Anda di halaman 1dari 18

METODE PEMAHAMAN AGAMA DALAM MUHAMMADIYAH

Kajian Atas al-Masail al-Khams dan MKCH

Syamsul Hidayat
Wk Ketua MTDK PP Muhammadiyah serta Dosen FAI
Universitas Muhammadiyah Surakarta
Jl. Ahmad Yani, Tromol Pos I, Pabelan Kartasura, Surakarta 57102
Telp. (0271) 717417, 719483 (Hunting) Faks. (0271) 715448

ABSTRACT
M ethodological framework of Islamic thought attempted by the
founders of the Legal Affairs Committee (Majelis Tarjih), that KH Mas
Mansur, conveyed five important issues in the understanding of Islam,
namely: (1) what is religion, (2) what is world, (3) what is worship, (4)
what is sabilillah, and (5) what is qiyas. While MKCH contains five
key points about the fundamental problems in the Muhammadiyah,
namely: The first Big Idea, containing key points of the substantial
problem, essential, and ideological about assertion the nature and
essence of Muhammadiyah and Muhammadiyah Islamic point of view.
The second big idea, containing assertions about the nature of Islamic
religion and belief of Muhammadiyah upon Islamic religion. Third main
idea, discusses the source of Islamic teachings. Fourth main ideas,
discusses areas of Islamic teachings. The fifth big idea, with regard to
Key Words: Muhammadiyah, al- Masail al-Khams and MKCH

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 133


PENDAHULUAN gerakan sosio-kultural lainnya, baik
dalam merumuskan masalah,
Metodologi pemikiran Islam
menjelaskannya, maupun dalam
dalam Muhammadiyah disebut
menyusun kerangka operasional
Pokok-pokok Manhaj Majelis Tarjih
penyelesaiannya. Orientasi inilah
yang secara bahasa bermakna
yang mengharuskan Muhammadi-
metodologi bertarjih, yakni meneliti,
yah memproduksi pemikiran,
mengkaji dan mengambil istinbat
meninjau ulang, dan merekonstruksi
atas suatu masalah berdasarkan
manhajnya.2
dalil-dalil syari (al-Quran dan al-
Sunnah al-Maqb lah ), yang di- Pemikiran keislaman meliputi
topang dengan kajian ilmu penge- segala sesuatu yang berkaitan de-
tahuan dan teknologi yang terkait.1 ngan tuntunan kehidupan keaga-
maan secara praktis, wacana mo-
Muhammadiyah, sebagai gera-
ralitas publik dan discourse ke-
kan keagamaan yang berwatak
islaman dalam merespons dan
sosio-kultural, dalam dinamika
mengantisipasi perkembangan
kesejarahannya selalu berusaha
kehidupan manusia. Masalah yang
merespons berbagai perkembangan
selalu hadir dari kandungan sejarah
kehidupan dengan senantiasa
tersebut mengharuskan adanya
merujuk pada ajaran Islam (al-ruj
penyelesaian. Muhammadiyah
il al-Quran wa al-Sunnah al-
berusaha menyelesaikannya melalui
Maqbulah). Di satu sisi sejarah selalu
proses triadik atau hermeneutis
melahirkan berbagai persoalan dan
(hubungan kritis/komunikatif
pada sisi yang lain Islam menyedia-
dialogis) antara normativitas al-d n
kan referensi normatif atas berbagai
(al-ruj il al-Qur n wa al-Sunnah
persoalan tersebut. Orientasi pada
al-Maqb lah), historisitas berbagai
dimensi Ilahiah inilah yang mem-
penafsiran atas al-d n , realitas
bedakan Muhammadiyah dengan
kekinian dan prediksi masa depan.

1
Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhammadiyah (Jakarta: Logos Pub-
lishing House, 1995), hlm. 70.
2
Syamsul Hidayat dan Zakiyuddin Baidhawy, Membangun Citra Baru Pemikiran Islam
Muhammadiyah, Jurnal Akademika, No. 02, Tahun XVIII, 2000, hlm. 68.

134 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


Mengingat proses hermeneutis ini pembentukan kerangka metodologi
sangat dipengaruhi oleh asumsi pemikiran keislamannya (manhaj al-
(pandangan dasar) tentang agama fikr al-Isl m ) dapat dikaji beberapa
dan kehidupan, di samping pen- rumusan penting berikut ini.
dekatan dan teknis pemahaman
terhadap ketiga aspek tersebut, Kitab Al-Masail al-Khams
maka Muhammadiyah perlu meru-
muskannya secara spesifik. Dengan Kerangka metodologis pemi-
demikian, diharapkan ruh ijtihad kiran Islam dicoba oleh tokoh pendiri
dan tajdid terus tumbuh dan Majelis Tarjih, yaitu K.H. Mas
berkembang.3 Mansur,4 dengan menyampaikan
lima masalah penting dalam
Urgensi dan kebutuhan ter-
pemahaman agama Islam, yaitu: (1)
hadap manhaj tarjih dan pemikiran
apakah agama itu, (2) apakah dunia
Islam sebagai kerangka metodologis
itu, (3) apakah ibadah itu, (4)
memang telah lama dirasakan,
apakah sabilillah, dan (5) apakah
bahkan semenjak organisasi ini
qiyas itu.5
didirikan. Tanpa kerangka meto-
dologis yang jelas, gerakan dakwah Pidato Mas Mansur pada tahun
Muhammadiyah tidak mungkin 1942, pada masa-masa akhir
dapat berjalan secara optimal, kepemimpinannya di PP Muham-
karena akan terjadi perbedaan- madiyah, tentang lima masalah
perbedaan yang tajam satu sama tersebut kemudian dirumuskan
lain dalam tubuh persyarikatan, sebagai Putusan Majelis Tarjih yang
sehingga akan menghambat per- kemudian dikenal dengan sebutan
kembangan Persyarikatan. Dalam Kitab Masalah Lima (al-Mas il al-
sejarah perkembangnnya, Muham- Khams). Lima masalah ini disem-
madiyah telah beberapa kali men- purnakan dan diputuskan pada
coba merumuskan kerangka Sidang Khususi Tarjih pada tanggal
metodologi pemikiran keagaman- 29 Desember 1954 sampai dengan 3
nya. Bahkan mencoba merumuskan Januari 1955 di Madrasah Mualli-
Risalah Islamiyah, konsep Masya- maat Muhammadiyah, 6 dengan
rakat Islam, konsep Dakwah Islam rumusan sebagai berikut.
dan sebagainya. Dalam konteks

