Anda di halaman 1dari 36

MEKANIKA STATISTIK

ANALISIS HUBUNGAN KONDESAT BOSE EINSTEIN DENGAN SUPER


FOTON SEBAGAI SUMBER CAHAYA BARU

DISUSUN OLEH:
ANNISA ULFAH (15175003)
JULLY ERMISA (15175020)

DOSEN :
Dr. H. AHMAD FAUZI, M.Si
Dr. RAMLI, M.Si

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN FISIKA


UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2016

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .................................................................................................

ABSTRAK.....................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR..................................................................................... iii


BAB I PENDAHULUAN..............................................................................

A. Latar Belakang ............................................................................

B. Rumusan Masalah.......................................................................

C. Tujuan Penulisan
.........................................................................................
.........................................................................................
2
D. Manfaat Penulisan.......................................................................

BAB II KAJIAN TEORI


A. Gas Bose......................................................................................

B. Statistik Bose Einstein................................................................

C. Kondensasi Bose Einstein


..........................................................................................
..........................................................................................
8
D. Super Foton................................................................................. 17
BAB III PEMBAHASAN
A. Proses Perubahan Foton menjadi Super Foton sebagai Sumber Cahaya
Baru menggunakan Laser Cooling.............................................. 21
B. Analisis Hubungan Kondesat Bose Einstein dengan Super Foton
(Sebagai Sumber Cahaya Baru) menggunakan Statistik Bose Einstein
..................................................................................................... 23
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ................................................................................. 30
B. Saran ........................................................................................... 31
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 32

ABSTRAK
Annisa Ulfah (15175003), Jully Ermisa (15175020)
Statistika Bose-Einstein menentukan distribusi statistik bagi boson pada
berbagai tingkat energi di dalam kesetimbangn termal. Distribusi statistik untuk
boson berlaku pada suatu sistem yang momentum sudutnya merupakan kelipatan
bilangan bulat dari

h / 2

dan juga tidak memenuhi larangan Pauli.Salah satu

aplikasi Statistika Bose Einstein adalah kondensasi Bose Einstein yang


menghasilkan Bose Einstein Condensate. Bose-Einstein kondensat adalah sebuah
cara untuk mengumpulkan partikel "boson" di tingkat "energi" terendah, hal ini
dapat dilakukan dengan pendinginan material di bawah suhu kritisnya. BoseEinstein kondesat dapat terjadi jika memenuhi syarat massa berada di daerah
BEC, dan jumlah foton tetap. Namun, foton tidak memiliki massa berada di
daerah BEC dan jumlah foton berbeda disebabkan foton yang terperangkap hanya
akan diserap oleh apapun bahan perangkap; itu sebabnya para ilmuwan tidak bisa
membuat BEC dengan mendinginkan sebuah foton dalam kotak hitam biasa.
Permasalahan di atas diatasi oleh tim di University of Bonn di Jerman. Para
fisikawan dari Universitas Bonn Jan Klrs, Julian Schmitt, Dr Frank Vewinger,
dan Profesor Dr Martin Weitz telah mengembangkan sumber cahaya yang terbaru,
disebut sebagai kondensat Bose-Einstein, di mana kandungannya terdiri dari
foton.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena berkat limpahan
rahmat dan karunia-Nya akhirnya penulis dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul Analisis Hubungan Kondesat Bose Einstein dengan Super Foton
Sebagai Sumber Cahaya Baru. Makalah ini disusun untuk memenuhi salah
satutugas mata kuliah Mekanika Statistik.
Dalam melaksanakan dan menyelesaikan makalah ini penulis telah banyak
mendapatkan bantuan, dorongan, petunjuk, pelajaran, bimbingan, dan motivasi
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Bapak Dr. H. Ahmad Fauzi, M.Si
dan Dr. Ramli, M.Si. Semoga bantuan dan bimbingan yang telah diberikan
menjadi amal shaleh bagi Bapak serta mendapat balasan yang berlipat ganda dari
Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih
terdapat kekurangan dan kelemahan, untuk itu penulis mengharapkan saran dalam
penyempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Padang, Juni 2016

Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Kondensasi Bose-Einstein ini pertama kali diprediksi oleh Satyendra
Nath Bose dan Albert Einstein pada tahun 19241925. Bose pertama kali
mengirimkan sebuah surat kepada Einstein tentang kuantum statistik dari kuanta
cahaya (yang sekarang disebut foton). Einstein terkesan dengan artikel tersebut,
dan mengubahnya dari bahasa Inggris ke bahasa Jerman dan di-submit kembali
untuk Bose kepada jurnal Zeitschrift fr Physik, yang kemudian berhasil
terpublikasi. Selanjutnya, Einstein mengembangkan ide Bose untuk partikel
materi dalam dua artikel lainnya.
Setelah tujuh puluh tahun kemudian, kondensasi Bose-Einstein dihasilkan
pertama kalinya oleh Eric Cornell dan Carl Wieman pada tahun 1995 dari
Universitas Colorado di laboratorium Boulder NIST-JILA. Kedua fisikawan ini
menggunakan atom-atom rubidium dalam fase gas yang didinginkan pada suhu
sekitar 170 nanokelvin. Untuk keberhasilan inilah kedua ilmuwan ini dan
Wolfgang Ketterle dianugerahi hadiah Nobel untuk Fisika pada tahun 2001.
Kondensasi Bose-Einstein untuk foton ditemukan untuk yang pertama kali pada
bulan November 2010.
Penemuan ini berasal dari para fisikawan dari Universitas Bonn telah
mengembangkan sumber cahaya yang paling baru, disebut sebagai kondensat
Bose-Einstein, di mana kandungannya terdiri dari foton. Sebelumnya, hingga saat
ini, para ahli menduga bahwa hal ini adalah mustahil.
Secara potensial, metode ini mungkin cocok untuk perancangan laser yang
bekerja pada kisaran X-ray. Dan di antara aplikasi lainnya, ini bahkan bisa
digunakan untuk mengembangkan chip komputer yang lebih bertenaga. Para

ilmuwan melaporkan penemuan mereka ini dalam jurnal Nature. Dengan


mendinginkan

atom-atom

Rubidium

secara

mendalam

dan

mengkonsentrasikannya dalam jumlah yang cukup di dalam ruang padat,


mendadak atom-atom ini menjadi sulit dibedakan. Mereka berperilaku seperti
partikel super tunggal yang besar. Fisikawan menyebutnya sebagai kondensat
Bose-Einstein.
Untuk partikel cahaya, atau foton, ini juga semestinya bekerja. Namun,
gagasan ini menghadapi masalah mendasar. Ketika foton mendingin, mereka
lantas menghilang. Sehingga, kelihatannya mustahil mendinginkan cahaya dengan
sekaligus mengkonsentrasikannya pada waktu yang sama. Namun, para ahli fisika
Bonn, Jan Klrs, Julian Schmitt, Dr Frank Vewinger, dan Profesor Dr Martin
Weitz telah berhasil melakukan hal ini yang dianggap sebagai penemuan yang
terbaru. Berdasarkan hal tersebut penulis tertarik untuk membahas mengenai
hubungan kondesat Bose Einstein dengan super foton sebagai sumber cahaya
baru.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka rumusan masalah
dari makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Apa yang dimaksud dengan gas Bose?


Apa yang dimaksud statistik Bose-Einstein?
Apa yang dimaksud kondesat Bose-Einstein?
Apa yang dimaksud super foton?
Bagaimana hubungan kondesat bose einstein dengan super foton (sebagai
sumber cahaya baru) menggunakan statistik Bose Einstein?

C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka tujuan penulisan
dari makalah ini adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Untuk mengetahui pengertian gas Bose.


