Anda di halaman 1dari 57

BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Dasar Alasan Permohonan Praperadilan Yang Dilakukan Oleh Pemohon


Dalam Putusan Praperadilan Nomor: 04/Pid.Pra/2015/PN.MLG.
3.1.1 Kasus Posisi.
Dalam perkara Nomor : 04/Pid.Pra/2015/PN.MLG pemohon I merupakan
ketua pengurus KSU MH. Dalam menjalankan usaha simpan pinjamnnya KSU
MH melaksanakan kegiatan menghimpun simpanan koperasi berjangka,
menghimpun dana dan melakukan pemberian pinjaman kepada anggotanya. Akan
tetapi pada awal tahun 2015 KSU MH mengalami likuiditas dan berimbas pada
kemampuan pembayaran modal pinjaman berupa simpanan berjangka para
anggota. Oleh karena permasalahan likuiditas tersebut, salah satu anggota pemilik
simpanan membuat laporan polisi dengan No. LP/766/VI/2015/JATIM/RES
MALANG KOTA dengan dasar dugaan menghimpun dana masyarakat dalam
bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari pimpinan Bank Indonesia dan penipuan
dan/atau penggelapan sebagaimana dimaksut dalam pasal 46 undang-undang No.
10 tahun 1998 tentang perbankan serta pasal 378 dan/atau 372 KUHP, dan
selanjutnya pemohon I serta suami pemohon II ditetapkan sebagai tersangka oleh
pihak kepolisian. Terkait dengan penetapan tersangka tersebut pemohon I dan
pemohon II mengajukan permohonan praperadilan atas penetapan tersangka
pemohon I dan suami pemohon II dengan dasar permohonan berupa penerapan
dasar hukum yang tidak tepat, yaitu penggunaan Undang-Undang perbankan
dalam kasus perkoperasian. Selain itu pemohon I dan pemohon II beranggapan

bahwa penetapan suami pemohon II oleh termohon adalah tindakan yang tidak
tepat sebab yang bersangkutan tidak terlibat sama sekali dalam pengurusan KSU
MH.
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap dipersidangan hakim beraggapan
bahwa penetapan pemohon I dan suami pemohon II sebagai tersangka tidak
didasarkan pada penerapan hukum yang tepat sehingga penetapan tersangka
tersebut tidak sah dan menjatuhkan putusan berupa mengabulkan permohonan
praperadilan Para Pemohon untuk seluruhnya, menyatakan penetapan tersangka
atas diri pemohon I dan suami pemohon II yang dilakukan oleh termohon adalah
tidak sah, menyatakan tidak sah segala keputusan dan penetapan yang dikeluarkan
lebih lanjut oleh termohon yang berkaitan dengan penetapan tersangka terhadap
diri pemohon I dan suami pemohon II oleh termohon.
Menurut termohon dalam eksepsinya menerangkan bahwa batasan atau
ruang lingkup serta obyek dari kewenangan lembaga praperadilan adalah
mencakup sah atau tidaknya penangkapan, penahanan, penghentian penyidikan
atau penghentian penuntutan, ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi seorang
yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan.
Mengenai izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia saat ini telah beralih menjadi
kewenangan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, sejak beralihnya Fungsi
Pengawasan Perbankan dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) karena berdasarkan pasal 44 UU No.25 tahun 1992 tentang Perkoperasian
yang intinya telah memberikan landasan hukum bagi koperasi untuk menghimpun
dan menyalurkan dana adalah tindak dapat dibenarkan menurut hukum yang

berlaku dan dalam hal ini penyidik termohon telah sesuai dalam penerapan pasal
yang disangkakan.
Adapun dalil dari para pemohon yang ditujukan pada diri termohon yakni
mendalilkan tindakan termohon yang menetapkan status tersangka terhadap
pemohon I dengan dasar Undang-Undang No.10 tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang Perbankan dan penetapan
tersangka terhadap suami pemohon II atas dasar Undang-Undang No.10 tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang
Perbankan jo pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP merupakan tindakan sewenangwenang karena tidak menerapkan hukum sebagaimana mestinya adalah tidak
benar dan hanya didasarkan pada perkiraan semata bukan pada fakta yang
sebenarnya, perbuatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia yang dilakukan pemohon I dan
suami pemohon II adalah jelas-jelas melanggar ketentuan sebagaimana diatur
dalam pasal 46 Undang-Undang No.10 tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang Perbankan jo pasal 55 ayat (1) ke 1e.
3.1.2 Identifikasi Alasan Permohonan :
a) Alasan Pemohon :
1. PEMOHON I telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh TERMOHON
sebagaimana Surat Panggilan No. S.Pgl/2194/IX/2015/Satreskrim,
tanggal 25 September 2015, terkait dugaan perkara pidana adanya
menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha
dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 46

UU RI No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun


1992 tentang Perbankan.
2. SUAMI PEMOHON II telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh
TERMOHON

sebagaimana

Surat

Panggilan

Nomor.

S.Pgl/2195/IX/2015/Satreskrim, tanggal 25 September 2015, terkait


dugaan perkara pidana turut serta menghimpun dana masyarakat dalam
bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Terkait alasan permohonan dari pemohon tentang beralihnya status saksi
menjadi tersangka atas dugaan perkara pidana menghimpun dana masyarakat
dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, serta dugaan
penipuan dan/atau penggelapan sesuai ketentuan pasal 372 dan/atau 378 KUHP
adapun dalil-dalil dari para pemohon praperadilan yakni KSU MH didirikan pada
tanggal 11 Maret 1999 dan telah memperoleh status badan hukum pada tanggal 4
Juni 1999 berdasarkan Keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha Kecil dan
Menengah Republik Indonesia No. 196/BH/KDK 13.32/1.2/VI/1999 sehingga
secara hukum telah sah dan dapat menjalankan usaha serta berdasarkan hasil
Rapat Anggota luar biasa KSU MH, Dewi Maria (PEMOHON I) telah dipilih
sebagai KSU MH untuk periode Tahun 2011-2013 dan selanjutnya PEMOHON I
terpilih kembali untuk periode Tahun 2014-2017.

Pada awal tahun 2015 Koperasi Serba Usaha Montana Hotel mengalami
permasalahan likuiditas, karena banyaknya piutang dari Koperasi Serba Usaha
Montana Hotel yang belum terbayar, hal ini berimbas pada kemampuan
membayar kembali modal pinjaman berupa simpanan berjangka para anggota.
Ketidakmampuan pengembalian modal pinjaman berupa simpanan berjangka ini
selanjutnya diartikan oleh salah satu pemilik simpanan berjangka sebagai upaya
KSU MH untuk lari dari kewajiban membayar bunga dan/atau pengembalian uang
simpanan berjangka, sehingga telah membuat laporan polisi dengan No.
LP/766/VI/2015/JATIM/RESMALANG KOTA, tanggal 16 Juni 2015.
Sehubungan dengan laporan polisi tersebut, PEMOHON I telah dipanggil
berdasarkan Surat No : B/1234/VI/2015/Satreskrim tanggal 1 Juli 2015, perihal
bantuan menghadirkan saksi atas dugaan adanya menghimpun dana masyarakat
dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia dan
Penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No
10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan dan Pasal 378 dan/atau 372 KUHP, panggilan dimaksud telah
PEMOHON I penuhi dan PEMOHON I telah diperiksa untuk dimintai keterangan
pada hari jumat tanggal 10 Juli 2015.
Berdasarkan Surat Panggilan No. S.Pgl/2104/IX/2015/Satreskrim, tanggal
15 September 2015, PEMOHON I telah dipanggil untuk didengar keterangan
tambahan selaku saksi dalam dugaan perkara tindak pidana adanya menghimpun
dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank
Indonesia dan Penipuan dan/atau penggelapan sebagaimana dimaksud dalam pasal
5

46 UU RI No 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992


tentang Perbankan dan Pasal 378 dan/atau 372 KUHP.
Selanjutnya

sebagaimana

Surat

Panggilan

No.S.Pgl/2194/IX/2015/Satreskrim, tanggal 25 September 2015, PEMOHON I


telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh Termohon terkait dugaan perkara pidana
adanya menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha
dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No
10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan; dan SUAMI PEMOHON II telah ditetapkan sebagai Tersangka oleh
Termohon sebagaimana Surat Panggilan No. S.Pgl/2195/IX/2015/Satreskrim,
tanggal 25 September 2015, terkait dugaan perkara pidana turut serta
menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari
Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No 10
Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
b) Alasan Termohon :
1. Batasan atau ruang lingkup serta obyek dari kewenangan lembaga
Praperadilan adalah mencakup sah atau tidaknya penangkapan,
penahanan, penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan, ganti
kerugian dan / atau rehabilitasi bagi seorang yang perkara pidananya
dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan. hal ini sebagaimana
telah secara tegas ditentukan dalam ketentuan pasal 77 Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana.
2. Mencermati dan memperhatikan secara seksama mengenai obyek /
materi gugatan praperadilan yang diajukan oleh para Pemohon terkait
6

penetapan tersangka dengan mendasarkan kepada Putusan Mahkamah


Konstitusi Republik Indonesia Nomor 21/PUU-XII/2014 tanggal 28 April
2015 dan beberapa Putusan Praperadilan mengenai penetapan tersangka
adalah tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Dalam arti kata,
bahwa Hakim tidak terikat secara mutlak atas putusan-putusan tersebut.
3. objek hukum permohonan praperadilan yang diajukan oleh para
Pemohon terkait penetapan tersangka bagi Pemohon I dan suami
Pemohon II oleh Termohon dalam perkara pidana menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang- Undang Nomor
7 Tahun 1992 tentang Perbankan sehubungan dengan laporan Sdr.
Yohanes Halim alamat Jl. Tenes 32 RT. 02 / 07 Kel. Kauman Kec. Klojen
Kota Malang yang disampaikan kepada Termohon dan telah ditindak
lanjuti oleh Termohon dengan dituangkan dalam bentuk Laporan Polisi
(model B) Nomor : LP/766/VI/2015/Res Mlg Kota tanggal 16 Juni 2015
atas nama terlapor suami Pemohon II (Eko Handoko Widjaja) alamat Jl.
Kawi No. 23 RT. 03 / 02 Kota Malang, yang selanjutnya setelah
dilakukan proses penyidikan lebih lanjut, maka Termohon melalui
penyidiknya menentukan tersangka lain yang terkait dengan perkara
suami Pemohon II yaitu Pemohon I atas nama Dewi Maria beralamat di
Jl. Danau Belayan IV C4B 9-10 RT 09, RW 10 Kel. Lesanpuro Kec.
Kedung Kandang Kota Malang selaku Ketua Koperasi KSU Montana
Hotel, sedangkan Sdr. Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon II) selaku

