Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH FARMAKOTERAPI 1

DIARE

Dosen Pembimbing : Dhanang Prawira Nugraha S.Farm.,Apt

Oleh :

Arisa Nur Fadilah

1413206006

S1 FARMASI

STIKes KARYA PUTRA BANGSA

TULUNGAGUNG

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah,
dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang
diare.Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan makalah ini.Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih
ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat
memperbaiki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah diare ini dapat memberikan manfaat
maupun inspirasi terhadap pembaca.

Tulungagung, 1 Desember 2016

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul................................................................................................ i

Kata Pengantar ............................................................................................... ii

Daftar Isi.......................................................................................................... iii

BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang Masalah ....................................................................... 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 6

2.1 Definisi ................................................................................................. 3

2.2 Epidemiologi ....................................................................................... 3

2.3 Etiologi ........................................................................................... 4

2.4 Tanda dan Gejala ................................................................................. 5

2.5 Patofisiologi ........................................................................................ 6

2.6 Obat ........................................................................................... 8

2.6.1 Terapi Farmakologi ............................................................................ 8

2.6.2 Terapi Non Farmakologi .................................................................... 12

2.7 Algoritma Terapi dan Manajemen Penyakit ......................................... 13

2.8 Monitoring dan Evaluasi .................................................................... 18

2.8.1 Monitoring .......................................................................................... 20

2.8.1 Evaluasi ........................................................................................... 19

BAB III. PENUTUP ...................................................................................... 20

3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 20

3.1 Saran ........................................................................................... 20

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair
(setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 g atau 200
ml/24 jam. Definisi lain memakai kriteria frekuensi, yaitu buang air besar encer lebih dari 3
kali per hari. Buang air besar encer tersebut dapat/tanpa disertai lendir dan darah. Diare akut
adalah diare yang onset gejalanya tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 14 hari, sedang diare
kronik yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari. Diare dapat disebabkan infeksi
maupun non infeksi. Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi. Diare infeksi
dapat disebabkan Virus, Bakteri, dan Parasit.2

Diare akut sampai saat ini masih merupakan masalah kesehatan, tidak saja di negara
berkembang tetapi juga di negara maju. Penyakit diare masih sering menimbulkan KLB
(Kejadian Luar Biasa) dengan penderita yang banyak dalam waktu yang singkat.Di negara
maju walaupun sudah terjadi perbaikan kesehatan dan ekonomi masyarakat tetapi insiden
diare infeksi tetap tinggi dan masih menjadi masalah kesehatan. Di Inggris 1 dari 5 orang
menderita diare infeksi setiap tahunnya dan 1 dari 6 orang pasien yang berobat ke praktek
umum menderita diare infeksi. Tingginya kejadian diare di negara Barat ini oleh karena
foodborne infections dan waterborne infections yang disebabkan bakteri Salmonella spp,
Campylobacter jejuni, Stafilococcus aureus, Bacillus cereus, Clostridium perfringens dan
Enterohemorrhagic Escherichia coli (EHEC).2

Diare akut masih merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak di
negara berkembang.1,2 WHO memper-kirakan 4 milyar kasus terjadi di dunia pada tahun
2000 dan 2,2 juta diantaranya meninggal; sebagian besar anak-anak di bawah umur 5 tahun.3
Lebih dari 5000 anak meninggal setiap hari akibat diare. Dari semua kematian anak akibat
diare, 78% terjadi di Afrika dan Asia Tenggara13.

Di negara berkembang, diare infeksi menyebabkan kematian sekitar 3 juta penduduk


setiap tahun. Di Afrika anak anak terserang diare infeksi 7 kali setiap tahunnya di banding di
negara berkembang lainnya mengalami serangan diare 3 kali setiap tahun.2

Penyakit Diare merupakan penyakit endemis di Indonesia dan juga merupakan


penyakit potensial KLB yang sering disertai dengan kematian. Selain sebagai penyebab

1
kematian, angka kesakitan penyakit Diare juga masih cukup tinggi di Indonesia, meskipun
pada tahun 2010 mengalami sedikit penurunan yaitu dari per 1.000 penduduk pada tahun
2006 turun menjadi 411 per 1.000 penduduk pada tahun 2010 .Angka kesakitan diare
mencapai 200.400 kejadian diare per 1000 penduduk dalam setiap tahunnya. Dengan
demikian diperkirakan di Indonesia terdapat sekitar 60 juta kejadian diare dalam setiap
tahunnya. Sebagian besar dari penderita diare ini (1-2%) mengalami dehidrasi dan jika tidak
segera ditolong, maka 50-60% diantaranya dapat meninggal. Kehilangan air sebanyak 15%
dari berat badan dapat mengakibatkan terjadinya kematian. Kebutuhan orang dewasa
membutuhkan minum minimum 1,5- 2 liter air sehari .1

Di Indonesia dari 2.812 pasien diare yang disebabkan bakteri yang datang kerumah
sakit dari beberapa provinsi seperti Jakarta, Padang, Medan, Denpasar, Pontianak, Makasar
dan Batam yang dianalisa dari 1995 s/d 2001 penyebab terbanyak adalah Vibrio cholerae 01,
diikuti dengan Shigella spp, Salmonella spp, V. Parahaemoliticus, Salmonella typhi,
Campylobacter Jejuni, V. Cholera non-01, dan Salmonella paratyphi A. 2

2
BAB II
ISI

2.1 Definisi

Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar, konsistensi feses menjadi cair,
dan perut terasa mules ingin buang air besar. Secara praktis dikatakan diare jika frekuensi
buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair.3

Diare adalah frekuensi dan likuiditas buang air besar (BAB) yang abnormal.Frekuensi
dan konsistensi BAB bervariasi dalam dan antar individu. Sebagai contoh, beberapa individu
defekasi tiga kali sehari,sedangkan yang lainnya hanya dua atau tiga kali seminggu.4

Diare adalah meningkatnya frekuensi buang air besar, konsistensi feses menjadi cair,
dan perut terasa mules ingin buang air besar.Secara praktis dikatakan diare jika frekuensi
buang air besar lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja. Sedangkan menurut definisi
yang dikemukakan oleh World Health Organization atau WHO, diare adalah buang air besar
encer atau lebih dari tiga kali sehari.3

