Anda di halaman 1dari 18

HAK ASASI MANUSIA

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan yang dibimbing oleh Tauhid
Hudmi, M. Soc., Sc.

Oleh:
Neng Nur Hanipah (41302090)
Mutia Zahra (41302085)

PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH


SEKOLAH TINGGI EKONOMI ISLAM (STEI) SEBI
1437H/2016M

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, tiada sanjungan dan pujian yang berhak diucapkan selain hanya
kepada Allah SWT, Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang telah menganugerahkan
berbagai nikmat tiada terhitung bagi setiap makhluk-Nya untuk senantiasa selalu
mensyukurinya dengan cara tunduk dan patuh pada setiap syariat-Nya.
Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad
sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Kepada keluarga, para sahabat, tabiin dan tabiut
tabiinnya, serta kepada kita selaku umatnya.
Dalam penyusunan makalah ini, banyak hambatan dan kesulitan yang kami hadapi.
Namun Allah berjanji dalam firman-Nya bahwa ia akan mengikut sertakan berbagai
kemudahan di balik kesulitan, dan Dia tidak akan membebankan suatu urusan di luar
kemampuan hamba-Nya. Alhasil, alhamdulillah kami mampu menyelesaikan makalah ini.
Hal ini tak lain adalah berkat bantuan, bimbingan, dan arahan dari dosen dan rekan-rekan
kami sehingga berbagai masalah yang kami hadapi dapat teratasi.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Kewarganegaraan yang dibimbing
oleh Tauhid Hudmi, M. Soc., Sc. Selain itu, penyusunan makalah ini bertujuan agar pembaca
dapat memperluas ilmu mengenai Iaarah yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber informasi dan referensi.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada para pembaca. Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Baik dari susunan kata, bahasa, maupun informasi yang kami berikan
masih banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami
harapkan.

Penulis
Depok, November 2016

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................. 2
DAFTAR ISI............................................................................................................. 3
BAB I

PENDAHULUAN.......................................................................................... 4

1.1

Latar Belakang Masalah............................................................................ 4

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................... 4

1.3

Tujuan Penulisan........................................................................................ 4

BAB II

PEMBAHASAN............................................................................................ 5

2.1

Pengertian Hak Asasi Manusia..................................................................5

2.2

Tujuan Hak Asasi Manusia.........................................................................5

2.3

Perkembangan Pemikiran HAM.................................................................5

2.4

HAM pada Tatanan Global dan di Indonesia..............................................7

2.5

HAM di Indonesia, Permasalahan, dan Penegakkannya............................8

2.6

Lembaga Penegak HAM............................................................................. 9

2.6.1

Komnas HAM....................................................................................... 9

2.6.2

Pengadilan HAM................................................................................ 10

2.6.3

Partisipasi Masyarakat......................................................................11

2.7

Pengembangan Pendidikan HAM.............................................................11

2.8

HAM dalam Islam.................................................................................... 12

2.8.1
2.9

Karakteristik HAM versi Syariat Islam...............................................12

Studi Kasus............................................................................................. 13

BAB III PENUTUPAN............................................................................................. 15


3.1

Kesimpulan.............................................................................................. 15

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16

BAB I PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Hak merupakan unsur normatif yang melekat pada diri setiap manusia yang dalam
penerapannya berada pada ruang lingkup hak persamaan dan hak kebebasan yang terkait
dengan interaksinya antara individu atau dengan instansi. Hak juga merupakan sesuatu yang
harus diperoleh. Masalah HAM adalah sesuatu hal yang sering kali dibicarakan dan dibahas
terutama dalam era reformasi ini. HAM lebih dijunjung tinggi dan lebih diperhatikan dalam
era reformasi dari pada era sebelum reformasi. Perlu diingat bahwa dalam hal pemenuhan
hak, kita hidup tidak sendiri dan kita hidup bersosialisasi dengan orang lain. Jangan sampai
kita melakukan pelanggaran HAM terhadap orang lain dalam usaha perolehan atau
pemenuhan HAM pada diri kita sendiri. Dalam hal ini penulis merasa tertarik untuk membuat
makalah tentang HAM. Maka dengan ini penulis mengambil judul Hak Asasi Manusia.
Secara teoritis Hak Asasi Manusia adalah hak yang melekat pada diri manusia yang
bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga,
dan dilindungi. hakikat Hak Asasi Manusia sendiri adalah merupakan upaya menjaga
keselamatan eksistensi manusia secara utuh melalui aksi keseimbangan antara kepentingan
perseorangan dengan kepentingan umum. Begitu juga upaya menghormati, melindungi, dan
menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia menjadi kewajiban dan tangung jawab bersama antara
individu, pemeritah (Aparatur Pemerintahan baik Sipil maupun Militer), dan negara.
Berdasarkan beberapa rumusan hak asasi manusia di atas, dapat ditarik kesimpulan
tentang beberapa sisi pokok hakikat hak asasi manusia, yaitu :
1. HAM tidak perlu diberikan, dibeli ataupun di warisi, HAM adalah bagian dari
manusia secara otomatis.
2. HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis kelamin, ras, agama, etnis,
pandangan politik atau asal usul sosial, dan bangsa.
3. HAM tidak bisa dilanggar, tidak seorangpun mempunyai hak untuk membatasi atau
melanggar hak orang lain. Orang tetap mempunyai HAM walaupun sebuah negara
membuat hukum yang tidak melindungi atau melanggar HAM.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, maka rumusan
masalah yang dapat diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana HAM di Indonesia?
2. Bagaimana HAM menurut pandangan Islam?

