Anda di halaman 1dari 40

Perawatan luka dalam praktik kebidanan

A.

Konsep dasar luka

Rusaknya struktur dan fungsi anatomis normal akibat proses patologis yang berasal
dari internal maupun eksternal dan mengenai orang tertentu.

B.

Pengertian luka

Kulit merupakan bagian tubuh paling luar yang berguna melindungi diri dari trauma
luar serta masuknya benda asing. Apabila kulit terkena trauma, maka dapat
menyebabkan luka, yaitu suatu keadaan terputusnya kontinuitas jaringan tubuh,
yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi tubuh sehingga dapat mengganggu
aktifitas sehari-hari.

Jenis luka
Berdasarkan sifat kejadian, luka dibagi menjadi dua jenis, yaitu luka disengaja dan
luka tidak disengaja. Luka disengaja misalnya luka terkena radiasi atau bedah,
sedangkan luka tidak di sengaja misalnya luka terkena trauma. Luka yang tidak di
senggaja juga dibagi menjadi luka tertutup dan luka terbuka, di sebut luka tertutup
jika tidak terjadi robekan, sedangkan luka terbuka terjai robekan dan kelihatan
seperti luka abrasi (luka akibat gesekan), luka puncture (luka akibat tusukan), dan
hautration (luka akibat alat perawatan luka)
Di bidang kebidanan luka yang sering terjadi adalah luka episiotomi, luka bedah
sectio cesaria atau luka dalam proses persalinan.
Berdasarkan penyebabnya, Luka dibagi menjadi dua, yaitu luka mekanik dan luka
nonmekanik.
Luka mekanik terdiri atas
1.
Vulnus scissum atau luka sayat akibat benda tajam. Pinggir luka kelihatan
rapi.
2.
Vulnus contusum, luka memar dikarenakan cedera pada jaringan bawah kulit
akibat benturan benda tumpul.

3.
Vulnus laceratum, luka robek akibat terkena mesin atau benda lainnya yang
menyebabkan robekanya jaringan rusak yang dalam.
4.
Vulnus punctum, luka tusuk yang kecil di bagian luar ( bagian mulut luka) akan
tetapi besar di bagian dalam luka.
5.
Vulnus seloferadum, luka tembak akibat tembakan peluru. Bagian tepi luka
tanpak kehitam-hitaman.
6.

Vulnus morcun, luka gigitan yang tidak jelas bentuknya pada bagian luka.

7.
Vulnus abrasio, luka terkikis yang terjadi pada bagian luka dan tidak sampai
ke pembuluh darah.

Luka non mekanik terdiri atas luka akibat :


-

zat kimia

Termik

Radiasi

Sengatan listrik

Proses penyembuhan luka


Proses penyembuhan luka melalui empat tahap yaitu :
1.
Tahap respons inflamasi akut terhadap cedera : tahap ini dimulai saat
terjadinya luka. Pada tahap ini terjadi proses hemostasis yang ditandai dengan
pelepasan histamine dan mediator lain lebih dari sel-sel yang rusak, disertai proses
peradangan dan migrasi sel darah putih ke daerah yang rusak.
2.
Tahap destruktif : pada tahap ini terjadi pembersihan jaringan yang mati oleh
leukosit polimorfonuklear dan makrofag
3.
Tahap poliferatif: pada tahap ini pembulu darah baru diperkuat oleh jaringan
ikat dan menginfiltrasi luka.
4.
Tahap maturasi : pada tahap ini terjadi reepitelisasi, kontraksi luka, dan
organisasi jaringan ikat.

Faktor yang mempengaruhi penyembuhan luka

Proses penyembuhan luka dipengaruhi oleh berbagai factor yaitu :


1.
Vaskularisasi : mempengaruhi luka karena luka membutuhkan peredaran
darah yang baik untuk pertumbuhan atau perbaikan sel
2.
Anemia : memperlambat proses penyembuhan luka mengingat perbaikan sel
membutuhkan kadar protein yang cukup. Oleh sebab itu orang yang mengalami
kekurangan kadar hemoglobin dalam darah akan mengalami proses penyembuhan
yang lebih lama.
3.
Penyakit lain : adanya penyakit seperti diabetes mellitus dan ginjal dapat
memperlambat proses penyembuhan luka.
4.
Usia: kecepatan perbaikan sel berlangsung sejalan dengan pertumbuhan atau
kematangan usia seseorang. Namun selanjutnya, proses penuaan dapat
menurunkan system perbaikan sel sehingga dapat memperlambat proses
penyembuhan luka.
5.
Nutrisi : merupakan unsur utama dalam membantu perbaikan sel, terutama
karenaterdapat kandungan zat gizi di dalamnya. Misalnya: vitamin A diperlukan
untuk membantu proses epitelisasi atau penutupan luka dan sintesis kolagen.
Vitamin B complex sebagai cofactor pada system enzim yang mengatur
metabolisme protein, karbohidrat dan lemak, Vitamin C dapat berfungsi sebagai
fibroblas, mencegah timbulnya infeksi dan membentuk kapiler-kapiler darah,
Vitamin K membantu sintesis protombin dan berfungsi sebagai zat pembekuan
darah.
6. kegemukan, obat-obatan, merokok dan stress mempengaruhi proses
penyembuhan luka. Orang yang terlalu gemuk, banyak mengkonsumsi obat-obatan,
merokok, atau stress akan mengalami proses penyembuhan luka yang lebih lama.

E.

Perawatan luka

Merupakan tindakan untuk merawat luka dan melakukan pembalutan, dengan


tujuan untuk mencegah infeksi silang (masuk melalui luka) dan mempercepat
proses penyembuhan luka

Alat dan bahan


1.

Pinset anatomi

2.

Pinset cirurghi

3.

Gunting steril

4.

Kapas sublimat / savlon dalam tempatnya

5.

Larutan H2O2

6.

Larutan boorwater

7.

NaCl 0,9 %

8.

Gunting perban

9.

Plester/pembalut

10. Bengkok
11. Kasa steril
12. Mangkok kecil
13. Handskon steril

Prosedur kerja
1.

Cuci tangan

2.

Jelaskan prosedur yang akan dilaksanakan

3.

Gunakan sarung tangan steril

4.

Buka plester dan balutan dengan menggunakan pinset

5.
Bersihkan luka dengan menggunakan savlon/sublimat, h2o2, boorwater atau
NaCL 0,9 % sesuai dengn keadaan luka. Lakukan hingga bersih.
6.

Berikan obat luka

7.

Tutup luka dengan menggunakan kasa steril

8.

Balut luka

9.

