Anda di halaman 1dari 16

Blok Urology System

PJBL 1

Urinary Incontinence (Inkontinensia Urin)

Disusun Oleh :

PSIK Reguler 1 Kelompok 4

Dwi Retno Selvitriana (125070201111027)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2014
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

WHO menyatakan bahwa inkontinensia urin merupakan salah satu topik


kesehatan cukup besar dan diperkirakan lebih dari 200 juta orang diseluruh
dunia mempunyai masalah dalam pengontrolan berkemih. Konferensi Konsensus
Kesehatan Nasional Amerika (1998) menyatakan bahwa dua per tiga dari 10 juta
orang dewasa yang mengalami inkontinensia adalah wanita
(keperawatan.unsoed.ac.id)

Masalah inkontinensia urin saat ini belum mendapatkan perhatian penuh


di dunia, termasuk di Indonesia. Prevalensi inkontinensia urin lebih dari 10-40%
pada wanita yang 4-8% diantaranya sudah dalam keadaan yang cukup parah
pada saat datang berobat. Sedangkan angkanya sendiri lebih kecil pada pria,
yaitu sekitar setengah dari prevalensi pada wanita tadi (Purnomo, 2011).Di
Amerika Serikat jumlah penderita inkontinensia urin mencapai 13 juta dengan
85% diantaranya perempuan, sebenarnya jumlah ini masih sangat sedikit
dikarenakan banyak kasus dengan inkontinensia urin yang belum dilaporkan.
Asia Pacific Continence Advisory Board (APCAB) menyatakan prevalensi
inkontinensia urin pada wanita Asia sekitar 14,6%. Prevalensi inkontinensia urin
bervariasi di setiap negara yang disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya
yaitu perbedaan definisi, populasi, sampel penelitian, dan metodologi penelitian.
Di Indonesia prevalensi angka kejadian inkontinensia urin belum dapat terdeteksi
secara pasti dikarenakan banyak orang yang menganggap inkontinensia urin
merupakan hal yang wajar setelah wanita melahirkan dan kebanyakan merasa
malu untuk memeriksakannya ke tenaga kesehatan (keperawatan.unsoed.ac.id)

Masih banyak orang yang belum memahami secara benar mengapa


inkontinensia urin dapat terjadi. Mengingat angka kejadiannya yang sangat
besar, maka pemahaman yang baik sangatlah diperlukan untuk manajemen
penyakit ini. Oleh karena itu, penulis menyusun makalah ini untuk lebih
memahami tentang inkontinensia urin itu sendiri.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah untuk memahami konsep
umum dari trigger yang diberikan (Inkontinensia Urin).

1.2.2 Tujuan Khusus

Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini adalah, sebagai berikut:

1. Memahami definisi dan klasifikasi dari Inkontinensia Urin.


2. Memahami epidemiologi dari Inkontinensia Urin.
3. Memahami patofisiologi dari Inkontinensia Urin.
4. Memahami faktor risiko dari Inkontinensia Urin.
5. Memahami manifestasi klinis dari Inkontinensia Urin.
6. Memahami pemeriksaan diagnostik dari Inkontinensia Urin.
7. Memahami penatalaksanaan secara medis dari Inkontinensia Urin.
8. Memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan Inkontinensia Urin.
BAB II

TEORI DAN KONSEP

2.1 Definisi

Inkontinensia urin didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi


ketidakmampuan dalam mengendalikan kandung kemih sehingga pengeluaran
urin menjadi tidak terkendali (keluarnya urin secara involunter). Hal inilah yang
menyebabkan pasien yang mengalami inkontinensia sering mengompol. Kondisi
ini biasanya terjadi karena ada penyakit yang mendasarinya atau karena
masalah fisik, seperti infeksi saluran kemih, konstipasi, diabetes, infeksi prostat,
dan penyakit neurologi (persify.com).