3. Bagaimana contoh pelanggaran HAM dan penyelesaiannya?


I.3 Tujuan Penulisan
Dengan rumusan masalah di atas, maka penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1. Untuk mengetahui bagaimana HAM di Indonesia.
2. Untuk mengetahui bagaimana HAM menurut pandangan Islam.
3. Untuk mengetahui contoh pelanggaran HAM yang terjadi dan penyelesaiannya.
BAB II
II.1

PEMBAHASAN
Pengertian Hak Asasi Manusia

Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan
keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya
yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan
setiap orang demi kehormatan, serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Hak Asasi
Manusia (HAM) merupakan suatu hak dasar yang secara kodrati melekat pada diri manusia
yang bersifat universal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dihormati,
dipertahankan, dan tidak boleh diabaikan, dikurangi, atau dirampas oleh siapa pun.
Menurut (Tilaar, 2001) Hak Asasi Manusia adalah hak-hak yang melekat pada diri
manusia, dan tanpa hak-hak itu manusia tidak dapat hidup layak sebagai manusia. Hak
tersebut diperoleh bersama dengan kehadirannya di dalam kehidupan masyarakat.
II.2

Tujuan Hak Asasi Manusia

Tujuan pelaksanaan hak asasi manusia adalah untuk mempertahankan hak-hak warga
negara dari tindakan sewenang-wenang aparat negara, dan mendorong tumbuh kembangnya
pribadi manusia yang multidimensional
II.3

Perkembangan Pemikiran HAM

Secara garis besar menurut Prof. Dr. Bagir Manan, dalam bukunya Perkembangan
Pemikiran dan Pengaturan HAM di Indonesia (2001), membagi perkembangan pemikiran
HAM dalam dua periode, yaitu periode sebelum kemerdekaan (1908-1945) dan periode
setelah kemerdekaan (1945-sekarang).
a. Periode Sebelum Kemerdekaan (1908-1945)
Perkembangan pemikiran HAM dalam periode ini dapat dijumpai dalam organisasi
pergerakan sebagai berikut:
1) Budi Utomo, pemikirannya Hak kebebasan berserikat dan mengeluarkan pendapat.
5

2) Perhimpunan Indonesia, pemikirannya Hak untuk menentukan nasib sendiri (the


right of self determination).
3) Serikat Islam, pemikirannya Hak penghidupan yang layak dan bebas dari penindasan
dan diskriminasi rasial.
4) Partai Komunis Indonesia, pemikirannya Hak sosial dan berkaitan dengan alat-alat
produksi.
5) Indische Party, pemikirannya Hak untuk mendapatkan kemerdekaan dan perlakuan
yang sama.
6) Partai Nasional Indonesia, pemikirannya Hak untuk memperoleh kemerdekaan (the
right of self determination)
7) Organisasi Pendidikan Nasional Indonesia, pemikirannya meliputi:
a. Hak untuk menentukan nasib sendiri.
b. Hak untuk mengeluarkan pendapat.
c. Hak untuk berserikat dan berkumpul.
d. Hak persamaan di muka hukum.
e. Hak untuk turut dalam penyelenggaraan negara.
b. Periode Sesudah Kemerdekaan (1945-sekarang)
1) Periode 1945-1950. Pemikiran HAM pada periode ini menekankan pada hak-hak
mengenai:
a. Hak untuk merdeka (self determination).
b. Hak kebebasan untuk berserikat melalui organisasi politik yang didirikan.
c. Hak kebebasan untuk menyampaikan pendapat terutama parlemen.
Sebagai inplementasi pemikiran HAM di atas, pemerintah mengeluarkan
Maklumat Pemerintah tanggal 3 November 1945, tentang Partai Politik degan
tujuan untuk mengatur segala aliran yang ada dalam masyarakat dan pemerintah
berharap partai tersebut telah terbentuk sebelum pemilu DPR pada bulan Januari
1946.
2) Periode 1950-1959. Pemikiran HAM dalam periode ini lebih menekankan pada
semangat kebebasan demokrasi liberla yang berintikan kebebasan individu.
Impementasi pemikiran HAM pada periode ini lebih memberi ruang hidup bagi
tumbuhnya lembaga demokrasi yang antara lain:
a. Partai politik dengan beragam ideologinya.
b. Kebebasan pers yang bersifat liberal.
c. Pemilu dengan sistem multipartai.
d. Parlemen sebagai lembaga kontrol pemerintah.
e. Wacana pemikiran HAM yang kondusif karena pemerintah memberi kebebasan.
3) Periode 1959-1966. Pada periode ini pemikiran HAM tidak mendapat ruang
kebebasan dari pemerintah atau dengan kata lain pemerintah melakukan pemasungan
HAM, yaitu hak sipil, seperti hak untuk berserikat, berkumpul, dan mengeluarkan
pikiran dengan tulisan. Sikap pemerintah bersifat restriktif (pembatasan yang ketat
oleh kekuasaan) terhadap hak siil dan hak politik negara. Salah satu penyebabnya
adalah arena periode ini sistem pemerintahan parlmenter berubah menjadi sistem
demokrasi terpimpin.
4) Periode 1966-1998. Dalam periode ini, pemikiran HAM dapat dilihat dalam tiga
kurun waktu yang berbeda. Kurun waktu yang pertama tahun 1967 (awal
6

