Anda di halaman 1dari 35

BAB I

PENDAHULUAN

Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai salah satu bentuk dari


kejahatan yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia, mempunyai
kaitan yang erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik; yaitu di dalam upaya
pembuktian bahwa kejahatan tersebut memang benar terjadi. Adanya kaitan antara
ilmu kedokteran dengan kejahatan seksual dapat dipandang sebagai konsekuensi
dari pasal-pasal di dalam KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) serta
KUHAP (Kitab Undang-Undang Acara Hukum Pidana) yang memuat ancaman
hukuman serta tata cara pembuktian pada setiap kasus yang termasuk di dalam
pengertian kasus kejahatan seksual tersebut. 1
Di dalam upaya pembuktian secara kedokteran forensik, faktor
keterbatasan di dalam ilmu kedokteran itu sendiri dapat sangat berperan demikian
halnya dengan faktor waktu serta faktor keaslian dari barang bukti (korban),
maupun faktor-faktor dari pelaku kejahatan seksual itu sendiri. 1
Dengan demikian, upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada
setiap kasus kejahatan seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada
tidaknya tanda-tanda persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan
umur serta pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah
mampu untuk dikawin atau tidak. 2
Pemeriksaan kasus pesetubuhan yang merupakan tindak pidana,
hendaknya dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yain akan
semua bukti yang telah ditemukan karena tidak ada kesempatan untuk melakukan
pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Dalam melaksanakan
kewajiban tersebut, dokter hendaknya tidak meletakkan kepentingan korban di
bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama jika korban merupakan anak-anak,
pemeriksa sebaiknya tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah
dideritanya. 2

Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk


membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan
hukuman. Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga
merupakan tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu
Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada doter ahli
tersebut, maka pemeriksaan harus dilakukan oleh dokter umum. 3
Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah
mengalami cedera fisik dan atau mental sehingga lebih baik dilakukan
pemeriksaan oleh dokter di klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberi hasil
yang kurang memuaskan.3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi
Kejahatan seksual merupakan semua tindakan seksual, percobaan tindakan

seksual, komentar yang tidak diinginkan, perdagangan seks dengan menggunakan


paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memandang hubungan
dengan korban, dalam situasi apapun yang tidak terbatas baik di dalam rumah
maupun lingkungan lainnya. Kejahatan seksual dapat dalam berbagai bentuk
termasuk pemerkosaan, perbudakan seks dan atau perdagangan seks, kehamilan
paksa, kekerasan seksual, eksploitasi seksual dan atau penyalahgunaan seks dan
aborsi. 1
2.1

Klasifikasi
Kejahatan seksual diklasifikasikan sebagai berikut, yaitu :
1. Perkosaan
Menurut KUHP pasal 285,
Perkosaan adalah dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
menyetubuhi seorang wanita di luar perkawinan. Termasuk dalam
kategori kekerasan disini adalah dengan sengaja membuat orang
pingsan atau tidak berdaya (pasal 89 KUHP). 1,4
Hukuman paling lama untuk kasus perkosaan ini adalah 12 tahun
kurungan penjara.
2. Persetubuhan di luar perkawinan
Persetubuhan diluar perkawinan antara pria dan wanita yang
berusia diatas 15 tahun tidak dapat dihukum kecuali jika perbuatan
tersebut dilakukan terhadap wanita yang dalam keadaan pingsan atau
tidak berdaya.
Untuk perbuatan yang terakhir ini, pelaku dapat dihukum paling
lama 9 tahun penjara (pasal 286 KUHP) jika persetubuhan dilakukan
terhadap wanita yang diketahui atau sepatutnya dapat diduga berusia

dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin maka pelakunya dapat


diancam hukuman penjara paling lama 9 tahun. 1
Untuk penuntutan ini harus ada pengaduan dari korban atau
keluarga korban (pasal 287 KUHP). Khusus untuk yang usia dibawah
12 tahun maka penuntutan tidak diperlukan adanya pengaduan. 1,4
3. Perzinahan
Merupakan persetubuhan antara pria dan wanita di luar
perkawinan, dimana salah satu diantaranya telah kawin dan pasal 27
BW berlaku baginya.
Khusus untuk kejahatan ini penuntutan dilakukan oleh pasangan
dari yang telah kawin tersebut yang diajukan dalam 3 bulan disertai
gugatan cerai/pisah kamar/pisah ranjang. Perzinahan ini diancam
dengan hukuman penjara paling lama 9 tahun penjara. 1,4,5
4. Perbuatan cabul
Seseorang yang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan
memaksa seseorang untuk melakukan atau membiarkan dilakukan
perbuatan cabul, maka ia akan diancam dengan hukuman maksimal 9
tahun penjara (pasal 289 KUHP). 4
Hukuman perbuatan cabul lebih ringan, yaitu 7 tahun jika
dilakukan terhadap orang yang sedang pingsan, tidak berdaya, dengan
umur dibawah 15 tahun atau belum pantas dikawin dengan atau tanpa
bujukan (pasal 290 KUHP). Sedangkan perbuatan cabul yang
dilakukan terhadap orang yang belum dewasa oleh sesama jenis
diancam penjara maksimal 5 tahun (pasal 291 KUHP).1,4,6
Perbuatan cabul yang dilakukan dengan cara

pemberian,

menjanjikan uang atau barang, menyalahgunakan wibawa atau


penyesatan terhadap orang yang belum diancam dengan hukuman
penjara maksimal 5 tahun (pasal 293 KUHP).6
Perbuatan cabul yang dilakukan terhadap anak, anak tiri, anak
angkat, anak yang belum dewasa yang

pengawasan,

pemeliharaan,

pendidikan atau penjagaannya diserahkan kepadanya, dengan bujang


atau bawahan yang belum dewasa diancam dengan hukuman penjara
maksimal 7 tahun (pasal 294 KUHP).1,4
4

Orang yang dengan sengaja menyebabkan atau memudahkan,


menjadi penghubung bagi perbuatan cabul terhadap korban yang
belum cukup umur diancam hukuman penjara maksimal 5 tahun (pasal
295 KUHP). 1,4
Jika perbuatan ini dilakukan sebagai pencarian atau kebiasaan
maka ancaman hukumannya 1 tahun 4 bulan atau denda paling banyak
Rp. 15.000,-1,4
2.3

