Anda di halaman 1dari 15

1.

KOMUNIKASI DALAM PENYULUHAN KESEHATAN MASYARAKAT


Istilah komunikasi (communication) berasal dari bahasa Latin
communicatus yang artinya berbagi atau menjadi milik bersama. Dengan
demikian komunikasi menunjuk pada suatu upaya yang bertujuan berbagi
untuk mencapai kebersamaan.
Secara harfiah, komunikasi berasal dari Bahasa
Latin: Communis yang berarti keadaan yang biasa, membagi. Dengan
kata lain, komunikasi adalah sutu proses di dalam upaya membangun
saling pengertian. Dalam suatu organisasi biasanya selalu menekankan
bagaimana pentingnya sebuah komunikasi antar anggota organisasi untuk
menekan segala kemungkinan kesalahpahaman yang bisa saja
terjadi. Berikut merupakan definisi komunikasi menurut beberapa ahli :
1. Effendi (1995)
Komunikasi itu sendiri bisa diartikan sebagai suatu proses
penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk
memberikan atau untuk mengubah sikap, pendapat atu prilaku
baik secara langsung (lisan) maupun tak langsung (tulisan).
2. Hoyland, Janis dan Kelley (1953)
Komunikasi adalah suatu proses melalui mana seseorang
(komunikator) menyampaikan stimulus (biasanya dalam bentuk
kata-kata) dengan tujuan mengubah atau membentuk prilaku
orang lain (khalayak).
3. Barelson dan Steiner (1964)
Komunikasi adalah proses penyampaian informasi, gagasan,
emosi, keahlian dan lain-lain melalui penggunaan simbol-simbol
seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-
lain.
4. Himstreet & Baty
Komunikasi adalah suatu proses pertukaran informasi antar
individu melalui suatu sistem yang biasa (lazim), baik dengan
simbol-simbol, sinyak - sinyal, maupun perilaku atau
tindakan.
5. Winnet
Komunikasi merupakan proses pengalihan suatu maksud dari
sumber kepada penerima, proses tersebut merupakan suatu seri
aktivitas, rangkaian atau tahap-tahap yang memudahkan
peralihan maksud tersebut.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah pertukaran pesan
verbal maupun nonverbal antara si pengirim dengan si penerima pesan
untuk mengubah tingkah laku. Perubahan tingkah laku maksudnya yaitu
perubahan yang terjadi didalam diri individu mungkin dalam aspek kognitif,
afektif, ataupun psikomotor.
Pentingnya komunikasi bagi manusia tidaklah dapat dipungkiri begitu
juga halnya suatu organisasi. Dengan adanya komunikasi yang baik suatu
organisasi dapat berjalan lancar dan berhasil dan begitu pula sebaliknya,
kurangnya atau tidak adanya komunikasi organisasi dapat macet atau
berantakan.
Kesehatan, kata dasarnya adalah sehat, yang berarti baik itu sehat
jasmani maupun rohani. Jadi, kesehatan adalah salah satu konsep yang
sering digunakan namun sukar untuk dijelaskan artinya. Faktor yang
berbeda menyebabkan sukarnya mendefinisikan kesehatan,kesakitan dan
penyakit (Gochman,1988. De Clereq,1993). Setidaknya definisi kesehatan
harus mengandung paling tidak komponen biomedis, personal dan
sosiokultural.
Keadaan (status) sehat utuh secara fisik, mental (rohani) dan
sosial, bukan hanya suatu keadaan yang bebas dari penyakit, cacat dan
kelemahan. Definisi tersebut tidak hanya meliputi tindakan yang dapat
secara langsung diamati dan jelas. Tetapi juga kejadian mental dan
keadaan perasaan yang diteliti dan diukur secara tidak langsung.
Komunikasi kesehatan yaitu proses penyampaian pesan kesehatan
oleh komunikator melalui saluran/media tertentu pada komunikan dengan
tujuan untuk mendorong perilaku manusia tercapainya kesejahteraan
sebagai kekuatan yang mengarah kepada keadaan (status) sehat utuh
secara fisik, mental (rohani) dan sosial.
Komunikasi kesehatan berkaitan erat dengan bagaimana individu
dalam masyarakat berupaya menjaga kesehatannya, berurusan dengan
berbagai isu yang berhubungan dengan kesehatan. Dalam komunikasi
kesehatan, fokusnya meliputi transaksi hubungan kesehatan secara
spesifik, termasuk berbagai faktor yang ikut berpengaruh terhadap
transaksi yang dimaksud.
Dalam tingkat komunikasi, komunikasi kesehatan merujuk pada
bidang bidang seperti program program kesehatan nasional dan
dunia, promosi kesehatan, dan rencana kesehatan publik. Dalam konteks
kelompok kecil, komunikasi kesehatan merujuk pada bidang bidang
seperti rapat rapat membahas perencanaan pengobatan, laporan staf,
dan interaksi tim medis. Sedangkan dalam konteks interpersonal,
komunikasi kesehatan termasuk dalam komunikasi manusia yang secara
langsung mempengaruhi profesional profesional dan profesional dengan
klien. Komunikalevasi kesehatan dipandang sebagai bagian dari bidang
bidang ilmu yang relevan, fokusnya lebih spesifik dalam hal pelayanan
kesehatan.
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan
kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai
suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat
secara keseluruhan ingin hidup sehat, tahu bagaimana caranya dan
melakukan apa yang bisa dilakukan, secara perseorangan maupun secara
kelompok dan meminta pertolongan (Effendy, 1998).
Jadi dapat disimpulkan bahwa komunikasi dalam penyuluhan
kesehatan adalah proses penyampaian pendidikan kesehatan yang
dilakukan denga cara penyebaran pesan untuk mendrong perilaku
masyarakat dalam mencapai kesejahteraan secara keseluruhan.