pemerintahan Presiden Soeharto), berusaha melindungi kebebasan dasar manusia


yang ditandai dengan adanya ak uji materiil (judicial review) yang diberikan kepada
Mahkamah Agung.
Kedua, kurun waktu tahun 1970-1980, pemerintah melakukan pemasungan HAM
dengan sikap defensif (bertahan), represif (kekerasan) yang dicerminkan dengan
produk hukum yang bersifat restriktif (membatasi) terhadap HAM. Alasan pemerintah
adalah bahwa HAM merupakan produk pemikiran Barat dan tidak sesuai dengan
nilai-nilai luhur budaya bangsa yang tercermin dalam Pancasila.
Ketiga, kurun waktu 1990-an, pemikiran HAM tidak lagi hanya bersifat wacana saja
melainkan sudah dibentuk lembaga penegakan HAM, seperti Komnas HAM
berdasarkan Keppres No. 50 Tahun 1993, tanggal 7 Juni 1993. Selain itu, pemerintah
memberian kebebasan yang sangt besar menurut UUD 1945 amandemen, Piagam
PBB, dan piagam Mukadimah.
5) Periode 1998-sekarang. Pada periode ini, HAM mendapat perhatian yang resmi dari
pemerintah dengan melakukan amandemen UUD 1945 guna menjamin HAM dan
menetapkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang hak asasi manusia.
Artinya bahwa pemerintah memberi perlindungan yang signifikan terhadap kebebasan
HAM dalam semua aspek, yaitu aspek hak politik, sosial, ekonomi, budaya,
keamanan, hukum, dan pemerintahan.
II.4

HAM pada Tatanan Global dan di Indonesia

Sebelum konsep HAM diratifikasi PBB, terdapat berbagai konsep uatama mengenai
HAM yang telah berkebang sebelumnya, yaitu:
1. HAM menurut konsep negara-negara Barat/Liberalisme
a. Ingin meninggalkan konsep negara yang mutlak.
b. Ingin mendirikan federasi rakyat yang bebas, negara sebagai koordinator dan
pengawas.
c. Filosofi dasar: hak asasi tertanam pada diri individu manusia.
d. Hak asasi lebih dulu ada daripada tatanan negara.
2. HAM menurut konsep sosialis
a. Hak asasi hilang dari individu dan terintegrasi dalam masyarakat.
b. Hak asasi manusia tidak ada sebelum negara ada.
c. Negara berhak membatasi hak asasi manusia apabila situasi menghendaki.
3. HAM menurut konsep bangsa-bangsa Asia dan Afrika
a. Tidak boleh bertentangan dengan ajaran agama/sesuai dengan kodratnya.
b. Masyarakat sebagai keluarga besar artinya penghormatan utama untuk kepala
keluarga.
c. Individu tunduk kepada kepala adat yang menyangkut tugas dan kewajiban
anggota masyarakat.
4. HAM menurut konsep PBB
Respons terhadap permasalahan hak asasi manusia pembangunan menghasilkan
konsep yang dibidani oleh sebuah komisi PBB yang dipimpin oleh Eleanor Roosevelt (10
Desember 1948) dan secara resmi disebut Universal Decleration of Human Rights. Di
salamnya menjelaskan tentang hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan kebudayaan yang
7

dinikmasti manusia di dunia yang mendorong penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia.
Pada tahun 1957, konsep ham tersebut dilengkapi dengan tiga perjanjian, yaitu:
(1) Hak ekonomi sosial dan budaya, (2) Perjanjian internasional tentang hak sipil dan
politik, (3) Protokol opsional bagi perjanjian hak sipil dan politik internasional. Pada sidang
umum PBB tanggal 16 Desember 1966 ketiga dokumen tersebut diterima dan saat ini sekitar
100 negara dan bangsa telah meratifikasinya.
Universal Decralation of Human Rights menyatakan bahwa setiap orang mempunyai:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

Hak untuk hidup.


Kemerdekaan dan keamanan badan.
Hak untuk diakui kepribadiannya menurut hukum.
Hak untuk memperoleh perlakuan yang sama dengan orang lain menurut hukum.
Hak untuk mendapat jaminan hukum dalam perkara pidana seperti diperiksa di muka
umum, di anggap tidak bersalah kecuali ada bukti yang sah.
Hak untuk masuk dan keluar wilayah suatu Negara.
Hak untuk mendapat hak milik atas benda.
Hak untuk bebas mengutarakan pikiran dan perasaan.
Hak untuk bebas memeluk agama.
Hak untuk mengeluarkan pendapat dan berkumpul.
Hak untuk mendapat jaminan hukum.
Hak untuk mendapat pekerjaan.
Hak untuk berdagang.
Hak untuk mendapatkan pendidikan.
Hak untuk turut serta dalam gerakan kebudayaan masyarakat.
Hak untuk menikmati kesenian dan turut serta dalam kemajuan keilmuan.

Beberapa bentuk HAM yang terdapat dalam UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM
sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Hak hidup.
Hak untuk berkeluarga dan melanjutkan keturunan
Hak mengembangkan diri
Hak memperoleh keadilan
Hak atas kebebasan pribadi
Hak atas rasa aman
Hak atas kesejahteraan
Hak turut serta dalam pemerintah
Hak wanita
Hak anak.

II.5

HAM di Indonesia, Permasalahan, dan Penegakkannya

Sejalan dengan amanat konsitusi, Indonesia berpandangan bahwa perlindungan HAM harus di
dasarkan pada prinsip bahwa hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial budaya, dan hak pembangunan
merupakan satu kesatuan yang tidak dapat di pisahkan baik dalam penerapan,pemantauan, maupun
dalam pelaksanaanya (wiraduya, 2005). Sesuai dengan pasal 1 (3), pasal 55 dan 56 piagam PBB
upaya pemajuan dan perlindungan HAM harus di lakukan melalui suatu konsep kerja sama
8