tersangka dalam tindak pidana turut serta atau secara bersama-sama


menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin
usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal
46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Jo Pasal 55
ayat (1) ke 1e KUHP.
Terkait alasan termohon atas permohonan dari pemohon tentang beralihnya
status saksi menjadi tersangka atas dugaan perkara pidana menghimpun dana
masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank
Indonesia sebagaimana dimaksud dalam pasal 46 UU RI No 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas UU RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, serta dugaan
penipuan dan/atau penggelapan sesuai ketentuan pasal 372 dan/atau 378 KUHP
adapun dalil-dalil dari termohon yakni sesuai kewenangan Termohon selaku
Penyidik yang diberikan oleh Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang
Hukum Acara Pidana (selanjutnya disebut KUHAP) melakukan upaya penyidikan
atas laporan Sdr. Yohanes Halim sebagaimana Laporan Polisi (model B) Nomor :
LP/766/VI/2015/Res Mlg Kota tanggal 16 Juni 2015 dengan mengeluarkan Surat
Perintah Penyidikan Nomor : Sp.Sidik/1013/VI/2015/Satreskrim tanggal 16 Juni
2015 dan melakukan pemeriksaan sebanyak 4 saksi yaitu Yohanes Halim
(Pelapor), Amelia, S.E. (istri Pelapor), Sunarti, S.E. (Kabag BCA Prioritas Cabang
Malang), dan Rony Hadianto (Koperasi Montana) serta 2 saksi ahli yaitu Maulana
Yusup (Ahli Otoritas Jasa Keuangan OJK) dan I Woja Kullu, S.E. (Ahli Dinas
Koperasi Kota Malang) yang sebagian besar menjelaskan bahwa pemohon I telah

melakukan perbuatan menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan


tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Selanjutnya suami pemohon II telah melakukan perbuatan tindak pidana
turut serta atau secara bersama-sama menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Jo
Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHP dan hal ini dipertegas oleh Ahli dari OJK atas nama
Maulana Yusup bahwa perbuatan / tindakan Koperasi terkait usahanya
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berjangka dan
menerbitkan Bilyet Simpanan Berjangka yang memenuhi karakteristik simpanan
dalam bentuk Deposito sesuai yang diatur dalam Pasal 1 angka 5 dan angka 7
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, tidak ada izin dari otoritas yang
berwenang yaitu pimpinan Bank Indonesia atau Dewan Komisioner Otoritas Jasa
Keuangan (vide UU No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan), dimana
perbuatan tersebut telah melanggar Pasal 16 Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan dan memenuhi unsur Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
Jo 55 ayat (1) ke 1e KUHP.

Penyidik Termohon juga telah memperoleh bukti surat dari Sdr. Yohanes
Halim (Pelapor) berdasarkan Surat Perintah Penyitaan Nomor : SP.Sita/ 160/
VI/2015/ Satreskrim, Berita Acara Penyitaan dan Surat Tanda Penerimaan
tertanggal 16 Juni 2015 serta Penetapan Pengadilan Negeri Malang Nomor : 767/
Pen.Pid/2015/ PN.Mlg berupa 21 (dua puluh satu) lembar bukti setoran dari Bank
BCA ke Rekening Bank BCA Cabang Malang Nomor 816.061.8877 atas nama
Eko Handoko Widjaja, S.H. (suami Pemohon II), 13 (tiga belas) lembar bukti
setoran dari Bank BCA ke Rekening BCA Cabang Malang Nomor 439.025.5115
atas nama atas nama Eko Handoko Widjaja, S.H. (suami Pemohon II), 15 (lima
belas) lembar Surat Simpanan Berjangka yang dikeluarkan oleh Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel Unit Simpan Pinjam Montana Kusuma Artha III / IV yang
ada di Jl. Danau Toba A-10 Sawojajar Malang, 12 (dua belas) lembar Surat
Simpanan Berjangka yang dikeluarkan oleh Koperasi Serba Usaha Montana Hotel
unit Simpan Pinjam Montana Kusuma Artha I yang ada di Jl. Ciliwung 10 Kav. 4
Kota Malang.
Berdasarkan rumusan Pasal 1 angka 14 KUHAP Tersangka adalah seorang
yang karena perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut
diduga sebagai pelaku tindak pidana dan berkaitan dengan bukti permulaan
berdasarkan salah satu amar Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Nomor 21/PUU-XII/2014 tanggal 28 April 2015 menyatakan Frasa bukti
permulaan, bukti permulaan yang cukup, dan bukti yang cukup sebagaimana
ditentukan dalam Pasal 1 angka 14, Pasal 17, dan Pasal 21 ayat (1) UndangUndang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara

10

Republik Indonesia Tahun 1981, Nomor 76, Tambahan Lembaran Negara


Republik Indonesia Nomor 3209) tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat
sepanjang tidak dimaknai bahwa bukti permulaan, bukti permulaan yang
cukup, dan bukti yang cukup adalah minimal dua alat bukti yang termuat dalam
Pasal 184 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana,
maka bukti permulaan yang sekarang dimaknai sebagai minimal dua alat bukti
tersebut oleh Termohon telah berhasil dikumpulkan sebagaimana pada point no. 3
dan 4 tersebut di atas dan didasarkan hasil gelar perkara pada hari Senin tanggal
14 September 2015 yang dilaksanakan di Polres Malang Kota dengan kesimpulan
bahwa Sdr. Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon II) sudah cukup beralasan
hukum untuk ditingkatkan statusnya sebagai tersangka oleh Termohon dan
menetapkan tersangka lain yang ada kaitannya dengan tindak pidana perbankan
yaitu Pemohon I serta telah ditindak lanjuti oleh Termohon dengan dikeluarkan
Surat Panggilan (Tersangka) Nomor : SP.Pgl/2194/IX/2015/Satreskrim tanggal 25
September 2015 untuk Pemohon I dan Surat Panggilan (Tersangka) Nomor :
SP.Pgl/2195/IX/2015/Satreskrim tanggal 25 September 2015 untuk suami
Pemohon II (Eko Handoko Widjaja).
Selanjutnya izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia saat ini telah beralih
menjadi kewenangan Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan sejak beralihnya
Fungsi Pengawasan Perbankan dari Bank Indonesia kepada Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) sejak Desember 2013 sesuai dengan Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan. Kegiatan menghimpun dana dari
masyarakat oleh siapapun pada dasarnya merupakan kegiatan yang perlu diawasi

11

karena terkait dengan kepentingan masyarakat yang dananya disimpan pada pihak
yang menghimpun dana tersebut.
Pemohon juga mendalilkan hubungan hukum antara KSU MH dengan para
pemilik dana simpanan merupakan hubungan keperdataan, sehingga apabila
terjadi perselisian dalam penyelenggaraan koperasi, maka penyelesaiannya harus
dilakukan sesuai dengan Anggaran Dasar KSU Montana Hotel, Pasal 25, 27 dan
Pasal 55 s/d 55 UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian serta Pasal 29 dan
37 PP No. 9 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam
oleh Koperasi adalah benar dan tidak semuanya salah, namun demikian hak
keperdataan yang berkaitan dengan cidera janji (wanprestasi) yang dilakukan oleh
suami Pemohon II (Eko Handoko Widajaja) atau Pemohon I yang tidak bisa
membayar dana yang dipinjam dari Sdr. Yohanes Halim (Pelapor) benar-benar
belum digunakan secara maksimal oleh Sdr. Yohanes Halim, hal ini dapat
dibuktikan bahwa Sdr. Yohanes Halim telah meminta dananya kepada pihak
Koperasi melalui Pemohon I maupun suami Pemohon II, namun hal tersebut tidak
bisa dipenuhi dan hanya janji-janji yang didapatkan. Di sisi lain, tuntutan pidana
terhadap Koperasi berkaitan dengan usaha menghimpun dana dari masyarakat
dalam bentuk simpanan tanpa ijin dari otoritas yang berwenang tentunya tidak
bisa dikaitkan secara langsung dengan hak keperdataan atau gugatan perdata oleh
Sdr. Yohanes Halim berkaitan dengan wansprestasi pihak Koperasi, namun hal ini
bisa dilaksanakan atau diajukan secara bersama-sama, sehingga perkara perdata
yang ada tidak menghapus pertanggungjawaban koperasi dalam perkara pidana.

12

Pemohon mendalilkan penerapan Pasal 46 UU No. 10 Tahun 1998 tentang


Perubahan Atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sepatutnya tidak
dikenakan pada diri Pemohon I dan suami Pemohon II oleh karena berdasar Pasal
44 UU No.25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang intinya telah memberikan
landasan hukum bagi koperasi untuk menghimpun dan menyalurkan dana adalah
tidak dapat dibenarkan menurut hukum yang berlaku dan dalam hal ini penyidik
Termohon telah sesuai dalam penerapan pasal yang disangkakan, dalil termohon
dapat dibuktikan dengan dalil-dalil hukum sebagai berikut :
a. Pasal 16 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan (UU
Perbankan) berbunyi : Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun
dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu
memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat
dari Pimpinan Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana
dari masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang tersendiri.
b. Pasal 44 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
berbunyi :
Ayat (1) : Koperasi dapat menghimpun dana dan menyalurkan melalui
kegiatan usaha simpan pinjam dari dan untuk :
a) anggota Koperasi yang bersangkutan;
b) koperasi lain dan/atau anggotanya.

13

Ayat (2) : Kegiatan usaha simpan pinjam dapat dilaksanakan sebagai


salah satu atau satu-satunya kegiatan usaha Koperasi.
Ayat (3) : Pelaksanaan kegiatan usaha simpan pinjam oleh Koperasi
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.
c. Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil dan Menengah RI
Nomor : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan
Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi pada Bab pertama Ketentuan Umum
Pasal 1 Nomor 21 berbunyi Simpanan Berjangka adalah simpanan pada
koperasi yang penyetorannya dilakukan sekali dan penarikannya hanya
dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan
dengan koperasi yang bersangkutan dan Bab kedua Jenis Usaha Pasal 20
ayat (3) dan ayat (4) berbunyi
Ayat (3) : Pemberian nama dan ketentuan mengenai jenis-jenis tabungan
koperasi dan simpanan berjangka merupakan wewenang koperasi dengan
memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
Ayat (4) : KSP dan USP Koperasi atas persetujuan rapat anggota dapat
mengembangkan produk turunan dari kegiatan simpan pinjam dari
simpan pinjam sesuai ketentuan yang berlaku (dalam hal ini bisa
melihat UU Perbankan dan PBI yang mengatur masalah ini)
d. Pasal 46 ayat (1) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan berbunyi
Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
14

tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 16, diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5
(lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurangkurangnya Rp. 10 miliar dan paling banyak Rp. 20 miliar
e. Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHP berbunyi Dihukum sebagai orang yang
melakukan peristiwa pidana : orang yang melakukan, yang menyuruh
melakukan atau turut melakukan perbuatan itu. Bahwa fakta berdasarkan
proses hasil penyidikan yang dilakukan oleh penyidik Termohon
membuktikan bahwa suami Termohon II telah menghimpun dana dari Sdr.
Yohanes

Halim

dengan

cara

meminjam

uang

tersebut

untuk

mengembangkan usaha Koperasi Serba Usaha Montana Hotel milik suami


Pemohon II secara bersama-sama dengan atau setidak-tidaknya dibantu
pengelolaannya oleh Pemohon I, di mana penggunaan dana untuk
pengembangan koperasi tersebut tanpa sepengetahuan dan tidak seijin Sdr.
Yohanes Halim selaku pemilik dana / modal dan Pemohon I maupun suami
Pemohon II atas nama koperasi telah mengeluarkan produk Simpanan
Berjangka yang diberikan kepada Sdr. Yohanes Halim dan diberikan bunga
atas simpanan tersebut sebesar 14 % setiap tahunnya, padahal diketahui
bahwa Sdr. Yohanes Halim bukanlah anggota KSU Montana Hotel dan tidak
pernah diundang untuk mengikuti Rapat Anggota Tahunan (RAT) sehingga
Sdr. Yohanes Halim tidak pernah tercatat dalam RAT atau keanggotaan
Koperasi Montana Hotel, hal ini juga ditegaskan oleh Pemohon I dalam
keterangannya dalam BAP Pemohon I dan Sdr. Yohanes Halim setidak-