2.2 Epidemologi

Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan
kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia dan semuakelompok usia bisa diserang
oleh diare, tetapi penyakit berat dengan kematian yang tinggi terutama terjadi pada bayi dan
anak balita. Di negara berkembang, anak-anak menderita diare lebih dari 12 kali per tahun
dan hal ini yang menjadi penyebab kematian sebesar 15-34% dari semua penyebab kematian.
Di negara berkembang, anak-anak balita mengalami rata-rata 3-4 kali kejadian diare per tahun
tetapi di beberapa tempat terjadi lebih dari 9 kali kejadian diare per tahun atau hampir 15-20%
waktu hidup anak dihabiskan untuk diare.5

Angka kesakitan diare secara nasional ada kecenderungan meningkat. Pada tahun
2000 angka kesakitan diare 301/1000 penduduk, tahun 2003 sebesar 374/1000 penduduk dan
tahun 2006 adalah 423/1000 penduduk.2 Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT)
tahun 2004, angka kematian karena diare pada semua umur sebesar 23 per 100.000 penduduk
dan pada balita 75 per 100.000 balita.Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007
penyebab kematian balita yang terbanyak adalah diare (25,2%) dan pnemonia (15,5%).6

3
Penyakit yang dikenal juga dengan penyakit muntah dan berak berak (muntaber) itu
menyumbang kematian bayi terbesar di Indonesia, yaitu mencapai 31,4% dari total kematian
bayi. Diare juga menjadi penyebab kematian terbesar balita,yaitu sekitar 25% dari kematian
balita Indonesia.Hal itu terungkap dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tanggal 2
Desember 2008 di Jakarta. Distribusi Penyakit Diare Berdasarkan Orang (umur) Sekitar 80%
kematian diare tersebut terjadi pada anak dibawah usia 2 tahun. Data terakhir menunjukkan
bahwa dari sekitar 125 juta anak usia 0- 11 bulan, dan 450 juta anak usia 1-4 tahun yang
tinggal di negara berkembang, total episode diare pada balita sekitar 1,4 milyar kali pertahun.
dari jumlah tersebut total episode diare pada bayi usia di bawah 0-11 bulan sebanyak 475 juta
kali dan anak usia 1-4 tahun sekitar 925 juta kali pertahun.5

2.3 Etiologi

Di seluruh dunia, diare menyumbang lebih dari 2 juta kematian setiap tahunnya,
terutama yang mempengaruhi bayi dan anak-anak yang hidup dalam kemiskinan. episode
berkepanjangan diare menyebabkan kekurangan gizi, dan pada anak-anak, memberikan
kontribusi terhadap pertumbuhan terganggu dan keterlambatan perkembangan. Di Amerika
Serikat, lebih dari 5 juta kasus diare terjadi setiap tahun, sehingga diperkirakan 46.000 di
rawat inap dan 1.500 mengalami kematian. Infeksi diare disebabkan oleh konsumsi makanan
atau air yang terkontaminasi dengan mikroorganisme patogen (misalnya, bakteri,virus,
protozoa, atau jamur).7

Dari penyebab diare yang terbanyak adalah diare infeksi.5

Peradangan usus oleh agen penyebab :

1. Faktor infeksi

a. Infeksi enteral yaitu : Infeksi saluran pencernaan yang merupakan penyebab utama diare
pada anak, meliputi :

1)Infeksi bakteri : Vibrio, E.coli, Salmonella, Shigella, Champylobacter, Yersinia,


Aeromonas dan sebagainya.

2) Infeksi virus : Enterovirus, Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan sebagainya.

3) Infeksi parasit : Cacing (Ascaris,Trichiuris, Oxyuris, Strongyloides), Protozoa


(E.histolytica, Giardialamblia, Trichomonas hominis), jamur (C.albicans).

4
2. Faktor Malabsorbsi

a. Malabsorbsi Karbohidrat : disakarida (intoleransi laktosa, maltosa, dan sukrosa),


monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa, dan galaktosa).

b. Malabsorbsi lemak

c. Malabsorbsi protein

3. Faktor makanan : makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

2.4 Tanda dan Gejala

Adapun tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditimbulkan akibat diare : 8

Diare dengan dehidrasi ringan, dengan gejala sebagai berikut:

1. Frekuensi buang air besar 3 kali atau lebih dalam sehari


2. Keadaan umum baik dan sadar
3. Mata normal dan air mata ada
4. Mulut dan lidah basah
5. Tidak merasa haus dan bisa minum

Diare dengan dehidrasi sedang, kehilangan cairan sampai 5-10% dari berat badan, dengan
gejala sebagai berikut :

1. Frekuensi buang air besar lebih dari 3 kali sehari dan sering
2. Kadang-kadang muntah, terasa haus
3. Kencing sedikit, nafsu makan kurang
4. Aktivitas menurun
5. Mata cekung, mulut dan lidah kering
6. Gelisah dan mengantuk
7. Nadi lebih cepat dari normal, ubun-ubun cekung

Diare dengan dehidrasi berat, kehilangan cairan lebih dari 10% berat badan, dengan gejala:

1. Frekuensi buang air besar terus-menerus


2. Muntah lebih sering, terasa haus sekali
3. Tidak kencing, tidak ada nafsu makan
4. Sangat lemah sampai tidak sadar

5
5. Mata sangat cekung, mulut sangat kering
6. Nafas sangat cepat dan dalam
7. Nadi sangat cepat, lemah atau tidak teraba
8. Ubun-ubun sangat cekung
Pasien harus rawat inap.8

Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,


hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut.Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis metabolik
yang berlanjut. Seseorang yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan berkurang,
mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit menurun serta
suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air yang isotonik.9

Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam karbonat


berkurang mengakibatkan penurunan pH darah yang merangsang pusat pernapasan sehingga
frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan Kussmaul).Gangguan
kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan dengan tanda-tanda
denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai tidak terukur.Pasien mulai
gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang sianosis.Karena kekurangan kalium
pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.Penurunan tekanan darah akan
menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak
segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus ginjal akut yang berarti suatu keadaan
gagal ginjal akut.

