Anda di halaman 1dari 67

1

BAB I

PENDAHULUAN

Klimatologi adalah ilmu yang membahas dan menerangkan tentang iklim,


bagaimana iklim dapat berbeda pada suatu tempat dengan tempat lainnya dan
bagaimana kaitan antara iklim dan manusia. Pengukuran iklim sangat dipengaruhi
oleh alat-alat di bidang klimatologi. Bidang pertanian merupakan bidang yang
sangat dipengaruhi dan tergantung dengan kondisi iklim. Jenis dan sifat iklim
dapat menentukkan jenis tanaman yang tumbuh pada suatu daerah tertentu serta
dapat mempengaruhi jumlah produksinya. Seiring dengan dengan semakin
berkembangnya isu pemanasan global dan akibatnya pada perubahan iklim,
membuat sektor pertanian begitu terpukul, para petani begitu susah untuk
merencanakan masa tanam dan masa panen. Lembaga yang menangani masalah
cuaca dan iklim di Indonesia yaitu Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika
(BMKG).
Tujuan dari praktikum ini untuk mengenal dan mengetahui alat-alat
klimatologi, bagian-bagiannya dan fungsinya. Manfaat dari praktikum klimatologi
ini yaitu untuk mempermudah dalam menelaah fungsi alat-alat klimatologi yang
diperlukan sehingga dapat meningkatkan ketepatan dalam peramalan yang
akhirnya dapat menyediakan informasi iklim yang lengkap dan akurat.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Alat-alat Meteorologi


2

Sifat-sifat alat-alat meteorologi atau klimatologi pada pokoknya sama


dengan alat-alat ilmiah lainnya yang digunakan untuk penelitian didalam
laboratorium, misalnya bersifat peka dan teliti. Perbedaannya terletak pada
penempatannya dan para pemakainya. Alat-alat laboratorium umumnya dipakai
pada ruang tertutup, terlindung dari hujan dan debu-debu, angin dan lain
sebagainya serta digunakan oleh observer. Dengan demikian sifat alat-alat
meteorologi disesuaikan dengan tempat pemasangannya dan para petugas yang
menggunakan (Budairi, 2010). Alat-alat meteorologi yang ada di Stasiun
Meteorologi antara lain alat pengukur curah hujan (Ombrometer), alat pengukur
suhu udara (Termometer Biasa, Termometer Maksimum, Termometer Minimum,
dan Termometer Maximum-Minimum), alat pengukur suhu air (Termometer
Maksimum-Minimum Permukaan Air), alat pengukur panjang penyinaran
matahari (Solarimeter tipe Combell Stokes), alat pengukur suhu tanah
(Termometer Tanah), dan alat pengukur kecepatan angin (Anemometer). Stasiun
meteorologi mengadakan contoh penginderaan setiap 30 detik dan mengirimkan
kutipan statistik sehingga dapat menghasilkan kira-kira 20 nilai dari hasil rekaman
untuk penyimpanan akhir disetiap interval keluaran (Fontain, 2002).

2.1.1. Gun Bellani

Gun Bellani merupakan alat yang digunakan untuk mengukur intensitas


atau pencatat radiasi matahari. Gun Bellani berfungsi untuk mengukur intensitas
penyinaran matahari (Wolenwerf, 2013). Prinsip alat adalah menangkap radiasi
pada benda berbentuk bola sensor. Panas yang timbul akan menguapkan zat cair
dalam bola hitam. Ruang uap zat cair berhubungan dengan tabung kondensasi.
Uap zat cair yang timbul akan dikondensasi dalam tabung berbentuk buret yang
berskala. Banyaknya air kondensasi sebanding dengan radiasi surya diterima oleh
sensor dalam sehari. Pengukuran dilakukan sekali dalam jangka waktu 24 jam,
yaitu pada pagi hari dibandingkan dengan alat yang pertama hasilnya lebih kasar
(Pangestu, 2014).

2.1.2. Actinography bimetal


3

Actinograf adalah alat otomatis yang mengukur setiap saat pada siang hari
radiasi surya yang jatuh ke alat. Actinography bimetal berfungsi untuk mengatur
radiasi sinar matahari (Gifary, 2013). Actinography bimetal berperekam atau
otomatis mengukur setiap saat pada siang hari radiasi surya yang jatuh ke alat.
Sensor atau yang peka bila kena sinar surya terdiri atas bimetal (dwilogam)
berwarna hitam mudah menyerap radiasi surya. Panas karena radiasi yang diserap
ini membuat bimetal melengkung. Besarnya lengkungan sebanding radiasi yang
diterima sensor. Lengkungan ini disampaikan secara mekanis ke jarum penulis di
atas pias yang berputar menurut waktu. Hasil rekaman sehari ini berbentuk grafik.
Luas grafik/integral dari grafik sebanding dengan jumlah radiasi surya yang
ditangkap oleh sensor selama sehari Actinograph Bimetal memiliki bagian-bagian
yang terdiri dari sensor, glass, lempengan pengatur bimetal, tangkai dan pena
pencatat. Komponen-komponen utama dari actinograph bimetal adalah sensor
yang terdiri dari 2 strip bimetal yang bercat hitam dan putih, glass dome, plat
pengatur bimetal, pengatur bimetal, tangkai dan pena pencatat, pengatur atau
perata rata air, bagian dasar serta penutup atau cove (Wheler, 2001).

2.1.3. Campbell Stokes

Campbell Stokes digunakan untuk mengukur lamanya penyinaran


matahari. Cahaya matahari akan dipusatkan oleh bola kaca kemudian membakar
kertas pias, bekas kertas yang terbakar menunjukkan lamanya penyinaran
matahari. Campbell Stokes digunakan untuk mengukur durasi atau lamanya
penyinaran matahari yang cerah dan terdiri dari sebuah bola pejal yang terbuat
dari gelas (Fairuz, 2010). Prinsip alat adalah pembakaran pias. Panjang pias yang
terbakar dinyatakan dalam jam. Hanya pada keadaan matahari terang saja pias
terbakar, sehingga yang terukur adalah lama penyinaran surya terang. Pias ditaruh
pada titik api bola lensa. Pembakaran pias terlihat seperti garis lurus di bawah
bola lensa. Kertas pias adalah kertas khusus yang tak mudah terbakar kecuali pada
titik api lensa. Alat dipasang di tempat terbuka, tak ada halangan ke arah Timur
matahari terbit dan ke barat matahari terbenam. Kemiringan sumbu bola lensa
disesuaikan dengan letak lintang setempat. Posisi alat tak berubah sepanjang
4

waktu hanya pemakaian pias dapat diganti-ganti setiap hari. Ada 3 tipe pias yang
digunakan pada alat yang sama: Pias waktu matahari di ekuator, pias waktu
matahari di utara dan pias waktu matahari di selatan (Wilby, 2000).

2.1.4. Termohigrograph

Termohigrograph menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk


mengukur kelembapan udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara.
Kedua sensor dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan
pena penulis di atas kertas pias yang berputar menurut waktu (Tjasyono, 2004).
Termohigrograf berfungsi untuk mengukur suhu dan kelembaban secara mekanis.
Alat dapat mencatat suhu dan kelembapan setiap waktu secara otomatis pada pias.
Melalui suatu koreksi dengan psikrometer kelembapan udara dari saat ke saat
tertentu (William, 2013).

2.1.5. Termometer Tanah Berumput dan Gundul

Termometer Tanah Berumput dan Gundul adalah alat klimatologi yang


berfungsi untuk mengukur suhu tanah. Pengamatan suhu tanah dilakukan pada
kedalaman 0, 5 , 10, 20 , 50 , 100 cm (Lakitan, 2002). Suhu tanah terkait dengan
perubahan lingkungan dimana tanah berada. Perubahan suhu tanah dapat
dipengaruhi oleh proses-proses, aktivitas mikroorganisme seperti proses
penguraian, fermentasi, pelapukan, perubahan kadar air, kadar udara, jenis
mineral, faktor biologi, dan perubahan fisik biologi lainnya (Gunarsih, 2004).

2.1.6. Psychrometer Standar

Psychrometer adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengukur


suhu suhu udara dan kelembaban udara. Alat ini ditempatkan di dalam semacam
sangkar / kurungan berbahan kayu yang desainya sudah diatur sedemikian rupa.
Cara kerja alat ini adalah dengan mengembang dan mengkerutnya rambut karena
kelembaban udara yang berbeda akan menggerakkan sistem tuas sehingga pena
kelembaban udara bergerak dan menggores kertas grafis. Cara pemasangan alat
5

ini dengan menggunakan protable ataupun dipasang pada sangkat meteorologi.


Psikrometer berfungsi untuk mengukur kelembaban udara (Hendayana, 2013).
Psikrometer ini terdiri dari dua termometer yang identik dan letaknya saling
berdekatan. Termometer yang satu tidak diapa-apakan, sedangkan termometer
yang satunya dibalut dengan kain tipis yang selalu basah. Psikrometer ini
diletakkan di dalam sangkar meterologi (Bayong, 2004).

2.1.7. Barometer

Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan udara dengan satuan


milibar (mb). Tabung berisi air raksa dilengkapi thermometer untuk mengetahui
suhu udara dalam ruang. Alat ini tidak boleh terkena sinar matahari dan angin
secara langsung dipasang tegak lurus pada dinding yang kuat. Tinggi bejana 1 m
dari lantai. Barometer yang banyak digunakan, yaitu menggunakan kolom air
raksa (Lakitan, 2002). Tinggi kolom air raksa menujukkan besarnya tekanan
udara. Ruangan diatas kolom air raksa dalam tabung dapat dikatakan hampa,
perbedaan tinggi antara permukaan atas dan bawah dari zat cair itu adalah
tekanan. Tekanan udara bertambah, sebagian air raksa dalam bejana akan masuk
kedalam tabung, permukaan air raksa dalam tabung naik dan didalam bejana
turun, perbedaan tinggi kedua permukaan menjadi lebih besar (Hendayana, 2013).
2.1.8. Cup Anemometer

Cup Anemometer adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengukur


kecepatan rata-rata angin. Mengetahui kecepatan rata-rata angin pada periode
waktu tertentu dilakukan dengan mengurangi hasil pembacaan pada angka counter
saat pengamatan dengan hasil pembacaan sebelumnya, kemudian dibagi dengan
periode waktu pengamatan. Cup Counter Anemometer berbentuk mangkuk ringan
yang dipasang di atas sebuah rotor yang bergerak atau digerakkan oleh angin.
Kecepatan angin dapat diukur dengan anemometer mangkok (Hendayana, 2013).
Tiga buah mangkok akan berputar jika tertiup angin. Semakin besar kekuatan
angin semakin cepat putarannya. Cara kerja cup anemometer dengan adanya
6

baling-baling/mangkok yang berputar, mengukur banyaknya baling-baling


berputar melalui alat mekanik dapat diketahui kecepatan anginnya (Umar, 2010).

2.1.9. Barograph

Barograph adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mencatat tekanan


udara otomatis. Satuanya milibar (mb). Barograph umummnya menggunakan
Barometer Aneroid (Hendayana, 2013). Sensor menggunakan tabung
hampa udara/ kotak logam. Tekanan atmosfer berubah menjadikan volume kotak
berubah, perubahan volume kotak logam di hubungkan dengan tangki pena dan
menggores di pias. Barograph umumnya menggunakan prinsip Barometer
Aneroid, dengan menghubungkan beberapa kapsul/ cell aneroid dengan sebuah
pena untuk membuat track pada kerta pias, tingkat keakuratan dari barograph,
salah satunya ditentukan oleh jumlah kapsul/ cell aneroid yang digunakan,
semakin banyak kapsul aneroid yang digunakan maka semakin peka barograph
tersebut terhadap perubahan tekanan udara (Handoko, 2005).