15

tidaknya bukan pula anggota Koperasi lain, sehingga usaha penghimpunan


dana ini tidak sejalan atau tidak sesuai dengan Pasal 44 ayat (1) UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, dengan demikian
upaya penghimpunan dana dari masyarakat ini pula tidak sesuai dengan
Pasal 46 ayat (1) Undang- Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
karena usaha menghimpun dana secara bersama-sama dari masyarakat yang
dilakukan oleh Pemohon I dan suami Pemohon II tidak seijin Pimpinan
Bank Indonesia atau Otoritas Jasa Keuangan yang ada. Di sisi lain, kegiatan
usaha simpan pinjam dengan menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk Simpanan Berjangka yang memberikan bunga 14 % yang dilakukan
oleh Koperasi Serba Usaha Montana Hotel tidak sepengetahuan atau
setidak-tidaknya tidak pernah dilaporkan kepada Dinas Koperasi Kota
Malang dan Surat Berjangka yang dikeluarkan oleh Koperasi telah
memenuhi karakteristik Simpanan dalam bentuk Deposito, sehingga
Pemohon I dapat dipersangkakan sebagai tersangka dikarenakan sebagai
pengurus koperasi yang menghimpun dana tanpa ijin dari Pimpinan Bank
Indonesia, sedangkan suami Pemohon II dipersangkakan sebagai tersangka
selaku turut serta dalam usaha menghimpun dana dari masyarakat tanpa ijin
dari otoritas yang berwenang untuk diserahkan kepada Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel.
Dalil dari para pemohon mendasarkan Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 12
Tahun 2009 tentang Pengawasan dan Pengendalian Penanganan Perkara Pidana di

16

Lingkungan Polri adalah salah dan tidak benar dalam mendasarkan hukumnya
karena Peraturan Kapolri (Perkap) Nomor 12 Tahun 2009 sudah tidak berlaku dan
telah digantikan dengan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang
Manajemen Penyidikan Tindak Pidana, sehingga landasan para Pemohon tidak
berdasar.
Para Pemohon juga mendalihkan dengan tidak dilakukannnya pemeriksaan
terhadap saksi-saksi lain yang telah mendapat fasilitas pinjaman dari Koperasi
Serba Usaha Montana Hotel yang hingga saat ini tidak membayar / tidak melunasi
pinjaman, maka tidak akan terungkap fakta yang sesungguhnya tentang alasan
permasalahan likuiditas yang sedang dialami oleh Koperasi, sehingga tidak ada
bukti yang kuat (terlalu dini) menjadikan Pemohon I dan suami Pemohon II
sebagai tersangka adalah hal yang salah dan dapat mengaburkan proses
penyidikan terhadap perkara pidana yang mempersangkakan Pemohon I dan
suami Pemohon II, karena permasalahan likuiditas atau setidak-tidaknya
penyelesaian permasalahan likuiditas yang dialami Koperasi Serba Usaha
Montana Hotel bukan menjadi domain kewenangan penyidik Termohon atau
setidak-tidaknya bukan hal yang harus dibuktikan dalam proses penyidikan,
mengingat proses penyidikan yang dilakukan adalah mengenai perbuatan / cara
koperasi tersebut dalam menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan tanpa adanya ijin dari otoritas yang berwenang, bukan permasalahan
likuiditas yang tentunya terjadi setelah / akibat Koperasi melaksanakan
kegiatannya terutama dalam kegiatan unit simpan pinjam yang menyebabkan
likuiditas dimaksud.

17

Selanjutnya para pemohon juga mendalilkan bhawa tindakan termohon yang


menetapkan status tersangka terhadap Pemohon I dengan dasar Undang-Undang
No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992
tentang Perbankan dan penetapan tersangka terhadap suami Pemohon II atas dasar
Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.
7 Tahun 1992 tentang Perbankan jo Pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHP merupakan
tindakan sewenang-wenang karena tidak menerapkan hukum sebagaimana
mestinya adalah tidak benar dan hanya didasarkan pada perkiraan semata bukan
pada fakta yang sebenarnya, karena Termohon menetapkan Pemohon I dan suami
Pemohon II sebagai tersangka dalam perkara tindak pidana sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Jo
Pasal 55 ayat (1) ke 1e KUHP didasarkan sesuai persyaratan hukum baik
ketentuan dalam KUHAP, Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang
Manajemen Penyidikan Tindak Pidana maupun mendasari Putusan MK Nomor :
21/PUU-XII/2014, hal ini dapat dibuktikan oleh Termohon sebagai berikut :
a. Pasal 1 angka 14 KUHAP Tersangka adalah seorang yang karena
perbuatannya atau keadaannya, berdasarkan bukti permulaan patut diduga
sebagai pelaku tindak pidana, hal ini sesuai juga pengertian pada pasal 1
angka 10 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen
Penyidikan Tindak Pidana yang merupakan pijakan Penyidik dalam
melakukan penyidikan, meskipun pemaknaan bukti permulaan diubah
18

menjadi minimal dua alat bukti sesuai yang termuat dalam Pasal 184
KUHAP sebagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Nomor 21/PUU-XII/2014 tanggal 28 April 2015, sehingga mempunyai
kekuatan hukum mengikat.
b. Pasal 1 angka 21 Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang
Manajemen Penyidikan Tindak Pidana Bukti Permulaan adalah alat bukti
berupa Laporan Polisi dan 1 (satu) alat bukti yang sah, yang digunakan
untuk menduga seseorang telah melakukan tindak pidana sebagai dasar
untuk dilakukan penangkapan, hal yang sama pemaknaan bukti permulaan
diubah menjadi minimal dua alat bukti sesuai yang termuat dalam Pasal 184
KUHAP sebagaimana Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia
Nomor 21/PUU-XII/2014 tanggal 28 April 2015, sehingga mempunyai
kekuatan hukum mengikat, di sisi lain dari pengertian pasal ini diperoleh
bahwa tujuan dari upaya penangkapan dan pemanggilan adalah sama, yaitu
sama-sama untuk menghadirkan tersangka untuk dimintai keterangan oleh
penyidik, di mana dalam hal ini penyidik Termohon dalam menduga
seseorang telah melakukan tindak pidana tidak hanya berdasarkan pada
Laporan Polisi dan 1 (satu) alat bukti yang sah saja, akan tetapi mendasari
dengan Laporan Polisi dan 3 (tiga) alat bukti yang sah ditambah dengan
hasil gelar perkara yang dilaksanakan pada tanggal 14 September 2015,
sehingga penyidik Termohon berkeyakinan untuk menentukan Pemohon I
dan suami Pemohon II sebagai tersangka untuk dilakukan pemanggilan.

19

c. Termohon telah mendapatkan minimal 2 (dua) alat bukti yang sah atau
setidak-tidaknya 3 (tiga) alat bukti dari 5 alat bukti yang ditentukan dalam
Pasal 184 KUHAP, yakni telah memeriksa sebanyak 4 saksi yaitu Yohanes
Halim (Pelapor), Amelia, S.E. (istri Pelapor), Sunarti, S.E. (Kabag BCA
Prioritas Cabang Malang), dan Rony Hadianto (Koperasi Montana),
sebagian besar saksi menjelaskan yang pada intinya Pemohon I dan suami
Pemohon II telah melakukan perbuatan menghimpun dana dari masyarakat
tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undnag Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Jo 55 ayat
(1) ke 1e KUHP yaitu berupa simpanan berjangka atau surat bilyet semacam
sistem deposito yang ada di bank dan Sdr. Yohanes Halim (Pelapor) selaku
pemilik uang yang disimpan dalam bentuk simpanan berjangka adalah jelasjelas bukan anggota koperasi Montana Hotel dan uang sebesar Rp.
39.300.000.000,- (tiga puluh sembilan milyar tiga ratus juta rupiah) tersebut
awalnya dipinjamkan oleh Pelapor kepada suami Termohon II yang
disetorkan oleh Pelapor secara bertahap kepada rekening Bank BCA ke
Rekening Bank BCA Cabang Malang Nomor 816.061.8877 dan Nomor
439.025.5115 semuanya atas nama Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon
II) dan uang tersebut dipergunakan untuk modal pengembangan koperasi
tanpa sepengetahuan Pelapor (Yohanes Halim).
d. Faktanya Sdr. Yohanes Halim bukan anggota koperasi tersebut dan kegiatan
yang dijalankan oleh Koperasi Serba Usaha Montana Hotel berupa

20

simpanan berjangka atau deposito tidak pernah dilaporkan, maka Dinas


Koperasi Kota Malang tidak pernah melakukan tindakan kepada pengurus
dengan kata lain pelanggaran hukum yang dilakukan oleh Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel belum diketahui oleh Dinas Koperasi Kota Malang, di
sisi lain bilyet simpanan berjangka yang diberikan kepada koperasi kepada
Sdr. Yohanes Halim tidak sesuai dengan aturan yang ada karena simpanan
berjangka atau penyimpanan dana pada koperasi tersebut tidak ada
perjanjian antara penyimpan dengan koperasi, atau setidak-tidaknya
penghimpunan dana yang diwujudkan dalam bentuk simpanan berjangka itu
awalnya tanpa sepengetahuan Sdr. Yohanes Halim, namun hanya sebatas
pinjam uang saja dan rekening yang digunakan oleh koperasi untuk
menghimpun dana dari masyarakat menggunakan rekening pribadi suami
Pemohon II.
e. Telah memperoleh bukti surat dari Sdr. Yohanes Halim berdasarkan Surat
Perintah Penyitaan Nomor : SP.Sita/160/VI/2015/Satreskrim, Berita Acara
Penyitaan dan Surat Tanda Penerimaan tertanggal 16 Juni 2015 serta
Penetapan Pengadilan Negeri Malang Nomor : 767/ Pen.Pid/ 2015/ PN.Mlg
berupa :
a). 21 (dua puluh satu) lembar bukti setoran dari Bank BCA ke Rekening
Bank BCA Cabang Malang Nomor 816.061.8877 atas nama Eko
Handoko Widjaja (suami Pemohon II).

