Anda di halaman 1dari 20

2.

PEMBAHASAN
2.1 Manajemen Budidaya di Keramba
2.1.1 Keadaan Umum Lapang
Pada praktikum Manajemen Akuakultur Tawar yang dilakukan di Waduk
Lahor Malang, secara visual kondisi lapang memiliki jalan yang landai dan
berbatu. Jalanan menuju waduk cenderung licin yang disebabkan oleh hujan yang
mengguyur kemarin sore. Di sekitar Waduk Lahor ditumbuhi banyak pepohonan
yang cukup lebat dan jarang terdapat perumahan warga di sekitar waduk. Di
pinggir waduk terdapat usaha pemancingan milik warga setempat dan di tengah
waduk terdapat keramba jarring apung (KJA) yang digunakan warga untuk
budidaya ikan Nila (Oreochromis niloticus), ikan Mas Tombro (Cyprinuscarpio)
dan juga ikan Bandeng (Chanos chanos). Waduk ini juga berfungsi sebagai
tempat pariwisata bagi penduduk setempat maupun dari luar daerah.
a. Luas Waduk
Pada praktikum Manajemen Akuakultur Tawar yang dilakukan di Waduk
Lahor Malang, berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan diketahui
bahwa waduk Lahor memiliki luas 2,6 km2 atau 260 ha dengan elevasi 278 m
diatas permukaan laut. Ukuran ini termasuk cukup luas sehingga dapat
dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk kegiatan budidaya dan juga
pariwisata.
b. Sumber Air
Pada praktikum Manajemen Akuakultur Tawar yang dilakukan di Waduk
Lahor Malang, berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan diketahui
bahwa sumber air terbesar waduk Lahor ini berasal dari Sungai Lahor (anakan
dari Sungai Brantas), pemasukan juga berasal dari air hujan yang turun dan air
rumah tangga yang masuk kedalam waduk.
c. Kedalaman Waduk
Menurut Welch (1952) dalamZulfia dan Aisya (2013), pengukuran
kedalaman dan kecerahan air berkisar antara 148 1.130 cm dan 85-112 cm.
Kedalaman menentukan seberapa dalam cahaya matahari dapat menembus lapisan
air. Cahaya matahari dalam suatu perairan sangat penting dalam membantu proses

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton, dan melalui proses fotosintesis


dapat meningkatkan kandungan oksigen terlarut.
d. Kondisi Perairan
Menurut Zulfia dan Aisya (2013), menyimpulkan setidaknya ada 6
permasalahan yang terjadi di perairan umum daratan, seperti sedimentasi dan
pencemaran, degradasi lebar sungai dan konversi badan air, ancaman
keanekaragaman hayati, ancaman perikanan darat seperti adanya aktivitas
Karamba Jaring Apung (KJA), pariwisata serta banjir dan kekeringan.
Sedimentasi dan pencemaran merupakan masalah yang sering terjadi diperairan
danau, seperti di Danau Limboto, Maninjau, Singkarak, Rawa Pening, Tempe,
Kerinci dan Rawa. Permasalahan yang juga sering terjadi adalah pengkayaan
unsure hara akibat dari peningkatan jumlah KJA. Umumnya terjadi di waduk dan
danau, seperti Waduk Saguling, Cirata, Jatiluhur, Lahor, Cirata, Karangkates,
Sengguruh, Danau Limboto, Maninjau, Toba serta Singkarak
e. Fungsi Waduk
Bendungan Sutami terletak di Desa Karangkates, Kecamatan Sumber
Pucung, Kabupaten Malang. Manfaat utama untuk pengendalian banjir, irigasi,
PLTA sebesar 3 x 35 MW dan memenuhi kebutuhan debit minimum 56 m3/det
untuk daerah hilir. Pada awal perencanaan, debit minimum turbin PLTA adalah 25
m3/det

dan

debit

maksimum

51.39

m3/det.

Dalam

usia

40

tahun, turbin hanya mampu menerima debit maksimum sebesar 46.09 m3/det.
Untuk mempertahankan produksi energy listrik yaitu dengan mengoptimalkan
outflow yang masuk ke turbin. Dirancang menggunakan model pemrograman
linier kabur yang dipadukan dengan model simulasi untuk penilaian kinerja pola
operasi waduk. Dalam kajian ini diperoleh hasil optimasi selama 11 tahun berupa
produksi energi optimal sebesar 5606.66 GWh, kurva pengatur tinggi
muka air baru dan simulasi menghasilkan keandalan 100.00 % untuk model dan
eksisting (Abel et al ., 2015)
f. Jumlah Keramba di Lokasi
Bendungan memiliki nilai guna cukup tinggi antara lain sebagai irigasi,
pembangkit tenaga listrik, budidaya perikanan dan pariwisata. Budidaya ikan
menggunakan keramba (Keramba Jaring Apung atau KJA dan Keramba Jaring
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