Undang-Undang tentang Kejahatan Seksual


Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh

Undang-Undang, dapat dinilai pada pasal-pasal yang tertera pada Bab XIV
KUHP, yaitu Bab tentang kejahatan terhadap kesusilaan; yang meliputi baik
persetubuhan di dalam perkawinan maupun persetubuhan di luar perkawinan. 1,4
KUHP pasal 284
(1) Dihukum dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan :
1a. seorang pria yang telah kawin, yang melakukan gendak, padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya.
1b. seorang wanita yang telah kawin yang melakukan gendak, padahal
diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya
2a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal
diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin;
2b. seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan
perbuatan itu, padahal diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah
kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya.
(2) Tidak dilakukannya penuntutan melainkan atas pengaduan sua,i/istri yang
tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang
waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan untuk bercerai atau pisah-meja
dan ranjang karena alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemerikaan dalam sidang
pengadilan belum dimulai.
(5) Jika bagi suami-istri itu berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan
selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum
putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap. 3

BW pasal 27
Dalam waktu yang sama seorang laki hanya diperbolehkan mempunyai satu
orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang laki
sebagai suaminya. 3
KUHP Pasal 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
perempuan bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, karena perkosaan
dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya dua belas tahun.
KUHP Pasal 286
Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan,
padahal diketahuinya bahwa perempuan itu dalam keadaan pingsan atau tidak
berdaya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya sembilan tahun.
pasal 89 :
Membuat seseorang menjadi pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan
melakukan kekerasan.3
KUHP Pasal 287
(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang perempuan di luar perkawinan,
padahal diketahuinya atau patut diduganya, bahwa unur orang perempuan
itu belum cukup lima belas tahun atau jika umurnya tidak jelas, bahwa
orang itu belum pantas untuk dikawin, dipidana dengan pidana penjara
selama-lamanya sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur orang
perempuan itu belum cukup dua belas tahun atau jika ada salah satu
berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.
KUHP Pasal 288

(1) Barang siapa dalam perkawinan bersetubuhan dengan seorang perempuan


yang diketahuinya atau patut diduganya, bahwa orang perempuan itu belum
pantas untuk dikawin, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya
empat tahun, jika perbuatan itu mengakibatkan luka.
(2) Jika perbuatan itu mengakibatkan luka berat, dijatuhkan pidana penjara
selama-lamanya delapan tahun.
(3) Jika perbuatan itu mengakibatkan kematian, dijatuhkan pidana penjara
selama-lamanya dua belas tahun.
KUHP Pasal 291
(1) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286,287.289, dan 290
itu mengakibatkan luka berat dijatuhkan pidana penjara selama-lamanya dua
belas tahun.
(2) Jika salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 289,
dan 290 ini mengakibatkan kematian dijatuhkan pidana penjara selamalamanya lima belas tahun. 2
KUHP Pasal 293
(1) Barangsiapa dengan memberi atau menjanjikan uang atau barang,
menyalahgunakan perbawa yang timbul dari hungan keadaan, atau dengan
penyesatan sengaja menggerakkan seorang belum dewasa dan tidak cacat
tingkah lakunya untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan
cabul dengan dia, padahal tentang kedewasaannya diketahui atau patut
diduganya, dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan orang yang terhadap dirinya
dilakukan kejahatan itu.
(3) Tenggang waktu tersebut dalam pasal 74 bagi pengaduan adalah masingmasing sembilan bulan dan dua belas tahun.
KUHP Pasal 294
(1) Barangsiapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya, anak
angkatnya, anak di bawah pengawasannya yang belum dewasa, atau dengan
orang yang belum dewasa yang pemeliharaannya, pendidikan dan
penjagaannya diserahkan kepadanya ataupun dengan bujangan atau

bawahannya yang belum dewasa, dipidana dengan pidana penjara selamalamanya tujuh tahun.
(2) Dipidana dengan pidana yang sama :
1. Pejabat yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang karena
jabatannya adalah bawahannya, atau dengan orang yang penjagaannya
dipercayakan atau diserahkan kepadanya.
2. Pengurus, dokter, guru, pegawai, pengawas atau pesuruh dalam penjara,
tempat pekerjaan negara, tempat pendidikan, rumah piatu, rumah sakit,
rumah sakit jiwa atau lembaga sosial, yang melakukan perbuatan cabaul
dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya.

2.4

Tatalaksana kasus Kejahatan Seksual di Indonesia


Dalam penanganan korban (hidup) perkosaan, dokter memiliki peran
ganda yaitu sebagai pemeriksa yang membuat visum et repertum (VeR) serta
tenaga medis yang mengobati dan merawat korban. 1
Pemeriksaan secara medis pada korban perkosaan sebaiknya dilakukan
secara cepat dan tertutup pada tempat pemeriksaan terpisah. Segera tangani
korban dengan keadaan kritis dan lakukan pemeriksaan forensik setelah
keadaan stabil. Korban sebisanya tidak pergi ke kamar mandi, mandi, makan,
atau minum sampai pemeriksaan selesai. Keluarga, teman, perawat, atau
petugas dapat menemani bila perlu. Yang penting, korban tidak ditinggalkan
sendirian, tetapi ditemani orang yang juga berperan sebagai saksi dalam
pemeriksaan. Yakinkan korban tentang keamanannya dan jelaskan prosedur
pemeriksaan yang akan dilakukan. 1-3
o Anamnesis :

Umur
Status perkawinan
Haid : siklus dan hari pertama haid terakhir
Penyakit kelamin dan kandungan
Penyakit lain seperti ayan dan lain-lain

Riwayat persetubuhan sebelumnya, waktu persetubuhan terakhir dan


penggunaan kondom
Waktu kejadian
Tempat kejadian
Ada tidaknya perlawanan korban
Ada tidaknya penetrasi
Ada tidaknya ejakulasi

Tanyakan kepada pasien :

Telah mandi, membersihkan diri, mengganti pakaian, atau minum


obat-obatan sejak kejadian tersebut.

Apakah korban pingsan dan tanyakan penyebabnya . hal ini untuk


membedakan apakah korban pingsan karena ketakutan atau dibuat
pingsan dengan obat tidur atau obat bius.

o Pemeriksaan fisik

Korban
Pemeriksaan pakaian :
Robekan lama / baru / memanjang / melintang
Kancing putus
Bercak darah, sperma, lumpur dll.
Pakaian dalam rapih atau tidak
Benda-benda yang menempel sebagai trace evidence

Pemeriksaan badan :
Umum :

1.

Rambut atau wajah rapi atau kusut.

2.

Emosi tenang atau gelisah

3.

Tanda bekas pingsan, alkohol, narkotik. Ambil contoh darah

4.

