Anda di halaman 1dari 19

STANDAR PROSEDUR OPERASIONAL

ASUHAN KEPERAWATAN MANAJEMEN NYERI

A. Konsep Kenyamanan (Pengertian Nyeri)

Nyeri didefinisikan sebagai suatu keadaan yang mempengaruhi


seseorang dan ekstensinya diketahui bila seseorang pernah mengalaminya
(Tamsuri, 2007).
Menurut International Association for Study of Pain (IASP), nyeri
adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak menyenangkan yang
didapat terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.
Teori Specificity suggest menyatakan bahwa nyeri adalah sensori
spesifik yang muncul karena adanya injury dan informasi ini didapat
melalui sistem saraf perifer dan sentral melalui reseptor nyeri di saraf nyeri
perifer dan spesifik di spinal cord.

B. Sifat-Sifat Nyeri
1. Nyeri melelahkan dan membutuhkan banyak energy
2. Nyeri bersifat subyektif dan individual
3. Nyeri tak dapat dinilai secara objektif seperti sinar X atau lab darah
4. Perawat hanya dapat mengkaji nyeri pasien dengan melihat
perubahan fisiologis tingkah laku dan dari pernyataan klien
5. Hanya klien yang mengetahui kapan nyeri timbul dan seperti apa
rasanya
6. Nyeri merupakan mekanisme pertahanan fisiologis
7. Nyeri merupakan tanda peringatan adanya kerusakan jaringan
8. Nyeri mengawali ketidakmampuan
9. Persepsi yang salah tentang nyeri menyebabkan manajemen nyeri
jadi tidak optimal

Secara ringkas, Mahon mengemukakan atribut nyeri sebagai berikut :


1. Nyeri bersifat individu
2. Nyeri tidak menyenangkan
3. Merupakan suatu kekuatan yg mendominasi
4. Bersifat tidak berkesudahan

C. Reflek Nyeri
Banyak teori berusaha untuk menjelaskan dasar neurologis dari
nyeri, meskipun tidak ada satu teori yang menjelaskan secara sempurna
bagaimana nyeri ditransmisikan atau diserap.
1. Transduksi adalah proses dimana stimulus noksius aktivitas
elektrik reseptor terkait.
2. Transmisi, dalam proses ini terlibat tiga komponen saraf yaitu
saraf sensorik perifer yang meneruskan impuls ke medulla
spinalis, kemudian jaringan saraf yang meneruskan impuls
yang menuju ke atas (ascendens), dari medulla spinalis ke
batang otak dan thalamus. Yang terakhir hubungan timbal balik
antara thalamus dan cortex.
3. Modulasi yaitu aktivitas saraf utk mengontrol transmisi nyeri.
Suatu jaras tertentu telah diteruskan di sistem saran pusat yang
secara selektif menghambat transmisi nyeri di medulla spinalis.
4. Persepsi adalah proses impuls nyeri yang ditransmisikan
hingga menimbulkan perasaan subyektif dari nyeri sama sekali
belum jelas. bahkan struktur otak yang menimbulkan persepsi
tersebut juga tidak jelas.

Berdasarkan letaknya, nosireseptor dapat dikelompokkan dalam


beberapa bagaian tubuh yaitu pada kulit (Kutaneus), somatik dalam (deep
somatic), dan pada daerah viseral, karena letaknya yang berbeda-beda
inilah, nyeri yang timbul juga memiliki sensasi yang berbeda.

Nosireceptor kutaneus berasal dari kulit dan sub kutan, nyeri yang
berasal dari daerah ini biasanya mudah untuk dialokasi dan didefinisikan.
Reseptor jaringan kulit (kutaneus) terbagi dalam dua komponen yaitu :
a) Reseptor A delta
Merupakan serabut komponen cepat (kecepatan tranmisi 6-
30 m/det) yang memungkinkan timbulnya nyeri tajam yang
akan cepat hilang apabila penyebab nyeri dihilangkan.

b) Serabut C
Merupakan serabut komponen lambat (kecepatan tranmisi
0,5 m/det) yang terdapat pada daerah yang lebih dalam, nyeri
biasanya bersifat tumpul dan sulit dilokalisasi.