3
Ibid.
4
Mas Mansur adalah Ketua PP Muhammadiyah periode 1937-1942, periode yang merupakan
periode pencerahan, karena gebrakannya untuk mendisiplinkan sistem organisasi
Muhammadiyah, dengan rapat tepat waktu, memilah kepentingan pribadi-keluarga dengan
kepentingan organisasi dan pembaruan pemikiran Islam, terutama dengan konsep gerakan
yang disebut dengan Langkah Dua Belas Muhammadiyah. Lihat Syaifullah, K.H. Mas Mansur
Sapukawat Jawa Timur (Surabaya: Hikmah Press, 2005) hlm. 44-45.
5
Himpunan Putusan Tarjih Muhammadiyah, hlm. 276-278.
6
Ibid., hlm. 373

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 135


a. Konsep al-d n ( ) b. Konsep Urusan Dunia
()

Yang di maksud urusan


dunia dalam sabda Rasulullah
saw., Kamu lebih mengerti
urusan duniamu ialah segala
perkara yang tidak menjadi
tugas diutusnya para Nabi (yaitu
Agama, yakni agama Islam
perkara-perkara/pekerjaan-
yang dibawa oleh Nabi Mu-
pekerjaan/urusan-urusan yang
hammad ialah apa-apa yang
diserahkan sepenuhnya kepada
diturunkan Allah di dalam Al-
kebijaksanaan manusia).
Qur-an dan yang tersebut dalam
sunnah sahihah,
. . .
7
berupa perin-
tah-perintah, larangan-larangan c. Konsep Ibadah ( )
dan petunjuk-petunjuk bagi
kebahagiaan hidup manusia di
dunia dan akhirat.
Agama ialah apa yang di
syariatkan Allah dalam peran-
taraan nabi-nabiNya, berupa
perintah-perintah dan larangan-
larangan serta petunjuk-pe-
tunjuk untuk kebahagiaan
manusia di dunia dan akhirat.

7
Istilah al-Sunnah al-Sahihah, sempat menimbulkan kontroversi, karena dengan istilah itu
mengakibatkan sebagian ulama Majelis Tarjih tidak mau menggunakan hadis yang tidak
sahih. Sehingga dalam Munas Tarjih XXIV di Malang, awal tahun 2000, dipopulerkan dan
disepakati istilah tersebut diganti dengan al-Sunnah al-Maqbulah, yang bermakna hadis-hadis
maqbul (dapat diterima sebagai hujah, baik sahih, hasan maupun dhaif).

136 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


Ibadah ialah bertaqarrub
(mendekatkan diri) kepada Al-
lah, dengan jalan mentaati
segala perintah-perintahNya,
menjauhi larangan-larangan-
Nya dan mengamalkan segala
yang diidzinkan Allah. Ibadah
ada yang umum dan yang
khusus. Ibadah umum adalah
segala amal yang diidzinkan Al-
lah, dan ibadah khusus ialah apa
yang telah ditetapkan Allah
akan rincian-rinciannya, ting-
kah dan cara-caranya tertentu.

d. Konsep Sabililah ( )
(1) Bahwa dasar mutlaq untuk
berhukum dalam agama Islam
adalah al-Quran dan al-Hadis.
(2) Bahwa di mana perlu dalam
menghadapi soal-soal yang telah
terjadi dan sangat dihajatkan
Sabilillah ialah jalan yang untuk diamalkannya, mengenai
menyampaikan kepada keri- hal-hal yang tidak bersangkutan
daan Allah, berupa segala dengan ibadah mahdah, pada-
amalan yang diidzinkan Allah hal untuk alasan atasnya tiada
untuk memuliakan kalimat- terdapat dalam al-Qur`an atau
(agama)-Nya dan melaksanakan al-Sunnah al-Sahihah , maka
hukum-hukum-Nya. dipergunakanlah alasan dengan
jalan ijtihad dan istinbat
e. Konsep Qiyas () daripada nash-nash yang ada
melalui persamaan illah,
sebagaimana telah dilakukan
oleh ulama-ulama salaf dan
khalaf.8

8
Himpunan Putusan Tarjih, hlm. 276-278.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 137


Kitab Masalah Lima di atas mengapresiasi rumusan tersebut,
cukup lama menjadi pijakan sehingga bisa menjadi sumber
Muhammadiyah dalam merumus- motivasi dan inspirasi untuk
kan pandangan keagamaannya, menumbuhkan kreativitas dalam
meskipun dalam perkembangannya berjuang di dalam Muhammadiyah.
kekayaan pemikiran para tokoh Ahmad Azhar Basyir, mantan
Muhammadiyah telah melengkapi Ketua Majelis Tarjih PP Muham-
kerangka metodologi pemikiran Is- madiyah tahun 1985-1990 dan
lam dalam Muhammadiyah. Yusron Ketua PP Muhammadiyah tahun
Asrofi, seorang aktivis dan pim- 1990-1994 (seharusnya sampai 1995
pinan Muhammadiyah, mengata- karena wafat pada tahun 1994
kan bahwa rumusan resmi tentang kemudian posisinya digantikan oleh
hakikat Muhammadiyah dan pa- M. Amien Rais), memandang
ham keagamaannya memang selalu rumusan Masalah Lima sebagai
disusun secara sederhana, dan rumusan yang strategis pada
terasa tidak lengkap. Namun, nya- zamannya, sehingga boleh dikata-
tanya rumusan-rumusan semacam kan sebagai cerminan alam pikir
itu begitu sangat berguna bagi Muhammadiyah tentang Islam yang
perjalanan Muhammadiyah. Kata- mencakup lima persoalan fundamen-
kanlah, dalam konteks pemikiran tal.10
keislaman, di samping Masalah
Lima, terdapat rumusan penting Masalah cukup urgen dalam al-
lainnya, seperti Muqaddimah Masail al-Khams itu adalah konsep
Anggaran Dasar Muhammadiyah, al-din, dan konsep al-dunya. Kon-
Kepribadian, serta Matan Keya- sep al-din menunjukkan bahwa
kinan dan Cita-cita Hidup (MKCH), dalam pandangan Muhammadiyah,
yang semuanya disusun dalam Islam adalah agama Allah yang
bentuk yang singkat dan sederhana, dibawa oleh para Nabi dan Rasul
tetapi sangat padat ini, sehingga alaihim al-salatu wa al-salam, yang
dalam perjalanan Muhammadiyah disempurnakan oleh kerasulan Nabi
sangatlah bermanfaat.9 Muhammad sallallahu alaihi wa
sallam , dengan kesempurnaan
Menurut Yusron, bila seseorang wahyu al-Quran dan penjelasan-
mencari rumusan yang komplet penjelasannya dalam sunnah-
mengenai pemikiran keislaman sunnahnya, baik qawliyyah ,
Muhammadiyah, terpaksa akan filiyyah maupun taqririyyah, berisi
kecewa. Untuk itu, yang penting perintah, larangan dan petunjuk-
adalah sejauh mana seseorang dapat