Tanda kekerasan : Mulut, leher, pergelangan tangan, lengan,

paha

5.

Trace evidence yang menempel pada tubuh

6.

Perkembangan seks sekunder

7.

Tinggi dan berat badan

8.

Pemeriksaan rutin lainnya


Genitalia :
1. Eritema (kemerahan) vestibulum atau jaringan sekitar
anus(dapat akibat zat iritan, infeksi atau iritan)
2. Adesi labia ( mungkin akibat iritasi atau rabaan)
3.

Friabilitas (retak) daerah posterior fourchette (akibat iritasi,


infeksi atau karena traksi labia mayor pada pemeriksaan)

4. Fisura ani (biasanya akibat konstipasi atau iritasi perianal)


5. Pendataran lipat anus (akibat relaksasi sfingter eksterna)
6. Pelebaran anus dengan adanya tinja (refleks normal)
7. Kongesti vena atau pooling vena (juga ditemuka pada
konstipasi)
8. Perdarahan pervaginam (mungkin berasal dari sumber lain,
seperti uretra, atau mungkin akibat infeksi vagina, benda
asing atau trauma yang aksidental).
9. Pemeriksaan selaput dara.
Tabel 1.
Bentuk

Jenis hymen berdasarkan bentuk 1-3


Keterangan

Bentuk Hymen

Keterangan
10

Hymen
Hymen anular dimana
lubang hymen, berbentuk
cincin. ketika hymen mulai
robek entah oleh karena
hubungan seksual atau
aktivitas lain, maka lubang
tersebut tidak berbentuk
cincin lagi.

Hymen yang jarang,


hymen subsepta,
mirp dengan hymen
bersepta hanya septa
tidak menyebrangi
seluruh lubang
vagina
Hymen cribriform

Hymen crescentic, atau

yang

lunar.Berbentuk bulan

jarang,dikarakteristik

sabit

kan oleh beberapa


lubang kecil
Hymen denticular

Hymen seorang wanita

yang jarang,

yang pernah melakukan

berbentuk seperti

hubungan seksual atau

satu set gigi yang

masturbasi beberapa kali.

mengelilingi lubang
vagina
Hymen fimbria yang

Hymen seorang wanita

jarang, dengan

yang hanya pernah

bentuk yang ireguler

melakukan aktivitas

mengelilingi lubang

seksual sedikit atau pernah

vagina

kemasukan benda.

11

Vulva dari seorang wanita


yang pernah melahirkan.

Hymen yang terlihat

Hymen secara lengkap

seperti bibir vulva

hilang atau hampir hilang


seluruhnya
Beberapa gadis lahir
hanya dengan lubang
Satu dari 2000 anak

sempit pada hymen

perempuan dilahirkan

sehingga

dengan hymen imperforate

memerlukan operasi

Hymen bersepta yang


jarang sekali oleh karena
adanya jembatan yang
menyeberangi lubang
vagina

Pemeriksaan Ekstra-Genital
1. Pemeriksaan terhadap pakaian dan benda-benda yang
melekat pada tubuh
2. Deskripsi luka
3. Pemeriksa rongga mulut pada kasus oral sex
4. Scrapping pada kulit yang memiliki noda sperma

12

5. Pemeriksaan kuku jari korban untuk mencari material dari


tubuh pelaku

Pelaku

Pemeriksaan tubuh
Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan
persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel
epitel vagina pada glans penis. Pemeriksaan sekret uretra untuk
menentukan adanya penyakit kelamin.

Pemeriksaan pakaian
Pada pemeriksaan pakaian, catat adanya bercak semen,
darah, dan sebagainya. Bercak semen tidak mempunyai arti dalam
pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai
nilai karena kemungkinan berasal dari darah deflorasi. Penentuan
golongan darah penting untuk dilakukan. Trace evidence pada
pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa.
Jika fasilitas pemeriksaan tidak ada, kirim ke laboratorium
forensik di kepolisian atau bagian Ilmu Kedokteran Forensik,
dibungkus, segel, serta dibuat berita acara pembungkusan dan
penyegelan.

Menurut Idries, terdapat beberapa hal penting yang harus ditentukan dan
dievaluasi pada korban kejahatan seksual, yaitu3

Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan


Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan
Memperkirakan umur
Menentukan pantas tidaknya korban buat kawin.

13

1. Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan


Persetubuhan adalah suatu peristiwa dimana alat kelamin laki-laki
masuk ke dalam alat kelamin perempuan, sebagian atau seluruhnya dan
dengan atau tanpa terjadinya pancaran air mani, sehingga besarnya zakar
dengan ketegangannya, sampai seberapa jauh zakar masuk, keadaan selaput
dara serta posisi persetubuhan mempengaruhi hasil pemeriksaan.3
Tidak terdapatnya robekan pada hymen, tidak dapat dipastikan bahwa
pada wanita tidak terjadi penetrasi, sebaliknya adanya robekan pada hymen
hanya merupakan pertanda adanya sesuatu benda (penis atau benda lain),
yang masuk ke dalam vagina.3
Apabila pada persetubuhan tersebut disertai dengan ejakulasi dan
ejakulat tersebut mengandung sperma, maka adanya sperma di dalam liang
vagina merupakan tanda pasti adanya persetubuhan. Apabila ejakulat
tidak mengandung sperma maka pembuktian adanya persetubuhan dapat
diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap ejakulat tersebut.
Komponen yang terdapat di dalam ejakulat dan dapat diperiksa adalah
enzim asam fosfatase, kholin dan spermin. Ketiganya bila dibandingkan
dengan sperma, nilai untuk pembuktian lebih rendah oleh karena ketiga
komponen tersebut tidak spesifik. Walaupun demikian enzim fosfatase
masih dapat diandalkan, oleh karena kadar asam fosfatase yang normalnya
juga terdapat dalam vagina, kadarnya jauh lebih rendah bila dibandingkan
dengan asam fosfatase yang berasal dari kelenjar prostat.3
Dengan demikian, apabila pada kejahatan seksual yang disertai dengan
persetubuhan itu tidak sampai berakhir dengan ejakulasi, dengan sendirinya
pembuktian adanya persetubuhan secara kedokteran forensik tidak
mungkin dapat dilakukan secara pasti. Sebagai konsekuensinya dokter
tidak dapat secara pasti pula menentukan bahwa pada wanita tidak terjadi
persetubuhan. Maksimal dokter harus mengatakan bahwa pada diri wanita
yang diperiksa itu tidak ditemukan tanda-tanda persetubuhan, yang
mencakup dua kemungkinan: pertama, memang tidak ada persetubuhan,
dan kedua, persetubuhan ada tetapi tanda-tandanya tidak dapat ditemukan.3
Apabila persetubuhan telah dapat dibuktikan secara pasti, maka
perkiraan saat terjadinya persetubuhan harus pula ditentukan. Hal ini
14

menyangkut masalah alibi yang sangat penting di dalam proses penyidikan.


