Anda di halaman 1dari 2

Hari ini baru saja terjadi, Horeee!!!

Kembang api yang indah dengan berbagai


bentuk itu benar-benar mempesona apalagi terompet-terompet yang dibunyikan dengan
keras. Ya, benar tahun baru. Tahun baru ini menyenangkan sekali untukku, kembang
apinya berkilauan dengan banyaknya. Mungkin teman yang lain asing denganku. Aku
baru pertama kalli menonton acara kembang api pergantian tahun di Monumen Nasional.
Akupun menontonnya tidak seperti yang lain. Seperti yang aku lihat sekarang ini di
sekitarku banyak yang berjingkat-jingkatdan melompat lompat serta membunyikan
teromper.
Berbeda, ya aku berbeda dengan mereka. Aku tak bisa melompat tinggi seperti
mereka, aku tak bisa melihat keindahan kembang api pergantian tahun ini dengan orang
tuaku. Aku tahu sku memang berbeda, siapapun tak kenal aku. Hah, aku memang
berbeda, sangat berbeda. Kau tahu aku adalah anak yang cacat, kakiku lumpuh. Aku tak
pernah lepas ari kursi roda yang kududuki ini. Aku tak bisa berlari seprti mereka. Namun
inilah takdirku, ya takdirku yang sudah di tentukan oleh Tuhan.
Namaku adalah Evie Sandra Kharisma. Aku adalha seoranganak yang cacat, aku
tak berguna. Orang tuakumeninggalkan aku dip anti asuhan karena aku cacat, aku
lumpuh. Mungkin aku merepotkan mereka, Oh Tuhan berdosakah aku merepotkan
mereka, membuat malu mereka, membuat mereka sangat gugup. Tuhanku kutahu
mungkin kaulah yang cinta padaku. Orang tuaku saja meninggalkanku, mengacuhkanku
padahal mereka yang mengurusku saj malu, apalagi orang lain.
Kau tahu mereka sangat berbuat tidak adil dari pada saudaraku, saudara kembraku
yang sngat imut. Aku disembunyikan dari berbagai kegiatan umum. Bahkan kadang aku
merasa menjadi putrid yang berada di puri menyeramkan yang tak dikenal. Memang
pantas, sangat pantas bila aku diperlaukan seperti itu. Tapi mengapa mereka bisa berbut
tega denganku. Tega sekali mereka. Banyak orang yangmenginginkan anak, Eh tapi
mereka malah membuang anugrah Tuhan yang indah.
Mungkin kamu heran. Mengapa aku bisa melihat kembang api pergantian tahun
yang ada di Monas, padahal tadi aku bilang aku disembunyikan dari segala kegiatan
umum. Karena aku sudah dibuang, aku sudah tidak menjadi anak mereka. Jahatsekali
mereka. Masih tersirat di benakku kejadian dua tahun yang lalu,ketika umurku sepulu
tahun. Tapi aku tak mampu membayangkan betapa kejamnya mereka.
Aku ingat sekali waktu itu sau8dra kembarku, Eries dan Erie terlihat sangat
senang. Mereka melingkari kalender dengan warna biru dan menulisi di kertas yang
bunyinya The Holiday is fun dan ditulis dengan spidol besar, kertas
itru berwarna biru dan ditempelkan di sebelah kalender. Di bawa tulisan itu ada tulisan
kecil bunyinya :

#
#
#
#
#
#
#
#
#

Pergi ke Dufan
Pergi ke bogor (ke semua tempat yang indah)
Pergi ke Bali
Pergi ke rumah Eyang
Pergi ke Singapure
Pergi ke London
Pergi ke Jepang
Beli mainan yang bagus dan banyak + new
dll. (titik)

Wah... memangnya The Holiday is fun e itu artinya apaan sih. Aku tak mengerti sama
sekali. Akukan selama ini belum pernah menginjakkan kaki di sekolah. Biasanya seiap
hari aku selalu didatangi seorang yang mengajariku, Namanya Mbak Elis orangnya
sangat cantik dan elalu tersenyum padaku sertaketika mengajarikupun matanya berkacakaca. Hah, sebenarnya aku juga ingin keluar dari rumah ini. Aku ingin mengerti tentang
seeuatu yang terjadi di rumah. Aku ingin tidak mempunyai perasaan seperti orang
dipenjara. Apakah aku berbahaya? Apakah aku membuat orang rugi? Mengapa kedua
orang tuaku menyembunyikan aku? Kadang aku bertanya pada Mbak Elis tapi beliau
selalu tersenyum. Aku tahu alasannya, mereka malu. Tapi itu sama seksali tak adil

bagiku. Adikku saja selalu tersenyum padaku tapi orangtuaku.... juga tersenyum tapi tak
seindah yang kurasakan.
Pagi itu mereka semua terlihat bersiap-siap dan terburu-buru. Aku memandangnya
dari atas tangga dan tersenyum, memangnya mereka mau kemana. Mama tak kelihatan,
mungkin masih dikamar. Aku yakin mugkin kali ini aku tak akan diajak, pasti aku aka
membuat mereka malu. Tidak, oh tidak