Anda di halaman 1dari 13

Forensik

Forensik (berasal dari bahasa Yunani Forensis yang berarti "debat" atau
"perdebatan") adalah bidang ilmu pengetahuan yang digunakan untuk membantu
proses penegakan keadilan melalui proses penerapan ilmu atau sains. Dalam
kelompok ilmu-ilmu forensik ini dikenal antara lain ilmu fisika forensik, ilmu kimia
forensik, ilmu psikologi forensik, ilmu kedokteran forensik, ilmu toksikologi forensik,
ilmu psikiatri forensik, komputer forensik dan sebagainya.
Kedokteran forensik
Ilmu kedokteran forensik secara sederhana dapat didefinisikan sebagai penerapan
ilmu kedokteran dalam penegakan keadilan. Secara garis besar ilmu ini dapatdibagi
dalam tiga kelompok bidang ilmu, yaitu ilmu patologi forensik, ilmu forensik klinik
dan ilmu laboratorium forensik.
Identifikasi forensik
Identifikasi forensik merupakan upaya yang dilakukan dengan tujuan membantu
penyidik untuk menentukan identitas seseorang. Identifikasi personal sering
merupakan suatu masalah dalam kasus pidana maupun perdata.Menentukan identitas
personal dengan tepat amat penting dalam penyidikan karena adanya kekeliruan dapat
berakibat fatal dalam proses peradilan.
Peran ilmu kedokteran forensik dalam identifikasi terutama pada jenazah tidak
dikenal, jenazah yang rusak , membusuk, hangus terbakar dan kecelakaan masal,
bencana alam, huru hara yang mengakibatkan banyak korban meninggal, serta
potongan tubuh manusia atau kerangka.Selain itu identifikasi forensik juga berperan
dalam berbagai kasus lain seperti penculikan anak, bayi tertukar, atau diragukan
orangtua nya.Identitas seseorang yang dipastikan bila paling sedikit dua metode yang
digunakan memberikan hasil positif (tidak meragukan).
Pemeriksaan sidik jari
Metode ini membandingkan sidik jari jenazah dengan data sidik jari
antemortem.Sampai saat ini, pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang
diakui paling tinggi ketepatan nya untuk menentukan identitas seseorang.
Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari
tangan jenazah untuk pemeriksaan sidik jari, misalnya dengan melakukan
pembungkusan kedua tangan jenazah dengan kantong plastik.
Metode Visual
Metode ini dilakukan dengan memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa
kehilangan anggota keluarga atau temannya.Cara ini hanya efektif pada jenazah yang
belum membusuk, sehingga masih mungkin dikenali wajah dan bentuk tubuhnya oleh
lebih dari satu orang.Hal ini perlu diperhatikan mengingat adanya kemungkinan
faktor emosi yang turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal
identitas jenazah tersebut.
Pemeriksan Dokumen
Dokumen seperti kartu identitas (KTP, SIM, Paspor) dan sejenisnya yang kebetulan
ditemukan dalam dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu
mengenali jenazah tersebut.Perlu diingat pada kecelakaan masal, dokumen yang
terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu adalah milik
jenazah yang bersangkutan.
Pemeriksaan Pakaian dan Perhiasan
Dari pakaian dan perhiasan yang dikenakan jenazah, mungkin dapat diketahui merek
atau nama pembuat, ukuran, inisial nama pemilik, badge yang semuanya dapat
membantu proses identifikasi walaupun telah terjadi pembusukan pada jenazah
tersebut.Khusus anggota ABRI, identifikasi dipemudah oleh adanya nama serta NRP
yang tertera pada kalung logam yang dipakainya.
Identifikasi Medik
Metode ini menggunakan data umum dan data khusus.Data umum meliputi tinggi
badan, berat badan, rambut, mata, hidung, gigi dan sejenisnya.Data khusus meliputi
tatto, tahi lalat, jaringan parut, cacat kongenital, patah tulang dan sejenisnya.
Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan
menggunakan berbagai cara/modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X)
sehingga ketepatan nya cukup tingi.Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat
dilakukan metode identifikasi ini.
Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin, ras, prkiraan umur dan tingi
badan, kelainan pada tulang dan sebagainya.
Pemeriksaan Gigi
Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (Odontogram) dan rahang yang dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual, sinar-X dan pencetakan gigi
dan rahang.Odontogram memuat data tentang jumlah,bentuk, susunan, tambalan,
protesa gigi dan sebagainya.
Seperti hal nya dengan sidik jari, maka setiap individu memiliki susunan gigi yang
khas.Dengan demikian dapat dilakukan indentifikasi dengan cara membandingkan
data temuan dengan data pembanding antemortem.
Pemeriksaan Serologik
Pemeriksaan serologik betujuan untuk menentukan golongan darah