9
Yusron Asrofi, Memahami Rumusan Pemikiran Islam dalam Muhammadiyah, dalam
Haedar Nashir (ed.), Dialog Pemikiran Islam dalam Muhammadiyah (Yogyakarta: Badan
Pendidikan Kader PP Muhammadiyah, 1992), hlm. 109.
10
Ahmad Azhar Basyir. Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah dalam Ibid.,, hlm. 95-99.

138 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


bimbingan untuk kesejahteraan teguh pendirian, dan tekun dalam
hamba-Nya dunia dan akhirat. mendalami ilmu Islam, meng-
Penegasan di atas didasarkan pada amalkannya, dan mendak-
firman Allah yang berbunyi, Hari wahkannya. Sabar dapat berupa
ini telah Kusempurnakan agamamu, sabar dalam menerima dan men-
dan Aku genapkan nikmat-Ku atas jalankan perintah Allah, sabar
mu dan Aku rida Islam sebagai dalam meninggalkan larangannya,
agamamu.11 dan sabar terhadap ketetapan atau
Islam juga merupakan satu- ketentuan Allah, baik yang menye-
satunya agama yang diridai-Nya, nangkan maupun menyedihkan.12
juga satu-satunya petunjuk hidup Islam, sebagaimana namanya
yang akan membawa manusia ke- memiliki makna penyerahan total
pada keselamatan dan kebahagiaan hanya kepada Allah, dengan cara
dunia dan akhirat. Demikian mentauhidkannya, tunduk, dan taat
ditegaskan dalam Muqaddimah kepada-Nya, membersihkan diri dari
Anggaran Dasar Muhammadiyah. syirik. Inilah apa yang disebut
Pengertian tersebut meniscaya- sebagai Islam Ideal. Islam yang
kan bahwa sebagai muslim, baik menjadi tujuan setiap Muslim untuk
secara individu maupun jamaah memahami, mengamalkan, dan
harus melakukan empat hal ter- mendakwahkannya.
hadap Islam: (1) al-ilm , yakni Dengan Islam ideal inilah
mengenal Allah, mengenal Nabi- Muhammadiyah berdiri, sebagai
Nya (Muhammad saw) dan menge- bentuk kritik sosio-kultural umat Is-
nal agama-Nya beserta dalil-dalil- lam yang sudah terlalu jauh
nya. Di dalam ilmu ini terdapat menyimpang dari Islam ideal
persoalan iman dan aqidah sahihah. tersebut. Muhammadiyah berdiri
(2) al-amal, yakni upaya sadar dan membawa idealisme untuk mewu-
sikap komitmen untuk mengamal- judkan masyarakat Islam yang
kan pengetahuannya tentang Allah, sebenar-benarnya, yaitu Islam murni
pengetahuan tentang Nabi-Nya dan yang bersumber dari al-Quran dan
pengetahuannya tentang din al-Is- al-Sunnah, bersih dari segala hal
lam. (3) al-dawah, yakni komitmen yang mengotorinya, takhayyul,
untuk menyampaikan kebenaran bidah dan c(k)hurafat (TBC).13
Islam dan mengajak umat manusia Pada konsep al-dunya, ada ke-
untuk menegakkan syariat Islam. (4) khawatiran akan terjadi pemisahan
al-sabr , yakni senantiasa tabah, secara diametral antara urusan al-
11
Q.S. al-Maidah [5]: 3.
12
K.R.H. Hadjid, Pelajaran K.H.A. Dahlan: 7 Falsafah Ajaran (Malang: UMM-Press, 2005),
hlm. 80; lihat juga Muhammad bin Shalih al-Uthaimin, Syarh Thalathatul Usul li Shaykh al-
Islam Muhammad ibn Abd al-Wahhab (t.tp: t.p, 1999), hlm. 17-25.
13
Djindar Tamimy, Kajian Ulang terhadap Masalah Lima, dalam Haedar Nashir, Dialog
Pemikiran Islam, hlm.. 45-47.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 139


din dan urusan dunia, sehingga dang perlu untuk penyempurnaan
akan melahirkan paham sekular. redaksional.16
Kekhawatiran ini juga melanda Masih berbicara tentang Masa-
sebagian pemimpin dan pemikir lah Lima, K.H. Djarnawi Hadi-
Muhammadiyah. Syafii Maarif kusuma, memberikan penjelasan:
misalnya, pernah mengungkapkan
kekhawatiran tersebut. Menurutnya Rumusan tersebut menegaskan
definisi tersebut bertentangan bahwa agama tidak mengatur atau
dengan Q.S. al-Anam [6]: 162.14 memberikan tuntunan terhadap
Namun kekhawatiran itu dijawab kehidupan manusia yang ber-
oleh Azhar Basyir dan Abdul Munir kenaan dengan masalah keduniaan.
Mulkhan. Baik Azhar maupun Tetapi, itu juga berarti bahwa
Mulkhan sepakat bahwa yang sesuatu masalah keduniaan yang
dimaksud dengan al-dunya atau al- ternyata diatur juga oleh agama,
umr al-dunyawiyyah tidak sama maka itu berarti telah diangkat
dengan konsep al-hayah al- menjadi masalah agama, sehingga
dunya. Karena itu pemahamannya pelaksanaannya wajib sesuai
harus dikembalikan kepada hadis dengan tuntunan atau peraturan
Nabi yang menjadi rujukan konsep dari Allah atau Rasul; misalnya
tersebut. Al-umr al-dunyawiyyah tentang pembagian waris, per-
adalah soal-soal teknis dan kawinan dan hutang-piutang.
teknologis kehidupan dunia, bukan Dengan pengertian semacam
nilai-nilai kehidupan dunia. 15 itu, ajaran Islam membagi masalah
Bahkan Munir Mulkhan menolak keduniaan menjadi dua. Pertama,
pandangan Syafii Maarif yang yang diberi tuntunan oleh ajaran Is-
menyatakan bahwa rumusan lam seperti hal pembagian waris dan
Masalah Lima disusun sebagai perkawinan, maka pelaksanaannya
gagasan besar yang kering nuansa, wajib sesuai dengan tuntunan Islam
karena rumusan itu disusun itu. Kedua, masalah keduniaan yang
berdasarkan konteks jaman, sama sekali tidak diatur oleh agama,
sehingga pemahaman masa kini seperti cara bertani, bertukang,
harus melihat konteks disusunnya, membuat peralatan rumah tangga,
namun isinya memiliki pokok-pokok membuat pakaian dan sebagainya,
pikiran yang bersifat fundamental, kesemuanya itu terserah kepada
padat, dan universal. Meski keinginan manusia sendiri, namun
demikian, Munir Mulkhan meman-

