Anda di halaman 1dari 12

1.2.

Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.

Bagaimana cara bekerja secara Ergonomi?


Bagaimanakan konsep dari Four Handed Dentistry?
Bagaimanakah hubungan antara Four Haded Dentistry?
Sebutkan Macam dari musculoskeletal disorder?

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ergonomi
Perkembangan tekhnologi saat ini begitu pesatnya sehingga peralatan sudah menjadi kebtuhan pokok
pada berbagai lapangan kerja tak terkecuali pada dokter gigi. Artinya peralatan dan tekhnologi merupakan
penunjang yang penting dalam upaya meningkatkan produktivitas untuk berbagai jenis pekerjaan.
Disamping itu disisi lain negatifnya bila kita kurang waspada menghadapi bahaya potensial yang mungkin
timbul. Hal ini akan terjadi jika tidak diantisipasi maka akan timbul berbagai risiko yang mempengaruhi
hidup dokter gigi maupun pekerja di bidang lain dan tidak memungkinkan terjadi kecelakaan akibat kerja
yang menyebabkan kecacatan atau kematian. Antisipasi ini harus dilakukan oleh semua pihak dengan cara
penyesuaian antara pekerja, proses kerja dan lingkungan kerja. Pendekatan ini dikenal sebagai pendekatan
ergonomik. (depkes RI:2000)
Istilah Ergonomi berasal dari bahasa Latin yaitu Ergos (kerja) dan Nomos (hukum alam) dan dapat
didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara
anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan perancangan/desain. Ergonomi secara khusus
mempelajari keterbatasan dan kemampuan manusia dalam berinteraksi dengan teknologi dan produk-produk
buatannya. Ilmu ini berangkat dari kenyataan bahwa manusia memiliki batas-batas kemampuan baik jangka
pendek maupun jangka panjang, pada saat berhadapan dengan lingkungan sistem kerja yang berupa
perangkat keras/hardware (mesin, peralatan kerja, dan lain-lain) dan perangkat lunak/software (metode
kerja, sistem, dan lain-lain).
(http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/)
Ergonomi adalah satu ilmu yang peduli akan adanya keserasian manusia dan pekerjaannya. Ilmu ini
menempatkan manusia sebagai unsur pertama, terutama kemampuan, kebolehan, dan batasannya. Ergonomi
bertujuan membuat pekerjaan, peralatan, informasi, dan lingkungan yang serasi satu sama lainnya.
Metodenya dengan menganalisis hubungan fisik antara manusia dengan fasilitas kerja. Manfaat dan tujuan
ilmu ini adalah untuk mengurangi ketidaknyamanan pada saat bekerja. Dengan demikian Egonomi berguna
sebagai media pencegahan terhadap kelelahan kerja sedini mungkin sebelum berakibat kronis dan fatal.
(http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/)
Ergonomic merupakan suatu cabang ilmu yang bersifat multi-disipliner yang lahirnya setelah perang
dunia II. Ergonomi berasal dari kata ergon dan nomos berarti aturan atau hukum. Dengan demikian
ergonomic diartikan sebagai aturan dalam bekerja. Implikasinya dalam kehidupan adalah bahwa di dalam
melaksanakan pekerjaan itu hendaknya manusia selalu menyadari bahwa ada aturan kerja yang harus
dituruti. Menurut definisi tersebut prinsip dasar dalam ergonomi adalah menyesuaikan pekerjaan dengan
manusianya. Manusia bukan hanya harus mendapatkan pekerjaan, tetapi pekerjaan yang diperoleh itu harus
mampu memelihara harkat dan harga dirinya sebagai manusia. Dengan kata lain pekerjaannya harus
manusiawi, yang didalamnya mengandung pengertian adanya jaminan keselamatan, keamanan dan
kenyamananselama bekerja 8 jam sehari. (adiputra nyoman: 2004)
Dimana ergonomi dimanfaatkan untuk manusia bekerja dimana saaja dan kapan saja, ergonomi sebagi
suatu pendekatan yang memungkinkan manusia bekerja secara optimal dan efisien. Apakah dia bekerja di
pagi sampai sore hari pekerjaannya berat atau ringan. (adiputra nyoman:2004)
1

(http://www.de
pkes.go.id/downloads/Ergonomi.PDF)
Aplikasi ergonomi dalam desain sistem kerja memberikan peranan penting dalam meningkatkan
faktor keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya: desain sistem kerja untuk mengurangi rasa nyeri dan
ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia. Desain stasiun kerja untuk alat peraga visual display, untuk
mengurangi ketidaknyamanan visual dan postur kerja. Desain perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan
kerja. Desain peletakan instrumen dan sistem pengendali agar didapat optimasi dalam proses transfer
informasi sehingga dihasilkan suatu respon yang cepat dengan meminimumkan resiko kesalahan, dan
meningkatkan efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang tepat. Peran
ergonomi dalam kehidupan sehari-hari dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu:
1. Perancangan produk.
2. Meningkatkan keselamatan dan higiene kerja.
3. Meningkatkan produktivitas kerja.
(http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/)
Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis,
yaitu menyerasikan dan menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas
maupun dalam istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia. Baik fisik maupun metal sehingga
kualitas hidup secara keselurihan menjadi lebih baik. Tata letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis.
2

