Anda di halaman 1dari 21

Nomor : 01 Tahun 2012

Tanggal: 22 Nopember 2012


ASOSIASI PENGEMBANG PERUMAHAN RAKYAT INDONESIA
(ASPERI)

Peraturan organisasi (PO), yang selanjutnya disebut Peraturan Organisasi


ASOSIASI PENGEMBANG PERUMAHAN RAKYAT INDONESIA (PO ASPERI),
berfungsi sebagai pedoman penegakan disiplin di kalangan Organisasi ASPERI,
dalam rangka membina dan mengembangkan ASPERI sesuai dengan tujuan dan
fungsinya sebagaimana tercantum dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga ASPERI, maupun dalam rangkaian membina profesionalisme yang beretika
di kalangan pengurus dan Anggota ASPERI.

I. TATA CARA PENERIMAAN ANGGOTA


1. Permohonan untuk menjadi anggota ASPERI harus diajukan secara tertulis
kepada DPP ASPERI, menurut contoh model formulir yang ditetapkan DPP
ASPERI dan melampirkan:
2. Foto copy Akte Perusahaan dan Akte Perubahannya yang bergerak di bidang
usaha perumahan dan permukiman sebagaimana dimaksud pada Anggaran
Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ASPERI,
3. Surat Keterangan Domisili.
4. Foto copy struktur organisasi,
5. Membayar Uang Pangkal dan Uang luran sebesar Rp. 3.000,000,- (tiga juta
rupiah), mengisi biodata (perorangan/perusahaan) sebagaimana contoh/model
yang ditetapkan oleh DPP ASPERI.
6. Pas foto Direktur Utama atau perseorangan, ukuran 3 X 4, sebanyak 2 (dua)
lembar dan copy KTP.
7. Poin a s/d c tidak berlaku untuk Anggota perseorangan.
II. UANG PANGKAL
Kewajiban membayar uang pangkal hanya dikenakan sekali, yakni pada saat
pertama kali disetujui oleh DPP ASPERI untuk diterima menjadi anggota ASPERI.

III. UANG IURAN


Kewajiban membayar uang iuran dikenakan kepada setiap anggota ASPERI, dengan
cara pembayaran dimuka untuk setiap tahun takwim, sekurang-kurangnya sekali
setahun, dengan ketentuan uang iuran untuk tahun takwim pertama sebagai
Anggota ASPERI, wajib dilunasi segera sesudah yang bersangkutan disetujui oleh
DPP ASPERI. Kewajiban membayar uang iuran tersebut tetap melekat kepada
setiap anggota ASPERI, mulai sejak tahun pengesahannya menjadi Anggota
ASPERI sampai dengan tahun berakhirnya masa berlaku keanggotaan, atau tahun
berhenti sebagai Anggota ASPERI.

Dalam hal terjadi perpindahaan keanggotaan dari satu wilayah ke wilayah ASPERI
lainnya, maka uang iuran untuk tahun kedepannya dibayarkan kepada DPP ASPERI.

IV. SUMBANGAN ANGGOTA


Untuk tujuan yang sifatnya khusus demi kepentingan organisasi ASPERI atau untuk
mengatasi keadaan yang sangat mendesak, dengan Keputusan DPP ASPERI / DPD
ASPERI dapat mewajibkan kepada Anggota ASPERI untuk membayar sumbangan
yang bersifat tidak mengikat (sukarela), selain membayar uang pangkal dan uang
iuran.

V. PENETAPAN UANG PANGKAL, UANG IURAN DAN SUMBANGAN


Besarnya uang pangkal, uang iuran keanggotaan, demikian juga peninjauan dan
perubahannya ditetapkan dengan Keputusan Musyawarah Nasional (MUNAS).

Sedangkan Uang Sumbangan Anggota ditetapkan oleh DPP ASPERI sesuai


dengan kebutuhan.

VI. TATA CARA PEMBAYARAN


Pembayaran uang pangkal, uang iuran anggota dilakukan dengan menyetorkan ke
rekening bank atas nama DPP ASPERI, kecuali dalam keadaan tertentu.

Sedangkan pembayaran sumbangan anggota disetorkan ke rekening bank sesuai


dengan Surat Keputusan DPP ASPERI.

Anggota ASPERI yang sudah melaksanakan kewajibannya membayar uang pangkal,


uang iuran dan atau sumbangan Anggota, tidak berhak menuntut pembayaran
kembali, walaupun yang bersangkutan sudah berhenti dari keanggotaan ASPERI,
atau keanggotaannya pindah dari satu wilayah ke wilayah ASPERI lainnya.

VII. PERUNTUKKAN UANG PANGKAL, UANG IURAN DAN SUMBANGAN


Sebagai sumber keuangan organisasi, maka uang pangkal, uang iuran dan
sumbangan Anggota diperuntukkan bagi kepentingan organisasi ASPERI.

VIII. KETENTUAN PENUTUP


Ketentuan dalam Peraturan Organisasi ASPERI tentang Uang Pangkal, Uang luran
dan Sumbangan Anggota berlaku sejak ditetapkan, dengan ketentuan tidak
bertentangan dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ASPERI.

IX. KETENTUAN UMUM

1. Peraturan organisasi tentang Disiplin Organisasi ini, yang selanjutnya disebut


Peraturan Organisasi ASPERI, berfungsi sebagai pedoman penegakan disiplin di
kalangan Organisasi ASPERI, dalam rangka membina dan mengembangkan
ASPERI sesuai dengan tujuan dan fungsinya sebagaimana tercantum dalam
Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ASPERI, maupun dalam
rangkaian membina profesionalisme yang beretika di kalangan pengurus dan
Anggota ASPERI.