Catat perubahan keadaan luka

10. Cuci tangan.

Kata pengantar

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan YME, atas berkah dan rahmatnya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas Makalah yang berjudul PERAWATAN
LUKA DALAM PRAKTIK KEBIDANAN mudah-mudahan Makalah kami ini bermanfaat
dan dapat di laksanakan dalam ilmu kebidanan.
Penulis mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan kalimat maupun
penyampaian materi. Terimakasih

Tebing tinggi 05 juni 2013

penulis

DAFTAR PUSTAKA

-keterampilan dasar praktik klinik kebidanan, Musrifatul Uliyah, A. aziz Alimul


Hidayat penerbit, salemba medika
-keterampilan dasar praktik klinik untuk kebidanan edisi 2, salemba medika

A. Pengertian Luka

Luka adalah suatu gangguan dari kondisi normal pada kulit (Taylor, 1997).
Sedangkan menurut Kozier (1995), luka adalah kerusakan kontinuitas kulit, mukosa
membran dan tulang atau organ tubuh lain. Keadaan luka dapat dilihat dari
berbagai sisi, sebagai berikut:
1. Rusak tidaknya jaringan yang ada pada permukaan
2. Sebab terjadinya luka
3. Luas permukaan luka
4. Ada atau tidaknya mikroorganisme.
Sedangkan ketika luka timbul, beberapa efek akan muncul seperti :
1. Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organ

2. Respon stres simpatis


3. Perdarahan dan pembekuan darah
4. Kontaminasi bakteri
5. Kematian sel.

Jenis-Jenis Luka

Posted on 5 Maret 2014

Jenis-jenis luka digolongkan berdasarkan :

1. Berdasarkan sifat kejadian, dibagi menjadi 2, yaitu luka disengaja (luka terkena
radiasi atau bedah) dan luka tidak disengaja (luka terkena trauma). Luka tidak
disengaja dibagi menjadi 2, yaitu :

a. Luka tertutup : luka dimana jaringan yang ada pada permukaan tidak rusak
(kesleo, terkilir, patah tulang, dsb).

b. Luka terbuka : luka dimana kulit atau selaput jaringan rusak, kerusakan terjadi
karena kesengajaan (operasi) maupun ketidaksengajaan (kecelakaan).

2. Berdasarkan penyebabnya, di bagi menjadi :

a. Luka mekanik (cara luka didapat dan luas kulit yang terkena)

1) Luka insisi (Incised wound), terjadi karena teriris oleh instrumen yang tajam. Luka
dibuat secara sengaja, misal yang terjadi akibat pembedahan.

2) Luka bersih (aseptik) biasanya tertutup oleh sutura setelah seluruh pembuluh
darah yang luka diikat (ligasi).

3) Luka memar (Contusion Wound), adalah luka yang tidak disengaja terjadi akibat
benturan oleh suatu tekanan dan dikarakteristikkan oleh: cedera pada jaringan

lunak, perdarahan dan bengkak, namun kulit tetap utuh. Pada luka tertutup, kulit
terlihat memar.

4) Luka lecet (Abraded Wound), terjadi akibat kulit bergesekan dengan benda lain
yang biasanya dengan benda yang tidak tajam.

5) Luka tusuk (Punctured Wound), luka ini dibuat oleh benda yang tajam yang
memasuki kulit dan jaringan di bawahnya. Luka punktur yang disengaja dibuat oleh
jarum pada saat injeksi. Luka tusuk/ punktur yang tidak disengaja terjadi pada
kasus: paku yang menusuk alas kaki bila paku tersebut terinjak, luka akibat peluru
atau pisau yang masuk ke dalam kulit dengan diameter yang kecil.

6) Luka gores (Lacerated Wound), terjadi bila kulit tersobek secara kasar. Ini terjadi
secara tidak disengaja, biasanya disebabkan oleh kecelakaan akibat benda yang
tajam seperti oleh kaca atau oleh kawat. Pada kasus kebidanan: robeknya perineum
karena kelahiran bayi.

7) Luka tembus/luka tembak (Penetrating Wound), yaitu luka yang menembus organ
tubuh biasanya pada bagian awal luka masuk diameternya kecil tetapi pada bagian
ujung biasanya lukanya akan melebar, bagian tepi luka kehitaman.

8) Luka bakar (Combustio), luka yang terjadi karena jaringan tubuh terbakar.

9) Luka gigitan (Morcum Wound), luka gigitan yang tidak jelas bentuknya pada
bagian luka.

b. Luka non mekanik : luka akibat zat kimia, termik, radiasi atau serangan listrik.

3. Berdasarkan tingkat kontaminasi

a. Clean Wounds (luka bersih), yaitu luka bedah takterinfeksi yang mana tidak
terjadi proses peradangan (inflamasi) dan infeksi pada sistem pernafasan,
pencernaan, genital dan urinari tidak terjadi. Luka bersih biasanya menghasilkan
luka yang tertutup, jika diperlukan dimasukkan drainase tertutup. Kemungkinan
terjadinya infeksi luka sekitar 1% 5%.

b. Clean-contamined Wounds (luka bersih terkontaminasi), merupakan luka


pembedahan dimana saluran respirasi, pencernaan, genital atau perkemihan dalam
kondisi terkontrol, kontaminasi tidak selalu terjadi, kemungkinan timbulnya infeksi
luka adalah 3% 11%.

c. Contamined Wounds (luka terkontaminasi), termasuk luka terbuka, fresh, luka


akibat kecelakaan dan operasi dengan kerusakan besar dengan teknik aseptik atau
kontaminasi dari saluran cerna. Pada kategori ini juga termasuk insisi akut, inflamasi
nonpurulen. Kemungkinan infeksi luka 10% 17%.

d. Dirty or Infected Wounds (luka kotor atau infeksi), yaitu terdapatnya


mikroorganisme pada luka.

4. Berdasarkan kedalaman dan luasnya luka

a. Stadium I : Luka Superfisial (Non-Blanching Erithema) : yaitu luka yang terjadi


pada lapisan epidermis kulit.

b. Stadium II : Luka Partial Thickness : yaitu hilangnya lapisan kulit pada lapisan
epidermis dan bagian atas dari dermis. Merupakan luka superficial dan adanya
tanda klinis seperti abrasi, blister atau lubang yang dangkal.

c. Stadium III : Luka Full Thickness : yaitu hilangnya kulit keseluruhan meliputi
kerusakan atau nekrosis jaringan subkutan yang dapat meluas sampai bawah tetapi
tidak melewati jaringan yang mendasarinya. Lukanya sampai pada lapisan
epidermis, dermis dan fasia tetapi tidak mengenai otot. Luka timbul secara klinis
sebagai suatu lubang yang dalam dengan atau tanpa merusak jaringan sekitarnya.

d. Stadium IV : Luka Full Thickness yang telah mencapai lapisan otot, tendon dan
tulang dengan adanya destruksi/kerusakan yang luas.

5. Berdasarkan waktu penyembuhan luka

a. Luka akut : yaitu luka dengan masa penyembuhan sesuai dengan konsep
penyembuhan yang telah disepakati.

b. Luka kronis : yaitu luka yang mengalami kegagalan dalam proses penyembuhan,
dapat karena faktor eksogen dan endogen.

Fase penyembuhan luka


Penyembuhan luka adalah suatu kualitas dari kehidupan jaringan, hal ini juga
berhubungan dengan regenerasi jaringan. Fase penyembuhan luka menurut Taylor
(1997) :

1. Fase Inflamatory
Fase inflammatory dimulai setelah pembedahan dan berakhir hari ke 3 4 pasca
operasi. Dua tahap dalam fase ini adalah Hemostasis dan Pagositosis. Hemostasis
adalah kondisi dimana terjadi konstriksi pembuluh darah, membawa platelet
menghentikan perdarahan.
Bekuan membentuk sebuah matriks fibrin yang mencegah masuknya organisme
infeksius. Sebagai tekanan yang besar, luka menimbulkan sindrom adaptasi lokal.
Sebagai hasil adanya suatu konstriksi pembuluh darah, berakibat terjadinya
pembekuan darah untuk menutupi luka. Diikuti vasodilatasi menyebabkan
peningkatan aliran darah ke daerah luka yang dibatasi oleh sel darah putih untuk
menyerang luka dan menghancurkan bakteri dan debris. Lebih kurang 24 jam
setelah luka sebagian besar sel fagosit (makrofag) masuk ke daerah luka dan
mengeluarkan faktor angiogenesis yang merangsang pembentukan anak epitel
pada akhir pembuluh luka sehingga pembentukan kembali dapat terjadi.