internasional yang berdasarkan pada prinsip saling menghormati, kesederajatan, dan hubungan
antarnegara serta hukum internasional yang berlaku.
HAM di Indonesia di dasarkan pada konsitusi NKRI, yaitu:pembukaan UUD 1945 (alenia I),
pancasila sila keempat, Batang tubuh UUD 1945 (pasal27, 29 dan 30), UU Nomor 39/1999 tentang
HAM dan UU Nomor 26/2000 tentang pengadilan HAM, HAM di Indonesia menjamin hak untuk
hidup, hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, hak mengembangkan diri, hak memperoleh
keadilan, hak atas kebebasan, hak atas rasa aman, hak atas kesejahteraan, hak turut serta dalam
pemerintahan, hak wanita, dan hak anak program penegakan hukum dan HAM (PP Nomor 7 tahun
2005), meliputi pemberantasan korupsi, antiterorisme, dan pembasmian penyalah gunaan narkotika
dan obat berbahaya. Oleh sebab itu, penegakan hukum dan HAM harus di lakukan secara tegas, tidak
diskriminatif dan konsisten.
Kegiatan-kegiatan pokok penegakan HAM meliputi:
1. Penguatan upaya-upaya pemberantasan korupsi melalui pelaksanaan rencana Aksi Nasional
Pemberantasan Korupsi Tahun 2004-2009
2. Pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Hak Asasi Manusia (RANHAM) dari Tahun 2004-2009
sebagai gerakan Nasional.
3. Peningkatan penegakan hokum terhadap pemberantasan tindak pidana terorisme dan
penyalahgunaan narkotika serta obat berbahaya lainnya.
4. Peningkatan efektivitas dan penguatan lembaga/insitusi hokum maupun lembaga yang fungsi
dan tugasnya mencegah dan memberantas korupsi.
5. Peningkatan efektivitas dan penguatan lembaga/insitusi hokum maupun lembaga yang fungsi
dan tugasnya menegakkan hak asasi manusia.
6. Peningkatan upaya penghormati persamaan terhadap setiap warga Negara di depan hokum
melalui keteladanan kepala Negara dan pimpinan lainnya untuk mematuhi dan mentaati
hokum dan hak asasi manusia secara konsisten dan konsekuen.
7. Penyelenggaraan audit regular atas seluruh kekayaan pejabat pemerintah dan pejabat Negara.
8. Peninjauan serta penyempurnaan berbagai konsep dasar dalam rangka mewujudkan proses
hokum yang lebih sederhana,cepat,tepat,dan dengan biaya yang terjangkau oleh semua
lapisan masyarakat.
9. Peningkatan berbagai kegiatan operasional penegakan hokum dan hak asasi manusia dalam
rangka menyelenggarakan ketertiban social agar di namika masyarakat dapat berjalan
sewajarnya.
10. Pembenahan system manajemen penanganan perkara yang menjamin akses
public,pengembangan system pengawasan yang transparan dan akuntabel.
11. Pengembangan system manajemen kelembagaan hokum yang transparan.

II.6

Lembaga Penegak HAM

Hak asasi manusia adalah seperangkat hak yang melekat pada manusia sebagai makhluk
Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib di hormati,di junjung tinggi,dan di
lindungi oleh Negara,Hukum,Pemerintah,dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat
dan martabat manusia.Oleh sebab itu, untuk menjaga agar setiap orang menghormati HAM orang
lain,maka perlu adanya penegakan pendidikan HAM.penegakan HAM dilakukan terhadap setiap
pelanggaran HAM.Pelanggaran HAM adalah setiap perbuatan seseorang atau kelompok orang
termasuk aparat Negara baik sengaja ataupun tidak di sengaja,atau kelalaian yang secara melawan
hokum mengurangi,menghalangi,membatasi,atau mencabut hak asasi manusia seseorang atau
kelompok orang yang di jamin oleh undang-undang.

Untuk mengatasi masalah penegakan HAM,maka dalam Bab VII Pasal 75 UU tentang
HAM,Negara membentuk komisi hak asasi manusia atau KOMNAS HAM,dan Bab IX pasal 104
tentang pengadilan HAM,serta peran serta masyarakat seperti dikemukakan dalam Bab XIII pasal
100-103.

II.6.1 Komnas HAM


Komnas HAM adalah lembaga yang mandiri yang kedudukannya setingkat dengan lembaga
Negara lainnya yang berfungsi melaksanakan pengkajian, penelitian, penyuluhan, pemantauan,dan
mediasi hak asasi manusia.
Tujuan Komnas HAM
1. Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan hak asasi manusia sesuai
dengan Pancasila,UUD 1945,dan piagam PBB serta Deklarasi Universal Hak Asasi
Manusia.
2. Meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia guna berkembangnya
pribadi manusia Indonesia seutuhnya dan kemampuannya berpartisipasi dalam berbagai
bidang kehidupan.
Wewenang Komnas HAM
1. Wewenang dalam bidang pengkajiaan penelitian
a. Pengkajian dan penelitian berbagai instrument internasional hak asasi manusia
dengan tujuan memberikan saran-saran mengenai kemungkinan aksesi dan atau
ratifikasi.
b. Pengkajian dan penelitian berbagai peraturan perundang-undangan untuk
memberikan rekomendasi mengenai pembentukan,perubahan,dan pencabutan
peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hak asasi manusia.
c. Penerbitan hasil pengkajian dan penelitian.
d. Studi kepustakaan,studi lapangan,dan studi banding di Negara lain mengenai hak
asasi manusia.
e. Pembahasan berbgai masalah yang berkaitan dengan perlindungan,penegakan dan
pemajuan hak asasi manusia.
f. Kerja sama pengkajian dan penelitian dengan organisasi,lembaga atau pihak
lainnya,baik tingkat nasional,ragional,maupun internasional dalam bidang hak asasi
manusia.
2. Wewenang dalam bidang penyuluhan
a. Penyebarluasan wawasan mengenai hak asasi manusia kepada masyarakat Indonesia.
b. Upaya peningkatan kesadaran masyarakat tentang hak asasi manusia melalui lembaga
pendidikan formal dan nonformal serta berbagai kalangan lainnya.
c. Kerja sama dengan organisasi,lembaga,atau pihak lainnya,baik di tingkat
nasional,ragional,maupun internasional dalam bidang hak asasi manusia.
3. Wewenang dalam pemantauan
a. Pengamatan pelaksanaan hak asasi manusia dan penyusunan laporan hasil
pengamatan tersebut.
b. Penyelidikan dan pemeriksaan terhadap peristiwa yang timbul dalam masyarakat
yang berdasarkan sifat atau lingkupnya patut di duga terdapat pelanggaran hak asasi
manusia:Pemanggilan kepada pihak pengadu atau korban maupun pihak yang di
adukan untuk di mintai dan di dengar keterangannya.
c. Pemanggilan saksi untuk dimintai dan di dengar kesaksiannya,dan kepada saksi
pengadu di mintai menyerahkan bukti yang di perlukan.
d. Peninjauan di tempat kejadian dan tempat lainnya yang di anggap perlu.
10

