Anda di halaman 1dari 13

STASE FORENSIK RSHS

IDENTIFIKASI FORENSIK

Pembimbing : dr. Naomi Yosiati, Sp.F


Disusun oleh:
Aina Ullafa
(2010730006)
Luqmanul Hakim
(2009730027)
Yudiato Eko P T
(2010730117)
Yossey Pratiwi
(2010730168)
Debi Lailatul Rahmi
(2011730128)
Indana Zulfa
(2011730042)
Andri Dwi Heryadi
(2011730005)
Sri Ummi Kalsum Dj M
(2011730104)

Fakultas Kedokteran dan


Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Jakarta
2016
IDENTIFIKASI
Identifikasi forensik merupaka upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal
sering merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata. Menentukan
identitas personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya
kekeliruan dapat berakibat fatal dalam proses peradilan.(2)
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah
tidak dikenal, jenazah yang telah membusuk, rusak, hangus terbakar dan pada
kecelakaan masal, bencana alam atau hura-hura yang mengakibatkan banyak korban
mati, serta potongan tubuh manusia atau kerangka. Selain itu identifikasi forensik
juga berperan dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi yang tertukar
atau diragukan orang tuanya.(2)
Menentukan identitas atau jati diri atas seorang korban tindak pidana yang
berakibat fatal, relative lebih mudah bila dibandingkan dengan penentuan jati diri
tersangka pelaku kejahatan. Hal tersebut oleh karena pada penentuan jati diri
tersangka pelaku kejahatan semata-mata didasarkan pada penentuan secara visual,
yang sudah tentu banyak faktor-faktor yang mempengaruhinya sehingga hasil yang
dicapai tidak memenuhi harapan.(1)
Dari Sembilan metoda identifikasi yang dikenal, hanya metoda penentuan jati
diri dengan sidik jari (daktiloskopi), yang tidak lazim dikerjakan oleh dokter,

melainkan dilakukan oleh pihak kepolisian. Delapan metoda yang lain, yaitu: metoda
visual, pakaian, perhiasan, dokumen, medis gigi, serologi dan metoda eksklusi. (1)
Dengan diketahuinya jati diri korban, pihak penyidik dapat melakukan
penyidikan untuk menggungkap kasus menjadi lebih terarah; oleh karena secara
kriminologis pada umunya ada hubungan antara pelaku dengan korbannya. Dengan
diketahuinya jati diri korban, penyidik akan lebih mudah satu daftar dari orang-orang
yang patut dicurigai. (1)
1. Metoda visual, dengan memperhatikan dengan cermat atas korban, terutama
wajahnya oleh hak keluaga atau rekan dekatnya, maka jati diri korban dapat
diketahui. Walaupun metoda ini sederhana, untuk mendapatkan hasil yang
diharapkan perlu diketahui bahwa metoda ini baru dapat dilakukan bila
keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan
belum terjadi pembusukan yang lanjut.
Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis, emosi serta latar belakang
pendidikan; oleh karena faktor-faktor tersebut dapat mempengaruhi hasil
pemeriksaan.
Juga perlu diingat bahwa manusia itu mudah terpengaruh oleh sugesti,
khususnya sugesti dari pihak penyidik.
2. Pakaian, pencatatan yang diteliti atas pakaian, bahan yang dipakai, mode
serta adanya tulisan-tulisan seperti: merk pakaian, penjahit, laudry atau initial
nama, dapat memberikan informasi yang berharga, milik siapakah pakaian
tersebut. Bagi korban yang tidak dikenal, menyimpan pakaian secara
keseluruhan atau potongan-potongan dengan ukuran 10 cm x 10 cm, adalah
merupakan tindakan yang tepat agar korban masih dapat dikenali walaupun
tubuhnya telah kubur.
3. Perhiasan, anting-anting, kalung, gelang serta cincin yang pada tubuh
korban, khususnya bila pada perhiasan itu terdapat initial nama seseorang
yang biasanya terdapat pada bagian dalam dari gelang atau cincin; akan
membantu dokter atau penyidik didalam menentukan identitas korban.
Mengingat kepetingan tersebut maka penyimpanan dari perhiasan haruslah
dilakukan dengan baik.
4. Dokumen, kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, paspor, kartu
golongan darah, tanda pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan
didalam dompet atau tas korban dapat menunjukkan jati diri korban.