21

b). 13 (tiga belas) lembar bukti setoran dari Bank BCA ke Rekening BCA
Cabang Malang Nomor 439.025.5115 atas nama atas nama Eko Handoko
Widjaja (suami Pemohon II).
c). 15 (lima belas) lembar Surat Simpanan Berjangka yang dikeluarkan oleh
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel Unit Simpan Pinjam Montana
Kusuma Artha III / IV yang ada di Jl. Danau Toba A-10 Sawojajar
Malang.
d). 12 (dua belas) lembar Surat Simpanan Berjangka yang dikeluarkan oleh
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel unit Simpan Pinjam Montana
Kusuma Artha I yang ada di Jl. Ciliwung 10 Kav. 4 Kota Malang.
d. Setelah termohon mendapatkan minimal 2 (dua) alat bukti atau setidaktidaknya 3 (tiga) alat bukti yang sah tersebut, selanjutnya dilakukan gelar
perkara pada tanggal 14 September 2015 di Polres Malang Kota sebagai
persyaratan untuk menentukan seseorang layak atau tidak ditetapkan sebagai
tersangka sebagaimana diatur dalam Pasal 70 ayat (2) huruf d Peraturan
Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang Manajemen Penyidikan Tindak
Pidana Gelar perkara pada tahap awal penyidikan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) huruf a bertujuan untuk : menentukan saksi, tersangka, dan
barang bukti , dengan kesimpulan bahwa suami Pemohon II (Eko Handoko
Widjaja) dan Pemohon I (Dewi Maria) ditingkatkan statusnya sebagai
tersangka yang sebelumnya baik Pemohon I dan suami Pemohon II
diperiksa oleh Penyidik Termohon sebagai Saksi, hal inilah yang

22

membuktikan bahwa Penyidik Termohon sangat berhati-hati dalam


melakukan proses penyidikan dengan mengedepankan asas praduga tidak
bersalah (presumtion of innocent) dan asas kehati-hatian dalam melakukan
proses penegakan hukum dan selanjutnya telah ditindak lanjuti oleh
Termohon dengan mengeluarkan Surat Panggilan (Tersangka) Nomor :
SP.Pgl/2194/IX/2015/Satreskrim

tanggal

Pemohon

Panggilan

dan

Surat

25

September
(Tersangka)

2015

untuk

Nomor

SP.Pgl/2195/IX/2015/Satreskrim tanggal 25 September 2015 untuk suami


Pemohon II (Eko Handoko Widjaja).
e. Berdasarkan fakta tersebut di atas menunjukan bahwa bukti permulaan yang
cukup yang diartikan sebagai minimal 2 (dua) alat bukti termuat dalam
Pasal 184 KUHAP sebagai persyaratan Termohon dalam menetapkan suami
Pemohon II dan Pemohon I sebagai tersangka sudah terpenuhi dan sudah
berdasarkan KUHAP dan Peraturan Kapolri Nomor 14 Tahun 2012 tentang
Manajemen Penyidikan Tindak Pidana maupun putusan MK Nomor :
21/PUU-XII/2014.
f. Selanjutnya pemohon II mendalilkan dijadikannya suami pemohon II (Eko
Handoko Wijaya) sebagai tersangka oleh Termohon dalam perkara
sebagaimana Laporan Polisi Nomor : LP/766/VI/2015/Res Mlg Kota
tanggal 16 Juni 2015 merupakan tindakan yang tidak tepat / keliru, karena
berdasarkan fakta yang ada Eko Handoko Widjaja tidak terlibat sama sekali
sebagai anggota, pengurus maupun sebagai pengawas dalam Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel, sehingga tidak ada unsur kesalahan yang dilakukan
23

oleh suami Pemohon II adalah tidak benar dan hanya didasarkan pada
perkiraan semata bukan pada fakta yang sebenarnya, karena berdasarkan
keterangan saksi-saksi dan alat bukti yang ada suami Pemohon II telah
diduga turut serta dalam perbuatan atau setidak-tidaknya secara bersamasama menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan tanpa izin
usaha dari Pimpinan Bank Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Jo Pasal 55 ayat (1) ke 1e
KUHP dengan cara meminjam uang kepada Pelapor (Yohanes Halim) untuk
dijadikan modal untuk pengembangan koperasi dengan dalih memberikan
bilyet Simpanan Berjangka sebagai bukti penyimpanan uang / modal
koperasi, di samping itu kedudukan / status suami Pemohon II sebagai
penasehat maupun pemilik koperasi itu sendiri, sehingga sangatlah tidak
mungkin jika suami pemohon II tidak terlibat dalam perkara pidana
dimaksud. Di samping itu, menurut keterangan saksi Rony Hadianto selaku
pengelola unit III dan IV Koperasi Montana Hotel yang berkantor di Jl.
Danau Toba A-10 Sawojajar Kota Malang menjelaskan bahwa semua
Koperasi Montana Hotel menggunakan rekening milik suami Pemohon II
(Sdr. Eko Handoko Widjaja) dan koperasi tidak memiliki rekening sendiri,
hal ini dapat diketahui karena cara saksi Rony Hadianto mengambil uang
yang berasal dari Sdr. Yohanes Halim (Pelapor) yaitu terlebih dulu harus
mengajukan surat pengeluaran dana ke suami Pemohon II (Sdr. Eko
Handoko Widjaja), selanjutnya setelah surat tersebut ditandatangani oleh

24

suami Pemohon II, maka saksi selaku pengelola sudah bisa mengambil atau
menarik uang milik Sdr. Yohanes Halim yang ada direkening milik suami
Pemohon II, dengan demikian telah benar-benar jelas bahwa peranan suami
Pemohon II (Eko Handoko Widjaja) di Koperasi Montana Hotel selain
berperan sebagai penasehat juga berperan sebagai pemilik Koperasi yang
tentunya masih kewenangan untuk mengendalikan keluar masuknya dana
yang dipergunakan untuk kegiatan Koperasi Montana Hotel.
g. Upaya penyidik termohon dalam melakukan proses penegakan hokum
terhadap Laporan Polisi Nomor : LP/766/VI/2015/Res Mlg Kota tanggal 16
Juni 2015 tidak bisa berjalan dengan maksimal sesuai dengan asas peradilan
cepat atau setidak-tidaknya proses penyidikan terhambat karena suami
Pemohon II a.n. Eko Handoko Widjaja tidak bisa hadir untuk dilakukan
pemeriksaan, meskipun alasan ketidakhadiran suami Pemohon II dilakukan
secara patut karena sakit, akan tetapi dalam perkara ini diharapkan suami
Pemohon II beritikad baik dan kooperatif terhadap dugaan perkara pidana
yang menyangkut dirinya, karena pada saat diperiksa dengan status sebagai
saksi, suami Pemohon II pernah hadir untuk dilakukan pemeriksaan, namun
pada saat akan dilakukan pemeriksaan dengan status sebagai tersangka,
suami Pemohon II selalu berhalangan hadir, meskipun dengan alasan yang
patut.
h. Penyidik termohon juga sudah melakukan penyidikan secara maksimal
dengan melakukan pemanggilan terhadap suami Pemohon II untuk
dilakukan pemeriksaan, namun sampai sekarang suami Pemohon II tidak
25

bisa hadir untuk dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka, hal ini dapat
dibuktikan dengan dalil- dalil sebagai berikut :
a. Setelah dilakukan Gelar Perkara pada tanggal 14 September 2015 dengan
kesimpulan meningkatkan status tersangka kepada suami Pemohon II,
selanjutnya penyidik Termohon melakukan pemanggilan kepada suami
Pemohon II untuk dilakukan pemeriksaan sebagai tersangka sebagaimana
Surat Panggilan Nomor : SP.Pgl/2195/IX/2015/Satreskrim tanggal 25
September 2015, namun suami Pemohon II tidak bisa hadir karena alas
an patut karena sakit Hent Koroner dan meminta kepada Termohon untuk
menunda pemeriksaan sebagaimana Surat Awahab & Partners
selaku Kuasa Hukum Tersangka (suami Pemohon II) Nomor : A02/ADV-

AWA/IX/2015

tanggal

29

September

2015

perihal

pemberitahuan dan mohon penundaan pemeriksaan.


b. Berdasarkan Surat Kapolres Malang Kota (Termohon) Nomor :
B/1840/X/2015/Satreskrim tanggal 01 Oktober 2015 perihal permintaan
klarifikasi / keterangan kepada Pimpinan Rumah Sakit Siloam Hospitals
Jl. Raya Gubeng No. 70 Surabaya untuk melakukan pengecekan guna
mengetahui antara lain berkaitan dengan status kesehatan suami
Pemohon II, apakah dengan status kesehatan suami Pemohon II dapat
dimintai keterangan oleh Penyidik Termohon dalam bentuk wawancara
dan apakah benar suami Pemohon II telah berobat di rumah sakit Siloam
Hospitals Surabaya yang ditangani oleh dr. Wenni Erwindia, SpJP,
selanjutnya pihak rumas sakit memberikan jawaban permintaan
26

keterangan dimaksud dengan Surat Rumah Sakit Siloam Hospitals


Nomor : 313/SHSB-HA/X/2015 tanggal 2 Oktober 2015 yang pada
intinya menerangkan :
1). Pasien bernama Sdr. Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon II)
melakukan pengobatan rawat jalan dan rawat inap dirumah sakit
siloam.
2). Berdasarkan status kesehatannya pada waktu berobat, Sdr. Eko
Handoko Widjaja (suami Pemohon II) dapat dimintai keterangan oleh
Penyidik Polres Malang Kota (Termohon) dalam bentuk wawancara.
3). Sdr. Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon II) dirawat oleh dr.
Wenni Erwindia, SpJP pada tanggal 22 September dan pada tanggal 28
s/d 30 September 2015. namun sampai tanggal 16 Oktober 2015,
ternyata suami Pemohon II juga belum menghadap penyidik
Termohon, padahal berdasarkan status kesehatannya sebagaimana
surat jawaban Rumah Sakit Siloam Hospitals terhadap Sdr. Eko
Handoko Widjaja (suami Pemohon II) dapat dimintai keterangan oleh
Penyidik Polres Malang Kota (Termohon) dalam bentuk wawancara.
c. Berdasarkan Surat Panggilan Nomor : SP.Pgl/2338/X/2015/Satreskrim
tanggal 13 Oktober 2015 penyidik Termohon telah memanggil kembali
Sdr. Eko Handoko Widjaja (suami Pemohon II) untuk hadir dan dimintai
keterangan sebagai tersangka pada hari Jumat tanggal 16 Oktober 2015
pukul 09.30 Wib di Polres Malang Kota, namun suami Pemohon II tidak

27

bisa hadir kembali dikarenakan alasan sakit dan meminta kepada


penyidik Termohon untuk menunda pemeriksaan sebagaimana Surat
Kuasa Hukum Tersangka (suami Pemohon II) Awahab & Partners
selaku Nomor : A-012/A.W.A/X/2015 tanggal 15 Oktober 2015 perihal
mohon penundaan pemeriksaan dengan melampiri Surat Keterangan
Sakit dan Rekam Medic. Dengan demikian, telah diketahui bahwa upaya
penyidik Termohon sudah melakukan penyidikan secara maksimal,
namun proses tersebut mengalami hambatan karena sampai saat ini suami
Pemohon II tidak bisa memberikan keterangan sebagai tersangka kepada
Penyidik Termohon hingga para Pemohon mengajukan gugatan
praperadilan dengan obyek terkait penetapan tersangka.
3.1.3 Saksi Ahli.
a. Menurut Maulana Yusup selaku Pengawas Bank di Otoritas Jasa Keuangan
(OJK) Malang menjelaskan yang pada intinya menjelaskan bahwa bukti
Surat Simpanan Berjangka yang dikeluarkan oleh Koperasi Montana Hotel
telah memenuhi karakteristik Simpanan dalam bentuk Deposito yang
diatur dalam Pasal 1 angka 5 dan angka 7 Undang-Undang No.10 tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang
Perbankan, yang berbunyi :
Pasal 1 angka 5 berbunyi : Simpanan adalah dana yang dipercayakan
oleh masyarakat kepada Bank berdasarkan perjanjian penyimpan dana
dalam bentuk giro, deposito, sertifikat deposito, tabungan dan atau
bentuk lainnya yang dipersamakan dengan itu.