2. PENDIDIKAN KESEHATAN SEBAGAI PROSES PERUBAHAN


PERILAKU
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri
seseorang yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan
individu, dan masyarakat . Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan
kepada seseorang oleh orang lain, bukan seperangkat prosedur yang
harus dilaksanakan atau suatu produk yang harus dicapai, tetapi
sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yang berubah
secara dinamis, yang didalamnya seseorang menerima atau menolak
informasi, sikap, maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan
hidup sehat (Suliha, dkk., 2002).
Menurut WHO (2014) tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk
merubah perilaku perseorangan dan masyarakat dalam bidang kesehatan.
Tujuan penyuluhan kesehatan pada hakekatnya sama dengan tujuan
pendidikan kesehatan, menurut Effendy (1998) tujuan penyuluhan
kesehatan adalah :
1. Tercapainya perubahan perilaku individu, keluarga dan masyarakat
dalam membina dan memelihara perilaku hidup sehat dan
lingkungan sehat, serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan
derajat kesehatan yang optimal.
2. Terbentuknya perilaku sehat pada individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik,
mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan
dan kematian.

3. HUBUNGAN PERILAKU DENGAN KESEHATAN


Sehat merupakan sebuah keadaan yang tidak hanya terbebas dari
penyakit akan tetapi juga meliputi seluruh aspek kehidupan manusia yang
meliputi aspek fisik, emosi, sosial dan spiritual. Menurut WHO (2012)
Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna
baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit
atau kelemahan. Definisi WHO tentang sehat mempunyui karakteristik
berikut yang dapat meningkatkan.konsep sehat yang positif (Edelman dan
Mandle. 1994):
1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh
2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal
dan eksternal.
3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu
tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi
dan tujuan dan baik disadari maupun tidak. Perilaku merupakan kumpulan
berbagai faktor yang saling berinteraksi. Seiring dengan tidak disadari
bahwa interaksi itu sangat kompleks sehingga kadang- kadang kita tidak
sempat memikirkan penyebab seseorang menerapkan perilaku tertentu.
Karena itu amat penting untuk dapat menelaah alasan dibalik perilaku
individu, selama ia mampu mengubah perilaku tersebut.
Menurut Becker. Konsep perilaku sehat ini merupakan
pengembangan dari konsep perilaku yang dikembangkan Bloom. Becker
menguraikan perilaku kesehatan menjadi tiga domain, yakni pengetahuan
kesehatan (health knowledge), sikap terhadap kesehatan (health attitude)
dan praktek kesehatan (health practice). Hal ini berguna untuk mengukur
seberapa besar tingkat perilaku kesehatan individu yang menjadi unit
analisis penelitian. Becker mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi
tiga dimensi :
1. Pengetahuan Kesehatan
Pengetahuan tentang kesehatan mencakup apa yang diketahui
oleh seseorang terhadap cara-cara memelihara kesehatan, seperti
pengetahuan tentang penyakit menular, pengetahuan tentang
faktor-faktor yang terkait. dan atau mempengaruhi kesehatan,