Banyak faktor lain yang merupakan unsur ergonomis seperti desain warna, pencahaan, suhu, kebisingan dan
kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan.
(http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/Desain%20Tata%20Letak
%20Penempatan%20Alat%20Kedokteran%20Gigi.pdf)
Sasaran penelitian ergonomi adalah manusia pada saat bekerja di lapangan atau lingkungan, secara
singkat dapat dikatakan bahwa ergonomic adalah penyesuaian tugas pekerjaan dengan kondisi tubuh
manusia ialah untuk menurunkan stress yang akan dihadapi. Upayanya ialah berupa menyesuaikan ukuran
tempat kerja dengan dimensi tubuh agar tidak melelahkan, pengaturan suhu, cahaya dan kelembapan yang
bertujuan agar sesuai dengan tubuh manusia. (depkes RI: 2000)
Ruang lingkup ergonomi sangat luas aspeknya antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tekhnik
Fisik
Pengalaman psikis
Anatomi, utamanya yang berhubungan dengan perherakan otot dan persendian.
Anthopometri
Sosiologi
Fisiologi, terutama yang berhubungan dengan temperature suhu
Desain atau tata letak dll.

Ergonomi mempunyai tujuan tujuan seperti meningkatkan kesehjateraan fisik dan mental dengan
meminimalkan beban kerja tambahan pada fisik maupun mental. Meningkatkan kesehjateraan sosial dengan
jalan meningkatkan kualitas kontak sesame pekerja,pengorganisaian yang lebih baik dan menghidupkan
system kebersamaan dalam tempat kerja, serta berkontribusi di dalam keseimbangan rasional antara aspek
aspek tekhnil. Ekonomi,antropologi maupun budaya. (adiputra nyoman: 2004)
Pelatihan bidang ergonomic sangat penting sebab ahli ergonomi umumnya berlatar belakang
pendidikan tekhnik, psikologi, fisiologi atau dokter meskipun ada juga yang dasar keilmuaanya tentang
desain, manajer dll. Akan tetapi semua ditujukan pada aspek kerja dan lingkungan kerja. (depkes RI:2000)
2.2 Four Handed Dentistry
Four handed dentistry termasuk juga bagaimana cara penggunaan dan pemeliharaan alat dan bahan
kedokteran gigi meliputi peralatan yang digunakan untuk diagnose, perawatan pengawetan gigi,
pembersihan karang gigi, operasi bedah mulut, fissure sealant, ART, dan pemeliharaan dan penyimpanan alat
kedokteran gigi. Four handed dentistry juga suatu ilmu kedokteran gigi yang ditujukan untuk memahami
tentang bahan yang diperlukan untuk tindakan konservasi, tindakan edondontik serta tindakan rehabilitatif.
(murdick,B.dkk.service operation management.boston:allyn and bacon.1990)
Berbagai peralatan kedokteran gigi yang dijual di pasaran pada saat ini, hamper semuanya telah
memperhatikan aspek ergonomis ketika didesain oleh pabrik pembuatnya. Namun kelebihan ini akan
berkurang nilainya apabila pada saat penempatan peralatan tidak berdasarkan prinsip desain tata letak yang
benar. Dalam makalah ini akan dibahas desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi, namun terbatas
pada alat-alat utama saja yaitu Dental Unit, Mobile Cabinet, dan Dental Cabinet.
Desain tata letak (lay out design) adalah proses alokasi ruangan, penataan ruangan dan peralatan
sedemikian rupa sehingga pergerakan berlangsung seminimal mungkin, seluruh luasan ruangan
termanfaatkan, dan menciptakan rasa nyaman kepada operator yang bekerja serta pasien yang menerima
pelayanan. Desain tata letak memegang peranan penting dalam efektifitas dan efisiensi operasi3 tempat
praktek dokter gigi, oleh karena itu perlu direncanakan secara matang sebelum tempat praktek dibangun dan
tidak tertutup kemungkinan untuk direvisi dikemudian hari bila dinilai sudah tidak laik lagi.
Desain tata letak berbeda dengan gambar arsitek, desain tata letak hanya berupa sketsa yang
mengambarkan penataan ruangan, dibuat berdasarkan perhitungan pergerakan informasi, bahan, dan
manusia. Selain itu juga dengan memperhatikan pertimbangan ergonomis, medis dan kepatutan. Secara garis
3