Tancapatau KJT) merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan di


bendungan. Kegiatan perikanan yang tidak ramah lingkungan seperti KJA atau
KJT yang melebihi daya dukung lingkungan akan meninggalkan sisa pakan yang
menumpuk didasar perairan selama bertahun-tahun. Hal ini menimbulkan
pengkayaan unsure hara dan mempercepat eutroikasi yang ditandai dengan
berkembangnya tanaman air seperti enceng gondok, azola. Jadi jumlah KJA dan
KJT harus disesuaikan dengan daya dukung lingkungan bendungan sehingga tidak
menimbulkan pengaruh negative terhadap kualitas air yang ada di bendungan
(Pujiastutiet al., 2013).
g. Tinggi Air Saat Pasang Tertinggi dan Surut Terendah
Pasang dan surut air di dalam bendungan dipengaruhi oleh cuaca, jenis
tanah, evaporasi, suplai air dari sungai dan jumlah sedimen. Jumlah sedimen dari
hasil erosi di waduk akan menghasilkan suatu bentukan (morfologi) tubuh tanah
yang menciptakan bentuk muka waduk yang baru. Dengan demikian
mengakibatkan pendangkalan di daerah waduk. Volume sedimentasi yang ada di
dasar bendungan jika sudah mencapai setengah dari volume bendungan akan
menyebabkan penyurutan volume air terendah yang sangat berpengaruh terhadap
kinerja dan umur produktif waduk. Pasang tertinggi terjadi ketika musim hujan
karena suplai air yang masuk kedalam waduk cukup banyak (Dian et al., 2012).
2.1.2 PemilihanLokasi
Pemilihan lokasi yang tepat dan baik merupakan salah satu factor penentu
keberhasila nusaha budidaya disamping ketersedian benih, pakan serta
terjaminnya pasar dan harga. Pemilihan lokasi harus mempertimbangkan factor
lingkungan dan kualitas air. Kelayakan lokasi merupakan hasil kesesuaian di
antara persyaratan hidup dan berkembangnya suatu komoditas budidaya terhadap
lingkungan fisik perairan. Lingkungan fisik yang dimaksud meliputi kondisi
kualitas air, keadaan tanah, topografi, sumber daya alam sekitar lokasi budidaya.
Sumber air adalah factor utama dalam keberhasilan melakukan usaha budidaya.
Sumber air harus ada sepanjang tahun dan memenuhi standar untuk kegiatan
usaha budidayaikan. Oleh karenanya, sebaiknya pemilihan tempat untuk keramba
jarring tancap harus memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air
(Affan, 2012).
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

a. Cara menentukan Lokasi untuk KJA


Menurut Kordi (2013), untuk menempatkan KJA di suatu perairan (danau,
waduk, atau laut), perlu mempertimbangkan kelayakan lokasi tersebut. Kelayakan
lokasi dapat diukur secara teknis dan sosial ekonomi. Pada kondisi perairan
mengalir di danau atau waduk, disarankan agar KJA ditempatkan minimum pada
kedalaman air 3 m. Sementara itu, pada kondisi perairan yang tidak mengalir,
disarankan KJA ditempatkan di kedalaman minimum 5 m. Untuk penempatan
KJA bertingkat atau berlapis, kedalaman yang ideal minimum 8 m. Danau atau
waduk yang dalam umumnya sering mengalami pembalikan air atau umbalan
(upwelling), terutama pada musim hujan. Karena itu, pilih lokasi atau bagian dari
danau (waduk) yang dasarnya berupa batu dan tanah keras, bukan lumpur. Cara
lainnya, mengatur waktu budidaya sehingga panen dilakukan sebelum mamasuki
musim hujan. Untuk menghindari tiupan angin dan gelombang, tempatkan KJA di
perairan yang memiliki teluk atau dekat pantai (daratan).
b. Luasan KJA yang diperbolehkan untuk Budidaya dalam KJA
Menurut Mahyuddin (2010), pendirian unit KJA harus sejajar aliran arus
angin. Luas perairan yang digunakan untuk KJA sebanyak 1% dari luas badan air
agar kelestarian lingkungan terjaga dan produktivitas perairan tetap tinggi.
Kedalaman perairan minimal 12 m. Jika kedalaman < 12 m, dasar jaring apung
terlalu dekat dengan dasar perairan yang merupakan tempat berkumpulnya
sedimen organik dan lumpurm termasuk limbah dari KJA itu sendiri.
c. Pertimbangan Kualitas Air yang Menentukan Pemilihan lokasi KJA
Menurut Landau (1995) dalam Adipu et al. (2013), Departemen Kelautan
dan Perikanan menginformasikan bahwa untuk penilaian kesesuaian zonasi
kawasan budidaya kakap dan kerapu dengan KJA, parameter yang dinilai adalah :
faktor keterlindungan, arus, pasang surut dan arus pantai, salinitas, temperatur,
DO, kandungan logam berat, arah dan kecepatan angin, topografi pantai
(batimetri), substrat, kecerahan, transportasi dan pasar. Sementara untuk penilaian
kesesuaian zonasi kawasan budidaya rumput laut, selain faktor faktor tersebut di
atas, juga harus ditambahkan kajian menyangkut nutrien yang terkandung serta
kesuburan perairan.

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

2.1.3 Jenis Karamba


Menurut Mahyuddin (2010)

Keramba didasar perairan umumnya

ditempatkan di dasar perairan.Perairan yang cocok untuk keramba jenis ini adalah
pada sungai-sungai. Dasar perairan sebaiknya agak keras karena digunakan
sebagai alas keramba. keramba jenis ini dibangun dengan cara menanamkan
ujung-ujung keramba ke dasar perairan seperti sungai-sungai.
2.1.4 Konstruksi Karamba
Menurut

Krismawati

et.

al

(2014),

Perancangan

keramba

harusmempertimbangkan beberapa faktor yang meliputi: faktor teknik, biaya,


karakteristik spesies yang akan

dibudidayakan dan petani yang menjalankan

sistem keramba. Struktur keramba harus mampu menahan beban angin, beban
gelombang pada saat beroperasi memelihara ikan dalam jaring apung. Desain
yang

direncanakan

perlu

memperhatikan

kebutuhan

mempertimbangkan kondisi ruang hidup yang dipengaruhi

ikan

dengan

letak lokasi yang

digunakan dan pengaruh kualitas lingkungan didalam keramba. Namun dari sudut
pandang petani, keramba haruslah aman, selamat dan mudah dioperasikan. Semua
ini harus tercapai dengan biaya yang efektif.
2.1.5 Ciri Keramba
Menurut Widiastuti (2015), ciri keramba yaitu harus memenuhi aspek
teknis dan aspek sosial ekonomis seperti kedalaman perairan minimal 10 meter,
kualitas air memenuhi persyaratan hidup ikan, bebas dari pencemaran air, bukan
jalur lalu lintas kapal, tidak merusak pelestarian lingkungan, memiliki kemudahan
transportasi, tersedianya bahan dan pakan, dekat dengan daerah pemasaran,
kemudahan suplai benih, keamanan terjamin, legalitas lokasi budidaya, dan
ketersediaan tenaga kerja.
2.1.6 Komoditas Budidaya
Menurut Hermanto (2013), ikan yang mendominasi wilayah perairan danau
biasanya adalah ikan nila (Oreochromis niloticus). Adanya dominasi dari spesies
ini dikarenakan jenis ikan ini hidup secara bergerombol, dan merupakan jenis ikan
yang tergolong dalam divisi sekunder, yang menandakan bahwa jenis ikan ini
sangat toleran terhadap salinitas perairan. Faktor lain dikarenakan jenis ikan ini