28

Pasal 1 angka 7 berbunyi : Deposito adalah simpanan yang


penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan
perjanjian nasabah penyimpanan.
b. I Woja Kullu, S.E. selaku Kasiwas bidang kelembagaan Dinas Koperasi
Kota Malang yang pada intinya menjelaskan bahwa Koperasi Serba Usaha
Montana Hotel unit simpan pinjam Montana Kusuma Artha I yang ada di
Jl. Ciliwung 10 Kav 4 Kota Malang dan Koperasi Serba Usaha Montana
Hotel yang ada di Jl. Danau Toba Blok A No. 10 Kel. Sawojajar Kec.
Kedung Kandang Kota Malang dalam menjalankan usahanya tidak sesuai
dengan Peraturan Menteri Negara Koperasi Dan Usaha Kecil dan
Menengah RI Nomor : 19/Per/M.KUKM/XI/2008 tentang Pedoman
Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan Pinjam oleh Koperasi pada Bab
pertama Ketentuan Umum Pasal 1 Nomor 21 berbunyi Simpanan
Berjangka adalah simpanan pada koperasi yang penyetorannya dilakukan
sekali dan penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu
menurut perjanjian antara penyimpan dengan koperasi yang bersangkutan
dan Bab kedua Jenis Usaha Pasal 20 ayat (3) dan ayat (4) berbunyi :
Ayat (3) : Pemberian nama dan ketentuan mengenai jenis-jenis
tabungan koperasi dan simpanan berjangka merupakan wewenang
koperasi dengan memperhatikan ketentuan perundang-undangan yang
berlaku

29

Ayat (4) : KSP dan USP Koperasi atas persetujuan rapat anggota dapat
mengembangkan produk turunan dari kegiatan simpan pinjam dari
simpan pinjam sesuai ketentuan yang berlaku
Menurut para ahli tersebut diatas perbuatan penghimpunan dana dalam
bentuk Simpanan Berjangka oleh Koperasi Serba Usaha Montana hotel dapat
dibuktikan tidak sesuai dengan UU Nomor. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian
dan tidak memenuhi ketentuan perizinan sebagaimana diatur dalam Pasal 16 UU
Perbankan dan memenuhi karakteristik unsur-unsur simpanan dalam bentuk
deposito sebagaimana tersebut di atas, sehingga menurut Ahli perbuatan koperasi
tersebut dapat dikategorikan telah melakukan penghimpunan dana masyarakat
tanpa izin dari Pimpinan Bank Indonesia (saat ini Dewan Komisioner OJK).
Sebagaimana diatur dalam Pasal 46 Undang-Undang No.10 tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang No.7 tahun 1992 tentang Perbankan bahwa
pihak-pihak yang dapat dimintakan pertanggungjawaban adalah siapa saja, baik
perorangan maupun badan, jika hal itu dilakukan oleh Badan Hukum yang
berbentuk Perseroan Terbatas atau Koperasi, maka penuntutan dilakukan baik
terhadap mereka yang memberi perintah melakukan perbuatan itu atau yang
bertindak sebagai pimpinan dalam badan hukum tersebut atau terhadap keduaduanya, sehingga terhadap Pemohon I (Dewi Maria) selaku Ketua Koperasi KSU
Montana Hotel dapat disangkakan atau setidak-tidaknya dapat dimintakan
pertanggungjawaban atas perbuatan Koperasi yang menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk Simpanan tanpa ijin usaha dari Pimpinan Bank

30

Indonesia atau OJK dan Simpanan Berjangka tersbut tidak sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang ada.

3.1.4 Amar Putusan Praperadilan Nomor:04/Pid.Pra/2015/PN.MLG


Amar Putusan praperadilan Nomor:04/Pid.Pra/2015/PN.MLG yang dipimpin
oleh hakim tunggal yaitu Bapak R.Yustiar Nugroho, SH dan penitera pengganti
Bapak Dhany Eko Prasetyo, SE, SH, MM, M.Hum menyatakan bahwa menolak
eksepsi dari termohon dan menyatakan mengabulkan permohonan praperadilan
para pemohon untuk seluruhnya, menyatakan penetapan tersangka atas diri
pemohon I dan suami pemohon II yang dilakukan oleh termohon tidak sah,
menyatakan tidak sah atas segala keputusan dan penetapan yang dikeluarkan lebih
lanjut oleh Termohon yang berkaitan dengan penetapan tersangka terhadap diri
pemohon I dan suami pemohon II oleh termohon serta membebankan biaya
perkara yang timbul kepada termohon. Diputus dan dibacakan dalam sidang yang
terbuka untuk umum pada hari Kamis, tanggal 26 November 2015, oleh Bapak
R.Yustiar Nugroho, SH. Hakim Pengadilan Negeri Malang dan dibantu oleh
Bapak Dhany Eko Prasetyo, SE, SH, MM, M.Hum, Panitera Pengganti
Pengadilan Negeri Malang.21
3.1.5 Analisis.

21 Amar Putusan Praperadilan Nomor : 04/Pid.Pra/2015/PN.MLG.

31

Putusan praperadilan sesuai dengan ketentuan Pasal 96 ayat (1) KUHAP


menjelaskan bahwa bentuk putusan praperadilan yang berupa penetapan, putusan
penetapan pada lazimnya merupakan suatu rangkaian kesatuan antara berita acara
dengan isi putusan, atas alasan yang dikemukakan tersebut cukup menjadi dasar
bentuk dan pembuatan putusan praperadilan sehingga putusan praperadilan tidak
dibuat secara khusus melainkan dicatat di dalam berita acara sebagaimana bentuk
dan pembuatan putusan dalam proses acara singkat.
Pada hakekatnya putusan Praperadilan yang diatur dalam Bab X Bagian
Kesatu KUHAP dan Bab XII Bagian Kesatu KUHAP merupakan sarana untuk
mengawasi secara horizontal terhadap penggunaan wewenang oleh aparat
penegak hukum seperti penyelidik, penyidik dan penuntu umum, dalam hal
wewenang dilaksanakan secara sewenang-wenang oleh aparat penegak hukum
dengan maksud atau tujuan lain diluar dari yang ditentukan secara tegas oleh
KUHAP maka pengujian atas keabsahan penggunaan wewenang tersebut
dilakukan melalui pranata Praperadilan guna menjamin perlindungan terhadap hak
asasi setiap warga negara.
Menguji keabsahan penetapan status tersangka pemohon I dan suami
pemohon II adalah untuk menguji tindakan-tindakan penyidik apakah telah sesuai
dengan norma/ketentuan dasar mengenai penyidikan yang termuat dalam
KUHAP, mengingat pentetapan status tersangka seseorang adalah kunci utama
dari tindakan selanjutnya yang dapat dilakukan oleh aparat penegak hukum
berupa uapaya paksa, baik berupa pencegahan, penggeledahan, penyitaan,
maupun penahanan dengan kata lain adanya status tersangka ini menjadi dasar
hukum bagi aparat penegak hukum untuk melakukan suatu upaya paksa terhadap

32

seseorang yang telah ditetapkan sebagai tersangka, artinya seseorang tidak dapat
ditangkap atau ditahan dan/atau dilakukan pencegahan tanpa adanya keadaan
menyangkut seseorang tersebut telah ditetapkan sebagai tersangka.
Terkait dengan pengujian keabsahan penetapan tersangka adalah melalui
pranata Praperadilan, karena penetapan sebagai tersangka ini merupakan dasar
hukum untuk dapat dilakukannya uapaya paksa terhadap seorang warga negara,
yang merupakan bagian dari rangkaian tindakan penyidik dalam proses
penyidikan sehingga pranata hukum yang berwenang menguji dan menilai
keabsahan penetapan tersangka adalah melalui pranata Praperadilan.
Pranata Praperadilan sebagaimana diatur dalam pasal 77 s/d 83 KUHAP
harus dimaknai dan diartikan sebagai pranata untuk menguji perbuatan hukum
yang akan diikuti uapaya paksa oleh penyidik atau penuntut umum, karena pada
dasarnya tuntutan Praperadilan adalah untuk menguji sah atau tidaknya suatu
perbuatan hukum yang dilakukan oleh penyelidik, penyidik, maupun penuntut
umum di dalam melakukan penyidikan maupun penuntutan sebagaimana
dimaksud dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Nomor
21/PUU-XII/2014.
Terkait dengan

yurisprudensi

praktek

peradilan

melalui

putusan

Praperadilan atas penetapan Tersangka tersebut, serta pertimbangan hukum


Majelis Hakim Konstitusi dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Republik
Indonesia Nomor 21/PUU-XII/2014, tanggal 28 April 2015, yang berbunyi, Oleh
karena penetapan tersangka adalah bagian dari proses penyidikan yang merupakan
perampasan terhadap hak asasi manusia maka seharusnya penetapan tersangka
oleh penyidik merupakan objek yang dapat dimintakan perlindungan melalui
ikhtiar hukum pranata praperadilan. Hal tersebut semata-mata untuk melindungi

33

seseorang dari tindakan sewenang-wenang penyidik yang kemungkinan besar


dapat terjadi ketika seseorang ditetapkan sebagai tersangka, padahal dalam
prosesnya ternyata ada kekeliruan maka tidak ada pranata lain selain pranata
praperadilan yang dapat memeriksa dan memutusnya. Namun demikian,
perlindungan terhadap hak tersangka tidak kemudian diartikan bahwa tersangka
tersebut tidak bersalah dan tidak menggugurkan dugaan adanya tindak pidana,
sehingga tetap dapat dilakukan penyidikan kembali sesuai dengan kaidah hukum
yang berlaku secara ideal dan benar. Dimasukkannya keabsahan penetapan
tersangka sebagai objek pranata praperadilan adalah agar perlakuan terhadap
seseorang dalam proses pidana memperhatikan tersangka sebagai manusia yang
mempunyai harkat, martabat, dan kedudukan yang sama di hadapan hukum.
Berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, menurut Mahkamah, dalil Pemohon
mengenai penetapan tersangka menjadi objek yang didalili oleh pranata
praperadilan adalah beralasan menurut hukum, maka dengan demikian cukup
alasan bagi pemohon I dan suami pemohon II untuk meminta pengujian
keabsahan penetapan tersangka atas diri pemohon I dan suami pemohon II melalui
pranata

Praperadilan.