besar ada 2 macam desain tata letak yaitu yang dibuat dengan memperhatikan proses dan yang dibuat
dengan memperhatikan produk, pada tempat praktek dokter gigi yang digunakan adalah desain tata letak
dengan memperhatikan proses.
Efektifitas dan efisiensi desain tata letak dihitung dari jumlah jarak pergerakan yang terjadi, dengan
asumsi setiap pergerakan yang terjadi menimbulkan biaya. Menimimalisasi pergerakan adalah tujuan dari
desain tata letak.
Tim dan Sistem Kerja
Seiring dengan makin kompleksnya pelayanan kedokteran gigi, profesi di bidang ini turut ikut
berkembang. Bila dahulu cukup hanya dokter gigi saja yang memberikan pelayanan, kini di negara-negara
maju seperti Amerika Serikat, pelayanan diberikan oleh sebuah tim yang terdiri dari Dentist, Dental
Hygienist, Dental Assistant, dan Dental Technician. Dentist adalah dokter gigi yang memberikan pelayanan
kedokteran gigi. Dental Hygienist bertugas mengisi Rekam Medis, serta melakukan tindakan Preventive
Dentistry seperti membersihkan karang gigi secara mandiri. Dental Assistant bertugas sebagai asisten yang
membantu dokter gigi mengambil alat, menyiapkan bahan, mengontrol saliva, membersihkan mulut, serta
mengatur cahaya lampu selama suatu prosedur perawatan sedang dilakukan. Dental Technician berkerja di
Laboratorium, membuat protesa dan alat bantu yang akan dipasang di mulut pasien.
Di Indonesia kondisinya sedikit berbeda, hanya dikenal 2 profesi kesehatan gigi diluar dokter gigi yaitu
Perawat Gigi dan Tekniker Gigi. Perawat Gigi bertugas seperti Dental Assistant dan Dental Hygienist,
sedangkan Tekniker Gigi bertugas sama seperti Dental Technician. Pada saat suatu pelayanan kedokteran
gigi dilakukan hanya akan ada 2 orang yang berada disekitar pasien yaitu Dokter Gigi dan Perawat Gigi.
Tugas kedua orang ini berbeda namun saling mendukung, ini kemudian melahirkan istilah Four Handed
Dentistry.
Konsep Four Handed Dentistry telah diadopsi oleh para produser pembuatan dental unit, sehingga saat
ini seluruh dental unit yang dibuat selalu dilengkapi dengan sisi Dental Asistant disebelah kiri pasien. Oleh
karena itulah konsep Four Handed Dentistry menjadi dasar dalam desain tata letak penempatan alat
kedokteran gigi.
Jalur Kerja dan Pergerakan
Dalam konsep Four Handed Dentistry dikenal konsep pembagian zona kerja disekitar Dental Unit yang
disebut Clock Concept. Bila kepala pasien dijadikan pusat dan jam 12 terletak tepat di belakang kepala
pasien, maka arah jam 11 sampai jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens
Zone, arah jam 4 sampai jam 8 disebut Transfer Zone, kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut
Operators Zone sebagai tempat pergerakan Dokter Gigi. Clock Concep (Nusanti, 2000)
Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat oleh
pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen
Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan
Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah,
serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan
dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai
tempat pergerakan Dokter Gigi.
Selain pergerakan yang terjadi di seputar Dental Unit, pergerakan lain yang perlu diperhatikan ketika
membuat desain tata letak alat adalah pergerakan Dokter Gigi, Pasien, dan Perawat Gigi di dalam ruangan
maupun antar ruangan. Jarak antar peralatan serta dengan dinding bangunan perlu diperhitungkan untuk
memberi ruang bagi pergerakan Dokter Gigi, Perawat Gigi, dan Pasien ketika masuk atau keluar Ruang
Perawatan, mengambil sesuatu dari Dental Cabinet, serta pergerakan untuk keperluan sterilisasi. Pergerakan
dalam Ruang Pemeriksaan (Kilpatrick, 1974)
Tata Letak Penempatan Alat
Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis, yaitu
menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas maupun
istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas hidup
secara keseluruhan menjadi lebih baik6. Tata letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis, banyak
faktor lain yang merupakan unsure ergonomis seperti desain warna, pencahaaan, suhu, kebisingan, dan
kualitas udara ruangan, serta desain peralatan yang digunakan.
4

Ruang Periksa adalah ruang utama dalam praktek dokter gigi, tata letak peralatan dalam ruangan ini
berorientasi memberi kemudahan dan kenyamanan bagi Dokter Gigi, Perawat Gigi, berserta Pasiennya
ketika proses perawatan dilakukan. Ukuran minimal Ruang Perawatan untuk satu Dental Unit adalah 2,5 X
3,5 Meter, dalam ruangan ini dapat dimasukan satu buah Dental Unit, Mobile Cabinet, serta dua buah
Dental Stool8. Unsur penunjang lain dapat turut dimasukan seperti audio-video atau televisi untuk hiburan
pasien yang sedang dirawat.
Perhatian pertama dalam mendesain penempatan peralatan adalah terhadap Dental Unit. Alat ini bukan
kursi statis tetapi dapat direbahkan dan dinaik-turunkan. Pada saat posisi rebah panjang Dental Unit adalah
sekitar 1,8-2 Meter. Di belakang Dental Unit diperlukan ruang sebesar 1 Meter untuk Operators Zone dan
Static Zone, oleh karena itu jarak ideal antara ujung bawah Dental Unit dengan dinding belakang atau
Dental Cabinet yang diletakkan di belakang adalah 3 Meter; sementara jarak antara ujung bawah Dental
Unit dengan dinding depan minimal 0,5 Meter. Dental Unit umumnya memiliki lebar 0,9 Meter, bila Tray
dalam kondisi terbuka keluar maka lebar keseluruhan umumnya 1,5 Cm. Jarak dari tiap sisi minimal 0,8
Meter untuk pergerakan di Operators Zone dan Asistants Zone.
Mobile Cabinet sebagai tempat menyimpan bahan dan alat yang akan digunakan pada saat perawatan
diletakan di Static Zone. Zona ini tidak akan terlihat oleh pasien dan terletak dianatara Operators Zone dan
Assistant Zone sehingga baik Dokter Gigi maupun Perawat Gigi akan dengan mudah mengambil bahan
maupun alat yang diperlukan dalam perawatan. Bila Mobile Cabinet lebih dari satu, maka Mobile Cabinet
kedua diletakan di Operators Zone.
Alat besar terakhir yang berada di Ruang Perawatan adalah Dental Cabinet sebagai tempat penyimpanan
utama bahan maupun alat kedokteran gigi. Umumnya berbentuk buffet setengah badan seperti Kitchen
Cabinet dengan ketebalan 0,6-0,8 Meter. Bila hanya satu sisi, lemari ini ditempatkan di Static Zone,
sedangkan bila berbentuk L, ditempatkan di Static Zone dan Assistants Zone. Keberadaan Dental Cabinet
akan menambah luas ruangan yang diperlukan untuk menempatkannya.
2.3 Muskuloskeletal Disorders
Musculoskeletal disorders (MSDs) atau gangguan otot rangka merupakan kerusakan pada otot, saraf,
tendon, ligament, persendian, kartilago, dan discus invertebralis. Kerusakan pada otot dapat berupa
ketegangan otot, inflamasi, dan degenerasi. Sedangkan kerusakan pada tulang dapat berupa memar, mikro
faktur, patah, atau terpelintir. MSDs terjadi dengan dua cara:
1.