Sperma di dalam liang vagina masih dapat bergerak dalam waktu 4-5 jam
setelah persetubuhan. Sperma masih dapat ditemukan tidak bergerak
sampai sekitar 24-36 jam setelah persetubuhan pada korban yang hidup.
Sedangkan pada orang yang mati sperma masih dapat ditemukan dalam
vagina paling lama sampai 7-8 hari setelah persetubuhan. Perkiraan saat
terjadinya persetubuhan juga dapat ditentukan dari proses penyembuhan
selaput dara yang robek, yang pada umumnya penyembuhan akan dicapai
dalam waktu 7-10 hari setelah persetubuhan.1-3
Tabel 2. Hasil pemeriksaan yang diharapkan pada korban kejahatan
seksual3
Penyebab
Penetrasi zakar

Hasil pemeriksaaan yang diharapkan


o Robekan pada selaput dara
o Luka-luka pada bibir kemaluan dan dinding

vagina
o Sperma di dalam vagina
Pancaran air mani o Asam fostase, kholin dan sperma di dalam
(ejakulasi)
Penyakit kelamin

vagina
o Kehamilan
o G.O. (kencing nanah)
o Lues (sifilis)

2. Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan


Beberapa lokasi luka yang sering ditemukan untuk pembuktian adanya
kekerasan yaitu pada daerah mulut dan bibir, leher, puting susu, pergelangan
tangan, pangkal paha serta di sekitar dan pada alat genital, dan biasanya
berbentuk luka-luka lecet bekas kuku, gigitan serta luka memar.1-3
Di dalam hal pembuktian adanya kekerasan, tidak selamanya kekerasan
tersebut meninggalkan jejak atau bekas berbentuk luka. Oleh karena itu
tidak ditemukannya luka tidak berarti bahwa tidak terjadi kekerasan,
sehingga penting bagi dokter untuk berhati-hati mengggunakan kalimat
tanda-tanda kekerasan dalam VeR yang dibuat. Oleh karena tindakan
15

pembiusan dikategorikan pula sebagai tindakan kekerasan maka diperlukan


pemeriksaan toksikologi pada korban untuk menentukan ada tidaknya obat
atau racun yang kiranya dapat membuat wanita menjadi pingsan. 1-3
3. Memperkirakan umur
Tujuan pemeriksaan untuk memperkirakan umur korban salah satunya
mengacu pada pasal 287 KUHP bahwa barang siapa yang bersetubuh
dengan seorang wanita diluar perkawinan, padahal diketahuinya atau
sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau
kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam
dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. Tindak pidana ini
merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-undang
belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahun tetapi sudah di
atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang
bersangkutan (delik aduan). 1-3
Selain itu, pentingnya memperkirakan umur korban juga didasarkan
pada pasal 81 Undang-undang nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan
anak, bahwa: 4
(1) Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman
kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan
orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas)
tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00
(enam puluh juta rupiah).
(2) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku pula
bagi setiap orang yang dengan sengaja melakukan tipu muslihat,
serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan
dengannya atau dengan orang lain.

16

Pada kasus dimana umur korban belum jelas, maka memperkirakan


umur merupakan pekerjaan yang paling sulit, karena tidak ada satu
metodepun yang dapat memastikan umur seseorang dengan tepat. Dengan
teknologi kedokteran yang canggih pun maksimal hanya sampai pada
perkiraan umur saja. 1-3
Perkiraan umur dapat diketahui dengan melakukan serangkaian
pemeriksaan yang meliputi pemeriksaan fisik, ciri-ciri seks sekunder,
pertumbuhan gigi, fusi atau penyatuan dari tulang-tulang khususnya
tengkorak serta pemeriksaan yang memerlukan berbagai sarana serta
keahlian seperti pemeriksaan keadaan pertumbuhan gigi atau tulang dengan
menggunakan rontgen. 1-3
Dalam menilai perkiraan umur, dokter perlu menyimpulkan apakah
wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan yang dikatakannya. Keadaan
perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu
dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2)
sudah tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun, sedangkan molar ke-3
akan muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih). Juga harus ditanyakan
apakah korban sudah pernah menstruasi bila umur korban tidak diketahui. 1-3
Selain itu perkiraan umur pada korban kejahatan seksual adalah dengan
memperhatikan ciri-ciri seks sekunder. Dalam hal ini termasuk perubahan
pada genitalia, payudara dan tumbuhnya rambut-rambut seksual yang
pertama tumbuh hampir selalu di daerah pubis.2,3,6
Sexual Maturation Rate (SMR) atau dikenal juga dengan Tanner
Staging merupakan penilaian ciri seks sekunder. SMR didasarkan pada
penampakan rambut pubis, perkembangan payudara dan terjadinya menarke
pada perempuan. SMR stadium 1 menunjukkan pertumbuhan dan
perkembangan prapubertal, sedangkan stadium 2-5 menunjukkan pubertas
progress. SMR stadium 5 pematangan seksual sudah sempurna. Pematangan
seksual berhubungan dengan pertumbuhan liniar, perubahan berat badan dan
komposisi tubuh, dan perubahan hormonal.
4. Menentukan pantas tidaknya korban buat dikawin

17

Menentukan pantas tidaknya korban buat dikawin diperlukan untuk


menentukan pasal mana yang paling tepat dikenakan bagi si pelaku. Sebab,
bila korban dikawin disaat ia belum memenuhi syarat secara hukum dan
undang-undang yang berlaku, maka si pelaku harus dipidana. Terlebih lagi
apabila korban masih di bawah umur, maka pelaku dapat dikenakan sanksi
sesuai pasal dalam KUHP maupun Undang-Undang nomor 23 tahun 2002
tentang perlindungan anak.1-3
Penentuan pantas tidaknya seseorang untuk dikawin sangat tergantung
dari banyak hal, salah satunya dari segi mana seseorang tersebut ingin
dilihat, apakah dari segi biologis, sosial atau sebagai manusia seutuhnya
serta berdasarkan undang-undang yang berlaku.1
Secara biologis jika persetubuhan dilakukan untuk mendapatkan
keturunan, pengertian pantas tidaknya buat kawin tergantung dari apakah
korban telah siap untuk dibuahi yang dimanifestasikan dengan sudah pernah
mengalami menstruasi atau belum. Bila dilihat dari segi perundangundangan, yaitu undang-undang perkawinan pada Bab II (Syarat-syarat
perkawinan) pada pasal 7 ayat (1) berbunyi: perkawinan hanya diizinkan
jika pihak pria sudah mencapai 19 tahun dan pihak wanita sudah mencapai
umur 16 tahun. Dengan demikian terbentur lagi pada masalah penentuan
umur korban.4