D. Faktor yang Mempengaruhi Nyeri


1. Usia
Anak belum bisa mengungkapkan nyeri, sehingga perawat harus
mengkaji respon nyeri pada anak. Pada orang dewasa kadang
melaporkan nyeri jika sudah patologis dan mengalami kerusakan
fungsi. Pada lansia cenderung memendam nyeri yang dialami, karena
mereka mengangnggap nyeri adalah hal alamiah yang harus dijalani
dan mereka takut kalau mengalami penyakit berat atau meninggal jika
nyeri diperiksakan.

2. Jenis kelamin
Gill (1990) mengungkapkan laki-laki dan wnita tidak berbeda
secara signifikan dalam merespon nyeri, justru lebih dipengaruhi
faktor budaya (ex: tidak pantas kalo laki-laki mengeluh nyeri, wanita
boleh mengeluh nyeri).

3. Kultur
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka
berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut
kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena
mereka melakukan kesalahan, jadi mereka tidak mengeluh jika ada
nyeri.

4. Makna nyeri
Berhubungan dengan bagaimana pengalaman seseorang terhadap
nyeri dan dan bagaimana mengatasinya.

5. Perhatian
Tingkat seorang klien memfokuskan perhatiannya pada nyeri dapat
mempengaruhi persepsi nyeri. Menurut Gill (1990), perhatian yang
meningkat dihubungkan dengan nyeri yang meningkat, sedangkan
upaya distraksi dihubungkan dengan respon nyeri yang menurun.
Tehnik relaksasi, guided imagery merupakan tehnik untuk mengatasi
nyeri.

6. Ansietas
Cemas meningkatkan persepsi terhadap nyeri dan nyeri bisa
menyebabkan seseorang cemas.

7. Pengalaman masa lalu


Seseorang yang pernah berhasil mengatasi nyeri dimasa lampau,
dan saat ini nyeri yang sama timbul, maka ia akan lebih mudah
mengatasi nyerinya. Mudah tidaknya seseorang mengatasi nyeri
tergantung pengalaman di masa lalu dalam mengatasi nyeri.

8. Pola koping
Pola koping adaptif akan mempermudah seseorang mengatasi nyeri
dan sebaliknya pola koping yang maladaptive akan menyulitkan
seseorang mengatasi nyeri.

9. Support keluarga dan social


Individu yang mengalami nyeri seringkali bergantung kepada
anggota keluarga atau teman dekat untuk memperoleh dukungan dan
perlindungan

E. Intensitas Nyeri
Intensitas nyeri adalah gambaran tentang seberapa parah nyeri
dirasakan oleh individu, pengukuran intensitas nyeri sangat subjektif dan
individual dan kemungkinan nyeri dalam intensitas yang sama dirasakan
sangat berbeda oleh dua orang yang berbeda oleh dua orang yang berbeda.
Menurut smeltzer, S.C bare B.G (2002) adalah sebagai berikut :
1) Skala intensitas nyeri deskritif
2) Skala identitas nyeri numeric
3) Skala analog visual
4) Skala nyeri menurut bourbanis

Keterangan :

a) Nilai 0 nyeri tidak dirasakan


b) Nilai 1 nyeri dirasakan sedikit saja
c) Nilai 2 nyeri dirasakan hilang timbul
d) Nilai 3 nyeri yang dirasakan anak lebih banyak
e) Nilai 4 nyeri yang dirasakan anak secara keseluruhan
f) Nilai 5 nyeri sekali dan anak menjadi menangis

F. Komponen Nyeri
Untuk memudahkan memahami fisiologi nyeri, maka perlu
mempelajari 3 (tiga) komponen fisiologis berikut ini:
Resepsi: proses perjalanan nyeri
Persepsi: kesadaran seseorang terhadap nyeri
Reaksi : respon fisiologis & perilaku setelah mempersepsikan nyeri

G. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate Control Theory

Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) mengusulkan


bahwa impuls nyeri dapat diatur atau dihambat oleh mekanisme
pertahanan di sepanjang sistem saraf pusat. Teori ini mengatakan bahwa
impuls nyeri dihantarkan saat sebuah pertahanan dibuka dan impuls
dihambat saat sebuah pertahanan tertutup. Upaya menutup pertahanan
tersebut merupakan dasar teori menghilangkan nyeri.
Gate control theory :
Menjelaskan tentang transmisi nyeri
Transmisi impuls nyeri dapat dikendalikan dengan pintu
gerbang (gate mekanism) dimana saat terbuka impuls dapat
transmisi
Tetapi bila sebagian / seluruhnya tertutup, transmisi
dihambat sebagian / seluruhnya

H. Jenis Nyeri

1. Nyeri akut
Nyeri yang terjadi segera setelah tubuh terkena cidera, atau
intervensi bedah dan memiliki awitan yan cepat, dengan intensitas
bervariasi dari berat sampai ringan. Fungsi nyeri ini adalah sebagai
pemberi peringatan akan adanya cidera atau penyakit yang akan
datang.

2. Nyeri kronik
Nyeri konstan atau intermiten yang menetap sepanjang suatu
periode tertentu, berlangsung lama, intensitas bervariasi, dan biasanya
berlangsung lebih dari enam bulan. Nyeri ini disebabkan oleh kanker
yang tidak terkontrol, karena pengobatan kanker tersebut atau karena
gangguan progresif lain. Nyeri ini bisa berlangsung terus sampai
kematian.

STANDAR OPERASIONAL PENANGANAN NYERI

1. DISTRAKSI
a. Pengertian
Suatu metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara
mengalihkan perhatian klien pada hal-hal lain sehingga klien akan
lupa terhadap nyeri yang dialami.
Tipe Distraksi
1) Distraksi visual
- Membaca/ menonton TV
- Menonton pertandingan
- Imajinasi terbimbing
2) Distraksi Auditori
- Humor
- Mendengar music
3) Distraksi Taktil
- Bernapas perlahan & berirama
- Masase
- Memegang mainan
4) Distraksi Intelektual
- Teka teki silang
- Permainan kartu
- Hobi (menulis cerita)

b. Tujuan : Untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri pada


pasien
c. Indikasi : Dilakukan pada pasiendengan gangguan nyeri kronis

d. Prosedur pelaksanaan :
Tahap prainteraksi
a) Membaca status pasien
b) Mencuci tangan
c) Menyiapkan peralatan
Tahap orientasi
a) Menmberikan salam kepada pasien
b) Validasi kondisi pasien
c) Kontrak waktu
d) Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan pada
pasien dan keluarga
Tahap kerja
a) Berikan kesempatan pada pasien untuk bertanya jika kurang
jelas
b) Tanyakan keluhan pasien
c) Menjaga privacy pasien
d) Memuli dengan cara yang baik
e) Mengatur posisi pasien agar rileks tanap beban fisik
f) Menberikan penjelasan pada pasien beberapa cara distrasi
g) Bernafas pelan-pelan
h) Massage sambilbernafas pelan-pelan
i) Mendengarkan lagu sambil, menepuk-nepuk jari kaki
j) Menbanyangkan hal-hal yang indah sambil menutup mata
k) Menonton TV
l) Berbincang-bincang dengan orang lain
m) Menganjurkan pasien untuk melakukan salah satu teknik
distraksi tersebut
n) Menganjurkan pasien untuk mencoba teknik tersebut bila
terasa nyaman atau ketidak nyamanan
Tahap terminasi
a) Evaluasi hasil kegiatan
b) Lakukan kontrak waktu untuk kegiatan selanjutnya
c) Akhiri kegiatan dengan baik
d) Cuci tangan
Dokumentasi
a) Catat waktu pelaksanaan tindakan
b) Catat respon pasien terhadap teknik distraksi
c) Paraf dan nama perawat jaga.