Kelelahan dan keletihan terus menerus yang disebabkan oleh frekuensi atau periode waktu yang
lama dari usaha otot, dihubungkan dengan pengulangan atau usaha yang terus menerus dari bagian
tubuh yang sama meliputi posisi tubuh yang statis;

2.

Kerusakan tiba-tiba yang disebabkan oleh aktivitas yang sangat kuat/berat atau pergerakan yang tak
terduga.

Frekuensi yang lebih sering terjadi MSDs adalah pada area tangan, bahu, dan punggung. Aktivitas yang
menjadi penyebab terjadinya MSDs yaitu penanganan bahan dengan punggung yang membungkuk atau
memutar, membawa ke tempat yang jauh (aktivitas mendorong dan menarik), posisi kerja yang statik
dengan punggung membungkuk atau terus menerus dan duduk atau berdiri tiba-tiba, mengemudikan
kendaraan dalam waktu yang lama (getaran seluruh tubuh), pengulangan atau gerakan tiba-tiba meliputi
memegang dengan atau tanpa kekuatan besar.
Musculoskeletal disorders (MSDs) juga dikenal dengan nama lain, diantaranya:
1.

Repetitive Strain Injuries (RSIs);

2.

Cumulative Trauma Disorders (CTDs);

3.

Overuse Injuries;
5

4.

Repetitive Motion Disorders;

5.

Work-related Musculoskeletal Disorders (WMSDs).

Gejala Musculoskeletal disorders (MSDs) dapat menyerang secara cepat maupun lambat (berangsurangsur), menurut Kromer (1989), ada 3 tahap terjadinya MSDs yang dapat diidentifikasi yaitu:
Tahap 1 : Sakit atau pegal-pegal dan kelelahan selama jam kerja tapi gejala ini biasanya menghilang setelah
waktu kerja (dalam satu malam). Tidak berpengaruh pada performance kerja. Efek ini dapat pulih setelah
istirahat;
Tahap 2 : Gejala ini tetap ada setelah melewati waktu satu malam setelah bekerja. Tidak mungkin
terganggu. Kadang-kadang menyebabkan berkurang-nya performance kerja;
Tahap 3 : Gejala ini tetap ada walaupun setelah istirahat, nyeri terjadi ketika bergerak secara repetitive.
Tidur terganggu dan sulit untuk melakukan pekerjaan, kadang-kadang tidak sesuai kapasitas kerja.
Jenis-jenis keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) antara lain:
a. Sakit Leher
Sakit leher adalah penggambaran umum terhadap gejala yang mengenai leher, peningkatan tegangan otot
atau myalgia, leher miring atau kaku leher. Pengguna komputer yang terkena sakit ini adalah pengguna yang
menggunakan gerakan berulang pada kepala seperti menggambar dan mengarsip, serta pengguna dengan
postur yang kaku;
b. Nyeri Punggung
Nyeri punggung merupakan istilah yang digunakan untuk gejala nyeri punggung yang spesifik seperti
herniasi lumbal, arthiritis, ataupun spasme otot. Nyeri punggung juga dapat disebabkan oleh tegangan otot
dan postur yang buruk saat menggunakan komputer;
c. Carpal Tunnel Syndrome
Merupakan kumpulan gejala yang mengenai tangan dan pergelangan tangan yang diakibatkan iritasi dan
nervus medianus. Keadaan ini disebabkan oleh aktivitas berulang yang menyebabkan penekanan pada
nervus medianus. Keadaan berulang ini antara lain seperti mengetik, arthritis, fraktur pergelangan tangan
yang penyembuhannya tidak normal, atau kegiatan apa saja yang menyebabkan penekanan pada nervus
medianus;
d. De Quervains Tenosynovitis
Penyakit ini mengenai pergelangan tangan, ibu jari, dan terkadang lengan bawah, disebabkan oleh
inflamasi tenosinovium dan dua tendon yang berasa di ibu jari pergelangan tangan. Aktivitas berulang seperti
mendorong space bardengan ibu jari, menggenggam, menjepit, dan memeras dapat menyebabkan inflamasi
pada tenosinovium. Gejala yang timbul antara lain rasa sakit pada sisi ibu jari lengan bawah yang dapat
menyebar ke atas dan ke bawah;
e. Thoracic Outlet Syndrome
Merupakan keadaan yang mempengaruhi bahu, lengan, dan tangan yang ditandai dengan nyeri, kelemahan,
dan mati rasa pada daerah tersebut. Terjadi jika lima saraf utama dan dua arteri yang meninggalkan leher
tertekan. Thoracic Outlet Syndrome disebabkan oleh gerakan berulang dengan lengan diatas atau maju
6

