Anda di halaman 1dari 4

Hermawan G., et al., Pengaruh Variasi AFR (Air-Fuel Ratio) terhadap ..

Pengaruh Variasi AFR (Air-Fuel Ratio) terhadap Efisiensi Thermal pada


Proses Gasifikasi Sekam Padi Tipe Downdraft dengan
Dua Saluran Udara Masuk
(The Effect of Variation AFR (Air-Fuel Ratio) to Thermal Efficiency of a Rice
Husk Gasification Process Downdraft Type with
Two Channels Incoming Air)
Gilang Hermawan1, Nasrul Ilminnafik2, Tri Mulyono2
1
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Jember
2
Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Jember J
ln. Kalimantan 37, Jember 68121
email: nasrul.teknik@unej.ac.id

Abstrak
Biomassa sekam padi adalah salah satu limbah pertanian yang dapat dijadikan energi alternatif karena jumlahnya yang sangat
melimpah. Penggunaan biomassa sekam padi ini dapat meningkatkan nilai guna dari sekam padi. Penelitian ini dilakukan
menggunakan reaktor gasifikasi downdraft dua saluran udara masuk berdiameter masing-masing 5,08 cm dengan
menvariasikan suplai udara masuk untuk mengetahui efisiensi thermal dari proses gasifikasi. Variasi suplai udara masuk ke
dalam reaktor gasifikasi ialah 0,8 m/s, 1,0 m/s, 1,2 m/s, dan 1,4 m/s. Hasil penelitian didapatkan nilai kalor bawah dan
efisiensi paling besar pada suplai udara masuk 1,2 m/s. Besarnya nilai kalor bawah adalah 5046,7072 kJ dan efisiensi
thermalnya adalah 63,8%. Pada suplai udara 1,2 m/s tmemiliki nilai AFR yang optimal. Jika nilai AFR semakin menjauh dari
nilai AFR yang optimal, akan menurunkan komposisi flammable gas, nilai kalor bawah, dan efisiensi thermalnya.

Kata kunci: sekam padi, efisiensi termal, downdraft gasification, dua saluran udara masuk.

Abstract
A rice husk biomass is one of raw material to be converted into alternative energy because it is very abundant. The use of a
rice husk biomass can increase the value of a rice husk. This research committed using gasifier downdraft two channels
incoming air each in diameter 5,08 cm with varying the air supply to know thermal efficiency of gasification process. The
variation of air supply into gasifier is 0,8 m/s, 1,0 m/s, 1,2 m/s, and 1,4 m/s. Research result obtained the highest lower
heating value (LHV) and the highest efficiency on air supply 1,2 m/s. The Value of LHV is 5046,7072 kJ and the thermal
efficiency of gasification process is 63,8 %. On air supply 1,2 m/s have the optimally AFR value. If AFR value getting away
from the optimally AFR value, will decrease composition of flammable gas, value of LHV, and the thermal efficiency of it.

Keywords: Rice husk, thermal efficiency, downdraft gasification, two channels incoming air.