2. Penegakan disiplin organisasi dilaksanakan dengan penindakan terhadap


Pengurus dan Anggota ASPERI yang melakukan pelanggaran terhadap
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga ASPERI ataupun Peraturan
Organisasi ASPERI dan Kebijakan Organisasi lainnya.

3. Tindakan disiplin organisasi hanya boleh dikenakan atas pelanggaran yang


diancam dengan pengenaan tindakan disiplin organisasi menurut Peraturan
Disiplin Organisasi ASPERI.

4. Tindakan Disiplin Organisasi yang dikenakan atas pelanggaran yang


dilakukan oleh perorangan selaku Pengurus ASPERI, tidak dengan sendirinya
merupakan tindakan disiplin organisasi terhadap perusahaan Anggota ASPERI
yang diwakilinya.
X. JENIS-JENIS TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI
1. Jenis tindakan disiplin Organisasi yang dikenakan atas pelangggaran yang
dilakukan Anggota ASPERI terdiri dari:
2. Menunda perpanjangan Surat Pengesahan Keanggotaan untuk jangka waktu
paling lama 1 (satu) tahun.
3. Memberhentikan dengan hormat dari keanggotaan.
4. Memberhentikan dengan tidak hormat dari keanggotaan.
5. Jenis tindakan disiplin organisasi yang dapat dikenakan atas pelanggaran
yang dilakukan perorangan selaku pengurus ASPERI, terdiri dari:
6. Memberikan teguran tertulis secara bertahap sampai dengan teguran ke-3
(tiga).
7. Memberhentikan dengan hormat dari jabatan kepengurusan.
8. Memberhentikan dengan tidak hormat dari jabatan kepengurusan terhadap
pelanggaran berat.
9. Dalam hal anggota ASPERI dan atau perorangan selaku Pengurus ASPERI
melakukan lebih dari satu pelanggaran yang dapat dikenakan tindakan disiplin
organisasi, yang bersangkutan hanya dapat dikenakan tindakan disiplin
organisasi, hanyalah pelanggaran disiplin organisasi yang paling berat.
XI. TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI BERKAITAN DENGAN KEANGGOTAAN
1. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa menunda perpanjangan Surat
Pengesahan Keanggotaan, jika yang bersangkutan tidak mematuhi ketentuan
Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, maupun Peraturan Organisasi
lainnya.
2. Dikenakan tindakan disiplin organisasi terhadap perorangan selaku Pimpinan
Perusahaan Anggota ASPERI ataupun perorangan selaku Pengurus ASPERI,
jika yang bersangkutan melakukan pelanggaran:
A. Dengan sengaja dan bersifat terbuka melakukan perbuatan atau mengeluarkan
pernyataan yang bersifat tidak menghormati Anggaran Dasar, Anggaran Rumah
Tangga, Keputusan MUNAS/MUSWIL/MUSDA, Peraturan Organisasi dan
Keputusan-Keputusan DPP ASPERI lainnya.

B. Dengan sengaja menghasut Anggota ASPERI Iainnya untuk melakukan


perbuatan dan atau mengeluarkan tersebut pada butir a.

C. Dengan sengaja dan dengan maksud menggagalkan MusyawarahMusyawarah,


Rapat-Rapat dan kegiatan organisasi ASPERI, melakukan atau turut serta
melakukan keributan dalam musyawarah, rapat-rapat atau kegiatan Organisasi
ASPERI, tanpa mengindahkan teguran Pimpinan Musyawarah / Rapat / Kegiatan.

3. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa Pemberhentian Dengan


Hormat dari Keanggotaan ASPERI, atau dicabut hak keanggotaan ASPERI jika
melanjutkan atau mengulangi perbuatan-perbuatan sebagaimana dimaksud pada
butir 1 di atas, padahal yang bersangkutan sedang dikenakan tindakan disiplin
organisasi berupa penundaan perpanjangan Surat Pengesahan
Keanggotaannya.
4. Terhadap Perorangan selaku Pengurus ASPERI dikenakan tindakan disiplin
Organisasi berupa Pemberhentian dengan Hormat dari Kepengurusan ASPERI,
jika yang bersangkutan melanjutkan dan atau mengulangi perbuatan-perbuatan
yang dimaksud pada butir 2a, dan 2b tersebut di atas, padahal yang
bersangkutan sedang dikenakan tindakan disiplin Organisasi berupa teguran-
teguran atas pelanggaran disiplin yang dilakukannya.

5. Dikenakan tindakan organisasi berupa Pemberhentian dengan tidak Hormat,


terhadap Perorangan selaku Pengurus ASPERI, jika yang bersangkutan
mengulangi dan atau melanjutkan perbuatan pelanggaran sebagimana dimaksud
pada butir 2a, 2b dan 2c tersebut di atas, padahal yang bersangkutan sudah
dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa pemberhentian dengan hormat.
XII. TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI KEPADA ANGGOTA BERKAITAN
DENGAN KODE ETIK ASPERI
1. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa menunda perpanjangan Surat
Pengesahan Keanggotaan, jika anggota ASPERI melakukan pelanggaran
terhadap Kode Etik ASPERI sebagai berikut :
1945. Menurut keterangan resmi yang dikeluarkan oleh Instansi yang berkompeten,
yang perusahaan atau Pimpinannya diragukan kesetiaan terhadap Pancasila dan
Undang-Undang Dasar 1945.
1946. Oleh Instansi Pemerintah yang berkompeten, Perusahaan dan atau
Pimpinannya dinyatakan dengan resmi sebagai terpidana berkaitan dengan
bisnis perumahan dan permukiman.
1947. Dalam melaksanakan kegiatannya sebagai pengembang telah melakukan
pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku, serta melakukan
tindakan Kolusi, Korupsi dan Nepotisme (KKN).
1948. Diragukan kesungguhan dan itikad baiknya untuk menghormati dan
menghargai profesi, atau tidak menjunjung tinggi rasa keadilan, kebenaran dan
kejujuran, dan melakukan perbuatan-perbuatan sebagai berikut :
o Dalam rangka membangun dan memasarkan produk perumahan dan
permukiman, dengan sengaja memberikan informasi yang tidak didukung oleh
kebenaran dan atau bersifat menyesatkan konsumen dan merusak citra
ASPERI.
o Dengan sengaja melakukan pengingkaran terhadap tanggungjawab
dan kewajibannya yang telah disepakati sebagai pengembang serta tidak
berupaya untuk menyelesaikan sengketa atas tindakan pengingkaran
tersebut, baik kepada konsumen dan kepada instansi Pemerintah yang
terkait, maupun kepada mitra kerjanya
o Dengan sengaja mengabaikan profesionalisme dalam melaksanakan
pembangunan perumahan dan permukiman atau dalam melakukan pekerjaan
selaku pengembang ataupun agen produk perumahan dan permukiman
sehingga mencemarkan nama baik organisasi ASPERI.