jenazah.Penentuan golongan darah pada jenazah yang telah membusuk dapat
dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.
Saat ini telah dapat dilakukan pemeriksaan sidik DNA yang akurasi nya sangat tinggi.
Metode Eksklusi
Metode ini digunakan pada kecelakaan masal yang melibatkan sejumlah orang yang
dapat diketahui identitasnya, misalnya penumpang pesawat udara, kapal laut dan
sebagainya.
Bila sebagian besar korban telah dapat dipastikan identitasnya dengan menggunakan
metode indentifikasi yang lain, sedangkan identitas sisa korban tidak dapat ditentukan
dengan metode-metode tersebut diatas, maka sisa korban diindentifikasi menurut
daftar penumpang.
Identifikasi Potongan Tubuh Manusia (Kasus
Mutilasi)
Pemeriksaan bertujuan untuk menentukan apakah potongan jaringan berasal dari
manusia atau hewan.Bilamana berasal dari manusia, ditentukan apakah potongan-
potongan tersebut dari satu tubuh.
Penentuan juga meliputi jenis kelamin, ras, umur, tinggi badan, dan keterangan lain
seperti cacat tubuh, penyakit yang pernah diderita, serta cara pemotongan tubuh yang
mengalami mutilasi.
Untuk memastikan bahwa potongan tubuh berasal dari manusia dapat digunakan
beberapa pemeriksaan seperti pengamatan jaringan secara makroskopik, mikroskopik
dan pemeriksaan serologik berupa reaksi antigen-antibodi (reaksi presipitin).
Penentuan jenis kelamin ditentukan dengan pemriksaan makroskopik dan harus
diperkuat dengan pemeriksaan mikroskopik yang bertujuan menemukan kromatin
seks wanita, seperti Drumstick pada leukosit dan badan Barr pada sel epitel serta
jaringan otot.
Identifikasi Kerangka
Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan untuk membuktikan bahwa kerangka
tersebut adalah kerangka manusia, ras, jenis kelamin, perkiraan umur dan tinggi
badan, ciri-ciri khusus dan deformitas serta bila memungkinkan dilakukan
rekonstruksi wajah.Dicari pula tanda-tanda kekerasan pada tulang dan memperkirakan
sebab kematian.Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memeperhatikan
kekeringan tulang.
Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu, maka dilakukan identifikasi
dengan membandingkan data antemortem.Bila terdapat foto terakhir wajah orang
tersebut semasa hidup, dapat dilaksanakan metode superimposisi, yaitu dengan jalan
menumpukkan foto Rontgen tulang tengkorak diatas foto wajah orang tersebut yang
dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pengambilan yang sama.Dengan
demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan.
Pemeriksaan Anatomik
Dapat memastikan bahwa kerangka adalah kerangka manusia.Kesalahan penafsiran
dapat timbul bila hanya terdapat sepotong tulang saja, dalam hal ini perlu dilakukan
pemeriksaan serologik/ reaksi presipitin dan histologi (jumlah dan diameter kanal-
kanal Havers).
Penentuan Ras
Penentuan ras dapat dilakukan dengan pemeriksaan antropologik pada tengkorak, gigi
geligi, tulang panggul atau lainnya.Arkus zigomatikus dan gigi insisivus atas pertama
yang berbentuk seperti sekop memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid.
Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul, tulang tengkorak,
sternum, tulang panjang serta skapula dan metakarpal.Sedangkan tinggi badan dapat
diperkirakan dari panjang tulang tertentu, dengan menggunakan rumus yang dibuat
oleh banyak ahli.
Melalui suatu penelitian, Djaja Surya Atmaja menemukan rumus untuk populasi
dewasa muda di Indonesia;
TB = 71,2817 + 1,3346 (tib) +1,0459(fib) (lk 4,8684)
TB = 77,4717 + 2,1889 (tib) + (lk 4,9526)
TB = 76,2772 + 2,2522 (fib) (lk 5,0226)
Tulang yang diukur dalam keadaan kering biasanya lebih pendek 2 milimeter dari
tulang yang segar, sehingga dalam menghitung tingi badan perlu diperhatikan.
Rata-rata tinggi laki-laki lebih besar dari wanita, maka perlu ada rumus yang terpisah
antara laki-laki dan wanita.Apabila tidak dibedakan, maka diperhitungkan ratio laki-
laki banding wanita adalah 100:90. Selain itu penggunaan lebih dari satu tulang
sangat dianjurkan.(Khusus untuk rumus Djaja SA, panjang tulang yang digunakan
adalah panjang tulang yang diukur dari luar tubuh berikut kulit luarnya).
Ukuran pada tengkorak, tulang dada, dan telapak kaki juga dapat digunakan untuk
menilai tinggi badan.Bila tidak diupayakan rekonstruksi wajah pada tengkorak
dengan jalan menambal tulang tengkorak tersebut dengan menggunakan data
ketebalan jaringan lunak pada berbagai titik di wajah, yang kemudian diberitakan
kepada masyarakat untuk memperoleh masukan mengenai kemungkinan identitas
kerangka tersebut.




