Anda di halaman 1dari 27

TM 4217

TEKNIK GAS BUMI

PR 5

KELOMPOK 2

NAMA/ NIM : 1. Rizki Wahyu Pangestu 12213006

2. Singgih Candra Prakosa 12213007

3. Dharmawan Raharjo 12213008

4. Deoky Pandu Dewanto 12213009

5. Ibrahim Al Fatih 12213010

DOSEN : Prof. Ir. Doddy Abdassah, M. Sc., Ph.D.

ASISTEN : 1. M. Wildani Alvin Aftony 12212060

2. Machruzi Rizki Fawzi 12212070

3. Kurnia Agung Arief Wijaya 12212102

TANGGAL PENYERAHAN : 20 Februari 2017

PROGRAM STUDI TEKNIK PERMINYAKAN

FAKULTAS TEKNIK PERTAMBANGAN DAN PERMINYAKAN

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

2017
TM 4217 Natural Gas Engineering

Pembagian Kerja

Rizki Wahyu: Pengolahan poin 2 dan 3


Singgih Candra: Pengolahan poin 2 dan 3
Dharmawan Raharjo: Pengolahan poin 4 dan 5
Deoky Pandu D: Pengolahan poin 4 dan 5
Ibrahim Al F.: Pengolahan poin 1

Page 1
TM 4217 Natural Gas Engineering

TM 4217 Natural Gas Engineering


Weekly Project Topics # 5
Well Testing

Courses Name Attainment

Professional Responsibility
Appl. of Math &Science

Experimental Training

Contemporary Issues
Communication Skill
Courses Code

Long-life Learning

Engineering tools
Problem Solving
Design Abilities

Societal Impact
Teamwork
(b)

(d)

(g)

(h)

(k)
(a)

(c)

(e)

(f)

(i)

(j)
TM 4217 Natural Gas Engineering v v v v

SO (c, d, e, k)
Dari data DST yang diberikan lakukan interpretasi terhadap 2 (dua) data DST tersebut dan integrasikan
evaluasi yang dilakukan dengan data reservoir yang lain (misal data routine core analysis, PVT dan log)

Data Tambahan

Well radius : 0.3 ft

DST-1
Durasi Laju Alir Gas
jam MSCFD
25.0728 0
4.3289 5700
3.0868 0
1.9988 4600
2.0170 5300
5.0410 5350
6.4032 0
15.0276 1

Page 2
TM 4217 Natural Gas Engineering

DST-2
Durasi Laju Alir Gas
jam MSCFD
22.5850 0
2.1055 13600
3.3025 0
1.9986 6400
1.9981 10500
2.0022 12300
1.9997 13600
0.5514 12300
0.4561 10300
6.9543 0
15.2152 1

Project#5 - Descriptions
1. (SO e,k Score 20)
Re-evaluate the input parameters obtained from previous projects (Log, Routine Core and PVT)
for the purpose of well testing interpretation?.

2. (SO d,k - Score 40)


Using the application of PTA, you are asked to interpret the DSTs to determine the following
parameters:
Permeability/permeability thickness
Skin factor
Wellbore storage
P*
Reservoir model & Boundary
Radius of investigation
AOFP

3. (SO e Score 10)


Do you find any inconsistency between the results of your well testing interpretations and the
available observed data (Log, routine core, etc)?

4. (SO e Score 10)


Please explain if you think that the DSTs was conducted properly/improperly to determine the
parameters in Prob. #2?

5. (SO c Score 20)


Please design proper DST program (estimate flow rate and duration) for next well by considering
existing well data (log, core and PVT)

Page 3
TM 4217 Natural Gas Engineering

Jawaban:
1. Reevaluasi input parameter
Berikut adalah parameter yang diinput kedalam data well testing interpretation.

Page 4
TM 4217 Natural Gas Engineering

Data yang berasal dari project sebelumnya disimpulkan seperti berikut.

Parameters Value Unit


Well radius 0.33 ft
Pay zone 36.5 ft
Porosity 0.29 fraction
Sg gas 0.5536
Temperature 142.17 degF
P reservoir 1758 psi
CO2 1.1 %

Page 5
TM 4217 Natural Gas Engineering

Well radius didapatkan dari caliper log pada kedalaman reservoir.