18

Gambar 1

Sexual Maturating Rate (SMR) meliputi perubahan rambut


pubis pada perempuan.6

Sexual Maturating Rate (SMR) pada perempuan6

Tabel 2
Tahap

Rambut Pubis

SMR
1
2

Pre-remaja

Payudara
Pre-remaja

Jarang, kurang berpigmen, lurus, Payudara dan papilla menonjol seperti


tepi medial labia

bukit kecil, diameter areola bertambah

Lebih gelap, mulai keriting, makin Payudara dan areola membesar, tidak
lebat

ada pemisahan kontur

Kasar, keriting, lebat, tetapi kurang Areola dan papilla membentuk bukit
4

lebat dibandingkan dengan orang kecil sekunder


dewasa
Segitiga

peminim

dewasa, Matur,

putting

menyebar ke permukaan medial merupakan


paha

menonjol,

bagian

dari

areola
kontur

payudara keseluruhan

19

(Sumber: Behrman & Kliegman, 2000)


Gambar 2

Sexual Maturating Rate (SMR) meliputi perkembangan


payudara pada perempuan6

o Pemeriksaan Laboratorium
o
o
o
o
o
o

2.5

Pemeriksaan darah
Pemeriksaan cairan mani (semen)
Pemeriksaan kehamilan
Pemeriksaan VDRL, GO, HIV
Pemerikaan serologi Hepatitis
Pemeriksaan rambut, air liur, dan pemeriksaan pria tersangka

Penatalaksanaan Korban Kejahatan Seksual Menurut WHO

20

Seorang korban kejahatan seksual sebaiknya dilakukan pemeriksaan


forensik medis secara keseluruhan. Adapun komponen yang dilakukan pada
pemeriksaan adalah8-10
o Penilaian awal, termasuk persetujuan medis.
o Riwayat medis, termasuk gambaran terjadinya peristiwa kejahatan
o
o
o
o
o
o
o
o

seksual
Pemeriksaan genito-anal secara terperinci.
Mencatat dan mengkalisifikasikan cedera.
Mengumpulkan spesimen medis untuk keperluan diagnostik
Pelabelan, pengemasan, dan pengangkutan spesimen forensik.
Pemberian terapi
Follow up
Penyimpanan dokumentasi
Pembuatan laporan medikolegal

Penilaian Awal
Perhatian utama pada tahap awal dan harus dinilai sesegera mungkin.
Korban sering berada dalam tingkat emosional yang tinggi setelah serangan
akibat meningkatnya hormon stress. Untuk itu, pekerja kesehatan harus
memilih kata-kata yang lembut dan menenangkan dan hati-hati ketika
berhadapan dengan pasien korban kejahatan seksual. Penggunaan bahasa yang
sensitif dapat berkontribusi tekanan tidak hanya untuk pasien selama
pemeriksaan tetapi juga menghambat pemulihan jangka panjang. Sangat
penting bahwa semua korban kekerasan seksual diperlakukan dengan hormat
dan bermartabat seluruh pemeriksaan seluruh terlepas dari mereka status
sosial, ras, agama, budaya, orientasi seksual, gaya hidup, seks atau pekerjaan.8

o Persetujuan Medik
Persetujuan medik merupakan bukti persetujuan sebelum melakukan
pemeriksaan dan untuk mendapatkan informasi

tentang kejadian yang

dialami oleh pasien, yang merupakan bagian medikolegal yang penting, dan
pasien menandatangani formulir persetujuan tersebut. Pasien dijelaskan jika
dia memutuskan untuk mengejar tindakan hukum terhadap pelaku, informasi

21

apapun yang diberikan kepada Anda dalam pemeriksaan dapat menjadi bukti.
8

Pemeriksa tidak diperbolehkan memaksa seseorang untuk memberikan


informasi tanpa persetujuan. Jika hal ini terjadi, pemeriksa dapat didakwa
dengan pelanggaran hukum. 8

Riwayat Medis Umum.


Tujuan utama untuk mendapatkan informasi yang akan membantu
penatalaksanaan terhadap pasien atau dapat membantu menjelaskan temuan
berikutnya. Setidaknya riwayat medis umum dapat mengetahui masalah
kesehatan umum (termasuk alergi), status imunisasi, dan pengobatan.8
Riwayat Ginekologi
Riwayat ginekologi adalah bagian yang penting pada kasus kejahatan seksual.
Pertanyaan yang harus ditanyakan meliputi ;6,8-10

Tanggal menstruasi terakhir


Status pernikahan pasien.
Apakah pasien pernah melakukan hubungan seksual sebelum kejadian ?

Jika ya, kapan terakhir berhubungan seksual yang disetujui ?


Apakah pasien pernah hamil? jika ya, sudah berapa kali dan bagaimana
proses kelahiran bayi tersebut? Apakah terdapat komplikasi selama

melahirkan ?
Penggunaan alat kontrasepsi
Jumlah anak saat ini
Riwayat operasi panggul

Beberapa Pertanyaan yang harus dicatat , yaitu : 10


Rincian terhadap pelaku

Rincian mengenai
aktivitas seksual

Gejala yang
ditimbulkan setelah
kejadian

22

Tanggal,

waktu,

termasuk
tempat

lokasi, Penetrasi
deskripsi

terjadinya

vagina oleh

Pendarahan genital,

pelaku seperti; penis,

keluarnya

jari,

gatal-gatal, dan rasa

objek

lainnya

cairan,

kejahatan
terhadap korban.
Nama, identitas dan jumlah Apakah terdapat penetrasi
pelaku.
anal terhadap korban.

nyeri.
Gejala berkemih
Nyeri anal ataupun

Kontak fisik dan rincian

pendarahan.
Nyeri pada perut.

kekerasan

Selain

itu,

tanyakan

yang

pula adakah terdapat

dilakukan
Penggunaan senjata.
Penggunaan obat-obatan,

penetrasi oral terhadap

alkohol, dan substansi


yang dihirup.
Penggunaan kondom dan
dan cairan lubrikasi
Bagaimana cara pakaian
dilepaskan.

