Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGAN ABORTUS INKOMPLIT


DI RUANG NIFAS RSD DR SOEBANDI JEMBER

DISUSUN OLEH:
GUNADI
1601031001

PROGRAM STUDI PROFESI NERS


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2016

A. DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi pada usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram,
sebelum janin mampu hidup diluar kandungan (Nugroho,2010)
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup di luar kandungan, sedangkan abortus inkomplit adalah
sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri dan masih ada yang
tertinggal (Manuaba, 2008).
Abortus inkomplit adalah dimana sebagian jaringan hasil konsepsi
masih tertinggal di dalam uterus dimana pada pemeriksaan vagina, kanalis
servikalis masih terbuka dan teraba jaringan dalam kavum uteri atau
menonjol pada ostium uteri eksternum, perdarahannya masih terjadi dan
jumlahnya bisa banyak atau sedikit bergantung pada jaringan yang tersisa,
yang menyebabkan sebagian placental site masih terbuka sehingga
perdarahan berjalan terus (Saifuddin, 2002).
B. ETIOLOGI
Abortus inkomplit merupakan salah satu abortus spontan, banyak
faktor penyebab terjadinya abortus spontan.
Penyebab abortus spontan (Manuaba,2009) :
a) Faktor genetic
1. Kelainan kromosom
Kelainan kromosom yang sering ditemukan pada abortus spontan
adalah trisomi, monosomi, triploid/tetraploid
2. Abortus dua kali karena kelainan kromosom terjadi 80%
3. Sindrom Ehlers Danlos
Yaitu suatu keadaan membran endometrium sangat rapuh sehingga
mudah ruptur atau pecah (rupture membrane abortus spontan)

b) Faktor hormonal
1. Defisiensi luetal
2. Abortus berulang karena faktor hormonal sekitar 35 50%
3. gangguan kelenjar tyroid

c) Kelainan anatomi uterus


1. Sub mukosa mioma uteri
2. Kelainan kongenital uterus seperti, septum, uterus arkuatus
yang berat, terdapat polip uteri
3. Serviks inkompeten
d) Faktor infeksi genitalia interna
1. Toxoplasmosis
2. Sitomegalovirus
3. Rubela
4. Herpes simpleks
5. Infeksi endometrium (klamidia, toksoplasmosis, mycoplasma
e)
f)
g)

h)

hominis
Intoksikasi agen eksternal
1. Intoksikasi bahan anestesi
2. Kecanduan (alkohol. Perokok, agen lainnya)
Postur ibu hamil
1. Kurus, BB kurang dari 40 kg
2. Gemuk, BB diatas 80 kg
Faktor paternal
1. Hiperspermatozoa, jumlah sperma lebih dari 250 juta
2. Oligospermatozoa, jumlah sperma kurang dari 20 juta
3. Prinsipnya kekurangan DNA
Faktor imunologis
1. Faktor alloimmune
Penolakan maternal terhadap hasil konsepsi

yang

mengadakan implantasi
Jika tipe homolog HLA atau antipaternal antibody tinggi,
akan berlangsung abortus
Kehamilan dipertahankan oleh komponen :
o Lokal autoimmune reaksi sehingga

menetralkan

antipaternal antibody yang dijumpai pada sebagian ibu


hamil
2. Faktor hormonal dari plasenta yaitu human chorionic
gonadotropin dan progesterone
3. Faktor antibody autoimun, terutama :
Antibody antiphosfolipid :
o Menimbulkan thrombosis, infrak plasenta, perdarahan
o Gangguan sirkulasi dan nutrisi menuju janin dan
diikuti abortus
o Antibody anticardiolipin, dalam lupus anticoagulant
(LAC)

o Menghalangi terbentuknya jantung janin sehingga akan


menyebabkan abortus.
C. MANIFESTASI KLINIS
a) Nyeri hebat
b) Perdarahan banyak
c) Sudah terjadi abortus dengan mengeluarkan jaringan tetapi sebagian
masih berada di dalam uterus
d) Pemeriksaan dalam :
a. Servik masih membuka, mungkin teraba jaringan sisa
b. Perdarahan mungkin bertambah setelah pemeriksaan dalam
e) Pembesaran uterus sesuai usia kehamilan
f) Tes kehamilan mungkin masih positif akan tetapi kehamilan tidak
dapat dipertahankan.

D. PATOFISIOLOGI
Pada awal abortus terjadi perdarahan dalam desidua basalis
kemudian diikuti oleh nekrosis jaringan sekitarnya. Hal tersebut
menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian atau seluruhnya, sehingga
merupakan benda asing dalam uterus. Keadaan ini menyebabkan uterus
berkontraksi untuk mengeluarkan isinya. Pada kehamilan kurang dari 8
minggu hasil konsepsi itu biasanya dikeluarkan seluruhnya karena villi
korialis belum menembus desidua secara mendalam. Pada kehamilan
antara 8 sampai 14 minggu villi korialis menembus desidua lebih dalam,
sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang dapat
menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan 14 minggu keatas
umumnya yang dikeluarkan setelah ketuban pecah ialah janin, disusul
beberapa waktu kemudian plasenta. Perdarahan tidak banyak jika plasenta
segera terlepas dengan lengkap. Peristiwa abortus ini menyerupai
persalinan dalam bentuk miniature.
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk. Ada
kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda kecil
tanpa bentuk yang jelas dan mungkin pula janin telah mati lama. Apabila

