dengannya

dan

m e n c i u m tangannya. Dia tanya:


- B o l e h Bunda menciummu?||
- B o l e h he he||
Boleh ya, Bu?||, dia nanya ibuku
- B o l e h he he he||, j a w a b ibuku
Bunda m e n c i u m keningku, dan kedua pipiku.
- C a n t i k anak ini||, katanya.
- H e h e h e makasih||, j a w a b ibuku
Habis itu aku memeluknya. Itu refleks. Bunda j u g a memelukku. Ada lelehan air mata
y a n g aku tidak tahu

m e n g a p a itu

ada.

Kamu

harus j a d i

aku, aku

kesulitan mau

mengatakan perasaanku saat itu. Kamu harus j a d i aku, pasti akan melakukan hal y a n g
sama.
- K e n a p a nangis, Nak?||, tanya Bunda, menatapku sambil m e m e g a n g kedua bahuku.
Kupeluk lagi dan nangis:
-Aku...senang, Bunda||, kataku. Padahal tadinya mau bilang:||Terimakasih sudah
melahirkan Dilan ||. Gak jadi. Malu.
Iya,

Nak!||, kata

Bunda sambil

m e n e p u k - n e p u k bahuku:

- B u n d a pulang ya||,

sambungnya.
Iya, Bunda. Hati-hati, Bunda||, sambil kuseka sisa air di mataku.
Si Bunda naik ke mobilnya. Sebelum benar-benar pergi, kira-kira baru beberapa
m e t e r berlalu, aku teriak:
- B u n d a a a ! Salam ke Dilan, Bundaaaaaa||
-Oke!||, j a w a b n y a , sambil melambaikan tangannya.
Aku kembali masuk, bersama ibuku y a n g bilang:||
- I b u n y a juga r a m e he he||
He he he. Lia senang||, aku ketawa

- K a p a n Ibu bisa ketemu Dilan?||. tanya ibuku


Nanti ya, ya||
Ibuku masuk ke dalam. Aku duduk di ruang tamu untuk meladeni Kang Adi. Tadinya
dia nawarin diri m e n j e m p u t aku di sekolah, tapi kubilang gak usah. Dia datang ke rumah
untuk m e n g a j a k aku pergi ke kampus ITB.
- K a n g , kayaknya Lia ga bisa pergi deh|!
-Kenapa?||
- C a p e k sekali||
- O h ya sudah||
- L a i n kali aja yaj|
Iya. Atau sekarang belajar aja? Yuk?||
- N a n t i aja deh||
- O h ya udah ||
- A k u n y a capek banget, Kang||
Iya ga apa-apa. T a d i lihat ibu itu riweuh pisan ya?||, katanya. Riweuh pisan itu
bahasa sunda, kira-kira artinya repot sekali|| dalam konotasi yang buruk.
Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia||
- B u k a n , maksudnya ibu-ibu banget||
Aku gak suka Kang Adi bilang begitu ke dia||. Aku mengulang kalimatku. Itu adalah
gaya Dilan kalau sedang menyerang.
Iya bagus. Ibu-ibu m e m a n g harus begitu|!
- K a n g , aku mau tidur dulu kayaknya ya?||
Oh ya udah. saya pulang aja kalau gitu||
-iyall
Pertemuanku dengan Bunda, adalah hal yang paling membuatku gembira. Lebih dari
itu, bahkan melalui dirinya, pengetahuanku akan Dilan j a d i makin bertambah. T a d i siang,
di mobil, aku sempat nanya ke Bunda:
- E m a n g Dilan belum punya pacar. Bunda?'
- H e h ? Bukannya kamu? He he he||
He he he. Iya kali. Bunda. Tapi. bukannya Susi pacarnya Dilan. Bunda?'
- S u s i a n a itu?||
Iya he he he||
- S s s t . Susi itu. p e n g e n sama Dilan ha ha ha||
Oh he he he. Dilannya mau. Bunda?'
- D i l a n n y a ? Kayaknyaaaaa

enggak tuh. He he he. Kayaknya sih||.

- H a ha ha ha. T a h u n y a enggak, Bunda?!


- K a u tahu waktu Susi datang ke rumah? Dilan kemana dia?||
- K e m a n a . Bunda?!
Sembunyi dalam lemari ||
- H a ha ha ha Bunda tahu?||
- T a h u laaaaah!||
- H a ha ha ha ha||
Kalau betul Dilan pernah bilang ke Bunda, bahwa aku ini adalah pacarnya, berarti
sejak itu Dilan sudah m e n g a n g g a p aku sebagai pacarnya. Aku senang, tapi sejak kapan
itu mulai? Kenapa tidak ada kesepakatan bersama? Kenapa tidak ada peresmian? Kenapa
tidak ada proklamasi? Atau Dilan menganggap itu gak perlu? Aku bingung.
Setelah shalat isya, aku coba nelepon Dilan, tapi yang ngangkat si Bunda. Dilan
sedang keluar katanya. Aku j a d i ngobrol sama Bunda.
- O h , Bunda di IKIP Bandung?||, tanyaku, di tengah-tengah obrolan. IKIP adalah
Institut Keguruan Dan Ilmu Pendidikan, sekarang UPI, Universitas Pendidikan Indonesia
Iya, beres kuliah balik lagi ke Aceh)
- N g a m b i l jurusan apa?||

- P e n d i d i k a n Bahasa dan Sastra I n d o n e s i a i


Wah suka sastra dong||
- D i l a n tuh suka sastra||
- O h ya? ||
Iya dia. Waktu S M P sampai pernah pergi ke Depok, minta anter pamannya, p e n g e n
ketemu Rendra katanya, ke mana itu? Bengkel Teater. Dia itu e m a n g suka Rendra||
Rendra penyair itu, Bunda?||
Iya. W a k t u

SMP,

sampe

nonton

pentas

dramanya

segala. A p a

itu judulnya,

Panembahan Reso kalau gak salah. Dia j u g a suka bikin puisi ||


- O h ? Pengen baca puisinya he he he||
Iya, boleh. Lia ke rumah deh||
- P e n g e n . Bunda||
-Kapan?||
- K a l a u diajak Dilan||
Iya, nanti Bunda bilang ke Dilan suruh ajak kamu ke rumah ya?||
Asiikk. Bener ya. Bunda||
-lya||
- P e n g e n baca p u i s i n y a )
Iya boleh. Nanti kalau ke rumah ya? Kayaknya dia m e m a n g suka sastra. Makanya
kamu d e n g e r deh. gimana kalau Dilan ngomong||
-Kenapa?||
- B a h a s a Indonesianya itu. baku banget||
Ha ha ha||
- K a u . Aku. Mengapa. Apakah....||
- H e he he he iya. Tapi khas, Bunda'
Waktu SMP, kakaknya kan guru. Itu. suka bawa buku-buku perpustakaan ke
rumah ||
- B u k u apa, Bunda?!
- I t u , Sutan T a k d i r Alisyahbana, Idrus, Iwan Simatupang. Kau tauk kan?||
- T a h u . Bunda ||
- N a h , Dilan baca semuanya. Bahasanya itu, kayaknya kena pengaruh deh. Bisa juga
mungkin karena keluarganya kan banyak dari Sumatera||
- D i l a n suka baca ya, Bunda?!
- P a s ulangtahun dulu, ayahnya ngasih hadiah Tafsir Al-Azhar, langsung dia baca
semuanya)
- I t u buku. Buncla?||
Iya. Itu buku tafsir. 30 buku, karya H a m k a )
- S e l a i n buku, Dilan suka apa, Bunda?!
- S u k a apa ya? Tapi tiap malam, dia itu, main gitar di k a m a r n y a ? )
- D i l a n bisa gitar. Bunda? Baru t a h u )
- P u n y a gitar dia. Katanya punya group banci segala, tapi Bunda ga tau soal i t u )
- W a a h Dilan punya group band?||
- K a t a adiknya b e g i t u )
- E h , Lia j u g a pernah lihat kartun Dilan di k o r a n )
Iya dia suka ngirim. Kau tauk uang h o n o r n y a dia beli cokelat buat s i a p a ? )
- B u a t siapa. B u n d a )
- D i a bilang buat kamu ha ha ha h a )
- O h ya?! Dilan gak b i l a n g )
- K e Bunda b i l a n g )
- J a d i terharu, Bunda)
- B u n d a kasih tau ya, Dilan itu suka sama kamu. Lia he he h e )
- J a d i malu. Sehari-harinya gimana sih. Bunda?)

- S i a p a ? Dilan?||
-lya||
- Y a gitu aja. T e m a n - t e m a n n y a

suka pada datang ke

rumah.

Pada kumpul di

kamarnya ||
- P a s t i rame||
- B u k a n rame. Berisik||
- H a ha ha ha||
- D i kamarnya itu, dia pasang poster Ayatullah Khomeini||
- O h . Presiden Iran ya, Bunda?||
- B u k a n . Itu Imam Besar. Imam Besar Iran. Kalau Presidennya kan Bani Sadr||
Itu idolanya mungkin. Bunda||
Iya mungkin, dipasang sejajar dengan siapa itu y a n g ngelel, si Mick Jagger||
Iya. Mick Jagger. Rolling Stones||
Iya. Dia itu aneh. Masih S M A padahal, minta ke ayahnya langganan majalah
T e m p o ||
- H e he he. Kalau Lia sih majalah Gadis. Kalau Bunda?||
- K a l a u Bunda sih majalah Kartini||
- I b u Lia juga. Sama||
Ibu-ibu laaah||
- H e he he iya. Dilan suka makanan apa, Bunda?||
- C u r i g a nih Bunda, nanya-nanya terus soal Dilan||
- H a ha ha ha ha||
Kamu b e n e r a n pacaran yaaaaa?||
- H e he he. Tanya Dilan aja deh, Bunda||
- K e n a p a harus tanya Dilan?||
- H e he he Lia sih terserah Dilan? Takut salah||
Kok? ||
- B i a r Dilan y a n g menjelaskan ha ha ha||
- K a m u takut sama Dilan?||
- E n g g a k . Bunda. Dia baik||
- Y a syukurlah. Udah, pokoknya, nanti Bunda nyuruh Dilan ajak kamu ke rumah ya?||
Iya, Bunda. Mau. Mau. Asik||
Bertambah lagi informasiku tentang Dilan. Aku senang. Selama ini Dilan tidak
pernah bilang tentang siapa dirinya. Tadinya aku j u g a mau nanya pendapat si Bunda soal
Dilan y a n g j a d i anggota geng motor, tapi gak tahu kenapa, rasanya gak enak mau nanya.
Mungkin nanti aja deh di kesempatan yang lain.
Aku jadi merasa makin akrab dengan Bunda. Ingin rasanya ada waktu bisa berdua
dengannya, bicara banyak terutama soal Dilan. Mungkin bisa. kalau aku usahakan. Si
Bunda kayaknya akan selalu siap untuk mau. Ah. kebayang olehku, seandainya aku
benar-benar

pacaran

dengan

Dilan.

kepada

hubungan, kalau bukan ke dia, ke si Bunda.

siapa

lagi

aku

curhat,

soal

masalah

20. JALAN-JALAN
K a m i s pagi. pas aku m a u sekolah, ada Kang A d i s u d a h d a t a n g ke rumahku. Aku kaget, ada
apa?.
Dia m a m p i r , k e b e t u l a n l e w a t r u m a h k a t a n y a . Kang A d i n a w a r i n aku ikut dia ke
sekolah, s e k a l i a n ada perlu katanya, mau ke d a e r a h di d e k a t sekolahku. Oh? M e s k i p u n
aku m a l e s , a k h i r n y a ikut j u g a .
S e s a m p a i n y a di sana, aku m i n t a d i t u r u n i n di p e r t i g a a a n j a l a n , m a k s u d n y a biar aku
t e r u s i n d e n g a n j a l a n kaki b e r s a m a - k a w a n - k a w a n k u y a n g lain. Kang Adi bilang:
- K e n a p a g a k s a m p a i sekolah?||
- G a apa-apa||
- T a k u t ada y a n g c e m b u r u ya? ||
-Siapa?||
Dilan!?||.
Heh? A k u k a g e t . Oh. dia tahu soal Dilan. w a k t u ada si Bunda ke rumahku.
- E n g g a k . Lia h a n y a p e n g e n j a l a n aja||, kataku
- K a l i , t a k u t dia c e m b u r u he he he||
- E n g g a k ||
Emang dia p a c a r m u ya!?'||
Kalau i y a k e n a p a ? kalau e n g g a k kenapa?):
- G a apa-apa. Cuma n a n y a he he he. Ya, sud, l a n g s u n g ya||, kata Kang A d i p e r m i s i
mau pergi
Iya. M a k a s i h . Kang||
Kang A d i pergi, aku j a l a n sendiri d e n g a n p i k i r a n s e o l a h - o l a h s e d a n g b i c a r a d e n g a n
K a n g A d i : Setahuku. Dilan b u k a n c o w o k c e m b u r u a n . Justeru Kang A d i y a n g m e n u r u t k u
s e d a n g c e m b u r u ke Dilan. Dilan itu. Kang A d i . d e n g e r ya, b a h k a n w a k t u Dilan m e n g i r a
aku

pacaran

sama

Nandan.

Dilan

malah

bilang k e p a d a

kawan-kawannya:

-Jangan

g a n g g u Milea. dia sudah p a c a r a n d e n g a n Nandan||. A p a kau bisa begitu, kang Adi?


K a n g Adi pergi, ingin r a s a n y a aku b i l a n g ke dia, untuk tidak lagi n e r u s i n n g e b i m b i n g
aku b e l a j a r . T a p i A y a h pasti gak a k a n setuju. M a l a h kata Ibu, A y a h sudah t e r l a n j u r ngasih
u a n g k e Kang Adi untuk b a y a r s e l a m a dia m e m b i m b i n g aku b e l a j a r .
Aku b e r j a l a n ke sekolah, b e r j a l a n m e n y u s u r i j a l a n itu, j a l a n Dilan dan M i l e a . Jalan
k e n a n g a n awal aku b e r j u m p a d e n g a n n y a . B e r j u m p a d e n g a n Sang Peramal. T a p i hari itu
aku b e r j a l a n d e n g a n e n g g a n , e n t a h m e n g a p a , s e d i k i t k u r a n g s e m a n g a t , m u n g k i n k a r e n a
tahu b a h w a s a m p a i hari sabtu, Dilan tak akan ada di sekolah.
Pada w a k t u j a m istirahat, aku p e r g i ke k a n t i n b e r s a m a W a t i dan Revi. Kami d u d u k di
luar kantin m e n i k m a t i kupat tahu M a n g Endang. Datanglah r o m b o n g a n Susi y a n g p a d a
m a u m a s u k kantin.
- E h , VVat, Dilan sehat?||, tanya Susi ke W a t i . K a y a k n y a dia tahu d e h W a t i itu s a u d a r a
Dilan.
Entahlah
- O h , sehat||
- B i l a n g ke dia, salam ya||
Iya, kalau k e t e m u ya||
- B i l a n g , rindu j a l a n - j a l a n lagi gitu he he||
-iyall
Emang udah j a d i a n , Sus?||, t a n y a t e m a n n y a
- M a s a ' h a r u s bilang-bilang||, j a w a b Susi. A k u m e l i h a t m a t a W a t i m e m a n d a n g k u .
- T r a k t i r siah||. kata t e m a n s a t u n y a lagi.
- K a l e m . M a k a s i h y a . Wat||
-Sama-sama||, j a w a b W a t i . lalu m e r e k a pergi.
- S i Pikaseiibeuleun, kata W a t i . A r t i n y a : - O r a n g m e n y e b a l k a n '

- H e he he||, aku ketawa. bersamaan dengan datangnya Piyan


-Hey||, kusapa dia
- H e y , hey. hey||. kata Piyan. Kalau Wati senang ada Piyan. aku j u g a sama
- Y a n , traktir||, kata Wati
- T r a k t i r w a e - , j a w a b Piyan, artinya: Minta traktir terus||. Aku ketawa.
- G a ada si Dilan mah. kamu ke sini!||, kata Wati
Aku

makan

apa

ya?|j.

tanya

Piyan

seperti

kepada

dirinya

sendiri,

tanpa

menghiraukan omongan Wati. Aku senyum sendiri merhatiin tingkah Piyan dan Wati.
Lucu dan romantisnya sederhana tapi cukup. Aku gak tahu sejak kapan mereka pacaran.
Tapi kayaknya baru deh.
Piyan makan kupat tahu juga. sama seperti kami. Kami makan sambil ngobrol ngalor
ngidul.
Tidak lama kemudian, datang lagi rombongan Susi, yang baru selesai j a j a n di kantin
dalam.
- Y a n ||
- H e y . Sus!||
Bisa ngobrol sebentar, Yan?||
Piyan lagi makan||. j a w a b W a t i
- B e n t a r kok||, kata Susi
- G a apa-apa||, kata Piyan seperti bersiap mau berdiri, tapi tangan Wati meraih
tangan Piyan:
- M a k a n dulu!||. katanya
- B e n t a r kok, Wat||, kata Susi
- K u b i l a n g makan dulu!||. kata Wati lagi ke Piyan dengan nada sedikit tinggi
- A t a u nanti pas pulang. Yan||, Susi bicara lagi
Iya, Sus||. j a w a b Piyan
- G a k boleh!||, kata Wati sambil makan
- K a m u kenapa Wati?||, tanya Susi
- A p a urusanmu?!||, Wati balik nanya
- E h , kok marah? Urusan apa?||, tanya Susi
- K a l a u aku marah mau apa?||, Wati balik nanya
- U d a h ah. apa sih?||, timpal Piyan. Aku sih no c o m m e n t . Kupandang Susi yang
kebetulan sedang m e m a n d a n g k u juga. Matanya seperti menyiratkan perasaan tak suka.
- J a n g a n marah lah. Wat||. kata t e m a n Susi ke Wati
Apa!!!?||, tanya Wati sambil dia dongakkan kepalanya kepada t e m a n n y a Susi itu
- U d a h . udah. Selesai. Gak boleh berantem||, Piyan berdiri seperti orang y a n g mau
melerai
- S a b a r . Wat||, kataku sambil kupegang tangannya
- S i a p a lu!

Ikut campur?||, tanya Susi kepadaku, tiba-tiba, membuat aku kaget,

kenapa j a d i ke aku?
- G a apa-apa||, j a w a b k u
- U d a h , Sus||, kata t e m a n n y a berusaha m e n g a j a k Susi pergi
- L u , yang pengen ke Dilan ya?||
- S u s , udah! ||, kata t e m e n n y a yang lain. Aku mengambil sikap diam. N a m p a k Piyan
masih sedang berdiri, bagai mengatur situasi untuk tidak j a d i kacau, sambil terus
m e m e g a n g tangan Wati.
Syukurlah, kemudian Susi bisa diajak pergi oleh

kawannya. T a p i sebelum

itu.

sebelum Susi berlalu, dia bilang ke aku:


- A w a s lu! ||
-

Naon ngancam-ngancam?||, Wati nanya ke Susi yang mulai berlalu. Artinya:||Apa

ngancam-ngancam?||
-Gandeng!||, j a w a b Susi dari jauh. Artinya: Berisik||

Maneh

nu gandeng

mah!-, Wati

berusaha

n g o m o n g ke

Susi

yang

sudah jauh.

Artinya:||Kamu y a n g justeru berisik||


- K a m u kenapa?||, tanya Piyan ke Wati, sambil duduk
- A k u gak suka Susi!!||, j a w a b Wati, Awas kamu. kalau nemui dia!!||, sambung Wati.
Kejadian di kantin masih terus saja kepikiran, sampai aku sudah ada dalam angkot
untuk pulang.
Lupa, harusnya tadi aku bilang ke Wati, untuk j a n g a n sampai Dilan tahu soal itu.
Oke. aku harus nelepon W a t i kalau sudah sampai rumah.
Di angkot, aku duduk paling belakang, sehingga bisa melihat ada motor, y a n g melaju
di

belakang mobil

angkot.

Pengendaranya

adalah

Dilan

yang

bisa

melihatku.

Dia

berpakaian bebas dengan j a k e t j e a n s lusuhnya, memandangku, sambil telunjuk tangan


kirinya itu digerak-gerakkan ke arah bawah. Kukira itu k o d e untuk menyuruh aku turun.
Aku bilang kiri|| untuk m e m i n t a sopir menghentikan angkotnya. Aku turun dan
bayar.
Kudatangi Dilan yang sudah berhenti di tepi jalan.
-Hey||, kusapa dia
Aku tadi ke sekolah||
-Ngapain?||
Nyari kamu||
- A k u gak tahu||
- S e k a r a n g tahu||
- H e he he iya||
Aku pernah meramal kamu nanti akan naik motorku. Ingat?||
~ iya II
- B a n t u aku||
- B a n t u apa?||
- Mewujudkannya||
- H a ha ha||
Mau bantu?||
Ng...Mau!||
Aku suruh, atau kau naik sendiri?||
- S u r u h ! ||
Ikut aku, Lia||
Kalau gak mau?||
- K a m u ingkar janji||
Kok?||
- T a d i kamu sudah bilang mau||
- H a ha ha ha||, aku ketawa sambil naik motornya. Sebelum jalan, Dilan nanya:
Aku bingung, kubawa jalan-jalan dulu. atau langsung kubalikin ke dealer?||
-Siapa?||
- K a m u ||
- H e h ? Emangnya aku kendaraan? ||
- H a ha ha ha. Katanya, perempuan gak suka ditanya. Ya udah. Langsung kubawa
jalan-jalan aja||
Kemana?'
- J a n g a n tahu. gak perlu, yang penting berdua sama kamu||
- H e he he. Ini mau j a l a n apa enggak?)
- M a u . tapi kamu j a n g a n meluk||
- E n g g a k ||
- K e c u a l i kau mau||
- H a ha ha mau!!||
Kemudian kami jalan. Itu adalah hari y a n g kuingat sebagai hari pertama kalinya aku
3 of 7

naik m o t o r Dilan. Aku tidak tahu kata-kata apa yang tepat untuk mengungkapkan rasa
senangku, mudah-mudahan kamu bisa tahu bagaimana perasaanku.

Berdua dengan

Dilan. menyusuri jalan Buahbatu, lalu belok kanan ke arah jalan Laswi. Enggak tahu mau
dibawa ke mana. Terserah Dilan.
- S u d a h makan?||, Dilan nanya
- P e r e m p u a n gak suka d i t a n y a )
- H a ha ha! Oke, kita makan dulu||
Kemana?||
- P e r e m p u a n gak suka ditanya. Lebih suka banyak n a n y a )
- H a ha ha ha terserah KAU lah, Gengster!!)
- H a ha h a )
Akhirnya, kami milih makan bakso, di Baso A k u n g ) . Itu warung tenda. Dulu
lokasinya di jalan

Banda, dekat

GOR Saparua.