2. RELAKSASI
a. Pengertian
Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada klien
yang mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat
mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga
mencegah menghebatnya stimulus nyeri.
Tiga hal utama yag dibutuhkan dalam teknik relaksasi
Posisi klien yang tepat
Pikiran istirahat
Lingkungan yang tenang
b. Tujuan : Untuk dapat menggurangi/menghilangkan rasa nyeri yang
dirasakan
c. Indikasi : Dilakukan untuk pasien yg mengalami nyeri kronis
d. Prosedur pelaksanaan :
1. Tahap pra interaksi
a) Menbaca mengenai status pasien
b) Mencuci tangan
c) Meyiapkan alat

2. Tahap orientasi
a) Mengucapkan salam teraupetik kepada pasien
b) Validasi kondisi pasien saat ini
c) Menjaga keamanan perivacy pasien
d) Menjelaskan tujuan & prosedur yg akan dilakukan terhadap
pasien & keluarga
3. Tahap kerja
a) Memberi kesempatan kepada pasien untuk bertanya bila ada
sesuatu yang kurang dipahami/jelas
b) Atur posisi pasien agar rileks tanpa adanya beban fisik
c) Instruksikan pasien untuk melakukan tarik nafas dalam
sehingga rongga paru berisi udara
d) Intruksikan pasien dengan cara perlahan & menghembuskan
udara membiarkanya ke luar dari setiap bagian anggota
tubuh, pada saat bersamaan minta pasien untuk memusatkan
perhatiannya pada sesuatu hal yang indah dan merasakan
betapa nikmatnya rasanya
e) Instruksikan pasien buat bernafas dengan irama normal
beberapa saat ( 1-2 menit )
f) Instruksikan pasien untuk kembali menarik nafas dalam,
kemudian menghembuskan dengan cara perlahan &
merasakan saat ini udara mulai mengalir dari tangan, kaki,
menuju keparu-paru seterusnya udara & rasakan udara
mengalir keseluruh bagian anggota tubuh
g) Minta pasien untuk memusatkan perhatian pada kaki &
tangan, udara yg mengalir & merasakan ke luar dari ujung-
ujung jari tangan & kai & rasakan kehangatanya
h) Instruksiakan pasien buat mengulani teknik-teknik ini apabila
rasa nyeri kembali lagi
i) Setelah pasien mulai merasakan ketenangan, minta pasien
untuk melakukan secara mandiri
4. Tahap terminasi
a) Evaluasi hasil gerakan
b) Lakukan kontrak untuk melakukan kegiatan selanjutnya
c) Akhiri kegiatan dengan baik
d) Cuci tangan