Inkontinensia urin diklasifikasikan berdasarkan skema di bawah ini


(Purnomo, 2011). Inkontinensia
urin

Kelainan pada buli-buli Kelainan pada uretra

1. Overaktifitas detrusor 1. Hipermobilitas uretra


Hiper-refleksia detrusor 2. Defisiensi sfingter
Instabilitas detrusor instrinsik
Idiopatik
2. Menurunnya komplians
buli-buli

Inkontinensia urin urge Inkontinensia urin stress


(UUI) (SUI)

1. Inkontinensia Urin Urge

Pada inkontinensia urge, pasien tidak dapat menahan kencing setelah


timbul keinginan untuk kencing (Purnomo, 2011). Hal ini disebabkan karena
ketidakstabilan otot detrusor idiopatik yang menyebabkan peningkatan tekanan
intravesika dan kebocoran urin (Grace dan Borley, 2007). Sedangkan menurut
Purnomo (2011), inkontinensia urge disebabkan karena otot detrusor sudah
mulai mengadakan kontraksi pada saar kapasitas buli-buli belum terpenuhi.
Penyebab inkontinensia urge adalag kelainan yang berasal dari buli-buli,
diantaranya adalah overaktifitas detrusor dan menurunnya komplians buli-buli.
Overaktifitas detrusor sendiri disebabkan oleh kelainan neurologik (disebut hiper-
refleksia detrusor, disebabkan oleh stroke, penyakit Parkinson, cedera korda
spinalis, sklerosis multipel, spina bifida, atau mielitis transversal) dan non-
neurologik (disebut instabilitas detrusor, disebabkan oleh obstruksi intravesika,
pasca bedah intravesika, batu buli-buli, tumor buli-buli, dan sistitis), serta tidak
diketahui penyebabnya (disebut overaktifitas detrusor). Inkontinensia urge juga
sering menyertai sindroma overaktifitas buli-buli yang ditandai dengan frekuensi,
urgensi, dan kadang-kadang inkontinensia urge (Purnomo, 2011).

2. Inkontinensia Urin Stres (SUI)

SUI adalah merembesnya urin dari uretra ketika terjadi peningkatan


tekanan intraabdominal (batuk, bersin, tertawa, mengedan, dll). Hal ini terjadi
karena faktor sfingter (uretra) yang tidak mampu mempertahankan tekanan
intrauretra pada saat tekanan intravesika meningkat (buli-buli) terisi.

Penyebab kelainan pada uretra yang bisa menyebabkan inkontinensia


pada pria biasanya adalah kerusakan sfingter eksterna pasca prostatektomi,
lebih sering pasca TURP. Pada wanita, disebabkan oleh dua keadaan, yaitu
hipermobilitas uretra (karena kelemahan otot dasar panggul yang berfungsi
sebagai penyanggah uretra dan buli-buli yang bisa menyebabkan herniasi dan
angulasi sehingga menyebabkan bocornya urine dari buli-buli meskipun tidak
ada peningkatan tekanan intravesika) dan defisiensi sfingter instrinsik
(disebabkan karena suatu trauma, operasi, radiasi, atau kelainan neurologi).
Kelemahan otot dasar panggul dapat juga menyebabkan terjadinya prolapsus
uteri, sistokel, atau enterokel. Penyebabnya adalaj trauma persalinan,
histerektomi, menopause, atau kelainan neurologi. Ciri-ciri ISD leher buli-buli dan
uretra posterior tetap terbuka pada keadaan istirahat sehingga uretra proksimal
tidak lagi berfungsi sebagai sfingter.

Klasifikasi SUI berdasarkan penuruna letak leher buli-buli pada saat


melakukan manufer Valsava.