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

banyak dibudidayakan di keramba-keramba jaring apung yang ada di perairan


danau sehingga menjadikan ikan jenis ini mudah berkembang biak.
2.1.7 Manajemen Pakan
Agar penggunaan pakan lebih efisien serta menjaga lingkungan hidup ikan
tetap optimal, maka teknik pemberian pakan terbaik perlu diterapkan pada KJA .
pada prinsipnya tujuan penerapan teknk pemberian pakan untuk menekan
sesedikit mungkin pakan terbuang percuma sehingga dapat diperoleh keuntungan
yang besar. Dalam memberi pakan ikan ada lima hal yang perlu diperhatikan,
yaitu cara pemberian pakan, saat atau waktu pemberian, jumlah (porsi) pakan,
frekuensi dan tempat pemberian pakan (Kordi,2010).
2.1.8 Hama dan Parasit
Tindakan pencegahan dengan mempersiapkan wadah pemeliharaan yang
optima, berupa keramba jarring yang baik, menutup permukaan KJA dan
memagar daerah sekitar KJA aan memberikan andil yang sangat besar dalam
usaha penanggulangan hama. Sedangkan pencegahan penyakit dapat dilakukan
secara mekanik, kimia, maupun biologis. Secara mekanik yaitu dengan peralatan
mekank, secara kimia yaitu dengan memanfaatkan bahan kimia, dan secara
biologis yaitu mempersiapkan benih yang berkualitas.
2.2 Manajemen Budidaya Ikan Hias
2.2.1 Keadaan Umum
Induk jantan dan betina harus dipisahkan meskipun masing masing terdiri
dari beberapa jenis sehingga satu kolam induk jantan bisa terdiri dari banyak
pejantan dari beberapa jenis, begitu pula pada betina.Secara umum, kolam untuk
pemeliharaan induk hampir sama dengan kolam pembesaran. Kedalaman kolam
sebaiknya lebih dari 1,5 meter. Bagi induk jantan, kolam dapat dibuat lebih
dangkal.Hal ini disebabkan badan induk betina lebih besar dibandingkan dengan
induk jantan.Luas kolam pemeliharaan induk minimal 4x5 m2(Tiana et al.,2002).
2.2.2 Sarana dan Prasarana
Sarana pendederan yang dapat digunakan adalah akuarium, bak fiberglass
drum bekas, paso, ember atau bak semen. Penempatannya harus diusahakan
ditempat terbuka dan cukup mendapatkan sinar matahari. Untuk mengurangi
panas dan menjaga temperatur wadah tetap stabil, tanaman air seperti eceng
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

gondok atau siambang dapat digunakan. Sebaiknya ukuran bak pendederan yang
digunakan cukup besar atau disesuaikan dengan jumlah burayak yang berhasil
ditetaskan, misalnya menggunakan bak fiberglass 1m x 1m x 0,5m sehinga
burayak dapat berkembang dengan baik lagi(Sunari,2007).
2.2.3 Konstruksi Kolam
Kolam dirancang dengan ukuran 20 m x 10 m kedalaman 1 m dengan
dasar kolam tanah. Sistem pemfilteran dibuat dengan rancangan dua bak yaitu bak
penampungan sekaligus pemfilteran dan bak kedua adalahpemfilteran kedua. Bak
pertama berukuran 5 m x 2 m dengan tinggi 3 m. Bak kedua berukuran 5 m x 1 m
dengan tinggi 1 m. Sistem sirkulasi air dimulai dari bak satu yang menampung
sekaligus memfilter air berisi kerikil, pasir dan ijuk dengan perbandingan 1 : 1 : 1.
Air yang berasala dari sumur bor dipompa masuk ke bak satu. Setelah melalui bak
satu air difilter masuk ke bak kedua dengan sistem pemfilteran berisi ijuk yang
disusun vertikal sehingga diharapkan air terfilter lebih baik. Air yang berasal dari
bak dua diteruskan ke kolam ikan dengan sistem air jatuh dan melalui pipa
paralon yang di beri lubang (Juliani et al., 2014).
2.2.4 Klasifikasi dan Morfologi
Menurut Bachtiar (2002), klasifikasi ikan koi adalah sebagai berikut:
Filum

: Chordata

Subfilum

: Vertebrata

Superkelas

: Gnathostomata

Kelas

: Osteichtyes

Superordo

: Teleostei

Ordo

: Ostariophysi

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio

(Bachtiar, 2002)

Badan koi ditutupi oleh dua lapisan kulit, yaitu kulit luar (epidermis) dan
kulit dalam (dermis). Bagian kepala koi mirip dengan ikan mas koki, tetapi
dilengkapi satu pasang sungut. Bagian mulut tidak terlalu lebar. Bagian rahang
tidak memiliki gigi. Hidung berupa lekukan dan tidak berhubungan dengan alat