kedepan. Pengguna komputer beresiko terkena sindrom ini karena adanya gerakan berulang dalam
menggunakan keyboard dan mouse;
f. Tennis Elbow
Tennis elbow adalah suatu keadaan inflamasi tendon ekstensor, tendon yang berasal dari siku lengan bawah
dan berjalan keluar ke pergelangan tangan.Tennis elbow disebabkan oleh gerakan berulang dan tekanan pada
tendon ekstensor.
g. Low Back Pain
Low back pain terjadi apabila ada penekanan pada daerah lumbal yaitu L4 dan L5. Apabila dalam
pelaksanaan pekerjaan posisi tubuh membungkuk ke depan maka akan terjadi penekanan pada discus.Hal ini
berhubungan dengan posisi duduk yang janggal, kursi yang tidak ergonomis, dan peralatan lainnya yang
tidak sesuai dengan antopometri pekerja.
(http://merulalia.wordpress.com/2010/08/30/msds/)
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Cara Dokter Gigi Bekerja Secara Ergonomi
Cara dokter gigi bekerja secara ergonomi adalah bekerja yg sesuai dengan prinsip ergonomi.
Prinsip-prinsip ergonomik adalah:
Work in Neutral Postures (bekerja dalam posisi netral)
Reduce Excessive Force (mengurangi beban yang berlebihan)
Tekanan yang berlebihan pada otot akan berpotensi menyebabkan kelelahan dan cedera.
Keep Everything in Easy Reach (membuat semua mudah untuk dijangkau)
Benda yang paling sering digunakan harus berada di daerah jangkauan tangan, susun kembali daerah
kerja dan semakin mudah dalam gerakkan.
Work at Proper Heights (bekerja dengan ketinggian yang sesuai)
Dari pengalaman baik adalah bahwa kebanyakan pekerjaan harus dilakukan didekat sekitar
tingginya, apakah duduk atau berdiri. Pekerjaan lebih berat adalah sering terbaik melakukan lebih
rendah dari tingginya siku. Ketepatan bekerja atau pekerjaan secara visual keras adalah sering terbaik
melakukan didekat kemuliaan di atas.
Reduce Excessive Motions (mengurangi gerakan berlebihan)
Kurangi jumlah gerakan selama kerja, baik lengan, jari maupun punggung.
Minimize Fatigue and Static Load (memperkecil kelelahan dan beban statis)
Berada dalam posisi kerja yang sama untuk beberapa waktu dikenal sebagai beban statis. Ini
menyebabkan kegelisahan dan kelelahan dan dapat menghambat pekerjaan.
Minimize Pressure Points (memperkecil tekanan)
Pada beberapa pekerjaan kita harus hati-hati terhadap poin-poin tekanan berlebihan, yang sering
disebut tekanan kontak.
Provide Clearance (menyediakan tempat yang sesuai/ memeriksa ksesuaian tempat)
Pekerjaan pada Area tertentu perlu untuk disediakan ruang cukup untuk kepala, lutut dan kaki.
Move, Exercise and Stretch (pindah tempat; bergerak, dan mereregangkan otot dan sendi)
Agar tidak mudah lelah tubuh perlu digerakkan dan diregangkan.
Maintain a Comfortable Environment (melihara suatu lingkungan yang nyaman)
Jaga leher tetap lurus,Jaga agar Siku dalam posisi yang benar dan bahu bersantai. Salah satu jalan
yang paling sederhana untuk mengurangi kelelahan manual adalah untuk menggunakan alat bantu
yang sesuai. Memakai bantalan pada tangan untuk pekerajaan-pekerjaan tertentu akan mengurangi
7

