Anda di halaman 1dari 24

PRESENTASI KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Ny. S
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 56 tahun
Alamat : Mekar Jaya
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu rumah tangga
Status : Menikah
Tanggal Masuk : 18 Februari 2017
Tanggal Pemeriksaan : 25 Februari 2017

II. ANAMNESIS
A. Keluhan Utama:
Keluar cairan pada kedua telinga dan pendengaran berkurang.

B. Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien datang ke RSUD Waled tanggal 18 Februari 2017, dengan
keluhan pusing, mual muntah sejak 5 hari yang lalu badan terasa
lemas. Muntah berisi cairan berwarna kuning tanpa ampas makanan,
dalam sehari pasien dapat muntah sebanyak 1-2x muntah, Tekanan
darah pasien 200/110 mmHg. Diagnosis IGD Hipertensi Grade II
dengan Dispepsia, dan diberi penatalaksanaan IGD Ranitidine Inject,
captopril, Ondancentrone, dan infuse RL. Kemudian pasien
dipindahkan ke bangsal Teratai.
Tanggal 19 Februari follow up pagi bangsal teratai, pasien
mengeluhkan masih pusing, pasien mengeluhkan mual dan muntah.
Tanggal 20 Februari 2017 pasien mengeluhkan sakit di bagian
perut bagian atas, disertai mual namun muntah sudah berkurang,
pasien masih merasakan pusing.

1
2

Tanggal 21 Februari 2017 pasien mengeluhkan pusing tekanan


darah masih tinggi dan telinga kiri pasien mengeluarkan cairan, cairan
berwarna kekuningan dan berbau tidak sedap, keluhan tersebut
disertai penurunan pendengaran, keluhan nyeri maupun telinga terasa
penuh disangkal pasien. Pasien mengaku pernah menderita batuk
berdahak kehijauan pilek demam tinggi selama 10 hari terakhir. Pasien
dikonsulkan pada dokter spesialis penyakit dalam dan dokter spesialis
THT setelah mendapat konsul dokter spesialis penyakit dalam oleh
dokter penanggung jawab ruangan. Kemudian diberi tambahan terapi
bisoprolol atas balasan konsul dokter spesialis penyakit dalam.
Tanggal 22 Februari 2017 tekanan darah pasien sudah membaik
dan sudah tidak mengeluh pusing, namun pasien mengalami
pengeluaran cairan dikedua telinga disertai penurunan pendengaran,
cairan berwarna kekuningan, nyeri dan rasa penuh pada telinga
disangkal pasien. Pasien dikonsulkan pada dokter spesialis THT.
Tanggal 23 Februari 2017 pasien mengeluhkan lemas dan bicara
pelo tekanan darah pasien kembali naik, pusing dan mual, telinga
kedua telinga masih mengeluarkan cairan, nyeri dan perasaan penuh
pada telinga disangkal. Kemudian pasien diberikan penatlaksanaan
tambahan atas jawaban konsul dokter spesialis THT yaitu pemberian
obat Ceftizoxime 3x1 mg dan Akilen Eardrop 3x4 gtt ADS.
Tanggal 24 Februari 2017 pasien masih lemas dan masih berbicara
pelo tekanan darah pasien masih sedikit tinggi, pasien mengeluhkan
pusing dan mual, kedua telinga pasien masih mengeluarkan cairan.
Tanggal 25 Februari 2017 pasien mengeluhkan pusing dan lemas
sudah sedikit berkurang berbicara masih pelo, dan telinga pasien
masih mengeluarkan cairan berawarna kekuningan. Nyeri dan rasa
penuh pada telinga disangkal pasien.

C. Riwayat Penyakit Dahulu:


3

Riwayat penyakit serupa : Pasien mengeluhkan hal yang sama


selama 6 bulan keluhan hilang timbul.
Riwayat hipertensi : (+) tidak terkontrol
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat alergi : disangkal
Riwayat penyakit lain : pasien mengaku mempunyai sakit
maag sejak umur 30 tahunan.

D. Riwayat Penyakit Keluarga:


Riwayat penyakit serupa : disangkal
Riwayat hipertensi : disangkal
Riwayat diabetes mellitus : disangkal
Riwayat asma : disangkal
Riwayat alergi : disangkal

E. Riwayat Pribadi dan Sosial:


Pasien mempunyai kebiasaan memakai cottonbuds setiap satu
minggu sekali untuk membersihkan kotoran telinga.