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

pernapasan. Alat pernapasan berupa insang yang terdapat dikedua sisi kepala
(Bachtiar, 2002).
2.2.5 Manajemen Pakan
Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari di waktu pagi, siang dan sore.
Untuk menjaga agar air tidak kotor dari sisa pakan buatan maka masukkan air
baru agar sisa pakan hanyut melalui saluran pembuangan. Pemberian pakan
sebaiknya sedikit tetapi sering yaitu 2-4 kali sehari diwaktu pagi, siang atau sore
hari. Pakan akan habis dalam waktu 5 menit jika kurun waktu 10 menit belum
habis maka tandanya ikan hias kenyang dan sisanya akan mengotori air.
Kebutuhan pakan untuk ikan hias sebagai contoh untuk ikan koi disesuaikan
dengan kebutuhannya (Juliani et al., 2014).
2.2.6 Manajemen Kualitas Air
Untuk menjaga kualitas air pada budidaya ikan koi, maka kolam koi harus
dilengkapi dengan saluran pembuangan (drainase) dibagian bawah dan pipa input
air bersih dibagian atas. Selain itu, kolam juga dilengkapi dengan bebrapa filter
meliputi kerikil, pasir, ijuk, zeolit dan tanaman. Untuk menjaga sirkulasi air
kolam, dipasang pompa yang mampu menyalurkan air sebanyak 25 liter per menit
agar kolam tidak perlu sering dibersihkan. Serta PH yang cocok bagi pertumbuhan
koi yakni antara 6,5 8,5 (Redaksi Agromedia, 2008).
2.2.7 Proses Pemanenan
Pada pemanenan telur ikan koi, setelah 2 3 telur menetas, kakaban
diangkat dan dipindahkan ke tempat lain. Kakaban bisa dipakai lagi pada
pemijahan selanjutnya. Benih ikan koi umur seminggu masih lembut. Umumnya
orang menetaskan telur ikan koi dalam hapa, yaitu kantong yang bermata lembut
yang biasanya untuk menampung telur dan mengapung diatas kolam (Redaksi PS,
2008).
2.2.8 Proses Pengemasan
Salah satu teknologi transportasi ikan hidup adalah sistem kering yakni
tanpa menggunakan media air sebagai media pengangkutan. Pada sistem ini, ikan
dibuat dalam kondisi pingsan (anestesi) sehingga mampu mencapai tingkat
kelulushidupan yang tinggi diluar media air. Pengemasan dilakukan sebagai
berikut: kedalam dasar kemasan kotak styrofoam diletakkan hancuran es yang
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

telah dibungkus kantong plastik secara merata, kemudian serbuk gergaji dingin
diletakkan diatas es dengan ketebalan 7 cm secara merata. Ikan yang telah pingsan
terlebih dahulu dibungkus kain blacu kemudian dimasukkan kedalam serbuk
gergaji dengan posisi tegak, setelah itu ditambahkan serbuk gergaji diatasnya,
kotak ditutup rapat dan direkatkan dengan lakban, suhu diamati dengan
memasukkan termometer pada lubang yang telah dimodifikasi pada kotak
Styrofoam (Abid et al., 2014).
2.2.9 Hama dan Penyakit
Koi Herpes Virus (KHV) adalah virus herpes yang hanya menginfeksi dan
dapat menyebabkan kematian massal pada ikan koi dan ikan mas. Menurut Sano
et al (2004) dalam Nuswantoro et al (2012), kerusakan jaringan insang akibat
KHV terlihat dari lamela sekunder yang menyatu dengan hiperlasia pada
branchial epithelim, dan nekrosis sel terjadi cukup jelas. Kerusakan tersebut sudah
terlihat jelas paling cepat dua hari setelah penginfeksian yag terlihat jelas dengan
mulai hilangnya beberapa bagian lamela.
2.2.10 Karantina
Karantina ikan merupakan salah satu instrument dalm subsistem
perdagangan produk perikanan di tingkat nasional maupun internasional, melalui
sertifikat kesehatan ikan yang terpercaya. Meningkatkan lalulintas komoditas
perikanan, baik untuk kegiatan antar pulau dan antar Negara berdampak pada
kemungkinan tersebarnya hama dan penyakit ikan, khususnya bakteri. Dengan
demikian untuk meningkatkan kualitas ekspor dari ikan hias ini yaitu mencegah
terjadinya serangan penyakit, maka perlu upaya tindakan awal berupa identifikasi
dan karakteristik bakteri yang menyerang ikan (Mustahal dan Anik, 2012).
2.3 Manajemen Budidaya Ikan Konsumsi
2.3.1 Keadaan Umum
Menurut kusmiran (2014), keadaan umum bagi budidaya ikan air tawar
harus mempertimbangkan lokasi

tersebut memiliki potensi yang mendukung

untuk kegiatan budidaya ikan air tawar. Kawasan budidaya ikan air

tawar

memerlukan luasan lahan dan terdiri dari banyak fasilitas yang mempunyai
fungsi berbeda, sehingga kawasan ini diperlukan penataan baik dari aspek
perletakan, orientasi, sirkulasi, vegetasi dan penzoningan untuk memudahkan
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

baik pengelola maupun pengunjung dalam melakukan kegiatan di dalam


kawasan. Desain karakter bangunan memperhatikan iklim tropis setempat
serta

konstektual

dengan bangunan

yang

lainnya.