mudigah yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu yang cepat maka ia
dapat diliputi oleh lapisan bekuan darah, isi uterus dinamakan mola
kruenta. Bentuk ini menjadi mola karnosa apaila pigmen darah telah
diserap dan dalam sisanya terjadi organisasi sehingga semuanya tampak
seperti daging. Bentuk lain adalah mola tuberose, dalam hal ini amnion
tampak berbenjol benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan
korion.
Pada janin yang telah meninggal dan tidak dikeluarkan dapat
terjadi proses mumifikasi diamana janin mengering dan karena cairan
amnion berkurang maka ia jadi gepeng (fetus kompressus). Dalam tingkat
lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus papiraseus)
Kemungkinan lain pada janin mati yang tidak segera dikeluarkan
adalah terjadinya maserasi, kulit terkupas, tengkorak menjadi lembek,
perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna kemerah
merahan dan dapat menyebabkan infeksi pada ibu apabila perdarahan yang
terjadi sudah berlangsung lama. (Prawirohardjo,2005)

E. PHATWAY

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan kadar Hb, golongan darah dan uji padanan silang
(crossmatch)
1. Bila terdapat tanda tanda sepsis, berikan antibiotic yang sesuai
2. Temukan dan hentikan segera sumber perdarahan
3. Lakukan pemantauan ketat tentang kondisi pasca tindakan dan
perkembangan lanjut
(Prawirohardjo,2006)
G. TERAPI DAN PENGOBATAN
Penanganan umum :
1. Lakukan penilaian awal untuk menentukan kondisi pasien (gawat
darurat, komplikasi berat atau masih cukup stabil)
2. Pada kondisi gawat darurat, segera upayakan stabilisasi pasien
sebelum melakukan tindakan lanjutan (yindakan medic atau rujukan)
3. Penilaian medic untuk menentukan kelaikan tindakan di fasilitas
kesehatan setempat atau dirujuk kerumah sakit.
Bila pasien syok atau kondisinya memburuk akibat perdarahan

hebat segera atasi komplikasi tersebut


Gunakan jarum infuse besar (16G atau lebih besar) dan berikan
tetesan cepat (500 ml dalam 2 jam pertama) larutan garam
fisiologis atau Ringer

Penatalaksanaan berdasarkan jenis abortus (abortus inkomplitus)


1. Bila disertai syok karena perdarahan segera pasang infuse dengan
cairan NaCl fisiologis atau cairan Ringer Laktat, bila perlu disusul
dengan transfuse darah
2. Setelah syok teratasi, lakukan kerokan
3. Pasca tindakan berikan injeksi metal ergometrin maleat intra muscular
untuk mempertahankam kontraksi otot uterus
4. Perhatikan adanya tanda tanda infeksi
5. Bila tak ada tanda tanda infeksi berikan antibiotika prifilaksis
(ampisilin 500 mg oral atau doksisiklin 100 mg)
6. Bila terjadi infeksi beri ampisilin I g dan metronidazol 500 mg setiap 8
jam
(Prawirohardjo,2006)

H. ASUHAN KEPERAWATAN
I.
Pengkajian
1. Identitas Klien
2. Riwayat Obstetri
a) Riwayat menstruasi
Menarche
Siklus
Lama
Banyak
Warna
Bau
Flour albous
HPHT
Disminorhe
b) Riwayat kehamilan
c) Riwayat kehamilan sekarang
-

HPL

ANC

Keluhan

TT

d) Riwayat kontrasepsi
3.

Riwayat persalinan

4.

Aktivitas/Latihan
a) Nutrisi
Se
bel
um
ha
mil
Selama hamil
b)
Eliminasi
Sebelum hamil
Selama hamil
c)
Istirahat

Sebelum hamil
Selama hamil
d)

Aktifitas

Sebelum hamil
Selama hamil
e)
Pola hubungan sexualitas
Sebelum hamil
Selama hamil
f)

Personal hygiene

5.

Sebelum hamil
Selama hamil
Riwayat psikososial

6.

Sirkulasi

7.

Data spiritual
II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan Volume cairan b/d Perdarahan pervagina
sekunder akibat Abortus incomplete Gangguan Aktivitas
b.d kelemahan, penurunan sirkulasi
2. Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d kerusakan jaringan intrauteri
3. Resiko tinggi Infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab
4. Cemas b.d kurang pengetahuan

III.

