Anda di halaman 1dari 30

BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah


Apa yang dipahami dari sejarah peradaban ekonomi Islam, hakikatnya
adalah memahami sejarah perjalanan panjang Islam yang titik puncaknya adalah
sejarah hidup Rasulullah SAW. Hanya Muhammad SAW sebagai tolok ukur yang
nyata dari semua aspek perilaku kehidupan Islam. Adam Smith, tokoh ekonomi
Barat dalam bukunya The Wealth of Nation, menyatakan bahwa ekonomi yang
paling maju adalah ekonomi bangsa Arab yang dipimpin oleh Muhammad bin
Abdullah dan orang-orang sesudahnya meskipun tidak dipungkiri terdapat
sejarah panjang sebelum kedatangan Islam Nabi Muhammad SAW. Betul,
pengaruh Romawi dan Yunani menjadi bukti sejarah nyata terhadap sejarah
ekonomi Islam, meskipun porsinya kecil. Akan tetapi, perjalanan Islam tidak akan
terlepaskan dari figur Muhammad SAW dan para penerusnya, yakni Al-Khulafa
Ar-Rasyidun, tabiin, dan para pemikir ekonomi, baik pada masa pemerintahan
Umayyah, Abbasiyah, dan Utsmaniyah. Dengan demikian, memahami peradaban
ekonomi Islam, pada dasarnya memahami sejarah. Yang paling pokok dari sejarah
adalah meluruskan sejarah secara tepat dan akurat.
B.Rumusan Masalah
Dalam makalah ini, penyusun memaparkan beberapa rumusan masalah,
sebagai berikut:
1. Bagaimana peristiwa Thaqifah Bani Saidah?
2. Bagaimana system pergantian Khalifah?
3. Bagaimana proses kepemimpinan dan kontribusi Khalifah?

BAB II
PEMBAHASAN

A. Thaqifah bani saidah


1. Peristiwa Saqifah Bani Saidah
Peristiwa saqifah bani saidah adalah peristiwa berkumpulnya
beberapa gelintir kaum Muslimin disebuah tempat bernama Saqifah Bani
Saidah untuk memusyawarahkan siapakah yang akan menjadi pemimpin
setelah Nabi Muhammad Saw wafat. Musyawarah ini terjadi antara orangorang Anshar dan Muhajirin dan memilih Abu Bakar bin Abi Qahafah sebagai
khalifah dan pengganti Nabi Muhammad Saw. Umat Muslim Syiah
mengecam kejadian ini dan dalam sebagian hal menilai kejadian ini sebagai
fitnah. Umat Muslim Syiah menganggap kejadian ini sebagai permulaan
perebutan hak kekhalifahan Imam Ali As dan kegagalan kaum Muslimin
dalam mengamalkan wasiat Nabi di Ghadir Ghum serta merupakan bentuk
penyimpangan dari ajaran Islam yang benar.
2. Lokasi Saqifah
Saqifah Bani Saidah merupakan teras milik suku Banu Saidah bin
Kab bin Khazraj. Saqifah Bani Saadah berada di dekat Masjid Nabawi dan
terkenal dalam sejarah. Letaknya berada di sebelah Barat Masjid Nabawi, di
samping sumur Badzaah. Saad bin Ubadah yang merupakan calon khalifah
dari suku Anshar tinggal di dekat Saqifah itu.
3. Berkumpulnya kaum Anshar di Saqifah Bani Saidah
Saad bin Ubadah, pemimpin kaum Khazraj walaupun ia dalam
keadaan sakit dan demam, hadir di antara kelompok kaum Anshar (Aus dan
Khazraj) di Saqifah Bani Saidah. Seorang juru bicara pihak Saad bin
Ubadah menyampaikan keutamaan kaum Anshar dan keunggulan mereka
dalam hal kekhalifahan atas kaum Muhajirin.
Jelaslah bahwa motivasi tindakan Saad bin Ubadah dan berkumpulnya
kaum Anshar di Saqifah, tanpa upaya-upaya pendahuluan dan berdasarkan
ambisi untuk menjadi pemimpin bagi mereka, atau karena adanya
informasi dan bukti-bukti dan tanda-tanda yang menyiratkan sebagian
perkiraan dan pendahuluan-pendahuluan para pemimpin kaum Muhajirin.
Nampaknya, hal yang lebih logis dari pernyataan dari kaum Anshar pada

waktu itu adalah reaksi terhadap tindakan kaum Muhajirin dan bukan
penentuan sikap politik mereka atas wasiat Nabi (misalnya tentang hadis
yaumu dar, hadis manzilah, ghadir khum dan lainnya). Boleh jadi karena
penolakan dari sebagian pembesar Muhajirin untuk memberikan kertas
dan tinta dengan cepat meskipun hal itu telah diperintahkan oleh Nabi
Saw,tidak membawakan kertas dan tinta untuk Nabi Saw, dirampasnya
hak-hak sosial kaum Anshar dan terjadinya peristiwa pahit dalam waktu
dekat merupakan faktor-faktor yang menyebabkan kaum Anshar
mengambil tindakan itu sehingga dengan harapan untuk mempertahankan
posisi dan kepentingan pribadi, mereka datang ke Saqifah.Namun dengan
tindakan gegabah ini, sejatinya mereka telah menyiapkan bentuk fitnah
dalam sejarah Islam dengan tangan mereka sendiri sehingga menurut
kesaksian sejarah, sumber dari banyak kerusuhan yang telah diisyaratkan
oleh Nabi Saw semenjak lama adalah tindakan mereka di Saqifah.
B. System pergantian Khalifah
Sosok Khulafaur Rasyidin atau Khalifah Ar-Rasyidin adalah empat orang
khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh umat Islam
sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Empat orang
tersebut adalah para sahabat dekat Muhammad yang tercatat paling dekat dan
paling dikenal dalam membela ajaran yang dibawanya di saat masa kerasulan
Muhammad.
Para Khulafaur Rasyidin itu adalah pemimpin yang arif dan bijaksana.
Mereka itu terdiri dari para sahabat Nabi Muhammad SAW yang berkualitas
tinggi dan baik adapun sifat-sifat yang dimiliki Khulafaur Rasyidin sebagai
berikut:
1. Arif dan bijaksana
2. Berilmu yang luas dan mendalam
3. Berani bertindak
4. Berkemauan yang keras
5. Berwibawa
6. Belas kasihan dan kasih saying
7. Berilmu agama yang amat luas serta melaksanakan hukum-hukum Islam.

Dalam sejarah Islam, empat orang pengganti Nabi yang pertama adalah
para

pemimpin

yang

adil

dan

benar.

Mereka

menyelamatkan

dan

mengembangkan dasar-dasar tradisi dari sang Guru Agung bagi kemajuan Islam
bagi kemajuan Islam dan umatnya. Karena itu gelar yang mendapat bimbingan
dijalan lurus (al-khulafa ar-rasyidin) diberikan pada mereka.
Keempat khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya,
melainkan berdasarkan konsensus bersama umat Islam. Sistem pemilihan
terhadap masing-masing khalifah tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi
karena para sahabat menganggap tidak ada rujukan yang jelas yang ditinggalkan
oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana suksesi kepemimpinan Islam akan
berlangsung. Namun penganut paham Syi'ah meyakini bahwa Muhammad dengan
jelas menunjuk Ali bin Abi Thalib, khalifah ke-4 bahwa Muhammad
menginginkan keturunannyalah yang akan meneruskan kepemimpinannya atas
umat Islam.
Sahabat yang disebut Khulafaur Rasyidin terdiri dari empat orang khalifah
yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi
Thalib.