Khusus pada kecelakaan masal, perlu diingat akan kebiasaan seseorang di


dalam menaruh dompet atau tasnya. Pada pria dompet biasanya terdapat
dalam saku baju atau celana, sedangkan pada wanita tas biasanya dipegang;
sehingga pada kecelakaan masal tas seseorang dapat terlempar dan sampai
pada orang lain yang bukan pemiliknya, jika hal ini tidak diperhatikan
kekeliruan identitas dapat terjadi, khususnya bila kondisi korban sudah busuk
atau rusak.
5. Medis, pemeriksaan fisik secara keseluruhan, yang meliputi bentuk tubuh,
tinggi dan berat badan, warna tirai mata, adanya cacat tubuh serta kelainan
bawaan, jaringan parut bekas operasi serta adanya tattoo, dapat memastikan
siapa jati diri korban.
Pada beberapa keadaan khusus, tidak jarang harus dilakukan pemeriksaan
radiologis, yaitu untuk mengetahui keadaan sutura, bekas patah tulang atau
pen serta pasak yang dipakai pada perawatan penderita patah tulang.
6. Gigi, bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus dari sesorang,
sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada gigi atau rahang
yang indentik pada dua orang yang berbeda, menjadikan pemeriksaaan gigi
ini mempunyai nilai yang tinggi dalam hal penentuan jati diri seseorang.
Pemeriksaan atas gigi ini menjadi lebih penting lagi bila keadaan korban
sudah rusak atau membusuk, dimana dalam keadaan tersebut pemeriksaan
sidik jari tidak dapat dilakukan, sehingga dapat dikatakan gigi merupakan
pengganti dari sidik jari.
Satu keterbatasan pemanfaatan gigi sebagai sarana identitas adalah belum
meratanya sarana untuk pemeriksaan gigi, demikian pula pendataannya
(dental record), oleh karena pemeriskaan gigi merupakan hal yang mewah
bagi kebanyakan rakyat Indonesia.
Dengan demikian pemeriksaan gigi sifatnya lebih selektif.
7. Sidik jari, dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang mempunyai sidik
jari yang sama, walaupun kedua orang tersebut kembar satu telur. Atas dasar
ini sidik jari merupakan sarana terpenting khusunya bagi kepolisian didalam
mengetahui jati diri seseorang, oleh karena selain kekhususannya, juga
mudah dilakukan secara masal dan murah pembiayaannya. Walaupun
pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan dokter, dokter masih mempunyai
kewajiban, yaitu untuk mengambilkan (mencetak) sidik jari, khususnya sidik
jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Teknik

pengembangan sidik jari pada jari sudah keriut, serta mencopot kulit ujung
jari yang telah mengelupas dan memasangnya pada jari yang sesuai pada jari
pemeriksa, baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari, merupakan
prosedur yang harus diketahui oleh dokter.
8. Serologi, penentuan golongan darah diambil dari dalam tubuh korban,
maupun bercak darah yang berasal dari bercak-bercak yang terdapat pada
pakaian, akan dapat mengetahui golongan darah si korban. Dan bila orang
yang diperiksa itu kebetulan termasuk golongan secretor (penentuan
golongan darah dapat dilakukan dari seluruh cairan tubuh), maka
pemeriksaan ini selain utntuk menentukan jati diri seseorang dalam arti
sempit, akan bermanfaat pula didalam membantu penyedikian; misalnya pada
kasus perkosaan, tabrak lari, serta kasus bayi yang tertukar dan penentuan
bercak darah milik siapa yang terdapat pada senhata dan pada pakaian
tersangka pelaku kejahatan di dalam kasus-kasus pembunuhan.
9. Eksklusi, metoda ini umumnya hanya dipakai pada kasus dimana banyak
korban (kecelakaan massal), seperti peristiwa tabrakan kapal udara, tabrakan
kereta api atau angkutan lainnya yang membawa banyak penumpang.
Dari daftar penumpang (passanger list), peswat terbang, akan dpat diketahui
siapa-siapa yang menjadi korban.
Bila dari sekian banyak korban tinggal satu yang belum dapat dikenali oleh
karena keadaan mayatnya sudah seemikian rusaknya; maka atas bantuan
daftar penumpang tadi, akan dapat diketahui siapa nama korban tersebut yaitu
dari daftar penumpang yang ada dikurang korban lain yang sudah diketahui
identitsanya.
Walaupun ada Sembilan metoda identifikasi yang kita kenal, maka di dalam
prateknya untuk menentukan jati diri tidak semua metoda dikerjakan;
melainkan cukup minimal dua metoda saja: identifikasi primer dari pakaian;
identifikasi konfirmatif dari gigi. (1)
PENENTUAN JENIS KELAMIN (1)
Pada umumnya penentuan jenis kelamin pada orang hidup tidaklah
sukar. Hanya dari penampilan wajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian
serta ciri-ciri seks dan pertumbuhan buah dada; kita sudah dapat mengenali
apakah orang tersebut laki-laki atau perempuan.
Hanya pada kasus-kasus khusus yang jarang terjadi, diperlukan
pemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis.