Reservoir depth

Nilai payzone yang digunakan untuk well testing interpretation adalah 36.5 ft, sedangkan
hasildari well log adalah sebesar 430 ft. Hal ini terjadi interpretasi yang kami lakukan pada
data log terlalu optimis maka kami melakukan konsultasi sehingga didapatkan angka
sebesar itu. Nilai porositas didapatkan output interpretasi log dari software. Spesifik gravity

Page 6
TM 4217 Natural Gas Engineering

gas yang digunakan sebagai data input adalah berdasarkan komposisi penyusun dari
komponen-komponen gasnya. Tekanan dan temperature reservoir didapatkan dari data
awal MDT (modular dynamic tester). Pada komponen impurities, terdapat kandungan CO 2
yang didapatkan dari rata-rata 4 sampel fluida reservoir.

2. Interpretasi DST
a. Analisis Tekanan Transien
Dengan menggunakan perangkat lunak Saphir, data awal dimasukkan untuk
selanjutnya dianalisis tekanan transiennya dengan metode type curve matching dan
Horner Plot. Dalam kasus ini, jenis fase yang digunakan adalah gas dengan laju yang
tersedia hanya fasa gas saja. Analisis tekanan transien dilakukan pada periode build-up.
Hal ini karena data yang diperoleh dari periode ini lebih akurat daripada periode
lainnya. Ketika dilakukan build-up, sumur ditutup agar tidak ada laju alir sehingga
sensor lebih stabil dibandingkan saat ada laju alir. Ketika masih ada laju alir, terdapat
kemungkinan sensor tidak stabil sehingga data yang diperoleh cenderung acak dan tidak
beraturan.
DST-1

Gambar Build Up 2 DST-1

Page 7
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Build Up 1 DST-1

Gambar Pressure Derivative Build Up 1 DST-1

Page 8
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Horner Plot Build Up 1 DST-1

Gambar Hasil Interpretasi Build Up 1 DST-1

Page 9
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar History Plot Pressure(psia)-Rate (Mscf/d) terhadap Waktu (hour) Build-Up-2 DST-1

Gambar Type Curve Matching Build-Up-2 DST-1

Gambar Horner Plot Build-Up-2 DST-1

Page 10
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Hasil Interpretasi Horner Plot Build-Up-2 DST-1

Page 11
TM 4217 Natural Gas Engineering

Hasil interpretasi DST-1 build up 1 dan 2 berbeda. Hal ini karena waktu build up curve untuk
yang pertama kurang sehingga belum mencapai posisi stabil. Hasil interpretasi untuk build up
1 perlu dikaji lebih lanjut dan dibandingkan dengan hasil interpretasi dari build up 2. Build up
kedua menunjukan adanya no flow region pada sekitar 50 ft dari sumur, hal ini bersesuain dari
data geologi dan petrofisika yang menyatakan bahwa di dekat sumur (di sebelah utara sumur)
terdapat fault atau patahan. Pada build up 1 patahan belum terbaca karena horner time belum
memungkinkan tekanan transient sampai ke batas atau patahan.
DST-2
Interpretasi dilakukan dengan mengatur model dan parameter secara manual mengguna ka n
EPS Derivative Diagnostic Library dan dipilih model yang paling mendekati dengan hasil
simulasi. Model yang paling mendekati adalah model horizontal well dengan conductive fault
dan damage.

Model yang dipilih adalah sebagai berikut:

Page 12
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar History Plot Pressure(psia)-Rate (Mscf/d) terhadap Waktu (hour) Build-Up-1 DST-2

Gambar Type Curve Matching Build-Up-1 DST-2

Page 13
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Horner Plot Build-Up-1 DST-2

Gambar Hasil Interpretasi Horner Plot Build-Up-1 DST-2

Page 14
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar hasil interpretasi Build-up 1 DST 2

Gambar History Plot Pressure(psia)-Rate (Mscf/d) terhadap Waktu (hour) Build-Up-2 DST-2

Page 15
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Type Curve Matching Build-Up-2 DST-2

Gambar Horner Plot Build-Up-2 DST-2

Page 16
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Hasil Interpretasi Horner Plot Build-Up-2 DST-2

Gambar Hasil Interpretasi Build-Up-2 DST-2

b. Absolut Open Flow


Pada kenyataannya, sumur TM-01 adalah tipe sumur miring atau deviated well.
Oleh karena keterbatasan fasilitas Saphir, maka penentuan IPR/AOFP dilakukan

Page 17
TM 4217 Natural Gas Engineering

berdasarkan asumsi bahwa sumur tipe vertikal dan dengan menggunakan korelasi
C dan N.