3. RELAKSASI PROGRESIF
a. Pengertian
Teknik relaksasi otot dalam yang tidak memerlukan imajinasi,
ketekunan atau sugesti
b. Tujuan Terapi Relaksasi Otot Progresif
Menurut Herodes (2010), Alim (2009), dan Potter (2005) dalam
Setyoadi dan Kushariyadi (2011) bahwa tujuan dari teknik ini adalah:
1. Menurunkan ketegangan otot, kecemasan, nyeri leher dan
punggung, tekanan darah tinggi, frekuensi jantung, laju
metabolik.
2. Mengurangi distritmia jantung, kebutuhan oksigen.
3. Meningkatkan gelombang alfa otak yang terjadi ketika klien
sadar dan tidak memfokus perhatian seperti relaks.
4. Meningkatkan rasa kebugaran, konsentrasi.
5. Memperbaiki kemampuan untuk mengatasi stres.
6. Mengatasi insomnia, depresi, kelelahan, iritabilitas, spasme
otot, fobia ringan, gagap ringan, dan
7. Membangun emosi positif dari emosi negatif.
c. Indikasi Terapi Relaksasi Otot Progresif
Menurut Setyoadi dan Kushariyadi (2011, hlm.108) bahwa indikasi
dari terapi relaksasi otot progresif, yaitu:
1. Klien yang mengalami insomnia.
2. Klien sering stres.
3. Klien yang mengalami kecemasan.
4. Klien yang mengalami depresi
d. Pelaksanaan Prosedur
1. Beritahu klien bagaimana cara kerja relaksasi progresif
2. Jelaskan tujuan dan prosedur
3. Demonstrasikan metode menegangkan dan relaksasi otot
4. Cuci tangan
5. Berikan privasi klien
6. Bantu klien ke posisi yang nyaman (pastikan bagian tubuh
disangga dan sendi agak fleksi tanpa ada tegangan atau tarikan
otot)
7. Anjurkan klien untuk mengistirahatkan pikiran (meminta klien
untuk memandang sekeliling ruangan secara perlahan)
8. Minta klien untuk menegangkan dan merelaksasi setiap
kelompok otot
9. Lakukan pada setiap kelompok otot, dimulai dari sisi yang
dominan:
Tangan dan lengan bawah
lengan atas
Dahi
Wajah
Leher
Dada, bahu dan punggung
Abdomen
Paha
Otot betis
Kaki
10. Dorong klien untuk bernapas perlahan dan dalam.
11. Bicara dengan suara tenang yang mendorong relaksasi dan
pimpin klien untuk berfokus pada setiap kelompok otot (missal
buat kepalan tangan yang kuat, genggam kepalannya dengan
sangat kuat, tahan tegangan 5-7 detik, lepaskan seluruh
tegangan dan nikmati perasaan saat ototmu menjadi relaks dan
mengendur)
12. Kerutkan dahi keatas pada saat yang sama, tekan kepala sejauh
mungkin ke belakang, putar searah jarum jam dan
kebalikannya, kemudian anjurkan klien untuk mengerutkan
otot muka: cemberut, mata dikedip-kedipkan, bibir
dimonyongkan kedepan, lidah ditekan ke langit-langit dan
bahu dibungkukkan 5-7 detik. Bimbing klien ke arah otot yang
tegang, anjurkan klien untuk memikirkan rasanya, dan
tegangkan otot sepenuhnya kemudian rileks 12-30 detik.
13. Lengkungkan punggung ke belakang sambil menarik nafas
dalam, tekan keluar lambung, tahan lalu rileks. Tarik nafas
dalam, tekan keluar perut, tahan, rileks.
14. Tarik jari dan ibu jari ke belakang mengarah ke muka, tahan,
rileks. Lipat ibu jari secara serentak, kencangkan betis paha
dan pantat selama 5-7 detik, bimbing klien ke arah otot yang
tegang, anjurkan klien untuk merasakannya, dan tegangkan
otot sepenuhnya, kemudian rileks selama 12-30 detik.
15. Ulangi prosedur untuk kelompok otot yang tidak rileks
16. Akhiri latihan relaksasi
17. Minta klien untuk menggerakkan badan secara perlahan dari
tangan, kaki, lengan, tungkai, dan terakhir kepala, leher.
18. Dokumentasikan

4. IMAJINASI TERBIMBING
Persiapan
Sediakan lingkungan yang nyaman dan tenang
Pelaksanaan
1. Jelaskan tujuan prosedur
2. Cuci tangan
3. Berikan privasi klien
4. Bantu klien ke posisi yang nyaman
- Posisi bersandar dan minta klien untuk menutup matanya
- Gunakan sentuhan jika klien terasa nyaman
5. Implementasikan tindakan untuk menimbulkan relaksasi
- Minta klien untuk memikirkan hal-hal yang menyenangkan atau
pengalaman yang membantu penggunaan semua indra dengan suara yang
lembut.
- Ketika klien rileks, klien berfokus pada bayangannya dan saat itu
perawat tidak perlu bicara lagi
- Jika klien menunjukkan tanda-tanda agitasi, gelisah atau tidak nyaman,
hetikan latihan dan memulainya lagi ketika klien telah siap.
- Relaksasi akan mengenai seluruh tubuh. Setelah 15 menit, klien harus
memperhatikan tubuhnya. Biasanya klien rileks setelah menutup mata atau
mendengarkan musik yang lembut sebagai bagroud yang membantu
- Catat hal-hal yang digambarkan klien dalam pikiran untuk digunakan
pada latihan selanjutnya dengan menggunakan informasi spesifik yang
diberikan klien dan tidak membuat perubahan pernyataan klien.