PENDAHULUAN
-
-Dalam beberapa tahun terakhir, kita banyak dikejutkan oleh terjadinya bencana
massal yang menyebabkan kematian banyak orang. Selain itu kasus kejahatan yang
memakan banyak korban jiwa juga cenderung tidak berkurang dari waktu ke waktu.
Pada kasus-kasus seperti ini tidak jarang kita jumpai korban jiwa yang tidak dikenal
sehingga perlu diidentifikasi.
-Forensik odontologi adalah salah satu metode penentuan identitas individu yang
telah dikenal sejak era sebelum masehi. Kehandalan teknik identifikasi ini bukan saja
disebabkan karena ketepatannya yang tinggi sehingga nyaris menyamai ketepatan
teknik sidik jari, akan tetapi karena kenyataan bahwa gigi dan tulang adalah material
biologis yang paling tahan terhadap perubahan lingkungan dan terlindung. Gigi
merupakan sarana identifikasi yang dapat dipercaya apabila rekaman data dibuat
secara baik dan benar. Beberapa alasan dapat dikemukakan mengapa gigi dapat
dipakai sebagai sarana identifikasi adalah sebagai berikut, pertama karena gigi bagian
terkeras dari tubuh manusia yang komposisi bahan organik dan airnya sedikit sekali
dan sebagian besar terdiri atas bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak, terletak
dalam rongga mulut yang terlindungi. Kedua, manusia memiliki 32 gigi dengan
bentuk yang jelas dan masing-masing mempunyai lima permukaan.
1,2

-Berdasarkan pengalaman di lapangan, identifikasi korban meninggal massal
melalui gigi-geligi mempunyai kontribusi yang tinggi dalam menentukan identitas
seseorang. Pada kasus Bom Bali I, dimana korban yang teridentifikasi berdasarkan
gigi-geligi mencapai 56%, korban kecelakaan lalu lintas di Situbondo mencapai 60%,
dan korban jatuhnya Pesawat Garuda di Jogyakarta mencapai 66,7%.
1

-Identifikasi korban pada kasus-kasus ini diperlukan karena status kematian korban
memiliki dampak yang cukup besar pada berbagai aspek yang ditinggalkan.
Identifikasi tersebut merupakan perwujudan HAM dan merupakan penghormatan
terhadap orang yang sudah meninggal.selain itu juga merupakan menentukan apakah
seseorang tersebut secara hukum sudah meninggal atau masih hidup.
1

-Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara geografis terletak pada
wilayah yang rawan terhadap bencana alam baik yang berupa tanah longsor, gempa
bumi, letusan gunung berapi, tsunami, banjir dan lain-lain, yang dapat memakan
banyak korban, dan salah satu cara mengidentifikasi korban adalah dengan metode
forensik odontologi. Oleh karena itu forensik odontologi sangat penting dipahami
peranannya dalam menangani korban bencana massal.
3


Definisi Forensik Odontologi
-Ilmu kedokteran gigi forensik memiliki nama lain yaitu forensic dentistry dan
odontology forensic. Forensik odontologi adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi
yang mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara
evaluasi dan presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan.
4

-Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sbb:
1,4

1. Gigi merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan
pengaruh lingkungan yang ekstrim.
2. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi
gigi menyebabkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.
3. Kemungkinan tersedianya data antemortem gigi dalam bentuk catatan medis
gigi (dental record) dan data radiologis.
4. Gigi geligi merupakan lengkungan anatomis, antropologis, dan morfologis,
yang mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi, sehingga
apabila terjadi trauma akan mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
5. Bentuk gigi geligi di dunia ini tidak sama, karena berdasarkan penelitian
bahwa gigi manusia kemungkinan sama satu banding dua miliar.
6. Gigi geligi tahan panas sampai suhu kira-kira 400C.
7. Gigi geligi tahan terhadap asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang
terbunuh dan direndam dalam asam pekat, jaringan ikatnya hancur, sedangkan
giginya masih utuh.
Pada gambar 1 menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang
tinggi, walaupun tubuh telah rusak, tetapi gigi masih dapat diidentifikasi.
-Batasan dari forensik odontologi terdiri dari:
6,7,8

1. Identifikasi dari mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang dan
kraniofasial.
2. Penentuan umur dari gigi.
3. Pemeriksaan jejas gigit (bite-mark).
4. Penentuan ras dari gigi.
5. Analisis dari trauma oro-fasial yang berhubungan dengan tindakan kekerasan.
6. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli.
7. Peranan pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam identifikasi personal.
-
Sejarah Forensik Odontologi
-Forensik odontologi telah ada sejak jaman prasejarah, akan tetapi baru mulai
mendapatkan perhatian pada akhir abad 19 ketika banyak artikel tentang forensik
odontologi ditulis dalam jurnal kedokteran gigi pada saat itu.
8

-Sejarah forensik odontologi sudah ada sejak sebelum masehi (SM) yaitu pada
masa pemerintahan Kaisar Roma Claudius pada tahun 49 SM, Agrippina ( yang kelak
akan menjadi ibu Kaisar Nero) membuat rencana untuk mengamankan posisinya.
Janda kaya Lollia Paulina merupakan saingannya dalam menarik perhatian Kaisar,
maka ia membujuk Kaisar untuk mengusir wanita tersebut dari Roma. Akan tetapi hal
itu rupanya masih dianggapnya kurang dan ia menginginkan kematian wanita
tersebut. Tanpa setahu Kaisar, ia mengirim seorang serdadu untuk membunuh wanita
tersebut. Sebagai bukti telah melaksanakan perintahnya, kepala Lollia dibawa dan
ditunjukkan kepada Agrippina. Karena kepala tersebut telah rusak parah mukanya,
maka Agrippina tidak dapat mengenalinya lagi dari bentuk mukanya. Untuk
mengenalinya Agrippina menyingkap bibir mayat tersebut dan memeriksa giginya
yang mempunyai ciri khas, yaitu gigi depan yang berwarna kehitaman. Adanya ciri
tersebut pada gigi mayat membuat Agrippina yakin bahwa kepala tersebut adalah
benar kepala Lollia.
6,7,9

-Pada tahun 1776, dalam suatu perang Bukker Hill terdapat korban Jenderal
Yoseph Warren, oleh drg. Paul Revere dapat dibuktikan bahwa melalui gigi palsu
yang dibuatnya yaitu berupa Bridge Work gigi depan dari taring kiri ke taring kanan
yang ia buat sehingga drg. Paul Revere dapat dikatakan dokter gigi pertama yang
menggunakan ilmu kedokteran gigi forensik dalam pembuktian.
4,6

-Pada tahun 1887 Godon dari Paris merekomendasikan penggunaan gigi untuk
identifikasi orang yang hilang. Untuk itu ia menganjurkan agar para dokter gigi
menyimpan data gigi para pasiennya, untuk berjaga-jaga kalau-kalau kelak data
tersebut diperlukan sebagai data pembanding.
9

-Kasus identifikasi personal yang terkenal adalah kasus pembunuhan Dr. George
Parkman, seorang dokter dari Aberdeen, oleh Professor JW Webster. Pada kasus ini
korban dibunuh, lalu tubuhnya dipotong-potong lalu dibakar di perapian. Polisi
mendapatkan satu blok gigi palsu dari porselin yang melekat pada potongan tulang.
Dr. Nathan Cooley Keep, seorang dokter bedah mulut memberikan kesaksian bahwa
gigi palsu itu adalah bagian dari gigi palsu buatannya pada tahun 1846 untuk Dr.
Parkman yang rahang bawahnya amat protrusi.
4,6,9