pengetahuan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan
pengetahuan untuk menghindari kecelakaan.
2. Sikap terhadap kesehatan
Sikap terhadap kesehatan adalah pendapat atau penilaian
seseorang terhadap hal-hal yang berkaitan dengan pemeliharaan
kesehatan, seperti sikap terhadap penyakit menular dan tidak
menular, sikap terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau
mempengaruhi kesehatan, sikap tentang fasilitas pelayanan
kesehatan, dan sikap untuk menghindari kecelakaan.
3. Praktek kesehatan
Praktek kesehatan untuk hidup sehat adalah semua kegiatan atau
aktivitas orang dalam rangka memelihara kesehatan, seperti
tindakan terhadap penyakit menular dan tidak menular, tindakan
terhadap faktor-faktor yang terkait dan atau mempengaruhi
kesehatan, tindakan tentang fasilitas pelayanan kesehatan, dan
tindakan untuk menghindari kecelakaan.
Selain Becker, terdapat pula beberapa definisi lain mengenai perilaku
kesehatan. Menurut Solita, perilaku kesehatan merupakan segala bentuk
pengalaman dan interaksi individu dengan lingkungannya, khususnya
yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan, serta
tindakannya yang berhubungan dengan kesehatan. Sedangkan Cals dan
Cobb mengemukakan perilaku kesehatan sebagai: perilaku untuk
mencegah penyakit pada tahap belum menunjukkan gejala (asymptomatic
stage).
Menurut Skinner perilaku kesehatan (healthy behavior) diartikan
sebagai respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan
dengan sehat-sakit, penyakit, dan faktor-faktor yang mempengaruhi
kesehatan seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan
kesehatan. Dengan kata lain, perilaku kesehatan adalah semua aktivitas
atau kegiatan seseorang, baik yang dapat diamati (observable) maupun
yang tidak dapat diamati (unobservable), yang berkaitan dengan
pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini
mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah
kesehatan lain, meningkatkan kesehatan, dan mencari penyembuhan
apabila sakit atau terkena masalah kesehatan
Semua ahli kesehatan masyarakat di dalam membicarakan masalah
status kesehatan mengacu pada teori Benjamin Bloom. Dimana Benjamin
menyimpulkan bahwa lingkungan mempunyai andil yang paling besar
terhadap status kesehatan kemudian berturut-turut disusul oleh perilaku,
pelayanan kesehatan dan keturunan yang mempunyai andil yang paling
kecil. Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah respon seseorang
(organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit,
sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman serta lingkungan
atau reaksi manusia baik bersiat pasi maupun bersifat aktif. Dengan
demikian perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3 kelompok :
1. Perilaku Pemeliharaan Kesehatan (Health Maintenance), ini
terdiri dari 3 aspek :
a. Perilaku peningkatan dan pemeliharaan kesehatan (health
promotion behavior)
b. Perilaku pencegahan dan penyembuhan penyakit (health
prevention behavion)
c. Perilaku terhadap gizi makanan dan minuman (health nutrition
behavior)
2. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior)
3. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan (environmental health
behavior)