Dengan

adanya

perancangan kawasan budidaya ikan air tawar, maka kebutuhan benih ikan dapat
terpenuhi dari daerah sendiri, selain itu kawasan ini menjadi tempat yang
memberikan edukasi dan konservasi serta mampu memperbaiki produktivitas
dan kualitas perikanan budidaya di Kabupaten Melawi.
2.3.2 Sarana dan Prasarana
Menurut Ratnasari (2011) , sarana yang ada pada ikan konsumsi antara
lain Pembangunan Tahap Akhir Sentra Pengolahan dan Pemasaran Produk
Perikanan Bulak, Pembangunan IPAL, Pembangunan Tambat Labuh Perahu
Nelayan. Prasaana yang harus ada yaitu sepeti keadaan jalan dan tanspotasi,
sumber tenaga listrik, alat komunikasi, dan masih banyak lagi. Sarana dan
prasarana harus ada untuk menunjang kegiatan budidaya.
2.3.3 Konstruksi Kolam
Untuk pembesaran lele secara intensif, dengan padat tebar diatas 500
ekor/m3, kolam tembok sebaiknya dibuat diatas permukaan tanah. Tujuannya,
agar mudah untuk membuang air kolam tanpa menggunakan pompa. Pembuangan
air hanya memanfaatkan elevasi atau perbedaan ketinggian air kolam sehingga
dapat dibuang atau dikurangi. Karena itu, dasar kolam harus dibuat miring ke
tengah kolam (Khairuman dan Amri, 2012).
2.3.4 Biologi Ikan
2.3.4.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Lele
Menurut Suyanto (2004), klasifikasi ikan lele adalah sebagai berikut:
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Subkelas

: Teleostei

Ordo

: Ostariophysi

Subordo

: Siluroideae

Famili

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias sp.

(Tim Penulis Agriflo, 2012)

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

Badan lele berbentuk memanjang dengan kepala pipih dibawah (depesed).


Mulut berada diujung/terminal dengan empat pasang sungut. Sirip ekor
membundar., tidak bergabung dengan sirip anal. Sirip perut juga membundar jika
mengembang. Lele mempunyai senjata yang ampuh dan berbisa berupa sepasang
patil berada disebelah depan sirip dada. Selain sebagai senjata, patil ini juga
digunakan lele untuk melompat dari kolam (Suyanto, 2004).
2.3.4.2 Manajemen Pakan
Waktu pemberian pakan ikan Lele (Clarias sp.) sebaiknya disesuaikan
dengan kondisi ikan (nafsu makan), kepraktisan operasional usaha, dan sifat lele.
Dilihat dari nafsu makan, sebaiknya pakan diberikan ketika nafsu makan tertinggi.
Salah satu sifat lele yaitu nocturnal (aktif pada waktu malam hari. Oleh
karenanya, sebaiknya pemberian pakan lele lebih banyak pada waktu menjelang
sore dan malam. Untuk jumlah pakan yang diberikan sebanyak 1-2% dari total
berat induk dan diberikan 2-3 kali sehari (Hendriana, 2010; Nugroho, 2007).
2.3.4.3 Komposisi Probiotik
Menurut Trisna et al. (2013), bahwa probiotik dapat diartikan sebagai
suatu mikroorganisme hidup yang mempunyai peran menguntungkan, mampu
bertahan hidup dalam saluran pencernaan. Contoh dari probiotik yang umum
digunakan adalah EM-4. Mikroorganisme EM-4 terdiri dari bakteri Lactobacillus
sp. Streptomyces sp, Actinomycetes sp dan ragi. Beberapa produk EM-4 memiliki
jenis bakteri tertentu yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan atau aplikasi
penggunaannya. Mikroorganisme yang terdapat pada EM-4 yaitu bakteri
fotosintetik, bakteri asam laktat, Streptomyces sp, Actinomycetes sp dan ragi/yeast.
2.3.4.4 Dosis dan Cara Pemberian Probiotik
Menurut Ahmadi et al. (2012) dalam Wardika et al. (2014)

bahwa

pemberian probiotik dengan dosis 10 sel/mL hanya memberikan nilai efisiensi


pemanfaatan pakan sebesar 43,93%. Efisiensi pemanfaatan pakan pada pakan
yang ditambahkan probiotik menunjukkan nilai yang lebih baik dibandingkan
dengan pakan tanpa ditambahkan probiotik. Hal ini diduga pakan dengan
campuran probiotik memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan pakan
tanpa probiotik.

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

2.3.4.5 Fungsi Probiotik


Menurut Irianto (2003) dalam Wardika et al. (2014), bahwa Probiotik
pada pakan mampu memperbaiki kualitas pencernaan lele dumbo sehingga pakan
lebih banyak terserap pada tubuh ikan. Bakteri di dalam saluran pencernaan ikan
dapat mensekresikan enzim-enzim pencernaan seperti protease dan amilase.
Enzim yang disekresikan ini jumlahnya meningkat juga sesuai dengan jumlah
dosis probiotik yang diberikan yang pada gilirannya jumlah pakan yang dicerna
juga meningkat.
2.3.4.6 Manajemen Kualitas Air
Menurut Hastuti dan Subandiyono (2011), pada budidaya ikan lele perlu
adanya manajemen kualitas air dengan baik. Pada umumnya permasalahan yang
ditemukan adalah tingginya kadar amonia pada media budidaya menyebabkan
kenaikan kadar leukosit darah ikan yang dipelihara. Jika dikaitkan dengan kondisi
kualitas air media pemeliharaan, rupanya dengan penerapan kolam biofiltrasi pada
budidaya ikan lele dumbo menghasilkan efek perbaikan kualitas air terutama pada
rendahnya kadar amonia . Hal ini dapat diartikan bahwa ikan lele yang
dibudidayakan dengan sistim kolam biofiltrasi memiliki kondisi kesehatan yang
lebih baik. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa penerapan kolam biofiltrasi
dapat memperbaiki kualitas air media sehingga kondisi hematologis ikan yang
dibudidayakan menjadi lebih baik.
Kualitas air merupakan factor pembatas dalam pertumbuhan ikan
budidaya, termasuk lele. Sekalipun lele dapat hidup pada kualitas air yang buruk,
pertumbuhan lele akan terhambat karena energinya digunakan untuk bertahan
pada lingkungan yang buruk sehingga pertumbuhannya melambat. Kualitas air
yang buruk juga dapat mebjadi sumber penyakit sehingga menginfeksi ikan.
Kualitas air yang yang dianggap baik untuk kehidupan lele adalah suhu 25-30 oC,
kandungan oksigen terlarut 3-6 ppm, Ph 6,5-8,5 dan NH3 <0,1 ppm. Kualitas air
harus dipertahankan pada kisaran optimal agar pertumbuhan lele dapat meningkat
(Ghufran dan Kordi, 2010 dalam Pratiwi, 2014).
(DIPILIH SALAH SATU AJA).