2.1.10. Anemometer

Anemometer adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mencatat


kecepatan angin. Mangkuk ringan yang dipasang di atas sebuah rotor yang
bergerak atau digerakkan oleh angin. Kecepatan Angin: Knots (1 Knots sebesar
1.8 Km/Jam) dengan keterangan arah darimana angin berhembus. Cara kerja
anemometer memasang alat di tempat terbuka sehingga angin dapat berhembus
langsung tanpa halangan. Angin yang berhembus menggerakkan mangkuk
anemometer. Besarnya kecepatan angin akan tertera dalam anemometer dengan
satuan m/s (Hendayana, 2013). Pergerakan udara atau angin umumnya diukur
dengan alat cup counter anemometer, yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu:
cup propeller sensor untuk kecepatan angin dan vane/ weather cock sensor untuk
7

arah angin. Anemometer dipasang bersama panah angin di atas tiang dengan
ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir. Umumnya
anemometer dipasang pada tiang penyangga yang terbuat dari besi atau sejenisnya
yang terpasang kokoh pada tempatnya, posisi tiang penyangga terpasang benar
benar tegak lurus (vertikal) dengan ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan
terhadap sambaran petir (Lakitan, 2002).

2.1.11. Open Pan Evaporimeter

Open Pan Evaporimeter adalah alat klimtologi yang berfungsi untuk


mengukur penguapan air langsung. Satuanya milimeter (mm). Open Pan
Evaporimeter atau Tangki Penguapan digunakan untuk banyaknya penguapan air
dengan menghitung perubahan air saat awal dan setelah penguapan. Tangki
penguapan berguna untuk mengukur penguapan air (Hendayana, 2013). Tangki
penguapan terdiri dari sebuah tangki yang berbentuk silinder dengan diameter 120
cm, tingginya 25 cm dan skala untuk mengukur ketinggian air. Tangki ini dibuat
dari pelat logam. Cara kerja alat ini menggunakan metode dengan mengukur
perubahan ketinggian permukaan air awal dan setelah penguapan yang terdapat di
dalam tanki. Panci besar tempat air ini biasanya memiliki diameter 122 cm (4
kaki) dan tingginya 25,4 cm (10 inci). Besarnya penguapan tergantung pada
temperatur, kelembaban, tekanan udara, dan kecepatan angin (Bayong, 2004).

2.1.12. Ombrometer

Ombrometer adalah alat pengukur curah hujan. Alat ini mengukur curah
hujan secara manual. Pemasangan ombrometer ada pada tempat terbuka, apabila
terjadi hujan air akan masuk melalui corong pada bagian atas ombrometer yang
akan ditampung dalam tabung (Hendayana, 2013). Banyaknya air hujan yang
tertampung pada gelas ukur menunjukkan besarnya hujan dalam satuan mm. Tiap
100 cc air hujan sama dengan 10 mm curah hujan. Penakar hujan OBS atau
penakar cuarah hujan biasa adalah manual, jumlah air hujan yang tertampung
diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam satuan tinggi atau gelas
8

ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas penampangnya adalah 100 cm
sehingga dihasilkan satuan mm (Umar, 2010).

2.1.13. Tipe Helman

Tipe Helman adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mencatat curah
hujan otomatis. Satuan milimeter (mm). Cara kerjanya yaitu setiap terjadi hujan
air akan masuk ke corong kemudian disalurkan ke pelampung sehingga
membuat pena naik dan membuat grafik pada kertas pias. Jika curah hujan
mencapai 10 mm/lebih maka pena menunjukkan angka 10 mm sebagai angka
maksimal, kemudian air akan tumpah dari pelampung melalui pipa hevel dan pena
akan turun lagi ke angka nol (Lakitan, 2002). Tipe Hellman termasuk penakar
hujan yang dapat mencatat sendiri. Hujan turun, air hujan masuk melalui corong,
kemudian terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan
pelampung serta tangkainya terangkat (naik keatas). Tangkai pelampung terdapat
tongkat pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung. Gerakkan
pena dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam. Tipe Hellman
terdapat sebuah silinder jam sebagai tempat pemasangan pias, sehingga akan
dapat diketahui curah hujan maksimum dan minimum serta waktu terjadinya, jika
gerakan pena mencapai skala 10 mm pada pias maka secara otomatis air akan
turun melalui pipa siphon dan jatuh kedalam bejana plastic (Gunarsih, 2004). Air
dalam tabung terkuras habis sehingga tangkai pena turut turun sampai pena
menunjuk skala nol, jika hujan masih turun pena akan naik lagi, demikian
seterusnya.

2.1.14. Automatic Rain Gauge (Arg)

Automatic Rain Gauge (Arg) berfungsi untuk pengukuran intensitas curah


hujan secara otomatis. Prinsipnya, alat ini sama seperti penangkar hujan lainnya
namun tidak memakai tabung penangkar. Cara kerja alat ini adalah air hujan turun
melewati corong dan data akan terhitung otomatis, data akan langsung dikirim ke
pusat. Data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun penakar hujan
9

yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili suatu wilayah
(Hendyana, 2013). Pada saat terjadi hujan, air hujan yang jatuh akan masuak
kedalam mulut corong kermudian diteruskan dalam saluran pelampung. Lalu data
akan tercatat pada monitor , lalu data akan dikirim pada computer. Automatic
Rain Gauge berfungsi untuk menghitung berapa besar dan lamanya curah hujan.
Automatic Rain Gauge terdapat memori didalam alat tersebut yang mencatat
berapa lama dan besarnya curah hujan dan dapat dibaca melalui computer
(Handoyo, 2008).

2.1.15. Automatic Rain Water Sampler

Automatic Rain Water Sampler adalah alat klimatologi yang berfungsi


untuk mengambil sample air hujan. Cara kerjanya, jika terjadi hujan maka
sensor akan memberikan trigger kepada sistem kontrol untuk membuka tutup
tempat penampungan air yang digerakkan oleh motor listrik, selama hujan
penutup tersebut tetap terbuka kemudian setelah hujan berhenti maka
penutup akan bergerak ke posisi semula posisi semula sehingga air hujan yang di
tempat penampungan tak terkena kotoran lain karena tertutup rapat. Faktor yang
mempengaruhi kualitas air hujan adalah tingkat keasaman. Salah satu faktor
kualitas air hujan adalah pH (Lakitan, 2002). Dengan alat ini juga air hujan tidak
mudah tercemar karena apabila air hujan sudah sampai di permukaan bumi air
hujan tersebut sudah tidak murni lagi karena sudah tercampur dengan debu.
Keadaan murni, air hujan sangat bersih, tetapi setelah mencapai permukaan bumi,
air hujan tidak murni lagi karena ada pengotoran udara yang disebabkan oleh
pengotoran industri atau debu dan lain sebagainya (Gunarsih, 2004).

2.1.16. High Volume Sampler


High Volume Sampler adalah alat pengukur kualitas udara untuk
mengetahui konsentrasi zat pencemar yang ada dalam udara. Cara kerjanya adalah
udara yang mengandung partikel debu dihisap mengalir melalui kertas
filter dengan menggunakan motor. Debu akan menempel pada kertas filter
yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan kertas filter tersebut ditimbang
sebelum dan sesudah sampling, di samping itu dicatat flowrate dan waktu
10

lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi debu tersebut (Bayong, 2004).


Pengambilan sampling nya dilakukan dalam waktu 24 jam secara digital. Alat
pengukur ini bisa menyaring debu yang disebabkan oleh zat-zat kimia yang
berasal dari kendaraan bermotor seperti karbondioksida yang bisa menyebabkan
kualitas udara menurun (Gunarsih, 2004).

2.1.17. Sangkar Meteorologi


Sangkar Meteorologi adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk
menyimpan alat-alat meterologi. Alat-alat yang ada didalamya adalah psycrometer
standard dan Termohigrograph. Alat-alat yang terdapat didalamnya terlindung dari
radiasi matahari langsung, hujan dan debu. Sangkar Meteorologi dibuat dari kayu
yang baik (jati/ulin) sehingga tahan terhadap perubahan cuaca selain itu Sangkar
dicat putih supaya tidak banyak menyerap radiasi panas matahari (Handoyo,
2008). Sangka meteorologi juga dipasang dengan pintu membuka/ menghadap
Utara-Selatan, sehingga alat-alat yang terdapat didalamnya tidak terkena radiasi
matahari langsung sepanjang tahun. Sangkar meteorologi berfungsi sebagai
tempat alat-alat pengukur cuaca tertentu, agar tehindar dari sinar matahari
langsung dan pengaruh lingkungan (Hendayana, 2013).

2.1.18. AWS (Automatic Weather Station)

AWS adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengukur cuaca secara
otomatis. AWS merupakan suatu peralatan atau sistem terpadu yang di disain
untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar pengamatan
menjadi lebih mudah (Ratri, 2005). Prinsip kerja AWS merupakan desain yang
sengaja dibuat untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar
pengamatan menjadi lebih mudah. AWS ini umumnya dilengkapi dengan sensor,
RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian
lainnya (Badai, 2009). Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur,
arah dan kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer,
net radiometer. Hal ini juga didukung oleh Rayana (2009) yang menyatakan
bahwa RTU (Remote Terminal Unit) terdiri atas data logger dan backup power,
yang berfungsi sebagai terminal pengumpulan data cuaca dari sensor tersebut dan
11

di transmisikan ke unit pengumpulan data pada komputer. Masing-masing


parameter cuaca dapat ditampilkan melalui LED (Light Emiting Diode) Display,
sehingga para pengguna dapat mengamati cuaca saat itu (present weather) dengan
mudah.
12

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Klimatologi dengan materi alat-alat klimatologi dilaksanakan


pada Hari Kamis Tanggal 22 Oktober 2015 pada pukul 08.00 10.00 WIB di
Kantor Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jalan Siliwangi
No. 291, Semarang

3.1. Materi

Materi yang digunakan dalam alat-alat klimatologi adalah mengamati


nama dan cara kerja alat-alat klimatologi diantaranya alat untuk mencatat
intensitas cahaya matahari disebut Gun Bellani, untuk mengukur atau mencatat
intensitas radiasi matahari secara otomatis bernama Actinograph Bimetal, alat
untuk mencatat lamanya penyinaran matahari yaitu Campbell Stokes, untuk
mengukur suhu udara disebut Psychrometer Standar, untuk mengukur suhu tanah
di tanah yang gundul atau berumput dinamakan Thermometer Tanah gundul dan
berumput, alat untuk mengukur tekanan udara adalah Barometer, alat untuk
mengukur kecepatan rata-rata angin disebut Cup Anemometer, alat untuk
mengukur tekanan udara secara otomatis bernama Barograph, alat untuk
mengukur kecepetan angin disebut Anemometer, alat untuk mencatat suhu udara
dan kelembapan udara bernama Thermohigrograph, alat untuk mengukur
penguapan air secara langsung adalah Open Pan Evaporimeter, alat untuk
mengukur curah hujan ada tiga jenis yaitu Pecakar Hujan OBS (Ombrometer);
Pencakar Hujan Otomatis (Hellman); Automatic Rain Gauge, alat untuk
mengukur kualitas curah hujan disebut Automatic Rain Water Sampler dan alat
untuk mencatat kualitas udara yaitu High Volume Sampler, alat untuk menyimpan
alat-alat meteorology disebut Sangkar Meteorologi, dan alat pengukur cuaca
secara otomatis disebut AWS (Automatic Weather Station).