Penentuan jenis kelamin dalam kasus kriminal dimana tubuh korban


rusak oleh karena proses pembusukan, atau kerusakan tersebut memang
disengaja oleh si pelaku, misalnya dengan memotong-motong tubuh korban
(mutilasi), memerlukan ketelitian dan kesabaran yang khusus.
PENENTUAN JENIS KELAMIN PADA RANGKA(1)
Penentuan ini didasarkan pada ciri-ciri yang mudah dikenali pada
tulang-tulang, seperti: tulang panggul, tengkorak, tulang-tulang panjang,
tulang dada; dimana yang mempunyai nilai tinggi di dalam hal penentuan
jenis kelamin adalah tulang panggul dan baru kemudian tengkorak.
Secara umum dapat dikatakan bahwa rangka wanita mempunyai bentuk dan
tekstur yang lebih halus bila dibandingkan dengan rangka seorang pria.
A. Panggul
Pemeriksaan pangul secara tersendiri tanpa pemeriksaan lain, jenis kelamin
sudah dapat ditentukan pada sekitar 90 persen kasus.
Indeks Ischium-pubis pada wanita 15 persen lebih besar dari pria, ini terdapat
pada lebih dari 90 persen wanita.
Indeks tersebut diukur dari ischium dan pubis dari titik dimana mereka
bertemu pada acetabulum.
Bentuk dari Greater schiatic notch, mempunyai nilai tinggi dalam
penentuan jenis kelamin dari tulang panggul, 75 persen kasus dapat
ditemukan hanya dari pemeriksaan tersebut.
B. Tengkorak
Untuk dapat menentukan jenis kelamin dari tengkorak, diperlukan penilaian
dari pelbagi data ciri-ciri yang terdapat pada tengkorak tersebut. Ciri utama
adalah tonjolan di atas orbita (supra orbital ridges); processus mastoideus;
palatum, bentuk rongga mata dan rahang bawah.
Ciri-ciri tersebut akan tampak jelas setelah usia 14-16 tahun. Menurut
Krogman ketepatan penentuan jenis kelamin atas dasar pemeriksaan
tengkorak dewasa adlah 90 persen.
Luas permukaan processus mastoideus pada pria lebih besar dibanding
wanita, hal ini dikaitkan dengan adanya insersi otot leher yang lebih kuat
pada pria.
C. Tulang dada
Ratio panjang dari manubrium sterni dan corpus sterni menentukan jenis
kelamin. Pada wanita manubrium sterni melebihi separuh panjang corpus
sterni; dan ini mempunyai ketepatan sekitar 80 persen.
D. Tulang panjang

Pria pada umumnya memiliki tulang yang lebih panjang, lebih berat dan lebih
kasar, serta impresinya lebih banyak.
Tulang pada (os. Femur), merupakan tulang panjang yang dapat diandalkan
dalam penentuan jenis kelamin, ketepatannya pada orang dewasa skitar 80
persen. Konfigurasi, ketebalan, ukuran dan caput femoris serta bentukan dari
otot dan ligament serta perangai radiologis perlu diperhatikan.
Tabel berikut menunjukkan ciri seks pada tengkorak (2)
Tanda