Di

sana sedang tak banyak orang,

maksudnya cuma ada tiga orang sedang makan dan bicara berketawa.
Kami masuk dan kuawali dudukku sambil sebentar memandangnya. M e m a n d a n g
Dilan y a n g j u g a mulai akan duduk. Aku nyaris tak percaya bahwa hari itu akan ada: Ah,
aku makan berdua dengan Dilan.
Dilan pesan Bakso Kuah, aku pesan Bakso Yamin.
Aku suka, m e r e k a bisa m e n g e n a n g pahlawan dengan b a k s o ) , kata Dilan, suaranya
pelan berbisik sambil m e m a j u k a n mukanya agak sedikit ke arahku
Caranya?)
- D i a namai Bakso Y a m i n )
-Kok?)
- A k u j a d i inget M u h a m m a d Y a m i n )
- H a ha h a ) .
- H e he h e )
- K a l a u Bakso Kuah?), kutanya dia
- I t u akan m e m b u a t aku ingat

- I n g a t apa?)
- A k a n membuat aku ingat, ke kamu. aku pernah makan bakso kuah sama kamu. di
sini)
- H e he h e )
Angin berhembus, sedikit agak kencang, m e m b e r i kepastian tentang perlunya daundaun pohon damar itu berguguran, untuk aku merasa romantis dalam kesenduan.
- K a u lihat orang itu..), kata Dilan sambil m e m b e r i kode. dengan mukanya, untuk
aku melihat kepada seorang laki-laki dan wanita berhadapan, yang duduk agak j a u h di
sana. Mereka baru usai dari makan, dan ngobrol sambil tangannnya berpegangan. Tapi
sebelum kutahu maksud Dilan. bakso pesanan sudah datang, dan disimpan di depan
kami.
- K e n a p a orang itu?), kutanya dengan suara pelan sambil mulai mengaduk bakso
Aku suka laki-lakinya||, j a w a b Dilan sambil mengaduk juga baksonya
-Heh?!)
- B u k a n . Laki-lakinya, kayaknya dia gak mau, tangan pacarnya itu h i l a n g )
- T a h u n y a ? ) , kataku, dengan suara y a n g sama pelan, sambil s e n y u m ke dia
- M a k a n y a dia pegang t e r u s )
- H a ha h a )
-Heeeh...Jangan

ketawa),

perintahnya

dengan

suara

pelan

lalu

menyuapkan

makanan ke mulutnya
- K e n a p a ? ) , tanyaku sambil merapikan rambutku.
- N a n t i laki-laki itu j a d i suka ke k a m u )
- K e n a p a e m a n g ? ) , tanyaku sambil menyuapkan makanan, sedikit, karena merasa
kikuk makan di depannya

Ketawamu bagus||
He he ketawa ah||
Terserah! Nanti aku b e r a n t e m dengan dia||
Karena? ||
- R e b u t a n ||
- H e h e he. Kamu y a n g m e n a n g )
-Karena?||
- A k u ingin kamu yang menang he he he||
Kamu tahu tidak? Saat itulah aku ingin nanya ke Dilan, untuk dapat kepastian,
apakah aku dengannya sudah pacaran atau belum? Mungkin buatmu itu gampang, ya aku
juga sudah lama berencana mau nanya soal itu, kelak, kalau b e r j u m p a dengan dia. Tapi
ketika sudah ada di depannya, kenapa j a d i seperti susah kuungkapkan?
Atau sudah tak perlu lagi kutanyakan, tinggal kuanggap sudah. Bisa begitu, tinggal
jalan. Tapi akan lebih afdol lagi kalau resmi. Aku j a d i punya hak untuk mengklaim Dilan
sebagai pacarku, dan dia juga begitu. Aku yakin kamu mengerti maksudku.
Dilan berdiri dan bergerak mengambil kerupuk di dalam kalengnya.
Ini buat kamu||, katanya
Makasih||
Awet-awet||
- S a m p a i besok? He he he||
Sampai malam. Sekarang dimakan setengahnya. Sisanya buat di rumah, makan
malam ||
- H e he he kan bisa beli lagi?||
- E n g g a k , harus itu. Nanti aku minta plastik. dibungkus||
Serius ini? He he he||
-iyall
- Y a udah||, kupotong kerupuk itu j a d i dua, Yang ini buat malam he he he||,
sambungku sambil kupandang Dilan. Setengahnya kumakan, setengah lagi kusimpan di
sisi piring pisin.
Sehabis makan, kami pergi.
Dengan

pohon-pohonnya

bunganya y a n g bagus,

yang

Menelusuri jalan dengan langitnya y a n g mendung.


rindang,

di

karena itu Oktober,

sepanjang

perjalanan.

Dengan

m e m a n g sedang musimnya.

bunga-

Waktu itu,

Bandungnya masih sepi, belum banyak kendaraan. Jalan juga belum lebar dan masih
tentram. Cobalah ke Bandung pada tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh, kau
akan kecewa dengan keadaan sekarang Aku gak tahu mau dibawa kemana, dan gak mau
tahu, aku hanya ingin berdua dengan Dilan hari itu. Siapa pun. j a n g a n ada yang bilang
tidak boleh, termasuk kamu, juga Susi, j u g a Beni, Kang Adi. Nandan. Suripto. dan lainlain. karena itu pasti akan membuat aku sedih.
Senang sekali rasanya bersama orang yang kuanggap bisa m e m b e r i k u penghiburan.
T e n a n g sekali rasanya bersama orang y a n g kuanggap bisa m e m b e r i k u perlindungan.
Riang sekali rasanya bersama orang y a n g aku rindukan bisa berdua denganku. Biarkan
aku memilih dan memiliki kesenangan sendiri. Dia adalah Dilanku. j a n g a n diambil.
M o t o r melaju dengan pelan d i j a l a n T e l a g a Bodas. Itu saat Dilan akan m e n g a n t a r aku
pulang
Itu pohon||, kata Dilan di atas motor, sambil nunjuk satu pohon. Dia m e m a n g
bilang, saat itu, ingin j a d i guideku, katanya biar lebih kenal Bandung
Wow||, j a w a b k u sambil senyum, pura-pura terperangah seolah aku baru tahu
pohon
Itu langit!||, dia angkat telunjuknya ke atas
Mendung||
Iya. Itu Mang Jajang||, Dilan menunjuk tukang dagang di pinggir jalan
- K a m u kenal?||

- K i t a namai aja Jajang||


- H a ha ha||
Itu uang! ||, Dilan n u n j u k b a p a k - b a p a k y a n g s e d a n g j a l a n di t r o t o a r
Mana?|, k u t a n y a
- D i d a l a m kantongnya||
- T a h u ada u a n g n y a ? !
- K i t a a n g g a p begitu||
- K i t a a n g g a p u a n g n y a semilyar||
- J a n g a n , nanti dia kecewa||
Kenapa? ||
- P a s d i r o g o h , k a n t o n g n y a kosong||
- K a n kita lagi a n g g a p - a n g g a p a n ih!?||
- D i a ingin nyata||
- H a ha ha||
Ini kamu||, dia m e n u n j u k k u d e n g a n m e n g a r a h k a n t e l u n j u k n y a ke b e l a k a n g
- A k u baru tahu||, kataku sambil s e n y u m
- P e m a k a n lumba-lumba||
- H a h a h a k a m u b e n e r a n b i l a n g begitu k e B u n d a ? !
-Iya||
- M m m . . . k a m u b e n e r a n bilang aku b e r k u m i s ke Bunda?||
-iyall
Mmmm

Kamu beneran bilang

aku p a c a r m u k e Bunda?'

-Iya||
- E m a n g kita pacaran?||
-iyall
A k u langsung d i a m m e n d e n g a r dia bilang iya||. Aku l a n g s u n g b i n g u n g g a k tahu aku
h a r u s n g o m o n g apa. Bisakah itu k u a n g g a p Dilan s e d a n g n y a t a i n ? Bisakah itu k u a n g g a p
b a h w a d e n g a n s e n d i r i n y a k a m i resmi p a c a r a n sejak itu? Ih, Dilan!
- K e n a p a diam?||, t a n y a Dilan
- E h ? Enggak. Ga apa-apa||
W a k t u tiba di rumahku, ada Bang Faris. p a m a n k u , s e d a n g m e n g i k a t satu dus di ujung
b e l a k a n g j o k m o t o r n y a , e n t a h l a h a p a isinya. Bang Faris lalu bilang b a h w a ibu n a n y a i n
aku. A k u j a w a b ada acara di r u m a h t e m a n . K u p e r k e n a l k a n Dilan k e p a d a n y a .
- M a u masuk dulu gak?||. k u t a n y a Dilan
- L a n g s u n g aja||
- O k e , M a k a s i h ya||
S a m a - s a m a ||
Setelah p e r m i s i ke aku d a n Bang Faris. Dilan lalu pergi.
-Pacarmu?||, Bang Faris n a n y a
-Teman||, j a w a b k u . Ah, k e n a p a h a r u s bilang Dilan c u m a t e m a n ? Gak e n a k r a s a n y a .
Awas, dia nakal||
- D i a baik||
- K a m u ikut besok?||
-Ke?||
- A c a r a syukuran||
Syukuran apa?||
- D i r u m a h Adi. A y a h , ibu j u g a ikut||, j a w a b n y a . A d i y a n g dia m a k s u d adalah Kang A d i
- O h ? Besok?||
Iya, m a l a m ||
Syukuran a p a sih?||
- I t u , s y u k u r a n b u k a t o k o di BIP||, j a w a b n y a . Bandung Indah Plaza m e m a n g baru
launching bulan A g u s t u s k e m a r e n .

- K o k baru ngasih tahu?||


- T a n y a ibu deh. T a d i nyari sampai nelepon ke sekolah||
- O h ? Ya udah||
Aku masuk dan kudapati ibu marah karena aku pulang telat. Marah sedikit, tapi itu
juga marah.
Kubilang terus terang bahwa aku habis jalan-jalan sama Dilan. Ibu bilang kalau
pulang telat aku harus kasih khabar dulu ke rumah.
Ibu

nanya

menyinggung

hubunganku

dengan

Beni.

Aku

ingin

bilang

bahwa

hubunganku dengan Beni sudah lama berakhir, tapi gak jadi. gak usah. Jadi kujawab
baik-baik saja. Ibu m e m a n g belum tahu. belum kukasih tahu. Maksudku, butuh waktu
y a n g tepat untuk aku ceritakan.
Malamnya
diselenggarakan

Kang
di

Adi

nelepon.

rumahnya.

dia

bilang

soal

acara

Dia m e m i n t a aku datang,

syukuran

yang

akan

katanya sekalian kenalan

dengan anggota keluarga Kang Adi.


- I n s y a Allah, ya Kang||
- M a u nyiapin makanan khusus buat Lia||
- G a k usah, Kang. Ngerepotin||
- B u a t Lia sih e nggak? |
- G a k usah, Kang||
- P o k o k n y a istimewa. Masakan super istimewa||
Samain aja dengan yang lain||
Ini saya lho y a n g masaknya. Gini-gini juga bisa masak he he ho||
Besok malam ya?', kutanya
Iya, datang ya. Pokoknya ada makanan istimewa buat Lia||
- M a k a s i h . Insya Allah, ya Kang||
- A t a u mau kujemput?||
- I k u t ayah kayaknya. Kang||
- P o k o k n y a ditunggu. Mama j u g a bilang: Lia ajak ke sini||
Mama...? M a m a Kang Adi?||
Iya. M a m a saya||
-Oh||
- Y a . sekalian kenalan lah. Tak kenal maka tak sayang kan?||
Iya. Insya Allah||
Seusai Kang Adi nelepon. aku pergi ke dapur untuk makan, dengan pikiran dipenuhi
banyak hal tentang Dilan. termasuk j a d i ingat kerupuk. Kuambil kerupuk yang tinggal
setengah itu, dari dalam tas sekolahku, dan kumakan bersama makan malamku, sambil
senyum: Aku habiskan ya, Dilan! Terimakasih kerupuknya. Enak.

21. SYUKURAN
Tadi. di sekolah, aku gak s e m a n g a t . Selalu begitu s e j a k s e k o l a h g a k a d a rasa Dilannya.
T a p i tadi aku k e t e m u Piyan. d i t e m p a t t u k a n g p h o t o c o p y . dan n g o b r o l soal W a t i y a n g izin
g a k m a s u k s e k o l a h k a r e n a sakit. Juga n g o b r o l soal Dilan. Pastilah itu.
- P o k o k n y a cuma k a m u y a n g t a h u y a aku s a m a Dilan? M a k s u d k u aku mau s a m a
Dilan he he he||
- H e h e h e iya. Dilan k a n gak suka kalau p a c a r a n diumum-umumin||
- D i l a n bilang gitu?j|
Gak perlu kata dia sih. gak perlu o r a n g tahu||
- B i l a n g gitu ke kamu?||
Iya. Dia m a h c u r h a t n y a ke saya||, j a w a b P i y a n
"Oh||
- S D . S M P . aku b a r e n g s a m a Dilan terus||, kata P i y a n
- O h ya? ||
- D i l a n p e r n a h p a c a r a n gak?||, k u t a n y a
W a k t u SMP. p e r n a h s a m a Hemi||. j a w a b n y a
- P u t u s kenapa?||
T a n y a langsung Dilan aja. T a k u t salah)!
Iya. K a t a n y a suka p a d a k u m p u l ya di r u m a h Dilan?||.
~ i y a II
Ngapain?||
- P a l i n g g i t a r - g i t a r a n . M a i n d o m i n o . J a g o a n dia[|
D o m i n o itu apa?||
Main gaple||
- O h . Aku p e n g e n ikut n g u m p u l

||

- T a p i kan itu malem||


- K a n bisa izin dulu k e ibu. Bilang n g i n e p d i r u m a h n y a W a t i h e h e he. T e t a n g g a a n .
kan? ||
-iyall
Bikin acara y u k sama Dilan? ||
- M a l a m m i n g g u suka n y a t e d i b e l a k a n g rumahnya||
- S a t e a y a m ya?||
- A p a aja||
A y a m n y a dari mana?||
- Y a beli lah||
- K a t a n y a p e r n a h n g a m b i l a y a m i b u n y a Wati?||
- H a ha ha ha iya, sekali. Kok tahu?||
- K a t a W a t i ha ha ha||
- H e h e he||
- T a h u a y a m n y a diambil, t e r u s apa kata ibunya Wati?||
- Y a , ga a p a - a p a . Gitu aja. Kan saudaranya||
Oh. w a k t u S M P Dilan p e r n a h pacaran. K e n a p a putus ya? A p a k a h Dilan n y e l e w e n g ?
Siapa tadi n a m a n y a ? H e m i . Seru e n g g a k ya Dilan p a c a r a n s a m a H e r m i ? Sedikit ada
cemburu, m e s k i p u n h a r u s n y a aku sadar, toh aku j u g a p e r n a h p a c a r a n dan putus. Iya sih.
Selain itu. t a d i j u g a k a m i o b r o l k a n soal Susi, tapi kata Piyan: sudah tidak perlu
diambil pusing.
Ya sudah! Y a n g p e n t i n g Dilan g a k m a u sama Susi.
Sorenya,
rumahnya

dengan

Kang

Adi.

m o b i l ayahku,
Sopirnya

Bang

aku

pergi

Faris.

b e r s a m a ayah,

Kamu

pasti

tahu,

ibu,

dan

meskipun

adikku,
aku

ke

ikut.

s e b e t u l n y a aku malas. Kata ibu. m e n d i n g a n ikut aja. g a k enak. A k u nurut. Padahal aku
lebih suka di rumah, dan m u n g k i n akan d a p a t t e l e p o n dari Dilan.

Kami datang lebih awal, karena Ayahku, y a n g diwakilkan kepada Bang Faris, adalah
pihak yang menjadi rekan bisnis ayahnya Kang Adi, sehingga otomatis kami m e n j a d i
bagian dari panitia penyelenggara acara syukuran itu.
Sebelum magrib, kami sudah tiba di sana. A y a h ngobrol dengan A y a h n y a Kang Adi di
Paviliun, Ibu dan adikku juga. Kang Adi m e m i n t a aku untuk membantu ibunya di dapur
y a n g sedang sibuk menyiapkan makanan. Aku nurut, kau tahulah, pasti dengan terpaksa.
Di dapur, tidak cuma ada aku. Kang Adi dan ibunya, tapi ada j u g a tantenya dan
seorang ibu. y a n g aku gak tahu siapa dia. Pada sibuk nyiapin ini itu. Tugasku m e n g h e k t e r
dus kertas sambil duduk di lantai. Dus itu akan dipakai untuk t e m p a t makanan y a n g
akan dibawa pulang para tamu. Aku tidak kerja sendiri, tapi ditemani Kang Adi.
= Bu,

disimpan

di

mana

ini?||,

kutanya

ibu

Kang Adi

sambil berdiri m e m b a w a

beberapa dus kosong.


- D i situ aja, Neng|| kata ibunya Kang Adi sambil nunjuk ke atas meja.
- J a n g a n manggil ibu lah, panggil M i m i h aja||, kata Kang Adi y a n g masih duduk
bersila di tempat yang banyak tumpukan kertas-kertas dus itu.
- Iya||, j a w a b k u sambil menumpukkan dus kosong di atas meja
Mih, ini tuh Lia, anak Pak Adnan||, kata Kang Adi kepada ibunya yang sedari tadi
berdiri membungkus beberapa makanan di atas meja panjang. Aku senyum kepada
ibunya y a n g m e n o l e h kepadaku dan bertanya:
- K e l a s berapa sekarang?!
- S M A , Bu||, j a w a b k u
- I b u lagi. Panggil Mimih aja||, kata Kang Adi
Iya, Kang||, j a w a b k u sambil kembali kerja
- T e h , itu mah dipisahin aja kayaknya||, kata Ibunya Kang Adi kepada ibu-ibu yang
disampingnya y a n g lagi sibuk misah-misahin makanan.
- U d a h besar ya?||, kata ibunya Kang A d i entah kepada siapa.
-Siapa?||, tanya ibu-ibu di sampingnya
- I t u anak Pak Adnan||, j a w a b ibunya Kang Adi. Oh, ke aku.
Iya, Mih?||, tanyaku
- K a m u udah besar. Kelas berapa?||
- K e l a s dua, Mih||, j a w a b k u
- K e n a l Adi di mana?||, tanya T a n t e n y a yang lagi duduk sambil ngelapin buahbuahan
- S a y a ngebimbing dia belajar||, j a w a b Kang Adi
- O o o h , kirain pacarnya||, kata T a n t e n y a
Bukan ||, j a w a b k u
- C a n t i k juga||, kata T a n t e n y a lagi
- M a k a s i h he he||, jawabku. Habis itu permisi untuk mau shalat magrib.
M e n j e l a n g acara dimulai, sudah banyak tamu yang datang, tidak semuanya kukenal.
Sebagian besar pada kumpul di ruang tengah, dan aku juga di situ. bergabung bersama
ayah, ibu dan adikku. Kang Adi berdiri di sampingku, sedangkan Bang Faris berdiri
bersama A y a h n y a Kang Adi.
Setelah ayah Kang Adi ngasih sambutan, acara disusul oleh dibacanya doa-doa. Baru
kemudian giliran

Bang Faris. diberi mandat

untuk m e m o t o n g tumpeng

itu.

Pucuk

t u m p e n g n y a disimpan di atas piring dan kemudian diberikan kepada ayahku. Acara


syukuran pun selesai, ditutup oleh seluruh tamu dipersilakan menikmati hidangan y a n g
sudah disediakan.
Kang Adi ngajak aku untuk pergi ke Paviliun, dan bilang:||Kenalan sama t e m e n temen.
Sebentar||. Aku ke sana dan kudapati ada 4 orang y a n g sedang duduk di sofa merah.
Semuanya laki-laki. sebaya dengan Kang Adi. Setelah kenalan. Kang Adi menyuruh aku
duduk di bangku y a n g ada di sampingnya.

Kelima orang itu semuanya mahasiswa, masing-masing kuliah di t e m p a t berbeda.


Katanya m e r e k a t e m e n Kang Adi waktu dia di S MA. Kang Adi pergi dan tak lama datang
kembali dengan m e m b a w a makanan bersama minuman coca-cola.
- S a y a bikin khusus buat Lia nih||, kata Kang Adi
Wey, enak nih!||, kata t e m a n n y a
- H e h , buat Lia. ini||, kata Kang Adi seolah m e l e d e k t e m a n n y a itu
-Makasih||, kataku
- B a g i ya, Lia?||, pinta t e m e n Kang Adi y a n g satunya lagi
- B a r e n g - b a r e n g aja||, j a w a b k u
- L i a y a n g bagiin dong||. kata Kang Adi
Aku y a n g banyak ya, Lia. Belum makan dari SD nih||.
- G i m a n a pacaran sama Adi?||, tanya temannya yang pake s w e a t e r
- P a c a r apaan?'
- M a a f i n nih. kita-kita emang suka pada ngebodor||, potong Kang Adi
Sebenarnya aku bingung, di situ harus ngapain, selain untuk menikmati makanan
dan b e r - h a - h a - h e - h e m e n d e n g a r mereka yang masing-masing pada berusaha ngebodor.
- A n j i i i r ha ha ha ha ha terus c e w e k n y a gimana?||, tanya orang y a n g bernama Rudi
kepada orang y a n g bernama Diki.
- K e p a n a s a n lah. kan ditanganku ada Rhemasonnya ha ha ha ha ha ha!!||
- H a ha ha ha ha ha ha. parah!||, Rudi ketawa, Gagan juga. Diki juga, Pipin juga, Kang
Adi juga, aku cuma bisa he he he.
- K a l a u udah kumpul kita mah ya gini, Lia. Seru||, kata Kang Adi
Iya ||, j a w a b k u
- K a m u pernah gak. tali BH nya kamu tarik dari belakang? Ha ha ha ha||. Rudi nanya
ke orang yang bernama Gagan
- H a ha ha ha!!||. h a m p i r semua ketawa. aku cuma bisa he he he.
Saat itu. saat mereka n g e b o d o r itu, pikiranku sedang naruh curiga, jangan-jangan,
tanpa

sepengetahuanku.