14
Syafii Maarif, Gagasan Besar dalam Kemiskinan Nuansa: Masalah Lima dan Matan
Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dalam Sorotan, dalam Haedar Nashir (ed.), Dia-
log Pemikiran Islam, hlm. 57. Dalam ayat tersebut dinyatakan: ( ).
15
Ahmad Azhar Basyir. Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah dalam Ibid.,, hlm.. 95-99; baca juga catatan dialog Munir Mulkhan, dalam
buku yang sama, hlm.. 52-53.
16
Ibid,

140 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


satu hal wajib dijaga, yakni tidak banyak berbeda (mukhtalaf alayh)
melanggar hukum Allah. meskipun tetap memperhatikan
Dengan kebebasan semacam itu, rambu-rambu akhlak Islam dalam
maka setiap orang Islam dapat menyikapi perbedaan pendapat.18
keluasan meningkatkan segi kehi- Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
dupan dunianya dengan mem- Muhammadiyah
pertinggi ilmu pengetahuan dan
karya ilmiah yang bermanfaat. Rumusan yang dipandang
Dengan batasan tidak boleh me- mengandung kerangka metodologi
langgar hukum Allah, maka setiap pemikiran keislaman Muham-
ilmu, teknologi dan penemuan oleh madiyah adalah apa disebut Matan
intelektualitas Islam tidak akan Keyakinan dan Cita-cita Hidup
berbahaya bagi manusia dan (MKCH) Muhammadiyah yang
bahkan akan sejalan dengan ajaran awalnya dirumuskan pada Muk-
akhlak yang tinggi.17 tamar ke-37 tahun 1968 di Yogya-
karta, dan ditetapkan dalam sidang
Azhar Basyir menyimpulkan Tanwir tahun 1969 di Ponorogo.19
dengan adanya konsep din, ibadah, Rumusan in lahir untuk membekali
dunia, sabilillah dan qiyas di atas warga Muhammadiyah secara
justru menjadi lebih jelas mana ideologis, khususnya dalam meng-
bagian-bagian dari kehidupan ini hadapi lalu lintas alam pikiran yang
yang kita hanya saman wa taatan makin terbuka saat itu. Karena sifat
kepada al-Quran dan al-Sunnah, sebuah matan, maka ia hanya
sebagai suatu yang baku ( al- memuat rumusan-rumusan singkat,
thawabit) dan disepakati banyak tetapi mencerminkan pendirian
pihak (mujmaalayh), dan mana dalam menjalani hidup dan
pula yang menjadi wewenang akal menunjuk kepada harapan yang
pikiran manusia secara bebas ingin dicapai dalam melaksanakan
merumuskannya (al-mutaghayyirat) pegangan hidup.20
dan memungkinkan kita untuk
17
Djarnawi Hadikusuma, Tajdid dalam Hal Ibadah makalah disampaikan pada Telaah
Sejarah Muhammadiyah, pada Rakernas PP Muhammadiyah Majelis Pustaka di Yogyakarta,
12 Juli 1987. Majelis ini kini diubah menjadi Lembaga Pustaka dan Pusat Informasi (LPPI) PP
Muhammadiyah.
18
Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persoalan Keislaman, (Bandung: Mizan, 1993), hlm.
278-279.
19
Dalam wawancara penulis dengan A. Munir Mulkhan pada akhir tahun 1989 di rumahnya
untuk keperluan penelitian skripsi penulis dengan judul Ahlussunnah wal Jamaah dalam
Pandangan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, 1990, ia mengatakan bahwa Muqaddimah,
MKCH, Masalah Lima, dan beberapa rumusan lain sejenis adalah merupakan rumusan yang
mengungkapkan paham agama dalam Muhammadiyah. Istilah paham agama untuk
menyebut pemikiran keagamaan (keislaman) juga sering dikemukakan oleh Djindar Tamimy,
Djazman al-Kindi, A. Rosyad Sholeh, dan Haedar Nashir.
20
Ahmad Azhar Basyir. Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah Haedar Nashir (ed.), Dialog Pemikiran Islam, hlm.. 102-103.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 141


Sebagai orang yang mengikuti Dengan demikian, apabila Muham-
proses dan dinamika perumusan madiyah menggunakan kata
matan tersebut, Azhar Basyir me- ideologi dalam rumusan ideologi
ngemukakan bahwa setelah kela- gerakannya, dikhawatirkan akan
hiran Orde Baru, Pimpinan Pusat terjadi bias pengertian yang seolah-
Muhammadiyah mulai membahas olah Muhammadiyah memiliki
permasalahan mendasar yang ideologi sendiri selain Pancasila. Ini
memang terkait dengan perkem- tidak bisa diterima oleh pemerintah.
bangan jaman yang diwarnai oleh Oleh sebab itu dalam penyusunan
lalu lintas dan pluralitas alam MKCH Muhammadiyah sebagai
pikiran, terutama pemikiran keaga- usaha yang bersifat internal untuk
maan, yang semakin bebas dan melakukan tajdid di bidang ideologi
terbuka. Dengan matan keyakinan dengan tidak menggunakan kata
ini, Pimpinan dan warga Muham- ideologi.21
madiyah diharapkan tetap memiliki Muatan MKCH mengandung
pijakan yang jelas, sehingga tidak lima pokok pikiran tentang masalah-
terjadi perpecahan dan polarisasi, masalah fundamental dalam
baik pada tataran pemikiran Muhammadiyah,22 yaitu:
maupun dan apalagi pada strategi
gerakan dakwah Muhammadiyah. Pokok pikiran pertama ,
Yang menarik, dalam konsep atau mengandung pokok-pokok per-
rumusan tersebut adalah istilah soalan substansial, esensial, dan
Keyakinan dan Cita-cita Hidup, ideologis tentang penegasan hake-
sebagai istilah yang digunakan oleh kat Muhammadiyah dan hakekat
Muhammadiyah. Pada hal isi dari Islam menurut pandangan Muham-
matan tersebut adalah materi madiyah. Penegasan ini merujuk
ideologis (worldview) dalam gera- pada Muqaddimah Anggaran Dasar
kan Muhammadiyah. Dijelas- Muhammadiyah yang telah diru-
kannya, bahwa kebijakan pemerin- muskan terdahulu, namun dalam
tah Orde Baru, yang ingin melaku- MKCH ini lebih dimantapkan,
kan penataan kehidupan sosial bahwa Muhammadiyah adalah
politik di negeri ini adalah dengan gerakan Islam yang melaksanakan
pemantapan ideologi Pancasila. kewajiban agama dengan memben-
Implikasinya penggunaan kata tuk wadah organisasi, di mana
ideologi itu sendiri hanya boleh organisasi termasuk kategori urusan
digunakan untuk ideologi Pancasila. dunia yang diperlukan adanya