Pria

Wanita

Ukuran, volume endokranial

Besar

Kecil

Arsitektur

Kasar

Halus

Tonjolan supraorbital

Sedang kasar

Kecil sedang

Prosesus mastoideus

Sedang kasar

Kecil sedang

Daerah oksipital, linea muskulares Tidak jelas


dan protuberensia

Jelas menonjol

Eminensia frontalis

Kecil

Besar

Eminensia parietalis

Kecil

Besar

Orbita

Persegi, rendah relative Bundar, tinggi relative


kecil tepi tumpul
besar tepi tajam

Dahi

Curam
membundar

Tulang pipi

Berat, arkus lebih ke Ringan, lebih memusat


lateral

Mandibular

Besar,
simfisisnya Kecil, dengan ukuran
tinggi,
ramus corpus dan ramus lebih
asendingnya lebar
kecil

Palatum

Besar
dan
lebar Kecil, cenderung seperti
cenderung seperti huruf parabola
U

Kondilus oksipitalis

Besar

Gigi-geligi

Besar,
M1
bawah Kecil, molar biasanya 4
sering % kuspid.
kuspid

kurang Membundar,
infantile

penuh,

Kecil

PENENTUAN JENIS KELAMIN SECARA HISTOLOGIK (1)


Prinsip penentuan secara histologik atau mikroskopik ini adalah
berdasarkan pada khromosom. Bahan pemeriksaan dapat diambil dari kulit,
lekosit, sel-sel selaput lendir pipi bagian dalam, sel-sel rawan, korteks
kelenjar supra renalis dan cairan amnion.
Metoda yang praktis untuk kepentingan kedokteran forensik adalah
pemeriksaan khromosom dari biopsi kulit. Untuk maksud tersebut dipakai
fiksasi: merkuri-khlorida setengah jenuh dalam 15 persen formol-saline.
Cara lain yang lebih praktis adalah dengan melakukan pemeriksaan
atas sel PMN leucocytes, yaitu melihat adanya bentuk drumstick pada
wanita lebih banyak bila dibandingkan pria.
Adapun cara penafsirannya adalah sebagai berikut: pada pemeriksaan
didaptakan adanya bentuk drumstick atau tidak ditemukan adanya bentuk
drumstick. Ini disebabkan adanya fakta : enam drumstick adalah normal
ditemukan pada 300 neutrophil wanita; dimana untuk pria drumstick tidak
dijumpi pda 500 atau lebih.
Pemeriksaan seks-khromatin dapat dilakukan pada akar rambut,
dimana pada wanita didapatkan pada 70 persen, sedang pada pria hanya 7
persen.
Pemeriksaan penentuan jenis kelamin secara histologik yang paling
tepat (ketepatan 100 persen). Ialah pemeriksaan atas struktur inti darah putih
dan dari kulit, pemeriksaanpun dapat dikerjakan pada bahan post mortal.
Adapun ketepatan pemeriksaan pda bahan post mortal adalah 85,5 persen.
PENENTUAN UMUR (1)
Untuk kepentingan

menghadapai

kasus-kasus

forensik,

maka

penentuan atau lebih tepatnya perkiraan umur, dibagi dalam tiga fase, yaitu:
bayi yang baru dilahirkan; anak-anak dan dewasa sampai umur 30 tahun; dan
dewasa diatas 30 tahun.
1. Bayi yang baru dilahirkan
Perkiraan umur bayi sangat penting bila dikaitkan dengan kasus
pembunuhan anak, dalam hal ini penentuan umur kehamilan (maturitas),
dan variabilitas. Kriteria yang umumnya dipakai adalah: berat badan;
tinggi bdan dan pusat-pusat penulangan. Tinggi badan mempunyai nilai
yang lebih bila dibandingkan dengan berat badan di dalam hal perkiraan
umur.

