Anda di halaman 1dari 6

TUGAS FISIKA BENCANA ALAM

TENTANG
REVIEW UNDANG-UNDANG NO. 24 TAHUN 2007

OLEH :
ANNISA ULFAH
15175003

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2015/2016

Review Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007


Gempa bumi, banjir, dan tanah longsor merupakan bencana yang sering terjadi ddi
Indonesia. Bencana ini merusak infrastruktur dan mengakibatkan banyak korban jiwa. Hal ini
menghambat pembangunan nasional. Oleh karena itu perlu penanggulangan bencana. Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia ikut membantu
pembangunan nasional dengan menyetujui Undang-undang RI nomor 24 tahun 2007 tentang
penanggulangan bencana. UU No. 24 tahun 2007 dikeluarkan berdasarkan karena tiga hal,
yakni :
1. Negara kesatuan Republik Indonesia bertanggung jawab melindungi segenap bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia yang merupakan amanat pembukaan
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia alinea ke IV.
2. wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis,
hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana karena terletak
digaris katulistiwa pada posisi silang antara dua benua dan dua samudra.
3. Ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai penanggulangan bencana yang ada
belum dapat dijadikan landasan hukum yang kuat, menyeluruh dan tidak sesuai dengan
perkembangan keadaan masyarakat.
Pasal 1 ayat 1 menyatakan bahwa Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,
baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun factor manusia sehingga mengakibatkan
timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak
psikologis.Berdasarkan pasal 1 ayat 1 penyebab bencana ada 3, yaitu :
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa
yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus,
banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian
peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemic,
dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau
antarkomunitas masyarakat, dan teror. (Pasal 1 ayat 2-4)
Berdasarkan bunyi pasal 1 ayat 1 bencana memiliki dampak yang besar bagi manusia.
Oleh karena itu, perlu diadakan penanggulangan bencana, pasal 1 ayat 5 menyatakan bahwa
penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi penetapan
kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana,
tanggap darurat, dan rehabilitasi. Penanggulangan bencana ini dilandaskan kepada Pancasila
dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tercantum dalam pasal 2.
Penanggulangan bencana sebagaimana dimaksud Pasal 2 berasaskan kepada kemanusian,

keadilan, kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan, keseimbangan, keselarasan, dan
keserasian, ketertiban dan kepastian hukum, kebersamaan, kelestarian lingkungan hidup, dan
ilmu pengetahuan dan teknologi. Prinsip-prinsip dalam penanggulangan bencana sebagaimana
dimaksud dalam pasal 2, yaitu : cepat, prioritas, koordinasi dan keterpaduan, berdaya guna dan
berhasil guna, transparansi dan akuntabilitas, kemitraan, pemberdayaan, nondiskriminatif, dan
nonproletisi.
Tujuan dari penanggulangan bencana ini adalah untuk memberikan perlindungan kepada
masyarakat dari ancaman bencana, menyelaraskan peraturan perundang-undangan yang sudah
ada, menjamin terselenggaranya penanggulangan bencana secara terencana, terpadu,
terkoordinasi, dan menyeluruh, menghargai budaya lokal, membangun partisipasi dan kemitraan
public serta swasta, mendorong semangat gotong royong, kesetiakawanan, dan kedermawanan,
dan menciptakan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sesuai
dengan pasal 4.
Pasal 5-9 menjelaskan bahwa penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab dan
wewenang dari pemerintah dan pemerintah daerah. Oleh karena itu pemerintah membentuk
Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang merupakan Lembaga Pemerintah
Nondepartemen setingkat menteri. Badan Nasional Penanggulangan Bencana terdiri atas unsur
pengarahan penanggulangan bencana, pelaksanaan penanggulangan bencana tercantum dalam
Pasal 10-11. Badan Nasional Penanggulangan Bencana mempunyai tugas dan fungsi yang sudah
diatur sesuai pasal
12-13.Keanggotaan dan fungsi dari unsure pengarah dan unsure
pembentukan dijelaskan dalam pasal 14-15.Pasal 16 menyatakan bahwa Unsur pelaksana
penanggulangan bencana mempunyai tugas secara terintegrasi yang meliputi : prabencana, saat
tanggap darurat, dan pascabencana. Setiap fase memiliki karakteristik penanggulangan bencana
yang berbeda-beda. Ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, fungsi, tugas, struktur
organisasi, dan tata kerja Badan Nasional Penanggulangan Bencana diatur dengan Peraturan
Presiden dalam pasal 17.
Pemerintah daerah juga membentuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Pada
tingkat provinsi dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah gubernur atau setingkat eselon
Ib. Pada tingkat kabupaten/kota dipimpin oleh seorang pejabat setingkat di bawah bupati/
walikota atau setingkat eselon IIa. Unsur Badan Penanggulangan Bencana daerah sama dengan
unsure Badan Nasional Penanggulagan Bencana. Tugas, fungsi, penjelasan unsure dan
keanggotan dijelaskan dalam pasal 18-25.
Objek dari penanggulangan bencana adalah masyarakat. Oleh karena itu pemerintah
melindungi hak dan kewajiban masyarakat
dalam pasal 26-27. Setiap orang berhak
mendapatkan perlindungan, bantuan pemenuhan kebutuhan dasar, dan memperoleh ganti
kerugian berdasarkan aturan tertentu.