Untuk mengetahui statistik Bose-Einstein
Untuk mengetahui kondesat Bose Einstein
Untuk mengetahui super foton
Untuk menjelaskan hubungan kondesat bose einstein dengan super foton
sebagai sumber cahaya baru

D. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dalam pembuatan makalah ini adalah:
1. Dapat dijadikan sumber referensi bagi pembaca
2. Dapat membantu memahami tentang hubungan kondesat bose einstein
dengan super foton sebagai sumber cahaya baru.

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Gas Bose
Boson adalah zarah berspin bulat sehingga tidak mematuhi asas larangan
Pauli sehingga satu tingkat energi dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah
berapa pun; sejumlah besar zarah boson dapat menempati keadaan yang sama
pada saat yang sama pula. Contoh dari Boson itu sendiri adalah: atom Helium-4,
atom Sodium-23, Foton, yang menengahi gaya elektromagnetik, gluon, boson

Higgs, Fonon, Nulei dengan spin "integer", boson W dan Z, yang menengahi gaya
nuklir lemah.
Sifat Dasar Boson Sifat sistem sub atomik yang tidak dapat dibedakan dapat
dipahami dari konsep gelombang sistem. Panjang gelombang de Broglie sistemsistem tersebut memenuhi dengan m massa sistem dan laju sistem. Karena m
untuk sistem sub atomik sangat kecil maka panjang gelombang cukup besar.
Panjang gelombang yang besar menyebabkan fungsi gelombang dua sistem yang
berdekatan menjadi tumpang tindih. Kalau dua fungsi gelombang tumpang
tindih, maka kita tidak dapat lagi membedakan dua sistem yang memiliki fungsifungsi gelombang tersebut. Kondisi sebaliknya dijumpai pada sistem klasik
seperti molekul-molekul gas. Massa sistem sangat besar sehingga panjang
gelombang sangat kecil. Akibatnya tidak terjadi tumpang tindih fungsi gelombang
sistem-sistem tersebut, sehingga secara prinsip sistem-sistem tersebut dapat
dibedakan. Pada suhu yang sangat tinggi sistem sub atomik dapat berperilaku
seperti sistem klasik. Pada suhu yang sangat tinggi kecepatan sistem sangat
besar sehingga

panjang

gelombangnya

sangat

kecil. Akibatnya,

tumpang

tindih gelombang sistem-sistem menjadi hilang dan sistem menjadi terbedakan.


Jika molekul gas yang dibicarakan memiliki momentum sudut dalam satuan
h / 2

maka gas tersebut dikategorikan sebagai boson dan memenuhi aturan

statistik Bose-Einstein. Oleh karena setiap keadaan yang diizinkan berada dalam
volume
d

h3

pada ruang fase, maka bobot suatu pita yang berada dalam volume

dalam ruang fase


g

d
h3

Jumlah keadaan energi yang tersedia dalam interval energi


dalam ruang dengan volume V adalah

dan

(1)
d

g d

2 2m

3/ 2

1 / 2 d V

h3

(2)

dimana

menyatakan rapat keadaan.

Jumlah molekul yang memiliki energi dalam interval

dan

dalam

ruang dengan volume V adalah


1/ 2
1 2 2m d V
n d 3
1
h
exp / kT 1
A
3/ 2

(3)

Nilai A dalam persamaan di atas dapat dicari melalui hubungan

n d N
0

(4)
B. Statistik Bose Einstein
Statistika Bose-Einstein menentukan distribusi statistik bagi boson pada
berbagai tingkat energi di dalam kesetimbangn termal. Statistik Bose-Einstein
merupakan konfigurasi boson statistik untuk menurunkan boson. Distribusi
statistik untuk boson, suatu sistem yang momentum sudutnya merupakan
h / 2
kelipatan bilangan bulat dari
dan juga tidak memenuhi larangan Pauli.
Dari kacamata mekanika statistik perbedaan mendasar antara sistem boson

dan sistim klasik adalah bahwa dua buah boson identik dan tidak dapat dibedakan.
Dalam sistem klasik, pertukaran dua sistem akan menghasilkan susunan yang
berbeda, sedangkan dalam sistem boson tidak. Perbedaan tersebut menyebabkan
adanya hasil yang berbeda dalam perhitungan distribusi energi dengan peluang
terbesar dalam sistem.
Perbedaan lain antara sistem kuantum dengan sistem klasik adalah sifat
diskrit keadaan energi yang tersedia. Dalam statistik klasik, energi dibagi dalam
tingkatan yang diskrit. Dalam kasus mekanika kuantum keadaan energi diskrit
tetap diperlukan dengan menganggap bahwa tiap keadaan yang tersedia
menempati volume tertentu dalam sebuah ruang fase.
1. Syarat Berlakunya Hukum Distribusi Bose Einstein

a. Partikel partikel adalah identik (tidak dapat dibedakan) karena setiap


pertukaran partikel tidak menghasilkan keadaan baru.
b. Berlaku untuk partikel partikel boson yaitu semua partikel yang
memiliki fungsi gelombang simetrik.
c. Tidak memenuhi larangan Pauli (di dalam satu atom, tidak boleh ada 2
elektron yang mempunyai ke-4 bilangan kuantum yang sama)
d. Tidak ada batasan jumlah untuk menempati satu keadaan.
e. Tunduk pada fisika kuantum
Metode perhitungan distribusi energi dengan peluang terbesar dalam sebuah
assembly untuk partikel identik seperti halnya boson sama dengan yang telah
dilakukan untuk assembly klasik. Konfigurasi assembly tetap ditandai dengan pita
energi s, mengandung gs keadaan dengan selang energi antara

dan

ns
mengandung

sistem. Pembatasan tetap dilakukan pada jumlah sistem yang


ns

ditempatkan

dalam kaitannya dengan energi total E dan jumlah total sistem N

melalui hubungan

s s

(5)
Keadaan yang akan hitung adalah jumlah susunan yang berbeda dari sistem
apabila disebar dalam tingkatan energi. Oleh karena sistemnya tidak dapat
dibedakan maka pertukaran dua sistem tidak akan menghasilkan susunan yang
baru.
gs
Misalkan terdapat

keadaan dari pita

yang ditunjukkan dengan kotak

ns
dalam gambar. Sejumlah

gs
sistem dapat disusun atau disebar diatara

keadaan.

Jika pengisian dimulai dari kiri. Jika pada sisi paling kiri ditempatkan sebuah

g s 1
sistem, maka pada sisi selanjutnya terdapat

keadaan. Banyaknya cara

memilih sistem adalah

g s 1 ns

ns
. Dan banyaknya cara menempatkan

g s 1
sistem diantara

keadaan estela keadaan pertama adalah


ns

g s 1 ns

!.

gs

Jadi banyaknya cara menempatkan


sistem diantara
g s g s 1 ns
!

keadaan adalah
(6)

Ingat bahwa sistemnya tak terbedakan, sehingga banyaknya susunan yang


ws
berbeda

dari sistem dengan jumlah pita s adalah :


ws

g s g s 1 ns !
g s ! ns !