4. PEMIJATAN (MASASE)
Pengertian
Pengurutan dan pemijatan yang menstimulasi sirkulasi darah serta metabolisme
dalam jaringan.
Tujuan
- Mengurangi ketegangan otot
- Meningkatkan relaksasi fisik dan psikologis
- Mengkaji kondisi kulit
- Meningkatkan sirkulasi/peredaran darah pada area yang dimasase.
Persiapan Alat
- Pelumas (minyak hangat/lotion)
- Handuk
Prosedur pelaksanaan
1. Siapkan alat-alat yang dibutuhkan
2. Identifikasi klien
3. Jelaskan tujuan dan prosedur
4. Cuci tangan
5. Atur klien dalam posisi telungkup. Jika tidak bisa, dapat diatur dengan posisi
miring.
6. Letakkan Sebuah bantal kecil di bawah perut klien untuk menjaga posisi yang
tepat
7. Tuangkan sedikit lotion ke tangan. Usap kedua tangan sehingga lotion rata
pada permukaan tangan.
8. Lakukan masase pada punggung. Masase dilakuka dengan menggunakan jari-
jari dan telapak tangan, dan tekanan yang halus.
9. Metode masase :
- Selang-seling tangan. Masase punggung dengan tekanan pendek, cepat,
bergantian tangan

CARA PEMBERIAN KOMPRES DINGIN

1. Kompres Dingin Basah Dengan Larutan Obat Anti Septic


A. Persiapan Alat :
Mangkok bertutup steril
Bak steril berisi pinset steril anatomi 2 buah, beberap kain kasa sesuai keutuhan
Cairan nti septic berupa PK 1:4000, revanol 1:1000 sampai 1:3000 dst kebutuhan,
larutan betadin
Pembalut bila perlu
Perlak dan pengalas
Sampiran bila perlu
B. Prosedur Pelaksanaan :
1. Dekatkan alat ke dekat klien
2. Pasang sampiran
3. Cuci tangan
4. Pasang perlak pada area yang akan di kompres
5. Mengocok obat atau larutan bila terdapat endapan
6. Tuangkan cairan kedalam mangok steril
7. Masukkan beberapa potong kasa kedalam mangkok tersebut
8. Peras kain kasa trsbt dg menggunkan pingset
9. Bentangkan kain kasa dan letakkan kasa di atas area yang dikompres dan di
balut
10. Rapikan posisi klien
11. Bereskan alat-alat setelah selesai tindakan
12. Cuci tangan
13. Dokumentasikn

C. Hal yang perhatikan


Kain kasa harus sering dibasai agar tetap basah
Pada luka bakar kotorkasa di ganti tiap 1-2 jam
Perhatikan kulit setempat/sekitarnya. Bila terjadi iritasi segera laporkan
Pada malam hari agar kelembapan kompres bertahan lama, tutupi dengan kapas
sublimat

2. Kompres Dingin Basah Dengan Air Biasa/Air Es


A. Persiapan Alat :
Kom kecil berisi air biasa/air es
Perlak pengalas
Beberapa buah waslap/kain kasa dengan ukuran tertentu
Sampiran bila perlu
Selimut bila perlu
B. Prosedur :
1. Dekatkan alat-alat ke klien
2. Pasang sampiran bila perlu
3. Cuci tngan
4. Pasang pengalas pada area yang akan dikompres
5. Masukkan waslap/kain kasa kedalam air biasa atau air es lalu diperas sampai
lembab
6. Letakkan waslap/kain kasa tersebut pada area yang akan dikompres
7. Ganti waslap/kain kasa tiap kali dengan waslap/kain kasa yang sudah terendam
dalam air biasa atau air es.
8. Diulang-ulang sampai suhu tubuh turun
9. Rapikan klien dan bereskan alat-alat bila prasat ini sudah selesai
10. Cuci tangan
11. Dokumentasikan