2. Fase Proliferative

Dimulai pada hari ke 3 atau 4 dan berakhir pada hari ke-21. Fibroblast secara cepat
mensintesis kolagen dan substansi dasar. Dua substansi ini membentuk lapis-lapis
perbaikan luka. Sebuah lapisan tipis dari sel epitel terbentuk melintasi luka dan
aliran darah ada di dalamnya, sekarang pembuluh kapiler melintasi luka
(kapilarisasi tumbuh). Jaringan baru ini disebut granulasi jaringan, adanya pembuluh
darah, kemerahan dan mudah berdarah.

3. Fase Maturasi
Fase akhir dari penyembuhan, dimulai hari ke-21 dan dapat berlanjut selama 1 2
tahun setelah luka. Kollagen yang ditimbun dalam luka diubah, membuat
penyembuhan luka lebih kuat dan lebih mirip jaringan. Kollagen baru menyatu,
menekan pembuluh darah dalam penyembuhan luka, sehingga bekas luka menjadi
rata, tipis dan membentuk garis putih.

D. Prinsip Penyembuhan Luka

Ada beberapa prinsip dalam penyembuhan luka menurut Taylor (1997), yaitu:
1. Kemampuan tubuh untuk menangani trauma jaringan dipengaruhi oleh luasnya
kerusakan dan keadaan umum kesehatan tiap orang
2. Respon tubuh pada luka lebih efektif jika nutrisi yang tepat tetap dijaga
3. Respon tubuh secara sistemik pada trauma
4. Aliran darah ke dan dari jaringan yang luka
5. Keutuhan kulit dan mukosa membran disiapkan sebagai garis pertama untuk
mempertahankan diri dari mikroorganisme
6. Penyembuhan normal ditingkatkan ketika luka bebas dari benda asing tubuh
termasuk bakteri.

Faktor-Faktor yang Dapat Mempengaruhi Penyembuhan Luka

Posted on 5 Maret 2014

1. Usia
Anak dan dewasa penyembuhannya lebih cepat daripada orang tua. Orang tua lebih
sering terkena penyakit kronis, penurunan fungsi hati dapat mengganggu sintesis
dari faktor pembekuan darah.

2. Nutrisi
Penyembuhan menempatkan penambahan pemakaian pada tubuh. Klien
memerlukan diit kaya protein, karbohidrat, lemak, vitamin C dan A, dan mineral
seperti Fe, Zn. Klien kurang nutrisi memerlukan waktu untuk memperbaiki status
nutrisi mereka setelah pembedahan jika mungkin. Klien yang gemuk meningkatkan
resiko infeksi luka dan penyembuhan lama karena suplai darah jaringan adipose
tidak adekuat.

3. Infeksi
Bakteri sumber penyebab infeksi. Infeksi menyebabkan peningkatan inflamasi dan
nekrosis yang menghambat penyembuhan luka.

4. Sirkulasi (Hipovolemia) dan Oksigenasi


Sejumlah kondisi fisik dapat mempengaruhi penyembuhan luka. Adanya sejumlah
besar lemak subkutan dan jaringan lemak (yang memiliki sedikit pembuluh darah).
Pada orang-orang yang gemuk penyembuhan luka lambat karena jaringan lemak
lebih sulit menyatu, lebih mudah infeksi, dan lama untuk sembuh. Aliran darah
dapat terganggu pada orang dewasa dan pada orang yang menderita gangguan
pembuluh darah perifer, hipertensi atau diabetes millitus. Oksigenasi jaringan
menurun pada orang yang menderita anemia atau gangguan pernapasan kronik
pada perokok. Kurangnya volume darah akan mengakibatkan vasokonstriksi dan
menurunnya ketersediaan oksigen dan nutrisi untuk penyembuhan luka.

5. Hematoma
Hematoma merupakan bekuan darah. Seringkali darah pada luka secara bertahap
diabsorbsi oleh tubuh masuk kedalam sirkulasi. Tetapi jika terdapat bekuan yang
besar hal tersebut memerlukan waktu untuk dapat diabsorbsi tubuh, sehingga
menghambat proses penyembuhan luka.

6. Benda asing
Benda asing seperti pasir atau mikroorganisme akan menyebabkan terbentuknya
suatu abses sebelum benda tersebut diangkat. Abses ini timbul dari serum, fibrin,
jaringan sel mati dan lekosit (sel darah putih), yang membentuk suatu cairan yang
kental yang disebut dengan nanah (Pus).

7. Iskemia
Iskemia merupakan suatu keadaan dimana terdapat penurunan suplai darah pada
bagian tubuh akibat dari obstruksi dari aliran darah. Hal ini dapat terjadi akibat dari
balutan pada luka terlalu ketat. Dapat juga terjadi akibat faktor internal yaitu
adanya obstruksi pada pembuluh darah itu sendiri.

8. Diabetes Mellitus
Hambatan terhadap sekresi insulin akan mengakibatkan peningkatan gula darah,
nutrisi tidak dapat masuk ke dalam sel. Akibat hal tersebut juga akan terjadi
penurunan protein-kalori tubuh.

9. Keadaan Luka
Keadaan khusus dari luka mempengaruhi kecepatan dan efektifitas penyembuhan
luka. Beberapa luka dapat gagal untuk menyatu.

10. Obat
Obat anti inflamasi (seperti steroid dan aspirin), heparin dan anti neoplasmik
mempengaruhi penyembuhan luka. Penggunaan antibiotik yang lama dapat
membuat seseorang rentan terhadap infeksi luka.
a. Steroid : akan menurunkan mekanisme peradangan normal tubuh terhadap
cedera
b. Antikoagulan : mengakibatkan perdarahan
c. Antibiotik : efektif diberikan segera sebelum pembedahan untuk bakteri
penyebab kontaminasi yang spesifik. Jika diberikan setelah luka pembedahan
tertutup, tidak akan efektif akibat koagulasi intravaskular.

Komplikasi Penyembuhan Luka

Posted on 5 Maret 2014

Komplikasi penyembuhan luka meliputi infeksi, perdarahan, dehiscence dan


eviscerasi.

1. Infeksi
Invasi bakteri pada luka dapat terjadi pada saat trauma, selama pembedahan atau
setelah pembedahan. Gejala dari infeksi sering muncul dalam 2 7 hari setelah
pembedahan. Gejalanya berupa infeksi termasuk adanya purulent, peningkatan
drainase, nyeri, kemerahan dan bengkak di sekeliling luka, peningkatan suhu, dan
peningkatan jumlah sel darah putih.