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

2.3.4.7 Pemanenan
Menurut Jaja et. al. (2013) , kegiatan pemanenan ikan lele dilakukan pada
umur pemeliharaan ikan dua bulan terhitung sejak awal penebaran benih ikan lele,
atau berat badan ikan lele sudah mencapai 100-170 gram. Factor terpenting yng
harus dilakukan ketika proses panen adalah pemuasaan ikan. Hal ini bertujuan
untuk menghilangkan bau lumpur yang terdapat pada ikan lele saat dikonsumsi,
perut ikan menjadi kosong dan tidak mengeluarkan kotoran saat proses
pengangkutan serta ikan tidak stress, jika ikan akan dijual.
2.3.4.8 Hama dan Penyakit
Serangan penyakit merupakan salah satu kendala yang sering terjadi dalam
usaha budidaya ikan. Bakteri Aeromonas hydrophila sebagai bakteri patogen,
penyebab penyakit pada berbagai jenis ikan air tawar, termasuk ikan gurame.
Penyakit yang disebabkan bakteri ini dikenal dengan nama Motil Aeromonas
Septicemia (MAS) atau penyakit bercak merah, serangannya dapat mematikan
benih ikan dengan tingkat kematian mencapai 80% - 100% dalam waktu 1-2
minggu (Cipriano, 2001 dalam Rosidah, 2012).
2.3.4.9 Biosecurity
Kelayakan sarana biosecurity merupakan keharusan dalam penerapan
CBIB dan CPIB, khususnya untuk mendukung proses produksi ikan dan benih
yang bermutu. Sarana yang diperlukan untuk penerapan biosecurity tersebut
sebagai berikut: pagar, sekat antar unit produksi, sarana sterilisasi kendaraan, dan
sarana sterilisasi alas kaki. Dengan diterapkannya biosecurity maka kemungkinan
masuknya organisme yang tidak diingkan ke dalam unit produksi akan semakin
kecil (Khairuman dan Amri, 2011).

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

2.3.5 Biologi Ikan


2.3.5.1 Klasifikasi dan Morfologi Ikan Gurame
Menurut Susanto (1898), klasifikasi ikan gurame adalah sebagai berikut:
Filum: Chordata
Kelas: Pisces
Ordo: Labirintichi
Family: Anabanthidae
Genus: Ospronemus
Spesies: Ospronemus gourami

(Bachtiar, 2010)

Menurut Rukmana (2005), ikan gurame memiliki badan memipih


kesamping (compressed). Mulutnya kecil dan letaknya miring, tidak tepat berada
di ujung moncong. Ikan ini juga memiliki alat pernafasan berupa labirin di dalam
insangnya. Permulaan sirip pungung belakang dasar sirip dada, sirip punggung
lebih pendek dari pada sirip dubur dan sisiknya tersusun rata. Garis rusuknya
lengkap dengan tidak terputus-putus. Pada jari-jari pertama dari sirip perut
terdapat alat peraba berupa benang yang panjang.
2.3.5.2 Manajemen Pakan
Menurut Bachtiar (2010), pakan gurame harus selalu tersedia di lokasi
budidaya. Pakan yang dibutuhkan tersebut mudah diperoleh seperti pellet yang
banyak dijual di toko-toko dan pakan alami yang tersedia di sekitar kolam. Pakan
alami yang disukai ikan ini seperti daun talas. Pakan alami tersebut juga mudah
didapat dan mudah diramu untuk diberikan langsung ke ikan gurame. Pemberian
pakan biasanya dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore.
2.3.5.3 ManajemenKualitas Air
Menurut Fitriadi et.al., (2014), Kualitas air meupakan parameter
penunjang dalam penelitian ini. Air sebagai media hidup ikan yang dipelihara
harus memenuhi persyaratan baik kualitas maupun kuantitasnya. Pengelolaan
kualitas air bertujuan untuk mengurangi resiko kegagalan produksi, dengan cara
memantau parameter kualitas air selama proses budidaya dilaksanakan. Parameter
penunjang kualitas air yang dimaksud seperti suhu, DO, dan pH. Kisaran DO
selama pengamatan adalah 4-6 mg/L, kondisi ini masih layak untuk kehidupan
larva ikan gurame. Kadar oksigen terlarut dalam air sangat penting bagi
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

kelangsungan hidup semua organisme. Kebutuhan oksigen tergantung dari jenis


ikan, umur dan aktifitasnya. Ikan gurame mempunyai labirin

yang dapat

mengambil oksigen langsung dari udara sehingga kadar oksigen dalam air tidak
terlalu mempengaruhi gurami. Ikan gurame mempunyai toleransi yang luas
terhadap derajat keasaman yaitu 5-9, namun demikian derajat keasaman yang
optimum untuk pertumbuhan ikan gurame adalah 7.
2.3.5.4 Pemanenan IkanGurame
Menurut Pujiastuti (2012), Panen ikan dilakukan setelah ikan mempunyai
berat antara 0,8Kg sampai dengan 1Kg. Dalam suatu budidaya. ikan dengan
pakan alami di panen setelah 16 bulan setelah ikan di tebar di kolam sedangkan
kelompok pakan tambahan pellet ikan dapat di panen dalam waktu 12 bulan
setelah ikan di tebar dalam kolam, terdapat perbedaan waktu panen antara
kelompok pakan alami dengan kelompok pakan tambahan pellet. Panen dilakukan
oleh pedagang ikan dengan sistim borongan semua ikan diambil tidak ada yang di
sisakan. Dalam pemanenan petani ikan gurami tidak mengeluarkan biaya sama
sekali karena penangkapan ikan dalam kolam dan penimbangan ikan dilakukan
oleh pedagang ikan gurami petani ikan hanya mengawasi saja. Dalam pemenenan
sama tidak ada perbedaan dari keduan kelompok akan tetapi terdapat perbedaan
dalam waktu ikan di penen.
2.3.5.5 Hama dan Penyakit
Penyakit fish tuberculosis merupakan infeksi kronik dengan gejala khas
pada ikan gurame. Penyebab penyakit tersebut adalah bakteri Mycobacterim spp.
yang memiliki karakteristik berbentuk batang dengan ukuran 0,2-0,6 x 1,0-10,0
m; bersifat tahan asam, tidak bergerak, tidak membentuk spora atau kapsul, dan
bersif ataerob. Bakteri ini banyak dijumpai di perairan tawar dan laut maupun
tanah dengan suhu optimal pertumbuhannya 25oC-30oC. Ada dua jenis
Mycobacterium yang umumnya dijumpai pada air tawar yaitu M. fortuitumdan M.
chelonei. Gurame yang terinfeksi penyakit ini menunjukkan gejala klinis antara
lain ikan lemah, pembengkakan pada kulit, mata menonjol (exopthalmia) lesi, dan
borok pada tubuh (Purwaningsih et al., 2009 dalam Purwaningsih et al., 2015).