(7)
Penyusunan sistem dalam suatu pita tak bergantung pada penyusunan sistem
lain dalam pita yang lain. Tetapi kita dapat menyatukan susunan-susunan tersebut
untuk membentuk assembly, dengan bobot W yang konfiguarasinya merupakan
perkalian jumlah susunan berbeda dari masing-masing sistem. Jadi

W ws
s

g s 1 n s !
g s 1!n s !
(8)

Seperti halnya dalam statistik Maxwell-Bolzmann, konfigurasi dengan


ns
peluang terbesar dapat ditentukan dengan mencari nilai

yang memberikan nilai

maksimum untuk W. Hal ini dapat dilakukan dengan menggunakan metode


pengali tak tentu Lagrange

log W

s dns 0
ns

(9)

Oleh karena pada nilai maksimum persamaan di atas tetap berlaku untuk
dns
semua nilai

yang kecil, maka nilai yang ada dalam tanda kurung harus sama

dengan nol untuk setiap harga

. Jadi

log W
s 0
ns
(10)
gs !
Kita asumsikan bahwa nilia

ns !
dan

cukup besar untuk memungkinkan


log W
kita menggunakan pendekatan Striling, sehingga
dapat ditulis
log W log ws
s

g s 1 ns log g s 1 ns g s 1 log g s 1 ns log ns


s

(11)
Dari persamaan di atas diperoleh

log W
log g s 1 ns log ns
ns
(12)
gs
Oleh karena

ns
dan

jauh lebih besar dari pada satu, maka :


g ns
log W
log s

ns
ns

(13)

Substitusi persamaan 4.7 ke dalam persamaan 4.5 diperoleh


g s ns
s 0
ns

log

(14)

gs
s
e
1
ns
(15)
Jadi
ns

1 / kT

gs
exp s 1

(16)

dimana :
secara umum persamaan di atas dikenal dengan distribusi Bose-Einstein
untuk assembly boson.
C. Kondesasi Bose Einstein
Kondensasi Bose-Einstein ini hanya dapat dijumpai untuk partikel-partikel
boson, yakni partikel-partikel yang memenuhi statistika Bose-Einstein, tetapi
tidak memenuhi prinsip ekslusi Pauli. Hal ini disebabkan oleh adanya efek
mekanika kuantum. Ketika suhu suatu material mendekati suhu absolut nol
derajad Kelvin, sebuah perubahan menarik terjadi pada materi boson tersebut.
Atom-atom materi tersebut mulai berkondensasi dan mengumpul (clumped). Hal
ini akan terjadi pada sekitar sepersejuta derajad Kelvin. Atom-atom tersebut akan
membentuk daerah-daerah (kluster) di tempat yang sama dalam ruang dan
berperilaku sebagaimana sebuah atom yang berukuran besar. Secara matematis
posisi tiap-tiap atom ini masih dapat dideskripsikan oleh persamaan gelombang
Schrodinger masing-masing atom, yang mendeskripsikan posisi eksak tiap-tiap
atom dalam ruang. Dengan menyelesaikan persamaan-persamaan ini, dapat
dibuktikan bahwa tiap-tiap atom menjadi sebuah entitas yang tunggal atau sebuah
titik dalam keadaan tertentu. Dengan kata lain, kondensasi Bose-Eintein
merupakan suatu distribusi statistik dari partikel-partikel boson yang sama dan tak
dapat dibedakan dengan tingkat-tingkat energi yang berbeda dalam keadaan
keseimbangan termal.
Untuk memahami kondensasi Bose-Eistein, perlu dipahami terlebih dahulu
tentang boson dan fermion. Elektron, proton, netron, dan quark adalah contohcontoh partikel fermion. Partikel-partikel ini memiliki spin tengahan (kelipatan
1/2). Partikel-partikel boson, di lain pihak, memiliki spin kelipatan bulat, yakni 0,
1, 2, . Sebuah keadaan terikat (bound state) yang terdiri dari dua buah partikel

10

fermion berperilaku seperti sebuah boson. Hal ini disebabkan spin dari dua
partikel fermion tersebut dapat saling menghapuskan jika saling berlawanan arah
,

,,

atau bertambah jika arahnya sama

. Kedua kasus ini akan

menghasilakn sebuah partikel boson. Namun demikian, suatu keadaan terikat dari
dua buah partikel boson tetaplah menjadi boson, karena bilangan bulat jika
ditambah atau dikurangkan akan menghasilkan bilangan bulat. Menurut prinsip
eksklusi Pauli, partikel-partikel fermion tidak boleh menempati ruang yang sama
(dengan bilangan kuantum yang persis sama), sedangkan partikel boson dapat
menempati ruang yang sama. Dengan demikian, dua buah elektron dengan arah
spin yang sama tidak dapat ditempatkan berdekatan, sedangkan dua partikel boson
dapat saling overlap.
Posisi dari sebuah materi, menurut teori medan, selalu tetap dalam suatu bagian
ruang. Namun demikian, dalam suatu keadaan tertentu dapat dihasilkan sebuah
keadaan, dimana tidak mungkin untuk membedakan posisi sebuah partikel relatif
terhadap partikel lainnya. Sebagai contohnya, semisalnya Anda dan seorang teman
Anda berpesiar ke sebuah bukit. Sesampainya, di bukit tersebut ternyata Anda dan
teman Anda adalah pendatang yang pertama. Anda kemudian menaiki bukit,
sedangkan teman Anda tetap di kaki bukit. Walaupun, teman Anda tak terlihat
dengan jelas (hanya kelihatan seperti titik), Anda yakin titik itu adalah teman
Anda (karena hanya ada satu orang yang berada di kaki bukit). Tetapi, jika
kemudian pengunjung semakin banyak berada di kaki bukit, maka Anda tidak
akan dapat lagi membedakan antara teman Anda dan pengunjung lainnya.
Kondensasi Bose-Einstein juga dapat diilustrasikan dengan perhitungan peluang
sederhana. Semisal terdapat dua partikel yang akan ditempatkan dalam dua ruang
(lihat Gambar 1).

Gambar 1: dua buah partikel (warna merah dan hijau) yang dimasukkan dalam
sebuah ruang yang disekat (persegi panjang warna biru).

11

Dimisalkan kedua partikel tersebut merupakan dua partikel fermion. Ada


berapa cara untuk memasukkan kedua partikel ke dalam dua tempat? Karena
partikel yang sama tidak boleh menepati ruang yang sama, maka terdapat empat
(4) cara untuk memasukkan kedua partikel dalam dua tempat di atas (lihat
Gambar 2).

Gambar 2: Empat cara untuk menempatkan dua buah partikel fermion ke


dalam dua ruang.
Menurut postulat fisika statistik, dalam keadaan setimbang, peluang terjadinya
salah satu keadaan (dari keempat keadaan) tersebut adalah sama, yaitu 1/4, atau
terdapat peluang sebesar 25% salah satu dari keempat keadaan di atas untuk
muncul. Selanjutnya, apa yang terjadi jika kedua partikel tersebut adalah boson?
Ada berapa cara untuk menempatkan dua partikel boson ke dalam dua tempat?
Semisal kedua.partikel boson tersebut berwarna merah, maka hanya terdapat tiga
cara untuk menempatkan kedua partikel boson ke dalam dua tempat (lihat Gambar
3).