1. Diragukan kesungguhan dan iktikad baiknya untuk berperan serta dalam


pembangunan perumahan dan permukiman, karena ternyata dalam
melaksanakan bisnisnya bertentangan atau menyimpang dengan kebijakan
Pemerintah.
2. Diragukan kesungguhan dan iktikad baiknya untuk saling menghormati, saling
menghargai dan saling membantu sesama anggota ASPERI, dengan melakukan
perbuatan-perbuatan sebagai berikut :
Dengan sengaja melakukan tindakan dan atau menyebarkan fitnah untuk
mencemarkan dan atau merugikan anggota ASPERI lainnya.
Melakukan praktek oligopoly, dan persaingan tidak sehat dengan maksud
untuk memperoleh keuntungan tanpa mempertimbangkan kerugian sesama
pengembang Anggota ASPERI.
2. Dikenakan tindakan disiplin organisasi dengan Pemberhentian Dengan
Hormat dad Keanggotaan ASPERI, jika melanjutkan atau mengulangi kembali
perbuatan-Perbuatan yang dimaksud pada butir 1 tersebut di atas, padahal
yang bersangkutan sedang dikenakan tindakan organisasi berupa menunda
Perpanjangan Surat Pengesahan Keanggotaannya.
3. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa Pemberhentian Dengan
Tidak Hormat dari keanggotaan ASPERI, jika mengulangi perbuatan-
perbuatan yang dimaksud pada butir 1 tersebut di atas, padahal yang
bersangkutan sudah 2 (dua) kali dikenakan tindakan disiplin organisasi.
XIII. TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI KEPADA KEPENGURUSAN BERKAITAN
DENGAN PELANGGARAN KODE ETIK
1. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa memberikan teguran tertulis,
perorangan Pengurus ASPERI yang diragukan itikad baiknya untuk
senantiasa berusaha bersikap adil dalam melaksanakan kewajiban, hak dan
wewenangannya selaku Pengurus ASPERI yang melakukan tindakan:
A. Mengistimewakan pelayanan, pembinaan dan pembelaan organisasi ASPERI
kepada perusahaan yang diwakilinya.

B. Mengabaikan kewajibannya menegakkan disiplin organisasi ASPERI terhadap


perusahaan yang diwakilinya.

1. Memberhentikan dengan hormat dad jabatan kepengurusan, anggota


pengurus ASPERI yang melanjutkan atau mengulangi pelanggaran kode etik
sebagaimana dimaksud pada butir 1 (satu) di atas, walaupun sudah dikenakan
tindakan disiplin organisasi berupa pemberian teguran tertulis sebanyak 3 (tiga)
kali.
2. Dikenakan tindakan disiplin organisasi berupa memberhentikan dengan tidak
hormat dari jabatan kepertgurusan ASPERI yang melakukan perbuatan :
A. Dengan maksud meraih peluang bagi perusahaan yang diwakilinya atau anggota
ASPERI yang diistimewakannya, dengan sengaja merahasiakan atau memutar
balikkan informasi yang seharusnya dipaparkan seluas-luasnya kepada seluruh
anggota ASPERI agar semuanya mendapatkan kesempatan yang sama untuk
meraih peluang bisnis yang terbuka berkat usaha Dewan Pengurus ASPERI.

B. Dengan sengaja menghalang-halangi anggota ASPERI tertentu mendapatkan


pelayanan, pembinaan dan pembelaan yang sama seperti anggota ASPERI lainnya.

C. Dengan sengaja menghasut anggota ASPERI lainnya dengan maksud untuk tidak
saling menghormati, saling menghargai dan saling membantu sesama Anggota
ASPERI.

XIV. TATA CARA PENGENAAN TINDAKAN DISIPLIN ORGANISASI



1. Pengenaan tindakan disiplin organisasi dilakukan oleh DPP ASPERI, baik
atas usul DPD ASPERI maupun prakarsa DPP ASPERI.

2. Dalam hal DPD ASPERI hendak menggunakan wewenangnya mengusulkan


tindakan disiplin organisasi, mekanismenya sebagai berikut :
A. Memutuskan pelaku bersangkutan sebagai tersangka pelaku pelanggaran
peraturan disiplin organisasi ASPERI, dengan menyebutkan pelanggaran yang
dituduhkan, setelah DPD ASPERI mempunyai bukti yang cukup untuk itu, baik
berdasarkan pengaduan anggota ASPERI, atau anggota masyarakat yang merasa
dirugikan, maupun berdasarkan hasil pengumpulan informasi dan pemantauan oleh
DPD ASPERI.

B. Membentuk tim pemeriksa seraya menugaskan segera melakukan pemeriksaan


atas informasi pelanggaran yang dituduhkan, kemudian hasil pemeriksaan itu
dilaporkah kepada DPD ASPERI dalam jangka waktu selambat -lambatnya 1 (satu)
bulan, sejak dibentuknya tim tersebut.