-Pada tanggal 4 Mei 1897, sejumlah 126 orang Farisi dibakar sampai meninggal di
Bazaar de la Charite. Para korban sulit diidentifikasi secara visual karena umumnya
dalam keadaan terbakar luas dan termutilasi. Berdasarkan pemeriksaan Dr. Oscar
Amoedo (dokter gigi Kuba yang berpraktek di Paris) dan dua orang dokter gigi
Perancis, Dr. Davenport dan Dr. Braul untuk melakukan pemeriksaan gigi-geligi para
korban kemudian ternyata mereka berhasil mengidentifikasi korban-korban ini.
9

-Pada tahun 1917 di dermaga Brooklyn ditemukan mayat yang kemudian
dipastikan sebagai seorang wanita yang telah menghilang 8 bulan sebelumnya.
Identifikasi pada kasus ini ditegakkan berdasarkan temuan bridge pada gigi
geliginya.
9

-Sekitar tahun 1960 ketika program instruksional formal kedokteran gigi forensik
pertama dibuat oleh Armed Force Institute of Pathology, sejak saat itu banyak kasus
penerapan forensik odontologi dilaporkan dalam literatur sehingga forensik
odontologi mulai banyak dikenal bukan saja di kalangan dokter gigi, tetapi juga di
kalangan penegak hukum dan ahli-ahli forensik.
9

-
Definisi Bencana
-Bencana adalah suatu peristiwa yang terjadi secara mendadak dan tidak terencana
atau secara perlahan tetapi berlanjut yang menimbulkan dampak terhadap pola
kehidupan normal atau kerusakan ekosistem sehingga diperlukan tindakan darurat dan
menyelamatkan korban yaitu manusia beserta lingkungannya.
3

-Bencana yang terjadi secara akut atau mendadak dapat berupa rusaknya rumah
serta bangunan, rusaknya saluran air, terputusnya aliran listrik, jalan raya, bencana
akibat tindakan manusia, dan lain sebagainya. Sedangkan bencana yang terjadi secara
perlahan-lahan atau slow onset disaster, misalnya perubahan kehidupan masyarakat
akibat menurunnya kemampuan memperoleh kebutuhan pokok, atau akibat dari
kekeringan yang berkepanjangan, kebakaran hutan dengan akibat asap atau (haze)
yang menimbulkan masalah kesehatan.
3

-Bencana yang terjadi dapat menimbulkan korban massal yang perlu mendapatkan
pertolongan kesehatan segera, dengan menggunakan sarana, fasilitas dan tenaga yang
lebih dari yang tersedia sehari-hari.
3

-
Bencana Masssal di Indonesia
-Adapun bencana massal di Indonesia dapat berupa:
10

1. Bom Bali I (2002)
2. Peledakan hotel JW Marriott (2003)
3. Tsunami Aceh dan Nias (2004)
4. Bom di depan kedubes Australia (2004)
5. Bom Bali II (2005)
6. Kecelakaan pesawat adam air, lion air, kecelakaan kapal.
7. Gempa bumi di Bantul Yogyakarta
-
Peranan Forensik Odontologi Dalam menangani bencana Massal
- Kematian yang tidak wajar atau tidak terduga, atau dalam kondisi bencana
massal, kerusakan fisik yang direncanakan, dan keterlambatan dalam penemuan
jenazah, bisa mengganggu identifikasi. Dalam kondisi inilah forensik odontologi
diperlukan walaupun tubuh korban sudah tidak dikenali lagi.
6

-Identifikasi dalam kematian penting dilakukan, karena menyangkut masalah
kemanusiaan dan hukum. Masalah kemanusian menyangkut hak bagi yang
meninggal, dan adanya kepentingan untuk menentukan pemakaman berdasarkan
agama dan permintaan keluarga. Mengenai masalah hukum, seseorang yang tidak
teridentifiksi karena hilang, tidak dipersoalkan lagi apabila telah mencapai 7 tahun
atau lebih. Dengan demikian surat wasiat, asuransi, masalah pekerjaan dan hukum
yang perlu diselesaikan, serta masalah status pernikahan menjadi tidak berlaku lagi.
Sebelum sebab kematian ditemukan atau pemeriksa medis berhasil menentukan
jenazah yang sulit diidentifikasi, harus diingat bahwa kegagalan menemukan rekaman
gigi dapat mengakibatkan hambatan dalam identifikasi dan menghilangkan semua
harapan keluarga, sehingga sangat diperlukan rekaman gigi setiap orang sebelum dia
meninggal.
6