e. Pemanggilan terhadap pihak terkait untuk memberikan keterangan secara tertulis atau
menyerahkan dokumen yang di perlukan sesuai dengan aslinya dengan persetujuan
ketua pengadilan.
f. Pemberian pendapat berdasarkan persetujuan ketua pengadilan terhadap perkara
tertentu yang sedang dalam proses peradilan,bilamana dalam perkara tersebut
terdapat pelanggaran hak asasi manusia dalam masalah public dan acara pemeriksaan
oleh pengadilan yang kemudian pendapat komnas HAM tersebut wajib di beritahukan
oleh hakim kepada para pihak.
4. Wewenang dalam bidang mediasi
a. Perdamaian kedua belah pihak.
b. penyelesaiian perkara melalui cara konsultasi,negoisasi,mediasi,konsiliasi dan
penilaian ahli.
c. Pemberian saran kepada para pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui
pengadilan.
d. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada
pemerintah untuk di tindaklanjuti penyelesaiiannya.
e. Penyampaian rekomendasi atas suatu kasus pelanggaran hak asasi manusia kepada
Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia untuk di tinjaklanjuti.

2.6.2

Pengadilan HAM

Dalam rangka penegakkan HAM, maka Komnas HAM melakukan pemanggilan


saksi, dan pihak kejaksaan yang melakukan penuntutan di pengadilan HAM. Menurut Pasal
104 UU HAM, untuk mengadili pelanggaran hak asasi manusia yang berat dibentuk
pengadilan HAM di lingkungan peradilan umum, yaitu pengadilan negeri dan pengadilan
tinggi. Proses pengadilan berjalan sesuai fungsi badan peradilan.
2.6.3

Partisipasi Masyarakat

Partisipasi masyarakat dalam penegakkan HAM diatur dalam pasal 100-103 UU


tentang HAM. Partisipasi masyarakat dapat dibentuk sebagai berikut:
1. Setiap orang, kelompok, organisasi politik, organisasi masyarakat, lembaga swadaya
masyarakat (LSM), atau lembaga kemasyarakatan lainnya, berhak berpartisipasi
dalam perlindungan, penegakkan, dan pemajuan hak asasi manusia.
2. Masyarakat juga berhak menyampaikan laporan atas terjadinya pelanggaran hak asasi
manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lain yang berwenang dalam rangka
perlindungan, penegakn, dan pemajuan hak asasi manusia.
3. Masyarakat berhak mengajukan usulan mengenai perumusan dan kebijakan yang
berkaitan dengan hak asasi manusia kepada Komnas HAM atau lembaga lainnya.
4. Masyarakat dapat bekerja sama dengan Komnas HAM melakukan penelitian,
pendidikan, dan penyebarluasan informasi mengenai hak asasi manusia.
2.7 Pengembangan Pendidikan HAM
Dr. Seto Mulyadi,seorang psikolog dan ketua komnas perlindungan anak
berpendapat,pembelajaran HAM sejak dini mulai dari anak-anak merupakan tuntutan bagi
pembangunan bangsa di masa mendatang.Dengan memahami HAM,moral bangsa akan terbangun
sejak dini dan mereka terlahir menjadi generasi yang menghargai hak asasinya sebagai manusia.

11

Dr. Sri Untari, ahli psikologi social juga menyatakan bahwa pembelajaran HAM harus di
sesuaikan dengan tingkatan usia dan golongan masyarakat,serta adanya keselarasan antara
pembelajaran HAM di dalam dan di luar rumah agar tidak ada benturan nilai.
Pengajaran HAM sejak dini dilaksanakan tidak hanya bertjuan sebagai pengetahuan
(knowledge) tentang HAM tetapi juga mengembangkan sikap (attitude) dan keterampilan (skills).
a) Pengetahuan tentang HAM mencakup hak dan kewajiban setiap manusia,hak-hak anak,hakahak perempuan,masalah keadilan,dan pluralism.
b) Pendidikan HAM juga mengembangkan keterampilan mahasiswa yang dilakukan dengan
meningkatkan
keterampilan
mendengarkan
orang
lain,berkerja
sama,berkomunikasi,memecahkan masalah,mebuat analisis moral,dan bagaimana mengajukan
kritik dengan baik.
c) Tahap selanjutnya dari pendidikan HAM di harapkan mempunyai sikap yang baik.Mahasiswa
harus mau menghargai hak orang lain,menyadari bahwa kerja sama lebih baik daripada
konflik dengan orang lain,dan mampu bertanggung jawab atas tindakan yang di ambil,serta
mampu memperbaiki kehidupannya di masa mendatang.
Penelitian yang di lakukan oleh Sutisno (2004) menunjukan bahwa:
a) 70 persen responden setuju pendidikan HAM sejak dini dengan alasan sebagai dasar
penanaman sikap,dan mengurangi pelanggaran HAM di masa depan.
b) Materi yang perlu di sampaikan dalam perkuliahan HAM,menurut responden terdiri atas 40
persen tentng HAM yang bersifat umum,40 persen tentang HAM anak-anak,perempuam dan
minoritas dan 20 persen tentang penyelesaian permasalahan HAM.
c) Metode pembelajaran HAM yang di harapkan dan di sukai secara berurutan adalah
diskusi,role olay,curah pendapat,studi kasus dan tutorial.
Dari hasil penelitian tersebut,tergambar bentuk pendidikan HAM di masa
mendatang.pendidikan di selenggarakan sejak dini sampai perguruan tinggi.penyampaian materi
HAM di lakukan dengan metode diskusi dan permainan,dan tujuan pembelajaran tidak hanya
pengetahuan,tetai mengubah sikap dan meningkatkan keterampilan di bidang HAM.Materi HAM
untuk tingkat anak-anak di utamakan tentang hak anak,hak perempuan dan minoritas,sedangkan untuk
mahasiswa dan masyarakat pada umumnya meliputi konsep HAM,hak sipil dan politik,hak
ekonomi,social dan budaya,masalah diskriminasi dan antipenyiksaan.