Tindakan
dapat

korban.
Adakah terdapat kontak
pelaku

terhadap wajah, tubuh,


oral

mulut

atau bagian genito-anal


korban.
Adakah

yang

mengubah

bukti
Mandi
Membersihkan
daerah genito-anal
Mengganti pakaian.

pemaksaan

kontak mulut korban


terhadap wajah, tubuh
atau bagian genitor-anal
pelaku.
Adakah terdapat ejakulasi
pada

vagina

korban

ataupun tubuh korban


saat kejadian.

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum
Keadaan umum pasien, sikap dan fungsi mental pasien.
Jika, fungsi mental terganggu, cari penyebab. Apakah akibat
penggunaan zat tertentu seperti alcohol atau gejala dari penyakit yang

sudah lama, seperti retardasi mental.


Tanda vital pasien

23

Periksan pasien mulai dari kepala hingga kaki, termasuk area genito-

anal.
Catat dan deskripsi secara detail adakah terdapat luka pada tubuh.
Gunakan body map untuk menandakan lokasi dan ukuran dari luka

tersebut. Jika terdapat luka pada tubuh, foto luka tersebut.


Pemeriksaan Penunjang :
o Radiologi : untuk membantu diagnosis lainnya seperti patah
tulang, cedera kepala dan leher, otak, ataupun cedera medulla
spinalis, ataupun cedera perut, sesuai yang dibutuhkan.
o Pemeriksaan darah : tes HIV, Hepatitis B, dan penyakit menular
lainnya.

Beberapa prinsip umum dan prosedur sebelum dilakukan pemeriksan dan


observasi terhadap pasien kejahatan seksual : 10
a. Beri kesempatan kepada pasien untuk bertanya, dan sebelum memulai
pemeriksaan fisik, jelaskan mengenai prosedur kepada pasien dan tujuan
pemeriksaan dilakukan.
b. Mempersilahkan pasien untuk membawa anggota keluarga ataupun teman
pada saat pemeriksaan.
c. Jika pemeriksa laki-laki, disarankan mempunyai

pendamping yang

merupakan seorang petugas kesehatan yang terlatih untuk memberikan


rasa nyaman dan mendukung pasien. Selain itu, pendamping juga
melindungi pemeriksa dari tuduhan perilaku yang tidak professional
terhadap korban.
d. Lakukan persetujuan mengenai tindakan yang akan dilakukan terhadap
pada pasien, alat yang digunakan, tanyakan kesediaannya. Jika pasien
menolak semua atau sebagian pemeriksaan fisik tersebut, pemeriksa harus
menghormati keputusan pasien.
e. Idealnya, Ruangan yang dilakukan untuk pemeriksaan harus kedap suara
dan memiliki ruangan yang terpisah untuk melepaskan pakaian, seperti
dibalik tirai, dan pasien diberi kain penutup tubuh, cukup cahaya, hangat,
bersih, dan tertutup.
f. Jika pasien masih menggunakan pakaian pada waktu kejadian, pasien
harus melepaskan pakaiannya diatas kertas putih yang lebar untuk
24

mengumpulkan bukti forensik. Beri sebanyak mungkin privasi terhadap


pasien saat melepaskan pakaian. Gunakan kain penutup.
g. Bukti-bukti medik dan spesimen forensik harus dikumpulkan selama
pemeriksaan. Pemeriksaan medik dan hukum harus dilakukan bersamaan
waktu dan tempat agar mengurangi jumlah pemeriksaan.
h. Setiap pemeriksa harus menggunakan alat proteksi diri seperti sarung
tangan saat memeriksa, mengganti sarung tangan pada pasien yang
berbeda, mencuci tangan degan air sabun dan air setelah terpapar cairan
tubuh atau darah, menggunakan kacamata proteksi dan masker.
Pemeriksaan fisik dari kepala hingga kaki pada pasien harus dilakukan secara
sistematis.

Gambar 3 Pemeriksaan Fisik Top to toe 10


Tabel 3
Tahapan
Tahap I

Tahapan pemeriksaan fisik pada korban pejahatan seksual 10


Keterangan
Catat keadaan umum dan sikap pasien
Mulai pemeriksaan dari tangan, karena membuat pasien merasa
aman.
Pemeriksa tanda vital
Lihat kedua tangan pasien. Adakah terdapat luka? Bekas ikatan

Tahap II

pada pergelangan tangan? Catat jika terdapat bukti jejas


Pada lengan bawah : perhatikan adakah luka tangkisan saat pasien

25

mengangkat lengannnya? Adanya luka memar, lecet, robek, dan


tusuk.
Pada orang kulit hitam luka memar sulit dilihat dengan demikian
rasa nyeri dan pembengkakan merupakan bukti yang penting.
Tahap III

Tusukan jarum intravena harus dicatat juga.


Lengan atas : permukaan dalam lengan atas dan ketiak di amati
dengan hati-hati jika terdapat luka memar.
Adanya memar pada lengan atas sering ditunjukan jika korban
menahan tangannya. Jika pakaian ditarik ke atas, dapat terlihat

Tahap IV

segaris bercak merah.


Wajah : apakah terdapat perdarahan pada hidung? Lakukan rabaan
secara gentle pada daerah rahang, mata, apakah terdapat nyeri yang
menandakan adanya memar.
Mulut : dilihat secara hati-hati dan di amati apakah terdapat luka
memar, lecet pada mukosanya, atau adanya gigi patah?. Adanya
bercak perdarahan pada atap mulut menandakan adanya penetrasi.

Tahap V

Lakukan swab oral jika ada indikasinya.


Telinga : daerah belakang telinga apakah apakah terdapat bayangan

Tahap VI

memar, gunakan otoskop untuk melihat gendang telinga


Kulit : raba kulit kepala untuk adakah pembengkakan ataupun nyeri,
curiga adanya hematoma.
Jika terdapat rambut rontok, harus dikumpulkan dengan sarung

Tahap VII

tangan.
Leher : jika terdapat memar dapat menunjukkan serangan ganas.
Jejak memar dapat dilihat dari kalung dan perhiasan pada telinga
dan leher.
Memar bekas gigitan harus di catat dan lakukan swab air liur

Tahap

sebelum menyentuh leher pasien


Perut : Pasien berbaring, lihat apakah terdapat luka. Perabaan pada

VIII

daerah perut harus dilakukan kecuali ada cedera internal atau untuk

Tahap IX

mendeteksi kehamilan.
Kaki : di mulai dari bagian depan kaki.
Paha bagian dalam : adakah luka memar bekas jari-jari pelaku dan

26

adanya trauma tumpul. Pola luka memar biasanya simetris.