Kang

Adi

ngaku-ngaku

pada

mereka

bahwa

aku

adalah

pacarnya dia. Sialan, kau. T a d i n y a mau kubilang bahwa aku sama sekali bukan pacarnya.
Tapi tak kunjung bisa kuucapkan, mungkin aku merasa ini tak enak bila aku katakan
sedangkan aku berada di rumahnya.
Serius, aku ingin pulang. Atau minimal aku ingin bergabung dengan ayah dan ibuku
di ruang tengah. Serius, selagi aku di situ. iya betul, diriku m e m a n g di situ, tapi pikiranku
sepenuhnya pergi ke Dilan! Dilan, di mana kamu? Lagi ngapain? Kamu pasti nelepon ya?
Akunya gak ada ya? Yang ngangkat si Bibi ya? Kasian. Nanti ya, Sayang, akunya lagi
bosan dulu di sini.
Lalu ayah manggil. katanya sudah saatnya untuk pulang. Memang, sebagian besar
tamu j u g a sudah pada pergi pulang. Aku berdiri dan pamit pada mereka, lalu pergi ke
ruang tengah disusul oleh Kang Adi. Rasanya aku seperti bahagia karena lepas dari
t e m p a t y a n g bikin aku bosan.
Di ruang tengah sudah tak banyak orang, tinggal keluarga Kang A d i dan keluargaku.
A d a beberapa orang lainnya y a n g entah siapa m e r e k a aku gak tau.
- I n i , anak saya, Bu||, kata ibuku m e m p e r k e n a l k a n aku kepada ibunya Kang Adi
Iya, tadi di dapur. Bantu-bantu. Kirain siapa||, j a w a b n y a
- T e r i m a k a s i h , Adi udah mau ngebimbing Lia||, kata ibuku lagi
- G a apa-apa. Senang kok||, j a w a b Kang Adi nyerobot
- A d i itu suka ngebimbing adik-adiknya juga. Kadang-kadang ada anak tetangga
y a n g pada ikut belajar di sini||, sambung ibunya
Wah bagus itu||, kata ibuku. Sementara ayahku sudah di luar, sedang ngobrol sama
ayahnya Kang Adi dan Bang Faris.
- J a n g a n pacaran dulu||, kata ibu Kang Adi kepadaku
- H e he he. iya, Bu||, kujawab. Lalu dia ngobrol dengan ibuku untuk m e m b a h a s soal
3 of 4

lain.
Kami

pulang,

setelah

saling

bersalaman.

Sesampainya

di

rumah,

jam

sudah

m e n u n j u k angka 10.
J a m a n dulu. j a m segitu, sudah d i a n g g a p larut m a l a m . A k u l a n g s u n g cari si Bibi. dia
ada di k a m a r n y a . Kutanya, a p a k a h Dilan n e l e p o n ? Iya k a t a n y a .
- B i l a n g apa dia?'
- N g a j a k Bibi ngobrol||, j a w a b si Bibi
- H e h e he. N g o b r o l apa?||
- A p a ya? Itu, k a t a n y a dia lagi di a t a s p o h o n ||
- H a h a h a h a ha. T e r u s ? '
- A n e h . A p a lagi ya? K a t a n y a kalau diculik, Bibi mau n o l o n g gak?||
- H a h a ha. Kalau dia diculik m a k s u d n y a ? !
-Iya||
- T e r u s apa kata B i b i ? )
- Y a , m a u lah. Diculik apa t a n y a Bibi?||
- D i c u l i k apa katanya, Bi?||, aku nanya
-Diculik semut jahat|
- H a ha ha ha||
T e r u s k a t a n y a m a u n g a j a r i n Bibi suara b e n c o n g , buat nyamar||. kata si Bibi
- H a ha ha ha ha. T e r u s Bibi b i l a n g apa?||
- B i b i b i l a n g g a k mau||
- T e r u s apa katanya?||. aku mulai d u d u k di kasur si Bibi
- D i p a k s a mau, nanti dikasih u a n g katanya, seribu||
- H a ha ha. Bibi tahu siapa dia?||
-Siapa?!
- J a n g a n b i l a n g - b i l a n g ya?||
-iyall
- D i a p a c a r Lia he he he||
Oh?||, Si Bibi n a m p a k s e p e r t i o r a n g t e r p e r a n g a h , m u l u t n y a d i t u t u p d e n g a n kedua
tangannya
- I y a . Bi||
- T e r u s Den Beni?||
- S u d a h hilang!||
- H e h e he. Eh? T a d i j u g a ada y a n g nelepon||
- S i a p a . Bi?||
- S i a p a ya, N a n d a n gitu?||
- O h iya. A p a k a t a n y a ? !
- B i b i bilang Lianya lagi k o n d a n g a n , t e r u s udah||
- O h , y a udah I
Lalu aku m a s u k k a m a r , setelah b e r s i h - b e r s i h d a n g o s o k gigi. Lelah sekali hari itu,
d a n l a n g s u n g p e r g i tidur, di kasur y a n g o k e untuk t e m p a t rindu Dilan. Setelah baca doa,
seperti
Dilanku

biasa

aku

Sayangku

bilang
||

sambil

senyum:

Selamat

tidur

juga.

Dilan.

22. RENCANA PENYERANGAN


H a r i sabtu. d i sekolah, t e r d e n g a r ada k h a b a r b a h w a Dilan, b e r s a m a k e l o m p o k n y a , m a u
n y e r a n g SM A lain di Dago. A k u j a d i w a s - w a s , m e s k i p u n b e l u m pasti apakah itu b e n a r
atau tidak.
Kutanya W a t i .
- E n g g a k tahu. Iya gitu?||, W a t i balik n a n y a
K a t a n y a ||
- G a k t a u ah. Itu m a h urusan dia||
Pas p a d a w a k t u istirahat, d e n g a n d i a n t a r W a t i . aku pergi ke w a r u n g Bi Eem. Di sana
sudah a d a b a n y a k m o t o r . T i d a k k u h i t u n g j u m l a h n y a , kutaksir ada lebih dari 30 m o t o r . Di
h a l a m a n w a r u n g Bi Eem. kudapati b a n y a k o r a n g , s e b a g i a n n y a lagi pada k u m p u l di d a l a m
w a r u n g Bi

Eem. Itu. s e m a c a m r u a n g a n t a m u y a n g biasa d i p a k e o l e h m e r e k a untuk

nongkrong.
Dari w a j a h m e r e k a , ada y a n g bisa kukenal, k a r e n a m e m a n g satu sekolah, m e s k i p u n
tidak kutahu n a m a n y a . Aku nebak, m e r e k a y a n g t i d a k kukenal, adalah s i s w a d a r i SM A
lain y a n g ikut b e r g a b u n g . T a d i n y a k a m i b e r n i a t balik lagi. S e r e m ah. kata W a t i . T a p i
k e c e m a s a n k u akan Dilan m e n g u a t k a n niatku untuk t e t a p ke sana.
W a k t u mau masuk k e sana. aku m e n d e n g a r o b r o l a n o r a n g - o r a n g y a n g p a d a d u d u k d i
a t a s t e m b o k p a g a r itu:
- S a h a euy. Geulis euy||. ( S i a p a nih. Cantik e u y ) . Aku y a k i n m e r e k a adalah siswa dari
SM A lain
Jeung aing ieu mah|| ( B u a t s a y a ini s i h )
- A n j r i t , kudu d i t a n g a n i eiu mah|| ( A n j r i t , h a r u s d i t a n g a n i ini s i h )
-Mau

kemana,

Cantik?||.

Aku

tahu

dia

nanya

ke

aku.

Aku

langsung berbalik

menghadap kepada orang yang bertanya:


Aku p a c a r n y a Dilan

||. kataku

-oh?||
M a u ke Dilan?||, satu y a n g lain b e r t a n y a
- A d a dia?||, k u t a n y a lagi
- A d a . Di dalam. M a s u k aja||
- M a k a s i h ||
~ i y a ||
Sungguh, aku tadi k e c e p l o s a n . Enggak s a d a r b a h w a b e r s a m a k u ada W a t i . H a r u s n y a
W a t i k a g e t d e n g a n p e r n y a t a a n k u b a h w a aku p a c a r Dilan. A t a u tidak? K a r e n a dia sudah
tahu dari Piyan. T a p i kalau Dilan tahu, pasti dia g a k akan suka. s e b a b kata Piyan. Dilan
g a k mau kalau dia p a c a r a n s e m u a o r a n g pada tahu. Ah. sudahlah, m a a f k a n aku. tadi
c u m a r e f l e k s saja.
A k u m a s u k k e w a r u n g B i E e m d a n b e r t e m u d e n g a n Dilan y a n g s e d a n g n g o b r o l
b e r s a m a satu o r a n g y a n g tidak kukenal. S e d a n g k a n d i b a n g k u y a n g lain. b e b e r a p a o r a n g
s e d a n g p a d a asik n g o b r o l . Dilan m e m i n t a k a w a n n y a untuk b e r g e s e r , a g a r aku bisa duduk
di s a m p i n g n y a , dan W a t i duduk di s a m p i n g k u . A k u h e r a n k e n a p a W a t i d i a m terus.
- A k u ingin j a l a n - j a l a n s a m a kamu||, kataku pada Dilan
- K a p a n ? ||
-Sekarang||
-Sekarang?||, Dilan kulihat k a g e t k a r e n a tahu ini sangat m e n d a d a k
Iya||. j a w a b k u . A k u lihat Dilan m e m a n d a n g k a w a n n y a itu.
- K a m u kan sekolah?||. t a n y a Dilan. m e m a n d a n g k u lagi
- A k u m a u bolos||
- H e h ? Kamu h a r u s s e k o l a h ||
- A k u bisa ijin||. kataku. Aku lihat Dilan m e n y e r a h k a n k e r t a s y a n g p e n u h c o r e t a n
k e p a d a k a w a n n y a itu.

Sekarang juga?||. Dilan n a n y a lagi


-lya||
Gimana kalau b e s o k ? ||
- A k u ingin s e k a r a n g !
- K a l a u s e k a r a n g , aku ada perlu, m a u pergi||, k a t a n y a
- A k u ingin j a l a n - j a l a n s a m a k a m u s e k a r a n g ! , kataku
- K a n b e s o k bisa?||.
- A k u ingin j a l a n - j a l a n s a m a k a m u s e k a r a n g ! . Kataku
- E h ? Kok nangis?||
- A k u ingin j a l a n - j a l a n s a m a k a m u s e k a r a n g !
M m m m . Ya udah, kalau gitu. Langsung?||
- A k u ambil t a s dulu||
Iya. K u t u n g g u di sini||
A k u dan W a t i pergi, m e n i n g g a l k a n w a r u n g Bi Eem, untuk m e n g a m b i l tasku di kelas.
K e p a d a W a t i aku j a d i b i l a n g t e r u s t e r a n g , b a h w a m e s k i p u n b e l u m ada p e r n y a t a a n resmi,
s e b e n a r n y a aku m e r a s a s u d a h p a c a r a n d e n g a n

Dilan. W a t i h a n y a m e n j a w a b sambil

memandangku:|| Iya. Dia baik||


Setelah selesai kubuat surat ijin, aku l a n g s u n g p e r g i untuk k e m b a l i ke w a r u n g Bi
Eem. Di sana, kudapati b e b e r a p a o r a n g siswa dari S MA lain p a d a p e r g i d e n g a n m o t o r n y a .
Di w a r u n g Bi Eem, o r a n g n y a j a d i sedikit, bahkan tak lama k e m u d i a n m e r e k a pada p e r g i
untuk m a s u k lagi ke kelas.
A k u d u d u k d e n g a n Dilan di d a l a m w a r u n g Bi Eem. Orang y a n g tadi n g o b r o l d e n g a n
Dilan sudah g a k ada.
- J a l a n - j a l a n k e m a n a ? ! , Dilan nanya
- T e r s e r a h kamu||
- K e Singapur?||
- K a l a u aku i n g i n k e r u m a h m u ? !
- R u m a h k u d i m a n a ya?'
- A k u ingin k e t e m u Bunda ||
- N a n t i s o r e b a r u pulangi
- J a l a n - j a l a n dulu aja||
- O k e . Kita ke

||

- K e Dago yuk?||
- J a n g a n ||, k a t a n y a
- K e m a n a ajal deh. P o k o k n y a j a l a n - j a l a n . N a n t i

p u l a n g n y a k e rumahmu||

Iya. Sudah m a k a n ? !
- P e r e m p u a n gak suka d i t a n y a ha ha ha ha||
- H e h e he. Oke. Berti j a n g a n ditanya. K a m u b e l u m m a k a n d a n m a u m a k a n s a m a
aku ||
-iyall
Kamu rindu aku s e m a l a m ||
- K a l a u enggak?!
- B e r a r t i k a m u bohong||
- H a h a ha. E h k a m u n e l e p o n y a tadi malam?)!
-Iya||
- T e r u s n g o b r o l s a m a s i Bibi?'
-iyall
T e r u s m a u n g a j a r i n dia n g o m o n g g a y a b e n c o n g ? '
- H a ha ha ha||
- K e n a p a ketawa?||
- B e n e r . P e r e m p u a n lebih suka b a n y a k nanya||
- H e h e h e he. T a h u gak aku k e m a n a semalam?|

- K e rumah Kang Adi||


- H a h ? Kok tahu Kang Adi?||
Bi Asih y a n g bilang||
- I t u . Ada acara syukuran. Aku pergi sama ayah, sama ibu. Kamu tahu gak Kang Adi
siapa? ||.
Tanyaku, m e n d a d a k aku takut dia cemburu.
- K a m u akan ngasih tahu||
- D i a y a n g bimbing aku belajar||
Iya. Eh, jadi pergi gak?||
Iya. Hayu. T a p i cari telepon dulu ya, mau ijin ke Ibu||
Aku y a n g nelepon||, kata Dilan sambil berdiri
- A k u aja||. kataku, juga sambil berdiri
Aku y a n g minta ijin. kan aku yang bawa kamu||
- T a p i aku y a n g ngajak||
- H e he he he||
T a d i n y a aku mau nanya Piyan. soal benar tidaknya m e r e k a mau nyerang. T a p i
Piyannya gak ada.
Dia gak sekolah. Izin. ada urusan keluarga kata Wati. Sungguh, tadi itu. aku risau,
kebayang dengan resiko yang akan didapat oleh Dilan kalau benar dia nyerang.
Ya, betul. Aku bisa langsung nanya Dilan. Tapi kamu tahu, kalau benar mau nyerang,
mana mungkin Dilan ngaku. Sudah bisa ditebak, jika dia kutanya, j a w a b a n n y a akan:
-Tidak||. Itu pasti laaah. Dilan j u g a tahu. kalau dia bilang Iya||, itu bodoh, aku akan
marah dan melarangnya, lalu gagallah rencananya.
Jadi, aku merasa gak perlu nanya lagi. Kuanggap saja itu benar. Lalu kucari akal
bagaimana bisa gagal. Syukurlah, dengan m e n g a j a k n y a jalan-jalan, cara itu berhasil. Aku
yakin Dilan heran, kenapa juga harus dadakan.
Jangan-jangan, sebetulnya dia tahu, apa tujuan asli dari aku mengajaknya. Sebab
waktu tadi kuajak, ah, sampai ada air mata pula di mataku (habisnya kesel), kulihat dia
senyum, tapi aku yakin dia juga bingung, mana yang harus dipilih, sedangkan t e m a n t e m a n n y a sudah terlanjur pada datang.
Bahwa akhirnya dia lebih memilih mauku. Aku gak tahu. dia bilang apa ke t e m a n temannya.
T a p i aku yakin, Dilan bisa menanganinya dengan baik. untuk tidak membuat kecewa
kawan-kawannya. H a n y a saja, aku jadi gak enak. sudah m e m b u a t Dilan bingung. Sudah
membuat Dilan repot.
Tapi Dilan juga sama! M e m b u a t aku repot! Bikin risau! Bikin cemas! Bahkan garagara soal itu aku j a d i gak sekolah. Aku jadi harus jalan-jalan dengannya dan senang he he
he. Kalau kau j a d i aku. kau j u g a akan gitu lah! Percaya deh!
Aku pergi dengan Dilan. menyusuri Buahbatu y a n g sepi dan lengang, maksudku
bukan Buahbatu yang ada sekarang, tapi Buahbatu yang dulu. T e r u s belok, ke arah jalan
Laswi. Yaitu

Laswi yang dulu, bukan

Laswi yang kini besar dipenuhi oleh banyak

kendaraan.
Di daerah jalan Riau, Dilan m e m b e l o k k a n motornya, masuk ke halaman perkantoran
y a n g lumayan cukup luas dan teduh oleh banyak pohon tumbuh. Aku bingung, gak tahu
mau apa?
Dilan menyuruh aku turun dan lalu duduk di teras halaman kantor itu.
- I s t i r a h a t dulu di sini||, kata Dilan
- I h ! Ngapain?||, kutanya
- S e k a l i a n ngerencanain mau jalan-jalan kemana||
- B i a s a n y a j u g a gak pernah direncanain||
- S e k a r a n g direncanain||
Tak lama dari itu. sayup-sayup ada suara gemuruh dari jauh. Makin lama suara itu
3 of 20

makin jelas.
Itu adalah suara m o t o r , saking b a n y a k n y a , j a d i g e m u r u h . Dari h a l a m a n k a n t o r itu,
aku lihat m e r e k a lewat. P e n g e n d a r a n y a b e r s e r a g a m SM A dan m e n g a c u n g k a n p e d a n g
samurai.
K a m u t i d a k akan

percaya,

bahwa jaman

dulu, di

Bandung,

hal

itu b e n a r ada.

A n e h n y a , k o n d i s i m a c a m itu, dulu m a s i h bisa d i a n g g a p sebagai hal y a n g lumrah, t i d a k


dinilai s e b a g a i satu hal y a n g m e n g u a t i r k a n . Aku harus b i l a n g apa. untuk k a m u bisa n g e r t i
b a h w a g e n g m o t o r j a m a n dulu, j a u h b e r b e d a d e n g a n g e n g m o t o r j a m a n s e k a r a n g y a n g
karena sudah menjurus kriminal jadi pantas diberantas.
-Siapa?

Kawanmu?||, k u t a n y a

Dilan y a n g s e d a n g duduk d e n g a n dagu b e r b a n t a l

k e d u a lengan d i s i m p a n di k e d u a lutut kakinya.


- G a k tahu

||

- M e r e k a itu...maunya apa sih? S o k j a g o ! M e n g g a n g g u . M e n y e b a l k a n ! ||, kataku s e p e r t i


n g o m o n g p a d a diri sendiri.
- A d a b a n y a k o r a n g , Lia. B e d a - b e d a . A d a o r a n g y a n g k a y a k m e r e k a . A d a o r a n g y a n g
k a y a k aku.
A d a o r a n g y a n g k a y a k kamu. K a m u ingin s e m u a o r a n g sepertimu?||, j a w a b Dilan
tanpa memandangku.
- T a p i mereka mengganggu

||

- A d a y a n g sudah m e n g g a n g g u m e r e k a , y a n g m e m b u a t j a d i begitu||
Apa? ||
- A y o j a l a n lagi||
Kami p e r g i dari h a l a m a n k a n t o r itu, k e m b a l i ke j a l a n Laswi d a n b e l o k ke j a l a n Gatsu.
Itu adalah j a l a n Gatsu y a n g l e n g a n g dan m a s i h t e n t r a m , b e l u m ada BSM nya. T e r u s b e l o k
k e a r a h g a n g W a r t a d a n b e r h e n t i d i p a s a r tradisional, e n t a h s e k a r a n g m a s i h ada atau
tidak.
Kita belanja||, kata Dilan
-Belanja?||
-lya||
- B u a t apa?||
- M a s a k di rumah. Mau ke r u m a h kan?||
-lya||
Kami b e l a n j a ini itu. Jalannya b e c e k , sisa hujan subuh tadi.
- I n i d a e r a h k e k u a s a a n Kang A t o t . A k u kenal. K a m u b o l e h t e r i a k kalau mau||, kata
Dilan sambil j a l a n m e n u j u k e t e m p a t m o t o r diparkir.
- G a k mau

||. k u j a w a b

- A t a u tidur di pasar, mau?||


- G a k ! ||
- K a m u bisa b i l a n g - A k u s a y a n g kamu|| kalau mau||, k a t a n y a . Aku s e m p e t t e r d i a m
dulu m e n d e n g a r n y a .
- K e siapa?||, k u t a n y a dia
- K e aku||
- K a m u dulu||
- K e siapa?||, dia n a n y a
- K e aku lah||
- B i l a n g apa?||
Aku s a y a n g kamu||
- S u d a h diduluin s a m a kamu, barusan|
- H a ha ha ha ha ha||
Dagu k a m u itu bagus, aku tadi takut ada y a n g nawar||
- B e r a p a kalau ada y a n g nawar?||, k u t a n y a
-Harganya?||, dia balik n a n y a

Seribu j u g a kemahalan ||
- S e m u r a h itu?||
- A s a l aku yang belinya||
- H e he he||
Selesai dari pasar, kami langsung pergi. Menyusuri jalan Gatsu y a n g belum lebar
seperti

sekarang

ini.

Terus

belok

kanan

ke j a l a n

Kiaracondong yang

sepi.

Dilan

menjalankan m o t o r n y a pelan sekali.


- M a u kemana?||, kutanya
Bundamu ||
Asiik! ||
Nanti ke si Bunda bilang kita baru pulang dari Mesir ya||
Biar apa? ||
- B i a r gak percaya||
- H a ha ha ha||
- T e r u s nanti kamu pura-pura bisu||. katanya
-Kenapa?||, kutanya
- B i a r nanti si Bunda bilang, kok jadi bisu?||
- T e r u s ? ||
- N a n t i aku jelasin ke si Bunda||
- B i l a n g apa?||. kutanya
- D i a pura-pura. Bunda||
- H a ha ha! T e r u s aku bilang, disuruh kamu||
- T e r u s Bunda bilang, mau-maunya disuruh||
- T e r u s aku j a w a b , dipaksa Dilan, Bunda||
- T e r u s aku j a w a b , Maaf. Bunda||
- T e r u s tidak dimaafkan sama si Bunda||
- A k u dikutuk jadi batu||
- T e r u s batunya dilempar ke sungai||, kataku
- T e r u s hilang||
- T e r u s aku sedih

||

- T e r u s nyari batu itu. Kamu j a d i tukang batu||


- T e r u s ketemu ||, kataku
- M a u diapain?||, dia tanya
- D i b a w a kemana-mana||
Dikantongin aja, biar gak sakit perut||
- H a ha ha ha||
Kamu pernah merindukan satu tempat, dan ingin pergi ke sana, sangat ingin.
Bagaimana perasaanmu ketika suatu hari ternyata kamu betul-betul ada di sana? Saking
senangnya, kamu merasa kesulitan ketika harus diungkap ke dalam kata-kata. Ya. aku
juga begitu, sama, ketika sampai di rumah Dilan.
Setelah turun dari motor, Dilan bilang: -Tunggu||, lalu pergi ke sana, m e n g e t u k
pintu.
-Iya||. jawabku, berdiri di samping motor, m e n e n t e n g belanjaan yang dibungkus
dalam dua kantong kresek.
Pintu membuka, oleh orang y a n g keluar dari rumah. Dia adalah anak muda. lebih tua
dari Dilan. berkaus merah, celana pendek. Aku sudah siap untuk senyum kalau dia
memandangku, sambil menebak siapa gerangan orang itu. Mungkin kakaknya, atau
saudaranya.
- Naon, La?i?||, orang itu bertanya, yang artinya:||Ada apa, Lan?||
-

Ceuk si eta mah. ieu imah urang ceunah, Wan?||. j a w a b Dilan, sambil mengarahkan

telunjuknya ke aku. Artinya:|| Masa' kata dia. ini rumah aku. Wan?||.