DST-1

Gambar Grafik IPR Pf (psia) terhadap Q (Mscfd) metode C dan N DST-1

Gambar Grafik AOFP Pavg2-Pf2 (psi2) terhadap Q (Mscfd) metode C dan N DST-1

Page 18
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Hasil Interpretasi IPR DST-1

DST-2

Gambar Grafik IPR Pf (psia) terhadap Q (Mscfd) metode C dan N DST-2

Page 19
TM 4217 Natural Gas Engineering

Gambar Grafik AOFP Pavg2-Pf2 (psi2) terhadap Q (Mscfd) metode C dan N DST-2

Gambar Hasil Interpretasi IPR DST-2

Page 20
TM 4217 Natural Gas Engineering

Rangkuman Hasil Antar Metode


Metode Type Curve Matching Unit
DST-1 DST-2
BUP-1 BUP-2 BUP-1 BUP-2
Permeability 13.5 5.73 80.5 80.5 md
Skin factor 15.1 4.34 39 41.4
Wellbore 0.0454 0.000454 0.0368 0.0248 bbl/psi
storage
P* 1767.44 1827.12 1786.71 1789.47 psia
Reservoir Homogeneous Homogeneous Homogeneous Homogeneous
model
Boundary Infinite One Fault One fault One fault
Radius of 356 52.6 146 190 ft
investigation
AOFP 6454.9 20801.3 Mscf/d

Tabel Rangkuman Hasil Type Curve dan Horner Plot

Data-data dari DST-1 cukup bagus, dan hasil analisis dari DST-1 dapat digunakan
untuk analisis dan perhitungan yang lainya.

3. Konsistensi antara data pengujian sumur dan data observasi yang tersedia
Berdasarkan pengolahan didapatkan hasil paling akurat pada tes build-up 2 pada DST 1.
Hal ini dikarenakan analisis tekanan paling mendekati kenyataan. Berdasarkan niai
parameter yang diperoleh dari analisis tekanan transien perangkat lunak Saphir, nilai
tekanan awal yang diperoleh adalah 1794 psia. Sedangkan berdasarkan data MDT rata-rata
diperoleh nilai tekanan awal sebesar 1758 psia. Kedua nilai tersebet menunjukkan hasil
yang cukup konsisten untuk tekanan reservoir yang diperoleh.
Selain variabel tekanan reservoir, variabel permeabilitas juga dapat diperoleh dari analisis
tekanan transien sebesar 0.98 md untuk metode type curve matching dan 1.34 md untuk
metode plot Horner. Sedangkan berdasarkan hasil analisis Routine Core Analysis (RCAL)
nilai permeabilitasnya adalah 6.2 md. Perbedaan ini disebabkan DST tes yang dilaksanakan
kurang tepat di dalam menginterpretasikan parameter yang berkaitan dengan tekanan

Page 21
TM 4217 Natural Gas Engineering

reservoir. Inkonsistensi hasil dan ketidakakuratan tes dikarenakan bahwa periode tes
dilakukan terlalu cepat dan selisih laju alir yang digunakan yang kurang besar.
Reservoir model yang diperoleh dari analisis tekanan transien adalah tipe homogen dengan
satu fault. Hal ini bersesuaian dengan model geologi yang ada.

4. Keberjalanan pelaksanaan tes DST untuk menentukan parameter


Setelah dilakukan pemrosesan data dengan menggunakan software sapphire,
didapat hasil history plot sebagai berikut.

Gambar History Plot Pressure(psia)-Rate (Mscf/d) terhadap Waktu (hour) DST-2

Gambar History plot DST-1


Dapat dilihat bahwa pada awalnya, initial mud injection dimulai. Kemudian packer
squeeze dijalankan. Setelah itu dilakukan drawdown dan dilakukan shut ini. Dapat

Page 22
TM 4217 Natural Gas Engineering

dilihat bahwa dengan mengkomparasikan dari hasil satisfactory DST, hasil DST yang
dihasilkan sudah cukup baik.