2.5 Patofisiologi

Diare adalah kondisi ketidakseimbangan absorbsi dan sekresi air dan elektrolit.Terdapat 4
mekanisme patofisiologis yang mengganggu keseimbangan air elektrolit yang mengakibatkan
terjadinya diare,yaitu :

1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorbsi natrium atau
peningkatan sekresi klorida.
2. Perubahan motilitas usus.
3. Peningkatan osmolaritas luminal.
4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan.

6
Mekanisme tersebut sebagai dasar pengelompokan diare secara klinik,yaitu :

1. Secretory diarrhea, Diare sekterik disebabkan oleh sekresi air dan elektrolit ke dalam
usus halus yang terjadi akibat gangguan absorbs natrium oleh vilus saluran cerna,
sedangkan sekresi klorida tetap berlangsung atau meningkat. Keadaan ini
menyebabkan air dan elektrolit keluar dari tubuh sebagai tinja cair. Diare sekretorik
ditemukan diare yang disebabkan oleh infeksi bakteri akbat rangsangan pada mukosa
usus halus oleh toksin E.coli atau V. cholera.01.10
2. Osmotic diarrhea,disebabkan oleh absorbsi zat-zat yang mempertahankan cairan
intestinal.4
Mukosa usus halus adalah epitel berpori, yang dapat dilalui oleh air dan
elektrolit dengan cepat untuk mempertahankan tekanan osmotik antara lumen usus
dengan cairan ekstrasel. Adanya bahan yang tidak diserap, menyebabkan bahan
intraluminal pada usus halus bagian proksimal tersebut bersifat hipertoni dan
menyebabkan hiperosmolaritas. Akibat perbedaan tekanan osmose antara lumen usus
dan darah maka pada segmen usus jejunum yang bersifat permeable, air akan mengalir
kea rah jejunum, sehingga akan banyak terkumpul air dalam lumen usus. Na akan
mengikuti masuk ke dalam lumen, dengan demikian akan terkumpul cairan
intraluminal yang besar dengan kadar Na normal. Sebagian kecil cairan ini akan
dibawa kembali, akan tetapi lainya akan tetap tinggal di lumen oleh karena ada bahan
yang tidak dapat diserap seperti Mg, glukosa, sucrose, lactose, maltose di segmen
ileum dan melebihi kemampuan absorbs kolon, sehinga terjadi diare. Bahan-bahan
seperti karbohidrat dan jus buah, atau bahan yang mengandung sorbitol dalam jumlah
berlabihan akan memberikan dampak yang sama.11
3. Exudative diarrhea,disebabkan oleh penyakit infeksi saluran pencernaan yang
mengeluarkan mukus,protein atau darah ke dalam saluran pencernaan. Inflamasi akan
mengakibatkan kerusakan mukosa baik usus halus maupun usus besar. Inflamasi dan
eksudasi dapat terjadi akibat infeksi bakteri atau bersifat non infeksi seperti gluten
sensitive enteropathy, inflamatory bowel disease (IBD) atau akibat radiasi.4
4. Motilitas usus dapat berubah dengan pengurangan waktu kontak di usus
halus,pengosongan usus besar yang prematur dan pertumbuhan bakteri yang
berlebihan.4

7
2.6 Obat

Tujuan terapi pada pengobatan diare adalah 4

a) Untuk mengatur diare


b) Mencegah pengeluaran air berlebihan,elektrolit,dan gangguan asam basa
c) Menyembuhkan gejala
d) Mengatasi penyebab diare
e) Mengatur gangguan sekunder yang menyebabkan diare

2.6.1 Terapi farmakologi

Obat-obat yang digunakan dalam pengelolaan diare,dikelompokkan menjadi beberapa


kategori yaitu antimotilitas,adsorben,antisekresi,antibiotik,enzim dan mikroflora usus4

a) Antimotilitas : Difenoksilat,Loperamide,Paregoric,Tinctur Opium,Difenoxin.


b) Adsorben : Kaolin pektin,Polikarbofil,Attapulgit.
c) Antisekresi : Bismut subsalisilat,Enzim(laktase),Lactobacillus.
d) Oktreotid

Antimotilitas
Pada golongan ini adalah opiat dan turunannya, yang bekerja dengan menunda
perpindahan intraluminal atau meningkatkan kapasitas usus, memperpanjang kontak dan
absorbsi. Sebagian besar opiat bekerja melalui mekanisme perifer dan sentral, kecuali
loperamid hanya perifer. Loperamid menghambat calcium-binding protein calmodulin, yang
mengatur pengeluaran klorida. Loperamid disarankan untuk mengatasi diare akut dan kronis.
Jika digunakan secara tepat, obat ini tidak menimbulkan efek samping sperti pusing dan
konstipasi. Golongan opiat yang lain adalah diphenoxylate yang dapat menimbulkan
atropinism seperti pandangan kabur, mulut kering dan retensi urin. Kedua obat ini tidak
digunakan pada pasien yang memiliki resiko bacterial enteritis E. coli, Shigella, atau
Salmonella. 12
Loperamid
Loperamid merupakan opioid agonist sintetis yang memiliki efek antidiare dengan
menstimulasi reseptor mikro-opioid yang berada pada otot sirkular usus. Hal ini menyebabkan
melambatnya motilitas usus, meningkatkan absorbsi elektrolit dan air melalui usus. Stimulasi
pada reseptor tersebut juga menurunkan sekresi pada saluran cerna, yang berkontribusi pada
efek antidiare. Selain itu, terdapat mekanisme lain, yaitu gangguan terhadap mekanisme