3.2. Metode
13

Metode yang dilakukan dalam Praktikum Klimatologi alat klimatologi


adalah mendengarkan penjelasan dari perwakilan karyawan BMKG tentang
pengenalan alat-alat yang terdapat di taman BMKG, mahasiswa melihat atau
mengamati langsung alat-alat yang terdapat di taman alat BMKG, dan memfoto
alat-alat yang ada BMKG serta mencatat jenis dan cara kerja alat-alat klimatologi
yang telah diamati.
14

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Gun Bellani

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Ilustrasi 1. Gun Bellani

Gun Bellani merupakan alat yang digunakan untuk mengukur intensitas


atau pencatat radiasi matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Wolenwerf (2013)
yang menyatakan bahwa Gun Bellani adalah alat yang berfungsi untuk mengukur
intensitas penyinaran matahari. Prinsip alat adalah menangkap radiasi pada benda
berbentuk bola sensor. Panas yang timbul akan menguapkan zat cair dalam bola
hitam. Ruang uap zat cair berhubungan dengan tabung kondensasi. Uap zat cair
yang timbul akan dikondensasi dalam tabung berbentuk buret yang berskala.
Banyaknya air kondensasi sebanding dengan radiasi surya diterima oleh sensor
dalam sehari. Pengukuran dilakukan sekali dalam 24 jam, yaitu pada pagi hari
dibandingkan dengan alat yang pertama hasilnya lebih kasar. Hal ini sesuai
dengan pendapat Pangestu (2014) yang menyatakan bahwa prinsip kerja Gun
Bellani adalah menangkap radiasi pada benda berbentuk bola sensor, panas yang
timbul akan menguapkan zat cair dalam bola hitam.
15

4.2. Actinography Bimetal

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Ilustrasi 2. Actinography bimetal

Actinograf adalah alat otomatis yang mengukur setiap saat pada siang hari
radiasi surya yang jatuh ke alat. Hal ini sesuai dengan pendapat Gifary (2013)
yang menyatakan bahwa aktinigraf bimetal berfungsi untuk mengatur radiasi sinar
matahari. Actinography bimetal berperekam atau otomatis mengukur setiap saat
pada siang hari radiasi surya yang jatuh ke alat. Sensor atau yang peka bila kena
sinar surya terdiri atas bimetal (dwilogam) berwarna hitam mudah menyerap
radiasi surya. Panas karena radiasi yang diserap ini membuat bimetal melengkung.
Besarnya lengkungan sebanding radiasi yang diterima sensor. Lengkungan ini
disampaikan secara mekanis ke jarum penulis di atas pias yang berputar menurut
waktu. Hasil rekaman sehari ini berbentuk grafik. Luas grafik/integral dari grafik
sebanding dengan jumlah radiasi surya yang ditangkap oleh sensor selama sehari
Actinograph Bimetal memiliki bagian-bagian yang terdiri dari sensor, glass,
lempengan pengatur bimetal, tangkai dan pena pencatat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Wheler (2001) yang menyatakan bahwa komponen-komponen utama
dari actinograph bimetal adalah sensor yang terdiri dari 2 strip bimetal yang bercat
hitam dan putih, glass dome, plat pengatur bimetal, pengatur bimetal, tangkai dan
pena pencatat, pengatur atau perata rata air, bagian dasar serta penutup atau cover.
16

4.3. Campbell Stokes

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi 2015


Ilustrasi 3. Campbell Stokes

Campbell Stokes digunakan untuk mengukur lamanya penyinaran


matahari. Cahaya matahari akan dipusatkan oleh bola kaca kemudian membakar
kertas pias, bekas kertas yang terbakar menunjukkan lamanya penyinaran
matahari. Hal ini sesuai pendapat Fairuz (2010) yang bahwa Campbell-Stokes
digunakan untuk mengukur durasi atau lamanya penyinaran matahari yang cerah
dan terdiri dari sebuah bola pejal yang terbuat dari gelas. Prinsip alat adalah
pembakaran pias. Panjang pias yang terbakar dinyatakan dalam jam. Hanya pada
keadaan matahari terang saja pias terbakar, sehingga yang terukur adalah lama
penyinaran surya terang. Pias ditaruh pada titik api bola lensa. Pembakaran pias
terlihat seperti garis lurus di bawah bola lensa. Kertas pias adalah kertas khusus
yang tak mudah terbakar kecuali pada titik api lensa. Alat dipasang di tempat
terbuka, tak ada halangan ke arah Timur matahari terbit dan ke barat matahari
terbenam. Kemiringan sumbu bola lensa disesuaikan dengan letak lintang
setempat. Posisi alat tak berubah sepanjang waktu hanya pemakaian pias dapat
diganti-ganti setiap hari. Ada 3 tipe pias yang digunakan pada alat yang sama:
Pias waktu matahari di ekuator, pias waktu matahari di utara dan pias waktu
17

matahari di selatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Wilby (2000) yang
menyatakan bahwa campbell stokes bekerja dengan pembakaran pias, panjang
pias yang terbakar dinyatakan dalam jam dan hanya pada keadaan matahari terang
saja pias bisa terbakar.

4.4. Termohigrograph

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Ilustrasi 4. Termohigrograph

Menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembapan


udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Kedua sensor
dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan pena penulis di
atas kertas pias yang berputar menurut waktu. Hal ini sesuai dengan pendapat
Tjasyono (2004) yang menyatakan bahwa termohigrograf memiliki prinsip kerja
dengan sensor rambut untuk mengukur kelembaban udara dan menggunakan
bimetal untuk sensor suhu udara). Hal ini didukung oleh pendapat William (2013)
yang menyatakan bahwa termohigrograf berfungsi untuk mengukur suhu dan
kelembaban secara mekanis. Alat dapat mencatat suhu dan kelembapan setiap
waktu secara otomatis pada pias. Melalui suatu koreksi dengan psikrometer
kelembapan udara dari saat ke saat tertentu.
18

4.5. Termometer Tanah Berumput dan Gundul


Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun
Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 5. Termometer Tanah Berumput dan Gundul

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Termometer Tanah Berumput


dan Gundul adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengukur suhu
tanah. Pengamatan suhu tanah dilakukan pada kedalaman 0, 5 , 10, 20 , 50 , 100
cm. Hal ini menunjukkan bahwa kedalaman tanah sangat mempengaruhi besarnya
suhu tanah. Semakin kedalam lapisan tanah maka suhu tanah akan semakin
rendah dikarenakan pada permukaan tanah menyerap radiasi matahari secara
langsung sedangkan di lapisan tanah yang lebih dalam akan semakin kecil suhu
tanahnya tinggi kelembaban udaranya sehingga mengandung kadar air yang
banyak. Hal ini sesuai dengan literatur Lakitan (2002) yang menyatakan bahwa
suhu tanah juga akan dipengaruhi oleh jumlah serapan radiasi matahari oleh
permukaan bumi, apabila tanah tersebut dekat dengan permukaan maka suhunya
rendah disebabkan pada kedalaman tersebut mengandung kadar air yang banyak.
Kartasapoetra (2005) menambahkan bahwa pengamatan suhu tanah pada
kedalaman yang berbeda karena adanya faktor pengaruh suhu tanah yaitu faktor
luar dan faktor dalam, yang dimaksud dengan faktor luar yaitu radiasi matahari,
awan, curah hujan, angin, kelembapan udara sedangkan faktor dalamnya yaitu
19

faktor tanah, struktur tanah, kadar air tanah, kandungan bahan organik, dan warna
tanah.

4.6. Psychrometer Standar


Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun
Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 6. Psychrometer Standar

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Psychrometer adalah alat


klimatologi yang berfungsi untuk mengukur suhu udara dan kelembaban udara.
Alat ini ditempatkan di dalam semacam sangkar atau kurungan berbahan kayu
yang desainya sudah diatur sedemikian rupa. Komponen alat ini terdiri dari
thermometer bola basah (BB) untuk mengukur kelembaban udara (%).
Thermometer bola lering (BK) untuk mengukur suhu udara (C). Thermometer
maksimum muai ruang raksa (C). Thermometer minimum muai ruang alkohol
(C). Piche evaporimeter. Mengukur penguapan air dalam ruangan (mm). Cara
kerja alat ini adalah dengan mengembang dan mengkerutnya rambut karena
kelembaban udara yang berbeda akan menggerakkan sistem tuas sehingga pena
kelembaban udara bergerak dan menggores kertas grafis. Cara pemasangan alat
ini dengan menggunakan protabel ataupun dipasang pada sangkar meteorologi.
Hal ini sesuai dengan pendapat Hendayana (2013) bahwa Psikrometer berfungsi
untuk mengukur kelembaban udara. Psikrometer ini terdiri dari dua termometer
yang identik dan letaknya saling berdekatan. Termometer yang satu tidak diapa-
20

apakan, sedangkan termometer yang satunya dibalut dengan kain tipis yang selalu
basah. Psikrometer ini diletakkan di dalam sangkar meterologi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Bayong (2004) yang menyatakan bahwa Psikometer ini terdiri
dari termometer bola kering dan bola basah dan alat ini ditempatkan dalam
sangkar meteorologi dalam kedudukan berdiri.

4.7. Barometer
Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun
Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 7. Barometer

Berdasarkan praktikum Barometer adalah alat untuk mengukur tekanan


udara . Satuan milibar (mb). Tabung berisi air raksa dilengkapi thermometer untuk
mengetahui suhu udara dalam ruang. Alat ini tidak boleh terkena sinar matahari
dan angin secara langsung dipasang tegak lurus pada dinding yang kuat. Tinggi
bejana 1 m dari lantai. Hal ini sesuai dengan pendapat Lakitan (2002) bahwa
barometer yang banyak digunakan, yaitu menggunakan kolom air raksa. Tinggi
kolom air raksa menujukkan besarnya tekanan udara. Ruangan diatas kolom air
raksa dalam tabung dapat dikatakan hampa, perbedaan tinggi antara permukaan
atas dan bawah dari zat cair itu adalah tekanan. Hendayana (2013) menambahkan
bahwa jika tekanan udara bertambah, sebagian dari air raksa dalam bejana akan
21

masuk kedalam tabung, permukaan air raksa dalam tabung naik dan didalam
bejana turun, maka perbedaan tinggi kedua permukaan menjadi lebih besar.

4.8. Cup Anemometer

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 8. Cup Anemometer

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Cup Anemometer adalah alat


klimatologi yang berfungsi untuk mengukur kecepatan rata-rata angin.
Mengetahui kecepatan rata-rata angin pada periode waktu tertentu dilakukan
dengan mengurangi hasil pembacaan pada angka counter saat pengamatan dengan
hasil pembacaan sebelumnya, kemudian dibagi dengan periode waktu
pengamatan. Cup Counter Anemometer berbentuk mangkuk ringan yang dipasang
di atas sebuah rotor yang bergerak atau digerakkan oleh angin. Hal ini sesuai
dengan pendapat Hendayana (2013) bahwa kecepatan angin dapat diukur dengan
anemometer mangkok. Tiga buah mangkok akan berputar jika tertiup angin.
Semakin besar kekuatan angin semakin cepat putarannya. Umar (2010)
menambahkan bahwa cara kerja cup anemometer dengan adanya baling-
baling/mangkok yang berputar, mengukur banyaknya baling-baling berputar
melalui alat mekanik dapat diketahui kecepatan anginnya.
22

4.9. Barograph

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 9. Barograph

Berdasarkan praktikum klimatologi menunjukkan bahwa Barograph


adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mencatat tekanan udara otomatis.
Satuanya milibar (mb). Menurut Hendayana (2013) menyatakan bahwa Barograph
umummnya menggunakan Barometer Aneroid. Sensor menggunakan tabung
hampa udara/ kotak logam. Tekanan atmosfer berubah menjadikan volume kotak
berubah, perubahan volume kotak logam di hubungkan dengan tangki pena dan
menggores di pias. Hal ini sesuai dengan pendapat Handoko (2005) bahwa
Barograph umumnya menggunakan prinsip Barometer Aneroid, dengan
menghubungkan beberapa kapsul/ cell aneroid dengan sebuah pena untuk
membuat track pada kerta pias, tingkat keakuratan dari barograph, salah satunya
ditentukan oleh jumlah kapsul/ cell aneroid yang digunakan, semakin banyak
kapsul aneroid yang digunakan maka semakin peka barograph tersebut terhadap
perubahan tekanan udara.