-
Identifikasi Forensik Odontologi
-Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk
membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu untuk
membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan/memperkuat identitas
korban.
6

-
Penentuan Usia
-Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi
melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada
pemeriksaan antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi desidua
diawali pada minggu ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 16 minggu
dan berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang stress metabolik
yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini akan mengakibatkan garis
tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut sebagai neonatal line. Neonatal
line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan dentin telah dibentuk. Ketika
ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis ini menunjukkan bahwa mayat sudah
pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan enamel dan dentin ini umumnya secara
kasar berdasarkan teori dapat digunakan dengan melihat ketebalan dari struktur di atas
neonatal line. Pertumbuhan gigi permanen diikuti dengan penyerapan kalsium,
dimulai dari gigi molar pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua
yang menjadi lengkap pada usia 14 16 tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat
digunakan untuk menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga dapat
digunakan untuk penentuan perkembangan gigi.
5

Gambar 2 memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak-anak (a) gambaran
yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan perkembangan pada usia 9 tahun
(pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari akar gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh
secara utuh). Dibandingkan dengan diagram yang diambil dari Schour dan Massler
(b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.
6

-Penentuan usia antara 15 dan 22 tahun tergantung dari perkembangan gigi molar
tiga yang pertumbuhannya bervariasi. Setelah melebihi usia 22 tahun, terjadi
degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis yang lambat
dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.
6

-
Penentuan Jenis Kelamin
-Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin. Gigi geligi
menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya. Anderson mencatat
bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter kurang dari 6,7 mm,
sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering dilakukan pemeriksaan DNA
dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.
6

-
Penentuan Ras
-Gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah sebagai berikut:
6

1. Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan nyata
berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras kaukasoid dan
12 % ras negroid memperlihatkan adanya bentuk seperti sekop walaupun tidak
terlalu jelas.
2. Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan oklusal
premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.
3. Akar distal tambahan pada molar 1 mandibula ditemukan pada 20%
mongoloid.
4. Lengkungan palatum berbentuk elips.
5. Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus.
Gambaran gigi untuk Ras kaukasoid adalah sebagai berikut:
6

1. Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar 1.
2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari
mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5. Dagu menonjol.
Gambaran gigi untuk ras negroid adalah sebagai berikut:
6

1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan.
2. Sering terdapat open bite.
3. Palatum berbentuk lebar.
4. Protrusi bimaksila.





Kapan Gigi Susu Mesti Dicabut? 8- 2004
IGI susu atau gigi sulung, yang oleh awam lebih dikenal sebagai gigi anak-anak,
keberadaannya sering dianggap sepele dengan asumsi kalau ada apa-apa toh
masih ada pengantinya. Bahkan, orang tua sering mempunyai persepsi yang
keliru, datang ke dokter gigi meminta gigi anaknya untuk segera dicabut karena
kondisinya yang berantakan atau karies di banyak permukaan gigi.

Memang, gigi susu kelak pada saatnya akan diganti dengan gigi tetap. Namun, ini
bukan berarti begitu ada kerusakan lalu satu-satunya alternatif harus dicabut.
Gigi susu mempunyai jatah waktu tertentu untuk tanggal sehingga
keberadaannya harus dipertahankan sampai tiba saatnya untuk tanggal.
Meskipun kerusakannya sudah parah, dokter gigi masih akan berusaha
mempertahankan. Bahkan, bila memungkinkan, akan dilakukan perawatan
seperti aplikasi fluor ataupun penambalan. Bila dokter gigi tidak mengabulkan
permintaan orang tua untuk mencabut gigi anaknya meskipun kondisinya
dianggap sudah sedemikian parah, itu karena memang ada pertimbangan
tertentu sehingga belum diindikasikan untuk dicabut.

Fungsi istimewa

Gigi susu mempunyai fungsi istimewa yang tidak dimiliki gigi tetap. Sama halnya
dengan gigi tetap, gigi susu secara umum berfungsi membantu proses
pencernaan, pengucapan, dan estetika. Di samping itu, fungsi istimewa yang
tidak dimiliki oleh gigi tetap adalah sebagai petunjuk gigi tetap agar kelak
tumbuh (erupsi) pada tempatnya dan menjaga pertumbuhan lengkung rahang.