Dalam

putusan

praperadilan

Nomor:

04/Pid.Pra/2015/PN.MLG dapat diketahui bahwa hakim telah mempertimbangkan


hal-hal yang bersifat yuridis maupun non-yuridis.
Pertimbangan Hakim yang bersifat yuridis, terkait dengan permohonan
praperadilan yang diajukan oleh para pemohon yakni dapat dikalkulasikan
kedalam jenis praperadilan untuk meminta pemeriksaan kembali atas sah atau
tidaknya suatu penangkapan atau penahanan yang diajukan oleh tersangka,
keluarga tersangka, maupun kuasanya sesuai dengan ketentuan pasal 79 KUHAP,

34

sehubungan dengan alasan permohonan praperadilan oleh pemohon untuk


diajukan di persidangan, sebab telah terjadi perubahan status pemohon I dan
suami pemohon II dari saksi menjadi tersangka tanpa di dukung dengan bukti
yang sah dan telah terjadi kesalahaan dalam penerapan hukum yakni penerapan
Pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan serta menggunakan
dasar Pasal 372 dan/atau 378 KUHP, dan juga para pemohon memohon untuk
menyatakan tidak sah atas segala keputusan dan penetapan yang dikeluarkan lebih
lanjut oleh termohon yang berkaitan dengan penetapan tersangka terhadap diri
pemohon I dan suami pemohon II oleh termohon.
Menurut penulis, berdasarkan uraian di atas dasar hukum maupun alasan dari
pemohon untuk mengajukan permohonan praperadilan sudah tepat dan jelas,
sebagaimana dalam hal untuk mengajukan permohonan praperadilan sudah sesuai
dengan ketentuan Pasal 79 KUHAP yakni yang berhak meminta ataupun
mengajukan permohonan praperadilan yaitu tersangka, keluarga tersangka
maupun kuasanya kepada Pengadilan Negeri dengan menyebut alasannya. Dasar
hukum pemohon untuk mengajukan permohonan praperadilan diperluas
cakupannya pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 21/PUU-XII/2014
tentang pengujian Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara
Pidana (KUHAP) yang mengakibatkan perluasan obyek praperadilan selain yang
tersebut dalam Pasal 77 KUHAP. Perluasan tersebut terkait dengan ditetapkannya
obyek praperadilan baru yakni penetapan tersangka, penggeledahan dan
penyitaan, sehingga obyek praperadilan yang sebelumnya hanya berjumlah 4 kini

35

bertambah menjadi 7 obyek praperadilan, yaitu sah atau tidaknya penangkapan,


sah atau tidaknya penahanan, sah atau tidaknya penghentian penyidikan, sah atau
tidaknya penghentian penuntutan, ganti kerugian dan/atau rehabilitasi bagi
seseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau
penuntutan, sah atau tidaknya penetapan tersangka, sah atau tidaknya
penggeledahan dan penyitaan.
3.2 Pertimbangan Hukum Oleh Hakim Terhadap Penerapan Hukum Yang
Dilakukan Oleh Pihak Kepolisian Sehingga Mengabulkan Permohonan
Praperadilan Pemohon.
3.2.1 Pertimbangan Hakim Dalam Putusan No. 04/Pid.Pra/2015/PN.MLG
Penjelasan Pasal 16 Undang-Undang RI Nomor 1998 Tentang Perubahan
atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 Tentang
Perbankan, yang berbunyi :
Kegiatan menghimpun dana dari masyarakat oleh siapapun pada dasarnya
merupakan kegiatan yang perlu diawasi, mengingat dalam kegiatan itu terkait
kepentingan masyarakat yang dananya disimpan pada pihak yang menghimpun
dana tersebut. Sehubungan dengan itu dalam ayat ini ditegaskan bahwa kegiatan
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan hanya dilakukan oleh
pihak yang telah memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau sebagai Bank
Perkreditan Rakyat. Namun, dimasyarakat terdapat pula jenis lembaga yang juga
melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
atau semacam simpanan, misalnya yang dilakukan oleh kantor pos, oleh dana
pensiun, atau oleh perusahaan asuransi. Kegiatan lembaga-lembaga tersebut tidak
dicakup sebagai kegiatan usaha perbankan berdasarkan ketentuan dalam ayat ini.
Kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat yang dilakukan oleh lembagalembaga tersebut, diatur dengan undang-undang tersendiri.
Pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan tersebut mengandung makna bahwa lembaga keuangan
36

berupa Bank yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari masyarakat


haruslah diawasi dan oleh karenanya perlu memperoleh ijin dari Bank Indonesia
atau OJK, namun ternyata terdapat lembaga-lembaga keuangan lain yang juga
menghimpun dana dari masyarakat seperti layaknya suatu Bank akan tetapi
bukan merupakan cakupan dari kegiatan usaha perbankan, dimana diatur dengan
undang-undang tersendiri yang tentu bukan merupakan

kewenangan Bank

Indonesia atau OJK;


Dikarenakan perlunya semua lembaga keuangan baik bank maupun non
bank tersebut dapat diawasi oleh OJK, maka seiring berjalannya waktu, lahirlah
Undang-Undang Nomor 1 tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro, dimana
dalam

penjelasan

Undang-undang

tersebut

yang

merupakan

landasan

terbentuknya Undang-undang tersebut dalam dalam Bab ke-1 Umum, alinea ke 2


(dua), menyatakan bahwa :
Di Indonesia banyak berkembang lembaga keuangan bukan bank yang
melakukan kegiatan usaha bidang keuangan yang banyak membantu kepada
masyarakat. Lembaga-lembaga tersebut perlu dikembangkan terutama secara
kelembagaan dan legalitasnya karna telah banyak membantu peningkatan
perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat miskin dan/atau berpenghasilan
rendah. Dan pada alinea ke 10 (sepuluh) yang menyatakan bahwa Undangundang ini mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak diundangkan, jangka waktu 2 (dua)
tahun tersebut dimaksudkan antar lain untuk menyiapkan infrastruktur yang
diperlukan seperti sumber daya manusia Otoritas jasa Keuangan selaku pembina
dan pengawas LKM (Lembaga Keuangan Mikro) dan sumber daya manusia
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota selaku pihak yang menerima pendelegasian
wewenang pembinaan dan pengawasan LKM,
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka lembaga-lembaga keuangan yang
dikecualikan dalam ketentuan pasal 16

Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik


Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro

37

tersebut maka akan menjadi kewenangan OJK dalam hal pembinaan dan
pengawasannya.
Menurut pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 Tentang Lembaga
Keuangan Mikro, menyatakan bahwa bentuk badan hukum dari LKM adalah
Koperasi atau Perseroan Terbatas, didalam Undang-undang tersebut diatur
mengenai inventarisasi LKM yang belum berbadan hukum yang harus dilakukan
oleh OJK, Kementrian Koperasi, dan Kementrian Dalam Negeri untuk
diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-undang tersebut
berlaku dan LKM yang belum berbadan hukum tersebut wajib memperoleh ijin
usaha dari OJK paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-undang tersebut berlaku
( vide pasal 40 UU No 1 Tahun 2013 Tentang Lembaga Keuangan Mikro);
demikian bagi LKM yang sudah berbadan hukum, yaitu seperti Koperasi Simpan
Pinjam yang sudah berbadan hukum dan telah memiliki ijin usaha, tidak perlu
memperoleh ijin dari OJK, hal ini sesuai dengan pendapat ahli Prof. Dr. Nindya
Pramono, SH.MS dan bukti surat P-13.
Berdasarkan bukti P-3 yaitu Keputusan Menteri Koperasi, Pengusaha kecil
dan menengah Republik Indonesia Nomor 196/BH/KDK13.32/1.2/VI/1999
tertanggal 04 Juni 1999 tentang pengesahan akta pendirian Koperasi Serba Usaha
Montana Hotel yang terlebih dahulu akta pendirian tersebut disahkan oleh Dinas
Koperasi dan UKM Kota Malang (bukti P-4), dengan demikian Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel telah berstatus badan hukum jika dilihat dari akta
pendiriannya dan status badan hukumnya, maka terlihat jelas bahwa Koperasi
Serba Usaha Montana Hotel adalah lembaga keuangan berupa Koperasi dan
bukan lembaga keuangan berupa Bank, dengan demikian Koperasi Serba Usaha

38

Montana Hotel tunduk kepada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang


Perkoperasian dan bukan tunduk kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Berdasarkan pasal 4 ayat (3) Anggaran Dasar Koperasi Serba Usaha
Montana Hotel telah menyebutkan bahwa Koperasi Serba Usaha Montana Hotel
melaksanakan kegiatan unit Simpan Pinjam, dan dikarenakan Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel tersebut sudah berbadan hukum, maka tidak perlu lagi
untuk memperoleh ijin dari OJK sesuai ketentuan pasal 9 ayat (1) UndangUndang Nomor 1 th 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro terhadap
permasalahan apakah saksi pelapor, yaitu sdr Yohanes Halim tersebut anggota
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel atau bukan, hakim berpendapat bahwa
berdasarkan keterangan saksi-saksi dan bukti surat, telah membuktikan bahwa sdr
Yohanes Halim adalah anggota Koperasi Serba Usaha Montana Hotel dikarenakan
telah melakukan setoran berupa Simpanan Pokok, mempunyai tabungan didalam
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel (bukti P-9), melakukan perjanjian dengan
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel untuk memasukkan dana dalam bentuk
simpanan berjangka (bukti P-16), dan telah diundang untuk menghadiri RAT
(Rapat Anggota Tahunan) yang diselenggarakan Koperasi Serba Usaha Montana
Hotel, serta telah menerima keuntungan baik dari imbalan jasa berupa bunga
maupun SHU, dan apabila tetap dianggap bukan sebagai anggota, ternyata tidak
ada aturan didalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian
yang melarang non anggota Koperasi untuk menyimpan uang di dalam Koperasi,
hal ini dapat dibuktikan dari aturan mengenai modal koperasi, yang diatur dalam

39

pasal 41 ayat (3) Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian,


yang berbunyi:
Modal pinjaman dapat berasal dari:
a. Anggota;
b. Koperasi lainnya dan/atau anggotanya;
c. Bank dan lembaga keuangan lainnya;
d. Penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya;
e. Sumber lain yang sah.
Dimana berdasarkan ketentuan pasal tersebut mengenai sumber lain yang
sah adalah yang diperoleh dari pihak ketiga yang bukan merupakan anggota
Koperasi, dan menurut ahli Prof. Dr. Nindya Pramono, SH.MS, tentang simpanan
berjangka yang dimiliki oleh seseorang yang bukan anggota Koperasi adalah
diperbolehkan, karena dapat dikategorikan sebagai penanaman atau pemasukan
modal Koperasi berupa produk simpanan berjangka dari pihak ketiga yang
merupakan non anggota.
Permasalahan simpanan berjangka yang dilakukan oleh Koperasi Serba
Usaha Montana Hotel Unit Simpan Pinjam mempunyai karakteristik yang sama
dengan deposito sehingga dianggap sudah melakukan kegiatan usaha layaknya
suatu bank dan oleh karenanya harus tunduk kepada Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992
tentang Perbankan, Hakim berpendapat bahwa ternyata istilah deposito tersebut
tidak hanya dipakai didalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, bahkan
istilah deposito juga dipakai didalam undang-undang lain, misal Undang-Undang
Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro yang jelas juga mengatur
tentang lembaga keuangan non bank, dan simpanan berjangka tersebut memang
boleh untuk disebut juga sebagai deposito, yang patut diperhatikan disini adalah