4.10. Anemometer
23

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 10. Anemometer

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Anemometer adalah alat


klimatologi yang berfungsi untuk mencatat kecepatan angin. Mangkuk ringan
yang dipasang di atas sebuah rotor yang bergerak atau digerakkan oleh angin.
Kecepatan Angin: Knots (1 Knots sebesar 1.8 Km/Jam) dengan keterangan arah
darimana angin berhembus. Cara kerja anemometer memasang alat di tempat
terbuka sehingga angin dapat berhembus langsung tanpa halangan. Angin yang
berhembus menggerakkan mangkuk anemometer. Menurut Hendayana (2013)
menyatakan bahwa besarnya kecepatan angin akan tertera dalam anemometer
dengan satuan m/s. Pergerakan udara atau angin umumnya diukur dengan alat cup
counter anemometer, yang didalamnya terdapat dua sensor, yaitu: cup propeller
sensor untuk kecepatan angin dan vane/ weather cock sensor untuk arah angin.
Anemometer dipasang bersama panah angin di atas tiang dengan ujung-ujung
runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir. Lakitan (2002)
menambahkan bahwa umumnya anemometer dipasang pada tiang penyangga
yang terbuat dari besi atau sejenisnya yang terpasang kokoh pada tempatnya,
posisi tiang penyangga terpasang benar benar tegak lurus (vertikal) dengan
ujung-ujung runcing yang membuatnya rawan terhadap sambaran petir.
24

4.11. Open Pan Evaporimeter

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 11. Open Pan Evaporimeter

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Open Pan Evaporimeter


adalah alat klimtologi yang berfungsi untuk mengukur penguapan air langsung.
Satuanya milimeter (mm). Open Pan Evaporimeter atau Tangki Penguapan
digunakan untuk banyaknya penguapan air dengan menghitung perubahan air saat
awal dan setelah penguapan. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendayana (2013)
bahwa tangki penguapan berguna untuk mengukur penguapan air. Tangki
penguapan terdiri dari sebuah tangki yang berbentuk silinder dengan diameter 120
cm, tingginya 25 cm dan skala untuk mengukur ketinggian air. Tangki ini dibuat
dari pelat logam. Cara kerja alat ini menggunakan metode dengan mengukur
perubahan ketinggian permukaan air awal dan setelah penguapan yang terdapat di
dalam tanki. Bayong (2004) menambahkan bahwa panci besar tempat air ini
biasanya memiliki diameter 122 cm (4 kaki) dan tingginya 25,4 cm (10 inci).
Besarnya penguapan tergantung pada temperatur, kelembaban, tekanan udara, dan
kecepatan angin.

4.12. Ombrometer
25

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 12. Ombrometer

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Ombrometer adalah alat


pengukur curah hujan. Pengamatan dilakukan setiap pukull 07.00 WIB.
Pengamatan dilakukan sekali dalam 24 jam yaitu pada pagi hari. Hujan yang
diukur pada pagi hari adalah hujan kemarin bukan hari ini. Cara kerja ombrometer
adalah pertama, permukaan mulut corong harus benar-benar horisontal dan
dipasang pada ketinggian 120 cm dari pemukaan tanah. Kedua, data curah hujan
harian didapat dengan membuka kran dan airnya ditampung dalam gelas penakar
yang bersatuan mm tinggi air. Alat ini mengukur curah hujan secara manual.
Menurut Hendayana (2013) pemasangan ombrometer ada pada tempat terbuka,
apabila terjadi hujan air akan masuk melalui corong pada bagian atas ombrometer
yang akan ditampung dalam tabung. Banyaknya air hujan yang tertampung pada
gelas ukur menunjukkan besarnya hujan dalam satuan mm. Tiap 100 cc air hujan
sama dengan 10 mm curah hujan. Hal ini diperkuat oleh pendapat Umar (2010)
bahwa penakar hujan OBS atau penakar cuarah hujan biasa adalah manual, jumlah
air hujan yang tertampung diukur dengan gelas ukur yang telah dikonversi dalam
satuan tinggi atau gelas ukur yang kemudian dibagi sepuluh karena luas
penampangnya adalah 100 cm sehingga dihasilkan satuan mm.
26

4.1.13. Tipe Hellman

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 13. Tipe Hellman

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Tipe Hellman adalah alat


klimatologi yang berfungsi untuk mencatat curah hujan otomatis. Satuan
milimeter (mm). Menurut Lakitan (2002) menyatakan bahwa cara kerja Tipe
27

Hellman adalah cara yang pertama setiap terjadi hujan air akan masuk ke corong
kemudian disalurkan ke pelampung sehingga membuat pena naik dan membuat
grafik pada kertas pias dan cara yang kedua jika curah hujan mencapai 10
mm/lebih maka pena menunjukkan angka 10 mm sebagai angka
maksimal, kemudian air akan tumpah dari pelampung melalui pipa hevel dan pena
akan turun lagi ke angka nol. Tipe Hellman termasuk penakar hujan yang dapat
mencatat sendiri. Hujan turun, air hujan masuk melalui corong, kemudian
terkumpul dalam tabung tempat pelampung. Air ini menyebabkan pelampung
serta tangkainya terangkat (naik keatas). Tangkai pelampung terdapat tongkat
pena yang gerakkannya selalu mengikuti tangkai pelampung. Gerakkan pena
dicatat pada pias yang ditakkan/ digulung pada silinder jam. Hal ini sesuai dengan
pendapat Gunarsih (2004) bahwa pada Tipe Hellman terdapat sebuah silinder jam
sebagai tempat pemasangan pias, sehingga akan dapat diketahui curah hujan
maksimum dan minimum serta waktu terjadinya, jika gerakan pena mencapai
skala 10 mm pada pias maka secara otomatis air akan turun melalui pipa siphon
dan jatuh kedalam bejana plastik. Air dalam tabung terkuras habis sehingga
tangkai pena turut turun sampai pena menunjuk skala nol, jika hujan masih turun
pena akan naik lagi, demikian seterusnya.

4.13. Automatic Rain Gauge

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:
28

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 14. Automatic Rain Gauge

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Automatic Rain Gauge


adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengukur curah hujan secara
otomatis. Kelebihan alat ini adalah pertama, dapat menampilkan jumlah data
hujan setiap menit, setiap jam dan atau setiap hari dan yang kedua dapat
mendownload data yang berada di memori logger sesuai kapasitas memori yang
disediakan di logger. Automatic Rain Gauge (Arg) berfungsi untuk pengukuran
intensitas curah hujan secara otomatis. Prinsipnya, alat ini sama seperti penangkar
hujan lainnya namun tidak memakai tabung penangkar. Cara kerja alat ini adalah
air hujan turun melewati corong dan data akan terhitung otomatis, data akan
langsung dikirim ke pusat. Hal ini sesuai dengan pendapat Hendayana (2013)
yang menyatakan bahwa data curah hujan diperoleh dari hasil pengukuran stasiun
penakar hujan yang ditempatkan pada suatu lokasi yang dianggap dapat mewakili
suatu wilayah. Air hujan yang jatuh akan masuk kedalam mulut corong
kermudian diteruskan dalam saluran pelampung. Lalu data akan tercatat pada
monitor, lalu data akan dikirim pada komputer. Automatic Rain Gauge berfungsi
untuk menghitung berapa besar dan lamanya curah hujan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Handoyo (2008) yang menyatakan bahwa Automatic Rain Gauge
terdapat memori didalam alat tersebut yang mencatat berapa lama dan besarnya
curah hujan dan dapat dibaca melalui komputer.
29

4.14. Automatic Rain Water Sampler

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 15. Automatic Rain Water Sampler

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Automatic Rain Water


Sampler adalah alat klimatologi yang berfungsi untuk mengambil sample air
hujan. Cara kerjanya, jika terjadi hujan maka sensor akan memberikan
trigger kepada sistem kontrol untuk membuka tutup tempat penampungan air
yang digerakkan oleh motor listrik, selama hujan penutup tersebut tetap terbuka
kemudian setelah hujan berhenti maka penutup akan bergerak ke posisi
semula posisi semula sehingga air hujan yang di tempat penampungan tak terkena
kotoran lain karena tertutup rapat. Faktor yang mempengaruhi kualitas air hujan
adalah tingkat keasaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Lakitan (2002) yang
menyatakan bahawa salah satu faktor kualitas air hujan adalah pH. Dengan alat ini
juga air hujan tidak mudah tercemar karena apabila air hujan sudah sampai di
permukaan bumi air hujan tersebut sudah tidak murni lagi karena sudah tercampur
dengan debu. Hal ini didukung pendapat Gunarsih (2004) yang menyatakan
bahwa dalam keadaan murni, air hujan sangat bersih, tetapi setelah mencapai
permukaan bumi, air hujan tidak murni lagi karena ada pengotoran udara yang
disebabkan oleh pengotoran industri atau debu dan lain sebagainya.
30

4.15. High Volume Sampler

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 16. High Volume Sampler

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa High Volume Sampler adalah


alat pengukur kualitas udara untuk mengetahui konsentrasi zat pencemar yang ada
dalam udara. Cara kerjanya adalah udara yang mengandung partikel debu dihisap
mengalir melalui kertas filter dengan menggunakan motor. Hal ini sesuai dengan
pendapat Bayong (2004) yang menyatakan bahwa debu akan menempel pada
kertas filter yang nantinya akan diukur konsentrasinya dengan cara kertas filter
tersebut ditimbang sebelum dan sesudah sampling, di samping itu dicatat flowrate
dan waktu lamanya sampling sehingga didapat konsentrasi debu tersebut.
Pengambilan sampling nya dilakukan dalam waktu 24 jam secara digital. Alat
pengukur ini bisa menyaring debu yang disebabkan oleh zat-zat kimia yang
berasal dari kendaraan bermotor seperti karbondioksida yang bisa menyebabkan
kualitas udara menurun. Hal ini didukung oleh pendapat Gunarsih (2004) yang
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas udara yaitu faktor
fisik dan faktor kimia.

4.16. Sangkar Meteorologi


31

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 17. Sangkar Meteorologi

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa Sangkar Meteorologi adalah


alat klimatologi yang berfungsi untuk menyimpan alat-alat meterologi. Alat-alat
yang ada didalamya adalah psycrometer standard dan termohigrograph. Alat-alat
yang terdapat didalamnya terlindung dari radiasi matahari langsung, hujan dan
debu. Hal ini sesuai dengan pendapaat Handoyo (2008) yang menyatakan bahwa
Sangkar Meteorologi dibuat dari kayu yang baik (jati/ulin) sehingga tahan
terhadap perubahan cuaca selain itu Sangkar dicat putih supaya tidak banyak
menyerap radiasi panas matahari. Sangka meteorologi juga dipasang dengan pintu
membuka/menghadap Utara-Selatan, sehingga alat-alat yang terdapat didalamnya
tidak terkena radiasi matahari langsung sepanjang tahun. Hal ini juga didukung
oleh pendapat Hendayana (2013) yang menyatakan bahwa sangkar meteorologi
berfungsi sebagai tempat menyimpan alat-alat pengukur cuaca dan iklim meliputi
psychrometer standard dan termohigrograph yang berfungsi untuk mengukur suhu
udara dan kelembaban udara agar tehindar dari sinar matahari langsung dan
pengaruh lingkungan.

4.17. AWS (Automatic Weather Station)


32

Berdasarkan hasil pengamatan mengenai alat-alat di taman alat Stasiun


Klimatologi Kelas 1 BMKG Semarang diperoleh hasil sebagai berikut:

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015


Ilustrasi 18. AWS

Berdasarkan praktikum menunjukkan bahwa AWS adalah alat klimatologi


yang berfungsi untuk mengukur cuaca secara otomatis. Menurut Ratri (2005)
menyatakan bahwa AWS merupakan suatu peralatan atau sistem terpadu yang di
disain untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar
pengamatan menjadi lebih mudah. Hal ini sesuai dengan pendapat Badai (2009)
yang menyatakan bahwa prinsip kerja AWS merupakan desain yang sengaja
dibuat untuk pengumpulan data cuaca secara otomatis serta di proses agar
pengamatan menjadi lebih mudah. AWS ini umumnya dilengkapi dengan sensor,
RTU (Remote Terminal Unit), Komputer, unit LED Display dan bagian-bagian
lainnya. Sensor-sensor yang digunakan meliputi sensor temperatur, arah dan
kecepatan angin, kelembaban, presipitasi, tekanan udara, pyranometer, net
radiometer. Hal ini juga didukung oleh Rayana (2009) yang menyatakan bahwa
RTU (Remote Terminal Unit) terdiri atas data logger dan backup power, yang
berfungsi sebagai terminal pengumpulan data cuaca dari sensor tersebut dan di
transmisikan ke unit pengumpulan data pada komputer. Masing-masing parameter
cuaca dapat ditampilkan melalui LED (Light Emiting Diode) Display, sehingga
para pengguna dapat mengamati cuaca saat itu (present weather) dengan mudah.
33

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan pada praktikum yang telah dilaksanakan diperoleh hasil

bahwa alat yang berfungsi untuk mengukur intensitas sinar matahri terdiri dari

Actinograph Bimetal dan Gun Bellani. alat yang berfungsi untuk mengukur lama

sinar matahari yaitu Campbell Stokes. Alat yang berfungsi untuk mengukur suhu

udara dan suhu tanah terdiri dari Psychrometre Standar dan termometer tanah

gundul dan tanah berumput. Alat yang berfungsi untuk mengukur tekanan udara

terdiri dari barometer dan barograph. Alat yang berfungsi untuk mengukur arah

kecepatan angin terdiri dari cup counter anemometer dan anemometer. Alat yang

berfungsi untuk mengukur kelembaban udara terdiri dari thermohygrograph. Alat

yang berfungsi untuk mengukur penguapan air adalah open pan evaporimeter.