III. PEMERIKSAAN FISIK


Dilakukan tanggal 25 Februari 2017 pukul 06.30 WIB di bangsal Teratai.
A. Status Generalis
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : compos mentis

Vital Sign
Tekanan Darah : 150/90 mmHg
Suhu : 36.9
Nadi : 88 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup
Frekuensi napas : 20 x/menit, regular.

Head to toe
4

Kepala
Bentuk lonjong, simetris, warna rambut hitam, rambut mudah
rontok (-), deformitas (-)
Mata
Conjungtiva anemis -/-, Sklera ikterik -/-
Thoraks :
Inspeksi :
Pernapasan simetris kanan dan kiri, tidak ada yang tertinggal,
retraksi IC (-), iktus kordis tidak terlihat.
Palpasi :
Nyeri tekan (-), fremitus taktil simetris kanan = kiri, iktus
cordis teraba di ICS VI linea midlavicularis sinistra, ekspansi
pernapasan normal.
Perkusi :
Sonor pada kedua lapangan paru
Batas jantung : pinggang jantung : linea parasternalis sinistra
ICS III, batas kanan : linea parasternalis dextra ICS IV, Apeks:
linea midclavicula sinistra ICS VI.
Auskultasi :
Vesikuler (+/+) normal, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)
S1 = S2 reguler murni, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : datar, luka/bekas luka (-), sikatrik (-)
Auskultasi : bising usus (+) 7 kali / menit normal
Perkusi : timpani seluruh lapang abdomen
Palpasi : nyeri tekan (-), soepel, Hepar dan Lien tak teraba,
ginjal tidak teraba, vesika urinaria tidak teraba penuh
Ketok ginjal : -/-
Ekstremitas :
Ekstremitas atas:
5

Akral hangat
Edema (-/-),pigmentasi normal, telapak tangan pucat (-),
sianosis (-), clubbing finger (-), nyeri tekan (-)
Ekstremitas bawah:
Edema (-/-),pigmentasi normal, telapak tangan pucat (-),
sianosis(-), clubbing finger (-), nyeri tekan (-).

B. Status Lokalis
a. Telinga
Dextra Sinistra
Auricula Bentuk (N), Nyeri tekan (-) Bentuk (N), Nyeri tekan (-)
Preauricula Fistel (-), Abses (-), Fistel (-), Abses (-),
Hiperemis (-),Nyeri tekan Hiperemis (-),Nyeri tekan
(-) Tragus pain (-) (-), Tragus pain (-)
Retroauricula Hiperemis (-), udema (-), Hiperemis (-), udema (-),
Nyeri tekan (-) Nyeri tekan (-)
CAE Hiperemis (-), udema (-), Hiperemis (-), udema (-),
Corpus alineum (-) Corpus alineum (-)
Discharge (-), secret (+) Discharge (-),secret (+)
secret berwarna secret berwarna
kekuningan , berbau busuk kekuningan , berbau busuk
(+), tidak disertai darah. (+), tidak disertai darah.

Membran tympani :
Dextra Sinistra
Perforasi (+) (+)
Reflex cahaya (-) (-)
Letak perforasi Central 30%, pars tensa Central 40%, pars tensa
membran tympani membran tympani
6

AD AS

b. Hidung
Dextra Sinistra
Hidung Bentuk normal Bentuk normal
Sekret Mukoserous Mukoserous
Mukosa konka media Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)
Mukosa konka inferior Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)
Meatus media Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)
Meatus inferior Hiperemis(-), hipertrofi (-) Hiperemis(-), hipertrofi(-)
Septum Deviasi (-) Deviasi (-)
Massa (-) (-)

c. Tenggorok
Mukosa bucal Warna merah muda, sama dengan daerah
sekitar
Ginggiva Warna merah muda, sama dengan daerah
sekitar
Gigi geligi Warna kuning gading, caries
(-), gangren (-)
Lidah 2/3 anterior Dalam batas normal
Arkus faring Simetris (+), hiperemis (-)
Palatum Warna merah muda
Dinding posterior Hiperemis (-), granulasi (-)
orofaring

Tonsil Dalam batas normal

d. Pemeriksaan Leher
Deviasi trakhea (-), Pembesaran Kelenjar Getah Bening (-),
Pembesaran kelenjar parotis (-).
7