Aku tidak mengerti bahasa Sunda, tapi aku bisa faham apa yang sedang dibahas.
Sedikit kuhela nafasku merasa sudah dibohongi. Tadi di m o t o r Dilan bilang ke aku: Ini
mungkin rumahnya||.
Aku j a d i seperti malu ketika orang itu ketawa.
- H a ha ha! Saha, Lan?||. Tanya orang itu. Artinya:||Siapa dia. Lan?|
-

Baturan TK||. Jawab Dilan. Artinya:||Teman TK||

Sia mah! Ha ha ha. Masuk heula atuh||. Artinya: Ah kamu ini. Ha ha ha. Masuk

dulu sini||
-Kenalin,

Wan!

Sini.

Nak!||.

Dilan

noleh

dan

memanggil

dengan

senyuman

menyebalkan.
Suaranya seperti wibawa seorang ayah pada anaknya.
Setelah kusimpan belanjaan di bawah samping motor, kudatangi mereka, sambil
senyum kepada orang itu. Setibanya di sana. Dilan jadi seperti orang meringis, karena
sengaja kuinjak sepatunya. Orang itu ketawa.
-Lia||, kataku, saat berjabat tangan dengannya
Wawan! Masuk dulu. Lan||
- L a n g s u n g aja, Wan||. j a w a b Dilan
- O h , ya udah. Rumah Dilan mah di sana||, kata W a w a n kepadaku sambil nunjuk ke
arah kanan
- H e he he iya. Belum tahu||. jawabku.
- N u h u n . Wan. Langsung ya||, kata Dilan sambil mulai akan pergi
Sami-sami||
-

Mangga, Kang||, kataku ke W a w a n

Mangga. Makasih sudah mampir||

- S a m a - s a m a , Kang||
Dilan menaiki m o t o r n y a sambil s e n y u m - s e n y u m gak jelas. Aku j u g a naik, sambil
mencari j e n i s hukuman y a n g pantas untuk Dilan, karena sudah berhasil menipuku.
Hukumannya adalah: aku gak mau n g o m o n g dengannya sepanjang perjalanan, bahkan
tidak kujawab ketika dia nanya.
- H a ha ha ha||. Dilan ketawa setelah dia sadar aku gak mau ngomong dengannya.
- K a m u benar-benar bisu ini mah. Bukan pura-pura||, katanya lagi, seperti bicara
pada dirinya sendiri. Aku tetap diam dan berharap jangan sampai dia lihat sebenarnya
aku senyum.
Aku terus begitu, gak n g o m o n g - n g o m o n g , sampai tiba di rumah yang ada mobil
Nissan Patrolnya. Itu mobil si Bunda, aku langsung yakin, kalau yang itu adalah asli
rumah Dilan. Ada seekor anjing menggonggong, ketika aku turun dari motor, dan berhasil
dijinakan oleh Dilan.
Anjing itu lalu pergi, kembali, ke t e m p a t di mana dia tadi.
Aku s e n y u m melihat papan kecil y a n g ditempel pada sebuah batang pohon dengan
tulisan yang diukir: - A W A S . Y A N G P U N Y A A N J I N G GALAK||.
Hm hm hm hm?||, Dilan ngomong aneh, tapi aku mengerti dari isyarat tangan yang
ia gerakkan sambil memandangku. Artinya kira-kira:||Mau masuk gak?||. Aku ngangguk.
Gak ada senyuman!
Di ruang tamu. aku duduk dan Dilan ke sana:
- B u n d a ! Ada Debt Coliector!||. Dilan teriak. T a k lama Bunda datang, bersamaan
dengan Dilan masuk ke dalam.
-Siapa?||. tanya Bunda sambil jalan menuju ruang tamu
-Bunda!||. panggilku sambil berdiri dari duduk
Hai!!||,

Bunda

teriak

setelah

melihatku.

Dia

berdiri

seperti

Tangannya berkacak pinggang dengan mata seperti orang terperangah:


- N o n a cantik rupanya!!!||. seraya mendatangiku: Wah wah wah||.
Bunda, Lia rindu||, kataku di dalam pelukannya

orang

terkejut.

Wow! Sama, Nak. Bunda juga! Selamat datang di rumah Dilan||, kata Bunda sambil
melepas pelukan. Kedua tangannya m e m e g a n g dua bahuku.
-Iya||
- K a l a u kamu y a n g datang

||, kata Bunda bagai berbsisik

- Y a , Bunda?||
- D i a gak akan masuk lemariiiiiii...||,
- H a ha ha ha ha||
- A p a ini?||, Bunda nanya soal dua kantong kresek yang ada di kursi
- T a d i . belanja ke pasar sama Dilan he he he||
Okey! A y o kita ke dapur||
Iya, Bunda||
- M a n a Dilan?||, Bunda nanya seperti pada dirinya sendiri ketika kami berjalan
menuju dapur.
Di dapur ada seorang ibu y a n g sedang duduk mengiris daun bawang. Dia sedikit lebih
muda dari Bunda. Ibu itu adalah pembantu di rumah Bunda.
Diah, siapa coba ini?||, tanya Bunda ke orang itu. sambil merangkul bahuku
- S i a p a ya?||. Bi Diah nanya
Mi..le...a!||, j a w a b Bunda
- O h . T e m e n Dek Dilan ya? Cantik||
- I y a dong||
- H e he he makasih||. kataku.
- J a n g a n s a m p e kena bau bawang atau cabe ya||, kata Bunda ke Bi Diah sambil dia
gerak-gerakkan telunjuknya
- H e he he he. Lia pengen ikut bantu masak, tapi, Bunda||, kataku
- M a u masak buat Dilan yaaa?||, Bunda seperti orang meledek
- H e he he Dilan sukanya apa?||, kutanya Bunda
-Dilan?

Dilan

sukaaa

kamu

laaah!||,

jawab

Bunda

sambil

menyentuhkan

telunjuknya ke hidungku
- H a ha ha ha ha, maksud Lia masakan, Bunda, Dilan suka masakan apa? He he he||
- A p a aja y a n g kamu bikin, dia akan su..ka!||
- H a ha ha||
- Y a udah, sini bantu Bunda||. katanya sambil duduk.
Ini Bunda lagi masak sayur lodeh. Kau suka?||, kata Bunda lagi sambil m e n g g e s e r
kursi untuk t e m p a t aku duduk.
- S u k a . Bunda||
- D i l a n j u g a suka||
- D i l a n mana, Bunda?||
- M u n g k i n di kamarnya. Nanti, Bunda p a n g g i l )
- D a l a m lemari kayaknya, Bunda?)
- H a ha ha ha h a )
T e l e p o n rumah Bunda berdering. Bunda pergi ke sana untuk mengangkatnya. Lalu
kudengar dia teriak:
-Dilan! Telepon!)
- S i a p a ? ) , tanya Dilan, kayaknya keluar dari kamar
Anhar!)
Anhar? Mau apa dia? Memang, harusnya hal itu gak perlu kupikirkan. Siapa pun
orangnya bebas mau nelepon. Tapi instingku bicara soal lain, entah mengapa, aku
merasa gak enak. Tadi itu, A n h a r ada ikut berkumpul bersama Dilan di warung Bi Eem.
Aku ngobrol dengan Bunda, sedangkan pikiran terus ke Dilan. Maksudku, aku
menduga, bahwa m o t i f Anhar nelepon Dilan. pasti ada sangkut pautnya dengan rencana
penyerangan. Keduanya terus saling berusaha untuk menjalin koordinasi dari jauh.
Dilan datang ke Dapur dengan tangan m e n e n t e n g jaket. Dia izin ke Bunda untuk
7of 20

pergi dulu sebentar. Ada perlu katanya.


- L i a , kamu sama Bunda dulu ya?||, katanya kepadaku.
Kemana?||, kutanya
- A d a perlu. Sebentar. Nanti kembali. Pergi dulu ya?!||, j a w a b Dilan sambil pergi. Lalu
aku pamit ke Bunda, untuk ada y a n g perlu d i o m o n g k a n dengan Dilan dan segera
menyusulnya.
Di ruang tamu, aku dan Dilan saling berdiri berhadapan, beradu mata:
- A k u ikut||, kataku dengan suara pelan
- G a usah. Kamu di sini aja. Cuma sebentar||, Dilan m e n j a w a b sambil dia pakai
jaketnya
- K a l a u kamu pergi, aku ikut!||, suaraku masih seperti y a n g tadi, takut k e d e n g e r
sama Bunda
Iya. Tapi cuma ke situ. Sebentar||
-.Aku ikut! ||
- M a u ambil barang di teman||
-.Aku ikut! ||
Tiba-tiba dari luar terdengar ada salam:
Salamlikum!||
-Kumsalam||, j a w a b Dilan bersamaan dengan pintu kebuka. Orang y a n g ngasih
salam itu masuk, dia perempuan berseragam S M P
-Adikku||, kata Dilan ke aku
Oh||, aku t e r s e n y u m kepadanya, berusaha untuk ramah
Hey!||. katanya kepadaku, || Aku Disa||
-Lia||, kujabat tangannya sambil senyum
- T a h u gak nama panjangku?||, dia nanya ke aku
- A p a nama panjangnya?||, kutanya
-Disaaaaaaaaaaaaaaaaa!!||
- H a ha ha||, aku ketawa
- P a n j a n g kan?||, dia n a n y a
- H e he he. Iya||
Aku masuk dulu ya?||, katanya kepadaku
-Iya||, j a w a b Dilan. Disa masuk dan teriak manggil Bunda:
Bunbun, Dadaaa. Bunda!!||
Aku senyum, tetapi saat kupandang lagi Dilan, j a d i tidak:
Aku ikut! Kalau kamu pergi, aku ikut!||, kutatap matanya.
- Y a udah. Kalau gitu gak j a d i pergi ||, katanya, sambil membuka lagi jaketnya.
Aku ke sana, duduk di sofa ruang tamu, sambil terus m e m a n d a n g n y a yang mulai
akan duduk di sofa y a n g lain, y a n g ada di seberang meja, m e n g h a d a p kepadaku.
- E m a n g mau kemana sih?||, tanyaku denga suara y a n g sudah jadi kalem
- I t u , ke teman||
- A n h a r ? ||
- B u k a n ||
- K a l a u mau ke temanmu, nanti aja b a r e n g i
Jam berapa sekarang?||. tanya dia sambil m e m a n d a n g j a m dinding di atas buffet.
Sudah pukul setengah dua.
Tiba-tiba

di

luar

kudengar

suara

motor,

memasuki

langsung masuk ke rumah


Ow. ada tamu||, kata orang itu setelah melihatku
-Abangku||. kata Dilan ke aku
-Oh||. aku senyum sambil lalu berdiri
- K e n a l i n , Bang. Lia||. kata Dilan ke abangnya
- O h ? Banar!||, katanya sambil dia j a b a t tanganku

halaman.

Pengendaranya

-Liafl
M a n a m i n u m n y a ? ) , tanya Bang Banar
- U d a h , Bang di dapur||
-0ke||. k a t a n y a sambil masuk ke d a l a m
H a b i s itu. k u p a n d a n g lagi Dilan, tapi t a n p a bicara. N a m p a k t a n g a n n y a , y a n g kiri,
m e n g g a r u k - g a r u k k e p a l a n y a . Di m u l u t n y a a d a sedikit s e n y u m a n . Lalu d a t a n g Disa:
- B o l e h ikut ngobrol?||. t a n y a Disa dan aku t e r s e n y u m k e p a d a n y a
Sini||, kata Dilan sambil m e m e g a n g s o f a di s e b e l a h k i r i n y a
-Oke||, k a t a n y a
- S i n i aja||, kataku sambil s e d i k i t m e n g g e s e r . Disa m e m i l i h d u d u k di s a m p i n g k u
- D i s a kelas berapa?||. k u t a n y a
- K e l a s b e r a p a . Bang?||. t a n y a Disa ke Dilan
- K e l a s Bantam||. j a w a b Dilan ( A s l i n y a , w a k t u itu, Disa kelas 3 S M P )
- K e l a s Bantam, Kak||, k a t a n y a sambil m e n o l e h k e p a d a k u
- H a ha ha ha S e k o l a h tinju?||, t a n y a k u ke Disa
- K a k a k k e l a s berapa?||, Disa nanya
- T a n y a Abang||, j a w a b k u t a n p a m e n o l e h k e Dilan
- K e l a s b e r a p a , Bang?||, t a n y a Disa
-Kelaaaass

menengah

ke

atas||,

jawab

Dilan.

Mungkin

maksudnya

Sekolah

M e n e n g a h Atas.
- M e n e n g a h ke atas katanya||, kataku pada Disa sambil s e n y u m
W o w ! H a t i - h a t i j a t u h ||, k a t a n y a
- K a n pegangan||, kataku sambil s e n y u m
- Y a . Bagus ||. j a w a b Disa
T a k l a m a k e m u d i a n kami d e n g a r si Bunda m a n g g i l . Dia n g a j a k k a m i m a k a n . Aku. Disa
d a n Dilan p e r g i ke ruang m a k a n .
Aku n e l e p o n dulu||, kata Dilan k e p a d a k u sambil p e r g i m e n u j u t e m p a t t e l e p o n .
-Iya|| kujawab. A k u dan Disa l a n g s u n g g a b u n g d e n g a n Bunda dan Bi Diah y a n g sudah
duduk m e n g h a d a p m e j a m a k a n .
- S i l a k a n , m a k a n sepuasnya||, kata Bunda
- M a k a s i h , Bunda||, j a w a b k u
- M a n a Banar?||
- D i kamarnya||, j a w a b Disa
Bunda y a n g m a n g g i l . atau Disa?||, t a n y a Bunda
Aku aja||. kata Disa sambil k e m u d i a n dia pergi.
Ayo, Lia||, kata Bunda sambil n y o d o r i n piring y a n g sudah Bunda kasih nasi,||Ini
m a s a k a n duet Bi Diah sama Bunda||, s a m b u n g n y a .
- N u n g g u Dilan. Bunda||. kataku s a m b i l m e r a i h p i r i n g itu
-Dilan!||. Bunda m a n g g i l
- B e n t a r ! ||, Dilan m e n j a w a b dari j a u h . Lalu d a t a n g Disa b e r s a m a Bang Banar
- U d a h m a k a n tadi di kampus||, k a t a n y a
A y o laaah. biar rame||, kata Bunda. Lalu Bang Banar j a d i duduk
- S e d i k i t aja||. k a t a n y a
- D i s a j u g a sedikit ya, Bunda?|| kata Disa
-Kenapa?!
- S e d i k i t - s e d i k i t m a k s u d n y a a a a he he he||, j a w a b Disa
- S e r e m e h - s e r e m e h ? | | . tanya Bunda lagi
- E n g g a k ah! Lama||
- H a ha ha. Ini Banar. k a k a k n y a Dilan,|| kata Bunda k e p a d a k u sambil m e m e g a n g
bahu Bang Banar,||Ada lagi k a k a n y a Banar: Landin. T a p i b e l u m datang||, kata Bunda lagi.
- K a n lima Bunda?||, t a n y a k u
- Y a . y a n g sulung. A i d a . Dia ikut suami||, j a w a b Bunda.

- S u d a h punya anak satu. Masih bayi. Lucu..seperti aku. N a m a n y a Beika||. kata Disa
bersamaan datangnya Dilan.
Kata Bunda, tidak biasanya makan bareng, hanya sesekali kalau kebetulan pada
kumpul. Tapi hari itu adalah hari y a n g paling bahagia buatku, bisa berada di rumah Dilan.
Bisa kumpul dengan Bunda. Bisa kenal dengan Disa, dengan Bang Banar. Bang Landin,
dan Bi Diah.
Sehabis makan, aku, Disa dan Bunda duduk di ruang tamu, membuka-buka album
dan m e m b a h a s p h o t o yang ada di dalamnya. Juga ngobrol tentang banyak hal y a n g cukup
berguna untuk m e m b u a t kami akrab sampai kemudian Dilan datang bergabung dengan
kami.
T a p i Dilan seperti orang yang sedang gelisah. Seperti ada y a n g sedang ia pikirkan
mengenai sesuatu y a n g harus ia urus. Kukira, itu menyangkut soal rencana p e n y e r a n g a n
y a n g j a d i gagal gara-gara muncul aku di luar dugaannya.
Dia pasti heran dengan sikapku kepadanya hari itu, tapi bukan cuma dia. aku sendiri
juga heran, kenapa aku bisa menjadi Milea y a n g tidak biasanya. Menjadi Milea y a n g
manja, maksa-maksa Dilan untuk mau jalan-jalan denganku. Jadi Milea yang rewel
merepotkan, melarang dia pergi m e n e m u i temannya.
Pasti ada sebuah kekuatan yang sudah mengalahkan kesadaran, y a n g telah mampu
m e n d o r o n g k u untuk bersikap seperti itu, dan aku tahu kekuatan itu bersumber dari rasa
cemasku pada resiko y a n g akan dialami oleh Dilan jika benar-benar dia nyerang.
Dalam keadaanku yang normal, dengan keadaanku y a n g sadar, mana mungkin itu
bisa, bahkan aku tak akan berani meski hanya m e m i n t a dia untuk mengantarku ke
tukang p h o t o copy.
Sungguh, di luar dugaanku bahwa itu benar-benar terjadi.
Meskipun tadi pagi sudah kubilang kepada o r a n g - o r a n g yang duduk di tembok pagar
warung Bi Eem, tapi sebetulnya aku bukan pacar Dilan. maksudku aku merasa belum
resmi menjadi pacar Dilan. kalau m e m a n g untuk itu dibutuhkan adanya pernyataan dari
kedua belah pihak.
T a p i apakah pernyataan macam itu diperlukan, agar aku dan Dilan tidak cuma
dianggap sebagai sahabat dekat? Meskipun sikapku dan sikap Dilan kepadaku layaknya
seperti orang yang sudah pacaran. Gak tahu. Aku gak ngerti. Aku serahkan semuanya ke
Dilan y a n g sudah tidur telungkup di atas s o f a panjang. Bunda tadi izin pergi, katanya
mau belanja j a h e untuk membuat minuman hangat.
- D i kamar Disa ada selimut?||. kutanya Disa
- K e d i n g i n a n ya?||, Disa balik nanya. Ini Oktober, Bandung sedang dingin.
- K a k a k ambil ya?||, kataku
- D i s a ambilin?||
- B i a r Kakak aja||, j a w a b k u dan lalu pergi ke kamar Disa.
Aku datang bawa selimut, itu bukan untuk aku, itu untuk Dilan.
Kirain buat Kakak ||, kata Disa
- K a s i a n kedinginan||
-iyall
Disa sayang sama Dilan?||
- B a n g Dilan?||
-lya?||
-Sayang||, kata Disa sambil meletakkan album photo di atas meja. Itu adalah album
p h o t o y a n g dari tadi kami bahas. Rame dan j u g a sedih karena katanya Disa rindu
ayahnya yang sedang bertugas di T i m o r Timur.
Ayah Disa lagi berjuang. Dia pahlawan||, kataku berusaha menghiburnya
- D i s a takut ayah ditembak musuh||
Ayah Disa kan sudah latihan. Dia pasti tahu harus gimana||
- K o k sama? Bunda juga bilang gitu||

- H e h e he||
Kata Bunda m i n g g u d e p a n a y a h pulang)
- O h ya? ||
- K e n a l a n deh sama tentara||
Iya. P e n g e n ||
- N a n t i d a t a n g ya kalau ada ayah||
Iya. Asik||
Setelah Dilan kuselimuti, aku d u d u k lagi.
- K a k a k n g a n t u k ga?||, t a n y a Disa
M m m . enggak||
- D i s a ngantuk. T i d u r dulu ya?||
Iya. T i d u r ya||
- K a k a k di sini?||
-iyall
Disa

pergi

untuk

tidur

di

kamarnya,

meninggalkan

aku

yang

duduk

sendiri,

m e m a n d a n g Dilan y a n g tidur. Y a i t u Dilan y a n g dulu p e r n a h m e r a m a l b a h w a aku akan


b e r t e m u dia di k a n t i n d a n salah.
Dilan y a n g dulu p e r n a h d a t a n g k e r u m a h k u m e m b e r i surat u n d a n g a n untuk d a t a n g
k e s e k o l a h dari s e n i n s a m p a i sabtu l e n g k a p d i s e r t a i n a m a K e p a l a Sekolah s e b a g a i o r a n g
y a n g turut m e n g u n d a n g . Bukan surat cinta, c u m a surat u n d a n g a n y a n g aneh. tapi a y a h
d a n ibu k e t a w a setelah kuceritakan.
Dilan y a n g p e r n a h n g i r i m Bi A s i h untuk m e m i j i t aku agar bisa lekas pulih d a r i sakit.
B e n t u k p e r h a t i a n m a c a m apa y a n g bisa m e n y a m a i hal itu? S e d e r h a n a , tidak s e m e w a h T a j
Mahal, t e t a p i itu lebih baik d a r i c u m a s e k e d a r k a t a - k a t a .
Dilan y a n g p e r n a h n y u r u h t u k a n g koran, t u k a n g sayur, t u k a n g pos, s a m p a i p e t u g a s
P L N dan t u k a n g nasi g o r e n g , untuk m e n y a m p a i k a n c o k e l a t n y a kepadaku. S e o l a h - o l a h
s e m u a m a n u s i a d i dunia, d e n g a n a n e k a m a c a m p r o f e s i n y a , b e r s e k o n g k o l untuk m e m b u a t
aku s e n a n g .
Dilan y a n g p e r n a h ngasih k a d o b e r u p a buku T T S y a n g lebih b e r h a r g a dari b o n e k a
y a n g t e r m a h a l sekalipun. Cuma buku T T S . itu murah, tapi k e b a y a n g b a g a i m a n a dia h a r u s
b e g a d a n g untuk m e n g i s i j a w a b a n n y a , s e p e r t i sebuah p e r j u a n g a n y a n g harus i a t e m p u h
d e m i bisa m e m b u a t aku m e r a s a i s t i m e w a .
Dilan

yang

membuatku

pernah

bahagia,

berucap

membuatku

dengan

aneka

ketawa.

macam

Kata-kata

kata-kata

biasa,

yang

bahkan

selalu

cenderung

bisa
gak

p e n t i n g , t e t a p i aku selalu m e n u n g g u dia akan m e n e l e p o n k u s e t i a p m a l a m . Betul, bukan


k a t a - k a t a cinta, tapi m a m p u m e n u m b u h k a n rasa cinta.
Dilan y a n g m e m b u a t aku m e r a s a dilindungi, b a h k a n ketika aku s e d a n g b e r a d a j a u h
d a r i n y a . A k u tahu ia bukan S u p e r m a n , tapi o l e h ada dia aku bisa m e r a s a a m a n . s e o l a h olah dia sudah akan langsung d a t a n g untuk m e n g h i l a n g k a n s e t i a p o r a n g y a n g b e r a n i
menggangguku, yang berani menyakitiku.
M u n g k i n aku terlalu b e r l e b i h a n d e n g a n m e n i l a i dia begitu, s e o l a h - o l a h dia itu o r a n g
hebat, s e o l a h - o l a h dia itu j a g o a n , s e o l a h - o l a h tak ada hal buruk d a r i n y a . S e o l a h - o l a h dia
sempurna.
T a p i k a m u h a r u s tahu, ini adalah hak diriku untuk m e n g a n g g a p n y a begitu. M u g k i n
k a m u tidak m e n c i n t a i dirinya, tidak m e n y u k a i dirinya, syukurlah kalau begitu, s e h i n g g a
aku t i d a k p e r l u b e r s a i n g d e n g a n m u untuk bisa m e m i l i k i n y a .
Dilan m u n g k i n tidak p a h a m b a g a i m a n a s e h a r u s n y a m e m p e r l a k u k a n w a n i t a , tapi dia
tahu b a g a i m a n a m e m b u a t k u m e r a s a i s t i m e w a . T i d a k perlu b e r l e b i h a n bagi dia untuk
m e m b u a t k u m e r a s a lebih. Dia m u n g k i n bukan lelaki sejati, tapi aku butuh lelaki m a c a m
itu.