C. Memberitahukan keputusan tersebut pada butir a dan b kepada tersangka, seraya


menjelaskan bahwa yang bersangkutan mempunyai hak untuk membela did, baik
dengan menyampaikan nota pembelaan diri kepada tim pemeriksa, kepada DPD
ASPERI maupun kepada DPP ASPERI untuk memberikan kesempatan membela did
yang bersangkutan. Pengambilan keputusan akhir oleh DPD ASPERI atas hasil
pemeriksaaan, baru dapat dilakukan secepat-cepatnya 14 hari sejak pemberitahuan
kepada tersangka.

D. Mempertimbangkan dan memutuskan terbukti tidaknya tuduhan berdasarkan


hasil pemeriksaan tim pemeriksa dan setelah memperhatikan pembelaan did yang
bersangkutan (jika ada); dalam hal tersangka diputuskan terbukti melakUkan
pelanggaran sebagaimana yang dituduhkan, maka DPD segera mengajukan usul
kepada DPP ASPERI agar tersangka dikenakan tindakan disiplin organisasi
dilengkapi dengan pertimbangan-pertimbangan yang
diperlukan seraya melampirkan laporan hasil pemeriksaan yang dibuat oleh tim
pemeriksa. Dalam hal tidak cukup bukti-bukti maupun syarat-syarat untuk
mengenakan tindakan disiplin organisasi, keputusan tersebut segera disampaikan
kepada tersangka.

3. Dalam hal DPP ASPERI hendak menggunakan wewenangnya mengenakan


tindakan disiplin organisasi atas prakarsa sendiri, maka harus ditempuh
mekanisme sebagai berikut:
A. Memutuskan yang bersangkutan sebagai tersangka pelaku pelanggaran yang
dituduhkan, setelah DPP ASPERI mempunyai bahan yang cukup untuk itu, baik
berdasarkan pengaduan anggota ASPERI atau anggota masyarakat yang merasa
dirugikan, maupun berdasarkan hasil pengumpulan informasi dan pemantauan DPP
ASPERI.

B. Membentuk Tim Pemeriksa seraya menugaskannya untuk segera melakukan


pemeriksaan atas pelanggaran yang dituduhkan untuk kemudian melaporkannya
kepada DPP ASPERI dalam jangka waktu selambat-lambatnya 1 (satu) bulan
setelah tanggal dikeluarkannya Surat Keputusan Pembentukan Tim Pemeriksa.

C. Memperhatikan keputusan tersebut pada butir a dan b di atas kepada tersangka


seraya menjelaskan bahwa tersangka mempunyai hak untuk membela diri, baik
dengan menggunakan nota pembelaan diri kepada Tim Pemeriksa, kepada DPD
ASPERI maupun kepada DPP ASPERI.

D. Memberitahukan keputusan tersebut pada butir a dan b kepada DPD ASPERI


yang mewilayahi domisili dan atau daerah kerja yang bersangkutan, seraya
menjelaskan bahwa DPD ASPERI bersangkutan diberi kesempatan memberi
masukan atas pelanggaran yang dituduhkan kepada tersangka, baik sifatnya
membela tersangka, maupun membantu DPP ASPERI dalam penguatan bukti- bukti
pelanggarannya.

4. Sebelum mengambil keputusan tentang pengenaan tindakan disiplin


organisasi kepada tersangka, DPP ASPERI dapat meminta Dewan Pertimbangan
Organisasi ASPERI untuk memberikan saran atas hasil pemeriksaan yang
dilakukan oleh DPP ASPERI.
XV. KEDUDUKAN, FUNGSI, KEWAJIBAN, HAK DAN WEWENANG DPP ASPERI

i. Dewan Pengurus Pusat ASPERI, selanjutnya disingkat DPP ASPERI, adalah


pemegang dan penyelenggara kepengurusan tertinggi organisasi ASPERI, bersifat
kolektif, dipilih dan ditetapkan oleh, serta bertanggungjawab kepada MUNAS
ASPERI.
ii. DPP ASPERI berkewajiban :
1. Menyelenggarakan kepengurusan organisasi sesuai dengan Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Musyawarah Nasional, Keputusan Rapat
Kerja Nasional, Peraturan Organisasi serta pengarahan Dewan Pertimbangan
Organisasi.
2. Menyampaikan laporan serta pengawasan terhadap kepengurusan organisasi
kepada Rapat Kerja Nasional.
3. Melakukan pembinaan serta pengawasan terhadap kepengurusan organisasi
tingkat Daerah
4. Memberikan Laporan Pertanggungjawaban kepada Musyawarah Nasional
iii. DPP ASPERI mempunyai tugas, wewenang dan bertanggungjawab:
1. Menentukan kebijaksanaan organisasi sebagai pelaksana Anggaran Dasar,
Anggaran Rumah Tangga, Keputusan Musyawarah Nasional, Keputusan Rapat
Kerja Nasional, Peraturan Organisasi serta Pengarahan Dewan Pertimbangan
Organisasi,
2. Menetapkan Peraturan Organisasi sebagai pelaksanaan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga,
3. Menetapkan kebijaksanaan pelaksanaan Program Kerja Nasional dan
menetapkan Program Kerja Tahunan.
4. Menetapkan pembentukan organisasi ASPERI Tingkat DPW/DPD
PROPINSI/KOTA/KABUPATEN serta membentuk atau mengesahkan susunan
dan personalia DPW/DPD ASPERI.
5. Mengesahkan DPW/DPD ASPERI hasil pemilihan dan penetapan
MUSWIL/MUSDA ASPERI.
6. Atas usul atau permintaan DPW/DPD ASPERI, memberikan persetujuan atas
pembentukan Koordinator Wilayah.
7. Membekukan organisasi ASPERI tingkat Wilayah atau Daerah apabila
Anggota yang ada kurang dari (5) lima. Untuk sementara waktu sebelum
terbentuknya DPW/DPD ASPERI yang definitive, maka pengelolaan anggotanya
diliimpahkan kepada DPW/DPD ASPERI yang terdekat.
8. Atas permintaan 2/3 dari jumlah Anggota tingkat Daerah yang aktif
melaksanakan kewajibannya selaku Anggota, membekukan DPW/DPD ASPERI
seraya mengangkat Caretaker DPW/DPD ASPERI, dengan ketentuan dalam
jangka waktu selambat-lambatnya 3 (tiga) bulan,