1. Tipe 0
Pasien mengeluh inkontinensia stres tapi tdak ditemukan adanya
kebocoran urin. Pada video-urodinamika setelah manuver Valsava,
leher buli-buli dan uretra terbuka.
2. Tipe I
Terdapat penurunan <2 cm dan kadnag-kadang disertai dengan
sistokel yang masih kecil.
3. Tipe II
Penurunan >2cm dan seringkali disertai dengan adanya sistokel, dalam
hal ini mungkin sistokel berada dalam vagina (tipe II a) atau di luar
vagina (II b).
4. Tipe III
Leher buli-buli dan uretra tetap terbuka meskipun tanpa adanya
kontraksi detrusor maupun manuver Valsava, sehingga urin selalu
keluar karena gravitasi atau penambahan tekana intravesika (gerakan)
yang minimal. Disebabkan oleh defisiensi sfingter instrinsik (ISD).
3. Inkontinensia Paradoksa (Oveflow)
Adalah keluarnya urin tanpa dapat dikontrol pada keadaan volume urine di
buli-buli melebihi kapasitasnya.hal ini terjadi karena kelemahan otot detrusor.
Kelemahan otot detrusor ini bisa disebabkan oleh pbstruksi uretra, neuropati
diabetikum, cedera spinal, defisiensi vit. B12, efek samping pemakaian obat,
atau pasca bedah pada daerah pelvik.
4. Inkoninensia Kontinua (Continuos)
Adalah keluarnya urin setiap saat dan dalam berbagai posisi karena fistula
sistem urinari (misalnya, vistula vesikovagina karena operasi ginekologi, trauma
obstetri, pasca radiasi di daerah pelvik, dan fistula ureterovagina karena cedera
ureter pasca operasi daerah pelvis) yang menyebabkan urin tidak melewati
sfingter uretra.
5. Inkontinensia Urin Fungsional
Terjadi karena adanya hambatan tertentu pada pasien sehingga tidak
mampu untuk menjangkau toilet. Hambatan tersebut dapat berupa hambatan
fisis, gangguan kognitif, maupun pasien yang sedang mengonsumsi obat
tertentu.

Klasifikasi berdasarkan letaknya pada uretra (Grace dan Borley, 2007):

1. Inkontinensia Uretra
Inkontinensia uretra dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
- Kelainan uretral: obesitas, multiparitas, persalinan sulit, fraktur pelvis,
pascaprostatektomi.
- Kelainan pada kandung kemih: kelainan detrusor nueropatik atau
nonneuropatik, infeksi, sistitis intertisial, batu kandung kemih, atau
tumor.
- Kelainan nonurinarius: gangguan mobilitas atau fungsi mental.
2. Inkontinensia nonuretra
Inkontinensia nonuretra dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini.
- Fistula urinarius: vesikovagina
- Ektopia ureter: ureter berlanjut ke uretra (biasanya ureter dupleks).

2.2 Epidemiologi

Epidemiologi dari inkontinensia urin cukup tinggi, yaitu lebih dari 10-40%
pada wanita yang 4-8% diantaranya sudah dalam keadaan yang cukup parah
pada saat datang berobat. Sedangkan angkanya sendiri lebih kecil pada pria,
yaitu sekitar setengah dari prevalensi pada wanita tadi. Survey yang dilakukan
pada beberapa negara di Asia menyatakan bahwa prevalensi kelainan ini pada
beberapa negara di Asia berkisar antara 12,2% (6,8% menyerang pria dan 14,8%
menyerang wanita) (Purnomo, 2011). Di Amerika Serikat jumlah penderita
inkontinensia urin mencapai 13 juta dengan 85% diantaranya perempuan,
sebenarnya jumlah ini masih sangat sedikit dikarenakan banyak kasus dengan
inkontinensia urin yang belum dilaporkan (keperawatan.unsoed.ac.id).

Prevalensi inkontinensia urin pada manula lebih tinggi daripada pada usia
reproduksi, yaitu sebesar 38% pada wanita dan 19% pada pria (Purnomo, 2011).
Sedangkan pada anak, dilaporkan bahwa 20% kasus poliklinik nefrologi anak di
RSCM terdiri dari kasus ISK kompleks berulang, inkontinensia urin fungsional
atau disfunsi sfingter non neuropatik. Diperoleh 20 kasus inkontinensia urin daru
data rawat jalan dan rawat inap di RSCM selama rentang September 1989-
Agustus 2001(Jaya dan Rachmadi, 2009).