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

2.3.5.6 Biosecurity
Salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan dalam suatu usaha
pembenihan ikan adalah kemampuan dalam mengendalikan masuknya dan
berkembangnya organisme pathogen pada unit pembenihan tersebut. Hal ini
hanya dapat dipenuhi melalui penerapan biosecurity yang sistematis dan
konsisten. Penerapan biosecurity dapat dilakukan secara fisik melalui : (1)
Pengaturan tata letak, (2) Pengaturan akses masuk kelokasi unit pembenihan, (3)
Sterilisasi wadah, peralatan dan ruangan, (4) Sanitasi lingkungan, dan (5)
Pengolahan limbah hasil kegiatan pembenihan. Penerapan biosecurity diterapkan
pada semua jenis budidaya dan jenis komoditas ikan, baik itu pembenihan,
pendederan, maupun pembesaran (Dirjen KKP, 2008).

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

DAFTAR PUSTAKA
Abel,Y.P., Rispiningtati., dan W. Soetopo. OPTIMASI POLA OPERASI
WADUK SUTAMI MENGGUNAKAN MODEL PEMROGRAMAN
LINIER

KABUR

(FUZZY

LINEAR

PROGRAMMING).

JurnalTeknikPengairan. (6) 1 : 95-107


Abid, Muhammad Sholihul., E. D. Masithah dan Prayogo. 2014. Potensi Senyawa
Metabolit Sekunder Infusum Daun Durian (Durio zibethinus) Terhadap
Kelulushidupan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Pada Transportasi Ikan
Hidup Sistem Kering, Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 6 (1) : 93-99
Adipu, Y., C. Lumenta., E. Kaligis dan H. J. Sinjal., 2013. Kesesuaian Lahan
Budidaya Laut di Perairan Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan,
Sulawesi Utara. Jurnal Perikanan dan Kelautan Tropis. Vol. IX-1 : 19
26.
Affan, Junaidi M. 2012. Identifikasi Lokasi Untuk Pengembangan Budidaya
Keramba Jaring Apung (KJA) Berdasarkan Faktor Lingkungan Dan
Kualitas Air Di Perairan Pantai Timur Bangka Tengah. Depik. 1(1):78-85.
Bachtiar, Y. 2002. Mencemerlangkan Warna Koi. Jakarta: Agromedia Pustaka.
Bachtiar, Y. 2010. Buku pintar budidaya dan bisnis gurame. Jakarta: PT
Agromedia pustaka.
Dian, Sucihatiningsih.W.P., Avi B. S. dan Karsinah. 2012. Dampak Sedimentasi
Bendungan Soedirman Terhadap Kehidupan Ekonomi Masyarakat.
Journal of Economics and Policy. 5(2): 117-229.
Dirjen Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2008. Pedoman Cara Pembenihan
Ikan yang Baik (CPIB). Jakarta.
Fitriadi,

M.

W.,Fajar.Bdan

Ristiawa,A.N.

2014.

Pengaruh

Pemberian

Recombinant Growth Hormone (Rgh) MelaluiMetode Oral Dengan


Interval

Waktu

Yang

Berbeda

Terhadap

Kelulushidupan

Dan

Pertumbuhan Larva Ikan Gurame Var Bastard (Osphronemus Gouramy


Lac, 1801). Journal of Aquaculture Management and Technology.3(2):7785.
Hastuti,S. dan Subandiyono. 2011. PERFORMA HEMATOLOGIS IKAN LELE
DUMBO (Clarias gariepinus) DAN KUALITAS AIR MEDIA PADA
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

SISTIM

BUDIDAYA

DENGAN

PENERAPAN

KOLAM

BIOFILTRASI. Jurnal Saintek Perikanan. 6 (2) :1-5.