Gambar 3:Tiga keadaan untuk menempatkan dua partikel boson ke dalam dua
tempat
Sebagaimana peluang partikel fermion, peluang untuk munculnya setiap
keadaan untuk partikel- partikel boson adalah 1/3. Hal ini berarti terdapat sekitar
33% untuk mendapatkan salah satu dari tiga
penempatan partikel-partikel boson.

keadaan yang mungkin dari

12

Lebih jauh lagi, dapat dibandingkan pula peluang untuk mendapatkan dua
partikel fermion ataupun dua partikel boson dalam ruang yang sama. Untuk
partikel fermion, ada dua cara (dari empat keadaan) untuk menempatkan dua
partikel fermion dalam satu ruang. Dengan demikian, besar peluangnya adalah
1/2. Sedangkan untuk partikel boson, terdapat dua cara dari tiga keadaan untuk
menempatkan dua partikel boson pada ruang yang sama. Hal ini berarti terdapat
peluang sebesar 2/3. Ternyata, peluang untuk menempatkan dua partikel boson di
satu tempat lebih besar daripada dua partikel fermion. Hal inilah yang
menandakan partikel boson cenderung untuk mengumpul.
Inilah yang terjadi pada kondensasi Bose-Einstein. Saat sejumlah jutaan
partikel berkondensasi, sebuah fase zat akan tercapai dimana identitas individual
tiap-tiap partikel tersebut hilang. Jikalau telah diusahakan untuk melabeli tiap-tiap
partikel, tetap tidak dapat dipilih sebuah partikel yang diinginkan dalam
kondensasi tersebut. Pada akhir tahun 2001, terdapat sekitar 36 laboratorium di
dunia yang dapat menghasilkan sebuah kondisi fisis untuk menghasilkan
kondensasi Bose-Einstein. Teori ini telah menghasilkan kemajuan dalam bidang
superkonduktor, superfluida atau perancangan chip computer yang berukuran
kecil. Sehingga, kondensasi Bose- Einstein dapat dikatakan sebagasi salah satu
keberhasilan abad keduapuluh.
1. Bose Einstein Condensate
Seluruh partikel yang ada di alam semesta ini, termasuk elektron, foton, proton,
neutron, muon, neutrino, dibagi kedalam dua kelompok besar yaitu fermion dan
boson. Boson adalah golongan partikel yang memiliki spin bilangan bulat,
sedangkan fermion adalah golongan partikel yang memiliki spin kelipatan
setengah (half integer spin). Jika kita menggabungkan beberapa fermion sehingga
didapatkan partikel baru dengan spin bilangan bulat, maka pertikel tersebut adalah
boson.
Seperti halnya manusia, boson senang bersama-sama atau dengan kata lain,
boson-boson dapat menempati keadaan kuantum yang sama. Bayangkan berkas
cahaya merah yang dihasilkan oleh laser He-Ne. Seluruh foton pada berkas
cahaya tersebut memiliki energi dan arah perambatan yang sama. Berbeda dengan
Boson, fermion justru berlaku sebaliknya. Tidak ada dua atau lebih fermion yang

13

menempati keadaan kuantum yang sama. Ingat kembali prinsip larangan Pauli dan
asas ketidakpastian Heisenberg.
Pada persamaan di bawah, dan T menunjukkan potensial kimia (energi yang
diperlukan untuk menambahkan 1 partikel ke dalam sistem) dan temperatur,
sedangkan ni menunjukkan jumlah rata-rata pertikel yang berada pada tingkat
energi ke-i dengan energi sebesar i.

Gambar 4. Grafik perbedaan energy pada suhu T

> T c dan T < Tc

Persamaan diatas sekilas tampak seperti persamaan distribusi Maxwell-Boltzman


kecuali adanya bilangan -1 pada bagian penyebut. Pada temperatur diatas
temperatur kritis tertentu, partikel-partikel akan menempati tingkat energi masingmasing. Ketika sistem kita dinginkan, partikel-partikel ini akan cenderung
menempati tingkat energi yang lebih rendah. Ketika temperatur ini cukup rendah,
atau nilainya lebih kecil dari temperatur kritis, seluruh partikel ini akan berada
pada tingkat energi paling rendah. Keadaan ini yang disebut Bose-Einstein
Condensate (BEC)
Seperti halnya foton, atom juga memiliki panjang gelombang dan momentum
tertentu yang besarnya dapat diketahui menggunakan persamaan de Broglie.

(17)

14

Hal ini terjadi karena adanya prinsip saling melengkapi (complementary


principle) antara gelombang dan partikel. Foton maupun elektron adalah partikel
sekaligus gelombang. Sampai saat ini, kita belum bisa mengamati kedua sifat ini
sekaligus. Pengukuran yang kita lakukan hanya akan memberi informasi
mengenai salah satu sifat partikel saja atau gelombang saja tergantung
eksperimen yang kita lakukan*
Ketika kita melakukan percobaan efek fotolistrik, maka kita dapat mengetahui
aspek partikel dari cahaya, sedangkan ketika kita melakukan percobaan celah
ganda Young, kita akan mendapati aspek gelombangnya. Tidak ada percobaan
yang dapat dilakukan untuk mengamati aspek partikel-gelombang cahaya
sekaligus. Bagaimanapun juga, alam seolah tidak ingin seluruh rahasianya
terungkap begitu saja dan menyisakannya sebagai misteri.
Ketika atom kita dinginkan, nilai panjang gelombang de Broglie mereka akan
semakin besar. Perbedaan antara atom yang satu dengan lainnya akan semakin
tidak jelas atau kabur (fuzzy). Pada gas yang terdiri dari kumpulan boson atau
katakanlah kumpulan atom identik, ketika temperatur semakin rendah, partikelpartikel ini akan cenderung saling mendekat satu sama lain, fungsi gelombang
masing-masing partikel akan saling tumpang tindih. Pada kondisi ini kita dapat
menyebut mereka mengalami "krisis identitas" karena kita tidak bisa membedakan
partikel yang satu dengan yang lainnya. Sekali lagi, kondisi inilah yang disebut
sebagai Kondensasi Bose-Einstein.

15

Gambar 5. Tahap kondensasi Bose Einstein


Salah satu contoh material BEC adalah helium cair. Pada keadaan transisi,
terjadi perubahan dimana helium cair biasa mulai berubah wujud menjadi wujud
lain yang disebut superfluid. Pada keadaan ini, viskositasnya menghilang dan
helium mulai berperilaku sebagai fluida kuantum.

Gambar 6. Diagram fasa universal materi


Diagram diatas disebut diagram fasa universal materi. Mengapa disebut
universal? Karena dengan diagram fasa tersebut kita dapat menjelaskan

16

mekanisme perubahan berbagai wujud zat yang kita kenal yaitu uap, padat, cair.
Pada kerapatan rendah dan temperatur tinggi, zat berbentuk uap. Pada kerapatan
tinggi dan temperatur rendah, zat akan berwujud padat atau cair (condensed
matter). Pada diagram fasa diatas terdapat suatu daerah terlarang atauforbidden
region. Disebut daerah terlarang karena tidak akan terdapat zat dalam wujud
apapun pada daerah ini. Pada kerapatan yang lebih tinggi, zat akan berwujud
padat atau cair, sedangkan pada temperatur yang lebih tinggi, zat akan berwujud
uap. Helium cair merupakan satu-satunya unsur yang bisa menjadi BEC dibawah
kondisi kesetimbangan termal.
Jika kita mengamati suatu zat padat, katakanlah tembaga, di bawah mikroskop
elektron, maka akan kita amati atom-atom tembaga yang tersusun secara berulang.
Kita dapat membedakan atom yang satu dengan yang lainnya, oleh karena itu, kita
tidak bisa memperoleh BEC dari zat padat. Seperti yang telah dijelaskan diatas,
atom-atom yang berwujud BEC tidak bisa dibedakan satu sama lainnya karena
mereka memiliki fungsi gelombang yang sama.
Untuk dapat mencapai daerah BEC, kita harus mulai dari fasa uap kemudian
dilanjutkan dengan melewati daerah terlarang. Katakanlah kita memiliki uap
yang berada pada kesetimbangan termal pada temperatur sekitar 200K. Jika uap
ini kita dinginkan secara perlahan, maka kita akan mendapati uap dengan
temperatur yang cukup rendah namun masih berwujud gas alih-alih cair. Untuk
dapat mencapai kondisi ini, diperlukan lingkungan yang amat steril*, hal ini untuk
mencegah terbentuknya butiran-butiran cairan. Pada kondisi ini, kita telah
mencapai daerah terlarang, dan gas yang kita miliki berada pada kondisi
metastable. Dikatakan metastable karena gas akan cenderung stabil jika tidak ada
pemicu untuk membentuk butir-butir cairan atau lapisan es.
Sebenarnya kita tidak dapat menciptakan suatu kondisi yang benar-benar steril.
Kondisi terbaik yang dapat dicapai adalah keadaan vakum, namun pada keadaan
vakumpun masih terdapat beberapa molekul atau atom persatuan volume ruang.
Usaha yang telah dilakukan para ilmuwan hingga ditemukannya Bose Einstein
Condensate