2.8 HAM dalam Islam


Di dalam Islam, menurut Abu A'Ala Al-Maududi, ada dua konsep tentang Hak. Pertama, Hak
Manusia atau huquq al-insan al-dharuriyyah. Kedua, Hak Allah atau huquq Allah. Kedua jenis hak
tersebut tidak bisa dipisahkan. Dan hal inilah yang membedakan antara konsep HAM menurut Islam
dan HAM menurut perspektif Barat.

Terdapat perbedaan-perbedaan yang mendasar antara konsep HAM dalam Islam dan
HAM dalam konsep Barat sebagaimana yang diterima oleh perangkat-perangkat
internasional. HAM dalam Islam didasarkan pada premis bahwa aktivitas manusia sebagai
khalifah Allah di muka bumi. Sedangkan dunia Barat, bagaimanapun, percaya bahwa pola
tingkah laku hanya ditentukan oleh hukum-hukum negara atau sejumlah otoritas yang
mencukupi untuk tercapainya aturan-aturan publik yang aman dan perdamaian semesta.

12

Selain itu, perbedaan yang mendasar juga terlihat dari cara memandang terhadap
HAM itu sendiri. Di Barat, perhatian kepada individu-individu timbul dari pandanganpandangan yang besifat anthroposentris, dimana manusia merupakan ukuran terhadap gejala
tertentu. Sedangkan Islam, menganut pandangan yang bersifat theosentris, yaitu Tuhan Yang
Maha Tinggi dan manusia hanya untuk mengabdi kepada-Nya. Berdasarkan atas pandangan
yang bersifat anthroposentris tersebut, maka nilai-nilai utama dari kebudayaan Barat seperti
demokrasi, institusi sosial dan kesejahteraan ekonomi sebagai perangkat yang mendukung
tegaknya HAM itu berorientasi kepada penghargaan terhadap manusia. Dengan kata lain
manusia menjadi akhir dari pelaksanaan HAM tersebut.
Berbeda keadaanya pada dunia Timur(Islam) yang bersifat theosentris, larangan dan
perintah lebih didasarkan pada ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadist. AlQuran menjadi transformasi dari kualitas kesadaran manusia. Manusia disuruh untuk hidup
dan bekerja diatas dunia ini dengan kesadaran penuh bahwa ia harus menunjukkan
kepatuhannya kepada kehendak Allah swt. Mengakui hak-hak dari manusia adalah sebuah
kewajiban dalam rangka kepatuhan kepada-Nya.
Persamaan hak, keadilan, tolong-menolong, dan persamaan di depan hukum adalah
prinsip-prinsip kunci yang sangat diperhatikan di dalam Syari'ah. Dalam sejarah peradaban
Islam, prinsip-prinsip ini dipegang oleh umat Islam sebagai cara hidup bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara.
2.8.1

Karakteristik HAM versi Syariat Islam

Syariat Islam dibangun diatas bangunan yang kokoh dan lengkap karena berasal dari Allah
yang maha perkasa lagi maha terpuji. Tidak ada satu kemaslahatan dunia dan akherat kecuali telah
ditunjukkan dan disampaikan dalam syariat. Oleh karena itu syariat sangat memperhatikan 5
dharuraat: Menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
HAM dalam pandangan Islam nasab keturunan dan harta. Kelima dharurat ini yang menjadi
tiang kehidupan manusia. Tidak akan hidup baik kehidupan manusia kecuali dengan menjaga lima
perkara ini. Bukan kelima hal ini adalah HAM yang dijamin syariat Islam.
Secara definitif, hak Asasi Manusia (HAM) menurut pandangan Islam dan UUD 1945
merupakan anugrah Tuhan yang dimiliki oleh setiap manusia secara kodrati. Namun demikian,
terdapat perbedaan yang sangat mendasar diantara keduanya. Rumusan atau formulasi HAM dalam
hukum Islam didasarkan pada doktrin-doktrin agama (theocentries), yaitu selalu didasarkan pada
ketentuan-ketentuan yang terdapat di dalam Al-Quran dan Al-Hadits serta didasarkan pada konsep
ijtihad. Hal ini sangat berbeda dengan rumusan HAM yang dianut oleh negara-bangsa (nation-state)
modern saat ini, termasuk Negara Indonesia. Sebagai sebuah negara yang memiliki beraneka ragam
budaya, ideologi maupun agama, maka sudah menjadi kewajiban Indonesia untuk melindungi dan
menghormati hak-hak asasi setiap individu maupun kelompok yang ada didalamnya
secarakonstitusional. Oleh karena itu, rumusan HAM yang terformulasikan di dalam UUD 1945
sebagai dasar hukum tertinggi didasarkan pada teori-teori HAM modern yang telah berkembang.
Namun demikian, rumusan HAM yang terdapat di dalam UUD 1945 juga tidak menafikan normanorma ke masyarakatan dan agama yang ada.
Secara garis besar, terdapat dua pendapat mengenai apakah HAM bersifat universal atau
partikular. Dari uraian yang telah dipaparkan pada bagian sebelumnya, dapat diketahui bahwa
13