Pelaksana DPW/DPD ASPERI tersebut hams menyelenggarakan MUSWIL/MUSDA


untuk memilih dan menetapkan DPW/DPD ASPERI definitif.

1. Membekukan DPW/DPD ASPERI yang dalam tindakannya telah dan dapat


dianggap melnggar AD /ART, Peraturan Organisasi maupun menentang
kebijakan DPP ASPERI.
2. Menerima laporan keadaan dan perkembangan organisasi dari DPW/DPD
ASPERI,
3. Menetapkan susunan dan personalia Dewan Pembina DPP ASPERI.
4. Memfasilitasi penyelenggaraan rapat-rapat Dewan Pertimbangan Organisasi
Tingkat Pusat.
5. Meminta pertimbangan, saran dan nasehat dari Dewan Pertimbangan
Organisasi DPP ASPERI.
6. Memberhentikan seseorang dari jabatan kepengurusan di DPW/DPD,
maupun korwil ASPERI, baik atas permohonan sendiri maupun karena alasan-
alasan yang diatur dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan
Peraturan Organisasi ASPERI.
7. Menetapkan pengisian lowongan antar waktu jabatan Kepengurusan di DPP
ASPERI kecuali pengisian lowongan antar waktu jabatan Ketua Umum DPP
ASPERI,
8. Mengesahkan pengisian lowongan antar waktu jabatan Kepengurusan di
DPW/DPD ASPERI, berdasarkan usulan dari DPW/DPD ASPERI yang
bersangkutan, kecuali Ketua DPW/DPD ASPERI.
9. Mengesahkan dan atau menetapkan pemberhentian keanggotaan ASPERI.
10. Membentuk Badan, Lembaga, Panitia Kerja dan atau alat kelengkapan
organisasi lainnya yang dianggap perlu.
11. Melaksanakan tugas, kewenangan dan tanggungjawab lainnya yang
ditentukan dalam Anggaran Dasar, Anggaran Rumah Tangga, Keputusan
Musyawarah Nasional dan Peraturan Organisasi.
iv. Dewan Pengurus Harian Pusat ASPERI, selanjutnya disebut DPHP, yang terdiri
dari Ketua Umum, Para Wakil Ketua Umum, Sekretaris Jenderal, Para Wakil
Sekretaris Jenderal, Bendahara Umum dan Para Wakil Bendahara Umum,
merupakan pelaksana Kepengurusan sehari-hari, dengan tugas, wewenang dan
tanggungjawab
1. Memimpin pelaksanaan tugas, wewenang dan tanggungjawab sehari-hari.
2. Mengatur pelaksanaan Keputusan DPP.
3. Melaksanakan tugas dan kewajiban lainnya yang ditetapkan oleh DPP
ASPERI.
XVIKetua Umum mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab :

1. Bersama-sama dengan Sekretaris Jenderal atau Wakilnya, mewakili dan


bertanggungjawab atas nama organisasi ke dalam dan ke luar secara Nasional
maupun dengan Luar Negeri.
2. Memimpin, mengendalikan dan mengawasi pelaksanaan tugas dan
tanggungjawab pembinaan dan pengembangan Organisasi.
3. Mengarahkan, membimbing dan mengawasi pelaksanaan Program
Organisasi sesuai dengan Program Kerja Tahunan yang ditetapkan oleh DPP.
4. Membina, memelihara dan mengembangkan hubungan kemitraan dengan
Pemerintah, Lembaga Tertinggi/ Tinggi Negara, TNI/POLRI dan Badan serta
Instansi Pemerintah, maupun Lembaga/Badan Organisasi di dalam maupun di
luar negeri.
5. Memimpin Rapat DPP, DPHP, Rapat Kerja Nasional, dan Musyawarah
Pimpinan Paripuma ASPERI.
6. Menunjuk salah seorang Wakil Ketua Umum untuk mewakilinya dalam hal
Ketua Umum berhalangan melaksanakan tugas, wewenang dan tanggungjawab.

ii. Para Wakil Ketua Umum mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab

1. Mewakili Ketua Umum apabila Ketua Umum berhalangan menjalankan


tugasnya.
2. Membantu Ketua Umum dalam memimpin, mengendalikan, mengarahkan,
membimbing dan mengawasi tugas pembinaan dan pengembangan organisasi
maupun pelaksanaan program organisasi.
3. Mengkoordinasikan dan mengendalikan tugas pada Ketua Departemen,
Badan, Lembaga, Panitia Kerja dan atau alat kelengkapan organisasi lainnya,
menurut pembidangan tugas yang ditetapkan DPHP.
4. Melaksanakan tugas lainnya yang secara khusus yang telah ditentukan oleh
rapat DPHP atau DPP.
XVII. Sekretaris Jenderal mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab:
1. Membantu Ketua Umum dan para Wakil Ketua Umum dalam melaksanakan
tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
2. Memimpin dan mengatur pelaksanaan tugas Sekretariat DPP, selain urusan
keuangan.
3. Mempersiapkan bahan-bahan untuk rapat DPHP, Rapat Pleno DPP, Rapat
Dewan Pertimbangan Organisasi dan Musyawarah Pimpinan Paripurna.
4. Menunjuk salah seorang Wakil Sekretaris Jenderal untuk mewakilinya apabila
Sekretaris Jenderal berhalangan menjalankan tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya dengan sepengetahuan DPHP.
5. Mengkoordinir pelaksanaan tugas, wewenang dan tanggungjawab para Wakil
Sekretaris Jenderal menurut pembidangan tugas yang ditetapkan DPHP atau
DPP.
6. Melaksanakan tugas lainnya yang secara khusus ditentukan oleh DPHP atau
DPP.