2. Perdarahan
Perdarahan dapat menunjukkan adanya pelepasan jahitan, darah sulit membeku
pada garis jahitan, infeksi, atau erosi dari pembuluh darah oleh benda asing (seperti
drain). Waspadai terjadinya perdarahan tersembunyi yang akan mengakibatkan
hipovolemia. Sehingga balutan (dan luka di bawah balutan) jika mungkin harus
sering dilihat selama 48 jam pertama setelah pembedahan dan tiap 8 jam setelah
itu. Jika perdarahan berlebihan terjadi, penambahan tekanan luka dan perawatan
balutan luka steril mungkin diperlukan. Pemberian cairan dan intervensi
pembedahan juga mungkin diperlukan.

3. Dehiscence dan Eviscerasi


Dehiscence dan eviscerasi adalah komplikasi operasi yang paling serius. Dehiscence
adalah terbukanya lapisan luka partial atau total. Eviscerasi adalah keluarnya
pembuluh melalui daerah irisan. Sejumlah faktor meliputi, kegemukan, kurang
nutrisi, ,multiple trauma, gagal untuk menyatu, batuk yang berlebihan, muntah, dan
dehidrasi, mempertinggi resiko klien mengalami dehiscence luka. Dehiscence luka
dapat terjadi 4 5 hari setelah operasi sebelum kollagen meluas di daerah luka.
Ketika dehiscence dan eviscerasi terjadi luka harus segera ditutup dengan balutan
steril yang lebar, kompres dengan normal saline. Klien disiapkan untuk segera
dilakukan perbaikan pada daerah luka.

G. Macam-macam Luka dalam Praktek Kebidanan

Jenis luka berdasarkan penyebabnya yang sering dijumpai dalam praktik kebidanan
adalah luka mekanik: luka insisi (incised wound) dan luka gores (lacerated wound).
Luka insisi karena pembedahan dapat dijumpai pada kasus: kelahiran bayi dengan
section caesarea, masektomi, laparotomi (pada kasus: histerektomi, tubektomi,
miomektomi, dll), dan kasus yang lain. Sedangkan luka gores terjadi pada kasus
luka di jalan lahir (mukosa vagina, perineum) dan atau pada cerviks karena
kelahiran bayi. Jenis luka gores dapat juga terjadi pada kasus robekan uterus karena
tetania uteri. Luka pada perineum yang disengaja untuk melebarkan jalan lahir atau
disebut episiotomy, termasuk dalam jenis luka insisi.

H. Perawatan Luka dalam Praktek Kebidanan

Perawatan luka dalam praktik kebidanan pada dasarnya sama dengan perawatan
luka pada umumnya. Lebih jelasnya akan dijelaskan pada poin ketiga tentang
perawatan luka operasi. Hal yang berbeda adalah perlakuan pada kasus luka gores
(lacerated wound): luka pada uterus, cerviks, mukosa vagina dan perineum, yang
meliputi teknik penjahitan yang dilakukan dan perawatan luka.

Referensi

Bobak, K. Jensen. 2005. Perawatan Maternitas. Jakarta, EGC.

Dudley HAF, Eckersley JRT, Paterson-Brown S. 2000. Pedoman Tindakan Medik dan
Bedah. Jakarta, EGC.

Johnson, Ruth, Taylor. 1997. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta, EGC.

Kaplan NE, Hentz VR. 1992. Emergency Management of Skin and Soft Tissue
Wounds, An Illustrated Guide. USA, Boston, Little Brown.

Kozier, Barbara. 1995. Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice :


Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.

Oswari E. 1993. Bedah dan Perawatannya. Jakarta, Gramedia.

Potter. 2000. Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa
Ester Monica. Jakarta, Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Samba, Suharyati. 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta, EGC.

PERAWATAN LUKA JAHITAN PERINEUM

a.

Pengertian Perawatan Luka Perineum

Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis,


psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz,
2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva
dan anus (Danis, 2001). Jadi perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan
untuk menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu
yang dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ
genetik seperti pada waktu sebelum hamil ( Anonimity, 2009 ).
b.

Gangguan Integritas Kulit pada Proses Persalinan

1)

Episiotomi

Episiotomi adalah insisi pada perineum untuk memperbesar mulut vagina. Jenis
episiotomi ditentukan berdasarkan tempat dan arah insisi antara lain :
a)

Episiotomi garis medial

Paling sering dilakukan. Episiotomi ini efektif, mudah diperbaiki, dan biasanya nyeri
yang timbul lebih ringan. Kadang-kadang dapat terjadi perluasan melalui sfingter
rectum (laserasi derajat ketiga ) atau bahkan ke kanal ani (laserasi derajat
keempat ).
b)

Episiotomi mediolateral

Dilakukan pada persalinan dengan tindakan jika ada kemungkinan terjadi perluasan
kearah posterior. Meskipun dengan demikian robekan derajat empat dapat
dihindari, tetapi robekan derajat tiga dapat terjadi. Selain itu, Jika dibandingkan
dengan episiotomi medial, kehilangan darah akan lebih banyak dan perbaikan lebih
sulit serta lebih nyeri.
2)

Laserasi

a)

Laserasi Perineum (Robekan Perineum)

Robekan pada perineum terjadi pada hampir semua persalinan dan tidak jarang
juga pada persalinan berikutnya, namun hal ini dapat dihindarkan atau dikurangi
dengan jalan menjaga jangan sampai dasar panggul dilalui oleh kepala janin
dengan cepat.
Robekan perineum dapat di bagi 4 tingkat :
(1)
Tingkat 1 : Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau
tanpa mengenai kulit perineum.
(2)
Tingkat 2 : Robekan mengenai selaput lendir vagina dan otot perinel
transversalis, tetapi tidak mengenai otot sfingter ani.
(3)

Tingkat 3 : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani.

(4)
Tingkat 4 : Robekan mengenai perineum sampai dengan otot sfingter ani
dan mukosa rectum
b)

Laserasi Vagina

c)

Laserasi Serviks (Cedera Serviks)

(Bobak dkk, 2004)


c.

Tujuan Perawatan Luka Perinium

1)
Untuk mencegah terjadinya infeksi di daerah vulva, perineum, maupun di
dalam uterus
2)

Untuk penyembuhan luka perinium (jahitan perineum)

3)

Untuk kebersihan perineum dan vulva

4)
Untuk mencegah infeksi seperti diuraikan diatas bahwa saat persalinan vulva
merupakan pintu gerbang masuknya kuman-kuman. Bila daerah vulva dan
perineum tidak bersih, mudah terjadi infeksi pada jahitan perineum, saluran vagina
dan uterus.
(Wahyu, 2011)
d.

Waktu Perawatan Luka perineum

1)

Saat mandi

Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka
ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada
pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2)

Setelah buang air kecil

Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi
kontaminasi air seni pada rektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri
pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3)

Setelah buang air besar.

Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus,
untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang
letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum
secara keseluruhan (Wilujeng, 2011).

e.

