Anda di halaman 1dari 12

1. Apakah yang dimaksud dengan ortoforia?

Ortoforia adalah tidak adanya kecenderungan salah satu mata untuk

menyimpang saat fusi (pembentukan satu bayangan dari dua bayangan yang terlihat

secara simultan oleh kedua mata) dihambat. Ortoforia juga dapat berarti kedudukan

kedua bola mata sejajar.


2. Sebutkan tes untuk mengetahui posisi bola mata!
Tes Hirschberg merupakan pemeriksaan ini dilakukan untuk mengidentifikasi

adanya penyimpangan posisi bola mata dengan memperhatikan kedudukan reflek

cahaya pada kornea.

Dasar Pemeriksaan Hirschberg Test adalah:


Orang Orthophoria itu reflek cahaya pada kornea ada pada tengah pupil atau agak ke

nasal sedikit.
Pada Exotropia, kedudukan reflek cahaya pada kornea terletak dibagian nasal kornea,

Exotropia dinyatakan dengan inisial = XT


Pada Esotropia, kedudukan reflek cahaya pada kornea terletak dibagian temporal

kornea, Esotropia dinyatakan dengan inisial = ET


Pada Hypertropia, kedudukan reflek cahaya pada kornea terletak dibagian bawah

kornea. Dalam ini perlu dinyatakan mata mana yang Hypertropia. Misal mata

KANAN yang Hypertropia maka kita beri inisial = RIGHT HYPERTROPIA, yang

sering ditulis : R/L


Pada Hypotropia, kedudukan reflek cahaya pada kornea terletak dibagian atas kornea.

Dalam ini perlu dinyatakan mata mana yang Hypotropia. Misal mata KANAN yang

Hypertropia maka kita beri inisial = RIGHT HYPOTROPIA, yang sering ditulis : L/R
Pergeseran reflek cahaya dari pusat pupil sebesar 1 mm, setara dengan dengan

deviasi: 7 derajat.

1
Tehnik/Prosedur Pemeriksaan :
Minta kepada pasien untuk selalu memperhatikan titik/lampu fiksasi
Pemeriksa menempatkan dirinya didepan pasien sedemikian rupa, sehingga dapat

menilai dengan baik kedudukan reflek cahaya pada kornea pasien.


Perhatian pemeriksa ditijukan pada mata yang mengalami penyimpangan poisi

bolamata.
Nilai posisi reflek cahaya pada kornea mata yang berdeviasi/menyimpang.

3. Sebutkan definisi dan letak kelainan pada ptosis dan lagoftalmos!


Ptosis merupakan keadaan dimana palpebra superior tidak dapat diangkat atau

terbuka sehingga celah palpebra menjadi lebih kecil dibandingkan keadaan

normal. Keadaan ini terjadi akibat tidak baiknya fungsi m. levator palpebra,

lumpuhnya nervus cranial III (Okulomotor) untuk levator palpebra atau terjadi

akibat jaringan penyokong bola mata yang tidak sempuran, sehingga bola mata

tertarik ke belakang (enoftalmos).


Lagoftalmos merupakan keadaan dimana kelopak mata tidak dapat menutup

dengan sempurna. Keadaan ini terjadi akibat tidak baiknya fungsi m. orbicularis

oculi, maupun parese nervus cranial VII (Fasialis).


4. Sebutkan penyakit sistemik yang dapat menyebabkan konjungtivitis!

2
Demam faringokonjungtival
Konjungtivitis herpes simpleks
Blefarokonjungtivitis varicella zoster
Keratokonjungtivits campak
Konjungtivitis rekettsia
Konjungtivitis kandida dapat timbul pada pasien diabetes atau pasien yang

terganggu sistem imunnya


Konjungtivitis parasit infeksi thelazia californiensis, infeksi loa-loa, infeksi

ascaris lumbricoides, infeksi trichinella spiralis, infeksi schistosoma

haematobium, infeksi taenia solium, infeksi pthirus pubis (infeksi kutu pubis),
Akibat penyakit kulit seperti rosacea okuler, psoriasis, dermatitis