i .Wakil Sekretaris Jenderal mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab:

1. Mewakili Sekretaris Jenderal dalam hal Sekretaris Jenderal berhalangan


menjalankan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
2. Membantu Sekretaris Jenderal dalam melaksanakan tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya termasuk pelaksanaan tugas Sekretariat DPP selain
menyangkut urusan keuangan, menurut pembidangan tugas yang ditetapkan
oleh DPHP.
3. Membantu para Wakil Ketua Umum dalam melaksanakan tugas, wewenang
dan tanggungjawabnya, termasuk tugas mengkoordinasikan Departemen-
Departemen, menurut pembidangan tugas yang ditetapkan oleh DPHP.
4. Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang secara khusus ditetapkan oleh DPHP
atau DPP.
XVIII. Bendahara Umum mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab:

1. Membantu Ketua Umum dan para Wakil Ketua Umum dalam melaksanakan
tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
2. Memupuk, mengelola dan mengembangkan sumber-sumber dana dan sarana
lainnya untuk menunjang pelaksanaan kepengurusan DPP dan atau pelaksanaan
program organisasi.
3. Menggalakkan pemasukan iuran Anggota.
4. Menyusun Rancangan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja DPP
untuk ditetapkan oleh DPP menjadi Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja
DPP.
5. Melaksanakan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja DPP, serta
mempertanggungjawabkan kepada DPP.
6. Mengawasi pemasukan dan penggunaan dana DPP, serta menyusun laporan
pertanggungjawaban DPP tentang perkembangan keuangan dan kekayaan
organisasi.
7. Mengkoordinir pelaksanaan tugas, wewenang dan tanggungjawab para Wakil
Bendahara Umum menurut pembidangan tugas yang ditetapkan DPHP atau
DPP.
8. Memimpin dan mengatur pelaksanaan tugas-tugas lainnya yang secara
khusus ditetapkan oleh DPHP atau DPP.
i. Wakil Bendahara Umum mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab:

1. Mewakili Bendahara Umum dalam hal Bendahara Umum berhalangan


melaksanakan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
2. Membantu Bendahara Umum melaksanakan tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya, termasuk pelaksanaan tugas Sekretariat DPP menyangkut
urusan keuangan, menurut pembidangan tugas yang ditetapkan oleh DPHP atau
DPP.
3. Melaksanakan tugas-tugas lainnya yang ditetapkan oleh Bendahara Umum
maupun DPHP dan atau DPP.
ii. Departemen-departemen mempunyai tugas, wewenang dan tanggungjawab :

1. Menghimpun informasi, data dan permasalahan sesuai dengan bidang


Departemen masing-masing dalam rangka menyusun Program Kerja Tahunan,
2. Menyusun rancangan Program Kerja Tahunan DPP menyangkut Departemen
masing-masing, untuk diajukan kepada DPP, dan kemudian ditetapkan oleh DPP
menjadi Program Kerja Tahunan DPP.
3. Melaksanakan Program Kerja Tahunan DPP dan menindaklanjuti kebijakan
yang digariskan oleh DPP menyangkut bidang Departemen masing-masing.
4. Memberikan pertimbangan dan saran-saran kepada DPHP dan atau DPP
tentang kebijakan yang perlu ditempuh DPP di bidang Departemen masing-
masing.
5. Mengadakan pembagian tugas di antara sesama personalia di Departemen
masing-masing dengan sepengetahuan DPHP.
6. Menyampaikan laporan pelaksanaan tugas di bidang Departemen masing
masing kepada DPHP melalui Wakil Ketua Umum atau Wakil Sekretaris Jenderal
yang membidanginya.
iii. Pembagian tugas: Pembagian tugas kepengurusan DPP ASPERI berdasarkan
sektoral dan kewilayahan Indonesia, ditetapkan oleh DPHP atau DPP.

iv. Program terkait : Dalam dua hal atau lebih Departemen yang mempunyai program
atau kegiatan yang sama atau sating terkait satu dengan yang lain, program atau
kegiatan tersebut direncanakan dan dilaksanakan bersama dengan membentuk
Kelompok / Panitia Kerja (POKJA/ PANJA) antar Departemen yang susunan dan
personalianya ditetapkan oleh DPHP.

XIX. PERATURAN PEMBERHENTIAN DARI, DAN PENGISIAN LOWONGAN


ANTAR WAKTU JABATAN KEPENGURUSAN
i. Seseorang berhenti dari jabatan kepengurusan di DPP karena:
1. Meninggal dunia.
2. Diberhentikan dengan hormat oleh DPP, baik atas permohonan sendiri
maupun karena tidak lagi mewakili perusahaan atau Badan Usaha Anggota
ASPERI atau karena Perusahaan dan atau Badan Usaha yang diwakilinya sudah
tidak lagi memenuhi syarat sebagai anggota ASPERI.
3. Diberhentikan dengan hormat oleh DPP karena yang bersangkutan
berhalangan tetap, yakni diperkirakan tidak akan dapat melaksanakan tugas,
kewajiban dan wewenangnya dalam kepengurusan, setelah selama 6 bulan
berturut-turut tidak melaksanakan tugas, wewenang dan tanggungjawabnya.
4. Diberhentikan oleh DPP karena dikenakan tindakan disiplin organisasi
sebagaimana diatur dalam Peraturan Organisasi tentang Peraturan Disiplin
Organisasi ASPERI.
5. Diberhentikan oleh DPP karena temyata tidak lagi memenuhi satu atau
beberapa persyaratan untuk dipilih sebagai pengurus.
ii. Diberhentikan dari jabatan kepengurusan karena berhalangan tetap, jika menurut
hasil pengamatan dan penelitian yang dilakukan oleh Tim Evaluasi Kinerja Pengurus
DPP, ternyata yang bersangkutan tidak dapat melaksanakan tugas, wewenang dan
tanggungjawabnya selaku DPP:

1. Karena sakit lebih dari 3 (tiga) bulan berturut-turut


2. Bepergian ke Luar Negeri untuk lebih dari 6 (enam) bulan berturut-turut,
kecuali dalam hal kepergiannya itu mengemban tugas selaku pengurus
berdasarkan penugasan dari DPP.
3. Karena lalai menghadiri rapat dan atau kegiatan DPP dan tidak melakukan
aktivitas apapun selaku pengurus di DPP selama 3 (tiga) bulan berturut-turut.
iii. Pengisian lowongan Ketua Umum : Pengisian lowongan antar waktu jabatan ketua
umum dilaksanakan melalui MUNASLUB, jika dipenuhi persyaratan untuk
MUNASLUB, dengan ketentuan sebelum pengisian antar waktu dilakukan,
wewenang, hak dan kewajiban Ketua Umum dilaksanakan oleh salah seorang Wakil
Ketua Umum yang ditunjuk oleh DPHP.

iv. Pengisian Jabatan Lainnya : Pengisian lowongan antar waktu jabatan lainnya di
DPP dilakukan oleh Rapat Pleno DPP.

XX. BADAN, LEMBAGA, TIM KERJA DAN ATAU ALAT KELENGKAPAN


LAINNYA.
i. Untuk melaksanakan tugas dan kegiatan tertentu dan bersifat tetap sepanjang
masa bald kepengurusan DPP, dengan Keputusan Rapat Pleno, DPP dapat
membentuk Badan, dan atau Lembaga sebagai alat kelengkapan DPP.
ii. Untuk melaksanakan tugas dan kegiatan yang sifatnya khusus dan atau lintas
sektoral, DPP dapat membentuk Kelompok Kerja (POKJA), Panitia Kerja (PANJA),
dan atau Tim Kerja sebagai alat kelengkapan DPP.
iii. Untuk melaksanakan pelayanan kesekretariatan DPP, dengan Peraturan
Organisasi tersendiri, DPP membentuk Sekretariat DPP sebagai alat kelengkapan
DPP.

iv. Susunan dan personalia, lingkup tugas, wewenang dan tanggungjawab, maupun
tata kerja setiap alat kelengkapan DPP tersebut, ditetapkan oleh DPP di dalam atau
berdasarkan keputusan pembentukan masing,masing. Demikian juga
pemberhentian seseorang dari jabatannya maupun pembubaran alat kelengkapan
DPP tersebut, ditetapkan oleh DPP.

v. Pembentukan Tim Evaluasi Kinerja Pengurus, yang secara rutin dan berkala
minimal 6 (enam) bulan dan menyampaikan laporan hasil evaluasi kepada DPHP
atau Rapat Pleno DPP.

vi. Masing-masing alat kelengkapan DPP dimaksud bertanggungjawab kepada DPP


melalui DPHP.

XXI. RAPAT-RAPAT
i. Rapat-rapat DPP terdiri dari :
1. Rapat Dewan Pengurus Harian atau disingkat dengan DPHP.
2. Rapat Pleno DPP, yang beranggotakan seluruh DPHP dan Departemen.
ii. Rapat DPHP sesuai diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan
dengan wewenang :

1. Mengadakan pembahasan pendahuluan terhadap Maters Rapat Pleno DPP,


sepanjang dipandang perlu untuk memadukan pemahaman pengertian maupun
sikap.
2. Membahas dan menetapkan segala sesuatu yang menurutAnggaran Dasar.
Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi, maupun berdasarkan
pemberian wewenang oleh Rapat Pleno DPP, wewenangnya berada pada DPHP.
iii. Rapat DPHP yang diperluas dapat diadakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan
dengan mengundang hadir beberapa Departemen, Unsur Badan, lembaga,
Kelompok I Panitia / Tim Kerja dan alat kelengkapan DPP lainnya, unsur DPP
tertentu, dengan ketentuan para undangan tersebut mempunyai hak bicara,
tanpa hak suara. Hak bicara hanya dapat digunakan setelah terlebih dahulu
mendapat izin dari Pimpinan Rapat.

iv. Rapat Pleno DPP ASPERI diadakan sekurang-kurangnya sekali dalam 6 (enam)
bulan, dengan wewenang mengadakan pembahasan dan merekomendasikan hasil
hasil MUNAS, melaksanakan kewenangan lainnya yang diatur dalam Anggaran
Dasar, Anggaran Rumah Tangga dan Peraturan Organisasi lainnya, serta melakukan
pergantian Pengurus DPP Antar Waktu.

v. Rapat Pleno DPP yang diperluas dapat diadakan sewaktu-waktu sesuai


kebutuhan dengan mengundang hadir unsur Badan, Lembaga, Tim Kerja dan alat
kelengkapan DPP lainnya.

vi. Rapat Pleno DPP terbatas dan Rapat DPHP terbatas, dapat diadakan dengan
hanya mengundang bidang tugas terkait, dengan ketentuan keputusan rapat terbatas
tersebut mempunyai kekuatan mengikat yang sama dengan Rapat Pleno DPP atau
Rapat DPHP, jika penyelenggaraan rapat terbatas tersebut berdasarkan
pendelegasian wewenang oleh Rapat Pleno DPP atau rapat DPHP.