Bila gigi susu tanggal sebelum saatnya, baik karena karies ataupun dicabut, gigi
tetap yang akan tumbuh tidak mempunyai petunjuk sehingga sering salah arah
dan rahang yang ditinggal gigi susu jauh sebelum saatnya. Ini akan mengalami
penyempitan sehingga tidak cukup untuk menampung semua gigi dalam susunan
yang teratur. Akibatnya, susunan gigi-geligi menjadi crowded (tidak beraturan).

Periode pertumbuhan gigi

Orang tua yang mengetahui periode pertumbuhan gigi-geligi baik gigi susu
maupun gigi tetap akan sangat membantu. Bukan hanya dalam segi
perawatan dalam menjaga kebersihannya, tetapi juga mencegah agar anak-anak
tidak melakukan kebiasaan buruk misalnya mengisap jempol yang bisa
mengakibatkan gigi depan maju (tonggos=Sunda), menggigit pensil atau benda
lain yang bisa mengikis email atau timbulnya celah gigi (distema).

Gigi susu yang tumbuh pertama kali adalah gigi seri tengah rahang bawah.
Biasanya tumbuh saat bayi berusia sekira enam bulan ( tabel 1). Hal ini sering
ditandai dengan gejala bayi sering rewel, bahkan badannya disertai panas.
Gusinya terasa gatal sehingga ingin menggigit setiap benda yang dipegang.
Untuk mengatasinya, bayi tersebut bisa diberi mainan yang lunak dan dijauhkan
dari benda-benda yang membahayakan keselamatannya.

Gigi susu diharapkan sudah tumbuh lengkap saat anak berusia dua tahun.
Namun, usia yang tercantum dalam tabel tersebut hanyalah sebagai patokan
perkiraan. Kadang-kadang, ada bayi yang usianya belum genap enam bulan
giginya sudah mulai tumbuh, sedangkan yang lain sudah menginjak satu tahun
giginya belum tumbuh sama sekali. Kondisi ini tidak perlu dirisaukan karena ada
pengaruh beberapa faktor misalnya nutrisi, hormonal, ataupun keturunan.

Gigi susu bila tumbuh lengkap berjumlah dua puluh gigi yang macamnya terdiri
dari gigi seri, taring, dan geraham. Gigi geraham pada gigi susu hanya satu
macam, sedangkan pada gigi tetap terdapat dua macam sehingga dibedakan
menjadi gigi geraham besar dan gigi geraham kecil.

Gigi tetap bila tumbuh semua (termasuk gigi bungsu/geraham ketiga/terakhir)
berjumlah 32 gigi. Jumlah yang lebih besar ini disebabkan pada gigi tetap
dijumpai gigi geraham kecil dan gigi geraham besar ketiga (gigi bungsu).

Saat gigi susu tanggal, biasanya bersamaan dengan saat gigi tetap tumbuh,
tetapi ada pengecualian pada gigi geraham besar. Patut digarisbawahi bahwa gigi
geraham besar pertama mulai tumbuh pada umur enam sampai tujuh tahun
(Tabel 2). Gigi geraham ini bukan gigi pengganti. Artinya, gigi ini langsung
muncul pada deretan di belakang gigi-gigi susu, baik pada rahang atas maupun
rahang bawah. Jadi, gigi ini (dan juga gigi geraham besar lainnya) tumbuh tidak
menggantikan gigi susu, sedangkan gigi lainnya, geraham kecil, taring, dan seri
akan tumbuh menggantikan gigi pendahulunya (gigi susu).

BANYAK kasus menunjukkan bahwa orang tua sering kecolongan karena tidak
mengetahui gigi putra-putrinya sudah rusak parah. Padahal, gigi yang
bersangkutan merupakan gigi tetap. Selain itu, letak gigi-geligi secara
keseluruhan tidak beraturan sehingga mengganggu bukan hanya secara estetika,
tetapi juga fungsinya.

Sebagai patokan utama, ketika anak mulai masuk TK, anak perlu lebih
diperhatikan secara intensif. Usia 5,5-11 tahun adalah periode gigi campur. Gigi
kelihatan tidak beraturan karena berada pada masa peralihan saat tanggalnya
gigi susu dan saat tumbuhnya gigi tetap. Usia ini dianggap rawan dan penentu.
Kelainan gigi-geligi bisa terdeteksi saat ini yang juga merupakan saat yang tepat
untuk mengoreksinya.