Pendahuluan Penelitian dilakukan pada reaktor gasifikasi jenis


downdraft dua saluran masuk dengan variasi suplai udara
Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduk di masuk. Pasokan biomassa ke dalam reaktor hanya dilakukan
Indonesia yang semakin meningkat menyebabkan satu kali untuk setiap satu kali penelitian.
permintaan kebutuhan akan energi semakin besar. Beberapa penelitian sebelumnya yang menggunakan
Sedangkan cadangan energi fosil semakin menipis. Oleh reaktor jenis downdraft telah dilakukan. Penelitian yang
karena itu diperlukan sumber energi alternatif yang lebih menggunakan biomassa tongkol jagung sebagai bahan baku
murah, berlimpah dan dapat diperbarui seperti biomassa. proses gasifikasi downdraft dengan variasi AFR (Air Fuel
Indonesia sebagai negara agraris memiliki biomassa yang Ratio), menunjukkan bahwa AFR sebesar 1,05 menghasilkan
melimpah terutama sekam padi. Sekam padi diperoleh dari efisiensi terbaik dari syn-gas sebesar 30,44% [2]. Penelitian
limbah padi yang sudah tidak digunakan. Produksi padi pada yang menggunakan biomassa sekam padi sebagai bahan
tahun 2013 mencapai 70. Setiap 1 kilogram padi dapat baku proses gasifikasi aliran searah dengan variasi AFR juga
menghasilkan 280 gram sekam [1], maka produksi 70 ton menghasilkan efisiensi terbaik sebesar 43,68% dengan nilai
padi akan menghasilkan sekitar 19 juta ton sekam padi pada LHV sebesar 3289,38 kJ/kg [3]. Pada penelitian dengan
tahun 2013. Dengan jumlah yang sangat besar dapat variasi suplai udara untuk meningkatkan efisiensi dan
dikonversi menjadi sebuah energi baru yang cukup besar. mengurangi kandungan tar dengan bahan bakar serbuk kayu,
Dengan mengetahui komposisi dan kandungan kimia yang hasil yang didapat adalah temperatur reaktor gasifikasi
terdapat di dalam sekam padi, bahan tersebut dapat dengan dua saluran masuk lebih tinggi daripada temperatur
dijadikan sumber energi alternatif melalui proses gasifikasi reaktor gasifikasi dengan satu saluran masuk. Reaktor

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2014, I I(2): 1-4


Hermawan G., et al., Pengaruh Variasi AFR (Air-Fuel Ratio) terhadap .. 2

gasifikasi dengan dua saluran masuk menghasilkan gas yang terjadi pada zona oksidasi yang berada di bawahnya
lebih baik dan efisiensi yang lebih besar. Efisiensi yang sehingga terjadi kenaikan tekanan parsial uap air sekam padi
dihasilkan meningkat dari 60,8% menjadi 69,2%. dan dapat menurunkan kelembaban relatif udara [3].
Kandungan tar yang dihasikan pada single-stage reactor
sebesar 3600 mg/Nm3 sedangkan kandungan tar pada two-
stage reactor sebesar 92 mg/Nm3. Kandungan tar yang
dihasilkan pada two-stage reactor 40 kali lebih rendah
dibanding dengan single-stage reactor [4].
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh
variasi AFR ke dalam gasifier terhadap komposisi syn-gas,
nilai kalor bawah dan efisiensi thermal proses gasifikasi.