beban kerja. Merubah tata letak/ruang untuk meminimalkan gerakan. Ada Kecenderungan lengan
bawah mengalami kontak langsung terhadap tepi yang keras suatu meja kerja yang akan
menciptakan suatu titik tekanan. Dihilangakan dengan memasang lapisan yang elastis pada tepi itu
dan biasanya ini akan membantu.
Aplikasi/ penerapan Ergonomik:
1. Posisi Kerja
Posisi kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri. Berdiri dengan posisi yang benar, dengan
tulang punggung yang lurus dan bobot badan terbagi rata pada kedua kaki. Pada posisi berdiri dengan
pekerjaan ringan, tinggi optimum area kerja adalah 5-10 cm dibawah siku. Agar tinggi optimum ini
dapat diterapkan, maka perlu diukur tinggi siku yaitu jarak vertikal dari lantai ke siku dengan
keadaan lengan bawah mendatar dan lengan atas vertikal. Posisi berdiri dimana posisi tulang
belakang vertikal dan berat badan tertumpu secara seimbang pada dua kaki dan sebaiknya berdiri
tidak lebih dari 6 jam.
Posisi duduk dimana kaki tidak terbebani dengan berat tubuh dan posisi stabil selama bekerja.
Beberapa persyaratan posisi duduk/bekerja dengan duduk adalah:
- Terasa nyaman selama melaksanakan pekerjaannya.
- Tidak menimbulkan gangguan psikologis.
- Dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan memuaskan.
Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau berdiri secara bergantian. Semua
sikap tubuh yang tidak alami harus dihindarkan. Seandainya hal ini tidak memungkinkan, hendaknya
diusahakan agar beban statik diperkecil. Tempat duduk harus dibuat sedemikian rupa, sehingga tidak
membebani, melainkan dapat memberikan relaksasi pada otot-otot yang sedang tidak dipakai untuk
bekerja dan tidak menimbulkan penekanan pada bagian tubuh (paha). Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya gangguan sirkulasi darah dan sensibilitas pada paha, mencegah keluhan
kesemutan yang dapat mengganggu aktivitas.
2. Proses Kerja
Para pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai
dengan ukuran anthropometrinya.
Salah satu faktor pembatas kinerja tenaga kerja adalah tiadanya keserasian ukuran, bentuk sarana
dan prasarana kerja terhadap tenaga kerja. Guna mengatasi keadaan tersebut diperlukan data
antropometri tenaga kerja sebagai acuan dasar disain sarana dan prasarana kerja sehingga para
pekerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dengan posisi waktu bekerja dan sesuai dengan
ukuran antropometrinya. Antropometri sebagai salah satu disiplin ilmu yang digunakan dalam
ergonomi memegang peranan utama dalam rancang bangun sarana dan prasarana kerja.
Hal-hal yang berkaitan dengan antropometri :
a. Sikap tubuh yang baik
Sikap tubuh yang baik dalam melakukan suatu aktivitas diantaranya tidak membungkuk, tidak
jongkok, tidak memutar tubuh, tinggi tempat kerja antara tinggi pusat dan tinggi siku, tidak
meraih objek atau benda yang melebihi tinggi bahu, dan letak objek sesuai dengan jangkauan
lapangan pandang mata (30-60 dari masing-masing mata).
b. Gerakan kerja otot
Gerakan kerja otot meliputi kerja otot yang dinamis dan statis. Kerja otot yang dinamis
merupakan pergantian antara kontraksi dan relaksasi otot secara ritmis. Yang perlu diperhatikan
pada gerakan kerja otot dinamis adalah frekuensi pernapasan, denyut jantung dan tekanan darah
meningkat, sedangkan aliran darah dan oksigen ke otot yang aktif meningkat dan ke otot yang
inaktif berkurang. Adapun kerja otot statis adalah kerja otot dimana kontraksi otot terjadi untuk
waktu yang lama, biasanya untuk mempertahankan posisi tubuh tertentu. Pada kerja otot statis
biasanya konsumsi energi lebih rendah, frekuensi jantung lebih rendah, sehingga waktu istirahat
yang diperlukan lebih pendek.
8

c. Beban kerja
Untuk mengangkat dan memindahkan objek harus diperhatikan beberapa hal seperti berat beban
maksimum, pengangkatan/pemindahan barang secara berulang, dan gerakan-gerakan yang
berulang. Diperlukan pengembangan ototmatisasi pada bidang pekerjaan dengan gerakan yang
berulang sehingga dapat mencegah cedera atau penyakit neuromuskuler.
3. Tata letak tempat kerja
Display harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Sedangkan simbol yang
berlaku secara internasional lebih banyak digunakan daripada kata-kata.

Penataan area kerja dan peralatan kerja harus dapat memberikan ruang gerak yang cukup bagi
pemiliknya agar pekerja merasa leluasa bergerak.
Semua peralatan yang paling lama atau paling sering kontak dengan mata ditempatkan pada
bagian tengah area kerja.
Semua peralatan yang paling sering dipegang ditempatkan pada area jangkauan tangan yang
optimal.
Pencahayaan yang terlalu terang atau menyilaukan mata harus dihindari.
Area kerja harus jelas terlihat pada waktu melakukan aktivitas kerja. Segala jenis peralatan yang
ada dalam area kerja harus benar-benar berhubungan dengan pekerjaan. Dan semua peralatan
tersebut harus diatur dan ditata dengan baik.