Alat yang berfungsi untuk mengukur curah hujan dan kualitas air hujan terdiri

dari penakar hujan manual, penakar hujan otomatis, dan automatic rain sampler.

Serta alat yang berfungsi untuk mengukur kualitas udara adalah high volume

sampler.

5.2. Saran

Praktikan sebaiknya lebih aktif dalam pelaksanaan praktikum klimatologi

serta mencatat dan menanyakan hal- hal yang belum dipahami selama praktikum

kepada narasumber.
DAFTAR PUSTAKA

Badai. 2009. Dasar-Dasar Aroklimatologi. IPB Press, Bogor.


34

Budairi,A. 2010. Alat-alat meteorologi. Mitra Gama Widya, Yogyakarta.

Cao, Y. X dan Xiao, Y. Q. 2013. Study On Thermal Environment of Sports Field


in Different Materials. 361, 538-541.

Fontain, A. 2002. Meteorology. Mitra Gama Widya, Yogyakarta.

Gunarsih, A. 2004. Kimatologi. PT Bumi Aksara, Jakarta.

Handoko. 2005. Pokoko-Pokok Klimatologi. Alumni Bandung, Bandung.

Handoyo. 2008. Prosiding Seminar Nasional. Taknik Pertanian, Yogyakarta.

Hendayana, D. 2013. Mengenal Nama dan Fungsi Alat-Alat Pemantau Cuaca dan
Iklim. IPB, Bogor.

Kartasapoetra. 2005. Teknologi Konservasi Tanah. Rineka jaya. Jakarta.

Rusbiantoro, D. 2008. Global Warming for Beginner. O2, Yogyakarta.

Setiawan, A. C. 2003. Otomatisasi stasiun cuaca untuk menunjang kegiatan


pertanian. (http : // www.bmg.ac.id) Diakses tanggal 17 November 2010.

Lakitan. B. 2002. Dasar-Dasar Klimatologi. PT Raja Grafindo, Jakarta.

Pangestu, Y.C, Sonjaya, C dan Sugihantoro, D. 2014. Rancang Bangun


Anemometer Mangkok dengan Uji Laboratorium dan Lapangan.
Semarang: UNDIP Press.

Ratri. 2005. Pengaruh radiasi matahari terhadap kesuburan tanah. J.Pertanian 5 (1)
: 45 -47

Rayana. 2009. Fungsi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika. PT Daya


Cipta Aksara, Yogyakarta.

Tarannum, N., Rhaman, M.K, Khan, Sabbir Ahmed dan Shakil, Shifar Rahman.
2015. A Brief Overview and Systematic Approach for Using Agriculturual
robot in Developing Countries. Journal of Modern Sciences and
Technology. 3 (1), 88-101.

Tjasyono. 2004. Klimatologi umum. ITB. Bandung.


Utoyono, B. 2007. Geografi Membuka Cakrawala Dunia. Setia Purna Inves,
Bandung.

Wheler, D. 2001. Factors Governing Sunshine in South-West Iberia: A review of


western Europes sunniest region.Weather, 56,pp. 189-197
35

Widyatmanti, W, dan Dini, W. 2006. Geografi. Standar Isi: Jakarta.

Umar, R. 2010. Meteorologi dan Klimatologi. Badan Penerbit UNM, Makassar.

Wilby, R. L. and Tomlinson, O. J. (2000) The Sunday Effect and weekly cycles of
winter weather in the UK. Weather, 55, pp. 214-222.

Wolenwerf, 2013. Agricultural Compendium : for Rural Development in the


Tropics and Subtropis. Elsevier Scientifik Publshing Company.
Amsterdam.

BAB I

PENDAHULUAN
36

Klimatologi adalah ilmu yang mempelajari keadaan rata-rata cuaca yang


terjadi pada suatu wilayah dalam kurun waktu yang sama. Cuaca merupakan
keadaan fisik atmosfer pada suatu saat dan tempat tertentu dalam jangka pendek.
Klimatologi pertanian ialah cabang ilmu iklim atau cuaca terapan yang
mempelajari tentang hubungan antara proses-proses fisik di atmosfer (unsur-unsur
cuaca) dan proses pertanian. Tercakup didalamnya antara lain hubungan antara
faktor iklim dengan produksi pertanian. Sasaran yang hendak dicapai oleh
klimatologi pertanian ialah untuk memahami dan mengkaji proses-proses yang
terjadi pada perubahan lingkungan fisik disekitar organisme pertanian akibat
perkembangan organisme tersebut serta dampak perubananya bagi organisme itu
sendiri. Sektor pertanian di Indonesia merupakan sektor yang rentan terhadap
perubahan iklim. Perubahan iklim adalah berubahnya kondisi fisik atmosfer bumi
antara lain suhu dan distribusi curah hujan yang membawa dampak luas terhadap
berbagai sektor kehidupan manusia. Perubahan fisik ini tidak terjadi hanya sesaat
tetapi dalam kurun waktu yang panjang.Perubahan iklim adalah perubahan rata-
rata salah satu atau lebih elemen cuaca pada suatu daerah tertentu.
Tujuan praktikum klimatologi yaitu untuk mengetahui perkiraan cuaca dan
iklim di lihat dari jenis awan pada suatu wilayah tertentu. Manfaat praktikum
klimatologi antara lain mahasiswa dapat memahami unsur-unsur pembentukan
cuaca dan iklim, mahasiswa dapat mengetahui bentuk dan jenis awan, serta dapat
mengetahui jenis tanaman yang harus ditanam pada daerah tertentu.
37

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Cuaca

Cuaca adalah keadaan udara pada suatu tempat. Sehingga sering terjadi
suatu tempat udara, berawan atau hujan turun lebat, tetapi di tempat yang lain
cuaca terang benderang. Dari hasil pengamatan cuaca yang dilakukan secara terus
menerus oleh badan meteorologi dan Geofisika (BMG) yang berpusat di jakarta.
Cuaca merupakan keadaan fisis atmosfer pada suatu tempat dan waktu
tertentu.Perubahan suhu, angin, curah hujan, dan pancaran sinar matahari dari hari
ke hari, diseluruh tempat di bumi (Laela, 2015). Cuaca selalu berubah, karena itu
disadari bahwa memperkirakan cuaca tidak mudahkarena di samping harus
memahami sifat atmosfer atau dinamika atmosfer, diperlukan juga pengalaman
dan keberanian dalam membuat keputusan suatu prakiraan. Namun demikian
pendekatan-pendekatan dalam membuat prakiraan cuaca sudah banyak
dikembangkan oleh negara maju meskipun pendekatan-pendekatan tersebut tidak
sepenuhnya sesuai dengan keadan cuaca pada lintang tropis seperti Indonesia
cuuaca yang tidak stabil sering terjadi di daerah garis lintang sedang (separuh
jalan antara khatulistiwa dan daerah kutub), tempat massa udara tropis yang panas
bertemu dengan massa udara kutub yang dingin. Gembungan udara panas
mendorong masuk ke udara dingin, dan udara tersebut mulai berputar disekeliling
suatu pusat bertekanan rendah atau depresi (Zakir, 2007).

2.2. Suhu

Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda
dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer.Batas suhu
yang layak bagi kehidupan makhluk hidup berkisar antara 350C dan 750C akan
tetapi kisaran suhu yang dikehendaki tanaman antara 150C-400C pada suhu
dibawah atau diatas kisaran tersebut, pertumbuhan tanaman sangat dihambat.
Secara langsung, suhu mempengaruhi fotosintesis, respirasi permeabilitas dinding
sel, kegiatan enzim, penyerapan air dan unsur hara, transpirasi dan koagulasi
38

protein. Pengaruh ini tersimpul dalam pertumbuhan tanaman (Anwar, 2005).


Pentingnya faktor suhu terhadap kehidupan dan aktifitas manusia, menyebabkan
pengamatan suhu udara yang dilakukan oleh stasiun meteorologi dan klimatologi
memiliki kriteria yaitu suhu udara permukaan (suhu udara aktual, rata-rata,
maksimum dan minimum), suhu udara di beberapa ketinggian/ lapisan atmosfer,
suhu tanah di beberapa kedalaman tanah (hingga kedalaman 1 meter) dan suhu
permukaan air dan suhu permukaan laut (Wisnubroto, A dan Nitisapto, 1982).
Kondisi iklim memiliki beberapa unsur atau komponen di antaranya adalah
suhu, angin, kelembapan, penguapan, curah hujan, serta lama dan intensitas
penyinaran matahari (Heksaputra, 2013). Suhu udara merupakan salah satu
indikator yang dapat dianalisis untuk mengetahui tentang perubahan iklim. Dari
data trend yang ada perubahan iklim di Indonesia secara umum telah mengalami
perubahan. Indikatornya dapat dilihat pada perkembangan suhu udara, curah
hujan dan lamanya hari hujan yang terjadi selama 20 tahun terakhir (Rdiwan dan
Chazanah, 2013).

2.3. Kelembaban

Kelembaban adalah ukuran jumlah uap air di udara. Jumlah uap air
mempengaruhi proses-proses fisika, kimia dan biologi di alam, oleh karena itu
akan mempengaruhi kenyamanan manusia begitupun terhadap lingkungan. Jika
besarnya kandungan uap air melebihi atau kurang dari kebutuhan yang
diperlukan, maka akan menimbulkan gangguan dan kerusakan. Sebagai contoh,
bahan makanan dan obat-obatan yang disimpan dalam gudang penyimpanan
memerlukan kondisi kelembaban tertentu agar tidak cepat rusak. Saat ini banyak
alat ukur kelembaban yang telahdikembangkan. Peralatan elektronik juga menjadi
mudah berkarat jika udara disekitarnya memiliki kelembaban yang cukup tinggi.
Oleh karena itu, informasi mengenai kelembaban udara pada suatu area tertentu
menjadi sesuatu hal yang penting untuk diketahui karena menyangkut efek-efek
yang ditimbulkannya.Informasi mengenai nilai kelembaban udara diperoleh dari
proses pengukuran (Lakitan, 2000). Kelembaban udara merupakan banyaknya
kandungan uap air di atmosfer. Udara atmosfer adalah campuran dari udara kering
39

dan uap air. Besaran yang sering dipakai untuk menyatakan kelembaban udara
adalah kelembaban nisbi yang diukur dengan psikrometer atau higrometer.
Kelembaban nisbi berubah sesuai tempat dan waktu. Pada siang hari kelembaban
nisbi berangsur-angsur turun kemudian pada sore hari sampai menjelang pagi
bertambah besar (BMKG, 2009).

2.3. Awan

Awan adalah massa terlihat dari tetesan air atau beku kristal tergantung
diatmosfer di atas permukaan bumi atau lain planet tubuh. Awan juga terlihat
massa tertarik oleh gravitasi, seperti massa materi dalam ruang yang disebut awan
antar bintang dan nebula (Muin, 2008). Awan adalah gabungan dari droplet-
droplet kecil dengan jumlah order 100 per cm 3 yang mempunyai jari-jari 10 m.
Presipitasi (hujan) terjadi jika populasi awan menjadi labil dan beberapa droplet
tumbuh membesar. Awal terbentuknya awan adalah akibat adanya pengangkatan
secara adiaatik udara tak jenuh yang mengandung uap air dari aras yang rendah di
permukaan ke aras yang lebih tinggi (Pramudia, 2005).