Metode Penelitian

Gambar 2. Distribusi temperatur pada T3

B. Distribusi Temperatur pada T4

Gambar 1. Skema Penelitian

Gambar 1 menunjukkan reaktor gasifikasi tipe downdraft. Gambar 3. Distribusi temperatur pada T4
Untuk mengetahui distribusi temperatur dalam reaktor
gasifikasi, maka dipasang 2 termokopel dalam reaktor. Pada Gambar 3 menunjukkan temperatur T4 berada pada
Penelitian dilakukan pada sekam padi 5 kg. Pengambilan range 30-650oC. Pada menit awal temperatur tidak
data komposisi syn-gas dilakukan dengan cara memasukkan mengalami perubahan yang signifikan dan cenderung sama
gas ke dalam balon pada saat gas memiliki kandungan dengan temperatur pada T3. Hal ini disebabkan karena
flammable gas yang tinggi dibuktikan ketika dipantik sekam padi belum terbakar sempurna dan panas yang ada
dengan korek api, syn-gas dapat menyala dengan stabil. terkonsentrasi untuk proses drying.
Pengambilan gas tersebut dilakukan sampai api tidak Pada suplai 0,8 m/s temperatur cenderung stabil hingga
menyala dengan stabil. Syn-gas yang telah ditampung di menit ke-24 dan meningkat secara signifikan pada menit ke-
dalam balon akan di uji kandungan CO, CH4, CO2, dan H2 25 hingga mencapai puncak pada menit ke-28 dengan
menggunakan gas chromatography . Mengulangi langkah temperatur 361,9oC. Pada suplai udara 1,0 m/s temperatur
penelitian dengan variasi AFR 1; 1,3; 1,5 dan 1,8. meningkat secara signifikan pada menit ke-21 dan mencapai
puncak pada menit ke-27 dengan temperatur 445 oC. Untuk
Hasil Dan Pembahasan suplai udara 1,2 m/s temperatur meningkat pada menit ke-20
dan mencapai puncak pada menit ke-24 dengan temperatur
A. Distribusi Temperatur Reaktor pada T3 595,2oC. Sedangkan pada suplai udara 1,4 m/s
Pada Gambar 2 yang menunjukkan grafik distribusi temperaturnya meningkat pada menit ke-15 dan mencapai
temperatur T3 yang berkisar pada range 30-150oC. Hal ini puncak pada menit ke-20 dengan temperatur 641,4oC.
menunjukkan bahwa posisi T3 terletak pada daerah drying. Temperatur T4 merupakan indikator untuk proses pirolisis.
Temperatur pada daerah drying berkisar antara 100o-300o Menurut Putri (2011) proses pirolisis dimulai pada
C . Daerah drying adalah proses pengeringan sekam padi temperatur santara 300oC900oC. Setelah itu temperatur
dari kandungan air yang terkandung di dalamnya. Proses cenderung turun kembali hingga menit ke-45. Hal ini
drying dihasilkan dengan adanya perpindahan panas yang dikarenakan panas yang tinggi pada zona pirolisis telah di