C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Darah Rutin dan elektrolit (Tanggal 22 Februari 2017)
Pemeriksaan Hasil Nilai normal
Hematologi
Hemoglobin 11,2 12,5-15,5 gr%
Leukosit 11,1 4.-10/mm3
Hematokrit 31 35- 48 %
Eritrosit 3,97 3,8-5,4 juta/uL
Trombosit 328 150-400 / mm3
MCV 87,3 82-98 mikro m3
MCH 28,2 >= 27pg
MCHC 36,0 32-36 g/dL
Hitung jenis:
Basofil 0 0-1 %
Eosinofil 1 2-4 %
Neutrofil Batang 0 3-5 %
Neutrofil Segmen 74 50-80%
Limfosit 18 25-40%
Monosit 8 2-8%
Kimia Klinik
GDS 384 <150 mg/dl
Elektrolit
Na 138,2 136-145mg/dl
K 3,76 3,5-5,1 mg/dl
Cl 110,3 98-106 mg/dl

b. Pemeriksaan kolesterol darah


Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan
Kolesterol 150 <200 mg/dl
HDL- Kolesterol 10,7 37-91 mg/dl
LDL- Kolesterol 95,7 <150 mg/dl
Trigliserida 282 30-150 mg/dl

c. Rontgen Thorax
Cor : Membesar, tidak tampak bendungan pulmonal
Pulmo : Pneumonia Infiltrat Dextra dengan penebalan pleura bilateral.
8

d. CT-Scan
Sedang diekpertisi.

e. EKG
Sinus Takikardi, ST & T wave Abnormality, Consider lateral
Ischemia, Abnormal ECG.

D. DIAGNOSIS BANDING
Otitis Media Supuratif Kronik Eksaserbasi Akut
Otitis Media Supuratif Akut
Otitis Eksterna Akut
Hipertensi Stage II
Diabetes Melitus Tipe II
Diabetes Melitus Tipe I
Rhinitis e.c Bacterial
Rhinitis e.c Viral
Anemia Normositik Normokrom
Syndrome Dispepsia
Gastritis kronik
Stroke Infark
Strok hemoragik
Hipertensi Heart Disease
Pneumonia infiltrate
Gastropati erosive
Hipertrigliseridemia
Lateral Miocardial Ischaemic
9

E. DIAGNOSIS
Otitis Media Supuratif Kronik Eksaserbasi Akut + Hipertensi Stage II +
Diabetes Melitus Tipe II + Syndrome Dyspepsia + Rhinitis e.c Bacterial +
Stroke Infark + Hipertensi Heart Disease + Lateral Miocardial Ischaemic +
Anemia Normositik Normokrom + Hipertrigliseridemia

F. PENATALAKSANAAN
Edukasi:
Jangan mengorek telinga
Air jangan sampai masuk telinga
Melakukan pembersihan liang telinga dengan H2O2
Diet makanan rendah garam
Kurangi konsumsi gula, ubah pola makan.
Terapi bicara
Konsul pada dokter spesialif saraf
Diet rendah lemak
Olahraga ringan seperti jalan kecil, naik sepeda selama 30 menit
dapat mengurangi hipertrigliseridemia.

Medikamentosa:
Ceftizoxime 3 x 1 mg
Akilen eardrop 3 x 4 tetes ADS
Omeprazole inject.
Ranitidine inject.
Captopril 30 mg 2x1
Paracetamol 500 mg 3x1
Bisoprolol 2,5 mg 1-0-0
RL 500 cc / 12 jam
Novorapid 12 unit 3x1
Azitromicin 500 mg tab 3x1
Levemir 10 U 0-0-1
10

G. PROGNOSIS
Quo ad vitam : dubia ad bonam
Quo ad sanactionam : dubia ad bonam
Quo ad fungtionam : dubia ad bonam
11

TINJAUAN PUSTAKA

I. PENDAHULUAN
A. Anatomi Telinga Tengah

Gambar 1. Anatomi Telinga (1).

Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batasnya adalah sebagai


berikut:
- Batas luar: membran timpani
- Batas depan: tuba eustachius
- Batas bawah: vena jugularis (bulbus jugularis)
- Batas belakang: aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis
- Batas atas: tegmen timpani (meningen/otak)
- Batas dalam: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis
horizontal, kanalis facialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap
bundar (round window) dan promontorium (1).
12

Telinga terngah terdiri dari suatu ruang yang terletak antara membran
timpani dan kapsul telinga dalam, tulang-tulang dan otot yang terdapat
didalamnya beserta penunjangnya, tuba eustachius dan sistem sel-sel udara
mastoid. Bagian ini dipisahkan dari dunia luar oleh suatu membran timpani
dengan diameter kurang lebih setengah inci (1).
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang
telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Bagian atas disebut pars
flaksida (membran shrapnel), sedangkan bagian bawah pars tensa (membran
propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu bagian luar adalah lanjutan epitel
kulit liang telinga dan bagian dalam dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti sel
epitel saluran napas. Pars tensa mempunyai satu lapis lagi di tengah yaitu lapisan
yang terdiri dari serat kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier
dibagian luar dan sirkuler pada bagian dalam (1).
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani
disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of light)
kearah bawah yaitu pukul 7 untuk membran timpani kiri dan pukul 5 untuk
membran timpani kanan (1).
Membran timpani dibagi dalam 4 kuadran, dengan menarik garis
searah dengan prosesus longus maleus dan garis yang tegak lurus pada garis itu
di umbo, sehingga didapatkan bagian atas-depan, atas-belakang, bawah-depan
serta bawah-belakang, untuk menyatakan letak perforasi membran timpani.
Didalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang tersusun dari
luar kedalam yaitu, maleus, inkus dan stapes (2).
Tulang pendengaran didalam telinga tengah saling berhubungan.
Prosesus longus melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan
inkus melakat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
berhubungan dengan koklea. Hubungan antara tulang-tulang pendengaran
merupakan persendian. Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang
menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah (2).
.
13

II. OTITIS MEDIA


Otitis media ialah perdangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah,
tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid (2).
Otitis media terbagi atas otitis media supuratif dan otitis media non-
supuratif. Masing-masing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu
otitis media supuratif akut (OMA) dan otitis media supuratif kronis (OMSK).
Begitu pula otitis media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut
(barotrauma=aerotitis) dan otitis media serosa kronis (2).

Skema pembagian otitis media (3).

III. OTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIS


Otitis media supuratif kronis (OMSK) ialah infeksi kronis di telinga
tengah dengan perforasi membrane timpani dan secret yang keluar dari telinga
tengah terus menerus atau hilang timbul, kadang disertai gangguan
pendengaran. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah (2).
Tipe klinik OMSK dibagi atas dua, yaitu tipe tubotimpanal (tipe rinogen,
tipe sekunder, OMSK tipe jinak) dan tipe atikoantral (tipe primer, tipe
mastoid, OMSK tipe ganas) (2).
14

a. Etiologi
Penyebab terbesar otitis media supuratif kronis adalah infeksi
campuran bakteri dari meatus auditoris eksternal, kadang berasal dari
nasofaring melalui tuba eustachius saat infeksi saluran nafas atas.
Organisme-organisme dari meatus auditoris eksternal termasuk
staphylococcus, pseudomonas aeruginosa, B.proteus, B.coli dan
aspergillus. Organisme dari nasofaring diantaranya streptococcus
viridans (Streptococcus A hemolitikus, streptococcus B hemolitikus dan
pneumococcus) (2,3).

b. Perjalanan penyakit
Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis
media supuratif kronis apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila
proses infeksi kurang dari 2 bulan tetapi lebih dari 3 minggu disebut otitis
media supuratif subakut (3).
15

Beberapa faktor yang menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah


terapi yang terlambaat diberikan, terapi yang tidak adekuat, virulensi
kuman tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau hygiene
buruk (3).

c. Letak perforasi
Letak perforasi di membrane timpani penting untuk menentukan
tipe/jenis OMSK. Perforasi membrane timpani dapat ditemukan di daerah
sentral, marginal, atau atik (3).
Pada perforasi sentral, perforasi terdapat di pars tensa, sedangkan di
seluruh tepi perforasi masih ada sisa membrane timpani. Pada perforasi
marginal sebagian tepi perforasi langsung berhubungan dengan annulus
atau sulkus timpanikum. Perforasi atik ialah perforasi yang terletak di pars
flaksida (2,3).

d. Klasifikasi Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK)


OMSK dapat dibagi atas dua tipe yaitu:
1. Tipe tubotimpani = tipe jinak = tipe aman
Penyakit tubotimpani ditandai oleh adanya perforasi sentral atau pars
tensa dan gejala klinik yang bervariasi dari luas dan keparahan penyakit.
16