8
kolinergik dan nonkolinergik yang terlibat dalam regulasi peristaltik, penghambatan
calmodulin dan inhibisi voltage-dependent calcium channels. Efek terhadap calmodulin dan
calcium channel ini yang berkontribusi dalam efek antiskretori. Loperamid 50 kali lipat lebih
poten dibandingkan morfin dan 2-3 kali lebih poten dibandingkan diphenoxylate dalam
efeknya terhadap motilitas saluran cerna. Loperamid tidak memiliki efek terhadap SSP karena
penetrasinya kurang baik.
Loperamid digunakan sebagai terapi simptomatik diare akut dan nonspesifik. Efek
terapinya meliputi penurunanan volume feses harian, meningkatkan viskositas, bulk volume,
dan mengurangi kehilangan cariran dan elektrolit. Loperamid tidak disarankan untuk anak
kurang dari 6 tahun karena akan meningkatkan efek samping seperti ileus dan toxic
megacolon. Dosis untuk dewasa adala 4 mg per oral, diikuti dengan 2 mg setiap setelah buang
air , sampai dengan 16 mg per hari.
Efek samping yang jarang timbul antara lain, pusing, konstipasi, nyeri abdominal,
mual, muntah, mulut kering, lelah dan reaksi hipersensitif. Seperti dijelaskan sebelumnya,
loperamid tidak digunakan untuk mengatasi diare yang disebabkan oleh bakteri karena akan
memperparah diare, toxic megacolon atau ileus paralytic.12Produk Obat yang Mengandung
Loperamid 3
Imodium
Bahan aktif : Loperamid HCl 2 mg
Indikasi : Diare akut dan kronik
Dosis : Dosis awal 2 tablet,dilanjutkan 1 tablet tiap diare.
Kemasan : Tablet 2 mg ,10 x 10
Inamid
Bahan aktif : Loperamid HCl 2 mg
Indikasi : Terapi simptomatik untuk diare non spesifik akut dan kronik.
Dosis : Dewasa sehari 1 -2 tablet.
Kemasan : Dus 10 x 10
Anti sekretori
Bismut Subsalisilat

Senyawa bismuth tidak larut atau kelarutannya sangat rendah, toksisitas biasanya
tidak muncul jika digunakan pada periode terbatas. Penggunaan bismuth jangka panjang
secara sistemik tidak direkomendasikan. Mekanisme kerjanya dengan memproduksi
antisekretori dan efek antimikroba, juga memiliki efek antiinlflamasi. Biasanya diberikan
sebagai antidiare dan antasida lemah.12

9
Bismut salisilat diindikasikan untuk pengobatan gangguan pencernaan seperti
konstipasi, mual, nyeri abdomen, diare, termasuk travelers diare dan tidak diperbolehkan
pada pasien yang menderita penyakit akibat virus seperti campak atau influenza pada pasien
dengan umur dibawah 18 tahun.Dosis maksimum perhari adalah 4g .Bentuk sediaan bismuth
subsalisilat yang ada adalah tablet kunyah (262 mg), 262 mg/5 ml cairan, 524 mg/15ml
cairan. Bismut salisilat berinteraksi dengan salisilar, tetrasiklin dan anti koagulan, serta
memiliki efek samping tinnitus, mual dan muntah.12Produk yang mengandung bismut
subsalisilat antara lain3:

Diaryn (Konimex)
Bahan aktif : Bismut subsalisilat 262mg.
Indikasi : pengobatan diare tidak spesfik yang tidak terjadi pendarahan dan tidak
diketahui penyebabnya
Kemasan : Strip 4 tablet Rp. 1.540
New Sybarin (Kaliroto)
Bahan aktif : Bismuth Subsalisilat 125 mg
Indikasi : Pengobatan Diare
Dosis : Dewasa: 2-3 tablet setiap kali minum dosis tersebut diulang setiap
0,5-1 jam jika diperlukan paling banyak 8 kali sehari
Kemasan : Dos 10 x 10 Tablet

Adsorben

Adsorben merupakan kelompok obat yang umumnya digunakan pada terapi


simptomatik pada diare, yang mekanisme kerjanya tidak spesifik, adsorbsi meliputi nutrisi,
toksin, obat dan digestive juice12.Adsorben meliputi attapulgit, kaolin dan pektin 14
.
Mekanisme adsorben yaitu dengan mengadsorbsi toksin mikroba dan mikroorganisme pada
permukaannya. Adsorben tidak diabsorbsi oleh saluran cerna, toksin mikroba dan
mikroorganisme langsung dikeluarkan bersama feses. Beberapa polimer organik hidrofilik
adsorben, mengikat air pada usus halus sehingga menyebabkan pembentukan feses yang lebih
padat. Adsorbsi bersifat tidak selektif sehingga diperlukan perhatian khusus pada pasien yang
mengkonsumsi obat lain karena absorbsinya dapat terganggu .Contoh adsorben, antara lain3 :

a. Attapulgite
Contoh :
Biodiar : mengandung attapulgit koloidal teraktifasi 630 mg

10
New Diatab : mengandung attapulgit aktif
Teradi : mengandung attapulgit 600 mg
b. Kaolin-pektin
Contoh :
Envois-FB : per 5 mL mengandung kaolin 1000mg dan pektin 40 mg
Neo Diaform : mengandung kaolin 550 mg, pektin 20 mg
Neo Kacitin : mengandung kaolin 700 mg, pektin 50 mg
Neo Kaolana : per 15 ml mengandung kaolin 700 mg, pektin 66 mg
Oppidiar sirup : mengandung kaolin 986 mg, pektin 22 mg
c. Activated charcoal
Contoh :
1. Bekarbon : mengandung activated charcoal 250 mg

Probiotik

Probiotik, termasuk beberapa spesies Lactobacillus, Bifidobacteria lactis dan


Saccharomyces boulardii umum digunakan untuk management atau pencegahan diare akut.
Lactobacillus meningkatkan sistem imun, menghasilkan substansi antimikroba dan
berkompetisi dengan bakteri terhadap binding site pada mukosa usus 14. Sediaan Lactobacillus
yang mengandung bakteri atau yeast seperti bakteri asam laktat merupakan suplemen harian
yang digunakan sebagai pengganti microflora kolon.Memperbaiki fungsi intestinal normal
dan menekan pertumbuhan mikroorganisme patogen. Sediaan yang umum ada antara lain
susu, jus, air atau sereal12.Contoh sediaannya antara lain3:

2. Lactodia (Indofarma)
Komposisi: Lactobacillus acidophilus 1X1010 cfu / g, Bifidobacterium longum
1X1010 cfu / g, Streptococcus thermophilus 1X1010 cfu / g, Krim sayuran bubuk,
Glukosa, Fructo-oligo-saccharide, Bubuk stroberi (5,1%), Perisa Stroberi, Vitamin C,
Vitamin B3 (Niasin), Konsentrat mineral susu, Seng oksida, Sukrosa, Vitamin B1,
Vitamin B2, Vitamin B6
3. Yakult (Yakult Indonesia Persada)
Komposisi : L. casei Shirota strain, susu skim, glukosa, sukrosa

Enzim Laktase

11
Produk enzim laktase sangat membantu bagi pasien yang mengalami diare sekunder
akibat lactose intolerance. Laktase diperlukan untuk pencernaan karbohidrat. Jika tidak
memiliki enzim ini, konsumsi produk susu dapat menyebabkan diare osmotik. Produk ini
digunakan setiap kali mengkonsumsi produk susu seperti susu dan es krim12.

Zinc

Penggunaan suplemen zinc harian pada anak-anak dengan diare akut dapat
mengurangi pengeluaran feses, frekuensi feses berair, dan durasi serta keparahan diare.
Ditujukan untuk yang mengalami defisiensi zinc yang diakibatkan gangguan imunitas selular
dan humoral yang menyebabkan pada GIT terjadi gangguan absorbsi air dan elektrolit,
meningkatkan sekresi sebagai respon terhadap endotoksin bakteri, dan menurunnya enzim
brush border14. Contoh sediaan suplemen zinc adalah 3

4. Zn- Diar (Hexpharm Jaya)


Komposisi : Seng sulfat monohidrat 54,9 mg yang setara dengan mineral seng 20
mg/ tablet dispersibel
Indikasi : Diare akut non spesifik pada anak-anak
Dosis : Bayi (2-6 bulan) tab sehari 1 x selama 10 hari ,Anak(6 bln- 5 thn) 1
tab sehari 1 x selama 10 hari
Kemasan : Dus 10 x 10 tab 20 mg.

Okreotid

Okreotid merupakan analog peptida somastostatin yang efektif menghambat diare


sekretori parah yang disebabkan oleh tumor pensekresi hormon pada pankreas dan saluran GI.
Mekanisme kerja obat ini tampaknya melibatkan penghambatan skresi hormon,termasuk
serotonin dan beberapa peptoda GI. Okreotid telah digunakan dengan tingkat keberhasilan
yang beragam,pada bentuk diare sekretori lainnya ,seperti diare yang di induksi oleh
kemoterapi ,diare yang berhubungan dengan HIV dan diare yang berhubungan dengan
diabetes 15.

2.6.2 Terapi Non Farmakologi

Fluid and Electrolyte Management


Dapat dilakukan dengan cara pemberian oral rehidration atau memperbanyak intake
cairan seperti air mineral, sup atau jus buah, dengan tujuan untuk mengembalikan komposisi
cairan dan elektrolit tubuh yang sebelumnya mengalami dehidrasi akibat diare 14.

12
Oral rehydration solution (ORS) atau oralit digunakan pada kasus diare ringan sampai
sedang. Rehidrasi dengan menggunakan ORS harus dilakukan secepatnya yaitu 3-4 jam untuk
menggantikan cairan serta elektrolit yang hilang selama diare untuk mencegah adanya
dehidrasi. Cara kerja dari ORS adalah dengan menggantikan cairan serta elektrolit tubuh yang
hilang karena diare dan muntah, namun ORS tidak untukmengobati gejala diare14.
ORS mengandung beberapa komponen yaitu Natrium dan kalium yang berfungsi
sebagai pengganti ion essensial, sitrat atau bicarbonate yang berfungsi untuk memperbaiki
keseimbangan asam basa tubuh serta glukosa digunakan sebagai sebagai carrier pada transport
ion natrium dan air untuk melewati mukosa pada usus halus.Komposisi ORS yang
direkomendasikan oleh WHO yaitu adalah komponen natrium 75 mmol/L dan glukosa 200
mmol/L
Dalam 1 sachet ORS serbuk harus dilarutkan dengan menggunakan 200mL air.
Penting sekali untuk membuat larutan ORS sesuai dengan volume yang direkomendasikan,
sebab apabila terlalu pekat konsentrasinya, maka larutan akan mengalami hiperosmolar, dan
dapat menyebabkan penarikan air pada usus halus sehingga dapat memperparah diarenya.
Larutan ORS yang telah dilarutkan tersebut sebaiknya digunakan tidak lebih dari 24 jam dan
disimpan di dalam lemari es. Dosis ORS yang direkomendasikan untuk orang dewasa adalah
200-400 mL diminum tiap setelah buang air besar, atau 2-4 liter selama 4-6 jam
(Nathan,2010).
Cara membuat Oralit (Kementrian Kesehatan R.I, 2011) :
1. Cuci tangan dengan sabun dan bilas dengan air hingga bersih
2. Sediakan 1 gelas air minum (200 mL)
3. Pastikan oralit dalam keadaan bubuk kering
4. Masukkan 1 bungkus oralit ke dalam air minum di gelas
5. Aduk cairan oralit sampai larut
6. Larutan oralit jangan disimpan lebih dari 24 jam
2.7 Algoritma Terapi dan Manajemen Penyakit

13
Gambar 1. Algoritma terapi diare akut 16

Tujuan pengobatan diatas dapat dicapai dengan cara mengikuti rencana terapi yang
sesuai, seperti yang tertera dibawah ini 18 :

1. Rencana terapi A : penanganan diare di rumah

Jelaskan kepada ibu tentang 4 aturan perawatan di rumah:

Beri cairan tambahan (sebanyak anak mau)

Jelaskan pada ibu:

- pada bayi muda, pemberian ASI merupakan pemberian cairan tambahan yang
utama. Beri ASI lebih sering dan lebih lama pada setiap kali pemberian.