Cara Perawatan Luka Perineum

Perawatan perineum dapat mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan


cara menjaga kebersihan perineum caranya sebagai berikut:
1)

Persiapan :

a)

Siapkan air hangat

b)

Sabun dan washlap

c)

Handuk kering dan bersih

d)

Pembalut ganti yang secukupnya

e)

Celana dalam yang bersih

2)

Cara merawatnya :

a)

Lepas semua pembalut dan cebok dari arah depan ke belakang

b)
Washlap dibasahi dan buat busa sabun lalu gosokkan perlahan washlap yang
sudah ada busa sabun tersebut ke seluruh lokasi luka jahitan. Jangan takut dengan
rasa nyeri, bila tidak dibersihkan dengan benar maka darah kotor akan menempel
pada luka jahittan dan menjadi tempat kuman berkembang biak.
c)
Bilas dengan air hangat dan ulangi sekali lagi sampai yakin bahwa luka benar
benar bersih. Bila perlu lihat dengan cermin kecil.
d)
Setelah luka bersih boleh berendam dalam air hangat dengan menggunakan
tempat rendam khusus. Atau bila tidak bisa melakukan perendaman dengan air
hangat cukup di siram dengan air hangat.
e)
Kenakan pembalut baru yang bersih dan nyaman dan celana dalam yang
bersih dari bahan katun. Jangan mengenakan celana dalam yang bisa menimbulkan
reaksi alergi.
f)
Segera mengganti pembalut jika terasa darah penuh, semakin bersih luka
jahitan maka akan semakin cepat sembuh dan kering.
g)
Konsumsi makanan bergizi dan berprotein tinggi agar luka jahitan cepat
sembuh. Makanan berprotein ini bisa diperoleh dari telur, ikan, ayam dan daging,
tahu, tempe. Jangan pantang makanan, ibu boleh makan semua makanan kecuali
bila ada riwayat alergi.
h)

Luka tidak perlu dikompres obat antiseptik cair tanpa seizin dokter atau bidan.

3)

Lamanya jahitan mengering

Luka jahitan rata-rata akan kering dan baik dalam waktu kurang dari satu minggu.
Bila keluar darah kotor bau busuk dari jalan lahir, ibu panas, dan luka jahitan
bengkak kemerahan terasa sangat nyeri atau luka jahitan bernanah.
Ada beberapa catatan yang perlu diketahui:
a)

Luka jahitan terasa sedikit nyeri

Jangan cemas, rasa nyeri ini akibat terputusnya jaringan syaraf dan jaringan otot ,
namun semakin sering di gerakkan maka nyeri akan berkurang. Bila ibu hanya
berbaring terus menerus dan takut bergerak karena nyeri akan menghambat proses
penyembuhan. Sirkulasi darah pada luka menjadi tidak lancar.
b)

Luka terlihat sedikit bengkak dan merah

Pada proses penyembuhan luka tubuh secara alami akan memproduksi zat zat
yang merupakan reaksi perlawanan terhadap kuman. Sehingga dalam proses
penyembuhan luka kadang terjadi sedikit pembengkakan dan kemerahan. Asalkan
luka bersih ibu tak perlu cemas. Bengkak dan merah ini bersifat sementara.
Beberapa keluarga masih ada yang menganjurkan untuk mengurangi minum air
putih agar jahitan cepat kering. Hal ini sama sekali tidak dibenarkan. Justru ibu
harus minum yang banyak, minimal 8 gelas sehari untuk memperlancar buang air
kecil, mengganti cairan tubuh yang hilang dan memperlancar proses pengeluaran
ASI.

Perawatan Perineum

Pengertian Perawatan Luka Perinium


Perawatan adalah proses pemenuhan kebutuhan dasar manusia (biologis,
psikologis, sosial dan spiritual) dalam rentang sakit sampai dengan sehat (Aziz,
2004). Perineum adalah daerah antara kedua belah paha yang dibatasi oleh vulva
dan anus (Danis, 2000). Post Partum adalah selang waktu antara kelahiran placenta
sampai dengan kembalinya organ genetik seperti pada waktu sebelum hamil
(Mochtar, 2002). Perawatan perineum adalah pemenuhan kebutuhan untuk
menyehatkan daerah antara paha yang dibatasi vulva dan anus pada ibu yang
dalam masa antara kelahiran placenta sampai dengan kembalinya organ genetik
seperti pada waktu sebelum hamil.
Tujuan Perawatan Perineum
Tujuan perawatan perineum menurut Hamilton (2002), adalah mencegah terjadinya
infeksi sehubungan dengan penyembuhan jaringan.
Sedangkan menurut Moorhouse et. al. (2001), adalah pencegahan terjadinya infeksi
pada saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran anak atau
aborsi.
Bentuk Luka Perineum
Bentuk luka perineum setelah melahirkan ada 2 macam yaitu :
1. Rupture
Rupture adalah luka pada perineum yang diakibatkan oleh rusaknya jaringan secara
alamiah karena proses desakan kepala janin atau bahu pada saat proses persalinan.

Bentuk rupture biasanya tidak teratur sehingga jaringan yang robek sulit dilakukan
penjahitan. (Hamilton, 2002).
2. Episotomi
Episiotomi adalah sebuah irisan bedah pada perineum untuk memperbesar muara
vagina yang dilakukan tepat sebelum keluarnya kepala bayi (Eisenberg, A., 1996).
Episiotomi, suatu tindakan yang disengaja pada perineum dan vagina yang sedang
dalam keadaan meregang. Tindakan ini dilakukan jika perineum diperkirakan akan
robek teregang oleh kepala janin, harus dilakukan infiltrasi perineum dengan
anestasi lokal, kecuali bila pasien sudah diberi anestasi epiderual. Insisi episiotomi
dapat dilakukan di garis tengah atau mediolateral. Insisi garis tengah mempunyai
keuntungan karena tidak banyak pembuluh darah besar dijumpai disini dan daerah
ini lebih mudah diperbaiki (Jones Derek, 2002).
Pada gambar berikut ini dijelaskan tipe episotomi dan rupture yang sering dijumpai
dalam proses persalinan yaitu :
1. Episiotomi medial
2. Episiotomi mediolateral
Sedangkan rupture meliputi
1. Tuberositas ischii
2. Arteri pudenda interna
3. Arteri rektalis inferior

Gambar 1. Tipe-Tipe Episiotomi


Lingkup Perawatan
Lingkup perawatan perineum ditujukan untuk pencegahan infeksi organ-organ
reproduksi yang disebabkan oleh masuknya mikroorganisme yang masuk melalui
vulva yang terbuka atau akibat dari perkembangbiakan bakteri pada peralatan
penampung lochea (pembalut) (Feerer, 2001).
Sedangkan menurut Hamilton (2002), lingkup perawatan perineum adalah
1. Mencegah kontaminasi dari rektum
2. Menangani dengan lembut pada jaringan yang terkena trauma
3. Bersihkan semua keluaran yang menjadi sumber bakteri dan bau.