pertama

kali

pada

tahun

1995

adalah

mencapai

17

keadaan metastable ini, sebelum atom-atom tersebut "menyadari" bahwa apa yang
sebenarnya mereka inginkan adalah membentuk butiran cairan atau lapisan es.
Kita seolah-olah sedang menghipnotis atom-atom ini sehingga mereka
melupakan perilaku alamiah mereka dan bertindak sesuai yang kita inginkan.
Untuk menjaga kondisi metastable, kita harus mempertahankan kerapatan agar
rendah, sehingga three-body atomic collision* hampir tidak mungkin terjadi.
Disini kita bicara masalah peluang, karena memang tidak dapat kita pastikan jika
membicarakan dunia kuantum.
Three-body atomic collision: Kita dapat membayangkannya seperti berikut:
ketika dua buah atom saling bertumbukan, mereka tidak dapat bergabung
membentuk molekul karena mereka akan memantul satu sama lain (akibat
tumbukan lenting sempurna). Namun jika tiga buah atom saling bertumbukan, dua
dari mereka akan dapat bergabung membentuk molekul sementara atom ketiga
yang akan menyerap kelebihan energi yang dimiliki dua atom tersebut.

D. Super Foton
Foton adalah kuanta medan elektromagnetik. Foton adalah boson yang tidak
tetap, karena foton dapat dibuat dan diserap secara tunggal. Potensial kimia myu
kimia adalah nol.Ini berarti bahwa partikel dapat menghilang di ruang vakum.
Kecepatan foton sama dengan kecepatan cahaya sebesar c, maka hubungan energy
dengan momentum adalah :
=cp

.(18)

Dimana p adalah momentum. k adalah bilangan gelombang dan adalah


frekuensi sudut, sehingga :
p= k=

(19)

Rata-rata jumlah bagian foton dalam ruang dengan momentum p adalah


np =

1
e

cp1

(20)

18

tidak adanya potensial kimia membuat perhitungan termodinamika sangat


sederhana . rata-rata jumlah foton adalah
d3 p 1
N=2 n p =2V 3 cp1
h e
p

(21)

di mana V adalah volume sistem, dan faktor 2 berasal dari polarisasi . Kerapatan
foton adalah :

2
4 k
1

kT
n=
dk = 2 3 d =k
3
c
(2 ) 0
e 1 c 0
e 1

( )

(22)

Foton secara umum, kita mungkin mengenalnya sebagai paket energi diskret
(kuantum) gelombang elektromagnetik.
Berikut ini adalah sifat-sifat dasar foton yang telah diketahui:
a. foton tidak memiliki massa diam, sehingga bisa bergerak dengan laju cahaya
c,
b. foton memenuhi hubungan E = h, p = h/, dan E = pc. Meskipun tidak
memiliki massa diam, foton memiliki energi dan momentum, sehingga dapat
"bertumbukan" dengan partikel materi lain, contohnya electron
c. foton bahkan dapat dipengaruhi oleh gravitasi seperti halnya partikel-partikel
penyusun materi.
d. Kita dapat pula mendeskripsikan sebuah foton dari sudut pandang
kedudukannya dalam fisika. foton memperantarai gaya elektromagnetik
antara dua atau lebih partikel yang bermuatan; dalam sudut pandang ini dua
muatan listrik berinteraksi melalui mekanisme "pertukaran" foton. Pada kasus
ini, foton perantara ini adalah foton khayal/virtual yang sebenarnya hanya ada
dalam kerangka matematika rumusan fisika teoretik.
*Kajian fisika teoretik yang mempelajari interaksi materi dengan medan
elektromagnetik dalam kerangka relativitas khusus dan mekanika kuantum adalah
QED (Quantum electrodynamics). Teori ini lahir dari usaha Paul Dirac ketika
mencoba menjelaskan asal usul spin elektron dengan memadukan relativitas
khusus dan mekanika kuantum. Richard Feynmann, dalam bukunya berjudul

19

QED: The Strange Theory of Light and Matter amat bersemangat menjelaskan
teori yang telah lama digelutinya ini.

Gambar 7. Paul Dirac (kiri) dan Richard Feynmann (Kanan). Dua tokoh penting
dalam pengembangan teori QED
Mungkin salah satu dari sekian banyak pertanyaan kita mengenai hakekat
foton adalah: jika foton adalah partikel, maka apakah unsur penyusunnya? Jika
kita bayangkan sebuah atom, maka akan kita dapati adanya inti atom (nukleus)
dan elektron yang mengelilinginya. Inti atom tersusun atas proton dan neutron
yang disebut nukleon. Bahkan, saat ini telah diketahui bahwa proton dan neutron
tersusun atas partikel penyusun yang lebih fundamental lagi yang disebut quark.
Partikel tertentu seperti foton dan elektron pada hakikatnya adalah
sedemikian rupa sehingga kita percaya bahwa mereka berupa titik (berdimensi
0) yang sesungguhnya dalam pengertian matematika. Dengan kata lain, mereka
tidak memiliki ukuran fisik, dan mereka tidak dapat dibelah karena mereka tidak
memiliki unsur-unsur penyusun, selain dirinya sendiri. Partikel seperti ini disebut
partikel elementer.
Beberapa percobaan seperti yang menyangkut fenomena interferensi dan
difraksi, memperlihatkan bahwa radiasi elektromagnet berinteraksi seperti halnya
gelombang; percobaan lain misalnya efek fotolistrik memperlihatkan bahwa
radiasi elektromagnet berinteraksi layaknya kuantum partikel yang dikenal
sebagai foton.

20

Tentunya, penjelasan tentang partikel dan gelombang amatlah berbeda.


Keduanya merupakan dua entitas yang berlainan. Pertikel membawa energinya
sendiri. Energi ini terlokalisir di suatu tempat dimana partikel itu berada,
sedangkan energi sebuah gelombang tersebar merata pada seluruh muka
gelombangnya. Sebagai contoh, jika cahaya kita anggap sebagai partikel saja,
maka sulit bagi kita untuk menjelaskan pola interferensi yang terjadi seperti
halnya pada pecobaan celah ganda Young. Sebuah partikel hanya dapat melewati
salah satu celah; sedangkan bagi gelombang, ia dapat berpisah lalu melewati
kedua celah secara bersamaan untuk kemudian bergabung kembali.
Jika deskripsi gelombang dan partikel kita pandang valid, maka kita harus
menganggap bahwa cahaya yang dipancarkan sebuah sumber cahaya hanya
merambat sebagai gelombang atau sebagai partikel saja, tidak mungkin keduanya
secara bersamaan.
Andaikan kita menempatkan sumber cahaya ditengah, selanjutnya kita susun
peralatan percobaan celah ganda pada salah satu sisi sumber cahaya, dan
peralatan efek fotolistrik pada sisi yang lain. Cahaya yang dipancarkan menuju
celah ganda akan berperilaku sebagai sebuah gelombang, sedangkan yang
menuju pelat logam berperilaku sebagai pertikel.
Mari kita ulangi kembali percobaan diatas (dual experiment) kita tentang
cahaya ini tapi dengan menggunakan sumber cahaya yang berasal dari suatu
galaksi yang amat jauh, sehingga sumber tersebut telah merambat menuju kita
untuk jangka waktu yang kurang lebih sama dengan usia jagat raya (15 x
109 tahun). Tentu saja, jenis percobaan yang sedang kita lakukan ini tidak dapat
disinyalkan kembali ke sumbernya karena dalam jangka waktu itu kita punya
banyak waktu untuk mengganti perlatan celah ganda pada meja laboratorium
dengan peralatan efek fotolistrik.Namun demikian, kita dapati bahwa cahaya dari
galaksi yang sangat jauh tersebut nyatanya dapat menghasilkan interferensi celah
ganda dan juga efek fotolistrik
Akhirnya kita sampai pada kesimpulan berikut: Cahaya bukanlah gelombang
saja atau partikel saja; cahaya adalah partikel sekaligus gelombang dan ia hanya
memperlihatkan salah satu aspeknya, bergantung pada jenis percobaan yang kita