Dia

mungkin

bukan

tipe

lelaki

yang

kamu

idamkan,

tapi

biarlah

aku

ingin

memilihnya.
Sekarang, m u d a h - m u d a h a n k a m u m a k l u m , m e n g a p a aku c e m a s , ketika tahu dia
11 of 20

akan m e n y e r a n g SM A lain. Aku tak ingin terjadi apa-apa dengannya. Meskipun dia pasti
akan selalu di hatiku tetapi aku juga tak ingin dia hilang dari muka bumi ini, kalau iya,
nanti aku sunyi, nanti aku sedih.
Jadi ingat dengan apa y a n g pernah Dilan katakan di telepon:
- K a m u pernah nangis?||, kutanya
- W a k t u bayi. pengen minum||.
- B u k a n ih! Pas udah besar. Pernah nangis?||
- K a m u tahu caranya supaya aku nangis?||, dia n a n y a
-Gimana?||
Gampang||
Iya gimana?||
- M e n g h i l a n g l a h kamu dari bumi||
Sekarang Dilan sedang tidur. Aku harus t e t a p di sini, kalau perlu mungkin sampai
magrib.
Pokoknya j a n g a n sampai aku pergi, supaya bisa nahan Dilan j a n g a n sampai dia pergi.
Tadi, sudah kutelpon si Bibi, tolong bilang ke ibu, Lia ada urusan, baru magrib bisa
pulang.
Nyatanya aku baru pulang pukul tujuh. Tapi ga apa-apa. karena bunda sudah
nelepon ibuku. Aku pulang diantar Dilan. naik m o t o r dan pake j a k e t A r m y Korea punya
Dilan. Menyusuri j a l a n Ciwastra yang sepi. Melewati Pasar Gordon yang masih banyak
orangnya. Melewati terminal b e m o Sekelimus. Melewati Buah Batu y a n g bau wangi oleh
sebuah pohon kemuning yang ada tumbuh di pinggir j a l a n di daerah sebelum apotik.
Pohon itu, mudah-mudahan masih ada Sebelum pukul delapan kami sudah sampai di
rumahku. Di ruang tamu sudah ada Kang Adi. lagi ngajarin Airin. Kami masuk setelah
m e m b e r i salam. Airin yang buka pintu.
Kenalin, Kang! Dilan||. kata saya ke Kang Adi. terus duduk. Airin juga duduk lagi di
sampingku
-Hey!||. seru Dilan. bergegas nyamperin Kang Adi untuk ngajak salaman:
-Dilan!||. sambungnya.
-Adi||. kata Kang Adi. sambil masih tetap duduk:||Silakan duduk||. kata Kang Adi lagi.
-Makasih||. kata Dilan sambil duduk:
- I n i pasti Melati?||, kata Dilan lagi sambil nunjuk Airin
- B u k a n ! ! he he he||, kata Airin
- I n i , namanya Airin||, kataku sambil meluk Airin:||Jago main piano. Lan||.
Wow. Keren! ||. seru Dilan
-Sedikit||, kata Airin
- K i t a nyanyi oke?||, ajak Dilan
- D i l a n kan bisa gitar. Nah. main bareng. Dilan y a n g ngegitarnya||, kataku
- A d a gitar?||, tanya Dilan
- A d a . Gitar ayah. Nanti kuambil ||. kataku
- T a p i harus belajar dulu. Lia juga||. kata Kang Adi.
Ini Dilan yaaa?||, tiba-tiba ibu datang
- L a n . ini Ibu Lia||. kataku
Eh?||, Dilan berdiri dari duduknya. || Iya. Bu||
Akhirnya ketemu Dilan ya||, kata ibu senyum
- H e he he kayak yang pernah hilang||, j a w a b Dilan
- H e he he. Bukaaan! Lia kan suka cerita kamu. Penasaran kayak gimana sih?||, kata
Ibu
- K a y a k gini aja. Masih orsinil. Belum dimodif||. j a w a b Dilan
- H e he he||
Tadi Lia ketemu Bunda. Bu||. kataku ke ibu
Iya. T a d i Bunda nelepon. Dilan mau minum apa?||, tanya Ibu ke Dilan

- A p a ya? Gak usah repot-repot. Air z a m - z a m aja, Bu||, kata Dilan


- H a ha ha ha ha Itu merepotkan!||. aku ketawa. Bunda juga. Airin juga. Kang A d i
kulihat dia tidak.
- A p a dong?||, tanya Dilan seperti bingung
- A t a u bikin sendiri? Ayo?||. t a n y a Ibu
Iya. Bikin sendiri aja||, j a w a b Dilan
Iya silakan||, kata Ibu
- A k u bantuin! Tapi ganti baju dulu||, kataku sambil lalu berdiri.
- M a n d i dulu||, kata Ibu
-lya||.
- K a n g . mau dibikinin? Spesial||, tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri
- G a k . Ga usah. Nanti bikin sendiri||. j a w a b n y a
- K e dapur aja ya||. kata Ibu sambil dia pergi masuk. Aku dan Dilan nyusul.
Di kamar, aku cuma ganti baju. Mandinya nanti aja. gak sabar ingin ke dapur bantuin
Dilan. Pas ke sana sudah ada si Bibi. Ibuku dan Dilan. sedang pada ketawa sambil
membuat minuman jahe.
Perasaan, di j a m a n dulu. kalau gak salah, di tahun 90an. di rumah-rumah di
Bandung, orang-orang masih pada suka m e m b u a t minuman jahe. Juga masih ada tukang
Bandrek. Sekoteng dan Bajigur y a n g suka lewat depan rumah. Entah kalau sekarang.
- B i . ini Dilan||. kataku ke si Bibi
- H e he he. Udah. tadi, kenalan||. kata Dilan y a n g sedang duduk di kursi dan malah
mainin j a h e y a n g ada di atas meja, bukannya ngebantuin
- I n i , Bu. Dilan suka ngajak ngobrol si Bibi nih||, kataku ke si Ibu sambil duduk di
kursi berhadapan dengan Dilan. ikut mainin j a h e
- H e he he. Ngobrol apa?||, t a n y a Ibu
- N g o b r o l apa, Bi?||, tanyaku ke si Bibi y a n g lagi numbukin j a h e y a n g sudah dibakar
oleh ibu dengan api dari k o m p o r
- B a n y a k hi hi hi. Mau ngajarin Bibi ngomong bencong. Ngajarin tidur kayak ikan.
A n e h - a n e h he he he||, kata si Bibi
- H a ha ha. Tuh ajarin!||, kataku ke Dilan
- B i k i n apa?||, tanya Airin yang datang ke dapur
-Jahe||, kata Ibu, || Udah kamu belajar aja||
-Bosen||, kata Airin sambil seperti mau bantuin si Bibi
Ibu?||, tiba-tiba Dilan nanya
- Y a , Dilan?||, tanya Ibu
- K e n a p a anak ibu cantik-cantik?||, t a n y a Dilan
Iya dong. Kan ibunya j u g a cantik he he||, j a w a b Ibu
- H e he he Iya||. Dilan ketawa
- I t u y a n g namanya Kang Adi||, bisikku ke Dilan. Aku kuatir dia cemburu. Atau tidak.
Entahlah.
Iya. Ganteng||, j a w a b Dilan
- I h ! Kamu suka?||, tanyaku
- K a l a u dia mau. Oke||, j a w a b Dilan
- H a ha ha ha mau ke kamu maksudnya?||, tanyaku lagi
- M u d a h - m u d a h a n mau|j. j a w a b Dilan
Kenapa? ||, tanyaku
- B i a r enggak ke kamu||, kata Dilan
- H a ha ha. Dia pengen ke aku||, kataku ke Dilan masih dengan suara berbisik
Aku p e n g e n ke dia||, kata Dilan
- I h . serius||, kataku
- K a l a u ada yang mau ke kamu. udah biasa kan? Banyak. Gak usah diceritain||
- T a p i aku gak mau ke dia||. kataku

- K a l a u ada yang gak mau ke dia. udah biasa kan? Banyak||, kata Dilan
- H e he he kamu kan mau?||, tanyaku
- K e n a p a kamu gak mau?||. Dilan balik nanya
- G a k mau aja||
- M a u n y a ke siapa?||, tanya Dilan lagi
-Ke...Iiiiiih. Perempuan gak suka ditanya||, kataku masih bersbisik
- K a m u maunya ke aku||, kata Dilan dengan santai
- H e he he||
Apa ini pada ketawa gak ngajak-ngajak||. kata si Ibu, sepertinya minuman j a h e
sudah siap disajikan
- B u , kayaknya Lia gak belajar ah malam ini?||, kataku ke Ibu
- Y a bilang dong ke Kang Adi||. kata Ibu
- Iya ||, j a w a b k u
Si Bibi m e m b a w a minuman j a h e ke ruang tamu. Ibu j u g a pergi ke sana bersama Airin.
Aku masih duduk dengan Dilan di dapur. Kedua tangan Dilan tiba-tiba m e m e g a n g dua
tanganku.
- D o a i n , Lia||, katanya
- D o a i n apa?||, tanyaku setelah sekilas tadi melihat gerakan tangan Dilan mengelus
jemariku.
Mendadak perasaanku seperti dilanda sesuatu yang sungguh sulit kuungkapkan.
- D o a i n , Kang Adi gak mau ke aku....||, j a w a b Dilan dengan suara berbisik. Kedua
tangannya masih m e m e g a n g kedua tanganku. Dia lakukan dengan sikap seolah-olah
baginya, itu adalah hal biasa, padahal sungguh, demi Tuhan, baru malam itu ia lakukan
dan aku nyaris gak percaya.
- I h ! Katanya tadi mau?||, kataku, dengan isi kepala y a n g terus mikirin tangan Dilan
y a n g masih m e g a n g tanganku
Udah berubah... ||, kata Dilan
- D i l a n ! Lia!||. Ibu manggil kami dari ruang tamu
Iya, Bu. Bentar||. aku teriak m e n j a w a b n y a
- G i m a n a kalau kang Adi mau ke aku? Aku takut! ||, tanya Dilan berlagak seperti
orang yang ketakutan. Kedua tangannya masih mengelus dua tanganku. Sungguh, aku
bingung. Serius. Ini apa? Di saat tangannya begitu mesra m e m e g a n g tanganku, tapi y a n g
ia bahas justeru malah soal Kang Adi.
-Liiiiiiaaaa||, Ibu manggil lagi
Iya, Bu! Ke sana yuk?||, ajakku ke Dilan
- T a k u t , ada Kang Adi||, kata Dilan berbsisik, tangannya masih m e m e g a n g tanganku
- B i a r , sekarang giliran aku melindungimu he he he||
Jadi tenang||. kata Dilan
- H a haha||
Aku dan Dilan berlekas pergi dari dapur dengan tangan saling bergandengan, dan
lalu dilepas sebelum sampai ke ruang tamu.
- L i n d u n g i aku, Lia||, bisik Dilan seperti orang m e r e n g e k
- S i a p ! | . j a w a b k u sambil senyum m e m a n d a n g matanya. Lalu kami duduk bersama
Airin. Ibu dan kang Adi yang nampak bingung dia harus bagaimana.
- K a n g . Lia gak belajar ah malam ini||, kataku ke Kang Adi, sambil menuangkan
minuman j a h e ke gelas
Irinjuga||, kata Airin
- E h , kenapa?||, tanya ibu
- M a l a m ini aja||, j a w a b Airin
- G a apa-apa. Besok sore aja ya? Kang Adi besok santai kok||, kata Kang Adi sambil
dia beresin buku di atas meja itu
- Y a udah. Malam ini. karena ada Dilan. belajarnya libur dulu||, kata Ibu

- T i a p malam minggu ya b e l a j a r n y a ? ) , tanya Dilan sambil m e m e g a n g gelas dengan


kedua tangannya
Iya. T i a p malam m i n g g u ) , j a w a b Ibu
- K a l a u tiap malam minggu aku ke sini. nanti gak belajar-belajar he he h e ) , kata
Dilan
- Y a belajar dong. Ayo. ikut belajar sama A d i ) , kata Ibu,)Adi, a y o diminum j a h e n y a ) ,
sambung Ibu ke Kang Adi
- I y a ) , j a w a b Kang Adi sambil m e m b a c a buku. Air j a h e n y a masih utuh karena belum
diminum.
- I b u ke dalam dulu y a ) , kata ibu sambil lalu dia pergi. Di ruang tamu j a d i cuma
berempat. Aku duduk dengan Airin di sofa y a n g panjang. Kang Adi duduk di s o f a yang ada
di sebelah kanan Airin. Dilan duduk di sofa yang ada di samping kiriku.
Tak lama dari itu. telepon rumah berdering. Ibu y a n g ngangkat. katanya itu dari
Bunda buat Dilan. Dilan ke sana untuk ngobrol dengan Bunda di telepon.
Diminum, K a n g ) , kataku
- K u r a n g suka j a h e ) , kata Kang Adi sambil masih j u g a baca bukunya. Itu adalah buku
N o v e l y a n g dia pernah janji mau dikasihin ke aku
Ooh), kataku sambil mereguk minumanku
- H a r u semangat belajar. A i r i n ) . kata Kang Adi sambil m e n y i m p a n buku y a n g sedang
ia baca.
Aku merasa, dia bilang begitu, seolah-olah j u g a untukku.
- J a n g a n belajar terus ah, Kang A d i ) , j a w a b Airin.
- K a n cuma malam minggu. Gak tiap h a r i ) , kata Kang Adi
- I y a ) , j a w a b Airin
- I n i n o v e l n y a ) , kata Kang Adi, m e n y e r a h k a n novel itu ke aku sambil memandangku.
- O h , makasih. K a n g ) , kataku sambil kupandang buku itu
- B a g u s novelnya! Kang Adi sukanya n o v e l - n o v e l yang mikir g i t u ) . kata Kang Adi
- B a h a s a Inggris?), tanyaku sambil masih kulihat-lihat buku itu
Iya lah). Jawab Kang Adi
- K a k . Irin mau ke ibu d u l u ) , kata Airin sambil beranjak dari duduknya.
Iya), kataku.
Beberapa detik setelah Airin pergi. Kang Adi pindah t e m p a t duduknya, ke t e m p a t di
mana tadi Airin duduk, yaitu di sampingku. Asli, aku merasa risih, tapi gak tahu harus
gimana. Kutolak gak enak. Bersikap menjauh j u g a gak enak. Ya sudah lah. M u d a h mudahan, Kang Adi bukan bermakusd ingin membuat Dilan panas, tapi kurasa iya.
- I n i deh. Pas bagian ini lucu), kata kang Adi sambil meraih buku di tanganku. Sikap
tubuhnya, bisa kubaca, seperti orang yang ingin mendekat. Aku berusaha merhatiin
bagian buku yang ditunjukkan oleh Kang Adi dengan badan yang kujaga untuk tidak
m e n d e k a t kepadanya, meskipun t e t a p dalam sikapku y a n g santai. Tapi kurasa dia tahu.
Dari t e m p a t Dilan nelepon. dia n g o m o n g ke aku sambil masih m e m e g a n g gagang
telepon, katanya Bunda ingin ngobrol sama aku.
- B e n t a r ya. K a n g ) , kataku pada Kang Adi sambil mulai berdiri dari duduk. Kang Adi
tidak menjawab. Dia masih m e m b a c a bagian buku y a n g katanya lucu.
- G i m a n a aku?), tanya Dilan ketika berpapasan denganku
- G i m a n a apa?),
- L i n d u n g i aku. P l e a s e )
- H a ha ha ha. Gengster kok minta dilindungi! Lawan sendiri!), j a w a b k u berbisik
sambil berlalu.
Dan Dilan kembali ke ruang tamu.
Aku angkat telepon dan langsung kusapa Bunda:
Hei, Bunda!!)
Hei, Cantik)

- H e h e h e makasih||
- T a h u gak, kenapa Bunda tahu ada Dilan di situ?||.
-Karena....Bunda tadi nelepon he he he|| j a w a b k u s e n y u m
Iya. Pintar kamu. Bunda pengen ke situ. Liaaa

||

Iya sini. Bunda||,


- K a t a n y a lagi makan sate kelinci ya? Emang Lia suka ya?||,
- H a h ? Ha ha ha ha ha enggak. Bunda! Dilan bilang gitu?||
- A s t a g f i r u l l a h a l a d z i i i i i i i m . Dia itu yaaa!||. Si Bunda seperti orang yang kesel
- H a ha ha ha ha ha. Cuma minum jahe. Bunda||.
- D i a bilang lagi nyate kelinci||.
- H a ha ha enggak||
- D a s a r ! Jahe lagi? Tadi di rumah Bunda. Jahe. Sekarang j a h e lagi||
Iya. Mabuk jahe. Bunda||.
- T a d i . Bunda kira, beneran nyate kelinci||.
- H a ha ha. gak suka||
- S a m a laah||
- S i n i . Bunda||. kuajak
- P e n g e n . M e m a n g n y a kau punya m o n y e t ya? Bunda kok gak lihat waktu ke situ?||.
Monyet apa? Gak punya m o n y e t . Bunda||.
- N g a r a n g lagi tuh dia!||
- D i l a n bilang ya?||.
Iya. Katanya judes. Mana ada m o n y e t judes||. kata Bunda
- H a ha ha ha ha! Gak punya Bunda||
- B i l a n g n y a gitu ke Bunda, tadi itu. dia!||
- B i l a n g punya monyet? Ha ha ha||.
Iya. Segala minta dilindungi sama kamu. Katanya takut sama monyetnya||. kata
Bunda
- H a ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha||
Iya! Masa sampai takut gitu||.
- H a ha ha ha ha ha ha ha ha||
- N g a r a n g terus dia itu. A w a s kalau dia pulang!||.
- H a ha ha ha ha ha ha Mau bilang ah ke Dilan. Jangan pulang. Mau dimarah Bunda.
Biar tidur di sini he he he||
Itu. dia orang, suka ngarang kalau ngomong||.
- G a apa-apa. Bunda. Lia suka||.
Iya. Makasih! Makasih sudah suka sama Dilan|| kata Bunda pelan
- L i a j u g a makasih. Bunda sudah ngelahirin Dilan he he he||, akhirnya kubilang j u g a
- S a m a - s a m a . Bunda juga senang Dilan sukanya sama kamu||
Iya

Bunda. Lia juga suka||. aku gak tahu, mendadak susah mau ngomong

- I t u , tadi Bunda telepn Dilan, ada tamu di rumah. Katanya mau ke Dilan||, kata
Bunda
- O h ? Siapa, Bunda?||.
- A h ! Siapa itu namanya? Oh. Anhar ya?||
- O h ? Iya! Sendiri. Bunda?||.
- B e r t i g a ||
Setelah beres dengan Bunda, aku ke ruang tamu. Tapi gak ada Dilan. H a n y a ada Kang
Adi y a n g sedang baca buku.
- M a n a Dilan. Kang?||, kutanya Kang Adi
- G a k tau....|| j a w a b n y a . Aku pergi keluar.
- B i a r i n atuh. p e n g e n di luar||, kata Kang Adi
- B e n t a r . Kang||, kataku sambil kubuka pintu. Rupanya dia sedang duduk di bangku
y a n g ada di bawah pohon j a m b u itu. Aku ke sana dan duduk di sampingnya.