Berdasarkan hasil Analisa poin 2 dan 3, diperoleh kesimpulan bahwa data DST-1 dan
DST 2 cukup baik untuk dilakukan interpretasi. Hal ini karena tidak ada spike data, dan
pressure derivative dapat dihasilkan tanpa adanya anomaly.
Setelah dilakukan analisis pada DST-1 dan DST-2 yang menunjukkan hasil interpretasi
yang berbeda antara keduanya. Analisis tekanan transien kedua tes tersebut
mengindikasikan bahwa sumur TM-01 merupakan sumur reservoir homegen dengan
wellbore storage dan skin. Namun, perbedaan yang sangat jelas terjadi ketika menganalisis
pressure derivative antara DST-1 dan DST-2. Tidak hanya itu saja, hasil interpretasi
periode build-up yang berbeda pada tes DST yang sama juga menunjukkan adanya
perbedaan terutama pada batas reservoir yang ada.
Pada DST-2 telah dianalisis periode build-up 1 dan build-up 2 yang menunjukkan hasil
interpretasi yang jauh lebih tidak memuaskan daripada DST-1. Hal ini karena baik untuk
kedua periode build-up pada DST-2 menunjukkan pressure derivative yang belum
mencapai radial flow. Hal ini berakibat interpretasi dari skin dan permeabilitas atau
permeability thickness tidak akurat. Selain itu, batas reservoir juga tidak dapat dianalisis
sebelum propagasi mencapai radial flow.
Namun, kekurangan DST-1 dan DST-2 adalah testnya tidak sampai pada kondisi batas
reservoir/kurang proper. Hal ini dapat terlihat dari pressure derivativenya yang berbentuk
linear (infinite acting). Seharusnya, test yang baik akan menghasilkan output yang mampu

Page 23
TM 4217 Natural Gas Engineering

menunjukkan seluruh keadaan reservoir (seperti mencapai batas dari reservoir). Hal ini bisa
saja terjadi karena model tes yang tidak begitu cocok atau parameter tes seperti rate dan
durasi yang kurang lama.
Jika dilihat dari kacamata bisa diinterpretasi atau tidak, maka dua DST sudah cukup
baik karena hasilnya sudah bisa diinterpretasikan. Namun jika dilihat hasil interpretasi,
maka DST kurang begitu baik karena seperti yang disampaikan di awal bahwa kurang bisa
merepresentasikan kondisi reservoir yaitu tidak terlihatnya fault.

5. Desain program DST yang baik dengan mempertimbangkan data sumur yang telah
tersedia
Metode well testing untuk sumur TM-01 yang kami desain menganut metode modified
isochronal. Perbedaan metode ini dengan metode isochronal terletak pada persyaratan
bahwa penutupan sumur tidak perlu mencapai stabil. Selain dari pada itu selang waktu
penutupan dan pembukaan sumur dibuat sama besar.

Input data well log dan PVT yang digunakan adalah sebagai berikut,
Well Radius 0.33 Ft
Pay Zone 36.5 Ft
Porosity 0.29
Formation Compressibility 3E-6 1/psi
Reservoir Temperatur 142.17 degF
Reservoir Pressure 1758 Psi
SG gas 0.5536
CO2 1.1 %

Page 24
TM 4217 Natural Gas Engineering

Tabulasi Rate dan durasi yang digunakan adalah sebagai berikut,

Durasi pembukaan dan penutupan sumur dibuat 3 jam karena berdasarkan simulasi, hasil
pressure derivative yang dihasilkan baik. Sedangkan apabila digunakan durasi 2.5 jam atau
3.5 jam hasil derivativenya tidak jelas. Durasi 12 jam digunakan untuk stabilizize flow.
Durasi 24 jam digunakan untuk membuild up sumur secara keseluruhan sebelum
dilanjutkan proses produksi. Pemilihan laju alir 3,6,7.5 dan 12 berdasarkan hasil trial dan
eror.
Durasi waktu test dan laju alir bergantung pada kondisi reservoir yang ada. Misalkan pada
sistem reservoir terdapat fault, maka pada pressure derivative harus terlihat adanya fault
seperti pada gambar dibawah ini.

Hasil plot pressure derivative untuk durasi test 3 jam

Page 25
TM 4217 Natural Gas Engineering

Hasil plot pressure derivative untuk durasi test 2.5 jam

Kesimpulan
Spesifikasi tes yang didesain berupa periode dan laju alir sudah bagus untuk
memperoleh data-data yang dibutuhkan dari reservoir ini. Tes ini memerlukan waktu yang
sedikit lebih lama karena permeabilitas reservoir ini bernilai cukup rendah.
Selain itu tidak diperlukan sumur baru, karena secara keseluruhan kondisi reservoir
sudah bisa diinterpretasikan melalui welltest. Hal ini juga didukung karena besar dari reservoir
yang tidak terlampau besar.

Page 26