- jika anak memeperoleh ASI eksklusif, beri oralit, atau air matang sebagai
tambahan

- jika anak tidak memperoleh ASI eksklusif, beri 1 atau lebih cairan berikut ini:
oralit, cairan makanan(kuah sayur, air tajin) atau air matang

Anak harus diberi larutan oralit dirumah jika:

- anak telah diobati dengan rencana terapi B atau dalam kunjungan

- anak tidak dapat kembali ke klinik jika diarenya bertambah berat

Ajari pada ibu cara mencampur dan memberikan oralit. Beri ibu 6 bungkus oralit
(200ml) untuk digunakan dirumah. Tunjukan pada ibu berapa banyak cairan
termasuk oralit yang harus diberikan sebagai tambahan bagi kebutuhan cairanya
sehari-hari:

14
- <2 tahun: 50 sampai 100 ml setiap kali BAB

- >2 tahun : 100 samapai 200 ml setiap kali BAB

Katakan pada ibu

- agar meminumkan sedikit-sedikit tetapi sering dari mangkuk/ cangkir/gelas

- jika anak muntah, tunggu 10 menit. kemudia lanjutkan lagi dengan lebih
lambat.

- lanjutkan pemberian cairan tambahan sampai diare berhenti.

Beri tablet Zinc

Pada anak berumur 2 bulan keatas, beri tablet zinc selama 10 hari dengan dosis :

- umur <6 bulan : tablet (10 mg) perhari

- umur >6 bulan : 1 tablet (20 mg) perhari

Lanjutkan pemeberian makanan

Kapan harus kembali

2. Rencana terapi B

Penanganan dehidrasi sedang/ ringan dengan oralit. Beri oralit di klinik sesuai yang
dianjurkan selama periode 3 jam.

Usia <4 bulan 4-11 bulan 12-23 bulan 5-4 tahun 5-14tahun >15 tahun

Berat badan <5 kg 5-7,9 kg 8-10,9 kg 11-15,9 kg 16-29,9 kg >30 kg

Jumlah (ml) 200-400 400-600 600-800 800-1200 1200-2200 2200-4000

Jumlah oralit yang diperlukan 75 ml/kgBB. Kemudian setelah 3 jam ulangi penilaian
dan klasifikasikan kemabali derajat dehidrasinya, dan pilih rencana terapi yang sesuai untuk
melanjutkan pengobatan. Jika ibu memaksa pulang sebelum pengobatan selesai tunjukan
cara menyiapkan oralit di rumah, tunjukan berapa banyak larutan oralit yang harus
diberikan dirumah untuk menyelesaikan 3 jam pertama. Beri bungkus oralit yang cukup
untuk rehidrasi dengan menambah 6 bungkus lagi sesuai yang dainjurkan dalam rencana
terapi A. Jika anak menginginkan oralit lebih banyak dari pedoman diatas, berikan sesuai

15
kehilangan cairan yang sedang berlangsung. Untuk anak berumur kurang dari 6 bulan yang
tidak menyusu, beri juga 100-200 ml air matang selama periode ini. Mulailah member
makan segera setelah anak ingin amkan. Lanjutkan pemberian ASI. Tunjukan pada ibu cara
memberikan larutan oralit. berikan tablet zinc selama 10 hari.

3. Rencana terapi C (penanganan dehidrasi berat dengan cepat)

Beri cairan intravena secepatnya. Jika anak bisa minum, beri oralit melalui mulut,
sementara infuse disiapkan. Beri 100 ml/kgBB cairan ringer laktat atau ringer asetat (atau jika
tak tersedia, gunakan larutan NaCl)yang dibagi sebagai berikut.

Umur Pemberian pertama 30ml/kgBB Pemebrian berikut 70ml/kgBB


selama selama
Bayi (bibawah umur12 bulan) 1 jam* 5 jam

Anak (12 bulan sampai 5 30 menit* 2 jam


tahun)

*ulangi sekali lagi jika denyut nadi sangat lemah atau tidak teraba

Periksa kembali anak setiap 15-30 menit. Jika status hidrasi belum membaik, beri tetesan
intravena lebih cepat. Juga beri oralit (kira-kira 5ml/kgBB/jam) segera setelah anak mau
minum, biasanya sesudah 3-4 jam (bayi) atau 1-2 jam (anak) dan beri anak tablet zinc sesuai
dosis dan jadwal yang dianjurkan. Periksa kembali bayi sesudah 6 jam atau anak sesudah 3
jam (klasifikasikan dehidrasi), kemudian pilih rencana terapi) untuk melanjutkan penggunaan.

Prinsip pemberian terapi cairan pada gangguan cairan dan elektrolit ditujukan untuk
memberikan pada penderita:

1. Kebutuhan akan rumatan (maintenance) dari cairan dan elektrolit

2. Mengganti cairan kehilangan yang terjadi

3. Mencukupi kehilangan abnormal dari cairan yang sedang berlangsung.

Pada diare CRO merupakan terapi cairan utama. CRO telah 25 tahun berperan dalam
menurunkan angka kematian bayi dan anak dibawah 5 tahun karena diare. WHO dan
UNICEF berusaha mengembangkan oralit yang sesuai dan lebih bermanfaat. Telah
dikembangkan oralt baru dengan osmolalitas lebih rendah. Keamanan oralit ini sama dengan
oralit yang lama, namun efektifitasnya lebih baik daripada oralit formula lama. Oralit baru

16
dengan low osmolalitas ini juga menurunkan kebutuhan suplementasi intravena dan mampu
mengurangi pengeluaran tinja hingga 20% serta mengurangi kejadian muntah hingga 30%.

Pengobatan dietetik

Memuasakan penderita diare (hanya member air teh) sudah tidak dilakukan lagi
karena akan memperbesar kemungkinan terjadinya hipoglikemia dan atau KKP. Sebagai
pegangan dalam melaksanakan pengobatan dietetic diapakai singkatan O-B-E-S-E, sebagai
singkatan Oralit, Breast feeding, Early Feeding, Simultaneously with Education.