C. Tipe Kepemimpinan dan kotribusi Khalifah


1. Masa Khalifah Abu Bakar As-Shidiq (1113 H /632634 M)
Abu Bakar, nama lengkapnya ialah Abdullah bin Abi Quhafah bin
Utsman bin Amr bin Masud bin Taim bin Murrah bin Kaab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr At-Taimi Al-Qurasyi. Di zaman pra-Islam bernama Abdul
Kabah, kemudian diganti oleh Nabi menjadi Abdullah. Ia termasuk salah
seorang sahabat yang utama (orang yang paling awal) masuk Islam. Gelar
Ash-Shiddiq diperolehnya karena ia dengan segera membenarkan Nabi dalam
berbagai peristiwa, terutama Isra dan Miraj.
Abu Bakar memangku jabatan khalifah selama dua tahun lebih sedikit,
yang dihabiskannya terutama untuk mengatasi berbagai masalah dalam negeri
yang muncul akibat wafatnya Nabi.

Sepak terjang pola pemerintahan Abu Bakar dapat dipahami dari


pidato Abu Bakar ketika ia diangkat menjadi khalifah. Secara lengkap, isi
pidatonya sebagai berikut:Wahai manusia! Sungguh aku telah memangku
jabatan yang kamu percayakan, padahal aku bukan orang yang terbaik di
antara kamu. Apabila aku melaksanakan tugasku dengan baik maka bantulah
aku, dan jika aku berbuat salah maka luruskanlah aku. Kebenaran adalah
suatu kepercayaan, dan kedustaan adalah suatu pengkhianatan. Orang yang
lemah di antara kamu adalah orang kuat bagiku sampai aku memenuhi hakhaknya, dan orang kuat di antara kamu adalah lemah bagiku hingga aku
mengambil haknya, Insya Allah. Janganlah salah seorang dari kamu
meninggalkan jihad. Sesungguhnya kaum yang tidak memenuhi panggilan
jihad maka Allah akan menimpakan atas mereka suatu kehinaan. Patuhlah
kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku tidak
menaati Allah dan Rasul-Nya, sekali-kali janganlah kamu menaatiku.
Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kamu.
Ucapan pertama ketika dibaiat ini menunjukkan garis besar politik
dan kebijaksanaan Abu Bakar r.a. dalam pemerintahan. Di dalamnya terdapat
prinsip kebebasan berpendapat, menuntut ketaatan rakyat, mewujudkan
keadilan dan mendorong masyarakat berjihad serta shalat sebagai intisari
ketakwaannya. Secara umum, dapat dikatakan bahwa pemerintahan Abu
Bakar melanjutkan kepemimpinan sebelumnya, baik kebijaksanaan dalam
kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama.
Dalam pemerintahannya Abu Bakar memiliki tipologi kebijakan yang
sangat baik diantaranya:
a. Kebijaksanaan pengurusan terhadap agama
Pada awal pemerintahannya, ia diuji dengan adanya ancaman yang
datang dari umat Islam yang menentang kepemimpinannya. Di antara
perbuatan ingkar tersebut ialah timbulnya orang-orang yang murtad,
orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, orang-orang yang
mengaku menjadi Nabi, dan pemberontakan dari beberapa kabilah.

Ketika Rasulullah SAW wafat, maka banyak orang Arab yang


kembali murtad. Seiring dengan itu, banyak pula utusan orang-orang Arab
berdatangan ke Madinah mengakui kewajiban sholat namun mengingkari
kewajiban zakat. Abu Bakar bersikap tegas kepada mereka, dan
merekapun ditumpasnya. Melihat hal ini, Umar pun berkata: Akhirnya
aku sadari bahwa Allah telah melapangkan hati Abu Bakar untuk
memerangi mereka dan aku yakin itulah yang benar.
Disamping banyak umat yang murtad dan menolak bayar zakat,
ada pula beberapa orang yang mengaku menjadi nabi, diantaranya yang
paling berpengaruh adalah Musailamah Al-Kadzab. Ia memiliki pengikut
mencapai 40.000 personil dari kalangan Bani Hanifah. Abu Bakar
mengirim pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid untuk menumpas
mereka. Dalam perang Yamamah yang hebat, Khalid bin Walid
memperoleh kemenangan yang besar.
Di samping itu, Jasa Abu Bakar yang abadi ialah atas usulan Umar,
ia berhasil membukukan al-Quran dalam satuan mushaf, sebab setelah
banyak penghafal al-Quran gugur dalam perang Riddah di Yamamah.
Oleh karena itu, khalifah menugaskan Zaid ibn Tsabit untuk membukukan
al-Quran dibantu oleh Ali ibn Abi Thalib. Naskah tersebut terkenal
dengan naskah Hafsah yang selanjutnya pada masa khalifah Usman
membukukan al-Quran berdasarkan mushaf itu, kemudian terkenal
dengan Mushaf Utsmani yang sampai sekarang masih murni menjadi
pegangan kaum muslim tanpa ada perubahan atau pemalsuan.
b. Kebijaksanaan politik kenegaraan
Di antara kebijakan politik Abu Bakar yang cukup menonjol
adalah melanjutkan ekspedisi pasukan Usamah. Sebelum Rasulullah SAW.
wafat, beliau telah memerintahkan sepasukan perang yang dipimpin oleh
seorang anak muda, Usamah, untuk berjalan menuju tanah Al-Balqa yang
berada di Syam, persisnya di tempat terbunuhnya Zaid bin Haritsah, Jafar

dan Ibnu Rawahah. Namun di tengah perjalanan terdengar berita wafatnya


Rosulullah SAW, sehingga pasukan tersebut kembali ke kota Madinah.
Begitu Abu Bakar menjadi kholifah, maka ekspedisi ini
dilanjutkan kembali. Semula banyak sahabat yang mengusulkan termasuk
Umar bin Khattab, agar ekspedisi ini ditunda mengingat banyaknya
persoalan di kota Madinah. Namun Abu Bakar tetap pada pendiriannya.
Ternyata berangkatnya pasukan Usamah membawa kemaslahatan besar
waktu itu. Disamping pulang dengan membawa kemenangan, juga
sekaligus telah menimbulkan kegentaran besar pada perkampungan Arab
yang dilewati sehingga tidak berani memberontak.
Setelah berhasil melakukan ekspedisi pasukan Usamah, Abu Bakar
meyakinkan kesungguhannya untuk menaklukkan negeri Iraq, pada
periode ini merupakan langkah awal menaklukkan wilayah-wilayah timur
pada masa khulafaur rasyidin berikutnya. Dan pada periode perdana ini
pasukan dipimpin oleh Panglima Perang Khalid bin Wahid.
Sedang diantara kebijaksanaan Abu Bakar dalam pemerintahan
atau kenegaraan, diuraikan oleh Suyuthi Pulungan, sebagai berikut:
1) Bidang eksekutif
Pendelegasian terhadap tugas-tugas pemerintahan di Madinah
ataupun daerah. Misalnya untuk pemerintahan pusat menunjuk Ali bin
Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan Zaid bin Tsabit sebagai sekretaris
dan Abu Ubaidah sebagai bendaharawan.
2) Bidang pertahanan dan keamanan
Dengan mengorganisasi pasukan-pasukan yang ada guna
mempertahankan eksistensi keagamaan dan pemerintahan. Dari
pasukan itu disebarkan untuk memelihara stabilisasi di dalam atau di
luar negeri. Di antara panglima yang ada ialah Khalid bin Walid,
Musanna bin Harisah, Amr bin Ash, Zaid bin Sufyan, dan lain-lain.
3) Bidang yudikatif
Fungsi kehakiman dilaksanakan oleh Umar bin Khattab dan
selama masa pemerintahan Abu Bakar tidak ditemukan suatu