Lutut : adakah luka lecet di lutut pasien.
Pergelangan kaki :

Sangat penting untuk melihat adanya

perlawanan.Telapak kaki juga penting di periksa.


Disarankan, jika mungkin lakukan pemeriksaan belakang kaki dan

Tahap X

pemeriksaan bokong.
Beberapa bukti harus dikumpulkan menggunakan kapas basah
( seperti semen, air liur dan darah ) atau pinse ( untuk rambut,
rumput, dan tanah.
Adanya tato juga harus didokumentasikan dalam catatan pemeriksa
bersamaan dengan deskripsi singkat tentang ukuran dan bentuk tato.
Lampu wood digunakan untuk mendeteksi adanya semen pada
kulit .
Pemeriksaan Genito-Anal
Pasien harus berbaring terlentang dengan posisi litotomi. Pencahayaan
harus diarahkan ke daerah vulva pasien. Cedera pada daerah genital atau anal
dapat menyebabkan rasa sakit ketika disentuh. Pada beberapa kasus daerah
pemeriksaan dapat terbatas, selain itu pemberian analgetik mungkin
diperlukan.10

Gambar 4 Pemeriksaan rutin genito-anal10


Tabel 4

Tahapan pemeriksaan rutin genito-anal10

Tahapan
Tahap I

Keterangan
Periksa genital bagian luar dan anus.

27

Inspeksi : mons pubis, vestibula vagina seperti pada labia mayora,


labia minora, klitoris, selaput dara atau sisa-sisa selaput dara, dan
perineum.
Swab pada genitalia bagian luar dilakukan sebelum pemeriksaan
spekulum. Peregangan pada daerah labium pudenda dapat mengalami
luka dan sulit untuk dilihat karena tertutup adanya pembengkakan
Tahap II

jaringan mukosa. Secara gentle tariklah labia untuk melihat hymen.


Swab secara hati-hati jika terdapat darah segar, lihat asal darah

tersebut apakah dari vulva atau dari bagian dalam vagina.


Tahap III Dengan speculum, periksa pada dinding vagina, apakah ada tanda
cedera, termasuk luka lecet atau luka memar. (penggunaan spekulum
plastik transparan sangat membantu melihat dinding vagina). Selain
itu, juga periksa kanalis endoservikalis.
Bukti seperti benda asing dan rambut mungkin dapat ditemukan dan
dikumpulkan.
Kejadian > 24 jam - < 96 jam : pemeriksaan endoservikal kanal swab
sebaiknya dilakukan terlebih dahulu untuk pemeriksaan semen. Jika
pemeriksaan spekulum tidak bisa dilakukan (karena pasien menolak)
Tahap IV

masih memungkinkan untuk dilakukan blind vaginal swab.


Pemeriksaan anal dapat dilakukan dengan pasien dalam posisi
lithotomi, namun lebih mudah untuk melakukan pemeriksaan ini
pada pasien dengan posisi miring ke kiri. Perlu dijelaskan kepada

Tahap V

pasien untuk menahan panggulnya sehingga anus tampak jelas.


Jika terdapat kecurigaan benda asing yang masuk ke lubang anus
dapat dilakukan pemeriksaan colok dubur dan dilakukan sebelum
pemeriksaan anoscopy. Jari pemeriksa diletakkan pada jaringan
perianal untuk menimbulkan relaksasi spingter, saat relaksasi terjadi

Tahap VI

jari dapat dimasukkan kedalam anus.


Proctoscopy hanya perlu dilakukan untuk kasus pendarahan anus atau
nyeri anus berat setelah kekerasan atau jika dicurigai terdapat benda
asing dalam rectum.

28

(a)

(b)

(c)

(d)

(e)

(f)

(g)

(h)

Gambar 5. Pemeriksaan luka bagian tubuh terhadap korban10


29

Cedera Daerah Genito-anal Akibat Penetrasi


Trauma genitalia dan anus perempuan dapat disebabkan akibat paksaan
penetrasi. Penetrasi dapat berupa penis yang ereksi ataupun semiereksi, bagian
tubuh lain seperti jari dan lidah, atau benda lainnya. Daerah frenulum
posterior , labia mayora dan minora, hymen dan perianal merupakan lokasi
cedera yang paling sering ditemukan.10
Bentuk Cedera dan Klasifikasinya
Klasifikasi luka, tergantung pada karakteristiknya dapat memungkinkan
beberapa kesimpulan untuk menggambarkan penyebabnya. Kekerasan dapat
menyebabkan banyak jenis luka, bergantung pada jenis kekerasan yang
menyebabkannya. 10

Pemeriksaan Penunjang
Tergantung pada jenis kejahatan dan beratnya cedera yang terjadi,
beberapa pemeriksaan penunjang terhadap pasien mungkin dapat dilakukan
seperti pemeriksaan Rontgen, CT scan dan USG. Selain itu, beberapa
pemeriksaan spesimen dapat dilakukan tes medis seperti tes kehamilan dan
penyakit menular seksual.10
Pemeriksaan Spesimen Forensik
Tujuan
Tujuannya untuk membuktikan atau menyingkirkan kontak fisik antara
individu dengan objek/benda dan dengan suatu tempat. Temuan yang dekat
antara pemerkosa, korban dan tempat kejadian perkara dapat menunjukkan
titik temu dalam melacak jejak barang bukti (Locards principle).10
Spesimen biologi (seperti rambut, darah, semen, sisa-sisa kulit) dapat
ditemukan pada korban dan pelaku, misalnya, darah korban mungkin

30

menempel pada pakaian pelaku. Fragmen dari tempat kejadian perkara (seperti
lumpur, tumbuh-tumbuhan) menghubungkan antara korban, pelaku dengan
lokasi tertentu atau, mungkin saja bekas pakaian atau specimen biologi dapat
tertinggal di tempat kejadian perkara tersebut.10
Teknik Pengumpulan Spesimen Forensik
Hal-hal berikut harus diperhatikan dalam pengumpulan spesimen10-11

Pastikan spesimens tidak terkontaminasi oleh material lain.


Avoid

Gunakan sarung tangan. Sistem DNA assay modern sangat

contaminatio

sensitif dan mampu mendeteksi material selain spesimen

walaupun dalam jumlah kecil.


Usahakan memperoleh spesimens forensik secepat mungkin
karena material yang dapat menjadi barang bukti akan

Collect early

menghilang

sesuai

dengan

berjalannya

waktu.