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2014, I I(2): 1-4


Hermawan G., et al., Pengaruh Variasi AFR (Air-Fuel Ratio) terhadap .. 3

distribusikan pada zona drying sehingga sekam padi kering terbakar cenderung turun pada AFR tersebut. Kemudian
yang sudah berkurang kadar airnya mengalami pemecahan kandungan flammable gas mulai menurun pada AFR 1,8.
volatile matter dan menguap bersama dengan komponen
lainnya.
Pada suplai udara 0,8 m/s kandungan gas dapat menyala
selama 10 menit yaitu pada menit ke-31 hingga menit ke-41.
Pada suplai udara 1,0 m/s kandungan gas dapat menyala
selama 13 menit yaitu pada menit ke-29 hingga menit ke-42.
Pada suplai udara 1,2 m/s kandungan gas dapat menyala
selama 18 menit yaitu pada menit ke-25 hingga menit ke-43.
Pada suplai udara 1,4 m/s kandungan gas dapat menyala
selama 10 menit yaitu pada menit ke-21 hingga menit ke-31.
Kondisi ini menunjukkan produksi flammable gas (H2, CO
dan CH4) mulai dominan dibanding gas CO2. Dan ketika gas
hasil dari proses gasifikasi sudah tidak dapat menyala
menunjukkan bahwa kandungan flammable gas (H2, CO dan
CH4) telah menurun dan lebih didominasi oleh gas CO2
hingga proses gasifikasi selesai. Dari keempat variasi suplai
udara terlihat perbedaan lama waktu syn-gas dapat menyala.
Perbedaan ini disebabkan oleh kecepatan suplai udara yang
diberikan. Pada suplai udara 0,8 m/s proses pembentukan
flammable gas sangat lama untuk mencapai dominan dan
syn-gas hanya dapat menyala selama 10 menit. Sedangkan
pada suplai udara 1,4 m/s proses pembentukan flammable
gas sangat cepat sehingga syn-gas dapat menyala pada menit
Gambar 4. Grafik komposisi syn-gas terhadap AFR pada gasifikasi
ke-21. Namun syn-gas pada suplai udara 1,4 hanya dapat
dengan 2 saluran udara masuk
menyala selama 10 menit. Sedangkan pada suplai udara 1,2
m/s kandungan flammable lebih dominan pada menit ke-25
Proses gasifikasi membutuhkan AFR kurang dari 1,5.
dan syn-gas dapat menyala selama 18 menit. Kondisi ini
Untuk AFR pada proses pembakaran adalah 6,5. Sedangkan
menunjukkan bahwa semakin besar suplai udara yang
pada proses pirolisis cenderung tidak membutuhkan udara
diberikan maka kandungan flammable gas akan semakin
atau AFR yang digunakan mendekati 0. Namun AFR yang
sedikit dan syn-gas lebih didominasi oleh gas CO2.
ideal untuk proses gasifikasi adalah antara 1,25-1,5 [2].
Sehingga untuk AFR di atas 1,5 akan menyebabkan turunnya
C. Analisa Komposisi Syn-gas komposisi syn-gas karena besarnya suplai udara yang
Proses gasifikasi akan menghasilkan gas yang terdiri dari diberikan sehingga mengakibatkan komposisi flammable gas
15-25% CO, 15-25% H2, 1-3% CH4 sebagai gas yang bisa berkurang dan kandungan N2 semakin meningkat.
terbakar, dan 10-15% CO2 dan 40-50% N2 sebagai gas yang
tidak bisa terbakar [3]. Pada Gambar 4 menunjukkan bahwa D. Analisa Nilai Kalor
kandungan gas didominasi oleh gas nitrogen (N 2) yang Gambar 5. Grafik nilai kalor terhadap AFR
paling tinggi. Untuk gas yang bisa terbakar (H2, CO dan
CH4) komposisinya lebih rendah daripada gas yang tidak
bisa terbakar (CO2) sehingga menyebabkan nilai kalor yang
dihasilkan juga rendah. Namun jika kandungan gas yang bisa
terbakar dijumlahkan maka hasilnya akan lebih tinggi
dibanding gas CO2. Oleh sebab itu syn-gas hasil gasifikasi
menyala ketika dipantik dengan korek api.
Dari Gambar 4 yang menunjukkan grafik komposisi syn-
gas pada AFR 1,0; 1,3; 1,5 dan 1,7 terlihat bahwa komposisi
terbaik dihasilkan pada AFR 1,5. Hal ini ditunjukkan dengan
tingginya komposisi gas yang dihasilkan dibanding dengan
variasi AFR yang lain. Namun grafik komposisi flammable
gas (H2, CO, dan CH4) berada di bawah grafik gas yang
tidak dapat terbakar (CO2 dan N2). Seiring dengan Pada Gambar 5 nilai kalor atau LHV syn-gas yang
meningkatnya AFR, kandungan flammable gas juga semakin tertinggi terdapat pada AFR 1,5 karena pada AFR tersebut
meningkat hingga mencapai titik puncak pada AFR 1,5, syn-gas memiliki kandungan flammable gas paling tinggi
sedangkan kandungan N2 sebagai gas yang tidak dapat yang ditunjukkan pada Gambar 4. Banyaknya kandungan