permasalahan yang berarti untuk dipecahkan. Hal ini didorong atas


kemampuan dan sifat Umar, dan masyarakat pada waktu itu dikenal
alim.
4) Kebijaksanaan Bidang Sosial Ekonomi
Faktor keberhasilan Abu Bakar dalam membangun pranata
sosial di bidang ekonomi tidak lepas dari faktor politik dan pertahanan
keamanan, Keberhasilan tersebut tidak pula lepas dari sikap
keterbukaannya, yaitu memberikan hak dan kesempatan yang sama
kepada tokoh-tokoh sahabat untuk ikut membicarakan berbagai
masalah sebelum ia mengambil keputusan melalui forum musyawarah
sebagai lembaga legislatif. Hal ini mendorong para tokoh sahabat
khususnya dan umat Islam umumnya, berpartisipasi aktif untuk
melaksanakan berbagai keputusan yang dibuat.
Dalam usaha meningkatkan kesejahteraan umat Islam,
Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq melaksanakan berbagai kebijakan
ekonomi seperti yang telah dipraktikkan Rasulullah SAW. Ia sangat
memerhatikan keakuratan penghitungan zakat sehingga tidak terjadi
kelebihan atau kekurangan pembayarannya. Abu Bakar pernah berkata
kepada Anas, Jika seseorang mempunyai kewajiban untuk membayar
zakat berupa seekor unta betina berumur 1 tahun, tetapi dia tidak
mempunyainya lalu menawarkan seekor unta betina berumur 2 tahun,
hal seperti itu dapat diterima dan petugas zakat akan mengembalikan
kepada orang tersebut sebanyak 20 dirham atau 2 ekor domba sebagai
kelebihan dari pembayaran zakatnya. Hasil pengumpulan zakat
tersebut dijadikan sebagai pendapatan negara dan disimpan dalam
Baitul Mal untuk langsung didistribusikan seluruhnya kepada kaum
muslim hingga tidak ada yang tersisa. Selain dari dana zakat, di dalam
Baitul Mal dikelola harta benda yang didapat dari infak, sedekah,
ghanimah dan lain-lain. Penggunaan harta tersebut digunakan untuk

gaji pegawai negara dan untuk kesejahteraan umat sesuai dengan


aturan yang ada.
Dalam kegiatan ekonominya, setiap hari mereka disibukkan
sengan persoalan air dan rumput. Pada hari ke-dua Setelah
pengangkatannya sebagai khafilah, Abu Bakar membawa bahan-bahan
pakaian dagangan di atas pundaknya dan pergi untuk menjualnya.
Salah satu aspek penting perekonomian arab pra-islam adalah
pertanian. Perdagangan adalah unsur penting dalam perekonomian
arab. Komoditas exspor arab selatan dan yaman adalah dupa,
kemenyan, kopi, gaharo, minyak wangi, kulit binatang, buah kismis,
anggur dan lainnya. lomoditas yang mereka impor dari dari afrika
timur antara lain: kayu untuk bangunan, bulu burung unta, lantakan
logam mulia dan badak. dari asia selatan dan cina berupa daging, batu
mulia, sutra, pakaian, pedang, rempah-rempah. sedangkan dari negara
teluk Persia mereka mengimpor intan.
2. Masa Khalifah Umar bin Khatab (13-23 H/634 - 644 M)
Umar bin Khattab adalah khalifah ke-2 dalam sejarah Islam.
pengangkatan umar bukan berdasarkan konsensus tetapi berdasarkan surat
wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Hal ini tidak menimbulkan
pertentangan berarti di kalangan umat islam saat itu karena umat Muslim
sangat mengenal Umar sebagai orang yang paling dekat dan paling setia
membela ajaran Islam. Hanya segelintir kaum, yang kelak menjadi golongan
Syi'ah, yang tetap berpendapat bahwa seharusnya Ali yang menjadi khalifah.
Umar memerintah selama sepuluh tahun dari tahun 634 hingga 644.
Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia
bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar
bin Khatthab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah
kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam.
Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera
secara beramai-ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah

Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir


al-Mu'minin (petinggi orang-orang yang beriman).
Peranan Umar dalam sejarah Islam pada masa permulaan tampak
a.

paling menonjol diantaranya yaitu:


Penyebaran Agama
Khalifah Umar memiliki peranan yang sangat menonjol salah satunya
karena perluasan wilayahnya, di samping kebijakan-kebijakan politiknya
yang lain. Adanya penaklukan besar-besaran pada masa pemerintahan
Umar merupakan fakta yang diakui kebenarannya oleh para sejarawan.
Bahkan, ada yang mengatakan, kalau tidak karena penaklukan-penaklukan
yang dilakukan pada masa Umar, Islam belum akan tersebar seperti
sekarang.
Sebagaimana Rasulullah SAW dan Abu Bakar, Khalifah Umar juga
sangat condong menanamkan semangat demokrasi secara intensif di
kalangan rakyat, para pemuka masyarakat, dan para pejabat atau para
administrator pemerintahan. Ia selalu mengadakan musyawarah dengan
rakyat untuk memecahkan masalah-masalah umum dan kenegaraan yang
dihadapi. Ia tidak bertindak sewenang-wenang dan memutukan suatu
urusan tanpa mengikutsertakan warga negara, baik warga negara muslim
maupun warga negara non-muslim.
Di zaman Umar gelombang ekspansi (perluasan daerah kekuasaan)
pertama terjadi di ibu kota Syria, Damaskus, jatuh tahun 635 M dan
setahun kemudian, setelah tentara Bizantium kalah di pertempuran
Yarmuk, seluruh daerah Syria jatuh ke bawah kekuasaan Islam. Dengan
memakai Syria sebagai basis, ekspansi diteruskan ke Mesir di bawah
pimpinan 'Amr bin 'Ash dan ke Irak di bawah pimpinan Sa'ad bin Abi
Waqqash. Iskandariah (Alexandria), ibu kota Mesir, ditaklukkan tahun 641
M. Dengan demikian, Mesir jatuh ke bawah kekuasaan Islam.
Al-Qadisiyah, sebuah kota dekat Hirah di Iraq, jatuh pada tahun 637
M. Dari sana serangan dilanjutkan ke ibu kota Persia, al-Madain yang
jatuh pada tahun itu juga. Pada tahun 641 M, Moshul dapat dikuasai.

Dengan demikian, pada masa kepemimpinan Umar R.a., wilayah


kekuasaan Islam sudah meliputi Jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian
b.

besar wilayah Persia, dan Mesir.


Segi Politik
Karena perluasan daerah terjadi dengan cepat, Umar segera mengatur
administrasi negara dengan mencontoh administrasi yang sudah
berkembang terutama di Persia. Administrasi pemerintahan diatur menjadi
delapan wilayah propinsi: Makkah, Madinah, Syria, Jazirah Basrah,
Kufah, Palestina, dan Mesir. Beberapa departemen yang dipandang perlu
didirikan. Pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran
gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan
lembaga yudikatif dengan lembaga eksekutif. Untuk menjaga keamanan
dan ketertiban, akademi kemiliteran dibentuk. Umar bin Khattab adalah
khalifah yang pertama kali membentuk tentara resmi. Demikian pula
jawatan pekerjaan umum. Umar juga mendirikan Bait al-Mal, menempa
mata uang, membuat tahun hijriah, membuat undang-undang perpajakan,
membuat sekretariat, menentukan gaji tetap, menempatkan para godhi,
membagi-bagi wilayah yang ditaklukkan menjadi beberapa gubernuran
(propinsi) dan ada majlis syura.
Peradaban yang paling signifikan pada masa Umar, selain pola
administratif pemerintahan, peperangan, dan sebagainya adalah pedoman
dalam peradilan. Pemikiran khalifah Umar bin Khattab khususnya dalam
peradilan yang masih berlaku sampai sekarang adalah sebagai berikut:
Naskah Asas-asas Hukum Acara
Dari Umar Amirul Muminin kepada Abdullah bin Qais, mudahmudahan Allah melimpahkan kesejahteraan dan rahmat-Nya kepada engkau:
a) Kedudukan lembaga peradilan
Kedudukan lembaga peradilan di tengah-tengah masyarakat suatu negara
hukumnya wajib (sangat urgen) dan sunnah yang harus diikuti/dipatuhi.
b) Memahami kasus persoalan, baru memutuskannya