Pemberian makanan harus diteruskan selama diare dan ditingkatkan setelah sembuh.
Tujuanya adalah memberikan makanan kaya nutrient sebanyak anak mampu menerima.
Sebagian besar anak dengan diare cair, nafsu makanya timbul kembali setelah dehidrasi
teratasi. Meneruskan pemberian makanan akan mempercepat kembalinya fungsi usus yang
normal termasuk kemampuan menerima dan mengabsorbsi berbagai nutrient, sehingga
memburuknya status gizi dapat dicegah atau paling tidak dikurangi. Sebaliknya, pembatasan
makanan akan menyebabkan penurunan berat badan sehingga diare menjadi lebih lama dan
kembalinya fungsi usus akan lebih lama. Makanan yang diberikan pada anak diare tergantung
kepada umur, makanan yang disukai dan pola makan sebelum sakit serta budaya setempat.
Pada umumnya makanan yang tepat untuk anak diare sama dengan yang dibutuhkan dengan
anak sehat. Bayi yang minum ASI harus diteruskan sesering mungkin dan selama anak mau.
Peranan ASI selain memberikan nutrisi yang terbaik, juga terdapat 0,05 SIgA/hari yang
berperan memberikan perlindungan terhadap kuman pathogen19. Bayi yang tidak minum ASI
harus diberi susu yang biasa diminum paling tidak setiap 3 jam. Pengenceran susu atau
penggunaan susu rendah atau bebas laktosa mungkin diperlukan untuk sementara bila
pemberian susu menyebabkan diare timbul kembali atau bertambah hebat sehingga terjadi
dehidrasi lagi, atau dibuktikan dengan pemeriksaan terdapat tinja yang asam (pH<6) dan
terdapat bahan yang mereduksi dalam tinja>0,5%. Setelah diare berhenti, pemberian tetap
dilanjutkan selama 2 hari kemudian coba kembali dengan susu atau formula biasanya
diminum secara bertahap selama 2-3 hari.19

Bila anak berumur 4 bulan atau lebih dan sudah mendapatkan makanan lunak atau
padat, makanan ini harus diteruskan. Paling tidak 50% dari energy diit harus berasal dari
makanan dan diberikan dalam porsi kecil atau sering (6kali atau lebih) dan anak dibujuk
untuk makan. Kombinasi susu formula dengan makanan tambahan seperti serealia pada
umunya dapat ditoleransi dengan baik pada anak yang telah disapih. Makanan padat memiliki

17
keuntungan, yakni memperlambat pengosongan lambung pada bayi yang minum ASI atau
susu formula, jadi memperkecil jumlah laktosa pada usus halus pr satuan waktu. Pemberian
makanan lebih sering dalam jumlah kecil juga memberikan keuntungan yang sama dalam
mencernakan laktosa dan penyerapanya. Pada anak yang lebih besar, dapat diberikan
makanan yang terdiri dari:makanan pokok setempat misalnya nasi, kentang, gandum, roti,
atau bakmi. Untuk meningkatkan kandungan energinya dapat ditambahkan 5-10 ml minyak
nabati untuk setiap 100ml makanan. Minyak kelapa sawit sangat bagus dikarenakan kaya
akan karoten. Campur makanan pokok tersebut dengan kacang-kacangan dan sayur-sayuran,
serta ditambahkan tahu,tempe, daing atau ikan. Sari buah segar atau pisang baik untuk
menambah kalium. Makanan yang berlemak atau makanan yang mengandung banyak gula
seperti sari buah manis yang diperdagangkan, minuman ringan, sebaiknya dihindari.

Pemberian makanan setelah diare

Meskipun anak diberi makanan sebanyak dia mau selama diare, beberapa kegagalan
pertumbuhan mungkin dapat terjadi teruatama bila terjadai anorexia hebat. Oleh karena itu
perlu pemberian ekstra makanan yang akan zat gizi beberapa minggu setelah sembuh untuk
memperbaiki kurang gizi dan untuk mencapai serta mempertahankan pertumbuhan yang
normal. Berikan ekstra makanan pada saat anak merasa lapar, pada keadaan semacam ini
biasanya anak dapat menghabiskan tambahan 50% atau lebih kalori dari biasanya.19

2.8 Monitoring dan Evaluasi

2.8.1Monitoring

Monitoring terhadap terapi dilakukan setelah penggunaan antibiotik habis, yaitu


dilakukan monitoring terhadap konsistensi tinja. Apabila terapi antibiotik tidak memberikan
respon maka dilakukan monitoring terhadap pemeriksaan kultur tinja, untuk mengetahui
bakteri yang menginfeksi, sehingga dapat digunakan antibiotik yang tepat dan spesifik.

Konsultasi, Informasi & Edukasi Pasien (KIE)

1. Memberikan informasi kepada pasien tentang obat yang harus diminum. Oralit
digunakan untuk mengganti cairan tubuh. Di minum 400 ml (2 sachet), diminum
setiap setelah BAB, sedangkan ciprofloxasin di gunakan untuk mengobati infeksi
penyebab diare, diminum 2x sehari 1 tablet (500 mg) sebelum makan, dalam keadaan
perut kosong. Makanan dapat mengurangi penyerapan ciprofloxacin. Ciprofloxacin
harus diminum sampai habis.

18
2. Memberikan informasi kepada pasien mengenai efek samping yang bisa muncul.
3. Menyarankan kepada pasien untuk mematuhi terapi non farmakologi guna menunjang
keberhasilan terapi.
4. Bila belum membaik konsultasikan ke dokter.
5. Memberitahukan kepada pasien cara pencegahan dan penatalaksanaan diare secara
tepat agar tidak terulang kembali

2.8.2 Evaluasi

Secara umum, langkah-langkah terapi diarahkan terhadap gejala, tanda, dan studi
laboratorium. Konstitusi gejala biasanya membaik dalam waktu 24 hingga 72 jam. Evaluasi
terhadap untuk perubahan frekuensi dan karakter buang air besar setiap hari dalam
hubungannya dengan tanda-tanda vital dan perbaikan nafsu makan adalah sangat penting.
Selain itu, dokter perlu memantau berat badan, osmolalitas serum, elektrolit serum, jumlah sel
darah, dan urine 17.