2.3 Patofisiologi (terlampir)

2.4 Faktor Risiko

Faktor risiko inkontinensia urin, diantaranya sebagai berikut (persify.com):

- Pecandu alkohol
- Wanita lebih berisiko daripada laki-laki
- Perokok
- Lansia (terjadi karena penurunan fungsi organ tubuh)
- Menderita tumor otak
- Mengkonsumsi kafein terlalu banyak
- Memiliki riwayat stroke sebelumnya
- Memiliki riwayat histerektomi
- Sedang hamil
- Sedang menderita kerusakan pada sumsum tulang belakang
- Obesitas
- Menderita penyakit Parkinson
- Menderita pentakit sklerosis multipel (merupakan suatu kondisi medis
kronis yang ditandai dengan dimielinisasi dari otak dan sumsum tulang
belakang sebagai akibat respon kekebalan tubuh yang abnormal)
- Menggunakan obat penenang
- Menggunakan pelemas otot (menyebabkan kemampuan muskulus sfingter
untuk menahan kemih menjadi berkurang)
- Mengkonsumsi obat-obatan jantung
- Didiagnosa mengidap diabetes mellitus
- Didiagnosa menderita penyakit ginjal

Tabel 1. Obat yang dapat memengaruhi kontinensia urin

N Jenis Obat Contoh Pengaruh Potensial


o.
1. Diuretik kuat Furosemide Poliuria, gejala ingin
sering berkemih
2. Antikolinergik Antihistamin, Retensi urin, inkontinensia
triheksilfenidil, overflow, delirium, fecal
benztropun, disiklomin, impaction
3. Psikotropik disopiramid
- Antidepresan Kerja antikolinergik,
- Antipsikotik
Amitripilin, desipramin sedasi
Toridazin, haloperidol Kerja antikolinergik,
- Sedatif/hipnotik
sedasi, rigiditas,
Analgesik narkotik
4. Diazepam, flurazepam imobilitas
Sedasi, delirium,
Penyekat alfa
5. imobilitas
adrenergik
6. Dekongestan Retensi urin, fecal
Penyekat kalsium
7. Semua impaction,sedasi, delirium
channel
Retensi urin pada laki-laki
Alkohol
Retensi urin
8. Poliuria, gejala ingin
sering berkemih, sedasi,
Vinkristin
delirium, imobilitas
Retensi urin

2.5 Manifestasi Klinis

Menurut Grace dan Borley (2007) gambaran klinis dari inkontinensia urin,
antara lain sebagai berikut.

- Inkontinensia stress: keluarnya atau merembesnya urin pada saat batuk,


bersin, mengedan, tertawa, dsb.
- Inkontinensia urgensi: seseorang tidak mampu menahan keluarnya urin
setelah keinginan untuk berkemih datang.
- Overflow inkontinensia: ditandai oleh eliminasi urin yang sering dan
kadang-kadang terjadi hampir terus-menerus.
- Enuresis nokturnal (mengompol): menunjukkan adanya kandung kemih
yang tidak stabil (normal pada anak usia <5 tahun).
- Adanya penyakit yang mendasari, misalnya gejala infeksi urin (frekuensi,
disuria, nokturia), obstruksi (pancaran lemah, menetes), trauma (termasuk
pembedahan, misalnya reseksi abdominoperineal), fistula (menetes terus-
menerus), penyakit neurologis (disfungsi seksual atau usus besar) atau
penyakit sistemik (misalnya diabetes).

2.6 Pemeriksaan Diagnostik

Anamnesis

Anamnesis sangat penting dilakukan dalam mengevaluasi inkontinensia.


Gali seberapa jauh dan parah kelainan ini menyerang pasien. Pertanyaan-
pertanyaan yang dapat diajukan, antara lain sebagai berikut.

- Seberapa jauh kelainan ini mengganggu kehidupan pasien?


- Berapa banyak urin yang dikeluarkan pada saat inkontinensia?
- Apakah pasien selalu memakai pemper dan berapa sering harus ganti?
- Pada malam hari, berapa kali pasien harus terbangun untuk miksi atau
mengganti pemper?
- Adakah faktor pencetus seperti batuk, bersin, atau aktivitas lain yang
mendahului inkontinensia?
- Adakah diare, konstipasi, dan inkontinensia alvi (ketidakmampuan untuk
menahan pengeluaran feses)? (Indikasi kemungkinan adanya kelainan
neurologis)
- Adakah penyakit pendahulu (DM (terutama bila ada neuropati), kelainan
neurologi, infeksi saluran kemih berulang, penyakit pada rongga pelvis,
dan atrofi genitourinaria pada menopause)?
- Pernahkah klien melakukan operasi maupun radiasi di daerah pelvis dan
abdomen?
- Bagaimana riwayat melahirkan klien (multipara, partus kasep, dan bayi
yang besarmerupakan predisposisi terjadinya inkompetensi sfingter dan
kelemahan rongga panggul)?