Pahami persoalan suatu kasus gugatan yang diajukan kepada anda, dan
ambillah keputusan setelah jelas persoalan mana yang benar dan mana
yang salah. Karena sesungguhnya, suatu kebenaran yang tidak
memperoleh perhatian hakim akan menjadi sia-sia.
c) Samakan pandangan anda kepada kedua belah pihak dan berlakulah adil.
Dudukkan kedua belah pihak di majelis secara sama, pandang mereka
dengan pandangan yang sama, agar orang terhormat tidak melecehkan
anda, dan orang yang lemah tidak merasa teraniaya.
d) Kewajiban pembuktian
Penggugat wajib membuktikan gugatannya, dan
membuktikan bantahannya.
e) Lembaga damai
Penyelesaian perkara secara

damai

dibenarkan,

tergugat

wajib

sepanjang

tidak

menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal.


f) Penundaan persidangan
Barang siapa menyatakan ada suatu hal yang tidak ada ditempatnya atau
suatu keterangan, berilah tempo kepadanya untuk dilaluinya. Kemudian,
jika dia memberi keterangan, hendaklah anda memberikan kepadanya
haknya. Jika dia tidak mampu memberikan yang demikian, anda dapat
memutuskan perkara yang merugikan haknya, karena yang deikian itu
lebih mantap bagi keudzurannya (tak ada jalan baginya untuk mengatakan
ini dan itu lagi), dan lebih menampakkan apa yang tersembunyi.
g) Kebenaran dan keadilan adalah masalah universal
Janganlah anda dihalangi oleh suatu putusan yang telah anda putuskan
pada hari ini, kemudian anda tinjau kembali putusan itu lalu anda ditunjuk
pada kebenaran untuk kembali pada kebenaran, karena kebenaran itu suatu
hal yang qadim yang tidak dapat dibatalkan oleh sesuatu. Kembali pada
yang hak, lebih baik dari pada terus bergelimang dalam kebatilan.
h) Kewajiban menggali hukum yang hidup dan melakukan penalaran logis
Pergunakanlah kekuatan logis pada suatu kasus perkara yang diajukan
kepada anda dengan menggali dan memahami hukum yang hidup, apabila
hukum suatu perkara kurang jelas dalam Al-Quran dan sunnah.
Kemudian bandingkanlah permasalahan tersebut satu sama lain dan

ketahuilah (kenalilah) hukum yang serupa, kemudian ambillah mana yang


lebih mirip dengan kebenaran.
i) Orang Islam haruslah berlaku adil
Orang Islam dengan orang Islam lainnya haruslah adil, terkecuali orang
yang sudah pernah dijatuhi hukuman had atas orang yang diragukan
tentang asal usulnya, karena sesungguhnya Allah yang mengendalikan
rahasia hamba dan menutup hukuman atas mereka, terkecuali dengan ada
keterangan dan sumpah.
j) Larangan bersidang ketika sedang emosional
Jauhilah diri anda dari marah, pikiran kacau, perasaan tidak senang, dan
berlaku kasar terhadap para pihak. Karena kebenaran itu hanya berada di
c.

dalam jiwa yang tenang dan niat yang bersih.


Segi Ekonomi
Dalam pemerintahannya, khalifah Umar bin Khattab memiliki gebrakan yang
yang sangat besar diantaranya yaitu:
a) Pembaruan Baitul Mal
Sama seperti Abu Bakar dan seiring dengan semakin meluasnya wilayah
kekuasaan Islam pada masa pemerintahan Umar bin Khattab serta
pendapatan negara mengalami peningkatan yang sangat signifikan maka
diberdayakan kembali Baitul Mal. Harta Baitul Mal dianggap sebagai
harta kaum muslim, sedangkan khalifah dan para amil hanya berperan
sebagai pemegang amanah. Khalifah Umar bin Khattab juga membuat
ketentuan bahwa pihak eksekutif tidak boleh turut campur dalam
mengelola harta Baitul Mal.
b) Status Kepemilikan Tanah
Dalam hal status kepemilikan tanah, Khalifah Umar menerapkan beberapa
peraturan sebagai berikut:
Wilayah Irak yang ditaklukkan dengan kekuatan menjadi milik muslim
dan kepemilikan ini tidak dapat diganggu gugat, sedangkan bagian
wilayah yang berada di bawah perjanjian damai tetap dimiliki oleh
pemilik sebelumnya dan kepemilikan tersebut dapat dialihkan.

Kharaj dibebankan pada semua tanah yang berada di bawah kategori


pertama, meskipun pemilik tanah tersebut memeluk agama Islam.
Dengan demikian, tanah seperti itu tidak dapat dikonversi menjadi

tanah ushr.
Bekas pemilik tanah diberi hak kepemilikan selama mereka membayar

kharaj dan jizyah.


Tanah yang tidak ditempati atau ditanami (tanah mati) atau tanah yang
diklaim kembali (seperti Bashrah) bila diolah oleh kaum muslim

diperlakukan sebagai tanah ushr.


Di Sawad, kharaj dibebankan sebesar satu dirham dan satu rafiz (satu
ukuran lokal) gandum dan barley (sejenis gandum) dengan asumsi
tanah tersebut dapat dilalui air. Harga yang lebih tinggi dikenakan

pada ratbah (rempah atau cengkeh) dan perkebunan.


Di Mesir, berdasarkan perjanjian Amar, setiap pemilik tanah
dibebankan pajak sebesar dua dinar, di samping tiga irdabb gandum,
dua qist untuk setiap minyak, cuka, dan madu, dan rancangan ini telah

disetujui khalifah.
Perjanjian Damaskus (Syiria) berisi pembayaran tunai, pembagian
tanah dengan kaum muslim, beban pajak untuk setiap orang sebesar
satu dinar dan satu beban jarib (unit berat) yang diproduksi per jarib

(ukuran) tanah.
c) Manajemen Zakat
Pada masa Rasulullah SAW, jumlah kuda di Arab masih sangat sedikit,
terutama kuda yang dimiliki oleh kaum muslim karena digunakan untuk
kebutuhan pribadi dan jihad. Pada Perang Badar, pasukan kaum muslim
yang berjumlah 313 orang hanya memiliki dua kuda. Pada saat
pengepungan suku bani Quraizhah (5H), pasukan kaum muslim memiliki
36 kuda. Pada tahun yang sama, di Hudaibiyah, mereka mempunyai
sekitar dua ratus kuda. Karena zakat dibebankan terhadap barang-barang

yang memiliki produktivitas, seorang budak atau seekor kuda yang


dimiliki kaum muslim ketika itu tidak dikenakan zakat.
Pada periode selanjutnya, kegiatan beternak dan memperdagangkan kuda
dilakukan secara besar-besaran di Syiria dan di berbagai wilayah
kekuasaan Islam lainnya. Beberapa kuda mempunyai nilai jual yang
tinggi, bahkan pernah diriwayatkan bahwa seekor kuda Arab Taghlabi
diperkirakan bernilai 20.000 dirham dan orang-orang Islam terlibat dalam
perdagangan

ini.

Karena

maraknya

perdagangan

kuda,

mereka

menanyakan kepada Abu Ubaidah, Gubernur Syiria ketika itu, tentang


kewajiban membayar zakat kuda dan budak. Gubernur memberitahukan
bahwa tidak ada zakat atas keduanya. Kemudian, mereka mengusulkan
kepada khalifah agar ditetapkan kewajiban zakat atas keduanya, tetapi
permintaan tersebut ditolak. Kemudian, mereka mendatangi kembali Abu
Ubaidah dan bersikeras untuk membayar zakat kuda dan budak. Akhirnya,
Gubernur

menulis

surat

kepada

khalifah

dan

khalifah

Umar

menanggapinya dengan sebuah instruksi agar Gubernur menarik zakat dari


mereka dan mendistribusikannya kepada para fakir miskin serta budak.
Sejak itu, zakat kuda ditetapkan sebesar satu dinar atau atas dasar ad
valorem, seperti satu dirham untuk setiap empat puluh dirham.
Diantara beberapa barang, Abu Bakar membebani zakat terhadap war,
sejenis rumput herbal yang digunakan untuk membuat bedak dan parfum.
Sementara itu, Umar mengenakan hums zakat atas karet yang ditemukan
di Semenanjung Yaman, antara Aden dan Mukha, dan hasil laut karena
barang-barang tersebut dianggap sebagai hadiah dari Allah. Thaif dikenal
sebagai tempat peternakan lebah dan, menurut beberapa riwayat, Bilal
datang kepada Nabi dengan ushr atas madunya dan memintanya agar
Lembah Salba dicadangkan untuknya. Permintaannya ini diterima oleh
Nabi.
Pada masa Umar, Gubernur Thaif melaporkan bahwa pemilik sarang lebah
tidak membayar ushr, tetapi menginginkan sarang-sarang lebah tersebut