4. Mengangkat beban
Bermacam-macam cara dalam mengangkat beban yakni, dengan kepala, bahu, tangan, punggung
dsbnya. Beban yang terlalu berat dapat enimbulkan cedera tulang punggung, jaringan otot dan
persendian akibat gerakan yang berlebihan.
5. Kapasitas dan Kemampuan
6. Jalur Kerja dan Pergerakan
7. Waktu Bekerja
Untuk mencegah kelelahan yg berlebihan.
3.2 Konsep Four Handed Dentistry
Konsep Four Handed Dentistry dikenal dengan konsep pembagian zona kerja disekitar Dental Unit
yang disebut Clock Concept. Bila pasien dijadikan pusat, pasien diposisikan arah jam 6 dimana letak bagian
belakang kepala tepat pada jam 12. Pada clock consept ini dibagi menjadi 4 zona dimana arah jam 11 sampai
jam 2 disebut Static Zone, arah jam 2 sampai jam 4 disebut Assistens Zone, arah jam 4 sampai jam 8
disebut Transfer Zone, kemudian dari arah jam 8 sampai jam 11 disebut Operators Zone sebagai tempat
pergerakan Dokter Gigi.
Static Zone adalah daerah tanpa pergerakan Dokter Gigi Maupun Perawat Gigi serta tidak terlihat
oleh pasien, zona ini untuk menempatkan Meja Instrumen Bergerak (Mobile Cabinet) yang berisi Instrumen
Tangan serta peralatan yang dapat membuat takut pasien. Assistants Zone adalah zona tempat pergerakan
Perawat Gigi, pada Dental Unit di sisi ini dilengkapi dengan Semprotan Air/Angin dan Penghisap Ludah,
serta Light Cure Unit pada Dental Unit yang lengkap. Transfer Zone adalah daerah tempat alat dan bahan
dipertukarkan antara tangan dokter gigi dan tangan Perawat Gigi. Sedangkan Operators Zone sebagai
tempat pergerakan Dokter Gigi.
3.3 Hubungan Antara Ergonomi dan Four Handed Dentistry
Prinsip utama dalam desain tata letak penempatan alat kedokteran gigi adalah prinsip ergonomis,
yaitu menyerasikan atau menyeimbangkan antara segala fasilitas yang digunakan baik dalam beraktivitas
maupun istirahat dengan kemampuan dan keterbatasan manusia, baik fisik maupun mental sehingga kualitas
hidup secara keseluruhan menjadi lebih baik. Tata letak hanyalah salah satu faktor dalam ergonomis, banyak
9

faktor lain yang merupakan unsur ergonomis seperti desain warna, pencahaaan, suhu, kebisingan, dan
kualitas udara ruangan,
serta desain peralatan yang digunakan maka berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
konsep four handed dentistry merupakan salah satu cara meningkatkan ergonomi seorang dokter gigi dalam
melakukan perawatan pada pasien. Dengan penerapan four handed dentistry, yang berarti dokter gigi dibantu
oleh asisten dalam melaksanakan perawatan, maka ergonomic dalam bekerja dapat dicapai dengan lebih
maksimal. Pergerakan dokter gigi bisa ditekan seminial mungkin dengan posisi senyaman mungkin sehinga
mengurangi resiko terjadinya gangguan kesehatan terutama masalah-masalah musculoskeletal disorder serta
meningkatkan kenyamanan kerja dan meningkatkan kualitas hidup seorang dokter gigi.
3.4 Macam-Macam Musculoskeletal Disorders
Faktor-faktor yang mendorong ke arah MSDs terjadi pada beberapa orang dan sebagian lagi terjadi dari
waktu terpaparnya. Gejala MSDs terlihat dalam berbagai bentuk. Hal tersebut mempersulit mengidentifikasi
penyebab awalterjadinya MSDs hingga timbul masalah yang jelas. Lokasi timbulnya gejala menjadi salah
satu ciri adanya MSDs, seperti pada tulang punggung, tangan dan pergelangan.
A. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Bawah
Sembilan puluh persen orang akan merasakan sakit tulang belakang pada beberapa titik di
dalam kehidupannya.[15] Mereka merasakan sakit pada tulang belakang bagian bawah untuk kedua
kalinya sebagai alasan utama untuk melakukan perawatan medis. [16] Sakit tulang belakang bagian
bawqah ini mewabah di Negara besar seperti Amerika Serikat. Hal itu sudah di perkirakan dan
insidensi timbulnya Lower Back Pain (LBP) per tahun adalah 5% dari populasi.[14]
Sekitar 70% dan 90% dari orang-orang mengalami peristiwa kambuhnya rasa nyeri, dan
sepertiga pasien mengalami nyeri yang persisten, rekuren, dan intermiten dari rasa nyeri yang
pertama.[17.18] Kesulitan menyembuhkan jaringan tertentu (seperti spondylolisthesis), proses
degeneratif yang berkelanjutan, dan banyak pasien yang tidak memperkecil faktor resiko potensial.
Semua ini dapat berperan dalam memperparah terjadinya LBP.
Hal lain yang terpisah tetapi terkait dengan sakit tulang belakang bagian bawah adalah cedera
tulang belakang. Ini biasanya terjadi secara akut, peristiwa mendadak sakit tulang belakang atau
penyakit pegal pada pinggang berhubungan dengan suatu peristiwa yang spesifik. Cedera seperti
itu pada umumnya tidak dianggap sebagai MSDs yang di hubungkan daengan gerakan berulang.
Meskipun demikian, ada juga cedera seperti itu yang menyebabkan rasa sakit apabila melakukan
gerakan berulang tertentu.
Perawatan dari sakit tulang belakang bagian bawah ini harus dibedakan untuk masing-masing
pasien. Karena penyebab timbulnya rasa sakit pada tiap-tiap pasien itu berbeda-beda. Sementara ada
bukti ilmiah yang mendukung intervensi spesifik, seperti koreksi postur tubuh, posisi tubuh pasien,
latihan umum dan teknik-teknik fisioterapi spesifik yang mungkin akan sangat bermanfaat.[19]
B. Sakit pada Tulang Belakang Bagian Atas
Beberapa individu melaporkan adanya rasa sakit pada tulang belakang bagian atas dan
tengah. Tulang thorax (thoracic spine) dirancang untuk mendukung organ penting didalamnya dan
sangat kuat. Jarang sekali mengalami gejala-gejala degeneratif karena pergerakannya kecil dan
sangat stabil. Tentu saja trauma atau cedera dari ketegangan bisa menyebabkan rasa nyeri. Meski
struktur-struktur dari tulang belakang jarang cedera, tetapi beberapa kondisi-kondisi seperti
osteoporosis dapat mempengaruhi kondisi spesifik seperti tekanan yang mematahkan. Tulang thorax
sering dilibatkan dalam skoliosis yang idiopatik atau kebongkokan. Hal ini kemudian dapat
berkembang menjadi kondisi yang menyakitkan, meski sumber dan penyebab yang tepat sering kali
belum jelas.
Mungkin hal tersebut merupakan penyebab yang sering timbul pada bagian pertengahan
tulang belakang, tetapi sekali lagi sangatlah sulit untuk dapat mendiagnosa dengan tepat nyeri otot
dari otot-otot postural dan otot-otot tulang belikat. Kontribusi dari postur yang abnormal, postur
10