Sesungguhnya, hal ini tidak perlu dikhawatirkan sejauh rahang cukup
menampung semua gigi yang tumbuh. Bila ada gigi yang nakal tumbuhnya,
biasanya masih bisa ditangani tanpa perlu bantuan alat. Si anak dianjurkan untuk
mengembalikan posisi gigi ke posisi gigi semula dengan bantuan lidahnya.

Namun, bila posisi gigi mengganggu sedemikian rupa, baik untuk fungsi maupun
estetika secara serius, inilah saat yang tepat untuk mengaturnya dengan
perawatan pengawatan (orthodonti). Seusia anak-anak masih memungkinkan
untuk dilakukan perawatan secara maksimal mengingat tulang anak-anak masih
dalam periode pertumbuhan sehingga masih bisa dibentuk dan diarahkan.
Dengan demkian, kemungkinan keberhasilannya lebih besar.

Kapan mesti dicabut?

Anak-anak belum mampu merawat gigi-geliginya secara maksimal dan tentunya
peran orang tua sangat menentukan. Begitu gigi susu menunjukkan gejala mulai
tumbuh, saat itu juga harus mulai diperhatikan.

Ketika gigi susu telah tumbuh dan sementara si anak masih minum ASI ataupun
susu botol, jangan lupa untuk membersihkan giginya dengan cara mengusapnya
dengan kain atau tisu yang telah dibasahi air ketika dia akan tidur. Email gigi
susu lebih tipis dibandingkan gigi tetap karena itu tidak mengherankan bila gigi
anak-anak sangat mudah mengalami karies. Apabila membiarkan mereka tertidur
dalam keadaan rongga mulut terdapat sisa-sisa susu atau makanan, hal ini akan
ikut memperparah keadaan.

Anak-anak harus dibiasakan menyikat giginya secara benar dan teratur sejak
dini. Selain itu, akan sangat bijaksana jika mulai mengenalkannya dengan dokter
gigi meskipun tidak mengalami kerusakan atau kelainan apa-apa. Bahkan,
kedatangannya pertama kali tidak diapa-apakan, suasana keramahtamahan akan
membuatnya bersahabat dengan dokter gigi, dan segala pernik-perniknya. Hal
ini akan membuat si anak merasa nyaman sehingga kelak tidak mengalami
kesulitan bila harus melakukan perawatan. Kesan trauma bisa timbul bila anak
dibawa ke dokter gigi dalam kondisi kesakitan serta dipaksa melakukan
perawatan yang justru akan membuatnya kapok.

Gigi susu harus dicabut bila sudah terjadi resorbsi akar gigi susu oleh gigi tetap di
bawahnya yang akan tumbuh. Biasanya ditandai dengan kegoyahan gigi.
Pencabutan akan memberi kesempatan gigi tetap tersebut tumbuh dengan
leluasa.

Namun, meskipun gigi susu belum goyah sama sekali bahkan masih kuat
tertanam, sementara gigi tetap telah terlihat mulai tumbuh, gigi susu tersebut
juga harus segera dicabut. Kondisi seperti ini disebut presistensi (kesundulan).
Keterlambatan pencabutan mengakibatkan gigi akan tetap terhambat
pertumbuhannya. Sama halnya dengan pencabutan yang belum saatnya, kondisi
ini juga bisa mengakibatkan gigi-geligi susunannya tidak beraturan.

Sering dijumpai, gigi taring tetap atas seseorang, tumbuh tidak pada tempatnya
(gingsul=Jawa). Kondisi ini kadang bisa mempermanis penampilan seseorang.
Namun, bila letaknya sedemikian rupa sehingga mengganggu penampilan, hal ini
akan menimbulkan rasa risih.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa hal tersebut ternyata diakibatkan yang
bersangkutan masih menyimpan gigi taring-gigi susu di bawahnya. Hal ini bisa
terjadi karena bagi orang awam kadang tidak bisa membedakan secara pasti
antara gigi susu dan gigi tetap karena tidak mengalami kegoyahan dan dianggap
gigi tetap sehingga disimpan lalu menghalangi gigi taring yang akan tumbuh.
Dengan demikian, akan sangat membantu bila orang tua bisa membedakan gigi
susu dengan gigi tetap. Secara sepintas, gigi susu bisa dibedakan dengan gigi
tetap karena warnanya lebih putih, bentuknya lebih kecil, dan permukaannya
cenderung menguncup.