dilindungi secara resmi. Umar mengatakan bahwa bila mereka mau


membayar ushr, sarang lebah mereka akan dilindungi. Jika menolak,
mereka tidak akan memperoleh perlindungan. Menurut riwayat Abu
Ubaid, Umar membedakan madu yang diperoleh dari pegunungan dengan
madu yang diperoleh dari ladang. Zakat yang ditetapkan adalah seperdua
puluh untuk madu yang pertama dan sepersepuluh untuk madu jenis
kedua.
d) Penetapan Ushr
Ushr dibebankan pada suatu barang hanya sekali dalam setahun. Seorang
Taghlibi datang ke wilayah Islam untuk menjual kudanya. Setelah
dilakukan penaksiran oleh Zaid, seorang asyir, kuda tersebut bernilai
20.000 dirham. Oleh karena itu, Zaid memintanya untuk membayar 1000
dirham (5%) sebagai ushr. Jumlah tersebut dibayarkan, tetapi kuda
tersebut tidak terjual sehingga ia mengambil kembali kudanya. Setelah
beberapa waktu, ia datang kembali dengan kudanya dan pemungut pajak
kembali meminta ushr kepadanya. Orang tersebut menolak membayar apa
pun dan mengadukan masalahnya kepada Umar. Setelah mendengarkan
kasusnya, Umar menginstruksikan para pegawainya agar tidak menarik
ushr dua kali dalam setahun walaupun barang tersebut diperbarui.
Pos pengumpulan ushr terletak di berbagai tempat yang berbeda-beda,
termasuk di ibukota. Menurut Saib bin Yazid, pengumpul ushr di pasarpasar Madinah, orang-orang Nabaetean yang berdagang di Madinah juga
dikenakan pajak pada tingkat yang umum, tetapi setelah beberapa waktu,
Umar menurunkan persentasenya menjadi 5% untuk minyak dan gandum
untuk mendorong impor barang-barang tersebut di kota.
e) Pemberdayaan Sedekah dari Nonmuslim
Tidak ada Ahli Kitab yang membayar shadaqah atas ternaknya kecuali
orang kristen Banu Taghlibi yang keseluruhan kekayaannya terdiri dari
ternak. Mereka membayar dua kali lipat dari yang dibayar orang Muslim.
Banu Taghlibi adalah suku Arab Kristen yang menderita akibat

peperangan. Umar mengenakan jizyah kepada mereka, tetapi mereka


terlalu gengsi sehingga menolak membayar jizyah dan malah membayar
shadaqah. Umarpun memanggil mereka dan mengadakan shadaqah yang
harus mereka bayar, dengan syarat mereka setuju untuk tidak membaptis
seorang anak atau memaksa untuk menerima kepercayaan mereka.
Merekapun menyetujui dan menerima membayar shadaqah ganda.
f) Sumber dan Distribusi Pendapatan Negara
Pada masa pemerintahannya, Khalifah Umar ibn Al-Khaththab
mengklasifikasi pendapatan negara menjadi empat bagian.
Pendapatan zakat dan ushr. Pendapatan ini didistribusikan di tingkat
lokal dan jika terdapat surplus, sisa pendapatan tersebut disimpan di
Baitul mal pusat dan dibagikan kepada delapan ashnaf, seperti yang

telah ditentukan dalam Al-Quran.


Pendapatan khums dan sedekah. Pendapatan ini didistribusikan kepada
para fakir miskin atau untuk membiayai kesejahteraan mereka tanpa

membedakan apakah ia seorang muslim atau bukan.


Pendapatan kharaj, fai, jizyah, ushr (pajak perdagangan), dan sewa
tanah. Pendapatan ini digunakan untuk membayar dana pensiun dan
dana bantuan serta untuk menutupi biaya operasional administrasi,

kebutuhan militer, dan sebagainya.


Pendapatan lain-lain. Pendapatan ini digunakan untuk membayar para

pekerja, pemeliharaan anak-anak terlantar, dan dana sosial lainnya.


Sumber pendapatan negara tersebut, selanjutnya didistribusikan
melalui harta Baitul mal untuk dana pensiun, dana pertahanan negara,

dan dana pembangunan.


g) Segi Reformasi dalam Budaya
Umar bin Khattab adalah khalifah yang pertama kali digelari Amirul
Mukminin, yang menetapkan penanggalan hijriyah mengumpulkan
manusia untuk sholat taraweh berjamaah, mendera peminum khomer 80x
cambukan, dan berkeliling di malam hari menghontrol rakyatnya di
Madinah. Khalifah bin Umar bin Khattab menetapkan perhitungan tahun

baru, yaitu tahun hijriayah yang dimulai dari hijrahnya Rasulullah SAW
dari Makkah ke Madinah (16 Juli 622 M). Saat itulah dimulainya tahun
hijriayah yang pertama.
Disamping itu, Khalifah Umar menetapkan lambang bulan sabit sebagai
lambang negara. Hal ini diilhami oleh bendera pasukan khusus Rasulullah
SAW yang menggambarkan bulan sabit. Karya-karya besar Khalifah
Umar yang lain adalah membangun dan merenovasi masjid-masjid, seperti
masjid haram (Mekah), masjid Nabwi ( Madinah ), Masjidil Aqsa dan
masjid Umar (Yerussalem ), dan masjid Amru bin ash (Fusthtf-Mesir).
Memperluas wilayah-wilayah islam seperti, Romawi (13 H=634 M),
Damaskus (14H=635 M), Baitul MakdisSyiriah (18 H=639 M), Mesir
(19 H = 640M), Babilon (20 H 641 M), NahawanPersia (21 H=642 M),
dan Iskandariah (22 H=643 M).
3. Masa Khalifah Utsman bin Affan (23-35 H/644-656 M)
Utsman bin Affan dilahirkan pada tahun 573 M pada sebuah keluarga
dari suku Quraisy bani Umayah. Nenek moyangnya bersatu dengan nasab
Nabi Muhammad pada generasi ke-5. Sebelum masuk islam ia dipanggil
degan sebutan Abu Amr. Ia begelar Dzunnurain, karena menikahi dua putri
nabi (menjadi khalifah 644-655 M) adalah khalifah ke-3 dalam sejarah Islam.
Umar bin Khattab tidak dapat memutuskan bagaimana cara terbaik
menentukan khalifah penggantinya. Segera setelah peristiwa penikaman
dirinya oleh Fairuz, seorang majusi Persia, Umar mempertimbangkan untuk
tidak memilih pengganti sebagaimana dilakukan rasulullah. Namun Umar
juga berpikir untuk meninggalkan Utsman bin Affan wasiat seperti dilakukan
Abu Bakar. Sebagai jalan keluar, sebelum khalifah Umar wafat, beliau sempat
berwasiat dan menunjuk tim yang terdiri dari 6 orang sahabat terkemuka,
sekaligus telah dijamin Nabi masuk surga, sebagai calon ganti kekhalifaannya.
Ke-6 orang tersebut adalah Usman bin Affan, Ali bin Abi Tholib,
Abdurrahman bin Auf, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam dan Saad
bin Abi Waqash.

