Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mekanisme Fisiologis dan Psikologis harus benar - benar dipahami dalam

konteks tubuh secara menyeluruh serta harus berjalan seimbang, saat tubuh

terancam atau mengalami cedera tubuh akan memberikan respon berupa

perubahan struktural, fungsional dan emosional. Mekanisme inilah yang akan

membantu proses didalam tubuh berlangsung dengan baik. Adaptasi Psikologis

bertujuan untuk mempertahankan konsep diri.

Konsep diri adalah cara individu dalam melihat pribadinya secara utuh,

menyangkut fisik, emosi, intelektual, sosial, dan spiritual (Sunaryo, 2004:32).

Konsep diri dipelajari melalui kontak sosial dan pengalaman berhubungan

dengan orang lain, pandangan individu tentang dirinya dipengaruhi oleh orang

lain dan lingkungn sekitar. Untuk bertahan hidup individu harus memiliki koping

yang efektif dalam menyelesaikan suatu masalah baik yang timbul dari faktor

ekternal maupun internal, masalah yang timbul dari faktor internal adalah adanya

suatu gangguan dalam sistem tubuh yang berdampak pada gangguan psikis.

Salah satu contohnya gangguan pada sistem renale yang membutuhkan terapi

dalam waktu lama bahkan seumur hidup misalnya terapi hemodialisa.

Hemodialisa merupakan suatu proses yang digunakan untuk

mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak

mampu melaksanakan proses tersebut ( Brunner & Suddarth, 2002 : 1397 ).

1
2

Di Indonesia termasuk negara dengan tingkat penderita gagal ginjal

kronik yang cukup tinggi. Menurut data dari persatuan Nefrologi Indonesia

diperkirakan ada 70 ribu penderita gagal ginjal. Namun di Indonesia yang

terdeteksi menderita gagal ginjal kronis yang menjalani cuci darah (Hemodialisa)

hanya sekitar 4.000 sampai 5.000 saja. Jumlah pasien gagal ginjal di rumah sakit

khusus ginjal (RSKG) mencapai 4.500 orang, banyak pasien yang meninggal

akibat tidak mampu berobat dan cuci darah, dikarenakan biaya yang mahal.

Menurut data yayasan peduli ginjal (Yadugi), saat ini di Indonesia terdapat

40.000 penderita gagal ginjal kronik (GGK). Namun dari jumlah tersebut hanya

sekitar 3.000 penderita yang bisa menikmati pelayanan cuci darah (Hemodialisa).

Sisanya hanya bisa pasrah menjalani hidupnya, karena pada dasarnya penderita

hemodialisa tidak bisa sembuh.

Hemodialisa jangka panjang akan membuat perasaan pasien menjadi

cemas. Kecemasan tersebut timbul karena adanya ancaman terhadap dirinya

(Konsep diri) akibat dari proses terapi yang begitu lama sehingga membuat

pasien jenuh dan merasa pesimis. Gangguan konsep diri dapat berupa peran,

body image dan harga diri. Tetapi tidak semua pasien mengalami gangguan

konsep diri yang sama pada terapi hemodialisa jangka panjang. hal ini dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu pendidikan, umur, status perkawinan dan

informasi pre terapi.


3

Tabel 1.1 : Data Klien Hemodialisa di Rumah Sakit Umum


R.Syamsudin, S.H Kota Sukabumi

NO TAHUN JUMLAH PERSENTASE


1 2003 125 Orang 1.32 %
2 2004 953 Orang 9.99%
3 2005 1992 Orang 20.9 %
4 2006 3068 Orang 32.2 %
5 2007 3393 Orang 35.6 %
TOTAL 9531 Orang 100
(Sumber : Data Rekam Medik RSUD R. Syamsudin, SH Kota Sukabumi tahun 2010)

Keadaan ketergantungan pada mesin dialisa seumur hidupnya

mengakibatkan terjadinya perubahan dalam kehidupan penderita gagal ginjal

terminal yang melakukan terapi hemodialisa (biasanya disingkat dengan pasien

hemodialisa). Perubahan dalam kehidupan merupakan salah satu pemicu

terjadinya gangguan konsep diri yang menyebabkan berkembangnya suatu

penyakit. Gangguan konsep diri juga secara tidak langsung dapat mempengaruhi

kesakitan dengan cara merubah pola prilaku individu. Hal ini jelas dapat

memperburuk kondisi kesehatan penderita dan menurunkan kualitas hidupnya.

Itu tergambar dari hasil studi pendahuluan dari 5 orang yang diwawancarai 3

orang diantaranya mengatakan mengalami gangguan harga diri yaitu mereka

mengatakan malu setelah mereka harus berurusan dengan mesin hemodialisa

setiap harinya dan 2 orang lagi bisa menerima dan pasrah dengan keadaannya.

Oleh karena itu peneliti lebih tertarik untuk meneliti gangguan psikologi pada

pasien yang dilakukan hemodialisa terutama konsep dirinya.


4

Gangguan konsep diri klien dapat mengganggu proses terapi yang

dijalankan dan bahkan dapat terjadi DO (drof out) dalam menjalani terapi

hemodialisa, sehingga proses rehabilitasi penyakit yang di derita klien terganggu.

Perawat harus mampu mengidentifikasi seberapa besar gangguan konsep diri

yang di alami klien, sehingga perawat mampu membuat perencanaan dalam

mengintervensi masalah yang di alami klien. Dengan harapan proses terapi

hemodialisa berjalan dengan lancar.

Oleh karena itu peneliti merasa tertarik untuk melakukan penelitian

mengenai hal ini dan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam

mengindentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi gangguan konsep diri pada

klien yang menjalankan terapi hemodialisa di RSU R. Syamsudin, SH.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas peneliti mengidentifikasi masalah penelitian

yaitu bagaimana gambaran konsep diri pada klien yang dilakukan hemodialisa di

ruang hemodialisa RSU R.Syamsudin, SH ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Mengetahui gambaran konsep diri pada klien yang dilakukan hemodialisa

diruang Hemodialisa RSU R. Syamsudin, SH.

2. Tujuan Khusus
5

a. Teridentifikasinya persentase klien yang mengalami gangguan gambaran

citra diri terhadap dilakukannya terapi hemodialisa.

b. Teridentifikasinya persentase klien yang mengalami gangguan gambaran

ideal diri terhadap dilakukannya terapi hemodialisa.

c. Teridentifikasinya persentase klien yang mengalami gangguan gambaran

harga diri terhadap dilakukannya terapi hemodialisa.

d. Teridentifikasinya persentase klien yang mengalami gangguan gambaran

peran diri terhadap dilakukannya terapi hemodialisa.

e. Teridentifikasinya persentase klien yang mengalami gangguan gambaran

identitas diri terhadap dilakukannya terapi hemodialisa.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat bagi klien

Klien dapat mengetahui gangguan konsep diri yang dialami dan merancang

untuk mengendalikan perasaan negatif tentang dirinya, sehingga motivasi

dalam pengobatan dan memperlancar proses terapi yang dijalankan.

2. Manfaat bagi perawat

Memberi masukan kepada perawat untuk merancang perencanaan dan

intervensi dalam asuhan keperawatan yang tepat. Sehingga proses terapi

berjalan efektif.

3. Manfaat bagi peneliti yang akan datang


6

Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan untuk dikembangkan pada

penelitian selanjutnya.