2.2. Pembentukan dan Pertumbuhan Awan

Awan terbentuk ketika uap air menjadi jenuh dan mengalami kondensasi.
Proses pembentukan awan merupakan suaru rangkaian proses yang rumit dan
melibatkan proses dinamik dan proses mikrofisik. Proses dinamik berhubungan
dengan pergerakan parsel udara yang membentuk suaru kondisi terterntu sehingga
terbentuknya awan. Proses mikrofisik adalah proses pembentukan awan melalui
proses kondensasi uap air dan interaksi antar partikel butir air (Lubis, 2008).
Pertumbuhan awan melewati beberapa tahapan. Tahap pertumbuhan, uap air yang
terkandung dalam parsel massa udara yang naik ke level yang lebih tinggi akan
berkondensasi pada inti kondensasi yang lebih tersedia apabila suhu lingkungan di
level tersebut . Tahap pematangan, butir-butir air dalam awan akan terus
membesar melalui proses tumbukan dan penggabungan sampai mencapai butir
maksimum dalam kondisi lingkungan yang dimilikinya. Tahap disipasi, dalam
40

tahap ini gerakan vertikal didominasi oleh gerakan ke bawa. Butir-butir air yang
ukurannya cukup besar akan turun sebagai hujan, sementara butir-butir air yang
masih keci akan menguap kembali (Syaifullah, 2011)

2.4. Jenis Awan

Bentuk awan bermacam-macam tergantung dari keadaan cuaca dan


ketinggiannya. Tapi bentuk utamannya ada tiga jenis yaitu, yang berlapis-lapis
dalam bahasa latin disebut stratus, yang bentuknya bersekat-sekat disebut cirrus,
dan yang bergumpal-gumpal disebut cumulus (ejaan Indonesia : stratus, sirus,
kumulus) (Alakautsar et al., 2011). Dalam identifikasi jenis awan berdasarkan
pengamatan satelit, jenis awan digolongkan menjadi 7 kelompok, yaitu : Ci (awan
tinggi), Cm (Awan menengah), St (stratus/fog), Cb (cumulonimbus), Cg (cumulus
congestus), C (cumulus), dan Sc (strato cumulus) (Nardi dan Nazori, 2012) .
Awan yang dasarnya terletak pada ketinggian di bawah 2 km digolongkan sebagai
awan rendah terdiri dari jenis awan Nimbostratus (Ns), Stratocumulus (Sc),
Stratus (St), Cumulus (C), dan Cumulonimbus (Cb) (Satria, 2012).

2.4.1. Awan Cumulus

Awan Cumulus adalah awan putih bergerombo yang berlapis-lapis atau


awan bergumpal yang mempunyai bentuk dengan dasar yang rata dan bentuk
bagian atasnya mirip kubis bunga (cauliflower). Awan Cumulus umum terbentuk
pada ketinggian sekitar 60C m jika udara lembab dan pada ketinggian 2,4 km
jika udara kering (Kusumawati, 2009). Awan Cumulus yang lembut sering
terbentuk pada hari yang sangat cerah saat udara naik di atas daratan atau sisi
bukit yang terkena panas matahari (Nicholson, 2005).

2.4.2. Awan Cirrus

Awan tipe Cirrus tidak termasuk awan yang menurunkan hujan (air atau
salju). Awan ini terletak pada altitude di atas 7 km dan berbentuk seperti rambut
41

atau filamen tipis (Kusumawati, 2009). Awan Cirus merupakan awan yang berdiri
sendiri, halus dan berserat biasanya disertai dengan kristal es (Handoyo, 2011).

2.4.3. Awan Stratus

Awan Stratus mempunyai karakteristik berupa lapisan berwarna abu-abu


gelap mendekati putih, membawa gerimis kecil, berada pada altitude di bawah 2
km (Andika, 2008). Awan ini berwarna putih kelabu karena awan ini mengandung
banyak uap air sehingga sinar matahari sulit menembusnya. Awan ini dapat
terbentuk apabila awan kumulus berdekatan satu sama lain dan selalu terbentuk
didaerah yang tinggi seperti pada daerah pegunungan dan biasanya membawa
udara lembab dan hujan gerimis (Richard dan L. Spilsbury, 2011). awan stratus
adalah awan yang melebar seperti kabut akan tetapi tidak sampai pada permukaan
tanah ( Wisnubroto et al., 1981).

2.4.4. Awan Cirrocumulus

Awan Cirrocumulus terbentuk dalam udara cerah serta selalu cukup


transparan sehingga posisi bulan atau matahari yang ada dibaliknya dapat
diketahui (Prawirowardoyo, 2000). Awan Cirrocumlus berada pada ketinggian di
atas 6 km. Awan ini pembawa water doplets (potensi hujan), namun tetap tampak
berwarna putih tidak seperti cumulonimbo atau nimbostratus berwarna abu-abu
(Kusumawati, 2009). Awan Cirrocumulus dapat pula berbentuk lonjong atau
lensa. Unsurnya dapat tersusun dalam beberapa baris sejajar menyerupai gulungan
ombak di pantai dan termasuk klasifikasi awan tinggi (Petterssen 1958).

2.4.5. Awan Cirrostratus

Awan tipe Cirrostratus berada pada altitude di atas 6 km. Awan ini
terlihat seperti tabir tipis yang menyelimuti seluruh langit sehingga dapat terjadi
halo phenomena (Kusumawati, 2009). Awan cirrostratus tidak dapat
menghamburkan cahaya matahari atau bulan yang berada dibaliknya tetapi
42

menghasilkan gejala halo yaitu gejala optis yang tampak seperti lingkaran yang
mengelilingi matahari atau bulan yang disebabkan oleh refleksi cahaya oleh
kristal es yang berada dalam atmosfer (Prawirowardoyo, 2000).

2.4.6. Awan Altocumulus

Awan Altocumulus berwarna putih atau kelabu yang terdiri atas unsur
berbentuk bulatan putih dan dapat menimbulkan virga dan presipitasi (Yani,
2007). Awan altocumulus berada pada ketinggian 2,4-6,1 km. Awan ini
mempunyai karakteristik berbentuk globular-globular pada layernya, setiap
globularnya lebih luas dan gelap ( Andika, 2008).

2.4.7. Awan Altostratus

Awan Altostratus terdiri dari tetes air dan kristal-kristal es serta tetes hujan
dan dapat menimbulkan gejala virga yang berupa garis sejajar yang keluar dari
dasar awan dan presipitasi yaitu hujan ringan yang berlangsung secara terus
menerus (Prawirowardoyo , 2000). Altostratus berada pada ketinggian 2-5 km serta
berwarna abu-abu, lebih terang dari nimbostratus dan lebih gelap dari cirrostratus
(Andika, 2008).

2.4.8. Awan Nimbostratus

Awan Nimbostratus memiliki bentuk seragam dan berwarna kelabu tua.


Sering terdapat koyakkan awan di bawahnya yang saling terpisah atau menyambung
dan termasuk jenis awan yang tumbuh vertikal (Yani, 2007). Awan Nimbostratus
berada pada ketinggian di bawah 2,4 km, berwarna abu-abu gelap. Awan
pembawa hujan ini mempunyai hamparan yang luas dan mempunyai ketebalan 2-
3 km sehingga menghalau sejumlah besar sinar matahari untuk jatuh ke
permukaan bumi (Andika, 2008).
43

2.4.9. Awan Stratocumulus

Awan Stratocumulus adalah mempunyai area yang luas dan gelap, tiap
elemen lebih luas daripada Altocumululs dan terdiri dari gumpalan-gumpalan
awan yang biasanya berada dalam grup, garid, atau gelombang. Secara umum,
stratocumulus hanya membawa hujan gerimis namun sering kali merupakan awal
dari cuaca yang lebih buruk (Andika, 2008). Awan stratocumulus yaitu awan yang
bentuknya tidak merata. Awan stratocumulus biasanya menandakan cuaca yang
kering (Kodoatie, 2010).

2.4.10. Awan Cumulonimbus

Awan Cumulonimbus merupakan awan yang terlihat hampa, tampak berat


dan menjulang tinggi sekali menyerupai gumpalan yang besar dapat meninbulkan
hujan besar yang mulai dan berhenti secara mendadak dan biasanya disertai kilat
dan guntur serta terkadang disertai es (Yani, 2007). Awan Cumulonimbus
biasanya berada pada ketinggian 6-8 km diatas tanah, awan ini biasanya dapat
terbentuk ketika awan Cumulus bertambah banyak yang disebabkan oleh
pengembangan udara panas (Richard dan Spilsbury, 2011).
44

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Klimatologi dengan meteri Pengamatan Cuaca dilaksanakan pada


tanggal 19-31Oktober 2015 pukul 07.00-17.00 WIB di wilayah Tembalang, Kota
Semarang, Jawa Tengah.

3.1. Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum Pengamatan Cuaca adalah kamera


untuk mengambil foto awan, alat pengukur suhu dan kelembaban menggunakan
aplikasi di handphone, serta alat tulis untuk mencatat waktu pengambilan gambar,
suhu, dan kelembaban.

3.2. Metode

Metode yang digunakan dalam praktikum Pengamatan Cuaca adalah


mengambil foto awan pada pagi hari, siang hari, dan sore hari selama 2 minggu
berturut-turut di Wilayah Tembalang, Kota Semarang. Mencatat waktu masing-
masing saat pengambilan gambar awan. Mengamati awan tersebut kemudian
menentukan jenis awannya. Mencatat suhu dan kelembaban masing-masing pada
pagi hari, siang hari dan sore hari selama 4 hari berturut-turut pada wilayah
tersebut. Menghubungkannya dengan bidang pertanian dengan
mengidentifikasikan tanaman yang cocok untuk ditanam pada cuaca wilayah
tersebut.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


45

4.1. Pengamatan Cuaca Minggu Ke-1

Berdasarkan praktikum klimatologi pada acara pengamatan cuaca di


Daerah Tembalang pada tanggal 19 Oktober 2015 sampai 25 Oktober 2015
diperoleh hasil sebagai berikut.

Tabel 1. Pengamatan cuaca pada hari Senin


Senin Pagi
Pukul : 06.00
Suhu : 20
Rh ; 55 %
Jenis awan : stratus

Senin Siang
Pukul : 13.00
Suhu : 29
Rh : 55 %
Jenis awan : Cumulus

Senin Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 28
Rh : 60%
Jenis awan : Nimbostratus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa pada hari senin 19 Oktober
2015 di kost banjarsari tembalang pagi hari terlihat awan menyebar berwarna
putih dan bentuknya acakan sehingga termasuk ke dalam jenis awan stratus. Hal
ini sesuai dengan pendapat Andika (2008) yang menyatakan bahwa karakteristik
dari awan stratus adalah berupa lapisan berwarna putih kelabu, membawa gerimis
46

kecil. Pada siang hari awan yang terlihat menggumpal seperti bunga kol yang
berwarna putih kelabu. Sehingga termasuk ke dalam jenis awan Cumulus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Yani dan Ruhimat (2007) yang menyatakan bahwa
Cumulus awan yang kelihatan gumpal, mampat dan menjulang bagian atasnya
seperti tonjolan menyerupai bunga kol bergaris tajam dan tegas berdasar rata dann
berwarna kelabu. Awan Cumulus sering terbentuk pada hari yang cerah. Hal ini
sesuai dengan pendapat Nicholson (2005) yang menyatakan bahwa awan
Cumulus yang lembut sering terbentuk pada hari yang sangat cerah saat udara
naik di atas daratan atau sisi bukit yang terkena panas matahari. Dan pada sore
hari yang terlihat awan yang menggumpal sangat banyak dan besar dengan warna
keabu-abuan sehingga awan yang terbentuk termasuk ke dalam jenis awan
Nimbostratus. Hal ini sesuai dengan pendapat Kusumawati (2009) yang
menyatakan bahwa awan Nimbostratus adalah awan yang biasanya berwarna
abu-abu dan menidentifikasikan datangnya hujan.

Tabel 2. Pengamatan cuaca pada hari Selasa


Selasa Pagi
Pukul : 06.02
Suhu : 20
Rh : 64 %
Jenis awan : Cumulonimbus

Selasa Siang
Pukul : 13.00
Suhu : 23
Rh : 57 %
Jenis awan : Cumulus
47

Selasa Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 30
Rh : 46 %
Jenis awan : Cumulus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari selasa 20
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang pada pagi hari terlihat awan yang
menjulang tinggi dan bergumpal sehingga termasuk ke dalam jenis awan
cumulonimbus. Hal ini sesuai dengna pendapat Yani (2007) yang menyatakan
bahwa awan Cumulonimbus merupakanawan yang terlihat hampa, tampak berat
dan menjulang tinggi sekali menyerupai gumpalan yang besar dapat menimbulkan
hujan besar dan berhenti secara mendadak dan biasanya disertai kilat dan guntur
serta terkadang disertai es. pada siang dan sore hari yang terlihat awan seperti
kapas yang halus dan terapat pada cuaca yang cerah. Hal ini sesuai dengan
pendapat Nicholson (2005) yang menyatakan bahwa awan Cumulus memliki arti
gundukan atau tumpukan. Awan Cumulus yang lembut sering terbentuk pada hari
yang sangat cerah saat udara naik diatas daratan atau sisi bukit yang terkena panas
matahari.