21
Ibid. Tokoh lain yang sering mengemukakan tidak dipakainya istilah ideologi adalah
M. Djindar Tamimy. Dikatakannya bahwa Muhammadiyah ingin selalu bermitra dengan semua
elemen bangsa, termasuk dan terutama pemerintah, sehingga perlu menghindari
kemungkinan-kemungkinan yang akan mengganggu kemitraan tersebut.
22
A. Munir Mulkhan, Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah dalam Perspektif
Perubahan Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 1990), hlm. 52-53.

142 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


untuk melaksanakan kewajiban para Rasul-Nya sejak Nabi Adam,
agama. Oleh sebab itu pembentukan Nuh, Ibrahim dan seterusnya
organisasi sering dikategorikan sampai kepada Rasul terakhir Nabi
termasuk dalam kaidah: mala Muhammad saw sebagai hidayah
yatimmu al-wajib illa bihi fa huwa dan rahmat Allah kepada umat
wajib.23 Dengan demikian, wujud manusia sepanjang masa dan
organisasi Muhammadiyah dapat menjamin kesejahteraan hidup
dijadikan sebagai wadah jihad fi materiil-spirituil, duniawi dan
sabilillah, yang bernilai ibadah, yaitu ukhrawi. 25 Untuk menegaskan
berjuang untuk tegaknya kalimat batasan agama Islam ini Azhar
Allah yang ditempuh melalui Basyir menegaskan: Kita tidak
berbagai macam usaha Muham- menyebut Yahudi sebagai nama
madiyah.24 agama wahyu resmi dan Kristen
Pokok pikiran kedua, mengan- sebagai nama agama wahyu resmi.
dung penegasan tentang hakikat Agama wahyu hanyalah Islam, Inna
agama Islam dan keyakinan al-dina inda al-Lahi al-Islam..26
Muhammadiyah atas agama Islam Lebih jauh, Djindar Tamimy
itu. Rumusan ini berkaitan dengan menegaskan bahwa Muhamadiyah
kitab Masalah Lima pada rumusan berkeyakinan, Dinul Islam adalah
ma huwa al-din?. Namun, di sini risalah (pesan-pengarahan) Allah
ditekankan bahwa Islam adalah yang mengandung satu kesatuan
agama yang dibutuhkan manusia ajaran yang utuh dan terpadu,
sepanjang masa untuk pemenuhan penuh keseimbangan dan
tercapainya dambaan hidup keserasian. Risalah itu mengandung:
sejahtera di dunia dan bahagia di (a) petunjuk mengenai pola hidup
akhirat. Ungkapan tersebut sejalan dan kehidupan yang benar yang
dengan pernyataan bahwa agama diridai Allah swt, (b) petunjuk Al-
Islam itu bagi kehidupan manusia lah mengenai pedoman pokok
adalah sebagai rahmatan li al- pelaksanaan untuk terwujudnya
alamin . Dijelaskan pula bahwa pola hidup dan kehidupan yang
Muhammadiyah berkeyakinan dimaksud, (c) petunjuk Allah
bahwa agama Islam adalah agama mengenai sistem kepemimpinan
Allah yang diwahyukan kepada dalam pelaksanaan pedoman pokok

23
Al-Amidi, al-Ihkam fi Usul al-Ahkam al-Juz al-Thalith, (Beirut: Al-Maktab al-Islamy,
t.th,), hlm. 171
24
Ibid. penjelasan yang sama juga didapat dari tokoh lain, seperti Ahmad Azhar Basyir.
Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah Haedar
Nashir (ed.) Dialog Pemikiran Islam, hlm.. 102-103
25
M. Djindar Tamimy, Pokok-pokok Pengertian tentang Agama Islam. bahan untuk
Pengajian Pimpinan dan Aktivis Muhammadiyah dalam rangka pemantapan Ber-
Muhammadiyah (Yogyakarta: Pimpinan Pusat Muhammadiyah, 1981), hlm.. 5-8.
26
Ahmad Azhar Basyir, Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah dalam Haedar Nashir (ed.) Dialog Pemikiran Islam, hlm. 104.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 143