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2014, I I(2): 1-4


Hermawan G., et al., Pengaruh Variasi AFR (Air-Fuel Ratio) terhadap .. 4

dari flammable gas berbanding lurus dengan tingginya LHV Saran


syn-gas. LHV syn-gas pada AFR 1,0 dan AFR 1,3 lebih
tinggi dibanding dengan LHV syn-gas pada AFR 1,8 karena 1. Hasil penelitian gasifikasi dengan berat sekam 5 kg ini
AFR 1,0 dan AFR 1,3 masih terbilang ideal (AFR<1,5). hanya dapat mengidentifikasi zona gasifikasi pada daerah
Oleh sebab itu, LHV syn-gas pada AFR 1,0 dan AFR 1,3 drying dan pirolisis. Oleh karena itu perlu dilakukan
masih lebih tinggi dibandingkan dengan LHV syn-gas pada penambahan termokopel untuk mengidentifikasi zona
AFR 1,8. oksidasi dan reduksi.
2. Dalam penelitian ini juga perlu dikembangkan dengan
E. Analisa Efisiensi Thermal Gasifikasi menambah variasi biomassa seperti tongkol jagung, biji kopi
Efisiensi termal merupakan persentase energi pada dan tempurung kelapa untuk mengetahui nilai kalor dan
biomassa yang mampu dikonversikan menjadi syn-gas. Pada efisiensi termal yang terbaik.
Gambar 6 menunjukkan semakin besar AFR, efisiensi akan 3. Hasil syn-gas pada penelitian ini masih banyak
semakin tinggi dan mencapai maksimal pada titik tertentu mengandung zat pengotor dan komposisi CO2 cenderung
kemudian akan menurun kembali. Untuk efisiensi terbaik
masih tinggi. Oleh karena itu perlu penambahan filter dan
sebesar 63,70% ditunjukkan pada AFR 1,5. Pada gasifikasi
absorbsi CO2 untuk meningkatkan nilai kalor syn-gas.
biomassa perbandingan udara bahan bakar yang tepat untuk
proses gasifikasi berkisar antara 1,25 1,5 [2]. Pada AFR
sebesar 1,5 syn-gas memiliki kandungan CH4, CO, H2 yang Daftar Pustaka
paling besar dibanding dengan AFR lainnya (CH4 13,9%,
CO 14,17%, H2 4,93% N2 49,6% dan CO2 15,02). Pada
[1] Anis, S., Karnowo, Wahyudi, dan Respati, S. M. D.
AFR 1,5 menghasilkan LHV syn-gas paling tinggi yaitu (Tanpa Tahun). Studi Eksperimen Gasifikasi Sekam Padi
sebesar 5046,7072 kJ/m3. Gasifikasi merupakan proses pada Updraft Circulating Fluidized Bed Gasifier.
konversi energi yang membutuhkan udara yang minim [5]. Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas
Efisiensi tertinggi pada AFR 1,5 merupakan AFR yang tepat Negeri Semarang.
untuk gasifikasi sekam padi dengan 2 suplai udara masuk.
[2] Putri, G.A. 2009. Pengaruh Variasi Temperatur
Gasifying Agent II Media Gasifikasi Terhadap Warna
Dan Temperatur Api Paada Gasifikasi Reaktor
Downdraft Dengan Bahan Baku Tongkol Jagung.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

[3] Setiawan, D. 2011. Karakterisasi Proses Gasifikasi


Downdraft Berbahan Baku Sekam Padi dengan Desain
Sistem Biomassa Secara Kontinyu dengan Variasi AFR.
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik Mesin,
Teknologi Industri, ITS.

[4] Bui, T., Loof, R., dan Bhattacharya, S. C. 1993. Multi-


Stage Reactor For Thermal Gasification of Wood.
Energy Vol. 19, No. 4, pp. 397-404,1994
Gambar 6. Grafik efisiensi thermal gasifikasi sekam padi dengan 2
saluran udara masuk [5] Najib, L. dan Darsopuspito, S. 2012. Karakterisasi
Proses Gasifikasi Biomassa Tempurung Kelapa Sistem
Kesimpulan Downdraft Kontinyu dengan Variasi Perbandingan
Udara-Bahan Bakar (AFR) dan Ukuran Biomassa.
Jurnal Teknik ITS Vol. 1, No. 1, (Sept. 2012) ISSN:
Dari peneltian menggunakan gasifikasi sekam padi tipe 2301-9271.
downdraft dengan 2 saluran udara masuk didapatkan
kesimpulan bahwa semakin menjauhnya nilai AFR dari nilai
optimalnya (1,5), akan menurunkan komposisi flammable
gas dan nilai kalor rendah (LHV) sehingga efisiensi
thermalnya akan menurun, karena nilai efisiensi berbanding
lurus dengan komposisi flammable gas dan nilai kalor
rendahnya.

UNEJ JURNAL XXXXXXXXX 2014, I I(2): 1-4