Beberapa faktor lain yang mempengaruhi keadaan ini terutama patensi


tuba eustachius, infeksi saluran nafas atas, pertahanan mukosa terhadap
infeksi yang gagal pada pasien dengan daya tahan tubuh yang rendah,
disamping itu campuran bakteri aerob dan anaerob, luas dan derajat
perubahan mukosa, serta migrasi sekunder dari epitel skuamous. Sekret
mukoid kronis berhubungan dengan hiperplasia goblet sel, metaplasia dari
mukosa telinga tengah pada tipe respirasi dan mukosiliar yang jelek (4).
Secara klinis penyakit tubotimpani terbagi atas:
1. Fase aktif
Pada jenis ini terdapat sekret pada telinga dan gangguan
pendengaran. Biasanya didahului oleh perluasan infeksi saluran
nafas atas melalui tuba eutachius, atau setelah berenang
dimana kuman masuk melalui liang telinga luar. Sekret bervariasi
dari mukoid sampai mukopurulen. Ukuran perforasi bervariasi dari
sebesar jarum sampai perforasi subtotal pada pars tensa. Jarang
ditemukan polip yang besar pada liang telinga luar. Perluasan infeksi
ke sel-sel mastoid mengakibatkan penyebaran yang luas dan
penyakit mukosa yang menetap harus dicurigai bila tindakan
konservatif gagal untuk mengontrol infeksi, atau jika granulasi pada
mesotimpanium dengan atau tanpa migrasi sekunder dari kulit,
dimana kadang-kadang adanya secret yang berpulsasi di atas
kuadran posterosuperior (4,5).
2. Fase tidak aktif/fase tenang
Pada pemeriksaan telinga dijumpai perforasi total yang kering
dengan mukosa telinga tengah yang pucat. Gejala yang dijumpai
berupa tuli konduktif ringan. Gejala lain yang dijumpai seperti
vertigo, tinitus,atau suatu rasa penuh dalam telinga (4).
2. Tipe atikoantral = tipe ganas = tipe bahaya = tipe tulang
Pada tipe ini ditemukan adanya kolesteatom dan berbahaya. Penyakit
atikoantral lebih sering mengenai pars flasida dan khasnya dengan
17

terbentuknya kantong retraksi yang mana bertumpuknya keratin sampai


menghasilkan kolesteatom (5).
Kolesteatom adalah suatu massa amorf, konsistensi seperti mentega,
berwarna putih, terdiri dari lapisan epitel bertatah yang telah nekrotis.
Kolesteatom dapat dibagi atas dua tipe yaitu:
1. Kongenital
Kriteria untuk mendiagnosa kolesteatom kongenital, menurut
Derlaki dan Clemis (1965) adalah:
Berkembang dibelakang dari membran timpani yang masih utuh.
Tidak ada riwayat otitis media sebelumnya.
Pada mulanya dari jaringan embrional dari epitel skuamous atau
dari epitel undiferential yang berubah menjadi epitel skuamous
selama perkembangan.
Kongenital kolesteatom lebih sering ditemukan pada telinga tengah
atau tulang temporal, umumnya pada apeks petrosa. Dapat
menyebabkan fasialis parese, tuli saraf berat unilateral, dan gangguan
keseimbangan (4).
2. Didapat.
Kolesteatoma yang didapat seringnya berkembang dari suatu
kantong retraksi. Jika telah terbentuk adhesi antara permukaan bawah
kantong retraksi dengan komponen telinga tengah, kantong tersebut
sulit untuk mengalami perbaikan bahkan jika ventilasi telinga tengah
kembali normal : mereka menjadi area kolaps pada segmen atik atau
segmen posterior pars tensa membran timpani.
Epitel skuamosa pada membran timpani normalnya membuang
lapisan sel-sel mati dan tidak terjadi akumulasi debris, tapi jika
terbentuk kantong retraksi dan proses pembersihan ini gagal, debris
keratin akan terkumpul dan pada akhirnya membentuk kolesteatoma.
Pengeluaran epitel melalui leher kantong yang sempit menjadi sangat
sulit dan lesi tersebut membesar. Membran timpani tidak mengalami
perforasi dalam arti kata yang sebenarnya: lubang yang terlihat
18