rumusan HAM dalam Islam bersifat partikular (cultural relativism). Hal tersebut dapat difahami
karena adanya beberapa alasan, yaitu:
a. Setiap ketentuan dalam Islam, termasuk juga ketentuan-ketentuan tentang HAM, harus
didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang telah digariskan oleh Allah SWT. Padahal, tidak
setiap manusia di muka bumi ini sefaham dengan ajaran atau doktrin-doktrin Islam.
b. dilihat dari materi-materi HAM Islam, terdapat beberapa materi yang oleh sebagian kelompok
masih dianggap bersifat diskriminatif, seperti ketentuan tentang kedudukan wanita dan nonmuslim dalam beberapa aspek kemasyarakatan. Namun demikian, HAM dalam Islam juga
bersifat universal yang berlaku bagi seluruh umat manusia rahmatan li allamn dan dalam
segala ruang dan waktu. Oleh karena itu, HAM dalam Islam dapat dikatakan sebagai HAM
yang bersifat particular-universalism. Hal ini berbeda dengan rumusan HAM dalam UUD
1945. Sebagai dasar hukum tertinggi sebuah negara yang demokratis, HAM di dalam UUD
1945 lebih bersifat universal. Hal tersebut dimaksudkan untuk dapat melindungi dan
menghormati hak-hak asasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan satu sama lain. Namun
demikian, keuniversalan tersebut tetap mengakomodasi dan menghormati norma-norma
agama, budaya maupun sosial secara kontekstual, termasuk juga norma-norma agama Islam
(universal-kontekstual). Hal ini dapat dilihat di dalam ketentuan UUD 1945 Pasal 28B ayat
(1) tentang hak berkeluarga dan juga Pasal 28I Ayat (3) tentang hak adat dan budaya.
Secara konseptual, formulasi HAM dalam hukum Islam dalam menghormati harkat dan
martabat manusia mencakup hak-hak individu dan juga hak-hak komunal. Dalam pandangan Islam,
bahwa hak-hak yang dimiliki oleh setiap individu manusia merupakan hak yang dapat digunakan
secara daulat. Namun penggunaan hak-hak tersebut disertai dengan kewajiban setiap individu
maupun kelompok untuk selalu menghormati hak-hak orang lain. Ketentuan dalam hukum Islam
memberikan penghargaan yang sangat tinggi terhadap setiap individu dan kelompok dalam
masyarakat. Oleh karena itu, Islam sangat melarang segala bentuk praktek keangkuhan dan
penindasan, baik yang dilakukan secara individu maupun kelompok. Konsep ini sejalan dengan
konsepsi HAM di dalam UUD 1945 yang secara nyata melindungi dan menghormati hak-hak setiap
individu dan kelompok dalam masyarakat dengan menyelaraskan setiap kepentingan dan kebutuhan
serta menyeimbangkan antara hak dan kewajiban setiap individu dan kelompok tanpa harus
merugikan dan membatasi hak-hak yang lain demi terciptanya keadilan dalam segala aspek kehidupan
berbangsa dan bernegara. Dari penjelasan singkat diatas secara sederhana .

2.9 Studi Kasus


Kasus Pelanggaran HAM Berat Timor Leste
Mengenai kasus pelanggaran HAM di Indonesia kita tidak bisa lupa akan kejadian di
tahun 1999 mengenai referendum atau pemisahan daerah Timor Timur atau sekarang yang
lebih dikenal sebagai Timor Leste dari teritori NKRI. Kejadian itu bermula ketika pada
tanggal 27 Januari 1999, pemerintah Republik Indonesia memberikan 2 opsi untuk
menentukan masa depan Provinsi Timor Timur. B. J. Habibie yang saat itu menjadi presiden
Pemerintah Republik Indonesia menginstruksikan agar rakyat Timor Timur memilih
menerima otonomi khusus atau memilih berpisah dari NKRI. Namun, hasil yang
mengecewakan bagi pemerintah Indonesia dengan 94.388 (21,5%) memilih otonomi dan
344.580 (78,5%) memilih berpisah.