Kepada tim, Umar menganjurkan agar putranya, Abdullah bin Umar


ikut sebagai peserta musyawarah dan tidak boleh dipilih menjadi khalifah.
Awalnya hasil musyawarah yang diketuai oleh Abdurrahman bin Auf
menunjukkan bahwa suara pada posisi seimbang, antara Ali dan Usman.
Karena Usman lebih tua, Abdurrahman menetapkan Usman bin Affan sebagai
khalifah.
Ketetapan

itu

disetujui

oleh

anggota

tim

dengan

berbagai

pertimbangan yang matang. Disamping Usman sebagai salah seorang sahabat


yang terdekat dengan Nabi, beliau juga seorang Assabiqunal Awwalun yang
terkenal kaya dan dermawan, jiwa dan hartanya dikorbankan demi kejayaan
Islam. Utsman bin Affan dibaiat sebagai khalifah pada tahun 23 H/644 M.
Dalam pemerintahannya, ada beberapa hal menarik dari
kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan, diantaranya yaitu:
a) Segi Agama, Pengetahuan dan Budaya
Di masa pemerintahan Utsman, Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes,
dan bagian yang tersisa dari Persia, Transoxania, dan Tabaristan berhasil
direbut. Utsman ibn Affan adalah khalifah pertama yang memperluas
masjid nabi di Madinah dan masjid Al-Haram di Mekkah. Utsman juga
khalifah pertama yang menentukan adzan awal menjelang salat jumat.
Pekerjaan berat yang dilakukan oleh Utsman adalah kodifikasi AlQuran, lanjutan kerja yang telah diawali oleh Abu Bakar atas inisiatif
Umar. Pengumpulan Al-Quran yang dilakukan pada zaman Abu Bakar di
latar belakangi oleh peristiwa meninggalnya 70 sahabat yang hafal AlQuran dalam perang Yamamah. Sedangkan latar belakang pembukuan AlQuran pada zaman Utsman adalah perbedaan qiraat (bacaan) Al-Quran
yang menimbulkan percekcokan antara murid dan gurunya.
Pada saat penyalinan Al-Quran yang kedua kalinya, panitia (lajnah)
penyusunan Mushaf yang di bentuk oleh Utsman melakukan pengecekan
ulang dengan meneliti kembali mushaf yang sudah di simpan di rumah
Hafsash, dengan membandingkan dengan mushaf-mushaf yang lain.
b) Segi Politik

Ada beberapa kebijakan politik Utsman yang cukup menonjol, antara


lain:
Melanjutkan Ekspansi Wilayah Islam
Pada masa pemerintahannya, berkat jasa para panglima yang ahli dan
berkualitas, di mana peta Islam sangat luas dan bendera Islam berkibar
dari perbatasan Aljazair (Barqah dan Tripoli, Syprus di front alMaghrib bahkan ada sumber menyatakan sampai ke Tunisia) di alMaghrib, di Utara sampai ke Aleppo dan sebagian Asia Kecil, di
Timur Laut sampai ke Ma Wara al-Nahar Transoxiana dan di
Timur seluruh Persia, bahkan sampai di perbatasan Balucistan
(wilayah Pakistan sekarang), serta Kabul dan Ghazni.

Membentuk Armada Laut yang Kuat


Pada masa pemerintahannya, Utsman berhasil membentuk armada laut
dengan kapalnya yang kokoh sehingga berhasil menghalau seranganserangan di Laut Tengah yang dilancarkan oleh tentara Bizantium

dengan kemenangan pertama kali di laut dalam sejarah Islam.


Menggiatkan Pembangunan
Utsman berjasa membangun banyak bendungan untuk menjaga arus
banjir yang besar dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Beliau
juga membangun jalan-jalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan
memperluas masjid Nabi di Madinah.
Pemerintahan Utsman berlangsung selama 12 tahun, pada paruh
terakhir masa kekhalifahannya muncul perasaan tidak puas dan
kecewa di kalangan umat Islam terhadapnya. Kepemimpinan Utsman
memang sangat berbeda dengan kepemimpinan Umar. Ini karena
fitnah dan hasutan dari Abdullah bin Saba Al-Yamani salah seorang
yahudi yang berpura-pura masuk islam. Ibnu Saba ini gemar
berpindah-pindah dari suatu tempat ke tempat lainnya untuk
menyebarkan fitnah kepada kaum muslimin yang baru masa

keislamannya. Akhirnya pada tahun 35 H/1655 M, Utsman dibunuh


oleh kaum pemberontak yang terdiri dari orang-orang yang berhasil
dihasut oleh Abdullah bin Saba.
Salah satu faktor yang menyebabkan banyak rakyat berburuk sangka
terhadap kepemimpinan Utsman adalah kebijaksanaannya mengangkat
keluarga dalam kedudukan tinggi. Yang terpenting di antaranya adalah
Marwan ibn Hakam rahimahullah. Dialah pada dasarnya yang
dianggap oleh orang-orang tersebut yang menjalankan pemerintahan,
sedangkan Utsman hanya menyandang gelar khalifah. Setelah banyak
anggota keluarganya yang duduk dalam jabatan-jabatan penting,
Utsman laksana boneka di hadapan kerabatnya itu. Dia tidak dapat
berbuat banyak dan terlalu lemah terhadap keluarganya. Dia juga tidak
tegas terhadap kesalahan bawahan.
Harta kekayaan negara, oleh kerabatnya dibagi-bagikan tanpa
terkontrol oleh Utsman sendiri. Itu semua akibat fitnah yang
ditebarkan oleh Abdullah bin Saba, meskipun Utsman tercatat paling
berjasa membangun bendungan untuk menjaga arus banjir yang besar
dan mengatur pembagian air ke kota-kota. Dia juga membangun jalanjalan, jembatan-jembatan, masjid-masjid dan memperluas masjid Nabi
di Madinah.
4. Masa Khalifah Ali bin Abi Thalib
Para pemberontak terus

mengepung

rumah

Utsman.

Ali

memerintahkan ketiga puteranya, Hasan, Husain dan Muhammad bin Ali alHanafiyah mengawal Utsman dan mencegah para pemberontak memasuki
rumah. Namun kekuatan yang sangat besar dari pemberontak akhirnya
berhasil menerobos masuk dan membunuh Khalifah Utsman.
Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali bin
Abi Thalib sebagai khalifah. Ali bin Abi thalib lahir pada tahun 603 M
disamping Kabah kota Makkah, lebih muda 32 tahun dari Nabi Muhammad
SAW. Ali termasuk keturunan Bani Hasyim. Abu Thalib memberi nama Ali

dengan Haidarah, mengenang kakeknya yang bernama Asad. Haidarah dan


Asad dalam Bahasa Arab artinya singa. Sedangkan Nabi Muhammad memberi
nama Ali yang menakutkan musuh-musuhnya. Pada usia 6 tahun, Ali bin
Abi Thalib diasuh oleh Nabi Muhammad sebagaimana Nabi diasuh oleh
ayahnya, Abu Thalib. Karena mendapat didikan dan asuhan langsung dari
Nabi Muhammad SAW, maka Ali tumbuh sebagai anak yang berbudi luhur,
cerdik, pemberani, pintar dalam berbicara dan berpengetahuan luas.
Banyak hal yang terjadi selama pemerintahan yang dipimpin khalifah
Ali bin Abi Thalib, diantaranya yaitu:
a) Segi Politik
Dalam periode khalifah Abu Bakar dan Umar, kehidupan masyarakat
masih dalam taraf kesederhanaan seperti periode Nabi Muhammad SAW.
Rakyat masih bersatu padu dan kokoh dibawah ikatan tali persaudaraan
Islam. Mereka selalu kompak dalam semangat jihad yang ikhlas demi
kelulusan agama Islam. Keadaan ini mulai berubah sejak periode Khalifah
Usman bin Affan. Mereka mulai terpengaruh oleh hal-hal yang bersifat
duniawi, apalagi saat gubernur yang diangkat Khalifah Utsman banyak
yang tidak mampu memimpin umat dan tidak disenangi masyarakat. Oleh
karena itu Khalifah Ali bin Abi Tholib menanggung beban yang berat
dalam memimpin kaum muslimin dengan wilayah kekuasaan yang
semakin meluas.
Kebijakan-kebijakan Khalifah Ali dalam menanggulangi hal-hal
tersebut adalah:
Tanah-tanah atu pemberian-pemberian yang dilakukan Khalifah
Usman bin Affan kepada famili, sanak kerabatnya dan kepada siapa
saja yang tanpa alasan yang benar atu tidak syah, ditarik kembali dan
menjadi milik Baitul Mal sebagai kekayaan negara. Hal ini dilakukan

Khalifah untuk membersihkan pemerintahan.