Waktu Perawatan
Menurut Feerer (2001), waktu perawatan perineum adalah
1. Saat mandi
Pada saat mandi, ibu post partum pasti melepas pembalut, setelah terbuka maka
ada kemungkinan terjadi kontaminasi bakteri pada cairan yang tertampung pada
pembalut, untuk itu maka perlu dilakukan penggantian pembalut, demikian pula
pada perineum ibu, untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
2. Setelah buang air kecil
Pada saat buang air kecil, pada saat buang air kecil kemungkinan besar terjadi
kontaminasi air seni padarektum akibatnya dapat memicu pertumbuhan bakteri
pada perineum untuk itu diperlukan pembersihan perineum.
3. Setelah buang air besar.
Pada saat buang air besar, diperlukan pembersihan sisa-sisa kotoran disekitar anus,
untuk mencegah terjadinya kontaminasi bakteri dari anus ke perineum yang
letaknya bersebelahan maka diperlukan proses pembersihan anus dan perineum
secara keseluruhan.
Penatalaksanaan
1. Persiapan
a. Ibu Pos Partum
Perawatan perineum sebaiknya dilakukan di kamar mandi dengan posisi ibu jongkok
jika ibu telah mampu atau berdiri dengan posisi kaki terbuka.
b. Alat dan bahan
Alat yang digunakan adalah botol, baskom dan gayung atau shower air hangat dan
handuk bersih. Sedangkan bahan yang digunakan adalah air hangat, pembalut nifas
baru dan antiseptik (Fereer, 2001).
2. Penatalaksanaan
Perawatan khusus perineal bagi wanita setelah melahirkan anak mengurangi rasa
ketidaknyamanan, kebersihan, mencegah infeksi, dan meningkatkan penyembuhan
dengan prosedur pelaksanaan menurut Hamilton (2002) adalah sebagai berikut:
a. Mencuci tangannya
b. Mengisi botol plastik yang dimiliki dengan air hangat

c. Buang pembalut yang telah penuh dengan gerakan ke bawah mengarah ke


rectum dan letakkan pembalut tersebut ke dalam kantung plastik.
d. Berkemih dan BAB ke toilet
e. Semprotkan ke seluruh perineum dengan air
f. Keringkan perineum dengan menggunakan tissue dari depan ke belakang.
g. Pasang pembalut dari depan ke belakang.
h. Cuci kembali tangan
3. Evaluasi
Parameter yang digunakan dalam evaluasi hasil perawatan adalah:
a. Perineum tidak lembab
b. Posisi pembalut tepat
c. Ibu merasa nyaman
Faktor yang Mempengaruhi Perawatan Perineum
1. Gizi
Faktor gizi terutama protein akan sangat mempengaruhi terhadap proses
penyembuhan luka pada perineum karena penggantian jaringan sangat
membutuhkan protein.
2. Obat-obatan
a. Steroid : Dapat menyamarkan adanya infeksi dengan menggangu respon
inflamasi normal.
b. Antikoagulan : Dapat menyebabkan hemoragi.
c. Antibiotik spektrum luas / spesifik : Efektif bila diberikan segera sebelum
pembedahan untuk patolagi spesifik atau kontaminasi bakteri. Jika diberikan setelah
luka ditutup, tidak efektif karena koagulasi intrvaskular.
3. Keturunan
Sifat genetik seseorang akan mempengaruhi kemampuan dirinya dalam
penyembuhan luka. Salah satu sifat genetik yang mempengaruhi adalah
kemampuan dalam sekresi insulin dapat dihambat, sehingga menyebabkan glukosa
darah meningkat. Dapat terjadi penipisan protein-kalori.
4. Sarana prasarana

Kemampuan ibu dalam menyediakan sarana dan prasarana dalam perawatan


perineum akan sangat mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya
kemampuan ibu dalam menyediakan antiseptik.
5. Budaya dan Keyakinan
Budaya dan keyakinan akan mempengaruhi penyembuhan perineum, misalnya
kebiasaan tarak telur, ikan dan daging ayam, akan mempengaruhi asupan gizi ibu
yang akan sangat mempengaruhi penyembuhan luka.
Dampak Dari Perawatan Luka Perinium
Perawatan perineum yang dilakukan dengan baik dapat menghindarkan hal berikut
ini :
1. Infeksi
Kondisi perineum yang terkena lokia dan lembab akan sangat menunjang
perkembangbiakan bakteri yang dapat menyebabkan timbulnya infeksi pada
perineum.
2. Komplikasi
Munculnya infeksi pada perineum dapat merambat pada saluran kandung kemih
ataupun pada jalan lahir yang dapat berakibat pada munculnya komplikasi infeksi
kandung kemih maupun infeksi pada jalan lahir.
3. Kematian ibu post partum
Penanganan komplikasi yang lambat dapat menyebabkan terjadinya kematian pada
ibu post partum mengingat kondisi fisik ibu post partum masih lemah (Suwiyoga,
2004)

Robekan jalan lahir selalu memberikan perdarahan dalam jumlah yang bervariasi
banyaknya. Perdarahan yang berasal dari jalan lahir selalu harus dievaluasi, yaitu
sumber dan jumlah perdarahan sehingga dapat diatasi.
Sumber perdarahan dapat berasal dari perineum vagina, servik dan robekan uterus.
Perdarahan dapat dalam bentuk hematoma dan robekan jalan lahir dengan
perdarahan yang bersifat arteril atau pecahnya pembuluh darah vena. Untuk dapat
menetapkan sumber perdarahan dapat dilakukan dengan pemeriksaan dalam atau
spekulum.
Perdarahan karena robekan jalan lahir banyak dijumpai pada pertolongan
persalinan. Jika perlukaan hanya mengenai bagian luar (superfisial) saja atuajika
perlukaan tersebut idak mengeluarkan darah, biasanya tidak perlu dijahit. Hanya

perlukaan yang lebih dalam dimana jaringannya tidak bisa didekatkan dengan baik
atau perlukaan yang aktif mengeluarkan darah memerlukan suatu penjahitan.
Tujuan dari pejahitan perlukaan perineum / episiotomi adalah :
1. Untuk mendekatkan jaringan-jaringan agar proses penyembuhan bisa terjadi,
proses penyembuhan itu sendiri bukanlah hasil dari penjahitan tersebut tetapi hasil
dari pertumbuhan jaringan.
2. Untuk menghentikan perdarahan
Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan.
Derajat Satu
Derajat dua Derajat Tiga Derajat Empat
Mukosa Vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Mukosa Vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Mukosa Vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Otot sfingter ani
Mukosa Vagina
Komisura posterior
Kulit perineum
Otot perineum
Otot sfingter ani

Dinding depan rektum


Tak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. Jahit menggunakan
teknik yang dijelaskan pada Lampiran 4. Penolong APN tidak dibekali keterampilan
untuk reparasi laserasi perineum derajat tiga atau empat. Segera rujuk ke fasilitas
rujukan
Gambar 1 : Derajat Laserasi Perineum
Sumber: Midwifery Manual of Maternal Care dan Varneys Midwifery, edisi ke-3

Langkah-langkah pejahitan robekan perineum


A. Persiapan Alat
1. Siapkan peralatan untuk melakukan penjahitan
- Wadah berisi :
Sarung tnagna, pemegang jarum, jarum jahit, benang jahit, kasa steril, pincet
- Kapas DTT
- Buka spuit sekali pakai 10 ml dari kemasan steril, jatuhkan dalam wadah DTT
- Patahkan ampul lidokain
2. Atur posisi bokong ibu pada posisi litotomi di tepi tempat tidur
3. Pasang kain bersih di bawah bokong ibu
4. Atur lampu sorot atau senter ke arah vulva / perineum ibu
5. Pastikan lengan / tangan tidak memakai perhiasan, cuci tangan dengan sabun
dan air mengeliar
6. Pakaian satu sarung tangan DTT pada tangan kanan
7. Ambil spuit dengan tangan yang berasarung tangan, isi tabung suntik dengan
lidokain dan letakkan kembali ke dalam wadah DTT
8. Lengkapi pemakaian sarunga tangan pada tangan kiri
9. Bersihkan vulva dan perineum dengan kapas DTT dengan gerakan satu arah dari
vulva ke perineum
10. Periksa vagina, servik dan perineum secara lengkap, pastikan bahwa laserasi
hanya merupakan derajat satu atau dua.