herpetiformis, epidermolisis bullosa


Akibat penyakit siatemik seperti tiroid, gout karsinoid
5. Apa yang dimaksud dengan pterigium?
Pterygium adalah suatu perluasan pinguecula (nodul kuning yang terdiri atas

jaringan hialin dan jaringan elastik kuning pada kedua sisi kornea di daerah apertura

palpebra) ke kornea, seperti daging berbentuk segitiga dan umumnya bilateral di sisi

nasal. Hal ini diduga merupakan suatu fenomena iritatif akibat sinar ultraviolet,

pengeringan dan lingkungan dengan angin banyak karena sering terdapat pada orang

yang sebagian besar hidupnya bearada dilingkungan yang berangin, penuh sinar

matahari, berdebu atau berpasir. Temuan patologik pada konjungtiva sama dengan

yang ada pada pinguecula. Lapisan bowman kornea digantikan oleh jaringan hialin

dan elastik.
Jika pterygium membesar dan meluas sampai daerah pupil, lesi harus diangkat

secara bedah bersama sebagian kecil kornea jernih superfisial diluar derah

perluasannya. Kombinasi autrograf konjungtiva dan eksisi lesi terbuksi mengurangi

kekambuhan.
6. Apa perbedaan entropion, ekstropoion dan trichiasis?
Entropion adalah pelipatan palpebra ke arah dalam, dapat involutional (spastik,

senilis), sikatrikal atau kongenital. Entropian involusional adalah yang paling

sering dan terjadi akibat proses penuaan. Gangguan ini selalu mengenai palpebra

3
inferior dan terjadi akibat lemahnya otot-otot refraktor palpebra inferior dan

migrasi otot orbikularis praseptal ke atas, dan menekuknya tepi tarsus superior.
Entropion sikatrikal dapat mengenai palpebra superior atau inferior dan disebabkan

oleh jaringan parut di konjungtiva atau tarsus. Kelainan ini paling sering ditemukan

pada penyakit radang kronik, seperti trakhoma.


Entropion kongenital terjadi pemutaran tepian palpebra ke arah kornea, pada

epiblefaron kulit dan otot pratarsalnya menyebabkan bulu mata memutari tepi

tarsus.
Ekstropion adalah penurunan dan terbaliknya palpebra inferior ke arah luar.

Umumnya bilateral dan sering ditemukan pada orang tua. Entropion dapat

disebabkan pengenduran musculus orbicularis oculi, akibat menua atau akibat

kelumpuhan nervus ketujuh. Gejalanya adalah mata berair dan iritasi. Ekstropion

involusional titangani secara bedah dengan melakukan pemendekan horizontal

pada palpebra. Ektropion sikatrikal disebabkan oleh kontraktur pada lamela

anterior palpebra. Penanganannya adalah perbaikan luka parut melalui pembedahan

dan sering dilakukan pencangkokan kulit. Ektropion ringan dapat diatasi dengan

tindakan elektrokauterisasi yang cukup dalam, menembus konjungtiva 4-5 mm dari

tepian palpebra pada aspek inferiorlempeng tarsus. Reaksi fibrotik yang mengikuti

sering kali menarik palpebra keatas ke posisi normalnya.


Trichiasis adalah pergesekan bulu mata pada kornea dan dapat disebabkan oleh

entropion, epiblefaron, atau hanya pertumbuhan yang salah arah. Keadaan ini

menyebabkan iritasi kornea dan mendorong terjadinya ulserasi. Penyakit-penyakit

peradangan palpebra seperti blefaritis dapat menyebabkan terjadinya parut folikel

bulu mata dan nantinya menyebabkan pertumbuhan yang salah arah.