sangat kecil, merupakan suatu lubang sempit yang tampak seperti


suatu kantong retraksi yang berbentuk seperti botol, botol itu sendiri
penuh dengan debris epitel yang menyerupai lilin (5).
Teori lain pembentukan kolesteatoma menyatakan bahwa
metaplasia skuamosa pada mukosa telinga tengah terjadi sebagai
respon terhadap infeksi kronik atau adanya suatu pertumbuhan ke
dalam dari epitel skuamosa di sekitar pinggir perforasi, terutama pada
perforasi marginal.
Destruksi tulang merupakan suatu gambaran dari kolesteatoma
didapat, yang dapat terjadi akibat aktivitas enzimatik pada lapisan
subepitel. Granuloma kolesterol tidak memiliki hubungan dengan
kolesteatoma, meskipun namanya hampir mirip dan kedua kondisi ini
dapat terjadi secara bersamaan pada telinga tengah atau mastoid (3,5).
Granuloma kolesterol, disebabkan oleh adanya kristal kolesterol
dari eksudat serosanguin yang ada sebelumnya. Kristal ini
menyebabkan reaksi benda asing, dengan cirsi khas sel raksasa dan
jaringan granulomatosa (5).

Gejala klinis
1. Telinga berair (otorrhoe)
Sekret bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan
encer) tergantung stadium peradangan. Sekret yang mukus dihasilkan oleh
aktivitas kelenjar sekretorik telinga tengah dan mastoid. Pada OMSK tipe
jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali
sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani
dan infeksi. Keluarnya secret biasanya hilang timbul. Meningkatnya jumlah
sekret dapat disebabkan infeksi saluran nafas atas atau kontaminasi dari
liang telinga luar setelah mandi atau berenang. (2).
Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga.
Sekret yang sangat bau, berwarna kuning abu-abu kotor memberi kesan
kolesteatoma dan produk degenerasinya. Dapat terlihat keping-keping kecil,
19

berwarna putih, mengkilap. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan
sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa
secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya
jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya
kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri
mengarah kemungkinan tuberkulosis (1,2).
2. Gangguan pendengaran
Ini tergantung dari derajat kerusakan tulang-tulang pendengaran.
Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran.
Gangguan pendengaran mungkin ringan sekalipun proses patologi sangat
hebat, karena daerah yang sakit ataupun kolesteatom, dapat menghambat
bunyi dengan efektif ke fenestra ovalis. Bila tidak dijumpai kolesteatom, tuli
konduktif kurang dari 20 db ini ditandai bahwa rantai tulang pendengaran
masih baik. Kerusakan dan fiksasi dari rantai tulang pendengaran
menghasilkan penurunan pendengaran lebih dari 30 db. Beratnya ketulian
tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan
dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe
maligna biasanya didapat tuli konduktif berat karena putusnya rantai tulang
pendengaran, tetapi sering kali juga kolesteatom bertindak sebagai
penghantar suara sehingga ambang pendengaran yang didapat harus
diinterpretasikan secara hati-hati (1,2).
Penurunan fungsi kohlea biasanya terjadi perlahan-lahan dengan
berulangnya infeksi karena penetrasi toksin melalui jendela bulat (foramen
rotundum) atau fistel labirin tanpa terjadinya labirinitis supuratif. Bila
terjadinya labirinitis supuratif akan terjadi tuli saraf berat, hantaran tulang
dapat menggambarkan sisa fungsi koklea (2).
3. Otalgia ( nyeri telinga)
Nyeri tidak lazim dikeluhkan penderita OMSK, dan bila ada
merupakan suatu tanda yang serius. Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena
terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman
komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau
20

dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri telinga
mungkin ada tetapi mungkin oleh adanya otitis eksterna sekunder. Nyeri
merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis,
subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis (2).
4. Vertigo
Vertigo pada penderita OMSK merupakan gejala yang serius lainnya.
Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin
akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya
akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang
sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran
timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh
perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan
keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum.
Fistula merupakan temuan yang serius, karena infeksi kemudian dapat
berlanjut dari telinga tengah dan mastoid ke telinga dalam sehingga timbul
labirinitis dan dari sana mungkin berlanj ut menjadi meningitis. Uji fistula
perlu dilakukan pada kasus OMSK dengan riwayat vertigo. Uji ini
memerlukan pemberian tekanan positif dan negatif pada membran timpani,
dengan demikian dapat diteruskan melalui rongga telinga tengah (4,5).