4. TEORI PERUBAHAN PERILAKU / HEALTH PROMOTION MODEL


DAN HEALTH BELIEVE MODEL
Model kepercayaan adalah suatu bentuk penjabaran dari model
sosio psikologis, munculnya model ini didasarkan pada kenyataan bahwa
problem kesehatan ditandai oleh kegagalan-kegagalan orang atau
masyarakat untuk menerima usaha pencegahan dan penyembuhan
penyakit yang diselenggarakan oleh provider, kegagalan ini akhirnya
memunculkan teori yang menjelaskan perilaku pencegahan penyakit
(preventif health behavior), yang oleh Becker (1974) dikembangkan dari
teori lapangan (Fieldtheory, 1954) menjadi model kepercayaan kesehatan
(health belief model) (Notoatmodjo, 2003).
Model perilaku ini dikembangkan pada tahun 1950an dan
didasarkan atas partisipasi masyarakat pada program deteksi dini
tuberculosis. Analisis terhadap berbagai factor yang mempengaruhi
partisipasi masyarakat pada program tersebut kemudian dikembangkan
sebagai model perilaku. Health Belief Model didasarkan atas 3 faktor
esensial:
1. Kesiapan individu untuk merubah perilaku dalam rangka
menghindari suatu penyakit atau memperkecil risiko kesehatan
2. Adanya dorongan dalam lingkungan individu yang membuatnya
merubah perilaku
3. Perilaku itu sendiri.
Ketiga factor di atas dipengaruhi oleh factor-faktor lain yang
berhubungan dengan kepribadian dan lingkungan individu, serta
pengalaman berhubungan dengan sarana & petugas kesehatan.
Kesiapan individu dipengaruhi oleh factor-faktor seperti persepsi
tentang kerentanan terhadap penyakit, potensi ancaman, motivasi untuk
memperkecil kerentanan, dan adanya kepercayaan bahwa perubahan
perilaku akan memberikan keuntungan. Factor yang mempengaruhi
perubahan perilaku adalah perilaku itu sendiri yang dipengaruhi oleh
karakterisitik individu, penilaian individu terhadap perubahan yang
ditawarkan, interaksi dengan petugas kesehatan yang merekomendasikan
perubahan perilaku, dan pengalaman mencoba merubah perilaku yang
serupa.
Health Belief Model (HBM) seringkali dipertimbangkan sebagai
kerangka utama dalam perilaku yang berkaitan dengan kesehatan, dimulai
dari pertimbangan orang mengenai kesehatan. Health Belief Model (HBM)
ini digunakan untuk meramalkan perilaku peningkatan kesehatan. Health
Belief Model (HBM) merupakan model kognitif yang berarti bahwa
khususnya proses kognitif dipengaruhi oleh informasi dari lingkungan.
Menurut Health Belief Model (HBM) kemungkinan individu akan
melakukan tindakan pencegahan tergantung secara langsung pada hasil
dari dua keyakinan atau penilaian kesehatan yaitu ancaman yang
dirasakan dari sakit dan pertimbangan tentang keuntungan dan kerugian
(Machfoedz, 2006)
Banyak sekali definisi tentang Promosi Kesehatan. Salah satu yang
paling sering dikutip adalah yang disampaikan dalam Ottawa Charter,
yaitu Promosi Kesehatan adalah proses yang menyebabkan masyarakat
mampu meningkatkan kontrol, dan memperbaiki tingkat kesehatan
mereka.
Ottawa Charter juga merekomendasikan tiga strategi dasar promosi
kesehatan, yaitu Advokasi kesehatan untuk menciptakan kondisi yang
kondusif demi terciptanya proses di atas, mendorong seluruh komponen
masyarakat untuk mencapai seluruh potensi kesehatan mereka, dan
mediasi perbedaan-perbedaan kepentingan di masyarakat dalam
menggapai tingkat kesehatan mereka.
Selain tiga strategi dasar tersebut, terdapat lima area prioritas
dalam promosi kesehatan:
1. Mengembangkan kebijakan publik berwawasan kesehatan
2. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan
3. Memperkuat kegiatan berwawasan kesehatan di masyarakat
4. Mengembangkan kemampuan individu
5. Re-orientasi pelayanan kesehatan