Kirain kemana?||, tanyaku


- G a k ada kamu. Takut||
- S a m a monyet?||, tanyaku
- H a ha ha ha haf|
Iya sih! ||.
- H a ha ha ha ha||
Aku tadi dicakarnya nih!||, kata Dilan. Lengan tangannya dia tunjukkan
-Mana?||, kataku sambil kupegang tangannya
Aaahh!!!||, Dia seperti nahan jeritan, seolah-olah benar luka. yang sakit kalau
disentuh
- G a k ada!||
- T a d i sih ada||, katanya, sambil melihat lengan tangannya
- L a n g s u n g sembuh||.
Tiba-tiba, tangan kanannya, m e m e g a n g tangan kiriku, sambil ia tatap mataku dan
senyum. Aku j u g a sama begitu. Dan itu. senyuman y a n g mewakili kata-kata, ketika sudah
saling mengerti, tak perlu lagi diungkap.
- M a s u k yu?||. kuajak Dilan sambil m e m a n d a n g m a t a n y a
-lya||
- G a k enak nganggurin m o n y e t ha ha ha ha ha||. kataku
Heh! Gak boleh gitu ahk!||.
Kamu yang duluan! ha ha ha|| kataku
- H a ha ha! Gak sengaja. Terlalu j u j u r ||.
- E h . Bentar. Ngapain A n h a r ke rumah?||. tanyaku.
- M u n g k i n ada perlu||. j a w a b n y a sambil terus ia pegang tanganku
- A k u gak suka Anhar||. kataku sambil kupandang lagi dia
Iya. Ga apa-apa||
- N g a p a i n dia ke rumah?||. kutanya dia
- M u n g k i n cuma main||
- A k u ingin kamu jujur||. kataku
Jujur gimana?||.
- K a m u kemaren mau nyerang?||
- K a n seharian sama kamu terus?||, katanya
- K u b i l a n g : Mau. Kalau enggak kuajak. Kamu pasti nyerang||
- M o n y e t suka j a m b u gak?||, tanya dia sambil m e m a n d a n g ke atas pohon j a m b u
- A k u gak suka kamu nyerang-nyerang||, kataku
- A k u ambil j a m b u dulu ya, buat dia?||, tanya dia
- K a m u denger aku gak?||, tanyaku
Iya he he he||
- A k u gak suka kamu nyerang-nyerang||.
- I y a . Lia. Enggak||.
Janji? ||.
- I y a . Janji ||
- M o n y e t suka j a m b u gak?|| tanya dia memandangku.
Tanya ke dia!||, kataku seperti orang y a n g kesel
-Bentar||, kata Dilan sambil beranjak dari duduknya, m e l e p a s tanganku dan pergi
-Heh?!||, aku teriak dengan suara y a n g pelan, bagai sedang m e n a h a n dia pergi
-Bentar|| katanya, sambil terus berlalu dan dia buka pintu:
- K a n g , suka jambu?||, tanya Dilan ke Kang Adi sambil berdiri di pintu dengan tangan
masih m e m e g a n g handelnya.
- O h . Ini. lagi ngambilin jambu. Kang||, Kata Dilan sambil dia tutup pintu itu, lalu
duduk kembali denganku. Aku tebak, tadi Kang Adi jawab: ||Tidak||
- N g a p a i i i i i n n n heh??!!!! Hi hi hi||, kataku seperti orang m e n j e r i t y a n g ditahan

Kirain suka||, j a w a b Dilan


- H a ha ha ha ha ha. Dia j a w a b apa?||. tanyaku pelaaan sekali
- N g u k nguk nguk||
- H a ha ha ha ha! Apa artinya?||.
- M o n y e t sukanya pisang||
- H a ha ha ha ha ha. Kamu suka pisang?||, tanyaku
- J a d i enggak deh||.
- H a ha ha ha||
Mana t a n g a n m u ? ) , Dilan mencari-cari tanganku
Kenapa? ||
- M a u megang lagi||. katanya, sambil ia raih tanganku.
- H e he he||
Monyet kok dipanggil Akang. Heran||, kata Dilan bagai m e n g g u m a m
- H a ha ha! Masuk yuk?||
-lya||
- G a enak. Gak boleh nganggurin orang||.
Aku duduk dari jauh ah....||, katanya sambil berdiri
Iya. Di sana, di dapur. Hayu!!||, kataku sambil berlalu untuk masuk. Dilan ikut
- L i n d u n g i ya, Lia||.
- Y a n g harus dilindungi itu M o n y e t ) , kataku berbisik di kupingnya.
- H a ha ha ha||
Tak lama dari itu,

Dilan permisi pamit pulang ke

Ibu dan ke Kang Adi.

Biar

bagaimanapun, kata dia kepadaku, dia merasa ga enak ninggalin tamu di rumah yang
sedang menunggunya. Aku mengerti. Kuantar Dilan sampai dia naiki motornya.
Hati-hati), kataku
-iya)
- B o l e h aku nanti telepon kamu?||, tanyaku
-Kapan?||, t a n y a Dilan
- K a l a u kamu sudah sampai di r u m a h )
- T a h u n y a aku sudah sampai?', tanya Dilan
- K a n kamu nelepon a k u )
- H a ha ha ha ha ha. Aku tahu, itu berarti kamu minta aku nelepon kamu'
- H a ha ha iya. Aku ngikuti c a r a m u )
- C a r a g i m a n a ? ) , tanya Dilan
- Y a gitulah! Tidak langsung, tapi kena! Ha ha h a )
- H a ha ha ha||
-Dilan!)
-Ya?)
- P o k o k n y a , aku gak suka kamu n y e r a n g - n y e r a n g ) , kataku sesaat ketika mesin
m o t o r n y a sudah hidup
Iya, Lia. E n g g a k )
-Janji?)
iya.-II
Oke. Eh? Jaketmu di d a l a m ) , kuingatkan dia untuk m e m b a w a j a k e t n y a y a n g tadi
kupake sepulang dari rumahnya.
- B u a t kamu aja. Aku sih gampang. Kalau mau. tinggal minta lagi ke k a m u )
- H a ha ha ha ih!)
- G a m p a n g bukan?)
- S a m a kamu s e m u a n y a selalu gampang he he h e ) . kataku.
- A g a k susah kalau jinakin m o n y e t )
- H e he h e )
- B i l a n g ke dia, nanti aku kuliah di ITB tapi gak jadi m o n y e t ) , kata Dilan

- H a ha ha. Aaamiiin||.
Dilan pulang. Aku kembali masuk ke ruang tamu. Di sana nampak Kang Adi sedang
m e m b a c a buku. dan kemudian meletakkannya di atas
meja, sesaat setelah aku datang. Sebetulnya aku sangat berharap dia akan lekas
pulang, tapi gak tahu gimana caranya
- D i minum jahenya. Kang||, kataku sambil duduk meskipun sangat malas. Kang Adi
duduk di s o f a panjang. Aku duduk di kursi yang lain.
- I n i n o v e l n y a ) , kata Kang Adi. Aku meraih novel y a n g disodorkan oleh Kang Adi.
Iya, Kang. Makasih). Kubuka-buka, dan itu adalah asal buka. seolah-olah aku
tertarik dengan isinya, padahal cuma untuk mengharagai p e m b e r i a n n y a
- N o v e l n y a bagus. Cerita klasik gitu. Latar belakangnya, sejarah Inggris. Bagus buat
pengetahuan. Bagus b a n g e t ) , kata Kang Adi lagi
-oh)
- S a t u aja dulu. nanti kalau suka. Kang Adi bawa lagi. Masih banyak di r u m a h )
- I n i j u g a belum tentu kebaca sehari. K a n g ) . Kang Adi harusnya bisa m e m b a c a
bahasa tubuhku y a n g sudah merasa enggan untuk ngobrol
- E h jadi enggak mau main ke ITB? Gak jadi t e r u s ) , tanya Kang Adi
- G a k tahu tuh. Pengen s i h )
- B e s o k gimana?', tanya Kang Adi
-Besok ya?)
Iya? Kebetulan Kang Adi ada acara di kampus. Sekalian anterlah. Yuk?'
- B e l u m bisa mastiin. Besok telepon aja bisa apa e n g g a k n y a ) . kataku
-Oke)
Setelah bersih-bersih aku masuk ke kamar dan langsung kurebahkan diriku di kasur.
Kuingat kembali rentetan kejadian hari ini. Dipikir-pikir nyaris aku gak p e r c a y a bahwa
hari ini aku sudah bersikap keras ke Dilan. Menjadi Milea yang ikut campur urusannya.
Menjadi

Milea yang mengatur-ngatur hidupnya.

Menjadi

Milea y a n g sudah sangat

merepotkan.
Dia mungkin merasa terganggu, meskipun aku tidak melihat dia nampak merasa
begitu. Aku melihat dia santai-santai saja. seolah-olah baginya tidak ada sedikit pun y a n g
harus dipersoalkan dengan semua sikapku. Atau itulah dirinya, y a n g pandai menutupi
perasaan aslinya, agar aku merasa tidak bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan
kepadanya. Kukira dia mengerti, bahwa semua itu kulakukan adalah karena aku sayang
padanya.
Ia malah t e t a p bergurau dan bercanda seperti biasa, bahkan di dapur tadi ia
genggam tanganku.
Hal y a n g tidak pernah kusangka. Melambungkan perasaanku dan membuat deras
aliran darah di sekujur tubuhku. Ah. Dilan. m e n g a p a kau selalu bisa membuatku t e n t r a m
di saat sedang bersamamu, sehingga ketika kini kau jauh. aku jadi risau karena rindu.
Suara telepon berdering. Aku loncat dari kasurku, langsung berhambur keluar dari
kamarku untuk kuangkat telpon itu. Dari Dilan seperti y a n g sudah kuduga!
- H a l o ) , katanya
Hey||, j a w a b k u
-Halo?)
- H e y ! A p a ? ) , kataku bertanya dengan sedikit teriak y a n g ditahan
- T o l o n g aku. L i a ) . katanya
- D i l a n ! Kenapa?). Asli, aku c e m a s m e n d e n g a r suaranya
Aku gak enak ke i b u m u )
-Kenapa?'
- T a d i dia nitip salam buat B u n d a )
- T e r u s ? ) , tanyaku
- L u p a gak k e b a w a )

- I h ! ! ! Besok ambil ke rumah!||


- H a ha ha ha||
Sudah sampai rumah? ||, kutanya
Aku tanya dulu ya ke orang?||
- U d a h ! Udah! Gak usah! Ha ha ha||, kataku
- H a ha ha. M o n y e t udah pulang?||, tanya Dilan
- U d a h . Dia ngajak aku ke ITB||
Kapan?||, tanya Dilan
- B e s o k katanya||
- P e r g i seperti aku dengan Susi?||, tanya Dilan
-Maksudnya?|| Aku balik nanya
Iya seperti aku pergi dengan Susi lalu kau cemburu?||
- K a m u cemburu aku pergi dengan Kang Adi?||. kutanya
- A h . cemburu itu hanya untuk orang y a n g enggak percaya diri||
- J a d i ? ||. tanyaku
- D a n sekarang aku sedang tidak percaya diri||
- H a ha ha ha ha. Tapi kayaknya enggak ikut deh||
Aku tidak melarangmu ||. kata Dilan
- T a p i kamu sedang tidak percaya diri he he he||
Kayaknya begitu ||
- H e he he he Aku gak akan ikut||, kataku
- O k e . Sekarang kamu tidur||
- K a m u juga||. kataku
-iyall
Anhar sudah pulang?||, kutanya
- S u d a h . Cuma sebentar. Nah, sekarang kamu tidur. Jangan begadang. Dan j a n g a n
rindu ||
-Kenapa?||, kutanya
- B e r a t . Kau gak akan kuat. Biar aku saja||
- H a ha ha Biarin||
Senangnya m e n d a p a t telepon dari Dilan. Aku bermaksud kembali ke kamar dengan
hati y a n g sangat riang, ketika tiba-tiba telepon berdering lagi. Langsung kuangkat, dan
itu masih dari Dilan
-Apa?||, kutanya
- L u p a . tadi. T o l o n g bilang ke ibumu||
- B i l a n g apa?||
Aku mencintai anak sulungnya||
- H a ha ha ha T o l o n g bilangin j u g a ke Bunda||
- H a ha ha apa?||
- T e r i m a k a s i h sudah melahirkan orang yang aku cintai||
-Siapa?||. Dilan nanya
- A d a aja||
-Siapa?||
- K a m u ! Ih!||. kataku
- H a ha ha ha||
Dengan senyum dan dengan perasaan y a n g lain dari biasanya, aku kembali ke kamar.
Kurebahkan lagi diriku di kasur dan berusaha untuk tidur, tapi agak susah karena
pikiranku masih terus dipenuhi oleh Dilan dan oleh aneka macam cerita y a n g sudah aku
lakukan bersamanya hari tadi.
Kuambil j a k e t Dilan y a n g ada di sandaran kursi itu. lalu kupakai untuk tidur
bersamanya. Dilan.
Dilanku, selamat tidur juga||

23. PERGI DENGAN KANG ADI


Hari minggu, mungkin masih j a m tujuh waktu itu, ketika aku nganter ibu ke pasar y a n g
lokasinya tidak jauh dari rumahku. T a d i n y a aku gak akan ikut, tapi daripada kesel di
rumah ada bagusnya sekalian olahraga. Kami berjalan berdua m e n e m b u s cuaca Bandung
y a n g dingin.
Menelusuri trotoar jalan yang basah oleh embun y a n g turun semalam, di bawah
naungan p o h o n - p o h o n y a n g daunnya m e n y i m p a n sisa kabut.
Kira-kira pukul sembilan, kami sudah pulang dari pasar, mendapati ayah yang sudah
bangun dan sedang duduk di ruang tamu membersihkan senapan angin ditemani oleh
Airin. Ibu ngasih Airin makanan yang tadi dia pesan.
Pulang j a m a berapa malam, Yah?||, tanyaku
Jam....12", j a w a b n y a
- M a l a m Dilan ke rumah, Y a h he he he||
- O h ya? Ngasih y a n g aneh-aneh lagi?||. tanya Ayah senyum
- E n g g a k he he he||, j a w a b k u sambil pergi ke dapur nyusul ibu, untuk membantu Ibu
dan si Bibi m e m b u a t masakan.
Tak lama dari itu, aku m e n d e n g a r ayah manggil. Rupanya ada tamu, dan dia adalah
kang Adi
- O h , Kang||, kataku
- I n i Om, mau ke ITB sama Lia||, kata Kang Adi ke Ayah. Kang Adi sudah duduk di
bangku dekat Ayah.
- A d a acara?||, tanya Ayah
- A c a r a kampus, Om. Ngajak Lia sekalian m e m p e r k e n a l k a n dunia kampus ke Lia||,
jawab Kang Adi
-Tapi.

Kang.

Kayaknya

Lia

gak

bisa||,

kataku

sambil

berdiri

dengan

tangan

m e m e g a n g sandaran s o f a , K e n a p a tadi enggak nelepon dulu||, tanyaku kemudian


- N e l e p o n ! T a d i kamunya ke pasar||, kata Ayah
- T a p i gimana yaaa? kayaknya Lia gak bisa||, kataku
- K a m u ini. Orang sudah jauh-jauh datang||,
- P a l i n g sebentar aja||, kata Kang Adi
Duh, gimana ya?||, tanyaku bingung. Asli bingung, karena aku sudah terlanjur janji
ke Dilan untuk gak akan ikut ajakan Kang Adi.
- G a k lama kok||. kata Kang Adi
- L i a ada janji sama temen||, kataku
- A a h , paling sebentar||, kata A y a h
- D u h ! Enggak kayaknya. Kang||. kataku
- O r a n g udah jauh-jauh datang! ||, kata A y a h
- K a n Lia belum bilang bisa||, kataku
- T a d i Kang Adi nelepon, Lia nya lagi ke pasar||, kata Kang Adi
Iya. Udah sebentar aja||, kata Ayah
- Y a udah. Jangan lama, ya. Kang||
-iyall
Setelah mandi dan ganti pakaian, aku pergi dengan Kang Adi naik mobil T o y o t a
Corolla DX-nya. Aku harap kamu-kamu y a n g pro Dilan. bisa m e m a h a m i maksudku,
mengapa akhirnya aku ikut juga. Ya. kuakui aku sudah bohong ke Dilan. tapi bukan
begitu niatku.
Ini sangat susah kujelaskan, bagaimana aku merasa gak enak sudah selalu m e m b e r i
harapan bahwa suatu saat aku akan ikut ajakan Kang Adi untuk pergi ke ITB. Itu dari
s e m e n j a k aku belum begitu dekat dengan Dilan. Ya. aku bisa bilang bahwa ayah tidak
mengerti, ketika dia bilang:||Kamu ini. Orang sudah jauh-jauh datang||, tapi ayah j u g a bisa
bilang bahwa aku tidak mengerti. Dan aku tak ingin berdebat dengannya, tapi pasti, kalau
1 of 7

kutolak ajakan Kang Adi. Ayah akan menanggung perasaan gak enak juga.
Dengan hari itu aku ikut. setidaknya aku berharap merasa sudah seperti lunaslah
hutangku, dan itu akan menjadi hari terakhir aku pergi berdua bersama Kang Adi. Tak
akan pernah lagi.
Termasuk

tak

akan

pernah

lagi

memberinya

harapan

bahwa

aku

akan

ikut

seandainya dia mengajakku pergi lagi.


Okelah, hari ini aku pergi. Aku bisa m e n g a n g g a p n y a sebagai jalan-jalan biasa. Bukan
jalan-jalan khusus sebagai orang yang sedang pacaran. Aku bisa m e n g a n g g a p n y a seolaholah aku sedang naik angkot dan kebetulan cuma aku penumpangnya, aku jadi berdua
dengan sopir, tetapi antara aku dengan dia tidak ada hubungan khusus sama sekali.
Atau bisa kuanggap seolah-olah aku sedang naik ojek. M e m a n g pergi berdua, tetapi
tidak pacaran. Bahwa kalau kemudian tukang ojeknya mau sama aku. aku kan punya hak
untuk nolak.
Kalau dia m a c a m - m a c a m . Ayah sudah akan m e n e m b a k kepalanya.
Lagi pula ini kan cuma sebentar. Toh hal y a n g paling penting dari itu, aku cuma ikut.
tidak dalam rangka pacaran dengan Kang Adi. meskipun t e t a p aku berharap bahwa Dilan
gak akan tahu bahwa aku pergi dengan Kang Adi.
Toh hal y a n g paling penting dari itu. aku cuma ikut. aku tidak ada sama sekali punya
perasaan suka

ke Kang Adi. meskipun t e t a p aku berharap bahwa

Dilan tak akan

m e m e r g o k i aku sedang berdua dengan kang Adi. Aku takut dia cemburu dan marah
karena sudah dianggap berbohong kepadanya.
Di perjalanan. Kang adi banyak bicara soal ini itu. dari mulai soal outlet bapaknya di
BI P. lagu Air Supply kesayangannya, dan bisnis dia bersama dua kawannya mahasiswa
Senirupa ITB.
- K i t a ke sana ya.

Bentar.

Lihat-lihat aja||, katanya. Tidak kujawab.

Kang Adi

m e m b e l o k k a n mobilnya ke arah jalan Kebon Bibit, itu di daerah T a m a n Sari. Bandung.


Dulu belum ada Mali. jadi masih terlihat sangat asri.
Ini t e m p a t Kang Adi bisnis kecil-kecilan sama t e m a n senirupa||
-Oh||
- K e c i l - k e c i l a n , tapi lumayan||. Katanya lagi. Kemudian mobil berhenti di depan
sebuah Paviliun.
Hayu!||. Kata Kang Adi m e n g a j a k aku turun
Aku dan kang Adi masuk. Itu adalah sebuah Paviliun ukuran kira-kira 10 kali 6
meter. Kang Adi dan k a w a n - k a w a n n y a m e n y e w a itu untuk dijadikan sebagai sebuah toko
kecil y a n g menjual aneka macam handycraft.
Di dalam t o k o itu. sudah ada dua orang yang sedang ngobrol sambil ngopi. Orang itu
adalah kawan kang Adi, mahasiswa senirupa ITB. namanya kang Idam (kini sudah
A l m a r h u m ) dan Kang Soni. Aku berkenalan dengan mereka.
- S e l a i n toko. ini j u g a studio buat berkarya. Lia boleh ikut-ikut bantulah kalau mau||,
kata Kang Adi sambil m e m b a w a k u untuk melihat barang-barang handycraft itu.
- N a h ini bagus, buat hadiah ulangtahun. Bagus kan? Orang yang dikasihnya pasti
suka. Unik, lain dari yang lain||. Kata Kang Adi memperlihatkan barang itu.
Kupegang barang itu. serta merta aku j a d i ingat T T S yang dikasih oleh Dilan sebagai
hadiah ulangtahun darinya untukku. Bukan handycraft y a n g indah dan unik atau mahal,
cuma buku TTS, tapi aku senang karena merasa istimewa oleh betapa ia jadi harus
begadang demi mengisi j a w a b a n n y a agar aku tidak pusing.
- Bagus ||, j a w a b k u sekedarnya
- K a l a u kamu mau, ambil aja. Berapa y a n g ini. Dam?||. tanya Kang Adi ke k a w a n n y a
- I t u ? 30 ribu||, j a w a b Kang Idam dari agak jauh
- G a k usah. Kang||. kataku
- A m b i l aja||. kata Kang Adi ke aku.||Dam. aku ambil ini ya||, kata Kang Adi lagi ke
Kang Idam

Yoi||, j a w a b kang idam sambil masih ngobrol sama t e m a n n y a


- N a h kalau ini dus buat bungkus coklat. Beli coklatnya sih di warung, terus masukin
ke sini.
Kreatif kan? Biasanya buat Valentinan gitu lah||, kata Kang Adi. Kalau Kang Adi
pernah d e n g e r bahwa Dilan suka ngasih aku cokelat, dia pikir bahwa itu hal biasa. Tidak,
kang. Bukan cokelatnya, bukan bungkusnya, tapi bagaimana caranya dia m e m b e r i ke
aku, itu y a n g m e m b u a t n y a menjadi luar biasa.
- T e r s e r a h kamu aja. mau y a n g mana. Atau ini!?', kata Kang Adi menunjukkan
sebuah tempat pinsil
Nanti aja, Kang||
- K a p a n lagi. Udah ambil ajajj
- Y a udah ini aja||, katakaku ngambil kotak t e m p a t pinsil itu. Kang Adi nyamperin
temannya
- S i n i , Lia. Ngobrol dulu||, dia manggil. Aku nyamperin ke sana.
- K a l a u mau, kamu bisa bantu-bantu di sini. Belajar bisnis. Bener gak, Son?||, kata
Kang Adi ke Kang Soni
-Iya||, kata Kang Soni (Uci Soni)
Iya, kang. Makasih||. kataku kepadanya
- I n i namanya bisnis kreatif. Lumayan daripada minta ke orangtua||
Kang Adi lalu ngobrol dengan mereka, aku cuma bisa jadi pendengar y a n g ingin lekas
pulang.
Obrolannya soal bisnis dan hal lain yang t e r d e n g a r seperti keren, seolah-olah itu
sengaja

agar

aku

bisa

mendengar

dan jadi

kagum

kepadanya.

Setidaknya

itulah

tebakanku.
Selesai dari sana. Aku dan Kang Adi langsung berangkat lagi untuk pergi ke ITB
- U d a h makan belum?||, tanya Kang Adi
- U d a h . Kang||, kataku, Tadi makan bubur sama ibu. di pasar||.
- O h . kalau mau makan, nanti aja di kantin kampus||, katanya
- I y a ||. Jawabku.
Setibanya di ITB, kami langsung masuk ke gedung fakultasnya Kang Adi. Di sana ada
banyak mahasiswa y a n g sedang berkumpul di lapangan, pada asik nonton musik akustik.
Kata

Kang Adi,

sebagian

mereka

adalah

mahasiswa

baru,

mereka

ditugasi

untuk

membuat kampus jadi seru.