14

Setelah pengumuman hasil jejak pendapat rakyat Timor Timur banyak terjadi kasus-kasus
pelanggaran HAM yang terjadi di sana. Kekerasan, pembunuhan massal, kerusakan terhadap
pemukiman penduduk dalam skala besar. Hal tersebut ditengarai adanya campur tangan
pemerintah Indonesia sebagai bentuk kekecewaan mereka terhadap lepasnya satu daerah
teritori mereka. Kecurigaan tersebut ternyata dibenarkan oleh hasil investigasi salah satu
badan yang dibentuk oleh PBB yaitu United Nations Transitional Administration in East
Timor (UNTAET) melalui lembaga bentukannya yaitu Serious Crimes Unit (SCU), yang
pada 9 Maret 2004 mengumumkan dari 369 tersangka 281 orang diantaranya adala oknum
dari luar Timor Leste, termasuk 37 anggota dan komandan militer dari TNI, 4 kepala
kepolisian dari Indonesia, 60 orang anggota TNI asal Timor Leste, mantan gubernur Timor
Timur dan lima mantan bupati2. Namun, pelaku yang diadili hanyalah orang Timor Leste dan
sebagian
besar
anggota
milisi.
Pada tahun 2005 pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah Timor Leste
membuat sebuah komisi untuk mengungkap kebenaran mengenai kasus HAM di Timor Leste
pada rentang waktu 1974 sampai 1999. Komisi tersebut bernama Komisi Kebenaran dan
Persahabatan (KKP). Komisi tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan rekonsiliasi dan
menjamin tidak akan terjadinya hal yang sama di masa mendatang. Laporan KKP pada tahun
2008 merekomendasikan antara lain, pemerintah Indonesia dan Timor Leste bekerja sama
untuk menjelaskan nasib dan keberadaan dari mereka yang dihilangkan dan yang
menghilang; membentuk suatu program pemulihan bagi para korban, khususnya korban
kasus perkosaan dan kejahatan kekerasan seksual lainnya; dan bagi pemerintah Indonesia
untuk mengakui dan meminta maaf atas penderitaan yang dibuat pada 1993.
Namun beberapa LSM baik internasional maupun nasional seperti Amnesti
Internasional, ANTI dan KontraS memandang kinerja dari KKP sendiri belum cukup
memuaskan dan menuntut kepada pemerintah Indonesia dengan bantuan komunitas
internasional untuk mendukung upaya keadilan dan kebenaran bagi korban pelanggaran
HAM di Timor Leste yang terjadi selama pendudukan Indonesia berlangsung.
LGBT
Perspektif HAM
Mungkin bagi sebagian orang yang pro dengan LGBT menuntut agar pemerintah
melegalkan perbuatan tersebut. Mereka sering berdalih dengan landasan hak asasi manusia
(HAM) sebagai tameng utamanya. Bahkan Indonesia sebagai salah satu negara hukum
memberikan jaminan kebebasan berekspresi diatur dalam UUD 1945 amandemen II, yaitu
pasal 28 E ayat (2) yang menyatakan setiap orang berhak atas kebebasan meyakini
kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya.
Perspektif Hukum Islam
Secara ideal, Islam dan juga agama-agama lain, selalu hadir dalam gagasan-gagasan
besar tentang kemanusiaan: Humanisme Universal (insaniyyah). Agama memang dihadirkan
15

tuhan untuk sebuah pembebasan terhadap seluruh bentuk penindasan, tirani, kebiadaban, dan
perbudakan manusia. Bahkan penulis bisa katakan bahwa awal pintu masuk kenabian adalah
revolusi mental, bukan hukum. Inilah yang disebut dengan imajinatif kenabian.
Secara historis, fenomena LGBT dapat kita temukan dalam sejarah peradaban umat
manusia, khususnya merujuk kepada kisah-kisah kaumnya Nabi Luth yang dijelaskan
langsung oleh Al-Quran.
Islam secara terang mengecam tindakan yang tidak wajar tersebut. Tak hanya itu,
bahkan pelaku sodom harus rela dibinasakan dari permukaan bumi ini (Qs.Al-Ankabut, 29:
31-32), sebab mereka tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga memberikan dampak
sosial yang buruk terhadap lingkunganya. Memang pro dan kontra Ulama Tafsir dalam
memahami ayat ini pun muncul ke permukaan, sejumlah pertanyaan misalnya, jika memang
LGBT adalah murni problem kejiwaan atau alamiyah, mengapa Tuhan mengadzab mereka?
Ada juga yang berpendapat liberal dan radikal dengan pendekatan analisis Historis yang
menyatakan, kita tidak tahu cerita itu historis atau ahistoris, yang jelas Allah ingin
memberikan pesan-pesan moral universalnya agar tak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Hemat penulis, faktor yang paling penting mengapa mereka diadzab adalah dampak sosial
yang buruk, alias problem kejiwaan sekaligus sosial. Bahkan LGBT seperti sudah menjadi
sebuah gerakan massif.
Kalau kita merujuk kepada Al-Quran, setidaknya ada dua ayat yang menunjukkan
bahwa manusia mempunyai tugas reproduksi. Pertama, Qs. An-nisa: (1). Kedua, Qs. Ar-rum,
(21). Dari kedua ayat di atas menunjukkan bahwa Fungsi reproduksi kemanusiaan ini sudah
mutlak dalam diri setiap individu. Jika ada orang menikah, lalu tidak mengharapkan memiliki
keturunan, apakah ini kodrati? Tentu saja jawabannya tidak. Dan juga dari awalnya saja Allah
sudah menurunkan wawaddah dan rahmah dalam konteks sosial hubungan pria dan wanita.

16

BAB III
PENUTUPAN
III.1
Kesimpulan
Syariat Islam dibangun diatas bangunan yang kokoh dan lengkap karena berasal dari
Allah yang maha perkasa lagi maha terpuji. Tidak ada satu kemaslahatan dunia dan akherat
kecuali telah ditunjukkan dan disampaikan dalam syariat. Oleh karena itu syariat sangat
memperhatikan 5 dharuraat: Menjaga agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.
Rumusan atau formulasi HAM dalam hukum Islam didasarkan pada doktrin-doktrin
agama (theocentries), yaitu selalu didasarkan pada ketentuan-ketentuan yang terdapat di
dalam Al-Quran dan Al-Hadits serta didasarkan pada konsep ijtihad. Hal ini sangat berbeda
dengan rumusan HAM yang dianut oleh negara-bangsa (nation-state) modern saat ini,
termasuk Negara Indonesia. Sebagai sebuah negara yang memiliki beraneka ragam budaya,
ideologi maupun agama, maka sudah menjadi kewajiban Indonesia untuk melindungi dan
menghormati hak-hak asasi setiap individu maupun kelompok yang ada didalamnya
secarakonstitusional.

17

DAFTAR PUSTAKA
Srijanti, dkk. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Mahasiswa. 2009.
Jakarta: Graha Ilmu.
http://www.kompasiana.com
http://www.muslimedianews.com

18