Anda di halaman 1dari 4

Nama

: I Gede Bagus Satria Waskita

NIM

: 1202105025

ABSEN

: 23

FENOMENA KEPERAWATAN
1. Terapi komplementer seperti latihan yoga menjadi terapi fisik tambahan
yang efektif bagi pasien dengan masalah muskuloskeletal, salah satunya
reumatik.
Yoga merupakan salah satu bentuk latihan yang dapat dilakukan oleh
pasien dengan Reumatik. Hal ini sesuai dengan pedoman pengobatan yang
diterbitkan oleh American College of Reumatology, yang menyatakan bahwa
aktivitas fisik merupakan bagian penting dari pengobatan yang efektif untuk
Reumatik (health.detik.com, 2011).
Contohnya:
Humeira Badsha, dkk dalam penelitiannya yang berjudul The Benefits of
Yoga for Rheumatoid Arthritis: Results of A

Preliminary, Structured 8-Week

Program, melakukan penelitian pada pasien yang didiagnosa mengalami rematik.


Intervensi yang diberikan adalah latihan fisik tambahan berupa latihan yoga yang
diberikan selama 8 minggu. Latihan yoga tersebut terdiri dari latihan peregangan,
penguatan, meditasi dan pernapasan dalam, yang disebut Vishwas Raj yoga.
Latihan yoga ini terdiri dari 12 sesi yoga, setiap sesi berlangsung selama 1 jam
dan dilakukan dua kali dalam seminggu. Setelah menyelesaikan 12 sesi, pasien
yang menjalani yoga membaik pada semua parameter aktivitas penyakit
Reumatik.
2. Fenomena: Dukun Patah Tulang Laris Karena Ahli Ortopedi Masih Kurang

Contoh:
Di Indonesia, persaingan antara dokter ortopedi dengan dukun patah

tulang sangat ketat. Selain masalah harga yang jauh lebih murah, para dukun juga
diuntungkan karena jumlah dokter ortopedi masih belum sebanding dengan
jumlah pasiennya.

"Di Indonesia hanya ada sekitar 500 dokter ortopedi. Jumlah ini tentu jauh dari
sempurna," kata dr Luthfi Gatam, SpOT ahli ortopedi dari RS Fatmawati dalam
jumpa pers tentang Ortopedi dan Rehabilitasi Medik di RS Fatmawati, Senin
(20/2/2012).
Sebagai pembanding, dr Luthfi mengatakan Amerika Serikat dengan populasi
sekitar 300-an juta jiwa memiliki sekitar 20 ribu dokter ortopedi. Sementara di
Indonesia dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, dokter ortopedinya hanya ada
sekitar 500 orang.
Kurangnya tenaga dokter ini membuat praktik pengobatan alternatif makin laris.
Dukun patah tulang misalnya, makin banyak dikunjungi pasien karena tarifnya
dalam mengobati masalah tulang dan otot memang lebih murah dibandingkan
harus operasi di rumah sakit.
Padahal menurut dr Luthfi, praktik-praktik seperti ini tidak terjamin kemanjuran
maupun keamanannya secara medis. Mungkin ada beberapa yang sembuh, namun
ketika ada yang tidak berhasil maka biasanya tertutup informasinya oleh kisahkisah sukses si dukun yang lain.
"Nah itu juga yang menjadi kelebihan dukun patah tulang. Kalau di rumah sakit
terjadi kesalahan operasi, pasien menuntut bermiliar-miliar. Coba kalau dukun
patah tulang yang salah, nggak ada ceritanya dukun di pengadilan," kata dr Luthfi.
Ditambahkan oleh dr Luthfi, kebutuhan dokter ortopedi di Indonesia cukup
mendesak karena jumlah kasusnya sangat tinggi. Tiap bulan, RS Fatmawati yang
memiliki unggulan dalam pelayanan ortopedi melayani sedikitnya 300 kasus
dengan kasus terbanyak adalah nyeri punggung.
3. Pengobatan dengan bahan herbal lebih diminati oleh pasien dengan masalah
musculoskeletal.
Tingginya biaya yang diperlukan untuk pengobatan masalah muskuloskeletal serta
lamanya proses penyembuhan menyebabkan obat herbal semakin diminati. Selain
itu tamanan obat herbal juga mudah ditemukan sehingga dapat diolah sendiri di
rumah. Sedangkan obat medis dirasa lebih menimbulkan efek samping akibat
bahan kimia yang digunakan. Oleh karena itu obat herbal dirasa dapat menjadi

solusi

pada

masalah

finansial

yang

dialami

pasien

dengan

masalah

muskuloskeletal.
Contohnya:
Pengobatan herbal alami dengan ace maxs yang terbuat dari kulit buah
manggis, daun sirsak, apel, serta madu. Obat ini dikatakan dapat menyembuhkan
penyakit rematik tanpa menimbulkan efek samping pada organ-organ tubuh
lainnya. Obat ini juga dikatakan dapat menyembuhkan penyakit rematik secara
total.
4. Tereksposenya kejadian malpraktek atau kelalaian yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan dalam proses operasi yang berakibat fatal pada pasien
dengan masalah muskuloskeletal.
Hal ini merupakan salah satu alasan pasien dengan masalah muskuloskeletal takut
untuk menjalani perawatan medis terutama operasi.
Contohnya:
Seorang pasien bernama Tn. P mengalami fraktur femur dan akan
menjalani operasi pada salah satu rumah sakit di daerahnya. Dari foto rontgen
pasca operasi, pen telah menancap pada tempat yang benar, kelurusan tulang telah
sesuai dengan yang diharapkan. setelah recovery dan perawatan di bangsal yang
memadai akhirnya Tn. P bisa dipulangkan. Belum ada seminggu, di tempat luka
operasi, setiap saat selalu keluar nanah, hingga membuat pembalut luka selalu
diganti. Setelah memeriksakannya ke rumah sakit Arto Werdi, Tn. P kembali
menjalani pembedahan, dan ternyata pada tim operasi menemukan kassa
tertinggal di tulang yang telah direposisi.

5. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai proses penyembuhan dan


perawatan

yang

harus

dilakukan

pada

pasien

dengan

masalah

muskuloskeletal menyebabkan tingginya angka kecacatan yang diderita oleh


pasien dengan masalah muskuloskeletal terutama fraktur.
Penyembuhan patah tulang adalah proses fisiologis yang pada umumnya
terjadi secara spontan apabila ada bagian tulang yang mengalami cedera apalagi
patah. Proses ini terdiri dari beberapa tahap yang saling berkaitan. Tahapan itu
antara lain: tahap Inflamasi, tahap Reparasi/Perbaikan dan tahap Remodelling atau
Pembentukan ulang. Setiap tulang tubuh manusia berbeda lama penyembuhannya.

Namun masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah seringkali


membawa keluarga mereka ke tempat-tempat pengobatan alternatif seperti tukang
pijit atau urut.
Contoh:
Menjamurnya pengobatan alternatif patah tulang yang tidak terdaftar dan
tidak memenuhi standar kesehatan menjadi perhatian Departemen Kesehatan RI.
Ringannya

biaya

pengobatan

serta

kurangnya

pengetahuan

masyarakat

menyebabkan banyak masyarakat yang memilih pengobatan alternatif tanpa


memikirkan efek sampingnya. Risiko yang mungkin didapatkan bagi seorang
penderita patah tulang yang tidak ditangani dengan tepat akan mengakibatkan
kelumpuhan (kompas.com).