Tinggi badan diukur dari puncak kepala sampai ke tumit (crown-heel),


dapat digunakan untuk perkiraan umur menurut rumus dari HAASE. Cara
pengukuran lain yaitu dari puncak kepala ke tulang ekor (Crown-rup),
dipergunakan oleh STREETER.
Pusat penulangan yang paling bermakna di dalam upaya memperkirakan
umur adalah pusat penulangan pada bagian distal tulang paha (os.
Femoris). Pemeriksaan dengan sinar-X, dapat membantu untuk menilai
timbulnya epiphyeses dan fusinya dengan diaphyses.
2. Anak-anak dan dewasa di bawah 30 tahun
Saat terjadinya unifikasi dari diaphysis memberi hasil dalam bentuk
perkiraan.
Persambungan speno-occipital terjadi dalam umur 17-15 tahun. Pada
wanita saat persambungan tersebut antara 17-20 tahun. Tulang selangka
merupakan tulang panjang yang terakhir mengalami unifikasi. Unifikasi
dimulai pada umur 18-25 tahun, dan mungkin tidak lengkap sampai 25-30
tahun, dalam usia 30 tahun ke atas unifikasi menjadi lengkap.
Tulang belakang (ossis vertebrae), sebelum 30 tahun akan menunjukkan
alur-alur yang dalam yang berjalan radier pada bagian permukaan atas
dan bawah; dalam hal ini corpus vertebrae-nya.
3. Dewasa diatas 30 tahun
Perkiraan umur dilakukan dengan memeriksa tengkorak, yaitu suturasuturanya. Penutupan pada tabula interna biasanya mendahului tabula
externa.
Sutura sagitalis, coronaries dan sutura lambdoideus mulai menutup pada
umur 20-30 tahun. Lima tahun berikutnya terjadi penutupan sutura
parieto-mastoid dan sutura squamaeus, tetapi dapat juga tetap terbuka
atau menutup sebagian pada umumr 60 tahun. Sutura sphenoparietal
umumnya tidak akan menutup sampai umur 70 tahun.
PENENTUAN TINGGI BADAN(1)
Penentuan tinggi badan menjadi penting pada keadaan dimana yang
harus diperiksa adalah tubuh yang sudah terpotong-potong atau yang
didapatkan rangka, atau sebagian dari tulang saja.
Pada umumnya perkiraan tinggi badan dapat dipermudah dengan
pengertian bahwa tubuh yang diperika itu pendek, sedang atau jangkung.
Perkiraan tinggi badan dapat diketahui dari pengukuran tulang-tulang
panjang, yaitu:
- Tulang paha (femur), menunjukkan 27 persen dari tinggi badan,

- Tulang kering (tibia), 22 persen dari tinggi badan,


- Tulang lengan atas (humerus), 35 persen dari tinggi badan,
- Tulang belakang, 35 persen dari tinggi badan.
Yang perlu diperhatikan di dalam pengukuran tulang:
- Pengukuran dengan osteometric board
- Tulang harus dalam keadaan kering (dry bone)
- Formula yang dapat dipergunakan untuk pengukuran tinggi badan

adalah:
1. Formula Stevenson
2. Formula Trotter dan Gleser
Formula Trotter dan Gleser dan Stevenson merupakan formula

untuk manusia ras mongoloid.


Formula Stevenson
TB = 61,7207 + 2,4378 X F + 2,1756. (F= Femur).
= 81,5115 + 2,8131 X H + 2,8903. (H= Humerus).
= 59,2256 + 3,0263 X T + 1,8916. (T= Tibia).
= 80,0276 + 3,7384 X R + 2,6791. (R= Radius).
Formula Trotter dan Gleser
TB = 70,37 + 1,22 (F + T) + 3,24.
Untuk mendapat tinggi badan yang mendekati ketepatan sebaiknya

pengukuran dilakukan menurut kedua formula tersebut.