B. Anestesi Lokal
1. Beritahu ibu tentang apa yang akan dilakukan
2. Tusukkan jarum suntik pada daerah kamisura posterior yaitu bagian sudut bahwa
vulva.
3. Lakukan aspirasi untuk memastikan tidak ada darah yang terhisap
4. Suntikan anestesi sambil menarik jarum suntik pada tepi luka daerah perineum
5. Tanpa menarik jarum suntik keluar dari luka arahkan jarum suntik sepanjang luka
pada mukosa vagina
6. Lakukan langkah 2-5 diatas pada kedua tepi robekan
7. Tunggu 1-2 menit sebelum melakukan penjahitan
C. Penjahitan Laserasi pada Perineum
1. Buat jahitan pertama kurang lebih 1 cm diatas ujung laserasi di mukosa vagina.
Setelah itu buat ikatan dan potong pendek benang dari yang lebih pendek. Sisakan
benang kira-kira 1 cm.
2. Tutup mukosa vagina dengan jahitan jelujur, jahit ke bawah ke arah cincin himen
3. Tepat sebelum cincin himen, masukkan jarum ke dalam mukosa vagina lalu ke
belakang cincin himen sampai jarum ada di bawah laserasi kemudian ditarik keluar
pada luka perineum
4. Gunakan teknik jelujur saat menjahit lapisan otot. Lihat kedalam luka untuk
mengetahui letak ototnya.
5. Setelah dijahit sampai ujung luka, putarlah jarum dan mulailah menjahit kearah
vagina dengan menggunakan jahitan subkutikuler
6. Pidahkan jahitan dari bagian luka perineum kembali ke vagina di belakang cincin
hymen untuk diikat dengan simpul mati dan dipotong benangnya
7. Masukkan jari ke dalam rektum
8. Periksa ulang kembali pasa luka
9. Cuci daerah genital dengan lembut kemudian keringkan. Bantu ibu mencari posisi
yang diinginkan
10. Nasehatiibu untuk :
a. Menjaga perineum selalu bersih dan kering

b. Hindari penggunaan obat-obatan tradisional pada perineumnya


c. Cuci perineum dengan sabun dan air bersih yang mengalir 3-4 x per hari
d. Kembali dalam seminggu untuk memeriksa luka
D. MACAM MACAM JAHITAN
A. Jahitan Kulit
1. Jahitan interrupted :
a. Jahitan simple interrupted (Jahitan satu demi satu)
Merupakan jenis jahitan yang paling dikenal dan paling banyak digunakan. Jarak
antara jahitan sebanyak 5-7 mm dan batas jahitan dari tepi luka sebaiknya 1-2 mm.
Semakin dekat jarak antara tiap jahitan, semakin baik bekas luka setelah
penyembuhan.
b. Jahitan Matras
1) Jahitan matras vertikal
Jahitan jenis ini digunakan jika tepi luka tidak bisa dicapai hanya dengan
menggunakan jahitan satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lemak
subkutisnya dan tepi satu demi satu. Misalnya di daerah yang tipis lunak
subkutisnya dan tepi luka cenderung masuk ke dalam.
2) Jahitan matras horizontal
Jahitan ini digunakan untuk menautkan fasia dan aponeurosis. Jahitan ini tidak boleh
digunakan untuk menjahit lemak subkutis karena membuat kulit diatasnya terlihat
bergelombang
c. Jahitan Continous
1) Jahitan jelujur : lebih cepat dibuat, lebih kuat dan pembagian tekanannya lebih
rata bila dibandingkan dengan jahitan terputus. Kelemahannya jika benang putus /
simpul terurai seluruh tepi luka akan terbuka.
2) Jahitan interlocking, feston
3) Jahitan kantung tembakau (tabl sac)
2. Jahitan Subkutis
a. Jahitan continous : jahitan terusan subkutikuler atau intrademal. Digunakan jika
ingin dihasilkan hasil yang baik setelah luka sembuh. Juga untuk menurunkan
tengan pad aluka yang lebar sebelum dilakukan penjahitan satu demi satu.

b. Jahitan interrupted dermal stitch


3. Jahitan Dalam
Pada luka infeksi misalnya insisi abses, dipasang dren. Dren dapat dibuat dari
guntingan sarunga tangan fungsi dren adalah mengelirkan cairan keluar berupa
darah atau serum.

B. PERAWATAN LUKA HEATING PERINEUM


a. Penanganan Komplikasi
1. Jika terdapat hematoma, darah dikeluarkan. Jika tidak ada tanda infeksi dan
perdarahan sudah berhenti, lakukan penjahitan.
2. Jika terdapat infeksi, buka dan drain luka
- Lalu berikan terapi ampisilin 500 mg per oral 4 x sehari selama 5 hari
- Dan metronidazol 400 mg per oral 3 x sehari selama 5 hari
b. Perawatan Pasca Tindakan
1. Apabila terjadi robekan tingkat IV (Robekan sampai mukosa rektum), berikan anti
biotik profilaksis dosis tunggal
c. Ampisilin 500 mg per oral
d. Dan metronidazol 500 mg per oral
2. Observasi tanda-tanda infeksi
3. Jangan lakukan pemeriksaan rektal atau enam selama 2 minggu
4. Berikan pelembut feses selama seminggu per oral

BAB II
ASUHAN KEBIDANAN pada IBU NIFAS NORMAL DENGAN LUKA PERINEUM

PENGUMPULAN DATA DASAR


Tanggal : 4 november 2010 jam : 08.00 WIB

A. Subjektif
1. Anamnesa :
Nama istri : Ny.Y nama suami : Tn. X
Umur : 30 tahun umur : 36 tahun
Agama : islam agama : islam
Suku bangsa : jawa/indonesia suku bangsa : jawa/indonesia
Pendidikan : SD pendidikan : SD
Pekerjaan : swasta pekerjaan : swasta
Penghasilan : - penghasilan : Alamat : Ds. Palembon kanor

2. Keluhan utama :
Ibu mengatakan bahwa 4 hari setelah melahirkan anak ke-2 ini, luka jahitan belum
kering sehingga terasa nyeri saat di tekan.
3. Riwayat kesehatan yang lalu :
Ibu mengatakan bahwa sebelumnya tidak pernah menderita penyakit menular,
keturunan maupun penyakit kronis.
4. Riwayat kesehatan keluarga :
Ibu mengatakan bahwa dalam keluarga ibu dan suami tidak ada yang menderita
penyakit menular, keturunan maupun penyakit kronis
5. Riwayat haid :
Menarche : 14 tahun
Siklus : teratur, 28-30 hari
Lama : 6-7 hari
Karakteristik : merah kehitaman, encer
Dismenorhoe : Dysfungsiblooding : -

Fluoralbus : 2 hari sebelum dan sesudah haid


HPHT : 24 januari 2010
TTP : 31 oktober 2010

6. Riwayat perkawinan :
Nikah : 1 kali
Lama : 3 tahun
Usia nikah : 25 tahun

7. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu :

Hamil ke BBL
(gram) penolong Cara / partus Keadaan bayi Jenis kelamin uri komplikasi nifas
No. Usia anak
1.