Ajang kreativitas, katanya. Tapi aku ingin pulang.
- E h . kenalin, ini Lia||. kata Kang Adi ke t e m a n n y a
- O h , Binsar||, kata Binsar m e m p e r k e n a l k a n dirinya
-Lia||
- B a n d mana ini?||, kata Kang Adi ke Kang Binsar yang duduk di samping kanannya
- M a h a s i s w a baru||
- O h . Lumayan||
Untuk

mereka,

itu

mungkin

acara

yang

baik.

tapi

untuk

aku,

itu

sangat

membosankan. M e m b u a t aku ingin pulang. Syukurlah tak lama kemudian Kang Adi
m e n y a d a r i bahwa aku sudah mulai merasa tidak betah di situ. Lalu dia m e n g a j a k aku
untuk pulang.
D i j a l a n menuju pulang, yaitu d i j a l a n Telaga Bodas, Kang Adi bilang:
- K a n g Adi senang bisa jalan-jalan sama Lia he he he||
Jam berapa sekarang? ||, tanyaku
-Jam

satu. kenapa? A d a acara? ||

- E n g g a k . Janji mau nelepon||, j a w a b k u


- K o k nelepon janjian?||
-lya||
- S e n e n g gak tadi ke ITB?||, tanya Kang Adi

-Yaa...Seneng. Makasih, Kang||


- S a m a - s a m a . Kalau Kang Adi sih senengnya karena bisa jalan-jalan sama Lia he he
heD
Naik mobil. Kang||
Iya. Maksudnya seneng bisa main sama Lia||
- K a n g . bisa mampir dulu ke warung itu?||
- O h boleh. Mau beli apa?', tanya Kang Adi
Pesenan Dilan||. Dilan m e m e s a n n y a waktu dia nelepon tadi malam. Entah untuk
apa, sudah kutanya tapi dia bilang nanti aja dijelasin.
Oh||. Lalu mobil berhenti di pinggir jalan. Aku turun dan segera pergi ke warung
untuk m e m b e l i materai. Setelah itu masuk lagi ke mobil
- B e l i apa?||. Kang Adi nanya
- M a t e r a i ||
- B u a t apa?||,
- G a k tau. Dilan pesen||, j a w a b k u
- K o k nyuruh-nyuruh perempuan sih?||
- G a k apa-apa, aku j u g a suka nyuruh dia||, kataku
- Y a tapi kalau sudah nyuruh perempuan, janganlah, h a r g a i l a h !
- G a k apa-apa. Lia s e n e n g - s e n e n g aja kok. Kang||
-Hati-hati |
-Kenapa?||. kutanya sambil kupandang dia
- D i a anak g e n g m o t o r ya?||
Tahunya? ||
- K a n semalam dia pake j a k e t n y a |
Iya. Lia j u g a gak suka g e n g m o t o r , Kang. Kalau Lia suka ke Dilan atau ke siapa pun,
bukan karena dia gengmotor. Lia suka karena dia baik ke Lia. Rame||
- Y a a a , kan orang bisa bersandiwara. Lia. N a m a n y a pendekatan ya pasti gitu lah||
- K a n g Adi baik ke Lia. ngasih novel, ngasih sweater, sandiwara bukan?||
- Y a bukan lah. Beda. Kang Adi ngasih ke Lia semuanya tulus! - D i l a n j u g a begitu. Kang, tapi tidak ngomong||. Kataku. Kang Adi lalu diam. Aku
berani n g o m o n g gitu ke Kang Adi, karena aku j u g a merasa dia sudah berani ke aku
m e n j e l e k - j e l e k a n orang yang Kang Adi sendiri padahal sudah tahu bahwa Dilan adalah
orang dekatku.
Tak lama kemudian kami sampai di rumah. Kang Adi langsung permisi pamit pulang.
Si Bibi bilang tadi ada telepon dari Dilan. Oh!
- T e r u s apa kata Bibi?||
- D i b i l a n g pergi sama Kang Adi||, kata si Bibi.
Oh Tuhan! Celaka! Tadi lupa tidak pesan ke si Bibi, untuk j a n g a n dibilang pergi
dengan kang Adi kalau nanti Dilan nanya. Ini j e l a s bukan salah si Bibi. Serta merta
sebagian dari diriku langsung lemas dan juga dilanda perasaan gelisah y a n g sangat
hebat. Pikiran jadi bingung tak karuan, gak tahu harus gimana dan bilang apa ke Dilan
agar dia mengerti.
Tak ada yang bisa kulakukan, aku langsung telepon Dilan. tapi yang ngangkat malah
si Bunda
- A d a Dilan. Bunda?||
- B a r u s a n dia pergi||
- K e m a n a . Bunda?||
- G a k bilang tuh. Kenapa? Rindu ya?||
He he he iya. Pergi kemana ya Bunda? Lia ada perlu||
- Y a . nanti kalau dia pulang Bunda bilang suruh nelepon Lia. Oke?'
Iya, Bunda! Atau bilang aja nanti Lia nelepon lagi. Ya. Bunda. ya?||
- O k e . Cantikku!||

Selesai nelepon aku pergi ke kamar dengan perasaan gak karuan. Kurebahkan diriku
di kasur.
Kebayang bagaimana tadi Dilan waktu m e n d e n g a r bahwa aku pergi dengan Kang Adi.
Dia pasti kecewa karena merasa sudah kubohongi. Dan Dilan. pasti akan sakit hati.
karena siapa pun dirinya, hatinya tidak terbuat dari marmer.
Aku j a d i tambah gelisah, karena teringat lagi o m o n g a n Dilan di telepon beberapa
waktu y a n g lalu. waktu dia kutanya:
- A p a yang Dilan gak suka dari p e r e m p u a n ? )
- K a l a u dia b e r b o h o n g )
- K a l a u bohongnya kepaksa?||
- A p a susahnya dia b i l a n g ? )
- K a l a u mau bilang tapi susah?)
- B e r a r t i dia takut, karena pacarnya p e m a r a h )
- H e he h e )
Sekarang, semuanya sudah terjadi, tak ada lagi yang perlu kusesali. Aku tinggal
pasrah

pada

konsekuensi y a n g harus

kuterima.

Meski

aku t e t a p harus

ngomong.

mungkin nanti malam kutelepon, m e m b e r i n y a penjelasan m e n g a p a akhirnya aku ikut


juga ke ITB. Habis itu, terserah Dilan mau gimana kepadaku. M u d a h - m u d a h a n dia
maklum.
Kulihat dari jendela, di luar langit mendung, untuk aku yang sendiri di kamar dan
bimbang, rasanya ingin nangis dan berharap langit lebih baik runtuh saja, agar bisa
menguburku, bersama perasaan bersalahku, maka selesailah semuanya, tak lagi ada
y a n g harus kurisaukan.
Meski aku sekarang bisa t e r s e n y u m mengenangnya, tetapi yang kurasakan waktu itu
betul-betul sudah membuat diriku berdebar, m e m b a y a n g k a n bagaimana Dilan kecewa
setelah tahu aku sudah berbohong.kepadanya. M e m b a y a n g k a n Dilan akan langsung
menjauh untuk kuterima sebagai hukuman. Aku merasa bersalah dan sekaligus juga
malu.
Kau pasti bisa merasakan bagaimana diriku waktu itu. Ketika kau bisa menahannya
untuk tidak sampai menangis, itu karena kamu kuat. tetapi aku tidak.Sebagian diriku
rasanya lunglai oleh tekanan rasa bersalah dan sekaligus j u g a malu. Malu pada Dilan
y a n g sudah begitu baik kepadaku. Ketika aku tak sanggup membalasnya, aku justru
malah m e m b u a t n y a kecewa.
Betul-betul tak pernah kusangka bahwa hari macam itu akan bisa kualami. Aku
kecewa pada diriku sendiri, seperti sedang mendapatkan harinya, di mana apa-apa yang
sudah kubangun selama itu sedang mengalami keruntuhan oleh akibat perbuatanku
sendiri. Ya runtuh, sebetul-betulnya runtuh, menimbunku dalam keadaan masih hidup
untuk bisa berkata: - D i l a n . Dilanku. aku tahu w a j a r kau marah, tetapi jangan, biar bisa
kau m a a f k a n )
Ah! Mengapa harus ada hari itu. padahal di hari sebelumnya, aku dan Dilan boleh
dibilang sedang m e s r a - m e s r a n y a . Bersikap layaknya dua orang y a n g sedang berpacaran.
Jalan-jalan dan dia m e m e g a n g tanganku. Bahkan aku bisa main ke rumahnya, bagai
sebuah hadiah yang paling istimewa berupa sebuah k e s e m p a t a n y a n g sangat kuinginkan
Ketemu Disa. Bang Banar. Bang Landin, Bi Diah dan si Bunda. Bunda yang ajaib, yang
bisa langsung m e m b u a t aku merasa bahwa dia adalah juga

ibuku. Aku

diajak ke

kamarnya, j a n g a n sampai Dilan tahu katanya, dia menunjukkan kumpulan puisi Dilan
kepadaku.
- M a n a , Bunda?), kataku tak sabar, sambil mulai duduk di kasur di samping Bunda
Ini. Ini! Judulnya Milea he he h e ) , kata Bunda dengan v o l u m e suaranya bagai
berbisik
Waaah)
"Milea

1"

Bolehkah

aku

punya

pendapat?

Ini tentang dia yang ada di bumi


Ketika

Tuhan

menciptakan

dirinya

Kukira Dia ada maksud mau pamer


Dilan.

Bandung

1990

- H a ha ha ha ha bagus. Bunda!||. kataku


- S s s t ! Ini b u a t k a m u juga||, kata Bunda m e n u n j u k puisi y a n g l a i n n y a
"Milea

2"

Katakan

sekarang

Kalau kue kau anggap apa dirimu?


Roti cokelat? Roti
Martabak?

Keju?

Kroket?

Bakwan?

Ayolah!
Aku

ingin

memesannya

untuk malam ini


Aku mau kamu
Dilan.

Bandung

1990

- H a ha ha ha ha||, aku k e t a w a
- H a ha ha ha ha||. Bunda j u g a k e t a w a . Demi T u h a n ! Aku s e p e r t i d i l a m b u n g k a n ke
angkasa, luas dan p e n u h w a r n a .
- B u n d a , aku b o l e h mencatatnya?||
- O h iya! Boleh. Jangan bilang Dilan k a m u s u d a h tau puisinya||
Iya. Bunda||
- B u n d a y a n g ambil atau kamu? Pulpen s a m a k e r t a s n y a itu di meja)!
- B i a r Lia aja||. A k u b e r a n j a k dari kasur untuk n g a m b i l k e r t a s d a n p u l p e n di a t a s
m e j a k e r j a Bunda dan lalu m e n y a l i n puisi Dilan y a n g dia bikin untukku. S e m u a n y a ada
e m p a t belas. Puisi lainnya tidak kucatat, k a r e n a banyak, t e r k u m p u l d a l a m satu b u a h
buku tulis.
- B u n d a . Lia s e n a n g . Suka||
- B i l a n g l a h ke Dilan||
- K a t a n y a j a n g a n bilang?||
- O h , lupa he he he||
Ini buat Disa ya?||. t a n y a k u untuk sebuah puisi:
"Jangan
Dik.

Jauh"

jangan

pergi jauh-jauh

Kan ada darahku di


Dilan.

Bandung

tubuhmu

1990

-iyall
Merinding)
- P a s Bunda bacain ke Disa. Disa m e n j a w a b Iya\\ ha ha ha||
- H a h a haha!||
- H a ha ha ha!||
Bunda, Dilan p e r n a h p u n y a pacar? He he he||, t a n y a k u
- S e p e r t i ke kamu?||, Bunda nanya balik. N a m p a k n y a Bunda selalu b e r a n g g a p a n aku
suclah p a c a r a n d e n g a n Dilan.
Ng..Iya||
- T i d a k s e p e r t i ke kamu||
- K a l a u Bunda j a d i Lia g i m a n a r a s a n y a kalau d a p a t puisi ini?||
- B u n d a akaan

t e r i m a k a s i h k e ibunya, k a r e n a sudah m e m b o c o r k a n p u i s i - p u i s i n y a )

- H a h a h a ha. M a k a s i h , B u n d a )
- H a ha ha h a )
K a m u bisa b a y a n g k a n s e t e l a h itu. s e t e l a h s e m u a n y a t e r b a n g u n d e n g a n indah, lalu
6 of 7

aku bertemu hari minggu, hari di mana Kang Adi datang ke rumahku untuk aku merasa
t e r p o j o k sehingga sulit bisa menolak ajakannya sebagaimana yang sudah kujelaskan, lalu
aku pergi dan kemudian semuanya terjadi: bangunan itu, yang sudah begitu indah, bagai
runtuh tiba-tiba.
Hari Seninnya, aku terbangun sebelum subuh, terduduk di atas kasur, dan sendirian.
Rasanya

sangat

sunyi,

rasanya

sangat

hampa,

rasanya

seperti

orang

yang

baru

kehilangan sesuatu dan paling berharga dalam hidupnya. Suara sunyi, di luar dan di
dalam

kamarku juga.

Kupeluk diriku untuk bisa m e m e l u k j a k e t Dilan yang sedang

kupakai. Aku merasa malu sama Dilan sudah m e m b u a t n y a kecewa, bahkan tadi malam,
sebelum tidur, aku tidak berani mengucapkan: || Selamat tidur juga. Dilan ||
Pokoknya, aku harus ketemu Dilan di sekolah. Meski bingung dengan kalimat apa
harus kumulai. Serta merta. dalam pikiran y a n g kalut, aku m e n c o b a menyusun katakata. berharap bisa bicara dengan lancar pada saat nanti kujelaskan semuanya. Kukira
tidak gampang, mengingat posisiku adalah sebagai orang yang bersalah y a n g harus
berhadapan dengan orang yang makin sini semakin wibawa di mataku.

24. BERANTEM DENGAN ANHAR


Di sekolah, hari itu. kalau kamu bertemu denganku, mungkin akan melhatku nampak
murung.
M e m a n g iya, dan badan ini rasanya juga lesu.

Perasaan bimbang diubek-ubek

persoalan y a n g tengah kuhadapi, j a d i kemelut y a n g melanda pikiran sepenuhnya.


Diam-diam kucari Dilan, tapi sampai j a m istirahat, tak juga kunjung ketemu. Aku
sempat menduga hari itu Dilan mungkin tidak masuk, atau dia sekolah, tapi sembunyi,
karena tidak mau b e r t e m u denganku yang sudah m e m b u a t n y a kecewa.
Kemana Dilan? Bisa saja kutanya Wati, tapi mana mungkin dia tau. Dia tidak tinggal
satu rumah dengan Dilan. j u g a tidak sekelas. Aku bisa cari sendiri dengan pergi ke
warung Bi Eem, berharap j u m p a dengan dia. Tapi yang kudapati di sana cuma ada Piyan,
A n h a r dan: Susi! Susi bersama dua teman perempuannya, kalau tidak salah n a m a n y a
Sari dan lis.
Melihat ada Susi, tadinya aku mau langsung balik lagi. malas rasanya kalau harus
gabung dengan orang macam dia. kau mengertilah pasti, terlebih dengan kondisi aku
y a n g sedang sensitif oleh rasa kesal dibebani persoalan dan menstruasi.
Karena Piyan memanggilku dan juga didorong oleh rasa gengsiku yang tak mau jadi
Pecundang seolah takut sama Susi, akhirnya aku masuk. Aku tidak langsung nanya Dilan,
gak enak rasanya ada Susi.
Tumben. A d a apa?||, tanya Piyan sambil bergeser dari duduknya untuk m e m b e r i
aku t e m p a t
- P e n g e n mampir aja||, j a w a b k u sambil mulai duduk
Nyari Dilan!||, kata Anhar y a n g duduk dekat Susi, dia bicara seraya makan kue dan
tidak memandangku. Nada suaranya j u g a gak enak didengar, membangkitkan imajinasi
untuk ingin m e r o b e k mulutnya
-Sampai

dicari-cari

gitu||,

kata

Susi

nimbrung,

kutangkap

matanya

sebentar

mendelik ke arahku sambil m e n g h e m b u s k a n asap rokoknya. Kukira dia tahu aku sedang
memandangnya.
- K a l a u aku cari Dilan e m a n g kenapa?||, kutanya Anhar sambil kupandang dirinya.
Jarak antara aku dengan A n h a r hanya dua meter. Mereka duduk di kursi y a n g lain.
- J a n g a n terlalu dikekanglah!|| kata Anhar sambil menghisap rokoknya.
- A p a maksudmu?), tanyaku.
- G a ada maksud apa-apa||, j a w a b Anhar sambil berdiri dan lalu bergerak ngambil
kue di meja itu. Kupandang dia dengan perasaan yang marah tetapi bisa kutahan.
Udah. Makan dulu, Lia||. kata Piyan, lebih bermaksud untuk mendinginkan suasana
Iya, Piyan. Gak ke Wati?||. Tanyaku. Maksudku kenapa Piyan tidak gabung dengan
Wati di kantin sekolah
- E n g g a k . Nanti pulang b a r e n g )
Emangnya harus bareng terus?), Susi bicara seolah bukan ke aku. Tidak kutimpali.
Aku cuma diam sambil bingung harus ngapain. Kuambil kue dan langsung kumakan
- B a r e n g terus laaaah sampai memble he h e ) , kata A n h a r sambil duduk makan kue
- E h . Bentar! Maumu apa sih?||, m e n d a d a k aku berdiri sambil berkacak pinggang
m e n g h a d a p ke arah Anhar, tetapi juga sekaligus ke Susi cs.
- A p a ? ) , kata Anhar seolah tidak mengerti apa-apa
-

Anjrit, wanicin feieu?). Sari mulai bicara dalam bahasa Sunda, artinya: Anjrit. sok

berani gini?
Aku bicara ke Anhar!||, kataku ke si Sari dengan nada y a n g sedikit agak tinggi.
- U d a h . Udah. Har||, kata Piyan sambil berusaha m e n y u r u h aku duduk, tapi aku tetap
berdiri.
- J a w a b , Har!||, kata Susi
-

Naon? Ka aing?!!!, kata A n h a r mendongakkan kepalanya kepadaku. (Apa? Ke


1 of 9

saya?)
Iya!||, j a w a b k u dengan nada y a n g tinggi
Aku cuma nasehati kamu!||. j a w a b Anhar m e m a n d a n g k u
Har, udah!' Kata Piyan sambil berdiri. Lia. Kita keluar aja||. sambung Piyan
kepadaku.
-Bentar||, kataku menolak ajakan Piyan
- U d a h . Udah||, kata Piyan meraih bahuku untuk sedikit memaksa aku pergi keluar
- B a w a lah ka luar. T r o u b l e maker!||, Kata Anhar
-Heu'euh!||, Susi menimpali. Sesaat setelah itu, aku maju dan langsung merenggut
kerah baju si Anhar. Anhar berdiri.
-Sekarang

kau

mau

apa?!||,

kataku

dengan

mata

melotot.

Piyan

bergerak

memposisikan dirinya berada di antara aku dan Anhar. berusaha melerai. Susi dan
k a w a n - k a w a n n y a sudah mulai berdiri. Anhar berusaha menyingkirkan tanganku y a n g
m e m e g a n g kerah bajunya. T e t a p i cengkramanku sungguh kuat. Kulihat mata Anhar
mulai marah, dia m e n d o r o n g k u m e m b u a t aku nyaris j a t u h untung bisa kutahan.
- N e n g . udah. Jangan berantem||, kata Bi Eem berdiri dari m e m a s a k bala-bala. Sesaat
kemudian tiba-tiba Anhar m e n a m p a r pipiku. Sangat keras dan sakit rasanya. Aku
berusaha membalas tetapi m e n g e n a i bahu Piyan. Piyan mulai kewalahan untuk bisa
berusaha melerai walaupun akhirnya bisa juga dia pisah. Aku langsung pergi keluar
disusul oleh Piyan. Kudengar Susi dan k a w a n - k a w a n n y a bicara dengan kata-kata y a n g
tidak enak kudengar.
Piyan, mana Dilan?||, kataku menangis sambil berjalan dengan Piyan menuju
sekolah
- G a k sekolah kayaknya||. j a w a b Piyan. Aku diam
- A d a apa Lia?||, tanya Piyan
- G a apa-apa, Piyan||
Setelah masuk ke sekolah, kami ketemu Wati y a n g nanya kenapa aku nangis, kukira
orang

lain

yang

kebetulan

ada di

sekitar diriku j u g a pada

lihat

aku

nangis.

Ah,

seandainya bisa kutahan saat itu.


- G a k apa-apa||, j a w a b Piyan. Aku. Piyan dan Wati masuk ke kelas. Orang-orang y a n g
sudah ada di kelas pada bingung ada apakah gerangan. Rani. Revi dan beberapa y a n g
lainnya mulai berekerumun, mengitariku y a n g sudah duduk dengan Wati. Piyan tetap
berdiri. Aku masih nangis sambil menutup mukaku dengan kedua telapak tanganku.
- K e n a p a ? ! tanya Wati m e n d o n g a k ke arah Piyan. mungkin dia kuatir aku nangis
karena Piyan
- B e r a n t e m sama Anhar||, j a w a b Piyan. Kayaknya kepaksa harus Piyan katakan biar
Wati tidak menuduh dirinya.
- H a h ? Kok? Gara-gara apa?||, tanya Wati ke Piyan.
- G a k tau. Tiba-tiba berantem||
- K o k gak tau?||, Wati nanya lagi. Tidak lama kemudian datang Anhar. Dia masuk ke
kelas.
Kuduga dia mau m e m i n t a maaf. Sebagian orang y a n g mengelilingiku bergeser untuk
m e m b e r i jalan ke A n h a r agar bisa menemuiku. W a t i berdiri
- K a m u apain?||, tanya Wati ke Anhar.
- G a diapa-apain||. j a w a b Anhar
-Bohong!||. kata Wati
- L i a . maaf||. Kata Anhar. Tapi tidak kujawab.
- T a d i gak sengaja. Gak ada maksud menamparmu||. kata A n h a r lagi
- H a h ? Kamu tampar?!|| tanya Wati
- G a k sengaja. Wat||. j a w a b Anhar
- B i l a n g i n siali ke si Dilan||. kata Wati. ( S i a l i : luh)
- G a k sengaja. Beneran. T a d i panik||

- A h bilangin ku aing, kata Wati. ( Ku Aing = Oleh a k u )


Beneran gak sengaja. Wat. Lia, maaf ya||
- U d a h sana!!!!||, kata Wati mengusir Anhar. Piyan sih diam terus.
- L i a , Maaf||, kata A n h a r lagi
Udah sana! Sana! Sana!|| kata Wati mulai bergerak berusaha mengusir Anhar.
A n h a r akhirnya pergi.
M e n g e n a n g n y a hari ini, mungkin aku bisa senyum, tetapi itulah harinya, hariku, hari
y a n g penuh dengan aneka macam masalah. Ketika pelajaran dimulai, semuanya menjadi
normal kembali, tetapi pikiran dan j u g a perasaanku tentu saja belum.
Bel bubar sekolah sudah bunyi. Guru y a n g m e n g a j a r di kelasku sudah keluar. Bukubuku sudah aku masukkan ke dalam tas sekolahdan bersiap untuk pulang, ketika aku
berdiri, aku m e n d e n g a r suara ribut di luar.
"Ada apa?" tanyaku.
"Gak tau." j a w a b Rani y a n g j u g a sudah siap mau pulang.
Aku dan Rani segera pergi keluar dan mendapati orang-orang berkerumun di lapang
basket.
"Ada apa?" tanyaku kepada seseorang y a n g ada di situ.
"Dilan berantem!"
Hah? Dilan? Kok. ada Dilan? Berantem sama siapa?
Aku bergegas m e n e r o b o s kerumunan dan melihat Dilan sedang b e r a n t e m dengan
Anhar.
"Dilan!" aku teriak ke Dilan.
Bersamaan

dengan

itu.

datang

beberapa

guru

yang

berhasil

menghentikan

perkelahian.
Pakaian A n h a r dan Dilan berantakan. Muka keduanya j u g a berdarah. Dilan dan
A n h a r dibawa ke ruang guru. T a k ada y a n g boleh masuk termasuk aku.
Beberapa orang berkerumun di depan ruang guru untuk mengintip m e r e k a dari kaca
jendela.
Aku naiki teras taman untuk bisa melihat ke ruang guru. Di sana ada Dilan. Anhar.
dan empat orang guru, semuanya laki-laki. salah satunya adalah Pak Suripto.
Dilan berdiri di t e m p a t yang berbeda dengan Anhar, keduanya terpisahkan oleh
meja. Tiba-tiba, Dilan m e l o m p a t ke atas meja dan m e n g h a j a r muka Anhar. Perkelahian
babak kedua pun dimulai berlangsung di ruang guru. Nampaknya. Dilan merasa belum
puas untuk m e n g h a j a r Anhar.
Beberapa guru y a n g ada di

situ. berusaha melerai.