dalam rangka mewujudkan pola bahwa sumber ajaran Islam adalah
hidup dan kehidupan yang al-Quran, Sunnah Rasul, ijma, dan
dimaksud.27 qiyas.29
Pokok pikiran ketiga, membahas Ijma dan qiyas dalam pan-
masalah sumber ajaran Islam. dangan Muhammadiyah setelah
Dalam matan itu disebutkan bahwa dirumuskannya Masalah Lima dan
Muhammadiyah dalam mengamal- MKCH termasuk dalam cakupan
kan Islam berdasarkan kepada al- perangkat ijtihad, bukan sumber
Quran dan Sunnah Rasul dengan ajaran Islam, karena pemikiran Is-
menggunakan akal pikiran sesuai lam harus terus berkembang sesuai
dengan jiwa ajaran Islam. Dengan dengan perkembangan kemampuan
pandangan tersebut, Muham- akal pikiran dan perkembangan
madiyah menunjukkan komitmen kehidupan masyarakat.30 Dengan
kuat kepada al-Quran dan Sunnah demikian, bagi Muhammadiyah,
Rasul, tetapi sekaligus bersifat kritis ijtihad mutlak diperlukan bagi umat
dan selektif. Selain al-Quran dan Islam seluruhnya. Pintu ijtihad, bagi
Sunnah Rasul bukanlah sumber. Muhammadiyah, tetap terbuka,
Menggunakan akal pikiran memang tidak pernah dan tidak boleh
merupakan keharusan sesuai garis ditutup oleh siapa pun, hanya saja
ijtihad yang tidak boleh ditutup. diperlukan perangkat ilmu dan
Penggunnaan akal fikiran adalah metodologis sesuai dengan jiwa
untuk mengembangkan pema- ajaran Islam.31
haman dan pengamalan ajaran al- Pokok pikiran keempat, mem-
Quran dan al-Sunnah.28 Pendirian bahas bidang ajaran Islam.
ini sesuai dengan putusan Majelis Muhammadiyah bekerja untuk
Tarjih sebagaimana tertuang dalam terlaksananya ajaran-ajaran Islam
Masalah Lima. Rumusan MKCH ini yang meliputi bidang-bidang aki-
juga sekaligus menunjukkan bahwa dah, akhlak, ibadah dan muamalah
Muhammadiyah tidak selalu dan duniawiah. Akidah Islam, menurut
tidak harus mengikuti secara penuh Muhammadiyah bersumber kepada
pendirian Ahmad Dahlan selaku al-Quran dan Sunnah Rasul. Akal
pendirinya, yang masih mengikuti diperlukan untuk mengukuhkan
umumnya pendapat umat Islam,

27
M. Djindar Tamimy, Pokok-pokok Pengertian tentang Agama Islam, hlm.. 8-9.
28
Ibid ., hlm. 8-10, terdapat pula dalam Djindar Tamimy, Pengantar Kuliah
Kemuhammadiyahan,
29
Yusron Asrofi, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran & Kepemimpinannya (Yogyakarta:
MPKSDI PP Muhammadiyah, 2005), hlm. 50, yang merujuk pada Verslag Tahoen ke IX (1921),
hlm. 16
30
Abdul Munir Mulkhan, Keyakinan Hidup Islami: Pandangan Hidup Persyarikatan
Muhammadiyah, makalah disampaikan pada Sidang Tanwir Muhammadiyah, 29-31 Desember
1994 di Surakarta, hlm. 8.
31
Ibid., hlm. 9.

144 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


kebenaran nash (al-Quran dan Ini dapat dilihat dalam teks yang
Sunnah), bukan untuk mentakwil tertuang dalam Himpunan Putusan
ajaran akidah yang memang di luar Tarjih Muhammadiyah yang
jangkauan akal, seperti apakah berbunyi:
surga itu kekal atau tidak. Itu bukan
wewenang akal, maka jangan
dibicarakan. Dalam mengim-
plementasikan akidah, harus
senantiasa merujuk kepada ajaran
Islam, sehingga tegaklah akidah Is-
lam yang murni, bersih dari gejala
kemusyrikan, takhayul, bidah, dan
khurafat (TBC), namun tetap
menumbuhkan sikap tasamuh
terhadap penganut paham lain dan
agama lain, serta tidak memaksakan
ajaran Islam kepada orang lain, Allah tidak menyuruh kita
dengan tetap memberikan gam- membicarakan hal-hal yang
baran bahwa agama yang men- tidak tercapai akan dalam hal
jamin kesejahteraan hidup yang akidah (kepercayaan. Sebab,
hakiki di dunia dan akhirat akal manusia tidak mungkin
hanyalah Islam, bahwa inna al- mencapai pengertian tentang
dina inda al-Lahi al-Islam, harus Zat Allah dan hubungannya
agama
dimaknai yang benar dan dengan sifat-sifat yang ada
diridai Allah hanyalah agama Is- pada-Nya. Maka, janganlah
lam.32 membicarakan hal itu. Tak ada
Pandangan Muhammadiyah kesangsian tentang wujud Allah.
tentang akidah, agaknya merujuk Adakah orang yang ragu
kepada pandangan ulama salaf, tentang Allah, Yang Maha
sebagaimana dikemukakan oleh Menciptakan langit dan bumi?
Imam Malik, ketika ditanya tentang (Q.S. Ibrahim [14]: 10).34
ayat ( ), bagai-
mana istiwa -nya Allah. Imam
Bidang akhlak, Muhammadiyah
Malik menjawab: memandang bahwa sumber akhlak
Islam hanyalah al-Quran dan al-
Sunnah, tidak bersendi kepada nilai-
.33 nilai ciptaan manusia. Meskipun al-
32
Ahmad Azhar Basyir. Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah, dalam Haedar Nashir (ed.) Dialog Pemikiran Islam, hlm. 104
33
Abu Usman Ismail al-Shabuni, Aqidah al-Salaf wa Ashabu al-Hadith, (Madinah: Maktabah
al-Ghuraba al-Athariyyah, t.th), hlm. 38.
34
Himpunan Putusan Tarjih., hlm. 12.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 145


Quran dan al-Sunnah mengakui dalil yang lebih kuat (rajih), maka
adanya sumber qalb, atau Muhammadiyah akan memperbaiki
basirah, yakni hati nurani, namun pendapat lamanya. Seperti Majelis
tolok ukurnya tetap al-Quran dan al- Tarjih dalam muktamarnya di
Sunnah.35 Wiradesa memutuskan bahwa
Ahmad Azhar Basyir, ketua berdasar hadis-hadis sahih, shalat
Majelis Tarjih PP Muhammadiyah malam atau tarawih adalah sebelas
periode 1985-1990, mengakui rekaat. Keputusan itu merevisi
bahwa pada aspek akhlak ini, pandangan K.H. Ahmad Dahlan
Muhammadiyah dirasa kekurangan yang merupakan pendiri Muham-
pedoman. Para ulama begitu madiyah, yang berpendapat dan
semangat membahas masalah- mengamalkan bahwa tarawih itu 23
masalah hukum, baik ubudiyah rakaat. Oleh karena itu, jangan
maupun masalah sosial, tetapi digugat-gugat, bahwa Tarjih
masalah akhlak kurang mendapat bertentangan dan tidak menghargai
perhatian yang memadai. Sehingga, pendirinya. Ini jelas tidak pro-
konsep-konsep akhlak Islam dalam porsional.37
produk-produk putusan tarjih Aspek yang berkaitan dengan
sangat langka.36 ibadah, dalam makna ibadah
Bidang ajaran Islam berikutnya ummah, adalah aspek muamalah
yang dibahas adalah bidang ibadah. duniawiah, yang titik beratnya pada
Yang dimaksud dengan istilah pengelolaan dunia dan pembinaan
ibadah ini adalah ibadah mahdah. masyarakat dan termasuk di
Ditegaskan bahwa Muhammadiyah dalamnya adalah pemanfaatan ilmu
bekerja untuk tegaknya ibadah yang pengetahuan dan teknologi serta
dituntunkan Rasulullah saw tanpa pengembangan keahlian. Muham-
tambahan, pengurangan dan madiyah dalam wilayah ini
perubahan dari manusia. Sehingga, berpendapat bahwa Islam mem-
dalam Muhammadiyah selalu berikan wewenang kepada akal
diadakan penelitian terhadap dalil- seluas-luasnya, sehingga warga
dalil yang berkaitan dengan ibadah, Muhammadiyah harus menguasai
konsekuensinya apabila ditemukan ilmu pengetahuan dan berbagai