Lembaga usaha dan lembaga internasional mendapatkan kesempatan dalam


penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik secara tersendiri maupun secara bersama
dengan pihak lain. Lembaga internasional dan lembaga asing non pemerintah mendapat jaminan
perlindungan dari Pemerintah terhadap para pekerjanya. PBB merupakan salah satu contoh
lembaga internasional yang ikut dalam penanganan bencana Haltersebut terdapat dalam pasal
28-30.
Penyelenggaraan penanggulangan bencana terdiri atas 3 (tiga) tahap meliputi :
1. Prabencana
Penyelenggaraan penanggulangan bencana meliputi dua situasi, dalam situasi tidak
terjadi bencana dan dalam situasi terdapat potensi terjadinya bencana. Dalam hal tidak
terjadi bencana pemerintah dapat melakukan perencanaan penanggulangan bencana.
Pemerintah secara geografis dapat menentukan wilayah rawan bencana. Pemetaan
terhadap wilayah yang rawan dan berpotensi menimbulkan bencana. Apabila terjadi
bencana pemerintah dapat mengambil tindakan sesuai dengan rencana yang sudah dibuat.
Kegiatan pencegahan juga dapat dilakukan dengan mempersiapkan sarana atau teknologi
tepat guna, melakukan pendidikan.
Penanggulangan bencana dalam hal terdapat potensi bencana meliputi :
a.Kesiapsiagaan
Dapat dilakukan dengan serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi
bencana melalui pengorganisasian dan melalui langkah yang tepat guna dan berdaya
guna. Upaya siap siaga dengan mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menghadapi
bencana. Uji coba dan simulasi keadaan bencana harus dilakukan agar memberikan
pengetahuan bagi warga mengenai proses evakuasi serta tempat evakuasi. Alat teknologi
canggih yang dapat mendeteksi adanya bencana harus disiapkan.
b.peringatan dini
Upaya pemberian peringatan sesegera mungkin kepada masyarkat tentang potensi dan
kemungkinan terjadinya bencana pada suatu lokasi oleh badan yang berwenang. Upaya
peringatan dini diawali dengan kegiatan pemantauan bencana secara intensif oleh petugas
atau badan yang telah ditunjuk pemerintah. Kemudian hasil pengamatan tersebut akan
dianalisis oleh para ahli dan diputuskan mengenai penetapan status bencana. Setelah itu,
informasi tersebut akan disebarluaskan kepada khalayak ramai dan dijadikan dasar dalam
pengambilan tindakan oleh masyarakat.
c.mitigasi bencana
upaya mengurangi resiko bencana dengan melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi bencana. Kegiatan mitigasi
dilakukan dengan pelaksanaan tata ruang serta pembangunan infrastruktur. Kegiatan
pendidikan, penyuluhan, serta pelatihan juga merupakan bagian dari upaya mitigasi.
2. Tanggap darurat
Keadan tanggap darurat merupakan keadaan dimana bencana benar-benar terjadi pada
saat itu. Ketika bencana terjadi segera dilakukan analisa untuk mengidentifikasi cakupan

lokasi bencana, jumlah korban, kerusakan bangunan, gangguan terhadap pelayanan


umum dan pemerintahan, serta kemampuan sumberdaya alam maupun sumber daya
buatan. Pada saat tanggap darurat, kegiatan penanggulangan bencana selain didukung
dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, juga disediakan dana siap pakai dengan penanggungjawaban melalui mekanisme
khusus.
Hal yang paling penting ketika terjadi bencana dalah proses evakuasi atau penanganan
bencana. Pada bencana alam kegiatan evakuasi harus dilakukan agar menghindarkan
jumlah korban jiwa yang banyak. Pada bencana nonalam kesigapan badan khusus yang
telah dibentuk harus dioptimalkan.
3. Pasca bencana
Pasca bencana menjadi penting karena ini merupakan patokan setelah terjadi bencana.
Fungsi pemerintah pada dasarnya untuk mengembalikan pada keadaan semula dan
melakukan normalisasi fungsi pemerintahan. setelah terjadi bencana muncul berbagai
kerugian baik harta maupun jiwa. Korban bencana pun sering mengalami trauma yang
berkepanjangn akibat terjadinya suatu bencana. Kegiatan penanganan pasca bencana
meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi
a.Rehabilitasi
Kegiatan perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan
masyarakat pasca bencana.
b.Rekonstruksi
Pembangunan kembali semua sarana dan prasarana, kelembagaan pada wilayah
pascabencana, baik pada tingkatan pemerintah maupun masyarakat dengan sasaran utama
tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial, budaya, tegaknya hukum dan
ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan di
wilayah pasca bencana. Penjelasan mengenai ini tertulis dalam pasal 31-59.
Pasal 60-64 membahas mengenai dana penanggulangan bencana. Dana penanggulangan
bencana menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah serta
partisipasi masyarakat. Penggunaaan anggaran penanggulangan bencana yang memadai
dilaksanakan oleh Pemerintah, pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana
dan Badan Penanggulangan Bencana daerah sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Pemerintah, pemerintah daerah, Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan
Penanggulangan Bencana Daerah melakukan pengelolaan umber daya bantuan bencana, yang
meliputi : perencanaan, penggunaan, pemeliharaan, pemantauan, dan pengevaluasian terhadap
barang, jasa, dan/atau uang bantuan nasional maupun internasional. Hal ini tercantum pada pasal

65-70. Pengawasan terhadap seluruh tahap penanggulangan bencana dilaksanakan oleh


pemerintah dan pemerintah daerah sesuai pasal 71-73.
Pasal 75-79 untuk memberikan efek jera dan menaati undang-undang ini, apabila terjadi
kelalaian maupun karena kesengajaan sehingga menyebabkan terjadinya bencana yang
menimbulkan kerugian, baik terhadap harta benda maupun matinya orang, menghambat
kemudahan akses dalam kegiatan penanggulangan bencana, dan penyalahgunaan pengelolaan
sumber daya bantuan bencana akan dikenakan sanksi pidana, baik pidana penjara maupun pidana
denda, dengan menerapkan pidana minimum dan maksimum.