7. Apa yang dimaksud refleks cahaya langsung dan tidak langsung? Nervus berapa

yang berperan?
Pemeriksaan refleks pupil atau refleks cahaya terdiri dari reaksi cahaya

langsung dan tidak langsung (konsensual). Refleks cahya langsung maksutnya adalah

4
mengecilnya pupil (miosis) pada mata yang disinari cahaya. Sedangkan refleks

cahaya tidak langsung atau konsensual adalah mengecilnya pupil pada mata yang

tidak disinari cahaya. Nervus yang berperan adalah nervus II (optikus) sebagai jaras

sensorik dan nervus III (okulomotor) sebagai jaras motorik.


a. Rangsangan saraf parasimpatis merangsang otot sfingter pupil sehingga

memperkecil saraf pupil (miosis).


b. Rangsangan saraf simpatis merangsang serabut radial iris dan menimbulkan

dilatasi/pembesaran pupil (midriasis).


8. Apa nama bulu mata yang tumbuh tidak beraturan?
Distichiasia adalah suatu kondisi yang ditandai dengan adanya bulu mata

tambahan, yang sering tumbuh dari muara kelenjar meibom. Kelainan ini bisa

kongenital atau disebabkan oleh perubahan-perubahan metaplastik kelenjar-kelenjar

di tepi palpebra.
9. Macam hiperami pada mata dan pada kasus apa saja?
c. Injeksi konjungtiva : konjungtivitis, keratitis, ulkus kornea, hordeolum
d. Injeksi siliar : uveitis, keratitis, ulkus kornea, glaukoma akut
e. Injeksi perokorneal : keratitis
f. Mixed injeksi : glaukoma akut
10. Perbedan infiltrat dan sikatrik?
a. Infiltrat adalah tertimbunnya sel radang pada kornea sehingga warnanya

menjadi keruh yang dapat memberikan uji plasido +


b. Sikatriks adalah jaringan parut pada kornea yang mengakibatkan permukaan

kornea iregular sehingga memberikan uji plasido positif.


Nebula: kabut halus pada kornea, di bagian epitel, sukar terlihat (hanya

bisa dilihat menggunakan slit lamp)


Makula: kekeruhan kornea berbatas tegas, di bagian subepitel (bisa

dilihat menggunakan senter)


Leukoma: kekeruhan berwarna putih padat di bagian stroma (bisa

dilihat menggunakan mata telanjang)

Infiltrat Sikatrik
Batas tidak tegas Batas tegas
suram licin
Tes flouresin (+) Tes flouresin (-)
Tanda radang (+) Tanda radang (-)

5
Pemeriksaan Kornea
- Di ruang gelap
- Keratoskop placido, melihat kerataan permukaan kornea.
Interpretasi hasilnya : ulkus (garis putih putus-putus), edema (garis putih

bergigi), sikatrix (garis putih penyok kearah lokasi sikatrix).


- Uji fluoresensi, memeriksa kontinutas kornea, permukaan kornea yang rusak akan

terlihat terfloresensi karena terisi cairan florescens.


- Pemeriksaan sensitivitas kornea, refleks kornea karena menurunnya sensitivitas

saraf sensible kornea infeksi, biasanya virus.


- Pemeriksaan dengan senter atau mikroskop, bentuk kecembungan, limbus,

permukaan kornea, perenkim kornea, permukaan belakang kornea.


11. Perbedaan konjuntivitis akut dan kojungtivitis kronis?
Menurut perlangsungannya, konjungtivitis folikularis dibagi dalam dua kelompok,

yaitu :
a. Konjungtivitis folikularis akut, yaitu bila perlangsungannya kurang dari 3

minggu. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah: keratokonjungtivitis

epidemi, demam faringo-konjungtiva, konjungtivitis hemoragik akut,

konjungtivitis New Castle, dan lain-lain.


b. Konjungtivitis folikularis kronis, yaitu bila perlangsungannya lebih dari 3

minggu. Yang termasuk dalam klasifikasi ini adalah: trakoma, konjungtivitis

toksik, blefarokonjungtivitis molluscom contagiosum, dan lain-lain.