Wali/Amir atau gubernur-gubernur penguasa wilayah yang diangkat
Khalifah Utsman diganti dengan orang-orang baru.
1. Kuwait, Abu Musa Al Asyari diganti Ammarah bin Syahab.

2. Mesir, Abdullah bin Saad diganti Khais bin Tsabit.


3. Basyrah, Abdullah bin Amr diganti Usnab bin Hany Al Anshori.
Syam (Syiria), Muawwiyah bin Abi Sofyan diganti Shal bin Hanif.
Hal ini dilakukan Khalifah Ali, karena mereka banyak yang tidak
disenangi oleh kaum muslimin, bahkan banyak yang menganggap
bahwa mereka itulah yang menyebabkan timbulnya pemberontakan-

pemberontakan pada masa Khalifah Utsman.


b) Segi Pengetahuan
Sebagai upaya untuk mencerdaskan umat, Khalifah Ali meningkatkan
dalm Ilmu pengetahuan, khususnya ilmu yang berkaitan dengan Bahasa
Arab agar umat Islam mudah dalam mempelajari Al-Quran dan Hadits.
c) Segi Agama
Dari segi agama, khalifah Ali bin Abi Thalib berusaha untuk
mengembalikan persatuan dan kesatuan umat Islam. Akan tetapi usahanya
ini kurang berhasil, karena api fitnah dikobarkan kaum munafik Yahudi
yang tidak menyukai Islam. Mengatur tata pemerintahan untuk
mengembalikan kepentingan umat, seperti memberikan kepada kaum
muslimin tunjangan yang diambil dari Baitul Mal sebagaimana yang telah
dilakukan Abu Bakar dan Umar.
d) Segi Peristiwa
Ali ibn Abi Thalib menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair dan
Aisyah. Alasan mereka, Ali tidak mau menghukum para pembunuh
Utsman, dan mereka menuntut bela terhadap darah Utsman yang telah
ditumpahkan secara zhalim. Ali sebenarnya ingin sekali menghindari
perang. Dia mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar keduanya
mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun
ajakan tersebut ditolak. Akhirnya, pertempuran yang dahsyat pun
berkobar. Perang ini dikenal dengan nama Perang Jamal (Unta), karena
Aisyah dalam pertempuran itu menunggang unta, dan berhasil
mengalahkan lawannya. Zubair dan Thalhah terbunuh, sedangkan Aisyah
ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

Bersamaan

dengan

itu,

kebijaksanaan-kebijaksanaan

Ali

juga

mengakibatkan timbulnya perlawanan dari para gubernur di Damaskus,


Muawiyah, yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang
merasa

kehilangan

kedudukan

dan

kejayaan.

Setelah

berhasil

memadamkan pemberontakan Zubair, Thalhah dan Aisyah, Ali bergerak


dari Kuffah menuju Damaskus dengan sejumlah besar tentara. Pasukannya
bertemu dengan pasukan Muawiyah di Shifin. Pertempuran terjadi di sini
yang dikenal dengan nama Perang Shifin. Perang ini diakhiri dengan
tahkim (arbitrase), tapi tahkim ternyata tidak menyelesaikan masalah,
bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga, kaum Khawarij orangorang yang keluar dari barisan Ali.
Akibatnya, di ujung masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib umat Islam
terpecah menjadi tiga kekuatan politik, yaitu Muawiyah, Syiah
(golongan yang tetap setia mendukung Ali sebagai Khalifah) yang
menyusup pada barisan tentara Ali, dan al-Khawarij (orang-orang yang
keluar dari barisan Ali). Keadaan ini tidak menguntungkan Ali.
Munculnya kelompok Khawarij menyebabkan tentaranya semakin lemah,
sementara posisi Muawiyah semakin kuat. Pada tanggal 20 ramadhan 40
H (660 M), Ali terbunuh oleh salah seorang anggota Khawarij yaitu
Abdullah bin Muljam. Pembalasan kematian Utsman menjadi alasan,
meskipun Muawiyah tahu persis bahwa Ali tidak bersalah dan tidaklah
mudah untuk mencari para pelakunya dan menghukum mereka.
Muawiyah juga tahu betul bahwa Ali adalah pribadi yang mempunyai
integritas tinggi dan bahkan jika diberi kesempatan ia bisa menyeret para
pelaku pembunuhan itu. Tetapi Muawiyah, tidak begitu berminat menuntut
balas kematian Utsman kecuali menjadikannya sebagai isu politik untuk
memojokkan Ali. Beberapa sahabat Nabi seperti Talhah, Zubair dan yang
lain, yang telah banyak mengumpulkan banyak kekayaan baik berupa
harta bergerak maupun tidak, mempunyai ambisi tersendiri dan mereka

ingin mengontrol kebijakan negara dengan tujuan melindungi kepentingan


pribadi mereka. Motif mereka adalah untuk merongrong kekuasaan Ali.
Bahkan Zubair sendiri berhasrat menjadi khalifah dengan dukungan
Aisyah, istri Nabi.
Akibat terjadinya perselisihan pendapat dalam pasukan Ali, maka
timbullah golongan Khawarij dan Syiah. Khawarij adalah golongan yang
semula pengikut Ali, setelah berhenti perang Siffin mereka tidak puas, dan
keluar dari golongan Ali, karena mereka ingin melanjutkan peperangan
yang sudah hampir menang, dan mereka tidak setuju dengan perundingan
Daumatul Jandal. Mereka berkomentar mengapa harus bertahkim kepada
manusia, padahal tidak ada tempat bertahkim kecuali allah. Maksudnya
tidak ada hukumselain bersumber kepada Allah. khawrij menganggap Ali
telah keluar dari garis Islam. Karena itu orang-orang yang melaksanakan
hukum tidak berdasarka Kitab Allah maka ia termasuk orang kafir.
Sebaliknya golongan kedua Syiah (golongan yang tetap setia
mendukung Ali sebagai Khalifah) memberi tanggapan bahwa tidak
menutup kemungkinan kepemimpinan Muawiyah bertindak salah, karena
ia manusia biasa, selain itu golongan Syiah beranggapan bahwa hanya Ali
satu-satunya yang berhak menjadi Khalifah.
e) Segi Bahasa dan Ilmu Pengetahuan
Di antara perkembangan yang ada pada masa Khalifah Ali adalah
pertama, terciptanya ilmu bahasa / nahwu (Aqidah nahwiyah),
berkembangnya ilmu Khatt al-Quran serta berkembangnya Sastra.
Dari semua penjelasan yang telah disampaikan sebelumnya secara garis besar
sistem perekonomian pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin adalah bertani dan
berdagang setiap hari mereka disibukkan dengan pesoalan air dan rumput. Hasil
pertanian yang mereka ekspor antara lain, kurma, kayu gaharu, buah kismis anggur
dan lainnya selain bertani, unsur terpenting dalam perekonomian mereka adalah
berdagang.