PERKIRAAN UMUR TULANG(1)
Perkiraan umur tulang lebih berguna bagi kepentingan arkeologis, bila
dibandingkan dengan kepentingan pendidikan perkara kriminal. Dengan
demikian secara Ilmu Kedokteran Forensik pengukuran ini tidak banyak
manfaatnya.
Metoda yang dipakai untuk mengetahui perkiraan

umur tulang, adalah

sebagai berikut:
1. Penentuan kandungan Nitrogen
- Dengan metoda mikro-Kjeldhal
- Nitrogen lebih besar dari 3 gram persentimeter
- Nitrogen lebih besar dari 2 gram persentimeter, berarti umur
tulang/saat kematian kurang ari 350 tahun.
2. Penentuan kandungan Asam-amino
- Dengan metoda khromatografi lapisan tipis (TLC)
- Bila umur/saat kematian kurang dari 70-100 tahun, akan
-

didapatkan 7 jenis asam-amino atau lebih


Bila hanya didapatkan proline dan hidroksi proline, maka

perkiraan umur /saat kematian kurang dari 50 tahun.


3. Reaksi Benzidine
- Yang dipakai campuran benzidine-peroxide,
- Reaksi negative, penilaian lebih berarti
- Reaksi negative menyingkirkan bahwa tulah masih baru
- Reaksi negative, umur/tulang saat kematian sampai 150 tahun

Reaksi masih dapat dipakai pada tulang yang masih utuh atau

serbuk.
4. Fluoresensi dengan sinar ultra-violet
- Fluoresensi positif pada tulang yang masih baru sampai 100 tahun
- Umur/tulang saat kematian 500-800 tahun, fluoresensi akan
menghilang.
5. Immunologi
- Aktivitas immunologi ditentukan dengan metoda gel-diffusion
-

technique dengan anti human serum


Aktivitas akan menurun setalah 5 tahun, dengan limit waktu pada

10 tahun dan kurang dari 20 tahun.


Kesimpulan dari perkiraan umur tulang
Tulang yang masih baru (modern bone) mempunyai ciri:
- Kandungan nitrogen sebesar 3,5 gra atau lebih
- Mengandung sekurang-kurangnya 7 jenis asam-amino
- Fluoresensi menyeluruh pada penampang tulang
- Bila ada aktivitas immunilogik maka umur/saat kematian kurang
dari 20 tahun, mungkin 5 tahun atau kurang dari 5 tahun.
PEMERIKSAAN RAMBUT(1)
Pemeriksaan rambut dalam kasus kriminal dapat membantu
-

pengungkapan kasus, yaitu dalam hal:


Identifikasi senjata yang dipakai, bila pada senjata tersebut melekat rambut

dari korban.
Kasus tabrak lari, adanya rambut yang melekat pada kendaraan penabrak

yang identik dengan rambut korban.


Dalam kasus kejahatan seksual, rambut yang terlepas dari si pelaku dapat

dijumpai pada tubuh korban.


Kejelasan yang diharapkan pada pemeriksaan rambut
Bila memang rambut, rambut manusia atau hewan
Bila rambut manusia, dari bagian mana rambut tersebut
Apakag rambut tersebut berasal dari pria atau wanita
Apakah rambut tersebut diberi zat pewarna
Apakah lepasnya rambut secara alamiah atau dipaksa
Bila terpotong, apakah dengan benda tajam atau benda tumpul
Perkiraan umur si pemilik rambut.
Catatan tentang rambut
Rambut manusia tidak unik, lain halnya dengan sidik jari,
Rambut terdiri dari akar rambut, tangkai dan ujung rambut
Rambut dari alis, biasanya kaku, berbentuk segi tiga
Ras yang berbeda akan membedakan rambut dalam hal warna, tekstur,
ukuran, fluktuasi dari diameter, ketebalan bagian korteks, ukuran dan
distribusi dari butir-butir pigmen serta ukuran penampang melintang.

Secara mikroskopis, bagian tengah disebut medulla yang berisi sel-sel udara;
cortex yang mengandung butir-butir pigmen yang memberi warna dan fusi
kortikal (ronggal yang berisi udara); kulit dan sisik yang merupakan bagian
paling luar dari rambut.

DAFTAR PUSTAKA
1. Idries, dr. Abdul Mun'im. PEDOMAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK

EDISI PERTAMA. Jakarta Barat: s.n., 1997.


2. Arif Budiyanto. Slamet Purnomo ILMU KEDOKTERAN FORENSIK, Edisi

Pertama Cetakan Kedua. Jakarta: s.n., 1997.