C. Hal yang harus diperhatikan:


Bila suhu tubuh 39c/lebih, tempat kompres dilipat paha dan ketiak
Pada pemberian kompres dilipat paha, selimut diangkat dan dipasang busur
selimut di atas dada dan perut klien agar seprei atas tidak basah

3. Kompres Dingin Kering Dengan Kirbat Es (Eskap)


A. Persiapan Alat :
Kirbat es/eskap dengan sarungnya
Kom berisi berisi potongan-potongan kecil es dan satu sendok teh garam agar es
tidak cepat mencair
Air dalam kom
Lap kerja
Perlak pengalas
B. Prosedur :
1. Bawa alat-alat ke dekat klien
2. Cuci tangan
3. Masukkan batnan es ke dalam kom air supaya pinggir es tidak tajam
4. Isi kirbat es dengan potongan es sebanyak kurang lebih setengah bagian dari
kirbat tersebut
5. Keluarkan udara dari eskap dengan melipat bagian yang kosong, lalu di tutup
rapat
6. Periksa skap, adakah kebocoran atau tidak
7. Keringkan eskap dengan lap, lalu masukkan ke dalam sarungnya
8. Buka area yang akan di kompres dan atur yang nyaman pada klien
9. Pasang perlak pengalas pada bagian tubuh yang akan di kompres
10. Letakkan eskap pada bagian yang memerlukan kompres
11. Kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh
12. Angkat eskap bila sudah selesai
13. Atur posisi klien kembali pada posisi yang nyaman
14. Bereskan alat setelah selesi melakukan prasat ini
15. Cuci tangan
16. Dokumentasikan

C. Hal-Hal Yang Perlu Di Perhatikan


Bila klien kedinginan atau sianosis, kirbat es harus segera di angkat
Selama pemberian kirbat es, perhatikan kult klien terhadap keberadaan iritasi dan
lain-lain
Pemberian kirbat es untuk menurukan suhu tubuh, maka suhu tubuh harus di
control setiap 30-60 menit.bila suhu sudah turun kompres di hentikan
Bila tdak ada kirbat es bias menggunakan kantong plastic
Bila es dalam kirbat es sudah mencair harus segera dig anti (bila perlu

KOMPRES HANGAT
Pengertian Kompres Hangat :

Kompres hangat adalah suatu prosedur menggunakan kain / handuk yang telah di
kompres-hangatcelupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh
tertentu.
Manfaat Kompres Hangat :

Adapun manfaat kompres hangat adalah dapat memberikan rasa nyaman dan
menurunkan suhu tubuh dalam menangani kasus klien yang mengalami pireksia.

Alat dan bahan :

Larutan kompres berupa air hangat 40 C dalam wadahnya ( dalam kom )

Handuk / kain / wash lap untuk kompres

Handuk pengering
Sarung tangan

Termometer

Prosedur :

Beri tahu klien, dan siapkan alat, klien, dan lingkungan.

Cuci tangan

Ukur suhu tubuh

Basahi kain pengompres dengan air, peras kain sehingga tidak terlalu basah.

Letakkan kain pada daerah yang akan dikompres ( dahi, ketiak, perut, leher
belakang ).

Tutup kain kompres dengan handuk kering

Apabila kain telah kering atau suhu kain relative menjadi dingin, masukkan
kembali kain kompres ke dalam cairan kompres dan letakkan kembali di daerah
kompres, lakukan berulang-ulang hingga efek yang diinginkan dicapai

Evaluasi hasil dengan mengukur suhu tubuh klien setelah 20 menit

Setelah selesai, keringkan daerah kompres atau bagian tubuh yang basah dan
rapikan alat

Cuci tangan