5. JENIS JENIS MEDIA PENDIDIKAN KESEHATAN


Media adalah alat yang digunakan oleh pendidik dalam
menyampaikan bahan pendidikan atau pengajaran. Media pendidikan
kesehatan disebut juga sebagai alat peraga karena berfungsi membantu
dan memeragakan sesuatu dalam proses pendidikan atau pengajaran.
Prinsip pembuatan alat peraga atau media bahwa pengetahuan yang ada
pada setiap orang diterima atau ditangkap melalui pancaindera.
Media pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah alat bantu
pendidikan (audio visual aids/AVA). Disebut media pendidikan karena alat-
alat tersebut merupakanalat saluran (channel) untuk menyampaikan
kesehatan karena alat-alat tersebut digunakan
untuk mempermudah penerimaan pesan-pesan kesehatan bagi
masyarakat atau klien. Berdasarkan fungsinya sebagai penyaluran
pesan-pesan kesehatan (media), media ini dibagi menjadi 3 (tiga) : Cetak,
elektronik, media papan (bill board).
Berdasarkan cara produksi media pendidikan kesehatan dibagi
menjadi tiga golongan, yaitu media cetak, media elektronik, dan media
luar ruang.
1. Media Cetak
Media cetak, yaitu suatu media statis dan mengutamakan pesan-
pesan visual. Media cetak pada umumnya terdiri dari gambaran
sejumlah kata, gambar atau foto dalam tata warna. Fungsi utama
media cetak ini adalah memberi informasi dan menghibur. Adapun
macam-macamnya adalah koran (Surat Kabar), poster, leaflet,
pamflet, majalah, booklet, dan stiker.
a. Koran (Surat Kabar)
Koran merupakan lembaran lembaran kertas bertuliskan
kabar berita dan sebagainya yang terbagi ke dalam kolom
kolom. Koran biasanya berita berita terkini dalam berbagai
topik. Topiknya bisa berupa event politik, kriminalitas, olahraga,
kesehatan, lifestyle, tajuk rencana, cuaca, dan sebagainya.
b. Poster
Poster adalah salah satu media yang terdiri dari lambang kata
atau simbol yang sangat sederhana, dan pada umumnya
mengandung anjuran atau larangan (Depdikbud, 1988:50).
Menurut Sabri (dalam Musfiqon, 2012:85) poster merupakan
penggambaran yang ditunjukkan sebagai pemberitahuan,
peringatan, maupun penggugah selera yang biasanya berisi
gambar-gambar. Berdasarkan pendapat di atas, disimpulkan
bahwa media poster secara umum adalah suatu pesan tertulis
baik itu berupa gambar maupun tulisan yang ditujukan untuk
menarik perhatian banyak orang sehingga pesan yang
disampaikan dapat diterima orang lain dengan mudah.
c. Leaflet
Leaflet adalah alat promosi yang terbuat dari kertas yang di
dalamnya terdapat sejumlah informasi dan penawaran
mengenai jasa atau produk.Leaflet/Brosur/Liptan adalah media
berbentuk selembar kertas yang diberi gambar dan tulisan
(biasanya lebih banyak tulisan) pada kedua sisi kertas serta
dilipat sehingga berukuran kecil dan praktis dibawa. Biasanya
ukuran A4 dilipat tiga.
d. Pamflet
Pamflet adalah terbitan tidak berkala yang dapat terdiri dari
satu hingga sejumlah kecil halaman, tidak terkait dengan
terbitan lain, dan selesai dalam sekali terbit. Pamflet satu
halaman bisa merupakan cetakan satu muka saja maupun
cetakan dua muka atau bolak-balik. Tentu saja untuk cetakan
dua muka, kualitas medianya pun lebih baik. Pada umumnya,
pamflet dicetak dengan kualitas bagus karena dimaksudkan
untuk membangun citra yang baik terhadap layanan atau
produk yang diinformasikan dalam pamflet tersebut.
e. Majalah
Media yang mengandalkan tulisan atau teks yang berisi
bermacam-macam artikel dalam topik yang bervariasi dan
populer yang ditujukan kepada masyarakat umum dan ditulis
dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh banyak
orang. Majalah biasanya diterbitkan mingguan, dwimingguan,
atau bulanan.
f. Booklet
Booklet adalah media komunikasi massa yang bertujuan untuk
menyampaikan pesan yang bersifat promosi, anjuran, larangan-
larangan kepada khalayak massa, dan berbentuk cetakan.
Sehingga akhir dari tujuannya tersebut adalah agar masyarakat
yang sebagai obyek memahami dan menuruti pesan yang
terkandung dalam media komunikasi massa tersebut. Sesuatu
itu tak mungkin bisa lepas dari keunggulan dan kelemahan.
g. Stiker