Masyarakat arab waktu itu sudah mengenal ekspor impor. Komoditas ekspor
Arab selatan dan yaman adalah dupa, kemenyan, kayu gaharu, minyak wangi dan
kulit binatang. Buah kismis anggur dan lainnya . Komoditas yang mereka impor dari
afrika timur antara lain kayu untuk bangunan, bulu burung unta, lantakan logam
mulia dan badat. Dari Asia Selatan dan China adalah daging, batu mulia, sutra,
pakaian, pedang, rempah-rempah. Sedangkan dari negara teluk Persia mereka
mengimpor intan. Mereka memperoleh pedang dan pakaian dari asia selatan dan
china, ekspor-impor sudah dikenal sejak masa Khulafaur Rasyidin, mereka membuka
hubungan dengan negara-negara disekitar mereka.
Secara giografis Arab bertanah tandus dan didominasi oleh gurun pasir,
kendaraan yang mereka gunakan adalah unta. masyarakat menggunakan cadar
(penutup hidung) agar tidak menghirup pasir, wilayah Arab yang kering berbatu dan
sebagian besar adalah gurun pasir mempengaruhi eatak orang Arab. Orang Arab
memiliki solidaritas internal yang sangat kuat dan sebaliknya ganas terhadap suku
dan kabilah lain. Pada masa Nabi, sifat kesukuan ini berhasil dirubah menjadi sifat
nasionalisme kenegaraan, yang awalnya mereka bangga menyebut-nyebut semboyan
kesukuannya menjadi berubah menjadi semboyan islam. Pada masa Abu bakar, Umar,
sifat ini timbul kembali sehingga menimbulkan perpecahan dalam golongan Islam
terutama pada masa Ustman dan Ali. Sifat kesukuan ini yang menghancurkan umat
Islam.
Pada masa Ustman, dia merangkul dan mengangkat mereka menjadi pejabat
pemerintahan, Rasulullah juga tidak pernah mengangkat salah seorang dari Bani
Hasyim untuk menduduki jabatan. Demikian pula masa Abu Bakar dan Umar, Hal ini
untuk menghindari kecemburuan politik.
Agama yang dianut masyarakat Arab pada masa Khulafaur Rasydin selain Islam
adalah Paganisme, yakni penyembahan terhadap berhala yakni agama yang di anut
secara turun temurun sejak jamannya Nabi Musa. Mereka tidak mudah melepaskan
agama dari bapak dan ibu mereka, selain itu sebagian ada yang menganut gabungan
antara agama nenek moyang mereka yakni vetersme (menyembah batu atau kayu)

mereka menyembah batu-batu besar atau pohon-pohon besar yang di anggap keramat
dan bisa memberikan perlindungan bagi mereka. Serta tetoisme (yakni pengkultusan
terhadap hewan dan tumbuhan yang di anggap suci) seperti halnya mereka
menyembah sapi betina, karena mereka anggap suci. Dan Anemisme yakni:
kepercayaan terhadap roh. Namun tidak sedikit yang menganut ajaran hanif Nabi
Ibrahim seperti paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Banyaknya agama yang dianut pada
masa Khulafaur Rasyidin ini di karenakan sifat orang arab yang keras sehingga
mereka tidak mudah menerima sesuatu yang baru.
Sejarah sastra Arab, mencatat banyak penyair-penyair Muallaqat, diantaranya
adalah tujuh orang yaitu yang terkenal dengan sebutan (seven suspendeds poems)
mereka adalah Ibnu al-Qais bin Haris al-Kindi (500-540), Zuhair bin Abu Sulma AlMuzani (530-627), Al Nabiqah al Zubiani (sekitar 604), Labid bin Rabiah al-Amiri
(560-661), Tarafah bin Abdul Bakri (543-569), Antarah bin Syaddad Al-Bakri
( sekitar 580). Banyaknya sastrawan-sastrawan Arab ini menunjukkan bahwa sastra
pada saat itu sudah sangat terkenal dan menjadi budaya orang Arab, orang Arab
sangat menghormati sastrawan. Sehingga Allah menurunkan Al-Quran dengan
segala keindahan syair yang terkandung dan tak ada yang dapat menandingi syair AlQuran dan kepadatan makna yang terkandung di dalamnya. Al-Quran adalah kitab
Allah yang memiliki nilai sastra yang sangat tinggi dimana didalamnya terdapat
makna yang sangat padat dan mudah dipahami sehingga Al-Quran mudah dihafal.
Hal ini menjadi salah satu keistimewaan Al-Quran. Al-Quran diturunkan kepada
umat Islam dengan syair dan bahasa yang khas yang dapat melemahkan hasil karya
sastra pada masa itu.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Khulafaur Rasyidin (bahasa Arab: ) atau Khalifah Ar-Rasyidin
adalah empat orang khalifah (pemimpin) pertama agama Islam, yang dipercaya oleh
umat Islam sebagai penerus kepemimpinan setelah Nabi Muhammad wafat. Keempat
khalifah tersebut dipilih bukan berdasarkan keturunannya, melainkan berdasarkan
konsensus bersama umat Islam. Sistem pemilihan terhadap masing-masing khalifah
tersebut berbeda-beda, hal tersebut terjadi karena para sahabat menganggap tidak ada
rujukan yang jelas yang ditinggalkan oleh Nabi Muhammad tentang bagaimana
suksesi kepemimpinan Islam akan berlangsung.
Sistem perekonomian pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin adalah
bertani dan berdagang setiap hari mereka disibukkan dengan pesoalan air dan rumput.
Hasil pertanian yang mereka ekspor antara lain, kurma, kayu gaharu, buah kismis
anggur dan lainnya selain bertani, unsur terpenting dalam perekonomian mereka
adalah berdagang. Masyarakat Arab waktu itu sudah mengenal ekspor impor.
Orang Arab memiliki solidaritas internal yang sangat kuat dan sebaliknya
ganas terhadap suku dan kabilah lain. Pada masa Nabi, sifat kesukuan ini berhasil
dirubah menjadi sifat nasionalisme kenegaraan, yang awalnya mereka bangga
menyebut-nyebut semboyan kesukuannya menjadi berubah menjadi semboyan Islam.
Pada masa Abu bakar, Umar, sifat ini timbul kembali sehingga menimbulkan
perpecahan dalam golongan Islam terutama pada masa Ustman dan Ali. Sifat
kesukuan ini yang menghancurkan umat Islam. Pada masa Ustman, dia merangkul
dan mengangkat mereka menjadi pejabat pemerintahan, Rasulullah juga tidak pernah
mengangkat salah seorang dari Bani Basyim untuk menduduki jabatan. Demikian
pula masa Abu Bakar dan Umar, Hal ini untuk menghindari kecemburuan politik.

Agama yang dianut masyarakat Arab pada masa Khulafaur Rasydin selain
Islam adalah Paganisme, yakni penyembahan terhadap berhala yakni agama yang di
anut secara turun temurun sejak jamannya nabi musa. Sebagian ada yang menganut
gabungan antara agama nenek moyang mereka yakni vetersme (menyembah batu atau
kayu) mereka menyembah batu-batu besar atau pohon-pohon besar yang di anggap
keramat dan bisa memberikan perlindungan bagi mereka. Serta tetoisme (yakni
pengkultusan terhadap hewan dan tumbuhan yang di anggap suci) seperti halnya
mereka menyembah sapi betina, karena mereka anggap suci. Dan Anemisme yakni:
kepercayaan terhadap roh. Namun tidak sedikit yang menganut ajaran hanif Nabi
Ibrahim seperti paman Nabi, yaitu Abu Thalib. Banyaknya agama yang dianut pada
masa Khulafaur Rasyidin ini di karenakan sifat orang arab yang keras sehingga
mereka tidak mudah menerima sesuatu yang baru.
Sejarah sastra Arab, mencatat banyak penyair-penyair Muallaqat, diantaranya
adalah tujuh orang yaitu yang terkenal dengan sebutan (seven suspendeds poems)
mereka adalah Ibnu al-Qais bin Haris al-Kindi (500-540), Zuhair bin Abu Sulma AlMuzani (530-627), Al Nabiqah al Zubiani (sekitar 604), Labid bin Rabiah al-Amiri
(560-661), Tarafah bin Abdul Bakri (543-569), Antarah bin Syaddad Al-Bakri (sekitar
580).

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Boedi. Peradaban Pemikiran Ekonomi Islam. Bandung: Pustaka Setia,


2010.
Al-Usairy, Ahmad. Sejarah Islam: Sejak Zaman Nabi Adam Hingga Abad XX.
Jakarta: Akbar Media Eka Sarana, 2003.
Chamid, Nur. Jejak Langkah dan Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
1997.
Supriyadi, Dedi. Sejarah Peradaban Islam. Bandung: Pustaka Setia, 2008.