Idealnya,

specimens sebaiknya dikumpulkan dalam 24 jam setelah kejadian


Pastikan spesimens dikemas, disimpan, dan ditransportasikan
Handle

dengan tepat. Untuk spesimen berupa cairan(fluids) didinginkan,

appropriately

sedangkan untuk spesimen yang lainnya disimpan dalam keadaan


kering.
Semua spesimen harus dilabel secara jelas dengan nama pasien,

Label
accurately

tanggal lahir, nama petugas, jenis spesimen, dan waktu(tanggal


dan jam) pengumpulan spesimen.
Spesimen sebaiknya dikemas rapi untuk memastikannya aman

Ensure

dan tahan terhadap kerusakan. Hanya pihak berwenang yang

security

dipercayakan untuk menangani spesimen.


Jika ada perpindahan dari tangan satu orang ke orang berikutnya

Maintain

haruslah di catat. Detail proses transfer spesimen antara individu

continuity

juga perlu dicatat.

Document

Sebaiknya semua spesimen yang dikumpulkan dan rincian kapan,


31

collection

dan kepada siapa dipindahtangankan perlu disusun dengan rapi.

Prosedur umum yang digunakan pada teknik swab untuk pengumpulan


berbagai macam material guna analisis forensik: 10

Gunakan kapas swab yang steril. Jangan letakkan swab pada medium yang
akan menyebabkan tumbuhnya bakteri dan merusakan material yang telah
diperoleh. Swab yang ditempatkan dalam medium hanya digunakan untuk
pengumpulan spesimen bakteriologis.

Basahi swab dengan air steril atau larutan salin ketika mengumpulkan material
dari permukaan yang kering (e.g. kulit, anus).

Jika dilakukan pemeriksaan mikroskop (e.g. untuk memeriksa ada atau


tidaknya spermatozoa), perlu dipersiapkan sediaan (slide). Beri label sediaan
dan setelah mengumpulkan swab, oleskan ujung swab pada kaca sediaan. Lalu
kirim swab dan slide ke laboratorium untuk diperiksa.

Semua swab dan slide sebaiknya dikeringkan sebelum ditutup dalam wadah
yang tepat.

Dalam kasus dimana pasien telah memperoleh obat-obatan dalam selang


waktu 12-14 jam, sebaiknya dilakukan pemeriksaan darah. Namun jika sudah
cukup lama, mungkin dapat dilakukan pemeriksaan urin.

Jika ada kemungkinan material asing telah menempel pada kulit korban
ataupun pakaian korban, korban sebaiknya diminta melepaskan pakaiannya di
atas selembar kertas yang cukup lebar supaya material yang mudah lepas akan
jatuh ke atas kertas sehingga bisa di ambil dengan penjepit ataupun kertas
tersebut dapat langsung dilipat dan segera dikirim ke laboratorium.

Rambut pubis korban perlu disisir untuk menemukan rambut pubis pelaku,
dan sisir yang digunakan juga dikirim ke laboratorium dalam wadah yang
steril.

Pengambilan swab buccal (permukaan dalam pipi) yang cukup kuat akan
memberikan material selular yang cukup guna analisis DNA korban.
Kemungkinan lain adalah pengambilan darah korban untuk kemudian

32

diperiksa. Swab buccal mungkin akan mengering setelah diambil. Swab


buccal tidak boleh dilakukan jika curiga terdapat material asing di dalam
mulut korban (e.g. jika ejakulasi terjadi di dalam mulut korban).

Jika korban sempat mencakar pelaku, materi dari bawah kuku korban dapat
diambil untuk pemeriksaan analisis DNA.

Pembalut sebaiknya dikeringkan di udara. Kemudian dibungkus dengan tisu


dan dimasukkan ke dalam kantong keras.

Terdapatnya semen paling baik dibuktikan dengan mengambil swab kemudian


diperiksa secara mikroskopis.

Gambar 6 (a) teknik pengambilan

Blind

vaginal swab (b) Swab Mulut


untuk memperoleh Spermatozoa10

BAB III
PENUTUP

33

Kejahatan seksual (sexual offences), sebagai salah satu bentuk dari kejahatan
yang menyangkut tubuh, kesehatan, dan nyawa manusia, mempunyai kaitan yang
erat dengan Ilmu Kedokteran Forensik, yaitu di dalam upaya pembuktian
bahwasanya kejahatan tersebut memang telah terjadi.
Persetubuhan yang merupakan kejahatan seperti yang dimaksudkan oleh
undang-undang , tertera pada pasal-pasal yang terdapat pada Bab XIV KUHP,
tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan, meliputi persetubuhan di dalam
perkawinan (pasal 288 KUHP) maupun di luar perkawinan yang mencakup
persetubuhan dengan persetujuan (pasal 284 dan 287 KUHP) serta persetubuhan
tanpa persetujuan (pasal 285 dan 286).
Upaya pembuktian secara kedokteran forensik pada setiap kasus kejahatan
seksual sebenarnya terbatas di dalam pembuktian ada tidaknya tanda-tanda
persetubuhan, ada tidaknya tanda-tanda kekerasan, perkiraan umur serta
pembuktian apakah seseorang itu memang sudah pantas atau sudah mampu untuk
dikawin atau tidak.
Berbagai pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk mendukung
adanya persetubuhan.

DAFTAR PUSTAKA

34

1. Budiyanto A, Widiatmaka W, et al, 1997, Ilmu Kedokteran Forensik.


Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.
2. Dahlan, Sofwan. 2008. Ilmu Kedokteran Forensik : Pedoman bagi Dokter
dan Penegak Hukum. Semarang: BP, UNDIP, 2008.
3. Idries AM. 1997. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi I. Jakarta:
Binarupa Aksara.
4. Anonim, 1994, Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran.
Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia.
5. http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/UUPerkawinan.pdf
6. Syamsudin K, 2004, Persetubuhan Melawan Hukum. Palembang:
Departemen Obstetri dan Ginekologi Universitas Sriwijaya.
7. Khumaini K, 2009, Lemahnya Sanksi Bagi Pelaku Pemerkosaan &
Pelecehan Seksual, The Aceh Institute. Dari http://id.acehinstitute.org
8. Treatment Recommendations for Sexually Abused Adult Patients Dari:
http://www.medscape.org/viewarticle/749056
9. Sexual
Assault
and

Abuse

Dari:

http://www.emedicinehealth.com/sexual_assault/article_em.html
10. http://whqlibdoc.who.int/publications/2004/924154628X.pdf?ua=1
11. http://www.who.int/publications/cra/chapters/volume2/1851-1940.pdf

35