Hendriana, A. 2010. Pembesaran Lele di Kolam Terpal. Penebar Swadaya: Bogor.
Hermanto, W., S. Nursinar dan Mulis. 2013. STRUKTUR KOMUNITAS IKAN
DI PERAIRAN DANAU LIMBOTO DESA PENTADIO KECAMATAN
TELAGA BIRU KABUPATEN GORONTALO. Jurnal Ilmiah Perikanan
dan Kelautan. 1(3):2-11
Jaja, A. Suryani dan K.Sumantadinata. 2013. Usaha Pembesaran dan Ikan Lele
serta Stategi Pengembangannya di UD. Sumber Rezeki Parung, Jawa
Barat. Manajemen IKM. 8 (1) :45-56.
Juliani, R., Derlina., A. Kembaren.2014.Ikan Hias Untuk Desa Sekip Lubuk
Pakam. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat.20(77)
Khairuman, H dan K. Amri. 2011. 2,5 Bulan Panen Ikan Nila. Jakarta: Agromedia
Pustaka.
Khairuman, H dan K. Amri. 2012. Pembesaran Lele di Berbagai Jenis Kolam.
Jakarta Selatan : Agromedia Pustaka.
Kordi, K. M. G. H., 2013. Budidaya Nila Unggul. Jakarta : PT AgroMedia
Pustaka. 148 hlm.
Kordi,M.G.H.2010. Buku Pintar Pemeliharaan 14 Ikan Air Tawar Ekonomis Di
Keramba Jaring Apung. Yogyakarta : Lily Publisher.
Krismawati, F.D., Ahmad, F.Z., Dan Parlindungan M. 2014. Perancangan
Bangunan Apung Dan Keramba Dengan Sistem Modular Ponton
Berbahan Ferosemen. Jurnal Teknik Perkapalan. 4 (3) : 66-73.
Kusmiran, A. R. 2014. Kawasan budidaya ikan air tawar di bukit matok
kabupaten melawi. Jurnal online mahasiswa arsitektur universitas
tanjungpina. 2 (2) : 1-11
Mahyuddin, Kholish., 2010. Panduan Lengkap Agribisnis Patin. Jakarta : Penebar
Swadaya. 212hlm.
Mustahal dan Anik,W. 2012. Identifikasi Bakteri yang menginfeksi Ikan Garra
Rufa (cyprinion macrostamus) dib alai besar karantina ikan soekarnohatta. Jurnal perikanan dan kelautan. 2(2):65-70.

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

Nugroho, E. 2007. Kiat Agribisnis Lele: Panduan Teknis dan Non-Teknis


Pembenihan dan Pembesaran. Penebar Swadaya. Bogor.
Nuswantoro, Soko., Alimuddin., M. Yuhana., A. Santika., S. Nuryati., Z. Zainun
damn M. Mawardi.2012.Efikasi Vaksin DNA Penyandi Glikoprotein Koi
Herpes Virus GP=25 Pasa Ikan Mas Stadia Benih Melalui Perendaman,
Jurnal Akuakultur Indonesia.11(1) : 76-85
Pratiwi, D.R. 2014. Aplikasi Effective Microorganism 10 (EM10) Untuk
Pertumbuhan Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang)
di Kolam Budidaya Lele Jombang, Tangerang. Skripsi. UIN Syarif
Hidayatullah :Jakarta.
Pujastuti.2012.Analisis Usaha Budidaya Ikan Gurami Di Kelompok Budidaya
Ikan

Mina

Lestari,

Turus

Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonrogo.

Agrise.XII(2):145-156.
Pujiastuti, P., Bagus I.danPranoto. 2013. Kualitas dan Beban Pencemaran Perairan
Waduk Gajah Mungkur. Jurnal EKOSAINS. 5(1) : 59-75.
Purwaningsih, Uni., Agustin Indrawati, dan Angela Mariana Lusiastuti. 2015.
Patogenesis

Ko-Infeksi

Fish

Tuberculosis

danMotile

Aeromonas

Septicemia pada Ikan Gurame (Osphronemusgouramy). Jurnal Riset


Akuakultur. 10 (1) : 99-107.
Ratnasari, D. 2011. Teknik Pembesaran Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus) Di
Biotech Agro, Kabupaten Jombang, Propinsi Jawa Timur . PKL.
Universitas Airlangga Surabaya.
Redaksi Agromedia. 2008. Buku Pintar Ikan Hias Populer. Jakarta: PT.
AgroMedia Pustaka
Redaksi PS. 2008. Koi: Panduan Pemeliharaan. Galeri Foto, dan Tips Tampil
Cantik. Jakarta: Penebar Swadaya
Rosidah., dan W. M. Afizia. 2012. Potensi ekstrak daun jambu biji sebagai
antibakterial

untuk

menanggulangi

serangan

bakteri

Aeromonas

hydrophila pada ikan gurame (Osphronemus gouramy lacepede). Jurnal


akuatika. 3(1):19-27
Rukmana,R. 2005. Ikan gurame pembenihan dan pembesaran.Yogyakarta:
Kanisius.
TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR

Sunari.2007. Budidaya Ikan Cupang. Gaeca Exact:Yogyakarta.


Susanto, H. 1898. Budidaya ikan gurame. Yogyakarta: Kanisius.
Suyanto, S. Rachmatun. 2004. Budi Daya Ikan Lele. Jakarta: Penebar Swadaya.
Tiana,Q,A.,dan Murhananto. 2002. Budidaya Koi.AgromediaPustaka:Tangerang
Tim Penulis Agriflo. 2012. Lele: Peluang Bisnis dan Kisah Sukses. Depok:
Agriflo.
Trisna, D.E., A.D. Sasanti dan Muslim. 2013. Populasi bakteri, kualitas air media
pemeliharaan dan histologi benih Ikan Gabus (Channa striata) yang diberi
pakan berprobiotik. Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia. 1(1): 90-102.
Wardika, A.S., Suminto dan A. Sudaryono. 2014. Pengaruh Bakteri Probiotik
Pada Pakan Dengan Dosis Berbeda Terhadap Efisiensi Pemanfaatan
Pakan, Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Lele Dumbo (Clarias
gariepinus). Journal of Aquaculture Managenent and Technology. 3(4): 917.
Widiastuti, M.M.D. 2015. ANALISIS KELEMBAGAAN MODEL AGENTPRINCIPLE PADA PETANI KERAMBA JARING APUNG DI WADUK
CIRATA JAWA BARAT. Agricola. 5 (2) : 70-89
Zulfia, N danAisya. 2013. STATUS TROFIK PERAIRAN RAWA PENING
DITINJAU DARIKANDUNGAN UNSUR HARA (NO3 dan PO4)
SERTA KLOROFIL-a. Bawal. 5 (3) :189-199.

TIM LITERATUR MANAJEMEN AKUAKULTUR TAWAR