Untuk diare akut, dengan tidak adanya dehidrasi sedang hingga berat, demam tinggi,
dan darah atau lendir dalam tinja, penyakit ini biasanya sembuh dalam waktu 3 sampai 7 hari.
Diare akut yang ringan sampai sedang biasanya diobati secara rawat jalan dengan rehidrasi
oral, pengobatan simtomatik, dan diet. Orang-orang tua dengan penyakit kronis dan bayi
mungkin memerlukan rawat inap untuk rehidrasi parenteral dan monitoring yang ketat.

Untuk diare kronis, dalam situasi yang mendesak, pemulihan status volume pasien
adalah hasil yang paling penting. Pasien dengan demam dehidrasi, hematochezia, atau
hipotensi memerlukan rawat inap, infus cairan elektrolit, dan terapi antibiotik sambil
menunggu hasil kultur dan sensitivitas. Dengan manajemen yang tepat waktu, pasien biasanya
dapat sembuh dalam beberapa hari 16.

19
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Diare adalah defekasi encer lebih dari 3 kali sehari dengan atau tanpa darah atau
lendir dalam tinja akibat imflamasi mukosa lambung atau usus sehingga terjadi kehilangan
cairan dan elektrolit secara berlebihan.Sebagai akibat dari berkurangnya absorpsi cairan dan
elektrolit di usus besar, maka muncul beberapa masalah keperawatan dari diare ini,
diantaranya adalah adanya gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit.Dari masalah
tersebut, dipilih beberapa tindakan penatalaksanaan, diantaranya penggunaan :

a. Oral rehydration solution (ORS) atau oralit


b. Antimotilitas : Difenoksilat,Loperamide,Paregoric,Tinctur Opium,Difenoxin.
c. Adsorben : Kaolin pektin,Polikarbofil,Attapulgit.
d. Antisekresi : Bismut subsalisilat,Enzim(laktase),Lactobacillus.
e. Oktreotid
3.2 Saran

Dengan melihat pembahasan dan mengetahui dampak dari pada diare tersebut .Oleh
karena itu, kita berharap dengan agar masyarakat lebih sadardan memahami tentang masalah
kebersihan dan penangannan dini terhadap diare .

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Wandansari AP.Kualitas Sumber Air Minum dan Pemanfaatan Jamban Keluarga


dengan Kejadian Diare. Jurnal Kesehatan Masyarakat.2013 Juli ;(1): 24-29
2. Zein U.,Sagala KH.,Ginting J. Diare Akut Disebabkan Bakteri. e-USU
Repository.2004;(4):1-15
3. ISO (Informasi Spesialite Obat Indonesia. Jakarta:Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia.
2014/2015 Hal. 421-425.
4. Adnyana, I. K., Andrajati, R., Setiadi, A. P., Sigit, J. I., Sukandar, E. Y.ISO
Farmakoterapi.Jakarta.PT. ISFI Penerbitan .2013
5. Wulandari AS. Hubungan Kasus Diare dengan Faktor Sosial Ekonomi dan
Perilaku.2010 .(http://elib.fk.uwks.ac.id.Atik Sri Wulandari.pdf// diakses pada tanggal
02 Desember 2016)
6. Hanif et al. Faktor Risiko Diare Akut pada Balita. Berita Kedokteran Masyarakat.2011
Maret;(27);10-17
7. Koda Kimble, M.A.,. Infectious Diarrhea,10th ed dalam: Itokazu, G.S. (Ed.), Applied
Therapeutics The Clinical Use of Drugs. Philadephia: Lippincott Williams & Wilkins
2009.1559.
8. Ardhani P. Art of Theraphy: Ilmu Penyakit Anak.Jogjakarta: Pustaka Cendekia Press
2008
9. Behrman Richard et all , Nelson textbook of Pediatrics, Phyladelpia:Sanders.2009.
10. Gaurino et al. European Society for Pediatric Gastroenterology, Hepatology and
Nutrition/European Society for Paediatric Infectious disease Evidenced Based
Guidelines for Management of Acute Gastroenteritis in Children in Europe. Journal of
Pediatric Gastroenterology and Nutrition 46: S81-184.2008.
11. Subagyo B dan Santoso NB. Diare akut dalam Buku Ajar Gastroenterologi-
Hepatologi Jilid 1, Edisi 1. Jakarta: Badan penerbit UKK Gastroenterologi-Hepatologi
IDAI. 2010:87-110
12. Spruill W. J., Wade W. E.,. Diarrhea, Constipation, and Irritable, in Dipiro, T., (eds)
Pharmacotheraphy a Phathophysiologic Approach. New York: The McGraw-Hill
Companies. 2008

21
13. Mona A.C.U., Jeanette M Ch.,Wilar R.Gambaran Gejala dan Tanda Klinik Diare Akut
pada Anak karena Blastocystis Hominis. Jurnal e-Clinic (eCl),2015 Januari-
April.(3);1-7
14. Berardi, R.R., et al. Handbook of Nonprescription Drugs : An Interactive Approach to
Self Care 16th Edition. Washington DC : American Pharmascist Association.2009
15. Goodman dan Gilman.Dasar Farmakologi Terapi, Edisi 10, Vol.2, 48: 1247-1253,
Diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB.Penerbit Buku
Kedokteran. 2007
16. Dipiro, Joseph T. Robert L. Talbert, Gary C. Yee, Gary R. Matzke, Barbara G. Wells,
L. Michael Posey.Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, Sixth Edition. The
McGraw-Hill Companies, Inc. the United States of America. 2005.
17. 17. Burns, Marie A. Chisholm, Barbara G.Wells, Terry L. Schwinghammer, Patrick
M. Malone, Jill M. Kolesar, John C. Rotschafer, Joseph T. Dipiro. 2008.
Pharmacotherapy Principles and Practice. The McGraw-Hill Companies : United
States of America
18. WHO. Diare dalam Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Pedoman
Bagi Rumah Sakit Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten Kota. Jakarta: WHO
Indonesia.2009.
19. Suandi IKG. Manajemen nutrisi pada gastroenteritis dalam Kapita Selekta
Gastroenterologi Anak. Jakarta: Sagung Seto. 2007:84-100.

22