Selain mengajukan pertanyaan di atas, pasien juga dianjurkan untuk


mencatat aktivitas miksi, terjadinya inkontinensia, serta volume asupan cairan
yang diminum setiap harinya (Purnomo, 2011).

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik khusus yang dilakukan pada klien dengan inkontinensia


urin, antara lain pemeriksaan abdominal, daerah urogenitalia, dan pemeriksaan
neurologis.

1. Pemeriksaan abdomen: dicari kemungkinan adanya distensi buli-buli yang


merupakan tanda dari inkontinensia paradoksa atau adanya massa di
pinggang dari suatu hidronefrosis. Pada inspeksi, kemungkinan ditemukan
adanya jaringan parut bekas operasi pelvis atau abdomen.
2. Pemeriksaan urogenetalia
- Vagina: gunakan spekulum vagina untuk mencari kemungkinan
adanya kelainan dinding vagina anterior maupun posterior.
Inkontinensia urge: perhatikan adanya perubahan warna dan
penebalan mukosa vagina yang merupakan tanda dari vaginitis
atrofikans akibat defisiensi estrogen, biasanya disertai dengan
peningkatan sensitifitas buli-buli dan uretra.
Inkontinensia stres: perhatikan kemungkinan adanya sistokel,
enterokel, prolapsus uteri, atau rektokel biasanya menyertai.
- Orifisium uretra: perhatikan posisi erifisium eksternum. Jika didapatkan
penonjolan dari orifisium eksternum mungkin merupakan suatu proses
inflamasi atau divertikulum.
Inkontinensia stres: minta pasien untuk melakukan manuver Valsava.
Akan didapatkan penurunan leher di buli-buli sampai uretra dan
dijumpai urin yang keluar.
3. Pemeriksaan neurologis
- Periksa status mental (kognitif) pasien, kemungkinan dijumpai tanda
demensia.
- Pemeriksaan neurologis terhadap saraf (dermatom) yang menginervasi
vesikouretra harus dilakukan secara sistematik. Nervus pudendus yang
memberikan inervasi somatik pada sfingter eksterna dan otot-otot
dasar panggul serta nervus pelvikus yang memberi inervasi
parasimpatik pada detrusor berasal dari korda spinalis sacral S 2-4.
- Diperiksa dengan cara: ankle jerk reflex (S1 dan S2), fleksi toe dan
arch the feet (S2 dan S3), dan tonus sfingter ani atau refleks
bulbokavernosus (S2-4). Keadaan sfingter ani yang flaksid menunjukkan
adanya kelemahan kontraksi dari otot detrusor (Purnomo, 2011).

encing sekitar 2 jam Deg


sekali
Data obyektif :
setiap kali ada
peningkatan tekanan
intra abdomen urine
pasien menetes keluar

Laboratorium

- Kultur urin: berguna untuk mendeteksi adanya infeksi.


- Pemeriksaan fungsi ginjal: digunakan untuk mengetahui adakah kerusakan
atau kelainan pada ginjal.
- IVU: berguna untuk menilai saluran kencing bagian atas dan adanya
obstruksi atau fistula.
- Sistokopi: digunakan apabila dicurigai adanya batu atau neoplasma
kandung kemih.
- Pemeriksaan spekulum vagina, dengan atau tanpa sistogram apabila
dicurigai terdapat fistula vesikovagina (Grace dan Borley, 2007).
- Sistologi urin: digunakan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
proses inflamasi/infeksi atau keganasan pada saluran kemih (Purnomo,
2011).