21

lakukan. Percobaan jenis-pertikel (efek fotolistrik) akan memperlihatkan hakikat


partikelnya, sedangkan percobaan jenis-gelombang (interferensi celah ganda),
memperlihatkan aspek gelombangnya.
Super foton adalah foton yang telah memadat yang disebabkan oleh kosentrasi
partikel cahaya yang sangat kuat. Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambah
jumlah foton di antara cermin dengan menggunakan laser untuk membangkitkan
larutan pigmen.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Proses merubah foton menjadi super Foton Sebagai Sumber Cahaya Baru
menggunakan laser cooling
Berkas laser yang merupakan kumpulan foton, selain membawa energi, juga
membawa momentum. Foton-foton ini jika bertumbukan dengan atom akan
menyebabkan atom mengalami akselerasi yang besarnya 10000 kali akselerasi
akibat gravitasi.Teknik ini dikenal dengan nama laser cooling.Teknik ini dapat
digunakan untuk mencapai kondisi BEC (Bose Einstein Condensate), kondisi
dimana kita harus mampu mencapai temperatur yang sangat rendah sambil
menjaga densitas tetap rendah.
Jika kita ingin mendinginkan suatu zat, maka yang harus kita lakukan adalah
memperlambat gerak atom-atom pada zat tersebut. Hal ini dapat dilakukan dengan
suatu teknik yang disebut laser cooling. Secara sederhana, berikut merupakan
prinsip kerja laser cooling: bayangkan kita memiliki suatu zat yang berwujud gas.
Gas tersebut terdiri dari atom-atom yang bergerak bebas kesana kemari. Lalu kita
ingin memperlambat laju satu buah atom yang sedang bergerak bebas tersebut.
Yang perlu kita lakukan adalah menyinari atom tersebut dari kedua sisi, kita sebut
sisi depan dan belakang. Misalkan atom tersebut bergerak ke depan, maka untuk
memperlambatnya, atom tersebut harus menyerap foton yang datang menuju atom
tersebut (dari sisi depan). Untuk lebih jelas mengenai laser cooling akan
dijelaskan di bawah. Teknik laser cooling adalah teknik ini mirip seperti yang
dilakukan pasukan anti huru-hara ketika menembakkan water canon untuk

22

mencoba menghalau para demonstran. Meskipun gak mirip-mirip amat, tapi


setidaknya mendekati lah.
Pertama-tama yang harus kita lakukan adalah mengatur (tuning) frekuensi
laser sedikit dibawah frekuensi resonansi absorpsi atom pada keadaan stasioner.
Atom yang bergerak menuju berkas laser akan melihat frekuensi laser tersebut
lebih tinggi (blue-shifted) akibat efek Doppler. Frekuensi ini kira-kira hampir
sama dengan frekuensi absorpsi atom sehingga kemungkinan besar atom tersebut
akan menyerap foton dari berkas laser tersebut. Sedangkan foton yang bergerak
berlawanan dengan arah gerak atom akan memiliki frekuensi yang lebih rendah
(red-shifted) sehingga probabilitasnya untuk diserap oleh atom kecil. Karena
terdapat lebih banyak atom yang menyerap berkas laser yang datang
mendekatinya maka atom-atom ini akan melambat dan temperaturnya pun akan
turun.
Jika kita menambahkan berkas laser ini pada beberapa arah lainnya seperti
pada gambar dibawah, maka efek yang didapat akan lebih besar dan atom akan
menjadi sangat dingin hingga mencapai temperatur 10 K dengan kerapatan
1011 atom per cm3. Nilai ini sesuai dengan nilai phase space density* sebesar 105

dalam satuan alam (natural unit).

B.
Gambar

8.

Berkas

laser

C.
yang

ditembakkan

pada

atom

Namun untuk dapat mencapai keadaan BEC, temperatur dan densitas rendah saja
tidaklah cukup. Atom-atom tersebut harus memiliki phase space density yang
bernilai 1.
Phase space (tanpa density) merupakan besaran yang menyatakan seluruh
keadaan (partikel) yang mungkin ada pada suatu sistem dalam dimensi ruang
tertentu. Phase space density menyatakan banyaknya keadaan yang dapat

23

ditempati pada suatu volume tertentu. Semakin besar nilainya, maka semakin
banyak keadaan yang menempati suatu volume tertentu.
Natural unit merupakan satuan dalam fisika yang diturunkan dari konstantakonstanta fisika universal seperti konstanta Planck, kecepatan cahaya, dan muatan
elektron. Penurunan satuan ini dilakukan dengan analisis dimensi.
Salah satu penyebab mengapa kita tidak dapat mencapai suhu yang lebih
dingin lagi dengan menggunakan teknik laser cooling yaitu akibat adanya gerak
Brownian. Karena berkas laser yang kita gunakan memiliki sifat partikel (kuanta),
maka ada batas kecepatan minimum yang dapat kita capai dengan menggunakan
teknik ini. Oleh karenanya, Kita tidak dapat benar-benar menghentikan atom dan
sampai pada suhu nol mutlak.
Meskipun kita masih belum mampu mencapai kondisi BEC, tapi setidaknya
kita sudah sampai setengah jalan berkat teknik pendinginan. Selanjutnya, kita
perlu menggunakan teknik lain untuk dapat mencapai suhu yang lebih dingin lagi.
Setelah mengalami pendinginan melalui teknik sebelumnya, pada akhirnya atomatom ini akan bergerak dengan laju beberapa cm/s saja. Sampai disini, kita dapat
menggunakan medan magnet lemah untuk dapat mengurung dan memperlambat
mereka lebih jauh lagi.
B. Analisis hubungan kondesat bose einstein dengan super foton (sebagai
sumber cahaya baru) menggunakan statistik Bose Einstein
Bose-Einstein kondensat adalah sebuah cara untuk mengumpulkan partikel
"boson" di tingkat "energi" terendah, hal ini dapat dilakukan dengan pendinginan
material di bawah suhu kritisnya. Bose-Einstein kondesat dapat terjadi jika
memenuhi syarat massa berada di daerah BEC, dan jumlah foton tetap. Namun,
foton tidak memiliki massa berada di daerah BEC dan jumlah foton berbeda
disebabkan foton yang terperangkap hanya akan diserap oleh apapun bahan
perangkap; itu sebabnya para ilmuwan tidak bisa membuat BEC dengan
mendinginkan

sebuah

foton

dalam

kotak

hitam

biasa.

Permasalahan di atas diatasi oleh tim di University of Bonn di Jerman.