Penatalaksanaan
1. OMSK Benigna Tenang
Keadaan ini tidak memerlukan pengobatan, dan dinasehatkan untuk
jangan mengorek telinga, air jangan masuk ke telinga sewaktu mandi,
dilarang berenang dan segera berobat bila menderita infeksi saluran nafas
atas. Bila fasilitas memungkinkan sebaiknya dilakukan operasi rekonstruksi
(miringoplasti, timpanoplasti) untuk mencegah infeksi berulang serta
gangguan pendengaran (6).
2. OMSK Benigna Aktif
Prinsip pengobatan OMSK benigna aktif adalah:
1. Membersihkan liang telinga dan kavum timpani/aural toilet
21

Tujuan aural toilet adalah membuat lingkungan yang tidak sesuai untuk
perkembangan mikroorganisme, karena sekret telinga merupakan media
yang baik bagi perkembangan mikroorganisme (6).

Pengerjaan aural toilet


2. Pemberian antibiotika:
Biasanya tetes telinga mengandung kombinasi neomisin, polimiksin
dan hidrokortison, bila sensitif dengan obat ini dapat digunakan sulfanilaid-
steroid tetes mata. Kloramfenikol tetes telinga tersedia dalam acid carrier
dan telinga akan sakit bila diteteskan. Kloramfenikol aktif melawan basil
gram positif dan gram negatif kecuali Pseudomonas aeruginosa, tetapi juga
efektif melawan kuman anaerob, khususnya. Pemakaian jangka panjang
lama obat tetes telinga yang mengandung aminoglikosida akan merusak
foramen rotundum, yang akan menyebabkan ototoksik (5).
Antibiotika topikal yang sering digunakan pada pengobatan Otitis
Media Supuratif Kronik (OMSK) adalah:
22

Terapi topikal lebih baik dibandingkan dengan terapi sistemik.


Tujuannya untuk mendapatkan konsentrasi antibiotik yang lebih tinggi.
Pilihan antibiotik yang memiliki aktifitas terhadap bakterigram negatif,
terutama pseudomonas, dan gram positifterutama Staphylococcus aureus.
Pemberian antibiotik seringkali gagal, hal ini dapat disebabkan adanya
debris selain juga akibat resistensi kuman. Terapi sistemik diberikan pada
pasien yang gagal dengan terapi topikal. Jika fokus infeksi di mastoid,
tentunya tidak dapat hanya dengan terapi topikal saja, pemberian antibiotik
sistemik (seringkali IV) dapat membantu mengeliminasi infeksi. Pada
kondisi ini sebaiknya pasien di rawat di RS untuk mendapatkan aural toilet
yang lebih intensif. Terapi dilanjutkan hingga 3-4 minggu setelah otore
hilang (4,5).
3. OMSK Maligna
Pengobatan yang tepat untuk OMSK maligna adalah operasi.
Pengobatan konservatif dengan medikamentosa hanyalah merupakan terapi
sementara sebelum dilakukan pembedahan. Bila terdapat abses
subperiosteal, maka insisi abses sebaiknya dilakukan tersendiri sebelum
kemudian dilakukan mastoidektomi (2,5).
23

Ada beberapa jenis pembedahan atau tehnik operasi yang dapat


dilakukan pada OMSK dengan mastoiditis kronis, baik tipe benigna atau
maligna, antara lain11 :
1. Mastoidektomi sederhana (simple mastoidectomy)
2. Mastoidektomi radikal
3. Mastoidektomi radikal dengan modifikasi
4. Miringoplasti
5. Timpanoplasti
6. Pendekatan ganda timpanoplasti (combined approach tympanoplasty)
Tujuan operasi adalah menghentikan infeksi secara permanen,
memperbaiki membran timpani yang perforasi, mencegah terjadinya
komplikasi atau kerusakan pendengaran yang lebih berat, serta memperbaiki
pendengaran (4,5).
24

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. Buku Ajar Ilmu


Keseharan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI. 2007
2. Adam, George L. 2015. Boies: Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta:
EGC
3. Aboet A. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap: Radang Telinga
Tengah Menahun. Medan: Universitas Sumatera Utara; 2007
4. Djaafar ZA. Kelainan Telinga Tengah. Dalam: Soepardi, E, et al, Ed. Buku
Ajar Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan. Edisi VI. Balai
Penerbitan FKUI, Jakarta. 2009: p. 64-77.
5. Paparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan
mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit
THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 2011: 88-118
6. Acuin, Jose. Chronic Suppurative Otitis Media. BMJ Clinical Evidence.
London; January 2007.