Pemeriksaan Lain

- Urodinamik:
Uroflowmetri: untuk mengukur kecepatan aliran urin.
Sistometri: digunakan untuk menggambarkan kontraktur detrusor.
Sistometri video: dapat menunjukkan kebocoran urin pada saat
mengedan pada pasien dengan inkontinensia stres.
Flowmetri tekanan uretra: mengukur tekanan uretra dan kandung
kemih saat istirahat dan selama berkemih (Grace dan Borley, 2007).
- Cotton Swab Test
Mobilitas pada tingkat leher kandung kemih dapat diukur dengan
menggunakan cotton-tipped swab steril (Q - tip) tes. Uji Q - tip adalah 1
dari tes yang paling umum digunakan untuk mengevaluasi wanita dengan
masalah kencing karena secara efektif mengkuantifikasi tingkat rotasi
anatomi dari uretra dan leher kandung kemih. Pasien diposisikan
dorsolithotomy, labia dipisahkan, dan meatus uretra diusap dengan
antiseptik . Sebuah Q - tip steril dilumasi dengan 1-2 % gel lidokain
(Xylocaine) dan dimasukkan secara trans-uretra ke dalam kandung kemih
dan kemudian ditarik perlahan-lahan sampai ada tahanan pasti yang
dirasakan. Hal ini dilakukan untuk menempatkan ujung Q - tip pada tingkat
leher kandung kemih hanya distal meatus uretra internal. Menggunakan
busur derajat standar, sudut istirahat diukur. Pasien kemudian diminta
untuk melakukan manuver Valsava atau batuk , dan sudut tegang
maksimum dicatat. Defleksi bersih adalah sama dengan perubahan dari
beristirahat posisi tegang maksimal.
Sudut yang >30 derajat dianggap abnormal. Hipermobilitas uretra
harus ditafsirkan dengan hati-hati karena mungkin ada pada wanita tanpa
inkontinensia. Pemanfaatan tes sederhana ini adalah bahwa sudut >30
derajat tentu hadir di sebagian besar wanita dengan stres inkontinensia.
Gambar berikut menunjukkan bagaimana Q-tip test dilakukan (Tarnay dan
Bhatia, 2013).
- Pemeriksaan pencitraan (pielografi intravena dan sistografi miksi)
digunakan untuk mencari kemungkinan adanya fistula ureterovagina,
muara ureter ektopik, dan penurunan leher buli-buli-uretra pada sistografi.
- USG: dilakukan untuk pemeriksaan residu urin yang dapat mengetahui
kemungkinan adanya obstruksi intravesika atau kelemahan otot detrusor.
- Urodinamika eyeball: digunakan untuk mengukur tekanan intravesika.
Pasien diposisikan dorsolitotomi dan dipasang kateter. Setelah sisa urin
dikeluarkan, ujung kateter dihubungkan dengan syringe 50 ml tanpa
pendorongnya. Kateter kemudian diisi air steril secara perlahan melalui
syringe secara gravitasi. Kemudian, pasien diminta untuk mengatakan jika
telah terjadi perasaan penuh pada buli-buli. Volume air yang telah
dimasukkan dicatat dan ketinggian air (meniskus) pada syringe
diperhatikan.
Pada buli-buli normal, meniskus tetap konstan pada saat pengisian
buli-buli sampai tercapai volume kapasitas buli-buli. Meniskus
kemudian naik perlahan-lahan pada pengisian selanjutnya.
Pada komplians buli-buli menurun, meniskus naik sebanding dengan
volume air yang dimasukkan.
Pada instabilitas buli-buli, meniskus tiba-tiba naik pada saat
pengisian.
Pada uninhibited contraction, seringkali dijumpai rembesan air di
sela-sela kateter (Purnomo, 2011).