Tabel 3. Pengamatan cuaca pada hari Rabu


Rabu Pagi
Pukul : 07.00
Suhu : 20C
Rh : 64 %
Jenis awan : Stratus

Rabu Siang
Pukul : 13.30
48

Suhu : 30
Rh : 57 %
Jenis awan : stratus

Rabu Sore
Pukul : 16.30
Suhu : 28
Rh : 60 %
Jenis awan : cumulonimbus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Rabu 21
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang pada pagi dan siang hari terlihat awan
yang tipis dan tersebar luas sehinga menutupi langit secara merata atau disebut
awan yang berbentuk stratus. Hal ini sesuai dengan pendapat Richard dan
Spilsbury (2011) yang menyatakan bahwa awan stratus terbentuk sebagai lapisan
pada awan kelabu dan bentuknya tidak jelas serta berada pada ketinggian 1,6 km
diatas tanah. Pada sore hari terlihat awan yang terlihat awan yang mendung
sehingga dapat menimbulkan hujan besar. Hal ini sesuai dengan pendapat Karin
(2005) yang menyatakan bahwa awan cumulonimbus menimbulkan hujan lebat,
petir, kilat, kadang-kadang terkait dengan badai dan cuaca buruk.Turbulensi
sangat besar.
Tabel 4. Pengamatan cuaca pada hari Kamis
Kamis Pagi
Pukul :06.00
Suhu : 21C
Rh : 50 %
Jenis awan: Altostratus

Kamis Siang
Pukul : 13.00
49

Suhu : 27C
Rh : 45 %
Jenis awan : Altostratus

Kamis Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 31C
Rh : 51 %
Jenis awan : Altostratus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Kamis 22
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang pada pagi, siang, dan sore hari terlihat
bentuk awan yang sama dengan waktu yang berbeda. Awan tersebut terlihat awan
yang berwarna kelabu kebiru-biruan, lebih terang dan merupakan cuaca yang
bagus sehingga awan termasuk kedalam jenis awan Altostatus. Hal ini sesuai
dengan pendapat Prawirowardoyo (2000) yang menyatakan bahwa Altostratus
terdiri dari tetes air dan kristal-kristal es serta tetes hujan dan dapat menimbulkan
gejala virga yang berupa garis sejajar yang keluar dari dasar awan dan presipitasi
yaitu hujan ringan yang berlangsung secara terus menerus. Dan didukung oleh
Richard dan Spilsbury (2011) yang menyatakan bahwa Altostratus berada pada
ketinggian 2-5 km serta berwarna abu-abu, lebih terang dari nimbostratus dan
lebih gelap dari cirrostratus. Awan altostratus merupakan awan yang memiliki ciri-
ciri yaitu lapisan awan yang berwarna kelabu kebiru-biruan yang menandakan jenis
cuaca yang bagus.

Tabel 5. Pengamatan cuaca pada hari Jumat


Jumat Pagi
Pukul : 08.51
Suhu : 27C
Rh : 50 %
Jenis awan : Cumulus
50

Jumat Siang
Pukul : 13.26
Suhu : 30C
Rh : 45 %
Jenis awan : Cumulus

Jumat Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29C
Rh : 55 %
Jenis awan: Cumulus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Jumat 23
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang awan pada pagi, siang, dan sore hari
terlihat awan yang berwarna kelabu dengan garis bentuk yang jelas dan terlihat
bersinar jika terkena sinar matahari. Hal ini sesuai dengan pendapat Kusumawati
(2009) yang menyatakan bahwa awan cumulus atau awan bergumpal adalah awan
yang mempunyai bentuk bagian atasnya mirip kubis bunga, bergaris tajam, tegas
dan berwarna kelabu. Awan Cumulus disebut awan yang labil. Hal ini sesuai
dengan pendapat Lakitan (2000) yang menyatalan bahwa awan cumulus dapat di
sebut juga dengan awan yang labil, dikarenakan terjadi saat suhu udara yang juga
labil, memiliki potensi untuk terjadinya hujan di cuaca yang panasterik.

Tabel 6. Pengamatan cuaca pada hari Sabtu


Sabtu Pagi
Pukul : 07.00
51

Suhu : 28C
Rh : 45 %
Jenis awan : stratocumulus

Sabtu Siang
Pukul : 14.00
Suhu : 31C
Rh : 40 %
Jenis awan : stratocumulus

Sabtu Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29C
Rh
Jenis awan : stratus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Sabtu 24
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang awan pada pagi dan siang hari terlihat
awan yang bentuknya seperti gelombang tipis yang menutup angkasa dan masih
terlihat langit biru sehingga awan tersebut termasuk ke dalam jenis
Stratocumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat Andika (2008) yang menyatakan
bahwa Awan stratocumulus adalah mempunyai area yang luas dan gelap, tiap
elemen lebih luas daripada altocumululs dan terdiri dari gumpalan-gumpalan
awan yang biasanya berada dalam grup, garid, atau gelombang. Stratocumulus
hanya membawa hujan gerimis namun sering kali merupakan awal dari cuaca
yang lebih buruk. Sedangkan pada sore hari awan terlihat seperti kabut, yang
tipis dan tersebar luas dan menutup langit secara merata. awan ini termasuk
kedalam jenis awan Stratocumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat Richard dan
L. Spilsbury (2011) yang menyatakan bahwa awan Stratocumulus berwarna putih
52

kelabu karena awan ini mengandung banyak uap air sehingga sinar matahari sulit
menembusnya. Awan ini dapat terbentuk apabila awan kumulus berdekatan satu
sama lain dan selalu terbentuk didaerah yang tinggi seperti pada daerah
pegunungan dan biasanya membawa udara lembab dan hujan gerimis.

Tabel 7. Pengamatan cuaca pada hari Minggu


Minggu Pagi
Pukul : 08.51
Suhu : 27C
Rh : 55 %
Jenis awan : altostratus

Minggu Siang
Pukul : 13.26
Suhu : 31C
Rh : 45 %
Jenis awan : Altostratus

Minggu Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29C
Rh : 40%
Jenis awan : Altostratus

Sumber : Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015.

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Minggu 25
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang awan pada pagi, siang, dan sore hari
terlihat bentuk awan seperti mendung dengan lapisan awan yang berwarna kebiru-
biruan. Awan ini dinamakan jenis awan Altostratus. Hal ini sesuai dengan
53

pendapat Andika (2008) yang menyatakan bahwa altostratus berada pada


ketinggian 2-5 km, lebih terang dari nimbostratus dan lebih gelap dari
cirrostratus. Hal ini didukung oleh Richard dan Spilsbury (2011) yang menyatakan
bahwa awan altostratus merupakan awan yang memiliki ciri-ciri yaitu lapisan awan
yang berwarna kelabu kebiru-biruan yang menandakan jenis cuaca yang bagus.

4.2. Pengamatan Cuaca Minggu Ke-2

Berdasarkan praktikum klimatologi pada acara pengamatan cuaca di Daerah


Tembalang pada tanggal 25 Oktober 2015 sampai 31 Oktober 2015 diperoleh
hasil sebagai berikut.
Tabel 8. Pengamatan cuaca pada hari Senin
Senin Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 24
Rh : 55 %
Jenis awan : cumulus

Senin Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 29
Rh
Jenis awan : stratocumulu

Senin Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 27
Rh
Jenis awan : altocumulus

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Senin 26
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang awan pada pagi hari terlihat awan
seperti kelabu, berbentuk tidak berurutan. Awan tersebut termasuk dalam jenis
awan cumulus. Pada siang hari terlihat awan lebih cerah dan memiliki bentuk
54

lebih jelas. Awan tersebut termasuk ke dalam jenis awan stratocumulus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Andika (2008) yang menyatakan bahwa karakteristik dari
awan stratocumulus adalah mempunyai area yang luas dan gelap, tiap elemen
lebih luas daripada altocumulus dan terdiri dari gumpalan-gumpalan awan yang
biasanya berada dalam grup, garis, atau gelombang. Pada Sore hari awan yang
terbentuk lebih gelap, berwarna putih dan kelabu. Awan tersebut termasuk awan
altocumulus yang mempunyai bentuk yang luas teridiri dari sekumpulan awan
dan berwarna hitam. Hal ini sesuai dengan pendapat
Yani (2007) yang menyatakan bahwa awan Altocumulus berwarna putih atau
kelabu yang terdiri atas unsur berbentuk bulatan putih dan dapat menimbulkan
virga dan presipitasi.

Tabel 9. Pengamatan cuaca pada hari Selasa


Selasa Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 20
Rh : 60%
Jenis awan : cumulus

Selasa Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 29
Rh : 55%
Jenis awan : cumulus
55

Selasa Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 26
Rh : 50%
Jenis awan : cumulus

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada hari Selasa 27
Oktober 2015 di kost banjarsari tembalang awan pada pagi, siang dan sore hari
terlihat awan seperti kelabu, berbentuk tidak berurutan. Awan tersebut termasuk
dalam jenis awan cumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat Andika (2008) yang
menyatakan bahwa awan cumulus adalah awan putih bergerombol yang berlapis-
lapis. Hal ini diperkuat oleh pendapat Kusumawati (2009) yang menyatakan
bahwa awan cumulus atau awan bergumpal adalah awan yang mempunyai bentuk
bagian atasnya mirip kubis bunga (cauliflower).

Tabel 10. Pengamatan cuaca pada hari Rabu


Rabu Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 23,5
Rh : 45%
Jenis awan : cumulus
56

Rabu Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 30
Rh : 55%
Jenis awan : cumulus

Rabu Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 26
Rh : 45%
Jenis awan : nimbostratus

Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan yang terbentuk pada
pukul pagi dan siang hari berbentuk gumpalan putih yang intensitasnya lebih
banyak. Awan tersebut merupakan jenis awan cumulus. Hal ini sesuai dengan
pendapat Kusumawati (2009) yang menyatakan bahwa awan cumulus merupakan
awan yang bergumpal putih berbentuk seperti kubis bunga. Pada sore hari awan
yang terlihat lebih gelap, dan gumpalannya lebih sedikit sehingga terjadi hujan
pada malam hari. Hal ini sesuai dengan pendapat Andika (2008) yang menyatakan
bahwa awan nimbostratus berada pada ketinggian di bawah 2,4 km, berwarna
abu-abu gelap. Awan pembawa hujan ini mempunyai hamparan yang luas dan
mempunyai ketebalan 2-3 km sehingga menghalau sejumlah besar sinar matahari
untuk jatuh ke permukaan bumi.
57

Tabel 11. Pengamatan cuaca pada hari Kamis


Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 26
Rh : 65%
Jenis awan : Cumulus

Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 35
Rh : 55%
Jenis awan : Cumulus

Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29
Rh : 45%
Jenis awan : Altostratus

Sumber: Data Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan yang terbentuk pada
pukul 08.30 dan pukul 13.30 adalah awan yang berbentuk tebal dan bergumpal.
Awan ini termasuk kedalam jenis awan Cumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat
Prawirowardoyo (1996) yang menyatakan bahwa awan Cumulus adalah awan
yang umumnya kelihatan mampat dan berbentuk gumpalan yang menjulan. Dan
pada pukul 16.00 terlihat awan yang lebih gelap dari pada awan Cirrostratus.
Awan ini termasuk ke dalam jenis awan Altostratus. Hal ini sesuai dengan
pendapat Andika (2008) yang menyatakan bahwa awan altostratus berada pada
ketinggian 2-5 km serta berwarna abu-abu, lebih terang dari Nimbostratus dan
lebih gelap dari Cirrostratus.
58

Tabel 12. Pengamatan cuaca pada hari Jumat


Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 27oC
Rh : 55%
Jenis awan : Cumulus

Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 31oC
Rh : 45%
Jenis awan : Cumulus

Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29oC
Rh : 60%
Jenis awan : Cumulus

