Anda di halaman 1dari 2

CUT NYAK DIN

Cut Nyak Din dilahirkan pada tahun 1850. Ayahnya bernama Nanta Setia,
seorang putera Aceh keturunan Minangkabau yang menjabat sebagai Ulebalang VI
Mukim. Ayah Cut Nyak Din muku Mahmud yang kawin dengan adik raja Meulaboh.
Dari perkawinan Teuku Mahmud itu lahirlah Teuku Umar. Jadi Teuku Umar adalah
sepupu Cut Nyak Din dan sekaligus suami Cut Nyak Din setelah suami Cut Nyak Din
yang pertama yaitu Ibrahim Lamnga meninggal.
Cut Nyak Din dibesarkan dalam masa pergolakan yaitu masa perang Aceh
melawan Belanda. Pada akhir Desember 1875, daerah kekuasan Nanta Setia yaitu VI
Mukim diserang Belanda. Nanta Setia bersama Ibrahim Lamnga dan Cut Nyak Din
berjuang untuk mempertahankan VI Mukim. Pada tanggal 29 Juni 1878, Ibrahim
Lamnga meninggal dunia pada saat melakukan perang gerilya bersama ayah Cut
Nyak Din. Ibrahim Lamnga dimakamkan di Montesik. Sejak saat itu, Cut Nyak Din
sangat membenci Belanda.
Pada akhirnya Cut Nyak Din menjadi janda dengan satu anak, dan akhirnya
menikah dengan Teuku Umar. Cut Nyak Din bersama-sama dengan suaminya
berjuang merebut kembali VI Mukim dari tangan Belanda dan akhirnya berhasil.
Pada saat itu, terjadi perubahan di kalangan pimpinan rakyat Aceh. Teuku Cik
di Tiro meninggal pada tahun 1891. Pimpinan perjuangan kemudian dipegang oleh
Ma Amin di Tiro, putera Teuku Cik di Tiro. Namun Ma Amin kurang dapat diterima
oleh kalangan rakyat Aceh karena sering membikin gaduh termasuk di VI Mukim.
Pasukan Ma Amin di VI Mukim mendapat perlawanan dari Teuku Umar, suami
Cut Nyak Din dan akhirnya berhasil diusir. Namun, ketika mengusir pasukan Ma
Amin tersebut, ternyata Teuku Umar dibantu oleh Belanda tanpa sepengetahuan Cut
Nyak Din. Rakyat Aceh yang mengetahui hal ini sangat tidak senang dengan
tindakan Teuku Umar yang bekerja sama dengan Belanda, Hal ini membuat Cut
Nyak Din sedih.
Cut Nyak Din semakin menderita batin ketika mengetahui bahwa Teuku Umar
secara terang-terangan memihak pihak Belanda pada bulan Agustus 1893. Dengan
sebuah upacara di Banda Aceh, Teuku Umar diangkat menjadi Johan Pahlawan oleh
Belanda. Ia diijinkan Belanda untuk membentuk pasukan sendiri dan diberi tugas
mengamankan daerah Aceh Barat.
Teuku Umar hidup dalam kemewahan, sedangkan Cut Nyak Din semakin
menderita batinnya dari hari ke hari karena dihadapkan pada dua pilihan yaitu setia
kepada suaminya atau tetap berjuang bersama-sama rakyat Aceh namun harus
berpisah dari suaminya tersebut.
Suatu hari, Teuku Umar mendapat perintah dari Belanda untuk menyerang
Lamkrak, bekas markas perjuangan Teuku Cik di Tiro dulu. Mengetahui hal tersebut,
Cut Nyak Din mulai berani menghalangi suaminya untuk menyerang Lamkrak.
Mendapat desakan dari istrinya, akhirnya Teuku Umar luluh juga hatinya dan
akhirnya Teuku Umar justru berbalik memusuhi Belanda dan memihak kepada
rakyat Aceh kembali.
Pada tanggal 30 Maret 1896, Teuku Umar menyatakan secara terus terang
untuk keluar dari dinas militer Belanda sambil membawa lari 800 pucuk senapan,
25.000 butir peluru dan uang yang akan diberikan kepada pejuang-pejuang rakyat
Aceh.
Belanda kemudian sangat marah dan segera mengutus Kolonel van Heutsz
untuk bertindak keras di Aceh. Rumah Teuku Umar dan Cut Nyak Din dihancurkan.
Kemudian Cut Nyak Din dan suaminya mengungsi ke Leupong. Tidak lama
kemudian, pindah lagi ke Pidie. Namun, Belanda tetap mengejar keberadaan Teuku
Umar sehingga membuatnya kembali mengungsi ke Meulaboh, tempat kelahiran
Teuku Umar. Dalam sebuah pertempuran yang dahsyat di Meulaboh, pasukan Teuku
Umar makin terpojok dan akhirnya Teuku Umar tewas tertembak pada tanggal 11
Februari 1899. Teuku Umar dimakamkan di Meulaboh.
Pada saat meninggal Teuku Umar, Cut Nyak Din berusia hampir 50 tahun. Cut
Nyak Din juga masih terus diburu oleh Belanda sehingga membuat Cut Nyak Din
mengungsi sampai ke pedalaman Meulaboh yang sangat jauh. Di tempat
pengungsiannya itu, Cut Nyak Din ditemani oleh Pang Leot, seorang tangan kanan
Teuku Umar. Keadaan Cut Nyak Din semakin memprihatinkan karena tidak memiliki
makanan yang cukup serta matanya mulai rabun dan terserang penyakit encok
juga.
Suatu ketika, Pang Leot berkhianat dengan memberitahukan kepada Belanda
tempat persembunyian Cut Nyak Din. Akhirnya pada bulan Nopember 1905, Belanda
menyerang tempat pengungsian Cut Nyak Din dan berhasil menangkapnya. Cut
Nyak Din dibawa oleh Belanda ke Banda Aceh. Di Banda Aceh, Cut Nyak Din juga
mendapat pengobatan untuk rabun mata dan encoknya. Tidak lama kemudian, Cut
Nyak Din diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat karena Belanda khawatir rakyat Aceh
akan marah mengetahui Cut Nyak Din tertangkap dan sedang berada di Banda
Aceh.
Dalam pengasingannya di Sumedang, Cut Nyak Din merasa tidak bahagia dan
selalu ingin kembali ke Aceh namun tidak pernah diijinkan Belanda. Akhirnya, pada
tanggal 6 Nopember 1908, Cut Nyak Din wafat dan jenazahnya dimakamkan di
Sumedang, Cut Nyak Din meninggalkan dua anak, seorang didapat dari Ibrahim
Lamnga dan seorang dari Teuku Umar, yang terakhir adalah seorang wanita yang
diberi nama Cut Nyak Gombong yang kelak kawin dengan Teuku Mayet di Tiro.
Rakyat Aceh sangat menghormati almarhumah sebagai wanita pejuang
bangsa. Pemerintah dengan SK Presiden No. 106/Tahun 1964 menganugerahi Cut
Nyak Din dengan gelar Pahlawan Nasional.

Dirangkum dari buku LIMA PUTERA-PUTERI ACEH PAHLAWAN NASIONAL


Pengarang: KAMAJAYA
Penerbit: U. P. INDONESIA, YOGYAKARTA
Tahun: 1981
Jumlah Halaman: 57 halaman

URIEL BASWARA ADMARIN


Kelas: V-D / 6