Stiker merupakan salah satu dari sekian banyak media
komunikasi yang digunakan, keefektifan sebuah stiker dalam
menyampaikan pesan bergantung pada beberapa hal yaitu:
penampilan, ukuran stiker harus optimum, kualitas cetakan yang
baik, awet dan terjangkau serta bahasa yang digunakan dalam
penyampaian harus singkat padat dan jelas, serta menarik.
h. Flip Chart
Flip chart atau yang sering disebut sebagai bagan balik adalah
kumpulan ringkasan, skema, gambar, tabel yang dibuka secara
berurutan berdasarkan topik materi pembelajaran. Bahan flip
chart biasanya kertas ukuran plano yang mudah dibuka-buka,
mudah ditulisi, dan berwarna cerah. Untuk daya tarik, flip
chart dapat dicetak dengan aneka warna dan variasi desainnya.
2. Media Elektronik
Media elektronika yaitu suatu media bergerak dan dinamis, dapat
dilihat dan didengar dalam menyampaikan pesannya melalui alat
bantu elektronika.Adapun macam-macam media tersebut adalah
TV, radio, film, cassete, CD Audio,dan media online.
a. Televisi
Televisi adalah media massa elektronik terkenal yang berfungsi
sebagai penerima siaran gambar bergerak beserta suara
(audio-visual), baik itu monokrom (hitam-putih) maupun
berwarna.
b. Radio
Media suara atau audio identik dengan media radio yang
memang pendengarnya hanya bisa menikmati suara saja tanpa
ada visualisasi ataupun teks.
c. Film
Film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu
serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara
cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup
dan bergerak. media film merupakan salah satu bentuk media
komunikasi yang memeiliki potensi digunakan untuk
pembelajaran baik by design maupun by utilization.
d. Kaset dan CD Audio
Kaset dan CD Audio adalah penyimpanan data yang hanya
berupa suara yang di temukan oleh phillips pada tahun 1963 di
Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat dengan
nama compact cassette seiring perkembangan teknologi
komunikasi dan informasi ditemukanlah beberapa media audio
diantaranya CD dan DVD, MP3, Audio Digital,tetapi sebelum
ditemukan media seperti yang disebut diatas telah ada media
yang masih sangat sederhana yaitu piringan
hitam.
e. Media Online
Media online adalah media yang berbasiskan teknologi
komunikasi interaktif dalam hal ini jaringan komputer, dan oleh
karenanya ia memiliki ciri khas yang tidak dimiliki media
konvensional lainnya, salah satunya adalah pemanfaatan
Internet sebagai wahana di mana media tersebut ditampilkan,
sekaligus sarana produksi dan penyebaran informasinya. Oleh
karena itu, peranan teknologi komunikasi dalam hal ini internet,
sangatlah besar dalam mendukung setiap proses
penyelenggaraan media online. Besarnya pengaruh teknologi
Internet dalam penyelenggaraan media online ditunjukkan lewat
pengeksplorasian setiap karakter yang dimiliki internet yang
kemudian diadopsi oleh media online.
3. Media Luar Ruang
Media luar ruang yaitu media yang menyampaikan pesannya di luar
ruang secara umum melalui media cetak dan elektronika secara
statis, misalnya billboard, spanduk, banner.
a. Billboard
Billboard adalah iklan luar ruang dengan ukuran besar. Saat ini,
billboard masih termasuk model iklan luar ruang yang banyak
digunakan, apalagi di perkotaan.
b. Media Spanduk
Spanduk dapat diartikan sebagai media penyampaian informasi
berupa kain jenis tertentu. Panjang spanduk rata-rata berukuran
sekitar lima hingga delapan meter dengan lebar menyesuaikan.
Spanduk lazim dipasang di tepi atau tengah jalan. Dibentangkan
atau diikat pada tembok, tiang listrik maupun pepohonan yang
banyak terdapat di tepian jalan. Spanduk berisi huruf atau
kalimat informatif dan gambar menarik mata (eye catching).
c. Banner
Banner merupakan salah satu bentuk iklan promosi produk dan
jasa atau sarana untuk memperkenalkan produk atau jasa
kepada konsumen atau target pasar. Banner mempunyai ciri
khas yang berbeda dengan teks tulis biasa, banner biasanya
berbentuk berupa gambar yang tema gambarnya sesuai dengan
informasi yang ingin disampaikan kepada targetaudiance.