statis, kekuatan dan daya tahan yang lemah dan menyeluruh mempengaruhi keadaan individu dan
perlu untuk diperhitungkan. Beberapa usaha rehabilitasi harus melibatkan otot-otot yang besar,
termasuk peregangan, latihan-latihan penguatan, aktivitas fungsional, dan perhatian pada postur
tubuh.[20]
C. Sakit pada Tangan dan Pergelangan tangan
MSDs dari tangan dan pergelangan tangan dapat terjadi dalam bermacam-macam bentuk
seperti, kelainan trauma kumulatif, cedera karena ketegangan, trauma mikro karena pekerjaan
berulang, sindrom penggunaan berlebih, sindrom terowongan karpus (carpal tunnel syndrome) dan
kelainan karena tekanan yang berulang.[14] Hal dominan yang menjadi penyebab kelainan gerakan
berulang adalah gerakan-gerakan pembelokan dan perluasan dari pergelangan tangan dan jari-jari.
Secara kronis gerakan berulang tersebut terutama pada posisi pinch menjadi penyebab terbanyak.[15]
Hal umum lain yang menyokong faktor-faktor terjadinya cedera pada tangan dan pergelangan tangan
termasuk gerakan-gerakan di mana pergelangan tangan itu menyimpang dari posisi netral menjadi
posisi yang abnormal ataupun tidak biasa; bekerja untuk periode waktu yang lama tanpa istirahat
atau pertukaran otot-otot tangan dan lengan bawah; tekanan mekanik pada persarafan dari
genggaman pada tepi tajam dari instrument, pekerjaan yang membutuhkan kekuatan berlebih dan
memperluas penggunaan dari instrument-instrument yang bergetar seperti dental handpieces.
DAFTAR PUSTAKA
Anononim. Ergonomi. Pusat Kesehatan Kerja Departemen Kesehatan RI
Design by Feel Papers. www.designbyfeel.com. Diakses 4 Juli 2006.
Dougherty, M. Information for Consideration in an Ergonomic Standard for Dentistry.
Endro, H. Presfektif Baru dalam Desain Tempat Praktek. Dentamedia, Nomor 1 Volume
8. Januari 2004. Hal 4-5.
Finkbeiner, B, dan C. Fainkbeiner. Practice Management for Dental Team. St Louis :
Mosby. 2001.
Heizer, J. dan B. Render. Operation Management. Sixth Edition. Upper Saddle River :
Prentice Hall.
Jones. Klinik Gigi Toothfairy, Periksa Gigi di Ruang Biru. 115 Sudut Ruang Usaha.
Jakarta : PT Samindra Utama. Hal 72-75.
Kilpatrick. H. Work Simplification in Dental Practice. Philadhelphia : WB Saunders
Company. 1974
Murdick, B. dkk. Service Operation Management. Boston : Allyn and Bacon. 1990.
Nusanti, D. Dental Surgeon Assistant. Dental Horison. Volume 2 Nomor 7. Oktober
2000. Hal 31-33.
Tawaka, dkk. Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas.
Surakarta : Islam Batik University Press. 2004.
http://bodaesmunti.wordpress.com/2009/06/15/prinsip-prinsip-ergonomi/
http://merulalia.wordpress.com/2010/08/30/msds/
http://dadang-saksono.blogspot.com/2010/07/dental-unit.html
11

http://aguswibisono.com/2009/apa-itu-ergonomi/
http://www.depkes.go.id/downloads/Ergonomi.PDF
http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/Desain%20Tata%20Letak
%20Penempatan%20Alat%20Kedokteran%20Gigi.pdf

12