35
Hamdan Hambali, Ideologi dan Strategi Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara
Muhammadiyah, 2006), hlm. 47.
36
Ungkapan ini pernah disampaikan Azhar Basyir di depan Pengajian Ramadhan PP
Muhammadiyah tahun 1412 H/1992 M yang diselenggarakan oleh BPK PP Muhammadiyah.
Pandangan tersebut diperkuat oleh K.H. Amir Masum, ulama Tarjih asal Klaten, yang juga
pernah menjadi Wakil Ketua Majelis Tarjih PP Muhammadiyah jaman periode Azhar Basyir
(1985-1990), seperti tertuang dalam Amir Masum. Akhlak Kepemimpinan dalam Kehidupan
Bermuhammadiyah, dalam Haedar Nashir (ed.), Akhlak Pemimpin Muhammadiyah
(Yogyakarta: PP Muhamadiyah BPK, 1990), hlm. 14.
37
Ahmad Azhar Basyir, Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup
Muhammadiyah, dalam Haedar Nashir (ed.), Dialog Pemikiran Islam, hlm. 105

146 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


profesi dalam kehidupan yang tahun 1970 mengelompokkannya
dinamis ini, di samping tetap menjadi 3 kelompok fundamental,
menguasai ilmu-ilmu agama. De- yaitu:
ngan demikian, ilmu-ilmu agama
a. Kelompok pertama: mengan-
dapat membimbing akal dan hati
nurani dalam berkarya dan dung pokok-pokok persoalan
menjalani profesi.38 ideologis, mencakup pokok
pikiran pertama dan kedua,
Pokok pikiran kelima, berkaitan
dengan fungsi dan misi Muham- b. Kelompok kedua: mengandung
madiyah dalam masalah kemasya- karakteristik paham agama
rakatan dan kebangsaan. Disebut- (metodologi pemikiran ke-
kan, Muhammadiyah mengajak islaman) menurut Muham-
kepada segenap elemen umat Islam madiyah, mencakup pokok
dan bangsa Indonesia untuk pikiran ketiga dan keempat.
mensyukuri anugerah Allah berupa
tanah air yang memiliki sumber- c. Kelompok ketiga: mengandung
sumber kekayaan dan kemerdekaan visi dan misi kemasyarakatan
bangsa dan negara Republik Indo- dan kebangsaan Muham-
nesia yang berfalsafahkan Pancasila, madiyah.39
dengan terus berusaha menjadikan
negara yang adil makmur dan
diridai Allah swt, baldatun PENUTUP
tayyibatun wa rabbun ghafur . Kerangka metodologis pemi-
Pernyataan ini menunjukkan kiran Islam dicoba oleh tokoh pendiri
kesadaran dan tanggung jawab Majelis Tarjih, yaitu K.H. Mas
kebangsaan Muhammadiyah Mansur, dengan menyampaikan
menuju kehidupan berbangsa dan lima masalah penting dalam
bernegara yang tertib, disiplin, pemahaman agama Islam, yaitu: (1)
berakhlak, dan bermartabat, serta apakah agama itu, (2) apakah dunia
diridai Allah. Sehingga, setiap ada itu, (3) apakah ibadah itu, (4)
ketimpangan yang terjadi di dalam apakah sabilillah, dan (5) apakah
penyelenggaraan negara dan qiyas itu. Masalah cukup urgen
kehidupan bangsa ini, Muham- dalam al-Masail al-Khams itu adalah
madiyah selalu prihatin dan ikut konsep al-din, dan konsep al-dunya.
andil dalam mencari penyelesaian. Konsep al-din menunjukkan bahwa
Dalam memahami lima pokok dalam pandangan Muham-
pikiran tersebut, Pimpinan Pusat madiyah, Islam adalah agama Allah
Muhammadiyah atas kuasa Tanwir yang dibawa oleh para Nabi dan

38
Ibid. hlm. 106
Hamdan Hambali, Ideologi dan Strategi Muhammadiyah (Yogyakarta: Suara
39

Muhammadiyah, 2006), hlm. 48-9.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 147