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kekurangan Volume cairan b/d Perdarahan pervagina
sekunder akibat Abortus incomplete Tujuan :
volume cairan, seimbang antara intake dan output baik
jumlah maupun kualitas.
Intervensi :
a. Kaji kondisi status hemodinamika
R : Pengeluaran cairan pervaginal sebagai akibat
abortus memiliki karekteristik bervariasi
b. Ukur pengeluaran harian
R : Jumlah cairan ditentukan dari jumlah kebutuhan
harian ditambah dengan jumlah cairan yang hilang
pervaginal
c. Berikan sejumlah cairan pengganti harian
R : Tranfusi mungkin diperlukan pada kondisi
perdarahan masif

d. Evaluasi status hemodinamika


R : Penilaian dapat dilakukan secara harian melalui
pemeriksaan fisik
2. Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d Kerusakan jaringan
intrauteri
Tujuan :
Klien dapat beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi :
a. Kaji kondisi nyeri yang dialami klien
R : Pengukuran nilai ambang nyeri dapat dilakukan
dengan skala maupun dsekripsi.
b. Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya
R : Meningkatkan koping klien dalam melakukan
guidance mengatasi nyeri
c. Kolaborasi pemberian analgetika
R : Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan
dengan pemberian analgetika oral maupun sistemik
dalam spectrum luas/spesifik
3. Resiko tinggi Infeksi b.d perdarahan, kondisi vulva lembab
Tujuan :
Tidak terjadi infeksi selama perawatan perdarahan
Intervensi :
a. Kaji kondisi keluaran/dischart yang keluar ; jumlah,
warna, dan bau
R : Perubahan yang terjadi pada dishart dikaji setiap
saat dischart keluar. Adanya warna yang lebih gelap
disertai bau tidak enak mungkin merupakan tanda
infeksi
b. Terangkan pada klien pentingnya perawatan vulva
selama masa perdarahan
R : Infeksi dapat timbul akibat kurangnya kebersihan
genital yang lebih luar
c. Lakukan pemeriksaan biakan pada dischart
R : Berbagai kuman dapat teridentifikasi melalui
dischart
d. Lakukan perawatan vulva
R :Inkubasi kuman pada area genital yang relatif cepat
dapat menyebabkan infeksi.
e. Terangkan pada klien cara mengidentifikasi tanda
inveksi
R : Berbagai manivestasi klinik dapat menjadi tanda
nonspesifik infeksi; demam dan peningkatan rasa nyeri
mungkin merupakan gejala infeksi
f. Anjurkan pada suami untuk
tidak melakukan
hubungan senggama se;ama masa perdarahan

R : Pengertian pada keluarga sangat penting artinya


untuk kebaikan ibu; senggama dalam kondisi
perdarahan dapat memperburuk kondisi system
reproduksi ibu dan sekaligus meningkatkan resiko
infeksi pada pasangan.
4. Cemas b.d kurang pengetahuan
Tujuan :
Tidak terjadi kecemasan, pengetahuan klien dan keluarga
terhadap penyakit meningkat
Intervensi :
a. Kaji tingkat pengetahuan/persepsi klien dan keluarga
terhadap penyakit
R : Ketidaktahuan dapat menjadi dasar peningkatan rasa
cemas
b. Kaji derajat kecemasan yang dialami klien
R : Kecemasan yang tinggi dapat menyebabkan
penurunan penialaian objektif klien tentang penyakit
c. Bantu klien mengidentifikasi penyebab kecemasan
R : Pelibatan klien secara aktif dalam tindakan
keperawatan merupakan support yang mungkin berguna
bagi klien dan meningkatkan kesadaran diri klien
d. Asistensi klien menentukan tujuan perawatan bersama
R : Peningkatan nilai objektif terhadap masalah
berkontibusi menurunkan kecemasan
e. Terangkan hal-hal seputar aborsi yang perlu diketahui
oleh klien dan keluarga
R : Konseling bagi klien sangat diperlukan bagi klien
untuk meningkatkan pengetahuan dan membangun
support system keluarga; untuk mengurangi kecemasan
klien dan keluarga.

IV.

EVALUASI
Pada tahap

akhir

dari

proses

keperawatan

adalah

mengevaluasi respon pasien terhadap yang diberikan untuk


memastikan bahwa hasil yang diharapkan telah dicapai.
Evaluasi yang merupakan proses terus-menerus, diperlukan
untuk menentukan seberapa baik rencana perawatan yang
dilaksanakan.
Evaluasi merupakan proses yang interaktif dan kontinu,
karena setiap tindakan keperawatan dilakukan, respon pasien

dicatat dan evaluasi dalam hubungannya dnegan hasil yang


diharapkan kemudian berdasarkan respon pasien, revisi
intervensi keperawatan/hasil pasien yang mungkin diperlukan.
Pada tahap evaluasi mengacu pada tujuan yang telah
ditetapkan.

DAFTAR PUSTAKA
JNPK _KR. 2008. Pelayanan obsetri dan neonatal emergensi dasar
(PONED)
Kusmiyati, Dkk. 2009. Perawatan ibu hamil. Yogjakarta : Fitramaya
Nugroho, taufan. 2010. Buku ajar obstetric. Yogjakarta : Nuha Medika
Manuaba. 2007. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : Buku Kedokteran
EGC
PPKC. 2002. Pelatihan manajemen asuhan kebidanan. Jakarta
Prawirohardjo, S. 2006. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta :

Yayasan Bina Pustaka