Sumber: Data Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada pagi sampai sore
terlihat awan berbentuk seperti gumpalan mirip kubis dapat disimpulkan awan
termasuk jenis awan Cumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat Nicholson (2005)
yang menyatakan bahwa awan Cumulus yang lembut sering terbentuk pada hari
yang sangat cerah saat udara naik di atas daratan atau sisi bukit yang terkena
panas matahari. Dan didukung oleh pendapat Andika (2008) yang menyatakan
bahwa awan Cumulus adalah awan putih bergerombolan yang berlapis-lapis.
59

Tabel 13. Pengamatan cuaca pada hari Sabtu


Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 26oC
Rh : 60%
Jenis awan : Cirrocumulus

Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 32oC
Rh : 55%
Jenis awan : Status

Senin Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 28oC
Rh : 50%
Jenis awan : Altostratus

Sumber: Data Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada pukul 08.30
terlihat awan yang menyerupai gulungan ombak dan berbaris menyamping
berwarna putih menyebar. Awan ini termasuk ke dalam jenis awan Cirrocumulus.
Hal ini sesuai dengan pendapat Petterssen (1958) yang menyatakan bahwa awan
Cirrocumulus dapat pula berbentuk lonjong atau lensa. Unsurnya dapat tersusun
dalam beberapa baris sejajar menyerupai gulungan ombak di pantai dan termasuk
klasifikasi awan tinggi. Pada pukul 13.30 terlihat awan yang berwarna abu-abu
mendekati putih yang cerah. Awan ini termasuk ke dalam awan Stratus. Hal ini
sesuai dengan pendapat Wisnubroto et al., (1981) yang menyatakan bahwa awan
stratus adalah awan yang melebar seperti kabut akan tetapi tidak sampai pada
60

permukaan tanah. Dan pada pukul 16.00 terlihat awan berwarna kelabu-labuan
menutupi sebagian atau seluruh langit. Awan ini termasuk jenis awan Altostratus
Hal ini sesuai degan pendapat Prawirowardoyo (1996) yang mmenyatakan bahwa
awan Altostratus adalah lapisan awan yang tampak berserat atau seragam, tetapi
berwarna kekelabu-kelabuan atau kebiru-biruan, menutupi sebagian atau seluruh
langit. Dan didukung oleh Andika (2008) yang menyatakan bahwa Altostratus
berada pada ketinggian 2-5 km serta berwarna abu-abu, lebih terang dari
Nimbostratus dan lebih gelap dari Cirrostratus.

Tabel 14. Pengamatan cuaca pada hari minggu


Pagi
Pukul : 08.30
Suhu : 28oC
Rh : 55%
Jenis awan : Cirrocumulus

Siang
Pukul : 13.30
Suhu : 32oC
Rh : 56%
Jenis awan : Cirrocumulus

Minggu Sore
Pukul : 16.00
Suhu : 29oC
Rh : 45%
Jenis awan : Stratus

Sumber: Data Praktikum Klimatologi 2015

Dari hasil pengamatan didapatkan data bahwa awan pada pukul 08.30 dan
pada pukul 13.30 terlihat awan yang berwarna biru cerah dan berbentuk
61

transparan menyerupai gulungan ombak dan berbaris menyamping. Awan ini


termasuk jenis awan Cirrocumulus. Hal ini sesuai dengan pendapat
Petterssen (1958) yang menyatakan bahwa awan Cirrocumulus dapat pula
berbentuk lonjong atau lensa. Unsurnya dapat tersusun dalam beberapa baris
sejajar menyerupai gulungan ombak di pantai dan termasuk klasifikasi awan
tinggi. Pada pukul 16.00 terlihat awannya seperti kabut tanpa adanya bentuk awan
yang menggumpal. Awan ini termasuk jenis awan Stratus. Hal ini sesuai dengan
pendapat Wisnubroto et al., (1981) yang menyatakan bahwa awan Stratus adalah
awan yang melebar seperti kabut akan tetapi tidak sampai pada permukaan tanah.

4.3. Suhu Udara

Berdasarkan praktikum Klimatologi pada materi Suhu Udara, diperoleh


hasil sebagai berikut:

Tabel 15. Suhu Udara di Desa Tembalang Selama 2 Minggu


Hari Suhu (oC) Suhu
Ke- Akhir
Pagi Siang Malam
1 20 29 28 25,66
2 20 23 30 24,33
3 20 30 28 26
4 21 27 31 26,33
5 27 30 29 28,66
6 28 31 29 29,33
7 27 31 29 29
8 24 31 27 27.3
9 20 28 26 24.7
10 23.5 30 26 26.5
11 26 35 29 30
12 27 31 29 29
13 26 32 28 28.7
14 28 32 29 29.7
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diketahui


bahwa suhu rata-rata untuk daerah Tembalang berkisar antara 24C-30oC. Pagi
hari suhu di Tembalang rendah dan meninggi pada siang hari beserta awan tipis
62

tidak terjadi hujan. Berdasarkan bentukan yang ada di tiga jam yang sama, suhu
yang ada tidak sama. Hal ini menunjukkan bahwa suhu tidak terlalu dipengaruhi
oleh adanya awan-awan tersebut. Suhu di siang hari paling tinggi jika
dibandingkan dengan suhu di pagi dan sore hari. Hal ini sesuai dengan pendapat
Tauhid (2008) yang menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi tinggi rendahnya suhu, di antaranya vegetasi, ketinggian tempat,
radiasi matahari dan kecepatan angin. Pada saat melakukan pengamatan
banyaknya sinar matahari yang datang sehingga mengalami perubahan yang
diikuti oleh penurunan suhu. Hal ini sesuai dengan pendapat Guslim (2007) yang
menyatakan bahwa suhu berbanding terbalik dengan kelembaban. Jika suhu tinggi
maka kelembaban akan rendah begitu sebaliknya jika kelembaban tinggi makan
suhu akan rendah.

4.4. Kelembaban
63

Berdasarkan praktikum Klimatologi pada materi Suhu Udara, diperoleh


hasil sebagai berikut:

Tabel 16. Kelembaban di Desa Tembalang Selama 2 Minggu


Hari Kelembaban (%) Kelembaban
Ke-
Akhir

Pagi Siang Malam

1 55 55 60 56,66
2 64 57 45 55,33
3 64 57 60 60,33
4 50 45 51 48,66
5 50 45 55 50
6 45 40 41 42
7 55 45 40 46,66
8 55 35 45 45
9 60 55 50 55
10 45 55 45 48,3
11 65 35 45 48,3
12 55 45 60 53,3
13 60 55 50 52
14 55 56 45 52
Sumber: Data Primer Praktikum Klimatologi, 2015

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilaksanakan, dapat diketahui


bahwa kelembaban rata-rata untuk daerah Tembalang berkisar antara 40 %-65 %.
Pagi hari kelembaban di Tembalang rendah dan meninggi pada siang hari beserta
awan tipis tidak terjadi hujan. Hal ini sesuai dengan pendapat Marsono (1995)
yang menyatakan bahwa angka kelembaban relatif dari nol sampai dengan 100%,
dimana 0 % artinya udara kering, sedangkan 100% artinya udara jenuh dengan
uap air dimana akan terjadi titik-titik air. Keadaan kelembaban diatas permukaan
bumi berbeda-beda. Pada umumnya, kelembaban yang tertinggi ada di
khatulistiwa sedangkan yang terendah pada lintang 40o. Daerah rendah ini disebut
horse latitude, curah hujannya kecil. Besarnya kelembaban suatu daerah
merupakan faktor yang dapat menstimulasi curah hujan. Di Indonesia,
64

kelembaban udara tertinggi dicapai pada musim hujan dan terendah pada musim
kemarau. Besarnya kelembaban di suatu tempat pada suatu musim, erat
hubungannya dengan perkembangan organisme. Faktor-faktor yang
mempengaruhi kelembaban udara sangat erat dengan faktor-faktor yang
mempengaruhi suhu. Hal ini sesuai dengan pendapat Housenbuiller (2000) yang
menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi kelembaban udara sangat
erat dengan faktor suhu dalam berbagai hubungan yaitu pengaruh tanah dan air,
semakin banyak jumlah uap air baik diudara maupun didalam tanah, maka
kelembaban akan semakin tinggi. Dan pengaruh ketinggian tempat, semakin
tingginya suatu tempat maka suhu ditempat tersebut akan semakin rendah dan
kelembaban udara semakin tinggi serta ada atau tidaknya vegetasi, semakin
rapatnya jarak antara vegetasi maka kelembaban makin tinggi, namun suhu akan
sangat rendah.
65

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan hasil pengamatan cuaca dapat disimpulkan bahwa cuaca di


setiap tempat berbeda dengan waktu yang berbeda. Jenis awan yang diperoleh
adalah Stratus, Cumulus, Strato kumulus, Cumulo nimbus dan Altostratus.
Temperatur yang diperoleh berkisar antara 24C - 300C dan Kelembaban yang
diperoleh berkisar 40 % - 65 %. Banyaknya sinar matahari yang datang
mengalami perubahan yang diikuti oleh penurunan suhu. Suhu berbanding
terbalik dengan kelembaban. Jika suhu tinggi maka kelembaban akan rendah
begitu sebaliknya jika kelembaban tinggi makan suhu akan rendah.

5.2. Saran

Saran untuk Praktikum Klimatologi adalah agar lebih teliti dalam


mengamati cuaca dengan mengamati jenis awan, suhu dan kelembaban.
Kemudian proses pengamatan ini sebaiknya pengamatan dilakukan di
laboratorium dengan menggunakan peralatan yang khusus digunakan untuk
mengukur suhu dan kelembaban udara agar pelaksanaan praktikum lebih efektif
dan hasil pengamatan lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA
66

Andika G. 2008. Klasifikasi Tutupan Awan Menggunakan Data Sensor Satelit


NOAA/VHRRAPT. Skripsi.Program Studi Teknik Elektro Departemen
Teknik Elektro Fakultas Teknik. Universitas Indonesia, Depok.
Anwar,R.S. 2005. Dampak Kemasan dan Suhu Penyimpanan terhadap Perubahan
Sifat Fisik dan Masa Simpan Brokoli Setelah
Transportasi.Skripsi.Departemen Keteknikan Pertanian. Fakultas
Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

Guslim. 2007. Agroklimatologi. USU Press. Medan.

Heddy Suwasono. 1987. Biologi Pertanian (Tinjauan singkat tentang anatomi,


fisiologi, sistematika, klimatologi dan genetika dasar tumbuh-tumbuhan.
Rajawali pers. Jakarta

Karin, Kamarlis. 2005. Dasar-dasar Klimatologi, UNSYIAH, Banda Aceh.

Kusumawati I. 2009. Penggunaan Metode Pembelajran Teams Games


Tournament (TGT) Disertai Media Gambar Cetak sebagai
Upaya Dalam Menningkatkan Kreatifitas dan Hasil Belajar Geografi pada
Kompetensi Dasar Atmosfer Bagi Siswa Kelas X di SMA Negeri 2
Sukoharjo Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi. Fakultas Keguruan dan
Ilmu Pendidikan. Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Lakitan, B. 2002. DasarKlimatologi. Jakarta: PT RagagrafindoPersada.

Laela, N,L. 2015. Fisika Bangunan 1. Penebar Swadaya: Jakarta.

Nicholson, Sue. 2005. Seri Intisari Ilmu Cuaca. Penerbit Erlangga, Jakarta.

Petterssen. 1958. Introduction to Meteorology. McGRAW-Hill Book Company.


London.

Prawirowardoyo, S. 1996. Meteorologi. Penerbit ITB. Bandung.

Setiawan, E. 2009. Pemanfaatan Data Cuaca Untuk Pendugaan Produktivitas


Tanaman Cabe Jamu di Madura. Jakarta: BMG.

Swarinoto, Y. dan Widiastuti, M. 2003. Uji statistika terhadap persamaan


eksperimental untuk menghitung nilai suhu udara permukaan rata-rata
harian. J. Meteorologi dan Geofisika. 3(3) : 1-10.

Umar, M. Ruslan. 2006. Penuntun Praktikum Ekologi Umum. Universitas


Hasanuddin. Makasa.

Wahyuningsih, Utami. 2004. Geografi. Pabelan, Jakarta.


67

Wisnubroto, Soekardi. 1981. Asas Meteorologi pertanian. Ghalia Indonesia. Jakarta.


Yani, Ahmad dan Mamat Rahmat. 2007. Geografi Menyngkap Fenomena Geosfer.
Jakarta: Grafindo.