12. Apa yang dimaksut dengan Xantelasma?

Xanthelasma adalah kumpulan kolesetrol di bawah kulit dengan batas tegas

berwarna kekuningan biasanya di sekitar mata, sehingga sering disebut xanthelasma

palpebra. Kata xanthos berasal dari kata Yunani yang berarti kuning dan elasma

yang berarti seperti lempengan metal. Meskipun tidak berbahaya dan tidak

menimbulkan nyeri, munculnya xanthelasma dapat mengganggu penampilan dan

dapat dihilangkan. Bila ditemukan dalam jumlah banyak maka disebut

xanthelasmata.

13. Episkleritis & Skleritis

6
a. Definisi
Episkleritis merupakan reaksi radang jaringan ikat vaskuler yang

terletak antara konjungtiva dan permukaan sclera. Radang episklera

disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas terhadap penyakit sistemik seperti TB,

rheumatoid arthritis, lues, SLE, dll. Dapat juga terjadi secara spontan dan

idiopatik
b. Patofisiologi
Mekanisme terjadinya episkleritis diduga disebabkan oleh prose

autoimun. Proses peradangan dapat disebabkan oleh kompleks imun yang

mengakibatkan kerusakan vaskular (hipersensitivitas tipe III) ataupun respon

granulomatosa kronik (hipersensitivitas tipe IV).


Skleritis adalah peradangan primer pada sklera, yang biasanya (sekitar

50 persen kasus) berhubungan dengan penyakit sistemik. Penyakit tersering

yangmenyebabkan skleritis antara lain adalah rheumatoid arthritis, ankylosing

spondylitis,systemic lupus erythematosus, polyarteritis nodosa, Wegener's

granulomatosis,herpes zoster virus, gout dan sifilis.


Karena sklera terdiri dari jaringan ikat dan serat kolagen, skleritis

adalahgejala utama dari gangguan vaskular kolagen pada 15% dari kasus.

Gangguanregulasi autoimun pada pasien yang memiliki predisposisi genetik

dapat menjadipenyebab terjadinya skleritis. Faktor pencetus dapat berupa

organisme menular, bahan endogen, atau trauma. Proses peradangan dapat

disebabkan oleh kompleks imun yangmengakibatkan kerusakan vaskular

(hipersensitivitas tipe III) ataupun respongranulomatosa kronik

(hipersensitivitas tipe IV).


Hipersensitivitas tipe III dimediasi oleh kompleks imun yang terdiri

dariantibody IgG dengan antigen. Hipersensitivitas tipe III terbagi menjadi

reaksi lokal dan reaksi sistemik. Patologi utama dikarenakan deposisi

kompleks yang ditingkatkan oleh peningkatan permeabilitas vaskular yang

7
diakibatkan oleh pengaktivasian dari sel mast melalui Fcgamma RIII.

Kompleks imun yang terdeposisi menyebabkan netrofil mengeluarkanisi

granul dan membuat kerusakan pada endotelium dan membran basement

sekitarnya. Kompleks tersebut dapat terdisposisi pada bermacam macam

lokasi seperti kulit, ginjal, atau sendi. Contoh paling sering dari

hipersensitivitas tipe III adalah komplikasi post infeksi seperti arthritis dan

glomerulonefritis.
Hipersensitivitas tipe IV adalah satu satunya reaksi hipersensitivitas

yangdisebabkan oleh sel T spesifikantigen. Tipe hipersensitivitas ini disebut

juga hipersensitivitas tipe lambat. Hipersensitivitas tipe lambat terjadi saat sel

jaringan dendritik telah mengangkat antigen lalu memprosesnya dan

menunjukkan pecahan peptida yang sesuai berikatan dengan MHC kelas II,

kemudian mengalami kontak dengan sell TH-1 yang berada dalam jaringan.