6. IDENTIFIKASI LANGKAH LANGKAH MENGENAL MASALAH


PERILAKU MASYARAKAT SESUAI DENGAN TRIGGER
7. RENCANAKAN PENYULUHAN KESEHATAN YANG TEPAT
DILAKUKAN UNTUK MENYELESAIKAN MASALAH
KESEHATAN DALAM TRIGGER
A. MENGENAI MASALAH, MASYARAKAT, DAN WILAYAH
B. MENENTUKAN PRIORITAS
C. MENENTUKAN TUJUAN PENYULUHAN
D. MENENTUKAN SASARAN PENYULUHAN
E. MENENTUKAN ISI PENYULUHAN
F. MENENTUKAN METODE PENYULUHAN YANG AKAN
DIGUNAKAN
G. MEMILIH ALAT PERAGA ATAU MEDIA PENYULUHAN YANG
DIBUTUHKAN
H. MENYUSUN RENCANA PENILAIAN

DAFTAR PUSTAKA

Maulana, Heri D. J. 2014. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC


Komang Ayu Henny Achjar. 2013. Asuhan Keperawatan Komunitas : teori
dan praktik / penulis. Jakarta : EGC
Cullen, Ann. et al. 2011. Evaluating Community-
based Child Health Promotion Programs:A Snapshot of Strategies
and Methods. Nemours : National Academy for State Health Policy
Departemen Kesehatan RI. 2015. Pusat Promosi Kesehatan, Panduan
Pelatihan Komunikasi Perubahan Perilaku, Untuk KIBBLA :
Jakarta
Maulana, Heri D.J. 2012 Promosi Kesehatan. Buku Kedokteran EGC :
Jakarta
Mubarak, Wahid I dan Chayatin. Nurul. 2009. Ilmu Kesehatan
Masyarakat : Teori dan Aplikasi. Salemba Medika : Jakarta
Notoatmodjo, Soekidjo. 2009. Promosi Kesehatan. Rineka Cipta, Jakarta.
Whitehead, Dean. 2002.
(Journal) Evaluating health promotion: a model fornursing prac
tice. Institute of Health Studies, University of Plymouth,Earl Ric
hards Road North. Diakses 6 Oktober 2016