2. 39 minggu
38 minggu 25oo gram
2600 gram Bidan

bidan Spontan

spontan Baik

baik Perempuan

Laki-laki Lengkap
Lengkap Luka perineum
Luka perineum Normal

Normal

8. A. Riwayat kehamilan sekarang :


Trimester I : Pada usia kehamilan 1-3 bulan periksa ke polindes rutin 3 kali,
mengatakan mual dan muntah, mendapat tablet Fe 60 tablet dan TT1
Trimester II : ANC 2 X di BPS, merasakan gerakan janin pada umur 5 bulan
kehamilan, mendapat tablet Fe 30 tablet, kalk dan TT2
Trimester III : ANC 2 X di BPS, mengatakan kenceng-kenceng

B. Riwayat persalinan :
Kala 1 : ibu mengatakan keluar lendir dan darah, perut terasa kenceng-kenceng dari
jam 21.00 sampai jam 06.00 pagi
Kala 2 : ibu mengatakan bayinya lahir sekitar jam 07.00 pagi
Kala 3 : setelah bayinya lahir, jarak 15 menit plasenta keluar dan tidak lama
kemudian dilakukan penjahitan
C. Riwayat nifas :
6 jam pertama setelah melahirkan, ibu tidak mengalami perdarahan tetapi
badannya masih lemas dan merasa nyeri pada luka jahitan.

9. Riwayat KB :
Ibu mengatakan tidak pernah mengikuti progam KB sebelumnya, dan ibu akan
mengikuti progam KB setelah melahirkan ini.

10. Pola kebiasaan sehari-hari :

No . Pola Sebelum bersalin Setelah bersalin


1. Nutrisi Makan 3 X sehari, porsi sedang, minum 6-8 gelas/hari, air putih + susu
Makan 3 X sehari, porsi banyak minum 8 gelas/hari, air putih

2. Eliminasi BAB : 2 x sehari


BAK : 4 x sehari BAB : 1 x sehari
BAK : 3 x sehari
3. Istirahat Siang : 1 jam
Malam : 7 jam Siang : 1 jam
Malam : 6 jam
4. Kebersihan Mandi 3 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas
3 x/ minggu Mandi 2 x sehari, ganti baju 2 x sehari, gosok gigi 3 x sehari, keramas 3
x/ minggu, merawat perineum 2 x sehari, ganti pembalut 3 x sehari.
5. Aktifitas Memasak, mencucu, membersihkan rumah, mengurus kebutuhan
keluarga. Ibu hanya merawat bayinya dirumah
6. Seksual 1 x seminggu Tidak pernah
7. Kebiasaan yang mengganggu Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol,
dan tidak minum jamu tradisional Ibu tidak merokok, minum minuman beralkohol,
dan tidak minum jamu tradisional
8. Rekreasi Menonton TV Menonton TV

11. Data psikososial :


Psiko : ibu, suami, maupun keluarga menerima kelahiran anak yang pertama ini
dengan senang hati dan ibu berharap anaknya sehat dan dapat meneteki dengan
baik
Social : hubungan antara ibu, keluarga dan tetangga sangat baik, sehingga selalu
memberi dukungan pada ibu.

12. Latar belakang sosial budaya :


Ibu berasal dari suku jawa asli, dan ibu masih mengenal acara selamaan atau
bulanan dan selamatan setelah lahir, ibu masih menganutnpantangan terhadap
makanan tertentu.

13. Data spiritual :


Ibu dan keluarga menganut agama islam dan taan beribadah.

D. Obyektif
1. Pemeriksaan umum
Keadaan umum :baik TTV :
kesadaran : compos mentis Tekanan darah : 120/80 mmHg
BB : 67 kg Nadi : 80 x / menit
TB :160 cm Suhu : 374 0C
Respirasi : 20 x /menit

2. Pemeriksaan khusus
a. Inspeksi
Kepalaj : kulit kepala bersih
Rambut : hitam bersih, tidak ada ketombe, tidak rontokj
Mukaj : tidak ada kloasma gravidarum, klien tampak kesakitan
Mataj : konjungtiva tidak anemis, sclera putih
Telinga :bersih, tidak ada serumenj
Hidung : bersih, tidak ada polipj
Mulutj : bersih, tidak ada lubang dan tidak ada karies gigi
Leherj : tidak ada pembesaan kelenjar tyroid

Dada : mammae membesar, terdapat hiperpigmentasi pada areola mammae,


putting susu menonjol, ASI keluar dengan lancarj
Perutj : kontraksi baik, involusi berjalan normal
Genetalia : vulvaj : oedem, mengeluarkan sedikit darah
Perineum : terdapat luka jahitan, darah disekitar luka berwarna kemerahan
Anus : tidak ada hemoroid
Ekstremitas : sedikit oedem, tidak ada varisesj

b. Palpasi
Leherj : tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Dadaj : payudara tidak ada benjolan, ASI sudah keluar
Perutj : TFU 3 jari dibawah pusat
Ekstremitas : teraba panas pada anggota gerak bawah ibuj
Genetalia : perineum : bila ditekan terasa nyeri, dan daerah sekitar luka terasa
panasj
c. Perkusi
Abdomen : tidak ada meteorismus
Patella : ka/ki (+)/(+)

d. Pemeriksaan penunjang :
Darah Hb : 10 g%

III. Analisa Data


Diagnosa : lahir spontan, usia kehamilan 39 minggu, telah post partum hari ke 4
dengan keluhan nyeri pada luka perineum.
Masalah : nyeri pada luka perineum
Kebutuhan : 1. berikan penyuluhan pada ibu

2. Lakukan perawatan perineum setiap hari secara benar


3. Menjaga hygienitas
IV. kebutuhan Segera
Dilakukan perawatan secara intensifj
Diberikan obat antibiotic dan analgesicj

V. INTERVENSI
1. Lakukan pendekatan pada klien
R : agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan dalam menjalankan tindakan
2. Jelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan
R : agar ibu dapat mengetahui mengenai keadaannya saat ini
3. Anjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan cara yang benar.
R : agar dapat mempercepat penyembuhan, dan ibu dapat melakukannya sendiri di
rumah

VI. IMPLEMENTASI
1. Melakukan pendekatan pada klien,agar pasien lebih kooperatif, dan memudahkan
dalam menjalankan tindakan
2. Menjelaskan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan, supaya ibu mengetahui akan
keadaannya.
3. Menganjurkan pada ibu untuk merawat luka perineum dengan benar yaitu :
Anjurkan kebersihan seluruh tubuhj
j Mengajarkan ibu tentang bagaimana cara membersihkan darah disekitar vulva
terlebih yaitu dahulu dari depan ke belakang, baru kemidin membersihkan daerah
sekitar anus
Sarankan pada ibu untuk menggantij pembalut/kain pembalut minimal 2 x sehari,
ataupun kain dapat digunakan ulang bila telah dicuci bersih dan dikeringkan
dibawah sinar matahari dan juga telah di setrika.

Sarankan pada ibu untuk mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan
sesudah membersihkan daerah kewanitaan.j
Jika ibu mempunyai luka episiotomy/laserasi, saankan pada ibu untuk menghindari
menyentuh daerah luka.j

VII. EVALUASI
Ibu sudah mengerti penjelasan yang diberikan oleh bidan dan ibu dapat menjawab
peryanyaan yang diajukan bidan pada ibu serta dapat mempraktekkannya.