Para fisikawan dari Universitas Bonn telah mengembangkan sumber cahaya
yang terbaru, disebut sebagai kondensat Bose-Einstein, di mana kandungannya

24

terdiri dari foton. Sebelumnya, hingga saat ini, para ahli menduga bahwa bose
Einstein kondesat dianggap tidak mungkin terjadi.
Secara potensial, metode ini mungkin cocok untuk perancangan laser yang
bekerja pada kisaran X-ray. Dan di antara aplikasi lainnya, ini bahkan bisa
digunakan untuk mengembangkan chip komputer yang lebih bertenaga. Para
ilmuwan melaporkan penemuan mereka ini dalam jurnal Nature. Dengan
mendinginkan

atom-atom

Rubidium

secara

mendalam

dan

mengkonsentrasikannya dalam jumlah yang cukup di dalam ruang padat,


mendadak atom-atom ini menjadi sulit dibedakan. Mereka berperilaku seperti
partikel super tunggal yang besar. Fisikawan menyebutnya sebagai kondensat
Bose-Einstein.
Untuk partikel cahaya, atau foton, seharusnya dapat terjadi bose Einstein
kondesat. Namun, gagasan ini menghadapi masalah mendasar. Ketika foton
mendingin, mereka lantas menghilang. Hingga beberapa bulan yang lalu,
tampaknya

mustahil

mendinginkan

cahaya

dengan

sekaligus

mengkonsentrasikannya pada waktu yang sama. Bagaimanapun juga, para ahli


fisika Bonn, Jan Klrs, Julian Schmitt, Dr Frank Vewinger, dan Profesor Dr
Martin Weitz telah berhasil melakukan hal ini.
1. Seberapa panas cahaya itu
Ketika kawat tungsten pada lampu bohlam dipanaskan, ia mulai bersinar
pertama merah, kemudian kuning, dan akhirnya kebiruan. Jadi, setiap warna
cahaya bisa memberikan sebuah temperatur formasi. Cahaya biru lebih hangat
dari cahaya merah, tapi sinar tungsten berbeda dengan besi. Inilah sebabnya
mengapa para ahli fisika menentukan temperatur warna berdasarkan pada obyek
model teoritis, disebut sebagai benda hitam. Jika benda ini dipanaskan dengan
suhu 5.500 derajat, ia akan memiliki warna yang hampir sama dengan sinar
matahari di siang hari. Dengan kata lain: cahaya siang hari memiliki suhu 5.500
derajat Celsius, tidak cukup hanya dengan 5.800 Kelvin (skala Kelvin tidak
diketahui nilai-nilai negatifnya, sebaliknya, ia dimulai dengan nol absolut atau

25

-273 derajat; akibatnya, nilai-nilai Kelvin selalu 273 derajat lebih tinggi dari nilai
Celcius yang berkaitan).
Ketika benda hitam mendingin, ia akan berada pada beberapa titik pancaran, tidak
lagi berada di dalam kisaran yang terlihat, melainkan hanya akan mengeluarkan
foton inframerah yang tidak terlihat. Pada saat yang sama, intensitas radiasinya
akan menurun. Jumlah foton menjadi lebih kecil karena suhunya menurun. Inilah
yang membuatnya sangat sulit memperoleh jumlah foton dingin yang diperlukan
agar kondensasi Bose-Einstein bisa terwujud.
Namun, para peneliti Bonn berhasil mewujudkannya dengan menggunakan
dua cermin yang sangat reflektif, yang mana di antara keduanya terus
memantulkan sinar maju-mundur. Di antara permukaannya yang reflektif, terdapat
pelarutan molekul-molekul pigmen dengan disertai penabrakan foton-foton secara
berkala. Dalam tabrakan ini, molekul menelan foton dan kemudian
meludahkan mereka kembali keluar. Selama proses ini, foton menyesuaikan
suhu larutan, jelas Profesor Weitz. Dengan cara ini, mereka saling
mendinginkan satu sama lain hingga mencapai temperatur ruang, dan mereka
melakukannya tanpa harus menghilang dalam proses tersebut.
2. Sebuah kondensat terbuat dari cahaya
Para fisikawan Bonn kemudian menambah jumlah foton di antara cermin
dengan menggunakan laser untuk membangkitkan larutan pigmen. Hal ini
memungkinkan mereka mengkonsentrasikan partikel cahaya

yang telah

mendingin. Konsentrasi ini dilakukan dengan begitu kuat sehingga mereka


memadat menjadi sebuah super-foton.
Fotonik kondensat Bose-Einstein ini merupakan sumber cahaya yang benarbenar baru, memiliki karakteristik yang menyerupai laser. Namun jika
dibandingkan dengan laser, fotonik ini memiliki sebuah keuntungan yang penting,
Untuk saat ini para ahli belum mampu membuat laser bergelombang pendek yang
sangat ringan yaitu yang terdapat di dalam UV atau kisaran X-ray. Dengan
fotonik kondensat Bose-Einstein, hal ini semestinya bisa dimungkinkan

26

Prospek ini terutama menjadi kabar gembira bagi para perancang chip. Mereka
menggunakan sinar laser untuk mengetsa sirkuit logis menjadi bahan
semikonduktor. Namun seberapa pun halusnya struktur-struktur ini, tetap masih
dibatasi dengan riak gelombang cahaya, ini satu masalah di antara faktor-faktor
lainnya. Laser riak gelombang panjang kurang cocok untuk pekerjaan presisi
dibandingkan riak gelombang pendek ini sama halnya jika Anda mencoba
menandatangani surat dengan cat kuas.
Radiasi X-ray memiliki riak gelombang yang lebih pendek daripada cahaya
tampak. Pada prinsipnya, laser X-ray seharusnya memungkinkan penerapan
sirkuit yang jauh lebih kompleks pada permukaan silikon yang sama. Hal ini akan
memungkinkan terciptanya chip generasi baru berkinerja tinggi dan sebagai
konsekuensinya, komputer menjadi lebih bertenaga bagi para pengguna akhir.
Proses

ini

juga

bisa

berguna

dalam

aplikasi

lainnya

seperti spectroscopy atau photovoltaic.


Penjelasan lanjutan mengenai kondesat bose Einstein pada fotonik dilakukan
Alex Kruchkov, seorang mahasiswa doktoral di Swiss Federal Institute of
Technology (EPFL), telah membangun model matematika kuantitatif pertama
untuk menjebak dan kondensasi cahaya dalam kondisi yang realistis.
Cahaya terdiri dari partikel kuantum kecil yang disebut foton . Salah satu sifat
yang paling spektakuler dari partikel kuantum adalah bahwa mereka dapat
menyingkat atau kehilangan identitas masing-masing dan berperilaku seperti klon
dari satu sama lain, menjadi gelombang raksasa tunggal yang disebut BoseEinsteincondensate (BEC).
Biasanya, hal itu terjadi pada temperatur yang sangat rendah - kurang dari
mikro-kelvin, atau sepersejuta derajat di atas nol mutlak. Tapi "salah satu hal yang
paling menarik tentang BEC cahaya adalah bahwa hal itu terjadi pada suhu
kamar," kata Henrik Ronnow dari EPFL, yang tidak mengambil bagian dalam
studi ini.
Bose Einstein Condensate mengandung partikel yng memiliki momentum
nol , ini dapat dijelaskan no dengan hubungan :

27

(23)
Sehingga
(24)

(25)
Hubungan persamaan diatas dapat dilihat pada gambar dibawah ini

Gambar 9. Fraksi kondensat, fraksi dari partikel dengan nol momentum

Gambar 10. Daerah dibawah garis lengkung sebanding dengan kerapatan partikel.
Dibawah transisi temperature, fungsi delta muncul pada saat momentum nol,
mewakili kontribusi condensate. Dan memberri kekuatan untuk meningkatkan T
menuju nol,dan hanya menyisakan fungsi delta