40

bahwa deposito yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998


tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
tentulah berbeda dari segi ruang lingkupnya dengan deposito atau simpanan
berjangka yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian jo PP Nomor 09 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Simpan
Pinjam Oleh Koperasi jo PERMENKOP dan UKM Republik Indonesia No
19/PER/M.KUKM/XI/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Usaha
Simpan Pinjam oleh Koperasi, sehingga tidak bisa secara serta merta suatu
Koperasi Simpan Pinjam atau Koperasi Serba Usaha yang memiliki Unit Simpan
Pinjam ditarik untuk tunduk kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
hanya dikarenakan terdapat produk yang mempunyai karakteristik identik dengan
produk dalam lembaga keuangan berupa Bank.
Permasalahan adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap AD/ART yang
dilakukan oleh Pengurus Koperasi Serba Usaha Montana Hotel yang
dikemukakan oleh Termohon, ternyata sanksinya adalah sebatas sanksi
administrasi, hal ini juga sejalan dengan pendapat ahli Prof. Dr. Nindya Pramono,
SH.MS;

dengan

demikian

terhadap

permasalahan-permasalahan

yang

dikemukakan termohon untuk dapat menerapkan ketentuan pasal 46 UndangUndang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan adalah tidak tepat dan oleh karenanya haruslah
dikesampingkan.
Berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan

hukum

diatas

dihubungkan

dengan pertanyaan apakah Koperasi Serba Usaha Montana Hotel Unit Simpan

41

Pinjam yang melakukan kegiatan usaha dalam bentuk Unit Simpan Pinjam dan
memakai produk simpanan berjangka harus memerlukan ijin dari Pimpinan Bank
Indonesia atau tidak?, bahwa telah nyata-nyata dapat dibuktikan bahwa Koperasi
Serba Usaha Montana Hotel Unit Simpan Pinjam yang melakukan kegiatan usaha
dalam bentuk Unit Simpan Pinjam dan memakai produk simpanan berjangka
tidak memerlukan ijin dari Pimpinan Bank Indonesia bahkan OJK, dikarenakan
Koperasi Serba Usaha Montana Hotel sudah berbadan hukum dan tunduk kepada
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian;
Berdasarkan hal tersebut diatas, maka penerapan pasal 46 Undang-Undang
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan terhadap pemohon I dan suami emohon II
adalah tidak tepat, berdasarkan teori kepastian hukum maka hukum itu
bersifat pasti bukan saja dikarenakan sudah diatur dengan pasal-pasal didalam
suatu aturan perundang-undangan, akan tetapi juga dengan penerapan aturanaturan perundang-undangan yang secara tepat, itulah yang menunjukkan
suatu kepastian hukum, sebagai contoh sederhana apabila terdapat seseorang
yang bekerja sebagai petugas keamanan pada suatu perusahaan dia telah
mengambil barang milik perusahaan tersebut pada waktu malam, dimana
waktu itu dia sedang menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan, dia
dituduh dan dijerat dengan ketentuan pasal 363 ayat (1) butir ke-3 KUHP
yaitu tindak pidana pencurian dalam keadaan memberatkan, sedangkan jika
dilihat dari perbuatannya lebih tepat jika perbuatan dia

tersebut dijerat

dengan ketentuan pasal 374 KUHP yaitu tindak pidana penggelapan dalam

42

jabatan, jadi penerapan hukum yang tepat juga termasuk menjamin


terwujudnya suatu kepastian hukum, dikarenakan menentukan adanya tindak
pidana dengan menerapkan suatu ketentuan pidana adalah merupakan tahap
awal setelah Penyelidik dan Penyidik menerima laporan dari seseorang dan
sebelum melakukan langkah-langkah selanjutnya, maka jika didalam
menentukan tindak pidananya, dengan menerapkan suatu ketentuan pidana
ternyata tidak tepat, tentu berakibat langkah-langkah yang ditempuh
selanjutnya menjadi tidak tepat juga, termasuk dalam mencari bukti
permulaan yang cukup untuk menetapkan seseorang sebagai tersangka
3.2.2 Analisis
Pengertian koperasi secara etimologi berasal dari kata cooperation. Co
artinya bersama dan operation artinya bekerja atau berusaha, jadi cooperation
adalah bekerja sama-sama atau usaha bersama-sama untuk kepentingan bersama.
Secara umum yang dimaksud dengan Koperasi adalah suatu perkumpulan orang
yang secara sukarela mempersatukan diri untuk berjuang meningkatkan
kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan sebuah badan usaha yang
dikelola secara demokratis.
Menurut Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 Pasal 1 menjelaskan
bahwa Koperasi adalah Badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau
badan hukum Koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip
Koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas
kekeluargaan.22
22 Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1998 Tentang Perkoperasian, Pasal 1

43

Pertimbangan Hakim terkait dengan penerapan hukum terdapat pada


halaman 70 putusan nomor : 04/Pid.Pra/2015/PN.MLG bahwa dengan demikian
terhadap tindak pidana yang telah ditentukan oleh penyidik tersebut, maka hakim
akan terlebih dahulu mempertimbangkan tentang penerapan ketentuan pasal 46
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, yang berbunyi :
Barang siapa menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan
tanpa izin usaha dari Pimpinan Bank Indoesia sebagaimana pasal 16,
diancam dengan pidana penjara sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun dan
paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda sekurang-kurangnya Rp.
10.000.000.000,- (sepuluh milyar rupiah) dan paling banyak Rp.
200.000.000.000,- (dua ratus milyar rupiah)
Penjelasan didalam pasal tersebut diatas terdapat suatu persyaratan atau
suatu rujukan yang harus diperhatikan, yaitu yang tertuang didalam pasal 16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, yang berbunyi :
Setiap pihak yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari
masyarakat dalam bentuk simpanan wajib terlebih dahulu memperoleh izin
usaha sebagai Bank Umum atau Bank Perkreditan Rakyat dari pimpinan
Bank Indonesia, kecuali apabila kegiatan menghimpun dana dari
masyarakat dimaksud diatur dengan undang-undang tersendiri;
44

Bahwa untuk menjelaskan tentang kebenaran penerapan pasal 46 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
termohon telah memanggil dan memeriksa seorang ahli yang bernama Maulana
Yusup., SE, yang pada intinya menerangkan bahwa koperasi yang menghimpun
dana layaknya suatu bank bahkan menarik simpanan berjangka yang mempunyai
karakteristik sama dengan deposito yang diatur dalam Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, maka haruslah
memperoleh ijin dari Bank Indonesia dan pasca berlakunya Undang-Undang
Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan yang diatur dalam pasal 55
ayat 2, kewenangan tersebut beralih dari Bank Indonesia kepada OJK sedangkan
terhadap pertanyaan mengeneai pengecualian yang terdapat didalam pasal 16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan, ahli menyatakan mengenai hal tersebut bukanlah keahliannya.
Mengenai hal tersebut diatas hakim berpendapat, bahwa didalam
menerapkan pasal 46 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun
1992 tentang Perbankan tersebut haruslah terlebih dahulu memahami segala hal
yang termuat didalam pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
7 Tahun 1992 tentang Perbankan, dimana jika dicermati maka akan terlihat bagian
mana yang memang merupakan kewenangan dari Bank Indonesia serta bagian

45

mana yang bukan kewenangan dari Bank Indonesia. Merujuk kepada pasal 16
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan tersebut jika dibaca pada frasa kata Setiap pihak yang melakukan
kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan wajib
terlebih dahulu memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau Bank
Perkreditan Rakyat dari pimpinan Bank Indonesia, frasa kata tersebut telah tegas
menunjukkan kewenangan dari Bank Indonesia yakni Pimpinan Bank Indonesia
dan sejak berlakunya Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas
Jasa Keuangan atau OJK adalah merupakan kewenangan dari OJK.
Frasa tersebut diatas juga mencantumkan Bank Umum atau Bank
Perkreditan Rakyat dimana menurut pasal 1 angka 3 Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa Bank Umum
adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional dan/atau
berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya memberikan jasa dalam lalu
lintas pembayaran, selanjutnya dalam pasal 1 angka 4 Undang-Undang Nomor 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan menjelaskan bahwa Bank Perkreditan
Rakyat adalah Bank yang melaksanakan kegiatan usaha secara konvensional
dan.atau berdasarkan prinsip syariah yang dalam kegiatannya tidak memberikan
jasa dalam lalu lintas pembayaran.
Pasal 21 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan, yang berbunyi :
Bentuk Hukum suatu Bank Umum dapat berupa :
a) Perseroan Terbatas
46

b) Koperasi, atau
c) Perusahaan Daerah
Pasal 21 ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan, yang berbunyi :
Bentuk hukum suatu Bank Perkreditan Rakyat dapat berupa salah satu dari :
a) Perusahaan Daerah
b) Koperasi
c) Perseroan Terbatas, atau
d) Bentuk lain yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah
Terkait dengan frasa kata Bentuk Hukum suatu Bank Umum dapat berupa
dan frasa kata Bentuk Hukum suatu Bank Perkreditan Rakyat dapat berupa,
yang memiliki pengertian yakni bahwa selaku lembaga keuangan yang berupa
Bank Umum bentuk hukumnya dapat berupa Perseroan Terbatas, Koperasi, atau
Perusahaan Daerah begitu pula dengan lembaga keuangan yang berupa Bank
Perkreditan Rakyat bentuk hukumnya dapat berupa Perusahaan Daerah, Koperasi,
Perseroan Terbatas, atau bentuk lain yang ditetapkan dengan Peraturan
Pemerintah, sehingga pasal tersebut menjelaskan mengenai bentuk hukum dari
suatu lembaga berupa bank baik itu Bank Umum ataupun Bank Perkreditan
Rakyat. Dengan demikian haruslan dibedakan antara lembaga keuangan berupa
Bank dengan lembaga keuangan berupa Koperasi dan yang dimaksud dalam pasal
tersebut adalah bukan lembaga keuangan berupa koperasi, bakan nama lembaga
47

keuangan yang berupa bank harus menggunakan kata-kata BANK dimana hal
ini juga sejalan dengan pendapat ahli Prof.Dr. Nindya Pramono., SH., MS.
Merujuk pada pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10
Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
7 Tahun 1992 tentang Perbankan, jika dibaca pada frasa kata kecuali apabila
kegiatan menghimpun dana dari masyarakat dimaksud diatur dengan UndangUndang sendiri maka frasa kata tersebut sudah jelas suatu pengecualian
dimana pengecualian yang dimaksud adalah pengecualian dari kewenangan Bank
Indonesia ataupun OJK atau dengan kata lain adalah bukan kewenangan dari Bank
Indonesian maupun OJK, hal ini dikarenakan kegiatan menghimpun dana dari
masyarakat tersebut telah diatur dengan Undang-Undang tersendiri yang tentunya
kewenangan untuk memberi ijin terhadap hal tersebut sudah diatur didalam
Undang-Undang tersendiri tersebut pertimbangan ini juga sejalan dengan
pendapat ahli Prof.Dr. Philipus M. Hadjon., SH dan ahli Prof.Dr. Nindya
Pramono., SH., MS.
Koperasi Simpan Pinjam ataupun Koperasi Serba Usaha (merupakan multi
purpose) adalah lembaga keuangan berupa koperasi yang termasuk dalam
pengecualian tersebut dimana koperasi itu sendiri tunduk dengan Undang-Undang
Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian karena koperasi bukan termasuk
dalam lembaga keuangan yang berupa Bank.
Merujuk pada penjelasan pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, jika ingin digali lebih
mendalam haruslah dicermati isi dari pasal tersebut, yang berbunyi :

48

Kegiatan menghimpun dana dari masyarakat oleh siapapun pada dasarnya


merupakan kegiatan yang perlu diawasi, mengingat dalam kegiatan itu terkait
kepentingan masyarakat yang dananya disimpan pada pihak yang menghimpun
dana tersebut. Sehubungan dengan itu dalam ayat ini ditegaskan bahwa kegiatan
menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan hanya dilakukan oleh
pihak yang telah memperoleh izin usaha sebagai Bank Umum atau sebagai Bank
Perkreditan Rakyat. Namun, dimasyarakat terdapat pula jenis lembaga yang juga
melakukan kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat dalam bentuk
simpanan atau semacam simpanan, misalnya yang dilakukan oleh kantor pos,
oleh dana pensiun, atau oleh perusahaan asuransi. Kegiatan lembaga-lembaga
tersebut tidak dicakup sebagai kegiatan usaha perbankan berdasarkan ketentuan
dalam ayat ini. Kegiatan penghimpunan dana dari masyarakat yang dilakukan
oleh lembaga-lembaga tersebut, diatur dengan undang-undang tersendiri.
Penjelasan Pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan, tersebut diatas mengandung makna bahwa
lembaga keuangan berupa Bank yang melakukan kegiatan menghimpun dana dari
masyarakat haruslah diawasi dan oleh karenanya perlu memperoleh ijin dari Bank
Indonesia maupun OJK, namun ternyata terdapat lembaga-lembaga keuangan lain
yang juga menghimpun dana dari masyarakat seperti layaknya suatu Bank akan
tetapi bukan merupakan cakupan dari kegiatan usaha perbankan, dimana diatur
dengan Undang-Undang tersendiri yang tentu bukan kewenangan Bank Indonesia
dan OJK.