vii. Untuk dapat mengadakan Rapat Pleno DPP atau Rapat DPHP, termasuk yang
dperluas atau yang terbatas, kepada peserta rapat harus terlebih dahulu
disampaikan undangan oleh Ketua Umum atau Sekretaris Jenderal.

viii. Rapat dianggap sah bila quorum telah dicapai, yakni dihadiri oleh lebih setengah
dari jumlah peserta rapat, dengan ketentuan dianggap hadir jika yang bersangkutan
menyampaikan surat pemberitahuan tentang ketidakhadirannya disertai pernyataan
dapat menyetujui setiap keputusan yang diambil dalam rapat. Dalam hal quorum
belum tercapai, rapat dapat ditunda paling lama 2 (dua) jam, dan setelah
penundaan, quorum dianggap tercapai jika dihadiri lebih sepertiga dari jumlah
peserta rapat.

xi. Rapat-rapat Pleno DPP atau Rapat DPHP terbatas, dipimpin oleh Ketua Umum
atau oleh salah seorang Wakil Ketua Umum, yang bidang tugasnya terkait dengan
materi rapat terbatas tersebut.
x. Pimpinan rapat tersebut dapat meminta kesediaan salah seorang peserta rapat
untuk membantu memimpin rapat untuk mata acara tertentu, atau pada saat
pimpinan rapat hendak menggunakan haknya untuk berbicara selaku peserta rapat.

xi. Tertib dan jadual acara rapat ditetapkan oleh rapat yang bersangkutan atas usul
pimpinan rapat atau Sekretaris Jenderal atau yang mewakilinya.

xii. Keputusan rapat diambil alas dasar musyawarah untuk mufakat. Dalam hal
mufakat tidak dapat dicapai walaupun sudah diusahakan dengan sungguh-sungguh,
sedang keputusan yang hendak diambil sangat mendesak, maka keputusan rapat
dapat diambil dengan pemungutan suara. Keputusan yang diambil dengan
pemungutan suara hanya sah jika pengambilan keputusan itu dihadiri oleh sekurang-
kurangnya setengah dari jumlah peserta yang berhak menggunakan suaranya dan
keputusannya disetujui oleh lebih setengah jumlah suara.

xiii. Untuk setiap rapat dibuat notulen atau risalah rapat oleh Sekretaris Jenderal
atau yang mewakilinya, atau oleh petugas khusus yang ditunjuk oleh dan
bertanggungjawab kepada Sekretaris Jenderal

xiv. Selain Rapat DPHP, Rapat Pleno, yang dipeduas maupun yang terbatas,
ditingkat DPP terdapat rapat-rapat :

1. Rapat Koordinasi yang diadakan oleh masing-masing Wakil Ketua Umum atau
Ketua Departemen, sesuai dengan lingkup bidang tugasnya.
2. Rapat Keda Terbatas yang diadakan oleh Sekretaris Jenderal atau masing-
masing Wakil Sekretaris Jenderal dengan unsur pelaksana kebijakan DPP, balk
Departemen maupun alat kelengkapan DPP
3. Rapat Kerja Terbatas yang diadakan oleh Bendahara Umum atau masing-
masing Wakil Bendahara Umum dengan unsur terkait dengan bidang tugasnya,
dengan ketentuan, keputusan rapatrapat tersebut tidak mempunyai kekuatan
yang sama dengan keputusan Rapat DPHP atau Rapat Pleno DPP, kecuali
mendapat pengesahan dari Rapat DPHP, maupun Rapat Pleno DPP.
A. SURAT -MENYURAT
xv. Surat-menyurat atas nama DPP untuk eksternal dan internal yang bersifat umum
ditandatangani oleh Ketua Umum dan Sekretaris Jenderal.
xvi. Surat-menyurat yang semata mata berkenaan dengan urusan Keuangan DPP,
ditandatangani oleh Ketua Umum, Sekretaris Jenderal dan Bendahara Umum atau
Ketua Umum dan Bendahara Umum.

xvii. Surat-menyurat atas nama alat kelengkapan DPP dan sifatnya internal,
ditandatangani oleh Ketua masing-masing.

xviii. Surat-menyurat dapat juga dilakukan melalui media elektronik seperti e-mail,
dan keseluruhannya diidentifikasi ke dalam :

1. Surat Biasa
2. Surat Keputusan, yakni Surat Keputusan Keanggotaan dan Surat Keputusan
non Keanggotaan
xix. Sekurang-kurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan, Sekretaris Jenderal atau yang
ditugaskan oleh Sekretaris Jenderal wajib melaporkan jumlah surat menyurat
tersebut kepada Rapat DPHP,

xx. Semua surat-menyurat DPP dan atau kelengkapan DPP dilayani oleh
Sekretariat.

B. PENGELOLAAN KEUANGAN DAN HARTA KEKAYAAN


Tata Kerja yang menyangkut penatalayanan keuangan dan harta kekayaan DPP
diatur dengan Peraturan Organisasi tersendiri.

C. SEKRETARIAT DPP
Susunan dan Tata Kerja Sekretariat DPP ditetapkan dan diatur dengan Peraturan
Organisasi tersendiri.

XXII. KETENTUAN PENUTUP


1. Ketetapan Peraturan Organisasi (PO) ini berlaku sejak terhitung mulai tanggal
ditetapkan dan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan dalam Ketetapan ini
akan diadakan perbaikan sebagaimana perlunya.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada Tanggal : 22 November 2012
PIMPINAN SIDANG MUNAS-I DEWAN PENDIRI
ASOSIASI PENGEMBANG PERUMAHAN RAKYAT INDONESIA
(ASPERI)

Iskandar Muda Tanjung S.Ag


Ketua / Anggota