Rasul alaihim al-salatu wa al-salam, yang kita hanya saman wa taatan
yang disempurnakan oleh kerasulan kepada al-Quran dan al-Sunnah,
Nabi Muhammad sallallahu alaihi sebagai suatu yang baku ( al-
wa sallam, dengan kesempurnaan thawabit) dan disepakati banyak
wahyu al-Quran dan penjelasan- pihak (mujma alayh), dan mana
penjelasannya dalam sunnah- pula yang menjadi wewenang akal
sunnahnya, baik qawliyyah , pikiran manusia secara bebas
filiyyah maupun taqririyyah, berisi merumuskannya (al-mutaghayyirat)
perintah, larangan dan petunjuk- dan memungkinkan kita untuk
bimbingan untuk kesejahteraan banyak berbeda (mukhtalaf alayh)
hamba-Nya dunia dan akhirat. meskipun tetap memperhatikan
Pada konsep al-dunya, ada ke- rambu-rambu akhlak Islam dalam
khawatiran akan terjadi pemisahan menyikapi perbedaan pendapat.
secara diametral antara urusan al- Muatan MKCH mengandung
din dan urusan dunia, sehingga lima pokok pikiran tentang masalah-
akan melahirkan paham sekular. masalah fundamental dalam Mu-
Kekhawatiran ini juga melanda hammadiyah, yaitu: Pokok pikiran
sebagian pemimpin dan pemikir pertama , mengandung pokok-
Muhammadiyah. Syafii Maarif pokok persoalan substansial,
misalnya, pernah mengungkapkan esensial, dan ideologis tentang
kekhawatiran tersebut. Menurutnya penegasan hakekat Muham-
definisi tersebut bertentangan madiyah dan hakekat Islam
dengan Q.S. al-Anam [6]: 162. menurut pandangan Muham-
Namun kekhawatiran itu dijawab madiyah. Pokok pikiran kedua ,
oleh Azhar Basyir dan Abdul Munir mengandung penegasan tentang
Mulkhan. Baik Azhar maupun hakikat agama Islam dan keyakinan
Mulkhan sepakat bahwa yang Muhammadiyah atas agama Islam
dimaksud dengan al-dunya atau al- itu. Pokok pikiran ketiga, membahas
umr al-dunyawiyyah tidak sama masalah sumber ajaran Islam.
dengan konsep al-hayah al- Dalam matan itu disebutkan bahwa
dunya. Karena itu pemahamannya Muhammadiyah dalam mengamal-
harus dikembalikan kepada hadis kan Islam berdasarkan kepada al-
Nabi yang menjadi rujukan konsep Quran dan Sunnah Rasul dengan
tersebut. Al-umr al-dunyawiyyah menggunakan akal pikiran sesuai
adalah soal-soal teknis dan tek- dengan jiwa ajaran Islam. Pokok
nologis kehidupan dunia, bukan pikiran keempat, membahas bidang
nilai-nilai kehidupan dunia. ajaran Islam. Muhammadiyah
Azhar Basyir menyimpulkan bekerja untuk terlaksananya ajaran-
dengan adanya konsep din, ibadah, ajaran Islam yang meliputi bidang-
dunia, sabilillah dan qiyas di atas bidang akidah, akhlak, ibadah dan
justru menjadi lebih jelas mana muamalah duniawiah. Akidah Is-
bagian-bagian dari kehidupan ini lam, menurut Muhammadiyah
bersumber kepada al-Quran dan

148 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150


Sunnah Rasul. Pokok pikiran kelima, sumber-sumber kekayaan dan
berkaitan dengan fungsi dan misi kemerdekaan bangsa dan negara
Muhammadiyah dalam masalah Republik Indonesia yang ber-
kemasyarakatan dan kebangsaan. falsafahkan Pancasila, dengan terus
Disebutkan, Muhammadiyah berusaha menjadikan negara yang
mengajak kepada segenap elemen adil makmur dan diridai Allah swt,
umat Islam dan bangsa Indonesia baldatun tayyibatun wa rabbun
untuk mensyukuri anugerah Allah ghafir.
berupa tanah air yang memiliki

DAFTAR PUSATAKA

A. Munir Mulkhan, Pemikiran K.H. Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah


dalam Perspektif Perubahan Sosial (Jakarta: Bumi Aksara, 1990).
_________________, Keyakinan Hidup Islami: Pandangan Hidup
Persyarikatan Muhammadiyah, makalah disampaikan pada
Sidang Tanwir Muhammadiyah , 29-31 Desember 1994 di
Surakarta.
Abu Usman Ismail al-Shabuni, Aqidah al-Salaf wa Ashabu al-Hadith,
(Madinah: Maktabah al-Ghuraba al-Athariyyah, t.th).
Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persoalan Keislaman, (Bandung: Mizan,
1993).
_________________. Memahami Masalah Lima dan Matan Keyakinan
Cita-cita Hidup Muhammadiyah.
Al-midi, al-Ahkam fi Usul al-Ahkam al-Juz al-Thalith, (Beirut: Al-Maktab
al-Islamy, t.th,).
Amir Masum. Akhlak Kepemimpinan dalam Kehidupan
Bermuhammadiyah, dalam Haedar Nashir (ed.), Akhlak
Pemimpin Muhammadiyah (Yogyakarta: PP Muhamadiyah BPK,
1990).
Djarnawi Hadikusuma, Tajdid dalam Hal Ibadah makalah disampaikan
pada Telaah Sejarah Muhammadiyah , pada Rakernas PP
Muhammadiyah Majelis Pustaka di Yogyakarta, 12 Juli 1987.
Djindar Tamimy, Kajian Ulang terhadap Masalah Lima, dalam Haedar
Nashir, Dialog Pemikiran Islam.

Metode Pemahaman Agama dalam Muhammadiyah ... (Syamsul Hidayat) 149


______________, Pokok-pokok Pengertian tentang Agama Islam. bahan
untuk Pengajian Pimpinan dan Aktivis Muhammadiyah dalam
rangka pemantapan Ber-Muhammadiyah (Yogyakarta: Pimpinan
Pusat Muhammadiyah, 1981).
Fathurrahman Djamil, Metode Ijtihad Majelis Tarjih Muhammadiyah
(Jakarta: Logos Publishing House, 1995).
Hamdan Hambali, Ideologi dan Strategi Muhammadiyah (Yogyakarta:
Suara Muhammadiyah, 2006).
K.R.H. Hadjid, Pelajaran K.H.A. Dahlan: 7 Falsafah Ajaran (Malang: UMM-
Press, 2005)
Muhammad bin Shalih al-Uthaimin, Syarh Thalathatul Usul li Shaykh al-
Islam Muhammad ibn Abd al-Wahhab (t.tp: t.p, 1999).
Syafii Maarif, Gagasan Besar dalam Kemiskinan Nuansa: Masalah Lima
dan Matan Keyakinan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dalam
Sorotan, dalam Haedar Nashir (ed.), Dialog Pemikiran Islam.
Syaifullah, K.H. Mas Mansur Sapukawat Jawa Timur (Surabaya: Hikmah
Press, 2005).
Syamsul Hidayat dan Zakiyuddin Baidhawy, Membangun Citra Baru
Pemikiran Islam Muhammadiyah, Jurnal Akademika, No. 02,
Tahun XVIII, 2000.
Yusron Asrofi, Memahami Rumusan Pemikiran Islam dalam
Muhammadiyah, dalam Haedar Nashir (ed.), Dialog Pemikiran
Islam dalam Muhammadiyah (Yogyakarta: Badan Pendidikan
Kader PP Muhammadiyah, 1992).
____________, Kyai Haji Ahmad Dahlan Pemikiran & Kepemimpinannya
(Yogyakarta: MPKSDI PP Muhammadiyah, 2005), hlm. 50, yang
merujuk pada Verslag Tahoen ke IX (1921).

150 Tajdida, Vol. 9, No. 2, Desember 2011: 132 - 150