Aktivasi dari sel T tersebut,membuatnya memproduksi sitokin seperti kemokin

untuk makrofag, sel T lainnya,dan juga kepada netrofil. Konsekuensi dari hal

ini adalah adanya infiltrasi seluler yang mana sel mononuklear (sel T dan

makrofag) cenderung mendominasi. Reaksi maksimal memakan waktu 48-72

jam. Contoh klasik dari hipersensitivitas tipelambat adalah tuberkulosis.

Contoh yang paling sering adalah hipersensitivitas kontak yang diakibatkan

dari pemaparan seorang individu dengan garam metal atau bahankimia reaktif.
Jaringan imun yang terbentuk dapat mengakibatkan kerusakan sklera,

yaitu deposisi kompleks imun di kapiler episklera, sklera dan venul poskapiler

(peradanganmikroangiopati). Tidak seperti episkleritis, peradangan pada

skleritis dapat menyebarpada bagian anterior atau bagian posterior mata


c. Klasifikasi

Ada dua jenis episkleritis:

8
1 Episkleritis simple. Ini adalah jenis yang paling umum dari episkleritis. Peradangan

biasanya ringan dan terjadi dengan cepat. Hanya berlangsung selama sekitar tujuh

sampai 10 hari dan akan hilang sepenuhnya setelah dua sampai tiga minggu. Pasien

dapat mengalami serangan dari kondisi tersebut, biasanya setiap satu sampai tiga

bulan. Penyebabnya seringkali tidak diketahui.


2 Episkleritis nodular. Hal ini sering lebih menyakitkan daripada episkleritis simple dan

berlangsung lebih lama. Peradangan biasanya terbatas pada satu bagian mata saja dan

mungkin terdapat suatu daerah penonjolan atau benjolan pada permukaan mata. Ini

sering berkaitan dengan kondisi kesehatan, seperti rheumatoid arthritis, colitis dan

lupus.

Gambar Episkleritis Simple

9
Gambar Episkleritis Nodular

Skleritis dapat diklasifikasikan menjadi anterior atau posterior. Empat tipe dari

skleritis anterior adalah:

1 Diffuse anterior scleritis. Ditandai dengan peradangan yang meluas pada

seluruh permukaan sklera. Merupakan skleritis yang paling umum terjadi.


2 Nodular anterior scleritis. Ditandai dengan adanya satu atau lebih nodul

radang yang eritem, tidak dapat digerakkan, dan nyeri pada sklera anterior.

Sekitar 20% kasus berkembang menjadi skleritis nekrosis.


3 Necrotizing anterior scleritis with inflammation. Biasa mengikuti penyakit

sistemik seperti rheumatoid arthtitis. Nyeri sangat berat dan kerusakan pada

sklera terlihat jelas. Apabila disertai dengan inflamasi kornea, dikenal

sebagai sklerokeratitis.
4 Necrotizing anterior scleritis without inflammation. Biasa terjadi pada

pasien yang sudah lama menderita rheumatoid arthritis. Diakibatkan oleh

pembentukan nodul rematoid dan absennya gejala. Juga dikenal sebagai

skleromalasia perforans.

Gambar Diffuse Anterior Scleritis

10
Gambar a) Nodular Anterior Scleritis. b) Penipisan dari sklera setelah resolusi dari

nodul

Gambar 6. Skleromalasia perforans

Di samping skleritis anterior, ada pula skleritis posterior. Skleritis

posterior ini jarang terjadi dan ditandai dengan adanya nyeri tekan bulbus

okuli dan proptosis.2 Terdapat perataan dari bagian posterior bola mata,

penebalan lapisan posterior mata (koroid dan sklera), dan edema retrobulbar.

11
Pada skleritis posterior dapat dijumpai penglepasan retina eksudatif, edema

makular, dan papiledema

12