28

Jika ilmuwan bisa menciptakan gelombang ini menggunakan foton, bisa


memiliki aplikasi yang signifikan dalam laser dan teknologi panel surya.
Meskipun Albert Einstein diperkirakan BEC untuk partikel besar pada tahun
1924, untuk waktu yang lama para ilmuwan dianggap tidak mungkin untuk
membuat BEC terbuat dari cahaya, karena foton tidak memiliki massa, yang
merupakan persyaratan utama untuk kondensat Bose-Einstein.
3. Cahaya di ujung terowongan
Pada tahun 2010, empat fisikawan dari Universitas Bonn di Jerman ternyata
asumsi ini di atas kepalanya. Para ilmuwan -Jan Klaers, Julian Schmitt, Frank
Vewinger dan Martin Weitz - foton berhasil kental dalam mikro-rongga terbuat
dari dua permukaan cermin diposisikan dekat satu sama lain. Sebuah foton
terperangkap dalam rongga tersebut berperilaku seolah-olah itu massa; dengan
kata lain, rongga menciptakan "menjebak potensial," menjaga foton dari
melarikan diri.
Namun, untuk memverifikasi temuan ilmiah, harus dimungkinkan bagi orang
lain untuk mereproduksi eksperimen. Empat tahun setelah 2010 sukses, meskipun,
tidak ada yang belum mampu melakukannya untuk hasil mikro-rongga, kata
Kruchkov.
"Pemahaman kondensasi foton adalah seperti cahaya di ujung terowongan.
Eksperimentalis sedang menunggu untuk beberapa model sederhana namun
efektif, yang mengandung 'resep' untuk 'memasak' kondensat ringan," katanya.
Jadi Kruchkov menciptakan resep. Menggunakan matematika dan membangun
model-model sebelumnya, fisikawan mengembangkan model teoritis untuk
kondensasi cahaya dalam ruang tiga-dimensi dan dalam kondisi yang realistis.
"Selain itu, saya menunjukkan bahwa energi cahaya dapat terakumulasi dalam
keadaan kental foton," katanya.Peneliti mengatakan modelnya foton kondensasi
menjelaskan pengukuran eksperimental sangat baik - menunjukkan bahwa foton

29

memang bisa ditangkap dalam kondensat Bose-Einstein , dan pada suhu kamar
dan tekanan.
"Sekarang, itu sebenarnya mungkin untuk memprediksi perilaku sistem untuk
kondisi eksperimental lainnya. Ini juga menjelaskan reaksi suhu setup
eksperimental," katanya. "Saya menampilkan semua tahapan proses yang kita
perlu tahu untuk mereproduksi percobaan ini. "Jadi pada prinsipnya, jika Anda
tahu bagaimana menangani laser tanpa menyakiti diri sendiri, Anda dapat
melakukan percobaan bahkan di halaman belakang Anda," tambahnya.
Fisikawan Sergiy Katrych, juga di EPFL tetapi tidak terlibat dalam penelitian
ini, mengatakan penelitian itu penting terutama kondensat Bose-Einstein foton
akan mewakili keadaan yang terbaru dari cahaya. "Dalam beberapa hal, BEC
cahaya adalah jembatan antara cahaya dan materi.

30

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan yang telah ditulis dalam makalah ini, maka dapat
disimpulkan bahwa :
1. Boson adalah zarah berspin bulat sehingga tidak mematuhi asas larangan
Pauli sehingga satu tingkat energi dapat ditempati oleh sistem dalam jumlah
berapa pun. Sifat Dasar Boson Sifat sistem sub atomik yang tidak dapat
dibedakan dapat dipahami dari konsep gelombang sistem.
2. Statistika Bose-Einstein menentukan distribusi statistik bagi boson pada
berbagai tingkat energi di dalam kesetimbangn termal .Statistik Bose-Einstein
merupakan konfigurasi boson statistik untuk menurunkan boson. Distribusi
statistik untuk boson berlaku pada suatu sistem yang momentum sudutnya
merupakan kelipatan bilangan bulat dari

h / 2

dan juga tidak memenuhi

larangan Pauli.
3. Kondensasi Bose-Einstein adalah kondisi dimana kita tidak bisa membedakan
partikel yang satu dengan yang lainnya . Pada gas yang terdiri dari kumpulan
boson atau katakanlah kumpulan atom identik, ketika temperatur semakin
rendah, partikel-partikel ini akan cenderung saling mendekat satu sama lain,
fungsi gelombang masing-masing partikel akan saling tumpang tindih. Pada
kondisi ini kita dapat menyebut mereka mengalami "krisis identitas" karena
kita tidak bisa membedakan partikel yang satu dengan yang lainnya. Cairan
yang dihasilkan pada kondensasi Bose-Einstein disebut dengan Bose Einstein
Condensate.
4. Super foton adalah foton yang telah memadat yang disebabkan oleh
kosentrasi partikel cahaya yang sangat kuat. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara menambah jumlah foton di antara cermin dengan menggunakan laser
untuk membangkitkan larutan pigmen.
5. Para fisikawan dari Universitas Bonn telah mengembangkan sumber cahaya
yang

terbaru,

disebut

sebagai

kondensat

Bose-Einstein,

di

mana

31

kandungannya terdiri dari foton. Bose-Einstein kondensat adalah sebuah cara


untuk mengumpulkan partikel "boson" di tingkat "energi" terendah, hal ini
dapat dilakukan dengan pendinginan material di bawah suhu kritisnya.
B. Saran
Dalam penulisan makalah ini tentulah terdapat banyak kekurangankerurangan baik dari segi penulisan maupun kelengkapan sumber referensi. Oleh
karena itu sangat diharapkan sekali saran pembaca demi kesempurnaan makalah
ini.

32

DAFTAR PUSTAKA
Anonim.2010.Kondesat Bose Einstein Fisikawan Menciptakan Super Foton
sebagai
Sumber
Cahaya
Baru.
http://www.faktailmiah.com/2010/11/29/kondensat-bose-einstein-fisikawanmenciptakan-super-foton-sebagai-sumber-cahaya-baru.html (diakses tanggal
12 Juni 2016)
Anonim.2014. Negara baru Cahaya Terungkap dengan Photon-Trapping
Metode.https://translate.googleusercontent.com/translate_c?
depth=1&hl=id&prev=search&rurl=translate.google.co.id&sl=en&u=http://w
ww.livescience.com/45287-how-to-traplight.html&usg=ALkJrhhRj5QyC3ebs5G5yE4OJumP1Jx7nQ#sthash.5MRSe
rLV.dpuf (diakses tanggal 12 Juni 2016)
Claudio Angione,dkk.2013.Jurnal BoseEinstein condensation in satisfiability
problems. European Journal of Operational Research.Volume 227 Page 44
54: Elservier
Don Reed.2012. Jurnal Bose-Einstein Condensate-Hidden Riches for New forms
of Technology and Energy Generation; Potential For Glimpse into Inner
Reality. Physics Procedia.Volume 38 .Halaman 136 149: Elservier
Huang, Kerson.1963. Introduction to Statistical Physics. Massaschussetts Institue
of Technology.
Mikrajuddin, Abdullah.2008.Pengantar Fisika Statistik.ITB:Bandung
Roger R. Sakhel.2015. On the phase-correlation and phase-fluctuation dynamics
of a strongly excited Bose gas.Physic B.Page 68-75. Elservier
Wipsar._______.Kondensasi Bose Einstein.Laboratorium Fisika Teori dan
Komputasi: UNY
Wiryawan.
2015
.
Bose
Einstein
Condensate
.
http://wiryawangpblog.blogspot.co.id/2015/10/bose-einstein-condensate-bagii-jalan.html (diakses tanggal 12 Juni 2016)
Wiryawan.
2015
.
Apa
itu
foton
.
http://wiryawangpblog.blogspot.co.id/2015/06/apa-itu-foton.html
(diakses
tanggal 12 Juni 2016)