Dilan ditarik paksa untuk

menjauh dari A n h a r yang tidak bisa kulihat lagi. Anhar tersungkur di bawah meja.
Seorang guru mengangkat Anhar yang nampak lunglai dan mendudukkannya di atas
bangku.
Wati, Piyan, Rani. Akew, Azis, dan Rani kemudian datang mendekatiku dengan
bergopoh.
"Gimana?" tanya Wati.
"Gak tau." j a w a b k u cemas dan bingung.
Pak Aslan, guru Olahraga, keluar dari ruang guru dan m e m b e r i instruksi kepada
semua siswa yang berkerumun untuk bubar. Lalu semua bubar, kecuali aku, Azis, Piyan.
Akew, Wati. dan Rani.
Aku m e n d e k a t i Pak Aslan dan bilang kepadanya mau ketemu dengan Dilan.
"Nanti, nanti, nanti!" j a w a b n y a .
Aku mundur sedikit, untuk berdiri di samping Rani dan Wani y a n g menyusulku.
"Pak. dia pacarnya," kata Wati ke Pak Aslan sambil menunjuk kepadaku.
Mungkin dengan dia bilang begitu. Wati berharap status pacar bisa menjadi tiket
untuk Pak Aslan bisa mengizinkan aku masuk.
"Iya, udah. Nanti, nanti! Diberesin dulu." j a w a b Pak Aslan sambil membuka pintu
3 of 9

untuk masuk lagi ke ruang guru.


Di saat itulah, aku masuk m e n e r o b o s sampai membuat Pak Aslan ikut t e r d o r o n g
bersama pintu. Orang-orang yang berada di dalam ruang guru m e m a n d a n g semuanya
kepadaku, termasuk Dilan.
Aku bergerak m e n d e k a t i Dilan, lalu berdiri di sampingnya.
"Kamu kenapa?" tanyaku.
Dilan tiba-tiba teriak, sambil m e m a n d a n g Anhar dan guru-guru yang ada di situ, tapi
tangannya menunjuk kepadaku.
"Kepala Sekolah nampar dia, kubakar sekolah ini!"
"Entah kepada siapa Dilan bicara. Anhar nampak menundukkan kepalanya sambil
tetap masih duduk.
Tak ada satu pun guru y a n g m e n g o m e n t a r i . Ada Pak Suripto, tetapi dia lebih memilih
untuk diam, seolah dia sedang cari aman dengan tidak mau ambil risiko berurusan
dengan Dilan. Pak Aslan datang. Aneh. dia tidak marah kepadaku karena sudah berani
m e n e r o b o s ke ruang guru.
"Duduk dulu. Lan," kata Pak Aslan dengan nada hati-hati sambil m e m a n d a n g k u
kesal.
"Duduk. Lan." kataku ke Dilan.
Dilan duduk. Aku masih berdiri di sampingnya.
Tiba-tiba, Piyan. Akevv, Azis, Rani. dan Wati masuk bersama Bu Rini dan satu orang
lagi y a n g aku tidak tahu namanya, ibu-ibu. (Dia tidak pernah ngajar di kelasku).
"Kenapa Dilan?" t a n y a Bu Rini. berdiri di depan Dilan.
Dilan tidak menjawab.
Di luar kesadaran, entah bagaimana, tanganku bergerak merapikan rambut Dilan
dan mengelus kepala bagian belakangnya. Dilan cuma diam.
"Aku mau pulang!" kata Dilan kemudian sambil berdiri dari duduknya.
Ketika Dilan pergi tak ada satu pun y a n g berusaha mencegahnya.
Aku ikut pergi, berjalan di belakangnya bersama Rani. Piyan. Azis. Wati. dan Akew.
Kami terus berjalan dalam diam sampai mau keluar pintu gerbang sekolah.
"Lan ...," aku panggil dia dengan suara pelan.
Dilan menoleh sambil terus berjalan.
"Ikut aku, Lia."
"Ke mana. Dilan?"
"Warung Bi Eem."
"Iya."
Dilan berhenti dan berbalik.
"Wati. Revi, kamu pulang aja, ya?"
"Iya," j a w a b Wati.
"Yan, kamu pulang aja." kata Dilan ke Piyan.
"Siap," j a w a b Piyan.
"Kew, Zis, biar aku berdua sama Lia."
"Iya," j a w a b Akew.
Lalu. m e r e k a pamit pulang dan pergi, meninggalkan aku dan Dilan yang berjalan
berdampingan.
Dari arah depan, muncul Kojek (gak tau siapa nama aslinya. Dia dipanggil Kojek
karena gundul). Kojek naik m o t o r bersama perempuan (satu sekolah j u g a tapi enggak
tahu siapa namanya).
Kojek berhenti ketika sudah dekat dengan kami.
"Hajar aja, lah. Lan!" kata Kojek. "Tuman" (Biar tahu rasa).
Perempuan yang diboncengnya diam terus, m e m a n d a n g ke kami seperti canggung
mau ngomong.
" H e he he, pulang. Jek?" tanya Dilan.

"Iya." j a w a b Kojek. "Langsung, ya. Lan?"


"Oke. Hati-hati."
"Yuk. Lia!" kata Kojek kepadaku sambil berlalu pergi.
Aku dan Dilan berjalan berdampingan menuju warung Bi Eem.
Di halaman warung Bi Eem ada dua orang siswa y a n g sudah berada di atas m o t o r
untuk pulang. Keduanya satu sekolah juga. tapi aku tidak tahu namanya.
"Paeh teu, Lan?" t a n y a salah satunya sambil senyum ( M a m p u s gak. Lan?).
"30 persen." j a w a b Dilan.
" H e he he. Urang baliknya, Lan?" (Saya pulang dulu. ya. Lan)
"Hati-hati."
"Ya. (mungkin maksudnya: Lia) pulang dulu, ya?" kata dia kepadaku.
"Oh? Iya. Hati-hati."
M e r e k a pergi meninggalkan kami yang masuk ke warung Bi Eem. Dilan langsung
masuk.
"Kenapa?" tanya Bi Eem demi melihat Dilan pakaiannya nampak kusut dan ada
beberapa bercak darah di baju dan sedikit di wajahnya.
"Pendarahan, Bi Eem," j a w a b Dilan.
"Berantem?" tanya Bi Eem.
"Sedikit," j a w a b Dilan.
Aku senyum sambil masih berdiri.
"Ada minum, Bi Eem?" tanyaku sambil jalan m e n d e k a t ke bi Eem.
"Minum? Apa. ya?"
"Air putih aja."
Bi Eem m e m b e r i k u sebotol air mineral. Aku meraihnya dan langsung membuka
tutupnya sambil duduk di samping kiri Dilan.
"Minum

...,"

kataku

lembot

menyodorkan

botol

air

mineral

itu

sambil

memandangnya.
"Makasih ...."jawab Dilan, kemudian dia minum.
"Kenapa, Dilan?" tanya Bi Eem mendekat dan duduk di samping sebelah kanan Dilan.
"Anak muda. Bi Eem." j a w a b Dilan senyum.
"Lukanya kasih obat merah atuh..." kata Bi Eem.
"Ada. Bi Eem?" tanyaku ke Bi Eem.
"Ada ...."jawab Bi Eem sambil berdiri dari duduknya.
Bi Eem masuk ke rumah untuk ngambil obat merah. Aku bingung harus n g o m o n g apa
ke Dilan. Hanya diam.
"Kamu sudah makan?" tanya Dilan.
"Udah. Dilan."
"Aku nanya kemaren. K e m a r e n udah makan?"
Aku senyum memandangnya. Masih saja dia bercanda. Heran.
"Kemaren, ng... ng ... belum."
Dia senyum. Bi Eem datang.
"Gak ada, Neng" katanya. "Biar Bi Eem beli dulu atuh. ya?"
"Gak usah. Bi Eem." j a w a b Dilan. "Gak apa-apa."
"Ke situ. kok. Deket." j a w a b Bi Eem sambil berlalu meninggalkan aku berdua dengan
Dilan.
Kepalaku mencari-cari kalimat untuk ngobrol dengan Dilan.
"Tadi, aku nyari kamu." kataku, akhirnya ngomong juga.
"Iya."
"Kamu ke mana?"
"Bangun kesiangan." j a w a b Dilan. "Gak sekolah, terus nongkrong di sini (di warung Bi
Eem)."
Di sekolahku (juga di beberapa sekolah lain) kalau kesiangan gak boleh masuk dan
5 of 9

gak bisa masuk karena pintu gerbang sekolahnya dikunci, sengaja biar persis sama
dengan penjara.
"Kamu tau cerita aku sama Anhar?" tanyaku.
"Iya."
"Aku nyari kamu. terus, ya, gitu. b e r a n t e m sama Anhar."
"Bi Eem sudah cerita."
Aku diam.
"Bi Eem udah cerita," kata Dilan lagi.
"Oh."
"Terus. ya. j a d i b e r a n t e m sama Anhar."
"Iya. Kamu tau aku nyari kamu kenapa?" tanyaku.
"Rindu," j a w a b Dilan.
"Iya."
Aku senyum, terus diam karena bingung bagaimana kumulai untuk menjelaskan ke
Dilan tentang aku kemarin pergi dengan Kang Adi.
Bi Eem datang m e m b a w a obat merah dan kapas. Dia m e n y e r a h k a n n y a ke aku. Aku
ambil satu kapas untuk lalu kuteteskan obat merah secukupnya.
"Kasih obat dulu, ya?" kataku ke Dilan.
"Iya."
"Cuci muka dulu." kataku.
Dilan

berdiri.

Dia

bungkukkan

badannya

keluar

ruangan untuk

bisa

mencuci

mukanya dengan memakai air mineral. Habis itu, duduk kembali ke t e m p a t n y a semula,
Ada dua luka di wajahnya. Di bagian bawah m a t a kanan dan di bagian pelipisnya.
dilan sedikit meringis ketika luka-lukanya kuberi obat merah.
"Bi Eem shalat dulu, ya?" kata Bi Eem.
"Iya. Bi Eem," j a w a b Dilan.
Bi Eem masuk ke rumah.
"Gak akan sembuh kalau cuma pake obat merah."
"Lumayan." kataku. "Daripada enggak?"
"Kecuali kalau kau cium."
"Ha ha ha."
Mukaku pasti merah.
"Menurutku begitu," kata Dilan.
"Mau?" tanyaku sambil m e n y e m b u n y i k a n hatiku y a n g berdebar.
"Sedikit aja."
Aku senyum dan m e n e n g o k kanan kiri. Setelah bisa kupastikan bahwa tidak ada
orang lalu kucium pipi kirinya. Cuma sebentar, habis itu. ya. sudah.
"Udah sembuh?" tanyaku dengan s e n y u m yang malu.
"Langsung."
" H e he he."
"Masih harus aku nyatain kalau kita pacaran?" tanya Dilan meraih tanganku dan
m e m e g a n g n y a . Dia memandangku.
" H e he he."
"Apa masih harus aku bilang ke kami-Lia aku mencintaimu. Gitu?" tanya Dilan sambil
masih dia pegang tanganku.
" H e he he."
"Kalau Lia mau. aku mau bilang."
Dia t e r s e n y u m nyaman.
"Perlu enggak, ya?" kataku bagai bertanya pada diri sendiri dan senyum kepadanya.
Di saat bersamaan, ada orang yang datang, yaitu, ibu-ibu. nanyain Bi Eem.
"Lagi shalat. Teh." j a w a b Dilan. "Ada apa?" ( T e h = Kak. T e t e h = Kakak)
"Ini mau beli kerupuk."

"Oh, ya, udah ke saja aja." j a w a b Dilan sambil berdiri dan masuk ke warung Bi Eem.
Lucu rasanya m e n d e n g a r Dilan m e n y e b u t dirinya dengan kata ganti "Saya".
Si T e t e h mengambil sekantong plastik berisi sepuluh kerupuk.
"Ada lagi, Teh?" tanya Dilan. "Bala-balanya mungkin?"
"Iya, deh. Lima aja." kata si Teteh.
"Silahkan ambil aja."
Si T e t e h ngambil bala-bala dan membungkusnya dengan plastik y a n g dikasih oleh
Dilan.
"Berapa semuanya?"
"Gak usah!" j a w a b Dilan. "Nanti, saya yang bayar."
"Eh? Kenapa?"
Bi Eem datang dan berdiri di samping Si Teteh.
"Eh. Geu? Peryogi Noon?" ( M a u perlu apa?)
"Ieu kerupuk sareng bala-bala." (Ini beli kerupuk dan bala-bala).
"Biar saya y a n g bayar. Bi Eem." kata Dilan.
"Enya. Si Act yang bayar ceunah, ha ha ha." (Iya. Si Mas y a n g bayar katanya).
Bi Eem ketawa.
"Gratis. N g e r a y a i n saya jadian, pacaran sama dia." kata Dilan menunjukku.
"Oh."
Si T e t e h m e n e n g o k ke arahku. Aku senyum mengangguk.
"Teh." kataku ke Si T e t e h .
"Cantik!" katanya. "Bi. cantik, ya?" kata dia lagi ke Bi Eem.
"Iya." j a w a b Bi Eem.
"Nuhun at uh nya," kata Si T e t e h ke Dilan. "Didoakeun sing langgeng." ( T e r i m a kasih
kalau begitu - Didoain bisa langgeng).
"Nuhun," j a w a b Dilan. (Makasih).
"Bi Eem. tah ceunah dihayaran ku SiAa," kata Si T e t e h sambil ketawa (Bi Eem, itu, ya,
dibayarin sama si Abang). Dia lalu nengok lagi ke arahku dan senyum. "Cantik, ya?"
katanya lagi ke Bi Eem.
Aku senyum.
"Makasih, Teh." kataku.
"Bilang cantik, mah. nih, Teh. ditambah lagi bala-balanya!" kata Dilan.
"Ha ha ha. Udah, ah. Cukup," kata Si T e t e h . "Marangga." ( M a r i , saya pergi).
Mangga," j a w a b Dilan dan Bi Eem.
Mangga, Teh." kata si T e t e h ke aku.
Mangga. Teh." kujawab.
Lalu dia pergi. Dilan berjalan ke arahku sambil senyum. Aku senyum. Dilan kemudian
duduk lagi di sampingku.
Aku ingin sekali membicarakan soal aku pergi dengan Kang Adi kemarin. A w a l n y a
kurasa berat, tapi setelah kupaksakan, akhirnya bisa:
"Aku nyari kamu," kataku. "Mau ngejelasin soal kemarin."
Suaraku terdengar seperti hati-hati. Aku hanya takut Dilan akan marah soal itu.
"Soal aku pergi sama Kang Adi." kataku lagi.
"Gak usah dibahas," j a w a b Dilan.
Dia sudah t e r s e n y u m ketika aku menginginkannya.
"Aku

sudah

bohong,

aku

takut

kamu

marah,"

kataku

memandang

wajahnya.

"Makanya kucari kamu, mau ngejelasin kenapa aku pergi."


"Gak ada orang y a n g suka dibohongi."
"Iya, Dilan, maaf," kataku. "Itu pergi kepaksa. Lia udah berusaha nolak. tapi...."
"Udah. Jangan dibahas. Aku tau kamu gak suka dia."
"Iya."
"Lain kali. bilang dulu kalau mau pergi, biar enggak jadi bohong."

"Maaf."
"Gak a p a - a p a . " kata Dilan. " M a u j a l a n - j a l a n ? "
"Maksudnya?"
"Kamu mau jalan-jalan sekarang?"
"Kita?" tanyaku.
"Iya."
"Mau!" jawabku.
" K e ? " t a n y a Dilan.
" T e r s e r a h kamu."
"Ke KUA?"
" H a ha ha. Hayu!" j a w a b k u .
" K e K U A - n y a , m a m p i r aja dulu. y a ? " kata Dilan. "Buat p e m a n a s a n aja."
"Ke kantornya?" tanyaku.
"Iya, s a m p a i h a l a m a n n y a aja."
" H a ha ha. Oke."
" H a b i s itu j a l a n - j a l a n . "
" T e r u s , n e l e p o n Bunda," kataku.
"Ngapain?"
"Bilang aku u d a h r e s m i p a c a r a n s a m a kamu. ha ha ha." j a w a b k u . " U d a h j a d i a n , kan?"
"Iya," j a w a b Dilan. "Nanti, aku j u g a t e l e p o n Ibu."
"Bilangjuga?"
"Iya."
"Bilang udah p a c a r a n ? "
"Bilang tadi k a m i u d a h n y i u m pipiku."
"Ih! Ha ha ha. Gak usah."
"Iya, e n g g a k . A k u mau b i l a n g aku sudah p a c a r a n s a m a kamu."
"Iya." j a w a b k u . "Eh? M a t e r a i buat apa?"
"Bawa?"
"Bawa." j a w a b k u s a m b i l m e n g a m b i l m a t e r a i itu di d a l a m tasku d a n k u b e r i k a n ke
Dilan. "Buat apa?"
" M i n t a k e r t a s s a m a p u l p e n n y a . " kata Dilan.
A k u m e l e p a s k a n t a n g a n Dilan y a n g s e l a m a tadi m e m e g a n g k u untuk ngambil buku
tulis dan pulpen di d a l a m tas. lalu k u b e r i k a n ke Dilan.
Setelah itu. Dilan nulis di h a l a m a n b e l a k a n g n y a :
Proklamasi
Hari

ini,

perasaan,
Hal-hal
yang

di

telah

Bandung,
resmi

tanggal

22

Desember

1990,

Dilan

dan

Milea,

dengan

penuh

berpacaran.

mengenai

penyempurnaan

dan

kemesraan

akan

diselenggarakan

dalam

tepo

materainya

dan

selama-lamanya.
Aku ketawa setelah membacanya.
" K a m u t a n d a t a n g a n p a k e m a t e r a i itu," kata Dilan.
"Oke."

kataku

sambil

ketawa

semangat,

lalu

kutempelkan

m e m b e r i n y a t a n d a tangan.
" K a m u j u g a ? " t a n y a k u sambil m e m a n d a n g w a j a h n y a d a n s e n y u m .
"Iya."
Dilan m e n e m p e l k a n m a t e r a i itu, k e m u d i a n m e m b e r i n y a t a n d a tangan. Aku k e t a w a .
Saat itu, aku ingin sekali m e m e l u k n y a . Ingiiin sekali, tapi malu.
" Y a n g p a c a r a n meuni m e s r a ! " kata Bi Eem t i b a - t i b a ( m e u n i m e s r a = n a m p a k m e s r a
banget).
"Iya. nih." j a w a b Dilan.
Dilan b e r d i r i , aku j u g a , s a m b i l m e m a s u k k a n buku tulis d a n p u l p e n ke d a l a m tasku.
Setelah bayar, k a m i p e r m i s i ke Bi Eem untuk pergi.

Sanksi apa yang akan sekolah berikan ke Dilan setelah dia b e r a n t e m dengan Anhar?
Nanti, nanti! Soal itu dan soal-soal yang lainnya dibahas nanti saja.
Dilan dan M i l e a n y a lagi sibuk pacaran. berdua di atas m o t o r C B 100, mengarungi
Jalan Buah Batu di bawah naungan awan mendung.
Bersama Dilan, bumi menjadi t e m p a t y a n g cocok untuk aku ingin tinggal selamalamanya! Dan hidup j a d i menarik untuk aku lebih dari apa pun. Aku, tidak salah lagi,
mencintainya secara permanen.
Aku peluk Dilan dengan erat sekali. M e m e l u k n y a seperti kepada harta karun.
Langit y a n g tadi mendung, lalu hujan, mengguyur aku dan Dilan yang berdua di atas
motor.

Pakaian

kami basah kuyup dan itu adalah akhir Desember y a n g dingin di

Bandung, tapi kami tidak peduli.


Sore itu. aku merasa seperti berada di puncak dunia bersamanya, bersama Dilan
y a n g m e m b e r i aku pelajaran bahwa cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan
dukungan. Kalau kau tidak setuju, aku tidak peduli.
Biar bagaimanapun dia adalah Dilan. Dilanku, milikku. Dan sudah, aku tidak minta
apa-apa lagi!

25. MALAM INI


Hmm....
Demikian kisah cintaku dengan Dilan ketika aku tinggal di Bandung! Dulu! Duluuu
sekali, bertahun-tahun yang lalu, meski aku merasanya seolah-olah baru kemarin.
Sebetulnya, aku masih ingin terus cerita tentang kisahku dengan dia. Masih sangat
banyak. M e n g e n a n g dirinya, aku selalu merasakan sensasi begitu manis. T a p i kukira
untuk babak yang ini cukup sudah sampai di sini. Lain waktu, aku mau cerita tentang
masa-masa aku pacaran dengannya di buku kedua.
Dan malam ini di tempatku, adalah malam yang sunyi. Malam hujan di Jakarta, dan
kerinduan individu di dadaku, kepadanya! Ini adalah hutan rindu, sungai y a n g mengalir,
dan laut yang berdebur. Tidak ada kekuatan y a n g dapat menolak, tidak ada keahlian
untuk menahan. Kuat seperti kehidupan, dan aktif!

END