49

Seiring berjalannya waktu dan diperlukannya semua lembaga keuangan


baik berupa bank maupun non bank tersebut dapat diawasi oleh OJK dan
kemudian lahirlah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga
Keuangan Mikro dimana dalam penjelasan Undang-Undang tersebut yang
merupakan landasan terbentuknya Undang-Undang tersebut dalam Bab ke-1
Umum alinea ke-2 menyatakan bahwa Di Indonesia banyak berkembang
lembaga keuangan bukan bank yang melakukan kegiatan usaha bidang keuangan
yang banyak membantu kepada masyarakat. Lembaga-lembaga tersebut perlu
dikembangkan terutama secara kelembagaan dan legalitasnya karna telah
banyak membantu peningkatan perekonomian masyarakat, khususnya masyarakat
miskin dan/atau berpenghasilan rendah. Dan pada alinea ke 10 (sepuluh) yang
menyatakan bahwa Undang-undang ini mulai berlaku 2 (dua) tahun sejak
diundangkan, jangka waktu 2 (dua) tahun tersebut dimaksudkan antar lain untuk
menyiapkan infrastruktur yang diperlukan seperti sumber daya manusia Otoritas
jasa Keuangan selaku pembina dan pengawas LKM (Lembaga Keuangan Mikro)
dan sumber daya manusia Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota selaku pihak
yang menerima pendelegasian wewenang pembinaan dan pengawasan LKM.
Berdasarkan hal tersebut diatas maka lembaga-lembaga keuangan yang
dikecualikan dalam ketentuan pasal 16 Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, berdasarkan ketentuan
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro
tersebut maka akan menjadi kewenangan OJK dalam hal pembinaan dan
pengawasannya, menurut pasal 5 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang

50

Lembaga Keuangan Mikro menyatakan bahwa bentuk badan hukum dari LKM
adalah koperasi dan perseroan terbatas, didalam Undang-Undang tersebut diatur
mengenai inventarisasi LKM yang belum berbadan hukum yang harus dilakukan
oleh OJK, Kementrian Koperasi, dan Kementrian Dalam Negeri untuk
diselesaikan paling lambat 2 (dua) tahun terhitung sejak Undang-Undang tersebut
berlaku dan LKM yang belum berbadan hukum tersebut wajib memperoleh ijin
usaha dari OJK paling lama 1 (satu) tahun sejak Undang-Undang tersebut berlaku.
Demikian bagi LKM yang sudah berbadan hukum, yaitu Koperasi
Simpan Pinjam yang sudah berbadan hukum dan telah memiliki ijin usaha tidak
perlu memperoleh ijin dari OJK hal ini sesuai dengan pendapat ahli Prof.Dr.
Nindya Pramono., SH., MS, jika dilihat dari akta pendiriannya dan status badan
hukumnya maka terlihat jelas bahwa KSU MH adalah lembaga keuangan berupa
Koperasi dan bukan lembaga keuangan berupa Bank, dengan demikian KSU MH
tunduk kepada Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dan
bukan tunduk kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan. Berdasarkan pasal
4 ayat (3) Anggaran Dasar KSU MH telah menyebutkan bahwa KSU MH
melaksanakan kegiatan unit simpan pinjam, dan dikarenakan KSU MH tersebut
sudah berbadan hukum maka tidak perlu lagi untuk memperoleh ijin dari OJK
sesuai dengan ketentuan pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2013
tentang Lembaga Keuangan Mikro.
Terhadap permasalahan apakah saksi pelapor, yaitu sdr Yohanes Halim
tersebut anggota KSU MH atau bukan hakim berpendapat bahwa berdasarkan
keterangan saksi-saksi dan bukti surat telah membuktikan bahwa sdr Yohanes

51

Halim adalah anggota KSU MH dikarenakan telah melakukan setoran berupa


simpanan pokok mempunyai tabungan didalam KSU MH, melakukan perjanjian
dengan KSU MH untuk memasukkan dana dalam bentuk simpanan berjangka,
dan telah diungang untuk menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) yang
diselenggarakan KSU MH, serta telah menerima keuntungan baik dari imbalan
jasa berupa bunga maupun Simpanan Hasil Usaha (SHU), dan apabila tetap
dianggap bukan sebagai anggota ternyata tidak ada aturan didalam UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian yang melarang non anggota
Koperasi untuk menyimpan uang didalam Koperasi, hal ini dapat dibuktikan dari
aturan mengenai modal Koperasi, yang diatur dalam pasal 41 ayat (3) UndangUndang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, yang berbunyi :
Modal pinjaman dapat berasal dari :
a)
b)
c)
d)
e)

Anggota
Koperasi lainnya dan/atau anggotanya
Bank dan lembaga keuangan lainnya
Penerbitan obligasi dan surat hutang lainnya
Sumber lain yang sah.

Berdasarkan ketentuan pasal tersebut mengenai Sumber lain yang sah asalah
yang diperoleh dari pihak ketiga yang bukan merupakan anggota Koperasi, dan
menurut ahli Prof.Dr. Nindya Pramono., SH., MS tentang simpanan berjangka
yang dimiliki oleh seseorang yang bukan anggota Koperasi adalah diperbolehkan,
karena dapat dikategorikan sebagai penanaman atau pemasukan modal Koperasi
berupa produk simpanan berjangka dari pihak ketiga yang merupakan non
anggota.

52

Terhadap permasalahan simpanan berjangka yang dilakukan oleh KSU MH


Unit Simpan Pinjam mempunyai karakteristik yang sama dengan deposito
sehingga dianggap sudah melakukan kegiatan usaha layaknya suatu Bank dan
oleh karenanya harus tunduk kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan,
Hakim berpendapat bahwa ternyata istilah deposito tersebut tidak hanya dipakai
didalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, bahkan istilah depodito juga
dipakai didalam Undang-Undang lain, seperti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2013 tentang Lembaga Keuangan Mikro yang jelas juga mengatur tentang
lembaga keuangan non Bank, dan simpanan berjangka tersebut memang boleh
untuk disebut juga sebagai deposito, yang patut diperhatikan disinini adalah
bahwa deposito yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
tentulah berbeda dari segi ruang lingkupnya dengan deposito atau simpanan
berjangka yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang
Perkoperasian jo PP Nomor 09 Tahun 1995 tentang Pelaksanaan Kegiatan Simpan
Pinjam Oleh Koperasi jo PERMENKOP dan UKM Republik Indonesia Nomor
19/PER/M.UKM/XI/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Usaha Simpan
Pinjam Oleh Koperasi.
Sehingga tidak bisa secara serta merta suatu Koperasi Simpan Pinjam atau
Koperasi Serba Usaha yang memiliki Unit Simpan Pinjam ditarik untuk tunduk
kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-

53

Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan hanya dikarenakan terdapat


produk yang mempunyai karakteristik identik dengan produk dalam lembaga
keuangan berupa Bank. Permasalahan adanya pelanggaran-pelanggaran terhadap
AD/ART yang dilakukan oleh pengurus KSU MH yang dikemukakan oleh
termohon, ternyata sanksinya adalah sebatas sanksi administrasi hal ini juga
sejalan dengan pendapat ahli Prof.Dr. Anindya Pramono., SH., MS, dengan
demikian terhadap permasalahan-permasalahan yang dikemukakan oleh termohon
untuk dapat menerapkan ketentuan pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang
Perbankan adalah tidak tepat dan oleh karenanya haruslah dikesampingkan.
Menurut Penulis berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum diatas
telah nyata-nyata dapat dibuktikan bahwa KSU MH Unit Simpan Pinjam yang
melakukan kegiatan usaha dalam bentuk Unit Simpan Pinjam dan memakai
produk simpanan berjangka tidak memerlukan ijin dari Pimpinan Bank Indonesia
bahkan OJK, dikarenakan KSU MH sudah berbadan hukum dan tunduk kepada
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian, berdasarkan hal
tersebut maka penerapan pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
terhadap pemohon I dan suami pemohon II adalah tidak tepat.
Berdasarkan teori kepastian hukum, maka hukum itu bersifat pasti bukan
saja dikarenakan sudah diatur dengan pasal-pasal didalam suatu aturan perundangundangan akan tetapi juga dengan penerapan aturan-aturan perundang-undangan
yang secara tepat, itulah yang menunjukkan suatu kepastian hukum, didalam
menentukan adanya tindak pidana dengan menerapkan suatu ketentuan pidana

54

adalah merupakan tahap awal setelah penyelidik dan penyidik menerima laporan
dari seseorang dan sebelum melakukan langkah-langkah selanjutnya maka jika
didalam menentukan tindak pidananya dengan menerapkan suatu ketentuan
pidana ternyata tidak tepat tentu berakibat langkah-langkah yang ditempuh
selanjutnya menjadi tidak tepat juga termasuk dalam mencari bukti permulaan
yang cukup untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka.
Berdasarkan penerapan pasal 46 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998
tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan
kepada pemohon I dan suami pemohon II adalah tidak tepat dengan demikian
ketidakcermatan dari termohon menurut ahli Prof.Dr. Philipus M. Hadjon., SH
adalah merupakan tindakan sewenang-wenang atau dikenal dengan istilah
willekeur atau onredelijk yang dilakukan oleh bestuur dalam hal ini pejabat yang
mempunyai kewenangan dalam melakukan penyidikan, yang berakibat penetapan
pemohon I dan suami pemohon II sebagai tersangka haruslah dinyatakan tidak
sah.
Terkait dengan penetapan pemohon I dan suami Pemohon II dinyatakan
tidak sah maka segala keputusan dan penetapan yang dikeluarkan lebih lanjut oleh
termohon yang berkaitan dengan penetapan tersangka terhadap diri pemohon I
dan suami pemohon II juga haruslah dinyatakan tidak sah, dikarenakan penyidik
tidak dapatbukti permulaan yang cukup untuk menjerat diri pemohon I dan suami
pemohon II dengan menerapkan pasal 372 dan/atau 378 KUHP, maka adalah tepat
jika termohon tidak menetapkan tersangka pada diri pemohon I dan suami
pemohon II dengan dasar melakukan tindak pidana sesuai dengan ketentuan pasal
372 dan/atau 378 KUHP

tersebut, berdasarkan pertimbangan tersebut maka


55

alasan-alasan permohonan praperadilan yang diajukan oleh para pemohon harus


dinyatakan beralasan menurut hukum dan patut dikabulkan.

56