2.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan penting menurut Grace dan Borley (2007) adalah:

- Inkontinensia urgensi
Terapi medikamentosa: modifikasi asupan cairan, hindari kafein,
obati setiap penyebab (infeksi, tumor, batu), latihan berkemih,
antikolinergik/relaksan otot polos (Oksibutinin, tolterdin).
Terapi pembedahan: sistoskopi dan distensi kandung kemih,
sistoplasti augmentasi.
- Inkontinensia stres
Terapi medikamentosa: latihan otot-otot dasar panggul, estrogen
untuk vaginitis atrofik.
Terapi pembedahan: uretrospeksi retropunik atau endoskopik,
perbaikan vagina, sfingter buatan.
- Inkontinensia overflow
Jika terdapat obstruksi : obati penyebab obstruksi, misalnya TURP.
Jika tidak: drainase jangka pendek dengan kateter untuk
memungkinkan otot detrusor pulih dari peregangan berlebihan,
kemudian gunakann stimulan otot jangka pendek (bethanekol:
distigmin). Jika gagal, kateterisasi intermiten yang dilakukan sendiri
(inkontinensia overflow neurogenik).
- Fistula urinarius
Dibutuhkan terapi pembedahan.

Menurut Purnomo (2011) terapi yang dipilih dapat berupa:

1. Latihan/rehabilitasi
Latihan yang dipilih adalah Kagel execise dengan cara mencoba
menghentikan aliran urin (melakukan kontraksi otot pelvis) kemudian
mengeluarkan urin kembali melalui relaksasi otot sfingter. Setelah itu pasien
siinstruksikan untuk melakukan kontraksi otot panggul (menahan urin) selama
10 detik sebanyak 10-20 kali kontraksi dan dilakukan dalam 3 kali/hari.
Diperlukan 6-8 bulan latihan.
2. Medikamentosa
- Inkontinensia urge
Pilihan obatnya yaitu seperti pada tabel.

Secara sistemik Secara Topikal

Antikolinergik (oksibutinin, 1. Menghambat jalur eferen


prophanteline bromide, (tranmisi kolinergik nervus
tolterodine tartrate) pelvikus-detrusor):
Pelemas otot polos Oksibutilin
Atrofin
(dicyclomine, flavoxate)
2. Menghambat jalur aferen
Antidepresan trisiklik
Anastesi lokal
(imipramine) Capsaicin
Anti prostaglandin resiniferotoxin
Penghambat calsium channel

- Inkontinensia Stres
Agonis -adrenergik
Estrogen
3. Pembedahan
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Inkontinensia urin didefinisikan sebagai suatu keadaan dimana terjadi


ketidakmampuan dalam mengendalikan kandung kemih sehingga pengeluaran
urin menjadi tidak terkendali (keluarnya urin secara involunter). Inkontinensia
urin sendiri dibagi menjadi inkontinensia urge, inkontinensia stres, inkontinensia
paradoksa (overflow), dan inkontinensia continuos. Prevalensi inkontinensia urin
di dunia relatif cukup tinggi, oleh karena itu diperlukan adanya perhatian khusus
pada pasien dengan kelainan inkontinensia ini.

3.2 Saran

Inkontinensia urin perlu mendapat perhatian mengingat prevalensi


kejadiannya yang relatif tinggi, sehingga penatalaksanaan yang sesuai
merupakan hal mutlak dan jika perlu diadakan kerja sama antar disiplin ilmu
untuk mencegah komplikasi yang lebih lanjut.
DAFTAR PUSTAKA

Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. 2007. At a Glance Ilmu Bedah, Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga.

Isselbacher, et.al. 1999. Harrison: Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Volume 1.


Jakarta: EGC.

Jaya, Dandy Utama dan Rachmadi, Dedi. 2009. Inkontinensia Urin. Online
(http://pustaka.unpad.ac.id/wp-content/uploads/2013/12/Pustaka_Unpad_
INKONTINENSIA_-URIN.pdf.pdf). Diakses tanggal 04 Juni 2014.

Purnomo, Basuki B. 2011. Dasar-Dasar Urologi, Edisi Ketiga. Jakarta: CV Sagung


Seto.

Tarnay, Christopher M. dan Bhatia, Narender N. 2013. Urinary Incontinence-


Overview. Armenian Medical Network. Online
(http://www.health.am/gyneco/urinary-incontinence-overview/). Diakses
tanggal 04 Juni 2014.

http://www.persify.com/id/perspectives/medical-conditions-
diseases/inkontinensia-urin-_-9510001031241

http://keperawatan.unsoed.ac.id/sites/default/files/BAB%20I-V_1.pdf